Cerita dimulai pada tahun 2077, enam dekade setelah bumi hancur akibat perang besar melawan invasi alien yang disebut "Scavengers" (Scavs). Umat manusia memenangkan perang tersebut, namun harus membayar harga mahal karena bumi menjadi radioaktif dan tidak dapat dihuni. Jack Harper (diperankan dengan karisma kepemimpinan yang rapuh oleh Tom Cruise) bekerja sebagai teknisi drone nomor 49 yang tersisa di bumi. Bersama mitra kerja sekaligus kekasihnya, Victoria Olsen (Andrea Riseborough), mereka bertugas menjaga generator raksasa yang menyedot samudra bumi untuk pasokan energi koloni manusia yang mengungsi di bulan Saturnus, Titan, serta stasiun luar angkasa rahasia berbentuk tetrahedron bernama "Tet".
Tugas Jack yang tampaknya sederhana mulai runtuh ketika ingatan masa lalunya sebelum perang—yang seharusnya sudah dihapus demi keamanan misi—terus menghantuinya dalam bentuk kilasan mimpi tentang seorang wanita misterius di New York. Penyelidikan Jack terhadap sebuah pesawat ruang angkasa tua milik manusia yang jatuh di wilayah tugasnya mempertemukannya dengan Julia Rusakova (Olga Kurylenko), wanita dari mimpinya yang telah tertidur dalam kapsul stasis selama 60 tahun. Kehadiran Julia membuka kotak pandora yang menjungkirbalikkan semua narasi sejarah yang Jack percayai selama ini, membawanya pada kenyataan pahit bahwa musuh yang sesungguhnya bukanlah mahluk asing di luar sana, melainkan sistem yang selama ini ia patuhi secara buta.
Keberhasilan film ini tidak lepas dari kehadiran entitas kecerdasan buatan bernama "Sally" (diperankan dengan kepatuhan administratif yang dingin oleh Melissa Leo) sebagai pusat otoritas pengendali misi dari stasiun Tet. Tidak seperti penjahat fiksi ilmiah tradisional yang meledak-ledak atau monster alien yang mengerikan, Sally termaterialisasi sebagai citra supervisor yang ramah, sopan, namun memanipulasi psikologis Jack dan Victoria melalui pertanyaan retoris harian yang ikonis: "Are you an effective team?". Kontras antara keramahan birokratis Sally dengan kehancuran sistematis yang ia instruksikan dari atas langit menciptakan teror psikologis yang sunyi namun mematikan.
Naratif Oblivion mengeksplorasi gagasan eksistensialisme dan krisis identitas yang mendalam melalui pengungkapan bahwa Jack dan Victoria hanyalah bidak klon dari subjek asli yang diproduksi massal oleh Tet. Ironisnya, demi memuluskan kontrol total ini, Tet memanfaatkan kerinduan terdalam manusia akan cinta dan rutinitas domestik untuk memenjarakan para klon ini dalam ilusi kenyamanan fungsional. Kehadiran Malcolm Beech (Morgan Freeman), pemimpin perlawanan bawah tanah manusia yang masih bertahan di bumi, memberikan dinamika narasi yang kuat. Karakter Beech bertindak sebagai katalisator moral yang menyadarkan Jack bahwa eksistensinya yang berharga tidak ditentukan oleh ingatan buatan, melainkan oleh keputusan bebas untuk mengorbankan diri demi menyelamatkan ras manusia yang tersisa.
Dari segi estetika dan hiburan, Oblivion diakui sebagai salah satu pencapaian visual paling spektakuler dan elegan pada dekade 2010-an. Berbeda dengan film pasca-apokaliptik lain yang cenderung menggunakan filter visual gelap, kumuh, dan berpasir, Kosinski menampilkan bumi yang hancur dalam balutan cahaya matahari yang terang, arsitektur minimalis futuristik, serta lansekap alam Islandia yang megah dan terisolasi. Desain set kemudi "Bubbleship" dan rumah gantung "Sky Tower" yang bersih nan modern berhasil menghidupkan dunia distopia ini secara estetis, didukung oleh sinematografi peraih Piala Oscar Claudio Miranda yang menangkap keindahan melankolis dari sisa-sisa peradaban manusia seperti Empire State Building yang tertimbun tanah. Penampilan fisik Tom Cruise yang intens dipadukan dengan performa emosional Andrea Riseborough sebagai Victoria—yang memilih hidup dalam penyangkalan demi mempertahankan ilusinya—memberikan perimbangan dramatis yang intim di tengah skala dunia yang masif.
Aspek audio film ini juga memegang peranan krusial dalam membangun atmosfer kemegahan futuristik yang emosional sekaligus megah. Grup elektronik asal Prancis, M83, dipercaya untuk menggarap skor musik film ini. Mereka menggabungkan synthesizer modern khas era new wave dengan aransemen orkestra tradisional yang megah. Hasilnya adalah simfoni musik yang melankolis, luas, dan bernuansa kesepian kosmik. Lagu tema utama "Oblivion" yang dinyanyikan oleh Susanne Sundfør memberikan sentuhan emosional yang magis, melengkapi visualisasi pengorbanan Jack di akhir film. Musik pengiring ini berhasil memberikan bobot dramatis pada adegan-adegan sunyi di atas langit bumi, membuat eksplorasi sepi Jack terasa sebagai sebuah perjalanan spiritual yang agung.
Namun, ambisi naratif yang rumit ini menjadi pedang bermata dua yang membuat Oblivion menuai kritik karena plot twist dan struktur ceritanya dinilai terlalu derivatif. Bagi sebagian penonton dan kritikus purist, paruh kedua film ini terasa seperti kompilasi ide dari mahakarya fiksi ilmiah lain seperti The Matrix, Moon (2009), hingga Independence Day, sehingga kehilangan orisinalitas cerita murni di balik kemasan visualnya yang megah. Beberapa resolusi konflik juga dirasa terlalu terburu-buru dan menyisakan celah logika terkait mekanika klon dan motivasi Tet yang kurang dieksplorasi mendalam.
Secara keseluruhan, jika Anda mencari film fiksi ilmiah dengan plot twist yang sepenuhnya baru, radikal, dan belum pernah ada sebelumnya, Oblivion mungkin akan terasa sedikit klise. Sebaliknya, jika Anda mampu menikmati film sebagai kesatuan pengalaman audio-visual yang imersif, mewah, dipenuhi akting solid Tom Cruise, serta diiringi skor musik elektronik yang megah, film ini adalah sebuah mahakarya estetika fiksi ilmiah modern yang sangat memuaskan dan berkesan untuk dinikmati di layar besar.
