Agrowisata Kopi Organik Way Tenong

Agrowista kopi organik Kecamatan Way Tenong, Lampung Barat, berpusat di Desa Gunung Terang, sebuah kawasan berudara sejuk yang berbatasan dengan hutan lindung Register 45B Bukit Rigis. Oleh Pemda setempat Desa Gunung Terang dijadikan sebagai kawasan agrowisata sekaligus cluster kopi organik karena merupakan daerah pertama yang berhasil mengembangkan kopi robusta organik di Lampung Barat.

Adapun sejarah kopi yang pengolahannya menggunakan kompos ini berawal dari seorang Jawa bernama Suparyoto. Pada sekitar tahun 1994 Suparyoto datang ke daerah Gunung Terang untuk menyusul orangtuanya yang menjadi petani di sana. Sesampainya di Gunung Terang ia mendapati penghidupan warga masyarakat disana relatif miskin karena hanya menggantungkan dari hasil hutan.

Agar kehidupan masyarakat Gunung Terang lebih sejahtera, pada tahun 2000 Suparyoto membentuk sebuah kelompok tani bernama Tunas Enggal dan dua kelompok hutan kemasyarakatan (HKm). Tujuannya, selain agar dapat mengakses pasar serta sarana pertanian dengan lebih mudah, juga untuk merespons surat keputusan Menteri Kehutanan mengenai pengelolaan hutan bersama masyarakat. Dalam hal ini untuk mendapatkan izin mengelola hutan Bukit Rigis bersama Watala, sebuah lembaga pendampingan masyarakat yang bergerak di bidang pelestarian lingkungan.

Namun antara tahun 2003-2004 para petani kesulitan mendapatkan pupuk kimia, sehingga tidak dapat mengusahakan lahan pertaniannya secara maksimal. Hal ini mendorong Suparyoto untuk beralih menggunakan pupuk organik yang berasal dari kotoran kambing dan kompos pada kebun kopi miliknya sendiri. Hasilnya, walau terjadi penurunan produksi hingga 60% tetapi tingkat kesuburan serta unsur hara di dalam tanah tetap terjaga. Setelah beberapa kali masa panen hasil produksi kopi pun semakin bertambah mendekati keadaan normal (menggunakan pupuk organik).

Keberhasilan tersebut lalu ia tularkan pada para anggota kelompok tani Tunas Enggal dan HKm. Dan, agar menjadi sebuah industri baru Suparyoto lalu membentuk sebuah gabungan kelompok tani bernama Hulu Hilir dan bekerja sama dengan Watala mendirikan Warung Organik sebagai upaya pemasaran sendiri. Melalui Warung Organik, saat ini sebanyak 5-7 ton kopi organik Gunung Terang setiap tahun diproses, dikemas, dan dipasarkan ke Bandarlampung, Medan, hingga Bogor.

Di Warung Organik, selain dapat membeli kopi juga dapat melihat proses pengolahan biji kopi kering menjadi kopi bubuk. Proses pengolahan biji kopi kering menjadi kopi bubuk secara garis besar dapat dibagi menjadi dua cara, yaitu cara basah dan kering. Perbedaan pokok dari kedua cara tersebut adalah pada cara pengupasan daging buah, kulit tanduk dan kulit arinya.

Pada metode pengolahan kering atau OIB (Ist Indische Bereiding) yang sering digunakan untuk kopi jenis robusta dan arabika, buah kopi yang telah dipanen segera dikeringkan terutama buah yang telah matang. Proses pengeringannya dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu: pengeringan alami dan pengeringan buatan.

Pengeringan alami dilakukan dengan menggunakan bantuan sinar matahari. Tetapi cara ini mempunyai beberapa kelemahan, seperti: (1) memerlukan tempat pengeringan yang luas, bersih, kering, dan permukaan yang rata (lantai plester semen atau tanah yang telah diratakan); (2) waktu pengeringan yang relatif lama (3 hingga 4 minggu), bergantung pada cuaca, ukuran buah kopi, tingkat kematangan, ketebalan pengeringan (30-40 cm), kadar gula, pektin, dan kadar air; dan (3) memerlukan ketelitian yang cukup tinggi karena apabila terlalu panas akan terjadi proses fermentasi yang mengakibatkan perubahan warna, buah menjadi masak, berkembang mikroorganisme pada kulit buah (exocarp) berupa jamur (fusarium sp, colletotrichum coffeanum, aspergilus niger, penicillium sp, rhizopus sp), beberapa jenis ragi, dan bakteri.

Sedangkan cara lainnya adalah pengeringan buatan (artificial drying) yang dapat menggunakan mesin pengering statik, alat penggaruk mekanik, mesin pengering dari drum yang berputar, atau mesin pengering vertikal. Pengeringan buatan lebih efisien dan apabila pengaturan suhunya tepat (+ 50 derajat celcius) akan menghasilkan buah kopi yang berwarna merah, tidak terlalu keras, dan tidak akan terjadi perubahan rasa.

Metode kedua adalah pengolahan basah atau WIB (Wet Indische Bereiding) meliputi beberapa tahap, yaitu: penerimaan, pulping, klasifikasi, fermentasi, pencucian, pengeringan, pengawetan, dan penyimpanan. Pada tahap penerimaan, hasil panen harus secepat mungkin dipindahkan ke tangki penerima agar terhindar dari sinar matahari yang akan menyebabkan perubahan warna atau buah kopi menjadi busuk. Di dalam tangki yang telah diisi air buah kopi yang mengambang (kering di pohon atau terkena penyakit antestatia, stephonoderes) akan diproses dengan pengolahan kering. Sedangkan buah kopi yang tidak mengambang akan dipindahkan menuju ke bagian pemecah (pulper).

Pulper atau pulping bertujuan untuk memisahkan kopi dari kulit terluar (exocarp) dan daging (mesocarp) yang prosesnya dilakukan pada air yang mengalir menggunakan alat seperti: disc pulper (cakram pemecah), drum pulper, raung pulper, roller pulper atau vis pulper. Hasilnya akan tercipta kopi hijau kering dengan jenis yang berbeda-beda.

Sebagai catatan, pengolahan kopi di Indonesia umumnya menggunakan raung pulper dan vis pulper. Mesin raung pulper berfungsi sebagai pencuci sehingga kopi yang dihasilkan langsung masuk ke tahap pengeringan dan tidak perlu dipermentasi dan dicuci lagi. Sedangkan apabila menggunakan mesin vis pulper hanya berfungsi sebagai pengupas kulit saja, sehingga hasilnya harus difermentasi dan dicuci lagi.

Proses fermentasi bertujuan untuk melepaskan daging buah berlendir (mucilage) yang masih melekat pada kulit tanduk. Proses ini menggunakan bantuan jasad renik (saccharomyces) melalui peragian dan pemeraman agar hidrolisis pektin yang terdapat di dalam buah dapat terurai dengan lebih cepat. Lamanya fermentasi antara 1,5 hingga 4,5 hari, bergantung pada keadaan iklim dan daerahnya. Proses yang terlalu lama akan menghasilkan kopi yang berbau apek karena terjadi pemecahan komponen isi putih lembaga.

Selama proses fermentasi berlangsung akan terjadi pemecahan komponen mucilage, pemecahan gula, dan perubahan pada warna kulit biji kopi. Pada pemecahan komponen mucilage lapisan lendir (getah) yang merupakan komponen protektin tempat terjadinya meta cellular dari daging buah akan terurai. Ada pendapat yang menyatakan bahwa pemecahan getah itu adalah akibat bekerjanya suatu enzim sejenis katalase yang mengurai protopektin di dalam buah kopi.

Untuk mempercepat proses pemecahan getah dapat ditambahkan 0.025% enzim pektinase dari isolasi sejenis kacang dan larutan penyangga fosfat sitrat. Hasilnya, kondisi pH dapat turun dari 5.5-6.0 menjadi 4.0-3.65 sehingga stabil bagi aktivitas protopektinase dan waktu fermentasi dapat berlangsung selama 5 sampai 10 jam saja. Apabila kedua bahan tersebut tidak ditambahkan, maka proses fermentasi akan memerlukan waktu sekitar 36 jam.

Tahap fermentasi selanjutnya adalah pemecahan gula atau sukrosa yang merupakan komponen penting dalam daging buah kopi. Hasil fermentasinya adalah asam laktat, asam asetat, asam butirat, etanol, dan propionat yang akan menyebabkan warna dan jaringan daging biji menjadi cokelat. Namun, proses perubahan warna kulit yang membuat penambilan kopi kurang menarik ini dapat dicegah menggunakan air yang mengandung alkalis.

Apabila proses fermentasi telah selesai, biji kopi akan keluar dari mesin pulper melalui sebuah saluran menuju bak pencucian. Kemudian, biji-biji kopi tersebut diaduk menggunakan tangan atau diinjak-injak dengan kaki hingga sisa-sisa lendir akan terlepas dan terapung di air. Namun, apabila pencucian dilakukan secara mekanik, maka biji-biji kopi akan dimasukkan dalam mesin pengaduk yang berputar pada sumbu horizontal sambil mendorong dan memisahkan lapisan lendir melewati aliran air.

Proses selanjutnya adalah pengeringan menggunakan sinar matahari. Pada proses ini biji-biji kopi ditaruh dalam baki dan dijemur sambil diaduk selama 2 hingga 3 hari hingga kadar airnya berkurang menjadi 53%. Selanjutnya, biji kopi dijemur lagi selama 10-15 hari hingga kadar airnya berkurang lagi menjadi 11%.

Setelah kering, biji kopi dicuring untuk menjaga penampilan sehingga baik untuk diekspor maupun diolah kembali. Proses curingnya sendiri meliputi: (1) pengeringan ulang agar dapat disimpan lebih lama; (2) pembersihan (cleaning) menggunakan saringan dan pemisah magnetik untuk menghilangkan kotoran yang berukuran besar, potongan besi, dan benda-benda asing lainnya; dan (3) huling atau pembersihan kulit tanduk dan kulit ari menggunakan mesin huller.

Dan, tahap terakhir adalah penyimpanan dalam bentuk kopi kering atau kopi parchment kering dengan karung goni yang dijahit zigzag mulutnya lalu ditaruh di gudang. Penyimpanan harus dalam kondisi KA air 11% dan udara tidak lebih dari 74% agar pertumbuhan jamur seperti aspergilus niger, a. oucharaceous, dan rhizopus sp dapat ditekan seminimal mungkin. Untuk itu, gudang penyimpanan pun harus memiliki syarat-syarat tertentu, seperti: mempunyai ventilasi yang cukup, suhu gudang optimum 20°C-25°C, bebas dari hama penyakit, dan lantai beralas kayu setinggi 10 sentimeter.

Sebagai catatan lagi, dalam pengolahan biji kopi baik kering maupun basah memiliki standar atau ukuran-ukuran tertentu agar mutunya baik. Untuk pengolahan kering standar mutunya adalah: (1) kadar air maksimum 13%; (2) kadar kotoran berupa ranting, batu, gumpalan tanah dan benda asing lainnya maksimum 0-5%; (3) bebas dari serangga hidup; (4) bebas dari biji yang berbau busuk, kapang dan bulukan; (5) biji tidak boleh lolos ayakan ukuran 3 x 3 mm (8 mesh) dengan maksimum lolos 1%; dan (6) untuk biji ukuran beger tidak boleh lolos ayakan ukuran 3,6 mesh dengan maksimum lolos 1%.

Sementara untuk pengolahan basah syarat-syaratnya adalah sebagai berikut: (1) kadar air maksimum 12%; (2) kadar kotoran berupa ranting, batu, gumpalan tanah dan benda asing lainnya maksimum 0-5%; (3) bebas dari serangga hidup; (4) bebas dari biji yang berbau busuk, kapang dan bulukan; dan (5) biji kopi robusta dibedakan ukurannya menjadi besar (L), sedang (M), dan kecil (S). (ali gufron)

Foto: http://wisata.kompasiana.com/jalan-jalan/2013/10/30/gayo-surga-wisata-alam-dan-kopi-uenak-arabica-gayo-606231.html
Sumber:
http://sentrapoduklampung.blogspot.com/2011/04/proses-kopi.html
http://www.ciputraentrepreneurship.com/agrobisnis/8286-suparyoto-sang-pencetus-kopi-organik.html
http://www.lampungpost.com/ruwa-jurai/20311-perkebunan--cluster-kopi-organik-ikon-provinsi-lampung.html

Museum Biologi UGM

Sejarah
Museum Biologi UGM terletak di Jalan Sultan Agung No. 22, Kecamatan Mergangsan, Kota Yogyakarta dengan titik koordinat lokasi 7,801762°LS-110,37407°BT. Sesuai dengan namanya, museum ini diperuntukkan bagi penyimpanan koleksi benda-benda hayati dan benda-benda lain yang berkaitan dengan lingkungan hidup. Adapun pendiriannya bermula pada sekitar tahun 1964. Waktu itu ada dua buah tempat penyimpanan koleksi milik Fakultas Biologi, Universitas Gadjah Mada, yaitu di Museum Zoologicum yang menempati salah satu ruangan di Sekip, Sleman, pimpinan Prof.drg, R.G. Indrojono dan koleksi herbarium yang menempati sebuah gedung di Jalan Sultan Agung pimpinan Prof.Ir. Moeso Suryowinoto (biologi.ugm.ac.id).

Agar koleksi-koleksi tersebut lebih mudah diakses, kedua profesor tadi sepakat menyatukannya dalam sebuah museum bernama Museum Biologi. Selanjutnya, atas prakarsa Dekan Fakultas Biologi waktu itu, Ir. Soerjo Sodo Adisewoyo, museum diresmikan oleh Rektor UGM Prof. Dr. Soeroso H. Prawirohardjo MA, pada tanggal 20 September 1969 bertepatan dengan Dies Natalis Fakultas Biologi UGM. Dan, baru empat bulan kemudian atau tepatnya pada tanggal 1 Januari 1970 museum dibuka untuk umum (diwisata.com).

Setelah menjadi sebuah organisasi di bawah naungan Fakultas Biologi UGM tentu saja Museum Biologi memiliki struktur kepengurusan yang dipimpin oleh seorang direktur untuk menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik. Adapun tugas dan fungsinya, sesuai dengan tujuan pendiriannya adalah: (1) menyimpan koleksi hayati untuk keperluan pendidikan; (2) menyelenggarakan peragaan ilmiah; (3) mengadakan pameran untuk umum sebagai sarana pengabdian masyarakat; (4) sumber informasi keanekaragaman hayati; dan (5) sebagai media pembelajaran kenaekaragaman hayati dan konservasi. Sedangkan nama-nama direktur yang pernah menggawangi terlaksananya tujuan tersebut, diantaranya adalah: Drs. Anthon Sukahar, Prof. Dr. Mammet Sagi (2001 – 2003), Dr. RC. Hidayat Soesilohadi, MS (2003 – 2004), Dr. L. Hartanto Nugroho, M.Agr. (2004 – 2008), Drs. Trijoko, M.Si. (2009 – 2011), Ludmilla Fitri Untari S.Si, M.Si (2011 – 2012), dan Donan Satria Yudha, S.Si., M.Sc. (2012 – sekarang) (museumbio.blogspot.com).

Kondisi dan Koleksi Museum Biologi UGM
Museum Biologi berada di atas lahan seluas 50x30 meter persegi. Di dalamnya terdapat bangunan induk seluas 31x14 meter persegi, bangunan sayap dan belakang. Bangunan sayap dan belakang yang beratap sirap digunakan sebagai rumah tinggal, sementara bangunan induk yang memiliki pintu dan jendela berukuran besar berteralis besi, berteritis relatif sempit, dan berdinding pasangan bata tebal difungsikan sebagai museum. Bangunan ini, menurut museumbio.blogspot.com, merupakan salah satu peninggalan Indis yang masih tersisa di kawasan cagar budaya Binataran yang didirikan sekitar tahun 1890 dengan tujuan untuk mengawasi aktivitas di Keraton Pakualaman.

Di dalam bangunan induk inilah sekarang tersimpan sekitar 3.752 koleksi (awetan kering maupun basah), terdiri atas 70% preparat tanaman yang hidup di dataran rendah (Cryptogamae) dan dataran tinggi (Phenaerogamae) serta 30% preparat hewan yang bertulang belakang (Vertebrata) maupun tak bertulang belakang (Avertebrata). Seluruhnya dipajang dalam delapan ruang pameran. Ruang pertama dan kedua berisi koleksi hewan berupa: ikan hiu, kuda laut, kupu-kupu dan serangga, cangkang keong, musang, kerangka kambing, terumbu karang, kerangka simpanse, kerangka manusia, katak, ular, beruang madu, badak jawa, lembu laut, orang utan, trenggiling, buaya putih, komodo, dan harimau1 .

Ruang ketiga dan keempat berisi ratusan awetan hewan basah dan awetan tumbuhan basah dalam toples-toples berukuran sekitar 500 ml yang disimpan dalam rak bertingkat empat dengan pintu geser terbuat dari kaca. Ruang kelima berisi kerangka kuda dan kerangka gajah bernama Nyi Bodro. Nyi Bodro merupakan gajah milik Keraton Yogyakarta yang mati karena sakit pada tahun 2000 dalam usia 29 tahun (tembi.net). Setelah dikuburkan di halaman Gajahan Alun-alun Selatan, awal 2011 kerangkanya digali, diangkat, dibersihkan, dan direkonstruksi oleh tim gabungan dosen dan mahasiswa Fakultas Biologi yang dipimpin oleh Donan Satria Yudha, sementara pengawetannya dipimpin oleh Zuliyati dan Abdul Rohmat. Kerangka yang memiliki tinggi 2,07 meter dan panjang 3,15 meter itu selanjutnya dibawa ke museum untuk dipamerkan dalam sebuah kotak terbuat dari kaca.

Ruang keenam dan ketujuh berisi awetan penyu khas Indonesia dan aves atau burung yang telah dibekukan. Ruang kedelapan adalah ruang diorama yang di dalamnya terdapat kotak-kotak kayu terbungkus kaca bersisi satu jenis atau sekelompok hewan berlatar habitat mereka yang diilustrasikan pada gambar tiga dimensi. Dan terakhir, selain ruang pamer, museum juga dilengkapi dengan beberapa fasilitas penunjang, seperti: ruang display untuk pengamatan mikroskopis, perpustakaan, tempat parkir yang memadai, toilet, dan jasa pemandu yang dapat menjelaskan seluruh koleksi dalam etalese, diorama maupun ruang penyimpanan.

Apabila berminat, anda dapat mengunjungi museum ini dari hari Senin-Minggu (kecuali hari libur nasional) dengan perincian: Senin-Kamis pukul 07.30-13.30 WIB, Jumat pukul 07.30-11.00 WIB, Sabtu pukul 07.30-12.00 WIB, sedangkan Minggu pukul 08.00-12.00 WIB. Adapun biaya masuknya berdasarkan Keputusan Dekan Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada No:UGM/BI/4542/UM/01/39 sebesar Rp.5.000,00 bagi pelajar/mahasiswa, Rp.7.000,00 bagi pengunjung umum, dan Rp.15.000,00 bagi wisatawan asing. (ali gufron)

Foto: http://id.wikipedia.org/wiki/Museum_Biologi
Sumber:
"Sejarah Museum Biologi UGM", diakses dari http://museumbio.blogspot.com/2013/05/selintas-sejarah-museum-biologi-ugm.html, tanggal 2 Januari 2015.
"Keanekaragaman Hayati di Museum Biologi UGM - Yogyakarta", diakses dari http://diwisata.com/museum-biologi-ugm-yogyakarta.html, tanggal 2 Januari 2015.
"Akhirnya, Nyi Bodro Menghuni Museum Biologi UGM Yogyakarta", diakses dari http://tembi.net/jaringan-museum/akhirnya-nyi-bodro-menghuni-museum-biologi-ugm-yogyakarta, tanggal 3 Januari 2015.
"Museum Biologi", diakses dari http://biologi.ugm.ac.id/?page_id=1886, tanggal 4 Januari 2015.
_______________________________________________________________
1. Harimau di Museum Biologi adalah hibah dari Drs. Marwan MS, mantan Bupati Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu. Harimau awetan ini diperoleh beliau dari salah seorang rekannya ketika masih menjabat sebagai bupati periode 1989-1993 dan baru dihibahkan setelah disimpan selama 21 tahun. Proses serah terimanya dilakukan langsung oleh Dekan Fakultas Biologi UGM Dr. Retno peni Sancayaningsih MSc yang disaksikan oleh Kepala Museum Biologi Ludmilla Fitri Untari Ssi. Msi dan Ketua Umum Badan Musyawarah Museum (Barahmus) DIY KRT Thomas Haryonagoro.

Si Bugu

(Cerita Rakyat Daerah Lampung)

Alkisah, pada zaman dahulu di suatu kampung di daerah Lampung ada seorang pemuda bernama Bugu. Dia sering disebut sebagai orang pandir karena daya berpikirnya yang sangat lemah. Si Bugu tinggal bersama Sang Ibu di sebuah gubug reot bersebelahan dengan hutan sekunder bekas digunakan sebagai areal perladangan. Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, mereka bercocok tanam di ladang peninggalan milik ayah Bugu. Hasil ladang selain digunakan untuk keperluan sendiri juga dijual atau ditukarkan dengan barang lain di pasar terdekat.

Suatu hari, sepulang dari ladang anak-beranak ini duduk santai di depan gubuk mereka. Sambil menunggu matahari terbenam Sang Ibu menambal pakaian robek Si Bugu, sementara Si Bugu sendiri asyik berjongkok di depannya sambil menggores-gores tanah menggunakan sebatang ranting kering. Saat itu, entah serius atau hanya iseng untuk membuka pembicaraan, tiba-tiba Sang Ibu berkata, "Carilah seorang gadis untuk calon isterimu, anakku? Engkau sudah dewasa."

"Baik, Ibu," jawab Si Bugu singkat.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Si Bugu sudah beranjak dari rumah untuk mencari seorang gadis yang mau dijadikan sebagai isteri, sesuai dengan keinginan Sang Ibu. Namun, dari sekian banyak gadis yang dia temui tidak ada seorang pun mau menjadi isterinya. "Ibu, aku sudah mencari hingga ke ujung desa, tapi tak ada yang mau menjadi isteriku," keluh Si Bugu ketika sampai di rumah.

"Esok hari cobalah lagi, Bugu. Apabila engkau bertemu dengan seorang gadis yang hanya diam ketika ditanya, itu tandanya dia setuju," petunjuk Sang Ibu.

"Baik, Ibu," jawab Si Bugu singkat.

Hari berikutnya, Si Bugu mulai melakukan pencarian lagi ke tempat-tempat yang kemarin luput dikunjungi. Dan, sama seperti sebelumnya, hampir setiap gadis yang ingin diajak kawin selalu saja menolak. Hanya ada seorang saja yang ketika ditanya hanya diam saja. Gadis ini sebenarnya telah meninggal dunia karena terjatuh dari atas sebuah pohon. Namun karena Si Bugu benar-benar pandir, dia tidak mengetahuinya. Pikirnya, Sang Gadis telah menyetujui sehingga langsung saja digendong dan dibawa pulang.

Sesampainya di rumah Sang Gadis lalu dibawa masuk ke kamar. Selanjutnya, dia pergi ke dapur menemui Sang Ibu yang sedang menanak singkong untuk makan malam. "Ibu, aku telah mendapatkan calon isteri," katanya gembira.

"Baguslah, Bugu. Nanti ibu akan menemuinya," jawab Sang Ibu sambil terus memperhatikan nyala api dalam tungku.

Ketika singkong matang, dia berlanjut melakukan pekerjaan lain seperti biasanya. Menjelang malam barulah dia ingat kalau tadi Si Bugu telah berhasil membawa seorang gadis untuk dijadikan isteri. Namun, karena tidak ingin mengganggu Sang Gadis yang sedang beristirahat, diurungkanlah niat untuk bertemu. Pikirnya, nanti kalau makan malam dia pasti juga akan bertemu dengan Sang Gadis.

Saat makan malam tiba, ternyata yang keluar dari kamar hanyalah Si Bugu. Sang Ibu masih belum curiga dan menganggap bahwa Sang Gadis mungkin malu atau malah belum bangun dari tidurnya. Usai makan malam Sang Ibu masih tetap menunggu keluarnya Sang Gadis walau hanya sekadar buang air kecil atau menyantap makan malam yang memang sudah disediakan untuknya. Tetapi hingga menjelang tengah malam Sang Gadis tetap tidak menampakkan dirinya, sehingga Sang Ibu memutuskan untuk beranjak ke peraduan karena sudah tidak dapat menahan kantuk lagi.

Saat terbangun pada pagi harinya, seperti biasa Sang Ibu langsung beranjak ke dapur melewati kamar Si Bugu untuk membersihkan segala perabotan yang telah kotor. Ketika melewati kamar Si Bugu tersebut terciumlah bau busuk yang sangat menyengat, mirip seperti bau makhluk hidup yang telah mati. Penasaran, Sang Ibu pun lalu masuk ke kamar Si Bugu. Dan, betapa terkejutnya dia ketika melihat di ranjang Si Bugu ada seorang gadis telah terbujur kaku serta mengeluarkan bau busuk.

"Buguuu, cepatlah kemari!" jeritnya memanggil Si Bugu yang sedang berada di halaman.

"Ada apa, Bu," jawab Si Bugu sambil berlari ke dalam rumah.

"Gadis yang kau bawa itu telah mati!" kata Sang Ibu.

"Bagaimana Ibu tahu?" tanya Si Bugu.

"Dia telah berbau busuk. Itu tandanya dia telah mati. Kita harus cepat-cepat menguburkannya," jelas Sang Ibu.

"Oh, begitu," jawab Si Bugu polos.

Usai mengubur mayat Si Gadis, masih di sekitar kuburan tiba-tiba saja Sang Ibu buang angin alias kentut. Oleh karena mungkin sedang masuk angin atau mungkin juga belum buang air besar selama beberapa hari, maka kentut tersebut berbau busuk.

"Waduh, Ibu berbau busuk sekali. Rupanya Ibu juga telah mati!" teriak Si Bugu sembari berusaha mengangkat tubuh Sang Ibu untuk turut dikuburkan.

Menyadari dirinya akan dikubur, tentu saja Sang Ibu meronta dan berusaha melarikan diri. Tetapi ketika hendak dikejar, giliran Si Bugu yang kentut dan baunya bahkan lebih busuk dari kentut Sang Ibu. "Ah, ternyata aku juga telah mati," pikir Si Bugu.

Namun siapa yang dapat menguburkannya, Si Bugu sendiri menjadi bingung karena tidak ada seorang pun di sana. Dia hanya melihat sebuah sungai agak besar di dekat pekuburan, sehingga dia pun memutuskan untuk menenggelamkan diri di dalamnya. Beberapa saat setelah menenggelamkan diri Si Bugu mulai kekurangan oksigen lalu mengapungkan dirinya agar mendapat udara segar. Saai itu dia melihat Bakhetih, salah seorang tetangganya yang berprofesi sebagai pencuri.

"Hei, Bakhetih. Sedang apa engkau di sini?" tanya Si Begu.

"Sedang cari makan. Mau ikut denganku?" kata Bakhetih sekenanya.

"Baiklah," jawab Si Begu.

Dan, sesuai dengan profesinya, tentu saja Bakhetih mengajak Si Bugu mencari makan dengan jalan mencuri. Mula-mula mereka hendak mencuri seekor kerbau, tetapi gagal karena Si Bugu batuk-batuk hingga membangunkan pemilik kerbau. Berikutnya, mereka berencana mencuri emas di istana pada malam hari. Sebelum berangkat Bakhetih memberi penjelasan bahwa barang yang akan dicuri berciri berat, licin jika dipegang, dan berbunyi jika dipukul.

Sesampainya di istana, Bakhetih mengawasi keadaan sekitar, sementara Si Bugu diperintahkan menyelinap melalui loteng ke dalam kamar tempat penyimpanan uang raja. Saat berada di dalam kamar Si Bugu tidak dapat melihat jelas karena keadaan gelap gulita tanpa ada penerangan. Dia hanya bisa meraba benda-benda di dalam ruangan hingga akhirnya merasakan ada benda berat, menonjol dan licin. Untuk memastikan bahwa benda itu adalah emas, dia lalu memukul benda tersebut sangat keras hingga terdengar oleh penjaga kamar.

Akibatnya tentu bisa ditebak, Si Bugu tertangkap dan langsung dijebloskan ke dalam penjara. Raja yang murka karena hartanya nyaris dicuri segera menitahkan agar dia dihukum mati dengan cara dibakar. Oleh patih kerajaan Si Bugu dibawa ke tengah hutan dan diikat pada salah satu pohon besar. Selanjutnya, Sang Patih bersama beberapa pengawalnya pergi mencari kayu bakar.

Pada saat ditinggalkan dalam keadaan terikat tersebut, lewatlah seorang pedagang dari negeri seberang. "Kenapa engkau diikat seperti itu?" tanya Sang Pedagang.

"Pingganggu sakit sekali, makanya aku diikat di pohon ini agar cepat sembuh," jawab Si Bugu sekenanya.

"Wah, pinggangku juga sakit karena membawa barang-barang dagangan ini. Bolehkah aku ikut diikat?" pinta Sang Pedagang.

"Tentu saja boleh. Sekarang kau lepaskan dulu ikatanku, nanti aku yang akan mengikatmu," perintah Si Bugu.

Setelah ikatan dilepas, giliran Si Bugu yang mengikat Sang Pedagang lalu berlalu meninggalkannya menuju istana. Selang beberapa saat kemudian, Sang Patih bersama pengawalnya datang membawa sejumlah kayu bakar. Tanpa menghiraukan siapa yang sedang diikat mereka langsung menumpuk kayu-kayu tersebut di sekeliling Sang Pedagang dan membakarnya hingga hangus.

Di lain tempat, alangkah terkejutnya Raja melihat Si Bugu sudah kembali lagi ke istana. "Bukankah engkau seharusnya sudah mati terbakar?" tanya Raja tidak percaya.

"Hamba memang sudah mati terbakar dan diangkat oleh para bidadari ke kahyangan. Di sana hamba bertemu dengan para kerabat Baginda. Mereka sangat rindu dan ingin bertemu Baginda," kata Si Bugu lancar sekaligus bingung karena kata-kata itu keluar begitu saja tanpa direncanakan.

"Benarkah begitu?" tanya Raja seolah tidak percaya.

"Benar Baginda. Tetapi Baginda harus membakar diri agar diangkat ke kahyangan oleh para bidadari yang cantik jelita," jawab Si Bugu.

Baginda Raja pun termakan oleh perkataan Si Bugu dan membakar dirinya hingga tewas. Si Bugu lalu mendatangi Permaisuri dan mengatakan bahwa sebelum meninggal Raja berpesan agar dia mau mengawini Permaisuri dan mengantikannya menjadi raja. Singkat cerita, sejak saat itu Si Bugu menjadi raja sekaligus mendapatkan "warisan" seorang isteri yang walau telah berumur tetapi masih terlihat cantik jelita.

Diceritakan kembali oleh Ali Gufron

Honda CB1300 Super Four (2013)

Technical Specifications
2013 Honda CB1300 Super Four
Engine
Engine type
Bore x Stroke
Displacement
Valves
Compression ratio
Max Power
Max Torque
Fuel system
Transmission
Final drive
Clutch
Ignition type
Starting system
Lubrication
Exhaust
Spark plug
Battery
Gear ratios

Liquid-cooled, In-line four cylinder, four-stroke, DOHC
78.0 x 67.2 mm (3.1 x 2.6 inches)
1284.00 ccm (78.35 cubic inches)
4 valves per cylinder
9.6:1

114.00 Nm (11.6 kgf-m or 84.1 ft.lbs) @ 5500 rpm
Fuel injection
5-Speed (1-N-2-3-4-5)
Chain
Wet multi-plate coil spring

Electric starter



Dimensions
Frame type
Rake
Overall length
Overall width
Overall height
Wheelbase
Seat height
Ground clearance
Dry weight
Fuel capacity
Colors
Suspension (front)
Suspension (rear)
Tyre (front)
Tyre (rear)
Brake (front)
Brake (rear)


25°
2200 mm (86.6 inches)


1510 mm (59.4 inches)
780 mm (30.7 inches)
125 mm (4.9 inches)
261 kg
21.00 litres (5.55 gallons)
Red/white, black
Telescopic fork
Swinging arm
80/90 - 17M/C 44P (Tubeless)
100/80 - 17M/C 52P (Tubeless)
Double disc
Single disc

Image: http://tuningpp.com/cb400-super-four-cb400-2013/hatoya.jp*user_impre*honda*cb400*14cb400sf.jpg/hatoya.jp*SHOP*972003*979862*list.html/

Honda CB Unicorn Dazzler (2013)

Technical Specifications
2013 Honda CB Unicorn Dazzler
Engine
Engine type
Bore x Stroke
Displacement
Valves
Compression ratio
Max Power
Max Torque
Fuel system
Transmission
Final drive
Clutch
Ignition type
Starting system
Lubrication
Exhaust
Spark plug
Battery
Gear ratios

Air-cooled, 4-stroke, single cylinder, OHC
57.3 x 57.8 mm (2.3 x 2.3 inches)
149.10 ccm (9.10 cubic inches)
4 valves per cylinder
9.1:1

13.00 Nm (1.3 kgf-m or 9.6 ft.lbs) @ 6500 rpm
Carburettor
5-Speed (1-N-2-3-4-5)
Chain
Wet Multiplate

Kick & electric starter



Dimensions
Frame type
Rake
Overall length
Overall width
Overall height
Wheelbase
Seat height
Ground clearance
Dry weight
Fuel capacity
Colors
Suspension (front)
Suspension (rear)
Tyre (front)
Tyre (rear)
Brake (front)
Brake (rear)

Diamond Steel (Truss Frame)

2073 mm (81.6 inches)
754 mm (29.7 inches)
1085 mm (42.7 inches)
1328 mm (52.3 inches)
790 mm (31.1 inches)
162 mm (6.4 inches)
138 kg
12 litres
White/red, grey
Telescopic fork
Monoshock, 3 step adjustable
80/100-R17
110/80-R17
Single 240mm disc with 2-piston calipers
Single 220mm disc with 1-piston caliper

Image: http://www.carspicturesdb.com/honda-cars/honda-cb-unicorn-dazzler-bikes-wallpaper-bikes-gallery-bikes-of/

Honda CB Shine (2013)

Technical Specifications
2013 Honda CB Shine
Engine
Engine type
Bore x Stroke
Displacement
Valves
Compression ratio
Max Power
Max Torque
Fuel system
Transmission
Final drive
Clutch
Ignition type
Starting system
Lubrication
Exhaust
Spark plug
Battery
Gear ratios

Air-cooled, 4-stroke, single cylinder, OHC
63.5 × 47.2 mm
124.60 ccm (7.60 cubic inches)
4 valves per cylinder


10.90 Nm (1.1 kgf-m or 8.0 ft.lbs) @ 5500 rpm
Carburettor
4-Speed (1-N-2-3-4)
Chain
Manual, Multiplate Wet Clutch
Digital CDI
Kick & electric starter
Wet sump


MF 12 V - 5 Ah
Dimensions
Frame type
Rake
Overall length
Overall width
Overall height
Wheelbase
Seat height
Ground clearance
Dry weight
Fuel capacity
Colors
Suspension (front)
Suspension (rear)
Tyre (front)
Tyre (rear)
Brake (front)
Brake (rear)

Diamond Steel (Truss Frame)
25°
2015 mm (79.3 inches)
730 mm (28.7 inches)
1070 mm (42.1 inches)



122 kg
11 litres
Black, blue, grey, silver, purple
Telescopic fork
Swinging arm Pro-Link monoshock
80/100-R18
80/100-R18
Single disc 240mm
Expanding brake (drum brake) 130mm

Image: http://worldviewbikes.com/honda-cb-shine/

Honda Benly 110 (2013)

Technical Specifications
2013 Honda Benly 110
Engine
Engine type
Bore x Stroke
Displacement
Valves
Compression ratio
Max Power
Max Torque
Fuel system
Transmission
Final drive
Clutch
Ignition type
Starting system
Lubrication
Exhaust
Spark plug
Battery
Gear ratios

Air-cooled, 4-stroke, single cylinder, OHC
50.0 x 55.0 mm (2.0 x 2.2 inches)
107.00 ccm (6.53 cubic inches)
2 valves per cylinder
10.1:1

8.60 Nm (0.9 kgf-m or 6.3 ft.lbs) @ 5000 rpm
Fuel injection (PGM-FI)
V-Matic
Belt
Dry multi-plate shoe

Electric & kick starter



Dimensions
Frame type
Castor
Overall length
Overall width
Overall height
Wheelbase
Seat height
Ground clearance
Dry weight
Fuel capacity
Colors
Suspension (front)
Suspension (rear)
Tyre (front)
Tyre (rear)
Brake (front)
Brake (rear)

Underbone

1805 mm (71.1 inches)

1040 mm (40.9 inches)
1280 mm (50.4 inches)
710 mm (28.0 inches)
115 mm (4.5 inches)
113 kg
10 litres
White/gray, black, white/black
Telescopic fork
Unit swing type
90/90-R12
110/80-R10
Expanding brake (drum brake)
Expanding brake (drum brake)

Image: http://scooternet.gr/news/%CE%BD%CE%B5%CE%B1-%CE%BC%CE%BF%CE%BD%CF%84%CE%B5%CE%BB%CE%B1/honda-benly-110-%CE%9A%CE%91%CE%99-%CE%97-%CE%95%CE%A1%CE%93%CE%91%CE%A4%CE%99%CE%91/

Honda Silver Wing ABS (2013)

Technical Specifications
2013 Honda Silver Wing ABS
Engine
Engine type
Bore x Stroke
Displacement
Valves
Compression ratio
Max Power
Max Torque
Fuel system
Transmission
Final drive
Clutch
Ignition type
Starting system
Lubrication
Exhaust
Spark plug
Battery
Gear ratios

Liquid-cooled, twin cylinder, four-stroke, DOHC
72.0 x 71.5 mm (2.8 x 2.8 inches)
582.00 ccm (35.51 cubic inches)
4 valves per cylinder
10.2:1

114.00 Nm (11.6 kgf-m or 84.1 ft.lbs) @ 5500 rpm
Injection. PGM-FI with automatic enrichement circuit, four-hole injectors
Automatic
Belt

Computer-controlled fully transistorized with electronic advance
Electric starter
Dimensions
Frame type
Rake
Overall length
Overall width
Overall height
Wheelbase
Seat height
Ground clearance
Dry weight
Fuel capacity
Colors
Suspension (front)
Suspension (rear)
Tyre (front)
Tyre (rear)
Brake (front)
Brake (rear)






1600 mm (63.0 inches)
754 mm (29.7 inches)

249.9 kg (551.0 pounds)
15.90 litres (4.20 gallons)
Black
41mm telescopic fork
Swingarm with dual shocks with five-position spring-preload adjustability
120/80-R14
150/70-R13
Single disc 276mm. ABS. with three-piston caliper
Single disc 240mm. ABS. with two-piston calipers

Image: http://www.totalmotorcycle.com/motorcycles/2012models/2012-Honda-SilverwingABS.htm

Honda Shadow Spirit 750 (2013)

Technical Specifications
2013 Honda Shadow Spirit 750
Engine
Engine type
Bore x Stroke
Displacement
Valves
Compression ratio
Max Power
Max Torque
Fuel system
Transmission
Final drive
Clutch
Ignition type
Starting system
Lubrication
Exhaust
Spark plug
Battery
Gear ratios

Liquid-cooled, 52 degrees V-twin cylinder, four-stroke, SOHC
79.0 x 76.0 mm (3.1 x 3.0 inches)
745.00 ccm (45.46 cubic inches)
3 valves per cylinder
9.6:1

114.00 Nm (11.6 kgf-m or 84.1 ft.lbs) @ 5500 rpm
Injection. PGM-FI with automatic enrichment circuit, one 34mm throttle body
5-Speed
Shaft drive (cardan)
Wet multi-plate coil spring
CD with electronic advance, two spark plugs per cylinder
Electric starter
Dimensions
Frame type
Rake
Overall length
Overall width
Overall height
Wheelbase
Seat height
Ground clearance
Dry weight
Fuel capacity
Colors
Suspension (front)
Suspension (rear)
Tyre (front)
Tyre (rear)
Brake (front)
Brake (rear)


34°



1656 mm (65.2 inches)
653 mm (25.7 inches)

243.1 kg (536.0 pounds)
14.00 litres (3.70 gallons)
Black, ultra blue metallic flame
41mm telescopic fork
Dual shocks with five-position spring-preload adjustability
120/90-R17
160/80-R15
Single disc 296mm with two-piston calipers
Expanding brake (drum brake)

Image: http://www.totalmotorcycle.com/photos/2007models/2007models-Honda-Shadow-Spirit750C2.htm


Popular Posts