Permainan Nojapi-japi (Sulawesi Tengah)

Asal-usul
Sulawesi adalah salah satu pulau yang ada di Indonesia. Dan, Kaili adalah salah satu sukubangsa asal yang ada di sana. Di kalangan mereka ada satu permainan yang disebut sebagai nojapi-japi. Meskipun namanya demikian, bukan berarti bahwa yang diadu adalah sapi yang sesungguhnya, tetapi sapi-sapian (mainan sapi). Kapan dan dimana permaian ini bermula sulit diketahui dengan pasti. Yang jelas nojapi-japi adalah bahasa setempat yang merupakan gabungan dari dua kata, yaitu “no” dan “japi”. “No” adalah kata awalan yang menunjukkan kata kerja dan “japi”, yang berarti sapi. Dengan demikian, nojapi-japi dapat diartikan sebagai bermain sapi-sapian.

Pemain
Permainan nojapi-japi dapat dikategorikan sebagai permainan anak-anak. Pada umumnya permainan ini dilakukan dilakukan oleh anak laki-laki yang berusia 7--12 tahun. Jumlah pemainnya 2--6 orang.

Tempat dan Peralatan Permainan
Permainan yang disebut sebagai nojapi ini tidak membutuhkan tempat (lapangan) yang khusus. Ia dapat dimainkan di mana saja, asalkan di atas tanah. Jadi, dapat di tepi pantai, di tanah lapang atau di jalan. Luas arena permainan nojapi ini hanya sepanjang 7--10 meter dan lebar sekitar 2 meter.

Sesuai dengan namanya, peralatan yang digunakan adalah sapi-sapian dengan warna hijau atau coklat. Alat tersebut terbuat dari pelepah kelapa yang masih hijau, tali daun silar dan tempurung kelapa. Cara membuatnya adalah sebagai berikut. Mula-mula tempurung kelapa dibentuk sedemikian rupa hingga menyerupai tanduk. Setelah tanduk terbentuk, serat-serat (bulu) tempurung itu dicukur atau diserut dengan pisau agar telihat lebih bagus dan licin. Kemudian, pelepah kelapa yang besar dan tebal, diukur dengan panjang sekitar 5 cm. Setelah itu, pelepah dibelah dan dimasukkan tempurung yang telah berbentuk tanduk dengan cara menyisipkannya dalam posisi kedua ujung mengarah ke atas sehingga tempurung tanduk itu menjadi kuat dan tidak mudah goyah. Selanjutnya, membuat tali dari daun silar yang nantinya akan diikatkan di antara tanduk dan batas bagian leher sapi-sapian itu agar dapat ditarik. Cara membuat talinya adalah dengan menggunakan beberapa buah serat daun silar yang dipilin hingga panjangnya mencapai 2 atau 2½ meter.

Aturan Permainan
Aturan permainan Nojapi tergolong sederhana, yaitu apabila dua sapi-sapian diadu dan salah satu ada yang putus tali dan atau tanduknya, maka pemiliknya dinyatakan kalah. Sedangkan, yang tidak terputus dinyatakan menang.

Jalannya Permainan
Permainan nojapi-japi diawali dengan pemilihan dua orang pemain yang dilakukan secara musyawarah/mufakat. Setelah itu, salah seorang pemain akan berdiri di ujung arena permainan, sedangkan pemain lainnya akan berdiri pada ujung yang satunya lagi. Apabila telah siap, peserta lain yang tidak ikut bermain akan memberikan aba-aba untuk segera memulai permainan. Mendengar aba-aba itu, kedua pemain akan berlari untuk mengadukan sapi-sapian mereka. Pada saat berada di tengah arena -- sambil berlari-- sapi-sapian itu diadukan dengan cara tangan yang memegang tali diayun ke kanan sedikit (apabila tangan kanan yang memegang). Pada saat inilah terjadi tabrakan yang keras, sehingga biasanya terjadi dua hal, yakni talinya putus atau tanduk yang patah. Apabila hal itu terjadi, maka pemiliknya dikatakan kalah. Namun, apabila sapi mainannya tidak ada yang putus dan atau patah, maka permainan diulang kembali.

Nilai Budaya
Nilai budaya yang terkandung dalam permainan nojapi-japi adalah: kerja keras, keuletan, dan sportivitas. Nilai kerja keras tercermin dari semangat para pemain yang berusaha agar japinya dapat mengalahkan japi lawannya. Nilai keuletan tercermin dari proses pembuatan japi yang memerlukan keuletan dan ketekunan agar dapat menjadi sebuah japi yang kuat dan tidak mudah putus atau patah apabila diadu dengan japi lain. Dan, nilai sportivitas tercermin tidak hanya dari sikap para pemain yang tidak berbuat curang saat berlangsungnya permainan, tetapi juga mau menerima kekalahan dengan lapang dada. (gufron)

Sumber:

Gedung Perundingan Linggarjati

Kabupaten Kuningan yang terletak di baratdaya Gunung Ciremai, Jawa Barat, memiliki sebuah obyek wisata sejarah yang sangat terkenal, yaitu Gedung Perundingan Linggajati. Gedung ini terletak di Desa Linggajati, Kecamatan Cilimus, sekitar 14 kilometer dari Kota Kuningan atau 26 kilometer dari Kota Cirebon. Desa Linggajati berada pada ketinggian 400 meter di atas permukaan laut. Desa ini sebelah selatan berbatasan dengan Desa Linggarmekar, sebelah utara berbatasan dengan Desa Linggarindah dan di sebelah barat berbatasan dengan Gunung Ciremai.

Gedung yang berada di Desa Linggajati ini pernah menjadi tempat perundingan pertama antara Republik Indonesia dengan Belanda pada tanggal 11--13 November 1946. Dalam perundingan itu, Pemerintah RI diwakili oleh Perdana Menteri Sutan Syahrir, sedangkan Pemerintah Kerajaan Belanda diwakili oleh Dr. Van Boer. Sementara yang menjadi pihak penengah adalah Lord Killearn, wakil Kerajaan Inggris. Perundingan tersebut menghasilkan naskah perjanjian Linggajati yang terdiri dari 17 pasal, yang selanjutnya ditanda-tangani di Jakarta pada tanggal 25 Maret 1945.

Peristiwa perundingan yang berlangsung tiga hari itu ternyata merupakan satu mata rantai sejarah yang mampu mengangkat nama sebuah bangunan mungil di desa terpencil itu menjadi terkenal di seluruh Nusantara, bahkan di pelbagai penjuru dunia. Bangunan itu kemudian dipugar oleh pemerintah tahun 1976 dan dijadikan sebagai bangunan cagar budaya dan sekaligus objek wisata sejarah.

Data Bangunan
Gedung Perundingan Linggajati saat ini berdiri di atas areal seluas sekitar 24.500 meter persegi, dengan luas bangunan sekitar 1.800 meter persegi. Bangunan tersebut terdiri atas: ruang sidang, ruang sekretaris, kamar tidur Lord Killearn, ruang pertemuan Presiden Soekarno dan Lord Killearn, kamar tidur delegasi Belanda, kamar tidur delegasi Indonesia, ruang makan, kamar mandi/WC, ruang setrika, gudang, bangunan paviliun, dan garasi.

Sebagai catatan, ruangan dan segala perabotan yang ada di dalam gedung pada tahun 1976 (saat dipugar oleh pemerintah), dibuat sedemikian rupa agar data dan suasananya sedapat mungkin sama pada seperti tahun 1946 (sewaktu perundingan dilaksanakan). Selain itu, di dalam gedung juga dilengkapi dengan gambar/foto situasi saat perundingan berlangsung dan bahan-bahan informasi lain bagi pengunjung.

Gedung Linggajati mempunyai sejarah yang panjang. Sudah banyak peristiwa yang ia saksikan di tempat itu. Sebab, dari tahun 1918 gedung ini telah berkali-kali beralih fungsi. Pada tahun 1918 gedung ini hanya berupa sebuah gubuk milik Ibu Jasitem yang kemudian diperisteri oleh Tuan dari Tersana, seorang Belanda. Tahun 1921 dirombak dan dibangun setengah tembok dan dijual kepada van Oos Dome (van Oostdom?). Tahun 1930 diperbaiki menjadi rumah tinggal keluarganya. Tahun 1935 dikontrak oleh van Hetker (van Heeker?) yang merombaknya lagi menjadi Hotel Rustoord (Rusttour?). Tahun 1942 direbut oleh Jepang dan diubah menjadi Hokai Ryokai (Hokai Ryokan?). Tahun 1945 direbut oleh pejuang kita untuk markas BKR dan diubah namanya menjadi Hotel Merdeka. Tahun 1946 di Hotel Merdeka berlangsung Perundingan Linggarjati. Tahun 1948 untuk markas tentara Kolonial Belanda. Tahun 1949 dikosongkan. Tahun 1950-1975 untuk Sekolah Dasar Linggarjati I. Kemudian, tahun 1977-1979 bangunan yang sudah bobrok itu dipugar oleh pemerintah kemudian dijadikan sebagai muesum memorial. (gufron)


Foto: Ali Gufron
Sumber:
Tim Koordinasi Siaran Dierktorat Jenderal Kebudayaan. 1988. Aneka Ragam Khasanah Budaya Nusantara I. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Pakaian Tradisional Perempuan Orang Kebanyakan Di Lingkungan Rumah dan Bepergian (Kepulauan Riau)

Pakaian sehari-hari yang dikenakan oleh perempuan Melayu adalah tulang belut, kebaya pendek, dan baju kurung pendek. Baju kebaya pendek adalah baju kebaya biasa yang panjangnya hanya sebatas pinggul. Baju ini pada bagian depan terbelah total (sepanjang baju tersebut). Oleh karena itu, pada saat baju ini digunakan harus ditutup dengan kancing. Pada masa lalu dengan peniti. Sedangkan, baju kurung pendek adalah baju kurung yang panjang lengannya hanya tiga perempat. Baju ini sering disebut sebagai baju kurung kedah. Kedua model baju itu dalam kehidupan sehari-hari, terutama di lingkungan rumah, sering digunakan oleh perempuan tua. Baju-baju tersebut disertai bawahannya yang berupa kain sarung batik atau setelannya. Seperti halnya baju kurung yang dikenakan oleh kaum laki-lakinya, maka yang dikenakan oleh kaum perempuannya juga berkeke dan berpesak. Di masa lalu, pakaian yang akan dikenakan oleh dirinya maupun kaum laki-lakinya, seperti sampin, songket, dan palekat mereka buat sendiri dengan cara menenunnya. Baju pun mereka jahit sendiri dengan tangan karena hanya orang-orang tertentu yang memiliki mesin jahit. Menjahit dengan tangan tentunya memerlukan waktu yang lama, apalagi dikerjakan hanya pada waktu-waktu senggang. Belum lagi ada keperluan yang lain, sehingga untuk membuat satu baju dapat memerlukan waktu berhari-hari. Hal itu masih ditambah dengan rumitnya model. Misalnya baju kurung yang disebut sebagai tulang belut. Baju ini lehernya harus ditikam-tikam (disulam) sekelilingnya sehingga menyerupai tulang belut. Dewasa ini model tersebut sudah jarang dipakai orang lagi. Seandainya ada yang memakainya, maka itu adalah buatan lama. Sebagai gantinya adalah bis (semacam pita) atau biku-biku yang dilekatkan pada leher dan batas jahitan pesak dari atas hingga ke bawah. Di zaman sekarang perempuan tidak perlu repot-repot lagi, karena berbagai macam pakaian yang diinginkan dapat diperoleh dengan cara pembelian atau menyerahkan kepada tukang jahit.

Sedangkan songket mereka pilih umumnya adalah yang beragam hias bunga tabur, yaitu suatu kain yang hampir seluruh permukaannya dihiasi bunga pecah delapan dan atau bunga pecah empat. Selain itu, ragam hias wajik juga menjadi pilihan karena bentuknya yang simetris, sehingga permukaan kain dapat penuh dengan ragam hias tersebut.

Baju kurung Melayu yang dipakai kaum perempuan biasanya berukuran besar. Hal ini sangat berkaitan dengan ajaran agama Islam yang melarang perempuan (wanita) berbaju ketat atau memperlihatkan lekuk tubuhnya. Selain itu, lengannya pun dibuat panjang dan besar, sehingga yang tampak hanya jari-jarinya. Besarnya lengan baju juga ada kaitannya dengan kemudahan dalam hal mengambil air wudlu atau akan melakukan pekerjaan sehari-hari, karena lengan yang besar dapat disingsingkan dengan mudah. Baju ini hanya terbelah di bagian atas (sampai ke bagian dada). Kemudian, agar dada tersebut dapat tertutup maka diperlukan kancing. Warna yang dipilih pada umumnya biru, hijau, coklat, dan putih. Sedangkan, bahan yang dipergunakan adalah katun atau belacu yang berbunga-bunga. Dan, kancingnya hanya cukup sebuah. Bagian bawahnya berupa sarung Samarinda, Bugis, atau kain batik Jawa. Selain itu, ada juga yang mengenakan satu set baju kurung, yaitu baju yang bagian atas dan bawahnya terbuat dari bahan yang sama. Di lingkungan rumah para perempuan biasanya hanya menggunakan perhiasan yang sederhana, seperti: anting-anting atau subang yang tidak pernah ditanggalkan, kalung, dan cincin seperlunya. Sandal dan atau capal tidak pernah dikenakan dalam rumah. Ketika di rumah biasanya kaum perempuan tidak mengenakan pakaian dengan warna yang menyolok, tetapi warna teduh. Sementara itu, para orang tuanya seringkali memilih warna putih, krem atau biru polos yang bagian lehernya dihiasi dengan bordir. Sementara itu, rambutnya yang pada umumnya panjang disisir, kemudian disanggul dengan sisir itu sendiri atau pengikat rambut, sehingga tetap rapi. Sanggul yang dibentuk dengan cara seperti itu disebut sebagai sanggul sisir atau sanggul sikat.

Ketika bepergian baju yang dikenakan biasanya adalah baju kurung dengan model leher tulang belut beserta padanannya (stelannya) yang juga terbuat dari bahan yang sama. Dimasa lalu, ketika seseorang akan bepergian jauh, maka selalu mengenakan kain songket atau palekat. Kain tersebut hanya dipegang atau dikepit oleh tangan kiri atau kanan yang berfungsi sebagai pelindung dari teriknya sinar matahari. Jadi, jika sinar matahari yang terik tidak dapat dihindarinya, maka songket atau pelekat tersebut ditarik ke atas sebagai penutup kepala. Sedangkan, alas kaki yang digunakan adalah capal atau selipa. Asesoris yang dikenakan adalah subang atau anting-anting, gelang, kalung yang terbuat dari emas atau perak, dan ada juga yang menggunakan suasa (logam yang dilapisi atau dicelup dengan warna emas). Namun, jika menjenguk orang sakit atau bertamu ke tetangga atau ke rumah kerabat yang letaknya agak jauh, maka pakaian yang kenakan adalah pakaian yang rapi, bersih, dan sederhana. Untuk pergi melayat kepada orang meninggal, tampaknya tidak ada pakaian dan warna yang khusus. Jadi, boleh mengenakan apa saja sejauh itu masih dalam koridor pantas. Meskipun demikian, biasanya tidak lepas dari kerudung dengan warna apa saja, dengan catatan warna yang tidak mencolok. Perkembangan terakhir, tampaknya ada kesepakatan bahwa pakaian yang digunakan untuk melawat berwarna hitam. Demikian juga, kerundung yang dikenakannya.

Pakaian yang dipilih oleh kaum perempuan dalam bepergian biasanya adalah yang bermotif bunga, kecuali yang sudah menjadi hajjah. Mereka yang telah menunaikan rukum Islam kelima ini lebih memilih baju gunting jubah yang polos. Baju tersebut diberi sulam atau dibordir dari sekeliling leher sampai sepanjang baju dan malahan sampai di sekeliling bawah.

“Kebersihan bagian dari iman”, demikian kata pepatah. Oleh karena itu, mandi bagi siapa pun merupakan hal yang harus dilakukan baik oleh bayi, anak-anak, orang dewasa, maupun orang tua. Berkenaan dengan mandi ini, terutama di masa lalu, kaum perempuan menggunakan suatu tutup badan yang disebut sebagai bahasan. Tutup ini biasanya berupa sarung atau kain batik yang sudah tidak dipakai lagi namun masih bagus. Caranya, ketika mandi bahasan tersebut dililitkan sampai sebatas dada. Dan, ini dilakukan karena tidak setiap keluarga mempunyai sumur dan kamar mandi tersendiri.

Pakaian yang digunakan oleh anak-anak yang masih kecil (bayi) adalah: bedung, popok, gurita, dan baju bayi. Pada masa lalu kain bedung tidak dibeli, tetapi dibuat sendiri dari kain sarung atau kain batik kedah yang masih bagus tapi tidak dipakai lagi. Kain tersebut dibagi dua. Baju bersulam ini belahannya ada di belakang dan menggunakan tali. Namun, ada pula yang menggunakan kancing. Topi bayi biasanya rajutan dari benang wool. Kain yang digunakan untuk baju adalah kain flanel, sedangkan popok dan gurita menggunakan kain belacu. Biasanya bayi dibedung sampai umur tiga bulan. Setelah bayi agak besar baru dipakaikan barut gantung dan celana bayi. Barut ini sebagai ganti gurita. Ada kalanya hanya memakai barut gantung dan celana.

Sumber:
Galba, Sindu, Dwi subowati dkk. 2002. Pakaian Tradisional Masyarakat Melayu Kepulauan Riau. Tanjungpinang: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Tanjungpinang.
www.heritage.gov.my
www.tamanmini.com

Danang Sutawijaya

(Cerita Rakyat Daerah Istimewa Yogyakarta)

Pada saat Sultan Hadiwijaya bertahta di Kerajaan Pajang, beliau merasa prihatin atas penderitaan Nyai Kalinyamat yang bertapa di Trunawaja lantaran dendamnya terhadap Arya Penangsang. Oleh Sultan Hadiwijaya, Nyai Kalinyamat lalu dibujuk agar mau pulang ke Pajang. Namun, Nyai Kalinyamat menolaknya. Ia baru bersedia kembali ke Pajang asalkan Arya Penangsang dibunuh. Sultan Hadiwijaya menyanggupi permintaan tersebut, tetapi Nyai Kalinyamat diminta pulang dulu ke Pajang.

Ketika telah berada di Pajang, segeralah Kanjeng Sultan (Sultan Hadiwijaya) memikirkan cara yang akan ditempuh untuk mengalahkan dan membunuh Arya Penangsang. Pekerjaan itu tidak mudah, sebab Arya Penangsang terkenal sangat sakti dan mempunyai keris pusaka yang sangat ampuh bernama Kyai Setan Kober. Tiap hari Kanjeng Sultan selalu memikirkannya, tetapi belum juga menemukan cara yang dianggap baik. Akhirnya, setelah sekian lama tidak juga menemukan caranya, lalu dipanggillah kedua patihnya, Ki Ageng Pemanahan dan Ki Penjawi, untuk diajak berunding.

Setelah keduanya menghadap, Kanjeng Sultan mulai menceritakan persoalannya. Singkat cerita, di hadapan Ki Ageng Pemanahan dan Ki Penjawi, Kanjeng Sultan menjanjikan ganjaran berupa tanah di Pati dan tanah yang terletak di hutan Mentaok apabila mereka berhasil membunuh Arya Penangsang atau Arya Jipang.

Setelah itu, Ki Ageng Pemanahan dan Ki Penjawi kemudian berunding. Dalam perundingan itu, Ki Ageng Pemahanan menyampaikan pendapatnya kepada Ki Penjawi, bahwa tidak ada orang lain yang mampu membunuh Arya Penangsang selain Danang Sutawijaya. Ki Penjawi pun sependapat dengan Ki Ageng Pemanahan. Danang Sutawijaya sebenarnya adalah anak kandung Ki Ageng Pemanahan, tetapi sejak kecil telah dijadikan sebagai anak angkat oleh kanjeng Sultan Hadiwijaya. Ia adalah seorang pemuda yang cakap, serta menguasai olah kanuragan.

Kemudian, Ki Ageng Pemanahan memanggil Danang Sutawijaya untuk memberinya tugas membunuh Arya Penangsang. Danang Sutawijaya pun menyetujuinya. Dalam percakapan tersebut Ki Ageng Pemanahan memberikan nasihat-nasihat agar Danang Sutawijaya dapat memenangkan pertarungan melawan Arya Penangsang. Nasihat-nasihat tersebut adalah: (1) janganlah sekali-kali mendahului lawan mencebur Sungai Bengawan, apalagi menyeberanginya. Apabila ia nekat mendahului mencebur Sungai Bengawan, maka ia pasti kalah. Konon, apabila terjadi peperangan di Sungai Bengawan, pihak yang lebih dahulu turun ke sungai akan kalah; (2) jangan mudah terpancing oleh lawan. Bagaimanapun tingkah laku Arya Penangsang, Danang Sutawijaya harus tetap berada di pinggir Kali Bengawan; dan (3) harus memakai kuda betina.

Setelah itu, Danang Sutawijaya diberi senjata pusaka berupa sebuah tombak yang bernama Kyai Plered. Ki Ageng Pemanahan, Ki Penjawa dan Danang Sutawijaya kemudian berunding untuk mencari cara agar Arya Penangsang dapat ditaklukkan. Dalam perundingan itu dicapailah kesepakatan bahwa Ki Ageng Pemanahan dan Ki Penjawi akan pergi ke Jipang untuk memancing Arya Penangsang agar bersedia bertarung di Sungai Bengawan. Sementara Danang Sutawijaya disuruh untuk bersiap-siap menghadapi Arya Penangsang di tepi Sungai Bengawan.

Keesokan harinya, Ki Ageng Pemanahan dan Ki Penjawi berangkat ke Jipang untuk memancing kemarahan Arya Penangsang. Sampai di sana mereka bertemu dengan seorang pekatik (pemelihata kuda) yang sedang mencari rumput. Kebetulan pekatik yang ditemui itu adalah orang yang mengurusi kuda milik Arya Penangsang atau Arya Jipang. Melihat pekatik itu Ki Ageng Pemanahan memanggilnya dan langsung mengikatkan sepucuk surat di telinga si pekatik. Sesudah itu si pekatik disuruh pulang untuk menyerahkan surat tersebut kepada Arya Penangsang. Adapun isi surat itu adalah tantangan kepada Arya Penangsang untuk bertarung di Sungai Bengawan.

Ketika si pekatik tersebut telah sampai di tempat tinggal Arya Penangsang, kebetulan Arya Penangsang sedang mengadakan pasewakan bujana andrawina. Surat dari Ki Ageng Pemanahan dan Ki Penjawi lalu disodorkan oleh si pekatik kepada Arya Penangsang. Melihat cara mengirimkan surat saja Arya Penangsang sudah marah. Apalagi ketika ia membaca isinya. Dengan tidak mengambil pertimbangan lagi ia segera mengambil keris saktinya yang bernama Kyai Setan Kober dan langsung mengendarai kuda jantan andalannya yang bernama Gagang Rimang menuju ke Sungai Bengawan.

Kuda yang bernama Gagak Rimang ini adalah kuda andalan Arya Penangsang yang biasa dipakai untuk mengalahkan musuh-musuhnya dalam peperangan. Gagak Rimang perawakannya gagah dan tegap, badannya tinggi dan besar tetapi lincah sekali. Warna bulunya yang hitam mengkilat, menjadikannya tampak berwibawa.

Saat Arya Penangsang sampai di pinggir kali Bengawan, ternyata Danang Sutawijaya telah menunggunya di seberang sungai. Sesuai dengan pesan ayahnya, Danang Sutawijaya datang dengan berkendaraan kuda betina serta membawa tombak Kyai Plered.

Melihat Danang Sutawijaya telah berada di seberang sungai, Arya Penangsang lalu mulai berteriak-teriak menantangnya. Untunglah Danang Sutawijaya tetap tenang. Karena sudah beberapa lama berteriak-teriak tetapi tidak mendapat tanggapan, akhirnya ia menjadi marah. Ia tidak dapat lagi mengendalikan emosinya, sehingga dengan tidak berpikir panjang Arya Penangsang terus mencebur ke sungai.

Danang Sutawijaya sangat bersenang hati melihat Arya Penangsang telah mendahului mencebur sungai. Ia lalu turun menyusul ke sungai. Di tengah Sungai Bengawan itu terjadilah perang tanding antara Arya Penangsang di satu pihak melawan Danang Sutawijaya di lain pihak. Arya Penangsang mengendarai Gagak Rimang, seekor kuda jantan, sedang Danang Sutawijaya mengendarai kuda betina. Akibatnya kuda jantan milik Arya Penangsang menjadi birahi. Selanjutnya, Gagak Rimang hanya mengekor si kuda betina, sehingga gerak-geriknya sulit dikendalikan. Dan, Arya Penangsang pun menjadi kewalahan.

Arya Penangsang menjadi agak lengah karena perhatiannya sebagian dicurahkan kepada Gagak Rimang yang sedang berontak itu. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Danang Sutawijaya. Dengan tombak Kyai Plered ditusuklah perut Arya Penangsang. Akibatnya perut Arya Penangsang menjadi robek dan usunya terburai.

Walaupun ususnya telah menjulur keluar dari perut, tetapi Arya Penangsang masih tetap hidup. Bahkan kelihatan lebih gigih menyerang lawannya. Dan, supaya tidak mengganggu gerakannya, maka usus yang menjulur itu lalu disampirkan pada pendok kerisnya. Peperangan pun terus dilanjutkan. Kali ini Arya Penangsang malah kelihatan semakin ganas, sedang Danang Sutawijaya posisinya mulai terdesak.

Melihat keadaan Danang Sutawijaya yang kurang menguntungkan itu, maka Ki Ageng Pemanahan yang dari awal telah bersembunyi di atas bukit, segera menggunakan siasatnya. Ia pura-pura memihak Arya Penangsang. Dengan lantang ia meneriakkan kata-kata, “Bunuh saja Danang Sutawijaya!”

Siasat itu ternyata berhasil. Arya Penangsang menjadi lebih bersemangat lagi menyerang. Dengan membabi buta dan tanpa perhitungan ia terus maju. Namun, karena terbawa emosi maka ia kurang berhati-hati, sehingga kerisnya malah mengenai dan memutuskan ususnya sendiri. Arya Penangsang tewas seketika.

Setelah Arya Penangsang tewas, maka Ki Ageng Pemanahan dan Ki Penjawi kemudian menghadap Kanjeng Sultan Pajang, melapor bahwa Danang Sutawijaya telah berhasil membunuh Arya Penangsang. Mendengar berita ini, Sultan Pajang sangat gembira. Singkat cerita, setelah kedua patih itu berhasil melaksanakan tugasnya, mereka dihadiahi tanah Pati dan Mentoak, seperti apa yang telah dijanjikan sebelumnya.

Ki Ageng Pemanahan dan Ki Penjawi lalu berunding. Dalam perundingan itu diperoleh kata sepakat bahwa Ki Penjawi mendapat tanah di Pati, sedang Ki Ageng Pemanahan mendapat tanah Mentoak. Sesudah kesepakatan dicapai, keduanya lalu menuju ke tempat bagiannya masing-masing.

Sewaktu akan berangkat ke Mentoak, Ki Ageng Pemanahan mengajak Danang Sutawijaya untuk ikut serta pindah ke sana. Demikianlah, tanah Mentoak yang semula berwujud hutan belantara yang mengerikan dan membahayakan, akhirnya berubah menjadi pusat kerajaan besar yang bernama Kerajaan Mataram.

Sumber:
Diadaptasi bebas dari Suwondo, Bambang. 1981. Cerita Rakyat Daerah Istimewa Yogyakarta. Yogyakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Onde-onde Ketawa Moka Kacang

Bahan
50 ml air
5 tetes moka pasta
100 gram gula pasir
¼ sendok teh garam
1 butir telur
20 ml minyak goreng
75 gram kacang tanah sangrai, didinginkan, dihaluskan
130 gram tepung terigu protein sedang
½ sendok teh baking powder
¼ sendok teh soda kue
100 gram wijen putih untuk pelapis
minyak untuk menggoreng

Cara membuat
Rebus air, gula pasir, dan moka pasta sampai larut. Dinginkan

Kocok lepas telur, garam, dan minyak goreng asal rata. Tambahkan sirup gula. Kocok rata.

Tuang ke campuran kacang tanah, tepung terigu, baking powder, dan soda kue. Aduk rata. Uleni sampai bergumpal.

Bentuk bola-bola. Celup ke air. Gulingkan di wijen.

Goreng dalam minyak yang sudah dipanaskan di atas api sedang sambil diaduk sampai merekah.

Untuk 70 buah

Sumber: Tabloid Saji, Edisi 108/TH.V. 3-16 Oktober 2007

Tempiq-Empiq

(Cerita Rakyat Nusa Tenggara Barat)

Pada zaman dahulu pada sebuah dusun di Kecamatan Pujut, tinggal sepasang suami-isteri dengan dua orang anak. Anak yang terbesar, seorang perempuan bernama Tempiq-Empiq, sedang adiknya masih kecil. Mata pencaharian keluarga ini hanya mencari kayu bakar di hutan yang letaknya tidak jauh dari pondok mereka. Setiap hari Amaq (ayah) Tempiq-Empiq pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar, dan setelah kembali lalu menukarnya dengan kebutuhan pokok lainnya.

Setiap hari ketika Amaq Tempiq-Empiq akan pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar, ia berpesan pada isterinya, “Inaq (ibu) Tempiq-Empiq, kalau nasi sudah masak, tinggalkan aku keraknya. Akan kumakan setelah kembali dari hutan.”

Inaq Tempiq-Empiq pernah memberitahu suaminya bahwa anak-anak mereka, terutama si Tempiq-Empiq, juga senang sekali memakan kerak. Karena itu ia menyarankan agar kerak nasi itu sebaiknya diberikan kepada anak-anak. Namun saran itu tak pernah diperhatikan oleh suaminya. Ia tetap menuntut supaya kerak itu harus disediakan untuknya sendiri.

Suatu hari ketika Amaq Tempiq-Empiq sedang asyik memakan kerak, Tempiq-Empiq datang mendekatinya sambil berkata, “Ayah, sebaiknya kerak ini dibagi saja. Untuk saya sebagian dan untuk ayah sebagian. Sejak beberapa hari yang lalu saya ingin sekali memakan kerak. Bagaimana ayah?”

Amaq Tempiq-Empiq menjawab dengan enaknya, “Tempiq-Empiq anakku, sebaiknya kau minta kepada ibumu, pasti bagianmu ditinggalkan di dapur.”

Mendengar perkataan ayahnya itu, Tempiq-Empiq langsung berlari menuju dapur. Di dapur, Tempiq-Empiq lalu menyapa ibunya yang sedang sibuk mempersiapkan makanan untuk mereka sekeluarga, “Ibu, aku sudah minta kepada ayah, agar kerak yang sedang dimakannya dibagi dua. Tetapi ayah mengatakan bagianku telah ibu sediakan di dapur. Betulkah demikian?”

Ibunya lalu menjawab sambil terus bekerja, “Tempiq-Empiq, kerak itu hanya sedikit. Mana bisa dibagi berdua. Biarlah ayahmu saja yang memakan kerak itu. Kamu boleh mengambil makanan yang lain. Tetapi kalau ingin benar, mintalah pada ayahmu di luar.”

Kembali Tempiq-Empiq berlari menuju ayahnya dan berkata, “Ayah, beri aku kerak itu. Ibu tidak menyediakan untuk aku.”

“Tempiq-Empiq, sudah kukatakan, tentang kerak itu mintalah pada ibumu,” jawab ayahnya

Kembali Tempiq-Empiq masuk ke dapur dan meminta kepada ibunya. Tetapi karena memang tidak ada kerak nasi di dapur, Tempiq-Empiq disuruh kembali lagi kepada ayahnya. Demikianlah, Tempiq-Empiq terus bolak-balik menemui ibu dan ayahnya, sehingga Amaq Tempiq-Empiq menjadi berang dan memasuki dapur sambil menghardik isterinya.

“Hai perempuan celaka, hanya soal kerak nasi saja kau tak dapat mengatasinya. Bosan aku mendengar Tempiq-Empiq terus merengek kepadaku. Di mana kepalamu, hai otak udang.”

Karena tidak mendapat jawaban, Amaq Tempiq-Empiq melanjutkan dengan penuh nafsu. “Kalau terus menerus begini, tidak berarti kau tinggal di rumah ini. Sebaiknya besok pagi kaulah yang pergi ke hutan mencari kayu bakar dan aku tinggal di rumah mengurus anak-anak.”

Sambil berjalan mondar-mandir di dapur, Amaq Tempiq-Empiq melanjutkan amarahnya. “Hai perempuan dungu, pasanglah telingamu dan dengar kata-kataku. Besok pagi pergilah ke hutan. Aku tinggal di rumah. Kamu sanggup? Cepat jawab!”

Inaq Tempiq-Empiq terdiam. Ia tidak mau meladeni suaminya yang sedang dikuasai setan. Ia terdiam sambil melanjutkan pekerjaan yang belum selesai. Melihat gelagat isterinya yang sama sekali tidak memperdulikan dirinya itu, amarah Amaq Tempiq-Empiq semakin menjadi-jadi. “Cepat jawab. Kamu sanggup atau tidak? Kalau tidak sekarang juga terima bagianmu ini.”

Selesai berkata demikian, Amaq Tempiq-Empiq langsung mengambil sepotong kayu yang kebetulan berada di dekatnya. Kayu itu kemudian dipukulkan ke tubuh isterinya. Setelah puas berbuat demikian, Amaq Tempiq-Empiq masuk ke dalam rumah. Di sana ia mengunci dirinya dan tak mau memperdulikan semua yang terjadi di sekitarnya. Sedang Inaq Tempiq-Empiq masih tertinggal di dapur sambil menahan sakit dan menahan gejolak hati. Dalam hati ia berkata:

“Oh, hanya karena kerak nasi. Ya hanya kerak nasi menyebabkan badanku demikian sengsara. Apa lagi perkara yang lebih besar. Aku sudah tak berarti, apalagi berharga dalam keluarga ini. Aku akan pergi dari sini. Selamat tinggal anak-anak, ibu akan pergi jauh, dan mungkin tak akan kembali lagi.”

Setelah itu dengan dibarengi dengan denyutan hati dan duka nestapa, serta iringan pikiran yang kusut, Inaq Tempiq-Empiq segera meninggalkan rumahnya. Ia berjalan secepat-cepatnya, ia ingin segera pergi dari rumahnya. Ia berjalan tanpa tujuan yang pasti. Ia hanya mengikuti arah yang ditunjukkan oleh mata kakinya saja. Tujuannya hanya satu, mencari satu tempat yang dapat membuat hatinya tenteram kembali. Setelah berjalan beberapa lama, jarak yang ditempuh sudah jauh sekali.

Saat Tempiq-Empiq mengetahui bahwa ibunya tak berada lagi di rumah, dengan cepat disambarnya adiknya yang masih kecil itu, lalu digendongnya dan berlari secepat-cepatnya menyusul ke arah ibunya berjalan. Tempiq-Empiq berlari terus sambil berteriak memanggil ibunya.

Manakala jarak mereka sudah makin dekat, berkatalah Tempiq-Empiq, “Ibu, kembalilah, lihatlah adikku terus menangis karena haus dan lapar. Kembalilah ibu.”

Mendengar teriakan anaknya yang demikian itu, Inaq Tempiq-Empiq lalu menjawab, “Oh, anakku, tidak usah kamu hiraukan aku lagi. Relakan ibu pergi mencari ketenangan. Segala kebutuhanmu, mintalah pada ayahmu. Pulanglah hai anakku.”

Mendengar jawaban ibunya itu, Tempiq-Empiq tidak menghiraukannya dan terus saja menyusul ibunya. Ia berjalan dan berlari tanpa mengenal lelah. Adiknya terus digendongnya, kendati ia menangis dengan tidak henti-hentinya.

“Ibu, tunggu ibu, ke mana ibu akan pergi? Dengarlah teriakan anakmu ini ibu. Tidakkah ibu mendengar tangis adikku?” teriak Tempiq-Empiq.

“Anakku, ibu mendengar semua kata-katamu. Ibu tahu dan merasakan apa yang kamu rasakan. Namun apa pun yang akan terjadi, ibu tak akan kembali,” teriak ibunya.

“Tidak ibu. Ibu harus kembali bersama kami sekarang juga. Dengarlah bu, tangis adikku, dia sudah lapar dan haus,” teriak Tempiq-Empiq dari kejauhan.

Walaupun Tempiq-Empiq memanggil dengan berteriak sekeras-kerasnya, ibunya tetap berjalan dan jarak yang memisahkan mereka pun menjadi jauh lagi. Walau demikian, Tempiq-Empiq tidak berputus asa. Ia akan tetap menyusul ibunya. Ia sangat kasihan kepada adiknya, yang senantiasa menangis karena kehausan dan kelaparan.

Setelah beberapa hari berjalan, akhirnya Inaq Tempiq-Empiq tiba di sebuah pantai. Pantai itu merupakan sebuah tanjung yang hanya terdiri dari batu-batu besar dan kecil. Dengan susunan yang demikian, tanjung itu kelihatan indah sekali. Pada suatu bagian dari susunan batu itu ada sebuah tempat yang menyerupai sebuah goa. Susunan batu seperti gua itu mempunyai bagian-bagian yang terdiri dari lubang-lubang yang seolah-olah merupakan sebuah serambi dan di bagian lain ada kamar tidur. Karena tidak tahu kemana lagi harus melanjutkan perjalanan, akhirnya Inaq Tempiq-Empiq beristirahat di dalam gua itu.

Keesokan harinya, Tempiq-Empiq yang selama ini tetap menggendong adiknya, akhirnya sampai juga di tempat itu. Di depan pintu gua itu mereka berjumpa dan berkumpul lagi seperti sedia kala. Anak yang masih kecil itu lalu diambil oleh ibunya dan langsung diberi minum air susunya.

Dalam keadaan menyusui anaknya itu, Inaq Temiq-Empiq berkata, “Tempiq-Empiq anakku, sebenarnya sejak ibu meninggalkan rumah, segala keperluan hidupmu sudah menjadi tanggung jawab ayahmu. Ayahmu tidak membutuhkan kehadiran ibu di rumah itu lagi. Itulah sebabnya dengan sangat terpaksa ibu meninggalkan kamu berdua, walau cinta kasihku kepadamu tidak dapat diukur dengan apa pun juga. Namun apa pun yang terjadi, terimalah dengan sepenuh hati, dan tawakal kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.”

Setelah berkata demikian Inaq Tempiq-Empiq yang sedang menyusui anaknya itu menyuruh Tempiq-Empiq mengambil tempat sirihnya di dalam gua. “Tempiq-Empiq, coba kamu ambilkan tempat sirih ibu di dalam.”

“Ah, aku tidak berani masuk gua batu itu, ibu. Aku takut. Gelap sekali di dalam,” jawab Tempiq-Empiq.

“Masuk saja, tidak ada apa-apa. Jangan takut,” kata ibunya.

“Ibu sajalah yang mengambilnya. Aku tetap tidak berani,” jawab Tempiq-Empiq.

Kemudian ibunya memberikan adiknya yang sudah puas menyusu kepada Tempiq-Empiq. Di tangan bayi itu ada sebutir telur yang sengaja dibawa oleh ibunya dari rumah. Telur itulah yang selalu dipegang oleh adiknya dan tidak pernah dilepaskan. Tempiq-Empiq menerima adiknya dari tangan ibunya, lalu dipangkunya dengan mesra sekali. Setelah itu ibunya bangkit, dan kemudian masuk ke dalam gua. Setelah Inaq Tempiq-Empiq berada di dalam, pintu gua yang terdiri dari batu itu tiba-tiba merapat. Inaq Tempiq-Empiq terperangkap di dalam gua itu.

Melihat kejadian itu, Tempiq-Empiq yang masih berada di serambi gua merangkul adiknya erat-erat dan berteriak sekeras-kerasnya, “Ibu, ke mana lagi ibu akan pergi? Bagaimana ibu akan keluar dari dalam gua batu itu? Ibu, ibu, ibu!”

Kemudian Tempiq-Empiq mendengar suatu suara, “Anakku, tidak ada gunanya kau mencari ibu lagi. Ibu telah sampai pada tempat yang ibu inginkan. Lebih baik pulanglah.”

Tidak berapa lama kemudian, Tempiq-Empiq mendengar suara lagi.

“Tempiq-Empiq anakku, bila besok atau lusa, mungkin bulan depan atau pada masa-masa selanjutnya kau dan seluruh anak cucuku berkeinginan untuk menjenguk aku di tempat ini, atau ada yang ingin memberi makan untukku, taruhlah makanan itu pada celah-celah batu ini. Aku akan sangat berterima kasih. Selain itu perhatikanlah anakku. Bila nanti aku mengeluarkan suatu suara dari tempat ini, maka itulah suatu pertanda akan datangnya musim hujan, yang membawa kemakmuran atau mungkin juga suatu tanda akan datangnya wabah penyakit bagi binatang-binatang ternak atau mungkin juga bagi manusia.”

Setelah mendengar wasiat ibunya itu akhirnya Tempiq-Empiq pun pulang ke rumah ayahnya. Perjalanan pulang itu bagi Tempiq-Empiq merupakan perjalanan yang penuh dengan tetesan air mata karena berpisah dengan ibunya melalui suatu peristiwa yang sangat menyedihkan. Setelah berjalan beberapa hari, telur yang selama ini selalu dalam genggaman adiknya, tiba-tiba menetas menjadi seekor ayam. Kehadiran anak ayam ini ternyata dapat menghibur adiknya yang selalu menangis. Dengan mengalami bermacam-macam kesulitan, akhirnya tiba juga Tempiq-Empiq bersama adiknya di rumah.

Setelah sampai di rumah, Tempiq-Empiq menjadi terkejut karena bapaknya telah kawin lagi dengan seorang janda yang bernama Inaq Teriung Riung. Janda itu telah mempunyai seorang anak.

Ketika melihat anak-anaknya pulang, ayahnya pun berkata, “Tempiq-Empiq, ke mana saja kau selama ini?”

“Aku pergi menyusul ibu,” jawab Tempiq-Empiq.

“Di mana ibumu sekarang?” tanya bapaknya.

“Ayah, kita tak mungkin lagi berjumpa dengan ibu. Ibu telah pergi meninggalkan kita semua untuk selama-lamanya,” jawab Tempiq-Empiq.

“Ayam siapakah yang kau bawa itu?” tanya ayahnya.

Lalu Tempiq-Empiq menceritakan asal-usul ayam jantan yang dibawanya.

“Coba kulihat. Bagus benar ayammu. Aku bermaksud untuk mengadu ayam ini besok pagi. Karena ayam serupa ini jarang kalah dan sulit mencari tandingannya. Lihatlah ciri-ciri ayam ini. Serawah, sekedar, sangkut, sandah samar1. Hebat bukan?”

Memang Amaq Tempiq-Empiq mempunyai kegemaran mengadu ayam. Tidak heran ketika melihat ayam yang dibawa anaknya itu, perhatiannya hanya tertuju pada si ayam. Sehingga hampir-hampir ia tak mendengar segala cerita anaknya.

Keesokan harinya Amaq Tempiq-Empiq ke gelanggang aduan ayam. Setiba di tempat itu ia segera mencari tandingan untuk ayamnya. Pada hari itu ayamnya menang dan tanpa cedera sedikit pun. Demikian juga berturut-turut beberapa hari kemudian. Betapa senang hati Amaq Tempiq-Empiq tak dapat diceritakan lagi, sehingga ia lupa memperhatikan kedua anaknya. Ia hanya asyik menghitung kemenangannya dalam perjudian. Kadang-kadang ia menanyakan apakah kedua anaknya sudah makan. Pertanyaan itu selalu dijawab dengan kata sudah oleh oleh isterinya. Dalam kenyataannya kedua anak itu selalu diabaikan. Makanan yang diterimanya tak pernah memadai. Kedua anak tersebut sangat menderita lahir batin. Itulah sebabnya sehari-harian Tempiq-Empiq dan adiknya selalu berada di luar rumah. Mereka sering bermain-main di bawah sebatang pohon ara, sambil menunggu barangkali ada buah yang jatuh.

Pada suatu hari ketika Amaq Tempiq-Empiq lewat di bawah pohon ara itu, ia mendengar nyanyian seorang anak, yang disambung dengan suara lain. Beberapa kali ia memperhatikan dengan teliti, tetapi nyanyian anak itu tetap saja berulang.

“Oh, betapa manisnya buah ara ini, sedang bagiku, nasi adalah barang yang pahit. Klek, Klek, Kuwo,” begitu bunyi nyanyiannya.

Didorong oleh keinginan yang besar untuk mengetahui siapa yang menyanyikannya Amaq Tempiq-Empiq memandang dengan cermat ke atas pohon itu. Saat ia mengamati, ia amat terkejut ketika melihat kedua anaknya berada di atas ranting pohon itu. Dan ia lebih terkejut lagi, ketika melihat dengan nyata bahwa kedua anaknya memiliki sepasang sayap. Kini jelaslah baginya, bahwa yang menyanyi tadi adalah kedua anak itu. Melihat kedua anak itu menjelma menjadi burung, Amaq Tempiq-Empiq menjadi kalap. Ia kini yakin, tidak ada orang lain yang harus bertanggung jawab atas kejadian ini, selain dari isterinya sendiri. Akibat kekejaman dan perlakuan ibu tirinya itulah maka kedua anaknya itu berubah menjadi burung.

Setelah tiba di rumah, ia mengamuk sejadi-jadinya, kemudian mengusir isterinya. Tetapi karena anak dari isteri keduanya tak ada yang merawat, maka beberapa hari kemudian Inaq Teriung Riung disuruh pulang kembali. Singkat cerita, mereka kemudian hidup rukun kembali.

Namun dalam hati Amaq Tempiq-Empiq masih merasa sedih karena kehilangan isteri pertama dan anak-anaknya. Suatu saat ia ingat akan pesan isterinya yang disampaikan oleh Tempiq-Empiq. Karena itu ia berkunjung ke Tanjung Salaen, tempat isterinya lenyap ditelan gua batu sambil membawa sesajian untuk isterinya.

Sumber:
Diadaptasi bebas dari Proyek Penerbitan dan Pencatatan Kebudayaan Daerah. 1981. Cerita Rakyat Nusa Tenggara Barat. Jakarta: Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

1 Serawah = putih. Sekedas = putih pada kaki. Sangkur = tidak berekor panjang. Sadah samar = tengkuk ayam yang berbulu agak berdiri seperti bulu tengkuk (kepala) burung kakak tua.

Sesat (Lampung)

Sesat (balai adat), yaitu tempat bermusyawarah adat para prowatin (majelis pemuka adat). Berbentuk bangunan rumah terbuka yang dindingnya hanya untuk batas sedangkan tepi bangunan tidak tertutup. Tiang dan lantai terbuat dari bahan kayu dan papan, sedangkan atap dari sirap atau genting. Sekarang bangunan ini sudah jarang sekali terdapat, dan upacara musyawarah adat cukup dilakukan di bangunan rumah pemuka adat. Maksud untuk menggabungkannya dengan bangunan balai desa nampaknya kurang sesuai, sehingga balai desa kurang dipergunakan sebagai balai adat.

Sumber:
Hadikusuma, Hilman, dkk. 1978. Adat Istiadat Derah Lampung. Jakarta: Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Kayu-ara (Lampung)

Kayu-ara berbentuk seperti pagoda sederhana menjulang ke atas. Dibuat dari tiang pohon pinang yang dilingkari oleh lingkaran-lingkaran bambu berhias, yang digantungi dengan berbagai macam benda seperti kain-kain, selendang, handuk dan lain-lain. Pada akhir upacara adat, pohon kayu ara ini dipanjat oleh kerabat yang membantu bekerja dalam upacara adat yang merebut buah kayu ara (kain-kain yang bergantungan) ini. Seringkali tiang pohon ara ini diberi pelicin agar tidak mudah dipanjat naik. Alat upacara ini berlaku di daerah pepadun.

Sumber:
Hadikusuma, Hilman, dkk. 1978. Adat Istiadat Derah Lampung. Jakarta: Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Adadap (Lampung)

Adadap atau kembang telur, yang dibuat dari batang pisang yang dipotong, diletakkan pada tempat peludah dan kuningan yang besar dan dihiasi. Telur-telur yang telah diwarnai dan diberi bendera-bendera kecil ditancapkan pada potongan batang pisang. Adadap ini digunakan pada upacara adat cukuran anak.

Sumber:
Hadikusuma, Hilman, dkk. 1978. Adat Istiadat Derah Lampung. Jakarta: Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Honda Tiger


Spesifikasi Teknis
Panjang X lebar X tinggi : 2.029 x 747 x 1.093 mm
Jarak sumbu roda : 1327 mm
Jarak terendah ke tanah : 155 mm
Berat kosong : 137 kg
Tipe rangka : Pola Berlian
Tipe suspensi depan : Teleskopik
Tipe suspensi belakang : Lengan ayun pegas ganda dengan tabung oli
Ukuran ban depan : 2,75 - 18 42L
Ukuran ban belakang : 100/90 - 18 M/C - 56P
Rem depan : Cakram hidrolik, dengan piston ganda
Rem belakang : Cakram hidrolik, dengan piston tunggal
Kapasitas tangki bahan bakar : 13,2 Liter
Tipe mesin : 4 Langkah OHC, pendinginan udara
Diameter x langkah : 63,5 x 62,2 mm
Volume langkah : 196,9 cc
Perbandingan kompresi : 9,0 : 1
Daya maksimum : 16,7 PS / 8.500 RPM
Torsi maksimum : 1,60 kg.m / 7.000 RPM
Kapasitas minyak pelumas mesin : 1,0 liter pada penggantian periodik
Kopling Otomatis : Manual, Multiplate Wet
Gigi transmsi : 6 kecepatan
Pola pengoperan gigi : 1-N-2-3-4-5-6
Starter : Elektrik Starter & Kick Starter
Aki : 12 V - 7 Ah
Busi : ND x 24 EP U9 / NGK DP8EA-9
Sistem pengapian : CDI-AC, Magneto

Sumber:
http://www.astra-honda.com

Honda Vario (2006)

Spesifikasi
Panjang X lebar X tinggi : 1.897 x 680 x 1.083 mm
Jarak sumbu roda : 1.273 mm
Jarak terendah ke tanah : 132.5 mm
Berat kosong : 99,9 kg (tipe spoke)
99,3 kg (tipe CW)
Tipe rangka : Tulang Punggung
Tipe suspensi depan : Teleskopik
Tipe suspensi belakang : Lengan ayun dengan sokbreker tunggal
Ukuran ban depan : 80/90 - 14 M/C 40P
Ukuran ban belakang : 90/90 - 14 M/C 46P
Rem depan : Tipe cakram hidrolik dengan piston ganda
Rem belakang : Tromol
Kapasitas tangki bahan bakar : 3,6 Liter
Tipe mesin : 4 Langkah, SOHC
Diameter x langkah : 50,0 mm x 55,0 mm
Volume langkah : 108 cc
Perbandingan kompresi : 10,7 : 1
Daya maksimum : 8,99 PS / 8000 rpm
Torsi maksimum : 0,86 kgf.m / 6.500 RPM
Kapasitas minyak pelumas mesin : 0,7 Liter pada penggantian periodik
Kopling Otomatis : Otomatis sentrifugal, tipe kering
Gigi transmsi : Otomatis, V-Matic
Pola pengoperan gigi : -
Starter : Pedal dan elektrik
Aki : 12 V - 3,5 Ah
Busi : ND U22FER9 / NGK CR7EH-9
Sistem pengapian : DC - CDI, baterai
Tinggi tempat duduk : 758 mm
Sistem pendingin : Silinder tunggalPendingin dengan cairan (liquid cooled)
Susunan silinder : Silinder tunggal
Karburator : VK22 x 1
Lampu depan : 12 V 25 W / 25 W x 2
Lampu senja : 12 V 3,4 W x 2

Sumber:
http://www.astra-honda.com

Popular Posts

-