Micromax X234+

Specifications
Micromax X234+
Network2G
3G
GSM 900 / 1800 - SIM 1 & SIM 2
SizeDimensions
Weight
Display
108.6 x 44 x 14.5 mm (4.28 x 1.73 x 0.57 in)

TFT
176 x 220 pixels, 2.0 inches (~141 ppi pixel density)
MemoryPhonebook
Call records
Internal
Card slot
Yes
Yes

microSD, up to 2 GB
DataGPRS
EDGE
3G
WLAN
Bluetooth
Infrared port
USB




Yes

Yes
FeaturesOS
CPU
Messaging
Ringtones
Browser
Radio
GPS
Games
Camera
Video
Colors
Java


SMS
Vibration, Polyphonic, MP3 ringtones

FM radio

Yes
VGA, 640 x 480 pixels
Yes
Blue, red

- Loudspeaker
- Dual SIM (Mini-SIM)
- 3.5mm jack
- Clock
- Calendar
- Alarm
Battery
Stand-by
Talk time
Standard battery, Li-Ion 800 mAh
Up to 250 h
Up to 4 h 30 min

Image: http://www.gsmarena.com/micromax_x234+-pictures-4886.php

Legenda Batu Menangis

(Cerita Rakyat Kalimantan)

Alkisah, pada zaman dahulu kala di pedalaman Pulau Kalimantan hidup seorang janda miskin bersama anak gadisnya. Sang Gadis memiliki perawakan sempurna dengan rupa yang cantik jelita. Namun sayang, kesempurnaan fisik tersebut tidak diimbangi dengan pola tingkah lakunya. Dia tumbuh menjadi anak pemalas dan tidak pernah membantu ibunya melakukan pekerjaan di rumah maupun ladang. Kerjanya setiap hari hanyalah bersolek memanjakan tubuh sambil memerintah ibudanya untuk menyediakan segala sesuatu yang dia butuhkan. Seluruh permintaan Sang Gadis harus dipenuhi, tanpa mempedulikan kalau Sang Ibu harus membanting tulang untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkannya.

Agar mengetahui dunia luar, suatu saat Sang Ibu mengajak puterinya pergi berbelanja ke pasar. Oleh karena letak pasar relatif jauh dari rumah, maka keduanya terpaksa harus berjalan kaki cukup lama. Sang anak berjalan melenggang dengan memakai pakaian bagus dan wajah dirias dengan harapan setiap orang yang melihat akan mengagumi kecantikannya. Sementara Sang Ibu berjalan di belakangnya sembari membawa keranjang dengan tubuh berbalut pakaian lusuh, sehingga tidak akan ada seorang pun yang menyangka kalau kedua perempuan itu adalah ibu dan anak.

Benar saja, ketika mereka memasuki sebuah desa di dekat pasar, orang-orang secara spontan langsung menatap Sang Gadis. Mereka, terutama para pemuda desa, begitu terpesona akan kemolekan dan kecantikannya. Namun, ketika pandangan beralih pada perempuan tua yang berjalan dibelakang sang gadis, orang menjadi bertanya-tanya apakah dia ibu atau pembantu Sang Gadis.

Tidak lama kemudian, salah seorang pemuda memberanikan diri mendekati Sang Gadis, "Wahai gadis cantik, yang mengiringimu dibelakang itu ibu atau pembantumu?" tanya Si Pemuda berbasa-basi.

"Dia adalah pembantuku," jawab Sang Gadis berbohong karena malu melihat penampilan ibudanya yang sangat lusuh.

Di lain tempat, Sang Gadis disapa lagi oleh seorang pemuda, "Apakah yang mengikutimu itu ibumu, cantik?"

"Bukan. Dia adalah pembantuku," jawab Sang Gadis ketus.

Begitu seterusnya, ketika ada orang bertanya tentang perempuan tua yang mengikutinya Sang Gadis menjawab sekenanya, seperti: pembantu, pesuruh, dan bahkan budak.

Awalnya Sang Ibu hanya mendiamkan saja melihat kelakuan anaknya. Tetapi, karena hal itu dilakukannya berulang kali, akhirnya dia tidak dapat menahan diri lagi. Dalam hati dia berdoa, "Ya Tuhan, hamba sudah tidak tahan lagi. Anak kandung hamba telah memperlakukan diri hamba dengan amat menyakitkan. Hamba mohon berilah anak hamba pelajaran, ya Tuhan."

Beberapa saat setelah Sang Ibu mengakhiri doanya, atas kehendak Yang Kuasa tiba-tiba langit menjadi mendung dan berubah gelap. Sejurus setelah itu, Sang Gadis yang tadinya berlenggak-lenggok menjadi berat langkahnya. Secara perlahan namun pasti kakinya beralih ujud menjadi batu yang menjalar hingga setengah badannya.

Sadar akan kekhilafannya, Sang Gadis lalu menangis dan memohon ampun pada ibundanya. Akan tetapi semuanya sudah terlambat. Seluruh tubuh gadis itu akhirnya menjadi batu yang bagian atasnya tampak seperti sedang menitikkan air mata. Masyarakat setempat yang melihat ujud dari batu itu kemudian menamakannya sebagai "Batu Menangis".

Diceritakan kembali oleh gufron

Suzuki V-Strom 650 ABS (2014)

Technical Specifications
2014 Suzuki V-Strom 650 ABS
Engine
Engine type
Bore x Stroke
Displacement
Valves
Compression ratio
Max Power
Max Torque
Fuel system
Transmission
Final drive
Clutch
Ignition system
Starting system
Lubrication
Intake system
Spark plug
Battery
Gear ratios

4-stroke, 2-cylinder, liquid-cooled, DOHC, 90-degree V-Twin
81.0 mm x 62.6 mm (3.189 in x 2.465 in)
645 cm³
4 valves per cylinder
11.2:1


Suzuki Fuel Injection
6-speed constant mesh
Chain, DID525V8, 118 links

Electronic ignition (Transistorized)
Electric starter
Wet sump



1st
2nd
3rd
4th
5th
6th
Dimensions
Frame type
Rake/trail
Overall length
Overall width
Overall height
Wheelbase
Seat height
Ground clearance
Weight
Color
Suspension (front)
Suspension (rear)
Tyre (front)
Tyre (rear)
Brake (front)
Brake (rear)



2290 mm (90.2 in)
835 mm (32.9 in)

1560 mm (61.4 in)
835 mm (32.9 in)
175 mm (6.9 in)
214 kg (472 lbs)
Pearl bracing white, candy daring red
Telescopic, coil spring, oil damped
Link type, coil spring, oil damped
110/80R19M/C 59H, tubeless
150/70R17M/C 69H, tubeless
Twin-disc brake
Single-disc brake

Image: http://www.topspeed.com/motorcycles/motorcycle-reviews/suzuki/2014-suzuki-v-strom-650-ar161070.html

Suzuki V-Strom 650 ABS Adventure (2014)

Technical Specifications
2014 Suzuki V-Strom 650 ABS Adventure
Engine
Engine type
Bore x Stroke
Displacement
Valves
Compression ratio
Max Power
Max Torque
Fuel system
Transmission
Final drive
Clutch
Ignition system
Starting system
Lubrication
Intake system
Spark plug
Battery
Gear ratios

4-stroke, 2-cylinder, liquid-cooled, DOHC, 90-degree V-Twin
81.0 mm x 62.6 mm (3.189 in x 2.465 in)
645 cm³
4 valves per cylinder
11.2:1


Suzuki Fuel Injection
6-speed constant mesh
Chain, DID525V8, 118 links

Electronic ignition (Transistorized)
Electric starter
Wet sump



1st
2nd
3rd
4th
5th
6th
Dimensions
Frame type
Rake/trail
Overall length
Overall width
Overall height
Wheelbase
Seat height
Ground clearance
Weight
Color
Suspension (front)
Suspension (rear)
Tyre (front)
Tyre (rear)
Brake (front)
Brake (rear)






1560 mm (61.4 in)
835 mm (32.9 in)
175 mm (6.9 in)

Metallic thunder gray
Telescopic, coil spring, oil damped
Link type, coil spring, oil damped
110/80R19M/C 59H, tubeless
150/70R17M/C 69H, tubeless
Twin-disc brake
Single-disc brake

Image: http://www.topspeed.com/motorcycles/motorcycle-reviews/suzuki/2014-suzuki-v-strom-650-adventure-ar161071.html

Suzuki V-Strom 1000 ABS (2014)

Technical Specifications
2014 Suzuki V-Strom 1000 ABS
Engine
Engine type
Bore x Stroke
Displacement
Valves
Compression ratio
Max Power
Max Torque
Fuel system
Transmission
Final drive
Clutch
Ignition system
Starting system
Lubrication
Intake system
Spark plug
Battery
Gear ratios

4-stroke, 2-cylinder, liquid-cooled, DOHC, 90-degree V-Twin
100.0 mm x 66.0 mm (3.937 in x 2.598 in)
1037 cm³
4 valves per cylinder
11.3:1


Suzuki Fuel Injection
6-speed constant mesh
Chain

Electronic ignition (Transistorized)
Electric starter
Wet sump



1st
2nd
3rd
4th
5th
6th
Dimensions
Frame type
Rake/trail
Overall length
Overall width
Overall height
Wheelbase
Seat height
Ground clearance
Weight
Color
Suspension (front)
Suspension (rear)
Tyre (front)
Tyre (rear)
Brake (front)
Brake (rear)



2285 mm (89.96 in)
865 mm (34.05 in)

1555 mm (61.22 in)
850mm (33.4in)
165 mm (6.5 in)
228 kg (502.65 lbs)
Glass sparkle black
Invetered telescopic, coil spring, oil damped
Link type, coil spring, oil damped
110/80R19M/C 59V, tubeless
150/70R17M/C 69V, tubeless
Twin-disc brake 290mm with 2-piston calipers
Single-disc brake 275mm with Single 2-piston calipers

Image: http://www.motorcycledaily.com/2013/11/2014-suzuki-v-strom-1000-abs-will-be-priced-at-12699-comparison-with-competitors/

Suzuki V-Strom 1000 ABS Adventure (2014)

Technical Specifications
2014 Suzuki V-Strom 1000 ABS Adventure
Engine
Engine type
Bore x Stroke
Displacement
Valves
Compression ratio
Max Power
Max Torque
Fuel system
Transmission
Final drive
Clutch
Ignition system
Starting system
Lubrication
Intake system
Spark plug
Battery
Gear ratios

4-stroke, 2-cylinder, liquid-cooled, DOHC, 90-degree V-Twin
100.0 mm x 66.0 mm (3.937 in x 2.598 in)
1037 cm³
4 valves per cylinder
11.3:1


Suzuki Fuel Injection
6-speed constant mesh
Chain

Electronic ignition (Transistorized)
Electric starter
Wet sump



1st
2nd
3rd
4th
5th
6th
Dimensions
Frame type
Rake/trail
Overall length
Overall width
Overall height
Wheelbase
Seat height
Ground clearance
Weight
Color
Suspension (front)
Suspension (rear)
Tyre (front)
Tyre (rear)
Brake (front)
Brake (rear)



2285 mm (89.96 in)
865 mm (34.05 in)

1555 mm (61.22 in)
850mm (33.4in)
165 mm (6.5 in)

Glass sparkle black
Invetered telescopic, coil spring, oil damped
Link type, coil spring, oil damped
110/80R19M/C 59V, tubeless
150/70R17M/C 69V, tubeless
Twin-disc brake 290mm with 2-piston calipers
Single-disc brake 275mm with Single 2-piston calipers

Image: http://www.topspeed.com/motorcycles/motorcycle-reviews/suzuki/2014-suzuki-v-strom-1000-abs-grand-tourer-ar163481.html

Legenda Telaga Warna

(Cerita Rakyat Daerah Jawa Barat)

Alkisah, pada zaman dahulu kala di sekitar daerah Pucak, Bogor, Jawa Barat, terdapat sebuah kerajaan. Kerajaan itu dipimpin oleh seorang prabu yang konon sangat arif dan bijaksana. Tak heran apabila negeri itu menjadi makmur, tenteram, dan sejahtera. Namun, dibalik kemakmuran dan kesejahteraan tersebut sebenarnya Sang Prabu sedang gundah gulana. Hal ini disebabkan karena telah sekian lama berumah tangga, tetapi belum juga dikaruniai momongan. Penasihat kerajaan pernah menyarankannya mengangkat anak agar kesedihannya sedikit terobati. Tetapi Sang Prabu tidak menyetujuinya, "Buatku, anak kandung akan lebih baik daripada anak angkat."

Apabila Sang Prabu dapat menyembunyikan perasaannya karena harus menjadi seorang pemimpin yang baik di mata rakyat, tidak demikian halnya dengan Sang Permaisuri. Dia sering duduk termenung sambil sesekali menitikkan air mata apabila istana sedang sepi. Lama-kelamaan Sang Prabu menjadi iba dan memutuskan pergi ke Hutan untuk bertapa dan memohon doa pada Yang Maha Kuasa agar dikaruniai momongan. Beberapa bulan kemudian barulah keinginan Sang Prabu dikabulkan. Permaisuri pun mulai hamil. Rakyat segera menyambutnya dengan gembira. Mereka berbondong-bondong datang ke istana sambil membawa hantaran berupa hasil bumi dari sawah dan ladang.

Setelah sembilan bulan mengandung, Permaisuri melahirkan seorang bayi perempuan. Bayi itu tumbuh dengan cepat dan beberapa belas tahun kemudian telah menjadi seorang remaja yang cantik jelita. Namun sayangnya, karena diberi kasih sayang berlebihan, Sang Gadis tumbuh menjadi seorang anak manja. Dia bahkan sering berkata kasar apabila keinginannya tidak langsung dipatuhi dan dipenuhi.

Ketika Sang Puteri akan merayakan ulang tahunnya yang ke-17, secara spontan para penduduk negeri pergi ke istana dengan membawa berbagai macam hadiah yang indah. Kewalahan menerimah hadiah yang begitu banyak, Sang Prabu lalu menyuruh para pembantunya membawa dan menyimpannya ke dalam salah satu ruangan di istana. Sang Prabu hanya mengambil beberapa hadiah berupa emas dan permata untuk dilebur menjadi sebuah kalung bagi puteri tercintanya.

Saat hari ulang tahun tiba, para penduduk negeri berkumpul di alun-alun istana untuk merayakannya. Sang Prabu dan Permaisuri menyambut mereka dengan suka cita. Dan, ketika Sang Puteri yang cantik jelita muncul, semua orang pun menyambutnya dengan gembira. Bahkan, tidak sedikit diantara mereka yang mengagumi dan jatuh hati pada kecantikan paras Sang Putri.

Melihat puteri tercintanya telah muncul, Sang Prabu segera berdiri dari kurisnya sambil menggenggam sebuah kalung indah. "Puteriku tercinta, pada hari ulang tahunmu ini aku akan memberimu sebuah kalung yang sangat indah. Kalung ini adalah pemberian dari rakyat di seluruh negeri yang merasa sangat gembira karena melihatmu telah tumbuh dewasa. Pakailah kalun ini, Nak," kata Sang Prabu.

Sang Puteri lalu mengambil kalung itu dari tangan ayahandanya. Tetapi setelah dilihat beberapa saat, dia lalu melemparnya hingga jatuh berserakan di lantai hingga . "Kalung itu jelek! Aku tak mau memakainya," kata Sang Puteri ketus.

Kejadian itu sangat mengejutkan semua orang. Suasana yang tadinya riuh rendah sontak menjadi sunyi. Di tengah keheningan tersebut, tiba-tiba terdengarlah suara tangisan Sang Permaisuri yang kemudian diikuti oleh para perempuan yang hadir di sana. Anehnya, ketika air mata para perempuan mulai menetes dan jatuh ke tanah, tiba-tiba muncullah sebuah mata air di halaman istana. Mata air itu semakin lama semakin besar dan membentuk sebuah telaga yang menenggelamkan istana beserta seluruh isinya.

Oleh masyarakat sekitar, telaga itu diberi nama Telaga Warna karena apabila hari sedang cerah airnya terkesan berwarna-warni. Warna air telaga sebenarnya berasal dari bayangan hutan, tanaman, bunga-bunga, dan langit di sekitarnya. Tetapi, pada zaman dahulu warna itu diyakini berasal dari pecahan emas dan permata milik Sang Puteri yang tersebar di dasar telaga.

Diceritakan kembali oleh gufron

Tradisi Ngumbai Atakh Masyarakat Lampung Barat

Di kalangan masyarakat Lampung Barat, khususnya yang berada di sekitar pesisir Krui, Kecamatan Way Krui, Kabupaten Lampung Barat, sekitar 330 kilometer dari Bandarlampung, terdapat sebuah tradisi yang disebut ngumbai atakh yang dalam bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai “berdoa bersama”. Ngumbai atakh adalah suatu bentuk pengharapan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar hasil perkebunan yang menjadi matapencaharian warga masyarakat meningkat dan dijauhkan dari segala musibah ataupun adanya roh jahat yang bermaksud untuk mengganggu kesuburan tanaman. Adapun pelaksanaannya umumnya dilakukan pada hari pertama bulan atau musim haji.

Ngumbai atakh kepada Tuhan Yang Maha Kuasa ini dipimpin oleh seorang ustadz yang dianggap mampu atau menguasai ilmu agama. Sementara penyelenggaranya adalah warga masyarakat pemilik perkebunan. Agar lebih afdol, acara ini umumnya juga mengundang para tokoh agama, tokoh masyarakat, dan perangkat pekon setempat. Mereka secara berjamaah memanjatkan doa tanpa menyediakan sesajen di lokasi perkebunan agar diberikan peningkatan hasil perkebunan, kemudahan rezeki, dan dijauhkan dari segala musibah yang datang secara tidak terduga. Sebagai catatan, selain untuk mendapatkan berkah dari Tuhan Yang Maha Kuasa, tradisi ngubai atakh ini juga dapat dijadikan sebagai ajang mempererat tali silaturrahim antarwarga di masing-masing pekon (desa).

Sumber:
http://lampungbarat.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=2612&Itemid=142
http://www.antaranews.com/berita/1289349368/ngumbai-atakh-tradisi-lampung-barat
http://oase.kompas.com/read/2010/11/10/12274349/Ngumbai.Atakh.Tradisi.Lampung.Barat

Asal Mula Telaga Biru

(Cerita Rakyat Maluku Utara)

Halmahera Utara merupakan salah satu kabupaten yang ada di Provinsi Maluku Utara. Di daerah ini, tepatnya di Dusun Lisawa, Desa Mamuya, Kecamatan Galela ada sebuah telaga berair jernih agak kebiruan. Oleh karena warnanya agak kebiruan, masyarakat sekitar menamakannya sebagai Telaga Biru. Bagaimana asal mula telaga yang selalu jernih airnya ini? Berikut adalah kisahnya.

Alkisah, pada zaman dahulu kala jumlah penduduk di Desa Mamuya masih sangat jarang dan hanya terdiri dari beberapa dadaru (rumah) saja. Suatu ketika penduduk yang berjumlah sedikit tersebut gempar karena di daerah mereka tiba-tiba ditemukan air yang keluar dari bebatuan hasil pembekuan lahar di dekat sebuah pohon beringin. Air itu membentuk sebuah telaga yang dari jauh tampak bening kebiruan. Penduduk pun menjadi bingung. Apakah fenomena itu terbentuk secara alamiah atau mungkin pertanda bahwa akan terjadi sesuatu di kampung mereka.

Singkat cerita, berita tentang adanya telaga baru segera menyebar dengan cepat. Walhasil, datanglah orang-orang dari luar Mamuya untuk menyaksikannya. Mereka penasaran mengapa di daerah yang tergolong sulit air itu dapat muncul sebuah mata air yang akhirnya menjadi telaga. Untuk mengatasi rasa penasaran penduduk, para tetua dari Mamuya dan daerah sekitarnya bersepakat menggelar suatu ritual pemanggilan arwah leluhur untuk memperoleh penjelasan. Dan, penjelasan yang diperoleh adalah "Timbul dari Sininga irogi de itepi Sidago kongo dalulu de i uchi imadadi ake majobubu" yang dalam bahasa Indonesia berarti "timbul akibat dari hati yang remuk redam hingga akhirnya menetaskan air mata dan mengalir menjadi sebuah sumber mata air".

Untuk mengetahui siapa yang telah patah hatinya, para tetua bersepakat memanggil seluruh penduduk. Salah seorang dari mereka kemudian diutus agar membunyikan dolodolo (semacam kentongan) sebagai seruan agar penduduk berkumpul. Setelah seluruhnya berkumpul, salah seorang diantara para tetua segera bertanya, "Apakah ada yang belum hadir?"

Para penduduk saling memandang dan menghitung jumlah anggota keluarganya masing-masing. Beberapa saat kemudian barulah diketahui bahwa ada dua keluarga yang kehilangan salah satu anggotanya. Oleh karena enggan menyebut nama, mereka hanya mengatakan yang tidak datang adalah majojaru (nona) dan magohiduuru (nyong). Menurut keterangan pihak keluarga, sang majojaru telah dua hari pergi meninggalkan rumah dan sampai saat ini tidak ada yang mengetahui keberadaannya. Sementara menurut keterangan pihak keluarga Magohiduuru, anak mereka telah lebih dari enam bulan merantau ke negeri seberang dan tidak tahu kapan akan kembali.

Kedua orang ini adalah sepasang kekasih yang telah lama menjalin hubungan asmara. Sebelum pergi merantau, Magohiduuru terlebih dahulu pamit pada Majojaru. Keduanya lalu berikrar untuk saling menunggu walau hari, bulan dan tahun berlalu. Keduanya juga sepakat untuk lebih baik mengakhiri hidup daripada harus menjalin hubungan dengan orang lain.

Tetapi jalan hidup berkehendak lain. Setelah enam bulan berpisah, terdengarlah kabar bahwa Magohiduuru so balaeng deng nona laeng. Dia telah melupakan ikrarnya untuk sehidup-semati sebab telah menjalin hubungan dengan perempuan lain. Hati Majojaru menjadi hancur karena Magohiduuru telah berpaling pada perempuan lain. Dengan perasaan galau dan tubuh lunglai, Majojaru keluar dari rumah mencari tempat sunyi untuk merenungkan nasibnya.

Setelah berjalan beberapa lama, sampailah Majojaru di depan sebuah pohon beringin tua yang sangat rindang. Di tempat itu dia berteduh dari sengatan panasnya sinar matahari sambil meratapi kisah cintanya. Tak terasa air matanya mengalir yang semakin lama semakin banyak hingga menggenangi daerah sekitarnya hingga membentuk sebuah telaga berwarna biru. Majojaru pun tenggelam dalam air matanya sendiri. Begitulah telaga itu terbentuk yang hingga kini masih dapat disaksikan keberadaannya di Dusun Lisawa.

Diceritakan kembali oleh gufron


Popular Posts