Kramat Tunggak

(Cerita Rakyat DKI Jakarta)

Ada dua orang adik-beradik bernama Aria Wiratanudatar dan Aria Prabangsa. Semenjak kecil hidup sebagai yatim piatu. Orang tua mereka tidak memberi warisan berupa harta benda sebagai bekal hidup. Adapun yang "diwarsikan" hanya sebuah pesan agar selalu tabah, jujur, dan berusaha keras dalam menjalani kehidupan.

Untuk memenuhi kebutuhan Aria Wiratanudatar dan Aria Prabangsa menjadi pekerja kasar. Setiap hari rutinitasnya hanyalah mencari kayu bakar, menjualnya di pasar, dan hasilnya digunakan membeli beras serta lauk-pauk untuk kebutuhan selama satu hingga dua hari. Setelah habis, mereka kembali lagi ke hutan mencari kayu atau benda apa pun yang dapat diperdagangkan atau dibarterkan di pasar.

Suatu hari, selesai menata kayu bakar di belakang rumah, mereka beristirahat di beranda yang relatif lebih bersemilir ketimbang di dalam. Tidak lama kemudian mereka tertidur. Di dalam tidur Aria Prabangsa didatangi seorang kakek berjenggot lebat dan berjubah putih. Sang Kakek berkata bahwa Aria Prabangsa akan menjadi raja, namun rakyatnya hanya satu orang yaitu Aria Wirayanudatar. Dia harus tabah dan sabar, sebab jika tidak demikian maka akan dikutuk menjadi lebih miskin dari sekarang.

Selain masuk dalam mimpi Aria Prabangsa, Kakek berjenggot juga menyambangi mimpi Aria Wiratanudatar. Pada Wirataudatar Sang Kakek berkata sebaliknya, yaitu Wiratanudatar diperintahkan menjadi rakyat yang mengabdi pada kerajaan yang "dipimpin" oleh adiknya sendiri. Dia harus melaksanakan seluruh tugas kerajaan. Apabila tidak tabah dan sabar dalam menjalankan peran, maka akan dikutuk menjadi miskin selamanya.

Setelah mendapat "wangsit", keduanya lantas terbangun hampir berbarengan. Sang adik mendahului menceritakan mimpi yang baru saja dialami. Selesai bercerita, Sang kakak menimpali bahwa dia juga didatangi Sang Kakek berjenggot dan berjubah putih. Dan, mereka berkesimpulan bahwa mimpi-mimpi tadi bukanlah "kembang tidur" biasa. Mereka lantas bersepakat menaati "perintah"nya agar dapat merubah nasib.

Malam harinya mereka disambangi Sang Kakek lagi. Tetapi mimpi kali ini sama. Dia memerintahkan agar mereka seolah-olah tidak saling kenal. Sebelum menghilang dari mimpi, Sang Kakek memperingatkan agar apabila salah seorang ada yang jatuh miskin, saudaranya tidak diperkenankan memberi bantuan.

Pagi hari, ketika bangun Aria Prabangsa mendapati diri berada di mahligai kerajaan. Dia telah mengenakan pakaian mewah nan indah laksana seorang raja. Di hadapan berdiri seorang kawula dengan air mawar dalam nampan di tangan. Kawula itu tidak lain adalah kakaknya sendiri, Aria Wiratanudatar. Dia tidak hanya bertugas membawakan air guna mencuci muka, mekainkan juga seluruh urusan rumah tangga kerajaan.

Di dalam hati Aria Prabangsa sebenarnya khasihan dan sedih melihat Sang kakak harus menjadi pelayan. Namun perasaan tadi dipendam karena "wangsit" Sang kakek berjenggot mengendaki agar dia tidak boleh mengakuinya sebagai kakak dan memberikan bantuan apapun pada Aria Wiratanudatar.

Demikian pula dengan Aria Wiratanudatar yang ingin memberontak karena setiap hari hanya melayani adiknya mulai dari bangun hingga beranjak ke peraduan. Hidupnya terasa getir, terhina, dan sengsara. Namun seperti Sang adik, dia hanya dapat memendam perasaan karena pesan "wangsit" dari Sang Kakek berjenggot.

Begitu seterusnya selama bertahun-tahun hingga suatu saat Aria Wiratanudatar tidak tahan lagi dan memohon pada raja agar diperkenankan meninggalkan kerajaan untuk mencari penghidupan baru. Alasannya, dia sudah tidak tahan lagi menjadi hamba sahaya yang harus mengurusi masalah kerajaan seorang diri.

Mendengar permintaan tersebut Aria Prabangsa kaget bukan kepalang. Dia tidak menyangka kalau kakaknya menyerah dalam menjalankan perintah "wangsit" Sang Kakek berjenggot. Namun, karena sudah diamanatkan agar tidak boleh saling mengenal dan membantu yang sedang berkesusahan, dia terpaksa merelakan kepergian Aria Wiratanudatar.

Keesokan hari Aria Wiratanudatar memulai perjalanan mencari penghidupan baru. Dia pergi berkelana selama berbulan-bulan keluar masuk hutan, menyusuri pantai, lembah, gunung, dan sungai menuju satu tempat ke tempat lain. Tetapi tidak ada satu lokasi pun yang dirasa cocok. Walhasil, Aria Wiratanudatar menjadi benar-benar miskin. Badannya kurus kering, kulit mulai berkeriput, dan kuit hitam legam terbakar matahari.

Di lain tempat, sepeninggal Sang Kakak Aria Prabangsa merasa kesepian tinggal seorang diri di kerajaan. Dalam benak sempat terpikir untuk mencari dan menolong Aria Wiratanudatar. Lagi-lagi, ketika akan menjalankan niat, di telinga terngiang wejangan Sang Kakek berjenggot sehingga dia ragu melaksanakannya. Tetapi setelah merenung beberapa lama akhirnya dia bertekat mencari Sang Kakak. Dia hanya ingin melihat kondisi Aria Wiratanudatar dan tidak untuk menolong.

Berbulan-bulan kemudian Aria Wiratanudatar tiba di sebuah daerah yang subur dengan ditumbuhi oleh bermacam-macam pepohonan yang berbuah lebat. Merasa cocok dengan tempat tersebut, dia segera mengeluarkan kapak, menebang beberapa buah pohon tua guna membangun rumah. Dalam benak, Aria Wiratanudatar yakin jika rumah selesai akan ada orang yang tertarik dan ikut membangun pula sehingga lambat laun akan menjadi ramai. Dan, sebagai orang yang pertama kali datang di tempat itu kemungkinan besar dia akan diangkat menjadi penguaasa atau bahkan raja.

Selesai membangun dan rumah akan ditempati, tiba-tiba datang Aria Prabangsa. Dia menegur Aria Wiratanudatar karena telah membangun di wilayah kerajaan tanpa izin. Dengan nada marah Aria Perbangsa lantas mengusir Sang Kakak keluar dari wilayah kerajaan. Padahal, sebenarnya dia tidak menghendaki Aria Wiratanudatar keluar dari rumah itu. Tetapi apabila dibiarkan dia takut Sang Kakek berjenggot mengganggap hal tersebut sebagai memberi bantuan pada Aria Wiratanudatar. Mereka bisa kena kutuk menjadi miskin.

Menyadari bahwa tanah tempat mendirikan rumah merupakan bagian dari wilayah kerajaan Aria Prabangsa, Aria Tanudatar tidak membantah. Dia segera mengemasi barang bawaannya dan siap berkelana lagi. Sebelum berangkat dia meminta izin pada Aria Prabangsa untuk menancapkan tunggak di depan rumah yang tidak jadi ditempati. Alasannya sebagai bukti bahwa dia pernah ke tempat ini sekaligus bertemu dengan Raja Aria Perbangsa.

Oleh karena yang diminta hanyalah menancapkan sebuah tunggak, tanpa banyak bicara Aria Perbangsa mengizinkan. Begitu tunggak ditancap, seketika itu juga Aria Wiratanudatar hilang dari pandangan. Di suatu tempat dia tiba-tiba saja duduk di singgasana dikelilingi oleh banyak kawula. Dia telah menjadi raja seperti Aria Perbangsa. Kedua adik-beradik ini telah menepati janji pada Sang Kakek berjenggot dan hidup sejahtera sampai akhir hayat. Dan, tempat ditancapnya tunggak Aria Wiratanudatar itu oleh masyarakat sekitar kemudian dinamakan sebagai Kramat Tunggak.

Diceritakan kembali oleh Ali Gufron

Ariah

(Cerita Rakyat DKI Jakarta)

Alkisah, sekitar medio tahun 1800-an di Kampung Sawah, Kramat Setiong, hidup sebuah keluarga yang terdiri dari seorang ibu dan dua anak perempuannya. Sang ibu bernama Mak Emper sedangkan anak bungsunya bernama Ariah atau biasa disapa Arie. Suami Mak Emper telah lama meninggal dunia.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup Mak Emper dan anak pertamanya (kakak Ariah) bekerja sebagai penumbuk padi pada seorang saudagar. Sementara Ariah sendiri ditugasnya oleh Mak Emper mencari kayu bakar, sayur-mayur, dan telur ayam di hutan Ancol. Oleh karena bekerja pada sang saudagar, ketiga anak-beranak ini diperbolehkan tinggal di emperan rumahnya dalam bentuk bangunan kecil yang menempel di bagian belakang rumah.

Begitu seterusnya hingga bulan demi bulan dan tahun demi tahun berlalu. Ariah pun tumbuh besar dan menjadi seorang gadis cantik jelita. Kecantikannya membuat mata setiap lelaki tidak berkedip jika melihatnya. Begitu pula dengan mata Saudagar yang mempekerjakannya. Bahkan, merasa telah memberi budi, Sang Saudagar datang pada Mak Emper meminang Ariah.

Lamaran Sang Saudagar tentu saja membuat bingung Mak Emper. Apabila ditolak, kemungkinan besar dia dan anak-anak akan terusir dari rumah sekaligus menjadi pengangguran. Tetapi apabila diterima, dia kasihan terhadap Airah karena hanya akan dijadikan sebagai isteri muda. Hidup sebagai isteri muda tidak akan leluasa, apalagi jika tinggal berdekatan dengan isteri tua.

Mak Emper tidak langsung menjawab lamaran Sang Saudagar. Dia meminta izin menanyakan terlebih dahulu pada Ariah. Alasannya, Ariah masih terlalu kecil. Jangankan berumah tangga, menjalin hubungan dengan laki-laki pun belum terlintas di benaknya. Perlu waktu bagi Mak Emper untuk memberi penjelasan yang sangat detil agar Ariah mau menerimanya.

Setelah Sang Saudagar pulang, tidak berapa lama kemudian Ariah datang dari mencari kayu bakar di hutan. Mak Emper langsung mengikutinya ke dapur membantu menaruh kayu bakar. Selesai menata kayu bakar, tanpa berbasa basi Mak Emper mengutarakan niat Sang Saudagar. Dia bingung apa yang harus diperbuat karena merasa bergantung hidup pada Sang Saudagar. Oleh karena itu, Mak Emper menyarankan Ariah menerima pinangannya agar mereka tidak terusir dari rumah yang selama ini ditempati.

Di luar dugaan Ariah langsung mengambil sikap berkenaan dengan pinangan Sang Saudagar. Dia menolak kawin sebab kakaknya masih belum menemukan jodoh. Sang kakak yang kebetulan mendengar percakapan tersebut lalu mendatangi Ariah dan menyatakan bahwa dirinya ikhlas apabila dilangkahi. Kakak Ariah juga merasa berhutang budi pada Sang Saudagar dan memilih mementingkan kelangsungan hidup keluarga ketimbang harus terusir dari rumah menjadi gelandangan.

Tetapi, sambil menangis tersedu, Ariah berargumen bahwa hal itu oleh masyarakat dianggap tidak baik. Seandainya Sang Kakak bersedia dilangkahi, di dalam perjalanannya nanti pasti hati akan terluka bila melihat Ariah diarak dalam baju pengantin, dikerumuni banyak tamu undangan, diberi mas kawin yang berharga mahal, dan dihibur oleh berbagai macam kesenian yang salah satunya adalah orkes hermunium.

Usai berkata demikian, Ariah bergegas meninggalkan ibu dan kakaknya menuju pangkek untuk menenangkan diri. Tidak lama berselang, Mak Emper datang menghampiri lalu duduk di samping Airah. Tanpa berkata apa-apa Mak Emper mengusap ramput Airah hingga dia tertidur di pangkuannya.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Ariah pergi mencari kayu bakar, sayur-sayuran, dan telur ayam hutan. Namun tidak seperti biasanya, sebelum berangkat dia mencium dengan hikmat tangan Mak Emper dan kakak perempuannya. Selanjutnya, dia memandang lama wajah mereka dan tanpa berkata-kata berlalu meninggalkan emperan rumah menuju arah utara.

Dalam perjalanan menuju hutan Ancol dia sempat lama mengamati para pekerja yang sedang membuat jalan kereta api. Sesampai di daerah Bendungan Melayu yang dekat dengan pantai Ariah menghentikan langkah. Dia beristirahat sambil menikmati bekal berupa nasi timbel buatan Mak Emper. Selesai makan, dia kembali melanjutkan perjalanan menuju hutan Ancol.

Menjelang senja dia tiba di Ancol. Tetapi ketika akan mulai mencari kayu bakar, dari balik pepohonan muncul dua sosok laki-laki berpakaian hitam-hitam. Mereka bernama Pi'un dan Sura, antek dari pemuda ganteng kaya raya namun bertabiat buruk bernama Tambahsia atau Oei Tambah Sia. Dia memiliki hobi aneh yaitu menculik dan memperkosa perempuan di bungalow miliknya yang diberi nama Bintang Mas. Pi'un dan Sura adalah orang kepercayaan Tambahsia yang ditugasi menculik anak gadis, janda, atau bahkan isteri orang untuk dibawa ke Bintang Mas.

Saat akan dibawa paksa, Ariah meronta-ronta tak terkendali hingga kedua centeng itu terkena tendangannya. Mereka marah dan menghempaskan tubuh Ariah ke tanah. Namun Ariah tetap saja melawan dan membuat Pi'un serta Sura habis kesabaran. Golok mereka akhirnya "berbicara" dan mengakhiri hidup Ariah. Mayatnya kemudian dilemparkan ke laut Ancol.

Di lain tempat, Mak Emper menunggu gelisah. Biasanya sebelum senja Ariah telah sampai ke rumah. Tetapi ditunggu hingga malam, sosoknya tidak juga muncul. Begitu seterusnya, hari-hari berlalu berganti bulan dan tahun. Ariah tidak pernah lagi pulang ke rumah. Mak Emper hanya bisa pasrah karena tidak tahu harus berbuat apa.

Suatu hari giliran kakak Ariah yang dilamar orang. Tidak seperti Ariah, Sang kakak dilamar oleh pemuda dari keluarga orang kebanyakan. Walau si pemuda sudah menyanggupi akan menanggung seluruh biaya perkawinan, hati Mak Emper tetap merasa resah. Sebab, dia berkewajiban menyediakan makanan, terutama saat menyambut calon besan yang akan datang mengajukan lamaran secara resmi.

Lelah memikirkan bagaimana cara mengatasi masalah tersebut (menyambut besan), Mak Emper mencoba tidur. Di dalam tidurnya, Mak Emper mimpi didatangi Ariah yang terlihat sangat cantik, berseri, dan sehat walafiat. Ketika ditanya kemana saja selama ini, dia tidak menjawab. Ariah hanya berkata bahwa Mak Emper tidak perlu resah memikirkan hidangan apa yang akan disajikan dalam acara penyambutan calon besannya nanti.

Kaget didatangi anak yang telah lama menghilang, Mak Emper langsung terbangun. Antara sadar dan tidak dia bergegas mencari ke seluruh penjuru gubuknya. Ketika berada di dapur Mak Emper kaget bukan kepalang. Entah dari mana datangnya, di area dapur telah penuh dengan berpikul-pikul ikan laut serta sayur mayur yang sangat cukup bila dijadikan sebagai suguhan bagi calon besan. Walau hanya bertemu di dalam mimpi, tetapi Ariah telah menepati janjinya untuk tidak membuat Mak Emper resah menghadapi kedatangan calon besannya.

Sebagai catatan, kisah Ariah ini telah menjadi sebuah folklor di kalangan masyarakat Betawi pesisir. Orang tidak hanya menyebut namanya sebagai Ariah, melainkan juga Maria, Mariah, atau Mariam. Adapun arwahnya, oleh sebagian orang dianggap beralih ujud menjadi setan Ancol. Sementara sebagian lainnya meyakini kalau Ariah menjadi makhluk gaib penguasa laut utara. Dia tidak disebut dengan nama aslinya, melainkan "Si Manis". Konon Si Manis mempunyai pengawal gaib yang bernama Si Kondor (siluman monyet), Si Gempor, Si Gagu, dan Tuan Item.

Diceritakan kembali oleh ali gufron

Pencak Silat Cingkrik

Pencak Silat merupakan salah satu bagian dari kesenian, yaitu seni beladiri. Kesenian yang digunakan untuk mempertahankan diri ini berkembang luas di berbagai sukubangsa Nusantara, mulai dari Indonesia, Malaysia, Brunei, Singapura, Filipina selatan hingga Thailand. Menurut id.wikipedia.org, istilah pencak silat sendiri baru digunakan sejak tahun 1948 dengan tujuan mempersatukan berbagai aliran seni beladiri tradisional yang berkembang di Indonesia. Sebelumnya pencak silat merupakan dua kata yang terpisah. Kata "pencak" adalah sebutan bagi beladirinya orang Jawa yang lebih mengedepankan unsur seni dan keindahan gerak, sedangkan orang-orang di Sumatera, semenanjung Malaya, dan Kalimantan menyebutnya dengan istilah "silat".

Salah satu aliran dalam pencak silat adalah Cingkrik dari daerah Rawa Belong, Jakarta Barat. Menurut forumsilat.blogspot.co.id Cingkrik diciptakan oleh seorang petani bernama Ki Maing pada sekitar tahun 1817-an. Waktu itu secara tidak sengaja tongkatnya direbut oleh seekor monyet milik Nyi Nasare/Nyi Saereh. Ketika akan ditangkap, dengan lincah dan sigap si monyet cingkrak-cingkrik menghindar.

Gerakan cingkrak-cingkrik si monyet tadi menimbulkan inspirasi bagi Ki Maing. Dia mengolah sedemikian rupa menjadi gerakan-gerakan atau jurus-jurus silat/maenpukulan. Jurus-jurus maenpukulan ini diajarkan pada tiga orang yang akhirnya menjadi murid, yaitu Ki Ali, Ki Ajid, dan Ki Saarie. Mereka tidak hanya menerima, tetapi juga mengembangkan dan memperkaya jurus yang diperoleh dari Ki Maing. Bahkan, ketiganya juga menularkan pada generasi berikutnya. Ki Saarie misalnya, menularkan Cingkrik pada Ki Wahab. Ki Yazid/Ki Ajid mengajarkan pada Bang Ayat, Bang Uming, Bang Acik (Munasik), dan Bang Majid. Sementara Ki Ali menularkan Cingkrik pada Ki Sinan dari Kebon Jeruk, Ki Goning dari Kemanggisan, dan Ki Legok dari Muara Angke (Rimbang, 2008).

Jurus-jurus Cingkrik
Jurus-jurus awal ciptaan Ki Maing, menurut Siddiq (2011), hanya berjumlah lima buah dengan urutan langkah satu hingga langkah lima. Oleh Ki Maing, gabungan jurus-jurus tersebut belum dinamakan cingkrik. Penamaan maenpukulan cingkrik sendiri baru dikenal pada masa Ki Saari, Ki Ajid, dan Ki Ali (silatindonesia.com). Adapun asal katanya dari ungkapan Betawi jingkrak-jingkrik atau cingkrak-cingkrik yang berarti gesit, lincah, dan atraktif (Siddiq, 2011).

Di tangan ketiga murid Ki Maing jurus-jurus dasar meanpukulan cingkrik bertambah menjadi delapan dan akhirnya dua belas jurus. Jurus-jurus dasar tersebut adalah: Keset Bacok, Keset gedor, Cingkrik, Langkah 3, Langkah 4, Buka Satu, Saup, Macan, Tiktuk, Singa, Lokbe, dan Longok (id.wikipedia.org). Gabungan dari ke-12 jurus disebut bongbang yang biasanya dimainkan sebagai atraksi panggung. Selain itu, ada pula tiga jurus sambut atau perkelahian berpasangan dengan tujuan melatih refleks dalam menghadapi serangan, yaitu: Sambut Gulung, Sambut Tujuh Muka, dan Sambut Habis atau Sambut Detik (Rimbang, 2008).

Menurut Rimbang (2008), aplikasi dari jurus-jurus dasar cingkrik dapat berlainan gaya, bergantung pada pengajarnya. Misalnya, Bang Wahab (murid Ki Saarie) mengajarkan jurus cingkrik yang menitikberatkan serangan pada bagian atas tubuh dengan sasaran pada ulu hati, dada, leher, dan muka. Sementara Bang Uming (murid Ki Ajid) lebih mengembangkan gerak kombinasi beset-gedor dengan serangkan ke empat penjuru.

Sedangkan Kong Acik (Munasik bin Hamim) mengembangkan jurus-jurus yang dinamainya Cingkrig Gerak Cipta (Siddiq, 2011). Jurus-jurus Kong Acik berjumlah tujuh belas, yaitu: Beset Tarik, Beset Gedor, Pasang Pukul, Cingkrik, Sangkol, Rambet, Bacok Rimpes, Saup, Kodek, Seser, Kosrek/Gobrek, Tiktuk, Bendrong, Lokbe, Sikut Atas, Cakar Macan, dan Longok. Adapun gerak sambut yang baru diajarkan setelah menguasai delapan jurus adalah: Sambut Gulung, Sambut Rimpes, dan Sambut Pintas.

Nilai Budaya
Cingkrik sebagai suatu seni bela diri yang tumbuh dan berkembang di daerah Rawa Belong, Jakarta Barat, jika dicermati mengandung nilai-nilai yang pada gilirannya dapat dijadikan acuan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai itu antara lain: kesehatan, kerja keras, kedisiplinan, kepercayaan diri, dan sportivitas.

Nilai kesehatan tercermin dari gerakan jurus-jurus dan teknik-teknik yang dilakukan, baik ketika sedang berlatih maupun bertanding. Dalam hal ini, gerakan-gerakan Pencak Silat Cingkrik harus dilakukan sedemikian rupa, sehingga otot-otot tubuh akan menjadi kuat dan aliran darah pun lancar. Nilai kerja keras tercermin dari usaha untuk menguasai jurus-jurus dan teknik-teknik yang ada dalam seni bela diri Cingkrik. Tanpa kerja keras mustahil jurus-jurus dan teknik-tekniknya yang rumit dapat dikuasai secara sempurna.

Mempelajari Cingkrik diri juga memerlukan kedisiplinan, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap aturan-aturan persilatan. Tanpa kedisiplinan diri dan taat serta patuh kepada aturan-aturan persilatan, akan sulit bagi seseorang untuk menguasai jurus-jurus Cingkrik secara sempurna. Selain itu, sebagaimana seni bela diri lainnya, mempelajari cingkrik berarti juga mempersiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang tidak diinginkan, baik demi keselamatan dirinya maupun orang lain yang memerlukan pertolongannya. Dengan menguasai Cingkrik seseorang akan menjadi percaya diri dan karenanya tidak takut gangguan dan atau ancaman dari pihak lain.

Untuk “mengasah” ilmu Cingkrik setiap muridnya, sebuah perguruan seni bela diri pada umumnya mengadakan latih-tanding dan pertandingan. Dalam latih-tanding atau pertandingan tersebut tentu diperlukan adanya sikap dan perilaku yang sportif dari para pelakunya, sebab akan ada pesilat yang kalah dan menang. Nilai sportivitas tercermin dari pesilat yang kalah akan mengakui keunggulan lawan dan menerimanya dengan lapang dada. (ali gufron)

Foto: http://www.viva.co.id/foto/berita/14235-melihat-anak-anak-berlatih-silat-cingkrik-goning
Sumber:
"Silat Cingkrik", diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Silat_Cingkrik, tanggal 10 Agustus 2017.

"Pencak Silat", diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Pencak_silat, tanggal 10 Agustus 2017.

Rimbang. 2008. "Cingkrik, Maenpukulan Khas Betawi Rawa Belong", diakses dari http://www.silatindonesia.com/2008/12/cingkrik-maenpukulan-khas-betawi-rawa-belong/, tanggal 15 Agustus 2017.

Siddiq, Zay Ibnu. 2011. "Cingkrig Gerak Cipta - Maenpukulan Khas Betawi Rawa Belong", diakses dari http://www.silatindonesia.com/2011/05/cingkrig-gerak-cipta-maenpukulan-khas-betawi-rawa-belong/, tanggal 22 Agustus 2017.

"H. Nunung Pendekar Betawi Rawa Belong", diakses dari http://forumsilat.blogspot.co.id/2012/08/tokoh-pencak-silat-betawi.html, tanggal 7 Juli 2017.

Alya Rohali

Alya Rohali merupakan salah seorang perempuan Betawi yang namanya malang melintang di jagad hiburan tanar air. Dia dikenal sebagai bintang film, iklan, dan sinetron Sekaligus pembawa acara televisi. Bersama Helmi Yahya, Alya sukses memandu acara secara live kuis "Siapa Berani?" yang pernah tayang setiap pagi di stasiun televisi Indosiar (jakarta.go.id).

Putri dari pasangan Rohali Sani dan Atit Tresnawati ini lahir di Jakarta pada tanggal 1 Desember 1976 (wowkeren.com). Dia mengawali karir melalui kontes kecantikan sebagai none Jakarta Barat tahun 1994. Kemudian mengikuti kontes None Jakarta 1994 dan terpilih sebagai juara Harapan I. Dua tahun berselang dia ikut kontes Puteri Indonesia 1996 dan dinobatkan sebagai pemenang. Konsekuensinya, dia menjadi wakil Indonesia pada ajang Miss Universe 1996 yang diselenggarakan di Amerika Serikat (kapanlagi.com).

Menurut kapanlagi.com, setelah tugas sebagai Puteri Indonesia usai, Alya mencoba peruntungan di dunia hiburan Indonesia. Dia mendapat tawaran untuk bermain dalam beberapa sinema elektronik. Selain itu, bersama Helmi Yaya dia juga didaulat memandu acara kuis "Siapa Berani?" yang ditayangkan Indosiar. Di acara inilah namanya mulai melejit dan sempat mendapat penghargaan sebagai Presenter Kuis Terfavorit dalam Panasonic Award 2002 (wowkeren.com).

Beberapa tahun sebelumnya, tepatnya tanggal 4 Maret 1999 Alya melepas masa lajang dan menikah dengan Eri Surya Kelana. Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai seorang anak perempuan bernama Namira Andjani Ramadina yang lahir pada bulan Desember 1999. Namun, pernikahan itu tidak berlangsung lama. Mereka resmi bercerai pada 13 Agustus 2003 (id.wikipedia.org).

Keretakan hubungan rumah tangga tidak mempengaruhi pekerjaan Alya dalam dunia entertainment. Hal ini terbukti dengan adanya tawaran membawakan membawakan program religi "Catatan Sergap" dalam Hikmah Fajar di stasiun televisi RCTI. Bahkan, dia juga sempat bermain dalam sitkom Kejar Kusnadi yang ditayangkan di RCTI tahun 2005 (id.wikipedia.org).

Beberapa tahun setelah menjanda, Alya kembali menambatkan hati pada seorang pengusaha asal Madura bernama Faiz Ramzy Rachbini. Mereka menikah pada 23 Juli 2006 (kapanlagi.com). Hampir satu tahun kemudian, tepatnya tanggal 29 Agustus 2007 buah perkawinan mereka melahirkan seorang anak melalui proses caesar di RS Pondok Indah. Ia dinamai Diarra Annisa Rachbini. Selanjutnya, anak ketiga pun menyusul pada 10 Oktober 2010 berjenis kelamin perempuan dan diberi nama Savannah Nadja Rachbini (jakarta.go.id).

Selepas menikah untuk yang kedua kali, kesibukan Alya semakin bertambah. Menurut jakarta.go.id, tahun 2006 dia mulai merambah dunia musik dengan memproduseri album berjudul Alika, sebuah album yang dinyanyikan oleh keponakannya sendiri bernama Alika. Album Alika terdiri dari 12 buah lagu berbuansa musik R&B, salah satu di antaranya berbahasa Inggris.

Sebagai catatan, selama meniti karir di dunia hiburan Alya telah memerankan berbagai macam karakter dalam sinetron dan film. Adapun judulnya antara lain: Meniti Cinta, Istri Impian, Kejar Kusnadi, Buah Hati Mama, Jalan Lain ke Sana, Emak, Dunia Tanpa Koma, Andini, Malin Kundang, Suami Istri dan Dia, Serpihan Mutiara Retak, Moga Bunda Disayang Allah, dan Di Balik 98. Sedangkan tayangan komersial (iklan) yang pernah dibintangi, di antaranya: Sunsilk, Neril, Oxone, dan Sajiku (profilseleb.blogspot.co.id). Khusus untuk film berjudul Di Balik 98, Alya mendapat nominasi dalam kategori pemeran pendukung wanita terbaik dari Indonesia Box Office Movie Awward 2016 (id.wikipedia.org).

Segala aktivitas dalam berakting tersebut ternyata tidak mengurungkan niat Ayla melanjutkan pendidikan formalnya. Setelah memperoleh gelar Sajana Hukum dari Universitas Trisakti misalnya, Alya mengambil program S2 Magister Hukum dan S2 Magister Kenotariatan di Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Ilmu-ilmu tersebut merupakan bekal untuk mencari nafkah sebagai notaris.

Foto: http://www.tribunnews.com/seleb/2015/01/10/cara-alya-rohali-rawat-rambutnya-saat-berhijab
Sumber:
"Alya Rohali" diakses dari http://www.jakarta.go.id/v2/dbbetawi/detail/74/Alya-Rohali, tanggal 7 Agustus 2017.

"Alya Rohali" diakses dari https://www.kapanlagi.com/alya-rohali/profil/, tanggal 7 Agustus 2017.

"Alya Rohali" diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Alya_Rohali, tanggal 8 Agustus 2017.

"Profil Alya Rohali", diakses dari http://www.wowkeren.com/seleb/alya_rohali/bio.html, tanggal 8 Agustus 2017.

"Alya Rohali Profil", diakses dari http://profilseleb.blogspot.co.id/2009/02/alya-rohali-profil.html, tanggal 9 Agustus 2017.

Erlina

Dalam sistem kekerabatan masyarakat Lampung Saibatin di Pesisir Barat yang bersifat parilineal, peran laki-laki sangatlah dominan. Kaum laki-laki selalu memiliki peran lebih dibanding perempuan, seperti: pemimpin keluarga, penerus garis keturunan, pewaris harta warisan, dan pengambil keputusan di sektor publik (dalam kegiatan sosial, politik, maupun budaya). Sementara kaum perempuan ditempatkan dalam sektor domestik. Adapun perannya hanya sebagai konco wingking (Jawa) yang selalu berkutat dengan urusan seputar dapur, sumur, dan kasur.

Konstruksi sosial demikian membuat ruang gerak kaum perempuan Saibatin sangat terbatas. Semenjak kecil mereka telah dikondisikan oleh keluarga dan lingkungan sekitar untuk menaati segala aturan adat yang dibuat oleh laki-laki untuk mengekalkan kekuasaan mereka. Dan, karena telah berlangsung sejak lama, maka dianggap sebagai suatu kebiasaan turun-temurun dan tidak dipersoalkan lagi sebagai tindakan ketidakadilan dan subordinasi gender. Atau dengan kata lain, posisi subordiasi ini diterima sebagai ketentuan adat yang harus ditaati.

Namun tidak semua laki-laki Saibatin Pesisir Barat menerapkan aturan adat pada perempuan. Azharuddin misalnya, walau hanya bekerja sebagai seorang petani tetapi tidak serta merta menerapkan hak dan kewajiban pada anak-anaknya berdasarkan gender yang ditetapkan oleh adat. Buktinya, salah satu dari enam orang anaknya, bernama Erlina (berjenis kelamin perempuan) saat ini berhasil menembus "barikade patriarki" dengan menjadi Wakil Bupati Pesisir Barat periode 2016-2021. Dia adalah perempuan pertama yang menduduki pos jabatan tersebut setelah bersama pasanganya (Agus Istiqlal) memenangi Pemilihan Umum Kepala Daerah Pesisir Barat pada 9 Desember 2015 (wikiwand.com).

Erlina lahir di Penengahan Krui 18 Agustus 1975. Masa kecilnya dihabiskan di Krui dengan bersekolah di SD Negeri 1 Panengahan Krui (1982-1988) dan SMP Negeri 2 Krui (1989-1992). Ketika menginjak masa remaja Erlina hijrah ke Bandarlampung dan bersekolah di SMA Negeri 3 Tanjungkarang (1992-1994). Lulus SMA meneruskan pendidikan di Universitas Lampung mengambil jenjang D3 Penyuluh Pertanian (1994-1997). Selanjutnya, menempuh jenjang Strata 1 di universitas yang sama dengan mengambil jurusan Sosial Ekonomi Pertanian (1997-2001). Terakhir, dia berhasil menamatkan jenjang S-2 di Magister Hukum Universitas Bandar Lampung (2012).

Keberhasilan Erlina hingga menjabat sebagai Wakil Bupati tentu tidak terlepas dari sepak terjangnya selama bersekolah. Berdasarkan data yang diperoleh dari kpud-lampungbaratkab.go.id, riwayat keorganisasian yang digeluti Erlina cukup beragam, yaitu: (1) Ketua Korp Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri (KOPRI) Komisariat Brojonegoro Universitas Lampung (1998-1999); (2) Ketua Korp Pergerakan Mahasiswa Islan Putir (KOPRI) Cabang Lampung (1999-2000); (3) Pembina Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) Kota Bandarlampung (2008-2010); (4) Sekretaris Fatayat Nahdlatul Ulama Provinsi Lampung (2000-2009); Wakil Ketua DPD KNPI Provinsi Lampung (2010-2013); (5) Pengurus Karang Taruna Provinsi Lampung (2013-sekarang); (6) Pimpinan Wilayah Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) Nahdlatul Ulama Provinsi Lampung (2010-2012); (7) Ketua Pemberdayaan Perempuan KNPI Provinsi Lampung (2014-2017); dan (8) Pimpinan Wilayah Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama Provinsi Lampung (2013-2017).

Sedangkan data pengalaman pekerjaan yang pernah dilakukannya adalah: (1) Koordinator Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPPR) Kabupaten Lampung Barat (2004); (2) Koordinator Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPPR) Provinsi Lampung (2005-2008); (3) Anggota KPU Kota Bandarlampung (2008); (4) Ketua KPU Kota Bandarlampung (2010); (5) Ketua Pokja Sosialisasi dan Pendidikan Pemilih KPU Kota Bandarlampung dan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden (2009); (6) Ketua Pokja Sosialisasi KPU Kota Bandarlampung pada Pemilu DPR, DPD, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota (2009); (7) Divisi Teknis dan Humas KPU Kota Bandarlampung (2011); (8) Ketua Pokja Sosialisasi KPU Kota Bandarlampung (2012); (9) Ketua Pokja Pemutakhiran Data dan Sosialisasi untuk Pemilu Kepala Daerah, Walikota dan Wakil Walikota Bandarlampung (2013-2014); (9) Ketua Pokja Sosialisasi KPU Kota Bandarlampung pada Pemilu DPR, DPD, DPRD, Presiden dan Wakil Presiden (2013-2014); dan (10) Ketua Pokja Pemutakhiran Data Pemilih untuk Pemilu Anggota DPR, DPD, DPRD, Presiden dan Wakil Presiden (2013-2014).

Segudang pengalaman tersebut tidak lantas membuat Erlina dapat melenggang dengan mudah menjadi orang nomor dua di Pesisir Barat. Bersama Agus Istiqlal, dia harus bahu-membahu menggalang massa agar memenangkan Pemilukada. Salah satunya adalah beradu visi dan misi melawan tiga pasang calon Bupati dan Wakil Bupati Pesisir Barat lainnya, yaitu Aria Lukita Budiwan-efan Tolani, Jamal Naser-Syahrial, dan Oking Ganda Miharja-Irawan Topani. Debat diselenggarakan oleh KPU Kabupaten Lampung Barat di GSG Selalaw dan disiarkan langsung melalui Radio Republik Indonesia (harianlampung.com).

Dalam debat yang dimoderatori Juwendra Adriyansyah tersebut Erlina dan Agus Istiqlal berjanji mewujudkan Pesisir Barat yang religius, menciptakan pemerintahan bersih, mengoptimalkan kekayaan potensi laut, pertanian, serta meningkatkan infrastruktur guna mendukung kemajuan pariwisata (harianlampung.com). Mereka mengusung visi "Terwujudnya Kabupaten Pesisir Barat yang Adil, Makmur, Sejahtera, Maju dan Modern". Dan untuk mewujudkannya mereka merumuskannya ke dalam delapan misi, yaitu: (1) Mengembangkan, memanfaatkan dan menggali sumber daya alam yang ada sebagai modal dasar pembangunan di daerah Kabupaten Pesisir Barat; (2) Meningkatkan kualitas pendidikan, kesehatan, penguasaan iptek dan nilai-nilai ketaqwaan, mengembangkan kreativitas seni dan budaya serta meningkatkan prestasi olahraga; (3) Mengembangkan Kabupaten Pesisir Barat sebagai pusat budidaya flora dan fauna; (4) Meningkatkan pelayanan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat; (5) Meningkatkan daya dukung sarana prasarana yang berbasis penataan dan pengembangan pariwisata; (6) Meningkatkan pelayanan publik dan peningkatan kinerja birokrasi yang bersif, profesional, dan berorientasi kewirausahaan serta bertatakelola yang baik; (7) Penataan, pembenahan, pengaturan lembaga fisik kabupaten sejalan dengan "land use planning" yang ada pada RUTRKIRIK dan RBWK serta RDTRK; dan (8) Mewujudkan sarana dan prasarana pembangunan infrastruktur pemerintah Kabupaten Pesisir barat (kpud-lampungbaratkab.go.id).

Visi dan misi Erlina-Agus Istiqlal ternyata sejalan dengan keinginan sebagian besar masyarakat Pesisir Barat sehingga mereka pun terpilih menjadi Bupati dan Wakil Bupati. Mereka dilantik bersama tujuh pasang bupati/walikota se-Provinsi Lampung oleh Gubernur Lampung M. Ridho Ficardo di kantor DPRD Lampung tanggal 17 Februari 2016 (nyokabar.com). Sedangkan serah terima jabatannya sendiri dilakukan sehari setelah pelantikan bertempat di ruang rapat Pemerintah Kabupaten Pesisir Barat. Sertijab dihadiri oleh Staf Ahli Gubernur Lampung Bidang Kemasyarakatan, anggota Forkopimda Pesisir Barat dan Lampung Barat, ketua dan anggota DPRD Pesisir Barat, Sekda Pesisir Barat, Staf ahli bupati, SKPD, pimpinan tokoh politik, tokoh agama, tokoh adat, dan tokoh masyarakat Pesisir Barat (pesisirbaratkab.go.id).

Setelah menjabat sebagai wakil bupati, perempuan yang bersuamikan Muhidin dan ibu dari Syam Permana P. Gemilang serta Aleshia Samita ini langsung tancap gas memenuhi janji pada warga masyarakat yang memilihnya. Bersama Agus Istiqlal dia mulai bergerak menjalankan roda pemerintahan dengan membangun sarana dan prasarana guna kesejahteraan masyarakat. Agar dapat memberikan pelayanan yang maksimal, mereka melakukan restrukturisasi organisasi pemerintahan, revitalisasi birokrasi, refungsionalisasi seluruh lembaga pemerintahan, dan mereposisi seluruh pimpinan aparat pemerintahan.

Foto: "Erlina (Wakil Bupati)", diakses dari http://www.wikiwand.com/id/Erlina_(wakil_bupa ti), tanggal 27 Juni 2017.

Sumber:
"Erlina (Wakil Bupati)", diakses dari http://www.wikiwand.com/id/Erlina_(wakil_bupati), tanggal 27 Juni 2017.

"Data Pasangan Calon No Urut Pendaftaran 82", diakses dari http://www.kpud-lampungbarat kab.go.id/2015/08/data-pasangan-calon-no-urut-pendaftaran_82.html, tanggal 27 Juni 2017.

"Empat Paslon Pesisir Barat Adu Visi dan Misi", diakses dari http://www.harianlampung .com/m/index.php?ctn=1&k=politik&i=16628-Empat-Paslon-Pesisir-Barat-Adu-Visi-dan-Misi, tanggal 27 Juni 2017.

"Chusnunia & Erlina Bupati dan Wakil Bupati Wanita Pertama di Lampung" diakses dari http://www.nyokabar.com/berita-1873-chusnunia--erlina-bupati-dan-wakil-bupati-wanita-pertama-di-lampung.html, tanggal 28 Juni 2017.

"Serah Terima Jabatan Pj Bupati Dengan Bupati Dan Wakil Bupati Periode 2016-2021", diakses dari http://Www.Pesisirbaratkab.Go.Id/?P=16533, tanggal 29 Juni 2017.

Nasi Goreng Daun Mengkudu

Bila mendengar kata nasi goreng, maka yang terbayang di benak kita adalah sebuah masakan berupa nasi yang digoreng bersama telur, suwiran ayam, dan beberapa macam bumbu yang telah dicampur sedemikiran rupa dan ditambah dengan kecap serta minyak ketika proses penggorengan sedang berlangsung. Agar terlihat menarik dan bervariasi di dalamnya dicampur berbagai macam bahan makanan sesuai selera pembuatnya, seperti petai, teri, sosis, jagung, kunyit, daging kambing, cumi-cumi, udang rebon, dan lain sebagainya (cookpad.com).

Bagi sebagian masyarakat Betawi, selain dikenal bahan-bahan tambahan seperti di atas ada sebuah bahan lagi yang mungkin tidak pernah digunakan oleh etnis lain yang ada di Indonesia, yaitu daun mengkudu. Daun dari tanaman yang buahnya biasa digunakan sebagai obat-obatan karena mengandung vitamin A, Fosfor, kalsium, dan selenium ini ternyata tidak kalah lezat jika dijadikan sebagai bahan nasi goreng bila dicampur dengan bumbu-bumbu racikan tertentu ketika memasaknya (pesona.co.id).

Di Jakarta ada sebuah resto yang salah satu menunya menyajikan masakan nasi goreng daun mengkudu. Lokasinya di Eat & Eat Mall Kelapa Gading 5 Lantai 3 Jakarta Utara. Resto yang buka tiap hari dari pukul 10-00-22.00 WIB ini diberi Dapur Mak Haji. Namun, tidak seperti kebanyakan restoran atau rumah makan lain yang bila mencantumkan nama seseorang, maka dialah pemiliknya. Mak Haji bukanlah nama sang pemilik. Menurut janna.co.id, pemilik sebenarnya adalah orang Betawi asli bernama Hamdani Masil atau akrab disapa Dani.

Nasi goreng mengkudu yang ada di Dapur Mak Haji merupakan resep warisan orang tua Hamdani Masil. Nasi goreng tersebut dapat langsung dinikmati hanya dengan diberi irisan daun mengkudu saja atau tambahan lauk lain, seperti: krewedan (tumis daging atau tetelan) dan telur dadar yang dicampur dengan irisan daun nangka agar aromanya lebih membangkitkan selera dan tidak berbau amis (pesona.co.id).

Hamdani Masil sendiri bukanlah orang sembarangan. Dia merupakan salah seorang tokoh intelektual Betawi yang saat ini bekerja sebagai dosen di Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia. Dani lahir di Meruya, Jakarta Barat, pada tanggal 5 Februari 1965 (jakarta.go.id). Semenjak kecil, anak dari pasangan H. Masil dan Hj. Sobriyah telah menunjukkan keaktifan serta kecerdasan dalam menempuh pendidikan formal.

Oleh karena itu, tidak mengherankan ketika masih kuliah dia telah dipercaya menjadi asisten dosen di Jurusan Ilmu Komunikasi UI. Dedikasinya untuk terus mentransfer ilmu kepada generasi penerus bangsa dibuktikan dengan keseriusannya meneruskan pendidikan hingga mencapai jenjang Strata 2 pada tahun 2007. Setelah lulus Hamdani mengajar lagi di almamaternya untuk mata kuliah: Teknik Penulisan Efektif, Pemasaran Program Televisi, dan Penjualan Program Televisi.

Menurut jakarta.go.id, untuk memperkaya wawasan serta pengetahuan tentang pertelevisian, penyiaran, media massa, dan pemasaran agar dapat dikembangkan dalam pengajaran, Dani aktif mengikuti kegiatan seminar, pertemuan, dan workshop, di antaranya: Study Visit TVB Hongkong (1994); Going Deep with Media Research for Effective Communication (2003); Markplus Conference (2008); Getting Out of the Price War: Is It Possible (2007); Mind Technology for Sales (2005); Marketing Conference (2008); Life Revolution by Tung Dasem Waringin (2008); Asia Pasific Media Forum (2008); Markplus Conference (2009); Reading the New Wave Marketing (2008); Study Visit to Astro, Malaysia (2011); IP7TV World Forum London (2012), dan lain sebagainya.

Berkat keahlian serta pengalaman dalam bidang pertelevisian tersebut Dani kemudian diangkat menjadi Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jakarta. KPID adalah sebuah lembaga independen yang didirikan di setiap provinsi dengan tujuan sebagai regulator penyelenggaraan penyiaran berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia No. 32 tahun 2002 (id.wikipedia.org).

Sementara di kalangan orang Betawi sendiri Dani tidak hanya dikenal sebagai pengajar, pebisnis, dan ketua KPID, tetapi juga budayawan yang berusaha mengangkat citra masyarakat Betawi. Hal itu dilakukannya ketika diberi kepercayaan menjabat sebagai Sekretaris Umum Lembaga Kebudayaan Betawi periode 1993-1995. Selanjutnya, dia juga aktif di Badan Musyawarah (Bamus) Betawi dari tahun 1995 hingga 2000.

Foto: http://bukan-kuliner.blogspot.co.id/2014/12/nasi-goreng-daun-mengkudu-khas-betawi.html
Sumber:
"Hamdani Masil, Drs. M.Si", diakses dari http://www.jakarta.go.id/v2/dbbetawi/detail/156/ Hamdani-Masil-DRS.-M.SI, tanggal 10 Juli 2017.

"Uniknya Nasi Goreng Daun Mengkudu", diakses dari http://www.pesona.co.id/article/ uniknya-nasi-goreng-daun-mengkudu?p=3, tanggal 10 Juli 2017.

"Khasnya Dapur Mak Haji", diakses dari http://janna.co.id/khasnya-dapur-mak-haji/, tanggal 11 Juli 2017.

"Resep Nasi Goreng 6.337", diakses dari https://cookpad.com/id/cari/nasi%20goreng?page =2, tanggal 12 Juli 2017.

"Komisi Penyiaran Indonesia Daerah", diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Komisi _penyiaran_Indonesia_daerah, tanggal 12 Juli 2017.

Firman Muntaco

Riwayat Singkat
Firman Muntaco adalah salah seorang dari segelintir tokoh Betawi yang tidak hanya berkarya melalui ribuan puisi dan cerpen, tetapi juga penulisan skenario film dan syair-syair lagu. Sebagai seorang sastrawan, hampir seluruh hidup Firman Muntaco didedikasikan untuk memajukan etnisnya dengan cara membuat cerpen berdialek Betawi sejak tahun 1960-an. Menurut majalahbetawi.com, karya sastra Firman mencapai sekitar 5.000 buah. Namun yang sempat tercatat di pusat dokumentasi HB Jassin hanya sekitar 499 buah.

Firman Muntaco lahir di Petojo Sabangan, Jakarta, pada tanggal 5 Mei 1935. Dia adalah sulung dari lima bersaudara, tiga orang laki-laki dan dua orang perempuan. Sang Ayah (Haji Muntaco) berprofesi sebagai eksportir tembakau dan pemilik pabrik susu yang berlokasi di bilangan Slipi, Jakarta Barat (esosastra.wordpress.com). Apabila melihat dari profesi H. Muntaco, maka kehidupan keluarganya termasuk dalam golongan masyarakat Betawi kelas menengah atas. Oleh karena itu Firman dan saudara-saudaranya relatif mudah mendapatkan akses, terutama dalam hal pendidikan yang waktu itu masih jarang dinikmati orang kebanyakan.

Firman kecil mulai menempuh pendidikan formalnya di Hollandsch Inlandsche School (HIS). Kemudian melanjutkan ke Sekolah Rakyat PUSO, SMA Bagian B, Akademi Pendidikan Kejuruan (APK) jurusan Publisistik dari tahun 1955 hingga 1957 (tidak selesai), dan Pendidikan Penulisan Skenario Kino Film di Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta dari tahun 1977 hingga 1978 (juga tidak selesai). Sementara pendidikan non-formal yang diikuti diantaranya adalah: kursus bermain piano pada B.A Soekirno, kursus bermain biola pada Thio Bun Siat, dan belajar mengaji pada Guru Zakaria di Tanah Abang (Nurhazizah, 2015).

Ketertarikan Firman pada kesusastraan bermula ketika dia sering membaca buku-buku sastra terbitan Balai Pustaka. Salah satu buku di antaranya adalah novel Si Doel Anak Betawi yang ditulis oleh Aman Dato Madjoindo. Menurut Nurhazizah (2015), novel inilah yang memberi pengaruh besar pada diri Firman Muntaco untuk menulis sastra terutama yang berkaitan dengan etnisnya sendiri, yaitu Betawi.

Firman Muntaco memulai karya dalam bidang sastra ketika masih di bangku SMA dengan menulis puisi yang dikirimkan ke beberapa surat kabar. Selanjutnya, mengikuti maraknya surat kabar yang memuat cerita pendek (cerpen), Firman pun mencoba ikut menulis cerpen. Adapun cerpen pertamanya yang berhasil dimuat di surat kabar diberi judul Seikat Bunga Anyelir. Cerpen ini dimuat di Star Weekly pada bulan September 1955. Tahun berikutnya, cerpennya yang berjudul Lagu Malam dimuat di Aneka Juni 1956 (Suryana, 2013).

Eksistensi Firman dalam dunia kepenyairan mulai terlihat setelah bekerja di Berita Minggu, mulai sebagai penulis reportasi, pengasuh rubrik, hingga menjabat pemimpin redaksi Berita Minggu Muda (Suryana, 2013). Salah satu rubrik yang diasuhnya bertajuk Tjermin Djakarte dari tahun 1956-1964 merupakan titik pangkal inovasinya dalam penulisan cerita berbahasa Melayu Betawi. Di rubrik yang kemudian beralih nama menjadi Gambang Djakarte ini, secara tetap tulisan Firman Muntaco muncul setiap minggunya (ensiklopedia.kemdikbud.go.id). Menurut sanggarbetawifm.blogspot.co.id, dalam tulisan-tulisan tersebut Firman menggunakan dialek Melayu Betawi dengan gaya yang sangat bebas sehingga banyak dibaca orang dan sanggup menaikkan tiras hingga mencapai 40.000-an eksemplar. Adapun isi tulisan-tulisannya berupa cerita pendek yang diangkat dari kehidupan sehari-hari masyarakat Betawi dalam bentuk humor berdialek Betawi yang ditulis tidak hanya sebagai bahasa cakapan para tokohnya, tetapi hampir pada seluruh bagian ceritanya.

Gaya bahasa Firman ini tetap dipertahankan walau surat kabar Berita Minggu dibredel pemerintah pada pertengahan tahun 1965 karena dianggap dekat dengan kaum nasionalis pendukung Soekarno. Dia tetap menulis dan mempublikasikan cerpen pada sejumlah media cetak, seperti: Buana Minggu, tabloid Mutiara, dan majalah Humor. Bahkan, pada tahun 1969 dia sempat mengikuti sayembara dan memperoleh penghargaan dari Pemerintah Daerah DKI Jakarta sebagai pemenang pertama lomba penulisan cerpen mengenai Betawi (Suryana, 2013).

Sebagai catatan, selain cerpen Firman Muntaco juga menulis cerita silat bersambung gaya Betawi, dengan judul antara lain: Si Buntung Ditantang, Ngamuknya Seorang Algojo, Si Botak Jagoan Nyentrik, Bubarnya Garong-garong Jelambar, dan Juragan Lenong dari Pasar Ikan. Seluruh cerita silat tadi dikemas dalam dialek Melayu Betawi sebagai media ekspresinya. Menurut id.wikipedia,org, dialek Betawi yang digunakan Firman memiliki keunggulan dan kekuatan untuk menyampaikan ide-ide sastra dengan cara yang luar biasa, mengagetkan, dan ada kalanya berkilauan.

Berkat kepiawaiannya dalam menulis gaya Betawi yang memikat banyak orang, beberapa karya Firman pun sempat diubah menjadi naskah sandiwara dan film, yaitu Satu Kali Satu dan Ratu Amplop. Satu Kali Satu dikembangkan menjadi film berjudul Musuh Bebuyutan (1974) yang dibintangi oleh Benyamin S (Suryana, 2013). Sementara Ratu Amplop (berbentuk naskah sandiwara), difilmkan dengan judul sama yang disutradarai oleh Nawi Ismail dan diperankan oleh Benyamin S dan Ratmi B-29 (ensiklopedia.kemdikbud.go.id). Sedangkan cerpen-cerpen lainnya (yang terdokumentasi) dibukukan menjadi Gambang Djakarte 1 (1960) dan Gambang Djakarte 2 (1963) (keduanya diterbitkan ulang tahun 2006) (id.wikipedia.org).

Pada perkembangan selanjutnya Firman Muntaco tidak hanya berkiprah di ranah kesusastraaan dalam melestarikan kebudayaan Betawi. Dia juga menunjukkan kepedulian dengan mendirikan "Surilang Group", sebuah Sanggar Seni dan Sandiwara guna melestarikan kesenian Betawi yang mulai berkurang intensitasnya, seperti samrah, rebana, gambang kromong, lenong, dan lain sebagainya (Nurhazizah, 2015).

Selain itu, dia juga terlibat dalam kepengurusan Lembaga Kebudayaan Betawi dengan posisi sebagai Ketua Harian. Posisi ini (Ketua Harian Lembaga Kebudayaan Betawi dan pendiri Surilang Group) membuat Firman acap berhubungan dengan TVRI Stasiun Pusat Jakarta yang waktu itu sedang gencar mengangkat masalah budaya. Selanjutnya, agar lebih memudahkan dalam bekerja sama dia diberi posisi sebagai Koordinator Paket Siaran Budaya Betawi yang akan disalurkan melalui acara Cakrawala Budaya Nusantara, Taman Bhinneka Tunggal Ika, Sandiwara (tradisional), Nusantara Menyanyi, dan Nusantara Menari sejak tahun 1977 (sanggarbetawifm.blogspot.co.id).

Berkat kerja sama dengan TVRI pula sanggar seni Surilang Group hingga tahun 1991 telah tampil setidaknya hingga 50 kali. Ketika sedang tidak on air di TVRI, mereka kerap tampil di Taman Mini Indonesia Indah, Pasar Seni Ancol, Taman Ismail Marzuki, dan sejumlah hotel di Jakarta. Di sela-sela aktivitas tersebut Firman Muntaco masih menyempatkan diri mengisi sejumlah seminar hingga menjadi pemimpin musik pengiring Teater Mama. Dan, oleh karena kepedulian dalam melestarikan seni budaya Betawi tersebut Firman kemudian diberi penghargaan oleh Universitas Jakarta tahun 1991 (Nurhazizah, 2015).

Saat meraih penghargaan dari Universitas Jakarta sebenarnya aktivitas Firman Muntaco mulai menurun karena terserang stroke pada sekitar tahun 1990. Tiga tahun kemudian dia meninggal di Rumah Sakit Harapan Bunda tanggal 10 Januari 1993 dan dimakamkan di TPU Karet Bivak, Jakarta Pusat. Dia meninggalkan sepuluh orang anak (tujuh laki-laki dan 3 perempuan), serta seorang cucu. Salah seorang anaknya, Fifi, sekarang meneruskan perjuangannya menjadi pegiat budaya Betawi sekaligus pemimpin Sanggar Firman Muntaco. (ali gufron)

Foto: http://www.jakarta.go.id/v2/dbbetawi/detail/152/Firman-Muntaco
Sumber:
Nurhazizah, Ulfah. 2015. "Firmansyah Muntaco", diakses dari https://m2indonesia.com/ tokoh/sastrawan/77064.htm, tanggal 2 September 2017.

"Firman Muntaco (1935-1993)", diakses dari http://ensiklopedia.kemdikbud.go.id/sastra/ artikel/Firman_Muntaco, tanggal 3 September 2017.

"Gambang Djakarte: Firman Muntaco", diakses dari https://esosastra.wordpress.com/2008/ 12/09/gambang-djakarte-firman-muntaco/, tanggal 3 September 2017.

Suryana, Dede. 2013. "Firman Muntaco, Maestro Sastra Betawi", diakses dari https://news. okezone.com/read/2013/09/19/502/868481/firman-muntaco-maestro-sastra-betawi, tanggal 4 September 2017.

"Firman Muntaco (Seniman, Penulis, Pendiri SBFM)", diakses dari http://sanggarbetawifm. blogspot.co.id/2011/10/firman-muntaco-seniman-penulis-pendiri.html, tanggal 4 September 2017.

"Firman Muntaco (Sastrawan)", diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Firman_Muntaco_ (sastrawan), tanggal 5 September 2017.

"Gelar Tiker Ala Betawi Episode 1: Firman Muntaco Pejuang Budaya Betawi", diakses dari http://www.majalahbetawi.com/2015/03/gelar-tiker-ala-betawi-episode-1.html, tanggal 10 Agustus 2017.

Popular Posts

-