Hikayat Raja Berekor

(Cerita Rakyat Daerah Belitung)

Alkisah, pada zaman dahulu kala di daerah Belitung ada sebuah kerajaan yang makmur sejahtera. Tetapi di tengah kemakmuran dan kesejahteraan tersebut terjadilah sebuah peristiwa menggemparkan yang membuat malu seisi kerajaan, terutama Sang Raja. Peristiwa tersebut adalah hamilnya puteri raja yang disebabkan karena berhubungan intim dengan anjing kesayangannya sendiri. Akibatnya, dia pun diusir dari kerajaan untuk menghilangkan malu sekaligus aib kerajaan.

Setelah di usir, sambil membawa perbekalan secukupnya Sang Putri bersama anjing kesayangannya pergi menuju hutan belantara yang jauh dari kerajaan. Beberapa bulan kemudian lahirlah seorang bayi laki-laki. Namun, tidak seperti bayi pada umumnya, bayi hasil hubungan manusia dengan seekor anjing ini memiliki perawakan yang aneh, yaitu sekujur tubuhnya dipenuhi bulu serta berekor layaknya seekor anjing.

Anak ini dipelihara dengan penuh kasih sayang. Semenjak bayi hingga beranjak dewasa dia selalu diajak oleh orang tuanya (Sang Putri dan anjing kesayangannya) berburu binatang hutan, menangkap ikan sungai, serta mencari segala macam tetumbuhan yang dapat dikonsumsi sebagai makanan. Maklum, semenjak diusir dari istana, persediaan makanan yang diberikan hanya cukup untuk beberapa minggu saja. Selanjutnya, mereka harus mencari makan sendiri hanya yang bertumpu pada kemurahan alam hutan.

Suatu hari, karena merasa sudah cukup ahli, si anak berekor pergi berburu seorang diri. Di suatu tempat dia berjumpa dengan sepasang burung kutilang yang sedang memberi makan anaknya. Awalnya, dia akan memanah kedua induk burung tersebut. Namun, dia mengurungkan niat karena melihat keharmonisan rumah tangga burung kutilang itu. Walau harus mencari serangga jauh dari sarang, induk kutilang tetap mencari dan memberi makan anak-anaknya dengan penuh kasih sayang. Mereka tidak menghiraukan kalau perut sendiri belum terisi makanan.

Ketika kembali ke rumah, si anak berekor segera menceritakan keluarga burung kutilang yang dilihatnya tadi. Di akhir cerita, si anak berekor mengajukan sebuah pertanyaan yang sangat mengejutkan ibundanya. Dia bertanya, di manakah ayahnya berada. Dia beranggapan kalau binatang sekecil burung kutilang saja membentuk sebuah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak-anakya. Dalam pikirannya, tentu dia juga memiliki seorang ibu dan juga ayah. Tetapi selama ini yang dilihatnya hanyalah ibu dan anjing kesayangan ibunya saja.

Terkejut dengan pertanyaan anaknya, Sang Ibu tidak mau menceritakan kejadian yang sebenarnya. Dia hanya mengatakan bahwa ayah si anak berekor tidak ada. Tetapi jawaban tersebut sangat tidak memuaskan si anak. Dia terus saja mendesak dan bahkan saking kesalnya malah mengancam akan menggunakan kekerasan apabila tidak mendapat keterangan yang sesungguhnya.

Takut akan ancaman si anak berekor yang memiliki tubuh besar, kuat, dan kekar, akhirnya Sang Ibu pun menjawab bahwa ayahnya adalah anjing yang selama ini tinggal bersama mereka. Anjing itu bernama Tumang. Pantas saja anjing ini selalu berada tidak jauh dari mereka dan bersikap seakan selalu menjaga dan melindungi.

Mendengar jawaban sang ibu, kini giliran si anak berekor yang terkejut setengah mati. Dia tidak menyangka dan sekaligus tidak percaya kalau ayahnya adalah seekor anjing. Dengan sangat marah, dalam sekejap mata dia langsung menangkap Tumang yang sedang berdiri di samping ibundanya. Tubuh Tumang lalu diangkat tinggi dan dijatuhkan dengan sangat keras ke tanah. Akibatnya, tulang tengkorak kepala Tumang pecah dan dia pun mati seketika. Anjing kesayangan yang sekaligua ayah dari si anak berekor itu telah mati di tangan anaknya sendiri. Bangkainya kemudian dibawa ke sungai untuk dihanyutkan.

Begitulah, waktu pun terus berlalu. Keluarga itu kini hidup tanpa anjing kesayangan yang sekaligus merangkap sebagai suami dan ayah. Sang Ibu tampak semakin tua karena hatinya selalu diliputi kesedihan. Sementara anaknya tumbuh menjadi seorang pemuda nekat namun gagah berani dan tidak takut dengan siapapun. Dia sudah tidak ingat lagi kalau telah membunuh ayahnya dan secara tidak sadar membuat ibunya selalu bersedih hati.

Suatu hari, sang pemuda berekor berniat mencari pengalaman baru di luar tempat tinggalnya. Oleh Sang ibu dia disarankan untuk membuat sebuah perahu. Selesai perahu dibuat, diisilah dengan berbagai macam perbekalan lalu digunakan untuk berlayar mengarungi samudra tanpa mengetahui arah mana yang akan dituju. Pikirnya, ke manapun perahu ini berlayar, suatu saat pasti akan bersandar juga.

Beberapa minggu kemudian sampailah dia di sebuah pantai dekat dengan perkampungan nelayan. Di sana dia mendapat penjelasan bahwa tempat itu adalah merupakan wilayah kekuasaan Raja Palembang. Kagum akan kehebatan Raja Palembang, si pemuda berekor segera mendatangi istananya. Maksudnya adalah untuk mengajukan diri menjadi raja juga agar dapat memperoleh kekuasaan seperti Raja Palembang.

Ternyata ajuan itu disetujui oleh Raja Palembang, asalkan si pemuda berekor memerintah di daerah asalnya sendiri dan daerah tersebut nantinya menjadi taklukan Raja Palembang. Syarat itu langsung diterima oleh si pemuda berekor, maka jadilah dia sebagai seorang raja. Julukannya adalah raja berekor karena memiliki ekor panjang layaknya kera. Raja baru ini kemudian diperintahkan kembali ke daerah asalnya dengan membawa pengikut yang berasal dari daerah jajahan Raja Palembang. Jumlah mereka diperkirakan setara dengan delapan gantang bulir padi.

Sesampainya di daerah asal, Raja Berekor memerintahkan para pengikutnya membuat istana di sekitar Aik Bebulak atau yang sekarang sejajar dengan aliran Sungai Cerucuk yang melintasi Kampung Perawas. Di tengah-tengah ruang istana dibuat sebuah singgasana dari sebuah tempayan besar yang di atasnya diletakkan sebilah papan dari kayu ulin yang diberi lubang. Fungsi lubang adalah sebagai tempat memasukkan ekor ketika duduk di singgasana.

Selanjutnya, Raja Berekor membentuk sebuah "kabinet" yang terdiri atas: perdana menteri, menteri, hulubalang, dan pesuruh. Jumlah kabinet inti adalah sembilan orang yang salah seorang diantaranya bernama Sikum. Selain itu, dipekerjakan pula sejumlah perempuan sebagai juru masak, pelayan, dan dayang istana. Hasilnya, roda pemerintahan mulai berjalan sesuai dengan rencana Raja Berekor.

Di tengah kegembiraan dapat menjadi raja yang menguasai sebuah wilayah beserta penghuni yang ada di dalamnya, ada suatu kejadian aneh. Kejadian itu bermula ketika ada seorang juru masak membuat kelalaian saat menyiapkan makanan siang untuk Sang Raja Berekor. Secara tidak sengaja salah satu jarinya tersayat pisau hingga berdarah dan menetes dalam makanan yang siap dihidangkan. Ketika akan diganti dengan yang baru makanan itu terlanjur dibawa oleh pelayan lain ke meja makan Raja Berekor.

Sang Raja yang tidak mengetahui langsung saja menyantap makanan itu dengan lahap. Bahkan sangat lahap karena dia merasa belum pernah memakan masakan yang selezat itu. Usai makan, Raja Berekor langsung memanggil perdana menterinya untuk mencari dan membawa orang yang meracik makanannya.

Singkat cerita, dengan tubuh gemetar dan wajah pucat pasi juru masak menghadap Sang Raja Berekor. Dia lalu menceritakan seluruh kejadian tentang masakan yang dihidangkan pada Sang Raja Berekor pada hari itu. Dia juga bersedia menerima hukuman karena melakukan kelalaian hingga makanan bercampur dengan darahnya.

Tanpa dinyana, bukannya marah Raja Berekor malah terbahak-bahak. Dia mengatakan pada juru masak kalau makanan yang dihidangkannya adalah makanan paling lezat yang pernah dia rasakan. Darah manusia yang secara tidak sengaja tercampur dalam masakan ternyata membuatnya lebih sedap dan nikmat. Pikir Raja Berekor, mungkin akan sangat nikmat apabila daging manusia juga ikut dijadikan sebagai makanan.

Tidak berapa lama kemudian Raja Berekor menyuruh si juru masak pergi lalu memanggil lagi perdana menteri. Setelah perdana menteri menghadap, Raja Berekor menitahkannya untuk mencari manusia yang sehat jasmaninya. Apabila tertangkap, mereka akan dijadikan tawanan untuk selanjutnya satu persatu dikorbankan sebagai santapan Sang Raja Berekor.

Awalnya perdana menteri menolak perintah tersebut. Selama hidup, dia tidak pernah melihat dan bahkan mendengar kalau daging manusia dijadikan sebagai makanan. Tetapi karena Sang Raja Berekor memperlihatkan kemurkaannya, mau tidak mau perdana menteri menurutinya, walau dalam hati tidak sependapat. Korban pertama adalah orang yang dianggap paling bersalah, yaitu si juru masak. Apabila dia tidak ceroboh, maka Raja Berekor tidak akan mungkin terbit selera untuk memakan daging manusia.

Sejak saat itu, ada saja rakyat yang dikorbankan setiap harinya sebagai santapan Raja Berekor. Mereka dapat berasal dari kalangan kanak-kanak, remaja, orang dewasa, orang tua, laki-laki, perempuan, bergantung dari selera Raja Berekor. Jumlah korbannya dapat satu hingga tiga orang dalam sehari. Akibatnya, semakin hari jumlah penduduk berkurang hingga tinggal para hulubalang dan sembilan orang "kabinet inti" kerajaan saja.

Sebagian dari hulubalang yang tidak ingin mati sia-sia segera melarikan diri ke daerah Belantu, Sijuk, dan Buding. Sementara sebagian lainnya yang tidak sempat melarikan diri terpaksa harus menjadi korban selanjutnya. Akhirnya, yang tersisa hanya tingal sembilan orang "kabinet inti" kerajaan dan Raja Berekor saja. Oleh karena itu, agar "adil" Raja Berekor memberikan sebuah teka teki berbunyi "Delipat kembang delokir, delima kembang delikam" yang harus dijawab dalam waktu dua hari. Apabila tidak dapat menjawab, maka secara bergiliran mereka akan dijadikan sebagai menu santapan.

Tanpa membuang waktu, para anggota "kabinet inti" kerajaan segera bermusyawarah untuk memecahkan teka teki Raja Berekor. Tetapi baru tengah malam teka teki itu dapat terpecahkan oleh salah seorang diantara mereka, yaitu Sikum. Dia dahulu pernah bekerja dalam pemerintahan Raja Palembang sehingga dapat memecahkan arti dari teka-teki itu, yaitu empat orang akan dimakan pada waktu siang, dan lima orang akan dimakan waktu malam.

Tetapi mereka berubah pikiran ketika Sikum mengutarakan pendapat untuk menghukum mati Raja Berekor. Adapun caranya tidak langsung berhadapan mengadu kekuatan, karena walau bersembilan rasanya tidak mungkin untuk mengalahkan Raja Berekor yang sangat kuat, bengis, dan kejam. Mereka bersiasat menggunakan pantun lagi agar Raja Berekor berpikir keras untuk menjawabnya. Saat raja berpikir keras tersebut tentu kewaspadaannya akan menurun sehingga kemungkinan besar akan kalah ketika nanti diserang secara tiba-tiba menggunakan dua buah alu sakti yang dahulu ikut dibawa dari daerah kekuasaan Raja Palembang. Kayu ini dinamakan Simpor Laki yang konon dapat dijadikan sebagai penangkal binatang buas yang hidup di hutan.

Dua hari kemudian tibalah masanya untuk menjawab teka teki Raja Berekor. Saat menghadap dua orang diantara mereka membawa alu dan bukan tombak sebagaimana biasanya. Selanjutnya, Perdana Menteri menjawab teka teki Raja Berekor dengan berpantun. Sebelum Raja Berekor sempat mencerna seluruh isi pantun tersebut, Sikum mengucapkan sebuah pantun lagi yang membutnya bertambah bingung. Dan, di saat Raja Berekor bingung itulah serentak mereka melancarkan serangan. Lima orang memegangi ekornya, sedangkan sisanya ada yang memukul kepalanya dengan alu dan ada pula yang menusuk badannya dengan tombak. Akibatnya, tubuh kekar itu langsung tersungkur bersimbah darah. Mayatnya kemudian dibawa dan dihayutkan ke sungai.

Diceritakan kembali oleh Pepeng

Yamaha SRX600 (1988)

Technical Specifications
1988 Yamaha SRX600
Engine
Engine type
Bore x Stroke
Displacement
Valves
Compression ratio
Max Power
Max Torque
Fuel system
Transmission
Final drive
Clutch
Ignition type
Starting system
Lubrication
Intake system
Spark plug
Battery
Gear ratios

Air cooled, four stroke, single cylinder, SOHC
96.0 х 84.0 mm
608 cc
4 valves per cylinder
8.5:1
42 hp @ 6500 rpm  (rear tyre 37.9 hp @ 6300 rpm)
4.9 kgf-m @ 5500 rpm
27mm Teikei carb
5-speed
Chain
Wet, multi-plate type
CDI
Kick starter
Wet sump

Dimensions
Frame type
Rake
Overall length
Overall width
Overall height
Wheelbase
Seat height
Ground clearance
Weight
Fuel capacity
Color
Suspension (front)
Suspension (rear)
Tyre (front)
Tyre (rear)
Brake (front)
Brake (rear)









155 kg
15 litres

36mm Telescopic forks 134mm wheel travel.
Dual Kayaba shocks 5-way adjustable for preload
100/80-V18
120/80-V18
Dual disc brake
Single disc brake

Image: http://www.motorcycleclassics.com/classic-japanese-motorcycles/yamaha-srx600.aspx

Yamaha RZ125 (1982)

Technical Specifications
1982 Yamaha RZ125
Engine
Engine type
Bore x Stroke
Displacement
Valves
Compression ratio
Max Power
Max Torque
Fuel system
Transmission
Final drive
Clutch
Ignition type
Starting system
Lubrication
Intake system
Spark plug
Battery
Gear ratios

Liquid cooled, two stroke, single cylinder.
56.0 х 50.6 mm
123 cc
2 valves per cylinder
6.4:1
20 hp @ 9500 rpm
1.5 kgf-m @ 9250 rpm
24mm Mikuni carb
6-speed
Chain
Wet, multi-plate type

Kick starter
Wet sump

Dimensions
Frame type
Rake
Overall length
Overall width
Overall height
Wheelbase
Seat height
Ground clearance
Weight
Fuel capacity
Color
Suspension (front)
Suspension (rear)
Tyre (front)
Tyre (rear)
Brake (front)
Brake (rear)










12.7 litres
White
Telescopic fork
Monocross linkage 6-way preload adjustment
80/100-S18
90/100-S18
Single disc brake 245mm
Drum brake 130mm

Image: http://global.yamaha-motor.com/showroom/library/grid/

Kecamatan Jatiasih

Letak dan Keadaan Alam
Jatiasih merupakan salah satu dari 12 kecamatan yang ada dalam wilayah Kota Bekasi. Secara geografis wilayahnya berada pada titik koordinat 106°57'51'' Bujur Timur dan 6°17'32'' Lintang Selatan dengan batas-batas: sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Bekasi Selatan, sebelah selatan dengan Kecamatan Jatisampurna, sebalah barat dengan Kecamatan Pondok Gede dan Pondok Melati, dan sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Rawalumbu serta Kabupaten Bogor.

Wilayah Jatiasih awalnya hanyalah sebuah kecamatan perwakilan hasil pemekaran dari Kecamatan Pondok Gede pada sekitar tahun 1986. Dan, baru pada tahun 2004 Jatiasih menjadi sebuah kecamatan penuh berdasarkan Peraturan Daerah Kota Bekasi Nomor 04 tahun 2004 tentang pembentukan wilayah administrasi kecamatan dan kelurahan. Wilayahnya seluas 2.356,1 km2 atau 2.324,921 ha, terbagi atas 6 kelurahan, yaitu: (a) Jatisari seluas 523,50 ha dengan rincian 205,31 ha pemukiman, 10,20 ha lahan pertanian, dan 16,90 ha lahan industri; (b) Jatiasih seluas 291,69 ha dengan rincian 257,05 ha pemukiman, 5,85 ha lahan pertanian, dan 3,50 ha lahan industri; (c) Jatikramat seluas 399,50 ha dengan rincian 57,60 ha pemukiman, 3,50 lahan pertanian, dan 12,90 lahan industri; (d) Jatiluhur seluas 396,09 ha dengan rincian 41,46 ha pemukiman, 15,00 ha lahan pertanian, dan 0,06 ha lahan industri; (e) Jatimekar seluas 440,18 ha dengan rincian 99,46 ha pemukiman dan 7,52 lahan industri; dan (f) Kelurahan Jatirasa seluas 273,94 ha dengan rincian 160,46 ha pemukiman, 34,55 ha lahan pertanian, dan 43,38 ha lahan industri (http://bekasikota.go.id).

Secara lebih rinci lagi peruntukan lahan di Kecamatan Jatiasih adalah sebagai berikut: sawah tadah hujan (10 ha), pekarangan (1.653 ha), tegalan (803 ha), empang/kolam (14 ha), sawah (10 ha), tanah kering (1.838 ha), rumah tinggal (17.759, 6 ha), rumah kontrakan (3.358 ha), ruko/kios/supermarket/toko/showroom/dealer (19.533 ha), gedung serba guna/gedung olahraga/kantor (2.093 ha), sekolah (3.754 meter persegi), bengkel/pool bus (1.560 mete persegi), kavling (17.405 meter persegi), menara antena (326 meter persegi), gudang (4.075 meter persegi), tanah wakaf (98.420 meter persegi), tanah negara (120.000 meter persegi), dan pemakaman (98.000 meter persegi) (Kota Bekasi dalam Angka 2012).

Kependudukan
Penduduk Kecamatan Jatiasih berjumlah 214.875 jiwa atau 45.851 Kepala Keluarga (KK). Jumlah penduduk tersebut jika dilihat komposisinya berdasarkan jenis kelamin, terdiri atas 109.978 jiwa laki-laki (50,5%) dan 104.888 jiwa perempuan (49,5%). Mereka tersebar di 97 Rukun Warga (RW) dan 608 Rukun Tetangga (RT) dengan kepadatan sekitar 9.767 jiwa perkilometer persegi.

Mata Pencaharian
Jenis-jenis mata pencaharian yang digeluti oleh warga masyarakat Kecamatan Jatiasih sangat beragam, yaitu: pegawai negeri di berbagai instansi pemerintah, seperti: kelurahan, kecamatan, pemerintah daerah, buruh, TNI/Polri, dan yang bekerja di non-pemerintah, seperti: karyawan swasta, wiraswasta, pedagang keliling, perajin, seniman, peternak, tukang, montir, dan lain sebagainya.

Pendidikan dan Kesehatan
Sarana pendidikan yang terdapat di Kecamatan Jatiasih meliputi: 71 buah Taman Kanak-kanak dengan 355 orang tenaga pengajar dan 3.172 orang murid, 40 buah Sekolah Dasar Negeri dengan 346 orang tenaga pengajar dan 17.853 orang murid, 14 buah Sekolah Dasar Swasta dengan 554 orang tenaga pengajar dan 3.973 orang murid; 5 buah Sekolah Menengah Pertama Negeri dengan 154 orang tenaga pengajar dan 5.776 orang siswa, 15 buah Sekolah Menengah Pertama Swasta dengan 159 orang tenaga pengajar dan 2.555 orang siswa, 2 buah Sekolah Menengah Atas Negeri dengan 26 orang tenaga pengajar dan 2.708 orang siswa, 8 buah Sekolah Menengah Atas Swasta dengan 50 orang tenaga pengajar dan 798 orang siswa, 1 buah Sekolah Menengah Kejuruan Negeri dengan jumlah tenaga pengajar sebanyak 10 orang dan 260 orang siswa, 6 buah Sekolah Menengah Kejuruan Swasta dengan 76 orang tenaga pengajar dan 2.597 orang siswa, 29 buah Madrasah Raudhatul Athfal dengan 142 orang tenaga pengajar dan 1.089 orang siswa, 21 buah Madrasah Ibtidaiyah dengan 286 orang tenaga pengajar dan 3.823 orang siswa, 10 buah Madrasah Tsanawiyah dengan 235 orang tenaga pengajar dan 1.935 orang siswa, 3 buah Madrasah Aliyah dengan 56 orang tenaga pengajar dan 412 orang siswa, dan 26 buah pondok pesantren dengan 119 ustadz/kyai pengajar dan 2.239 orang santri.

Gambaran di atas menujukkan bahwa sarana pendidikan yang dimiliki oleh Kecamatan Jatiasih hanya sampai Sekolah Menengah Umum dan Madrasah. Ini artinya, jika seseorang ingin melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi, mesti keluar dari Jatiasih. Adapun sarana pendidikan yang ada di Kecamatan Jatiasih dapat dilihat pada tabel 1 di bawah ini.

Tabel 1
Fasilitas Pendidikan Kecamatan Jatiasih
No
Tingkat Pendidikan
Jumlah
Guru
Murid
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
Taman Kanak-kanak
SD Negeri
SD Swasta
SMP Negeri
SMP Swasta
SMA Negeri
SMA Swasta
SMK Negeri
SMK Swasta
Madrasah Raudhatul Athfal
Madrasah Ibtidaiyah
Madrasah Tsanawiyah
Madrasah Aliyah
Pondok Pesantren
71
40
14
5
15
2
8
1
6
29
21
10
3
26
355
346
554
154
159
26
50
10
76
152
286
235
56
119
3.172
17.853
3.973
5.776
2.555
2.708
798
260
2.597
1.089
3.823
1.935
412
2.239

Jumlah




Sumber: Kota Bekasi Dalam Angka 2012

Sementara untuk sarana kesehatan Kecamatan Jatiasih memiliki sebuah rumah sakit, 6 buah puskesmas, dan 2 buah puskesmas pembantu dengan tenaga medis sebanyak 46 orang, terdiri atas: 8 orang dokter umum, 4 orang dokter gigi, 1 orang apoteker, 1 orang SPAG, 13 orang perawat, 3 orang perawat gigi, 14 orang bidan, 1 orang tenaga kesehatan masyarakat, dan 1 orang tenaga sanitasi.

Agama dan Kepercayaan
Warga masyarakat Jatiasih menganut agama dan kepercayaan yang beragam. Kecamatan ini memiliki 104 buah mesjid, 110 buah langgar, 3 buah gereja, 1 buah vihara, dan 1 buah gedung atau bangunan tempat penganut kepercayaan aliran kebatinan Perjalanan yang tersebar di permukiman penduduk. Fungsi dari mesjid dan langgar selain sebagai tempat ibadah, baik sholat lima waktu, sholat Jumat, tarwih, dan sholat yang berkenaan dengan hari-hari besar agama Islam (Idul Fitri dan Idul Adha), juga digunakan untuk pengajian dan berkesenian (qasidahan). Sementara fungsi gereja dan vihara merupakan sarana peribadatan dan sosialisasi keagamaan bagi umat kristen dan budha yang ada di sana.

Organisasi Pemerintahan
Struktur organisasi pemerintahan tertinggi di Kecamatan Jatiasi dipegang oleh seorang Camat. Dalam menjalankan tugasnya Camat dibantu oleh Sekretaris Kecamatan, Kelompok Jabatan Fungsional, Seksi Pemerintahan, Seksi Trantib, Seksi Ekonomi dan Pembangunan, Seksi Kesejahteraan Sosial, Seksi Kependudukan, Lurah Jatiasih, Lurah Jatirasa, Lurah Jatimekar, Lurah Jatikramat, Lurah Jatiluhur, dan Lurah Jatisari. Untuk melaksanakan tugasnya, bagian sekretariat dibantu lagi oleh Sub Bagian Umum dan Kepegawaian dan Sub Bagian Keuangan. Berikut adalah struktur organisasi Kecamatan Jatiasih.

Sumber: Bekasikota.go.id

Para aparatur kecamatan tersebut bekerja dalam satu kerangka visi dan misi yang sama untuk kemajuan Kecamatan Jatiasih. Visi tersebut adalah “Unggul dalam Jasa Pelayanan dan Pemukiman yang Sehat bernuansa Ihsan” yang dapat ditafsirkan sebagai harapan bahwa Kecamatan Jatiasih menjadi salah satu kecamatan yang unggul dalam jasa pelayanan dan pemukiman sehingga dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat. Apabila diuraikan menurut per-katanya, “unggul” dapat diartikan menunjukkan hasil yang lebih baik dan berkualitas dari sebelumnya, keinginan untuk berkembang, berproduktivitas dan efisiensi tinggi, dan memiliki daya saing tangguh. “Jasa pelayanan” meliputi pelayanan kemasyarakatan yang dilakukan pemerintah serta pelayanan jasa kegiatan ekonomi. “Pemukiman yang sehat” mengandung arti kebutuhan papan bagi masyarakat Bekasi harus sesuai dengan kaidah yang berlaku agar menciptakan kehidupan yang lebih baik; dan kata “Bernuansa ihsan” mengandung arti perisai menuju pencapaian pembangunan, aspirasi masyarakat religius dan harmonis dalam kehidupan keagamaannya.

Seluruh penjabaran dari visi itu dijadikan sebuah misi yang harus dilaksanakan atau diemban agar seluruh anggota organisasi dan pihak yang berkepentingan dapat mengetahui dan mengenal keberadaan serta peran Kecamatan Jatiasih dalam menyelenggarakan pemerintahan Kota Bekasi. Adapun misinya adalah: (a) Menciptakan sumber daya aparat profesional yang memahami dan melaksanakan tugas sesuai dengan tugas dan pokok fungsinya, menyelesaikan tugas tepat waktu, berdisiplin tinggi, dan memberikan pelayanan masyarakat yang cepat, tepat dan memuaskan; (b) Menciptakan pelayanan prima yang tepat, cepat dan akurat serta fasilitasi pelayanan ijin usaha; (c) Meningkatkan Partisipasi Masyarakat dalam bidang kesehatan, K3, ketertiban, keamanan dan kebersihan; (d) Pemberdayaan sumber daya manusia yang berorientasi kewirausahaan untuk mewujudkan kemandirian lokal yang mampu mengendalikan sumber daya sesuai dengan lingkungan strategisnya; dan (e) Menyediakan akses jalan yang menunjang perdagangan serta perbaikan drainase (bekasikota.go.id) (gufron).

Sumber:
"Kecamatan Jatiasih" diakses dari http://www.bekasikota.go.id/read/154/kecamatan-jatiasih, tanggal 14 September 2013.
"Profil Kecamatan Jatiasih", diakses dari http://bekasikota.go.id/readotherskpd/154/124/profil-kecamatan-jatiasih, tanggal 16 September 2013.

Yamaha TZR250R SP (1991)

Technical Specifications
1991 Yamaha TZR250R SP
Engine
Engine type
Bore x Stroke
Displacement
Valves
Compression ratio
Max Power
Max Torque
Fuel system
Transmission
Final drive
Clutch
Ignition type
Starting system
Lubrication
Intake system
Spark plug
Battery
Gear ratios

Liquid-cooled, 90deg, V-twin, two-stroke.
56.0 x 50.7 mm
249 cc
2 valves per cylinder
11.5:1
45bhp
27.5ft-lb
2 x 28mm Mikuni flat slide carbs
6-speed constant mesh
Chain
Wet, multi-plate type

Electric starter
Wet sump

Dimensions
Frame type
Rake
Overall length
Overall width
Overall height
Wheelbase
Seat height
Ground clearance
Weight
Fuel capacity
Color
Suspension (front)
Suspension (rear)
Tyre (front)
Tyre (rear)
Brake (front)
Brake (rear)

Deltabox
25deg/96mm
2145 mm
760 mm
1075 mm
1340mm
780 mm
165 mm
128kg
16.5 litres
Silky white
39mm USD adjustable telescopic forks
Fully adjustable Monoshock rear
110/70-R17
150/60-R17
Dual disc brake
Single disc brake

Image: http://www.pure-2-stroke-spirit.info/node/12

Yamaha RD350 (1980)

Technical Specifications
1980 Yamaha RD350
Engine
Engine type
Bore x Stroke
Displacement
Valves
Compression ratio
Max Power
Max Torque
Fuel system
Transmission
Final drive
Clutch
Ignition type
Starting system
Lubrication
Intake system
Spark plug
Battery
Gear ratios

Liquid cooled, two-stroke, twin cylinder
64.0 x 54.0 mm (2.5 x 2.1 inches)
347.00 ccm (21.17 cubic inches)
2 valves per cylinder
6.9:1
49.00 HP (35.8 kW)) @ 8700 rpm

Fuel Injection
6-speed constant mesh
Chain
Wet, multi-plate type

Electric starter
Wet sump

Dimensions
Frame type
Rake
Overall length
Overall width
Overall height
Wheelbase
Seat height
Ground clearance
Weight
Fuel capacity
Color
Suspension (front)
Suspension (rear)
Tyre (front)
Tyre (rear)
Brake (front)
Brake (rear)









161 kg
17 litres

Telescopic fork
Swingarm type
3.00-R18
3.50-R18
Dual disc brake
Expanding brake

Image: http://global.yamaha-motor.com/showroom/library/grid/

Yamaha RZ250 (1980)

Technical Specifications
1980 Yamaha RZ250
Engine
Engine type
Bore x Stroke
Displacement
Valves
Compression ratio
Max Power
Max Torque
Fuel system
Transmission
Final drive
Clutch
Ignition type
Starting system
Lubrication
Intake system
Spark plug
Battery
Gear ratios

Liquid cooled, two stroke, parallel twin cylinder
54.0 х 54.0 mm
247 cc
4 valves per cylinder
6.7:1
35 hp @ 8000 rpm 
3.0 kgf-m @ 8000 rpm
Fuel Injection
6-speed
Chain
Wet, multi-plate type

Electric starter
Wet sump

Dimensions
Frame type
Rake
Overall length
Overall width
Overall height
Wheelbase
Seat height
Ground clearance
Weight
Fuel capacity
Color
Suspension (front)
Suspension (rear)
Tyre (front)
Tyre (rear)
Brake (front)
Brake (rear)









139 kg
17 litres
White


3.00-R18
3.25-R18
Single disc brake
Drum brake

Image: http://www.tamiya.com/english/products/14002rz250/index.htm

Yamaha SRX250F (1984)

Technical Specifications
1984 Yamaha SRX250F
Engine
Engine type
Bore x Stroke
Displacement
Valves
Compression ratio
Max Power
Max Torque
Fuel system
Transmission
Final drive
Clutch
Ignition type
Starting system
Lubrication
Intake system
Spark plug
Battery
Gear ratios

Air cooled, four stroke, single cylinder, DOHC, 4 valves
73.0 х 59.6 mm
249 cc
2 valves per cylinder
10.0:1
32 hp @ 10000 rpm
2.4 kgf-m @ 8500 rpm
Fuel Injection
6-speed
Chain
Wet, multi-plate type
TCI
Electric starter
Wet sump

Dimensions
Frame type
Rake
Overall length
Overall width
Overall height
Wheelbase
Seat height
Ground clearance
Weight
Fuel capacity
Color
Suspension (front)
Suspension (rear)
Tyre (front)
Tyre (rear)
Brake (front)
Brake (rear)









123 kg
9 litres
Centre axle 33mm forks, 140mm wheel travel
Telescopic, coil spring, oil-damped
Single shock, adjustable spring preload, 100mm wheel travel
90/90-R16
100/90-R18
Single disc brake
Drum brake

Image: http://www.motorcyclespecs.co.za/model/yamaha/yamaha_srx250f%2084.htm

Suzuki Burgman 650 ABS (2014)

Technical Specifications
2014 Suzuki Burgman 650 ABS
Engine
Engine type
Bore x Stroke
Displacement
Valves
Compression ratio
Max Power
Max Torque
Fuel system
Transmission
Final drive
Clutch
Ignition type
Starting system
Lubrication
Intake system
Spark plug
Battery
Gear ratios

Four-stroke, liquid-cooled, two-cylinder, DOHC
75.5mm x 71.3mm (2.97 in x 2.81 inches)
638 cc
4 valves per cylinder
11.2:1


Suzuki Fuel Injection
Automatic - SECVT
Gear drive

Electronic ignition (Transistorized)
Electric starter
Wet sump

Dimensions
Frame type
Rake
Overall length
Overall width
Overall height
Wheelbase
Seat height
Ground clearance
Weight
Fuel capacity
Color
Suspension (front)
Suspension (rear)
Tyre (front)
Tyre (rear)
Brake (front)
Brake (rear)



2265 mm (89.2 inches)
810 mm (31.9 inches)

1585 mm (62.4 inches)
755 mm (29.7 inches)
125 mm (4.9 inches)
278 kg (613 lbs)

Metallic mat fibroin gray
Link type, coil spring, oil damped
Swingarm type, coil spring, oil-damped
120/70R15M/C 56H, tubeless
160/60R14M/C 65H, tubeless
Dual disc brake
Single disc brake

Image: http://burgmanusa.com/bkb/650+Year+Differences


Popular Posts