Oheo dan Anawangguluri

(Cerita Rakyat Daerah Sulawesi Tenggara)

Alkisah, ada seorang pemuda bernama Oheo. Untuk menghidupi dirinya Oheo bekerja sebagai petani ladang yang lokasinya berada di tepi hutan dan dekat dengan sungai. Ladang itu ditanami dengan tebu yang bila sudah tua biasanya akan dicuri sebagian oleh kawanan burung nuri. Mereka selalu saja membuang ampas batang tebu yang telah dicuri sebelum bergerak ke sungai untuk mandi. Hal ini tentu saja membuat areal tepi sungai yang berbatasan dengan ladang Oheo banyak dipenuhi oleh ampas tebu.

Kesal akan kelakuan kawanan nuri tersebut, Oheo berencana menangkap mereka agar ladangnya dapat menghasilkan panen yang melimpah. Suatu saat, ketika sedang beristirahat di salah satu bagian ladangnya, dia melihat kawanan burung nuri terbang mendatangi ladang. Tidak lama kemudian Oheo mengendap perlahan mendekati mereka sambil membawa perangkap. Namun, alangkah terkejutnya dia melihat kawanan burung nuri pencuri tebu tersebut beralih wujud menjadi tujuh bidadari yang cantik jelita. Mereka sedang melepas pakaian di tepi sungai lalu bersama-sama menceburkan diri untuk mandi.

Melihat pemandangan yang "menawan" itu, terbersitlah pikiran Oheo untuk menjahili balik para pencuri tebunya. Dengan hati berdebar-debar dia merayap menuju ke tempat pakaian-pakaian itu diletakkan. Selanjutnya, diambilah salah satu pakaian milik bidadari lalu dibawanya pulang untuk disembunyikan dalam ujung kasau bambu dekat jendela rumahnya. Setelah dirasa sangat tersembunyi, dia ke ladang lagi untuk kembali menikmati pemandangan "menawan" yang dilihatnya tadi.

Di lain pihak, usai mandi para bidadari bergegas mengenakan pakaian masing-masing dan langsung terbang tanpa menunggu yang lainnya. Walhasil, tinggallah seorang bidadari yang tidak dapat terbang ke kahyangan karena pakaiannya dicuri oleh Oheo. Nama bidadari malang itu adalah Anawangguluri. Dia segera kembali lagi menceburkan diri ke sungai karena malu tidak berpakaian.

Kesempatan ini dimanfaatkan oleh Oheo untuk keluar dari tempat persembunyiannya dan menghampiri Anawangguri. Sambil pura-pura tidak tahu, dia bertanya, "mengapa engkau ada di sini, wahai perempuan cantik?"

Tanpa menjelaskan kenapa dia berendam di sungai, Anawangguri malah balik bertanya, "Apakah engkau melihat pakaian yang kuletakkan di atas batu itu?"

"Tidak," jawab Oheo berbohong.

"Dapatkah engkau menolongku mencarikannya?" pinta Anawangguluri.

"Baiklah," jawab Oheo sambil berjalan ke arah yang ditunjuk Anawangguluri.

Beberapa saat kemudian Oheo datang lagi dan mengatakan bahwa pakaian Anawangguluri sudah tidak ada lagi. Agar tidak kedinginan karena hari telah menjelang petang, Oheo menawarkan untuk tinggal di rumahnya. Bahkan, dia mengiming-imingi Anawangguluri pakaian baru asalkan mau dijadikan sebagai isterinya.

Oleh karena tidak ada jalan keluar yang lebih baik, maka mau tidak mau Anawangguluri menerima tawaran itu. Tetapi, dia mengajukan sebuah syarat aneh sebelum mau menjadi isteri Oheo. Syarat itu adalah bahwa apabila kelak mereka dikaruniai seorang bayi, maka Oheolah yang harus membersihkan kotoran bayinya.

Permintaan aneh Anawangguluri tidak begitu diperhatikan oleh Oheo karena dia sudah terlanjur bernafsu melihat kecantikan dan kemolekan tubuh Anawangguluri. Dia langsung menyanggupinya karena baginya Anawangguluri hanya beralasan saja karena mungkin dia masih perawan dan belum pernah mengasuh atau merasa jijik membasuh kotoran bayi. Dia tidak tahu bahwa Anawangguluri adalah seorang bidadari yang berpantang untuk mencuci kotoran bayi.

Setelah terjadi kesepakatan, mereka pun pulang ke rumah Oheo. Beberapa minggu kemudian diadakanlah perkawinan secara meriah dan sejak itu mereka hidup bahagia. Kurang lebih satu tahun kemudian lahirlah seorang bayi laki-laki hasil dari perkawinan itu. Dan, sesuai dengan janjinya, setiap sang bayi buang air besar, maka Oheolah yang membersihkannya. Begitu seterusnya hingga sekali waktu Oheo sangat malas membersihkan kotoran bayinya dan melanggar janjinya.

Kejadian tersebut bermula ketika Oheo sedang menganyam di halaman rumah. Waktu itu anak mereka buang air besar untuk kedua kalinya dalam waktu yang tidak terlalu lama. Anawangguluri yang sedang berada di dapur bergegas ke serambi rumah memanggil suaminya. Tetapi panggilan itu tidak diindahkan oleh Oheo. Bahkan setelah namanya dipanggil berkali-kali, Oheo malah berkeras menyuruh sang isteri yang membersihkan kotoran bayinya karena sudah jamak apabila perempuan yang mengurus bayi. Dan, karena Anawangguluri mengingatkan kembali pada janjinya sebelum kawin, Oheo malah menjadi murka dan membentak agar Anawangguluri jangan mengungkit masa lalu.

Kaget, kesal, dan sekaligus sedih akan kalimat yang keluar dari mulut Oheo, sambil berderai air mata Anawangguluri berjalan mendekati tempat tidur sang bayi yang berada dekat dengan jendela. Setelah membersihkan kotoran dan mengganti celananya, dia mendekatkan sang bayi ke jendela agar badannya cepat kering. Namun, ketika jendela akan dibuka lebar dari ujung kasau bambu tersembullah secuil kain berwarna agak cerah. Secara perlahan kain ditariknya keluar dari kasau bambu dan tahulah dia bahwa kain itu adalah pakaian yang biasa dikenakannya di kahyangan.

Anawangguluri langsung meletakkan bayinya kembali di tempat tidur lalu mengenakan pakaian bidadarinya. Selanjutnya, dia berjalan ke teras rumah seraya memanggil suaminya. Tujuannya adalah untuk menitipkan sang bayi sekaligus berpamitan karena akan kembali ke kahyangan. Anawangguluri telah rindu dan ingin berkumpul kembali dengan ayah, ibu, serta sanak saudara yang lain.

Awalnya seruan Anawangguluri tidak ditanggapi oleh Oheo. Dia tetap asyik menganyam sambil duduk di bawah sebuah pohon rindang. Namun, ketika Anawangguluri menyerukan hal yang sama untuk kedua kalinya barulah Oheo sadar kalau pakaian yang disembunyikannya telah ditemukan. Dia pun segera bangun dan berlari menuju teras rumah. Tetapi sudah terlambat. Anawangguruli telah terbang dan hinggap di pohon pinang. Selanjutnya, dia hinggap lagi di pohon kelapa dan akhirnya terbang ke kahyangan.

Melihat isterinya pergi, Oheo merasa sangat menyesal sekaligus bingung. Dia menyesal karena telah melanggar janjinya sebelum menikah sehinggaAnawangguluri pergi meninggalkannya. Selain menyesal dia juga bingung karena selama ini tugasnya hanyalah membersihkan kotoran bayinya saja, sementara tugas perawatan lainnya diserahkan sepenuhnya pada Anawangguluri.

Dalam situasi yang tidak disangka-sangka itu terbersitlah pikiran Oheo untuk menyusul ke kahyangan dan meminta maaf pada isterinya. Siapa tahu sang isteri akan luluh hati dan mau memaafkannya. Tetapi bagaimanakah caranya, dia sendiri tidak tahu. Untuk mencari jawabannya, bersama sang bayi dia pergi kesana kemari meminta bantuan siapa saja yang dapat mengantarkan ke kahyangan. Dan, setelah berhari-hari mencari, akhirnya ada juga yang dapat mengantarkan mereka, yaitu tumbuhan besar bernama Ue-wai. Dia mengaku dapat mengantarkan ke kahyangan asalkan Oheo membuatkan cincin untuk dipasang pada setiap tangkai daun Ue-wai.

Setelah cincin terpasang, Oheo diminta duduk di tangkai Ue-wai sambil menggendong erat-erat bayinya. Sebelum mulai memanjangkan batangnya Ue-wai memberi petunjuk agar Oheo memejamkan mata ketika mendengar suara ledakan keras pertama dan baru membukanya kembali setelah ada ledakan keras kedua.

Singkat cerita, setelah Oheo membuka matanya ketika mendengar suara ledakan keras yang kedua, tiba-tiba saja dia sudah berada di taman istana raja Kahyangan. Di sana para puteri raja (termasuk Anawangguluri) sedang berjalan-jalan menikmati indahnya taman istana. Salah seorang diantara mereka yang melihat Oheo sedang duduk di ranting Ue-wai bersama bayinya segera memberitahukan saudari-saudarinya dan kemudian berlari masuk istana menemui ayahandanya.

Mendengar berita dari salah seorang anaknya yang menyatakan bahwa ada seorang laki-laki bersama bayinya sedang duduk di taman istana, tahulah sang raja kahyangan bahwa mereka adalah Oheo dan bayinya. Sang raja kahyangan lalu menitah seorang pengawalnya menjemput Oheo. Setelah berada dalam istana Oheo langsung ditanya maksud serta tujuan kedatangannya. Oheo dengan tegas menyatakan kepada raja kahyangan bahwa dia datang untuk meminta maaf sekaligus menjemput Anawangguluri.

Raja Kahyangan sebenarnya sadar bahwa anaknya telah menjadi tanggung jawab Oheo. Namun karena harus menjaga kewibawaannya, maka dia memberi tiga syarat berat apabila Oheo hendak membawa kembali istrinya turun ke bumi. Syarat pertama, Oheo harus mampu menumbangkan sebuah batu sebesar istana. Kedua, harus memungut seluruh bibit padi yang dihambur di padang rumput. Dan Terakhir, pada waktu malam hari dia harus menemukan isterinya yang berada di salah satu dari beberapa buah kamar. Setiap kamar dibuat sangat gelap dan di dalamnya hanya ada tempat tidur beserta seorang puteri di atasnya.

Syarat pertama dan kedua dapat dilaksanakan Oheo dengan mudah karena dibantu oleh hewan-hewan yang hidup di sekitar istana kahyangan. Sedangkan untuk syarat yang terakhir Oheo menjadi bingung dan tidak tahu harus berbuat apa karena setiap ruangan dalam keadaan gelap gulita. Selama beberapa saat dia hanya duduk termenung dengan pandangan yang kosong dan tampak hampir berputus asa.

Ketika pikiran Oheo sudah sangat buntu, tiba-tiba datanglah kunang-kunang yang terbang berkeliling di hadapannya. Awalnya Oheo hanya menganggap kalau binatang itu secara kebetulan masuk ke dalam istana. Tetapi, setelah diperhatikan kunang-kunang itu hanya terbang di depan mukanya saja dan seolah-olah akan menunjukkan sesuatu. Sadar akan "petunjuk" yang diberikan oleh kunang-kunang, Oheo langsung bangkit dari duduknya dan berjalan mengikuti. Begitu dia hinggap pada salah satu pintu kamar, tanpa ragu Oheo membukanya dan berhasil menemukan Anawangguluri.

Dan, sesuai dengan janjinya Raja Kahyangan pun mempersilahkan Oheo membawa isterinya turun kembali ke bumi. Selanjutnya, mereka merajut kembali hubungan yang pernah retak akibat Oheo melanggar janji. Mereka akhirnya hidup bahagia selamanya.

Diceritakan kembali oleh gufron

Honda NSC50R (2013)

Technical Specifications
2013  Honda NSC50R
Engine
Engine type
Bore x Stroke
Displacement
Valves
Compression ratio
Max Power
Max Torque
Fuel system
Transmission
Final drive
Clutch
Ignition type
Starting system
Lubrication
Intake system
Spark plug
Battery
Gear ratios

Air Cooled, four-Stroke, single cylinder, SOHC
37.0 x 44.0 mm
49 cc
2 valves per cylinder
10.0:1
2.72 HP (2 kW) @ 7000 rpm
3.5 Nm (0.36 kg-m) @ 6500 rpm
Fuel injection
Automatic, Variator clutch
Belt
centrifugal clutch
Thyristor
Kick starter
Wet sump



Dimensions
Frame type
Caster/trail
Overall length
Overall width
Overall height
Wheelbase
Seat height
Ground clearance
Weight
Fuel capacity
Color
Suspension (front)
Suspension (rear)
Tyre (front)
Tyre (rear)
Brake (front)
Brake (rear)

Steel

1847 mm
670 mm
1089 mm
1256 mm
760 mm
128 mm
105 kg
5 litres

Leading link
Swingarm monoshock
80 / 90 R14
90 / 90 R14
Single disk, Ø220 mm
Drum brake

Image: http://www.motorcyclenews.com/mcn/bikes-for-sale/searchresults/detail/honda/nsc50r/2014/_/R-NXGN-3060198

Yamaha Bolt R-Spec - Bolt (2014)

Technical Specifications
2014  Yamaha Bolt R-Spec - Bolt
Engine
Engine type
Bore x Stroke
Displacement
Valves
Compression ratio
Max Power
Max Torque
Fuel system
Transmission
Final drive
Clutch
Ignition type
Starting system
Lubrication
Intake system
Spark plug
Battery
Gear ratios

Air Cooled, 4 cylinders, 4-stroke, V4, SOHC
85.0 x 83.0 mm
942 cc
4 valves per cylinder
9.1:1


Fuel injection
5-speed
Belt
Wet, multiple discs, hydraulic operated
TCI (Transistor Controlled Ignition)
Electric starter
Wet sump



1st:
2nd:
3rd:
4th:
5th:
Dimensions
Frame type
Caster/trail
Overall length
Overall width
Overall height
Wheelbase
Seat height
Ground clearance
Weight
Fuel capacity
Color
Suspension (front)
Suspension (rear)
Tyre (front)
Tyre (rear)
Brake (front)
Brake (rear)

Steel

2291 mm
945 mm
1120 mm
1242 mm
691 mm
130 mm
245 kg
3.2 gal

Cartridge
mono shock, Swingarm
100/90-19M/C 57H tube type
150/80-16M/C 71H tube type
Twin Disk, Ø298 mm
Single Disk, Ø298 mm

Image: http://www.totalmotorcycle.com/motorcycles/2014models/2014-Yamaha-Bolt-RSpec.htm

Kecamatan Jatisampurna

Letak dan Keadaan Alam
Jatisampurna merupakan salah satu dari 12 kecamatan yang ada dalam wilayah Kota Bekasi. Kecamatan ini awalnya hanyalah Kecamatan Perwakilan dari Kecamatan Pondok Gede dan baru diresmikan secara secara penuh menjadi sebuah kecamatan pada tanggal 15 Agustus 2000 oleh Walikota Bekasi waktu itu, Drs. H. Nonon Sontani.

Secara geografis wilayah Jatisampurna berada di bagian timur Kota Bekasi dengan batas-batas: sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Pondok Melati, sebelah selatan dengan Kabupaten Bogor dan Kota Depok, sebalah barat dengan Provinsi DKI Jakarta, dan sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Jatiasih serta Kabupaten Bogor. Luas wilayahnya sekitar 6,88% dari luas keseluruhan Kota Bekasi atau 1.943,74 ha, terdiri dari 5 kelurahan, yaitu: Jatisampurna (385,90 ha), Jatikarya (495,60 ha), Jatiranggon (328,20 ha), Jatirangga (319,79 ha), dan Jatiraden (414,25 ha).

Adapun peruntukan lahannya adalah sebagai berikut: sawah tadah hujan (10 ha), pekarangan (1.581 ha), tegalan (245 ha), empang/kolam (29 ha), sawah (10 ha), tanah kering (1.185 ha), rumah tinggal (8,444 ha), rumah kontrakan (1.962 ha), ruko/kios/ supermarket/toko/showroom/dealer (20.977,87 ha), gedung serba guna/gedung olahraga/kantor (10.145 ha), sekolah (3.339 meter persegi), bengkel/pool bus (948 meter persegi), kavling (10.028 meter persegi), menara antena (72 meter persegi), gudang (5.938 meter persegi), kawasan lindung (33.024 ha), ruang terbuka hijau (50.812 ha), tanah wakaf (116.400 meter persegi), tanah negara (7.112 ha), dan pemakaman (115.000 meter persegi) (Kota Bekasi dalam Angka 2012).

Kependudukan
Penduduk Kecamatan Jatisampurna berjumlah 102.315 jiwa atau 35.621 Kepala Keluarga (KK). Jumlah penduduk yang hanya 4,15% dari total populasi Kota Bekasi tersebut jika dilihat komposisinya berdasarkan jenis kelamin, terdiri atas 52.592 jiwa laki-laki (51,5%) dan 49.723 jiwa perempuan (48,5%). Mereka tersebar di 76 Rukun Warga (RW) dan 497 Rukun Tetangga (RT) dengan kepadatan sekitar 7.061 jiwa perkilometer persegi.

Mata Pencaharian
Sama seperti Kecamatan Jatiasih, penduduk Kecamatan Jatisampurna memiliki pekerjaan atau mata pencaharian yang sangat beragam, yaitu: pegawai negeri di berbagai instansi pemerintah, seperti: kelurahan, kecamatan, pemerintah daerah, buruh, TNI/Polri, dan yang bekerja di non-pemerintah, seperti: karyawan swasta, wiraswasta, pedagang keliling, perajin, seniman, petani, peternak, tukang, montir, dan lain sebagainya.

Pendidikan dan Kesehatan
Sarana pendidikan yang terdapat di Kecamatan Jatisampurna meliputi: 40 buah Taman Kanak-kanak dengan 201 orang tenaga pengajar dan 2.019 orang murid, 19 buah Sekolah Dasar Negeri dengan 169 orang tenaga pengajar dan 7.290 orang murid, 4 buah Sekolah Dasar Swasta dengan 163 orang tenaga pengajar dan 1.516 orang murid; 2 buah Sekolah Menengah Pertama Negeri dengan 59 orang tenaga pengajar dan 2.252 orang siswa, 7 buah Sekolah Menengah Pertama Swasta dengan 141 orang tenaga pengajar dan 924 orang siswa, 1 buah Sekolah Menengah Atas Negeri dengan 38 orang tenaga pengajar dan 1.432 orang siswa, 3 buah Sekolah Menengah Atas Swasta dengan 31 orang tenaga pengajar dan 781 orang siswa, 1 buah Sekolah Menengah Kejuruan Negeri dengan jumlah tenaga pengajar sebanyak 7 orang dan 290 orang siswa, 5 buah Sekolah Menengah Kejuruan Swasta dengan 55 orang tenaga pengajar dan 2.468 orang siswa, 5 buah Madrasah Raudhatul Athfal dengan 33 orang tenaga pengajar dan 1,230 orang siswa, 8 buah Madrasah Ibtidaiyah dengan 117 orang tenaga pengajar dan 1.361 orang siswa, 3 buah Madrasah Tsanawiyah dengan 28 orang tenaga pengajar dan 337 orang siswa, dan 4 buah pondok pesantren dengan 15 ustadz/kyai pengajar dan 183 orang santri.

Gambaran di atas menujukkan bahwa sarana pendidikan yang dimiliki oleh Kecamatan Jatiasih hanya sampai Sekolah Menengah Umum dan Madrasah. Ini artinya, jika seseorang ingin melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi, mesti keluar dari Jatisampurna. Adapun sarana pendidikan yang ada di Kecamatan Jatiasih dapat dilihat pada tabel 2 di bawah ini.

Tabel 1
Fasilitas Pendidikan Kecamatan Jatisampurna
No
Tingkat Pendidikan
Jumlah
Guru
Murid
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
Taman Kanak-kanak
SD Negeri
SD Swasta
SMP Negeri
SMP Swasta
SMA Negeri
SMA Swasta
SMK Negeri
SMK Swasta
Madrasah Raudhatul Athfal
Madrasah Ibtidaiyah
Madrasah Tsanawiyah
Pondok Pesantren
40
19
4
2
7
1
3
1
5
5
8
3
4
201
169
163
59
141
38
31
7
55
33
117
28
15
2.019
7.290
1.516
2.252
924
1.432
781
290
2.468
1.230
1.361
337
183

Jumlah



Sumber: Kota Bekasi Dalam Angka 2012

Sementara untuk sarana kesehatan Kecamatan Jatiasih memiliki 3 buah rumah sakit berkapasitas 230 buah tempat tidur, 5 buah puskesmas, dan sebuah puskesmas pembantu dengan tenaga medis sebanyak 46 orang, terdiri atas: 8 orang dokter umum, 4 orang dokter gigi, 1 orang tenaga gizi, 1 orang SPAG, 17 orang perawat, 2 orang perawat gigi, 11 orang bidan, 2 orang tenaga kesehatan masyarakat, dan 1 orang tenaga sanitasi.

Organisasi Pemerintahan
Struktur pemerintahan Kecamatan Jatisampurna dipimpin oleh seorang camat (Drs. Dinar Faizal Badar). Dalam menjalankan tugasnya Camat dibantu oleh Sekretaris Camat (Lukmanul Hakim, S.Ip), Kelompok Jabatan Fungsonal, Seksi Pemerintahan (Indrawati Gita, S.Stp), Seksi Kependudukan (Siti Komariah, S.Pd), Seksi Ekbang (Harwengsah, SE), Seksi Kesejahteraan Sosial (Drs. Mulyadi), dan Seksi Trantib (M. Reward Aprial, S.Stp, M.Si). Untuk memperlancar tugasnya, bagian sekretariat dibantu lagi oleh Sub Bagian Umum dan Kepegawaian (Tarwiyah, S.Sos), Sub Bagian Keuangan (Royani). Berikut adalah struktur organisasi Kecamatan Jatisampurna (bekasikota.go.id).

Sumber: Bekasikota.go.id

Sama seperti kecamatan-kecamatan lain di Indonesia para aparatur Kecamatan Jatisampurna bekerja dalam satu kerangka visi dan misi yang sama untuk kemajuan Kecamatan Jatisampurna. Visi tersebut adalah “Kecamatan Jatisampurna Prima Menuju Masyarakat Cerdas dan Permukiman Sehat Bernuansa Ihsan”. Apabila diuraikan, “Masyarakat Cerdas” mengandung makna masyarakat yang mampu memanfaatkan potensi yang ada di wilayah Kecamatan Jatisampurna sehingga dapat meningkatkan partisipasi masyarakat dalam perencanaan, pelaksanan dan pengendalian pembangunan; masyarakat yang mempunyai jiwa kemandirian; masyarakat mampu menciptakan dan mengembangkan kewirausahaan yang berbasis kerakyatan; dan tercapainya program wajib belajar pendidikan 12 tahun. “Pemukiman Sehat” mengandung makna lingkungan yang mencerminkan pola hidup sehat; lingkungan yang mewaspadai atas potensi wabah penyakit; dan lingkungan yang senantiasa berperan aktif dalam memelihara lingkungan yang sehat. Dan, “Ihsan” mengandung makna pemerintahan yang baik dan berbudi pekerti luhur.

Seluruh penjabaran misi di atas mendukung visi Kota Bekasi, yaitu “Bekasi Cerdas, Sehat dan Ihsan.” Misi merupakan pernyataan yang menetapkan tujuan dan sasaran yang ingin dicapai oleh suatu organisasi sehingga dapat mengemban atau melaksanakan hal-hal yang terdapat atau ditetapkan dalam misinya. Dalam misi Kota Bekasi terkandung makna-makna yang dapat dijadikan sebagai pegangan dalam menentukan arah kebijakan, yaitu: meningkatkan partisipasi masyarakat dalam bidang pendidikan dan kesehatan; meningkatkan kewaspadaan dan penanggulangan bencana; meningkatkan kinerja aparatur dan kapasitas organisasi untuk mencapai tujuan organisasi; memberdayakan masyarakat dalam kegiatan pembangunan; dan meningkatkan kesadaran masyarakat dalam membayar pajak (bekasikota.go.id). (gufron)

Sumber:
"Profil Kecamatan Jatisampurna", diakses dari http://bekasikota.go.id/readotherskpd/155/138/profile-kecamatan-jatisampurna, tanggal 14 September 2013.

“Saat Ini, Penduduk Kota Bekasi Diprediksi 2,5 Juta Jiwa”, diakses dari http://www.bekasikota.go.id/read/6879/saat-ini-penduduk-kotabekasi-diprediksi-25-juta-jiwa, tanggal 22 Desember 2013

Kebo Iwa

(Cerita Rakyat Daerah Bali)

Alkisah, pada zaman dahulu di daerah Bali ada sepasang suami-isteri yang sangat kaya raya. Tetapi walau dikelilingi harta yang berlimpah ruah, kebahagiaan mereka seakan belum lengkap karena belum memiliki momongan. Oleh karena itu, mereka selalu rajin ke pura untuk bersembahyang dan memohon kepada Yang Maha Kuasa agar dikaruniai momongan.

Walau memerlukan waktu bertahun-tahun, doa mereka akhirnya terkabul juga. Sang Isteri mulai mengandung dan sembilan bulan kemudian lahirlah seorang bayi laki-laki yang sehat. Tetapi tidak seperti kebanyakan bayi lainnya yang masih mengandalkan air susu ibu sebagai asupan makanannya, bayi ini telah dapat mengkonsumsi makanan orang dewasa.

Akibatnya, tentu dapat ditebak. Sang bayi tumbuh dengan sangat cepat melebihi bayi-bayi lain yang seusia dengannya. Tubuhnya menjadi sangat besar menyerupai seekor kerbau dan ketika dewasa oleh masyarakat sekitar diberi julukan sebagai "Kebo Iwa" yang berarti "Paman Kerbau". Kebo Iwa memiliki selera makan yang seakan tiada habisnya dan bahkan bertambah rakus, sehingga lama-kelamaan habislah harta benda orangtuanya hanya untuk memenuhi kebutuhan makannya.

Oleh karena segala harta-benda telah ludes, orangtua Kebo Iwa meminta batuan warga desa untuk mengurus anak mereka. Warga desa yang merasa iba secara bergotong-royong membangun sebuah rumah yang sangat besar khusus untuk Kebo Iwa. Mereka juga menyediakan segala macam makanan baginya. Namun, lama-kelamaan warga desa pun tidak sanggup dan hanya menyediakan bahan mentahnya saja untuk dimasak sendiri oleh Kebo Iwa.

Apabila warga desa yang jumlahnya ratusan orang juga tidak mampu memenuhi selera makan Kebo Iwa, tentu dapat diperkirakan seberapa besar perawakannya. Dia laksana seorang raksasa yang serba besar. Apabila bepergian, dia hanya tinggal melangkah beberapa kali sudah cukup untuk keluar dari desanya. Apabila ingin minum, dia hanya perlu menusukkan salah satu jarinya ke tanah, maka keluarlah air dari dalam tanah dan membentuk sebuah sumur.

Keunggulan tubuh ini ternyata bermanfaat dan bukan hanya sebagai beban bagi orangtua dan warga desa lainnya. Hal ini terjadi ketika Pulau Bali diserang oleh pasukan dari Kerajaan Majapahit. Kebo Iwa berhasil menahan serangan mereka dan bahkan menghalaunya hingga keluar dari Bali.

Terkejut akan kekalahan itu, apalagi hanya melawan satu orang saja, para petinggi Kerajaan Majapahit kemudian mengatur siasat. Dalam siasat tersebut mereka mengundang Kebo Iwa datang ke Majapahit untuk membantu membuatkan sumur bagi warga masyarakat yang sedang mengalami kekeringan. Kebo Iwa yang berhati jujur dan lurus menyanggupinya tanpa merasa curiga.

Sesampainya di Majapahit, dia segera membuat ratusan buah sumur bagi warga masyarakat. Terakhir, dia dimintai tolong membuat sebuah sumur besar yang sangat dalam. Dan, ketika tengah berada di dasar sumur yang dalam itulah pasukan Majapahit menimbunnya dengan kapur hingga nafasnya sesak dan akhirnya meninggal dunia.

Diceritakan kembali oleh gufron

Pangga

Pangga adalah perlengkapan penari laki-laki di daerah Sulawesi Tengah saat mempertunjukkan tarian dalam upacara penyembuhan, seperti Tari Balia Bone, Tari Jinja, atau sejenisnya. Pangga atau disebut juga sebagai sinjulo ini adalah sebagai penanda bahwa yang mengenakannya adalah seorang laki-laki yang sedang mempertunjukkan tarian perempuan (Zohra, dkk: 1988). Laki-laki ini bukanlah seorang banci atau wadam, melainkan laki-laki tulen yang hanya berperan sebagai perempuan pada saat menari. Jadi, ketika sedang tidak menari mereka berperilaku sebagaimana layaknya laki-laki (telukpalu.com).

Pangga atau Sinjulo terbuat dari bahan kulit kayu. Adapun proses pembuatannya diawali dengan mencari pohon yang kulitnya kuat dan lentur. Apabila pohon telah ditemukan, maka diadakan upacara sebelum melakukan penebangan. Tujuannya adalah agar roh penghuni pohon tidak marah karena tempat tinggalnya ditebang atau dirusak. Peralatan dan perlengkapan upacara diantaranya berupa seekor ayam berwarna putih serta nasi ketan berwarna hitam, kuning, dan merah (warisanbudayaindonesia.info).

Selesai upacara barulah bagian pohon yang besar (tidak seluruhnya) ditebang sepanjang sekitar 60 centimeter. Kayu hasil tebangan itu kemudian direndam dalam air sungai atau kolam selama tiga hari tiga malam agar kulitnya mudah dikelupas. Bila kulit telah dikelupas proses selanjutnya adalah memukulinya dengan alat pemukul khusus agar menjadi lebar dan tipis. Kemudian, kulit kayu itu direndam selama tiga hari tiga malam lalu dipukuli lagi dan dijemur agar kering. Setelah kering, kulit kayu dipotong dengan panjang sekitar 150 centimeter dan lebar 50 centimeter lalu dilipat menjadi dua bagian. Pada salah satu sisi diguting membentuk huruf V sebagai tempat untuk memasukkan kepala. Dan, proses terakhir, pangga diberi cat warna merah menggunakan bahan dari buah atau air kayu lambugu. Sebagai catatan, saat ini penggunaan kulit kayu sebagai bahan pembuat pangga sudah jarang dilakukan. Para seniman tari lebih memilih kain yang warnanya disesuaikan dengan kostum yang dipakai. (gufron)

Sumber:
Mahmud, Zohra et.al. 1988/1989. Peralatan Hiburan dan Kesenian Tradisional Daerah Sulawesi Tengah. Palu: Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

"Pangga", diakses dari http://warisanbudayaindonesia.info/view/warisan/2524/Pangga, tanggal 20 September 2014

"Peralatan Tari Tradisional", diakses dari http://telukpalu.com/2008/04/peralatan-tari-tradisional/, tanggal 19 September 2014.

Hikayat Raja Berekor

(Cerita Rakyat Daerah Belitung)

Alkisah, pada zaman dahulu kala di daerah Belitung ada sebuah kerajaan yang makmur sejahtera. Tetapi di tengah kemakmuran dan kesejahteraan tersebut terjadilah sebuah peristiwa menggemparkan yang membuat malu seisi kerajaan, terutama Sang Raja. Peristiwa tersebut adalah hamilnya puteri raja yang disebabkan karena berhubungan intim dengan anjing kesayangannya sendiri. Akibatnya, dia pun diusir dari kerajaan untuk menghilangkan malu sekaligus aib kerajaan.

Setelah di usir, sambil membawa perbekalan secukupnya Sang Putri bersama anjing kesayangannya pergi menuju hutan belantara yang jauh dari kerajaan. Beberapa bulan kemudian lahirlah seorang bayi laki-laki. Namun, tidak seperti bayi pada umumnya, bayi hasil hubungan manusia dengan seekor anjing ini memiliki perawakan yang aneh, yaitu sekujur tubuhnya dipenuhi bulu serta berekor layaknya seekor anjing.

Anak ini dipelihara dengan penuh kasih sayang. Semenjak bayi hingga beranjak dewasa dia selalu diajak oleh orang tuanya (Sang Putri dan anjing kesayangannya) berburu binatang hutan, menangkap ikan sungai, serta mencari segala macam tetumbuhan yang dapat dikonsumsi sebagai makanan. Maklum, semenjak diusir dari istana, persediaan makanan yang diberikan hanya cukup untuk beberapa minggu saja. Selanjutnya, mereka harus mencari makan sendiri hanya yang bertumpu pada kemurahan alam hutan.

Suatu hari, karena merasa sudah cukup ahli, si anak berekor pergi berburu seorang diri. Di suatu tempat dia berjumpa dengan sepasang burung kutilang yang sedang memberi makan anaknya. Awalnya, dia akan memanah kedua induk burung tersebut. Namun, dia mengurungkan niat karena melihat keharmonisan rumah tangga burung kutilang itu. Walau harus mencari serangga jauh dari sarang, induk kutilang tetap mencari dan memberi makan anak-anaknya dengan penuh kasih sayang. Mereka tidak menghiraukan kalau perut sendiri belum terisi makanan.

Ketika kembali ke rumah, si anak berekor segera menceritakan keluarga burung kutilang yang dilihatnya tadi. Di akhir cerita, si anak berekor mengajukan sebuah pertanyaan yang sangat mengejutkan ibundanya. Dia bertanya, di manakah ayahnya berada. Dia beranggapan kalau binatang sekecil burung kutilang saja membentuk sebuah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak-anakya. Dalam pikirannya, tentu dia juga memiliki seorang ibu dan juga ayah. Tetapi selama ini yang dilihatnya hanyalah ibu dan anjing kesayangan ibunya saja.

Terkejut dengan pertanyaan anaknya, Sang Ibu tidak mau menceritakan kejadian yang sebenarnya. Dia hanya mengatakan bahwa ayah si anak berekor tidak ada. Tetapi jawaban tersebut sangat tidak memuaskan si anak. Dia terus saja mendesak dan bahkan saking kesalnya malah mengancam akan menggunakan kekerasan apabila tidak mendapat keterangan yang sesungguhnya.

Takut akan ancaman si anak berekor yang memiliki tubuh besar, kuat, dan kekar, akhirnya Sang Ibu pun menjawab bahwa ayahnya adalah anjing yang selama ini tinggal bersama mereka. Anjing itu bernama Tumang. Pantas saja anjing ini selalu berada tidak jauh dari mereka dan bersikap seakan selalu menjaga dan melindungi.

Mendengar jawaban sang ibu, kini giliran si anak berekor yang terkejut setengah mati. Dia tidak menyangka dan sekaligus tidak percaya kalau ayahnya adalah seekor anjing. Dengan sangat marah, dalam sekejap mata dia langsung menangkap Tumang yang sedang berdiri di samping ibundanya. Tubuh Tumang lalu diangkat tinggi dan dijatuhkan dengan sangat keras ke tanah. Akibatnya, tulang tengkorak kepala Tumang pecah dan dia pun mati seketika. Anjing kesayangan yang sekaligua ayah dari si anak berekor itu telah mati di tangan anaknya sendiri. Bangkainya kemudian dibawa ke sungai untuk dihanyutkan.

Begitulah, waktu pun terus berlalu. Keluarga itu kini hidup tanpa anjing kesayangan yang sekaligus merangkap sebagai suami dan ayah. Sang Ibu tampak semakin tua karena hatinya selalu diliputi kesedihan. Sementara anaknya tumbuh menjadi seorang pemuda nekat namun gagah berani dan tidak takut dengan siapapun. Dia sudah tidak ingat lagi kalau telah membunuh ayahnya dan secara tidak sadar membuat ibunya selalu bersedih hati.

Suatu hari, sang pemuda berekor berniat mencari pengalaman baru di luar tempat tinggalnya. Oleh Sang ibu dia disarankan untuk membuat sebuah perahu. Selesai perahu dibuat, diisilah dengan berbagai macam perbekalan lalu digunakan untuk berlayar mengarungi samudra tanpa mengetahui arah mana yang akan dituju. Pikirnya, ke manapun perahu ini berlayar, suatu saat pasti akan bersandar juga.

Beberapa minggu kemudian sampailah dia di sebuah pantai dekat dengan perkampungan nelayan. Di sana dia mendapat penjelasan bahwa tempat itu adalah merupakan wilayah kekuasaan Raja Palembang. Kagum akan kehebatan Raja Palembang, si pemuda berekor segera mendatangi istananya. Maksudnya adalah untuk mengajukan diri menjadi raja juga agar dapat memperoleh kekuasaan seperti Raja Palembang.

Ternyata ajuan itu disetujui oleh Raja Palembang, asalkan si pemuda berekor memerintah di daerah asalnya sendiri dan daerah tersebut nantinya menjadi taklukan Raja Palembang. Syarat itu langsung diterima oleh si pemuda berekor, maka jadilah dia sebagai seorang raja. Julukannya adalah raja berekor karena memiliki ekor panjang layaknya kera. Raja baru ini kemudian diperintahkan kembali ke daerah asalnya dengan membawa pengikut yang berasal dari daerah jajahan Raja Palembang. Jumlah mereka diperkirakan setara dengan delapan gantang bulir padi.

Sesampainya di daerah asal, Raja Berekor memerintahkan para pengikutnya membuat istana di sekitar Aik Bebulak atau yang sekarang sejajar dengan aliran Sungai Cerucuk yang melintasi Kampung Perawas. Di tengah-tengah ruang istana dibuat sebuah singgasana dari sebuah tempayan besar yang di atasnya diletakkan sebilah papan dari kayu ulin yang diberi lubang. Fungsi lubang adalah sebagai tempat memasukkan ekor ketika duduk di singgasana.

Selanjutnya, Raja Berekor membentuk sebuah "kabinet" yang terdiri atas: perdana menteri, menteri, hulubalang, dan pesuruh. Jumlah kabinet inti adalah sembilan orang yang salah seorang diantaranya bernama Sikum. Selain itu, dipekerjakan pula sejumlah perempuan sebagai juru masak, pelayan, dan dayang istana. Hasilnya, roda pemerintahan mulai berjalan sesuai dengan rencana Raja Berekor.

Di tengah kegembiraan dapat menjadi raja yang menguasai sebuah wilayah beserta penghuni yang ada di dalamnya, ada suatu kejadian aneh. Kejadian itu bermula ketika ada seorang juru masak membuat kelalaian saat menyiapkan makanan siang untuk Sang Raja Berekor. Secara tidak sengaja salah satu jarinya tersayat pisau hingga berdarah dan menetes dalam makanan yang siap dihidangkan. Ketika akan diganti dengan yang baru makanan itu terlanjur dibawa oleh pelayan lain ke meja makan Raja Berekor.

Sang Raja yang tidak mengetahui langsung saja menyantap makanan itu dengan lahap. Bahkan sangat lahap karena dia merasa belum pernah memakan masakan yang selezat itu. Usai makan, Raja Berekor langsung memanggil perdana menterinya untuk mencari dan membawa orang yang meracik makanannya.

Singkat cerita, dengan tubuh gemetar dan wajah pucat pasi juru masak menghadap Sang Raja Berekor. Dia lalu menceritakan seluruh kejadian tentang masakan yang dihidangkan pada Sang Raja Berekor pada hari itu. Dia juga bersedia menerima hukuman karena melakukan kelalaian hingga makanan bercampur dengan darahnya.

Tanpa dinyana, bukannya marah Raja Berekor malah terbahak-bahak. Dia mengatakan pada juru masak kalau makanan yang dihidangkannya adalah makanan paling lezat yang pernah dia rasakan. Darah manusia yang secara tidak sengaja tercampur dalam masakan ternyata membuatnya lebih sedap dan nikmat. Pikir Raja Berekor, mungkin akan sangat nikmat apabila daging manusia juga ikut dijadikan sebagai makanan.

Tidak berapa lama kemudian Raja Berekor menyuruh si juru masak pergi lalu memanggil lagi perdana menteri. Setelah perdana menteri menghadap, Raja Berekor menitahkannya untuk mencari manusia yang sehat jasmaninya. Apabila tertangkap, mereka akan dijadikan tawanan untuk selanjutnya satu persatu dikorbankan sebagai santapan Sang Raja Berekor.

Awalnya perdana menteri menolak perintah tersebut. Selama hidup, dia tidak pernah melihat dan bahkan mendengar kalau daging manusia dijadikan sebagai makanan. Tetapi karena Sang Raja Berekor memperlihatkan kemurkaannya, mau tidak mau perdana menteri menurutinya, walau dalam hati tidak sependapat. Korban pertama adalah orang yang dianggap paling bersalah, yaitu si juru masak. Apabila dia tidak ceroboh, maka Raja Berekor tidak akan mungkin terbit selera untuk memakan daging manusia.

Sejak saat itu, ada saja rakyat yang dikorbankan setiap harinya sebagai santapan Raja Berekor. Mereka dapat berasal dari kalangan kanak-kanak, remaja, orang dewasa, orang tua, laki-laki, perempuan, bergantung dari selera Raja Berekor. Jumlah korbannya dapat satu hingga tiga orang dalam sehari. Akibatnya, semakin hari jumlah penduduk berkurang hingga tinggal para hulubalang dan sembilan orang "kabinet inti" kerajaan saja.

Sebagian dari hulubalang yang tidak ingin mati sia-sia segera melarikan diri ke daerah Belantu, Sijuk, dan Buding. Sementara sebagian lainnya yang tidak sempat melarikan diri terpaksa harus menjadi korban selanjutnya. Akhirnya, yang tersisa hanya tingal sembilan orang "kabinet inti" kerajaan dan Raja Berekor saja. Oleh karena itu, agar "adil" Raja Berekor memberikan sebuah teka teki berbunyi "Delipat kembang delokir, delima kembang delikam" yang harus dijawab dalam waktu dua hari. Apabila tidak dapat menjawab, maka secara bergiliran mereka akan dijadikan sebagai menu santapan.

Tanpa membuang waktu, para anggota "kabinet inti" kerajaan segera bermusyawarah untuk memecahkan teka teki Raja Berekor. Tetapi baru tengah malam teka teki itu dapat terpecahkan oleh salah seorang diantara mereka, yaitu Sikum. Dia dahulu pernah bekerja dalam pemerintahan Raja Palembang sehingga dapat memecahkan arti dari teka-teki itu, yaitu empat orang akan dimakan pada waktu siang, dan lima orang akan dimakan waktu malam.

Tetapi mereka berubah pikiran ketika Sikum mengutarakan pendapat untuk menghukum mati Raja Berekor. Adapun caranya tidak langsung berhadapan mengadu kekuatan, karena walau bersembilan rasanya tidak mungkin untuk mengalahkan Raja Berekor yang sangat kuat, bengis, dan kejam. Mereka bersiasat menggunakan pantun lagi agar Raja Berekor berpikir keras untuk menjawabnya. Saat raja berpikir keras tersebut tentu kewaspadaannya akan menurun sehingga kemungkinan besar akan kalah ketika nanti diserang secara tiba-tiba menggunakan dua buah alu sakti yang dahulu ikut dibawa dari daerah kekuasaan Raja Palembang. Kayu ini dinamakan Simpor Laki yang konon dapat dijadikan sebagai penangkal binatang buas yang hidup di hutan.

Dua hari kemudian tibalah masanya untuk menjawab teka teki Raja Berekor. Saat menghadap dua orang diantara mereka membawa alu dan bukan tombak sebagaimana biasanya. Selanjutnya, Perdana Menteri menjawab teka teki Raja Berekor dengan berpantun. Sebelum Raja Berekor sempat mencerna seluruh isi pantun tersebut, Sikum mengucapkan sebuah pantun lagi yang membutnya bertambah bingung. Dan, di saat Raja Berekor bingung itulah serentak mereka melancarkan serangan. Lima orang memegangi ekornya, sedangkan sisanya ada yang memukul kepalanya dengan alu dan ada pula yang menusuk badannya dengan tombak. Akibatnya, tubuh kekar itu langsung tersungkur bersimbah darah. Mayatnya kemudian dibawa dan dihayutkan ke sungai.

Diceritakan kembali oleh Pepeng

Yamaha SRX600 (1988)

Technical Specifications
1988 Yamaha SRX600
Engine
Engine type
Bore x Stroke
Displacement
Valves
Compression ratio
Max Power
Max Torque
Fuel system
Transmission
Final drive
Clutch
Ignition type
Starting system
Lubrication
Intake system
Spark plug
Battery
Gear ratios

Air cooled, four stroke, single cylinder, SOHC
96.0 х 84.0 mm
608 cc
4 valves per cylinder
8.5:1
42 hp @ 6500 rpm  (rear tyre 37.9 hp @ 6300 rpm)
4.9 kgf-m @ 5500 rpm
27mm Teikei carb
5-speed
Chain
Wet, multi-plate type
CDI
Kick starter
Wet sump

Dimensions
Frame type
Rake
Overall length
Overall width
Overall height
Wheelbase
Seat height
Ground clearance
Weight
Fuel capacity
Color
Suspension (front)
Suspension (rear)
Tyre (front)
Tyre (rear)
Brake (front)
Brake (rear)









155 kg
15 litres

36mm Telescopic forks 134mm wheel travel.
Dual Kayaba shocks 5-way adjustable for preload
100/80-V18
120/80-V18
Dual disc brake
Single disc brake

Image: http://www.motorcycleclassics.com/classic-japanese-motorcycles/yamaha-srx600.aspx

Yamaha RZ125 (1982)

Technical Specifications
1982 Yamaha RZ125
Engine
Engine type
Bore x Stroke
Displacement
Valves
Compression ratio
Max Power
Max Torque
Fuel system
Transmission
Final drive
Clutch
Ignition type
Starting system
Lubrication
Intake system
Spark plug
Battery
Gear ratios

Liquid cooled, two stroke, single cylinder.
56.0 х 50.6 mm
123 cc
2 valves per cylinder
6.4:1
20 hp @ 9500 rpm
1.5 kgf-m @ 9250 rpm
24mm Mikuni carb
6-speed
Chain
Wet, multi-plate type

Kick starter
Wet sump

Dimensions
Frame type
Rake
Overall length
Overall width
Overall height
Wheelbase
Seat height
Ground clearance
Weight
Fuel capacity
Color
Suspension (front)
Suspension (rear)
Tyre (front)
Tyre (rear)
Brake (front)
Brake (rear)










12.7 litres
White
Telescopic fork
Monocross linkage 6-way preload adjustment
80/100-S18
90/100-S18
Single disc brake 245mm
Drum brake 130mm

Image: http://global.yamaha-motor.com/showroom/library/grid/


Popular Posts