Hadi Mulyadi

Riwayat Singkat
Hadi Mulyadi atau lebih dikenal dengan nama Fan Tek Fong adalah salah seorang bintang sepak bola Indonesia era 1960-an dan awal 70-an. Lelaki yang akrab disapa Tek Fong ini lahir di Serang, Banten, pada tanggal 19 September 19431. Tek Fong mulai kenal dengan dunia sepak bola ketika usianya masih sekitar 10 tahun. Waktu itu, hampir setiap hari dia datang ke Petak Sinkian untuk bermain bola sambil memperhatikan Thio Him Tjiang, Djamiaat Dhalhar, Kwee Kiat Sek, Chris Ong, dan van der Vin berlatih bola dalam Klub Union Makes Strength (UMS) di bawah bimbingan pelatih Dokter Endang Witarsa (Liem Sun Yu)2.

Oleh karena sering juga memperhatikan Tek Fong bermain bola bersama kawan-kawannya, dan melihat ada suatu "kelebihan" pada kakinya, pada tahun 1960 Endang Witarsa menerimanya bergabung dengan Union Makes Strength. Hampir bersamaan dengan masuknya Tek Fong, masuk pula Reni Silaki, Yuda Hadianto, Kwee Tik Liong, dan Surya Lesmana3.

Bersama Endang Witarsa, Tek Fong tidak hanya dididik menjadi seorang libero handal, tetapi juga diajarkan bagaimana menjalani kehidupan di luar lapangan sepak bola. Hasilnya, dia pun menjadi pemain yang sangat bersahaja, jujur, tidak sombong, selalu memelihara pertemanan, dan mudah diajak bicara oleh orang yang seusia maupun jauh di bawahnya. Seluruh ajaran tersebut membuat Endang Witarsa tampil sebagai sosok idola, sumber inspirasi, sekaligus guru yang menjadi panutan bagi Tek Fong.

Demikin pula sebaliknya, Endang Witarsa menganggap Tek Fong sebagai anak didik yang memiliki potensi sangat menjanjikan. Oleh karena itu, ketika dipercaya sebagai pelatih Persija pada tahun 1963, Endang turut membawa serta Tek Fong untuk bergabung dalam klub itu. Dan, bersama dengan Soetjipto Suntoro, Taher Yusuf, Domingus Wawayae, dan pemain lainnya mereka berhasil membawa Persija merebut piala Perserikatan pada tahun 19634.

Sukses membawa Persija ke tangga juara, Endang Witarsa ditunjuk sebagai pelatih tim nasional Indonesia. Dia pun membawa Tek Fong lagi untuk menjadi libero di barisan belakang timnas. Di sinilah prestasi Tek Fong kian cemerlang. Bersama dengan Seotjipto Soentoro, Abdul Kadir, Risdianto, Surya Lesmana, Yakob Sihasale, Reni Salaki, Yuswardi, Anwar Udjang dan pemain lainnya, Tek Fong berhasil meraih gelar juara bagi Indonesia. Gelar tersebut adalah: (1) juara Aga Khan Cup 1967 di Dhaka, Bangladesh; (2) Juara King's Cup 1968 di Bangkok, Thailand; dan (3) juara Merdeka Games 1969 di Kuala Lumpur, Malaysia.

Prestasi ciamik Tek Fong membuatnya dilirik banyak klub besar di Indonesia. Salah satunya adalah Pardedetex milik pengusaha asal Medan T.D Pardede. Walhasil, pada tahun 1969 Tek Fong hijrah ke Medan guna memperkuat barisan belakang Pardedetex. Namun, Tek Fong hanya bertahan di klub tersebut selama beberapa musim saja. Pada tahun 1972, Endang Witarsa yang saat itu menjadi pelatih Klub Warna Agung memintanya untuk bergabung. Alasannya, sang pemilik (Benny Mulyono) meminta Endang menarik sejumlah pemain nasional agar klub pabrik cat yang bermarkas di Jalan Pangeran Jayakarta itu dapat mencuat namanya.

Selain membela Warna Agung bersama Risdianto, Rully Nere, M. Basri, Yakob Sihasale, Timo Kapissa, dan Robby Binur, Warna Agung mencapai puncak kejayaannya, Tek Fong juga masih ditunjuk memperkuat squad tim nasional Indonesia. Bahkan, bersama pasukan merah putih Tek Fong dapat mempersembahkan trofi Anniversary Cup di Jakarta pada tahun 1972 dan trofi Pesta Sukan di Singapura pada tahun yang sama.

Kemenangan membela timnas Indonesia dalam Pesta Sukan di Singapura merupakan puncak karier Tek Fong sebagai pemain sepak bola, sebab beberapa tahun kemudian dia banting stir menjadi pelatih. Tok Fong ingin membaktikan diri sebagai salah seorang pelatih di Union Makes Strength (UMS), klub berusia lebih dari 100 tahun yang telah mengangkat dan membesarkan namanya. Salah satu prestasinya sebagai pelatih UMS adalah berhasil mengorbitkan Robo Solissa menjadi anggota Divisi Utama dalam Klub Persija. Robo Solissa merupakan anak didik Tek Fong yang dianggap paling cemerlang. Nyong Ambon ini dididik selama tiga tahun di Sekolah Sepak Bola UMS di Petak Sinkian.

Sukses menjadi pemain dan juga pelatih tidak lantas membuat Tek Fong hidup mentereng. Dia tetap bersahaja dan easy going walau tidak memiliki apa-apa kecuali kebanggaan akan masa lalunya. Aktivitas kesehariannya, apabila tidak sedang melatih di Petak Sinkian Tek Fong sering berkunjung ke Kantor Sekretariat PSSI di kawasan Senayan untuk sekadar berbagi cerita masa lalu dengan Idrus, karyawan paling senior di PSSI2. Pada malam hari biasanya dia akan bersantap sambil bersenda gurau bersama kerabat dan sahabatnya di sebuah kedai di bilangan Petak Sinkian. Suatu malam, ketika sedang bersenda gurau di kedai pada Ahad tanggal 31 Januari 2011 pukul 19.00 WIB, mendadak Tek Fong terkena serangan jantung. Ayah dari dua orang anak dan tiga cucu ini sempat dilarikan ke RS Husada di kawasan Mangga Besar. Akan tetapi, Tuhan berkehendak lain dan keburu memanggilnya sebelum sempat menjalani perawatan1. (Gufron)

Foto: https://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/thumb/2/21/Fan-tek-fong.jpg/220px-Fan-tek-fong.jpg
Sumber:
1. "Mantan Pemain Timnas Fan Tek Fong Wafat", diakses dari http://bola.tempo.co /read/news/2011/01/31/099310122/mantan-pemain-timnas-fan-tek-fong-wafat, tanggal 26 Agustus 2015.

2. "Mulyadi (Pemain Sepak Bola)", diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Mulyadi_(pemain _sepak_bola), tanggal 26 Agustus 2015.

3. "Mantan Pemain Timnas Fan Tek Fong Meninggal Dunia", diakses dari http://www. republika.co.id/berita/sepakbola/bolamania/11/01/31/161600-mantan-pemain-timnas-fan-tek-fong-meninggal-dunia, tanggal 27 Agustus 2015.

4. "Legenda Indonesia, Fan Tek Fong Meninggal", diakses dari http://bola.kompas.com/read /2011/01/31/14101621/Legenda.Indonesia..Fan.Tek.Fong.Meninggal, tanggal 27 Agustus 2015.

Hussein Jayadiningrat

Hussein Jayadiningrat atau Hoessein Djajadiningrat (ejaan lama) merupakan salah satu pelopor tradisi keilmuan di Indonesia. Pria yang bernama lengkap Pangeran Ario Hussein Jayadiningrat ini lahir di Kramatwatu, Serang, pada tanggal 8 Desember 18861. Ibunya bernama Ratu Salehah, sedangkan ayahnya adalah Raden Bagus Jayawinata, seorang Wedana yang kemudian menjadi Bupati Serang2.

Oleh karena berasal dari golongan keluarga menak yang memiliki status sosial sangat tinggi dalam masyarakat, maka tidak mengherankan apabila Hussein dapat mengenyam pendidikan hingga ke tingkat Hogere Burger School (HBS) atau sekolah menengah lima tahun. Setelah lulus dari HBS pada tahun 1899, atas anjuran Snouck Hurgronje (teman sejawat Raden Bagus Jayawinata yang bekerja sebagai penasihat pemerintah Kolonial untuk urusan pribumi Hindia), Hussein melanjutkan sekolah ke Universitas Leiden di Belanda pada tahun 19053.

Menurut Susan Blackburn yang dikutip oleh hukumonline.com, kemudahan menuntut pendidikan bagi Hussein sering dikaitkan dengan kebijakan Politik Etis Belanda yang membuka peluang bagi warga pribumi untuk mengenyam pendidikan tinggi. Namun, kebijakan ini hanya berlaku bagi kaum elit terpilih. Mereka dibawa ke sekolah Eropa di Batavia atau bahkan ke Belanda dan diasuh di bawah bimbingan orang-orang Eropa yang bersimpati terhadap bangsa Indonesia. Hussein dan kakak tertuanya (Pangeran Achmad Djajadiningrat) termasuk orang-orang yang mendapat kesempatan itu. Pangeran Achmad menjadi anak didik Snouck Hurgronje dan kemudian meneruskan jejak ayahnya menjadi bupati Serang, sementara Hussein dikirim ke Universitas Leiden setelah berhasil menamatkan pendidikan di HBS dan mengikuti kursus bahasa Latin dan Yunani Kuno.

Sebelum belajar di Leiden, awalnya Hussein ingin mengambil bidang hukum dan menjadi hakim. Namun, karena waktu itu tidak ada seorang pun pribumi yang bisa menjadi hakim, maka dia mengurungkan niat dan memilih program studi bahasa dan sastra. Padahal, apabila tetap memilih bidang hukum, Sang Kakak berhasil mempengaruhi Pemerintah Belanda hingga membentuk sebuah tim beranggotakan Snouck Hurgronje, van der Swan, dan Mr Koster untuk mempelajari kemungkinan mendirikan sekolah hakim bagi warga pribumi. Hasilnya, melalui Besluit Gubernement tanggal 9 Desember 1905, menteri jajahan diberi kuasa untuk mengangkat hakim dari kalangan bumiputera4.

Selama kuliah di Leiden, Hussein aktif dalam gerakan intelektual pelajar Indonesia yang pada masa itu telah memainkan peran penting bagi lahirnya ide dan gerakan Indonesia. Bersama dengan kawan-kawannya seperti Soemitro dan Noto Suroto, mereka mendirikan asosiasi mahasiswa Hindia dengan nama Indische Vereeniging pada tahun 1908. Indische Vereeniging merupakan embrio bagi lahirnya gerakan asosiasi pelajar Indonesia yang lebih radikal setelah berganti nama menjadi Indonesische Vereeniging atau Perhimpoenan Indonesia pada tahun 19225. Pada periode itulah para pelajar Indonesia sudah mulai berani terang-terangan menuntut kemerdekaan yang antara lain disuarakan melalui Majalah Indonesia Merdeka.

Selain aktif dalam gerakan pelajar, Hussein juga aktif dalam kegiatan tulis menulis. Sebelum menamatkan pendidikanya, pada tahun 1908 dia pernah memenangi kompetisi penulisan ilmiah di Universitas Leiden dengan judul " Critische overzicht van de geschiedenis van het Soeltanaat van Aceh" (Analisis Kritis atas Sumber Berbahasa Melayu tentang Sejarah Kesultanan Aceh). Tulisan ini kemudian diterbitkan di jurnal prestisius internasional: Bijdragen tot de taal, land- en volkenkunde (Kontribusi untuk Linguistik, Antropologi dan Etnologi) Volume 65 yang terbit pada tahun 19115.

Pada akhir masa studinya, Hussein berhasil membuat sebuah disertasi berjudul Critische Beschouwing van de Sedjarah Banten. Bijdrag ter kenschetsing van de Javaansche Geschiedschrijving (Analisis Kritis atas Sejarah Banten: Sebuah Kontribusi atas Historiografi Jawa) di bawah bimbingan promotor Snouck Hurgronje. Disertasi ini berhasil dipertahankannya di hadapan sidang penguji pada bulan Oktober 1913. Hussein lulus dengan predikat cumlaude. Sebagai catatan, Hussein dianggap sebagai orang pertama yang menyatakan hari kelahiran Jakarta, karena di dalam disertasinya menyebutkan bahwa hari lahir Jayakarta (Jakarta) adalah pada tanggal 1 Juni 1527.

Setelah mendapat gelar Doktor Hussein kembali ke tanah air. Dia memulai karir di Jawatan Bahasa dan kemudian ditugaskan ke Aceh (1914-1915) untuk menyusun sebuah kamus tentang bahasa Aceh. Hasilnya, dengan bantuan Teuku Mohammad Nurdin, H. Abu Bakar Aceh, dan Hazeu, Hussein berhasil membuat Kamus Bahasa Aceh berjudul (Atjeh-Nederlandsch Woordenboek)3. Hingga kini, Atjeh-Nederlandsch Woordenboek (jilid I 1011 halaman dan Jilid II 1349 halaman) merupakan kamus terlengkap yang pernah dibuat tentang bahasa-bahasa Nusantara4.

Sekembalinya dari Aceh, Hussein menjabat sebagai Komisaris Negara (Ajunct-Adviseur) untuk Urusan Bumiputera. Selain itu, dia juga menjadi pembina (penanggung jawab) Sekar Roekoen, sebuah surat kabar bulanan berbahasa Sunda yang diterbitkan oleh Perkoempoelan Sekar Roekoen, menerbitkan Majalah Pusaka Sunda yang membahas seputar kebudayaan Sunda, dan bersama Raden Poerbatjaraka mendirikan Java Instituut serta menjadi redaktur majalah di lembaga itu (Majalah Djawa).

Beberapa tahun menjadi Ajunct-Advisiuer, pada 1924 Hussein diangkat menjadi guru besar Reschtchoogeschool (Sekolah Tinggi Hukum Batavia atau RHS) untuk mata kuliah Hukum Islam, bahasa Jawa, Melayu dan Sunda. Pengangkatan ini menjadikan Hussein sebagai orang pribumi pertama yang diangkat menjadi guru besar4. Satu dekade kemudian, tepatnya tahun 1935, dia diangkat menjadi Anggota Dewan Hindia (Raad van Indie). Tahun 1936, setelah bertahun-tahun menjadi konservator naskah (manuskrip) dan anggota direksi Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, Hussein akhirnya diangkat menjadi ketuanya.

Pada tahun 1940 Hussein dipercaya menduduki jabatan sebagai Direktur Pengajaran Agama. Menurut hukumonline.com, kiprah Hussein di lembaga ini antara lain adalah memimpin sebuah komisi guna menampung saran Snouck Hurgronje yaitu meninjau kembali Raad agama atau Priesterraad dalam proses pendirian Pengadilan Agama di Indonesia. Hasil dari komisi ini, salah satunya adalah mengganti istilah Priesterraad menjadi Penghoeloerecht (Majelis Pengadilan Penghulu) yang terdiri dari penghulu sebagai hakim dan dibantu oleh dua orang penasihat serta seorang panitera.

Ketika Jepang Berkuasa, Hussein ditunjuk sebagai Kepala Kantor Urusan Agama (Shumubu) lalu Chua Sangiin Pusat. Setelah Indonesia merdeka dia menduduki jabatan sebagai Menteri Pengajaran, Kesenian, dan Ilmu Pengetahuan dalam kabinet Presiden Soekarno. Dan, pada tahun 1952, dia dikukuhkan sebagai guru besar pada Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Terakhir, pada tahun 1957 menjadi pemimpin umum merangkap anggota komisi istilah pada Lembaga Bahasa dan Budaya (LBB). Tiga tahun kemudian, tepatnya pada 12 November 1960 Prof. Hussein Jayadiningrat wafat dalam usia 74 tahun.

Sepanjang hidupnya Hussein Jayadiningrat telah mencacatkan dirinya sebagai salah seorang pelopor tradisi keilmuan di Indonesia. Karya-karyanya banyak yang dijadikan rujukan dalam bidang hukum, bahasa, maupun kebudayaan. Karya-karya itu di antaranya: (1) Mohammedaansche wet en het geerstelsen der Indonesische Mohammedanen (pidato ilmiah di Sekolah Tinggi Hukum, 1925); (2) De Magische achtergrond van de Maleische pantoen (pidato ilmiah dina raraga miéling tepung taun STH ka-9, 1933); (3) De naam can den eerste Mohammedaanschen vorst in West Java (1933); (4) Apa Artinya Islam (pidato ilmiah tepung taun UI ka-4); (5) Hari Lahirnya Djajakarta (1956); (6) Konttekeningen bij “Het Javaanse Rijk Tjerbon un de eerste eeuwen van zijn bestaan (1957); (7) Islam in Indonesia (dina Kenneth D. Morgan, Islam the Straight Path, 1956); (8) Pengaruh Islam di Iran dina Islam di Indonesia (dina Ivan Noris, 1959); dan (9) Local Traditions and the Study of Indonesian History (dina Soedjatmoko, dkk., An Introduction to Indonesian Historiography, 1965)3.

Atas dedikasinya dalam bidang keilmuan tersebut, pada tanggal 13 Agustus 2015 Presiden Joko Widodo atas nama negara memberikan Tanda Kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma di Istana Negara6. Peraih penghargaan lainnya berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 86/TK/tahun 2015 tanggal 7 Agustus 2015 adalah: (1) KH. Mustofa Bisri (pengasuh Pondok Pesantren Raudlatuh Tholibin Lteteh, Rembang); (2) Goenawan Soesatyo Mohamad (sastrawan budayawan); (3) Alm. Petrus Josephus Zoetmulder (ahli sastra Jawa Kuno dan Penyusun Kamus Jawa Kuno Inggris); (4) Alm. Wasi Jolodoro [Ki Tjokrowasito], (komposer musik karawitan Jawa dan pendukung utama Sedra Tari Ramayana); (5) Alm. Nursjiwan Tirtaamidjaja (perancang busana dan batik); (6) Alm. Hendra Gunawan (pelukis dan pematung); dan (7) Alm. Soejoedi Wiroatmojo (arsitek). (ali gufron)

Foto: https://paskibraoftwentysix.wordpress.com/2014/06/24/mengapa-hut-jakarta-22-juni/
Sumber:
1. "Hussein Jayadiningrat: Doktor Pertama di Indonesia" diakses dari http://www.mensobsession.com/article/detail/330/hussein-jayadiningrat-doktor-pertama-di-indonesia, tanggal 12 Agustus 2015.

2. Hussein Djajadiningrat", diakses dari http://www.jakarta.go.id/web/encyclopedia/detail/3662/Hussein-Djajadiningrat, tanggal 15 Agustus 2015.

3. "Hussein Jayadiningrat", diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Hussein_Jayadiningrat, tanggal 16 Agustus 2015.

4. "Profesor Indonesia dalam Pembukaan Rechtshogeschool", diakses dari http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt52175f1148b36/profesor-indonesia-dalam-pembukaan-irechtshogeschool-i, tanggal 15 Agustus 2015.

5. "Mengenang Satu Abad Husein Jayadiningrat", diakses dari http://news.detik.com/kolom/2434780/mengenang-satu-abad-husein-jayadiningrat, tanggal 18 Agustus 2015.

6. "Jokowi beri Tanda Kehormatan ke 46 Orang dari Paloh sampai Goenawan Mohamad", diakses dari http://news.detik.com/berita/2990828/jokowi-beri-tanda-kehormatan-ke-46-orang-dari-paloh-sampai-goenawan-mohamad, tanggal 25 Agustus 2015.

Desa Cisurat

Letak dan Keadaan Alam
Desa Cisurat terletak di Kecamatan Wado, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Desa ini sebagian besar wilayahnya diperkirakan bakal tergenang dan menjadi bagian dari Waduk Jatigede. Secara keseluruhan, luas Desa Cisurat mencapai 367,605 ha, dengan batas-batas administratif: sebelah utara berbatasan dengan Desa Sukamenak Kecamatan Darmaraja, sebelah timur berbatasan dengan Desa Wado, sebelah selatan dengan Desa Sukapura, dan sebelah barat dengan Desa Ranggon. Topografinya berupa dataran berbukit yang berketinggian antara 250--270 meter di atas permukaan air laut dan bersuhu udara rata-rata 26˚--30˚.

Keberadaan Desa Cisurat di Kabupaten Sumedang sudah dimulai pada sekitar tahun 1922 yang dipimpin oleh seorang kuwu bernama Sukatma Reja. Nama desa ini sendiri konon diambil dari surat yang hanyut dibawa aliran Sungai Cimanuk. Waktu itu, ada seorang utusan dari Kerajaan Pajajaran yang sedang melepas lelah dengan mandi di Sungai Cimanuk. Ketika akan melepas pakaian, secara tidak sengaja surat yang dibawanya dari Pajajaran jatuh dan terbawa aliran Cimanuk hingga ditemukan warga di suatu daerah. Daerah di mana surat tersebut ditemukan diberi nama Cisurat.

Sosial Budaya
Jumlah penduduk Desa Cisurat berdasarkan data hasil Sensus Penduduk Tahun 2008 tercatat sebanyak 3.190 jiwa, tahun 2009 sebanyak 3.194 jiwa, tahun 2010 tercatat sebanyak 3.183 jiwa, dan tahun 2011 mengalami kenaikan sebesar 8,24% menjadi 3.135 jiwa atau 865 Kepala Keluarga (KK). Dari jumlah keseluruhan penduduk tersebut ada 30 orang yang masih dalam pendidikan PAUD, 400 orang di bangku Sekolah Dasar, 187 orang di bangku SLTP, dan 100 orang duduk di bangku SLTA.

Secara administratif dan teritorial, Desa Cisurat terdiri dari 2 dusun, yaitu Dusun Sukamanah dan Dusun Cisurat. Dusun Sukamanah terdiri dari 1 Rukun Warga dan 5 Rukun Tetangga dengan Kepala Dusunnya bernama Karyadi atau biasa dipanggil Abah Olot. Luas wilayah dusun ini sekitar 85 hektar, terdiri atas 35 hektar persawahan, 40 hektar perkebunan dan sisanya pemukiman penduduk dengan jumlah 400 bangunan yang dihuni oleh 1275 orang.

Dalam bidang pendidikan, Dusun Sukamanah memiliki sebuah Sekolah Dasar swasta, sebuah Taman Pendidikan Al-Quran, dan sebuah Sekolah Dasar Negeri bernama SDN 2 Cipunagara. Tetapi, walau sarana pendidikan hanya sampai Sekolah Dasar, mayoritas penduduk berpendidikan SLTP atau Sederajat. Bahkan ada pula beberapa yang melanjutkan hingga ke jenjang perguruan tinggi.

Dalam bidang kesehatan, Dusun Sukamanah memiliki 1 buah posyandu sebagai sarana pemeriksaan kesehatan ibu hamil dan balita. Sementara untuk urusan agama dan kepercayaan, dusun ini memiliki 4 buah masjid dan sebuah situs bersejarah berupa makam keramat Eyang Prabu Guru Aji Putih, leluhur masyarakat Desa Cisurat.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup, mayoritas warga masyarakat Sukamanah bermata pencaharian sebagai petani. Sedangkan sisanya, ada yang menjadi peternak, peladang, dan buruh tani. Salah satu faktor yang menyebabkan banyak penduduk yang berprofesi sebagai petani adalah karena tanah di Dusun Sukamanah relatif subur dengan sistem irigasi sangat baik. Bahkan, para petani cenderung lebih menanam padi pada musim ketiga (kemarau) karena sistem irigasi menjadi lebih efisien ketimbang saat musim penghujan.

Dalam sektor perkebunan mayoritas penduduk menanam jagung, tembakau, kacang tanah, dan singkong. Sedangkan dalam peternakan dan perikanan kebanyakan memelihara domba, sapi, bebek, ayam, ikan mas, dan ikan lele. Seluruh hasil panen biasanya dijual secara borongan pada para bandar atau tengkulak yang secara rutin datang ke dusun.

Dusun selanjutnya bernama sama seperti desanya yaitu Cisurat. Dusun Cisurat terdiri dari 1 Rukun Warga dan 15 Rukun Tetangga dengan Kepala Dusunnya bernama Abah Nana. Karakteristik Dusun Cisurat relatif sama dengan Dusun Sukamanah sehingga dari sektor pendidikan, kesehatan, mata pencaharian, dan agama maupun kepercayaannya tidak ada perbedaan yang mencolok. Di dusun ini juga terdapat situs yang dinamai Situs Keramat Eretan, berupa makam keramat Embah Geulis, isteri Prabu Gajah Agung. (ali gufron)

Syekh Nawawi al-Bantani

Syekh Nawawi al-Bantani merupakan salah seorang ulama besar asal Banten yang ahli dalam bidang fiqih, tauhid, tafsir, tasawuf, dan hadist. Syekh Nawawi lahir dengan nama Abû Abdul Mu’ti Muhammad Nawawi bin ‘Umar bin ‘Arabi di Kampung Tanara, Kecamatan Tirtayasa, Serang, pada tahun 1815 M1. Ayahnya bernama Umar bin 'Arabi dan ibu Zubaedah. Berdasarkan silsilah dari Sang Ayah, Syekh Nawawi bernasab pada Pangeran Sunyararas, keturunan ke-12 Sultan Banten Maulana Hasanuddin, Putra Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati). Nasab ini apabila dirunut lebih jauh akan sampai pada Husein, cucu Nabi Muhammad SAW2.

Mengacu pada nasab tersebut, maka tidak mengherankan apabila Syekh Nawawi tumbuh dalam suasana keagamaan yang sangat kuat. Semenjak kecil beliau telah dibimbing dan diarahkan oleh Sang Ayah menjadi seorang ulama. Ketika memasuki usia 8 tahun Sang Ayah membawanya pada Kyai Sahal untuk belajar mengaji. Setelah itu dibawa lagi ke Purwakarta untuk belajar pada Kyai Yusuf3. Sepulang dari Purwakarta, Nawawi muda mulai menerapkan ilmu yang diperoleh guna mengajar orang-orang di kampungnya. Beliau memilih lokasi di tepi pantai agar lebih leluasa mengajar murid-muridnya yang kian hari bertambah banyak1.

Saat berusia 15 tahun, bersama dua orang saudaranya, Nawawi menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci. Namun, setelah musim haji usai beliau tidak langsung kembali ke tanah air, melainkan ingin menimba ilmu kepada para ulama besar asal Indonesia yang ada di Mekkah, seperti Syekh Ahmad Khatib Sambas, Abdul Ghani Bima, Yusuf Sumbulaweni, Syekh Sayyid Ahmad Nahrawi, Syekh Ahmad Dimyati, Syekh Ahmad Zaini Dahlan, Muhammad Khatib Hambali, Syekh Abdul Hamid Daghestani, Syekh Junaid Al-Betawi4.

Setelah tiga tahun berguru pada para syekh di Mekkah Nawawi pulang ke Banten dan mengajar di pesantren milik ayahnya. Namun karena waktu itu beliau sering menyaksikan praktik-praktik ketidakadilan, kesewenang-wenangan, dan penindasan yang dilakukan oleh Pemerintah Hindia Belanda yang semakin merajalela, maka timbullah nasionalismenya. Beliau kemudian berkeliling Banten untuk mengobarkan perlawanan terhadap Belanda. Hal ini tentu saja membuat Pemerintah Belanda membatasi gerak-geriknya dengan cara melarangnya berkhutbah di berbagai masjid. Bahkan, untuk mematahkan semangatnya, Nawawi juga dituduh sebagai pengikut Pangeran Diponegoro yang ketika itu sedang mengobarkan perlawanan terhadap Belanda.

Ketiadaan ruang gerak ini akhirnya membuat Syekh Nawawi mengambil keputusan untuk kembali ke Mekkah pada sekitar tahun 1830 M. Di sana beliau menekuni kembali ilmu agama hingga akhirnya dapat mengajar di halaman rumahnya di daerah Syi'ib 'Ali. Mula-mula muridnya hanya berjumlah puluhan orang, kemudian jumlahnya semakin bertambah banyak dan datang dari berbagai penjuru dunia. Di antara para murid tersebut adalah: KH Hasyim Asy'ari (pendiri Nahdlatul Ulama); KH Khalil dari Bangkalan, Madura; KH Mahfudh at-Tarmisi dari Tremas, Jawa Timur; KH Asy'ari dari Bawean; KH Nahjun dari Tangerang; KH Asnawi dari Labuan; KH Ilyas dari Serang; KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah); KH Tubagus Bakri dari Purwakarta; KH Abdul Ghaffar dari Serang; KH Mas Muhammad Arsyad Thawil dari Serang; dan lain sebagainya. Mereka belajar ilmu tauhid, fiqih, tafsir, dan tasawwuf.

Seiring waktu, namanya semakin melejit di jazirah Arab dan akhirnya ditunjuk menjadi Imam Masjidil Haram menggantikan Syekh Ahmad Khatib Sambas yang telah berusia lanjut. Dan, sejak saat itu beliau dikenal dengan nama resmi Syekh Nawawi al-Bantani al-Jawi. Artinya, Syekh Nawawi dari daerah Banten, Jawa. Selain penambahan nama, berkat keintelektualannya dalam bidang agama Syekh Nawawi juga mendapat berbagai macam gelar dan julukan, diantaranya: Doktor Ketuhanan yang diberikan oleh Snouck Hourgronje1; al-Imam wa al-Fahm al Mudaqqiq (Tokoh dan pakar dengan pemahaman mendalam) yang diberikan oleh para intelektual masa itu; al-Sayyid al-'Ulama al-Hijaz (Tokoh ulama Hijaz/jazirah Arab); dan A'yan 'Ulama al-Qarn ar-Ram 'Asyar Li al-Hijrah5.

Keintelektualan Syekh Nawawi dalam bidang ilmu agama ditandai dengan banyaknya kitab yang berhasil ditulisnya. Sabrial.wordpress.com, menyatakan Syekh 'Umar' 'Abdul Jabbar (Ulama Mesir) pernah menyinggung dalam kitabnya yang berjudul "al-Durûs min Mâdhi al-Ta’lîm wa Hadlirih bi al-Masjidil al-Harâm” (beberapa kajian masa lalu dan masa kini tentang pendidikan masa kini di Masjidil Haram) bahwa Syekh Nawawi sangat produktif menulis sehingga karyanya telah mencapai lebih dari seratus judul dalam berbagai disiplin ilmu (tauhid, kalam, sejarah, syari'ah, tafsir, dan lain sebagainya). Dari seluruh karya tersebut, menurut senibudaya-ind.blogspot.com, 34 buah diantaranya tercatat dalam Dictionary of Arabic Printet Books karya Yusuf alias Sarkis.

Karya-karya Syekh Nawawi sebagian besar diterbitkan di Mesir dan kemudian disebarluaskan ke seluruh penjuru Timur Tengah dan wilayah Asia Tenggara, termasuk Malaysia, Filipina, Thailand, serta pesantren-pesantren yang ada di Indonesia. Khusus untuk Indonesia, pengaruh kitab-kitab Syekh Nawawi membawa perubahan mencolok pada kurikulum pesantren terutama dalam bidang tafsir, ushul fiqh, dan hadists. Bahkan, hingga sekitar tahun 1990, diperkirakan terdapat sekitar 22 buah karya Syekh Nawawi yang masih dipergunakan oleh banyak pesantren di Pulau Jawa.

Kitab-kitab karya Syekh Nawawi didasarkan atas faham Asy'ariyyah dan Maturidiyyah yang dianutnya. Faham yang dilahirkan oleh Abu Hasan al Asyari dan Abu Manshur al Maturidi ini memfokuskan diri pada pembelajaran sifat-sifat Ilahi. Sedangkan mazhab fikihnya mengikut Imam Syafi'i3. Adapun kitab-kitab itu di antaranya adalah: (1) al-Tsamâr al-Yâni’ah syarah al-Riyâdl al-Badî’ah; (2) al-‘Aqd al-Tsamîn syarah Fath al-Mubîn; (3) Sullam al-Munâjah syarah Safînah al-Shalâh; (4) Baĥjah al-Wasâil syarah al-Risâlah al-Jâmi’ah bayn al-Usûl wa al-Fiqh wa al-Tasawwuf; (5) al-Tausyîh/ Quwt al-Habîb al-Gharîb syarah Fath al-Qarîb al-Mujîb; (6) Niĥâyah al-Zayyin syarah Qurrah al-‘Ain bi Muĥimmâh al-Dîn; (7) Marâqi al-‘Ubûdiyyah syarah Matan Bidâyah al-Ĥidâyah; (8) Nashâih al-‘Ibâd syarah al-Manbaĥâtu ‘ala al-Isti’dâd li yaum al-Mi’âd; (9) Salâlim al-Fadhlâ΄ syarah Mandhûmah Ĥidâyah al-Azkiyâ΄; (10) Qâmi’u al-Thugyân syarah Mandhûmah Syu’bu al-Imân; (11) al-Tafsir al-Munîr li al-Mu’âlim al-Tanzîl al-Mufassir ‘an wujûĥ mahâsin al-Ta΄wil musammâ Murâh Labîd li Kasyafi Ma’nâ Qur΄an Majîd; (12) Kasyf al-Marûthiyyah syarah Matan al-Jurumiyyah; (13) Fath al-Ghâfir al-Khathiyyah syarah Nadham al-Jurumiyyah musammâ al-Kawâkib al-Jaliyyah; (14) Nur al-Dhalâm ‘ala Mandhûmah al-Musammâh bi ‘Aqîdah al-‘Awwâm; (15) Tanqîh al-Qaul al-Hatsîts syarah Lubâb al-Hadîts; (16) Madârij al-Shu’ûd syarah Maulid al-Barzanji; (17) Targhîb al-Mustâqîn syarah Mandhûmah Maulid al-Barzanjî; (18) Fath al-Shamad al ‘Âlam syarah Maulid Syarif al-‘Anâm; (19) Fath al-Majîd syarah al-Durr al-Farîd; (20) Tîjân al-Darâry syarah Matan al-Baijûry; (21) Fath al-Mujîb syarah Mukhtashar al-Khathîb; (22) Murâqah Shu’ûd al-Tashdîq syarah Sulam al-Taufîq; (23) Kâsyifah al-Sajâ syarah Safînah al-Najâ; (24) al-Futûhâh al-Madaniyyah syarah al-Syu’b al-Îmâniyyah; (25) ‘Uqûd al-Lujain fi Bayân Huqûq al-Zaujain; (26) Qathr al-Ghais syarah Masâil Abî al-Laits; (27) Naqâwah al-‘Aqîdah Mandhûmah fi Tauhîd; (28) al-Naĥjah al-Jayyidah syarah Naqâwah al-‘Aqîdah; (29) Sulûk al-Jâdah syarah Lam’ah al-Mafâdah fi bayân al-Jumu’ah wa almu’âdah; (30) Hilyah al-Shibyân syarah Fath al-Rahman; (31) al-Fushûsh al-Yâqutiyyah ‘ala al-Raudlah al-Baĥîyyah fi Abwâb al-Tashrîfiyyah; (32) al-Riyâdl al-Fauliyyah; (33) Mishbâh al-Dhalâm’ala Minĥaj al-Atamma fi Tabwîb al-Hukm; (34) Dzariyy’ah al-Yaqîn ‘ala Umm al-Barâĥîn fi al-Tauhîd; (35) al-Ibrîz al-Dâniy fi Maulid Sayyidina Muhammad al-Sayyid al-Adnâny; (36) Baghyah al-‘Awwâm fi Syarah Maulid Sayyid al-Anâm; (37) al-Durrur al-Baĥiyyah fi syarah al-Khashâish al-Nabawiyyah; (38) Lubâb al-bayyân fi ‘Ilmi Bayyân.

Setelah berhasil membuahkan ratusan buah kitab dan mengabdikan diri sepenuhnya pada agama Islam, Syekh Nawawi al-Bantani wafat dalam usia 84 tahun di Syeib 'Ali pada 25 Syawal 1314 Hijriah/1897 Masehi. Suami dari Nyai Nasiham dan ayah dari Nafisah, Maryam, Rubiah ini dimakamkan di Ma'la, berdekatam dengan makam Asma binti Abu Bakar As-Shiddiq, anak Sayyidina Abu Bakar As-Shiddiq. Sebagai catatan, pemerintah Kerajaan Saudi pernah mencoba memindahkan jasad beliau karena - sesuai dengan peraturan setempat - jasad orang yang telah dikubur selama satu tahun di Ma'la harus digali kembali dan dipindahkan ke tempat lain yang ada di luar kota. Tetapi ketika makam Syekh Nawawi dibongkar ternyata jasadnya masih utuh tanpa adanya tanda-tanda pembusukan mereka segera mengurungkannya. (gufron)

Sumber:
1. "Nawawi al-Bantani", diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Nawawi_al-Bantani, tanggal 10 Agustus 2015.

2. "Ulama Indonesia yang Menjadi Imam Masjidilharam", diakses dari http://daerah.sindonews.com/read/917708/29/ulama-indonesia-yang-menjadi-imam-masjidilharam-bagian-2-habis-1414689759/6, tanggal 10 Agustus 2015.

3. "Kisah Ulama Asal Banten yang Menjadi Imam Masjidil Haram", diakses dari http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/13/07/23/mqdrwi-kisah-ulama-asal-banten-yang-menjadi-imam-masjidil-haram, tanggal 11 Agustus 2015.

4. "Syaikh Nawawi al Bantani, diakses dari https://sabrial.wordpress.com/syaikh-nawawi-al-bantani-4/, tanggal 9 Agustus 2015.

5. "Riwayat Hidup Syekh Nawawi al Bantani", diakses dari http://senibudaya-ind.blogspot.com/2014/03/riwayat-hidup-syekh-nawawi-al-bantani.html, tanggal 9 Agustus 2015.

Kue Cucuk Gigi

Cucuk gigi merupakan kue kering khas Lampung berbentuk bulat-lonjong dengan ujung meruncing. Konon, karena bentuknya yang lancip dan meruncing mirip seperti tusuk gigi, sehingga orang Lampung lalu menamakannya cucuk gigi. Penganan berasa asin ini umumnya disajikan oleh para ibu rumah tangga sebagai cemilan saat bersantai sambil menonton acara televisi maupun sebagai teman minum kopi bagi para bapak yang sedang berdiskusi.

Cucuk gigi terbuat dari berbagai macam bahan, dengan komposisi: dua kilogram tepung sagu/aci, satu kilogram tepung terigu, empat butir telur ayam, 250 gram mentega, minyak goreng, tiga bonggol bawang putih, kemiri, satu sendok makan ketumbar, garam, irisan sepuluh lembar daun seledri, dan irisan sepuluh lembar daun jeruk.

Adapun proses pembuatannya diawali dengan menghaluskan bumbu-bumbu seperti bawang putih, ketumbar, dan kemiri. Selanjutnya, campur bumbu-bumbu tersebut dalam adonan tepung terigu dan aduk hingga merata. Bila adonan telah rata dan menggumpal tuangkan mentega cair panas lalu aduk hingga dingin. Kemudian, masukkan telur serta daun jeruk dan daun seledri lalu campur tepung sagu sedikit demi sedikit hingga tidak lengket di tangan. Terakhir, bentuk adonan menyerupai batang korek api lalu digoreng hingga berwarna agak kecoklatan. (ali gufron)

Sumber:
Hindun (54 Tahun)
Desa Peraduan Waras, Kecamatan Abung Timur, Kabupaten Lampung Utara

Desa Wado

Letak dan Keadaan Alam
Desa Wado berada di Kecamatan Wado, Kabupaten Sumedang. Desa ini luasnya sekitar 280,383 hektar, dengan rincian: hutan bambu 3,05 ha, tanah carik desa, 5,011 ha, hutan 1,011 ha, pekarangan 23,024 ha, persawahan 201,051 ha, perkebunan 33,961 ha, perkebunan palawija 8,00 ha, tanah hibah masyarakat 0,275 ha, dan sungai/selokan 5 ha. Dari luas keseluruhan tersebut ada sebagian yang telah dibebaskan dan kepemilikannya diambil alih oleh pemerintah untuk dijadikan daerah genangan Waduk Jatigede.

Mata Pencaharian
Jenis-jenis mata pencaharian yang digeluti oleh warga masyarakat Desa Wado sangat beragam, seperti: PNS,Guru honorer/GTY/GTT, TNI/Polri, pensiunan PNS/TNI/Polri, karyawan swasta, buruh, tukang, wiraswasta, pedagang keliling, petani, buruh tani, Kuli, tukang ojeg, dokter, perawat, bidan, dan lain sebagainya. Dari sekian banyak jenis mata pencaharian tersebut yang menempati porsi paling besar adalah petani, terdiri dari petani pemilik sawah/ladang (1.953 orang) dan buruh tani (363 orang). Urutan kedua adalah buruh (1.120 orang), disusul oleh pedagang (320 orang), karyawan swasta (66 orang), pedagang keliling (62 orang), tukang ojeg (58 orang), dan lain sebagainya.

Adapun sarana ekonomi yang berfungsi sebagai penunjang mata pencaharian penduduk diantaranya adalah: satu buah konveksi yang berada di Dusun Wadogirang, 10 buah bengkel sepeda motor, 1 buah SPBU mini yang berada di Dusun Maleber, 2 buah warung internet (warnet), 15 buah toko, 1 buah Waserba yang berada di Wadogirang, 75 buah warung, 4 buah rumah penggilingan padi, 113 buah tempat pertukangan, 3 buah bengkel las yang berada di Dusun Malebar, 12 buah tempat tambal ban, 6 buah perajin makanan ringan, 7 buah warung baso, 1 buah klinik kesehatan yang berada di Dusun Maleber, 1 buah rental mobil yang berada di Dusun Wadogirang, 3 buah koperasi yang berada di Dusun Wadogirang, 5 buah counter HP/pulsa, 1 buah rental komputer, 3 buah kontrakan yang berada di Wadogirang, dan 8 buah makloon.

Pendidikan dan Kesehatan
Sarana pendidikan yang terdapat di Desa Wado diantaranya adalah: (1) PAUD Puspa Wiyata yang berada di Dusun Buahngariung RT01/RW06 dengan jumlah murid 42 orang; (2) PAUD Wiyata Medal Lestari yang berada di Dusun Maleber RT03/RW04 dengan jumlah murid sebanyak 63 orang; (3) PAUD Padarahayu yang berada di Dusun Wadogirang RT03/RW03 dengan jumlah murid 28 orang; (4) TK Al-Qomary yang berada di Dusun Wadogirang RT04/RW03 dengan jumlah murid 32 orang; (5) TK PGRI yang berada di Dusun Maleber RT02/RW04 dengan jumlah murid 28 orang; (6) SD Pasirmasigit yang berada di Dusun Maleber RT04/RW05 dengan jumlah murid 121 orang; (7) SDN Wado yang berada di Dusun Wadogirang RT01/RW02 dengan jumlah murid 427 orang; (8) SDN Buahngariung I yang berada di Dusun Buahngariung RT01/RW07 dengan jumlah murid 88 orang; dan (9) SDN Buahngariung II yang berada di Dusun Buahngariung RT01/RW07 dengan jumlah murid 80 orang.

Gambaran di atas menunjukkan bahwa sarana pendidikan yang dimiliki oleh Desa Wado hanya sampai Sekolah Dasar (SD). Adapun tingkat pendidikan yang dicapai oleh warga masyarakat Wado sebagian besar SD/sederajat (1.978 orang). Sebagian lainnya yang jumlahnya cukup besar adalah tamatan SLTP/sederajat (1.195 orang) dan tamatan SLTA/sederajat (839 orang). Sedangkan, yang menamatkan Akademi/Perguruan Tinggi hanya 143 orang.

Sementara untuk sarana kesehatan hanya ada satu unit Puskesmas, 1 unit rumah bidan,1 unit Polindes, 1 unit POD, 1 unit desa siaga, dan 4 unit Posyandu dengan tenaga medis terdiri atas: 3 orang dokter umum, 1 orang dokter spesialis, 4 orang bidan, 8 orang perawat, dan 30 orang kader kesehatan lainnya. Selain itu, ada juga tiga orang dukun bersalin terlatih atau paraji yang siap membantu kaum perempuan dalam proses kelahiran.

Agama dan Kepercayaan
Masyarakat Desa Wado seluruhnya beragama Islam. Desa ini memiliki 4 buah mesjid dan 39 buah mushola yang tersebar di permukiman penduduk. Dalam melaksanakan keagamaannya (Islam), khususnya yang berkenaan dengan ibadat (sholat lima waktu), mereka pergi ke mesjid dan mushola terdekat. Tempat ibadat, baik mesjid maupun mushola, tidak hanya sebagai tempat menjalankan sholat lima waktu, tetapi juga sholat-sholat lainnya yang berkenaan dengan agama Islam, seperti: Jumatan, Idul-fitrian, dan Idul-adhaan. Selain itu, juga digunakan sebagai tempat penyebaran agama (pengajian) dan berkesenian (qasidahan).

Sebagaimana masyarakat pedesaan lainnya, masyarakat Desa Wado, juga sebagian masih ada warga yang dipengaruhi oleh kepercayaan-kepercayaan yang berbau animisme, dinamisme, dan kekuatan magis lainnya yang tercermin dari berbagai kepercayaan terhadap makhluk-makhluk halus, upacara yang berkenaan dengan roh nenek moyang (para leluhur atau karuhun), upacara di lingkaran hidup individu, dan perilaku tertentu untuk memperoleh sesuatu yang diinginkan. (ali gufron)

Sang Merak dan Kutilang

(Cerita Rakyat DKI Jakarta)

Alkisah, di sebuah hutan ada seekor merak yang sangat sombong karena memiliki bulu indah serta suara amat merdu. Dia selalu saja memakerkan kelebihannya itu pada seluruh penghuni hutan. Hal ini berbanding terbalik dengan kutilang yang bertubuh kecil dan suaranya amatlah buruk. Apabila bertemu dengan penghuni hutan lainnya dia selalu menjadi bahan olok-olokan. Tetapi hal itu tidak merisaukannya. Dia tetap riang gembira dan suka menolong sesama.

Suatu hari, Kutilang melihat ada sekelompok bunga yang tertunduk layu. Penasaran, dia pun menghampiri mereka. Namun ketika ditanya, para bunga tidak menjawab. Mereka hanya menggeleng lemah lalu tertunduk lagi. Oleh karena tidak puas hanya mendapat jawaban berupa gelengan, Kutilang lalu terbang berkeliling di sekitar kumpulan bunga layu itu untuk mencari tahu masalahnya.

"Wah, pantas saja mereka menjadi layu," pikir Kutilang ketika melihat peri bunga tergeletak lemah tak berdaya di antara akar-akar pohon waru.

Ketika telah berada dekat dengan sang Peri Bunga, Kutilang bertanya, "Apa yang terjadi denganmu wahai peri?"

"Sayapku patah dipatuk Merak," jawab Peri Bunga Lemah.

"Kenapa dia berbuat begitu padamu?" tanya Kutilang.

"Dia terlalu sombong sehingga aku menolak memujinya," jawab Peri Bunga.

"Sudahlah, dia memang begitu. Lebih baik aku mengobatimu, tetapi bagaimana caranya yah?" tanya Kutilang bingung.

"Obatnya hanyalah sari bunga anggrek bulan. Tapi bunga itu hanya tumbuh di puncak pohon yang sulit dijangkau, sementara aku tidak dapat terbang lagi," ujar Peri Bunga memelas.

"Jangan khawatir, sekarang engkau naiklah ke punggungku. Aku akan membawamu ke puncak pohon meranti. Kalau tidak salah lihat, di sana ada sekuntum anggrek bulan," jawab Kutilang panjang lebar.

"Tubuhmu kan kecil. Apa engkau kuat membawaku?" tanya Peri Bunga ragu.

"Tubuhmu juga kecil. Kita coba aja. Nanti kalo tidak kuat paling jatuh, hehehe," jawab Kutilang sambil meringis.

Walau masih ragu, secara perlahan Peri Bunga naik ke punggung Kutilang. Tidak lama kemudian Kutilang terbang dengan susah payah menuju puncak pohon meranti. Namun, karena beban yang dibawanya terlalu berat, dia hanya dapat hinggap di ranting dekat anggrek bulan. Selama beberapa saat mereka hanya diam saja. Kutilang sudah tidak sangup lagi mencapai sari bunga anggrek karena nyaris kehabisan nafas, sementara Peri Bunga juga tidak sanggup karena tubuhnya terlalu lemah.

Melihat mereka tergeletak lemah anggrek bulan segera merundukkan tubuh dan menyodorkan sari madunya ke mulut Peri Bunga. Setelah meminumnya setetes Peri Bunga sembuh dan dapat mengepakkan sayapnya kembali. Bersamaan dengan sembuhnya sang peri, para bunga kembali ceria seperti sedia kala. Tetapi ketika Sang Peri hendak menghampiri kutilang, ternyats binatang itu tengah tertelentang dan nyaris kehabisan nafas. Sontak saja Peri Bunga segera terbang menuju anggrek bulan dan meminta setetes madu lagi untuk menyembuhkan Kutilang.

Singkat cerita, setelah diberi setetes madu anggrek bulan Kutilang langsung segar bugar seperti sedia kala. Selain itu, sebagai ungkapan terima kasih, melalui kesaktiannya Peri Bunga mengalihkan suara merdu Merak pada Kutilang. Sebaliknya, suara parau Kutilang dialihkan pada Merak sebagai hukuman atas kesombongannya. Dan sejak saat itu, Kutilang pun memiliki suara merdu, sementara Merak, walau memiliki bulu yang sangat indah, tetapi suaranya parau.

Diceritakan kembali oleh Gufron

Desa Padajaya

Letak dan Keadaan Alam
Padajaya merupakan satu-satunya desa di Kecamatan Wado, Kabupaten Sumedang yang wilayahnya diperkirakan bakal tergenang penuh dan menjadi bagian dari Waduk Jatigede. Secara keseluruhan, luas Desa Padajaya mencapai 309,5 ha, dengan rincian: tanah carik desa (2,6 ha), hutan bambu (15 lokasi), hutan kayu (5 lokasi), lahan pekarangan (13 ha), persawahan (200 ha), perkebunan palawija (5 ha), tanah hibah (3 ha), sumber mata air (1,5 ha), lahan irigasi (4 ha), sungai/selokan (6 ha), hutan rakyat (45 ha), dan lain-lain (13,9 ha). Namun, dari ke-309,5 ha luas areal tadi, hanya tinggal sekitar 60 ha saja yang masih bebas atau masuk zona area merah kawasan Waduk Jatigede. Sedangkan sisanya, telah dibebaskan dan kepemilikannya diambil alih oleh pemerintah.

Kependudukan
Penduduk Desa Padajaya berjumlah 3.925 jiwa atau 980 jiwa Kepala Keluarga (KK). Jumlah penduduk tersebut jika dilihat komposisinya berdasarkan jenis kelamin, terdiri atas 1.985 jiwa laki-laki (50,5%) dan 1.940 jiwa perempuan (49,5%). Jika dilihat berdasarkan golongan usia, penduduk yang berusia 0-15 tahun ada 857 jiwa (21,83%), kemudian yang berusia 16--30 tahun ada 1.211 jiwa (30,85%), berusia 31--45 tahun ada 1010 jiwa (25,73%), berusia 46--70 tahun ada 540 jiwa (13,76%) dan yang berusia 71 tahun ke atas ada 189 jiwa (4,82%). Ini menunjukkan bahwa penduduk Desa Padajaya sebagian besar berusia produktif.

Penduduk Desa Padajaya tersebar tidak merata di tiga dusun, yaitu Dusun Sundulan, Bojongsalam, dan Bantarawi. Dari 980 Kepala Keluarga yang ada di desa ini, sekitar 600 Kepala Keluarga bermukim di Dusun Sundulan. Sedangkan, sisanya bermukim di Dusun Bojongsalam dan Bantarawi. Kedua dusun ini lebih difungsikan sebagai tempat usaha seperti: konveksi, kerajinan kuri, kerajinan kusen, bengkel, pertanian, counter HP/pulsa, penggilingan padi, perkebunan, pusat sarana olahraga, dan lain sebagainya.

Mata Pencaharian
Jenis-jenis mata pencaharian yang digeluti oleh warga masyarakat Desa Padajaya cukup beragam, yaitu: pegawai negeri di berbagai instansi pemerintah, seperti: kelurahan, kecamatan, pemerintah daerah, buruh, TNI/Polri, dan yang bekerja di non-pemerintah, seperti: karyawan swasta, wiraswasta, pedagang keliling, perajin, petani, buruh tani, seniman, peternak, tukang, montir, dan lain sebagainya. Adapun komposisinya sebagian besar diduduki oleh buruh petani (33,53%). Urutan kedua adalah petani pemilik sawah/ladang (22,93%). Urutan ketiga adalah tukang (14,75%), disusul oleh buruh (8,06%), kuli (6,91%), Karyawan swasta (5,47%), Tukang ojeg (2,59%), perajin (0,52%), Pegawai Negeri Sipil (0,46%), pekerja seni dan guru honorer (0,17%) dan TNI (0,06%).

Pendidikan
Sarana pendidikan yang terdapat di Desa Padajaya meliputi: RA sejumlah 1 buah di Dusun Bantarawi; PAUD sejumlah 3 buah (sebuah berada di Dusun Sundulan, sebuah berada di Bojongsalam, dan sebuah lagi berada di Batarawi); TKA/TPA sejumlah 2 buah (keduanya berada di Dusun Sundulan; SD Negeri sejumlah 2 buah dengan rincian sebuah berada di Dusun Sundulan dan sebuahnya lagi berada di Bojongsalam; 1 buah MI Swasta yang berada di Dusun Bojongsalam; 1 buah PKBM yang berada di Dusun Sundulan; dan 1 buah pondok pesantren yang berada di Desa Bantarawi. Gambaran ini menujukkan bahwa sarana pendidikan yang dimiliki oleh Desa Padajaya hanya sampai Sekolah Dasar dan Madrasah. Ini artinya, jika seseorang ingin melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi, mesti keluar dari desanya.

Berdasarkan sarana pendidikan tersebut, maka tingkat pendidikan yang dicapai oleh penduduk Desa Padajaya sebagian besar SD/sederajat (1.011 orang atau 48,70%). Sebagian lainnya yang jumlahnya cukup besar adalah tamatan SLTP/sederajat (779 orang atau 37,60%) dan tamatan SLTA/sederajat (256 orang atau 12,30%). Sedangkan, yang menamatkan Akademi/Perguruan Tinggi hanya.khususnya S1 hanya 4 orang (0,20%). Ini artinya, tingkat pendidikan yang dicapai oleh masyarakat Desa Padajaya dapat dikatakan rendah.

Agama dan Kepercayaan
Masyarakat Desa Padajaya seluruhnya beragama Islam. Desa ini memiliki 3 buah mesjid dan 9 buah mushola yang tersebar di permukiman penduduk. Mesjid dan mushola selain berfungsi sebagai tempat ibadah, baik sholat lima waktu, sholat Jumat, tarwih, dan sholat yang berkenaan dengan hari-hari besar agama Islam (Idul Fitri dan Idul Adha), juga digunakan untuk pengajian dan berkesenian (qasidahan).

Jaroh dan nyekar atau ziarah ke tempat-tempat yang dianggap keramat adalah hal yang biasa dilakukan oleh masyarakat Desa Padajaya. Tempat-tempat yang dianggap keramat pada umumnya situs-situs yang ada di desa yang bersangkutan, diantaranya adalah: (1) Situs Keramat Gunung Penuh yang berupa makam keramat Tresna Putih di Dusun Bantarawi; (2) Situs Keramat Buah Ngariung yang berupa makam Embah Wangsapura yang menyebarkan ajaran Islam di Buah Ngariung, Kampung Buah Ngariung; (3) Situs Tulang Gintung yang berupa makam keramat Eyang Haji Rarasakti atau Jayasakti di Pasir Leuting yang berada di Dusun Sundulan; dan (4) Situs Gagak Sangkur yang berupa makam keramat Raden Aria Sutadinata (berasal dari Banten) yang berlokasi di Dusun Sundulan (Lubis, 2010). Tujuannya adalah mendoakan agar arwah dari orang-orang yang sudah meninggal itu diterima di sisi Tuhan, diampuni segala dosanya dan diterima amal-baktinya.

Ziarah ke Situs Gagak Sangkur yang berupa makam Raden Aria Sutadinata dilakukan secara rutin setiap memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW atau biasa disebut muludan. Tujuannya adalah sebagai penghormatan kepada orang-orang yang pernah hidup dan memakmurkan desa, termasuk Raden Aria Sutadinata yang notabene adalah penyiar agama Islam pertama di Dusun Sundulan. Ziarah ini dipimpin oleh Kuwu (Kepala Desa) yang berpakaian serba hitam plus ikat kepala. Ziarah ini dihadiri oleh pemuka atau tokoh masyarakat serta sebagian besar warga masyarakat Desa Padajaya.

Pelaksanaan ziarah diawali dengan duduk mengelilingi makam sambil memanjatkan puji dan syukur kepada Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW. Selama pemanjatan doa berlangsung, ada sebagian warga yang menyajikan berbagai jenis makanan, ada yang melemparkan uang receh ke dalam makam, dan ada pula yang mengambil recehannya karena meyakini akan mendatangkan berkah dari uang recehan yang berserakan di atas makam.

Meskipun warga Desa Padajaya semua muslim (beragama Islam), namun dalam kehidupan sehari-hari masih ada yang dipengaruhi oleh kepercayaan-kepercayaan berbau animisme, dinamisme, dan kekuatan magis lainnya yang tercermin dari berbagai kepercayaan terhadap makhluk-makhluk halus, upacara yang berkenaan dengan roh nenek moyang (para leluhur atau karuhun), upacara di lingkaran hidup individu, dan perilaku tertentu untuk memperoleh sesuatu yang diinginkan.

Organisasi Pemerintahan dan Kemasyarakatan
Secara administratif dan teritorial, pemerintahan Desa Padajaya terdiri atas Pemerintah Desa dan BPD. Pemerintah Desa yang mencakup tiga dusun (Sundulan, Bojongsalam, Bantarawi) serta 5 Rukun Warga dan 19 Rukun Tetangga dipimpin oleh seorang Kepala Desa (kuwu) dan perangkat desa (sekretaris desa/juru tulis/ulis), Kepala Urusan Kesejahteraan Rakyat, Kepala Urusan Pemerintahan, Kepala Urusan Keuangan, dan Kepala Urusan Umum. Sementara BPD atau Badan Permusyawaratan Desa adalah perwakilan penduduk yang dipilih berdasarkan musyawarah-mufakat yang terdiri dari Ketua Rukun Warga, pemangku adat, golongan profesi, pemuka agama, atau pemuka masyarakat lainnya. BPD adalah sebuah lembaga yang merupakan perwujudan demokrasi dalam penyelenggaraan pemerintahan desa sebagai unsur penyelenggara pemerintah desa.

Selain kedua organisasi pemerintahan tersebut, terdapat pula organisasi kemasyarakatan seperti Pendidikan Kesejahteraan Keluarga (PKK) sebanyak 40 orang kader, Karang Taruna (40 orang anggota), dan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa (LPMD) berpengurus 9 orang, Majelis Ulama Islam (MUI) berpengurus 25 orang, Linmas 10 orang, satu kelompok BUMDES, Polindes, 5 unit koperasi, AWRT, DKM, 4 unit organisasi olahraga, 10 unit kelompok arisan, 3 unit kelompok senam, dan 8 unit Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan Harapan I, Gapoktan Harapan II, Gapoktan Harapan III, Gapoktan Harapan IV, Kelompok Tani Naik, Kelompok Tani Palawija, Kelompok Tani Tembakau, Kelompok Perikanan, Kelompok Peternakan). (ali gufron)

Jenab dan Buaya Buntung

(Cerita Rakyat DKI Jakarta)

Alkisah, pada zaman dahulu kala hidup seorang gadis cantik jelita bernama Jenab. Dia tinggal hanya dengan ibunya di sebuah rumah besar dan indah warisan Sang Ayah. Sebagai anak semata wayang Jenab selalu dimanja oleh orang tuanya. Segala kehendaknya dikabulkan. Oleh karena itu dia pun tumbuh menjadi seorang yang angkuh, sombong dan memandang rendah orang lain. Sifat inilah yang membuat Jenab sulit mendapatkan jodoh. Padahal, banyak sekali pemuda yang tergila-gila akan kecantikannya. Tetapi ketika mencoba mendekati selalu ditolak mentah-mentah tanpa alasan jelas.

Sang Ibu mulai cemas melihat Jenab yang sudah seharusnya memasuki usia perkawinan, menyarankan agar dia memilih salah seorang laki-laki yang pernah datang mendekati. Tujuannya adalah agar dia tidak menjadi perawan tua dan Sang Ibu dapat segera menimang cucu.

"Siapa aje yang pernah kemari?" tanya Jenab ketika Sang Ibu menyarankannya memilih salah seorang pemuda yang pernah mendekati.

"Si Ayub," jawab Sang Ibu singkat.

"Si Ayub orangnya Jelek. Pendek. Idup lagi!" jawab Jenab ketus

"Kalo Mat Bongkar gimane? Die tinggi gede," tanya Sang Ibu.

"Mat Bongkar idungnye pesek. Item lagi. Banyakan maen layangan kali tuh orang," jawab Jenab lebih ketus.

"Ya, udah. Terserah lu aja dah!" kata Sang Ibu jengkel sambil beranjak menuju dapur.

Lain hari, ketika Jenab sedang asyik menyapu teras rumah lewatlah seorang pemuda bernama Roing. Tanpa sengaja, tiba-tiba gulungan kertas yang disapu Jenab terlontar jauh hingga jatuh tepat di kaki Roing. Dia lalu menoleh dan ingin marah kepada orang yang melempar kertas ke arahnya. Namun ketika melihat paras cantik Jenab, amarah Roing segera reda. Dia pun menghampiri.

"Maap, ada yang bisa aye bantu?" tanya Roing lembut setelah mereka berhadapan.

"Lu siapa? Kenal juga kagak. Kurang ajar bener," jawab Jenab seenaknya.

Mendengar jawaban Jenab yang seperti itu membuat Roing menjadi sakit hati. Dia langsung berlalu begitu saja tanpa pamit atau mengucapkan sepatah kata pun. Di sepanjang jalan menuju rumah hatinya terus bergejolak karena sakit mendengar ucapan Jenab yang tidak disangka-sangka. Sesampai di rumah dia lalu berwudlu dan sholat untuk meredakan sakit hatinya. Setelah itu dia tidur. Dalam tidurnya dia bermimpi didatangi oleh seorang lelaki tua bersorban dan berjanggut putih. Sang lelaki tua berkata bahwa dia tidak perlu sakit hati dengan Jenab karena suatu saat nanti pasti akan mendapat balasan yang setimpal atas kesombongannya.

Beralih dari Jenab dan kisah kesombongannya, di lain tempat ada seseorang yang ingin menjadi pencuri kawakan dan disegani. Untuk itu, dia lalu mempelajari ilmu hitam di sebuah gunung angker dengan cara bertapa. Setelah melalui berbagai macam gangguan dan godaan akhirnya sukses menjalankan tapa bratanya. Sebagai imbalannya, pada malam terakhir dia didatangi oleh Sang Penguasa Gunung bernama Jin Afrit. Jin Afrit kemudian memberinya ilmu hitam dengan syarat seumur hidup tidak boleh menikah. Apabila dilanggar, maka akan dikutuk menjadi seekor buaya.

Setelah ilmu hitam diterima dia turun gunung dan kembali ke kampung. Tidak lama berselang dia mulai menjalankan aksi dengan mencuri ke berbagai kampung di seluruh negeri. Hasilnya, tanpa pernah sekali pun tertangkap, dia juga menjadi orang kaya dan terpandang di kampungnya. Banyak para orang tua yang datang dan menginginkannya menjadi menantu. Tetapi karena telah terikat perjanjian dengan Jin Afrit, dengan serta merta ditolaknya seluruh keinginan para orang tua tersebut. Padahal, di dalam hati sebenarnya begejolak keinginan untuk berumah tangga dan memiliki keturunan.

Pada suatu hari ketika sedang melakukan penyelidikan pada rumah-rumah yang akan menjadi target operasinya, dia melihat Jenab yang kebetulan sedang menyapu. Mata mereka beradu pandang. Tetapi hanya sesaat karena Jenab langsung memalingkan muka dan masuk ke dalam rumah. Tertarik melihat kecantikan dan kemolekan Jenab, Si Pencuri singgah di sebuah warung dan bertanya pada pemiliknya tentang Jenab.

"Dia Jenab. Cantik, tapi belagu orangnya. Kalo ada laki yang ngedeketin pasti ditolak," jawab pemilik warung.

Jawaban pemilik warung membuat Si Pencuri merasa tertantang. Dia jadi lupa kalau masih terikat "kontrak" dengan Jin Afrit. Dalam pikirannya yang ada adalah bagaimana caranya agar dapat menaklukkan gadis cantik jelita dan berbadan sintal itu. Agar niatnya cepat terlaksana, tanpa membuang waktu lagi dia bergegas menuju rumah Jenab. Sesampai di sana tanpa basa basi Si Pencuri mengutarakan maksudnya kepada ibu Jenab. Sang Ibu tidak dapat memutuskan menolak atau menerima lamaran Si Pencuri. Disuruhnya Si Pencuri menunggu sejenak, sementara dia masuk ke rumah untuk memberitahu Jenab. Dan, secara tidak disangka-sangka Jenab yang dari tadi mendengarkan percakapan mereka segera saja menerima lamaran Si Pencuri. Rupanya, ketika mata mereka beradu pandang Jenab juga jatuh hati pada Si Pencuri.

Beberapa minggu setelah lamaran diterima diadakanlah sebuah pesta perkawinan besar selama tiga hari tiga malam. Jenab dan Si Pencuri resmi menjadi pasangan suami-isteri. Tidak lama kemudian Jenab hamil dan melahirkan seorang bayi laki-laki. Mereka memberinya nama Mi'ing. Mi'ing tumbuh menjadi seorang anak yang tampan, namun sama seperti orang tuanya, memiliki tabit buruk. Dia hanya mau bermain dengan anak orang kaya saja dan suka mengambil atau bahkan merampas barang milik orang lain. Tabiat buruk ini akhirnya membuat dia cilaka dan cacat seumur hidup akibat terkena bacokan saat kepergok mencuri buah di rumah tetangga.

Selepas kejadian itu, datang lagi musibah lebih besar. Sesuai janji, Jin Afrit datang untuk menghukum Si Pencuri yang telah mengingkari "kontrak" untuk tidak menikah seumur hidup. Dia tidak hanya menghukum Si Pencuri saja, tetapi juga Si Mi'ing dan mengembalikan seluruh harta benda yang telah di curi ke tempat asalnya. Si Pencuri dihukum menjadi buaya besar dan Si Mi'ing menjadi buaya muda yang butung ekornya (karena cacat).

Melihat hal ini Jenab menangis sejadi-jadinya. Dia tidak menyangka kalau suami dan anaknya dapat berubah menjadi buaya. Selain itu, harta benda pun ludes tanpa menyisakan apa-apa. Namun apalah daya, nasi telah menjadi bubur (tanpa suwiran ayam, kecap, dan kerupuk ^_^). Jenab hanya bisa pasrah saat melihat orang-orang yang disayangi merayap keluar dari rumah menuju sungai.

Singkat cerita, sejak itu Jenab menjadi pemurung sehingga wajahnya cepat sekali berkeriput dan menyerupai nenek-nenek. Untuk menghibur diri, pada saat-saat tertentu dia pergi ke tepi sungai menemui suami dan anaknya. Tetapi hanya beberapa bulan saja mereka dapat berkumpul. Selebihnya yang datang hanyalah Si buaya buntung, sementara buaya tua yang lebih besar telah tewas di tangan warga ketika hendak memangsa seseorang yang sedang buang hajat di sungai.

Diceritakan kembali oleh Gufron


Popular Posts

-