Jenab dan Buaya Buntung

(Cerita Rakyat DKI Jakarta)

Alkisah, pada zaman dahulu kala hidup seorang gadis cantik jelita bernama Jenab. Dia tinggal hanya dengan ibunya di sebuah rumah besar dan indah warisan Sang Ayah. Sebagai anak semata wayang Jenab selalu dimanja oleh orang tuanya. Segala kehendaknya dikabulkan. Oleh karena itu dia pun tumbuh menjadi seorang yang angkuh, sombong dan memandang rendah orang lain. Sifat inilah yang membuat Jenab sulit mendapatkan jodoh. Padahal, banyak sekali pemuda yang tergila-gila akan kecantikannya. Tetapi ketika mencoba mendekati selalu ditolak mentah-mentah tanpa alasan jelas.

Sang Ibu mulai cemas melihat Jenab yang sudah seharusnya memasuki usia perkawinan, menyarankan agar dia memilih salah seorang laki-laki yang pernah datang mendekati. Tujuannya adalah agar dia tidak menjadi perawan tua dan Sang Ibu dapat segera menimang cucu.

"Siapa aje yang pernah kemari?" tanya Jenab ketika Sang Ibu menyarankannya memilih salah seorang pemuda yang pernah mendekati.

"Si Ayub," jawab Sang Ibu singkat.

"Si Ayub orangnya Jelek. Pendek. Idup lagi!" jawab Jenab ketus

"Kalo Mat Bongkar gimane? Die tinggi gede," tanya Sang Ibu.

"Mat Bongkar idungnye pesek. Item lagi. Banyakan maen layangan kali tuh orang," jawab Jenab lebih ketus.

"Ya, udah. Terserah lu aja dah!" kata Sang Ibu jengkel sambil beranjak menuju dapur.

Lain hari, ketika Jenab sedang asyik menyapu teras rumah lewatlah seorang pemuda bernama Roing. Tanpa sengaja, tiba-tiba gulungan kertas yang disapu Jenab terlontar jauh hingga jatuh tepat di kaki Roing. Dia lalu menoleh dan ingin marah kepada orang yang melempar kertas ke arahnya. Namun ketika melihat paras cantik Jenab, amarah Roing segera reda. Dia pun menghampiri.

"Maap, ada yang bisa aye bantu?" tanya Roing lembut setelah mereka berhadapan.

"Lu siapa? Kenal juga kagak. Kurang ajar bener," jawab Jenab seenaknya.

Mendengar jawaban Jenab yang seperti itu membuat Roing menjadi sakit hati. Dia langsung berlalu begitu saja tanpa pamit atau mengucapkan sepatah kata pun. Di sepanjang jalan menuju rumah hatinya terus bergejolak karena sakit mendengar ucapan Jenab yang tidak disangka-sangka. Sesampai di rumah dia lalu berwudlu dan sholat untuk meredakan sakit hatinya. Setelah itu dia tidur. Dalam tidurnya dia bermimpi didatangi oleh seorang lelaki tua bersorban dan berjanggut putih. Sang lelaki tua berkata bahwa dia tidak perlu sakit hati dengan Jenab karena suatu saat nanti pasti akan mendapat balasan yang setimpal atas kesombongannya.

Beralih dari Jenab dan kisah kesombongannya, di lain tempat ada seseorang yang ingin menjadi pencuri kawakan dan disegani. Untuk itu, dia lalu mempelajari ilmu hitam di sebuah gunung angker dengan cara bertapa. Setelah melalui berbagai macam gangguan dan godaan akhirnya sukses menjalankan tapa bratanya. Sebagai imbalannya, pada malam terakhir dia didatangi oleh Sang Penguasa Gunung bernama Jin Afrit. Jin Afrit kemudian memberinya ilmu hitam dengan syarat seumur hidup tidak boleh menikah. Apabila dilanggar, maka akan dikutuk menjadi seekor buaya.

Setelah ilmu hitam diterima dia turun gunung dan kembali ke kampung. Tidak lama berselang dia mulai menjalankan aksi dengan mencuri ke berbagai kampung di seluruh negeri. Hasilnya, tanpa pernah sekali pun tertangkap, dia juga menjadi orang kaya dan terpandang di kampungnya. Banyak para orang tua yang datang dan menginginkannya menjadi menantu. Tetapi karena telah terikat perjanjian dengan Jin Afrit, dengan serta merta ditolaknya seluruh keinginan para orang tua tersebut. Padahal, di dalam hati sebenarnya begejolak keinginan untuk berumah tangga dan memiliki keturunan.

Pada suatu hari ketika sedang melakukan penyelidikan pada rumah-rumah yang akan menjadi target operasinya, dia melihat Jenab yang kebetulan sedang menyapu. Mata mereka beradu pandang. Tetapi hanya sesaat karena Jenab langsung memalingkan muka dan masuk ke dalam rumah. Tertarik melihat kecantikan dan kemolekan Jenab, Si Pencuri singgah di sebuah warung dan bertanya pada pemiliknya tentang Jenab.

"Dia Jenab. Cantik, tapi belagu orangnya. Kalo ada laki yang ngedeketin pasti ditolak," jawab pemilik warung.

Jawaban pemilik warung membuat Si Pencuri merasa tertantang. Dia jadi lupa kalau masih terikat "kontrak" dengan Jin Afrit. Dalam pikirannya yang ada adalah bagaimana caranya agar dapat menaklukkan gadis cantik jelita dan berbadan sintal itu. Agar niatnya cepat terlaksana, tanpa membuang waktu lagi dia bergegas menuju rumah Jenab. Sesampai di sana tanpa basa basi Si Pencuri mengutarakan maksudnya kepada ibu Jenab. Sang Ibu tidak dapat memutuskan menolak atau menerima lamaran Si Pencuri. Disuruhnya Si Pencuri menunggu sejenak, sementara dia masuk ke rumah untuk memberitahu Jenab. Dan, secara tidak disangka-sangka Jenab yang dari tadi mendengarkan percakapan mereka segera saja menerima lamaran Si Pencuri. Rupanya, ketika mata mereka beradu pandang Jenab juga jatuh hati pada Si Pencuri.

Beberapa minggu setelah lamaran diterima diadakanlah sebuah pesta perkawinan besar selama tiga hari tiga malam. Jenab dan Si Pencuri resmi menjadi pasangan suami-isteri. Tidak lama kemudian Jenab hamil dan melahirkan seorang bayi laki-laki. Mereka memberinya nama Mi'ing. Mi'ing tumbuh menjadi seorang anak yang tampan, namun sama seperti orang tuanya, memiliki tabit buruk. Dia hanya mau bermain dengan anak orang kaya saja dan suka mengambil atau bahkan merampas barang milik orang lain. Tabiat buruk ini akhirnya membuat dia cilaka dan cacat seumur hidup akibat terkena bacokan saat kepergok mencuri buah di rumah tetangga.

Selepas kejadian itu, datang lagi musibah lebih besar. Sesuai janji, Jin Afrit datang untuk menghukum Si Pencuri yang telah mengingkari "kontrak" untuk tidak menikah seumur hidup. Dia tidak hanya menghukum Si Pencuri saja, tetapi juga Si Mi'ing dan mengembalikan seluruh harta benda yang telah di curi ke tempat asalnya. Si Pencuri dihukum menjadi buaya besar dan Si Mi'ing menjadi buaya muda yang butung ekornya (karena cacat).

Melihat hal ini Jenab menangis sejadi-jadinya. Dia tidak menyangka kalau suami dan anaknya dapat berubah menjadi buaya. Selain itu, harta benda pun ludes tanpa menyisakan apa-apa. Namun apalah daya, nasi telah menjadi bubur (tanpa suwiran ayam, kecap, dan kerupuk ^_^). Jenab hanya bisa pasrah saat melihat orang-orang yang disayangi merayap keluar dari rumah menuju sungai.

Singkat cerita, sejak itu Jenab menjadi pemurung sehingga wajahnya cepat sekali berkeriput dan menyerupai nenek-nenek. Untuk menghibur diri, pada saat-saat tertentu dia pergi ke tepi sungai menemui suami dan anaknya. Tetapi hanya beberapa bulan saja mereka dapat berkumpul. Selebihnya yang datang hanyalah Si buaya buntung, sementara buaya tua yang lebih besar telah tewas di tangan warga ketika hendak memangsa seseorang yang sedang buang hajat di sungai.

Diceritakan kembali oleh Gufron

Roti Buaya

Roti Buaya adalah salah satu dari sekian banyak makanan khas masyarakat Betawi yang masih eksis di tengah maraknya berbagai makanan yang datang dari daerah lain maupun luar negeri. Makanan yang namanya diambil dari bentuknya yang menyerupai sosok seekor buaya ini konon sudah ada sebelum orang-orang Belanda datang ke Indonesia dengan bahan utama pembuatnya adalah singkong (disebut kue buaya). Namun semenjak kedatangan bangsa Belanda, kue buaya tidak lagi dibuat dari singkong melainkan terigu karena dianggap lebih praktis. Namanya pun bukan lagi kue, tetapi menjadi roti.

Keberadaan roti buaya bagi orang Betawi sangatlah penting. Ia digunakan sebagai penganan wajib yang harus dibawa sebagai seserahan ketika seorang laki-laki akan menikah. Jadi, selain uang mahar, alat kecantikan, baju kebaya, kain, perhiasan, kekudung (makanan yang disukai mempelai wanita ketika masih kecil), dan peralatan rumah tangga, juga disertakan sepasang roti buaya berukuran panjang antara 50-70 sentimeter berlapis kertas warna-warni sebagai simbol kesetiaan dan kemakmuran.

Simbol kesetiaan berasal dari bentuknya yang menyerupai buaya. Masyarakat Betawi, khususnya yang tinggal di sepanjang bantaran sungai, percaya bahwa hewan ganas ini seumur hidup hanya kawin satu kali dan sangat setia pada pasangannya. Oleh karena itu, apabila calon mempelai laki-laki membawa serta roti buaya dalam acara seserahan, diharapkan agar dia kelak akan setia pada pasangannya dan tidak beralih ke lain hati.

Sedangkan simbol kemakmuran dan kemapanan berasal dari bahan pembuatnya yang berupa terigu dan bukan singkong lagi. Pada zaman Kumpeni Belande dauhulu, terigu yang diolah menjadi roti merupakan makanan mewah yang hanya dikonsumsi oleh orang-orang mapan yang memiliki status sosial tinggi dalam masyarakat. Jadi, selain kesetiaan, penyerahan roti buaya juga bermakna agar pasangan yang menikah diharapkan agar kelak selalu dalam kondisi yang mapan dan berkecukupan/makmur.

Bahan dan Proses Pembuatan Roti Buaya
Untuk membuat roti buaya tidaklah terlalu sulit karena bahan-bahannya mudah diperoleh, yaitu: tepung terigu, gula pasir, margarine, garam, ragi, susu bubuk full cream, telur ayam, dan pewarna. Adapun proses pembuatanya adalah sebagai berikut. Pertama, aduk bahan menggunakan mixer agar halus dan tercampur secara merata atau hingga menjadi adonan kalis. Kemudian, diamkan adonan selama sekitar 45 menit agar mengembang lalu potong-potong sesuai dengan ukuran buaya yang akan dibentuk. Selanjutnya, letakkan potongan di atas loyang yang telah diolesi margarine dan panggang hingga matang atau berwarna kuning kecolelatan. Terakhir, hidangkan atau bungkus dengan plastik transparan lalu tawarkan pada orang yang mau kawin ^_^. (gufron)

Kunyit Emas

(Cerita Rakyat DKI Jakarta)

Alkisah, tersebutlah seorang pemuda bernama Badu. Pekerjaannya sehari-hari adalah sebagai pencari kayu bakar di hutan. Suatu ketika dia bermaksud menjual kayu bakar di pasar. Hasil penjualannya dibelikan sekantung kecil beras yang bila ditanak hanya cukup untuk beberapa hari saja. Sesampai di rumah dia merasa luar biasa lelah dan dahaga karena matahari bersinar sangat terik. Tetapi ketika hendak menghilangkan rasa dahaga itu ternyata persediaan air telah habis. Sementara untuk mendapatkan air lagi dia harus pergi ke sumber mata air yang jauh letaknya. Sebagai jalan keluarnya dia meminta air ke tetangga sebelah rumah yang terkenal kikir.

"Enak aja. Lu cari aje sendiri!," kata Sang tetangga ketika Badu meminta setahang air.

"Kalo gitu, aye minta segelas aje. Buat pelepas dahage," tanya Badu.

"Kagak bisa. Gua juga jauh nyarinye. Capek! Lu mau bayar berape?" jawab Sang tetangga ketus.

"Baiklah kalo gitu. Makasih," jawab Badu lesu sambil berlalu pergi menuju sumber mata air.

Beberapa jam kemudian sampailah Badu di sumber mata air. Oleh karena rasa haus sudah tidak tertahankan lagi, dia langsung saja meminum air mentah yang keluar dari mata air. Selanjutnya, sebagian air ditampung dalam wadah bambu dan dibawanya pulang. Di rumah air itu digunakan untuk mencuci beras dan sisanya sebagai persediaan minum. Namun, sebelum sempat memakan nasi yang ditanak kepalanya terasa sakit seakan hendak pecah. Rupanya, akibat dehidrasi, kelelahan, serta meminum air mentah tidak higienis membuat Badu jatuh sakit. Dia hanya dapat berbaring tidak berdaya selama beberapa hari karena tidak memiliki uang untuk berobat ke tabib.

Mendengar kalau Badu sakit, Sang tetangga kikir datang menjunguk. Tetapi maksud kedatangannya bukanlah melihat kondisi kesehatan Badu, melainkan ingin membeli kapak yang biasa dipakai menebang kayu kering di hutan sebagai ganti membeli obat. Tentu saja penawaran itu ditolak, sebab apabila dijual maka dia hanya dapat mengumpulkan ranting kering yang harganya sangatlah murah.

Beberapa hari setelahnya, Badu sembuh sendiri tanpa diobati. Walau masih sedikit lemah, dia berusaha pergi ke hutan untuk mencari kayu lagi. Dengan berbekal sebuah kapak berukuran sedang Badu mulai mencari pepohonan kecil yang tidak membutuhkan banyak tenaga saat ditebang. Pepohonan kecil itu sebenarnya tidak terlalu mahal harganya, tetapi karena kondisi fisik belumlah seperti sedia kala maka dia terpaksa menebangnya agar dapat dijual dan uangnya dibelikan beras.

Setelah beberapa kali tebasan, mata kapak mulai melonggar. Dan, saat dia mengayunkan kapak itu pada sebuah pohon muda yang berada di dekat lubuk, mata kapak pun terlepas dan jatuh ke dalam lubuk. Cilakanya, ketika akan diambil ternyata di sekitar tepian lubuk penuh dengan buaya yang bergerombol menjemur diri. Situasi demikian membuat Badu bingung. Bila dia berenang mengambil kapak, kemungkinan besar akan menjadi santapan buaya. Namun bila tidak diambil, niscaya dia akan mati kelaparan karena kapak itu adalah alat penghidupannya.

Pertimbangan akan mati kelaparan inilah yang membuat Badu akhirnya memutuskan untuk nekad menyelam. Dengan sangat berhati-hati dia melangkah dan masuk ke dalam lubuk yang berair sangat keruh sehingga nyaris tidak dapat melihat benda apa pun di dalamnya. Yang dapat dia lihat hanyalah seberkas cahaya putih dan setelah dihampiri adalah sebuah goa besar di dasar lubuk.

Tanpa berpikir panjang Badu langsung memasukinya. Di dalam goa terdapat sebuah lorong menuju "dunia lain" dengan pemandangan berupa bentangan padang rumput luas. Tidak berapa lama kemudian datanglah seorang laki-laki tua berjubah putih menghampiri. "Apa yang engkau cari di dunia kami, hai manusia?" tanya laki-laki tua itu.

"Aye lagi nyari mata kapak yang tenggelam di lubuk. Tapi nyasar nyampe mari, Kong," jawab Badu lugu.

"Mata kapakmu telah berada di dalam perut buaya. Sebagai gantinya, aku akan memberimu karung ini. Ambil dan pulanglah engkau ke tempat asalmu," kata Sang laki-laki tua.

Singkat cerita, pulanglah Badu ke rumah. Sesampai di rumah karung pemberian Sang laki-laki tua segera dibuka dan ternyata berisi ratusan buah kunyit. Badu tersenyum bahagia, sebab apabila daging kunyit telah berwarna sangat kuning dapat dijual dan uangnya digunakan membeli kapak baru. Untuk itu, dia coba mengupas salah satunya. Dan, betapa terkejutnya dia karena di balik lapisan kunyit berisi emas 24 karat. Seluruh kunyit kemudian dikupas dan dijual ke kota. Si Badu pun menjadi kaya mendadak. Dia menjadi orang terkaya di desanya.

Kekayaan mendadak Badu membuat tetangganya yang kikir iri hati. Dia langsung mendatangi dan menanyakan perihal hartanya yang melimpah. Setelah dijelaskan tanpa berpikir panjang dia langsung menuju lubuk dan menyelam mendekati goa. Tetapi belum sempat mencapai bagian mulut goa tubuhnya tiba-tiba ditarik dan dimakan oleh seekor buaya besar. Si Tetangga kikir mati secara mengenaskan.

Diceritakan kembali oleh Gufron

Si Bener

(Cerita Rakyat DKI Jakarta)

Alkisah, tersebutlah seorang laki-laki bernama Bener. Oleh karena tinggal di daerah pantai, pekerjaannya tiada lain adalah sebagai nelayan. Setiap hari dia pergi ke laut berbekal bekatul sebagai umpan dan sebuah kail berukuran sedang. Namun, setiap hari pula dia selalu bernasib sial. Tidak pernah seekor ikan pun dia dapat, sementara umpannya selalu habis. Hal ini membuat konsentrasi ikan di tempatnya biasa memancing menjadi bertambah banyak. Mereka berebut memakan umpan yang seakan diberikan secara cuma-cuma.

Raja Ikan yang mengetahui keadaan tersebut segera mengumpulkan rakyatnya. "Setiap hari kalian telah diberi makan oleh pengail itu. Apakah kalian tidak menyayanginya?" tanya Sang Raja Ikan ketika mereka telah berkumpul.

Seekor cucut yang bijaksana segera mengerti maksud pertanyaan Sang Raja Ikan. "Wahai Raja, umurku sudah uzur dan tidak berguna lagi. Aku ingin menyerahkan diriku pada Si Pengail karena dia telah memberiku makan setiap hari," katanya.

"Baiklah, Cucut. Sekarang engkau telan intan ini dan pergilah ke tempat dia biasa memancing," kata Raja Ikan.

Tanpa berkata lagi Cucut menelan intan sebesar kepala manusia yang diberikan oleh Raja Ikan. Selanjutnya, dia pergi menuju ke tempat Si Bener yang kebetulan sedang memancing. Cucut menghampiri mata kailnya dan kemudian memakannya sehingga menimbulkan sentakan kuat pada jorang Si Bener.

Terkejut karena baru pertama kali merasakan sentakan jorang, Si Bener langsung berdiri dan berusaha menarik kailnya. Tidak berapa lama setelahnya, dari kejauhan tampaklah seekor ikan cucut luar biasa besar dengan bagian bibir tersangkut mata kail. Ikan itu tidak memberikan perlawanan, walau sebenarnya dia dapat saja mematahkan jorang Si Bener dengan sangat mudah.

Pada saat cucut telah tertangkap, Si Bener melihat ada sebuah perahu nelayan melintas. Dia segera berteriak memanggil Sang nakhoda agar merapat ke dermaga. Setelah perahu merapat, entah mengapa, Si Bener meminta tolong pada Sang Nakhoda agar mengantarkan cucut hasil tangkapannya sebagai persembahan kepada Raja negeri seberang.

"Baiklah," kata Sang Nakhoda sambil memberikan isyarat pada juru mudi untuk melanjutkan perjalanan.

Sesampainya di negeri seberang, entah mengapa pula, Sang Nakhoda datang menghadap Raja Seberang sambil membawa persembahan yang diberikan oleh Si Bener. Padahal, Si Bener hanyalah golongan orang kebanyakan yang secara kebetulan dijumpainya ketika sedang berlayar. Jadi, dia dapat saja menjual Cucut itu dan diaku sebagai hasil tangkapannya di laut.

"Siapa yang telah berani memberiku seekor ikan bau ini, wahai Nakhoda?" tanya Sang Raja sambil menekan-tekan perut ikan itu.

"Kalau tidak salah namanya Bener, Baginda," jawab Nakhoda.

Namun, ketika Raja hendak murka karena merasa dilecehkan, tiba-tiba tongkatnya menyentuh sebuah benda keras dari dalam tubuh ikan. Benda itu sangat licin sehingga ketika terkena tongkat langsung melesat keluar dari mulut Cucut. "Astaga, ini adalah intan terbesar yang pernah aku lihat," kata Sang Raja setengah berteriak.

"Nakhoda, aku ingin menitipkan sebuah peti berisi emas untuk engkau berikan pada Si Bener sebagai imbalan atas persembahannya," sambung Sang Raja.

"Baik, Baginda," jawab Sang Nakhoda.

Keesokan harinya, setelah menjual hasil tangkapannya, Nakhoda yang sangat jujur ini kembali berlayar menemui Si Bener. Dia sama sekali tidak memiliki niat menyelewengkan peti berisi kepingan emas itu. Padahal, apabila tidak diberikan pada Si Bener nisacaya tidak ada yang tahu. Bahkan, Si Bener sendiri pun sebenarnya juga tidak mengetahui kalau di dalam perut ikan yang dikailnya terdapat intan sebesar kepala manusia.

Sesampainya di dusun Si Bener, Sang Nakhoda langsung menyerahkan peti emas pemberian Raja Seberang kepada Si Bener yang kebetulan sedang mengail ikan di dekat dermaga. Setelah membuka petinya bukan main senang hati Si Bener. Dia lalu menyerahkan sebagian keping emas itu kepada Sang Nakhoda sebagai imbalan atas jasanya, sementara sisanya dibawa pulang. Dan, sebagaimana layaknya orang kaya baru, dalam waktu singkat Si Bener telah memiliki sebuah rumah besar, ratusan hewan ternak, serta puluhan hektar sawah dan ladang.

Berita tentang Si Bener yang mendadak menjadi kaya raya karena diberi hadiah dari Raja seberang lautan tentu saja cepat tersebar ke seluruh pelosok negeri. Mereka ada yang turut senang karena menilai bahwa Si Bener orang jujur dan ada pula yang iri sekaligus dengki. Salah seorang di antara mereka adalah Raja yang memerintah di negeri tempat Si Bener tinggal. Dia merasa tersaingi karena Si Bener hampir menyamai kekayaan dirinya. Oleh karena itu, dia berusaha mengatur siasat agar dapat menguasai seluruh harta kekayaan Si Bener. Adapun caranya adalah dengan memaksa Si Bener mengumpulkan selaksa jarum yang dahulu jatuh ke laut sewaktu berada dalam perahu dagang milik Raja. Apabila tidak dapat mengumpulkan seluruhnya, maka hukum pancunglah yang akan menantinya.

Si Bener yang mendapat perintah demikian langsung kecut hatinya. Manalah mungkin dia dapat menemukan jarum-jarum kecil yang telah lama berada di dasar samudera. Tetapi dia terpaksa mematuhi perintah Sang Raja karena bila tidak, maka nyawanyalah yang akan melayang. Dengan langkah guntai dia berjalan menuju tempatnya biasa memancing. Di tempat itu dia duduk termenung putus asa sambil memikirkan nasibnya yang malang.

Keputusasaan yang tercermin dari raut muka Si Bener ternyata dilihat oleh Raja ikan. Dia lalu mendatangi Si Bener dan berkata, "Wahai Pengail, mengapa engkau tampak murung? Apakah engkau sudah tidak memiliki bekatul lagi untuk dijadikan umpan?"

"Bukan," jawab Si Bener singkat. Dia tidak sadar kalau ikan itu dapat berbicara.

"Apa kailmu patah?" tanya Raja ikan menyelidik.

"Bukan juga. Aku diperintahkan oleh Raja untuk mencari selaksa jarum yang dulu pernah tenggelam," jawab Si Bener.

"Hahaha..hanya itu? Engkau tunggu saja di sini wahai Pengail. Aku akan mencarinya untukmu. Jangan kemana-mana!" jawab Raja Ikan.

Setelah berkata demikian, Raja Ikan segera mengumpulkan seluruh rakyatnya untuk mencari dan mengumpulkan selaksa jarum milik Raja darat. Tidak berapa lama kemudian, seluruh jarum telah terkumpul dan diserahkan kepada Si Bener. Oleh Si Bener, jarum dibawa menggunakan sebuah peti untuk diserahkan kepada Raja. Raja yang terkejut melihat perintahnya dapat dilaksanakan dengan mudah, Raja lalu menitah lagi mengambil pedang wulung yang ikut tenggelam bersama jarum. Tanpa membantah Si Bener kembali ke pantai dan meminta pertolongan kepada Raja Ikan.

"Pedang wulung adalah milik Raja Buaya. Engkau bilang saja kalau pedang itu sudah ada di muara. Rajamu tinggal mengambilnya saja. Biarlah nanti dia yang berhadapan dengan Raja Buaya," kata Raja Ikan panjang lebar.

Singkat cerita, Si Bener menghadap Raja lagi dan mengatakan bahwa pedang wulung telah berada di muara. Raja dipersilahkan untuk mengambilnya karena Raja Buaya sendirilah yang akan memberikannya. Raja pun menuruti perkataan Si Bener. Bersama para pengawalnya dia pergi menuju muara. Di sana dia duduk bersila sambil menanti kedatangan Raja Buaya. Tidak berapa lama kemudian Raja Buaya muncul dari permukaan air dan mulai mendekat. Dan, ketika telah berhadapan, tanpa berkata-kata Sang Raja Buaya langsung dan menyeretnya ke dalam air. Raja pun akhirnya mati mengenaskan.

Diceritakan kembali oleh Gufron

Datu Langko

(Cerita Rakyat Daerah Nusa Tenggara Barat)

Alkisah, pada zaman dahulu kala di daerah Langko (sekarang termasuk dalam Kecamatan Janapria, Kabupaten Lombok Tengah) terdapat sebuah kerajaan. Orang yang mendirikannya adalah Raden/Pangeran Mas Panji Tilar Negara yang berasal dari Kerajaan Selaparang di Lombok Timur. Kisahnya berawal ketika Raden Mas Panji Tilar Negara diperintahkan oleh Raja Selaparang (ayahandanya) untuk berdiam di Pulau Sumbawa. Mungkin karena kesal dia tidak pernah pulang lagi ke Selaparang. Oleh karena itu, Raja Selaparang kemudian menitah Patih Wirabakti bersama pengawalnya untuk menjemputnya.

Ketika telah berada di daerah Labuhan Haji, mereka disambut oleh Patih Singarepa dan Mas Pekan, adik Mas Panji. Waktu itu Mas Panji langsung berkata pada Sang adik, "Aku tidak akan kembali ke Selaparang karena ayahanda sudah tidak senang lagi padaku. Lebih baik aku menetap di Perwa saja."

Setelah berkata demikian, Mas Panji memerintahkan Patih Wirabakti dan Singarepa bersama dengan para pengawalnya membuat sebuah perkampungan di Perwa. Mas Pekan yang tidak dapat membantah Sang Kakak ikut membantu. Dia juga tidak ingin kembali ke Selaparang karena pasti akan dijadikan putera mahkota pengganti Mas Panji. Selain itu, rakyat Selaparang pun pasti tidak akan setuju jika kelak dia menjadi raja.

Beberapa bulan setelah menetap di Perwa Patih Singarepa menawarinya untuk singgah di Wanasaba. Tujuannya adalah untuk memperkenalkan sekaligus menawarkan puterinya yang bernama Dewi Sinta untuk dipersunting Mas Panji Tilar Negara. Apabila Mas Panji mau menjadikan Dewi Sinta sebagai isteri, Patih Dingarepa sudah menyiapkan segala macam keperluan untuk pesta perkawinan mereka, seperti: sapi, kerbau, beras, hingga kayu bakar.

Penasaran dengan "tawaran" Pating Singarepa, Mas Panji segera menyanggupinya. Dan benar saja, ketika bertemu dengan Dewi Sinta dia langsung jatuh hati dan setuju untuk menikahinya. "Tapi, bagaimana pungkin saya dapat menyediakan segala sesuatu untuk acara pernikahan, Paman? Saya baru beberapa bulan di Perwa dan belum memiliki apa-apa," tanya Mas Panji.

"Ananda Mas Panji tidak perlu repot. Paman telah menyediakan segala sesuatunya, termasuk juga bekal hidup kelak ketika telah berumah tangga," jawab Patih Singarepa.

"Bila sanggup menderita serta tidak akan menyesal di kemudian hari, maka ananda sanggup menikahi Dewi Sinta," kata Mas Panji.

"Apa pun yang akan terjadi kelak, Paman telah siap Ananda," jawab Patih Singarepa.

Kata-kata Patih Singarepa itu menandai berakhirnya pembicaraan tentang pernikahan. Selanjutnya, pada hari yang telah ditentukan diadakanlah sebuah pesta pernikahan besar selama tujuh hari tujuh malam berturut-turut. Raden Mas Panji Tilar Negara pun akhirnya resmi menjadi suami Dewi Sinta. Mereka menetap di Wanasaba.

Tidak berapa lama tinggal di Wanasaba, Mas Panji datang menemui Sang mertua untuk menyampaikan keinginannya. "Paman, saya kira sudah waktunya kita semua meninggalkan desa ini. Kita harus mencari tempat lain untuk dijadikan tempat tinggal baru."

"Paman akan mengikuti keinginanmu, Ananda," jawab Patih Singarepa singkat.

Keesokan harinya, Patih Singarepa mengumpulkan seluruh ahli nujum beserta dengan ahli palak desa. Mereka dimintai pendapat tentang lokasi yang tepat untuk membuka sebuah pemukiman baru. Dari hasil perundingan para ahli tersebut tercapailah kesepakatan bahwa lokasi yang baik berada di arah baratdaya dari Wanasaba.

Untuk mempersingkat waktu Patih Singarepa menitah para prajuritnya memberi tahu rakyat agar mengemasi sebagian harta benda mereka yang dianggap bermanfaat. Ketika mereka sudah berkemas dan berkumpul, Sang Patih menyerukan seluruhnya berangkat ke arah baratdaya melalui Gunung Tembeng, sesuai dengan petunjuk para ahli nujum dan palak. Sesampainya di kaki Gunung Tembeng Patih Singarepa memerintahkan agar mereka membuat tenda karena matahari akan segera tenggelam.

Ketika hari telah malam dan rombongan tertidur lelap karena kelelahan, Mas Panji Tilar Negara keluar dari tendanya. Untuk beberapa saat dia duduk di suatu gundukan tanah yang agak tinggi sambil mengarahkan pandangan ke baratdaya, arah yang akan menjadi tujuannya. Pada saat itu tiba-tiba dia melihat cahaya tegak lurus yang memancar dari suatu tempat di tengah Hutan Lengkukun.

Hari berikutnya, pagi-pagi sekali Mas Panji telah mengumpulkan rombongan untuk memberitahukan bahwa tujuan mereka adalah ke Hutan Lengkukun di baratdaya. Namun karena hutan itu dianggap angker dan tidak ada yang berani menjamah, maka mereka terpaksa harus membuka jalan agar dapat mencapainya. Walhasil, perjalanan pun otomatis menjadi sangat lambat dan baru mencapai suatu daerah yang bernama Saba saat hari telah menjelang malam. Rombongan memutuskan untuk berkemah di sana.

Dan, sama seperti malam sebelumnya, saat orang lain tertidur lelap Mas Panji keluar dari tendanya guna mengamati sumber cahaya yang memancar dari arah Hutan Lengkukun. Tak ada seorang pun melihat cahaya itu, kecuali dirinya dan ayam jantan kesayangan yang selalu dibawanya pergi. Sang ayam terus saja berkokok sepanjang malam tatkala melihat cahaya itu. Tingkahnya persis seperti ayam yang sedang birahi melihat penampakan lawan jenisnya.

Pagi harinya rombongan Mas Panji kembali melanjutkan perjalanan panjang hingga mencapai daerah yang sekarang bernama Montong Sawur. Daerah itu dahulu belum memiliki nama, sehingga ketika mereka tiba diberilah nama Dasan Siwi yang berasal dari kata sewu (seribu), sesuai dengan jumlah rombongan yang mengiringi Mas Panji. Di tempat itu sebagian besar pengiring diperintahkan untuk berkemah, sementara Mas Panji dan beberapa orang pengawal kepercayaannya tetap melanjutkan perjalanan.

Menjelang petang mereka tiba di suatu daerah bernama Lingkoq Beleq (lingkoq=sumur, beleq=besar). Oleh karena dari kejauhan tampak ada asap yang membumbung, Mas Panji lalu mengutus dua orang pengawalnya mencarinya. Tetapi ketika telah berada dekat dengan sumber asap di suatu daerah bernama Lendang Batu Bulan, tiba-tiba kedua orang itu merasa takut bukan kepalang. Di hadapan mereka sudah ada makhluk sebangsa jin berwujud tinggi besar, berambut gondrong menyapu tanah, dan matanya besar bersinar layaknya lampu petromaks. Makhluk ini biasa disebut sebagai Datuq Jabut, penunggu Hutan Lengkukun.

"Baru kali ini ada orang yang berani datang ke Lengkukun. Aku ingin tahu maksud kedatangan kalian sebelum kujadikan santapan? Hahahahaha," tanya Datuq Jabut menciutkan nyali.

"Ma..ma..maafkan kelancangan kami, Tuan. Kami hanya....hanya menjalankan perintah dari...dari Pa..Pangeran Mas Panji Ti..Tilar Negara," kata salah seorang diantara mereka terbata-bata karena ketakutan.

"Kalau memang benar Pangeran Mas Panji yang menyuruh kalian, katakan pada beliau bahwa aku telah siap menyambutnya. Namun apabila hanya mengarang cerita, dengan senang hati aku akan mencicipi daging kalian. Kalian lihat, air liurku sudah mulai menetes? Hahahah," kata Datuq Jabut menggelegar.

"Pangeran Mas Panji berada tidak jauh dari sini, Tuan. Apabila diizinkan, kami akan segera memberitahu beliau," kata salah seorang pengawal agak sedikit tenang.

"Baiklah, aku tunggu. Tapi Awas, apabila bohong anak buahku akan segera menyeret kalian kemari!" bentak Datuq Jabut.

Tanpa menunggu lebih lama lagi kedua pengawal itu berlari menuruni bukit menemui Mas Panji. Setelah sampai, mereka langsung menceritakan seluruh kejadian yang dialami dan sekaligus menyampaikan pesan bahwa Datuq Jabut telah siap untuk menyambut kedatangan Mas Panji.

Setelah merenung beberapa saat, akhirnya Mas Panji menyanggupi undangan Datuq Jabut. Pikirnya, mereka telah berada jauh di dalam Hutan Lengkukun yang menjadi wilayah kekuasaan Datuq Jabut. Kalaupun - dengan kesaktiannya - dia dapat meloloskan diri dari Sang Penguasa Lengkukun, kemungkinan besar rombongannya yang sebagian besar terdiri dari anak-anak dan kaum perempuan akan tertangkap dengan mudah.

Oleh karena itu, bersama dengan sebagian pengawalnya Mas Panji pergi menemui Datuq Jabut. Ketika mereka bertemu, tanpa dinyana Datuq Jabut langsung menghaturkan sembah dan berkata dengan khidmat, "Hamba menghaturkan sembah kepada Pangeran Mas Panji Tilar Negara. Apabila berkenan, bolehkah hamba mengetahui apa gerangan maksud kedatangan Pangeran ke tempat yang terpencil ini?"

"Wahai Datuk Jabut, maksud dan kedatanganku dan rombongan adalah untuk mencari tempat bermukim baru. Dapatkah Datuk membantu kami?" kata Mas Panji lembut.

"Tempat kita bertemu ini memang sangat cocok dijadikan sebagai perkampungan. Apabila Pangeran menghendaki, akan hamba kerahkan seluruh anak buah yang ada di Gunung Rinjani dan Hutan Lengkukun ini untuk membantu," Kata Datuq Jabut.

"Baiklah bila Datuk bersedia membantu. Aku ucapkan terima kasih," kata Mas Panji sambil tersenyum.

Mendengar persetujuan dari Mas Panji, malam itu juga Datuq Jabut langsung mengerahkan seluruh anak buahnya membuat perkampungan. Oleh karena mereka berasal dari bangsa jin, tentu saja pekerjaan itu sangat mudah dilakukan. Deretan pepohonan besar yang tadinya tumbuh rapat, dalam sekejap dapat disulap menjadi sebuah perkampungan berisi rumah-rumah yang berjajar rapi. Kampung baru itu diberi nama Langko dan didiami oleh Mas Panji bersama dengan rombongannya. Seiring waktu, jumlah penduduknya semakin bertambah dan akhirnya menjadi sebuah kerajaan. Raden Mas Panji Tilar Negara kemudian diangkat menjadi raja dengan gelar Datu Langko. Setelah meninggal Datu Langko dikebumikan di Bila Tawah. Makamnya sampai hari ini masih tetap dikunjungi orang dari segenap Penjuru Pulau Lombok.

Diceritakan kembali oleh Gufron

Syafruddin Prawiranegara

Syafruddin (Sjafruddin) Prawiranegara adalah salah satu tokoh pejuang kemerdekaan Indonesia. Beliau lahir di daerah Anyar Kidul, Kabupaten Serang, Banten pada tanggal 28 Februari 1911. Ayahnya, Arsyad Prawiraatmadja, adalah seorang jaksa yang oleh Belanda dibuang ke Jawa Timur karena dinilai cukup dekat dengan rakyat1. Sang Ayah merupakan cucu dari Sutan Alam Intan, keturunan Raja Pagaruyung yang dibuang ke Banten karena terlibat Perang Padri. Di Banten Sutan Alam Intan menikah dengan seorang puteri bangsawan Banten dan beranak-pinak hingga ke Syafruddin Prawiranegara2.

Semasa kecil pria yang biasa disapa dengan Kuding ini bersekolah di ELS pada tahun 1925. Kemudia ia melanjutkan ke MULO di Kota Madiun pada tahun 1928 dan AMS di Bandung pada tahun 1931. Lulus dari AMS, pada tahun 1939 Kuding melanjutkan pendidikannya di Rechtschoogeschool atau Sekolah Tinggi Hukum di Jakarta dan berhasil meraih gelar Meester in de Rechten (setara dengan Magister Hukum)3.

Setelah lulus dari Rechtschoogeschool, Syafruddin bekerja sebagai pegawai siaran di sebuah radio swasta dari tahun 1939 hingga 1940. Kemudian, beralih pekerjaan menjadi petugas pada Departemen Keuangan Belanda dari tahun 1940 hingga 1942, lalu beralih lagi menjadi petugas Departemen Keuangan pada masa pendudukan Jepang, Kepala Kantor Pajak di Bandung, dan sekretaris pada Komite Nasional Indonesia (KNI) daerah Priangan. Pada saat menjabat sekretaris KNI ini ia diminta oleh Perdana Menteri Sjahrir untuk pindah ke Jakarta dan menjadi anggota Badan Pekerja KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat)4. KNIP merupakan badan legislatif sebelum terbentuknya MPR dan DPR yang tugasnya antara lain adalah menetapkan Garis-garis Besar Haluan Negara.

Tidak lama menjadi anggota Badan Pekerja KNIP, Syafruddin mendapat kepercayaan lagi dari Perdana Menteri Sjahrir untuk memegang jabatan Wakil Menteri/Menteri Muda Keuangan (1946) dalam kabinetnya yang kedua dan Menteri Keuangan dalam kabinetnya yang ketiga. Setelah era Sjahrir berakhir dan digantikan oleh Mohammad Hatta, Syafruddin diangkat menjadi Menteri Kemakmuran pada tahun 1947.

Satu tahun kemudian, terjadilah Agresi Militer Belanda II yang diawali dengan serangan ke Yogyakarta, ibukota Republik Indonesia saat itu. Dalam peristiwa itu, Presiden beserta Wakil Presiden berhasil ditahan dan kemudian diasingkan di Pulau Bangka. Sebelum ditawan, pasangan Dwitunggal sempat mengirimkan telegram kepada Syafruddin yang sedang berada di Bukittinggi, Sumatera Barat. Isi telegeramnya, "Kami, Presiden Republik Indonesia memberitahukan bahwa pada hari Minggu tanggal19 Desember 1948 djam 6 pagi Belanda telah mulai serangannja atas Ibu-Kota Jogyakarta. Djika dalam keadaan Pemerintah tidak dapat mendjalankan kewadjibannja, kami menguasakan kepada Mr Sjafruddin Prawiranegara, Menteri Kemakmuran RI untuk membentuk Pemerintahan Darurat di Sumatra"5.

Namun karena sistem telekomunikasi belumlah secanggih sekarang, maka telegram dari Dwitunggal tidak pernah sampai. Syafruddin Prawiranegara hanya dapat mendengar kabar bahwa tentara Belanda telah berhasil menduduki Yogyakarta dan menangkap Presiden, Wakil Presiden, dan para petinggi lainnya. Oleh karena ingin menyelamatkan NKRI yang baru berumur 3 tahun, ia mengambil inisiatif untuk mengadakan rapat di sebuah rumah dekat Ngarai Sianok, Bukittinggi. Hasil rapat menyepakati bahwa akan memproklamirkan sebuah Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) untuk mengisi kekosongan pemerintahan.

Sebagai penggagas berdirinya PDRI Syafruddin Prawiranegara kemudian diangkat menjadi ketua dengan kedudukan yang sama layaknya presiden. Untuk lebih memudahkan tugasnya, ia membentuk kabinet yang hanya terdiri dari beberapa orang menteri. Dengan mengambil lokasi di suatu tempat di daerah Sumatera Barat, mereka menjalankan roda pemerintahan agar Republik Indonesia tetap eksis. Selain itu, mereka juga mengupayakan agar Belanda membebaskan Soekarno-Hatta serta mengakhiri pendudukannya. Hasilnya, Belanda terpaksa harus berunding dengan Indonesia dalam perjanjian Roem-Royen yang mengakhiri pendudukannya sekaligus membebaskan Soekarno-Hatta.

Setelah berhasil membebaskan pasangan Dwitunggal, pada tanggal 14 Juli 1949 Syafruddin Prawiranegara mengembalikan mandatnya sebagai ketua PDRI kepada Presiden Soekarno. Selanjutnya, ia diangkat menjadi Wakil Perdana Menteri pada tahun 1949 lalu kembali menjadi Menteri Keuangan di kabinet Hatta pada bulan Maret 1950 dan terakhir menjadi Gubernur Bank Sentral Indonesia pada tahun 1961. Sebagai catatan, pada saat menjabat sebagai menteri keuangan Syafruddin pernah mengeluarkan kebijakan moneter yang cukup kontroversial, yaitu pengguntingan uang merah de Javasche Bank pecahan Rp.5 ke atas menjadi dua bagian. Bagian sebelah kiri masih menjadi alat tukar sah dengan nilai hanya setengahnya, sementara bagian sebelah kanan dipinjamkan kepada negara. Kebijakan inilah yang membuatnya mendapat julukan "Gunting Syafruddin".

Namun seiring dengan berlalunya waktu, sebagaimana sebagian rakyat Indonesia lainnya, ada rasa ketidakpuasan dalam diri Syafruddin berkenaan dengan kondisi pemerintahan saat itu. Ia merasa tidak puas karena pemerintah tidak mengambil tindakan tegas terhadap banyaknya penyimpangan sosial yang terjadi, termasuk semakin meluasnya pengaruh paham komunisme yang diusung oleh PKI. Oleh karena itu, bersama rekan-rekannya di Partai Masyumi dan PSI, pada sekitar bulan Februari 1958 Syafrudin mendirikan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) yang berbasis di Sumatera Tengah. Sebagai orang yang pernah berpengalaman menjadi presiden/ketua PDRI, ia kemudian ditunjuk menjadi Presiden PRRI.

Terbentuknya PRRI sebenarnya merupakan bentuk protes terhadap pemerintahan Soekarno yang dianggap telah menyeleweng dari UUDS 1950 dan bukan untuk menggulingkan kekuasaan Soekarno4. Tetapi karena telah memproklamirkan diri sebagai sebuah pemerintahan tandingan, Presiden Soekarno menganggapnya sebuah gerakan pemberontakan atau separatis yang kontra revolusi. Akibatnya, Syafruddin bersama rekan-rekannya diburu dan akhirnya ditangkap. Mereka kemudian dibawa ke Cipayung, Bogor, sebagai tawanan kota.

Setelah perlawanan PRRI dinyatakan berakhir, Presiden Soekarno pun memberikan amnesti dan abolisi pada orang-orang yang terlibat di dalamnya. Safruddin yang juga ikut diberi ampunan kemudian memilih lapangan dakwah sebagai pengisi aktiviasnya. Namun, kiprah pria yang beristerikan Tengku Halimah Syaehabuddinn dan dikaruniai delapan orang anak ini tidak selalu berjalan mulus karena dinilai terlalu bersikap kritis terhadap pemerintah. Bahkan, mungkin akibat ikut menandatangani Petisi 50 sebagai protes terhadap pemerintahan Orde Baru ia selalu mendapat pengawasan dari intelijen negara dan pernah diperiksa sehubungan dengan isi khotbahnya pada hari raya Idul Fitri 1404 H di Masjid Al-A'raf, Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Di masa tuanya, meski berstatus mantan pejabat negara, Syafruddin Prawiranegara tetap hidup dalam kesederhanaan di sebuah rumah di Gedung Hijau Raya, Pondok Indah, Jakarta Selatan. Syafruddin meninggal dunia di rumah itu pada tanggal 15 Februari 1989, 13 hari menjelang ulang tahunnya yang ke 78. Jenazahnya dikebumikan di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan. Atas jasa-jasanya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia, pemerintah menganugerahkannya gelar Pahlawan Nasional pada tahun 2011. Penganugerahan gelar tersebut dilakukan langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara kepada Rasyid dan Aisyah Prawiranegara, ahli waris Syafruddin. (pepeng)

Foto: http://www.kaskus.co.id/thread/519639884f6ea1c03a000004/mengenal-lebih-dekat-gubernur-bi-pertama-quotsyafruddin-prawiranegaraquot
Sumber:
1. "Syafruddin Prawiranegara", diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Syafruddin_Prawiranegara, tanggal 28 Juni 2015.
2. "Mr. Syafrudin Prawiranegara, Presiden yang Terlupakan", diakses dari https://saripedia.wordpress.com/tag/biografi-sjafruddin-prawiranegara/, tanggal 28 Juni 2015.
3. "Biografi Mr. Syafruddin Prawiranegara, Pemimpin yang Terlupakan", diakses dari http://dunia.pelajar-islam.or.id/dunia.pii/arsip/biografi-mr-syafruddin-prawiranegara-pemimpin-yang-terlupakan.html, tanggal 29 Juni 2015.
4. "Mr. Sjafruddin Prawiranegara", diakses dari http://biografinya.blogspot.com/2013/11/mr-sjafruddin-prawiranegara.html, tanggal 29 Juni 2015.
5. "Syafrudin Prawiranegara, Presiden yang Terlupakan", diakses dari http://www.kompasiana.com/najibyusuf/syafrudin-prawiranegara-presiden-yang-terlupakan_55008bc3a333115372511344, tanggal 30 Juni 2015.

Kue Delapan Jam

Salah satu dari sekian banyak makanan tradisional yang ada di Kabupaten Lampung Utara adalah kue delapan jam. Penganan yang namanya diambil dari proses pembuatannya yang memakan waktu sekitar delapan jam ini sebenarnya bukan berasal dari Lampung Utara. Konon, ia berasal dari daerah Palembang yang letaknya tidak jauh dari Kabupaten Lampung Utara. Dahulu kue delapan jam merupakan hidangan atau kudapan khusus bagi para bangsawan di Kota Palembang, sehingga tidak sembarang orang boleh menyantapnya. Namun, seiring waktu kue delapan jam menjadi konsumsi orang kebanyakan sebagai hidangan khas saat perayaan hari-hari besar. Persebarannya pun tidak hanya di Palembang, tetapi juga ke daerah-daerah lain di sekitarnya, termasuk di wilayah Lampung Utara. Di daerah ini, selain untuk perayaan hari besar (Idul Fitri, Idul Adha), kue delapan jam juga hidangan pada saat ada begawi adat.

Kue delapan jam terbuat dari berbagai macam bahan, dengan komposisi: 10-12 butir telur ayam atau bebek, 400-600 gram gula pasir, 150-200 gram susu kental manis, 25-35 gram magarin, dan satu bungkus agar-agar berwarna putih. Adapun proses pembuatannya diawali dengan pengkocokan telur yang dicampur dengan gula hingga larut tetapi tidak terlalu mengembang. Campuran telur dan gula tersebut kemudian disaring lalu ditambah dengan susu kental manis, agar- agar dan margarin dan dikocok lagi hingga larut.

Selanjutnya, olesi loyang berbentuk persegi dengan margarin lalu tuang adonan secara merata. Bila telah rata, kukus adonan dalam api kecil selama delapan jam hingga matang dan berwarna cokelat. Sebagai catatan, sebelum loyang dimasukkan dalam kukusan, didihkan terlebih dahulu airnya lalu apinya dikecilkan agar permukaan kue tidak menggembung. Dan, apabila air kukusan berkurang, sebaiknya tambahkan air panas sedikit demi sedikit agar kukusan tidak terlalu kering.

Kue delapan jam disajikan dengan cara diiris tipis-tipis setebal sekitar satu centimeter. Kue ini termasuk dalam kategori kue basah dengan citarasa manis yang dominan. Bentuk teksturnya empuk atau tidak terlalu keras. Apabila disimpan pada suhu rendah di lemari pendingan, kue delapan jam dapat tahan hingga satu bulan lamanya. (ali gufron)

Sumber:
Hindun (54 Tahun)
Desa Peraduan Waras, Kecamatan Abung Timur, Kabupaten Lampung Utara

Pakokh Balak

Pertanian tanah basah atau sawah umumnya memiliki sebuah saluran air utama yang akan mengalirkan air ke saluran sekunder dan tersier untuk menggenangi lahan. Agar setiap saluran mendapatkan jatah air secara merata tentu diperlukan suatu peralatan tertentu untuk mengatur aliran airnya. Di daerah Lampung, peralatan untuk mengatur aliran itu disebut pakokh balak.

Pakokh balak merupakan sebuah susunan kayu atau bambu untuk membendung hilian way (jalur air) di saluran utama. Tujuannya agar dapat mensuplai kebutuhan air pada seluruh saluran sekunder secara merata sehingga tidak terjadi penggenangan pada satu atau beberapa areal lahan saja. Alat ini dibuat oleh para petani pemakai air secara begotong-royong dengan jumlah antara 6-10 orang untuk setiap satu saluran sekunder.

Adapun pembuatannya diawali dengan menancapkan kayu-kayu penyangga pada saluran utama dalam jarak sekitar 30 centimeter. Pada kayu-kayu penyangga tersebut kemudian dipasangi bambu atau papan sebagai pembendung sekaligus pengarah aliran air menuju ke saluran sekunder yang dikehendaki. Dan, dari saluran sekunder dibuat lagi pembendung air serupa di saluran tersier dengan ukuran lebih yang lebih kecil atau bergantung dari lebar siring (sikhing). Pembendung kecil ini disebut sebagai pakokh lunik.

Agus Djaya

Agus Djaya atau Raden Agoes Djajasoeminta adalah seorang pelukis asal Banten yang namanya terkenal hingga ke mancanegara. Agus Djaya lahir di Pandeglang pada tanggal 1 April 1913. Ayahnya adalah seorang keturunan bangsawan Banten yang pernah menjadi kepala agen sebuah bank1. Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila dia mampu memberikan pendidikan yang layak bagi anak-anaknya. Agus Djaya misalnya, semasa kecil dapat bersekolah di H.I.S Pandeglang. Waktu itu cita-citanya adalah menjadi seorang dokter karena banyak dari anggota keluarga yang berprofesi sebagai dokter. Namun, karena ada darah seni kuat yang diturunkan dari Sang Ibu dan ditambah dengan pengarahan dari guru gambarnya, Suwanda Mihardja, maka secara perlahan Agus Djaya mulai meminati dunia seni, khususnya seni rupa2.

Setelah lulus dari H.I.S Pandeglang Agus Djaya melanjutkan ke MULO di Bandung hingga lulus pada tahun 1923. Kemudian, hijrah ke Bogor untuk melanjutkan pendidikan di MLS (Middelbare Landbouw School/Sekolah Menengah Pertanian) (1923-1924), namun tidak sampai tamat. Selanjutnya, hijrah lagi ke daerah Lembang, Bandung, untuk bersekolah H.I.K pada tahun 1927. Dan, sesuai dengan minatnya di bidang seni rupa, Agus Djaya pun pergi ke Jakarta untuk mengikuti pendidikan seni lalu ke Amsterdam, Belanda, untuk belajar di Akademi Rijks (Academy of Fine Arts)3. Selama berada di daratan Eropa tersebut Agus Djaya sempat berkenalan dengan beberapa seniman besar dunia, di antaranya: Pablo Picaso di Vallauris, Perancis Selatan; Salvador Dali di Madrid, Spayol; dan Ossip Zadkine, pematung Perancis asal Polandia.

Sekembalinya dari Belanda, Agus Djaya mulai menularkan ilmunya dengan memberi pelajaran menggambar serta beberapa mata pelajaran lain pada murid sekolah hingga tahun 1934. Empat tahun kemudian, bersama dengan Sudjojono, Otto Djaja, Harijadi, Hendra Gunawan, Basoeki Resobowo, Affandi, dan beberapa seniman lain, Agus Djaya mendirikan Persagi atau (Persatuan Ahli-ahli Gambar Indonesia). Adapun tujuannya adalah untuk mendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia dari penjajahan Belanda melalui karya seni rupa dari para seniman terdidik dan kritis. Selain itu, menurut Gito Waluyo4, pendirian Persagi juga merupakan sarana untuk melawan berkembangnya aliran "Mooi Indie", sebuah ejekan ala Sudjojono bagi karya seni rupa bertema gambaran keindahan alam Negeri Belanda yang mulai mendominasi sejak mereka menduduki negeri ini.

Ketika pemerintahan Belanda diganti oleh Jepang, Persagi akhirnya dibubarkan pada tahun 1942. Namun karir Agus Djaya sebagai seorang pelukis bukannya menurun, tetapi malah semakin meningkat. Dia menjadi terkenal karena sering ikut berpameran bersama dengan Affandi, Hendra, Kartono, dan pelukis lainnya. Bahkan, atas rekomendasi Bung Karno, dia sempat mendapat jabatan sebagai Kepala Bagian Kesenian pada Keimin Bunka Sidosho, Pusat Kebudayaan Jepang di Jakarta dari tahun 1942-1945.

Setelah Jepang menyerah pada Perang Dunia II dan menarik kembali pasukannya, Belanda rupanya ingin kembali lagi menguasai Indonesia sehingga terjadilah Perang Kemerdekaan (1945-1949). Pada masa itu Agus Djaya masuk ke dalam kesatuan Tentara Nasional Indonesia untuk ikut mempertahankan kemerdekaan. Pangkat tertingginya adalah Kolonel dengan tugas sebagai intel dan F.P (Perispan Lapangan).

Usai Perang Kemerdekaan, bersama sang adik yang juga seorang pelukis Agus Djaya kembali aktif di dunia seni rupa dengan mengadakan sejumlah pameran di luar negeri (Belanda, Perancis, dan Monaco) selama sekitar dua tahun. Sekembalinya dari luar negeri, Agus Djaya mencoba peruntungannya di Jakarta dengan membuka sebuah art shop dan galeri. Tetapi, entah mengapa, popularitasnya malah menjadi meredup sehingga dia memutuskan untuk hijrah bersama sang isteri ke Kuta, Bali. Di sana dia mendirikan sebuah studio sekaligus galeri lukisan di tepi Pantai Kuta.

Sekitar sebelas tahun kemudian atau tepatnya pada tahun 1981 Agus Djaya kembali pulang ke Jakarta. Dan, setelah beberapa waktu menjalani masa tuanya, ia pun akhirnya tutup usia di Pamulang, Banten, pada tanggal 24 April 1994. Agus Djaya meninggalkan segudang karya yang didokumentasikan dalam sebuah buku berjudul "Agus Djaya dan Sejarah Seni Lukis Indonesia" serta berbagai macam tanda jasa baik dalam bidang seni maupun kemiliteran. Karya-karya lukisannya di antaranya adalah: Man Playing Flute (1942), Krishna & Radha (1948), Portrait of Balinese Beauty (1952), Dancers (1953), Gadis Bali (1955), Wiwaha (1965), Kuda Lumping (1965), Dancer (1958-1959), Balinese Girl (1962), Medicijnman (1971), Tarung 1971, Melasti (1971), Wanita (1971), A Cock Fight (1972), Sesembah (1973), Man with Cockerel (1974), Kuda Kepang (1975), Tari Bali (1976), Dogs in Full Moon (1976), Wanita Dusun (1983), Traditional Dance Performance (1984), dan lain sebagainya5. (gufron)

Foto: https://pandjipainting.files.wordpress.com/2011/07/agusjaya1.jpg
Sumber:
1. "Agus Djaja", diakses dari http://www.jakarta.go.id/web/encyclopedia/detail/708/Agus-Djaja, tanggal 20 Juni 2015.
2. "Mengenal Agus Djaja Suminta", diakses dari https://senirupasmasa.wordpress.com/2012/ 09/19/mengenal-agus-djaja-suminta/, tanggal 21 Juni 2015.
3. "Agus Djaja Suminta", diakses dari http://mikkesusanto.jogjanews.com/agus-djaja-suminta.html, tanggal 21 Juni 2015.
4. Gito Waluyo. 2009. "Banten, Agus Djaja-Toto Djaja, dan Perupa urban. Diakses dari https://sahabatgallery.wordpress.com/2009/07/27/banten-agus-djaja-toto-djaja-dan-perupa-urban/, tanggal 22 Juni 2015.
5. "Agus Djaya (Indonesian 1913-1990)", diakses dari http://www.artnet.com/artists/agus-djaya/past-auction-results, tanggal 22 Juni 2015.


Popular Posts

-