Kemidi Rudat

Kemidi Rudat merupakan salah satu seni pertunjukan tradisional yang ada di daerah Nusa Tenggara Barat (NTB). Ada beberapa versi mengenai asal usul nama kesenian ini. Ada yang mengatakan bahwa rudat berasal dari kata “raudah” yang berarti “baris-berbaris”. Selain itu, ada pula yang mengatakan bahwa kata “rudat” berasal dari kata “soldat” (bahasa Belanda) yang berarti “serdadu” atau “tentara”.

Sebagai seni pertunjukkan, pementasan kemidi rudat dilakukan dalam bentuk tarian, nyanyian, dan dialog (pelakonan). Dialog sering berupa syair dan atau pantun. Dari cerita-cerita yang disajikan menunjukkan bahwa kesenian ini bernafaskan Islam. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika musik, nyanyian, dan tarian dalam kemidi rudat berbeda kesenian tradisi masyarakat NTB pada umumnya. Dalam konteks ini, jika pada umumnya kesenian tradisional masyarakat NTB dipengaruhi oleh unsur budaya Bali yang Hindu, maka untuk kesenian kemidi rudat dipengaruhi oleh budaya Timur Tengah dan Melayu yang Islam.

Peralatan
Peralatan musik yang digunakan dalam seni pertujukkan kemidi rudat meliputi: seperangkat gamelan dalam format kecil, rebana, tambur (jidur) dan biola. Sedangkan, irama musik yang dikumandangkan berbentuk “stambulan” dan “Melayuan”.

Pemain dan Busana yang Dikenakan
Pemain kemidi rudat terdiri atas 11 orang dengan rincian: seorang yang berperan sebagai raja, seorang yang berperan sebagai putera raja, seorang yang berperan sebagai puteri (sering disebut “nyonya”), dua orang yang berperan sebagai wazir, dua orang yang berperan sebagai khadam (pelawak), seorang yang berperan sebagai raja jin, dan seorang yang berperan sebagai kepala perampok. Jadi, sama dengan Teater Bangsawan (Kepulauan Riau), Teater Mamanda (Kalimantan Selatan), dan Dul Muluk (Sumatera Selatan). Sebagai catatan, pemain kemidi rudat semuanya laki-laki. Jadi, yang berperan sebagai nyonya pun juga laki-laki.

Adapun busana (pakaian) yang dikenakan oleh peran utama dan komandan adalah tarbus (tutup kepala), epolet berjumbai, baju dengan lengan panjang, celana yang kiri-kanannya bergaris, dan berpedang. Sementara, pemain pembantu lainnya: pakaian seragam, baju lengan panjang, bercelana panjang, berselempang, dan ber-tarbus. Sedangkan, peran khadam, nyonya dan Raja Jin/perampok berpakaian khas/tersendiri.

Tempat Pementasan
Sebagaimana seni pertunjukkan pada umumnya, kemidi rudat dapat dipentaskan di mana saja yang memiliki area cukup luas. Pengaruh Teater Bangsawan, pada gilirannya membuat pementasan kemidi rudat menggunakan panggung lengkap, disertai dengan dekor. Panggung tersebut dapat menggunakan atap atau terbuka. Dekor merupakan layar yang menggambarkan “lokasi” kejadian. Jadi, bisa lukisan istana, taman, hutan belantara, gua dan sebagainya.

Jalannya Pementasan
Pementasan kemidi rudat biasanya diawali dengan nyanyian-nyanyian kemudian dilanjutkan dengan cerita yang diselingi dengan banyolan-banyolan. Cerita-cerita yang dihidangkan bersumber dari cerita sastra Melayu lama atau cerita Seribu Satu Malam; biasanya menggunakan bahasa Melayu Lama. Cerita yang dibawakan bersifat “roman kehidupan” dan cerita-cerita kerajaan Melayu, dengan judul antara lain: “Siti Jubaedah”, Jula Juli Bintang Tujuh”, “Indera Bangsawan”, dan “Rohaya Rohani”. (Pepeng)

Sumber:
Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1992. Aneka Ragam Khasanah Budaya Nusantara III. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
http://64.203.71.11/kompas-cetak/0411/26/tanahair/1371672.htm
http://www.suarantb.com
http://www.cybertokoh.com

Jengglong

Jengglong adalah instrumen musik dari daerah Jawa Barat yang berfungsi sebagai kerangka lagu dan pembuat nada dasar. Cara memainkan alat ini dipukul dengan alat pukul empuk. Jengglong berbentuk bilah-bilah yang berderet di atas ruang suara atau resonator. Bilah-bilah terbagi pada dua buah ancak yang masing-masing berjumlah 3 bilah dan permukaannya berpencong dengan diameter 30-40 cm. Selain berbentuk bilahan, alat ini terkadang berbentuk bulat dan permukaannya berpencong. Seperti halnya bonang dan sarong, jengglong dibuat dari bahan dasar perunggu, kuningan atau besi, sedangkan pemukulnya dari kayu yang berbentuk lurus pada ujungnya dibalut dengan rajutan benang wol.

Desa Cijagang

Letak dan Keadaan Alam
Cijagang1 adalah salah satu desa yang ada di Kecamatan Cikalongkulon2, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat. Secara geografis desa ini berada di kawasan Gunung Gede, dengan batas-batas: sebelah utara berbatasan dengan Desa Mekarjaya dan Desa Mekarsari; sebelah selatan berbatasan dengan Desa Majalaya; sebelah barat berbatasan dengan Desa Mekarjaya dan Kecamatan Sukaresmi; dan sebelah timur berbatasan dengan Desa Sukamulya. Desa ini tidak hanya berada di kaki tapi juga di lereng gunung, sehingga wilayahnya tidak hanya berupa dataran rendah semata, tetapi juga dataran tinggi atau berbukit-bukit.

Jarak Desa Cijagang dengan pusat pemerintahan Republik Indonesia (Jakarta) kurang lebih 140 km. Sedangkan, dengan pusat pemerintahan Provinsi Jawa Barat (Gedung Sate) kurang lebih 70 Km, pusat pemerintahan Kabupaten Cianjur kurang lebih 21 Km dan dengan pusat pemerintahan Kecamatan Cikalongkulon kurang lebih 5 Km ke arah selatan. Meskipun desa ini berada agak jauh dengan pusat pemerintahan Kabupaten Cianjur, bukan berarti bahwa desa tersebut terisolir, karena di salah satu wilayahnya dilalui jalan raya yang menghubungkan Cianjur dengan Bandung dan dahulu pernah pula menjadi tempat berdirinya Cianjur dengan bupati pertamanya bernama Dalem Cikundul.

Secara keseluruhan, luas Desa Cijagang mencapai 830,0 Ha, dengan rincian: perumahan penduduk (20,5 Ha atau 2,46%), sawah irigasi teknis dan setengah teknis (116,1 Ha atau 13,99%), tegalan/ladang (198,2 Ha atau 23,88%), hutan rakyat3 (168,2 Ha atau 20,27%), hutan milik Perhutani (195,5 Ha atau 23,55%), kas desa (tanah gege) (19,3 Ha atau 2,33%), perkantoran pemerintah (2 Ha atau 0,24%), pemakaman (13 ha atau 1,57%) dan lain-lain4 (97,2 Ha atau 11,71%) (Potensi Desa Cijagang, Tahun 2010/2012). Ini bermakna bahwa luas wilayah Desa Cijagang sebagian besar berupa hutan (43,82%) milik rakyat maupun perhutani yang terbentang di sekitar puncak Pasir (gunung) Saga dan berbatasan langsung dengan Desa Sukamulya dan Mekarjaya.

Di luar hutan terdapat lahan yang digunakan sebagai tegalan atau ladang (23,88%) dengan ketersediaan air terbatas dan tanahnya berbuit-bukit, bahkan banyak dijumpai yang tingkat kemiringannya tinggi. Setelah ladang, peruntukan lahan selanjutnya adalah sawah, baik sawah irigasi teknis maupun setengah teknis (13,99%) yang terletak di kaki gunung dengan tanah relatif landai dan memiliki tersediaan air yang melimpah. Selebihnya, telah menjadi perumahan penduduk (2,46%), tanah kas desa (2,33%), pemakaman (1,57%), perkantoran pemerintah (0,24%) dan lain sebagainya (Potensi Desa Cijagang Tahun 2010/2012).

Kependudukan
Penduduk Desa Cijagang berjumlah 4.840 jiwa, dengan jumlah Kepala Keluarga (KK) 915. Jika dilihat berdasarkan jenis kelaminnya, maka jumlah perempuannya mencapai 2.427 jiwa (50,14%) dan penduduk berjenis kelamin laki-laki 2.413 jiwa (49,86%). Para penduduk ini tersebar di 5 dusun/kampung yang ada di Desa Cijagang, yaitu Dusun Majalaya, Dusun Cilalay, Dusun Parasu, Dusun Cipurut, dan Dusun Jamisata. Dusun Majalaya dihuni oleh 2.333 orang dengan jumlah laki-laki 1162 jiwa dan perempuan 1.171 jiwa, Dusun Cilalay dihuni oleh 1.135 jiwa dengan jumlah laki-laki 545 jiwa dan perempuan 590 jiwa, dan Dusun Parasu dihuni oleh 1.372 jiwa dengan rincian jumlah laki-laki sebanyak 706 jiwa dan perempuannya 666 jiwa.

Tiap dusun dibagi lagi menjadi beberapa Rukun Warga (RW) dan Rukun Tetangga (RT). Di Dusun Majalaya terdapat 2 buah Rukun Warga (RW) dan 7 buah Rukun Tetangga (RT) dengan rincian: RW 01/RT 01 dihuni 278 jiwa (laki-laki 128 jiwa dan perempuan 150 jiwa), RW 01/RT 02 dihuni oleh 502 jiwa (laki-laki 249 jiwa dan perempuan 253 jiwa), RW 01/RT 03 dihuni 263 jiwa (laki-laki 135 jiwa dan perempuan 128 jiwa), RW 02/ RT 01 dihuni 346 jiwa (laki-laki 172 jiwa dan perempuan 174 jiwa), RW 02/RT 02 dihuni 446 jiwa (laki-laki 272 jiwa dan perempuan 214 jiwa), RW 02/RT 03 dihuni 372 jiwa (laki-laki 190 jiwa dan perempuan 182 jiwa), dan RW 02/RT 04 dihuni 133 jiwa (laki-laki 63 jiwa dan perempuan 70 jiwa).

Untuk Dusun Cilalay hanya terdiri dari sebuah Rukun Warga dan 3 buah Rukun Tetangga dengan rincian: RW 03/RT 01 dihuni 390 jiwa (laki-laki 192 jiwa dan perempuan 198 jiwa), RW 03/RT 02 dihuni 373 jiwa (laki-laki 192 jiwa dan perempuan 181 jiwa), dan RW 03/RT 035 dihuni oleh 404 jiwa (laki-laki 219 jiwa dan perempuan 185 jiwa).

Sedangkan dusun terakhir, yaitu Dusun Parasu terdiri dari 2 buah Rukun Warga dan 4 buah Rukun Tetangga dengan rincian: RW 04/RT 01 dihuni 280 jiwa (laki-laki 142 jiwa dan perempuan 138 jiwa), RW 04/RT 02 dihuni 297 jiwa (laki-laki 161 jiwa dan perempuan 136 jiwa), RW 05/RT 01 dihuni 409 jiwa (laki-laki 205 jiwa dan perempuan 204 jiwa), dan RW 05/RT 02 dihuni oleh 420 jiwa (laki-laki 220 jiwa dan perempuan 200 jiwa). (Potensi Desa Cijagang Tahun 2010/2012).

Untuk ukuran sebuah desa, jumlah penduduk Desa Cijagang tergolong besar. Faktor-faktor penyebabnya adalah karena desa tersebut relatif dekat dengan pusat Kota Cianjur dan juga sebagai salah satu kawasan wisata religi di Kabupaten Cianjur. Keberadaan desa yang relatif tidak jauh dari pusat kota ini pada gilirannya membuat jumlah penduduknya berkembang pesat, khususnya di sekitar jalan menuju ke kawasan wisata ziarah Makam Dalem Cikundul, sehingga penduduk yang bermukim di wilayah tersebut lebih padat ketimbang wilayah-wilayah lainnya. Wilayah desa yang tidak begitu padat umumnya digunakan sebagai lahan pertanian dan perladangan.

Pola Pemukiman
Dari segi luas, pemukiman menempati urutan yang ketika setelah setelah hutan dan ladang, yaitu 20,5 Ha (2,46%). Pemukiman yang tentunya berada di luar hutan, perladangan dan persawahan ini semakin mendekati jalan semakin padat. Umumnya perumahan berada di sekitar jalan, baik itu jalan kabupaten, kecamatan, maupun desa, berjajar, dengan arah menghadap ke jalan. Arah rumah yang berada bukan di pinggir jalan pun arahnya mengikuti yang ada di pinggir jalan.

Berdasarkan Potensi Desa Cijagang Tahun 2010/2012, jumlah rumah yang ada di desa tersebut ada 850 buah. Dari ke 850 buah rumah tersebut, 575 buah diantaranya berbentuk rumah permanen (berdinding tembok, berlantai semen dan atau keramik). Sisanya, ada yang hanya sebagian berdinding tembok (95 rumah), berdinding kayu/papan (70 rumah), berdinding bambu (150 buah), dan ada pula rumah panggung berdinding kayu atau bambu dengan jumlah 50 buah. Rumah seperti ini (panggung) umumnya berada di sekitar areal perladangan dan perbatasan hutan milik Perhutani. Jarak antarrumah bergantung daerah pemukimannya, pada daerah “bawah” umumnya jarak antarrumah berdekatan, malahan, banyak yang berhimpitan. Namun, semakin ke arah ladang dan hutan jarak itu semakin renggang atau jauh.

Dari seluruh rumah tersebut hanya sebanyak 250 KK yang memanfaatkan air bersih dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Cianjur. Sedangkan warga lainnya masih memanfaatkan sumur gali, sumur pompa, mata air dan air sungai untuk keperluan mandi, cuci, dan minum. Berdasarkan data dari Potensi Desa Cijagang Tahun 2010/2012, terdapat 469 unit sumur gali yang dimanfaatkan oleh 469 KK, 66 unit sumur pompa yang dimanfaatkan oleh 66 KK, 1 buah mata air6  yang dimanfaatkan oleh 305 KK, dan 4 buah sungai yang dimanfaatkan oleh 431 KK. Ini artinya, kebutuhan air bersih pada warga masyarakat Desa Cijagang diperoleh melalui berbagai cara, bergantung letak geografisnya. Para warga yang berada di daerah kaki Pasir Saga misalnya, mereka dapat memanfaatkan aliran air sungai, membuat sumur gali atau pompa karena kedalaman air tanah hanya sekitar 5—20 meter. Akan tetapi, bagi para warga yang berada di daerah “tengah”, lebih-lebih bagian “atas” (kawasan lereng Pasir Saga dan hutan), hal itu sulit dilakukan karena kedalaman air tanahnya bisa mencapai ratusan meter. Untuk itu, mereka menggantungkan sepenuhnya kepada kemurahan alam, yaitu sumber mata air yang berada di kawasan puncak Pasir Saga. Caranya adalah dengan membuat bak tampungan, kemudian dialirkan ke rumah-rumah penduduk dan ladang melalui pipa/selang plastik yang diameternya sekitar 2 centimeter.

Mata Pencaharian
Jenis-jenis mata pencaharian yang digeluti oleh warga masyarakat Desa Cijagang sangat beragam, terdiri atas: buruh tani (47,31%) dan petani pemilik sawah/ladang (27,33%), pedagang (8,41%), tukang ojeg (7,57%), karyawan swasta (3,15%), buruh swasta (2,10%), peternak (1,35%) dan pagawai negeri sipil (1,26%). Selebihnya, adalah: TNI/Polri, perajin, montir, tukang kayu, dan tukang batu (Potensi Cijagang Tahun 2010/2012). Bervariasinya jenis mata pencaharian yang digeluti oleh warga masyarakat Cijagang sangat erat kaitannya dengan letak desa yang berbatasan dengan wilayah kota, yaitu Kota Cianjur yang tidak hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi juga pusat-pusat yang lain, termasuk ekonomi/perdagangan. Selain itu, di dalam desa sendiri terdapat sebuah obyek wisata religi berupa makam keramat Dalem Cikundul yang sering dikunjungi wisatawan untuk berziarah.

Pendidikan dan Kesehatan
Sarana pendidikan yang terdapat di Desa Cijagang meliputi: Taman Kanak-kanak (TK) sejumlah 1 buah, Sekolah Dasar (SD) sejumlah 3 buah, dan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) sejumlah 1 buah. Sementara untuk sarana pendidikan keagamaan terdapat 2 buah Diniyah, 1 buah Madrasah Ibtidaiyah, 1 buah Madrasah Tsanawiyah, dan 2 buah Pondok Pesantren.

Taman Kanak-kanak berkedudukan di Kampung Majalaya dengan jumlah pengajar sebanyak 2 orang dan siswa 24 orang. Kemudian, ketiga SD yang ada dapat menampung siswa sebanyak 795 orang dengan jumlah pengajar 30 orang, sebuah SLTP Terbuka yang ada di desa tersebut memiliki guru sejumlah 7 orang dan dapat menampung 60 siswa, 2 buah diniyah yang ada dapat menampung 68 siswa dengan jumlah pengajar sebanyak 6 orang, Madrasah Ibtidaiyah menampung 150 orang murid dengan jumlah pengajar 6 orang, Madrasah Tsanawiyah menampung 50 orang siswa dengan 3 orang pengajar, dan 2 buah Pondok Pesantren7  yang ada dapat menampung 110 santri dengan jumlah pengajar sebanyak 21 orang.

Gambaran di atas menujukkan bahwa sarana pendidikan yang dimiliki oleh Desa Cijagang hanya sampai SLTP. Ini artinya, jika seseorang ingin melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi, maka mesti keluar dari desanya. Meskipun demikian, sesungguhnya tidak perlu keluar dari Kecamatan Cikalong Kulon, karena tidak jauh dari desa tersebut terdapat beberapa buah Sekolah Menengah Atas atau SMA. Namun, apabila ingin melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi harus pergi ke ibukota provinsi (Bandung) yang banyak terdapat perguruan tinggi, baik swasta maupun negeri.

Adapun tingkat pendidikan yang dicapai oleh penduduk Cijagang sebagian besar adalah SD/sederajat (30,06%). Sebagian lainnya yang jumlahnya cukup besar adalah tamatan SLTP/sederajat (25,91%) dan tamatan SLTA/sederajat (17,36%). Sedangkan, yang menamatkan Akademi/Perguruan Tinggi hanya 3,67%.

Sementara itu, sarana kesehatan yang ada di Desa Cijagang adalah sebuah Puskesmas Pembantu yang berada di Kampung Majalaya RT.01/RW02 dan 5 unit Posyandu dengan tenaga medis 5 orang yang terdiri atas: seorang dokter umum, seorang tenaga farmasi, dan 3 orang bidan. Mengingat bahwa tidak semua warga memanfaatkan fasilitas kesehatan yang ada di desa, terutama yang berkenaan dengan kelahiran, maka di sana ada dua orang dukun bayi yang telah dibekali pengetahuan medis. Dukun tersebut oleh masyarakat setempat disebut sebagai paraji.

Agama dan Kepercayaan
Agama yang dianut oleh warga masyarakat Desa Cijagang hanyalah Islam dan Kristen. Berdasarkan data yang tertera dalam Potensi Desa Cijagang Tahun 2010/2012, Islam merupakan agama yang dianut oleh sebagian besar penduduknya (4.838 orang atau 99.96%). Sedangkan sisanya sebanyak 2 orang atau 0,04% adalah penganut Kristen Protestan. Para penganut agama Kristen Protestan ini bukanlah penduduk asli Cijagang, melainkan pendatang dari Jawa yang menetap dan bermatapencaharian sebagai pedagang kelontong.

Ada korelasi yang positif antara jumlah pemeluk suatu agama dengan jumlah sarana peribadatan. Hal itu tercermin dari banyaknya sarana peribadatan yang berkaitan dengan agama Islam (mesjid dan musholla atau langgar). Berdasarkan data yang tertera dalam Potensi Desa Cijagang, jumlah mesjid yang ada di sana mencapai 5 buah, sedangkan, langgar yang ada mencapai 28 buah. Sarana peribadatan yang berkenaan dengan penganut agama Kristen Protestan belum terdapat di desa ini. Oleh karena itu, jika mereka (penganut nasrani) ingin melakukan kebaktian, maka harus pergi ke gereja yang ada di Kota Cianjur. Sedangkan, bagi para muslim yang akan melaksanakan salah satu kewajibannya (sholat) cukup dengan mendatangi mesjid atau langgar yang terdekat (tidak perlu harus keluar desa).

Mesjid-mesjid yang ada di Desa Cijagang diantaranya adalah: (1) Mesjid Jami Al-Illiyin di Kampung Majalaya RT.01/RW.02 dengan susunan pengurus DKM (Dewan Keluarga Mesjid) Entah Wijaya (ketua), Asep Zulkarnaern (sekretaris) dan Tohani (bendahara); (2) Mesjid Jami Al-Ikhlas di Kampung Cilalay RT.02/RW.03 dengan susunan pengurus DKM AA Dudi (ketua), Aep Saepudin (sekretaris), dan Duding (bendahara); (3) Mesjid Jami Al-Jamatus Sulaeman di Kampung Cipurut RT.03/RW.03 dengan susunan pengurus DKM Suhaemidin (ketua), Sobirin (sekretaris), dan Kunun (bendahara); (4) Mesjid Jami Al-Barokah di Kampung Parasu RT.01/RW.04 dengan susunan pengurus DKM KH. Saepul Milah (ketua), Yusup Tajhiri (sekretaris), dan Oyok K (bendahara); dan (5) Mesjid Jami Al-Ikhlas di Kampunga Jamisata RT.02/RW.05 dengan susunan pengurus DKM H. Sidik (ketua), Asep Lukman (sekretaris), dan Agus Sujana sebagai Bendahara.

Organisasi Pemerintahan dan Kemasyarakatan
Desa adalah jajaran sistem pemerintahan nasional di tingkat yang paling bawah. Walaupun demikian, desa memiliki kekhasan tersendiri dibandingkan sistem pemerintahan yang ada di atasnya, khususnya kecamatan, karena jauh sebelum otonomi daerah diberlakukan, desa sudah merupakan daerah yang otonom. Oleh karena itu, sangatlah tepat apa yang dikemukakan oleh Palmer, yaitu bahwa desa, termasuk Desa Cijagang, merupakan kesatuan administratif, teritorial, dan kesatuan hukum menurut batas-batas wilayah tertentu (Palmer, 1984: 326), yang penyelenggaraan pemerintahannya adalah otonom (oleh, untuk, dan dari sekelompok orang yang menempati wilayah tersebut). Selain itu, desa juga merupakan kesatuan sosial, yaitu sebagai tempat menyelenggarakan hubungan-hubungan sosial antarwarga masyarakat, yang di dalamnya seringkali terdapat nilai-nilai kekerabatan yang cukup kuat serta melandasi hubungan-hubungan tersebut (Palmer, 1984: 324).

Secara administratif dan teritorial, Desa Cijagang terbagi ke dalam 5 kampung atau dusun dan 69 Rukun Tetangga (RT). Ke-5 kampung itu adalah: Majalaya, Cilalay, Parasu, Cipurut dan Jamisata. Wilayah kampung sekaligus merupakan wilayah Rukun Warga (RW). Oleh karena itu, jumlah kampung dan RW sama (5 buah). Setiap kampung diketuai oleh seorang yang disebut sebagai Ketua Kampung.

Struktur organisasi pemerintahan Desa Cijagang dipegang oleh seorang kepala desa (Kades) yang oleh masyarakat setempat disebut sebagai “kuwu”. Pengangkatannya dipilih oleh masyarakat untuk periode delapan tahun. Dalam menjalankan tugasnya dibantu oleh seorang sekretaris desa yang lebih dikenal sebagai “juru tulis” dan sering disingkat menjadi “ulis”. Ia bertugas mengkoordinir pemerintahan, kesejahteraan rakyat, perekonomian dan pembangunan, Keuangan, kemasyarakatan (umum), dan trantib. Untuk melaksanakan tugas itu ia dibantu oleh seorang: Kaur (kepala Urusan) Pemerintahan, Kesejahteraan Rakyat, Perekonomian dan Pembangunan, kemasyarakatan, dan trantib. Setiap kepala urusan mempunyai seorang staf. Dengan demikian, perangkat Desa Cijagang, termasuk dengan kepala desanya, berjumlah 15 orang.

Selain perangkat desa yang oleh masyarakat setempat sering disebut sebagai “pamong desa”, ada juga yang disebut sebagai Badan Perwakilan Desa (BPD). Lembaga ini berfungsi sebagai badan legislatif dalam organisasi pemerintahan desa. Anggotanya diambil dari para tokoh masyarakat desa yang bersangkutan. Jumlahnya ada 13 orang, dengan rincian: 1 orang ketua, 1 orang sekretaris, dan 11 orang anggota. Tugasnya adalah mengadakan musyawarah tingkat desa untuk mengevaluasi dan atau menetapkan suatu keputusan pemerintah desa, serta membantu kepala desa dalam merencanakan dan menggerakkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan di wilayahnya. Selain itu, melalui lembaga-lembaga tersebut diharapkan akan berlangsung komunikasi antara masyarakat dan perangkat pemerintahan serta antarwarga masyarakat desa itu sendiri. Sementara itu, organisasi kemasyarakatan yang terdapat di Desa Cijagang adalah organisasi kepemudaan yang bernama “Karang Taruna” dan organisasi para ibu rumah tangga yang bernama “Pendidikan Kesejahteraan Keluarga” (PKK) (Potensi Desa Cijagang Tahun 2010/2012). (gufron)
_____________________________
1. Asal mula nama desa ini sangat erat kaitannya dengan sesuatu yang terjadi pada masa lalu. Konon, waktu itu pendiri desa bernama Dalem Cikundul beserta rombongannya hendak mendirikan pendopo di seberang Sungai Cikundul, tepatnya di pertigaan tanjakan Joglo Balong arah ke Legok Jengkol (Majalaya Kidul). Namun, karena sungai sedang ca’ah dengdeng (banjir), maka rombongan tidak dapat menyeberanginya. Sebagai jalan keluarnya, Sang Dalem lalu ngajegangkeun (meregangkan) kedua kakinya melewati sungai yang lebarnya sekitar 150 meter agar rombongannya dapat menyeberang dengan selamat. Kejadian luar biasa tersebut (ngajegangkeun) akhirnya dijadikan sebagai nama kampung tempat tinggal mereka, yaitu Cijagang.
2. Kecamatan Cikalong Kulon memiliki 18 buah desa, yaitu: Cijagang, Sukagalih, Gudang, Cinangsi, Majalaya, Kamurang, Warudoyong, Ciramagirang, Mekarjaya, Sukamulya, Padajaya, Cigunungherang, Neglasari, Mekargalih, Mentengsari, Mekarsari, Mekarmulya, dan Lembahsari.
3. Ada beberapa definisi yang berkaitan dengan istilah hutan rakyat. Menurut UU No.41/1999, hutan rakyat adalah hutan yang tumbuh di atas tanah yang dibebani hak milik. Definisi tersebut diberikan untuk membedakannya dari hutan negara (hutan yang tumbuh di atas tanah yang tidak dibebani hak milik atau tanah negara). Sementara, menurut Suharjito (2007), hutan rakyat adalah hutan yang dimiliki oleh masyarakat yang fungsinya sebagai perlindungan tata air pada lahan-lahan masyarakat dan sumber penghasil kayu, buah-buhanan, daun, kulit kayu, biji dan lain sebagainya. Sedangkan Awang (2004), mendefinisikan hutan rakyat atau farm forestry sebagai hutan yang mempunyai ciri kegiatan penanaman pohon atau tanamannya dilaksanakan di atas lahan milik rakyat yang bersifat swadaya atau bertujuan komersial.

Definisi lainnya berasal dari Rachmatullah (2004) yang menyatakan bahwa hutan rakyat merupakan hutan buatan di atas lahan milik perseorangan maupun kelompok dengan pengelolaan cenderung masih tradisional dan kurang memperhatikan kelestarian hasil (kontinuitas produksi) karena hanya bersifat sampingan dan dianggap sebagai tabungan untuk keperluan mendesak. Dan terakhir berasal dari Purwanto, dkk (2004) yang mendifinisikan hutan rakyat dengan beberapa karakteristik, yaitu: luas lahan rata-rata yang dikuasai sempit; lahan umumnya ditanamai kayu-kayuan dengan pola tumpangsari, campuran agroforestri, dan sistem monokultural bagi petani berlahan luas; tenaga kerja berasal dari dalam keluarga; skala usaha kecil; kontonuitas dan mutu kayu kurang terjamin; beragamnya jenis tanaman dengan daun yang tidak menentu; kayu dalam hutan rakyat tidak diposisikan sebagai andalan pendapatan rumah tangga petani tetapi dilihat sebagai “tabungan” yang segera dapat dijual pada saat dibutuhkan; masih menggunakan siftikultur sederhana dan memungkinkan pengembangan dengan biaya rendah, meskipun hasilnya kurang optimal; keputusan pemanfaatan lahan untuk hutan rakyat seringkali merupakan pilihan terakhir apabila pilihan lainnya tidak memungkinkan; dan usaha hutan rakyat merupakan usaha yang tidak pernah besar tetapi tidak pernah mati.
4. Termasuk dalam lain-lain adalah tanah wakaf, lapangan olahraga, sarana pendidikan (Taman Kanak-kanak, Taman Pendidikan Al Quran, Sekolah Dasar, Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama, sarana kesehatan (puskesmas, poliklinik/balai pengobatan, dan posyandu), dan sarana peribadatan (mesjid dan mushola)
5. RW 03/RT 03 sebenarnya adalah sebuah dusun yang bernama Cipurut. Namun karena jumlah penduduknya relatif sedikit, maka Rukun Tetangga dan Rukun Warga di dusun ini digabungkan dengan Dusun Cilalay.
6.Nama mata air di Desa Cijagang adalah keramat Cikahuripan atau Leuwi Batok karena berbentuk cekung menyerupai tempurung (batok). Konon, pemberian nama ini berawal ketika Kanjeng Dalem Cikundul hendak melaksanakan sholat berjamaah beserta rombongannya. Oleh karena waktu itu tidak dijumpai adanya air, maka Eyang Dalem Cikundul lalu menotokkan jari telunjuknya ke tanah dan dengan seizin Allah SWT keluarlah air bersih yang dapat digunakan untuk minum dan berwudlu.
7. Desa Cijagang memiliki 2 buah pondok pesantren, yaitu: Pondok Pesantren Al Barokah dan Pondok Pesantren Al Hikmah. Pondok Pesantren Al Hikmah didirikan pada tahun 1930 oleh K.H. Najmudin. Awalnya pondok pesantren dengan luas lahan sekitar 6.650 meter persegi ini hanya memiliki 1 buah lokal, kemudian pada tahun 1963 bertambah menjadi 5 lokal dan pada tahun 1990 dibangun lagi menjadi 11 lokal, terdiri dari: 3 ruang belajar, 1 ruang pimpinan pondok pesantrem, 1 ruang pengasuh/ustadz/guru, 1 ruang tata usaha, 1 ruang perpustakaan, 1 ruang keterampilan. Selain itu terdapat pula sebuah mesjid dan lapangan olah raga seluas 500 meter persegi.

Sumber:
Awang, San Afri. 2004. Dekonstruksi Sosial Forestri: Reposisi Masyarakat dan Keadilan Lingkungan. Yogyakarta: Bayu Indra Grafika.

Palmer, Andrea Wilcox. 1984. “Desa Situradja: Sebuah Desa di Priangan” dalam Koentjaraningrat (ed). Masyarakat Desa di Indonesia. Jakarta: Lembaga Penerbit FE UI

Purwanto, S, dkk. 2004. Kelembagaan untuk Mendukung Pengembangan Hutan Rakyat Produktivitas Tinggi. Prosiding Ekspose Terpadu Hasil Penelitian, Yogyakarta 11-12 Oktober 2004. Hal 53-65. Puslitbang Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan. Yogyakarta.

Rachmatullah, Muhammad. 2004. Sistem Pengelolaan Dan Pemanfaatan Ekonomi Hutan Rakyat Di Cianjur Selatan (Studi Kasus Di Kecamatan Cibinong dan Sindangbarang). [Skripsi]. Fakultas Kehutanan IPB.

Suharjito, Didik. 2007. Hutan Rakyat di Jawa: Perannya dalam Perekonomian Desa. Bogor: Program Penelitian dan Pengembangan Masyarakat (P3KM).

Taman Lalu Lintas Ade Irma Suryani Nasution

Sejarah dan Perkembangan
Taman Lalu Lintas Ade Irma Suryani Nasution (TLL-AISN) terletak di Jalan Belitung No. 1, Bandung, Jawa Barat1. Sesuai dengan namanya (taman lalu-lintas), taman yang berada di jantung Kota Bandung ini dibangun sebagai sarana bermain sekaligus tempat menanamkan etika dalam berlalu-lintas yang baik dan benar bagi anak-anak usia sekolah2. Di sini mereka dapat berkendara pada sebuah jalur buatan yang telah dilengkapi dengan rambu-rambu lalu lintas, sehingga dapat langsung mempraktekkannya dalam suasana yang menyenangkan.

Apabila ditilik dari sejarahnya TLL-AISN dahulu hanyalah sebuah lahan terbuka bagian dari pusat komando pertahanan Hindia-Belanda di Nusantara. Gunanya adalah sebagai tempat latihan baris-berbaris para serdadu Belanda2 yang bermarkas di gedung Paleis Legercommandat (sekarang Markas Komando Daerah Militer III/Siliwangi) dan gedung Departement van Oorlog (Departeman Peperangan) yang oleh warga masyarakat setempat dinamakan gedung Sabahu karena luas lahannya sebahu (0,7 hektar)3.

Tempat latihan baris-berbaris itu baru beralih fungsi menjadi taman setelah dibuatnya lapangan yang sekarang menjadi Stadion Siliwangi. Semenjak menjadi taman, namanya kemudian diganti menjadi Insulindepark karena jalan-jalan yang berada di sekelilingnya diberi nama daerah-daerah di Nusantara (Aceh, Kalimantan, Belitung, dan Sumatera). Selanjutnya, setelah bangsa Indonesia merdeka, Insulindepark dialihfungsikan menjadi taman lalu lintas atas prakarsa H. Nazaruddin SH yang saat itu menjabat sebagai Kepala Polisi Lalu Lintas Bandung dan Ketua Badan Keamanan Lalu Lintas (BKLL) cabang Bandung4.

Satu tahun sebelum dibukan secara resmi, taman lalu lintas mendapat sumbangan dari Kantor Pos dan Telekomunikasi berupa Kantor Pos Mini dan sebuah kapal terbang sumbangan Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI). Dan, baru pada tanggal 1 Maret 1958 taman lalu lintas dibuka secara resmi oleh isteri Gubernur Jawa Barat, Ny. Ipik Gandamana. Acara peresmian itu didahului dengan sambutan pembukaan oleh R. Enoech Danubrata, Nazaruddin SH dan Ny. AH. Nasution4. Setelah beberapa tahun beroperasi, di belakang nama taman lalu lintas ditambah dengan Ade Irma Suryani Nasution (TLL-AISN). Tujuannya adalah untuk mengenang puteri Jenderal (Purn) Abdul Haris Nasution yang gugur tertembak dalam peristiwa G30S/PKI pada tahun 1965.

Kondisi dan Fasilitas TLL-AISN
Taman Lalu Lintas Ade Irma Suryani Nasution memiliki luas sekitar 3,5 hektar. Oleh pihak pengelolanya, yaitu Yayasan Taman Lalu Lintas Ade Irma Suryani Nasution Bandung, taman ini difungsikan sebagai taman kota, arena rekreasi, serta pendidikan bagi anak-anak usia sekolah. Fungsi taman kota ditandai dengan adanya lebih dari 1000 buah pohon yang tersebar di seluruh penjuru taman5 sebagai paru-paru kecil penyejuk Kota Bandung.

Fungsi pendidikan ditandai dengan adanya tempat bagi penyelenggaraan kegiatan penyuluhan dan Pendidikan Keamanan Lalu Lintas (PPKLL) dengan materi unggulan yang disebut sebagai CAMEJASA (Cara Menyeberang Jalan supaya Aman) serta sebuah Taman Kanak-Kanak yang didirikan pada tahun 19926. Adapun fasilitas pendukungnya berupa taman kelompok bermain/playgroup, pondok baca, serta jalan-jalan mini dilengkapi dengan beragam rambu lalu lintas.

Sedangkan fungsi rekreasinya ditandai dengan dapat digunakannya taman lalu lintas sebagai sarana hiburan dan bersantai bagi keluarga. Sebagai tempat rekreasi, TLL-AISN dilengkapi dengan berbagai fasilitas, diantaranya: kereta api mini, arena sepeda mini, panggung hiburan, kerosel, kolam renang, kolam pancing anak-anak, mobil baterai, kereta fun game, kereta motor anak, flying fox, permainan stasioner, gedung serbaguna, sport kids, playground, kursi taman, tank baja, ayunan, jungkitan, dan lain sebagainya.

Bagaimana? Anda berminat membawa keluarga berekreasi ke TLL-AISN yang asri dan rindang sembari mengajari sang buah hati mempraktikkan etika berlalu lintas dalam suasana yang nyaman dan menyenangkan? Apabila berminat, TLL-AISN dibuka untuk umum dari hari Senin-Minggu (kecuali hari Jumat) dengan perincian: Senin-Kamis dan Sabtu pukul 08.00-15.00 WIB serta Minggu pukul 08.00-16.00 WIB. Adapun tiket masuknya, untuk hari Senin-Sabtu sebesar Rp.6.000,00, sedangkan hari Minggu atau libur nasional sebesar Rp.7.000,00 per orang. (gufron)
Foto: Pepeng
Sumber:
1. "Taman Ade Irma Suryani (Taman Lalu Lintas)", diakses dari http://www.bandungtourism.com /tododet.php?q=Taman%20Ade%20Irma%20Suryani%20(Taman%20Lalu%20Lintas), tanggal 25 Februari 2016.
2. "Serunya Bermain dan Belajar di Taman Lalu Lintas Bandung, diakses dari http://tempatwisata dibandung. info/taman-lalu-lintas-bandung/, tanggal 20 Februari 2016.
3. "Taman Lalu lintas Ade Irma Suryani Nasution", diakses dari https://id.wiki pedia.org/wiki/Taman_Lalu-lintas_Ade_Irma_Suryani_Nasution, tanggal 21 Februari 2016.
4. "Sejarah Taman Lalu Lintas", diakses dari http://tamanlalulintasbandung.com/sejarah-taman-lalu-lintas/, tanggal 21 Februari 2016.
5. "Fungsi Taman Kota", diakses dari http://tamanlalulintasbandung.com/fungsi-taman-kota/, tanggal 21 Februari 2016.
6. "Fungsi Pendidikan", diakses dari http://tamanlalulintasbandung.com/fungsi-pendidikan/, tanggal 21 Februari 2016.

Rais Latief

Riwayat Singkat
Rais Latif adalah salah seorang pelopor tradisi literasi di wilayah Lampung Barat. Pria yang pernah menyusun terjemahan hadist sahih Muslim1 ini lahir pada awal abad ke-20 (sekitar tahun 1900) di Desa Sebarus, Gedung Asin, sekitar 1 kilometer dari Pasar Liwa, Kabupaten Lampung Barat.

Semasa kecil Rais Latief didik dalam suasana keagamaan yang kuat. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan bila setelah menyelesaikan pendidikan Sekolah Rakyat di Liwa dia kemudian hijrah ke daerah Pandang Panjang untuk melanjutkan pendidikan di sekolah agama Thawalib. Namun karena keterbatasan biaya, Latief terpaksa pulang ke kampung halaman. Sekembalinya di Liwa Latief bekerja membantu ayahandanya berdagang kopi dan hasil bumi dari kebun mereka2.

Setelah usaha perdagangan keluarga maju, Latief berminat melanjutkan sekolah lagi. Kali ini institusi pendidikan yang dipilihnya bukanlah di Indonesia, melainkan ke Kairo di jazirah Arab. Di Kairo dia bermukim selama tujuh tahun lalu hijrah ke Mekkah dan bermukim di sana selama empat tahun sebelum akhirnya kembali ke tanah air3. Tetapi Latief tidak langsung menuju Liwa. Dalam perjalanan pulang dia singgah di Singapura dan sempat mengajar di Madrasah Sultan (sekarang komplek Masjid Sultan di Arab Street Singapore).

Beberapa waktu tinggal di Singapura, Latief kemudian memutuskan hijrah ke Jakarta. Di Jakarta Latief dan beberapa koleganya yang sama-sama alumnus Kairo dan berasal dari Lampung mendirikan sebuah sekolah Mualim di Gang Sentiong. Konon, sekolah ini sangat terkenal pada masanya dan mampu bersaing dengan sekolah-sekolah yang dipimpin oleh para pastor dari Belanda.

Sukses mendirikan sekolah Mualim di Gang Sentiong, menjelang Perang Dunia II Rais Latief kembali ke kampung halamannya (Liwa). Di tanah kelahirannya tersebut dia mendirikan sekolah di daerah Talangparis, dekat Bukit Kemuning. Selain itu dia juga menjadi pengajar di Wustho Mualim Muhammadiyah Liwa yang waktu itu mulai memperkenalkan sistem pendidikan modern dengan proses belajar-mengajar yang sangat progresif.

Dalam proses beajar-mungajar Wustho Mualim menerapkan aturan main yang cukup ketat. Misalnya, sebelum pelajaran dimulai para siswa diharuskan bersenam dengan menggunakan aba-aba dalam bahasa Arab. Para siswa pun diwajibkan mengenakan celana panjang dan bersepatu. Apabila terjadi sesuatu hal hingga kedua benda itu tidak dapat dikenakan, maka siswa diperbolehkan mengenakan kain dan bersandal.

Saat menjadi pengajar di Wustho Mualim inilah Rais Latief dijodohkan dengan salah seorang mantan muridnya yang kebetulah berasal dari desa yang sama. Usai menikah Latief berkeinginan kembali berkarya di Jakarta karena bangsa Indonesia telah merdeka. Kebetulan pada tahun itu (sekitar tahun 1949), pemerintah Republik Indonesia sedang membutuhkan banyak tenaga kerja terdidik untuk mengisi kekosongan formasi di berbagai jawatan. Setelah mengirim lamaran, tidak berapa lama kemudian datanglah surat panggilan dari Jakarta untuk mengisi mengisi formasi pada Jawatan Penerangan Agama (Departemen Agama).

Jawatan Penerangan Agama bertugas membenahi pendidikan agama di seluruh tingkatan sekolah. Salah satunya adalah mengadakan ujian persamaan bagi para guru agama pada tingkatan sekolah dasar hingga sekolah menengah atas serta mendirikan sekolah-sekolah bagi calon guru agama. Sementara pada bidang penyediaan materi ajar dibentuk tim yang ditugaskan membuat berbagai macam buku agama berbahasa Indonesia. Rais Latief dan H. Abdul Razak ditunjuk sebagai penterjemah hadist sahih Muslim dan menyusunnya menjadi buku.

Rais Latief mengabdi pada Departemen Agama hingga pensiun pada sekitar tahun 1962. Selanjutnya, dia memilih pulang untuk memajukan kampung halamannya (Liwa) ketimbang menjadi pengajar di Sekolah Tinggi Agama Islam Jakarta. Di Liwa Latief memimpin dan mengajar di Sekolah Tsanawiyah Muhammadiyah Pekon Tengah Sabarus hingga usianya mencapai 70 tahun. Tujuh tahun kemudian beliau wafat dan dikebumikan di Desa Sebarus, Liwa.

Foto: http://paratokohlampung.blogspot.co.id/2008/11/rais-latief-1900-1977-pendidikan-par.html
Sumber:
1. "Siswa Lambar Bisa Suburkan Tradisi Literasi", diakses dari http://lampost.co/berita/siswa -lambar-bisa-suburkan-tradisi-literasi, tanggal 27 Maret 2016.
2. Heri Wardoyo, dkk. 2008. 100 Tokoh Terkemuka Lampung, 100 Tahun Kebangkitan Nasional. Bandar Lampung: Lampung Post.Hlm. 9-11.
3. "Rais Latief (1900-1977): Pendidikan 'Par Excellence' Prakemerdekaan, diakses dari http://parato kohlampung.blogspot.co.id/2008/11/rais-latief-1900-1977-pendidikan-par.html, tang gal 26 Maret 2016.

Sulaiman Rasyid

Riwayat Singkat
Sulaiman Rasyid atau lengkapnya H Sulaiman Rasyid bin Lasa adalah orang pertama yang berhasil penyusun buku Fiqh Islam di Indonesia1. Pria yang lahir di Pekon Tengah, Liwa, Kabupaten Lampung Barat pada tahun 1898 ini mulai memperoleh pendidikan agama dari Buya Kyai H. Abbas dan Perguruan Tawalib di Padang Panjang, Sumatera Barat2. Kemudian memperdalamnya lagi pada sekitar tahun 1926 dengan belajar ke sekolah Mualim (sekolah guru) di negeri Mesir dan meneruskan ke Perguruan Tinggi Al-Azhar, Jurusan Takhashus Fiqh (Ilmu Hukum Islam) hingga lulus pada tahun 19353.

Sekembalinya dari jazirah Arab, Rasyid ditunjuk oleh pemerintah Belanda di Indonesia sebagai Penyidik Hukum Agama di Lampung pada tahun 1936. Satu tahun kemudian atau tepatnya tahun 1937 Rasyid menjadi pegawai tinggi agama hingga tahun 1942. Tetapi kedudukan sebagai pegawai tinggi itu tidak lantas membuatnya hanya berdiam diri saat terjadi pendudukan oleh bangsa Jepang. Satu tahun menjelang kemerdekaan Indonesia, bersama H. Ali, Rasyid ikut berjuang mengangkat senjata mengusir tentara Jepang di Kalianda, Lampung Selatan4.

Setelah Indonesia merdeka, Rasyid bekerja pada Departeman Agama RI Jakarta sebagai Kepala Jawatan Agama dari tahun 1947-1955, lalu menjadi Kepala Perjalanan Haji, staf ahli Kementerian Agama, dan sekaligus menjadi asisten dosen Perguruan Tinggi Agama Islam (PTIAN) Jakarta serta dosen dalam bidang ilmu fikih di PTIAN Yogyakarta. Kepakaran dalam ilmu fikih inilah yang membuat Sulaiman Rayid diangkat menjadi gelar guru besar pada sekitar tahun 1960.

Selain sebagai pengajar, Rasyid juga pernah menjadi Rektor mata kuliah Ilmu Fiqh di IAIN Jakarta dan pendiri sekaligus Rektor Radin Intan Lampung pada tahun 1964. Dan, setelah mendedikasikan ilmunya bagi kemajuan bangsa, khususnya dalam bidang fiqh, pada tanggal 26 Januari 1976 H. Sulaiman Rasyid bin Lasa wafat dalam usia 80 tahun. Ayah dari delapan orang anak dan 20 orang cucu ini dimakamkan di TPU Pakiskawat Enggal, Bandar Lampung.

Sumber:
1. "Siswa Lambar Bisa Suburkan Tradisi Literasi", diakses dari http://lampost.co/berita/ siswa-lambar-bisa-suburkan-tradisi-literasi, tanggal 22 April 2016.
2. "Fiqh Islam, H. Sulaiman Rasyid", diakses dari http://dutailmu.co.id/product13797-fiqh-islam-h-sulaiman-rasyid.html#.Vr96sfl97iw, tanggal 21 April 2016.
3. Heri Wardoyo, dkk. 2008. 100 Tokoh Terkemuka Lampung, 100 Tahun Kebangkitan Nasional. Bandar Lampung: Lampung Post. Hlm. 3-4.
4. "Sulaiman Rasyid (1898-1976): Penyusun Fikih Pertama", diakses dari http://parato kohlampung.blogspot.co.id/2008/11/sulaiman-rasyid-1898-1976-penyusun.html, tanggal 21 April 2016.

Waduk Jatigede

Pada masa lalu, sekitar tahun 1963, pemerintah pusat merencanakan sebuah megaproyek, yaitu pembangunan waduk atau bendungan di Kabupaten Sumedang dengan memanfaatkan aliran Sungai Cimanuk-Cisanggaru. Proyek tersebut meliputi wilayah Kabupaten Garut, Sumedang, Cirebon, Indramayu, Kuningan Provinsi Jawa Barat, serta Kabupaten Brebes Provinsi Jawa Tengah yang secara keseluruhan luasnya mencapai 7.711 kilometer persegi. Luas waduknya sendiri diperkirakan sekitar 4.891,13 hektar. Adapun lokasi dam/bendungannya berada di Kampung Jatigede, Desa Cigeunjing, Kecamatan Jatigede, sehingga dinamakan bendungan Jatigede (http://sumedangkab.go.id).

Tujuan utama pembangunan Waduk Jatigede adalah untuk meningkatkan produksi padi seluas 90.000 ha dengan memanfaatkan semaksimal mungkin jaringan irigasi yang telah ada (sistem jaringan irigasi rentang). Tujuan lainnya adalah sebagai penyedia air bersih di Kabupaten Sumedang, Cirebon, Indramayu, Majalengka dan kawasan Balongan dengan kapasitas 3.500 liter/detik, serta pembangkit tenaga listrik di PLTA Parakan Kondang yang berkapasitas 7,5 mw dan PLTA Jatigede yang berkapasitas 110 mw.

Untuk mewujudkan waduk dan pembangkit listrik, waktu itu pemerintah menyediakan dana sebesar Rp4.035 milyar dengan rincian: pembangunan Waduk Jatigede sebesar Rp2.040 milyar, pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Jatigede sebesar Rp1.530 milyar, dan pembebasan lahan sebesar Rp465 milyar. Pembebasan diawali dengan pendataan langsung berkenaan dengan data kepemilikan lahan. Selanjutnya, adalah tahap musyawarah untuk menentukan besarnya ganti rugi. Setelah terjadi kesepakatan, barulah diberikan ganti rugi dengan besaran yang telah ditentukan oleh Panitia Pengadaan Tanah (P2T). Proses ganti rugi pada tahun 1982 ini diberikan kepada warga masyarakat Desa Jemah, Sukakersa, Ciranggem, Mekarasih yang termasuk dalam Kecamatan Jatigede; Desa Padajaya dan Cisurat yang termasuk dalam Kecamatan Wado; Desa Jatibungur, Cikeusi, Tarunajaya, Karangpakuan, Cipaku, Pakualam yang termasuk dalam Kecamatan Darmaraja; dan Desa Cisitu, Pajagan, Cigintung yang termasuk dalam Kecamatan Cisitu.

Pembebasan lahan berikutnya terjadi antara tahun 1994-1998. Pembebasan tersebut meliputi areal Desa Leuwihideung, Sukamenak, Neglasari yang berada di Kecamatan Darmaraja dan Desa Sirnasari yang berada di Kecamatan Jatinunggal. Jadi, secara keseluruhan penduduk yang mendapat ganti rugi sejak tahun 1982 mencapai 4.240 KK atau sekitar 74,6% dari 5.686 KK atau 28430 jiwa yang terkena proyek pembangunan Waduk Jatigede (PPSDAL, 2000).

Pembebasan lahan yang terakhir dilaksanakan pada tahun 2004 hingga sekarang. Desa-desa yang dibebaskan lahannya adalah Desa Cibogo dan Desa Sukaratu yang berada di Kecamatan Darmaraja; Desa Wado yang berada di Kecamatan Wado; dan Desa Pawenang yang berada di Kecamatan Jatinunggal. Adapun dasar hukum yang dijadikan acuan adalah Perpres No.36/65 tahun 2005. Perpres ini mengatur tentang pengadaan tanah untuk kepentingan umum; inventarisasi atas tanah, bangunan, tanaman, dan benda-benda lain yang ada kaitannya dengan tanah yang haknya akan dilepaskan atau diserahkan; pemberian ganti rugi kepada yang melepaskan atau menyerahkan haknya; susunan keanggotaan panitia pengadaan tanah; dan bentuk ganti rugi (uang, tanah pengganti, pemukiman kembali, atau penyertaan modal).

Seiring dengan pembebasan lahan, pemerintah juga mengupayakan untuk memindahkan penduduk yang terkena dampaknya melalui program transmigrasi lokal di wilayah Jawa Barat maupun ke luar Pulau Jawa. Pola perpindahannya ada yang dilakukan atas kehendak sendiri dengan memilih pindah di sekitar genangan, dan atau diatur oleh pemerintah secara berkelompok (bedol desa) maupun terpisah dengan kerabat, saudara atau para tetangganya. Mereka yang memilih pindah di sekitar genangan mayoritas adalah golongan menengah-atas yang masih mempunyai lahan di daerah tidak tergenang. Sedangkan, penduduk yang mengikuti program pemerintah bertransmigrasi di wilayah Jawa Barat maupun di luar Pulau Jawa adalah mereka yang memiliki lahan rata-rata hanya 0,3/KK dengan harapan dapat memperoleh lahan seluas 2,5 ha/KK untuk mengembangkan usaha pertaniannya (Suwartapradja, 2005).

Wilayah Terdampak Pembangunan Waduk Jatigede
Seperti telah dikatakan di atas pembangunan Waduk Jatigede diperkirakan memerlukan lahan sekitar 4.891,13 hektar di 26 desa yang berada di 5 kecamatan yaitu: Jatigede, Darmaraja, Wado, Jatinunggal, dan Cisitu. Berikut profil kelima kecamatan tersebut beserta desa-desa yang terkena proyek penggenangan waduk, terutama desa-desa yang wilayahnya akan tergenang penuh.

Kecamatan Jatigede
Kecamatan Jatigede merupakan peruwujudan dari Peraturan Daerah Kabupaten Sumedang No. 51 tahun 2000, tertanggal 29 Desember 2000. Sebelumnya nama kecamatan ini adalah Cadasngampar. Nama Jatigede sendiri diambil dari nama sebuah dusun di Desa Cijeunjing, yaitu Dusun Jatigede. Secara geografis batas-batas Kecamatan Jatigede: sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Tomo, sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Jatinunggal dan Kecamatan Wado, sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Darmaraja dan Kecamatan Situraja, dan sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Jatinunggal dan Kabupaten Majalengka.

Luas wilayah Kecamatan Jatigede sekitar 9.366 ha atau 93.633 kilometer persegi, terdiri atas: hutan negara (6.250,7 ha), pengangonan (667 ha), perumahan/pekarangan (173,10 ha), ladang, kebun dan huma (415,5 ha), sawah irigasi sederhana (90 ha), sawah ½ teknis (259 ha), sawah tadah hujan (1.086 ha), dan lain-lain (425 ha) yang tersebar dalam 12 desa, yaitu: Cijeunjing, Kadujaya, Lebaksiuh, Cintajaya, Cipicung, Mekarasih, Sukakersa, Ciranggem, Sicampih, Jemah, Kadu, Karedok (dahulu wilayah Kecamatan Tomo).

Pada tahun 1984/1985 luas kecamatan ini berkurang sekitar 1.766,06 ha karena ada 6 desa yang terkena perencanaan pembangunan Waduk Jatigede oleh pemerintah pusat. Keenam desa tersebut adalah: Desa Cijeunjing, Desa Jemah, Desa Sukakersa, Desa Mekarasih, Desa Ciranggem, dan Desa Kadujaya. Adapun rincian penggunaannya adalah sebagai daerah genangan seluas 1.711,11 ha, acces road (13,17 ha), home road (2,43 ha), base camp (8,73 ha), borrow area (21,80 ha), dan power station (8,82 ha) (id.wikipedia.org).

Kecamatan Cisitu
Secara keseluruhan luas Kecamatan Cisitu sekitar 5.331 ha. Berdasarkan penggunaannya luas tersebut terdiri atas: sawah ½ teknis (331 ha), sawah irigasi sederhana (676 ha), sawah tadah hujan (25 ha), pekarangan (37 ha), tegalan (1.478 ha), balong (17 ha), hutan rakyat (1220 ha), hutan negara (1495 ha), dan padang penggembalaan seluas 52 ha yang tersebar di 10 desa, yaitu: Cisitu, Situmekar, Pajagan, Cigitung, Sundamekar, Linggajaya, Ranjeng, Cilopang, Cimarga, dan Cinangsi. Sebagian wilayah kecamatan ini (73,45 ha) akan menjadi bagian dari kawasan genangan Waduk Jatigede yang letaknya di Desa Pejagan, Desa Cigintung, dan Desa Cisitu.

Kecamatan Darmaraja
Kecamatan Darmaraja terletak sekitar 25 kilometer arah timur Kota Sumedang. Secara geografis kecamatan yang bertitik koordinat 6°53'21"S-108°4'40"E ini berbatasan dengan Kecamatan Tomo dan Kecamatan Jatigede di sebelah utara, Kecamatan Cibugel di sebelah selatan, Kecamatan Cisitu dan Kecamatan Situraja di sebalah barat, serta Kecamatan Wado di sebelah timur. Secara admnistratif dan teritorial Kecamatan Darmaraja terdiri dari 16 desa, 38 dusun, 83 Rukun Warga, dan 310 Rukun Tetangga. Ke-16 desa tersebut adalah: Cibogo, Cieunteung, Cikeusi, Cipaku, Cipeteuy, Darmajaya, Darmaraja, Jatibungur, Karang Pakuan, Leuwihideung, Neglasari, Paku Alam, Sukamenak, Sukaratu, Ranggon, dan Tarunajaya.

Luas wilayahnya mencapai 5.494 ha, dengan rincian: sawah ½ teknis (491 ha), sawah irigasi sederhana (1.222 ha), sawah tadah hujan (41 ha), pekarangan (37 ha), tegalan (1.754 ha), balong/kolam (45 ha), hutan rakyat (653 ha), hutan negara (787 ha), dan padang penggembalaan (464 ha). Dari luas keseluruhan ini sebanyak 1.606,35 ha akan menjadi bagian dari kawasan genangan Waduk Jatigede. Lahan tersebut berada di Desa Leuwihideung, Jatibungur, Cibogo, Cipaku, Paku Alam, Karang Pakuan, Sukaratu, Cikeusi, Tarunajaya, Darmajaya, dan Neglasari.

Kecamatan Wado
Kecamatan Wado yang secara administratif dan teritorial terdiri atas 11 buah desa, 51 buah dusun, 67 buah Rukun Warga, dan 265 buah Rukun Tetangga. Ke-11 desa tersebut adalah: Cimungkal, Ganjarresik, Cilengkrang, Cikareo Selatan, Cikareo utara, Wado, Mulyajaya, Padajaya, Sukajadi, Cisurat, dan Sukapura. Kecamatan ini luas wilayahnya mencapai sekitar 7.642 ha, dengan rincian: sawah ½ teknis (447 ha), sawah irigasi sederhana (584 ha), sawah tadah hujan (180 ha), pekarangan (10 ha), tegalan (1987 ha), ladang/huma (622 ha), balong (37 ha), hutan rakyat (492 ha), dan hutan negara (3.253 ha). Tetapi, sekitar 461,22 ha dari luas keseluruhannya (di Desa Padajaya, Cisurat, dan Wado) diperkirakan akan tergenang jika Waduk Jatigede mulai dioperasikan.

Kecamatan Jatinunggal
Kecamatan Jatinunggal terdiri atas 9 desa, 56 dusun, 59 Rukun Warga (RW), dan 160 Rukun Tetangga (RT). Ke-9 desa tersebut adalah: Sirnasari, Tarikolot, Pawenang, Sarimekar, Banjarsari, Kirisik, Sukamanah, Cipeundeuy, dan Cimanintin. Luas wilayahnya sekitar 6.149 ha, dengan rincian: sawah setengah teknis (688 ha), sawah irigasi sederhana (515 ha), sawah tadah hujan (758 ha), pekarangan (29 ha), tegalan (914 ha), ladang/huma (497 ha), balong (47 ha), hutan rakyat (1062 ha), dan hutan negara (1.639 ha). Adapun wilayah kecamatan yang akan tergenang adalah di Desa Pawenang dan Desa Sirnasari seluas 229,25 ha. (Gufron)
Foto: Pepeng
Sumber:
“Pembangunan Bendungan Jatigede”. http://sumedangkab.go.id/index.php?option=com_ content&view=article&id=104&Itemid=6. Diakses 20 Agustus 2013.

Perpres, No 36 tahun 2005, tentang Pengadaan Tanah bagi Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan Umum.

PPSDAL, LP, UNPAD, 2000, Studi Potensi Minat masyarakat dan Pilihan Lokasi kepindahan Penduduk Jatigede secara berkelompok, DPU.

Suwartapradja, Opan S., “Konflik Sosial (Kasus pada Pembangunan Bendungan Waduk Jatigede di Kabupaten Sumedang Jawa Barat)”, Makalah dalam SKIM IX UNPAD-UKM, Bandung, 10-12 Mei 2005.

“Jatigede, Sumedang”. http://id.wikipedia.org/wiki/Jatigede,_Sumedang. Diakses 26 Agustus 2013.

Terbang

Terbang merupakan waditra (alat musik) yang digunakan dalam kesenian terbang kencer di Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah. Alat musik ini sebenarnya ada di berbagai daerah dengan bentuk, ukuran, dan istilah yang berbeda-beda. Dalam kesenian terbang kencer, terbang yang digunakan disertai dengan kecrek yang terbuat dari besi putih. Bagian atasnya berbentuk lubang bundar dengan garis tengah sekitar 40 centimeter sedangkan bagian bawahnya bergaris tengah sekitar 35 centimeter (semakin menyempit). Bagian lubang atas ditutup dengan kulit kambing menggunakan perekat (lem), kemudian dipaku dengan paku jamur (Paku yang salah satu ujungnya menyerupai bintang).

Badan terbang terbuat dari kayu sawo yang dianggap keras, kuat, tidak mudah retak, serta dapat menimbulkan gaung (efek suara) yang bagus. Pada badan terbang yang semakin ke bawah semakin kecil itu ada tiga lubang berjarak sama berukuran tinggi 1 centimeter dan panjang 11 centimeter dengan posisi mendatar. Di setiap lubang terdapat dua buah logam berbentuk bundar dan pipih menyerupai piringan compact disc (CD) yang terbuat dari nekel (besi putih). Alat ini disebut kecrek atau kencer. Jika terbang ditabuh maka alat ini akan menimbulkan suara gemerincing. Bunyi inilah yang kemudian membuat terbang tersebut disebut sebagai "terbang kencer".

Selain kencer, terbang juga dilengkapi dengan rotan yang melingkar di dalamnya (di bawah kulit terbang) yang disebut sentek. Garis tengahnya kurang lebih sama dengan garis tengah terbang. Alat ini dimasukkan atau diselipkan pada celah antara kulit dan bagian permukaan bawah terbang. Fungsinya untuk mengencangkan kulit terbang, sehingga suaranya sesuai dengan yang diinginkan.

Sebuah terbang kencer beratnya kurang lebih 2 kilogram. Ketika digunakan terbang tersebut diletakkan di atas tangan kiri dengan posisi tangan membentuk sudut 30--40. Jika pementasan dilakukan dalam sebuah ruangan (biasanya ruang tamu), maka posisi duduknya seperti duduknya sinden (bersimpuh). Akan tetapi, jika dalam arak-arakan (dalam lapangan) posisinya berdiri karena harus berjalan menyusuri route yang telah ditetapkan.

Dan, jika terbang tidak digunakan (disimpan), sentek dicopot dan dibiarkan ada dalam terbang. Selanjutnya, agar terbang tidak cepat rusak atau berdebu, maka sebelum disimpan dimasukkan dalam sebuah kantong yang terbuat dari kain belacu (gufron).

Asal Mula Pulau Sangkar

(Cerita Rakyat Daerah Riau)

Alkisah, ada dua orang pendekar yang tinggal di wilayah Indragiri Hilir. Mereka bernama Katung dan Tuk Solop. Katung adalah seorang pendekar sakti mandraguna, tetapi memiliki sifat sombong. Hidupnya sangat mewah dan berkecukupan berkat usahanya menyabung ayam serta iuran dari murid-murid yang belajar bela diri padanya. Katung memiliki seorang adik angkat yang cantik jelita, bernama Suri. Dia anak dari lawan mainnya dalam menyabung ayam yang kalah dan terpaksa menitipkan anaknya pada Katung karena telah mempertaruhkan dirinya sendiri. Ayah Suri kemudian diasingkan ke tengah hutan.

Sementara pendekar yang satunya lagi, Tuk Solop, memiliki sifat yang bertolak belakang dengan Kutang. Dia seorang pendekar yang ramah dan tidak sombong sehingga disukai banyak orang. Tuk Solop pernah membuka sebuah perguruan beladiri di rumahnya di pinggir Pantai Solop. Namun karena semakin sedikit orang yang datang berguru dan sebagian muridnya bahkan ada yang beralih berguru ke Katung, dia pun memutuskan pergi mencari tempat yang baru. Dia merasa kalah bersaing dengan Katung dalam hal mencari murid.

Beberapa bulan setelah Tuk Solop pergi, datanglah seorang pengembara bernama Bujang Kelana ke rumah Tuk Solop. Tujuannya adalah hendak berguru pada pendekar itu. Namun, karena Tuk Solop sudah tidak bermukim lagi di situ, maka yang didapatinya hanyalah sebuah padepokan kosong dan terlantar. Kecewa dan sekaligus lelah karena usahanya sia-sia, Bujang Kelana hanya duduk termenung di teras rumah Tuk Solop sambil memikirkan rencana apa yang akan dibuat selanjutnya.

Tidak berapa lama dia beristirahat di teras rumah Tuk Solop, melintasah Suri hendak kembali ke rumahnya. Mereka pun lalu berkenalan dan berbincang-bincang seputar maksud dan tujuan Bujang Kelana serta keadaan padepokan milik Tuk Solop. Setelah mendapat penjelasan dari Bujang Kelana, tanpa basa-basi Suri menceritakan bahwa Tuk Solop telah pergi meninggalkan padepokan semenjak murid-muridnya beralih guru ke Pendekar Katung.

Penasaran akan penuturan Suri, Bujang Kelana lalu mendesaknya agar meceritakan siapakah gerangan Pendekar Katung. Suri tidak langsung menjawab, dan hanya terdiam sesaat sambil memandang ke sekeliling seolah-olah takut bila ada orang yang sedang mengawasinya. Kemudian dia berbisik lirih bahwa bila ingin mengetahui siapa Pendekar Katung, Bujang Kelana harus menemuinya lagi di tempat ini esok hari. Setelah itu, dia bergegas pergi meninggalkan Bujak Kelana.

Setelah Suri berlalu, muncullah seorang kakek buta yang dari tadi bersembunyi di balik semak belukar. Sang kakek datang menghampiri Bujang Kelana dan memperkenalkan diri sebagai Datuk Buta. Dan, sama seperti Suri, sambil memandang sekeliling dia berbisik pada Bujang Kelana bahwa Katung merupakan pendekar beraliran hitam. Namun, sebelum Datuk Buta lebih jauh menceritakan jatidiri Pendekar Katung, tiba-tiba dirinya mendengar suara yang mencurigakan. Datuk Buta pun segera pamit dan berlalu menuju semak belukar lagi.

Beberapa jam setelah Datuk Buta pergi, Suri datang lagi dengan berlari tergopoh-gopoh menemui Bujang Kelana. Dalam keadaan panik dia meminta Bujang Kelana membawanya pergi ke suatu tempat tersembunyi. Dia akan menjelaskan alasannya bila mereka telah berada di tempat aman. Mendengar permintaan itu, Bujang Kelana yang memang tertarik akan kemolekan Suri, tanpa membantah langsung membawanya ke tengah hutan.

Sesampainya di tengah hutan, mereka menuju ke sebuah goa untuk berteduh karena hari menjelang senja. Ketika mereka telah berada di dalam goa Suri lalu menjelaskan bahwa dirinya akan dikawin oleh Pendekar Katung. Selama ini dia telah dirawat dan dianggap adik oleh Pendekar Katung karena ayahnya telah di buang di hutan sebab kalah dalam pertaruhan sabung ayam. Oleh karena dia berparas cantik, lama-kelamaan Pendekar Katung tertarik dan akhirnya hendak mengawininya.

Usai bercerita panjang lebar, dari mulut goa datanglah Datuk Buta. Sambil berjalan perlahan dia menghampiri Bujang Kelana dan Suri. Di hadapan mereka Datuk Buta menyatakan bahwa orang yang dibuang karena kalah bersabung ayam adalah dirinya. Dia tidak dapat kembali lagi ke Pantai Solop untuk menemui Suri karena telah menyerahkan "nyawanya" ketika dikalahkan oleh Katung dalam arena sabung ayam. Selama di hutan dia bertemu dengan Tuk Solop dan diajari cara mengalahkan Katung. Namun sebagai syaratnya, dia harus menjadi buta agar dapat mengetahui kelemahan Katung.

Mendengar penuturan itu, dengan berlinang air mata Suri bersujud di kaki Datuk Buta. Setelah keduanya melepas rindu, bersama Bujang Kelana mereka menyusun rencana menyingkirkan Pendekar Katung. Adapun caranya adalah dengan menantangnya mengadu ayam. Tetapi sebelum pertarungan dilaksanakan, malam harinya Bujang Kelana pergi ke kandang milik Katung untuk menukar ayam jagonya dengan ayam milik Datu Buta yang bentuk dan ukurannya sama persis. Walhasil, dalam pertarungan ayam Pendekar Katung yang telah ditukar kalah dan akhirnya mati melawan ayam milik Bujang Kelana.

Tidak terima ayam jagonya dikalahkan hanya dalam sekali serangan, Pendekar Katung segera memerintahkan para pengawalnya menangkap Bujang Kelana. Pada saat Bujang Kelana ditangkap dan dipukuli oleh para pengawal, Pendekar Katung yang sedang mengawasinya langsung disergap dari arah belakang oleh Datuk Buta. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Bujang Kelana. Dengan gesit dia berkelit dari para pengawal dan menyerang Pendekar Katung hingga tewas terkapar.

Sayangnya, kematian Katung tidak sempat menghentikan seluruh aksi dari para pengawalnya. Sebagian dari mereka berhasil menangkap dan melukai Suri hingga kondisinya parah dan akhirnya meninggal dunia. Kejadian ini membuat Bujang Kelana sangat kecewa. Sang Bujang yang sejak awal sebenarnya telah menaruh hati pada kecantikan dan kemolekan tubuh Suri terpaksa harus merelakannya pergi tanpa kembali lagi.

Singkat cerita, setelah kematian Suri, Bujang Kelana pun pamit pada Datuk Buta. Namun sebelum pergi, entah mengapa, dia meminta sebuah sangkar ayam milik Datu Buta untuk dilemparkan sesampainya di tengah laut. Dan konon, beberapa tahun setelah kepergian Bujang Kelana, sangkar ayam yang dilemparkan ke laut tadi muncul ke permukaan dan lambat laut menjadi sebuah pulau. Pulau itu oleh masyarakat setempat kemudian disebut sebagai Pulau Sangkar Ayam.

Diceritakan kembali oleh gufron

Popular Posts

-