Naratif film berpusat pada kehidupan sepasang suami istri kelas atas yang tampak sempurna: Dr. Bill Harford (Tom Cruise) dan istrinya, Alice (Nicole Kidman). Kehidupan pernikahan mereka yang tenang mendadak guncang setelah sebuah malam yang dipenuhi pengakuan jujur di bawah pengaruh ganja. Alice mengaku bahwa ia pernah memiliki fantasi seksual yang sangat kuat tentang seorang perwira angkatan laut asing yang hampir membuatnya rela meninggalkan Bill dan anak mereka. Pengakuan ini memicu krisis maskulinitas dan ego yang hebat dalam diri Bill. Terbakar oleh bayangan visual obsesif tentang perselingkuhan istrinya, Bill memulai sebuah perjalanan nokturnal yang aneh dan berbahaya di jalanan New York. Perjalanan itu menuntunnya menyusup ke dalam sebuah ritual pesta seks rahasia (orgy) yang diikuti oleh sekte rahasia kaum elit bertopeng di sebuah rumah megah di pinggiran kota.
Intrik utama film ini digerakkan oleh kaburnya batasan antara realitas dan mimpi psikologis. Perjalanan Bill bukanlah sekadar petualangan fisik, melainkan sebuah manifestasi dari kecemasan eksistensial dan rasa tidak amannya sebagai seorang suami. Kontras antara dunia siang hari Bill yang steril sebagai dokter terhormat dengan petualangan malamnya yang penuh dengan bahaya, pelacuran, dan kematian menciptakan atmosfer paranoia yang mencekam. Melalui simbolisme topeng Venesia, Kubrick dengan cerdas menelanjangi kemunafikan kelas sosial borjuis, di mana kekuasaan dan uang dapat membeli impunitas moral yang mutlak.
Keberhasilan film ini didukung kuat oleh penampilan luar biasa dari Tom Cruise dan Nicole Kidman, yang saat itu merupakan pasangan suami istri di dunia nyata. Cruise memberikan salah satu akting paling rentan dan berbeda dalam kariernya; ia menanggalkan citra pahlawan karismatiknya yang biasa dan menjelma menjadi sosok pria yang bingung, teralienasi, dan terus-menerus merasa kerdil oleh situasi di sekitarnya. Sementara itu, Nicole Kidman tampil memukau dengan intensitas emosional yang magis, memberikan bobot psikologis yang kuat pada setiap adegan konflik domestik mereka.
Dari segi estetika visual, Eyes Wide Shut adalah sebuah pencapaian sinematik yang sangat puitis dan hipnotis. Kubrick bersama sinematografer Larry Smith menggunakan teknik pencahayaan alami (available light) dengan warna-warna primer yang sangat kontras—didominasi oleh warna merah tua yang melambangkan hasrat berbahaya dan biru neon yang dingin untuk melambangkan keterasingan. Desain set pesta bertopeng yang megah, dipadukan dengan gerakan kamera steadicam yang lambat dan presisi khas Kubrick, berhasil menghidupkan atmosfer mimpi buruk (dreamscape) yang membuat penonton merasa tidak nyaman namun enggan untuk berpaling.
Aspek audio film ini juga memegang peranan krusial dalam membangun ketegangan psikologis yang konstan. Komposisi musik minimalis dari Jocelyn Pook, terutama trek "Musica Ricercata, II" gubahan György Ligeti yang hanya mengandalkan ketukan satu tuts piano yang disonans, memberikan efek teror psikologis yang magis di sepanjang perjalanan Bill. Musik pengiring ini berpadu sempurna dengan ritual nyanyian terbalik (backward chanting) dalam adegan pesta bertopeng, menegaskan nuansa sakral sekaligus profan dari konspirasi yang dihadapi Bill.
Namun, tempo film yang berjalan sangat lambat (slow-burn) dengan durasi mendekati tiga jam menjadi pedang bermata dua yang memicu opini beragam dari kritikus. Bagi penonton yang mengharapkan sebuah film thriller erotis konvensional yang penuh adegan intim yang eksplisit atau resolusi plot konspirasi yang gamblang, Eyes Wide Shut mungkin akan terasa sangat membosankan, abstrak, dan membingungkan. Akhir cerita yang ambigu dan anti-klimaks sengaja dirancang Kubrick untuk membiarkan penonton pulang dengan membawa misteri psikologis mereka sendiri.
Secara keseluruhan, jika Anda mencari tontonan hiburan ringan yang memacu adrenalin, film ini jelas bukan pilihan yang tepat. Sebaliknya, jika Anda mampu menikmati sebuah karya seni sinema yang kaya akan simbolisme psikologis, sinematografi yang surealis, dan studi karakter yang mendalam tentang sisi gelap hasrat manusia, film ini adalah sebuah mahakarya sinema gotik modern yang tak tertandingi keindahannya.
