Lontong Kare Tahu

Bahan
4 buah lontong
8 buah tahu pong/ 2 tahu putih besar, potong dadu
minyak secukupnya, untuk menggoreng
3 lembar daun salam
5 lembar daun jeruk
2 batang serai, memarkan
1 batang kecombrang, iris
3 cm jahe, memarkan
1 liter santan dari 1 butir kelapa
6 lenjar kacang panjang, potong-potong

Bumbu yang Dihaluskan
6 butir bawang merah
3 siung bawang putih
6 cm kunyit, bakar
1 sdm ketumbar, sangrai
1 sdt jintan
2 biji kapulaga
2 biji adas manis, sangrai
1/2 sdt merica butiran
1 sdt garam halus

Pelengkap
Bawang goreng dan emping goreng

Cara Membuat
Panaskan minyak goreng, tumis semua bumbu, daun salam, daun jeruk, serai, kecombrang, dan jahe masak hingga harum.

Masukkan santan, tambahkan kacang panjang, masak sebentar, angkat. Masukkan tahu yang telah di goreng.

Siapkan mangkuk, tata potongan lontong secukupnya. Tuangkan kare.

Sajikan hangat, taburi bawang goreng dan emping goreng.

Sumber: http://www.foods-recipe.com

Cumi Goreng Tepung

Bahan
500 gr cumi, pilih ukuran besar
1 sdm tepung terigu (kurang lebih) untuk melumuri
1/2 sdt garam halus
500 ml minyak, untuk menggoreng

Bahan pencelup
1 butir telur, kocok sebentar
50 gr tepung terigu + 50 gr tepung maizena (kurang lebih)
1/3 sdt merica bubuk
1/3 sdt garam halus
50 ml air dingin

Cara membuat
Pisahkan kepala cumi dari badannya dan cuci bersih hingga putih. Iris bulat tipis dan rendam dalam air es selama kurang lebih 2 jam (simpan dalam lemari es).

Adonan celupan : kocok telur sebentar, kemudian campurkan dengan bahan lainnya, aduk rata. Tuangkan air sedikit demi sedikit sambil diaduk hingga adonan kental. Sisihkan.

Iris cumi bentuk bulat setebal kurang lebih 1/2 cm. Lumuri tepung terigu yang di beri sedikit garam, tipis-tipis saja, ratakan.

Panaskan minyak cukup banyak diatas api sedang. Celupkan cumi iris bertepung ke dalam adonan celupan, goreng satu per satu hingga berwarna kuning kecokelatan dan matang. Angkat, tiriskan, hidangkan panas dengan saus mustard dan saus sambal, sesuai selera.

Sumber: http://www.foods-recipe.com

Motorola ROKR Z6

Specifications
General
Form factor
Network
Antenna Design
Slider
GSM 850/900/1800/1900Mhz
Internal
Size
Dimensions
Weight
Display
4.2 x 1.8 x 0.6 (105.5 x 45.5 x 16 mm)
4.0 oz (115 g) the average is 2.3 oz (65 g)
TFT, 240 x 320 pixels
Memory
Phonebook
Call records
Internal
Card slot
Caller groups supported
-
64 MB
microSD (T-Flash)
Data
GPRS
HSCSD
EDGE
3G
WLAN
Bluetooth
Infrared port
USB
Yes
-
Yes
-
-
2.0 A2DP
No
MicroUSB 2.0
Features
OS
CPU
Messaging
Browser
Radio
Games
Camera
Video
Java
Music player
-
-
SMS, MMS, Email
HTML
No
Yes
2.0 megapixels, Digital zoom
MPEG 4 3GPP h.263 formats supported Video player
Yes
MP3 AAC AAC+ formats supported
- Alarm
- Calculator
- Calendar
Battery
Stand-by
Talk time
400 hours the average is 151 h (6 days)
7.00 hours the average is 4 h (240 min)

Image:
http://s3.amazonaws.com

Permainan Rakyat

Permainan Ciko Guru (Maluku)

Pengantar
Maluku adalah salah satu provinsi yang ada di Indonesia. Di sana, khususnya di kalangan orang Jailolo dan Sahu yang berada di Maluku Utara, ada sebuah permainan tradisional yang bernama ciko guru, yaitu permainan melempar dan mencukil 10 buah batu atau buah gelici dalam jarak tertentu hingga seluruhnya masuk ke dalam lubang. Ciko guru dapat diartikan “menunjuk” karena dalam permainan ini orang baru boleh bermain setelah ditunjuk oleh lawan mainnya. Permainan ciko guru kadang-kadang disebut juga dengan “main batu membayar kenari” karena bagi yang kalah harus membayar sejumlah kenari atau langsat atau kelereng sesuai dengan kesepakatan antarpemain sebelum permainan dimulai. Asal usul permainan ciko guru di kalangan orang Jailolo maupun Sahu sudah tidak dapat diketahui lagi.

Pemain
Permainan ciko guru dapat dimainkan oleh maksimal 4 orang. Namun, jika lebih dari itu maka pemain lain akan membentuk kelompok sendiri dengan membuat arena bermain yang boleh berdekatan dengan kelompok lain. Dahulu permainan ini hanya diperuntukan bagi kaum lelaki dewasa saja. Namun saat ini ciko guru dapat dimainkan oleh siapa saja baik lelaki, perempuan, tua, muda maupun anak-anak.

Tempat Permainan
Permainan ciko guru dapat dilakukan di mana saja, di halaman rumah, di halaman rumah adat, ataupun di lapangan. Dahulu permainan ini hanya dilakukan pada malam hari di halaman rumah orang yang baru meninggal. Maka dari itu, hanya laki-laki dewasa sajalah yang boleh memainkannya. Anak-anak tidak boleh bermain karena dikhawatirkan anak menimbulkan kegaduhan. Sementara kaum perempuan pada waktu itu biasanya akan membantu menyiapkan hidangan di rumah orang yang ditimpa musibah tersebut. Di dalam arena permainan ciko guru akan dibuat sebuah bujur sangkar dengan sisinya kira-kira 60 cm. Tepat di tengah-tengah bujur sangkar ada sebuah lubang dengan diameter sekitar 5 cm. Kemudian, dipasanglah sebuah tonggak bambu atau kayu sekitar 17 cm yang nantinya akan ditanam dengan kedalaman 2 cm (hanya menyisakan 15 cm di atas permukaan tanah). Jarak antara tonggak dan bujur sangkar sekitar 12 meter. Sekitar 30 cm di depan tonggak akan dibuat garis sebagai batas sah atau tidaknya lemparan pemain.

Peralatan Permainan
Peralatan dalam permainan ciko guru hanyalah batu kerikil, buah gelici atau kelerang. Alat permainan ini nantinya ada yang digunakan sebagai gacu dan ada yang dijadikan sebagai taruhan.

Aturan dan Proses Permainan
Aturan dan proses permainan ciko guru dapat dibagi menjadi dua tahap. Tahap pertama, pemain harus melempar gacunya dari tepi lubang ke arah tombak yang jaraknya sekitar 12 meter. Aturan-aturan yang terdapat dalam tahap pertama ini adalah: (1) pemain harus melempar gacu melewati garis batas di depan tonggak agar dapat mengikuti tahap berikutnya; (2) apabila pada waktu melempar itu gacunya tidak melewati garis batas di depan tonggak, maka pemain harus kembali melempar; (3) bila gacu yang dilempar mengenai gacu lawan, maka lawan tersebut harus kembali melempar; dan (4) pemain yang gacunya paling dekat dengan tonggak akan mendapat kesempatan pertama untuk melempar pada tahap berikutnya. Pada tahap kedua lemparan tidak dilakukan di pinggir lubang, melainkan di sisi luar garis bujur sangkar yang jaraknya sekitar 60 cm dari lubang, dengan aturan sebagai berikut: (1) pemain akan menunjukkan batu-batu yang dimilikinya pada lawan mainnya, dan lawan tersebut akan menunjuk 1 buah batu yang nantinya akan digunakan sebagai batu pertama sewaktu dimasukkan ke dalam lubang; (2) cara memasukkan batu pada tahap kedua ini adalah dengan menjentikkan batu menggunakan kuku ibu jari atau jari kelingking, dengan syarat salah satu tangan harus menapak pada garis batas bujur sangkar; (3) bila batu pertama berhasil masuk lubang, maka pemain itu dapat menentukan sendiri batu mana lagi yang akan digunakannya; (4) bila batu yang dijentikkan tersebut mengenai batu lain dan keduanya masuk lubang secara berurutan maka dinyatakan sah dan mendapatkan dua nilai. Namun apabila kedua batu tersebut masuk ke lubang secara bersamaan, maka dianggap tidak sah. gacu mengenai kenari atau gelici hingga ada yang keluar dari lubang, maka pemain berhak mengambil semua kenari yang berada di dalam lubang dan permainan diulang seperti semula lagi; dan (4) penentuan kalah menang dalam permainan ini adalah bagi siapa yang dapat memasukkan gacu paling banyak, maka dialah pemenangnya. Sementara itu, proses permainannya, setelah membuat lubang dan memasang tonggak adalah menentukan jumlah taruhan untuk satu kali permainan. Setelah taruhan disepakati, barulah kemudian penentuan nomor urut pemain dengan jalan suten atau undi. Selanjutnya permainan akan dimulai dengan urutan seperti aturan-aturan yang telah dijelaskan di atas, dan bagi pemain yang memperoleh buah kenari atau gelici yang terbanyak maka ia dinyatakan sebagai pemenangnya.

Nilai Budaya
Nilai yang terkandung dalam permainan yang disebut sebagai ciko guru ini adalah kerja keras dan sportivitas. Nilai kerja keras tercermin dari semangat pemain yang berusaha agar lemparannya dapat sedekat mungkin dengan tonggak, dan untuk menjentik gacu agar masuk ke lubang dan memperoleh nilai. Dan, nilai sportivitas tercermin tidak hanya dari sikap para pemain yang tidak berbuat curang saat berlangsungnya permainan, tetapi juga mau menerima kekalahan dengan lapang dada. (pepeng)

Sumber:
Suradi Hp, dkk, 1981, Permainan Rakyat Maluku. Ambon: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Archive