Gunung Tangkuban Perahu (Provinsi Jawa Barat)

Provinsi Jawa Barat memiliki banyak objek wisata, baik wisata alam, sejarah maupun budaya. Salah satu di antara sekian banyak objek wisata tersebut adalah Gunung Tangkuban Perahu. Gunung ini terletak di Desa Cikole, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung. Letaknya sekitar 30 kilometer ke arah utara Kota Bandung. Gunung yang berada pada ketinggian sekitar 1.860 meter di atas permukaan laut ini merupakan salah satu objek wisata andalan Kabupaten Bandung karena panoramanya yang indah dan banyak dikunjungi wisatawan dari dalam maupun luar negeri.
Di kalangan masyarakat Sunda, Gunung yang dari kejauhan tampak seperti sebuah perahu yang terbalik ini erat hubungannya dengan sebuah legenda yang sangat terkenal, yaitu Sangkuriang. Konon, gunung ini tercipta dari sebuah perahu yang ditendang oleh Sangkuriang hingga terbalik. Waktu itu, Sangkuriang yang hendak mempersunting ibunya sendiri, Dayang Sumbi, diharuskan untuk membuat sebuah perahu dalam waktu satu malam saja, sebagai syarat pernikahan. Namun, karena Dayang Sumbi tidak mau dikawini oleh anak kandungnya sendiri, maka sebelum matahari terbit ia pun menumbuk lesung. Suara lesung itu membuat ayam-ayam mulai berkokok karena mengira matahari telah terbit. Hal ini membuat Sangkuriang harus menghentikan pekerjaan membuat perahunya, sebab waktu yang diberikan oleh Dayang Sumbi telah habis. Karena kesal, perahu yang belum jadi itu kemudian ditendangnya hingga terbalik dan akhirnya membentuk sebuah gunung yang dinamakan Tangkuban Perahu.
Kondisi Gunung
Tangkuban Perahu merupakan salah satu gunung berapi yang masih aktif hingga saat ini. Gunung yang terakhir kali meletus pada tahun 1910 ini memiliki sembilan kawah yang tersebar di berbagai tempat di puncaknya, yaitu: Kawah Ratu, Upas, Domas, Baru, Jurig, Badak, Jurian, Siluman, dan Paguyangan Badag.

Di antara kawah-kawah tersebut, Kawah Ratu merupakan kawah yang terbesar. Kawah Ratu berbentuk seperti mangkuk yang sangat besar dan dalam. Pada saat cuaca cerah, lekukan tanah pada dinding dan dasar kawah dapat terlihat dengan jelas sehingga mampu menyajikan pemandangan yang mengagumkan.

Sebagian bibir Kawah Ratu tersebut banyak terdapat kios-kios yang menjual makanan, minuman dan cinderamata. Cinderamata yang diperdagangkan diantaranya adalah: baju, celana, selendang, topi, gelang, cincin, kalung, batu alam, tanaman bonsai, alat musik (angklung), senjata tajam khas daerah Jawa Barat dan lain sebagainya. Selain cinderamata, makanan dan minuman, ada pula orang-orang yang menjual jasa sebagai pengantar pengunjung berkeliling kawah dengan menggunakan kuda.

Sekitar 1.500 meter atau 25 menit berjalan kaki dari Kawah Ratu, terdapat kawah terbesar kedua, yaitu Kawah Upas. Kawah Upas memiliki dasar yang dangkal dan relatif datar dengan pepohonan yang ada di salah satu sisi dasar kawah. Kawah ini agak jarang dikunjungi wisatawan karena letaknya yang agak jauh dan hanya dapat ditempuh dengan berjalan kaki. Selain itu, pemandangan di Kawah Upas cenderung “biasa-biasa” saja jika dibandingkan dengan Kawah Ratu.

Meski gunung itu masih mengeluarkan bau asap belerang, dan bahkan ada beberapa kawah yang dilarang untuk dikunjungi karena asapnya mengandung racun, namun kawah-kawah lainnya tetap dibuka dan dijadikan sebagai tempat rekreasi. Dan, sama seperti tempat-tempat rekreasi lainnya di Indonesia, Tangkuban Perahu dilengkapi pula dengan fasilitas khas tempat rekreasi, seperti toilet, rumah ibadah (mushola), hingga pusat informasi wisata yang siap memberikan berbagai informasi yang dibutuhkan wisatawan.

Obyek Wisata Tangkuban Perahu yang dikelola oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung ini setiap minggunya mendapat pemasukan rata-rata mencapai Rp3.000.000,00. Uang sebesar itu didapat dari penjualan tiket masuk seharga Rp8.000,00. Namun, pada saat lebaran jumlah pemasukan bisa naik puluhan kali lipat dibanding hari-hari biasa. Belum lagi, pendapatan yang diperoleh secara langsung dari transaksi jual-beli makanan maupun cinderamata yang ada di sekitar lokasi tersebut, yang tentunya juga ikut menyumbang dalam jumlah yang tidak sedikit bagi kas pendapatan daerah.
Dilihat: