Lomba Panjat Pisang (Cibiru Wetan, Jawa Barat)


Bagi bangsa Indonesia tanggal 17 Agustus merupakan hari yang istimewa. Pada hari itu, sekitar 65 tahun yang lalu para pendiri bangsa memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Dan, mulai saat itu hingga sekarang setiap tanggal 17 Agustus seluruh rakyat Indonesia selalu merayakan hari kemerdekaannya.

Namun seiring dengan perkembangan zaman, perayaan tidak hanya diisi dengan upacara bendera, tabur bunga dan atau acara renungan di taman makam pahlawan saja. Perayaan kemerdekaan juga dilakukan dengan mengadakan tirakatan, pentas seni, dan permainan-permainan (perlombaan dan pertandingan) antarwarga di sebagian besar wilayah Indonesia.

Salah satu dari sekian banyak permainan rakyat untuk memeriahkan hari kemerdekaan itu adalah perlombaan panjat batang pisang yang rutin diadakan oleh warga masyarakat Desa Cibiru Wetan, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Konon, perlombaan ini adalah perkembangan dari lomba panjat pinang yang sampai sekarang masih dimainkan oleh masyarakat di daerah lain. Strategi adaptasi untuk mensiasati semakin langka dan mahalnya pohon pinang membuat warga di daerah tersebut beralih menggunakan pohon pisang yang relatif masih banyak dijumpai.

Pemain
Permainan panjat batang pisang dapat dikategorikan sebagai permainan remaja dan dewasa yang umumnya dilakukan oleh laki-laki berusia 15--23 tahun. Jumlah pemainnya antara 6--8 orang dalam bentuk kelompok dengan anggota maksimal 2 orang. Selain pemain, lomba panjat pisang juga menggunakan wasit untuk mengawasi jalannya perlombaan dan menetapkan pemenang.

Tempat dan Peralatan Permainan
Perlombaan panjat batang pisang tidak membutuhkan tempat (lapangan) yang luas. Ia dapat dimainkan di mana saja, asalkan di atas tanah. Jadi, dapat di sawah yang telah selesai panen, di tanah lapang, atau di areal perladangan. Luas arena permainan panjat pisang ini hanya sepanjang 4--5 meter dan lebar sekitar 3--4 meter.

Peralatan yang digunakan diantaranya adalah: (1) tiga batang bambu yang relatif lurus dan sudah tua dengan panjang masing-masing sekitar 10 meter; (2) sebuah batang pohon pisang berdiameter sekitar 20--30 sentimeter yang daun dan kulit luarnya telah dikupas; (3) seutas tambang berdiameter sekitar 5 sentimeter dan panjang 5 meter; (4) oli bekas untuk melumuri batang pisang agar licin; (5) ember dan gayung untuk membasahi tubuh pemain agar tetap licin ketika memanjat; (6) tali rafia, bilah-bilah bambu tipis, paku, plastik; dan (7) hadiah-hadiah yang akan diperebutkan, seperti: uang, sandal jepit, air mineral, pakaian, makanan ringan, sepatu, sepeda dan lain sebagainya, bergantung dari dana yang dimiliki oleh panitia lomba.

Sedangkan cara membuatnya adalah sebagai berikut. Mula-mula tiga batang bambu yang relatif lurus itu didirikan dan diujungnya diikat menjadi satu sehingga membentuk segitiga sama kaki. Selanjutnya, pada bagian ujung bambu yang menyatu digantungkan batang pohon pisang yang sebelumnya telah dilumuri oli agar licin dan ujungnya dipasangi bilah-bilah bambu yang dibuat sedemikian rupa hingga berbentuk lingkaran. Lingkaran yang terbuat dari bilahan bambu itulah yang nantinya menjadi target para pemain karena digantungi berbagai macam hadiah dari panitia perlombaan. Selanjutnya, pada bagian bawah batang pohon pisang yang menggantung sekitar 20 sentimeter di atas tanah (seperti sansak tinju) dibuat lubang sedalam 30--40 sentimeter dan diberi air.

Aturan Permainan
Aturan dalam permainan ini tergolong mudah, yaitu setiap regu akan diberi waktu sekitar dua menit untuk dapat mencapai puncak batang pisang dan mengambil hadiahnya. Apabila suatu regu berhasil atau tidak berhasil mencapai puncak batang pisang, maka setelah waktu yang diberikan selesai mereka harus digantikan oleh regu yang lainnya. Begitu seterusnya hingga seluruh hadiah yang digantungkan pada puncak batang pisang tidak ada yang tersisa lagi.

Jalannya Permainan
Permainan panjat pisang diawali dengan pengundian untuk menentukan regu mana yang akan memulai. Cara menentukannya mirip seperti Ariel-Luna Maya, eh salah maaf, arisan yaitu menuliskan nama-nama regu yang akan bermain dalam secarik kertas kecil lalu digulung dan dimasukkan ke dalam botol atau gelas kemudian dikocok. Regu yang gulungan kertasnya pertama keluar dari botol akan mendapat giliran pertama untuk bermain, sedangkan regu lainnya sesuai dengan urutan kertas yang keluar selanjutnya.

Setelah proses pengundian selesai, maka regu pertama yang terdiri dari dua orang akan segera memasuki arena permainan. Orang pertama yang biasanya berbadan lebih besar akan berjongkok dekat batang pisang, sedangkan orang kedua akan berdiri di atas pundaknya sambil memegang batang pisang. Selanjutnya orang pertama akan berdiri secara perlahan, sementara kawannya akan berusaha sekuat tenaga untuk memanjat batang pisang yang sangat licin karena telah diberi oli.

Setiap regu akan diberi waktu sekitar dua menit untuk dapat mencapai puncak batang pisang dan mengambil hadiahnya. Apabila suatu regu berhasil atau tidak berhasil mencapai puncak batang pisang, maka setelah waktu yang diberikan selesai mereka harus digantikan oleh regu yang lainnya. Begitu seterusnya hingga seluruh hadiah yang digantungkan pada puncak batang pisang tidak ada yang tersisa lagi.

Nilai Budaya
Nilai yang terkandung dalam permainan yang disebut sebagai panjat pisang ini adalah: kerja keras, kerja sama, dan sportivitas. Nilai kerja keras tercermin dari semangat para pemain untuk dapat mencapai puncak batang pisang dan mengambil hadiahnya. Nilai kerja sama tercermin dari kekompakan para pemain ketika sedang bermain. Dan, nilai sportivitas tercermin tidak hanya dari sikap para pemain yang tidak berbuat curang saat berlangsungnya permainan, tetapi juga mau menerima kekalahan dengan lapang dada. [Ali Gufron]

[Permainan Rakyat Jawa Barat]
Dibaca: