Kabupaten Natuna

Letak dan Keadaan Alam
Natuna disamping sebagai nama pulau juga sebagai nama salah satu kabupaten yang tergabung dalam Provinsi Kepulauan Riau, yaitu Kabupaten Natuna1. Pulau yang tergabung dalam gugusan Pulau Tujuh ini berada di lintasan jalur pelayaran internasional dari dan atau ke Hongkong, Taiwan, dan Jepang. Oleh karena itu, tidak berlebihan jika Sindu Galba dan Abdul Kadir Ibrahim (2000) menyebut sebagai pintu gerbang bagi negara tetangga, seperti: Vietnam, Kamboja, Thailand, dan Malaysia.

Secara astronomis, kabupaten yang langsung berbatasan dengan negara tetangga ini, berada pada posisi 1016’-- 7019’ Lintang Utara dan 1050 00’--110000’ Bujur Timur, dengan batas-batas sebagai berikut: utara berbatasan dengan Vietnam dan Kamboja, selatan berbatasan dengan Kabupaten Kepulauan Riau, timur berbatasan dengan Malaysia Timur dan Kalimantan Barat, dan barat berbatasan dengan Semenanjung Malaysia dan Pulau Bintan (Kabupaten Kepulauan Riau). Luasnya mencapai 141.901,20 Km2 dengan rincian 138.666,0 Km2 perairan (lautan) dan 3.235,20 Km2 daratan. Ini berarti bahwa wilayah Kabupaten Natuna sebagian besar berupa lautan. Dan, daratannya pun bukan hanya satu pulau, tetapi berpulau-pulau yang struktur tanahnya berupa padsolik merah kuning, alluvial, organosol, dan gley humus.

Kabupaten yang berada di ketinggian 3--959 meter dari permukaan air laut ini beribukota di Ranai. Jarak kota ini dengan kota-kota lainnya yang berada di Provinsi Kepulauan Riau adalah sebagai berikut: Tanjungpinang (562 Km), Tanjung Balai Karimun (642 Km), Batam (589 Km), Sedanau (58 Km), Midai (139 Km), Serasan (177 Km), Tarempa (258 Km), Letung (322 Km), Tambelan (344 Km), Kijang (545 Km), Tanjung Uban (561 Km), Moro (618 Km), Tanjung Batu (654 Km), Senayang (593 Km), Dabo (954 Km), dan Daik (626 Km).

Perlu diketahui bahwa kota-kota tersebut berada dalam pulau yang berlainan. Oleh karena itu, dari dan atau ke ibukota Kabupaten Natuna ini hanya dapat dicapai dengan jalan laut atau udara2. Dewasa ini Riau Air Line (RAL), perusahaan penerbangan milik Pemprov Riau, telah meningkatkan frekwensi penerbangannya ke Ranai dari dua kali seminggu menjadi setiap hari, kecuali hari Jumat, dengan route Pekanbaru-Tanjungpinang-Ranai (PP) dan atau Pekanbaru-Batam-Ranai (PP). Jadi, jika seseorang pada hari Jumat akan pergi ke Ranai, maka orang tersebut dapat melalui Batam. Ini bermakna bahwa kota yang di masa lalu relatif sulit untuk dijangkau, kini relatif mudah untuk dijangkau.

Iklim yang menyelimutinya adalah tropis basah dengan temperatur rata-rata 260 C. Kelembaban udaranya berkisar antara 60% dan 85%. Sedangkan, curah hujannya rata-rata 2.530 mm dengan jumlah hari hujan 110 pertahun. Bulan-bulan yang basah terjadi pada bulan Oktober--Desember dengan kecepatan angin rata-rata 276 Km perhari. Sedangkan, penyinaran mataharinya rata-rata 53%. Cuacanya sering tidak menentu. Hujan disertai angin kencang, badai yang bergemuruh, dan gelombang yang mencapai ketinggian lebih dari tiga meter acapkali terjadi secara tiba-tiba.

Berdasarkan arah angin, masyarakat setempat mengenal adanya 4 musim, yakni: Utara, Timur, Selatan, dan Barat. Musim Utara ditandai oleh angin yang berhembus dari arah timur. Musim ini berjalan selama 4 bulan (November--Februari). Pada musim ini angin berhembus sangat kencang (kecepatannya mencapai 15--30 knots), sehingga laut bergelombang sepanjang siang dan malam dengan ketinggian 1--3 meter. Masyarakat setempat menggambarkan laut yang penuh dengan gelombang itu bagaikan “wajah limau purut busuk”. Angin yang bertiup pada musim ini tampaknya tidak hanya membuat laut menjadi ganas, tetapi juga membuat rusaknya pepohonan. Batang pohon kelapa menjadi condong ke arah selatan. Kemudian, dedaunan menjadi berbelah-belah. Malahan, daun pohon karet berguguran, sehingga tampaknya menjadi gersang. Musim yang cukup menakutkan ini oleh mereka disebut juga sebagai “Musim kelambu sebelah tersingkap”, karena musim tersebut disertai dengan hujan sepanjang siang dan malam, sehingga mereka lebih memilih berbaring dengan kelambu yang tersingkap sebelah. Oleh karena itu, Ibrahim (1997) mengatakan bahwa pada musim utara warga masyarakat Natuna betul-betul mengalami kesulitan untuk melakukan pekerjaannya. Untuk itu, jauh-jauh hari mereka sudah mempersiapkan segala sesuatu untuk menghadapinya, seperti: kayu bakar, beras, lauk-pauk (ikan asin), dan keperluan dapur lainnya.

Musim Timur ditandai oleh angin yang berhembus dari arah timur. Musim ini juga berjalan selama 4 bulan (Maret--Juni). Kecepatan anginnya rata-rata hanya 12 knots. Hujan yang lebat jarang terjadi. Adakalanya hujan disertai dengan panas. Matahari agak bebas menyinari laut dan daratan, sehingga panasnya cukup menyengat. Panas yang demikian, oleh masyarakat setempat disebut sebagai ngek-ngek atau lak-lak (rasanya tidak menentu). Namun demikian, laut masih tampak bergelombang sehingga agak sulit untuk mendapatkan ikan.

Musim Selatan ditandai oleh angin yang berhembus dari arah selatan. Musim yang berlangsung selama 2 bulan (Juli--Agustus) ini kecepatan anginnya rata-rata 8--20 knots. Pada musim ini matahari dapat bersinar bebas sehingga panasnya sangat menyengat. Keadaan yang demikian oleh masyarakat setempat diibaratkan sebagai “uap neraka”. Keadaan laut masih tetap bergelombang, bahkan adakalanya dapat mencapai lebih dari 3 meter.

Musim Barat yang ditandai oleh angin yang berhembus dari arah barat juga berlangsung selama 2 bulan (September--Oktober). Ciri dari musim ini adalah antara panas dan hujan saling berganti. Oleh karena itu, permukaan laut adakalanya bagaikan “air dalam talam” (tenang dan teduh), tetapi adakalanya menakutkan karena gelombangnya dapat mencapai 3 meter lebih. Celakanya, gelombang tersebut sering terjadi secara tiba-tiba sehingga tidak memberi kesempatan bagi para nelayan untuk menepikan perahunya.

Natuna, sebagaimana telah disinggung pada bagian atas, adalah sebuah kabupaten yang wilayahnya tidak hanya berupa daratan, tetapi juga perairan (laut). Bahkan, lautannya lebih luas ketimbang daratannya. Daratannya sendiri terdiri atas dataran rendah dan perbukitan, bahkan pegunungan3 yang ditumbuhi oleh berbagai tanaman keras, seperti: karet, kelapa, cengkih, kopi, dan lada. Saiman (1995) menyebutkan bahwa lahan yang sempat digarap baru sekitar 8,5% (16.854 hektar). Sementara hutan yang luasnya mencapai 226.898 hektar4 yang terdiri atas hutan: lindung (4.700 hektar), produksi terbatas (90.000 hektar), konversi (70.000 hektar, dan bakau (1.942 hektar) belum diusahakan secara maksimal walaupun hasilnya ada yang diekspor ke negara tetangga (Malaysia dan Singapura).

Tanahnya, dengan demikian, tidak hanya cukup subur, tetapi juga mengandung berbagai mineral. Apalagi, laut lepasnya. Alamnya yang mengandung berbagai kekayaan, baik di daratan maupun lautan, sangat menjanjikan kesejahteraan masyarakatnya. Gas alam dan minyak lepas pantainya saja konon diperkirakan mencapai 222 trilyun kaki kubik. Namun, karena gas tersebut mengandung CO2, maka hanya sekitar 75--78% yang dapat dijadikan sebagai gas alam cair (sekitar 160 trilyun kaki kubik). Bagaimanapun juga ini merupakan jumlah fantastis. Salam (1995) memperkirakan dapat diekspor 37,5 juta ton pertahun. Sementara itu, minyak lepas pantainya juga tidak dipandang sebelah mata (diremehkan)5. Kemudian, lautnya menyimpan berbagai jenis ikan. Dahril (1994) menyebutkan bahwa perairannya dapat dikatakan sebagai salah satu diantara kantong perikanan di Riau. Untuk saat ini, karena Natuna menjadi salah satu kabupaten yang tergabung dalam Provinsi Kepulauan Riau, berarti merupakan kantong perikanan terbesar di provinsi yang bersangkutan. Sementara, berbagai jenis hewan yang hidup di daratannya antara lain adalah: babi, ular, kera, kekah, kancil, musang, tenggiling, tenggalung, bubut, kura-kura, labi-labi, penyu, pelaus, biawak, bengkarung, kerbau, sapi, kambing, itik, ayam, anjing, dan berbagai jenis burung seperti: bayan, tiung, pergam, punai, bangau, elang, enggang, sawik, walet, kuncit, dan rawa.

Selain itu, alamnya juga menyediakan batu granit, kapur, dan pasir kwarsa. Pengelompokkan terbesar untuk batu granit adalah kawasan Gunung Ranai Tengah yang membentang dari timur sampai utara. Batu kapur yang merupakan bahan dasar industri semen terdapat di bagian selatan, tepatnya di sekitar Cutak, Spang, Sekunyam, Lintang, Selimut, dan Tekul Lampak. Kemudian, pasir kwarsa terdapat di pesisir pantai bagain timur, mulai dari Desa Sepempang sampai Desa Pengadah.

Kependudukan
Badan Pusat Statistik (BPS) yang bekerjasama dengan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Natuna (2002) menyebutkan bahwa Natuna berpenduduk 83.920 jiwa, dengan rincian 42.914 orang laki-laki dan 41.006 orang perempuan. Mereka tersebar secara tidak merata di 9 kecamatan yang tergabung di dalamnya. Kecamatan yang paling banyak penduduknya adalah Bunguran Timur (16.849 jiwa). Dan, ini adalah wajar karena ibukota Natuna berada di kecamatan tersebut.

Dilihat berdasarkan tingkat pendidikan yang dicapai, maka sebagian besar (26.864 jiwa) hanya tamat SD. Namun demikian, untuk sebuah kabupaten yang letaknya sangat jauh dari ibukota provinsi, jumlah penduduk yang tamat akademi/universitas cukup dibanggakan, walaupun jumlahnya belum memadai (583 jiwa). Selebihnya, mereka tamat SLTP (5.823 jiwa), tamat SLTA (4.584 jiwa), dan tidak atau belum tamat SD (31.340 jiwa).

Berdasarkan lapangan usaha yang digelutinya (berumur 10 tahun ke atas) sebagian besar bergerak di bidang pertanian, baik tanaman pangan (6.624 jiwa), tanaman lainnya (4.400 jiwa), perikanan (6.732 jiwa), perkebunan (2.592 jiwa), maupun peternakan (62 jiwa). Sebagai catatan, tanaman cengkih pernah menjadi primadona di sana6. Selebihnya, adalah mereka yang berusaha di bidang industri pengolahan (796 jiwa), perdagangan (1.839 jiwa), jasa (3.300 jiwa), angkutan (486 jiwa), dan lainnya (3.046 jiwa). Salah satu faktor yang membuat mereka terkonsentrasi di bidang pertanian adalah karena keadaan tanahnya yang relatif subur dan biota lautnya yang beraneka ragam, sehingga berbagai jenis ikan mudah diperoleh.

Selanjutnya, jika dilihat berdasarkan agama, maka Islam merupakan agama yang dianut oleh sebagian besar masyarakatnya. Hal itu tercermin dari tempat peribadatan yang ada di sana (Mesjid ada 162 buah, Musholla/Langgar ada 155 buah, Gereja Katolik ada 5 buah, Gereja Protestan ada 6 buah, dan Vihara ada 3 buah). Menurut data yang tercatat pada tahun 1997, jumlah pemeluk Agama Islam pada tahun tersebut adalah 34.375 jiwa, Katolik (132 jiwa), Protestan (42 jiwa), Buddha (595 jiwa), dan lainnya (293 jiwa)7.

Faktor yang menyebabkan mengapa pemeluk Agama Islam merupakan jumlah terbesar adalah etnik Melayu yang sekaligus merupakan penduduk asal8 Natuna. Mereka sering diidentikkan dengan Islam. Hal itu tercermin dari ungkapan yang berbunyi: “Orang Melayu adalah orang yang beragama Islam, berbahasa Melayu, dan beradat-istiadat Melayu”. Dengan demikian, adanya berbagai agama yang terdapat di sana menunjukkan bahwa penduduknya tidak hanya berasal dari etnik Melayu-Natuna semata, tetapi etnik lainnya seperti: Tionghoa, Minangkabau, Banjar, Jawa, Bugis, dan Orang Sampan.

Sumber:
Bappeda dan Kantor Statistik Kabupaten Kepulauan Riau. Kepulauan Riau dalam Angka 1997, Bappeda dan Kantor Statistik Kabupaten kepulauan Riau, Tanjungpinang, 1997.

Efendi, MA. Sejarah Bunguran dan Sekitarnya, Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaaan Propinsi Riau Bid. Pemusiuman & Kepurbakalaan, Pekanbaru, 1988.

Galba, Sindu dan Sudiono. 2004. Ungkapan Tradisional Masyarakat Melayu-Natuna. Kepulauan Riau: Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI, Deputi Bidang Pelestarian dan Pengembangan Kebudayaan, Asdep Tradisi.

Ibrahim, Abdul Kadir, Merentang Jejak Natuna, Haraian Riau Pos, Pekanbaru, 23-28 Juni 1995.

---------. Menjual Natuna, Yayasan Sagang, Pekanbaru, 2000.

Majalah Madani. Natuna Dikapling Pusat, Pekanbaru, Nomor 03 Tahun I, April 1999.

Saiman, H Abdul Manan. Merangkai Pulau Memakmurkan Negeri, Memori Pelaksanaan Tugas Bupati Kepulauan Riau Priode 1990-1995.

Salam, Alfitra. Sentralisasi dan Otonomi Pembangunan Daerah: Pengalaman Propinsi Riau, makalah Seminar Natuna, Universitas Riau, Pekanbaru, 12-13 Juni 1995.

Syamsuddin, BM. Alam Lingkungan Bunguran dan pelukan Pulau Tujuh, Naskah, 1989.
Dilihat: