Lomba Gigit Koin

Salah satu dari sekian banyak perlombaan yang selalu rutin diadakan pada saat memperingati hari kemerdekaan Indonesia adalah lomba gigit koin (uang logam). Sesuai dengan namanya, dalam permainan ini para pesertanya diharuskan untuk mengambil koin-koin yang ditancapkan pada buah semangka, pepaya, atau jeruk bali dengan cara menggigitnya. Mengenai kapan dan dimana pertama kali muncul permainan ini sudah tidak diketahui lagi, namun sejak adanya pelbagai macam permainan untuk memperingati dan memeriahkan hari kemerdekaan, permainan gigit koin selalu diikutsertakan.

Pemain
Permainan gigit koin dapat dikategorikan sebagai permainan remaja dan dewasa yang umumnya dilakukan oleh kaum laki-laki dan perempuan berusia 15--32 tahun. Selain pemain, lomba gigit koin juga menggunakan wasit untuk mengawasi jalannya perlombaan dan menetapkan pemenang.

Tempat dan Peralatan Permainan
Perlombaan gigit koin tidak membutuhkan tempat atau arena yang luas. Ia dapat dimainkan di mana saja, seperti: halaman rumah atau tanah lapang. Sedangkan, peralatan yang digunakan adalah: (1) uang koin nominal Rp.200,00, Rp.500,00 dan atau Rp.1000,00; (2) buah pepaya, semangka atau jeruk bali sebagai media untuk menempelkan uang-uang koin; (3) tali rafia atau tambang plastik untuk menggantungkan buah; (4) selai, jeli, atau bahkan oli bekas untuk melumuri buah; dan (5) batang bambu atau kayu yang nantinya akan dijadikan mistar sebagai tempat untuk menggantungkan buah

Aturan permainan
Aturan dalam perlombaan gigit koin tergolong mudah, yaitu peserta diharuskan menggigit koin-koin pada buah yang digantungkan dalam waktu yang telah ditentukan. Dan, bagi peserta yang dapat mengumpulkan koin paling banyak dinyatakan sebagai pemenangnya.

Jalannya Permainan
Apabila panitia perlombaan telah mempersiapkan peralatan dan perlengkapan permainan, maka mereka akan memanggil para peserta untuk berdiri tepat di depan buah yang digantungkan. Selanjutnya, panitia akan mengikat tangan peserta dibelakang agar tidak berbuat curang ketika mengambil koin. Setelah peserta siap, panitia akan memberikan aba-aba sebagai tanda perlombaan dimulai.

Pada saat aba-aba diberikan para peserta segera mulai mengambil koin-koin yang ditancapkan pada buah yang digantungkan dengan tali setinggi kira-kira beberapa sentimeter di atas mulut. Keadaan ini membuat peserta harus ber”jinjit” agar dapat menggigit koin yang terkadang posisinya hanya 1/10 bagian saja tersembul keluar dari buah.

Untuk lebih mempersulit lagi, panitia biasanya melumasi seluruh permukaan buah dengan jeli, jelaga, atau bahkan oli pelumas kendaraan bermotor. Tujuannya, selain agar menjadi licin, juga untuk memenuhi salah satu esensi dari permainan itu sendiri, yaitu bermain dan bergembira. Dengan dilumurinya buah maka muka para peserta akan cemong dan menjadi bahan tertawaan para penonton. Jadi, tidak hanya peserta saja yang dapat bergembira, penonton yang melihatnya pun ikut bergembira pula.

Apabila waktu yang telah ditentukan berakhir, maka permainan pun harus dihentikan. Dan, setelah dilakukan penghitungan, peserta yang paling banyak mendapatkan koin dinyatakan sebagai pemenangnya.

Nilai Budaya
Nilai yang terkandung dalam permainan gigit koin ini adalah: kerja keras dan sportivitas. Nilai kerja keras tercermin dari semangat para pemain untuk dapat menggigit koin sebanyaknya agar menjadi pemenang. Dan, nilai sportivitas tercermin tidak hanya dari sikap para pemain yang tidak berbuat curang saat berlangsungnya permainan, tetapi juga mau menerima kekalahan dengan lapang dada. (Gufron)

Sumber:
http://www.kaskus.co.id/showthread.php?t=7634742
Dibaca: