Desa Karedok (2004)

Lokasi
Desa Karedok berada di Kecamatan Jati Gede, Kabupaten Sumedang. Luas wilayah Desa Karedok seluas 926 ha, terdiri atas berbagai jenis lahan, yang peruntukannya meliputi permukiman umum 11 ha, bangunan sekolah 0,10 ha, tempat peribadatan (masjid) 0,020 ha, sawah pengairan setengah teknis 145 ha, sawah tadah hujan 70 ha, ladang atau tanah darat 39,35 ha, hutan asli 305,5 ha, sarana olah raga meliputi lapangan bola volley/basket 0,20 ha, taman rekreasi 1,42 ha; serta perikanan air tawar atau kolam 0,50 ha.

Orbitrasi waktu tempuh dan letak Desa Karedok dari Bandung yang merupakan ibukota Provinsi Jawa Barat berjarak lebih kurang 90 kilometer, yang jika ditempuh dengan kendaraan roda empat memerlukan waktu 3 jam, dari ibu-kota Kabupaten Sumedang 75 kilometer, yang jika ditempuh dengan menggunakan kendaraan roda empat memerlukan waktu 2 jam. Dan, apabila ditempuh dari kota Kecamatan Jati Gede lebih kurang 6 kilometer, memerlukan waktu sekitar 20 menit, selanjutnya dari Desa Karedok ke pusat fasilitas terdekat memerlukan waktu lebih kurang 15 menit.

Secara administratif Desa Karedok berada di wilayah Kecamatan Jati Gede Kabupaten Sumedang, dengan batas-batas wilayah: sebelah utara berbatasan dengan Desa Cipeles; sebelah selatan berbatasan dengan Desa Kadujaya; sebelah barat berbatasan dengan Desa Pajagan; dan sebelah timur berbatasan dengan Kadujaya.

Pemerintahan desa Karedok dipimpin oleh seorang Kuwu atau Kepala Desa dengan 6 Rukun Warga (RW) dan 24 Rukun tetangga (RT), serta terbagi menjadi 2 dusun, yak-ni Dusun Karedok 1 dan Dusun Karedok 2.

Asal Usul Desa Karedok
Asal usul Desa Karedok konon berawal dari sebuah perkampungan yang terletak di seberang Sungai Cimanuk. Daerah ini dulunya merupakan wilayah Sumedang Larang atau Negara Mayeuti (sebutan orang pada saat itu). Ketika itu terjadi musibah tanah longsor di sawah lamping dan menimpa sebuah kampung, menyebabkan penduduk kampung tersebut harus pindah ke Kampung Rancakeong atau Babakan Dobol. Tersebutlah dua keluarga yang ada di tempat itu yang kemudian berkembang menjadi 710 jiwa. Perkembangan yang dimikian pesatnya itu dimungkinkan karena daerah ini merupakan daerah yang subur, sehingga banyak pendatang yang akhirnya menetap di sana.

Saat itu Sumedang dipimpin oleh seorang bupati bernama Pangeran Aria Suria Atmadja yang senang “ngalintar” (menangkap ikan di sungai dengan menggunakan jala atau kecrik). Ketika ia ngalintar lagi di Leuwi Kiara yang merupakan aliran Sungai Cimanuk, ia merasa lelah kemudian beristirahat di sebuah kampung yang disebut Kampung Dobol. Pada saat ia beristirahat, masyarakat setempat mengetahui bahwa yang sedang beristirahat itu adalah dalem atau bupati, dan dengan rasa hormat warga kampung itu menyuguhkan hidangan berupa karedok terong, yakni jenis makanan khas Sunda untuk teman nasi (saat makan). Ada tiga macam karedok, yaitu karedok leunca, karedok terong, dan karedok kacang panjang. Karedok leunca bahannya hanya dari buah leunca yang masih hijau atau tidak terlalu tua. Bumbunya terdiri atas garam, terasi, cikur (kencur), gula, bawang putih, serta surawung (kemangi). Bumbunya dihaluskan terlebih dahulu dalam coet dengan mutu (ulekan) disusul leunca dan surawung diaduk dengan bumbu hingga padu dan siap dihidangkan. Karedok terong bahannya terutama buah terong (terung) berwarna hijau keputih-putihan. Bumbunya terdiri atas garam, terasi, gula merah, kencur, asam, dan oncom. Biasanya keredok terong ini juga bisa dicampur atau ditambah lalap lain seperti kacang panjang, bonteng (mentimun), toge atau kubis, dan surawung (kemangi). Terung, kacang panjang, mentimun, kol diiris, kecuali kemangi dan toge. Kemudian dimasukkan ke dalam coet atau ulekan untuk diaduk dengan bumbu yang sudah disiapkan dan dihaluskan hingga padu. Sedangkan ka-redok kacang panjang prosesnya sama dengan karedok terong, namun ditambahkan cabe.

Konon, ketika dalem beristirahat di Desa Dobol ini dihidangkan karedok terong. Setelah dalem mencicipi kare-dok tersebut ia merasakan kenikmatan yang luar biasa atas jamuan masyarakat kampung tersebut. Kenikmatan makan karedok terong itu dibicarakannya kepada Sesepuh Sumedang. Setelah mendengar cerita dalem tersebut, Sesepuh Su-medang merasa penasaran, kemudian dia pun mengajak re-kan-rekannya ngalintar ke Leuwi Kiara di aliran Sungai Cimanuk yang berdekatan dengan Kampung Dobol. Begitu pula pada saat Sesepuh Sumedang beristirahat di sana, dia dan rekan-rekannya pun dijamu karedok yang sama dengan perjamuan yang disuguhkan kepada Dalem Aria Suria At-madja. Kenikmatan yang sama dapat dirasakan saat menyan-tap perjamuan tersebut, sehingga mulai saat itu Kampung Dobol berubah namanya menjadi “Kampung Karedok” dan sekaligus sebagi nama desa, yakni “Desa Karedok” hingga sekarang.

Kependudukan
Penduduk Desa Karedok adalah suku bangsa Sunda. Berdasarkan Data Profil Desa Tahun 2001, penduduk Desa Karedok berjumlah 2.226 jiwa, terdiri atas laki-laki 1.062 jiwa dan perempuan 1.164 jiwa dengan jumlah kepala keluarga 714 Kepala Keluarga (KK).

Jumlah penduduk berdasarkan umur adalah sebagai berikut: usia 0 – 12 bulan sebanyak 60 jiwa, usia 13 bulan – 4 tahun sebanyak 105 jiwa, usia 5 – 6 tahun se-banyak 85 jiwa, usia 7 – 12 tahun sebanyak 187 jiwa, usia 13 – 15 tahun sebanyak 35 jiwa, usia 16 – 18 tahun seba-nyak 190 jiwa, usia 19 – 25 tahun sebanyak 305 jiwa, usia 26 – 35 tahun sebanyak 320 jiwa, usia 36 – 45 tahun seba-nyak 315 jiwa, usia 46 – 50 tahun sebanyak 257 jiwa, usia 51 – 60 tahun sebanyak 257 jiwa, usia 61 – 75 tahun seba-nyak 69 jiwa, dan usia lebih dari 76 tahun sebanyak 73 jiwa.

Jumlah mutasi penduduk Desa Karedok selama tahun 2001, sebanyak 48 jiwa. Dari jumlah tersebut sebanyak 21 jiwa penduduk meninggal dunia, 24 jiwa lahir, dan sebanyak 3 jiwa penduduk pergi. Apabila dibandingkan antara angka kematian dan angka kelahiran, maka penduduk Desa Karedok dapat diklasifikasikan sebagai masyarakat yang telah mengerti akan arti hidup sehat. Ketersediaan sarana kesehatan, diperlihatkan dengan pemanfaatan lembaga dan tenaga medis seperti Puskesmas, mantri kesehatan, bidan, dukun bayi, dan Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) serta mengaplikasikan pengetahuan obat-obatan, baik obat-obatan secara medis maupun obat-obatan tradisional.

Upaya memperpanjang umur dilakukan dengan cara pola hidup sehat, yakni dengan cara mengkonsumsi makanan yang menyehatkan pula. Selain itu, penggunaan air bersih dan penggunaan kamar mandi terutama rumah-rumah tembok, baik di dalam rumah maupun di luar rumah telah memenuhi sarat-sarat kesehatan, termasuk penggunaan saluran pembuangan air kotor dan penggunaan septic tank.

Kaum tua di kalangan masyarakat Desa Karedok sangat dihormati keberadaannya baik sebagai figur maupun sebagai orang yang dijadikan tempat bertanya dalam berbagai masalah, karena mereka dipandang telah banyak makan asam garam (legok tapak genteng kadek) dalam kehidupan. Demikian juga dalam berbagai hal, orang-orang tua tersebut dijadikan rujukan terutama yang bertalian dengan adat istiadat.

Sebagian besar penduduk Desa Karedok bermatapencaharian sebagai petani, baik petani pemilik, penggarap, maupun buruh tani. Kondisi demikian tidaklah mengherankan karena latar belakang sejarah masyarakat Sunda adalah sebagai petani. Meskipun pertanian menjadi sumber mata pencaharian utama, namun mereka mempunyai pekerjaan tambahan atau sambilan yang dapat memberikan penghasilan, misalnya beternak sapi, kambing, ayam, kerbau, itik, domba dan lain-lain. Adapun mata pencaharian penduduk yang lain adalah sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS), Guru, Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Kepolisian, tukang ojeg, tukang kayu, tukang batu, mantri kesehatan, bidan, tukang jahit, tukang cukur, serta sebagai pedagang.

Kehidupan Sosial Budaya
Seperti telah disebutkan di atas, penduduk Desa Karedok sebagian besar bermatapencaharian sebagai petani. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika desa ini memiliki upacara tradisional yang berkaitan dengan pertanian, baik yang dilaksanakan menjelang musim tanam padi maupun ketika masa panen tiba, yaitu upacara Tutup Buku Guar Bumi, upacara Ngabeungkat (upacara membersihkan saluran air agar sawah tidak kekurangan air); Mapag Sri atau upacara setelah panen; dan upacara meminta hujan dengan cara memandikan kucing.

Keberadaan upacara-upacara tradisional tersebut turut pula menghidupkan kesenian tradisional yang biasanya diikutsertakan dalam penyelenggaraan upacara, seperti kesenian Bangreng, Tayuban, Terebang, Dogdog, Genjring, kecuali Wayang Golek atau Wayang Kulit serta Tari Topeng yang tidak boleh dipergelarkan atau dipertunjukkan dalam upacara, begitu juga dalam pesta-pesta atau kegiatan lain di luar penyelenggaraan upacara.

Dalam menjalin hubungan sesama penduduk Desa Karedok digunakan bahasa pengantar bahasa Sunda, sedang-kan dalam acara-acara resmi dan bahasa pengantar di seko-lah digunakan bahasa Indonesia.

Sumber:
Alamsyah, Suwardi. 2004. Upacara Tutup Buku Guar Bumi di Kabupaten Sumedang. Bandung: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung.
Dilihat: