Togapuri

Sejarah
Kesehatan merupakan salah satu faktor penting pendukung kinerja manusia. Apabila kesehatan terganggu, kemungkinan besar sebagian aktivitas juga turut terganggu. Untuk mengatasinya, umumnya orang akan menggunakan obat-obatan konvensional yang diproduksi oleh pabrik. Namun seiring waktu, karena harga obat konvensional yang kian melambung dan efek negatif jangka panjang yang ditimbulkannya, sebagian orang mulai beralih pada obat-obat tradisional yang telah diwariskan oleh nenek moyang.

Salah seorang diantaranya adalah Toto Suhendro, pensiunan pegawai salah satu BUMN di Kota Bandung. Ketertarikan Toto berawal dari berbagai macam penyakit yang dideritanya pada sekitar tahun 1991, yaitu: jantung, vertigo, hipertensi, lambung, kolesterol tinggi, alergi terhadap debu, cuaca, dan makanan tertentu1. Alih-alih menggunakan obat konvensional, Toto malah mencoba terapi pengobatan tradisional serta olah pernafasan. Hasilnya, dua tahun kemudian dia sembuh seperti sedia kala.

"Khasiat" pengobatan tradisional yang dihasilkan dari tumbuhan rupanya tidak hanya berpengaruh pada kesehatan jasmani, tetapi juga pola pikir Toto Suhendro. Dia melihat ada suatu peluang usaha baru apabila tanaman obat dikelola dengan baik. Oleh karena itu, setelah pensiun sekitar tahun 2003, Toto mulai beralih profesi dengan mengembangkan tanaman obat di atas lahan miliknya seluas sekitar 7.000 meter persegi di kaki Gunung Kareumbi dengan ketinggian sekitar 900 meter dpl dan dikelilingi oleh Gunung Manglayang dan Gunung Geulis2. Adapun lokasinya berada di Dusun Lebakjawa, Desa Cilembu, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang3.

Lahan tanaman obat tersebut kemudian diberi nama Togapuri. Kata "Toga" merupakan akronim dari "Tanaman Obat keluarGA" atau dapat pula "Toto dan keluarGA". Sedangkan "Puri" berarti "istana", karena konon seluruh tanaman obat yang berada di sana diperlakukan secara istimewa bak raja di istananya4. Jadi, Togapuri dapat diartikan sebagai Istana Tanaman Obat yang dikelola oleh Toto dan keluarga.

Sebagai sebuah usaha di bidang agrowisata, Togapuri tentu memiliki visi dan misi sebagai pedoman operasionalnya. Visi Togapuri adalah menjadi pusat budidaya, bisnis, dan wisata agro berbasis tanaman obat serta lokasi terapi holistik yang terkemuka di wilayah bumi Priangan Timur. Sedangkan misinya: (1) memperkenalkan dan menggali kearifan tradisional dari nenek moyang berupa menyelenggarakan budidaya dan pengolahan hasil panen tanaman berkhasiat obat; (2) menggali berbagai jenis tanaman berkhasiat obat yang mempunyai nilai ekonomis sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan di dalam mengelola kebun dan menjalankan bisnis tanaman obat; (3) melestarikan pupuk dan pestisida alami serta memanfaatkannya sebagai upaya untuk menghasilkan produk yang alami; (4) melestarikan keindahan alam dan mengembangkan potensi wilayah sebagai anugerah Tuhan berupa pengembangan wisata agro berbasis tanaman berkhasiat; (5) memberdayakan sumber daya manusia di lingkungan sekitar agar dapat membantu program pemerintah menanggulangi pengangguran, kemiskinan, dan kebodohan; serta (6) memberikan layanan kesehatan masyarakat secara holistik dan terpadu dengan menggunakan bahan obat alami2.

Visi dan misi itu bertujuan memberikan manfaat di bidang kesehatan jasmani dan rohani serta meningkatkan wawasan di bidang tanaman obat sehingga kesejahteraan masyarakat dapat tercapai. Untuk mewujudkannya, Togapuri yang bermotto "Cinta Alam Sehat Alami"5 ini menyusun beberapa program kerja, yaitu: (1) menyelenggarakan kegiatan budidaya dan bisnis tanaman obat serta agrowisata; (2) menyelenggarakan diklat tentang budidaya toga; (3) menyelenggarakan bimbingan teknis budidata toga di halaman rumah penduduk sekitar kebun sebagai upaya untuk menjaga kesehatan keluarga; (4) menyelenggarakan bimbingan teknis cara memproduksi toga yang bernilai ekonomis; (5) memfasilitasi pembentukan kelompok petani toga; (6) memfasilitasi penelitian tentang tanaman obat bagi kalangan akademisi; (7) mengolah limbah alami menjadi pupuk; (8) menggalakkan penanaman tanaman hias dan bunga yang berkhasiat sebagai obat di lingkungan desa sekitar Togapuri; (9) mengolah dan memasarkan hasil kebuh berupa ekstrak tanaman obat dan minuman kesehatan; dan (10) menyelenggarakan kegiatan konsultasi dan terapi kesehatan secara holistik2.

Bidang Usaha dan Fasilitas Togapuri
Agrowisata Togapuri memiliki sejumlah bidang usaha yang berbasis tanaman obat, meliputi: (1) pembibitan dengan menanam ratusan jenis bibit tanaman yang diperoleh dari berbagai daerah. Pembibitan ini ada yang dijual sebagai tanaman hidup dan ada pula yang dibudidayakan kemudian hasilnya dikeringkan sebagai bahan baku obat, baik berupa daun, buah, biji, akar, bunga, maupun kulit pohon; (2) Usaha di bidang minuman yang dibagi menjadi dua bentuk. Bentuk pertama berupa ekstrak tanaman yang telah dikeringkan lalu diolah sedemikian rupa menjadi serbuk dan dikemas dalam plastik maupun kapsul. Sedangkan bentuk kedua disajikan bersama makanan yang diolah di kantin Togapuri dengan menu bergantung pada daftar paket wisata yang ditawarkan; (3) Klinik pengobatan holistik terpadu menggunakan metode iridologi, kinesiologi, dan phytobiophysic. Klinik ini berada di dua tempat yaitu Jalan Taman Margawangi, Margacinta, Bandung dengan jadwal praktek setiap hari Rabu dan di Togapuri sendiri yang baru beroperasi bila ada pengunjung yang datang melalui reservasi; dan (4) wisata argo kebun tanaman obat yang merupakan inti dari bidang usaha Togapuri.

Wisata argo yang ditawarkan oleh Togapuri terbagi dalam lima area, yaitu: area layanan publik, kebun produksi, layanan tamu, taman kahuripan, dan area sahabat alam2. Area layanan publik disediakan bagi seluruh pengunjung yang ingin menggunakannya. Di dalam area ini terdapat berbagai macam fasilitas, seperti: dua buah tempat parkir yang dapat menampung 30 unit mobil atau 6 buah bus berpenumpang 59 orang6, sebuah bale sehat tempat pengobatan holistik, tiga buah toilet umum, ruang tunggu, dan dilengkapi pula dengan taman bunga bertingkat. Area kebun produksi berfungsi sebagai kebun tanamam obat yang hasilnya akan dipasarkan. Di dalam area ini terdapat rumah pupuk dan tempat istirahat tamu berbentuk pendopo segi delapan yang mampu menampung hingga 50 orang. Selain dapat digunakan untuk istirahat, pendopo juga dapat digunakan sebagai tempat makan, ceramah, atau menggelar hiburan dengan iringan organ tinggal.

Selanjutnya, ada area layanan tamu yang berisi rumah tinggal (bale indung), rumah pembibitan, mushola (bale agung), rumah pertemuan, dapur umum, dan arena bermain. Bale indung dilengkapi dengan tujuh buah kamar tidur dan sebuah ruang spa berkapasitas dua tempat tidur6. Ruang pertemuan (aula) berukuran 120 meter persegi dan dilengkapi dengan sebuah toilet serta dua buah loudspeaker berukuran 15 inci. Bale agung dilengkapi dengan dua unit toilet, 5 buah kran air, 1 unit gentong wudlu7, dan dapat menampung hingga 20 orang.

Kemudian, area taman kahuripan merupakan tempat penanaman sekitar 300 jenis tanaman obat yang berasal dari tanaman liar, tanaman buah, tanaman hias, tanaman keras, tanaman sayur, dan tanaman rimpang. Di taman yang dibuat dalam lima tingkatan ini terdapat pula 8 jenis alat olahraga yang dapat digunakan sebagai terapi kesehatan. Dan terakhir, adalah area sahabat alam yang, sesuai dengan namanya, diciptakan agar pengunjung lebih dekat dan bersahabat dengan alam. Area sahabat alam dilengkapi dengan lapangan olahraga volley, basket, dan bulu tangkis yang dapat pula berfungsi sebagai arena senam massal dengan jumlah peserta hingga 250 orang.

Bagaimana? Anda berminat mengunjungi agrowisata tanaman obat yang berada di daerah Sumedang Selatan ini? Sebagai catatan, apabila berminat anda tidak dapat langsung menuju ke lokasi karena pihak pengelola Togapuri menerapkan aturan kunjung secara ekslusif, yaitu harus melakukan reservasi terlebih dahulu dengan minimal jumlah tamu sebanyak 20 orang (rombongan). Hal ini berkaitan dengan paket wisata yang ditawarkan agar pengunjung dapat mencapai tingkat kepuasan maksimal.

Foto: Pepeng
Sumber:
1. "Siapa Kami", diakses dari http://togapuri.com/new-page/, tanggal 15 Januari 2016.

2. Rachmawati, Elita. 2007. Segmentasi, targeting, dan positioning pada wisata agro tanaman obat togapuri dengan menggunakan model stv-triangle. Tesis/Proyek Akhir, Program Magister Administrasi Bisnis, Sekolah Bisnis dan Manajemen, Institut Teknologi Bandung.

3. "Togapuri yang Menarik", diakses dari http://p2tel.or.id/2014/04/togapuri-yang-menarik/, tanggal 15 Januari 2016.

4. "Latar Belakang dan Sejarah Tanaman Keluarga", diakses dari http://kesehatan173.blog spot.co.id/2011/01/latar-belakang-dan-sejarah-tanaman.html, tanggal 17 Januari 2016.

5. "Togapuri, Tempat Wisata Kesehatan Herbal di Cilembu, diakses dari http://firmanzurig. blogspot.com/2013/08/togapuri-tempat-wisata-kesehatan-herbal.html#ixzz3y9TIASTf, tanggal 17 Januari 2016.

6. "Fasilitas", diakses dari http://togapuri.com/fasilitas/, tanggal 14 Januari 2016.

7. "Togapuri, Sumedang", diakses dari http://na-2x.blogspot.co.id/2011/06/togapuri-sume dang.html, tanggal 19 Januari 2016.

Nyai Anteh

(Cerita Rakyat Daerah Jawa Barat)

Alkisah, pada zaman dahulu kala di istana Kerajaan Pakuan ada dua orang gadis remaja bernama Endahwarni dan Anteh. Mereka sangat rukun walau memiliki status sosial berbeda. Endahwarni adalah calon pewaris tahta kerajaan, sedangkan Anteh hanyalah anak Nyai Dadap, seorang dayang kesayangan Ratu Pakuan. Anteh ikut dibesarkan di lingkungan istana bersama Endahwarni karena Nyai Dadap meninggal saat melahirkannya.

Dalam kehidupan sehari-hari, walau berbeda status sosial, Endahwarni tidak memperlakukan Anteh sebagaimana dayang lainnya. Hal ini disebabkan karena umur mereka tidaklah terpaut jauh. Endahwarni bahkan menganggap Anteh seperti adiknya sendiri. Oleh karena itu, jika mereka hanya berdua Endahwarni melarang Anteh memanggilnya gusti. Dia menghendaki agar Anteh memanggilnya dengan sebutan kakak.

Suatu hari Endahwarni dan Anteh diperintahkan menghadap Gusti Ratu. Setelah mereka datang, Gusti Ratu berkata bahwa Endahwarni harus memiliki pendamping hidup agar kelak dapat menjadi ratu dan menggantikan kedudukan ayahandanya memimpin rakyat Pakuan. Untuk itu, Gusti Ratu telah memilihkan seorang pemuda baik, gagah, tampan, dan dari keluarga bangsawan. Namanya adalah Anantakusuma, anak Adipati dari Kadipaten Wetan. Sementara Anteh yang bersimpuh dibelakang Endahwarni diperintahkan agar selalu menjaga dan menyediakan segala keperluan Endahwarni hingga dia menikah nanti.

Usai menghadap, mereka mengundurkan diri menuju kamar Endahwarni. Ketika telah berada di dalam kamar Endahwarni menyampaikan keluh kesahnya pada Anteh. Dia khawatir apabila calon suaminya tidak mencintainya karena mereka sama sekali belum pernah bertatap muka. Kekhawatiran Endahwarni segera ditepis oleh Anteh dengan menghibur bahwa Endahwarni merupakan puteri yang cantik jelita. Tidak ada seorang pemuda pun yang akan menolak bila bersanding dengannya. Selain itu, tidak mungkin bila Ibuda Ratu sembarangan dalam memilihkan jodoh untuk anak semata wayangnya.

Beberapa minggu kemudian, Anteh diperintah mengumpulkan bunga melati penghias sanggul Endahwarni. Oleh karena sifatnya yang selalu periang, saat memetik bunga Anteh bernyanyi sambil memperhatikan sekelompok kupu-kupu yang terbang mengelilingi bunga-bunga yang akan diambil sebagai penghias sanggul. Tanpa dinyana nyanyian Anteh terdengar oleh seorang pemuda tampan yang kebetulan lewat. Penasaran mendengar suara merdu itu, sang pemuda yang ternyata adalah Anantakusuma segera melompati tembok istana untuk mencari sumbernya.

Sambil mengendap-endap diantara tanaman bunga di taman istana, dia mencari sumber suara yang telah memikat hatinya. Dan, betapa terkejutnya dia ketika melihat suara merdu itu berasal dari seorang gadis cantik jelita yang sedang memetik bunga. Dalam hati, Anantakusuma mengira bahwa sang gadis pasti adalah calon isterinya, Endahwarni. Oleh karena itu, dia mendekati Anteh yang dikiranya Endahwarni untuk sekadar memberi salam sekaligus memperkenalkan diri.

Namun, ketika Anantakusuma memperkenalkan diri, Anteh yang belum sempat menjawab tiba-tiba saja dipanggil oleh salah seorang dayang istana karena Endahwarni membutuhkan bantuannya. Anantakusuma yang menyadari kalau gadis itu bukanlah Endahwarni segera berlalu meninggalkan taman istana. Sembari berjalan keluar dari lingkup istana, jantungnya berdebar-debar karena membayangkan suara serta paras Anteh nan cantik jelita. Pikirnya, gadis itu telah berhasil memikat hati. Alangkah bahagia bila dia dapat dijadikan sebagai pendamping hidup.

Kejadian tadi berlalu begitu saja hingga beberapa minggu kemudian datanglah Adipati Wetan bersama rombongan melamar Puteri Endahwarni. Anantakusuma yang berada di antara rombongan Sang Adipati segera menjadi pusat perhatian segenap penghuni istana. Ketampanan dan kegagahannya membuat para perempuan yang melihat menjadi terpana, tidak terkecuali Endahwarni. Sukmanya laksana terbang ke awan melihat penampilan fisik calon suaminya.

Tetapi kegembiraan Endahwarni hanya berlangsung sesaat saja. Sebab, Anantakusuma sama sekali tidak menampakkan keceriaan. Wajahnya murung dan terkesan tidak bersemangat. Dia baru kembali "bersinar" tatkala melihat Anteh datang membawakan hidangan dan mengaturnya di atas meja perjamuan. Matanya bahkan nyaris tak berkedip ketika menatap tingkah polah Anteh yang sedang mengatur tata letak segala jenis hidangan di atas meja.

Hal ini tentu saja membuat Endahwarni "panas hati" karena dibakar rasa cemburu. Ternyata Anantakusuma pernah bertemu dan jatuh hati pada Anteh. Jadi, tidaklah mengherankan apabila perhatiannya selalu tertuju pada Anteh yang sedang mengatur hidangan. Bahkan dia seakan tidak menghiraukan kalau hari itu akan menikah. Dalam pandangan Endahwarni, Anantakusuma sebenarnya ingin menikahi Anteh, tetapi karena sudah dijodohkan oleh kedua orang tua, maka mau tidak mau dia pun harus menurut.

Untuk mengatasi agar Anantakusuma tidak beralih ke lain hati, Endahwarni kemudian mengatur sebuah rencana licik guna menyingkirkan Anteh, yaitu dengan mengusirnya keluar dari istana. Rencana ini dilaksanakannya beberapa hari setelah dia menikah dengan Anantakusuma. Tanpa basa basi dia langsung mengusir Anteh tanpa alasan jelas. Endahwarni hanya mengatakan bahwa Anteh dapat merusak hubungan rumah tangganya apabila masih berada di istana.

Perkataan Endahwarni tadi tentu saja membuat Anteh terkejut luar biasa. Dia tidak mengerti kenapa Endahwarni tiba-tiba berkata demikian. Namun, karena Anteh hanyalah seorang dayang yang notabene termasuk dalam lapisan sosial bawah di istana, maka dia tidak dapat membantah atau meminta penjelasan yang lebih detail dari Endahwarni. Anteh hanya tertunduk lesu sambil berlalu menuju kamarnya untuk mengemasi barang. Selanjutnya, dia berpamitan pada para dayang lalu pergi meninggalkan istana menuju ke kampung halaman almarhumah ibunya.

Beberapa jam lamanya dia berjalan menyusuri lembah dan bukit hingga akhirnya sampai di sebuah pohon rindang dekat kampung ibunya. Ketika hendak melepas lelah di bawah pohon itu, tiba-tiba seorang lelaki paruh baya datang menyapa, "Siapakah namamu, Nak?"

"Namaku Anteh, Paman," jawab Anteh agak terkejut karena tiba-tiba ada ada orang di dekatnya.

"Anteh," kata orang itu, "Wajahmu mengingatkanmu pada almarhumah kakakku Dadap."

"Dadap, Paman? Apakah dia seorang dayang istana?" tanya Anteh.

"Iya," Jawab sang lelaki singkat sambil menerawang mengenang adiknya.

"Dia adalah ibuku," jawab Anteh Singkat pula.

Sang lelaki yang bernama Waru itu langsung menatap Anteh dengan mata berkaca-kaca. Dia tidak mengira kalau dapat bertemu dengan keturunan satu-satunya dari Nyai Dadap. Selama ini dia hanya mendengar kabar bahwa kakanya telah meninggal sewaktu melahirkan tetapi tidak pernah sekali pun melihat bayi yang dilahirkannya. Dan, sekarang akhirnya dia dapat bertemu dengan Anteh yang wajah dan perawakannya mirip sekali dengan Nyai Dadap.

Setelah mendengar penjelasan Anteh mengapa dia sampai di kampung ini, Waru lalu mengajaknya pulang untuk tinggal bersama keluarganya. Di rumah Anteh membantu Sang Paman menjahitkan baju-baju pesanan tetangga mereka. Dan, karena jahitan hasil karya Anteh tergolong indah, lama-kelamaan orang-orang yang berasal dari luar desa pun ikut menjahitkan baju kepadanya. Uang hasil jahitan sepenuhnya diberikan kepada Sang Paman untuk mencukupi keperluan hidup mereka sehari-hari.

Singkat cerita, belasan tahun kemudian Anteh menjadi seorang nyai. Dia telah berumah tangga dan memiliki dua orang anak. Suatu hari, ketika dia dan anak-anaknya sedang bersenda gurau di teras rumah datanglah sebuah kereta kencana dengan banyak sekali pengawal menunggang kuda di belakangnya. Begitu kereta berhenti, turunlah Putri Endahwarni dan langsung berlari menghampiri mereka. Sambil menangis, dia memeluk Nyai Anteh dan meminta maaf atas kekhilafannya. Dia pun kemudian membujuk Nyai Anteh agar kembali ke istana. Di sana, Nyai Anteh bersama keluarga akan dibuatkan rumah di sisi taman. Dan, karena Nyai Anteh sekarang telah berprofesi sebagai penjahit, maka dia akan diangkat menjadi penjahit istana.

Setelah berunding dengan Sang suami, Anteh akhirnya mau pindah ke istana. Tetapi kebahagiaan keluarga itu hanya berlangsung singkat. Sebab, Anantakusuma masih tetap menyimpan rasa cintanya pada Anteh. Hal itu "dibuktikannya" dengan selalu menyempatkan diri berkunjung ke taman istana secara sembunyi-sembunyi hanya untuk melihat paras cantik Nyai Anteh. Bahkan, karena sudah terlalu rindu, suatu malam saat bulan purnama Anantakusuma nekad mendatangi dan berusaha memeluknya.

Anteh yang kala itu sedang bermain dengan bermain dengan kucing kesayangannya, Candramawat, tentu saja terkejut, ketakutan, dan berusaha melarikan diri. Sambil berlari memeluk Candramawat Anteh berdoa pada para Dewa agar tidak diganggu lagi oleh Anantakusuma. Tanpa dinyana, doa Anteh dijawab oleh para Dewa. Tidak berapa lama kemudian tubuhnya diselimuti oleh sinar dan diangkat ke angkasan. Anantakusuma yang mengejarnya hanya terpana dan tidak dapat berbuat apa-apa ketika tubuh Anteh menghilang di antara awan menuju bulan.

Sesampainya di bulan, dia tidak dapat pulang lagi. Keinginannya ternyata berbuah simalakama. Di satu sisi dia dapat terbebas selamanya dari Anantakusuma, tetapi di sisi lain dia tidak dapat lagi bertemu dengan keluarganya. Hidupnya sekarang hanya ditemani oleh Candramawat. Usaha satu-satunya agar dapat kembali ke bumi dilakukan dengan cara menenun kain menjadi tangga. Namun, hasil tenunan itu tidak pernah selesai karena selalu dirusak oleh Candramawat. Konon, bayangan aktivitas Nyai Anteh ketika sedang menenun tadi akan terlihat dari bumi bila bulan purnama tiba.

Diceritakan kembali oleh Gufron

Curug Cilengkrang

Di antara Kabupaten Sumedang dan Kabupaten Bandung terdapat sebuah gunung yang puncaknya berketinggian sekitar 1.818 meter di atas permukaan air laut. Oleh masyarakat setempat gunung itu disebut sebagai Manglayang. Gunung Manglayang, walau berukuran relatif kecil di antara jejeran gunung di sekitarnya (Tangkuban Perahu, Burangrang, dan Bukit Tunggal), tetapi cukup menarik untuk dijadikan sebagai jalur pendakian, bumi perkemahan, maupun wisata alam.

Jalur pendakian di Gunung Manglayang dapat dibagi menjadi empat, yaitu: melalui Bumi Perkemahan atau Wanawisata Situs Batu Kuda di Kabupaten Bandung; Palintang di Ujungberung, Kota Bandung; Baru Beureum atau Manyeuh Beureum; dan Jatinangor di Kabupaten Sumedang. Sementara untuk wisata alam, salah satunya adalah Curug Cilengkrang yang terletak di Desa Cilengkrang, Kecamatan Cilengkrang, Kabupaten Bandung.

Untuk mencapai lokasi Curug Cilengkrang dari Kota Bandung relatif mudah karena berjarak hanya sekitar 10-15 kilometer hingga ke daerah Ujungberung, Cibiru maupun Cileunyi. Dari Ketiga daerah ini terdapat jalan-jalan kecil berukuran lebar 3-4 meter menuju curug dengan jarak antara 10 hingga 12 kilometer hingga ke lokasi curug, yaitu: Jalan Cilengkrang I, Jalan Desa Cipadung, Jalan Manisi, Jalan Sindangreret, Jalan Sadang, hingga Jalan Villa Bandung Indah. Jalan-jalan tersebut telah beraspal atau cor beton, sehingga walau tidak ada angkutan umum (kecuali ojeg) dapat dilalui relatif cepat. Namun apabila hendak ke lokasi, sebaiknya menggunakan kendaraan berkondisi prima karena medannya selalu menanjak.

Setelah sampai di pintu gerbang kawasan wisata Curug Cilengkrang, petugas setempat akan meminta bayaran sebesar Rp.5.000,00 per orang sebagai tiket masuk dan apabila membawa kendaraan ditambah biaya lagi sebesar Rp.2.000,00 per kendaraan. Selanjutnya, dari areal parkir diteruskan dengan berjalan kaki sekitar 100 meter hingga akhirnya sampai ke lokasi air terjun. Di sepanjang perjalanan menuju curug ini hanya ditemui sebuah warung yang menjual makanan dan minuman.

Kondisi Curug Cilengkrang dan Fasilitas yang Tersedia
Curug Cilengkrang berada dalam kawasan hutan lindung milik negara, sehingga sejak dibuka untuk umum tahun 2001 pengelolaannya dilakukan oleh Perhutani KPH Unit 3 Bandung Utara. Curug Cilengkrang sebenarnya merupakan rangkaian enam buah curug dalam rentang sekitar 2 kilometer pada aliran Sungai Cihampelas yang berhulu di puncak Gunung Manglayang. Curug-curug tersebut adalah: Batupeti, Papak, Panganten, Kacapi, Dampit, dan Leknan.

Curug Batupeti berada hanya sekitar 100 meter dari gerbang masuk Curug Cilengkrang. Penamaan curug ini berasal dari bongkahan batu disamping curug yang bagian sisinya menyerupai sebuah peti tertutup. Konon, apabila disangkutkan dengan legenda Sangkuriang, batu berbentuk peti itu dahulu merupakan perkakas Sangkuriang kala membuat perahu pesanan Dayang Sumbi. Namun, lepas dari penamaan tersebut, yang jelas Batupeti merupakan curug yang paling mudah dijangkau dibandingkan dengan curug-curug lain yang menjadi bagian dari Curug Cilengkrang. Di sekitar areal curug ini pengunjung dapat dengan mudah memanfaatkan segala fasilitas yang disediakan oleh pihak pengelola, yaitu: mushola, toilet, camping ground, dan warung yang menjual makanan dan minuman.

Tidak jauh dari Curug Batupeti, menyusuri aliran sungai ada Curug Papak. Penamaannya berkaitan dengan salah satu batu di puncak curug yang permukaannya datar atau dalam bahasa Sunda disebut papak. Selanjutnya ada Curug Panganten dengan formasi batuan menyerupai kursi pelaminan (panganten) yang membentuk kolam berundak dan dapat digunakan untuk berendam hingga tiga orang. Kemudian, Curug Kacapi dengan ketinggian mencapai sekitar 10 meter. Adapun penamaannya konon berasal dari suara jatuhnya air yang khusus pada setiap malam Senin terdengar mirip seperti dentingan kecapi. Curug ini letaknya agak jauh dari gerbang masuk Curug Cilengkrang dan untuk mencapainya relatif sukar karena harus melewati beraneka ragam tumbuhan hutan, seperti: perdu, pinus, pisang hutan, cangkring, bambu, jati, talas, caruluk, dan lain sebagainya.

Curug selanjutnya adalah Curug Dampit. Sesuai dengan namanya, Curug Dampit terdiri dari dua buah air terjun yang saling berhimpitan (dampit) dan mengalir pada dinding batu setinggi beberapa puluh meter. Tidak jauh dari Curug Dampit ada sebuah curug lagi yang diberi nama Leknan. Penamaan curug ini berkaitan dengan kejadian pada sekitar tahun 1953. Waktu itu, ada sebuah pesawat terbang yang mengalami kecelakaan di sekitar legokan curug. Oleh karena sang pilot yang mengalami kecelakaan tersebut berpangkat letnan, lambat laut tempat itu diberi nama Curug Leknan, sesuai dengan pelafalan masyarakat setempat.

Sebagai catatan, keenam curug tadi masih bersifat alami dan belum dimodifikasi sedemikian rupa agar menarik wisatawan. Oleh karena itu, kecuali Curug Batupeti, untuk dapat menikmatinya diperlukan usaha yang relatif keras karena harus menyusuri jalan setapak menanjak yang diapit tebing dan jurang menuju puncak Gunung Manglayang. Selain itu, ada pula pantangan yang harus diindahkan, yaitu tidak boleh membunyikan alat musik pukul kecuali pada saat ada ritual Mapag Hujan yang diselenggarakan oleh masyarakat sekitar tatkala musim kemarau panjang melanda. Konon, apabila dilanggar akan menyebabkan hujan lebat secara tiba-tiba.
Foto: Ali Gufron

Curug Beret

Curug Beret adalah sebuah obyek wisata alam berupa air terjun (curug) yang terletak di Kampung Lemah Neundeut, Desa Sukagalih, Kecamatan Megamendung, Bogor, Jawa Barat. Obyek wisata yang berada dekat dengan Bumi Perkemahan Baru Bolang di kawasan Taman Nasional Gede Pangrango ini berketinggian sekitar 20-30 meter dengan debit airnya yang tidak terlalu besar.

Untuk dapat mencapai lokasi Curug Beret dari pintu keluar tol Jagorawi hanya berjarak sekitar 11 kilometer. Apabila mengambil rute melewati tanjakan Gadog akan menemui jalan beraspal yang cukup baik, namun sekitar 4 kilometer menjelang lokasi curug jalan menjadi terjal dan berbatu di sekitar perkebunan teh. Setelah itu dilanjutkan lagi dengan berjalan kaki sekitar 20 menit menyusuri jalan setapak yang relatif curam.

Begitu pula bila mengambil rute Pasir Muncang menuju Megamendung, sebab setelah melewati desa terdekat (Desa Sukagalih), jalanan akan berubah menjadi terjal dan berbatu. Oleh karena itu, lebih baik menggunakan angkutan sepeda motor (ojeg) agar relatif mudah melewati jalanan tidak bersahabat. Adapun tarif sewanya hanya sebesar Rp.50.000,00 untuk waktu setengah hari.

Sesampai di lokasi curug, pengunjung dapat menikmati indahnya curahan air yang terjun dan membentuk sebuah kolam kecil pada bagian bawah. Selain itu, di sekitar kolam dapat juga dijadikan sebagai tempat berkemah, berpetualang, atau hanya sekadar menikmati keindahan alam. Namun, karena lokasi curug yang cukup terpencil dan relatif sulit diakses, fasilitas penunjangnya pun tidak terawat lagi. Jagi, apabila belum merasa puas, tidak jauh dari Curug Beret ada sebuah curug lagi bernama Jambe dengan ketinggian sekitar 100 meter serta Bumi Perkemahan Baru Bolang.

Foto: https://www.youtube.com/watch?v=vv86cllTGX8

Dugderan, Tradisi Warga Semarang Sambut Ramadhan

Asal Usul
Di daerah Semarang, Provinsi Jawa Tengah, ada suatu tradisi berupa upacara tradisional yang disebut sebagai Dugderan. Konon, asal usul nama upacara ini merupakan perpaduan dari bunyi "dug" saat bedug dipukul yang diikuti oleh suara "der" ketika meriam disulut sebagai penanda akan datangnya bulan Ramadhan1. Selain ditandai oleh pukulan bedug dan dentuman meriam, tradisi Dugderan juga dilengkapi dengan pasar malam dan arak-arakan atau kirab budaya yang melibatkan berbagai lapisan masyarakat2.

Kisah dibalik tradisi Dugderan berawal ketika adanya perbedaan pendapat antarulama dalam menentukan hari dimulainya bulan puasa. Untuk mengatasi perbedaan pendapat tersebut, pada sekitar tahun 1881 Bupati Semarang waktu itu, Adipati Kyai Raden Mas Tumenggung (KRMT) Purbaningrat, memutuskan untuk ikut menentukan awal bulan puasa. Adapun caranya adalah mengadakan upacara khusus bersama para ulama di kabupaten dan diakhiri dengan membunyikan bedug Masjid Besar Semarang di Kauman serta meletuskan meriam di halaman Kabupaten (alun-alun Kota Semarang), masing-masing sejumlah tiga kali sebagai pemberitahuan kepada khalayak ramai1.

Suara bedug serta dentuman meriam itu tentu saja menarik perhatian warga masyarakat sekitarnya. Mereka pun berbondong-bondong mendatangi asal suara untuk mengetahui kejadian apa yang sedang terjadi. Setelah masyarakat berkumpul, keluarlah Kanjeng Adipati dan Imam Masjid Besar (Kyai Tafsir Anom) memberikan sambutan dan pengumuman. Isi pengumuman diantaranya adalah informasi yang pasti tentang penentuan awal bulan puasa dan ajakan untuk selalu meningkatkan tali silaturrahim atau persatuan dan senantiasa meningkatkan kulitas ibadah3.

Lambat laun, mungkin setelah menjadi acara berulang, kerumunan orang di halaman kabupaten yang menyaksikan tanda awal bulan puasa juga dimanfaatkan oleh para pedagang "tiban" dari berbagai daerah untuk mencari keuntungan. Mereka menjual berbagai macam makanan, minuman, serta mainan anak-anak terbuat dari tanah liat, bambu, maupun kertas. Salah satu mainan yang mereka jajakan disebut sebagai Warak Ngendhog/Ngendok, berbentuk hewan berkaki empat dengan kepala mirip seekor naga4.

Dalam perkembangan selanjutnya, para pedagang tidak hanya berdagang pada saat masyarakat berkumpul mendengarkan pengumuman awal puasa. Mereka bahkan telah menggelar dagangannya jauh hari sebelum upacara dilaksanakan dalam bentuk pasar malam. Selain itu, juga ditambah dengan acara arak-arakan yang melibatkan berbagai macam kelompok. Dugderan tidak hanya sebagai sarana guna menginformasikan umat Islam mengenai waktu memulai ibadah puasa Ramadhannya, tetapi juga sebagai sarana hiburan dan ajang pentas budaya bagi warga masyarakat Kota Semarang.

Waktu, Tempat, Pemimpin dan Pihak-pihak yang Terlibat dalam Upacara
Sebagaimana upacara pada umumnya, Dugderan juga dilakukan secara bertahap. Tahap-tahap yang harus dilalui dalam upacara ini adalah sebagai berikut: (1) pengadaan pasar malam; (2) tahap upacara untuk menentukan awal puasa; (3) tahap pemukulan beduk dan penyulutan meriam, serta (4) tahap arak-arakan atau karnaval. Sebagai catatan, dahulu penyelenggaraan Dugderan dilakukan satu hari menjelang bulan puasa dan hanya berupa upacara untuk menentukan awa puasa lalu diakhiri dengan pemukulan bedug dan dentuman meriam sebagai pemberitahuan kepada masyarakat luas. Namun saat ini, setelah dikemas untuk kepentingan kepariwisataan, Dugderan diawali dengan pengadaan pasar malam satu minggu menjelang puasa demi untuk menarik minat wisatawan baik asing maupun domestik.

Tempat pelaksanaan Dugderan bergantung pada tahapan-tahapan yang harus dilalui. Untuk pergelaran pasar malam berlokasi di Pasar Johar yang konon dahulu merupakan pusat kota Semarang5. Untuk prosesi pengambilan keputusan mengenai waktu pelaksanaan puasa diadakan di Balaikota Semarang. Untuk prosesi pemukulan bedug dilakukan di Mesjid Besar Kauman6. Sedangkan untuk prosesi arak-arakan diawali dari halaman Balaikota Semarang menuju Mesjid Besar Kauman (Mesjid Agung Semarang), Mesjid Agung Jawa Tengah (MAJT) atau ke Lapangan Simpang Lima Semarang7.

Pemimpin Dugderan juga bergantung pada kegiatan atau tahap yang harus dilakukan. Pada tahap musyawarah menentukan waktu pelaksanaan puasa, yang bertindak sebagai pemimpin adalah imam Masjid Besar Kauman. Pada tahap pengumuman hasil keputusan pada ulama tentang waktu dimulainya puasa dipimpin atau dilakukan oleh Walikota Semarang. Sedangkan yang bertindak sebagai koordinator kegiatan pasar malam maupun arak-arakan atau karnaval budaya adalah pihak Pemerintah Kota Semarang, melalui beberapa dinas yang biasa menangani bidang-bidang tersebut.

Selain pemimpin, ada pula pihak-pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan Dugderan, yaitu: (1) para ulama penentu awal puasa; (2) petugas yang membunyikan bedug dan meriam; (3) pengrawit; (4) pembawa bendera; (5) beberapa kelompok kesenian yang ada di wilayah Semarang; dan (6) warga masyarakat lainnya yang membantu menyiapkan perlengkapan upacara maupun menyaksikan jalannya upacara.

Perlengkapan Upacara
Sebagai sebuah upacara yang dilaksanakan secara berurutan, tentu saja memerlukan peralatan dan perlengkapan untuk menunjang kelancaran prosesinya. Adapun peralatan dan perlengkapan tersebut, diantaranya: (1) Bendera; (2) seperangkat gamelan; (3) mesiu (obat Inggris) dan kertas koran sebagai "peluru" meriam; (4) untaian bunga untuk dikalungkan pada dua buah meriam8; (5) bom udara; dan (6) sirine.

Jalannya Upacara
Apabila Ramadhan hampir tiba, satu minggu sebelumnya diadakan pasar malam bertempat di Pasar Johar atau sekitar Masjid Besar Kauman. Di areal pasar malam yang bertujuan untuk menarik minat wisatawan ini dijual berbagai macam barang dagangan, berupa: makanan, minuman, sandang, sepatu, dan mainan anak-anak (seruling bambu, kembang api, gasing, peluit, kapal-kapalan, mainan dari gerabah, boneka plastik/karet, dan lain sebagainya termasuk sebuah mainan yang diberi nama warak ngendok).

Warak konon merupakan binatang rekaan kreasi Kyai Saleh Darat dan atau Bupati KRMT Purbaningrat. Tujuan pembuatannya adalah sebagai ikon yang dapat menarik perhatian masyarakat luas dengan fungsi setara dengan pengumuman awal puasa. Adapun bentuknya dapat dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu: klasik, modifikasi, dan kontemporer4. Warak klasik bergigi tajam, mata melotot, telinga tegak dan berjanggut lebat. Pada bagian badan, leher, dan keempat kakinya ditutupi bulu dengan warna berselang seling (merah, kuning, putih, hijau, dan biru). Sedangkan ekornya melengkung kaku berbulu serupa dengan badan dan berujung surai. Warak modifikasi berbentuk mirip kepala naga dengan moncong mirip buaya bergigi tajam, lidah bercabangm nata melotot, berkumis, berjanggut, bertanduk cabang, kulit bersisik, berambut surai di belakang kepala, dan kepala memakai mahkota. Sedangkan warak kontemporer secara struktur mirip dengan warak klasik, namun detail kepala dan bulu tidak sesuai. Ketiga tipe ini, sama-sama bisa "ngendok" (bertelur) karena di bagian perutnya dimasukkan sebuah telur rebus.

Selain barang dagangan, pasar malam juga menyajikan permainan-permainan khusus bagi anak-anak maupun orang dewasa, seperti: komidi putar, ombak asmaran, bianglala, rollercoaster mini, rumah hantu, tong setan, pemancingan ikan plastik, dan lain sebagainya. Untuk dapat menikmatinya, pengunjung hanya dikenakan biaya sebesar lima ribu rupah untuk satu kali bermain.

Sehari menjelang Ramadhan, barulah dimulai prosesi dugderan. Dahulu dugderan diawali musyawarah antara Bupati dan para ulama di Masjid Besar Kauman pada malam hari dengan melihat bulan (metode hilal) untuk menentukan awal puasa1. Namun, saat ini dugderan diselenggarakan sore hari sekitar pukul 15.30 WIB ketika bulan belum begitu tampak. Penentuan awal bulan Ramadhan telah berpedoman pada Kebutusan Kementerian Agama RI melalui Sidang Isbat.

Dalam prosesi ini Walikota (selaku umara) yang memerankan tokoh Adipati beserta isteri dan rombongan berjalan dari Balaikota menuju Masjid Besar Kauman. Mereka dikawal oleh prajurit patang puluh dan arak-arakan Warang Ngendok melewati rute Jalan Pemuda. Sesampainya di Masjid, mereka disambut oleh para ulama dan habaib terkemuka di Semarang yang sebelumnya telah bermusyawarah menentukan awal puasa. Keputusan tersebut ditulis dalam secarik kertas (sukuf holakoh) untuk diberikan kepada walikota.

Selanjutnya, usai beramah-tamah sejenak, Walikota berdiri dan membacakan teks (dalam bahasa Jawa) surat keputusan ulama tentang dimulainya ibadah puasa di bulan Ramadhan. Usai pembacaan surat keputusan, dilanjutkan doa bersama dan diakhiri dengan pemukulan bedug Masjid Besar Kauman yang langsung diikuti oleh suara dentuman sebagai penanda dimulainya dugderan. Sebagai catatan, dahulu suara dentuman berasal dari meriam yang berada di kawasan Kanjengan. Namun seiring perkembangan zaman, dentuman meriam digantikan oleh bom udara, mercon, sirine, dan bahkan bleduran terbuat dari bongkahan batang pohon yang bagian tengahnya dilubangi kemudian diisi karbit.

Setelah meriam/mercon berhenti berdentum, acara dilanjutkan dengan pembagian ganjelril dan air khataman Al Quran kepada masyarakat. Prosesi dugderan kemudian ditutup dengan acara arak-arakan atau karnaval/kirab yang diikuti oleh pasukan Merah Putih, prajurit berkuda, kereta kencana, pasukan berpakaian adat Bhinneka Tunggal Ika, drumband dari akpol, barongsai, rombongan bendi yang dikendarai para camat dan pimpinan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), rombongan sepeda onthel mobil-mobil hias berbagai tema, dan kesenian tradisional yang ada di Kota Semarang. Dan, dengan berakhirnya tahap arak-arakan ini, berakhirlah seluruh rentetan dalam upacara dugderan sebagai penanda bahwa esok hari telah memasuki bulan Ramadhan.

Nilai Budaya
Upacara dugderan, jika dicermati secara mendalam, mengandung nilai-nilai yang pada gilirannya dapat dijadikan sebagai acuan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai itu antara lain adalah kebersamaan, ketelitian, goto royong, dan religius. Nilai kebersamaan tercermn dari berkumpulnya sebagian anggota masyarakat dalam satu tempat untuk mengikuti prosesi dugderan sambil berdoa bersama demi keselamatan bersama pula. Ini adalah wujud kebersamaan dalam hidup bersama di dalam lingkungannya (dalam arti luas). Oleh karena itu, upacara ini mengandung pula nilai kebersamaan. Dalam hal ini, kebersamaan sebagai komunitas yang mempunyai wilayah, adat-istiadat dan budaya yang sama.

Nilai ketelitian tercermin dari proses upacara itu sendiri. Sebagai suatu proses, upacara memerlukan persiapan, baik sebelum upacara, pada saat prosesi, maupun sesudahnya. Persiapan-persiapan itu, tidak hanya menyangkut peralatan upacara, tetapi juga tempat, waktu, pemimpin, dan peserta. Semuanya itu harus dipersiapkan dengan baik dan seksama, sehingga upacara dapat berjalan dengan lancar. Untuk itu, dibutuhkan ketelitian.

Nilai kegotong-royongan tercermin dari keterlibatan berbagai pihak dalam penyelenggaraan upacara. Mereka saling bantu demi terlaksananya upacara. Dalam hal ini ada yang membantu menyiapkan makanan dan minuman, membuat rangkaian bunga, menjadi pemimpin upacara, dan lain sebagainya.

Nilai religius tercermin dalam doa bersama yang ditujukan kepada Tuhan agar mendapat perlindungan, keselataman dan kesejahteraan dalam menjalani kehidupan. (gufron)

Sumber:
1. Wibowo, Galih. "Kebijakan Penyelenggaraan Dugderan Tradisi Kota Semarang Menyambut Bulan Ramadhan", diakses dari http://www.academia.edu/11716792/ KEBIJAKAN_PENYELENGGARAAN_DUGDERAN, tanggal 26 Desember 2015.

2. "Sejarah Dugderan", diakses dari https://wisatasemarang.wordpress.com/2010/04/11/se jarah-dugderan/, tanggal 24 Desember 2015.

3. Mawahib,Muhamad Zainal. 2015. "Kebudayaan Masyarakat Kota Semarang: Warak Ngendok sebagai Simbol Akulturasi dalam Dugderan", dalam http://jurnal.elsaonline. com/?p=75, diakses 26 Desember 2016.

4. "Dugderan", diakses dari http://semarangkota.go.id/main/menu/26/seni-dan-budaya/du gderan, tanggal 25 Desember 2015.

5. "Dugderan", diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Dugderan, tanggal 26 Agustus 2015.

6. "Dugderan - Sebuah Potret Budaya Semarang", diakses dari http://seputarsemarang.com/ dugderan-sebuah-potret-budaya-semarang/Dugderan, tanggal 26 Desember 2015.

7. "Semarang Sambut Ramadhan dengan Dugderan", diakses dari http://www.antaranews. com/berita/383313/semarang-sambut-ramadhan-dengan-dugderan, tanggal 26 Desember 2015.

8. Nigitha Joszy. 2013. "Prosesi Acara Kirab Budaya "Dugderan"". Diakses dari http:// nigitha16joszy.blogspot.co.id/2013/07/makalah-budaya-dugderan.html, tanggal 25 Desember 2015.

Desa Paku Alam

Letak dan Keadaan Alam
Desa Paku Alam berada sekitar 5 kilometer sebelah barat Ibukota Kecamatan Darmaraja atau sekitar 26 kilometer dari Kota Sumedang dengan titik koordinat 6°53'7"S 108°4'43"E. Secara geografis batas-batas desa ini adalah: sebelah utara berbatasan dengan Desa Cigintung dan Desa Pejagan, sebelah timur berbatasan dengan Desa Cipaku, sebelah selatan berbatasan dengan Desa Cipaku, dan sebelah barat berbatasan dengan Desa Karangpakuan. Luas wilayahnya sekitar 477 ha, dengan rincian: lahan pekarangan (39 ha), persawahan (150 ha), pengangonan (27 ha), tegalan (99 ha), pemakaman sekitar 2 ha, dan tanah milik negara seluas sekitar 160 ha sebagai bagian dari daerah genangan Waduk Jatigede.

Topografinya berupa dataran rendah dan perbukitan berkemiringan tanah antara 20°-45° dengan ketinggian antara 130-280 meter di atas permukaan air laut. Iklim yang menyelimutinya sama seperti daerah lain di Kabupaten Sumedang, yaitu tropis yang ditandai oleh adanya dua musim (penghujan dan kemarau). Musim penghujan biasanya dimulai pada bulan Oktober-Maret sekitar 93-123 hari dan bercurah rata-rata 2242 mm, sedangkan musim kemarau biasanya dimulai pada bulan April-September dengan lama penyinaran matahari rata-rata sekitar 62,4%. Sedangkan temperaturnya rata-rata berkisar 22,5-23,3 Celcius dan berkelembaban 78,9%.

Kependudukan
Penduduk Desa Paku Alam berjumlah 1867 jiwa atau 728 Kepala Keluarga yang terdiri atas 898 jiwa laki-laki dan 945 jiwa perempuan. Jika dilihat berdasarkan golongan usia, penduduk berusia 0-4 tahun ada 52 jiwa (2,78%), 15-54 tahun ada 59 jiwa (3,16%), 7-12 tahun ada 187 jiwa (10,01%), 13-15 tahun ada 80 jiwa (4,30%), 16-18 tahun ada 58 jiwa (3,10%), 19-25 tahun ada 186 jiwa (9,96%), 26-64 tahun ada 960 jiwa (50,88%), dan 65 tahun ke atas ada 295 jiwa atau (15,80%).

Pendidikan dan Kesehatan
Sarana pendidikan yang terdapat di Desa Paku Alam hanya berupa 1 buah Taman Kanak-kanak (TK Tunas Alam), 2 buah Sekolah Dasar (SDN Kebonkopi dan SDN Cisema) serta sebuah 2 buah MDA (MDA Miftahul alam dan MDA Nurul Alam). Taman Kanak-kanak di desa ini menampung 41 siswa dengan jumlah pengajar sebanyak 4 orang. Sedangkan Sekolah Dasar menampung 131 siswa dengan jumlah tenaga pengajar sebanyak 18 orang dan MDA menampung 110 siswa dengan jumlah tenaga pengajar sebanyak 6 orang.

Adapun tingkat pendidikan yang dicapai oleh penduduk Desa Paku Alam sebagian besar SD/sederajat (721 orang). Sebagian lainnya yang jumlahnya cukup besar adalah tamatan SLTA/sederajat (388 orang) dan tamatan SLTP/sederajat (286 orang). Sedangkan, yang menamatkan Akademi/Perguruan Tinggi hanya 65 orang. Sementara untuk sarana kesehatan hanya ada 4 buah Posyandu dan 1 buah Polindes (Pos Bersalin Desa) dengan tenaga medis sebanyak 42 orang, terdiri atas: seorang bidan, 12 orang kader posyandu aktif, dan 26 orang pengurus Dasawisma aktif. Selain itu ada juga seorang dukun beranak atau paraji yang siap membantu kaum perempuan melahirkan.

Agama dan Kepercayaan
Seluruh penduduk Desa Paku Alam beragama Islam. Aktivitas keagamaan yang mereka lakukan adalah pengajian dan qasidahan. Pengajian dilakukan secara rutin pada sore hari bagi anak-anak, malam hari bagi kaum remaja, dan minggu malam bagi kelompok orang tua. Sedangkan qasidahan yang diikuti oleh kaum perempuan bersifat tidak rutin, hanya saat ada event tertentu saja seperti memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.

Organisasi Pemerintahan dan Kemasyarakatan
Secara administratif dan teritorial, pemerintahan Desa Paku Alam terdiri dari Pemerintah Desa dan BPD. Pemerintah Desa mencakup 2 dusun (Dusun Cilembu dan Dusun Cisema), 4 kampung, 8 Rukun Warga dan 24 Rukun Tetangga. Pemerintahan desa dipimpin oleh seorang Kepala Desa (kuwu) dan perangkat desa (sekretaris desa/juru tulis/ulis, Kepala Urusan Kesejahteraan Rakyat, Kepala Urusan Pemerintahan, Bendahara, Kepala Urusan Pembangunan). Sementara BPD atau Badan Permusyawaratan Desa adalah perwakilan penduduk yang dipilih berdasarkan musyawaraf-mufakat yang terdiri dari Ketua Rukun Warga, pemangku adat, golongan profesi, pemuka agama, atau pemuka masyarakat lainnya.

Selain kedua organisasi pemerintahan tersebut, terdapat juga organisasi kemasyarakatan seperti: Pendidikan Kesejahteraan Keluarga (PKK) beranggotakan 55 orang, Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa (LPMD) beranggotakan 5 orang, Linmas beranggotakan 5 orang, Asosiasi Rukun Warga dan Rukun Tetangga (ARWT) beranggotakan 96 orang, 5 unit Kelompok Tani (Poktan), Karang Taruna, organisasi kesenian, dan 2 unit organisasi olahraga.

Batu Putu

Batu Putu merupakan salah satu kawasan hutan yang secara administratif berada di Kelurahan Batu Putu, Kecamatan Telukbetung Utara. Lokasinya tidak begitu jauh dari Taman Wisata Bumi Kedaton (TWBK) dan juga Taman Kupu-Kupu. Untuk dapat mencapainya relatif mudah karena kondisi jalannya relatif baik (telah beraspal). Dari Kota Tanjungkarang hanya berjarak sekitar 20 kilometer atau 20-30 menit perjalanan menggunakan kendaraan bermotor.

Batu Putu adalah sebuah hutan yang dijadikan sebagai kawasan wanawisata oleh pemerintah Provinsi Lampung. Di tempat ini pengunjung dapat menikmati keindahan alam berupa hamparan pepohonan yang menjulang tinggi, kicauan burung yang bertengger di atas ranting, serta gemericik air yang berasal dari air terjun. Sebagai catatan, di sekitar kawasan wisata alam Batu Putu juga dikenal sebagai penghasil buah-buahan, seperti durian, duku, pisang, manggis, dan lain sebagainya. Jadi, selain menikmati keindahan alam pengunjung juga dapat mencicipi berbagai macam buah yang dihasilkan petani di Batu Putu. (pepeng)

Foto: https://eloratour.wordpress.com/2013/12/01/air-terjun-sukadanaham/

Desa Cikeusi

Letak dan Keadaan alam
Desa Cikeusi berada sekitar 3 kilometer sebelah barat Kecamatan Darmaraja atau sekitar 24 kilometer dari Kota Sumedang. Secara geografis batas-batas desa ini adalah: sebelah utara berbatasan dengan Desa Karang Pakuan, sebelah timur berbatasan dengan Desa Tarunajaya, sebelah selatan berbatasan dengan Desa Cienteung, dan sebelah barat berbatasan dengan Desa Cinangsi.

Desa Cikeusi merupakan desa tua yang sudah terbentuk sejak sekitar 1801 dengan kepala desanya bernama Jaham (periode 1801-1831). Setelah masa kepemimpinan Jaham berakhir, hingga saat ini sudah ada 16 orang kepala desa yang pernah memimpin Cikeusi. Mereka adalah: Yakin (periode 1831-1857), Antapraja (periode 1858-1883), Muhani (periode 1889-1918), Intapraja (periode 1918-1937), Ardipraja (1939-1943), Arintapraja (periode1943-1947), Sumawijaya (periode 1947-1956), Parmasasmita (periode 1959-1961), D. Karta (periode 1961-1974), Tarsedi (periode 1975-1978), A. Kusnadi (periode 1980-1988), U. Kuswandi (periode 1989-1997), Momo (periode 1997-1999), dan Cece Surakhman (periode 1999-2007-sekarang).

Setelah dimekarkan pada tahun 1982 menjadi Desa Cikeusi dan Desa Pasirmukti (kini Desa Cinangsi, Kecamatan Cisitu), luas wilayah Desa Cikeusi hanya menjadi 369,487 ha, terdiri dari: tanah darat seluas 121,78 ha, persawahan seluas 96 ha, pengangonan 59,56 ha, tanah titisan 72 ha, dan balong (kolam) seluas 0,05 ha. Namun, apabila Waduk Jatigede mulai beroperasi, luas desa akan semakin berkurang karena sebagian lahannya menjadi waduk.

Kependudukan
Penduduk Desa Cikeusi berjumlah 2.330 orang atau 730 Kepala Keluarga yang terdiri atas 1.197 orang laki-laki dan 1.133 orang perempuan. Jika dilihat berdasarkan tempat tinggal, persebaran penduduk hampir merata di dua dusun yang ada.

Mata Pencaharian
Seperti dikatakan di atas, Desa Cikeusi terbagi dalam dua dusun (Andir dan Citembong Girang) serta 4 Rukun Warga dan 17 Rukun Tetangga. Setiap Rukun Warga mempunyai karakteristik sendiri-sendiri. Rukun Warga 01 warga masyarakatnya rata-rata berusia produktif dan bermata pencaharian sebagai Pegawai Negeri Sipil, petani, wirausaha, dan pensiunan PNS. Penduduk Rukun Warga 02 rata-rata bermata pencaharian sebagai petani padi, sawo, rambutan, aren dan perajin batu bata. Penduduk Rukun Warga 03 rata-rata berprofesi sebagai guru, PNS, dan petani, tengkulak buah, dan peternak. Sedangkan penduduk Rukun Warga 04 sebagian besar berprofesi sebagai petani dan peternak.

Pendidikan dan Kesehatan
Sarana pendidikan yang terdapat di Desa Cikeusi berupa 2 buah Sekolah Dasar (SDN Cikeusi I dan SDN Cikeusi II), satu buah pondok pesantren, sebuah SD-SLB dengan jumlah pengajar 8 orang, sebuah SMP-SLB serta sebuah PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini). PAUD di desa ini menampung 40 siswa dengan jumlah pengajar sebanyak 3 orang. Sedangkan Sekolah Dasar menampung 192 siswa dengan jumlah tenaga pengajar sebanyak 12 orang. Sementara untuk sarana kesehatan hanya ada empat buah Posyandu dengan tenaga medis sebanyak 40 orang, terdiri atas: seorang bidan dan 39 orang kader Posyandu aktif. Selain itu ada juga seorang dukun beranak atau paraji yang siap membantu kaum perempuan melahirkan.

Organisasi Pemerintahan dan Kemasyarakatan
Secara administratif dan teritorial, pemerintahan Desa Cikeusi terdiri dari Pemerintah Desa dan BPD. Pemerintah Desa terdiri dari Kepala Desa (kuwu) dijabat Cece Surakhman dan perangkat desa (sekretaris desa/juru tulis/ulis (Uca S.), Kepala Urusan Kesejahteraan Rakyat (Tohidi), Kepala Urusan Pemerintahan (Uca Somantri), Kepala Urusan Keuangan (Ai Kurniasih), dan Kepala Ekbang (Dia Adipura). Sementara BPD atau Badan Permusyawaratan Desa adalah perwakilan penduduk yang dipilih berdasarkan musyawarah-mufakat terdiri dari Ketua Rukun Warga, pemangku adat, golongan profesi, pemuka agama, atau pemuka masyarakat lainnya. BPD adalah sebuah lembaga yang merupakan perwujudan demokrasi dalam penyelenggaraan pemerintahan desa sebagai unsur penyelenggara pemerintah desa.

Selain kedua oraganisasi pemerintahan tersebut, terdapat juga organisasi kemasyarakatan seperti Karang Taruna, Alhidayah, kelompok tani, Kelompok Wanita Tani, dan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa (LPMD), dan Pendidikan Kesejahteraan Keluarga (PKK). PKK bergerak dalam urusan kebutuhan hidup melalui 10 program, yaitu penghayatan dan pengamalan Pancasila, gotong royong, pangan, sandang, Perumahan dan tata laksana rumah tangga, pendidikan dan keterampilan, kesehatan, pengembangan kehidupan berkoperasi, kelestarian lingkungan hidup, dan perencanaan sehat.

Desa Sukaratu

Letak dan Keadaan Alam
Desa Sukaratu terletak hanya sekitar 1 kilometer dari Kecamatan Darmaraja, Kabupaten Sumedang. Secara geografis batas-batas desa ini: sebelah utara berbatasan dengan Desa Cibogo dan Desa Tarunajaya; sebelah timur berbatasan dengan Desa Jatibungur dan Desa Leuwihideung; sebelah selatan berbatasan dengan Desa Darmaraja; dan sebelah barat juga berbatasan dengan Desa Darmaraja.

Desa Sukaratu sudah terbentuk sejak era kepemimpinan Pangeran Aria Atmadja pada tahun 1918, dengan wilayah meliputi Kampung Durung dan Kampung Cibungur yang saat ini merupakan bagian dari wilayah Kecamatan Darmaraja. Nama desanya sendiri konon diambil dari kata suka atau seneung dan ratu atau raja yang dapat diartikan sebagai wilayah yang dicintai oleh para pemimpin.

Sekitar tahun 1947 terjadi perkembangan wilayah desa, meliputi: (1) Kampung Cibungur dan Kampung Dangdeur di bawah kendali Kepala Kampung (kokolot) Cibungur; (2) Kampung Jatiroke di bawah kendali Kokolot Jatiroke; (3) Kampung Cipendeuy di bawah kendali Kokolot Cipendeuy; dan Kampung Pasar dan Kampung Durung di bawah kendali Kokolot Pasar Durung.

Kemudian pada masa kepemimpinan Kuwu Minta, sekitar tahun 1953, terjadi perubahan lagi sejalan dengan adanya PP tentang pembentukan RT dan RK, menjadi: (1) Rukun Kampung 01 meliputi wilayah Kampung Cubungur dan Kampung Dangdeur sejumlah 6 Rukun Tetangga; (2) Rukun Kampung 02 meliputi wilayah Kampung Jatiroke sejumlah 6 Rukun Tetangga; (3) Rukun Kampung 03 meliputi wilayah Kampung Cipendeuy sejumlah 9 Rukun Tetangga; dan (4) Rukun Kampung 04 meliputi wilayah Kampung Pasar dan Kampung Durung sejumlah 8 Rukun tetangga.

Selanjutnya, berdasarkan Keputusan Bupati Sumedang Nomor: 140/19/Pemb Smd/1982 di era kepemimpinan Kuwu Tachya, wilayah dimekarkan menjadi dua desa, yaitu: Desa Sukaratu berkedudukan di Jalan Hasanah No. 2 Cipendeuy dengan Kepala Desa tetap dijabat oleh Tachya; dan Desa Jatibungur berkedudukan di Jalan Rd. Umar Wirahadikusuma KM 28 No. 375 Cibungur dengan Kepala Desa dijabat oleh Pjs. Kuwu Taan Suriadisastra.

Pasca pemekaran wilayah Desa Sukaratu menjadi: Dusun Pasar (Rukun Kampung 01, 6 Rukun Tetangga); Dusun Durung (Rukun Kampung 02, 6 Rukun Tetangga); Dusun Cipendeuy (Rukun Kampung 03, 12 Rukun Tetangga); dan Dusun Dangdeur (Rukun Kampung 04, 2 Rukun Tetangga). Rukun Kampung kemudian menjadi Rukun Warga sejak tahun 1986 berdasarkan peraturan Negara Republik Indonesia.

Keempat rukun warga tersebut kemudian dimekarkan lagi menjadi 7 rukun tetangga pada tahun 2007 karena ada perpindahan penduduk Dusun Dangdeur ke wilayah dusun lainnya akibat terkena proyek pembangunan Waduk Jatigede. Jadi, hanya sebagian kecil saja dari desa ini yang akan tergenang dan menjadi bagian waduk. Sedangkan wilayah lainnya tetap ada dengan luas keseluruhan mencapai 130,11 ha, terdiri dari: pemukiman penduduk (29,32 ha), persawahan 80,26 ha, ladang/tegalan 19,52 ha, perkantoran pemerintah 0,84 ha, lahan angon 55 ha, pemakaman, 0,16 ha, dan lain sebagainya.

Kependudukan
Penduduk Desa Sukaratu berjumlah 2.499 orang atau 896 Kepala Keluarga yang terdiri atas 1.261 orang laki-laki dan 1.238 orang perempuan. Jika dilihat berdasarkan tempat tinggal, persebaran penduduk hampir merata di ketiga dusun yang ada.

Mata Pencaharian
Jenis-jenis mata pencaharian yang digeluti oleh warga masyarakat Desa Sukaratu cukup beragam, tetapi sebagian besar bertumpu pada sektor pertanian, perkebunan, peternakan, dan perikanan. Pada sektor pertanian, produksi tanaman padi di lahan seluas 80,260 ha dapat menghasilkan beras sejumlah 447 ton. Dari sektor perkebunan berupa 340 batang pohon mangga, 108 batang pohon petai, dan 158 batang pohon rambutan dapat menghasilkan sekitar 251 ton buah per tahun yang dijual secara borongan pada para bandar buah. Dari sektor peternakan berupa 164 ekor domba, 16 ekor sapi, 3 ekor kerbau, dan 6 ekor kuda masih diusahakan secara perorangan sehingga hasilnya belum dapat menjadi komoditas unggul di Desa Sukaratu. Sedangkan, dari sektor perikanan seluas 9.660 meter persegi yang sumber dananya berasal dari alokasi khusus (DAK) dan APBD Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Sumedang untuk pembesaran ikan gurame dan nila dapat menghasilkan lebih dari 3 ton untuk sekali panen.

Kesenian
Desa Sukaratu memiliki dua buah grup kesenian kuda renggong, yaitu: Sinar Rahayu (Heboh Grup) pimpinan Een Sutisna dan Mitra Wangi pimpinan Uum Sumiyati. Keduanya berada di Dusun Cipendeuy. Kuda renggong adalah suatu kesenian khas masyarakat Sunda (Jawa Barat) yang menampilkan 1-4 ekor kuda yang dapat menari mengikuti irama musik. Di atas kuda-kuda tersebut biasanya duduk seorang anak yang baru saja dikhitan atau seorang tokoh masyarakat. Kata renggong adalah metatesis dari ronggeng yang artinya gerakan tari berirama dengan ayunan (langkah kaki) yang diikuti oleh gerakan kepala dan leher. (gufron)

Popular Posts

-