Agus Djaya

Agus Djaya atau Raden Agoes Djajasoeminta adalah seorang pelukis asal Banten yang namanya terkenal hingga ke mancanegara. Agus Djaya lahir di Pandeglang pada tanggal 1 April 1913. Ayahnya adalah seorang keturunan bangsawan Banten yang pernah menjadi kepala agen sebuah bank1. Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila dia mampu memberikan pendidikan yang layak bagi anak-anaknya. Agus Djaya misalnya, semasa kecil dapat bersekolah di H.I.S Pandeglang. Waktu itu cita-citanya adalah menjadi seorang dokter karena banyak dari anggota keluarga yang berprofesi sebagai dokter. Namun, karena ada darah seni kuat yang diturunkan dari Sang Ibu dan ditambah dengan pengarahan dari guru gambarnya, Suwanda Mihardja, maka secara perlahan Agus Djaya mulai meminati dunia seni, khususnya seni rupa2.

Setelah lulus dari H.I.S Pandeglang Agus Djaya melanjutkan ke MULO di Bandung hingga lulus pada tahun 1923. Kemudian, hijrah ke Bogor untuk melanjutkan pendidikan di MLS (Middelbare Landbouw School/Sekolah Menengah Pertanian) (1923-1924), namun tidak sampai tamat. Selanjutnya, hijrah lagi ke daerah Lembang, Bandung, untuk bersekolah H.I.K pada tahun 1927. Dan, sesuai dengan minatnya di bidang seni rupa, Agus Djaya pun pergi ke Jakarta untuk mengikuti pendidikan seni lalu ke Amsterdam, Belanda, untuk belajar di Akademi Rijks (Academy of Fine Arts)3. Selama berada di daratan Eropa tersebut Agus Djaya sempat berkenalan dengan beberapa seniman besar dunia, di antaranya: Pablo Picaso di Vallauris, Perancis Selatan; Salvador Dali di Madrid, Spayol; dan Ossip Zadkine, pematung Perancis asal Polandia.

Sekembalinya dari Belanda, Agus Djaya mulai menularkan ilmunya dengan memberi pelajaran menggambar serta beberapa mata pelajaran lain pada murid sekolah hingga tahun 1934. Empat tahun kemudian, bersama dengan Sudjojono, Otto Djaja, Harijadi, Hendra Gunawan, Basoeki Resobowo, Affandi, dan beberapa seniman lain, Agus Djaya mendirikan Persagi atau (Persatuan Ahli-ahli Gambar Indonesia). Adapun tujuannya adalah untuk mendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia dari penjajahan Belanda melalui karya seni rupa dari para seniman terdidik dan kritis. Selain itu, menurut Gito Waluyo4, pendirian Persagi juga merupakan sarana untuk melawan berkembangnya aliran "Mooi Indie", sebuah ejekan ala Sudjojono bagi karya seni rupa bertema gambaran keindahan alam Negeri Belanda yang mulai mendominasi sejak mereka menduduki negeri ini.

Ketika pemerintahan Belanda diganti oleh Jepang, Persagi akhirnya dibubarkan pada tahun 1942. Namun karir Agus Djaya sebagai seorang pelukis bukannya menurun, tetapi malah semakin meningkat. Dia menjadi terkenal karena sering ikut berpameran bersama dengan Affandi, Hendra, Kartono, dan pelukis lainnya. Bahkan, atas rekomendasi Bung Karno, dia sempat mendapat jabatan sebagai Kepala Bagian Kesenian pada Keimin Bunka Sidosho, Pusat Kebudayaan Jepang di Jakarta dari tahun 1942-1945.

Setelah Jepang menyerah pada Perang Dunia II dan menarik kembali pasukannya, Belanda rupanya ingin kembali lagi menguasai Indonesia sehingga terjadilah Perang Kemerdekaan (1945-1949). Pada masa itu Agus Djaya masuk ke dalam kesatuan Tentara Nasional Indonesia untuk ikut mempertahankan kemerdekaan. Pangkat tertingginya adalah Kolonel dengan tugas sebagai intel dan F.P (Perispan Lapangan).

Usai Perang Kemerdekaan, bersama sang adik yang juga seorang pelukis Agus Djaya kembali aktif di dunia seni rupa dengan mengadakan sejumlah pameran di luar negeri (Belanda, Perancis, dan Monaco) selama sekitar dua tahun. Sekembalinya dari luar negeri, Agus Djaya mencoba peruntungannya di Jakarta dengan membuka sebuah art shop dan galeri. Tetapi, entah mengapa, popularitasnya malah menjadi meredup sehingga dia memutuskan untuk hijrah bersama sang isteri ke Kuta, Bali. Di sana dia mendirikan sebuah studio sekaligus galeri lukisan di tepi Pantai Kuta.

Sekitar sebelas tahun kemudian atau tepatnya pada tahun 1981 Agus Djaya kembali pulang ke Jakarta. Dan, setelah beberapa waktu menjalani masa tuanya, ia pun akhirnya tutup usia di Pamulang, Banten, pada tanggal 24 April 1994. Agus Djaya meninggalkan segudang karya yang didokumentasikan dalam sebuah buku berjudul "Agus Djaya dan Sejarah Seni Lukis Indonesia" serta berbagai macam tanda jasa baik dalam bidang seni maupun kemiliteran. Karya-karya lukisannya di antaranya adalah: Man Playing Flute (1942), Krishna & Radha (1948), Portrait of Balinese Beauty (1952), Dancers (1953), Gadis Bali (1955), Wiwaha (1965), Kuda Lumping (1965), Dancer (1958-1959), Balinese Girl (1962), Medicijnman (1971), Tarung 1971, Melasti (1971), Wanita (1971), A Cock Fight (1972), Sesembah (1973), Man with Cockerel (1974), Kuda Kepang (1975), Tari Bali (1976), Dogs in Full Moon (1976), Wanita Dusun (1983), Traditional Dance Performance (1984), dan lain sebagainya5. (gufron)

Foto: https://pandjipainting.files.wordpress.com/2011/07/agusjaya1.jpg
Sumber:
1. "Agus Djaja", diakses dari http://www.jakarta.go.id/web/encyclopedia/detail/708/Agus-Djaja, tanggal 20 Juni 2015.
2. "Mengenal Agus Djaja Suminta", diakses dari https://senirupasmasa.wordpress.com/2012/ 09/19/mengenal-agus-djaja-suminta/, tanggal 21 Juni 2015.
3. "Agus Djaja Suminta", diakses dari http://mikkesusanto.jogjanews.com/agus-djaja-suminta.html, tanggal 21 Juni 2015.
4. Gito Waluyo. 2009. "Banten, Agus Djaja-Toto Djaja, dan Perupa urban. Diakses dari https://sahabatgallery.wordpress.com/2009/07/27/banten-agus-djaja-toto-djaja-dan-perupa-urban/, tanggal 22 Juni 2015.
5. "Agus Djaya (Indonesian 1913-1990)", diakses dari http://www.artnet.com/artists/agus-djaya/past-auction-results, tanggal 22 Juni 2015.

Permainan Bleduran

Bleduran atau meriam sundut konon sudah dimainkan oleh orang Betawi sejak zaman penjajahan karena terinspirasi oleh meriam-meriam tempur milik Belanda. Permainan ini umumnya dilakukan oleh kaum laki-laki remaja hingga dewasa karena memiliki tingkat risiko yang relatif tinggi. Sedangkan waktu bermainnya biasanya malam hari (antara magrib hingga menjelang subuh) pada saat bulan puasa. Namun dalam perkembangannya saat ini, keberadaan bleduran atau meriam sundut sudah mulai tergeser oleh permainan petasan yang dianggap lebih praktis.

Untuk dapat bermain bleduran diperlukan beberapa peralatan, yaitu: (1) sebatang bambo petung tua berdiameter 10--17 sentimenter dan panjang sekitar 1 meter dengan beberapa ruas. Ruas pertama sengaja tidak dibuat lubang, sedangkan ruas kedua dan ketiga diberi dua lubang berbentuk laras selebar 10 sentimeter dan 1 sentimeter sebagai tempat untuk menyundut; dan (2) bahan peledak berupa campuran karbit dan air atau minyak tanah.

Sedangkan cara bermainnya diawali dengan memasukan bahan peledak ke pangkal bleduran yang dipasang miring sekitar 10--20 sentimeter di atas tanah. Setelah itu ujung laras bleduran ditutup dengan kain basah agar uap karbit atau minyak tanah tidak keluar. Dan, agar bunyinya nyaring, lubang sundut ditutup dengan jari atau alat penutup lain selama satu hingga lima menit sebelum disundut dengan api. (gufron)

Permainan Wak wak kung

Asal usul permainan yang disebut sebagai Wak wak kung sudah sulit diketahui. Namun, yang jelas permainan wak wak kung telah dikenal oleh masyarakat Betawi sejak zaman penjajahan Belanda. Di dalam permainan yang juga disebut sebagai Ular naga ini terdapat dua orang penjaga berhadapan dan saling berpegangan tangan yang kemudian diangkat ke atas membentuk kerucut, sehingga jika diturunkan akan memerangkap pemain di dalamnya. Kedua orang penjaga itu diibaratkan sebagai bulan dan matahari.

Pemain
Permainan Wak wak kung pada umumnya dilakukan oleh anak-anak yang berusia 6--12 tahun, baik laki-laki maupun perempuan. Jumlah pemainnya 10--40 orang. Dari sekian banyak pemain tersebut, hanya dua orang yang menjadi induk ayam atau ulung, sedangkan sisanya akan dibagi dua grup setelah dalam permainan terjaring dan memilik salah satu induk ayam.

Tempat dan Peralatan Permainan
Luas arena permainan yang diperlukan bergantung dari banyak sedikitnya pemain. Jika pemain kurang dari 40 orang, maka luas arena hanya berukuran 5 x 5 meter persegi. Namun, jika pemain sekitar 40 orang maka luasnya diperlebar menjadi 8 x 8 meter persegi. Di tengah-tengah arena akan dibuat sebuah garis batas yang nantinya akan dipergunakan sebagai batas kalah atau menang saat kedua regu saling tarik-menarik. Dengan luas yang maksimal hanya 16 meter persegi, maka pekarangan rumah atau tanah yang agak lapang pun dapat dijadikan arena permainan.

Permainan wak wak kung tidak mempergunakan alat apapun, kecuali sebuah lagu sebagai pengiring nyanyian. Syair untuk lagu tersebut adalah sebagai berikut:
Wak wak kung nasinye nasi jagung
Lalapnye daon utan
Sarang gaok dipohon jagung
Gang…ging…gung

Tam-tambuku
Seleret daon delime
Pato klembing pate paku
Tarik belimbing
Tangkep satu
Pit ala’ipit
Kuda lari kejepit-sipit

Aturan dan Proses Permainan
Aturan permainan Wak wak kung tergolong mudah, yaitu setelah grup atau regu terbagi dua, maka kedua regu tersebut akan saling tarik-menarik hingga melewati garis batas permainan untuk menentukan menang atau kalahnya sebuah grup.

Sedangkan proses permainan dimulai dengan penentuan pemain (dengan cara aklamasi) yang akan menjadi ulung atau induk ayam. Setelah itu, kedua induk ayam akan saling berhadapan dan berpegangan tangan, kemudian diangkat ke atas membentuk sebuah kerucut (jika diturunkan akan memerangkap pemain di dalamnya). Sementara itu, para pemain lain akan berbaris memanjang, sambil berpegangan pada pundak pemain yang ada di depannya untuk mulai berjalan memutar, melalui “lorong” yang dibuat oleh rentangan tangan induk ayam. Saat berjalan mengitari dan memasuki “lorong” tersebut, biasanya para pemain akan bernyanyi. Di akhir nyanyian tangan pemain yang berperan sebagai induk ayam akan turun dan memerangkap salah seorang dari barisan pemain yang mengelilinginya. Kemudian, mereka akan bertanya kepada pemain yang terperangkap tersebut untuk memilih secara sukarela. Jika pemain memilih salah seorang induk, ia akan berdiri di belakangnya. Demikian seterusnya hingga tidak ada lagi pemain yang mengitari induk ayam. Dengan cara seperti itu, otomatis dua buah grup terbentuk.

Selanjutnya, kedua induk ayam akan berdiri berjajar dan saling berpegangan (hanya satu tangan) lagi tepat di atas garis batas permainan. Sementara tangan yang satunya lagi akan memegang salah satu tangan pemain lain (yang tadi telah memilih). Pemain tersebut akan memegang tangan pemain lainnya sehingga nantinya akan terbentuk barisan melebar dengan kedua induk ayam dan garis batas di antara keduanya sebagai pusatnya. Kemudian, kedua grup tersebut akan saling tarik-menarik hingga salah satu regu melewati garis batas yang telah ditentukan. Regu yang dapat menarik regu lain melewati garis batas maka regu tersebut dinyatakan sebagai pemenangnya. Jika pemain masih ingin bermain maka permainan dimulai lagi seperti semula.

Nilai Budaya
Nilai yang terkandung dalam permainan wak wak kung ini adalah kerja sama, kerja keras, demokrasi, dan sportivitas. Nilai kerja sama dan sekaligus kerja keras tercermin dari para pemain yang tergabung dalam satu grup akan bahu membahu menarik grup lain melewati batas yang telah ditentukan. Sedangkan nilai demokrasi tercermin dari kebebasan para pemain untuk sesuka hati memilih menjadi anggota grup bulan atau matahari. Nilai sportivitas tercermin dari sikap dan tingkah laku anggota grup yang kalah, mengakui kekalahannya dengan lapang dada, karena ada kesadaran bahwa dalam suatu permainan pasti akan ada pihak yang kalah dan pihak yang menang. (ali gufron)

Misbach Yusa Biran

Misbach Yusa Biran adalah salah seorang seniman yang namanya melegenda di belantika perfilman Indonesia. Misbah lahir di Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, pada tanggal 11 September 1933 dari pasangan Ayun Sabiran (Minangkabau) dan Yumenah (Banten). Nama yang diberikan oleh sang ayah sebenarnya hanyalah Misbach, yang diambil dari tokoh pergerakan Indonesia Haji Misbach. Sedangkan Yusa Biran, ditambahkan sendiri oleh Misbach yang diambil dari nama pena sang Ayah "Jose Beron" (id.wikipedia.org).

Karir Misbach di dunia perfilman diawali dengan bekerja di Studio Perfini pimpinan Usmar Ismail setelah lulus dari Taman Madya Bagian B, Perguruan Taman Siswa di Kemayoran. Pekerjaan pertamanya adalah sebagai pencatat skrip untuk film Puteri dan Medan yang diproduksi pada tahun 1954. Kemudian, dia diangkat menjadi asisten sutradara dan sekaligus anggota Sidang Pengarang. Dari pengalaman menjadi asisten sutradara dan anggota Sidang Pengarang inilah, satu tahun kemudian Misbach berhasil membuat skenario pertamanya yang merupakan adaptasi cerpen Sjuman Djaya berjudul Kerontjong Kemajoran dan ketika difilmkan diberi judul Saodah (1956) (filmindonesia.or.id).

Selanjutnya, semenjak tahun 1957 hingga 1960 kreativitasnya terus meningkat dengan menulis skenario untuk beberapa film, yaitu: Pradjurit Teladan 1959, Satu Budjang Lima Dara (1960), Pesta Musik La Bana (1960), Mendung Sendja Hari (1960), dan Istana yang hilang (1960). Selain itu, dia juga mensutradarai sejumlah film pendek dan dokumenter sebagai bekal untuk melangkah ke film berdurasi panjang. Hasilnya, dia berhasil menyulap skenario Pesta Musik La Bana yang ditulisnya menjadi sebuah film layar lebar berdurasi panjang pertamanya.

Sukses dengan Pesta Musik La Bana, Misbach menjadi semakin bertambah giat dalam menulis skenario film, diantaranya adalah: Djumpa Diperjalanan (1961), Bing Slamet Merantau (1962), Bintang Ketjil (1963), Pilihan Hati (1964), Panggilan Nabi Ibrahim (1964), Matjan Kemayoran (1965), Langkah-langkah Dipersimpangan (1965), Apa jang Kautangisi (1965), Dibalik Tjahaja Gemerlapan (1967), Cheque AA (1966), Menyusuri Djedjak Berdarah (1967), Operasi X (1968), Honey, Money dan Djakarta Fair (1970), Dan Bunga-bunga Berguguran (1970), dan Samiun dan Dasima (1970) (www.indonesianfilmcenter.com). Di antara skenario tersebut beberapa diantaranya ada yang disutradarai sendiri, yaitu: Holiday in Bali (1962), Bintang Ketjil (1963), Panggilan Nabi Ibrahim (1964), Apa jang Kautangisi (1965), Matjan Kamajoran (1965), Dibalik Tjahaja Gemerlapan (1967), Operasi X (1968), dan Honey, Money dan Djakarta Fair (1970).

Honey, Money, dan Djakarta merupakan film terakhir Misbach karena dia memutuskan untuk berhenti menjadi sutradara. Alasannya, film yang diproduksi pada zaman itu telah terlalu banyak diwarnai oleh bumbu seks untuk menarik minat penonton. Namun, keputusan tersebut tidak serta merta membuat kontribusinya di dunia perfilman menjadi terhenti. Misbah masih tetap menulis skenario, diantaranya: Biarlah Aku Pergi (1971), Lingkaran Setan (1972), Hanya Satu Jalan (1972), Angkara Murka (1972), Lagu Untukmu (1973), Bandung Lautan Api (1974), Naga Merah (1976), Krakatau (1977), Menjusuri Djedjak Berdarah (1979), Karena Dia (1979), Ayahku (1987), Irisan-irisan Hati (1988), Fatahillah (1997), dan Cinta Suci Zahara (2012).

Bahkan, dia ikut menjadi perumus pendirian asosiasi Karyawan Film dan Televisi (KFT), salah satu perancang berdirinya Akademi Sinematografi (kini menjadi Juruan Film IKJ), mendirikan Yayasan Citra (badan pendidikan film), dan merintis berdirinya Arsip Film (Sinematek Indonesia) yang bergerak di bidang dokumentasi sejarah perfilman Indonesia. Sinematek merupakan lembaga arsip film pertama di Asia Tenggara yang mengumpulkan dan melestarikan berbagai artefak terkait perfilman nasional, mulai dari film, buku, skenario, majalah, kliping, biografi, data organisasi dan perusahaan film, peralatan, hingga undang-undang perfilman dan peraturan pemerintah (filmindonesia.or.id).

Di luar dunia perfilman, Misbach Yusa Biran juga aktif sebagai wartawan dan penulis cerpen. Dia pernah bekerja sebagai pimpinan redaktur di Minggu Abadi (1958-1960), redaktur Majalah Purnama (1962-1963), redaktur Duta Masyarakat (1965-1966), redaktur Ahad Muslimin (1966), dan redaktur Gelanggang (1967). Sementara karya-karyanya sebagai penulis sastra diantaranya adalah: Bung Besar (drama 1958), Komedi Klasik Modern (sketsa di Mingguan Abadi, 1960), Setengah Djam Mendjelang Maut (drama 1968), Menjusuri Djedjak Berdarah (novel 1969), Keajaiban di Pasar Senen (kumpulan cerpen, 1971) serta Oh Film (kumpulan cerpen, 1973) yang kemudian disatukan di bawah judul Keajaiban di Pasar Senen (cetak ulang 1996), dan Teknik Menulis Skenario Film Cerita (buku, 2007).

Berkat segudang karya tersebut, pria yang menikah dengan aktris Nani Widjaya pada tahun 1969 dan dikaruniai enam orang anak (Nina Kartika, Tita Fitrah Soraya, Cahya Kamila, Firdausi, Farry Hanief, dan Sukma Ayu) ini, berhasil mendapatkan berbagai macam penghargaan. Penghargaan pertama yang didapatnya adalah juara kedua pada Sayembara Penulisan Naskah Drama yang diselenggarakan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan melalui karya berjudul Bung Besar. Selanjutnya, pada tahun 1967 mendapat penghargaan sebagai sutradara terbaik dalam ajang Pekan Apresiasi Film Nasional melalui film Dibalik Tjahaja Gemerlapan, skenario terbaik untuk film Menjusuri Djedjak Berdarah (1967), skenario terbaik pada Pekan Apresiasi Film Nasional untuk film Karena Dia (1980), skenario terbaik untuk film Ayahku (1988), Lifetime Achievemenet Award dari SEAPAVAA (South-East Asia and Pacific Film and Audio-Visual Archive Association), dan penghargaan khusus dari Forum Film Bandung atas dedikasi dan kontribusinya di dunia film.

Bagi Misbach, seluruh hasil karya beserta penghargaan yang didapatnya merupakan alat perjuangan sekaligus media berekspresi intelektual. Selain itu, film juga dijadikannya sebagai alat dakwah untuk meningkatkan kualitas hidup manusia, khususnya manusia Indonesia. Dan, dakwah inilah yang ditekuni Misbach Yusa Biran hingga akhir hayatnya pada tanggal 11 April 2012 di Eka Hospital, Bumi Serpong Damai, Tangerang, karena mengalami gangguan pernafasan. (gufron)

Foto: http://kedaifilmnusantara.blogspot.com/2010/07/diperlukan-kesungguhan-untuk-membangun.html
Sumber:
"Misbach Jusa Biran: Sejarah adalah Ilmu", diakses dari http://filmindonesia.or.id/article/misbach-jusa-biran-sejarah-adalah-ilmu#.VU4T6fmqqkq, tanggal 5 Juni 2015.

"Misbach Jusa Biran", diakses dari http://www.indonesianfilmcenter.com/pages/profile/profile.php?pid=5fde17bf6aad, tanggal 6 Juni 2015.

"Misbach Yusa Biran", diakses dari http://id.wikipedia.org/wiki/Misbach_Yusa_Biran, tanggal 6 Juni 2015.

Toto St Radik

Toto St Radik lahir di Singarajan, Serang, pada tanggal 30 Juni 1965 dari pasangan H. Mohamad Suhud dan Hj. Ratu Tuchaeni. Semasa kecil, penyair yang juga budayawan ini menempuh pendidikan dasar dan menengahnya di Kota Serang (academia.edu). kemudian, dia melanjutkan ke IKIP Bandung dan Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung, namun tidak sampai lulus. Dia baru memperoleh gelar kesarjanaannya di Pendidikan Luar Sekolah (PLS) Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Banten Pada tahun 1992 (www.angelfire.com).

Pria yang menikah dengan Babay Herlina dan dikaruniai dua orang anak (Radika Dzikru Bungapadi dan Rara) ini sudah mulai meminati dunia sastra secara otodidak selepas menamatkan Sekolah Menangah Atas di Serang. Sementara bidang keteateran dikenalnya ketika mengikuti acting course di Studiklub Teater Bandung (STB) semasa kuliah di Bandung. "Kehausan" akan dunia sastra dan teater inilah yang membuatnya rajin mengikuti pertemuan sastra di berbagai kota. Hasilnya, dia pun akhirnya menjadi seorang penyair terkenal dengan puluhan hasil karya berikut sejumlah penghargaan dari berbagai institusi, diantaranya adalah KSI Awards atas kumpulan puisinya berjudul Indonesia Setengah Tiang (2000).

Selain sebagai penyair, Toto juga menerjuni dunia jurnalistik. Pada tahun 1987 hingga 1998 dia pernah menjadi wartawan di Harian Sinar Pagi Jakarta. Kemudian, menjadi pendiri sekaligus pemimpin redaksi tabloid pelajar/mahasiswa Bantenpos (1993-1994). Dan, menjadi pendiri sekaligus pemimpin redaksi Jurnal Sastra dan Budaya Lingkaran (1997-1998). Selanjutnya, dia mengabdikan dirinya kepada negara dengan menjadi Pegawai Negeri Sipil di BKKBN lalu pindah ke Dinas Pariwisata Kota Serang hingga sekarang.

Di sela-sela kesibukannya sebagai Pegawai Negeri Sipil tersebut, Toto aktif mengajar puisi secara sukarela di Sanggar Sastra Serang yang bekerjasama dengan Majalah Horison dan Majlis Puisi Rumah Dunia serta menjadi anggota Komunitas Sastra Indonesia. Selain itu, dia juga tetap menulis puisi yang dipublikasikan pada berbagai media cetak di Jakarta, Bandung, Surabaya, Lampung, maupun Banten. Adapun judulnya, diantaranya adalah: Jejak Tiga (Serang: Azeta, 1998), Ode Kampung Cermin (Serang: Lingkar Sastra dan Teater, 1995), Negeri Bayang-Bayang (Surabaya: Yayasan Seni Surabaya, 1996), Mencari dan Kehilangan (Serag: Lingkaran Sastra dan Teater, 1996), Dari Bumi Lada (Lampung: Dewan Kesenian Lampung, 1996), Cermin Alam (Bandung: Forum Sastra Bandung dan Taman Jawa Barat, 1996), Antologi 10 Penyair Jawa Barat (1996), Antologi Puisi Indonesia 1997 (Bandung: Angkasa, 1997), Bebegig (Serang: Lingkaran Sastra dan Teater, 1998), Indonesia Setengah Tiang (Tangerang: Komunitas Sastra Indonesia, 1999), Resonansi Indonesia (Tangerang: Komunitas Sastra Indonesia, 2000), Datang dari Masa Depan (Tasikmalaya: Sanggar Sastra Tasik, 2000), Puisi (Jakarta: Yayasan Puisi, 2001), Sajadah Kata (Bandung: Syaamil Cipta Media, 2001), Konser Ujung Pulau (Lampung: Dewan Kesenian Lampung, 2002), Jus Tomat Rasa Pedas (Serang: Sanggar Sastra Serang dan Suhud Sentrautama, 2003), dan Pangeran [Lelaki yang Tak Menginginkan Sorga] (Serang: Rumah Dunia, 2004) (id.wikipedia.org).

Foto:
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=3889943369557&set=a.1388234668403.2052820.1308159193&type=3&theater
Sumber:
"Toto ST Radik (Budayawan), diakses dari http://www.academia.edu/8291246/TOTO_ST_RADIK_BUDAYAWAN, tanggal 17 Juni 2015.

"Toto ST Radik", diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Toto_ST_Radik, tanggal 17 Juni 2015.

"Toto", diakses dari http://www.angelfire.com/tx/amirakram/toto.html, tanggal 18 Juni 2015.

Sungai Jodoh

(Cerita Rakyat Daerah Kepulauan Riau)

Alkisah, pada zaman dahulu kala di Pulau Batam, Kepulauan Riau, hidup seorang gadis yatim piatu bernama Mah Bongsu. Dia tinggal di sebuah kampung kecil yang letaknya berada di tengah pulau. Untuk menghidupi diri Mah Bongsu bekerja sebagai pembantu rumah tangga di rumah Mak Piah. Sang majikan mempunyai seorang puteri bernama Siti Mayang.

Suatu hari, ketika sedang mencuci pakaian majikannya di tepi sungai, Mah Bongsu dikejutkan oleh seekor ular yang datang mendekat. Tetapi karena sang ular hanya berputar-putar saja sambil menunjukkan luka menganga di bagian punggung, dia menjadi iba dan memberanikan diri untuk memegangnya. Selanjutnya, sang ular diletakkan dalam keranjang bersama dengan pakaian yang telah selesai dicuci.

Sesampai di rumah, sang ular ditempatkan dalam sebuah kotak kayu untuk dirawat lukanya. Beberapa hari kemudian luka membaik dan akhirnya sembuh total, namun Mah Bongsu tetap memeliharanya hingga menjadi besar. Dan, seperti semua jenis ular, sang ular peliharaan Mah Bongsu juga berganti kulit secara teratur. Agar tidak berserakan kemana-mana, Mah Bongsu mengumpulkannya untuk dibakar di belakang gubuknya.

Tetapi suatu keanehan terjadi. Ketika kulit itu dibakar asapnya mengepul sangat besar. Pada saat tertiup angin ke arah negeri Singapura, dari dalam kepulan asap tersibaklah tumpukan uang, emas, dan berlian. Bulan berikutnya (ketika sang ular berganti kulit lagi), kepulan asap dari kulitnya yang dibakar mengarah ke negeri Jepang, sehingga ketika tersibak muncullah peralatan kebutuhan sehari-hari yang berasal dari Jepang. Begitu juga ketika asap mengarah ke Lampung, maka yang tersibak berupa gulungan kain tapis dengan berbagai macam corak dan motif. Kejadian ini berlangsung berulang kali hingga akhirnya Mah Bongsu menjadi orang kaya baru di kampungnya.

Oleh karena sifat Mah Bongsu yang baik hati dan tidak begitu silau dengan kekayaan, maka sebagian dari harta yang didapatnya disumbangkan untuk membantu sesama. Walhasil, namanya pun menjadi harum dan terkenal sebagai seorang dermawati. Namun, namanya juga manusia, selalu saja ada orang yang tidak suka dengan kesuksesan orang lain. Mak Piah misalnya, mantan majikannya ini menuduh bahwa Mah Bongsu pasti memelihara tuyul atau bahkan bersekutu dengan bangsa jin untuk memperoleh kekayaan secara mendadak. Tidak kalah usil dengan Mak Piah, sang suami (Pak Buntal) malah menuduhnya melakukan pencurian selama bekerja di rumahnya. Oleh karena penasaran, kedua orang ini bersama dengan beberapa orang warga kampung yang juga tidak suka melakukan penyelidikan di rumah Mah Bongsu.

Namun, walau telah dilakukan penyelidikan selama berhari-hari tetapi mereka tetap tidak dapat mengetahui rahasia dibalik kesuksesan Mah Bongsu dalam mencari kekayaan. Hanya Mak Piah seoranglah yang merasa ada keganjilan di dalam rumah Mah Bongsu. Dia melihat ada seekor ular besar yang bebas berkeliaran di dalam rumah. "Manalah mungkin ade betina berani tinggal kat rumah bersame ular?" tanyanya dalam hati.

Keberadaan ular sebesar betis itu tentu saja membuat Mak Piah menjadi tambah penasaran. Hampir setiap sore dia dan anaknya (Siti Mayang) mengintip aktivitas Mah Bongsu bersama ular peliharaannya hingga akhirnya mengetahui bahwa kulit ular yang mengelupaslah yang membuat Mah Bongsu menjadi kaya raya. "Kita harus mencari ular sebesar itu di hutan," bisiknya pada Siti Mayang.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali mereka sudah pergi ke hutan mencari ular. Di tengah hutan anak-beranak ini menemukan seekor ular besar dengan warna kulit yang indah sekali namun sangat berbisa. Tanpa berpikir panjang mereka pun membawanya pulang dengan menggunakan karung beras. Sesampai di rumah, sang ular berbisa tidak ditempatkan dalam sebuah kotak tersediri, tetapi malah di tempat tidur Siti Mayang. Jadi, Mak Piah menghendaki sang anak tidur dengan ular itu. Harapannya, agar si ular menjadi senang dan bermurah hati memberikan harta yang berlimpah. Namun, baru beberapa menit berada di samping Siti Mayang sang ular tiba-tiba terusik dan langsung menggigit lengannya. Tidak berapa lama kemudian Siti Mayang pun terkapar dan meninggal dengan mulut berbuih.

Di lain tempat, selepas magrib tiba-tiba ular peliharaan Mah Bongsu berbicara. "Bongsu, dapatkah engkau mengantarku ke tempat kita bertemu dahulu?"

"Mengapa engkau hendak kesana?" tanya Mah Bongsu agak terkejut karena ternyata Sang Ular dapat berbicara.

"Nanti akan aku jelaskan," jawab Sang Ular.

Singkat cerita, sesampainya di tepi sungai Sang Ular langsung mengutarakan niatnya untuk mempersunting Mah Bongsu. Sebelum Mah Bongsu menjawab karena bingung, Sang Ular langsung saja menanggalkan kulitnya dan seketika itu juga beralih ujud menjadi orang pemuda tampan dan gagah perkasa. Sementara kulitnya terlempar jauh hingga ke halaman rumah Mah Bongsu dan menjadi sebuah gedung megah.

Melihat Sang Ular telah menjadi seorang pemuda tampan gagah perkasa, tentu saja membuat hati Mah Bongsu berbunga-bunga dan langsung menerima pinangannya. Mereka pun akhirnya menikah dengan pesta yang sangat meriah di dalam bangunan megah yang tadinya merupakan kulit sang ular. Dan, sungai tempat pasangan itu bertemu kemudian berjodoh menjadi suami-isteri, oleh masyarakat setempat kemudian dinamakan sebagai "Sungai Jodoh".

Diceritakan kembali oleh Gufron

Legenda Gunung Pinang

(Cerita Rakyat Daerah Banten)

Di Provinsi Banten, tepatnya di sekitar wilayah Kecamatan Kramat Watu, Kabupaten Serang, terdapat sebuah gunung yang diberi nama Gunung Pinang. Konon, gunung yang salah satu sisinya dilalui oleh jalur lintas Serang-Cilegon ini dahulu berasal dari perahu milik Dampu Awang yang karam. Bagaimana perahu dapat beralih wujud menjadi sebuah gunung? Berikut kisahnya.

Pada zaman dahulu kala di teluk Banten hiduplah seorang pemuda bernama Dampu Awang. Dia tinggal bersama ibunya di sebuah gubug reot di wilayah perkampungan nelayan. Oleh karena ingin memperbaiki nasib, Dampu Awang meminta izin pada ibundanya agar diperbolehkan pergi ke daerah Malaka untuk mencari pekerjaan layak. Awalnya Sang Ibu menolak karena Dampu Awang adalah satu-satunya anak yang dimilikinya. Karena Dampulah dia masih sanggup menjalani hidup walau tanpa ada suami lagi.

Namun setelah berkali-kali merengek, Sang Ibu akhirnya menyerah dan merestui Dampu Awang berlayar ke Malaka. "Dampu janji, apabila nanti telah menjadi kaya akan membangun rumah besar buat ibu. Kita akan hidup layaknya orang bangsawan, Bu," kata Dampu Awang

Ketika akan berangkat berlayar menumpang perahu milik seorang saudagar asal Samudera Pasai, Sang Ibu berpesan, "Dampu, ibu titip perkutut. Dulu dia adalah burung kesayangan ayahmu yang mahir mengirim pesan. Nanti apabila engkau sudah di sana, berkirimlah kabar melalui burung ini."

"Baik, Bu. Aku akan menulis surat setiap awal purnama," jawab Dampu singkat sambil mencium tangan Sang Ibu.

Sesampainya di Malaka Dampu Awang melamar pekerjaan pada seorang saudagar kaya raya bernama Teuku Abu Matsyah. Setelah diterima, pekerjaan sehari-harinya adalah membersihkan galangan dan mengangkut sekaligus merapihkan barang-barang jualan milik Sang Saudagar. Oleh karena sangat rajin, hanya dalam waktu beberapa tahun Dampu Awang sudah menjadi orang kepercayaan Teuku Abu Matsyah. Bahkan Siti Nurhasanah, puteri semata wayang Sang Saudagar pun sampai menaruh hati padanya.

Agar tidak beralih ke lain hati, suatu hari Sang Saudagar memanggil Dampu Awang untuk berbincang empat mata. Ketika sudah menghadap, Sang Saudagar berkata, "Dampu, aku sudah cukup lama mempekerjakanmu dan bahkan kini engkau telah menjadi tangan kananku. Aku rasa engkau telah bekerja dengan baik."

"Terima kasih, Tuan," jawab Dampu singkat.

"Nah, agar lebih baik lagi dan bukan sebagai atasan dan bawahan, bagaimana kalau engkau aku jodohkan dengan Siti Nurhasanah?" tanya Sang Saudagar.

Pertanyaan itu membuat jantung Dampu Awang berdegup kencang bagai tertimpa durian jatuh. Dia sebenarnya memang menaruh hati juga pada Siti Nurhasanah, tetapi hanya sebatas cinta yang tak terucap. Pikirnya, manalah mungkin seorang bawahan seperti dirinya dapat mempersunting gadis cantik jelita puteri seorang saudagar kaya raya.

"Bagaimana, Dampu?," tanya Sang Saudagar lagi.

"Maaf, Tuan. Bukannya saya menolak, tetapi apakah saya pantas bersanding dengan puteri tuan? Saya hanyalah orang biasa yang tidak memiliki apa-apa," jawab Dampu Awang.

"Aku bukan melihat dari mana kamu berasal. Tapi aku melihat semangat dan kemampuanmu dalam bekerja. Orang semacam itulah yang pantas untuk mendapatkan anakku sekaligus mewarisi usaha dagangku," kata Sang Saudagar.

Singkat cerita, Dampu Awang pun menikah dengan Siti Nurhasanah yang cantik jelita. Tidak berapa lama sesudahnya Teuku Abu Matsyah meninggal dunia dan secara otomatis seluruh hartanya diwariskan pada Siti Nurhasanah. Sebagai pewaris tunggal, Siti Nurhasanah menyerahkan pengelolaan harya Sang Ayah kepada Dampu Awang. Tetapi berita ini tidak sampai ke telinga Sang Ibu karena selama di perantauan Dampu Awang hanya berkirim kabar sejumlah empat kali. Isinya berupa pemberitahuan singkat tentang keberadaannya di negeri seberang.

Satu dasawarsa kemudian, tersiarlah kabar bahwa akan datang seorang saudagar besar dari Malaka yang akan berdagang di Banten. Berita ini cepat sekali tersebar hingga terdengar pula oleh Ibu Dampu Awang. Pikirnya, mungkin saja kali ini yang datang adalah Dampu Awang, karena dia sudah berjanji akan pulang bila telah menjadi orang kaya.

Beberapa hari kemudian, ketika perahu Sang Saudagar besar hendak bersandar terdengarlah suara sorak sorai di sekitar pelabuhan yang membuat Ibu Dampu Awang tergoda untuk menyaksikannya. Oleh karena sedang bekerja merajut jaring, tanpa berdandan dan merapihkan pakaian terlebih dahulu, Sang Ibu langsung keluar dari gubugnya dan berlari ke arah suara sorai sorai tersebut. "Mungkin itu Si Dampu," pikirnya sambil setengah berlari.

Sesampainya di pelabuhan, ada sebuah perahu sangat besar dan megah tengah bersandar. Sesaat kemudian munculah para awaknya yang gagah perkasa sambil memanggul barang-barang milik Sang Saudagar untuk dibawa ke darat. Barang-barang tersebut adalah dagangan Sang Saudagar untuk dijual pada Sultan Banten, diantaranya: pakaian, perhiasan, dan barang-barang mewah lainnya.

Setelah seluruh barang dagangan berada di darat, dari dalam perahu muncul sepasang suami-isteri dengan pakaian dan perhiasan serba mewah. Sang suami berwajah tampan mengenakan pakaian bersulam emas lengkap dengan sebuah peci yang sangat menawan. Pada bagian pinggang terselip sebilah golok sakti bersarung emas dan bagian pundaknya bertengger seekor burung perkutut bersayap kokoh. Di sebelah kanan sang suami berdiri isterinya yang juga berpakaian serba mewah. Sang Isteri berperawakan tinggi semampai, rambut hitam terurai, kulit kuning langsat, dan wajah yang cantik jelita.

Penampilan kedua orang ini tentu saja mengundang decak kagum bagi siapa saja yang melihatnya. Bahkan, ada beberapa kaum lelaki di antara penonton yang sangat terpana hingga tanpa sadar menitikkan air liur (ngacai bo! ^_^). Mereka jarang atau bahkan belum pernah melihat orang secantik dan seanggun itu sehingga membuat kerumunan pun menjadi semakin padat.

Namun, ketika keduanya akan menuruni tangga perahu tiba-tiba saja ada seseorang yang berteriak histeris di antara kerumunan. "Dampuuu! Dampuuu Awaaang! Ibu di sini, nak," katanya sambil melambai-lambaikan tangan.

Sang isteri yang kebetulan melihat si peneriak lalu bertanya pada suaminya, "Ada orang tua berpakaian sangat lusuh menyebut namamu, Bang. Apakah dia itu ibumu?"

Kerumunan massa serta Sang Suami yang ternyata memang Dampu Awang segera mengarahkan pandangannya pada arah yang ditunjukkan oleh isterinya. Dan, betapa terkejutnya dia karena si peneriak adalah ibu tercintanya. Wajahnya tiba-tiba menjadi pucat pasi. Dia tidak menyangka dan sekaligus malu kalau Sang Ibu juga ada diantara kerumunan massa dengan pakaian yang sangat tidak layak, bagaikan seorang pengemis.

Oleh karena malu melihat Sang Ibu layaknya seorang pengemis tua, sementara dirinya bagaikan seorang raja, Dampu Awang langsung berteriak, "Tidak! Dia bukan Ibuku! Pengawal, usir perempuan itu dari hadapanku!"

Padahal, sebenarnya di dalam hati Dampu Awang sangat gembira sekali melihat Sang Ibu yang telah lama ditinggalkan. Rencananya, nanti malam ketika seluruh penduduk telah berada di rumah masing-masing, secara diam-diam dia akan pergi menemuinya. Akan didandani Sang Ibu tercinta dengan pakaian dan perhiasan mahal lalu dibawa ke Malaka. Namun apa boleh buat, Sang ibu malah ikut "nongol" dengan pakaian seadanya.

"Kalau memang ibumu, sambutlah beliau dengan baik, Suamiku," kata Siti Nurhasanah tulus dan lembut untuk meredakan suasana.

Perkataan lembut Siti Nurhasanah malah membuat Dampu Awang semakin bertambah malu. Oleh karena tidak ingin direndahkan dan dipermalukan, Dampu Awang berteriak lagi, "Tidak! Ayah dan Ibuku telah lama mati. Dia hanya wanita gila yang sedang meracau. Aku tidak pernah punya ibu seperti dia!"

"Pengawal, angkut lagi barang-barang yang telah kalian turunkan. Kita pulang dan batalkan perniagaan ini!" sambungnya agar tidak bertambah malu.

Perkataan Dampu Awang tadi terasa bagaikan petir di siang bolong. Seketika itu juga hatinya hancur seperti teriris-iris sembilu. Dengan tertunduk lesu sambil berlinang air mata Sang Ibu pun berucap, "Wahai Gusti yang Maha Agung, apabila bukan anakku, biarkanlah dia pergi. Tapi kalau dia memang anakku, berilah dia pelajaran yang setimpal."

Doa Sang Ibu ternyata didengar oleh Tuhan. Baru beberapa mil perahu berlayar meninggalkan pelabuhan, tiba-tiba langit tertutup gumpalan awan gelap disertai petir menyambar-nyambar. Sejurus kemudian terjadilah hujan deras bercampur angin puting beliung yang membentuk laut menjadi sebuah pusaran besar. Akibatnya, perahu Dampu Awang pun mulai terseret ke dalam pusaran hingga terlempar dan terbalik di daratan. Tidak lama berselang, perahu mulai membatu dan akhirnya menjadi sebuah gunung besar. Oleh masyarakat setempat, gunung besar itu kemudian diberi nama Pinang.

Diceritakan kembali oleh Gufron

Tari Kecodak

Asal Usul
Salah satu jenis tarian rakyat yang masih hidup di daerah Lombok Utara, Provinsi Nusa Tenggara Barat adalah tari kecodak atau biasa juga disebut tari oncer. Tari ini tumbuh dan berkembang pada masyarakat Desa Karang Pasangan, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Lombok Utara. Tari kecodak menggambarkan tentang peperangan yang dilakukan oleh dua orang ksatria yang sama-sama kuat dan perkasa. Pertunjukan tari kecodak dibagi menjadi empat bagian, yaitu: tari bendera, tari gendang, tari copeh dan lawakan.

Tari kecodak hanya dilakukan oleh kaum laki-laki saja, baik sebagai penari maupun pemain waditra. Sedangkan, pertunjukannya biasanya diadakan di halaman rumah atau tempat tertentu yang agak luas pada saat ada upacara-upacara, seperti perkawinan, penyambutan tamu, panen raya dan memperingati hari-hari besar nasional.

Peralatan dan Busana
Peralatan musik yang digunakan untuk mengiringi tari kecodak diantaranya adalah: (1) sebuah petuk; (2) sebuah oncer; (3) empat buah teropong; (4) tujuh pasang ceng-ceng (enam pasang berukuran kecil dan satu pasang besar); dan (5) dua buah gendang besar yang terbuat dari kayu tap. Sedangkan, busana yang dikenakan oleh penari adalah: (1) ikat kepala; (2) baju berwarna hitam; (3) celana ¾; (4) leang yang terbuat dari songket; dan (5) garus mungkur. Selain waditra dan busana, ada pula peralatan lain yang digunakan sebagai pelengkap tarian, yaitu: bendera atau panji-panji dan kuda-kudaan yang terbuat dari kulit yang digunakan pada saat adegan lawakan.

Pertunjukan Tari Kecodak
Pertunjukan tari kecodak diawali dengan tari bendera atau tari panji-panji yang dibawakan oleh dua orang penari. Dalam tarian ini gerakan-gerakan yang dilakukan hanyalah berbaris berbanjar dan melangkah maju-mundur. Sambil melakukan gerakan-gerakan tersebut, kedua kaki diangkat, berputar mundur atau jalan di tempat.

Setelah itu, kedua penari tadi akan berjajar sambil menyandang gendang besar di perut untuk menarikan tari gendang. Pada tarian ini gerakan-gerakan yang dilakukan diantaranya adalah menari sambil menepak gendang, membuat formasi saling berhadapan, berputar dengan satu kaki diangkat, meloncat, dan saling mendesak seakan-akan sedang terjadi pergulatan atau saling baku hantam. Dalam “perkelahian” tersebut, secara bergantian mereka seakan-akan ada yang kalah dan ada yang menang. Pihak yang kalah akan berada dalam posisi jongkok, sementara pihak yang menang akan mengelilinginya sambil memukul gendang. Setelah melaksanakan gilirannya, mereka akan kembali pada posisi semula dan kemudian berjalan berjajar meninggalkan arena.

Selanjutnya, empat orang penari akan masuk untuk menarikan tari copeh yang menggambarkan sepak terjang para prajurit pengawal ketika sedang menyaksikan perkelahian yang digambarkan oleh para penari sebelumnya. Pada gerakan tari ini para penari akan membentuk dua barisan sambil memukul copeh atau ceng-ceng (sejenis simbal kecil). Setelah itu, mereka akan membentuk formasi segi empat, saling berhadapan dan perlahan-lahan membuat gerak melangkah maju. Sambil melakukan gerakan tersebut posisi tangan kiri dilipat sebatas pinggang, tangan kanan agak maju sedikit, kedua kaki merendah dan badan miring ke kiri. Kemudian, mereka akan membentuk formasi sejajar ke belakang membentuk garis lurus dan berjalan meninggalkan arena.

Setelah tari copeh, disusul dengan penampilan para pelawak yang berperan sebagai seorang penuntun kuda, seorang majikan, dan seorang janda yang sedang berjualan (seluruhnya dimainkan oleh laki-laki). Para pelawak ini tidak hanya sekedar melawak, tetapi juga menampilkan gerakan-gerakan lincah dan jenaka yang akan menggoyang senyum dan tawa penonton. Penampilan para pelawak ini merupakan babak akhir dari serentetan tahapan yang ada dalam setiap pertunjukan tari kecodak.

Nilai Budaya
Kecodak sebagai tarian khas orang Lombok Utara, jika dicermati, tidak hanya mengandung nilai estetika (keindahan), sebagaimana yang tercermin dalam gerakan-gerakan tubuh para penarinya. Akan tetapi, juga nilai kerukunan yang tercermin dalam fungsi tari tersebut yang diantaranya adalah sebagai ajang berkumpul antarwarga dalam suatu kampung atau desa untuk merayakan suatu upacara adat dan saling bersilaturahim sehingga menciptakan suatu kerukunan di dalam kampung atau desa tersebut. (gufron)

Sumber:
Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1992. Aneka Ragam Khasanah Budaya Nusantara III. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
http://id.wikipedia.org/wiki/Nusa_Tenggara_Barat

Lutung Kasarung

(Cerita Rakyat Daerah Jawa Barat)

Pada zaman dahulu kala ada sebuah kerajaan bernama Pasir Batang yang dipimpin oleh Prabu Tapa Agung, seorang raja arif dan bijaksana. Sang Prabu memiliki tujuh orang puteri bernama Purbararang, Purbaendah, Purbakancana, Purbamanik, Purbaleuih, dan si bungsu Purbasari. Dari ketujuh orang puteri ini semuanya belum menikah. Hanya puteri sulunglah (Purbararang) yang telah bertunangan dengan Raden Indrajaya, putera salah seorang menteri kerajaan.

Sebagai anak sulung sudah sewajarnya apabila Prabu Tapa Agung yang telah lanjut usia mulai memberikan kepercayaan kepada Purbararang. Namun Sang Prabu belumlah ikhlas karena Purbararang dan calon suaminya masih berperilaku kurang layak menjadi pemimpin kerajaan. Purbararang misalnya, mempunyai sifat angkuh dan kejam. Sementara calon suaminya, Raden Indrajaya, kerjanya hanya bersolek sembari memikirkan pakaian serta perhiasan apa yang akan dikenakan setiap hari.

Kenyataan ini membuat Sang Prabu dan Permaisuri menjadi gundah gulana. Sering mereka berdiskusi hingga larut malam untuk mencari jalan keluarnya, tetapi selalu saja menemui jalan buntu. Dan, ketika mereka sudah tidak tahu lagi apa yang harus diperbuat, datanglah pertolongan dari Sunan Ambu yang bersemayam di kahyangan atau Buana Pada. Beliau datang melalui mimpi ketika Prabu Tala Agung sedang tidur. Dalam mimpi tersebut Sunan Ambu mewangsitkan agar Prabu Tala Agung pergi meninggalkan istana menjadi pertapa, sementara tahta kerajaan hendaklah diserahkan kepada Sang puteri bungsu Purbasari.

Tidak ingin menunggu lebih lama lagi, keesokan harinya Prabu Tala Agung memanggil ketujuh orang puterinya beserta para pembantu, menteri, patih, pembesar-pembesar kerajaan dan penasehat setianya, Uwak Batara Lengser. Setelah seluruhnya berkumpul Prabu Tala Agung bersabda bahwa atas petunjuk Sunan Ambu dia diperintahkan untuk lengser keprabon mandeg pandito (pinjam istilah Sang Prabu Orde Baru) alias turun dari tampuk kekuasaan dan menjadi seorang pertapa. Untuk selanjutnya, masih atas petunjuk Sunan Ambu, Prabu Tala Agung menitahkan puterinya Purbasari memerintah di Kerajaan Pasir Batang.

Sabda Prabu Tala Agung ini segera menyebar ke seluruh penjuru kerajaan dan disambut gembira oleh sebagian besar rakyat Pasir Batang, kecuali Purbararang dan Raden Indrajaya. Bagi rakyat keputusan Sang Prabu sangatlah tepat karena beliau sudah sepantasnya beristirahat dan meninggalkan urusan duniawi. Penggantinya pun dirasa juga tepat karena selain paling cantik diantara saudari-saudarinya, Purbasari memiliki sifat yang manis budinya. Sedangkan bagi Purbararang dan Raden Indrajaya, pengangkatan Purbasari menjadi ratu sangatlah mengecewakan sekaligus "menyalahi aturan". Pikir mereka, di kerajaan mana pun proses pergantian kekuasaan lazimnya diserahkan raja kepada anak sulungnya.

Oleh karena itu, agar selaras dengan "aturan" pergantian kekuasaan, ketika Raja dan Permaisuri mengundurkan diri dari kerajaan dan pergi ke suatu tempat pertapaan, Purbararang dan Raden Indrajaya segera melancarkan aksi mereka untuk menyingkirkan Purbasari. Adapun caranya adalah dengan menyiramkan boreh (suatu cairan berwarna hitam) ke sekujur tubuh Purbasari ketika dia sedang terlelap tidur. Akibatnya, Purbasari menjadi keling alias hitam legam sehingga tidak ada yang mengenalinya ketika diusir dari istana. Kalaupun ada yang mengenali, orang tersebut akan diam saja karena takut pada Purbararang.

Uwak Batara Lengser yang mengenai kalau gadis keling itu adalah Purbasari juga tidak dapat berbuat apa-apa ketika diperintah Purbararang membuangnya ke tengah hutan. Setibanya di tengah hutan dia lalu membuatkan sebuah gubuk yang sangat kuat bagi Purbasari. Dan, sebelum ditinggalkan seorang diri Uwak Batara Lengeser menasihati agar Purbasari jangan terlarut dalam kesedihan. Ia menyarankan agar Purbasari menggunakan waktunya untuk bertapa sambil memohon perlindungan pada para penghuni kahyangan.

Hampir bersamaan dengan pengusiran Purbasari yang membuat hatinya terluka, Sunan Ambu di Buana Pada juga sedang gundah gulana. Sudah berhari-hari Sang putera yang bernama Guruminda tidak menemui dirinya. Untuk mengetahui dimana keberadaan Guruminda Sunan Ambu meminta para penghuni kahyangan mencarinya. Tidak berapa lama kemudian datanglah seorang Pujangga kahyangan menemui Sunan Ambu. Sang Pujangga memberitahukan bahwa Guruminda sedang berada di taman kahyangan dengan wajah tampak bermuram durja.

Penasaran dengan keterangan Sang Pujangga, Sunan Ambu memerintahkan pelayannya menjemput Guruminda. Ketika Guruminda sudah menghadap Sunan Ambu segera bertanya mengapa dirinya jarang sekali pulang dan tampak bermuram durja. Guruminda tidak menjawab dan hanya tertunduk seakan malu memandang wajah Sunan Ambu.

"Ada apa anakku? Apakah engkau ingin diperkenalkan dengan salah satu bidadari di kahyangan ini?" tanya Sunan Ambu seolah mengerti kalau anaknya telah beranjak dewasa dan ingin mendapatkan pasangan.

"Aku tidak ingin diperkenalkan dengan bidadari manapun karena tidak ada yang secantik ibunda," jawab Guruminda perlahan sambil tersipu malu.

Agak terkejut mendengar perkataan Gurumundi yang menyatakan bahwa tidak ada bidadari yang secantik dirinya, Sunan Ambu lalu berkata, "Di sini tidak ada yang serupa denganku, Guruminda. Apabila engkau ingin mencari, pergilah ke Buana Panca Tengah (dunia). Tetapi engkau harus beralih wujud menjadi seekor lutung. Bagaimana, engkau mau?"

Setelah hening beberapa saat, Guruminda pun menyetujui. Tidak lama berselang, secara berangsur-angsur sekujur tubuhnya ditumbuhi bulu lebat dan akhirnya beralih ujud menjadi seekor kera atau lutung. Oleh karena itu, Sunan Ambu memberinya nama baru yaitu "Lutung Kasarung". Sang Lutung kemudian melompat dari kahyangan menuju Buana Panca Tengah dan turun tidak jauh dari gubukPurbasari. Di hutan itu dia ikut bergabung bersama kawan-kawan barunya sesama lutung.

Beralih dari kahyangan dan hutan, di Kerajaan Pasir Batang Purbararang hendak mengadakan suatu upacara yang memerlukan hewan sebagai kurban. Untuk mendapatkannya dia menitah Aki Panyumpit mencari hewan liar di hutan dengan catatan (ancaman) apabila tidak berhasil, maka Si Aki Panyumpit sendirilah yang akan menjadi gantinya.

Sesampainya di hutan ternyata tidak ada seekor hewan pun terlihat, kecuali hewan-hewan kecil yang termasuk dalam golongan serangga dan pengerat. Sementara hewan-hewan yang sesuai untuk dijadikan kurban telah lari bersembunyi di tengah hutan karena diberitahu oleh Sang Lutung Kasarung bahwa akan ada perburuan hewan. Hal ini membuat Aki Panyumpit menjadi putus asa. Dia hanya duduk di bawah sebuah pohon rindang sambil menangis meratapi nasibnya.

Melihat Aki Panyumpit menangis Lutung Kasarung turun dari pohon dan mendekatinya. "Mengapa engkau menangis, Ki?" tanya Sang Lutung setelah berada di dekatnya.

Kaget mendengar ada yang berbicara secara spontan Si Aki langsung mengambil sumpit dan membidik Sang Lutung. "Mengapa lutung dapat berbicara? Apakah engkau hantu penunggu pohon ini?" tanya Aki Panyumpit tidak percaya dengan pengelihatannya sendiri.

"Tenang Ki, aku bukan hantu. Aku hanya ingin tahu mengapa engkau bersedih sampai menangis tersedu-sedu?" tanya Sang Lutung.

"Aku harus membawa pulang hewan sebagai kurban untuk upacara di istana. Apabila tidak berhasil, aku sendirilah yang akan jadi gantinya. Engkau lihat sendiri kan, sampai tengah hari begini aku belum juga mendapatkan buruan," jawab Aki Panyumpit sedih.

"Oh, begitu. Sekarang Aki bawa saja aku ke istana," kata Sang Lutung singkat.

"Engkau tidak takut bakal disembelih dan dijadikan kurban, wahai Lutung?" tanya Aki Panyumpit ragu.

"Memang Aki mau pulang dengan tangan hampa?" Sang Lutung balik bertanya.

Aki Panyumpit tidak menjawab pertanyaan itu karena bingung. Apabila dibawa, Sang Lutung ajaib pasti akan menjadi kurban persembahan. Sebaliknya, apabila tidak dibawa niscaya dia sendirilah yang akan dikurbankan karena tidak ada seekor pun hewan yang berhasil ditangkapnya.

"Ayo Ki kita berangkat," kata Sang Lutung tanpa menunggu jawaban Aki Panyumpit.

Sesampainya di alun-alun kerajaan Sang Lutung bersama Aki Panyumpit segera disambut oleh beberapa orang prajurit. Di antara mereka ada yang mengikat tangan dan kaki Sang Lutung serta ada pula yang pergi ke perigi istana untuk mengasah pisau guna menyembelihnya. Selesai diikat Sang Lutung diseret ke tengah alun-alun yang telah dipenuhi oleh peserta upacara, di antaranya: Purbararang, Raden Indrajaya, adik-beradik Purbararang, para pembesar kerajaan, dan para bangsawan kerajaan lainnya.

Setelah segala peralatan dan perlengkapan upacara siap, pemimpin upacara yang merupakan seorang resi memulai dengan memanjatkan doa sembari membakar kemenyan. Usai berdoa acara dilanjutkan dengan penyembelihan hewan kurban yang dilakukan oleh seorang prajurit kerajaan. Namun, ketika akan disembelih Sang Lutung tiba-tiba berontak hingga memutuskan seluruh tambang ijuk yang mengikat dirinya.

Selanjutnya, Sang Lutung melompat ke tengah susunan perlengkapan upacara dan memporak-porandakannya. Para perempuan bangsawan yang berada di dekat perlengkapan upacara sontak menjerit, lari ketakutan dan bahkan ada yang pingsan melihat seekor lutung sebesar manusia mengamuk bak kesetanan. Para prajurit yang berusaha menghadang pun kewalahan, sebab Sang Lutung bergerak sangat lincah meloncat kesana kemari di tengah kerumunan hadirin.

Ketika para prajurit sudah tidak sanggup lagi barulah Uwak Batara Lengser yang arif dan bijaksana turun mendekati Sang Lutung yang tengah duduk di atas benteng istana. "Wahai Lutung, janganlah engkau nakal dan menakuti orang," katanya setelah berada di depan Sang Lutung.

Setelah berkata demikian, mungkin karena sima Uwak Batara Lengser begitu kuat, secara perlahan Sang Lutung turun dari atas benteng dan duduk di dekat kakinya. Kejadian ini dilihat oleh Purbararang sehingga terbersitlah sebuah niat jahat. Dia lalu memanggil Uwak Batara Lengser dan menitahnya membawa Sang Lutung ke hutan untuk ditempatkan bersama Purbasari. Pikirnya, Sang Lutung pasti akan menerkam tewas Purbasari sehingga dia dapat menduduki tahta Kerajaan Pasir Batang dengan tenang.

Perkiraan Purbararang ternyata meleset. Walau awalnya kaget melihat tubuh Purbasari yang hitam legam, Sang Lutung tetap mau menemani dan tidak menerkamnya. Bahkan, dia mengajak kawan-kawannya sesama hewan (rusa, burung, bajing, dan lain sebagainya) untuk mencari segala macam buah serta berkumpul di dekat gubuk agar Purbasari tidak merasa kesepian. Selain itu, kerena telah diberi tahu Uwak Batara Lengser hal ihwal mengenai Purbasari, dia juga memohon doa untuk kesembuhannya kepada Sunan Ambu.

Doa tersebut dijawab oleh Sunan Ambu dengan mengirimkan beberapa orang Pujangga dan Pohaci sakti. Begitu mereka sampai di gubuk Purbasari para Pujangga segera membuat jamban salaka, yaitu sebuah tempat mandi berpancuran emas dengan lantai serta dinding terbuat dari batu pualam. Air pancuran berasal dari sebuah mata air yang sangat jernih di tengah hutan yang ditampung terlebih dahulu dalam sebuah telaga kecil untuk diberi bebungaan. Selagi para Pujangga membuat jamban salaka, para Pohaci menyiapkan pakaian bagi Purbasari yang bahannya terbuat dari gumpalan awan berwarna pelangi.

Usai membuat jamban salaka dan pakaian, mereka menyarankan agar Sang Lutung membawa Purbasari mandi di pancuran dan mengenakan pakaian baru. Sang Lutung kemudian mendatangi Purbasari dan memintanya mandi di pancuran. Awalnya Purbasari kaget karena Sang Lutung ternyata dapat berbicara dan tidak jauh dari gubuknya ada sebuah pancuran emas. Namun, setelah dijelaskan bahwa dia beserta para Pujangga dan Pohaci adalah makhluk Buana Pada, maka Purbasari pun akhirnya menurut.

Ternyata air pancuran jamban salaka tidak hanya sangat jernih, melainkan juga memiliki khasiat luar biasa. Air itu dapat melunturkan boreh pada tubuh Purbasari sehingga kulitnya yang mulus dan kuning langsat terlihat kembali. Kemolekan tubuh serta parasnya bahkan lebih terlihat lagi ketika selesai mandi dan mengenakan pakaian baru buatan para Pohaci. Sang Lutung yang melihatnya keluar dari jamban salaka bahkan sampai tidak percaya kalau dia adalah Purbasari. Dalam pandangannya Purbasari laksana pinang dibelah dua dengan Sunan Ambu, hanya jauh lebih muda.

Selesai mendandani Purbasari, sebelum kembali ke kahyangan, para Pujangga dan Pohaci juga membuat sebuah istana kecil dilengkapi dengan taman di depannya. Hal ini tentu saja membuat sebagian masyarakat Pasir Batang yang biasa masuk ke hutan untuk mencari buah-buahan dan kayu bakar menjadi heran sekaligus takjub karena di dalam hutan tiba-tiba ada istana kecil yang lengkap dengan sebuah taman indah. Cerita pun akhirnya menyebar dari mulut ke mulut dan sampai pula ke telinga Purbararang.

Purbararang yang yakin kalau istana kecil itu adalah milik Purbasari menduga bahwa ada beberapa bangsawan Pasir Batang membantunya secara sembunyi-sembunyi. Pikirnya, apabila para bangsawan masih bersimpati pada Purbasari, suatu saat mereka akan membawanya ke istana untuk merebut kembali tahta kerajaan. Oleh karena itu, dia harus secepat mungkin menyingkirkan Purbasari dari muka bumi. Caranya adalah dengan menantang membuat huma seluas lima ratus depa dalam waktu satu hari. Sebagai konsekuensinya, apabila kalah maka dia akan dihukum pancung. Purbararang tidak memberitahukan ganjaran apabila Purbasari menang karena yakin dengan diadakannya pertandingan secara terbuka para bangsawan tidak ada yang berani membantunya.

Keesokan harinya, Purbararang menitah lagi Uwak Batara Lengser ke tempat Purbasari agar menyampaikan tantangannya. Begitu Sang Uwak pergi, dia menitah salah seorang panglimanya untuk mengerahkan seratus orang prajurit membuka huma di dekat tempat tinggal Purbasari. Huma tersebut harus selesai dalam waktu sehari-semalam. Apabila tidak berhasil atau kalah cepat dari Purbasari, mereka akan mendapatkan hukuman pancung. Para prajurit yang mendapat tugas itu segera bergegas menuju hutan. Mereka bekerja sangat keras karena takut mendapatkan hukuman pancung.

Pada saat para prajurit mulai membuka ladang, Uwak Batara Lengser barulah sampai di tempat Purbasari untuk menyampaikan tantangan Purbararang. Purbasari sangat terkejut mendengarnya dan hanya bisa menangis pasrah karena tidak mungkin membuka huma seluas itu dalam waktu hanya sehari-semalam. Baginya, ini hanyalah siasat Purbararang agar dirinya lenyap dari muka bumi.

"Janganlah bersedih hati, Tuan Puteri. Serahkanlah semuanya padaku," kata Sang Lutung menghibur.

Setelah berkata demikian, Sang Lutung mengundurkan diri dan pergi ke telaga kecil buatan para Pujangga. Di tempat itu dia berdoa memohon bantuan Sunan Ambu di Buana Pada. Tidak lama berselang datanglah sejumlah empat puluh orang Pujangga utusan Sunan Ambu untuk membantu membuat huma. Letak huma hanya beberapa belas meter dari hutan yang sedang dibuka oleh para prajurit Kerajaan Pasir Batang.

Keesokan harinya berangkatlah rombongan dari istana Pasir Batang menuju hutan tempat perlombaan. Rombongan perempuan yang dipimpin Purbararang pergi menggunakan tandu berhias sutra dan permata. Sementara rombongan laki-laki yang dipimpin oleh Raden Indrajaya menunggang kuda. Di antara mereka ada seorang algojo bertubuh kekar dengan sebilah kapak besar yang memang disiapkan khusus oleh Purbararang untuk memancung Purbasari.

Menjelang tengah hari sampailah mereka di arena perlombaan. Di sana ada dua buah huma yang letaknya agak berdampingan. Huma pertama masih belum selesai dibuat oleh para prajurit Purbararang, sedangkan huma lainnya sudah terbentuk sempurna dengan Uwak Batara Lengser dan Lutung Kasarung berdiri di tengahnya.

Tidak mau kehilangan muka karena berhasil dikalahkan, Purbararang langsung berteriak menantang Purbasari bertanding kecantikan. Tetapi begitu Purbasari keluar dari istana kecilnya yang berada di sisi huma, kalahlah lagi Purbararang. Bahkan, para prajurit banyak yang tidak berkedip atau ternganga menyaksikan kecantikan dan kemolekan tubuh Purbasari.

Merasa kalah lagi, Purbararang lalu menantang Purbasari beradu panjang rambut. Dia yakin kali ini bakal menang sebab di seantero Pasir Batang tidak ada yang melebih panjang rambutnya yang bila diurai dapat mencapai betis. Tetapi ketika Purbasari melepas sanggul tampaklah bahwa panjang rambutnya terurai panjang hingga ke tumit. Begitu juga ketika Purbararang mengajaknya bertanding ukuran pinggang, Purbasari dapat mengalahkannya.

Terakhir, Purbararang menantang adu tampan calon suami. Dia menyuruh Raden Indrajaya maju untuk dibandingkan dengan calon suami Purbasari. "Bagaimana Purbasari, siapa calon suamimu? Apakah lutung besar yang berdiri di sampingmu itu?" tanya Purbararang mengejek sambil tertawa.

Selama beberapa saat Purbasari hanya terdiam. Kemudian dia menjawab, "Aku dapat sembuh dari boreh yang kau siramkan berkat Sang Lutung. Aku dapat memiliki sebuah istana kecil serta huma luas juga atas bantuan Sang Lutung. Jadi, sudah sepantasnyalah kalau dia yang bakal menjadi calon suamiku."

"Sekarang sudah jelas akulah pemenangnya. Mana munkin seekor lutung dapat mengalahkan ketampanan Indrajaya. Algojo, pancunglah dia!" serunya dengan lantang.

Namun, ketika Sang Algojo hendak menghampiri Purbasari tiba-tiba suatu keanehan terjadi. Kata-kata Purbasari tadi rupanya didengar pula oleh Sunan Ambu sehingga diubahlah ujud Sang Lutung kembali menjadi Guruminda, Sang Putera Kahyangan nan gagah, tampan dan berwibawa. Kejadian ini membuat semua yang hadir terperangah seakan tidak percaya. Tanpa dinyana Raden Indrajaya langsung berlari menghampiri dan berlutut menyembah Guruminda. Begitu juga dengan Purbararang yang langsung bersimpuh memohon ampun sambil menangis tersedu-sedu.

Singkat cerita, pada hari itu juga Purbasari dan Guruminda kembali ke Kerajaan Pasir Batang. Sesampainya di kerajaan Purbasari diangkat sebagai ratu dan tidak lama kemudian menikah dengan Guruminda. Sementara Purbararang dan Raden Indrajaya mendapat hukuman berupa pencopotan status kebangsawanan serta harus bekerja menjadi tukang sapu di istana.

Diceritakan kembali oleh Ali Gufron


Popular Posts

-