Upacara Ratompo pada Orang Kulawi

Kulawi merupakan salah satu suku bangsa di daerah Sulawesi Tengah yang termasuk dalam kelompok Palu-Toraja. Mereka hidup tersebar di sekitar Danau Lindu, dataran Kulawi, dataran Gimpu, dan di sekitar aliran Sungai Koro1. Orang Kulawi masih mempertahankan berbagai macam upacara tradisional yang sangat erat kaitannya dengan daur hidup (lingkaran hidup) individu, diantaranya Rakeho, Popanaung, Ratoe, dan Ratompo. Rakeho adalah upacara masa peralihan bagi seorang laki-laki dari masa kanak-kanak menuju dewasa dengan prosesi meratakan gigi bagian depan atas dan bawah serata dengan gusi. Melalui upacara ini seorang laki-laki akan dianggap sebagai orang dewasa yang pada gilirannya akan mempunyai kedudukan, hak dan kewajiban yang sama, sebagaimana anggota masyarakat lainnya (lebih jelasnya lihat di sini).

Popanaung adalah upacara masa peralihan bagi seorang bayi dari masa dalam kandungan ke kehidupan nyata di dunia. Tujuannya adalah untuk memperkenalkan sang bayi kepada dunia luar (fana) sekaligus sebagai ungkapan rasa syukur orang tua atas karunia yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa (lebih jelasnya lihat di sini). Sementara Ratoe yang berarti menaiki ayunan hampir mirip dengan Popanaung tetapi hanya dilaksanakan untuk anak pertama saja. Tujuannya adalah untuk menjaga keselamatan bayi serta agar bentuk badan terutama kepala menjadi bulat dan tidak lonjong/benjol2 (lebih jelasnya lihat di sini).

Sedangkan Ratompo adalah sebuah upacara yang khusus diselenggarakan bagi seorang gadis yang telah menjalani prosesi mancumani dalam sebuah pesta adat antarkampung. Dalam artikel ini akan diuraikan upacara Ratompo yang meliputi: waktu upacara, peralatan yang digunakan dalam upacara, tata laksana atau jalannya upacara, dan nilai budaya yang terkandung di dalamnya.

Waktu, Tempat, Pemimpin, dan Pihak-pihak yang Terlibat dalam Upacara
Upacara ratompo hanya dilaksanakan oleh perempuan yang berasal dari kalangan bangsawan yang telah menjalani prosesi mancumani dalam sebuah pesta adat antarkampung. Adapun waktu upacaranya pada pagi hari agar seluruh tahapannya dapat dilakukan secara cermat. Sedangkan tempatnya harus jauh dari keramaian, seperti di bawah sebuah pohon rindang di tengah hutan atau di sebuah rumah yang sengaja dikosongkan.

Prosesi upacaranya sendiri dipimpin oleh topetompo atau dukun dari kalangan kebanyakan namun memiliki keahlian khusus dalam mencabut gigi3. Legitimasi seorang topetompo berada di bawah naungan lembaga adat dan raja-raja setempat. Dalam melaksanakan tugasnya topetompo hanya dibantu oleh seorang topepalielu yang bertugas sebagai pemegang pipi dan tubuh orang yang sedang diupacarakan. Selain kedua orang tersebut beserta orang yang akan diupacarakan, tidak ada yang boleh menyaksikan atau mengikuti prosesi ratompo. Jadi, apabila ada sanak kerabat yang ingin berperan serta, mereka hanya dapat melakukannya dengan cara mempersiapkan segala macam perlengkapan dan peralatan upacara saja.

Peralatan Upacara
Peralatan dan perlengkapan yang perlu dipersiapkan dalam upacara Ratompo adalah: (1) dua buah guma; (2) air hangat secukupnya; (3) sebuah tikar berikut bantalnya; (4) porama mavau atau sejenis rerumputan yang berbau busuk; (5) painpongoa atau tempat sirih guna menampung darah; (6) ayu (abu dapur) sebagai peresap darah dalam painpongoa; (7) tabo ngkala sebagai wadah penambungan darah bila terjadi perdarahan hebat; (8) halili (pakaian dari kulit kayu) serta sarung berbahan mbesa; dan (9) ketan putih dan telur.

Jalannya Upacara
Ketika seorang gadis telah selesai menjalani mancumani, keluarganya akan berembuk menentukan waktu meminta izin kepada raja atau pemimpin adat untuk menyelenggarakan upacara ratompo. Setelah mendapat izin, mereka kemudian mendatangi topetompo untuk meminta kesediaannya menjadi pemimpin upacara serta menentukan waktu pelaksanaannya. Apabila menyanggupi, pada hari yang telah ditentukan topetompo bersama dengan pembantunya (topepalielu) akan mendatangi rumah gadis yang hendak diupacarakan.

Selanjutnya, si gadis akan diberi halili (baju putih dari kulit kayu) dan sarung dari mbesa. Setelah halili dan mbesa dikenakan, si gadis akan diberi makan ketan putih dan telur. Kedua makanan tersebut merupakan simbol bahwa si gadis telah berihklas dan bertulus hati selama menjalani seluruh tahapan upacara. Selain itu, ketan putih dan telur juga melambangkan kebulatan hati dari pihak keluarga yang akan melepas anak gadisnya untuk menjalani ratompo.

Selesai makan, topetompo dan topepalielu serta si gadis akan diantarkan oleh kerabat si gadis menuju halaman rumah. Sesampainya di halaman rumah mereka akan berhenti, sementara ketiganya akan terus melanjutkan menuju ke suatu tempat upacara yang telah ditentukan sebelumnya, yaitu di bawah sebuah pohon rindang di tengah hutan atau di sebuah rumah yang sengaja dikosongkan.

Ketika telah berada di lokasi upacara topepalielu mulai menyiapkan segala peralatan dan perlengkapan upacara, seperti: dua buah guma (parang), bantal, tikar, kain nunu, air hangat, am (abu dapur), pompangoa (tempat sirih), dan taba ngkala. Bila seluruhnya telah siap topetompo langsung mengawali prosesi ratompo dengan menginstruksikan topepalielu untuk menutup mata si gadis menidurkannya di atas hamparan tikar yang telah diberi bantal sebagai tempat menyandarkan kepala. Kemudian, kaki dan tangannya diikat dalam keadaan terlentang menggunakan kain nunu agar tidak banyak bergerak ketika prosesi sedang berlangsung.

Sesudah si gadis yang diupacarakan ditidurkan dalam keadaan terlentang, maka topepalielu mulai mengambil tempat di bagian kepala si gadis, sementara topetompo duduk di dekatnya sambil memegang dua buah guma (parang) yang berfungsi sebagai "pahat" dan "martil". Guma yang berfungsi sebagai pahat berujung sangat pipih agar dapat menyusup ke sela-sela gigi, sementara guma yang satunya berbentuk biasa karena hanya bagian gagangnya saja yang nantinya akan digunakan sebagai "martil" untuk memukul guma "pahat".

Apabila topepalielu sudah memegang kedua belah pipi si gadis, maka topetompo akan berjongkok di samping si gadis. Kemudian, dia mulai membaca mantera (gane): "Ane motomoleko potumpako, ane motumpako patumoleko, Bona nemo madea ra mehuko tiroi daka kami ". Artinya, bila tidur tengadah dan tengkurap, bila tidur tengkurap dan tengadah, jangan sampai banyak darah, maka lihatlah kami. Selanjutnya, topetompo memasukkan guma "pahat" di sela-sela gigi yang akan ditanggalkan. Kemudian, dia mulai memukul guma "pahat" itu dengan guma "martil" sampai sejumlah gigi si gadis tanggal.

Setelah seluruh gigi yang tanggal dikeluarkan, si gadis diberi obat berupa air hangat dan porama mavau untuk berkumur. Air bekas kumuran tersebut lalu dibuang di painpongoa yang telah diberi abu dapur. Bila darah yang mulai berkurang, si gadis dibawa kembali ke rumahnya untuk diserahkan kepada orang tuanya. Dan, dengan berakhirnya tahap pencabutan gigi ini, berakhirlah seluruh rentetan upacara ratompo. Sebagai catatan, orang yang baru saja melalui upacara ratompo tidak boleh terlalu banyak bergerak dan memakan makanan yang bersifat asam agar proses kesembuhannya tidak berlangsung lama.

Nilai Budaya
Ada beberapa nilai yang terkandung dalam upacara ratompo. Nilai-nilai itu antara lain adalah: kebersamaan, ketelitian, gotong royong, keselamatan, dan religius. Nilai kebersamaan tercermin dari berkumpulnya sebagian sanak kerabat untuk berdoa bersama demi keselamatan bersama pula. Ini adalah wujud kebersamaan dalam hidup bersama di dalam lingkungannya (dalam arti luas). Oleh karena itu, upacara ini mengandung pula nilai kebersamaan.

Nilai ketelitian tercermin dari proses upacara itu sendiri. Sebagai suatu proses, upacara memerlukan persiapan, baik sebelum upacara, pada saat prosesi, maupun sesudahnya. Persiapan-persiapan itu, tidak hanya menyangkut peralatan upacara, tetapi juga tempat, waktu, pemimpin, dan peserta. Semuanya itu harus dipersiapkan dengan baik dan seksama, sehingga upacara dapat berjalan dengan lancar. Untuk itu, dibutuhkan ketelitian.

Nilai kegotong-royongan tercermin dari keterlibatan berbagai pihak dalam penyelenggaraan upacara. Mereka saling bantu demi terlaksananya upacara. Dalam hal ini ada yang membantu menyiapkan makanan dan minuman, menjadi pemimpin upacara, membantu pemimpin upacara, dan lain sebagainya.

Nilai keselamatan tercermin dalam adanya kepercayaan bahwa peralihan kehidupan seorang individu dari satu masa ke masa yang lain penuh dengan ancaman (bahaya) dan tantangan. Untuk mengatasi krisis dalam daur kehidupan seorang manusia itu, maka perlu diadakan suatu upacara. Ratompo merupakan salah satu upacara yang bertujuan untuk mencari keselamatan pada tahap peralihan dari masa kanak-kanak menuju dewasa.

Nilai religius tercermin dalam doa atau mantra yang dilakukan oleh topetompo, pada acara pencabutan gigi yang merupakan bagian akhir dari serentetan tahapan dalam upacara ratompo. Tujuannya adalah agar si gadis mendapatkan perlindungan dari Tuhan dan roh-roh para leluhur. (ali gufron)

Sumber:
1. "Suku Kulawi, Sulawesi", diakses dari http://protomalayans.blogspot.com/2012/10/suku-kulawi-sulawesi_12.html, tanggal 4 Januari 2015.
2. "Ratoe", diakses dari http://telukpalu.com/2007/11/ratoe/, tanggal 27 Januari 2015.
3. "Ratompo", diakses dari http://telukpalu.com/2007/11/ratompo/, tanggal 5 Februari 2015.

Ratoe, Upacara Naik Ayunan Orang Kulawi

Kulawi adalah sebuah suku bangsa yang berdiam di wilayah Kecamatan Kulawi, Kabupaten Donggala, Provinsi Sulawesi Tengah. Orang Kulawi menganut sistem kekerabatan bilateral1, yaitu menarik garis keturunan dari ayah maupun ibu. Konsekuensi logis dari sistem kekerabatan bilateral, sebagaimana yang dianut oleh sebagian besar suku bangsa di Indonesia, adalah bahwa setiap anak (laki-laki maupun perempuan) akan mempunyai hak relatif sama atas harta peninggalan orang tua2.

Adat perkawinannya memakai percampuran antara matrilokal dan patrilokal. Matrilokal mulai berlaku ketika pasangan baru saja menikah dengan menetap atau tinggal di sekitar kediaman kerabat isteri. Tetapi ketika anak pertama lahir, mereka akan pindah atau menetap di sekitar kediaman kerabat suami (patrilokal). Sekarang adat matrilokal dan patrilokal sudah mulai ditinggalkan. Para pasangan muda Kulawi lebih memilih adat menetap neolokal dengan membuat rumah baru yang terpisah dari lingkungan kerabat kedua belah pihak.

Pergeseran budaya tersebut tidak hanya terjadi pada adat menetap sesudah nikah saja, melainkan juga pada sistem pelapisan sosialnya yang mulanya terdiri atas lima golongan, yaitu: (1) Madika, terdiri atas raja dan para bangsawan; (2) tetua ngata, terdiri atas para penasihat agama dan adat; (3) ntina, terdiri atas pegawai kerajaan dan golongan menengah lainnya; (4) ntodea, terdiri atas pekerja, petani, dan orang kebanyakan; dan (5) golongan batua yang terdiri atas tawanan perang, budak, dan mereka yang dianggap sebagai pengkhianat1.

Seiring dengan perkembangan zaman, terutama setelah masuknya agama Kristen, sistem pelapisan di atas mulai luntur atau bahkan menghilang. Penggolongan masyarakat ke dalam kelas batua sudah tidak ada lagi, sementara kelas lainnya hanya sebagai simbol status saja yang tidak begitu berpengaruh lagi. Mereka lebih memilih sistem pelapisan sosial yang lebih bersifat terbuka dan didasarkan pada usaha atau pencapaian individu (achieved status).

Namun, tidak seluruh aspek dalam kehidupan orang Kulawi mengalami pergeseran akibat adanya pengaruh dunia luar. Misalnya, walau telah memeluk agama Kristen, tetapi unsur kepercayaan lama yang bersifat animisme dan dinamisme masih tetap dipertahankan dalam beberapa upacara tradisional yang berhubungan dengan daur hidup seorang individu, seperti Rakeho, Popanaung, Ratoe, dan lain sebagainya.

Rakeho adalah upacara masa peralihan bagi seorang laki-laki dari masa kanak-kanak menuju dewasa dengan prosesi meratakan gigi bagian depan atas dan bawah serata dengan gusi. Melalui upacara ini seorang laki-laki akan dianggap sebagai orang dewasa yang pada gilirannya akan mempunyai kedudukan, hak dan kewajiban yang sama, sebagaimana anggota masyarakat lainnya (lebih jelasnya lihat di sini). Sementara Popanaung adalah upacara masa peralihan bagi seorang bayi dari masa dalam kandungan ke kehidupan nyata di dunia. Tujuannya adalah untuk memperkenalkan sang bayi kepada dunia luar (fana) sekaligus sebagai ungkapan rasa syukur orang tua atas karunia yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa (lebih jelasnya lihat di sini).

Sedangkan Ratoe yang berarti menaiki ayunan hampir mirip dengan Popanaung tetapi hanya dilaksanakan untuk anak pertama saja. Tujuannya adalah untuk menjaga keselamatan bayi serta agar bentuk badan terutama kepala menjadi bulat (tidak lonjong/benjol)3. Dalam artikel ini akan diuraikan upacara Ratoe yang meliputi: waktu upacara, peralatan yang digunakan dalam upacara, tata laksana atau jalannya upacara, dan nilai budaya yang terkandung di dalamnya.

Waktu, Tempat, Pemimpin, dan Pihak-pihak yang Terlibat dalam Upacara
Upacara Ratoe harus dilaksanakan pada saat bayi baru berumur tiga hari. Apabila lebih dari tiga hari upacara ditiadakan karena hari-hari berikutnya akan ada upacara lain yang harus dilalui oleh si bayi. Adapun waktunya pada pagi hari dengan harapan agar kelak si bayi akan memiliki masa depan cerah, secerah sinar mentari pagi. Tempat upacaranya di dalam rumah, terutama yang bagian atasnya dapat dipasang kayu melintang untuk menggantung ayunan.

Prosesi upacaranya sendiri dipimpin oleh sando mpoana atau dukun beranak. Apabila sang dukun hanya dapat membantu dalam proses persalinan saja, maka pemimpin upacara dapat juga berasal dari salah seorang totua nungata (tetua kampung) yang memiliki sifat baik dan bertangan dingin agar si bayi dapat tetap tenang ketika berada di ayunan. Dalam melaksanakan tugasnya sando mpoana atau totua nungata (tetua kampung) dibantu topotoe (orang yang khusus ditunjuk untuk memasang ayunan), tupu (nenek), sanak kerabat, serta para tetangga terdekat yang membantu mempersiapkan segala macam peralatan dan perlengkapan upacara atau hanya sekadar sebagai saksi.

Peralatan Upacara
Peralatan dan perlengkapan yang perlu dipersiapkan dalam upacara Ratoe adalah: (1) sebuah toe dari balovatu (bambu besar) atau volo (bambu kecil) yang diikat sedemikian rupa menggunakan valo vake (kulit pohon waru) hingga menjadi ayunan; batang pohon langsat yang langara (lentur) dan elastis sebagai tempat menggantung toe; kelambu dari nunu (kulit pohon beringin); luna (bantal); mbesa (kain dari kulit kayu); kain nunu yang di dalamnya diisi avu (abu dapur); dulang tidak berkaki yang nantinya akan diletakkan di dengat pinggul bayi sebagai tempat menampung kotoran; dan ambe atau pelepah enau sebagai wadah untuk menyalurkan kotoran ke dalam dulang yang diletakkan di bagian bawah ayunan agar mudah dijangkau.

Jalannya Upacara
Ketika bayi telah berumur dua hari, orang tua serta keluarga besarnya akan bermusyawarah dengan sando mpoana atau totua nugata untuk menentukan lokasi atau tempat memasang batang pohon langsat penggantung toe. Ada dua kriteria dalam penentuan lokasi pemasangan toe. Pertama, harus berada di bagian rumah yang dapat memberikan ketenangan bagi si bayi sehingga bila telah berada dalam ayunan dapat tertidur dengan lelap. Dan kedua, ayunan juga tidak boleh berada di bawah sambungan atap rumah karena membuat bayi akan merasa terhimpit. Menurut kepercayaan orang Kulawi sambungan atap rumah merupakan simbol terputusnya rezeki. Jadi, apabila ayunan digantung tepat di sambungan atap rumah, maka si bayi kelak rezekinya akan seret atau tidak lancar.

Setelah toe terpasang, Sando Mpoana akan mengawali pelaksanaan upacara dengan memandikan si bayi menggunakan air sungai yang masih jernih. Tujuannya adalah agar perjalanan hidupnya kelak dapat selancar dan sejernih air sungai, tanpa mengalami hambatan atau rintangan yang berarti. Selesai dimandikan, si bayi diselimuti mbesa lalu dibawa menuju toe secara sangat hati-hati agar jangan sampai menangis. Apabila menangis, upacara harus diulang lagi atau bahkan dibatalkan karena dianggap belum siap berada di ayunan.

Sesampainya di depan ayunan, Sando Mpoana akan meletakkan si bayi secara perlahan sambil bernogane atau membaca mantera "Kupopehuako rigana ri toe, moa mahata nipohaviraka ilolo taena, maraha paletana" yang berarti "Kunaikan anak ini dengan hati-hati ke dalam ayunan agar dapat tidur dengan nyenyak". Kemudian, acara dilanjutkan dengan makan bersama sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Makan bersama ini merupakan akhir dari serentetan rangkaian dalam upacara ratoe atau naik ayunan pada masyarakat suku bangsa Kulawi.

Nilai Budaya
Ada beberapa nilai yang terkandung dalam upacara adat Ratoe. Nilai-nilai itu antara lain adalah: kebersamaan, ketelitian, gotong royong, keselamatan, dan religius. Nilai kebersamaan tercermin dari berkumpulnya sebagian besar anggota masyarakat dalam suatu tempat untuk makan dan doa bersama demi keselamatan bersama pula. Ini adalah wujud kebersamaan dalam hidup bersama di dalam lingkungannya (dalam arti luas). Oleh karena itu, upacara ini mengandung pula nilai kebersamaan. Dalam hal ini, kebersamaan sebagai komunitas yang mempunyai wilayah, adat-istiadat dan budaya yang sama.

Nilai ketelitian tercermin dari proses upacara itu sendiri. Sebagai suatu proses, upacara memerlukan persiapan, baik sebelum upacara, pada saat prosesi, maupun sesudahnya. Persiapan-persiapan itu, tidak hanya menyangkut peralatan upacara, tetapi juga tempat, waktu, pemimpin, dan peserta. Semuanya harus dipersiapkan dengan baik dan seksama, sehingga upacara dapat berjalan dengan lancar. Untuk itu, dibutuhkan ketelitian.

Nilai kegotong-royongan tercermin dari keterlibatan berbagai pihak dalam penyelenggaraan upacara. Mereka saling bantu demi terlaksananya upacara. Dalam hal ini ada yang membantu menyiapkan makanan dan minuman, menjadi pemimpin upacara, dan lain sebagainya.

Nilai keselamatan tercermin dalam adanya kepercayaan bahwa peralihan kehidupan seorang individu dari satu masa ke masa yang lain penuh dengan ancaman (bahaya) dan tantangan. Untuk mengatasi krisis dalam daur kehidupan seorang manusia itu, maka perlu diadakan suatu upacara. Ratoe merupakan salah satu upacara yang bertujuan untuk mencari keselamatan pada tahap peralihan dari masa dalam kandungan menuju dunia fana. (ali gufron)

Sumber:
1. "Pengertian Patrilinel, Matrilineal dan Bilateral", diakses dari http://chachanomarisu.blogspot.com/2012/11/pengertian-patrilinel-matrilineal-dan.html, tanggal 29 Januari 2015.

2. "Mengenal Subu-Bangsa Kulawi", diakses dari http://ok-review.com/mengenal-suku-bangsa-kulawi/, tanggal 29 Januari 2015.

3. "Ratoe", diakses dari http://telukpalu.com/2007/11/ratoe/, tanggal 27 Januari 2015.

Paid to Click

Saat ini internet bukan hanya digunakan untuk mencari data semata melainkan juga untuk mempromosikan sesuatu kepada khalayak ramai. Fenomena baru ini dimanfaatkan oleh sebagian orang untuk mencari keuntungan. Salah satu diantaranya adalah dengan membuat suatu program yang diberi nama PTC atau Paid To Click, yang secara sederhana dapat diartikan sebagai “dibayar setiap kali mengklik sebuah iklan dalam jangka waktu tertentu (umumnya sekitar 5-30 detik)”.

Paid To Click adalah sarana yang sangat efektif untuk meningkatkan traffic atau jumlah pengunjung bagi situs-situ yang biasanya berbasis penjualan produk. Dengan biaya yang relatif murah pemilik sebuah situs dapat menggiring pengguna internet untuk mengunjungi situsnya, terlepas dari faktor berkualitas atau tidaknya sumber traffic tersebut. Harapannya adalah agar situsnya “kebanjiran” traffic dan akhirnya dapat meningkatkan penjualan produknya.

Sedangkan bagi orang yang “tergiring” yang tentu saja telah menjadi member atau anggota dari sebuah situs Paid To Click tidaklah sia-sia belaka. Ia akan mendapat imbalan dari hasil melihat iklan-iklan yang ada di dalam situs Paid To Click yang diikutinya. Bagaimana, Anda tertarik?

Berikut adalah daftar beberapa situs berbasis PTC atau Pay To Click yang hingga sekarang masih eksis di jagad maya.




PaidVerts

Desa Asemdoyong

Letak dan Keadaan Alam
Asemdoyong adalah sebuah desa yang ada di wilayah Kecamatan Taman, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah. wilayahnya memiliki luas sekitar 578.356 hektar yang sebagian besar (345.826 hektar) berupa sawah dengan sistem irigasi teknis. Persawahan tersebut berada di bagian selatan desa. Sedangkan, di bagian utara berupa pantai yang membujur dari arah barat-timur. Di kawasan inilah para nelayan bertempat tinggal. Konon, berdasarkan penuturan masyarakat setempat, dahulu ada sebuah pohon asem (asam) yang besar dan doyong (posisinya miring). Oleh karena itu, daerah tersebut disebut “Asemdoyong”1

Desa Asemdoyong yang berada di ketinggian kurang lebih dua meter dari permukaan air laut ini sebelah utara berbatasan dengan Laut Jawa; sebelah selatan berbatasan dengan Desa Kabunan; sebelah barat berbatasan dengan Desa Bungin (dibatasi oleh sungai Elon); dan sebelah timur berbatasan dengan Desa Nyampungsari. Curah hujannya rata-rata 500 milimeter pertahun, sedangkan suhu rata-ratanya 30 derajat Celcius (Monografi Desa Asemdoyong, 2009).

Letak desa dari pusat pemerintahan kecamatan (Taman) jaraknya kurang lebih 10 kilometer ke arah utara. Sedangkan, dari pusat pemerintahan kabupaten (Kota Pemalang) jaraknya kurang lebih 15 kilometer ke arah timur-utara (timur laut). Sementara, dari ibukota Provinsi Jawa Tengah (Semarang) jaraknya kurang lebih 130 kilometer ke arah barat. Salah satu akses untuk menuju desa adalah dengan menggunakan jasa transportasi umum yang dikelola oleh Koperasi Angkutan Darat (Koperanda). Koperasi angkutan ini sejak tahun 1995 telah menjangkau Desa Asemdoyong, dengan route: Pemalang-Asemdoyong-Kloning (PP). Saat penelitian ini dilakukan jumlah armadanya ada 13 buah dalam bentuk “station”2. Armada tersebut beroperasi dari pukul 06.00-17.00 WIB.

Kependudukan
Desa Asemdoyong berpenduduk 14.780 jiwa dengan rincian: 7.541 jiwa laki-laki dan 7.239 jiwa perempuan. Semuanya beragama Islam. Meskipun demikian, mereka mempercayai bahwa tempat-tempat tertentu, termasuk laut, ada “penunggunya”. Pantang-larang ketika berada di laut dan adanya upacara tradisional baritan adalah wujud dari kepercayaan tersebut. Dalam melaksanakan ibadatnya, mereka dapat pergi ke mesjid dan atau langgar (surau). Jumlah mesjid yang ada di sana ada 5 buah, sedangkan suraunya ada 26 buah (Monografi Desa Asemdoyong, 2009).

Tingkat pendidikan yang dicapai oleh penduduknya dapat dikatakan rendah karena sebagian besar hanya tamat Sekolah Dasar (SD). Hanya 21 orang yang tamat akademi dan 18 orang yang berpredikat sarjana (S1). Penduduk yang hanya tamat SD atau tidak tamat SD kebanyakan adalah nelayan. Hal itu sangat erat kaitannya dengan proses untuk menjadi nelayan. Selain itu, di tahun 1960-an sekolah SD (ketika itu Sekolah Rakyat) yang ada di Desa Asemdoyong hanya sampai kelas tiga. Ini artinya, jika seseorang ingin menamatkan SD-nya, maka yang bersangkutan harus keluar dari desanya. Pada umumnya ke SD yang ada di Desa Beji (sekarang kelurahan), Kecamatan Taman, Kabupaten Pemalang. Di masa kini pun jika seseorang ingin melanjutkan sekolahnya ke jenjang yang lebih tinggi, yang bersangkutan harus ke luar desa, karena sarana pendidikan yang ada di Desa Asemdoyong hanya setingkat Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP).

Jenis matapencaharian yang digeluti oleh penduduk Desa Asemdoyong cukup kompleks, mulai dari Pegawai Negeri Sipil, Tentara Nasional Indonesia (TNI), Polisi Republik Indonesia (Polri), pedagang, pertukangan, petani sampai nelayan. Namun demikian, sebagian besar adalah petani dan nelayan.

Keadaan Ekonomi
Perumahan yang ada di Desa Asemdoyong sebagian besar (1.912 buah) berdinding tembok (batu bata dan atau batako), beralaskan keramik, dan beratap genteng. Selebihnya adalah rumah model “kutangan”3   dan rumah yang semua dindingnya berupa pager4. Hampir setiap rumah ada antena televisinya. Data yang tercantum dalam Monografi Desa Asemdoyong tahun 2009 menyebutkan bahwa pesawat televisi yang ada di sana berjumlah 2.210 buah. Ini artinya sebagian besar penduduknya memiliki televisi. Selain itu, di sana juga relatif banyak yang memiliki pesawat telepon (39 orang) dan pesawat radio (311 orang).

Sampai saat ini, Desa Asemdoyong belum memiliki pasar. Namun demikian, berdasarkan data Monografi Desa (2009), di sana ada toko (104 buah), warung (39 buah), dan pedagang kaki lima (8 orang) yang menyediakan berbagai macam kebutuhan sehari-hari masyarakat setempat. Malahan, di desa tersebut ada Tempat Pelelangan Ikan (TPI). Dengan demikian, dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, khususnya kebutuhan primer, masyarakat setempat tidak perlu keluar desa karena di dalam desa dapat dikatakan segalanya telah tersedia.

Sumber:
Galba, Sindu. 2010. “Sistem Pengetahuan Tradisional Masyarakat Nelayan Desa Asemdoyong” (Laporan Penelitian). Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Yogyakarta.
___________________________________
1. Toponimi (nama asal atau tempat) di daerah Pemalang tidak hanya Asemdoyong, tetapi masih banyak lainnya, antara lain: Penggarit (pang atau cabang pohon bergarit), Paduraksa (tempat bertempurnya dua raksasa), dan Kali Rambut (sungai yang konon banyak rambut raksasanya).
2.  Bentuknya lebih kecil dari Metro Mini yang ada di Jakarta dan bis kota yang ada di Yogyakarta.
3. Kutangan adalah rumah yang sebagian dindingnya berupa tembok (kurang lebih satu meter dari permukaan tanah) dan selebihnya berupa pager.
4.  Pager adalah bambu yang dianyam sedemikian rupa sehingga membentuk empat persegi panjang yang cukup rapat dan kuat. Di Yogyakarta disebut gedhek.

Honda TMX 155 (2013)

Technical Specifications
2013 Honda TMX 155
Engine
Engine type
Bore x Stroke
Displacement
Valves
Compression ratio
Max Power
Max Torque
Fuel system
Transmission
Final drive
Clutch
Ignition type
Starting system
Lubrication
Exhaust
Spark plug
Battery
Gear ratios

Air-cooled, single cylinder, four-stroke, OHV
58.5 x 57.8 mm (2.3 x 2.3 inches)
155.30 ccm (9.48 cubic inches)
4 valves per cylinder
9.0:1

12.10 Nm (1.2 kgf-m or 8.9 ft.lbs) @ 6500 rpm
Carburettor
4-Speed
Chain

AC-CDI (Capacitor Discharge Ignition)
Kick starter

Dimensions
Frame type
Rake
Overall length
Overall width
Overall height
Wheelbase
Seat height
Ground clearance
Dry weight
Fuel capacity
Colors
Suspension (front)
Suspension (rear)
Tyre (front)
Tyre (rear)
Brake (front)
Brake (rear)

Backbone
26°
1915 mm (75.4 inches)
735 mm (28.9 inches)
1032 mm (40.6 inches)
1201 mm (47.3 inches)
743 mm (29.3 inches)
150 mm (5.9 inches)
108.3 kg (238.8 pounds)
9.00 litres (2.38 gallons)
Black, candy raby red
Telescopic fork
Twin shocks
3.00-R17
3.00-R17
Expanding brake (drum brake)
Expanding brake (drum brake)

Image: http://www.hondaph.com/showcase/tmx-155

Honda Super Cub 50 (2013)

Technical Specifications
2013 Honda Super Cub 50
Engine
Engine type
Bore x Stroke
Displacement
Valves
Compression ratio
Max Power
Max Torque
Fuel system
Transmission
Final drive
Clutch
Ignition type
Starting system
Lubrication
Exhaust
Spark plug
Battery
Gear ratios

Air-cooled, single cylinder, four-stroke, OHC
37.8 x 44.0 mm (1.5 x 1.7 inches)
49.00 ccm (2.99 cubic inches)
4 valves per cylinder
10.0:1

3.80 Nm (0.4 kgf-m or 2.8 ft.lbs) @ 5500 rpm
Injection. PGM-FI
4-Speed
Chain


Electric & kcik starter

Dimensions
Frame type
Rake
Overall length
Overall width
Overall height
Wheelbase
Seat height
Ground clearance
Dry weight
Fuel capacity
Colors
Suspension (front)
Suspension (rear)
Tyre (front)
Tyre (rear)
Brake (front)
Brake (rear)

Backbone
26°
1915 mm (75.4 inches)
700 mm (27.6 inches)
1050 mm (41.3 inches)
1210 mm (47.6 inches)
735 mm (28.9 inches)
135 mm (5.3 inches)
95.0 kg (209.4 pounds)
4.30 litres (1.14 gallons)
Green/white, blue/white
Telescopic fork
Swinging arm
60/100-R17
60/100-R17
Expanding brake (drum brake)
Expanding brake (drum brake)

Image: https://komarjohari.wordpress.co

Honda VT1300CR (2013)

Technical Specifications
2013 Honda VT1300CR
Engine
Engine type
Bore x Stroke
Displacement
Valves
Compression ratio
Max Power
Max Torque
Fuel system
Transmission
Final drive
Clutch
Ignition type
Starting system
Lubrication
Exhaust
Spark plug
Battery
Gear ratios

Liquid-cooled, 4-stroke, 52° V-twin cylinder, SOHC
89.5 x 104.3 mm (3.5 x 4.1 inches)
1312.00 ccm (80.06 cubic inches)
4 valves per cylinder
9.2:1

107.00 Nm (10.9 kgf-m or 78.9 ft.lbs) @ 2250 rpm
Injection. PGM-FI with automatic enricher circuit
5-speed
Shaft drive (cardan)


Electric starter


Dimensions
Frame type
Castor
Overall length
Overall width
Overall height
Wheelbase
Seat height
Ground clearance
Dry weight
Fuel capacity
Colors
Suspension (front)
Suspension (rear)

Tyre (front)
Tyre (rear)
Brake (front)
Brake (rear)

Double-cradle, steel

2575 mm (101.4 inches)
900 mm (35.4 inches)
1150 mm (45.3 inches)
1805 mm (71.1 inches)
678 mm (26.7 inches)
126 mm (5.0 inches)
303.0 kg (668.0 pounds)
20.30 litres (5.36 gallons)
Black, blue
45mm telescopic fork with 130mm stroke and 102.4mm axle travel
Monoshock with adjustable rebound damping and 35-position spring preload
adjustability, 95mm axle travel
90/90-R21
200/50-R18
Double disc 336mm with twin-piston caliper
Single disc 296mm

Image: http://www.totalmotorcycle.com/motorcycles/2013models/2013-Honda-Stateline-VT1300CR.htm

Honda VFR1200F (2013)

Technical Specifications
2013 Honda VFR1200F
Engine
Engine type
Bore x Stroke
Displacement
Valves
Compression ratio
Max Power
Max Torque
Fuel system

Transmission
Final drive
Clutch
Ignition type
Starting system
Lubrication
Exhaust
Spark plug
Battery
Gear ratios

Liquid-cooled, 4-stroke, four cylinder, DOHC
81.0 x 60.0 mm (3.2 x 2.4 inches)
1237.00 ccm (75.48 cubic inches)
4 valves per cylinder
12.0:1

8.60 Nm (0.9 kgf-m or 6.3 ft.lbs) @ 5000 rpm
Programmed Fuel Injection (PGM-FI) with automatic enrichment circuit,
44mm throttle bodies and 12-hole injectors
6-speed
Shaft drive (cardan)

Digital transistorized with electronic advance
Electric starter


Dimensions
Frame type
Rake
Overall length
Overall width
Overall height
Wheelbase
Seat height
Ground clearance
Dry weight
Fuel capacity
Colors
Suspension (front)
Suspension (rear)

Tyre (front)
Tyre (rear)
Brake (front)
Brake (rear)


25.0°



1544 mm (60.8 inches)
815 mm (32.1 inches)
115 mm (4.5 inches)
268.1 kg (591.0 pounds)
18.93 litres (5.00 gallons)
Black metallic
43mm cartridge fork with spring-preload adjustability
Pro Arm single-side swingarm with Pro-Link single gas-charged shock with
remote spring-preload adjustability and rebound-damping adjustability
120/70-ZR17
190/55-ZR17
Double disc 320mm. ABS. Floating discs. Six-piston calipers
Single disc 276mm. ABS. Two-piston calipers

Image: http://www.totalmotorcycle.com/motorcycles/2013models/2013-Honda-VFR1200F.htm

Honda Today (2013)

Technical Specifications
2013 Honda Today
Engine
Engine type
Bore x Stroke
Displacement
Valves
Compression ratio
Max Power
Max Torque
Fuel system
Transmission
Final drive
Clutch
Ignition type
Starting system
Lubrication
Exhaust
Spark plug
Battery
Gear ratios

Air-cooled, 4-stroke, single cylinder, OHC
37.8 x 44.0 mm (1.5 x 1.7 inches)
50.00 ccm (3.05 cubic inches)
2 valves per cylinder
10.1:1

8.60 Nm (0.9 kgf-m or 6.3 ft.lbs) @ 5000 rpm
Carburettor. CV 1mm
Automatic
Belt
Dry multi-plate shoe
CDI
Electric starter


Dimensions
Frame type
Castor
Overall length
Overall width
Overall height
Wheelbase
Seat height
Ground clearance
Dry weight
Fuel capacity
Colors
Suspension (front)
Suspension (rear)
Tyre (front)
Tyre (rear)
Brake (front)
Brake (rear)



1662 mm (65.4 inches)
630 mm (24.8 inches)
1030 mm (40.6 inches)

703 mm (27.7 inches)

71.0 kg (156.5 pounds)

Dark blue, silver metallic, candy lucid red, orion yellow
Telescopic fork
Unit swing type
80/100-R10
80/100-R10
Expanding brake (drum brake)
Expanding brake (drum brake)

Image: http://www.scooter.web.tr/media/kunena/attachments/67/honda-today.jpg


Popular Posts