Upacara Daur Hidup Mandi Tian Mandaring

Oleh Amurwani

Kekayaan budaya di Indonesia memang tak dapat diragukan lagi seperti halnya daerah lain, upacara daur hidup merupakan salah satu unsur budaya yang sifatnya universal. Hampir setiap daerah mempunyai cara-cara yang khas untuk memperingati masa-masa penting dalam suatu kehidupan dengan suatu upacara daur hidup. Hal ini tidak dapat lepas dari cara pandang masyarakat itu sendiri.

Upacara daur hidup dilakukan berdasarkan tradisi yang mereka anut secara turun-temurun. Begitu pula dengan upacara daur hidup Mandi Tian Mandaring yang dilakukan oleh suku bangsa Banjar. Upacara ini merupakan salah satu upacara daur hidup yang dilakukan pada saat kehamilan pertama. Biasanya dilaksanakan pada saat usia kehamilan tujuh bulan, sedangkan kata Mandaring sendiri dalam bahasa Banjar berarti kehamilan pertama. Upacara Mandi Tian Mandaring sudah begitu melekat pada masyarakat suku bangsa Banjar dari desa hingga kota, dari kalangan bangsawan hingga rakyat biasa di kawasan Kalimantan Selatan.

Tujuan pelaksanaan upacara ini terutama ditujukan untuk keselamatan ibu dan anak yang akan dilahirkan. Menurut kepercayaan orang Banjar, wanita yang sedang hamil seolah-olah sangat diingini oleh makhluk-makhluk halus yang sering mengganggu, termasuk pada saat melahirkan anak yang sedang dikandungnya.

Peralatan Upacara
Peralatan yang diperlukan pada saat upacara ini dilaksanakan antara lain berupa; Banyu Yasien (air yang sebelumnya dibacakan surah Yasien), Banyu Tuju, Banyu Baya, dan Mayang Balik Tilantang. Maksud digunakan peralatan ini agar keselamatan ibu dan anak terjaga hingga saatnya lahir nanti. Juga diperlukan tempat untuk mandi berupa balai atau balai warti, yaitu tempat pelaksanaan upacara yang diletakan di depan rumah dengan menghadap ke arah matahari pajah (arat barat). Balai ini berbentuk panggung dengan tangga yang berjumlah ganjil. Bagian atapnya biasanya dihiasi dengan kain kuning, sebagai warna kebesaran dalam keraton Banjar pada waktu itu. Pada keempat sudutnya dihiasi dengan tebu hijau (manisan hijau) lengkap dengan daunnya. Jika mempunyai tombak pusaka dapat ditegakkan pada keempat tiang balai wati tersebut. Selain itu juga disediakan tempat duduk yang digunakan pada saat mandi. Untuk keperluan mandi diperlukan perlengkapan seperti, mayang maurai, mayang bungkus, mayang maupung, atau bunga pinang yang masih terbungkus dalam seludangnya, daun kambat, kambang bacurai (bungai yang dirangkai), kambang barenteng (karangan bunga yang berbentuk untaian yang dirangkai dengan kulit batang pisang). Selain itu, juga dilengkapi dengan pakaian adat dan tilasan mandi serta perhiasan dan alat-alat penunjang lainnya.

Jalannya Upacara
Pelaksanaan upacara biasanya dilaksanakan pada siang hari, sesudah turun matahari atau sesudah sholat lohor, yaitu antara pukul 13.00 hingga 14.00, hal ini dilakukan agar pada saat melahirkan nanti mendapat kemudahan, seperti matahari yang turun tidak ada halangan apa-apa.

Untuk pelaksanaan mandi dilakukan oleh dukun bayi atau bidan yang sudah biasa melaksanakan upacara dan dianggap berpengetahuan. Jumlah bidan atau dukun bayi biasanya selalu ganjil, antara tiga hingga tujuh orang, dengan satu orang yang dianggap sebagai pemimpin dalam upacara tersebut. Serta beberapa angga keluarga dekat yang sudah lanjut usia ikut pula memandikan calon ibu.

Pelaksanaan upacara mandi tian mandaring, mula-mula calon ibu yang sedang hamil diberi pakaian dengan urutan, pakaian tilasan mandi berupa kain kuning. Setelah itu baru dipasang pakaian penganten. Setelah selesai berpakaian penganten calon ibu tadi dikawal oleh bidan kepala bersama pembantu pengiringnya. Calon ibu ini dibawa menuju ke balai warti di tempat upacara mandi tersebut dilaksanakan sambil diikuti oleh seorang yang membawa tutudung untuk tempat pakaian penganten yang dilepaskan ketika calon ibu ini dimandikan.

Ketika melewati pintu balai sholawatpun dikumandangkan oleh seorang petugas khusus sambil menaburkan beras kuning ke arah calon ibu dan bidan. Kadang-kadang juga bersama uang logam ditaburkan dan kemudian direbutkan oleh anak-anak kecil yang hadir pada saat itu dan para undangan pun membaca sholawat secara bersama.

Calon ibu kemudian dudukkan di balai warti bersama bidan dan pembantunya. Pakaian penganten mulai dilepaskan satu demi satu dan diletakkan ke dalam tudung saji yang terlentang yang dibawa oleh seorang petugas khusus.

Pada saat itu, dibunyikan terbang dengan lagu-lagu Hadrah dan Maulud nabi, sampai acara mandi di balai warti selesai dan calon ibu naik kembali untuk dirias. Sebelum turun dari balai diadakan upacara balulus, yaitu dengan membuat lingkaran lawai kuning yang sebelumnya dibuat oleh petugas khusus. Calon ibu yang telah selesai mandi memasukkan badannya ke dalam lingkaran benang atau lawai kuning yang diulang sebanyak tiga kali berturut-turut. Setelah itu calon pengantin dibawa ke dalam rumah.

Acara kemudian dilanjutkan dengan membaca surah Yasien secara bersama-sama dengan semua undangan yang hadir. Setelah calon ibu selesai dirias, ia kemudian didudukkan di atas susunan lipatan tapih yang telah disediakan menghadap ke arah wadai 41 (kue sebanyak 41 macam). Kemudian diadakan pembacaan doa untuk keselamatan wanita hamil dan anak yang dikandungnya, yang dipimpin oleh salah seorang yang berpengetahuan agama. Selesai pembacaan doa hidangan berupa nasi dan lauk pauk disuguhkan kepada para undangan untuk disantap bersama, beserta wadai 41.

Setelah acara selesai kain tilasan mandi diserahkan kepada bidan kepala atau dapat juga digantikan dengan uang. Bidan kepala ini biasanya pada saat calon ibu ini melahirkan, ia akan diundang untuk menolong kelahiran wanita tersebut.

Amurwani (Asdep Pemahaman Makna Sejarah & Integrasi Bangsa/Proyek Pemanfaatan Kebudayaan)

Sumber: www.hupelita.com
hal
Dilihat: