Gapura Bersayap di Kompleks Sendang Duwur (Jawa Timur)

Salah satu permanensi etnografis, yang hampir senantiasa tampil berulang kali dalam setiap perubahan budaya, adalah pengoperasian simbol-simbol untuk menyatakan konsep dasar, konsep imbuhan, maupun konsep yang telah terubah. Mungkin untuk alasan itulah maka, manusia juga disebut sebagai homo symbolicus. Lambang-lambang itu ada kalanya bermakna dalam, langka dan bahkan tak bermakna, yang dapat berwujud gerak tubuh, suara, gambar, pengarcaan dan lain sebagainya.

Anggapan kuatnya kehadiran permanensi etnografis itu pula yang ditafsirkan oleh banyak pakar menyebabkan penerapan seni-bangunan pintu gerbang berlambang sayap burung garuda di kompleks makam Sunan Sendang (di Sendang Duwur), Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, menjadi amat menarik untuk dikaji.

Keistimewaan penerapan lambang burung garuda, yang begitu populer dan sakral pada keagamaan Hindu masa sebelumnya adalah penampilan “kulit” dari budaya transisi Hindu-Islam dan bukan pengingkaran terhadap kaidah-kaidah normatif dalam Islam. Mungkin ada benarnya bahwa masyarakat Nusantara memang permisif terhadap unsur budaya asing, sepanjang tetap berada dalam lingkup keselarasan dan keseimbangan kultural setempat. Inilah gejala yang kemudian dipermanenkan dalam pasal 32 UUD RI 1945 dan penjelasannya, yang belakangan ini ditafsirkan cukup progresif sekaligus represif. Ternyata ungkapan ini bukan hal yang baru. Mari kita amati peninggalan seni bangun pintu gerbang dalam wujud Gapura bersayap di Sendang Duwur.

Kompleks Makam Sendang Duwur
Di Desa Sendang Duwur, di selatan Kelurahan Paciran (Kec/Kab. Lamongan), pada lahan seluas sekitar 1 hektar, terdapat petilasan masa Indonesia Islam, yang oleh penduduk setempat dikenal/populer dengan nama Mesjid Sendang Duwur atau Makan Sunan Sendang. Penamaan ganda tersebut, disebabkan adanya berbagai jenis kekunaan di petilasan Sendang Duwur yang terdiri dari Mesjid baru, Cukup Makam yang paling dikeramatkan (makam utama), bangunan bagian utara (gerbang timur laut, gerbang F dan gerbang E). Sedangkan di bagian barat kompleks terdapat gapura bersayap B.

Sementara itu dalam kelompok selatan adalah bangunan-bangunan gerbang C dan makam-makam lebih baru. Sedangkan bangunan atau objek lain yang terdapat di kompleks Sendang Duwur adalah sumur “guling”, arena batu di dekat gerbang D, tempayan, pecahan keramik dan sebagainya.

Benteng lahan situs Sendang Duwur yang terletak pada fisigrafi bukit karang/kapur, mulai memperoleh perhatian pencatatan (registrasi), penelitian, pemeliharaan serta pemugaran sejak tahun 1919, 1920, 1922-1923, 1936-1937, 1940-1941, 1943, 1950, 1959 sampai akhirnya tersentuh lagi secara berkesinambungan melalui program-program PELITA.

Gapura Bersayap
Kompleks Sendang Duwur memiliki konstruksi kayu, bata dan batu. Seni pahat diterapkan pada ketiga jenis komponen bahan tersebut. Seni pahat dekoratif yang diterapkan di Sendang Duwur ini memiliki persamaan dengan seni pahat dekoratif yang ditetapkan di Mantingan (Jepara), dengan perbedaan, di Sendang Duwur lebih banyak diterapkan pada komponen bangunan/bahan kayu, sedangkan di Mantingan di bahan batu. Persamaan ini menimbulkan dugaan yang berkaitan dengan diffusi unsur budaya.

Salah satu hal yang amat menarik perhatian dari kompleks makam abad XVI M (C 1507) ialah hadirnya seni hias bangunan gapura padureksa, yang berbentuk sayap pada bagian kiri dan kanan paduraksa, sementara hiasan kepala dan badan burung atau anggota lain dari satwa tersebut terdapat pada bagian atas/kemuncak paduraksa. Di Sendang Duwur, paduraksa bersayap tersebut masing-masing terdapat di barat mesjid (gerbang B) dan utara mesjid (gerbang E).

Drs. Uka Tjandrasasmita, arkeolog, sangat terkesan pada gerbang bersayap itu karena antara lain melambangkan burung garuda yang sedang terbang, maupun tergadap pola-pola hias kalpawreksa (pohon hayat) atau gunungan yang biasa terdapat pada kesenian Indonesia-Hindu. Demikian pula terdapat hiasan lengkung kalamerga (lengkung-kijang) yang mengingatkan kita pada gambaran di Candi Penataran dan Candi Penanggungan.

Menurut Uka, Perlambangan-perlambangan tersebut dianggap memiliki hubungan dengan hal-hal sakral, kedewataan kayangan dan sebagainya, yang diwujudkan/dilambangkan sebagai gapura bersayap, gapura surga ataupun gapura matahari. Perlambangan yang berasal dari masa Indonesia-Hindu tersebut sangat boleh jadi merupakan perkembangan lanjut sebagai pengganti arca penjaga (semacam dwarapala) pada sebuah bangunan suci.

Namun demikian Dr. Hasan M. Ambary menekankan bahwa seperti halnya terbukit dalam kajian kaligrafi Islam-Indonesia, ciri normatif Islam tetap terkandung kuat dalam berbagai peninggalan Islam-Indonesia, yang dalam fisik kulturalnya membawa serta perwujudan tradisi dan budaya lokal Nusantara. Gapura bersayap ini memiliki ciri-ciri seni Islam yang tinggi estetikanya dan bersifat illahiyah. Sinkretisme boleh jadi berlangsung pada fisik kultural dan bukan pada sendi-sendi normatif Islam seperti aqidah dan ‘ubudiyah.

Perlambangan satwa burung pun bukan mutlak dilahirkan/muncul pada masa Indonesia-Hindu belaka. Lukisan burung juga dijumpai pada berbagai tradisi pahat prasejarah, seperti pada nekara, moko, kapak upacara, dinding peti kubur batu, dinding gua, batu (monolit) dan sebagainya. Suku Dayak, Toraja, Flores, Timor dan berbagai Sub-Suku di Papua, memandang keramat burung-burung dari spesies tertentu. Tak heran kalau lambang negara kita juga adalag garuda, dimana burung yang hampir sejenis digunakan pula sebagai lambang negara di Philipina, Amerika Serikatd dan sejumlah negara di Amerika Latin.

Obyek Wisata
Selesainya pemugaran sebagian besar bangunan pada kompleks Sendang Duwur ini berarti semakin menambah obyek-obyek wisata ziarah Islami di pantai utara Jawa, mulai dari Banten sampai ke Gresik, yang diantaranya terdapat kompleks peninggalan/makam/mesjid. Pangeran Jayakarta di Jatinegara Kaum, Jakarta Timur, Sunan Gununga Jati (Gunung Sembung), Sunan Kalijaga (Kadilangu), Sunan Kudus, Sunan Bonang, Sunan Giri, Maulana Malik Ibrahim, Fatimah binti Maemun dan lain-lainnya. Bahkan jika menyeberang ke Madura akan dijumpai makam para adipati yang benar-benar menampakkan miniatur dan ornamen candi.

Dari paparan singkat di atas tampak jelas bahwa di dalam sejarah seni bangunan di Nusantara, secara berulang terlihat adanya kesinambungan unsur/pengaruh lain, ketika fase sejarah digantikan fase berikutnya. Kesinambungan tersebut, misalnya tampak pada penggunaan-penggunaan lambang pada masa prasejarah di masa Hindu dan lambang Hindu pada masa berkembangnya agama Islam. Lambang-lambang itu kemudian mengikat bangsa Indonesia dalam wadah persatuan dan kesatuan nasional.

Sumber:
Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1994. Khasanah Budaya Nusantara V. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Dibaca: