Pudak Bebai

Pudak Bebai adalah satu dari 12 tupping Keratuan Darah Putih di Kabupaten Lampung Selatan. Sebelum menjadi bagian dari kesenian, Pudak Bebai dan sebelas tupping lainnya (yang masih asli) hanya boleh dikenakan oleh keturunan dari duabelas punggawa Keratuan Darah Putih karena dianggap sakral dan mempunyai kekuatan gaib tertentu. Adapun bentuk Pudak Bebai sendiri menyerupai muka seorang perempuan yang bertugas di Tanjung Selaki dan dikenakan oleh Kakhya Bangsa Saka (Desa Ruang Tengah).

Sedangkan ke-sebelas tupping lainnya, adalah: (1) Ikhung Cungak atau berhidung mendongak yang bertugas di Tanjung Tua (Tupai Tanoh) dan dikenakan oleh Kakhya Khadin Patih (Desa Kuripan); (2) Ikhung Tebak atau berhidung melintang yang bertugas di Gunung Rajabasa (Buai Tambal) dan dikenakan oleh Kakhya Jaksa (Desa Kuripan); (3) Luakh Takhing bertugas di Anjak Kekhatuan Mit Matakhani dan dikenakan oleh Kakhya Menanti Khatu (Desa Kuripan); (4) Jangguk Khawing atau berjanggut pankang, bertugas di Seragi sampai Way Sekampung dan dikenakan oleh Kakhya Jaga Pati (Desa Kekiling); (5) banguk Khabit atau bermulut sompel, bertugas di Gunung Cukkih Selat Sunda dan dikenakan oleh Kakhya Yuda Negara (Desa Kekiling); (6) Bekhak Banguk atau bermulut lebar, bertugas di Kekiling Gunung dan dikenakan oleh Kakhya Jaga Pamuk (Desa Ruang Tengah); (7) Mata Sipit, bertugas di Batu Payung dan dikenakan oleh Temunggung Agung Khaja (Desa Ruang Tengah); (8) Banguk Kicut atau bermulut mengot, dipakai oleh Ngabihi Paksi (Desa Ruang Tengah); (9) Mata Kadugok atau mata mengantuk, bertugas di Anjak Kekhautan Tugok Matahani Minjak dan dikenakan oleh Kakhya Sangunda (Desa Tetaan); (10) Matta Kiccong, betugas di Tuku Tiga dan dikenakan oleh Kakhya Kiyai Sebuah (Desa Tetaan); dan Ikhung Pisek atau hidung pesek, bertugas di Sumokh Kucing dan dikenakan oleh Khaja Temunggung (Desa Tetaan).

Berikut adalah rupa tupping Pudak Bebai dalam bentuk tugu atau monumen yang di buat dalam rangka ikut memeriahkan Festival Krakatau 2016. Dalam rangkaian festival tersebut Kabupaten Lampung Selatan mengusung 12 tupping Keratuan Darah Putih pada parade budaya adat.






Nayuh

Nayuh adalah acara adat yang umumnya dilakukan oleh suatu keluarga besar ulun Lampung Saibatin ketika akan mengadakan khitanan, mendirikan rumah, pernikahan, dan lain sebagainya. Tujuan nayuh adalah untuk merundingkan dan mempersiapkan segala keperluan guna melangsungkan suatu upacara secara bersama-sama dalam sebuah keluarga besar. Jadi, sebelum upacara dilangsungkan seperti khitanan atau pernikahan, pihak keluarga besar akan bermusyawarah menyiapkan berbagai peralatan dan perlengkapannya, seperti: tandang bulung, kecambi, nyami buek, nyekhallai siwok, khambah babukha sappai di begalai, setukhuk (bahan-bahan mentah untuk dibuat penganan dan makanan), ngejappang (makanan yang sudah dimasak dan siap untuk dihidangkan), dan lain sebagainya.

Khusus untuk upacara pernikahan, selain barang-barang tersebut di atas, pihak keluarga besar juga akan memusyawarahkan barang-barang yang harus disediakan oleh calon mempelai laki-laki yang oleh orang Lampung Saibatin disebut himpun. Himpun ini nantinya akan dipertunjukan bersama dengan perangkat adat lain seperti pakaian adat di lamban dan di bah (arak-arakan) yang disesuaikan dengan adok atau status sosialnya dalam masyarakat.

Aksara Lampung

Bahasa Lampung termasuk dalam cabang Sundik dari rumpun bahasa Melayu-Polinesia. Adapun penuturnya adalah Ulun Lampung yang mendiami Provinsi Lampung dan sebagian di selatan Palembang serta pantai Barat Provinsi Banten. Menurut adatistiadatlpg.blogspot.co.id, rumpun bahasa Lampung dibagi menjadi tiga, yaitu: bahasa Komering, bahasa Lampung dialek Belalau (Api), dan bahasa Lampung dialek abung (Nyo).

Dialek Belalau, Abung, maupun Komering sama-sama memiliki aksara yang ada hubungannya dengan aksara Palawa atau Dewdatt Deva Nagari dari India Selatan yang diperkirakan masuk ke Pulau Sumatera semasa kejayaan Kerajaan Sriwijaya (700-1300). Selain dengan aksara Palawa, bentuk aksara (had) Lampung juga mirip dengan aksara Reuncong (Aceh), Rejang (Bengkulu), dan aksara Bugis. Aksara ini terdiri dari huruf induk, anak huruf, anak huruf ganda, gugusan konsonan, lambang, angka, dan tanda baca. Aksara Lampung disebut dengan istilah Ka-Ga-Nga serta ditulis dan dibaca dari kiri ke kanan. Jumlahnya ada 20 buah, yaitu: ka–ga–nga–pa–ba–ma–ta–da–na–ca–ja–nya–ya–a –la–ra–sa–wa–ha–gha (http://indahlampungku.blogspot.co.id).

Menurut irfanmovick.blogspot.com, istilah kaganga diciptakan untuk mengelompokkan aksara Rejang, Lampung, dan Rencong (Kerinci). Istilah ini pertama kali dikemukakan oleh Mervyin A. Jaspan, antropolog dari University of Hull (Inggris) dalam buku Folk Literature of South Sumatra, Redjang Ka-Ga-Nga Texts. Sementara masyarakat Lampung sendiri menggunakan Surat Ulu atau Surat Ogan untuk mengistilahkan had Lampung.

Struktur fonetiknya (vokal dan diftong) merupakan huruf hidup seperti dalam aksara Arab, dengan menggunakan tanda-tanda fathah di baris atas dan tanda-tanda kasrah di baris bawah, tetapi tidak memakai tanda dammah di baris depan, melainkan menggunakan tanda di belakang (adatistiadatlpg.blogspot.co.id). Masing-masing tanda (anak huruf) mempunyai nama tersendiri yang jumlahnya ada 12 buah. Anak huruf yang terletak di bagian atas terdiri atas ulan, bicek, tekelubang (ang), rerenjung (ar), datas (an). Anak huruf di bagian bawah terdiri atas bitan dan tekelungau (au). Dan, anak huruf yang terletak di belakang huruf induk terdiri atas tekelingai (ai), keleniah (ah), dan nengen (tanda huruf mati).

Anak huruf yang terletak dibagian atas yaitu ulan berbentuk setengah lingkaran kecil yang terletak di atas huruf induk. Ulan terdiri dari dua macam: ulan yang menghadap ke atas melambangkan bunyi [i], sedangkan ulan yang menghadap ke bawah melambangkan bunyi [e]. Anak huruf bicek berbentuk garis tegak yang terletak di atas induh huruf. Bicek melambangkan bunyi [e]. Anak huruf terkelubang berbentuk garis mendatar (seperti tanda hubung dalam ejaan bahasa Indonesia) yang melambangkan bunyi [ng]. Anak huruf rejenjung berbentuk menyerupai angka empat dan melambangkan huruf [r]. Anak huruf datas berbentuk mirip seperti tanda hubung dalam ejaan bahasa Indonesia yang melambangkan bunyi [n] (www.kotametro.com).

Sementara anak huruf yang terletak di bawah huruf yaitu bintan yang berbentuk garis pendek mendatar melambangkan bunyi [u] dan garis tegak melambangkan bunyi [o]; serta tekelungau berbentuk setengah lingkaran kecil yang melambangkan bunyi [au]. Sedangkan anak huruf yang terletak di kanan induk huruf adalah anak huruf tekelingan yang berbentuk tegak lurus dan melambangkan bunyi [ai]; anak huruf keleniah yang berbentuk seperti huruf ha dan melambangkan bunyi [h]; serta anak huruf nengen berbentuk garis miring yang melambangkan sebagai huruf mati (www.kotametro.com).

Mengenai huruf "r" [ra], ada perbedaan pendapat di antara orang Lampung sendiri. Perbedaan ini umumnya dikaitkan dengan masalah penulisan huruf 'r' menjadi 'kh' atau 'gh'. Udo Z. Karzi (2008), seorang penyair terkenal asal Liwa, menyatakan bahwa ada beberapa literatur yang memakai 'r' dan bukan 'ch', 'kh', atau 'gh' diantaranya: (1) H. N. van der Tuuk, “Het Lampongsch en Zijne Tongvallen”, TBG (Tijdschrift Bataviaasch Genootschap), deel 18, 1872, pp. 118-156; C. A. van Ophuijsen, “Lampongsche Dwerghert-Verhalen”, BKI (Bijdragen Koninklijk Instituut), deel 46, 1896, pp. 109-142; (2) Dale Franklin Walker, “A Grammar of the Lampung Language”, Ph.D. Thesis, Cornell University, 1973; (3) Junaiyah H.M. dkk dalam Pedahuluan untuk Kamus Bahasa Lampung-Indonesia(diterbitkan Balai Pustaka, Jakarta, 2001, hlm. 3) menulis: "... huruf gh dibaca seperti huruf ghain dalam bahasa Arab ditandai dengan penanda bunyi /R/. Hal ini dilakukan demi kemudahan penulisan, misalnya, ghedak /Reda'/."; (4) Aksara Lampung yang 19 huruf, dari ka-ga-nga sampai ra-sa-wa-ha, dibahas oleh Prof. Karel Frederik Holle, Tabel van Oud en Nieuw Indische Alphabetten (Batavia, 1882), dan meskipun selintas disinggung juga oleh Prof. Johannes Gijsbertus de Casparis, Indonesian Palaeography: A History of Writing in Indonesia (Leiden, 1975); (5) William Marsden dalam buku Sejarah Sumatra terbitan Komunitas Bambu, 2008 hlm. 190, menyebutkan susunan alfabet Lampung, yaitu ka ga nga pa ba ma ta da na cha ja nya ya a la ra sa waha (19 huruf); dan (6) Moehamad Noeh dalam buku Pelajaran Membaca dan Menulis Huruf Lampung (Dinas Pendidikan danKebudayaan Lampung, 1971) hlm. 4 menyebutkan banyak huruf kuno Lampung—disebut huruf Basaja karena kalau huruf itu berdiri sendiri dia mengandung bunyi a—ada19 buah. Banyak huruf tulisan sekarang ada 19 buah ditambah dengan huruf gha jadi 20 buah. Urutan huruf Lampung adalah ka ga nga pa ba ma ta da na ca ja nyaya a la ra sa wa ha gha.

Pendapat Udo Z. Karzi mengenai pemakaian ejaan 'r' yang argumennya didasarkan oleh beberapa akademisi ini disanggah oleh Natakembahang (2014). Menurutnya, Udo justru terjebak pada klaim sepihak tentang pembenaran penggunaan huruf 'r' sebagai satu-satunya yang sah dalam penulisan huruf Lampung pada kosakata berlafal 'kh' dan 'gh'. Padahal, sejak era kolonial yang berarti sebelum EYD digunakan pada medio 1972, justru telah dikenal penggunaan 'ch' sebagai penulisan kosakata yang berlafal 'kh'.

Selanjutnya, Natakembahang (2014) juga mengemukakan beberapa alasan mengapa huruf 'r' tidak bisa menggantikan kosakatan Lampung yang berlafal 'kh' atau 'gh'. Pertama, huruf Lampung saat ini terdiri dari dua puluh buah (ka, ga, nga, pa, ba, ma, ta, da, na, ca, ja, nya, ya, a, la, ra, sa, wa, ha, gha/kha) sehingga jelas bahwa ra dan gha/kha adalah dua huruf yang berbeda dan peruntukannya disesuaikan dengan kosakata yang akan ditulis, karena jika tidak dibedakan maka pembaca khususnya yang bukan penutur bahasa Lampung akan mengalami kegalatan dalam membedakan huruf 'r' yang dibaca 'r' dengan huruf 'r' yang dibaca 'kh/gh'.

Kedua, komparasi yang tepat dan ideal dalam menggambarkan penggunaan lafal kh dan gh adalah seperti kho dan ghin dalam huruf Arab. Dalam penulisan aksara Arab juga dalam penulisan latinnya, kosakata yang menggunakan huruf 'kho' atau 'ghin' tidak lantas ditulis atau diganti dengan huruf 'r' [ra] karena arti dan maknanya berbeda, hal yang tentunya berlaku juga dalam penulisan kosakata Lampung. Sebab, pelafalan 'kho' dalam huruf Arab sama persis seperti pelafalan 'kh' pada mayoritas penutur bahasa Lampung yang berdialek Belalau (api), sementara pelafalan 'ghin' persis sama seperti pelafalan 'gh' pada penutur bahasa Lampung berdialek Abung (nyo).

Ketiga, penulisan 'kh/gh' yang berlafal sama lebih lazim digunakan ketimbang digantikan atau ditulis dengan huruf 'r'. Berbagai media penulisan teks berbahasa Lampung menggunakan penulisan kh/gh, mulai dari kehidupan sehari-hari seperti saat menulis di sms dan media sosial hingga yang relatif formal dan baku seperti penulisan naskah pidato di pemerintah daerah, hingga buku-buku pelajaran bahasa Lampung dan kamus bahasa Lampung. Hal tersebut membuktikan bahwa secara empiris penulisan kh/gh jauh lebih lazim digunakan sehari-hari hingga untuk kebutuhan yang lebih formal oleh penutur bahasa Lampung secara de facto ketimbang ditulis dengan huruf 'r'.

Keempat, dalam bahasa Indonesia dikenal beberapa konsonan atau gabungn huruf, masing-masing adalah ng, ny, sy, dan hk. Hal ini jelas membuktikan bahwa penggunaan kh adalah sesuai dengan tata bahasa Indonesia. Bahkan, pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) terdapat beberapa kosakata yang menggunakan konsonan kh. Ini menjelaskan bahwa KBBI juga mengakomodir penulisan kh dalam kosakata yang berlafal sama dan tidak menuliskannya dengan huruf r, h, k, atau g. Pelafalan kh seperti pada kosakata yang terdapat dalam KBBI adalah persis sama dengan pelafalan kh pada sebagian besar penutur dialek Belalau (Api).

Sumber:
"Bahasa Lampung", diakses dari http://indahlampungku.blogspot.co.id/p/bahasa_11.html, tanggal 9 Mei 2016.

"Bahasa Lampung dan Aksara Lampung", diakses dari http://adatistiadatlpg. blogspot.co.id/2015/05/bahasa-lampung-dan-aksara-lampung.html, tanggal 9 Mei 2016.

"Mengenal Huruf Sunda Kaganga", diakses dari http://irfanimovick.blogspot.com/2009 /10/mengenal-huruf-sunda-kaganga.html, tanggal 20 Mei 2016.

"Aksara Lampung dan Tanda Bacanya (Huruf Induk dan Anak Huruf)", diakses dari http://www.kotametro.com/aksara-lampung-dan-tanda-bacanya-huruf-induk-dan-anak-huruf.html, tanggal 21 Mei 2016.

Karzi, Udo. Z. 2008. "Bingkai: Peta Bahasa- Budaya Lampung. Lampung Post, Minggu 23 Maret 2008.

Natakembahang, Diandra. 2014. Perdebatan Penggunaan Kh dan Gh dalam Penulisan Kota Kata Lampung. Lampung Ekspres Plus 15 Januari 2014.

Gang PU, Sentra Produksi Keripik Lampung

Bagi warga Bandarlampung, apabila mendengar nama Gang PU tentu yang terlintas di benak adalah sebuah jalan dengan sisi kiri dan kanannya dipenuhi oleh toko-toko penjual penganan tradisional berupa aneka keripik terbuat dari pisang, ketela, salak, tales, nangka, dan sukun dengan berbagai macam variasi rasa, seperti: asin, manis, jagung bakar, balado, sapi panggang, stroberry, melon, cokelat, vanila, asam manis, keju, moka, dan cokelat kacang.

Gang PU adalah sebutan lain dari Jalan Pagar Alam yang terletak di Kelurahan Sidodadi, Kecamatan Kedaton, Kota Bandarlampung (Putranto, 2014). Untuk mencapainya, bila dari Tanjungkarang melalui Jalan Teuku Umar hingga tiba di sebuah pertigaan Jalur dua Sultan Agung. Sebagai identitas "Gang PU", terdapat gapura besar bertuliskan "Selamat Datang Di Kawasan Sentra Industri Keripik Kota Bandar Lampung" berikut logo Kota Bandarlampung dan PT Perkebunan Nasional VII (PTPN VII).

Awalnya, Gang PU hanyalah sebuah jalan kecil yang relatif sepi dan gelap gulita bila hari berganti malam. Adalah seorang bernama Sucipto Adi yang kemudian membuat gang ini menjadi sentra produksi keripik sekaligus lokasi belanja bagi wisatawan. Pria kelahiran Malang, Jawa Timur, 25 Oktober 1966 ini dahulu hanyalah seorang buruh bangunan lepas dengan upah sebesar Rp.10.000,- per hari. Oleh karena desakan ekonomi, pada tahun 1996 dia berusaha mencari usaha lain agar dapat menghidupi keluarganya, yaitu dengan menjual keripik singkong (Oktavia, 2017).

Berbekal uang hasil tabungan sejumlah Rp.350.000,- Sucipto Adi membeli sebuah gerobak dorong serta bahan baku pembuat keripik. Dengan gerobak dorong tersebut dia berjualan di Pasar Bambu Kuning yang berjarak sekitar lima kilometer dari rumahnya. Apabila stok keripik masih tersisa, dalam perjalanan pulang dia juga menyusuri gang-gang kecil untuk mencari pembeli.

Dalam waktu tidak berapa lama, usaha Sucipto Adi berkembang pesat dengan memiliki sekitar 50 orang pelanggan. Agar dapat memenuhi kebutuhan para pelanggannya yang semakin hari bertambah banyak, dia lalu mengajak lima orang tetangganya mengembangkan usaha serupa. Bersama-sama mereka mengembangkan usaha keripik singkong tidak hanya untuk kebutuhan para pelanggan Sucipto Adi, melainkan juga dipasarkan ke sejumlah warung dan kantin terdekat.

Seiring waktu, timbullah inovasi dari para pedagang keripik Gang PU yaitu penggunaan bahan baku baru berupa pisang jenis kepok Manado. Menurut Prasetyo (2015), penggunaan pisang sebagai bahan baku berawal pada sekitar tahun 2003 ketika salah seorang penjaja bernama Harianto iseng-iseng membuat keripik pisang dengan rasa asin dan manis. Sementara menurut Oktavia (2017), Sucipto Adilah yang pertama kali memproduksinya sekitar tahun 2000. Walhasil, peminat pun semakin bertambah. Bahkan, mereka cenderung mencari keripik pisang ketimbang keripik singkong.

Pertambahan jumlah peminat diikuti pula oleh pertambahan jumlah produsen keripik. Oleh karena itu, atas prakarsa Sucipto Adi dibentuklah Kelompok Usaha Bersama (KUB) yang diberi nama Telo Rejeki pada tahun 2006. Adapun tujuannya adalah agar kawasan Gang PU menjadi sentra keripik sehingga para produsen tidak perlu lagi berkeliling menjajakan dagangannya (Oktavia, 2017).

Satu tahun kemudian, atau tepatnya tanggal 2 Februari 2007 keberadaan KUB Telo Rezeki yang hanya berizin lurah dan camat, diakui dan diresmikan oleh Dinas Perindustrian Kota Bandarlampung dengan jumlah anggota 11 UMKM. Setelah mendapat legalitas formal tersebut, konsekuensi logisnya tentu saja anggota KUB Telo Rezeki mendapat pembinaan dari Dinas Perindustrian tentang pengelolaan usaha mikro, kecil, dan menengah, bagaimana cara produksi, pengemasan, bantuan permodalan, peralatan produksi, serta pelaksanaan sertifikasi produk.

Selain bekerja sama dengan Dinas Perindustrian, Sucipto Adi yang ditunjuk sebagai ketua KUB Telo Rezeki juga menjalin hubungan dengan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VII, salah satu BUMN pembina program kemitraan dengan UMKM di Provinsi Lampung. Dari kerja sama ini KUB Telo Rezeki mendapat dukungan promosi berupa keikutsertaan dalam pameran-pameran baik di dalam maupun luar daerah Lampung. PTPN VII juga memberi pembinaan berupa peningkatan pengetahuan atau wawasan pengusaha terhadap pengelolaan manajerial, pengemasan yang baik, dan teknik produksi melalui pelatihan-pelatihan maupun seminar sehingga jumlah anggota KUB Telo Rezeki menjadi bertambah banyak.

Akhirnya, sebagai wujud dari berkembangnya Gang PU menjadi kawasan sentra industri keripik, Dinas Perindustrian dan PTPN VII membuat sebuah gapura dengan tujuan agar masyarakat mengenal gang ini (Jalan Pagar Alam) sebagai sentra penjualan sekaligus pusat pembuatan keripik di Kota Bandarlampung. Dan, semenjak berdirinya gapura jumlah produsen keripik kian bertambah. Tercatat, ada sekitar 200 orang yang bekerja sebagai karyawan di 48 kios anggota KUB Telo Rezeki. Sementara Sucipto Adi sendiri yang merupakan pelopor Telo Rezeki sempat mendapat beberapa penghargaan, di antaranya: Sidakarya dari Dinas Ketenagakerjaan Lampung tahun 2012 dan Ovop Bintang 3 dari Kementerian Perindustrian tahun 2013 dan 2015. (ali gufron)

Foto: http://tapisjakarta.blogspot.co.id/2015/12/sentra-panganan-keripik-kota-bandar.html
Sumber:
Oktavia, Vina. 2017. "Sucipto Adi Menyulap Gang Gelap menjadi Kampung Keripik", diakses dari http://regional.kompas.com/read/2017/01/18/11110051/sucipto.adi.menyulap. gang.gelap.menjadi.kampung.keripik, tanggal 28 April 2017.

Prasetyo, Heru. 2015. "Gang PU, Surganya Keripik Pisang Aneka Rasa Khas Lampung", diakses dari http://lampung.tribunnews.com/2015/06/16/gang-pu-surganya-keripik-pisang-aneka-rasa-khas-lampung?page=2, tanggal 28 April 2017.

Putranto, Angger. 2014. "Jangan Tersesat di Gang PU!", diakses dari http://travel.kompas. com/read/2014/08/01/101500227/Jangan.Tersesat.di.Gang.PU., tanggal 10 Mei 2017.

Kabing Enau dan Rotan Muda

Batang rotan tidak hanya digunakan sebagai bahan dasar dalam pembuatan suatu kerajinan, seperti kursi, meja, keranjang, piring, nampan, tudung saji, penggebuk kasur, tas, mainan anak dan lain sebagainya. Di daerah Lampung Barat misalnya, batang rotan atau biasa disebut kabing rotan juga digunakan sebagai bahan pembuat sayuran. Bersama dengan kabin enau, kabin rotan yang masih muda diolah sedemikian rupa untuk disajikan sebagai makanan dalam berbagai upacara adat.

Adapun cara membuatnya, mula-mula dengan mencari kabing rotan yang masih muda serta kabing enau yang sudah tua. Selanjutnya, kabing rotan dan enau yang telah dipilih diiris tipis lalu direndam dalam air selama satu hingga dua jam. Tujuan perendaman adalah agar getah dari kedua kabing atau batang tersebut menjadi luntur dan larut dalam air.

Bila getah telah larut, irisan kabing dibilas hingga bersih kemudian dicampur dengan santan kelapa dan berbagai macam bumbu dapur untuk dijadikan sebagai masakan. Konon, masakan yang berupa sayuran ini telah ada sejak zaman penjajahan Belanda dan diyakini dapat mengobati berbagai macam penyakit. (gufron)

Bahasa Lampung

Bahasa Lampung termasuk dalam cabang Sundik dari rumpun bahasa Melayu-Polinesia yang masih dekat dengan bahasa Sunda, Batak, Jawa, Bali, Melayu, dan beberapa bahasa lainnya di Indonesia (indahlampungku.blogspot.co.id). Penutur rumpun bahasa Lampung adalah Ulun Lampung yang mendiami Provinsi Lampung dan sebagian di selatan Palembang serta pantai Barat Provinsi Banten.

Menurut adatistiadatlpg.blogspot.co.id, rumpun bahasa Lampung dibagi menjadi tiga, yaitu: bahasa Komering, bahasa Lampung Api, dan bahasa Lampung Nyo. Ketiga rumpun ini dibagi lagi dalam dialek "A" dan dialek "O". Dialek "A" sebagian besar dituturkan oleh ulun beradat Peminggir atau Saibatin, yaitu: Melinting-Meranggai, Pesisir Rajabasa, Pesisir Teluk, Pesisir Semaka, Pesisir Krui, Belalau dan Ranau, Komering, Kayu Agung, dan ulun beradat Pepadun (Way Kanan, Sungkai, dan Pubian). Sedangkan dialek "O" hanya dituturkan oleh ulun beradat pepadun, yaitu Abung dan Menggala/Tulangbawang.

Sementara menurut Dr van Royen yang dikutip oleh id.wikipedia.org, mengklasifikasikan rumpun bahasa Lampung ke dalam dua subdialek, yaitu dialek Belalau atau Api dan dialek Abung atau Nyo. Dialek Belalau (Api) dibagi menjadi: (1) Logat Belalau dipertuturkan oleh ulun Lampung yang berdomisili di Kabupaten Lampung Barat (Kecamatan Balik Bukit, Belalau, Suoh, Sukai, Ranau, Sekincau, Gedung Surian, Way Tenong, dan Sumber Jaya), Kabupaten Lampung Selatan (Kecamatan Kalianda, Penengahan, Palas, Pedada, Katibung, Way Lima, Padangcermin, Kedondong, dan Gedongtataan), Kabupaten Tanggamus (Kecamatan Kotaagung, Semaka, Talangpadang, Pagelaran, Pardasuka, Hulu Semuong, Cukuhbalak, dan Pulau Panggung), Kota Bandarlampung (Teluk Betung Barat, Teluk Betung Selatan, Teluk Betung Utara, Panjang, Kemiling, dan Rajabasa), dan Provinsi Banten (Cikoneng, Bojong, Salatuhur, Tegal, Anyer, dan Serang); (2) Logat Krui dipertuturkan oleh ulun Lampung yang berdomisili di Kabupaten Pesisir Barat, yaitu di Kecamatan Pesisir Tengah, Pesisir Utara, Pesisir Selatan, Karya Penggawa, Lemong, Bengkunat, dan Ngaras; (3) Logat Melinting dipertuturkan oleh ulun Lampung di Kabupaten Lampung Timur (Kecamatan Labuhan Maringgai, Kecamatan Jabung, Kecamatan Pugung, dan Kecamatan Way Jepara; (4) Logat Way Kanan dipertuturkan oleh ulun Lampung di Kabupaten Way Kanan (Kecamatan Blambangan Umpu, Baradatu, Bahuga, dan Paku Ratu); (5) Logat Pubian dipertuturkan oleh ulun Lampung di Kabupaten Lampung Selatan (Natar, Gedung Tataan, dan Tegineneng), Kabupaten Lampung Tengah (Kecamatan Pubian dan Kecamatan Padangratu), dan Kota Bandarlampung (Kecamatan Kedaton, Sukarame, dan Tanjung Karang Barat); (6)Logat Sungkay dipertuturkan oleh ulun Lampung di Kabupaten Lampung Utara (Kecamatan Sungkay Selatan, Sungkau Utara, dan Sungkay Jaya); dan (7) Logat Jelema Daya atau Logat Komering dipertuturkan oleh ulun Lampung yang berdomisili di Provinsi Sumatera Selatan (Muaradua, Martapura, Belitang, Cempaka, Buay Madang, Lengkiti, Ranau, dan Kayuagung).

Dialek Abung (Nyo) dibagi menjadi: (1)Logat Abung dipertuturkan oleh ulun Lampung di Kabupaten Lampung Utara (Kecamatan Kotabumi, Abung Barat, Abung Timur, dan Abung Selatan), Kabupaten Lampung Tengah (Kecamatan Gunung Sugih, Punggur, Terbanggi Besar, Seputih Raman, Seputih Banyak, Seputih Mataram, dan Rumia), Kabupaten Lampung Timur (Kecamatan Sukadana, Metro, Kibang, Batanghari, Sekampung dan Way Jepara), Kabupaten Lampung Selatan (Desa Muaraputih dan Negararatu), Kota Metro (Kecamatan Metro Raya dan Bantul), Kota Bandarlampung (Kelurahan Labuhanratu, Gedungmeneng, Rajabasa, Jagabaya, Langkapura, dan Gunungagung/Segalamider); dan (2) Logat Menggala dipertuturkan oleh ulun Lampung yang berdomisili di Kabupaten Tulang Bawang (Kecamatan Menggala, Tulang Bawang Udik, Tulang Bawang Tengah, Gunung Terang, dan Gedung Aji).

Dari klasifikasi diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa sebagian besar etnis Lampung yang berada di Kabupaten Lampung Selatan menggunakan bahasa Lampung dialek Belalau (Api) dan sisanya dialek Abung (Nyo). Dialek Belalau dipertuturkan oleh ulun Lampung yang berdomisili di Kalianda, Penengahan, Palas, Pedada, Katibung, Way Lima, Padangcermin, Kedondong, Gedongtataan, Natar, dan Tegineneng. Sedangkan dialek Abung (Nyo) hanya dipertuturkan di dua desa yaitu Muaraputih dan Negararatu.

Ulun Lampung yang ada di Kabupaten Lampung Selatan penutur dialek Belalau dan Abung tersebut dapat dikategorikan sebagai beradat Saibatin atau Peminggir. Masyarakat adat Peminggir terdiri atas: Peminggir Paksi Pak (Ratu Tundunan, Ratu Belunguh, Ratu Nyerupa, Ratu Bejalan di Way) dan Komering-Kayuagung yang sekarang termasuk dalam Provinsi Sumatera Selatan. Masyarakat adat peminggir ini mendiami sebelas wilayah adat yang berada di sepanjang pantai barat dan selatan, yaitu: Kalianda, Teluk Betung, Padang Cermin, Cukuh Balak, Way Lima, Talang Padang, Kota Agung, Semangka, Belalau, Liwa, dan Ranau (indahlampungku.blogspot.co.id).

Bagi masyarakat saibatin bahasa Lampung dialek Belalau (Api) mempunyai beberapa fungsi, yaitu komunikasi dan simbol identitas. Sebagai komunikasi ia digunakan untuk: (a) komunikasi sosial sebagai sarana membangun konsep diri, aktualisasi, kelangsungan hidup diantara anggota masyarakat; (b) komunikasi ekspresif yang tidak bertujuan mempengaruhi orang lain, namun untuk menyampaikan perasaan-perasaan (emosi); (c) komunikasi ritual untuk menjaga tradisi, komunitas, suku bangsa, dan ideologi; dan (d) komunikasi instrumental guna menginformasikan, mengajak, mengubah sikap dan keyakinan masyarakat. Sedangkan sebagai simbol identitas, dimanfaatkan untuk mengekspresikan segala bentuk ide oleh manusia Lampung guna menjaga dan melestarikan kebudayaannya.

Namun, walau memiliki fungsi yang sangat penting, dewasa ini penggunaannya agak memudar dan mulai tergantikan oleh bahasa Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari beberapa gejala yang tampak, seperti: penurunan jumlah penutur aktif; semakin berkurangnya ranah penggunaan bahasa; pengabaian bahasa ibu oleh penutur usia muda; usaha merawat identitas etnik tanpa menggunakan bahasa ibu; penutur generasi terakhir sudah tidak cakap lagi menggunakan bahasa ibu; dan terancam punahnya bahasa kreol dan bahasa sandi.

Menurut Tondo (2009) yang dikutip oleh id.wikipedia.org, paling tidak ada 10 faktor yang menyebabkan pudarnya bahasa daerah, termasuk bahasa Lampung. Adapun faktor-faktor tersebut adalah: (1) Pengaruh bahasa mayoritas dimana bahasa daerah itu digunakan; (2) Kondisi masyarakat yang penuturnya yang bilingual atau bahkan multilingual; (3) Faktor Globalisasi; (4) Faktor migrasi; (5) Perkawinan antar etnik; (6) Bencana alam dan musibah; (7) Kurangnya penghargaan terhadap bahasa etnik sendiri; (8) Kurangnya intensitas komunikasi berbahasa daerah dalam keluarga; (9) Faktor ekonomi; dan (10) Faktor bahasa Indonesia.

Dalam pergaulan sehari-hari misalnya, bahasa Lampung hanya dipergunakan dalam berkomunikasi di lingkungan keluarga, sesama suku bangsa Lampung, dan pada saat diselenggarakan upacara adat. Sementara dalam berkomunikasi dengan masyarakat pendatang, orang Lampung menggunakan bahasa Indonesia. Apabila hal ini terus terjadi, bukan tidak mungkin bahasa Lampung akan ditinggalkan oleh penuturnya.

Hal ini diperkuat oleh penuturan salah seorang informan yang berdomisili di Kalianda dan berprofesi sebagai nelayan. Menurutnya, generasi muda Lampung sekarang hanya mengetahui bahasa Lampung tanpa mampu menuturkannya dengan benar. Mereka lebih memilih menggunakan bahasa Indonesia yang mudah untuk digunakan, khususnya jika teman sebaya terdiri dari berbagai suku. Mereka tidak berusaha mengenalkan budayanya kepada remaja pendatang, melainkan menyesuaikan diri dengan menggunakan bahasa Indonesia. Selain itu, penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi dalam dunia pendidikan, juga turut "membantu" para remaja Lampung melokalitas bahasa ibu mereka.

Pada skup yang lebih besar lagi, heterogenitas masyarakat Lampung Selatan sedikit banyak juga membuat bahasa Lampung menjadi terpinggirkan. Heterogenitas masyarakat Lampung Selatan ini disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu migrasi dan amalgamasi. Migrasi mulai terjadi sekitar tahun 1965 ketika pemerintah mengadakan program transmigrasi penduduk dari Pulau Jawa ke Lampung agar terjadi pemerataan. Sedangkan amalgamasi atau perkawinan campuran antara suku bangsa Lampung dengan suku-suku bangsa lainnya menyebabkan anak-anak yang dihasilkan lebih banyak menggunakan bahasa lain (bahasa Indonesia) ketimbang bahasa orang tua dalam berkomunikasi dalam keluarga. (gufron)

Sumber:
"Bahasa Lampung", diakses dari http://indahlampungku.blogspot.co.id/p/bahasa_11.html, tanggal 9 Mei 2016.

"Bahasa Lampung dan Aksara Lampung", diakses dari http://adatistiadatlpg. blogspot.co.id/2015/05/bahasa-lampung-dan-aksara-lampung.html, tanggal 9 Mei 2016.

"Rumpun Bahasa Lampung", diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Rumpun_bahasa _Lampung, tanggal 12 Mei 2016.

"Budaya Lampung", diakses dari http://indahlampungku.blogspot.co.id/p/budaya.html, tanggal 12 Mei 2016.

"Suku Lampung", diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Lampung, tanggal 15 Mei 2016.

Permainan Ucing-ucingan

Di Kabupaten Kepulauan Seribu, Provinsi DKI Jakarta, ada sebuah permainan tradisional yang dinamakan sebagai ucing-ucingan. Sesuai dengan namanya, permainan ini menggambarkan perburuan anjing mengejar kucing dalam sebuah lingkaran yang dipagari oleh tangan-tangan para pemainnya yang saling berpegangan. Permainan ucing-ucingan umumnya dimainkan anak laki-laki dan perempuan yang berusia antara 9-12 tahun. Jumlah pemainnya sekitar 10 orang yang nantinya akan menjadi kelompok kucing, kelompok anjing dan seorang wasit atau pemberi komando.

Untuk bermain ucing-ucingan yang biasanya dilakukan di halaman rumah atau tepi pantai, para pemain harus menentukan terlebih dahulu siapa yang menjadi kucing, anjing, dan pagar tangan. Caranya, wasit (yang telah ditunjuk sebelumnya) akan merentangan telapak tangan kanannya, sedangkan para pemain akan menaruh jari telunjuk di atasnya sambil diiringin pantun:

Wer…wer... tak
Ting lipiot tulang bawang
Siapa kejepit masuk lubang

Pada saat selesai diucapkan, para pemain harus berusaha menarik jari telunjukkan secepat mungkin agar tidak terjepit. Apabila jari telunjuknya tercepit berarti ia harus menjadi kucing atau anjing. Namun apabila 2-3 jari telunjuk yang tertangkap, maka undian dimulai lagi sampai yang tertangkap hanya satu jari telunjuk saja.

Selanjutnya, orang yang terpilih menjadi kucing akan berada di dalam lingkaran dan yang menjadi anjing di luar lingkaran. Apabila wasit telah memberi aba-aba, maka mulailah si anjing berusaha menerobos pagar untuk menangkap kucing dengan melepaskan pegangan tangan para pemain yang menjadi pagar. Dan, apabila si pemain berhasil menerobos pagar dan berhasil menangkap pemain yang berperan menjadi kucing, maka mereka akan digantikan oleh pemain lain yang tadinya berperan sebagai pagar. Begitu seterusnya hingga mereka lelah dan berhenti bermain.

Popular Posts

-