Datu Pejanggiq

(Cerita Rakyat Nusa Tenggara Barat)

Pada zaman dahulu, ada seorang raja yang bernama Datu Pejanggiq. Ia terkenal sebagai orang yang gagah berani dan juga amat sakti karena mempunyai benda keramat yang bernama Gumala Hikmat (benda ajaib yang dapat memberi apa saja yang diminta). Datu Pejanggiq mempunyai seorang permaisuri, bernama Puteri Mas Dewi Kencana yang berasal dari Kerajaan Kentawang. Dari permaisuri itu, Datu Pejanggiq memperoleh seorang putera yang sifat dan perilakunya sama dengan dirinya.

Pada suatu hari Datu Pejanggiq berangkat ke hutan Lengkukun untuk berburu burung kerata. Ia diiringi oleh seorang patihnya yang bernama Demung Batu Bangka. Saat ia bersama Batu Bangka telah berada di tengah hutan, tiba-tiba hujan pun turun dengan lebatnya yang disertai dengan sambaran kilat dan petir. Untuk menghindari hujan, Datu Pejanggiq hanya bernaung di bawah sebatang pohon. Sambil berteduh di bawah pohon itu Datu Pejanggiq menyuruh Demung Batu Bangka untuk melihat keadaan sekitar, kalau-kalau di tempat itu ada rumah untuk berteduh.

Setelah mendapat perintah atasannya itu, Demung Batu Bangka segera berangkat meneliti daerah sekitarnya. Tidak berapa lama kemudian, ia menemukan sebuah gubuk milik seorang lelaki jabut (badannya ditumbuhi bulu yang lebat). Ia pun segera melaporkan kepada Datu Pejanggiq bahwa tidak jauh dari tempatnya berteduh itu terdapat sebuah rumah yang dijaga oleh lelaki jabut. Tanpa banyak berkata, Datu Pejanggiq pun segera bergegas menuju ke rumah itu, dipandu oleh Demung Batu Bangka.

Melihat Datu Pejanggiq dan pengawalnya mendatangi rumahnya, lelaki jabut itu segera membuka pintu rumahnya dan mempersilahkan kedua orang itu untuk masuk. Dengan hormat ia kemudian mempersilahkan mereka duduk di sebuah sekepat (semacam bangunan kecil bertiang empat yang berfungsi sebagai tempat untuk beristirahat). Tak lama kemudian hujan pun reda, namun angin masih berhembus dengan kencang.

Ketika sedang duduk-duduk sambil menunggu hembusan angin mereda, tiba-tiba mereka melihat seberkas sinar gemerlapan yang datang dari arah baratdaya. Ketika melihat sinar itu, terlintas dalam pikiran Datu Pejanggiq bahwa rumah tempat mereka berteduh ini bukanlah rumah sembarang orang.

Memang pemilik rumah itu, yaitu lelaki jabut, bukanlah manusia. Ia adalah raja jin. Cahaya gemerlapan yang dilihat oleh Datu Pejanggiq dan Batu Baka sebenarnya adalah cahaya yang muncul ketika puteri semata wayang lelaki jabut itu sedang melayang di udara bersama dengan dayang-dayang dan inang pengasuhnya. Mereka paru saja pulang dari mandi di sebuah telaga yang letaknya di bagian baratdaya rumah lelaki jabut.

Ketika sang puteri bersama para dayangnya telah sampai di rumah, pandangan matanya bertemu dengan pandangan mata Datu Pejanggiq yang mengakibatkan keduanya jatuh pingsan. Hal ini terjadi karena Datu Pejanggiq sepanjang hidupnya baru kali itu melihat seorang perempuan yang sangat cantik yang membuat jantungnya tiba-tiba berhenti berdetak. Demikian pula dengan puteri itu, sepanjang hidupnya baru kali ini ia melihat seorang lelaki yang sangat tampan dan penuh kharisma.

Melihat peristiwa yang serba tiba-tiba ini lelaki jabut pun tak bisa berbuat banyak dan hanya mondar-mandir tak tentu tujuan. Begitu pula dengan Demung Batu Bangka. Ia hanya duduk termenung dan seakan-akan tidak tahu harus berbuat apa. Sesaat kemudian, setelah sadar dari keterkejutannya, Batu Bangka segera mengambil air dan memercikkannya ke wajah Datu Pejanggiq dan sang puteri agar mereka tersadar dari pingsannya.

Setelah keduanya sadar, Datu Pejanggiq segera menghampiri sang puteri dan berkata, “Duhai gadis jelita, sungguh pertemuan yang tak diduga ini telah membuat diriku tak bisa berbuat apa-apa, kecuali untuk menyerahkan diri padamu. Dapatkah kiranya kau menerimaku sebagai suami?”

Mendengar pertanyaan Datu Pejanggiq yang tiba-tiba itu, sang puteri segera berkata, “Wahai tuan yang tampan, saya berharap agar tuan sadar dan sabar dahulu. Saya belum tahu pasti siapa gerangan tuan dan dari mana tuan berasal.”

Jawaban puteri jin itu membuat Datu Pejanggiq sadar bahwa dirinya hampir bertindak ceroboh. Ia pun segera menjawab, “Kiranya tata caraku kurang berkenan di hatimu, hendaklah dimaafkan. Tetapi yakinlah bahwa tindakan itu semata-mata terdorong oleh suatu perasaan yang sulit dilukiskan. Aku telah jatuh hati kepadamu. Karena itu satu permintaanku kepadamu, yaitu bersediakah engkau berumah tangga denganku.”

“Keinginan tuan akan saya pertimbangkan, asalkan tuan katakan dahulu siapakah gerangan tuan dan dari manakah tuan berasal?” jawab sang puteri.

Oleh karena Datu Pejanggiq ingin segera mengawini puteri itu, maka ia mulai menceritakan asal-usulnya serta tujuannya hingga sampai di rumah sang puteri. Ketika bercerita itu Datu Pejanggiq sesekali juga menyisipkan kata-kata rayuan dan bujukan agar sang puteri bersedia untuk ia peristeri.

Singkat cerita, setelah mendengar seluruh penjelasan Datu Pejanggiq yang panjang lebar tersebut, akhirnya sang puteri bersedia untuk diperisteri, namun dengan syarat Datu Pejanggiq harus menjadikan Hutan Lengkukun menjadi suatu kerajaan yang lengkap dengan istana dan segala perabotannya.

Syarat itu langsung disanggupi oleh Datu Pejanggiq. Kemudian, ia bersama Batu Bangka minta diri dan langsung pergi menuju ke suatu tempat yang bernama Tibu Mong. Di tempat itu Datu Pejanggiq mengeluarkan Gumala Hikmatnya, sambil meminta agar apa yang dikehendaki oleh sang puteri dapat terkabul. Setelah selesai mengucapkan permintaannya, secara tiba-tiba di puncak Tibu Mong itu telah berdiri sebuah kerajaan yang lengkap dengan istana serta rakyatnya.

Segera setelah harapan Datu Pejanggig menjadi kenyataan, maka ia pun penuju ke rumah sang puteri jin untuk memberitahukan bahwa segala permintaannya telah terpenuhi. Dan beberapa hari kemudian, perkawinan pun dilangsungkan. Beberapa bulan setelah mereka menikah, puteri jin itu pun hamil.

Tetapi saat kandungan sang puteri berumur tiga bulan, Datu Pejanggiq merasa perlu untuk kembali ke kerajaan yang lama ditinggalkannya. Puteri jin itu pun tidak berkeberatan atas kehendak Datu Pejanggiq, karena ia sadar bahwa suaminya juga harus mengurusi kerajaannya yang ada di Pejanggiq.

Sebelum berpisah, Datu Pejanggiq berkata kepada isterinya, “Kelak bila kau melahirkan seorang putera, berikanlah leang (kelengkapan pakaian adat Sasak) dan cincin ini. Namun, bila kelak kau melahirkan seorang puteri, maka wewenangmulah untuk memberikan nama dan mengurusnya.”

Beberapa bulan setelah ditinggalkan Datu Pejanggiq, puteri jin itu melahirkan seorang putera, yang amat tampan. Sang anak yang baru lahir itu mempunyai suatu kelebihan, yaitu telah dapat berbicara dengan sangat lancar dan dalam beberapa jam saja tubuhnya sudah seperti seorang anak yang berumur 6 tahun. Dan, oleh karena si anak sudah dapat berbicara, maka puteri jin itu segera memberikannya leang dan cincin seperti yang diamanatkan oleh Datu Pejanggiq. Si ibu juga menjelaskan keberadaan ayahnya saat ini.

Setelah mendengar penjelasan sang ibu, anak tersebut lalu meminta izin untuk mencari ayahnya di Pejanggiq. Beberapa hari setelah itu, ia pun segera berangkat menuju ke kerajaan Pejanggiq. Namun sesampainya di sana, ia mendapat keterangan bahwa Datu Pejanggiq sedang berada di Sumbawa untuk menghadiri suatu pesta. Oleh karena ia ingin segera bertemu dengan ayahnya, maka ia pun segera menyusul ke Sumbawa.

Setiba di Sumbawa ia meminta tolong kepada salah seorang penduduk untuk menunjukkan tempat raja Sumbawa yang sedang menyelenggarakan pesta. Setelah diantarkan ke tempat tujuan, ia pun bertanya lagi pada salah seorang undangan yang hadir untuk menunjukkan di mana Datu Pejanggiq berada. Orang yang ditanya itu lalu memberitahukannya bahwa orang yang sedang berada di sudut ruangan pesta itu adalah Datu Pejanggiq. Anak itu kemudian berjalan ke arah Datu Pejanggiq dan segera memberitahukan bahwa ia adalah anaknya yang berasal dari Tibu Mong.

Melihat kedatangan anak tersebut Datu Pejanggiq tak menyangkalnya, karena si anak memakai leang dan cincin yang telah diberikan kepada isterinya dahulu. Setelah itu, Datu Pejanggiq menyuruh anaknya untuk duduk dan menikmati hidangan yang disediakan. Namun, karena anak itu juga merupakan keturunan bangsa jin, maka nafsu makannya sungguh luar biasa. Seluruh makanan yang dihidangkan di meja itu dihabiskannya. Demikian pula ketika hidangan ditambahkan, semuanya di makan hingga tak tersisa lagi.

Melihat hal itu, Datu Pejanggiq merasa malu dan secara diam-diam meninggalkan ruang pesta, segera pulang ke Pejanggiq. Saat telah berada di Pejanggiq, ia langsung menuju ke perahunya dan segera berlayar ke Makassar.

Setelah putera Datu Pejanggiq selesai makan, ia menjadi gelisah karena ayahnya sudah tidak ada disisinya lagi. Ia lalu berkeliling di sekitar tempat pesta dan bertanya pada setiap orang yang dijumpainya. Namun, karena sedang asyik berpesta, maka tidak seorang pun yang melihat atau memperhatikan Datu Pejanggiq. Sang putera akhirnya pergi dari tempat pesta itu dan pulang kembali ke rumah ibunya di puncak Tibu Mong.

Beberapa bulan sepeninggal Datu Pejanggiq, kerajaan Pejanggiq mengalami bencana kekeringan yang membuat sebagian besar tanaman menjadi mati. Rakyat di kerajaan Pejanggiq pun semakin hari semakin sengsara. Mereka menjadi kelaparan karena tidak ada hasil bumi yang bisa dimakan. Melihat hal ini, salah seorang puteranya yang lain (anak Puteri Mas Dewi Kencana), berangkat ke Makassar untuk mencari ayahnya.

Setelah berhari-hari berkelana di daerah Makassar, akhirnya sang putera dapat menjumpai ayahnya. Dalam perjumpaan itu ia memohon agar Datu Pejanggiq kembali ke negerinya yang sedang mengalami bencana kekeringan. Dan, setelah berkali-kali dibujuk, barulah Datu Pejanggiq bersedia kembali ke kerajaannya.

Singkat cerita, saat telah berada kembali di kerajaannya, Datu Pejanggiq sangat terkejut melihat sebagian besar rakyatnya menjadi kurus karena kurang makan. Selain itu tanah-tanah di kerajaannya pun retak-retak dan berdebu karena sudah berbulan-bulan tidak tersiram air hujan. Kemudian, dengan diiringi oleh anaknya, Datu Pejanggiq pergi ke suatu tempat yang bernama Kemaliq Toro. Di tempat itu Datu Pejanggiq bersembahyang dan berdoa kepada Tuhan agar tanah di kerajaannya menjadi subur kembali sehingga rakyatnya tidak sengsara lagi.

Tiada berapa lama setelah Datu Pejanggiq memanjatkan doa, hujan pun turun dengan lebat. Setelah itu, Daru Pejanggiq memerintahkan anaknya kembali ke Pejanggiq membawa beberapa puluh orang untuk mengangkut dua buah batu besar yang nantinya akan diletakkan di tempat itu (Kemaliq Toro) dan di daerah Pakulan. Datu Pejanggiq juga berpesan kepada anaknya, agar apabila sewaktu-waktu terjadi kekeringan, maka mereka dapat mengambil air yang keluar di sekitar kedua buah batu tersebut.

Keesokan harinya setelah kedua batu besar telah diletakkan sesuai dengan perintahnya, Datu Pejanggiq mengajak sekitar 44 pengiringnya menuju ke daerah Seriwa. Sesampai di Seriwa, Datu Pejanggiq berpesan, “Sekarang telah tiba saatnya kita akan berpisah. Janganlah kalian mencariku. Biarlah aku yang mencarimu.”

Selesai berkata demikian, Datu Pejanggiq tiba-tiba sirna seperti ditelah bumi. Mereka hanya menemukan bekas ujung tongkat Datu Pejanggiq yang menyerupai sumur dan mengeluarkan air. Dan, hingga saat ini, lubang bekas ujung tongkat Datu Pejanggiq itu oleh masyarakat setempat dipecaya dapat dipergunakan untuk mengobati berbagai jenis penyakit pada tanaman padi.

Sumber:
Diadaptasi bebas dari Proyek Penerbitan dan Pencatatan Kebudayaan Daerah. 1981. Cerita Rakyat Nusa Tenggara Barat. Jakarta: Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
hal
Dilihat: