Showing posts with label Perempuan. Show all posts
Showing posts with label Perempuan. Show all posts

Omaswati

Omaswati atau yang lebih dikenal luas dengan nama panggung Omas, lahir pada 3 Mei 1966 di Jakarta dalam keluarga Betawi yang kemudian menjadi rumah bagi beberapa pelawak besar Indonesia. Menurut Kompas, ia merupakan adik dari komedian terkenal Mandra dan kakak dari Mastur, yang juga berkecimpung di dunia lawak dan lenong Betawi, sehingga sejak kecil Omas sudah hidup di tengah lingkungan seni tradisional yang kuat dan penuh warna budaya Betawi. Lingkungan keluarga inilah yang menjadi fondasi penting dalam pembentukan jati dirinya sebagai seniman dan pelawak dengan gaya khas yang ceplas-ceplos, berlogat Betawi medok, dan penuh spontanitas, gaya yang kemudian membuatnya mudah dikenali serta dicintai publik Indonesia sepanjang masa tampilnya di panggung maupun layar kaca.

Sejak usia sangat muda, Omas sudah akrab dengan panggung kesenian tradisional Lenong Betawi, sebuah bentuk teater rakyat Betawi yang memadukan lawak, drama, dan lagu. Sebagaimana dilansir Kompas dan dikutip kembali oleh sejumlah media hiburan nasional, Omas mulai terlibat aktif dalam pementasan lenong sejak usia sekitar tujuh tahun, ikut bermain bersama kelompok lenong keluarganya. Dari panggung rakyat inilah bakat alaminya dalam berakting dan melawak mulai terlihat, membuatnya dikenal di lingkungan seni lokal jauh sebelum namanya muncul di dunia hiburan televisi nasional.

Masa-masa awal karier Omas di lenong menjadi fase penting yang membentuk identitas kreatifnya. Menurut sejumlah wawancara yang dimuat media nasional, panggung lenong mengajarkannya cara berinteraksi langsung dengan penonton, melakukan improvisasi dialog, serta memahami ritme komedi Betawi yang sangat bergantung pada kepekaan sosial dan situasi. Pengalaman ini tidak hanya mengasah keterampilan teknisnya sebagai pelawak, tetapi juga menanamkan kecintaan mendalam terhadap seni dan budaya Betawi yang kemudian menjadi nilai utama dalam perjalanan hidup dan karier profesionalnya.

Seiring berjalannya waktu, Omas mulai merambah dunia layar kaca dan sinetron Indonesia. Menurut catatan Kompas, kehadirannya sebagai pemeran pendukung dalam berbagai sinetron populer menjadikannya figur yang semakin dikenal luas oleh masyarakat. Ia tampil dalam judul-judul seperti Jodoh Apa Bodoh, Matahariku, Upik Abu dan Laura, Cinta Fitri, Yang Muda yang Bercinta, Akibat Pernikahan Dini, Anak-Anak Manusia, hingga Fatih di Kampung Jawara. Gaya humornya yang spontan, ekspresi yang kuat, serta karakter yang membumi membuatnya selalu mudah diingat oleh penonton televisi di berbagai daerah di Indonesia.

Selain sinetron, sebagaimana dilaporkan media hiburan nasional, Omas juga kerap tampil dalam berbagai acara lawak dan program hiburan, menunjukkan fleksibilitasnya sebagai komedian yang mampu berpindah dari panggung tradisional ke media televisi tanpa kehilangan identitasnya. Ia tetap tampil sebagai pelawak Betawi yang jujur, apa adanya, dan dekat dengan realitas kehidupan sehari-hari masyarakat, sehingga humornya terasa tulus dan mudah diterima oleh berbagai lapisan penonton lintas generasi.

Di luar dunia hiburan, Omas dikenal memiliki kepedulian besar terhadap pelestarian budaya Betawi. Menurut Kompas, bersama saudara-saudaranya ia mendirikan PANGSI, Pelestarian Sanggar Seni Budaya Betawi, yang berlokasi di Depok, Jawa Barat. Sanggar ini menjadi ruang pembelajaran dan regenerasi bagi generasi muda untuk mengenal lenong, musik Betawi, dan berbagai bentuk kesenian tradisional lainnya, sebagai upaya nyata menjaga warisan budaya Betawi agar tidak tergerus arus modernisasi hiburan yang semakin kuat.

Kehidupan pribadi Omas juga penuh dinamika. Sebagaimana dilansir Kompas dan KapanLagi, ia menikah dengan Madi Pribadi pada tahun 1995 dan dikaruniai tiga orang anak, yakni Muhammad Rizky Dioambiah, Dimas Aji Septian, dan Dinda Olivia. Namun pernikahan tersebut berakhir dengan perceraian pada tahun 2002. Sejak saat itu, Omas menjalani kehidupan sebagai orang tua tunggal, membesarkan anak-anaknya dengan kerja keras sambil tetap mempertahankan eksistensinya di dunia hiburan, sebuah peran ganda yang ia jalani dengan penuh tanggung jawab dan keteguhan.

Pada puncak popularitasnya di era 1990-an hingga awal 2000-an, Omas dikenal sebagai salah satu pelawak perempuan paling menonjol di Indonesia. Menurut berbagai pemberitaan media nasional, ia dicintai bukan hanya karena kemampuan melawaknya, tetapi juga karena kepribadiannya yang hangat, sederhana, dan membumi. Ia kerap menyampaikan humor yang berangkat dari cerita keseharian, membuat tawa yang dihadirkannya terasa dekat dan menyentuh pengalaman hidup banyak orang.

Di luar panggung, sebagaimana pernah diungkap dalam wawancara media, Omas juga dikenal gemar berolahraga, khususnya sepak bola, yang menjadi salah satu kegemarannya di sela kesibukan. Sisi ini memperlihatkan bahwa ia adalah pribadi yang penuh energi dan mencintai hal-hal sederhana yang memberi kebahagiaan, jauh dari citra gemerlap dunia hiburan semata.

Memasuki usia matang, Omas mulai mengurangi aktivitas keartisannya. Menurut Kompas, pada usia sekitar 52 tahun ia memilih tidak lagi mengambil tawaran sinetron kejar tayang atau striping karena alasan kesehatan dan kualitas hidup. Ia lebih memfokuskan diri pada keluarga serta kegiatan pelestarian budaya melalui sanggar seni, meskipun tetap sesekali tampil di program hiburan sesuai kondisi fisiknya.

Dalam beberapa tahun terakhir hidupnya, kondisi kesehatan Omas dilaporkan mulai menurun. Sebagaimana dilansir Kompas TV, ia diketahui menderita diabetes dan gangguan paru-paru yang cukup lama ia hadapi. Meski demikian, ia tetap dikenal sebagai sosok yang ceria dan jarang mengeluhkan kondisinya kepada publik. Pada malam 16 Juli 2020, Omaswati meninggal dunia di kediamannya di Cimanggis, Depok, pada usia 54 tahun, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, sahabat, rekan sesama seniman, dan masyarakat luas.

Kepergian Omas, menurut banyak media nasional, bukan hanya menutup perjalanan hidup seorang pelawak, tetapi juga meninggalkan warisan penting dalam dunia seni pertunjukan Indonesia. Tawa, kesederhanaan, dan dedikasinya terhadap budaya Betawi menjadikan namanya bagian dari sejarah komedi rakyat Indonesia, dikenang sebagai seniman yang setia pada akar budayanya dan mampu menghadirkan kebahagiaan melalui seni hingga akhir hayatnya.

Foto: https://www.instagram.com/p/CCtTgm9nGy8/
Sumber:
"Mengenang perjalanan karier Omas dari lenong Betawi hingga sinetron televisi", diakses dari https://www.kompas.com/tren/read/2020/07/16/221705665/mengenang-perjalanan-karier-omas-dari-lenong-betawi-hingga-sinetron-kejar?page=all, tanggal 19 Januari 2026.

"Omas meninggal dunia di usia 54 tahun, duka bagi dunia hiburan Indonesia", diakses dari https://www.kompas.tv/nasional/94698/omas-meninggal-di-usia-54-tahun-duka-mendalam-bagi-dunia-hiburan, tanggak 19 Januari 2026.

"Perjalanan karier Omas, pelawak Betawi yang setia pada seni tradisi", diakses dari https://kumparan.com/berita-hari-ini/perjalanan-karier-omas-pelawak-yang-cinta-kesenian-betawi-1tosUnpPob5, tanggal 19 Januari 2026.

"Fakta perjalanan hidup Omas, pelawak Betawi dari masa kecil hingga akhir hayat", diakses dari https://www.kapanlagi.com/showbiz/selebriti/7-fakta-meninggalnya-omaswati-sang-komedian-legend-betawi-di-usia-54-tahun-cf6936.html, tanggal 19 Januari 2026.

Siti Rohmah

Bila berbicara mengenai emansipasi di Indonesia, tentu yang terbayang adalah gambaran nama-nama besar seperti Kartini sebagai perempuan Jawa yang walau dapat menyuarakan isi hati melalui tulisan namun tetap tunduk pada aturan patriakis, Raden Dewi Sartika yang memberi pengajaran bagi anak negeri, hingga perempuan-perempuan gagah berani (Cut Nyak Dhien dan Martha Kristina Tiahahu) yang memimpin pasukan menghalau penjajah.

Di beberapa daerah juga ada perempuan-perempuan pejuang emansipasi seperti di atas, namun karena peran mereka kurang diekspos, maka jarang ada yang mengetahui. Di daerah Bekasi misalnya, ada seorang perempuan pejuang bernama Siti Rohmah. Beliau adalah putri dari KH Abdul Mugni dan isteri dari pahlawan nasional KH Noer Ali. Mereka menikah pada bulan April 1940 dan dikaruniai tujuh orang putri serta lima orang putra.

Perempuan yang biasa dipanggil Nyai Rohmah ini merupakan orang yang berada di belakang perjuangan KH Noer Ali yang terkenal dengan julukan Si Singa Bekasi. Sang suami berjuang dengan memanggul senapan memimpin laskar Hisbullah menghalau penjajah, sedangkan sang isteri dalam dunia pendidikan demi mencerdaskan kaum bumi putra.

Siti Nurbaya Bakar

Bila mendengar nama Siti Nurbaya maka yang terlintas di benak sebagian orang adalah sebuah novel terbitan Balai Pustaka karangan Marah Rusli pada tahun 1922 silam yang menceritakan kisah cinta orang Minang antara Sambulbahri dan Sitti Nurbaya yang disusupi oleh Datuk Maringgih. Siti Nurbaya yang akan diceritakan di sini bukanlah orang yang "kasihnya tak sampai" melainkan seorang birokrat yang menduduki posisi sebagai Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan dalam Kabinet Kerja bentukan Presiden Joko Widodo.

Siti Nurbaya Bakar lahir di Jakarta 28 Juli 1956 dari Pasangan Mochammad Bakar (Betawi) dan Sri Baini (Lampung) (viva.co.id). Dia memulai pendidikan formalnya di Sekolah Dasar Muhammadiyah III Matraman, Jakarta hingga lulus tahun 1968. Kemudian melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama Negeri 50 Slamet Riyadi sampai tahun 1971. Lulus SMP Siti meneruskan ke Sekolah Menangah Atas Negeri 8 Bukit Duri (lulus tahun 1974). Selanjutnya Siti menempuh pendidikan tingginya di Institut Pertanian Bogor dari tahun 1975-1979 (Lestari, 2014).

Menurut situs pribadinya (sitinurbaya.com), semenjak duduk di bangku Sekolah Dasar Siti telah berkenalan dengan "dunia birokrasi dan ilmu administrasi" melalui tulisan Said bin Tsabit (penulis kodifikasi Al Quran era pemerintahan Ustman bin Affan 644-656 Masehi). Baginya, Said yang dijuluki sebagai "Pena Allah" atau "Sekretaris Nabi" itu merupakan sosok idola yang mengispirasi gerak langkah Siti selanjutnya.

Oleh karena itu, setamat menempuh pendidikan di Institut Pertanian Bogor pada tahun 1979 Siti memulai karir dalam bidang birokrasi di Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Lampung (tirto.id). Menurut Fathurrohman (2014), selama di Bappeda Provinsi Lampung Siti sempat menduduki berbagai jabatan, di antaranya: Kasi Penelitian Fisik (1983-1985), Kasi Pengarian (1985-1988), Kasubid Analisis Statistik, Kasi Tata Ruang (1988-1990), Kabid Penelitian (1990-1995), Wakil Ketua dan akhirnya Ketua Bappeda Tk. I Pemda Lampung dari tahun 1996 hingga 1998.

Sebagai catatan, selama di Bappeda, Siti Nurbaya Bakar menyempatkan melanjutkan pendidikan di International Institute for Aerospace Survey and Earth Science (ITC) Enschede, Belanda hingga meraih gelar master tahun 1988 (Aditya, 2014) dan gelar doktor dari Fakultas Perencanaan Sumber Daya Alam, Institut Pertanian Bogor. Selain itu, dia juga berhasil meraih sejumlah penghargaan, seperti: Penerus Generasi 45 dari Dewan Harian Daerah Angkatan 45 (1996), penghargaan dari Menko Kesra atas partisipasi dalam penanganan kebakaran lahan dan hutan (1996), penghargaan dari Ikatan Surveyor Indonesia dalam Aplikasi Sistem Informasi Geografi (1992), penghargaan dari Menteri Tenaga Kerja RI sebagai Wakil Ketua Dewan Produktivitas Daerah (1989), dan penghargaan dari Gubernur Lampung atas Pencapaian Hasil Penataran P4 terbaik ke-2 (1980) (sitinurbaya.com)

Sukses berkarir sekitar 16 tahun di Bappeda Provinsi Lampung, tanggal 8 Mei 1998 Siti ditarik ke Jakarta untuk menempati jabatan Kepala Biro Perencanaan Kementerian Dalam Negeri pimpinan R. Hartono (Akuntono, 2014). Selanjutnya, menjadi Sekretaris Jenderal Depdagri (2001-2005), tenaga pengajar perguruan tinggi di lingkungan Kopertis Wilayah III (2001- sekarang), Pelaksana Manajemen STPDN (2003-2004), Dewan Komisaris Pusri (2011- sekarang), Ketua Komite Investasi dan Manajemen Resiko Pusri (2013), dan Sekretaris Jenderal Dewan Perwakilan Daerah RI (2006-2013) sebuah institusi yang dibentuk untuk menjembatani kepentingan-kepentingan legislatif pemerintah-pemerintah provinsi dengan Dewan Perwakilan Rakyat (Aditya, 2014).

Penunjukan Siti sebagai Sekjen DPD RI menurut Ginanjar Sasmita yang dikutip oleh Fathurrohman (2014) disebabkan karena Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah mengenal kinerja dan kemampuan Siti Nurbaya. Sewaktu menjabat sebagai Pangdam Sriwijaya SBY pernah menghadiri presentasi Siti Nurbaya selaku ketua Bappeda tentang konsep tata ruang Hankam Provinsi Lampung. Penunjukan ini dibuktikan oleh Siti Nurbaya dengan meraih penghargaan dari Menteri Keuangan atas Laporan Akutansi Standar Tertinggi (2008-2011) dan WTP (Wajar Tanpa Pengecualian) Laporan Keuangan dari BPK-RI sejak penilaian awal sebagai Sekjen DPD-RI.

Bagi istri dari Rusli Rachman dan ibu dari Meitra Mivida NR serta Ananda Tohpati penghargaan tersebut merupakan beberapa dari sejumlah telah diterimanya sepanjang mengabdi sebagai Pegawai Negeri Sipil. Penghargaan lain, di antaranya adalah: Satya Lencana Karya Satya XX Tahun dari Presiden RI (2000); Penerapan Informasi Teknologi dari ITB (2003); PNS Teladan Nasional dari Presiden RI (2004); prestasi kerja luar biasa dari Menteri Dalam Negeri RI (2004); Partisipasi Pejabat Eksekutif dalam Pers dari Dewan Pers Nasional (2004) Wibawa Seroja dari Lemhanas RI (2009); Pamong Award dari Alumi Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (2009); 99 Most Powerful Women dari Majalah Globe Asis (2008-2010); Perempuan Terinspiratif dari Majalah Kartini (2008-2010; Kerjasama instansi pemerintah dan pers dari Jurnal Nasional (2010); Satya Lencana Karya Satya XXX Tahun dari Presiden RI (2010); Satya Lencana Wira Karya dari Presiden RI (2010); Mitra Kerja Media dari SKH Jurnal Nasional (2010); Pemimpin Pancasila dari Yayasan Indonesia Satu (2011); dan Bintang Jasa Utama dari Presiden RI (2011) (sitinurbaya.com).

Selain berprestasi di lingkungan birokrasi, tahun 2007-2008 Siti Nurbaya juga terlibat dalam lembaga non-pemerintah yaitu sebagai ketua steereng committee Institut Reformasi Birokrasi IndoPos-JawaPos (IRB-IPJP). Gagasan pendirian lembaga yang hendak memperjuangkan reformasi birokrasi ini dilontarkan oleh Dahlan Iskan (pemilik Indopos-JawaPos Group) dalam ulasan kritisnya berjudul "Agar Birokrasi Tidak Seperti Ferrari di Atas, Bemo di Bawah". Siti bersama lima orang anggota IRB-IPJP dinilai sebagai tokoh yang ahli dan memiliki pengalaman konkrit dalam bidangnya masing-masing, termasuk pengalaman langsung sebagai birokrat yang mencapai karir tertinggi (sitinurbaya.com).

Keterlibatan lain terjadi setelah pensiun tahun 2013 dengan terjun ke dunia politik melalui partai Nasdem pimpinan Surya Paloh. Di partai ini Siti menjabat sebagai Ketua Bidang Otonomi Daerah DPP Partai Nasdem (Akuntono, 2014) lalu naik menjadi Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Nasdem (Aditya, 2014). Selanjutnya, dia mencalonkan diri menjadi anggota DPR-RI perwakilan Lampung dan terpilih. Namun, belum sempat bertugas di Senayan Presiden Joko Widodo memintanya menjadi Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk periode 2014-2019 sebagai perwakilan Partai Nasdem di pemerintahan.

Foto: http://news.metrotvnews.com/politik/nN9oZ45k-siti-nurbaya-bakar-pns-teladan-jadi-menteri
Sumber:
"Dr. Ir. Siti Nurbaya Bakar, M.Sc.", diakses dari https://www.viva.co.id/siapa/read/134-siti-nurbaya-bakar, tanggal 12 Mei 2018.

Lestari, Reni. 2014. "Siti Nurbaya Bakar", diakses dari https://news.okezone.com/read/2014/ 12/02/17/1073512/siti-nurbaya-bakar, tanggal 12 Mei 2018.

"Dr. Ir. Siti Nurbaya Bakar, M.Sc", diakses dari http://sitinurbaya.com/tentang, tanggal 13 Mei 2018.

"Siti Nurbaya Bakar", diakses dari https://tirto.id/m/siti-nurbaya-bakar-mh, tanggal 13 Mei 2018.

Faturrohman, Muhamad Nurdin. 2014. "Profil Siti Nurbaya Bakar - Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan ke-1", diakses dari https://biografi-tokoh-ternama.blogspot.co.id/2014/ 12/profil-siti-nurbaya-bakar-menteri-lingkungan-hidup-kehutanan-ke-1.html, tanggal 13 Mei 2018.

Aditya. 2014. "Profil & Biodata Siti Nurbaya Bakar: Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia 2014-2019 Kabinet Kerja Jokowi JK", diakses dari http://sidomi.com/ 335400/siti-nurbaya-bakar/, tanggal 14 Mei 2018.

Akuntono, Indra. 2014. "Ini Sosok Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya", diakses dari https://nasional.kompas.com/read/2014/10/26/18281691/Ini.Sosok.Menteri.Ling kungan.Hidup.dan.Kehutanan.Siti.Nurbaya., tanggal 14 Mei 2018.

Lakma Dewi

Lakma Dewi merupakan satu dari segelintir seniman tradisi yang masih eksis di Kabupaten Pesisir Barat. Perempuan yang mahir dalam memainkan berbagai macam kesenian tradisional ini lahir di Krui pada hari Jumat tanggal 6 Juli 1965. Dia adalah anak ke-sebelas (tiga belas bersaudara) dari pasangan Bahsan dan Rabiah binti Basro. Saudara-saudara kandung Lakma yang terdiri dari 10 orang laki-laki dan 2 orang perempuan saat ini sudah tidak utuh lagi (setengah di antaranya telah meninggal dunia). Sementara sisanya ada yang berdomisili di Pesisir Barat, Lampung Barat, Bandarlampung, dan DKI Jakarta.

Konon semenjak kecil (Lakma sendiri sudah tidak dapat mengingat kapan tepatnya), telah menunjukkan bakat seni dengan pandai bernyanyi dan membawakan tari sempaya, cerai kasih, serta payung. Adapun belajarnya hanya dengan cara otodidak, alias melihat dan mendengar para seniman beraksi kemudian mempraktikkannya di rumah. Kebiasaan Lakma ternyata didukung oleh kedua orang tua. Bahkan, mereka menyarankan agar para tetangga yang sedang mengadakan pesta memberi kesempatan pada Lakma untuk mempertontonkan kebolehannya. Sebagai catatan, bagi generasi Lakma pengertian pesta yang dimaksud di sini adalah adalah gelaran-gelaran yang berkenaan dengan lingkaran hidup seseorang (kelahiran, perkawinan, kematian) atau acara adat lainnya (penobatan raja, pemberian gelar, dan lain sebagainya).

Di berbagai gelaran pesta inilah Lakma Dewi mulai mengasah diri untuk menjadi seorang seniman tradisi. Selain itu, berkat interaksi yang cukup intens dengan seniman-seniman seni tutur yang turut tampil dalam pesta, Lakma juga mulai merambah ke seni tutur. Hahiwang, segata, bebandung, ringget, wayak/muayak dan hahaddo hasil "contekan" dari para seniman tutur tersebut dipelajarinya secara rutin sepulang sekolah di SDN 04 Penengahan Laay. Namun, kebiasaan berlatih seni tradisi sempat terhenti ketika dia baru beberapa bulan duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama karena Sang kakek mengajaknya hijrah ke Jakarta.

Oleh karena sangat dimanja Sang kakek dan keluarganya, Lakma diberi kebebasan untuk melakukan segala hal sesuai dengan kemauan sendiri dan tidak dibebani kewajiban sebagaimana layaknya orang lain. Alhasil, dia terlalu "enjoy" dengan diri sendiri sehingga tidak berhasrat melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Pertamanya. Jadi, praktis selama di Jakarta rutinitas yang dilakukan hanyalah makan, tidur, dan jalan-jalan bersama keluarga Sang kakek.
Sepulang dari Jakarta, Lakma menggeluti kembali seni tradisi yang sempat ditinggalkan. Bahkan dia tidak hanya tampil dalam acara pesta-pesta adat yang diselenggarakan oleh masyarakat yang ada di sekitar pekon tempat tinggalnya. Secara rutin Lakma Dewi mengikuti berbagai ajang perlombaan kesenian daerah, baik yang diadakan oleh Pemerintah Kabupaten Lampung Barat maupun Pemerintah Provinsi Lampung. Dan, dari berbagai macam perlombaan ini banyak di antaranya yang berhasil dimenangkan.

Konsekuensi dari keberhasilan memenangkan sejumlah perlombaan, jadwal manggung pun semakin bertambah. Dia tidak hanya diundang memeriahkan acara adat yang diselenggarakan oleh Pekon, Kecamatan, dan Pemerintah Kabupaten Lampung Barat saja, tetapi juga orang-orang tertentu yang berniat ingin menjadi petinggi di Lampung Barat hingga para pejabat di pemerintahan Provinsi Lampung.

Tidak berapa lama setelah mencapai ketenaran sebagai seorang seniwati tradisi, Lakma Dewi menikah dengan Hermanto, seorang staf Dinas Kesehatan Kabupaten Lampung Barat. Dari pernikahan ini mereka dikaruniai empat orang anak (seorang laki-laki dan tiga orang perempuan), yaitu: Wawan Putra (kelahiran tahun 1983), Heidi Diana (kelahiran tahun 1985), Tria Yunisa (kelahiran tahun 1987), dan Wira Opana (kelahiran tahun 1990).

Pernikahan dengan Hermanto ternyata membawa berkah tersendiri bagi Lakma Dewi. Jadwal pentasnya menjadi kian banyak hingga rata-rata mencapai 20 kali dalam satu bulan. Oleh karena itu, tidak jarang Hermanto turut menemani ketika Lakma pentas keluar wilayah Lampung Barat, seperti: Bandarlampung, Metro, Jakarta, hingga Yogyakarta. Khusus di Bandarlampung dan Yogyakarta Lakma pernah diminta masuk dapur rekaman untuk membawakan sastra lisan muayak dan hahaddo. Namun, hasil rekamannya saat ini hanya ada di Kantor Dinas Pemuda, Pariwisata, dan Olahraga Kabupaten Lampung Barat.

Menurut Lakma tidak lakunya penjualan rekaman muayak dan hahaddo karena masyarakat (terutama generasi muda) menganggap bahwa kedua kesenian tersebut sudah ketinggalan zaman. Kemajuan dalam bidang teknologi dan informasi membuat orang lebih menghargai kesenian populer yang datang dari daerah atau negara lain. Muayak, hahaddo, hahiwang, ringget dan beragam kesenian tradisional lain yang selalu mempertahankan "pakem" tanpa melakukan pembaruan tidak lagi dapat mengikuti arus perubahan zaman sehingga nyaris ditinggalkan dan hampir punah.

Keprihatinan akan punahnya kesenian tradisi mendorong Lakma Dewi untuk menularkan keahliannya pada generasi muda. Mula-mula dia mengajar pada anak-anak usia Sekolah Dasar hingga Menengah Pertama di sekitar tempat tinggalnya. Menurutnya anak-anak usia 6 hingga 16 tahun lebih "lebih cepat nyambung" ketimbang remaja atau orang tua. Anak-anak relatif mudah menerima pelajaran dan dapat "dipoles" sedemikian rupa agar sesui dengan pakem-pakem kesenian yang diajarkan.

Tetapi usaha awal Lakma Dewi banyak mengalami kendala. Salah satunya disebabkan oleh stratifikasi sosial dalam masyarakat yang tercermin dalam kelas-kelas sosial yang ditentukan berdasarkan asal usul serta hubungan kekerabatan patrilineal. Mereka membagi diri menjadi 16 marga. Masing-masing marga dipimpin oleh seorang Saibatin (Kepala Marga) dan memiliki tujuh tingkatan Gelar yaitu: Suntan, Raja, Batin, Radin, Minak, Kimas dan Mas.

Struktur sosial berdasarkan tingkatan gelar tersebut mempengaruhi ruang gerak individu, mulai dari level paling tinggi (Kepaksian) hingga ke level terendah yaitu keluarga. Atau dengan kata lain, terdapat rambu-rambu tertentu yang mengatur hubungan antarstatus dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang tidak dapat sesuka hati berhubungan tanpa mengindahkan statusnya karena akan mendapat sanksi-sanksi tertentu (adat maupun sosial) apabila melanggarnya.

Lakma Dewi yang berada dalam keluarga berstatus atau bergelar Minak relatif mudah menggerakkan anak-anak dari keluarga yang berstatus di bawahnya (Kimas dan Mas) untuk belajar kesenian tradisional. Namun, dia sulit "memaksa" anak-anak dari keluarga berstatus Radin, Batin, Raja, apalagi Suntan tanpa persetujuan orang tua mereka. Apabila orang tua menyetujui, dalam menentukan jadwal latih pun dia tidak dapat begitu saja menyuruh anak-anak mereka datang. Lakma harus membujuk anak yang akan berlatih agar orang tuanya tidak tersinggung dan marah.

Aturan-aturan adat yang mengikat seseorang berdasarkan kelas dalam masyarakat tentu saja menyulitkan Lakma Dewi dalam mentransfer ilmunya. Agar seni tradisi yang digeluti tidak hilang di telah zaman, dia kemudian beralih ruang dengan mengajar di pekon-pekon (desa) dan sekolah-sekolah di sekitar Krui. Kedua tempat tersebut dipilih karena sudah ada orang-orang yang mengkoordinasi anak-anak untuk berkumpul dan berlatih. Jadi, dia dapat langsung mengajar tanpa perlu lagi bersusah payah membujuk anak-anak agar mau belajar seni tradisi.

Lambat laun jerih payah Lakma secara perlahan membuahkan hasil. Banyak di antara anak didiknya memenangi berbagai ajang perlombaan, mulai dari tarian, nyanyian, hingga tradisi lisan. Bahkan karena terlalu sering menang, terkadang pihak panitia perlombaan sengaja "menghambat" agar peserta lain mendapat giliran sebagai pemenang. Adapun caranya adalah dengan menjadikan anak-anak didik Lakma sebagai penampil dan bukan peserta lomba. Sementara Lakma sendiri didaulat juga menjadi penampil, panitia dan atau jurinya.

Foto: ali gufron

Arzeti Bilbina

"Percaya enggak percaya, bergantung Anda menyikapinya "

Begitulah kata Arzeti Bilbina di setiap akhir acara bertajuk sama yang dipandunya bersama almarhum Leo Lumanto. Arzeti merupakan presenter program misteri Percaya Enggak Percaya yang ditayangkan oleh stasiun televisi ANTV pada medio tahun 2000-an (tabloidbintang.com). Acara ini berfokus pada berbagai jenis hantu dan seputar penampakannya yang dikaitkan dengan keberadaan mereka dalam dunia Islam.

Percaya Enggak Percaya bukanlah satu-satunya kegiatan yang membuat nama Arzeti dikenal oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Perempuan berdarah Minang bernama lengkap Arzeti Bilbina Huzaimi yang lahir di Krui pada 4 September 1974 ini sebelumnya telah malang-melintang di dunia modeling Indonesia. Arzeti memulai karir sebagai peragawati ketika pindah dari Pesisir Barat dan bersekolah di SMA Negeri 6 Jakarta, sekitar tahun 1992.

Setelah sukses dalam dunia modeling (menjadi peragawati papan atas, pengajar di Face Modelling, dan mendirikan sekolah modeling Zema Management/PT Zema Indonesia), Arzeti mencoba melebarkan sayap ke dunia akting. Menurut uniqpost.com, Arzeti sempat bermain dalam film televisi (FTV) berjudul "Ajari Aku Cinta" (2007), sinetron "Romantika" dan film "Angels Cry", sebuah film yang diilhami oleh peristiwa bom Bali. Sedangkan menurut ketemulagi.com dan kuakap.com masih ada sejumlah film dan sinetron yang diperankan oleh Arzerti, yaitu: Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, Cinta Bersemi di Putih Abu-abu The Series, Super ABG, Putih Abu-abu 2, Ji Ung Pendekar Cabe Rawit, dan Si Biang Kerok Cilik. Selain itu, dia tidak hanya memandu acara reality show Percaya Enggak Percaya saja, tetapi juga Mamamia yang ditayangkan di stasiun televisi Indosiar pada pertengahan 2007.

Sukses dalam pekerjaan rupanya diikuti pula oleh kesuksesan dalam kehidupan pribadinya. Pada sekitar bulan Februari 2004 Arzeti menikah dengan seorang pengusaha bernama Aditya Setiawan. Dari pernikahan tersebut dia "sukses" meneruskan keturunan. Anak-anak mereka bernama Bagas Wicaksono Rahadi Setiawan (lahir 9 Maret 2005), Dimas Aryo Baskoro Rahadi Setiawan (lahir 12 Maret 2006), dan Gendis Setiawan (lahir 2 Januari 2008) (wowkeren.com).

Tidak puas hanya sebagai pesohor dan pengusaha, Arzeti mulai merambah ke dunia politik, seperti beberapa pesohor lain (Miing Bagito, Dede Yusuf, Eko Patrio, Rieke Dyah Pitaloka dan lain sebagainya). Adapun kendaraan politik yang dipilihnya adalah Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Arzeti bergabung dengan PKB pada tahun 2013. Setahun berikutnya, saat menjabat sebagai Wakil Bendara Dewan Pimpinan Pusat PKB, Arzeti mencalonkan diri menjadi calon legislatif Dapil Jawa Timur 1. Namun, dia gagal menjadi Anggota Dewan (DPR-RI) karena hanya meraih sekitar 50.000 suara (wikidpr.org).

Melihat popularitas Arzeti cukup tinggi di Surabaya DPP PKB berniat mencalonkannya menjadi Walikota Surabaya pada Pilkada 2015 (lensaindonesia.com). Tetapi rezeki dari Tuhan memang tidak pernah tertukar. Seorang kader PKB yang berhasil menjadi Anggota Dewan bernama Imam Nahrawi dilantik oleh Presiden Joko Widodo sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga pada Kabinet Kerja. Arzeti yang dalam Pilleg berada di bawah Nahrawi secara otomatis maju menjadi Pejabat Antar Waktu (PAW) pada 28 Januari 2015 menggantikan Nahrawi sebagai Anggota DPR-RI periode 2014-2019. Mulanya dia duduk di Komisi VIII yang membidangi agama, sosial, dan pemberdayaan perempuan, kemudian pada bulan September 2016 dimutasi ke Komisi X DPR-RI.

Konsekuensi dari banyaknya peran yang dimainkan dalam arena publik, tentu membuat sepak terjang Arzeti selalu menjadi sorotan. Seperti kata pepatah, semakin tinggi sebuah pohon akan semakin banyak pula terpaan angin yang menggoyangnya. Hal ini terjadi hanya sekitar 10 bulan setelah menjabat sebagai anggota dewan. Pada tanggal 25 Oktober 2015 dia dikabarkan digrebek saat berada di kamar Hotel Arjuno, Malang, bersama Komandan Komando Distrik Militer 0816 Sidoarjo Letkol Kav Risky/Rizeki Indra Wijaya (nasional.kompas.com). Kabar miring tersebut segera dibantah Arzeti dengan menyatakan bahwa pertemuan bersama Letkol Rizeki guna membicarakan suatu pekerjaan. Dan, dalam pertemuan juga dihadiri oleh ajudan Dandim Sidoarjo (ketemulagi.com).

Terlepas dari kabar miring yang menimpa dirinya, yang jelas semenjak menjadi anggota dewan Arzeti sering kali menyatakan tanggapan serta sikap politik berkaitan dengan tugas yang diembannya. Tangapan dan sikap-sikap politik itu antara lain: (1) tanggal 29 Januari 2015 Arzeti meminta tes keperawanan dihilangkan karena tes-nya sendiri bersifat menghilangkan keperawanan. Selain itu, dia berharap Pemerintah meningkatkan anggaran Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA). Alasannya Kementerian PPPA membutuhkan anggaran besar untuk perogram-program perlindungan hukum, pendidikan usia dini untuk mencegah pernikahan usia muda terutama di daerah kepulauan, dan memudahkan aksesibilitas sarana persalinan (wikidpr.org); (2) 11 Februari 2015 menanyakan persiapan Menteri Agama dalam memperbaiki administrasi visa haji karena pemerintah Arab Saudi hanya memberikan visa non-quota sebesar 4.000 buah sementara Indonesia menerbitkan 16.000 quota (wikidpr.org); (3) berkaitan dengan Evaluasi Sistem Manajemen Resiko Penanggulangan Bencana, tanggal 7 April 2015 Arzeti berharap kesejahteraan tenaga BNPB diperhatikan agar dapat memberikan pelayanan terbaik bagi Indonesia (wikidpr.org); (4) masih berkaitan dengan Anggaran dan Program Penanggulangan Bencana, tanggal 8 April 2015 Arzeti menanyakan perlukan perumahan cluster dibatasi karena penambahan perumahan dapat meningkatkan resiko bencana banjir (wikidpr.org); (5) tanggal 16 April 2015 meminta klarifikasi dari Menteri PPPA dalam hal Rencana Strategis Kementerian PPPA menanggulangi meningkatnya angka kecelakaan dan pelanggaran lalu-lintas yang dilakukan oleh kanak-kanak usia 0-10 tahun (wikidpr.org); (6) tanggal 21 April 2015 memberi saran agar Direktorat Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial bekerja sama dengan Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal membuat perundang-undangan guna menyongsong Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) di Desember 2015; (7) tanggal 30 September menyarankan agar ada kemaksimalan koordinasi antarinstansi daerah sebagai komitmen Pemerintah Daerah terhadap Perlindungan Anak (wikidpr.org); (8) 19 April 2016 mempertanyakan anggaran yang dikeluarkan untuk Corporate Social Responsibility (CRS) yang akan dibuat menjadi UU dan kemungkinan bagi kaum disabilitas bisa dipekerjaan (wikidpr.org); (9) 13 Juni 2016 Arzeti menginginkan ada program kegiatan positif bagi teenager dalam Renstra Kementerian PPPA (wikidpr.org); dan (10) menyangkut kebijakan moratorium Ujian Nasional, tanggal 1 Desember 2016 Arzeti meminta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menetapkan sistem standarisasi serta mencari tahu apa yang akan digunakan sebagai pengganti Ujian Nasional (wikidpr.org).

Sementara berkaitan dengan tanah kelahirannya, menurut Sulistyo (2016), ada beberapa hal yang dilakukan Arzeti. Pertama, bersama komunitas Srikandi Kuri pimpinan Dewi Nurani menggelar tabligh akbar sebagai penumbuh keimanan dan ketakwaan sumber daya manusia di Kabupaten Pesisir Barat. Tabligh akbar menyambut bulan suci Ramadhan 1437 H dipusatkan di lapangan Labuhan Jukung, Kecamatan Pesisir Tengah pada Kamis, 2 Juni 2016. Dan kedua, melaksanakan misi Gerakan Cinta Al Quran dengan membagikan 10.0001 Al Quran hasil sumbangan masyarakat Krui dan donatur lain di Jakarta kepada seluruh masyarakat Pesisir Barat dan Lampung Barat yang tersebar di 11 kecamatan dan 118 pekon (desa). (gufron)

Foto: http://lifestyle.liputan6.com/read/2350730/arzetti-bilbina-dan-4-gaya-hijab-favoritnya
Sumber:
"RAPBN 2017, Evaluasi APBN 2016, dan Tindak Lanjut Pemeriksaan BPK – Rapat Kerja Komisi 8 dengan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (MenPP-PA)", diakses dari http://wikidpr.org/rangkuman/rapbn-2017-evaluasi-apbn-2016-dan-tindak-lanjut-pemeriksaan-bpk-rapat-kerja-komisi-8-dengan-menteri-pemberdayaan-perempuan-dan-perlindungan-anak-menpp-pa-, tanggal 25 Juni 2017.

"RUU CSR - Rapat Dengar Pendapat Umum Komisi 8 dengan PT Indofood Sukses Makmur", diakses dari http://wikidpr.org/rangkuman/ruu-csr---rapat-dengar-pendapat-umum-komisi-8-dengan-pt-indofood-sukses-makmur, tanggal 25 Juni 2017.

"Komitmen Pemda terhadap Panja Perlindungan Anak – Rapat Komisi 8 dengan Pemda Jateng, Jabar, dan Sulsel", diakses dari http://wikidpr.org/news/komitmen-pemda-terhadap-panja-perlindungan-anak-rapat-dengar-pendapat-komisi-8-dengan-pemda-jateng-jabar-dan-sulsel, tanggal 25 Juni 2017.

Sulistyo, Hilda Sabri. 2016. "Arzetti Biblina Majukan Krui Sebagai Tanah Kelahiran Lewat Kompetensi SDM", diakses dari http://bisniswisata.co.id/arzetti-biblina-majukan-krui-sebagai-tanah-kelahiran-lewat-kompetensi-sdm/, tanggal 23 Juni 2017.

"Rencana Strategis Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak - Rapat Komisi 8 dengan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak", diakses dari http://wikidpr.org/news/rencana-strategis-kementerian-pemberdayaan-perempuan-dan-perlindungan-anak---rapat-komisi-8-dengan-menteri-pemberdayaan-perempuan-dan-perlindungan-anak, tanggal 25 Juni 2017.

"Penanggulangan Bencana Alam - Rapat Komisi 8 dengan Ditjen Pengendalian Iklim & Ditjen Sumber Daya Air" diakses dari http://wikidpr.org/news/penanggulangan-bencana-alam---rapat-komisi-8-dengan-ditjen-pengendalian-iklim-ditjen-sumber-daya-air, tanggal 25 Juni 2017.

"Evaluasi Kesiapan Sistem Manajemen Resiko Penanggulangan Bencana - Rapat Panja Komisi 8 dengan Kemensos, Kemendagri, BPKP dan BNPB", diakses dari http://wikidpr.org/news/evaluasi-kesiapan-sistem-manajemen-resiko-penanggulangan-bencana---rapat-panja-komisi-8-dengan-kemensos-kemendagri-bpkp-dan-bnpb, tanggal 25 Juni 2017.

"Kemenag - Rapat Kerja Komisi 8 dan Kementerian Agama", diakses dari http://wikidpr.org/news/kemenag---rapat-kerja-komisi-8-dan-kementerian-agama, tanggal 25 Juni 2017.

"Sesmen PPPA - Rapat Dengar Pendapat Komisi 8 dan Sekretaris Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak", diakses dari http://wikidpr.org/news/sesmen-pppa---rapat-dengar-pendapat-komisi-8-dan-sekretaris-menteri-negara-pemberdayaan-perempuan-dan-perlindungan-anak, tanggal 25 Juni 2017.

"Arzeti Bilbina", diakses dari http://wikidpr.org/anggota/54c85838474254c52100001f #tanggapan, tanggal 22 Juni 2017.

"Biodata Lengkap Arzetti Bilbina Angota DPR", diakses dari http://ketemulagi.com/biodata-lengkap-arzetti-bilbina-angota-dpr/, tanggal 19 Juni 2017.

"In Memoriam Leo Lumanto (1969-2017), Host Program Misteri Percaya Nggak Percaya ANTV", diakses dari http://www.tabloidbintang.com/articles/berita/sosok/65276-in-memoriam-leo-lumanto-19692017-host-program-misteri-percaya-nggak-percaya-antv, tanggal 19 Juni 2017.

"Biodata Profil Arzeti Bilbina Dan Foto Terbaru", diakses dari http://www.kuakap.com/2015/10/biodata-profil-arzeti-bilbina-dan-foto.html, tanggal 20 Juni 2017.

"Soal Kasus Arzeti Bilbina, MKD Tunggu Hasil Pemeriksaan Denpom", diakses dari http://nasional.kompas.com/read/2015/10/27/15370581/Soal.Kasus.Arzeti.Bilbina.MKD.Tunggu.Hasil.Pemeriksaan.Denpom, tanggal 20 Juni 2017.

"PKB akan usung Arzeti Bilbina di Pilwali Surabaya", diakses dari http://www.lensaindonesia.com/2015/03/05/pkb-akan-usung-arzeti-bilbina-di-pilwali-surabaya.html, tanggal 23 Juni 2017.

"Arzeti Bilbina", diakses dari http://uniqpost.com/profil/arzeti-bilbina/, tanggal 17 Juni 2017.

"Arzetti Bilbina", diakses dari http://www.wowkeren.com/seleb/arzeti_bilbina/profil.html, tanggal 17 Juni 2017.

Alya Rohali

Alya Rohali merupakan salah seorang perempuan Betawi yang namanya malang melintang di jagad hiburan tanar air. Dia dikenal sebagai bintang film, iklan, dan sinetron Sekaligus pembawa acara televisi. Bersama Helmi Yahya, Alya sukses memandu acara secara live kuis "Siapa Berani?" yang pernah tayang setiap pagi di stasiun televisi Indosiar (jakarta.go.id).

Putri dari pasangan Rohali Sani dan Atit Tresnawati ini lahir di Jakarta pada tanggal 1 Desember 1976 (wowkeren.com). Dia mengawali karir melalui kontes kecantikan sebagai none Jakarta Barat tahun 1994. Kemudian mengikuti kontes None Jakarta 1994 dan terpilih sebagai juara Harapan I. Dua tahun berselang dia ikut kontes Puteri Indonesia 1996 dan dinobatkan sebagai pemenang. Konsekuensinya, dia menjadi wakil Indonesia pada ajang Miss Universe 1996 yang diselenggarakan di Amerika Serikat (kapanlagi.com).

Menurut kapanlagi.com, setelah tugas sebagai Puteri Indonesia usai, Alya mencoba peruntungan di dunia hiburan Indonesia. Dia mendapat tawaran untuk bermain dalam beberapa sinema elektronik. Selain itu, bersama Helmi Yaya dia juga didaulat memandu acara kuis "Siapa Berani?" yang ditayangkan Indosiar. Di acara inilah namanya mulai melejit dan sempat mendapat penghargaan sebagai Presenter Kuis Terfavorit dalam Panasonic Award 2002 (wowkeren.com).

Beberapa tahun sebelumnya, tepatnya tanggal 4 Maret 1999 Alya melepas masa lajang dan menikah dengan Eri Surya Kelana. Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai seorang anak perempuan bernama Namira Andjani Ramadina yang lahir pada bulan Desember 1999. Namun, pernikahan itu tidak berlangsung lama. Mereka resmi bercerai pada 13 Agustus 2003 (id.wikipedia.org).

Keretakan hubungan rumah tangga tidak mempengaruhi pekerjaan Alya dalam dunia entertainment. Hal ini terbukti dengan adanya tawaran membawakan membawakan program religi "Catatan Sergap" dalam Hikmah Fajar di stasiun televisi RCTI. Bahkan, dia juga sempat bermain dalam sitkom Kejar Kusnadi yang ditayangkan di RCTI tahun 2005 (id.wikipedia.org).

Beberapa tahun setelah menjanda, Alya kembali menambatkan hati pada seorang pengusaha asal Madura bernama Faiz Ramzy Rachbini. Mereka menikah pada 23 Juli 2006 (kapanlagi.com). Hampir satu tahun kemudian, tepatnya tanggal 29 Agustus 2007 buah perkawinan mereka melahirkan seorang anak melalui proses caesar di RS Pondok Indah. Ia dinamai Diarra Annisa Rachbini. Selanjutnya, anak ketiga pun menyusul pada 10 Oktober 2010 berjenis kelamin perempuan dan diberi nama Savannah Nadja Rachbini (jakarta.go.id).

Selepas menikah untuk yang kedua kali, kesibukan Alya semakin bertambah. Menurut jakarta.go.id, tahun 2006 dia mulai merambah dunia musik dengan memproduseri album berjudul Alika, sebuah album yang dinyanyikan oleh keponakannya sendiri bernama Alika. Album Alika terdiri dari 12 buah lagu berbuansa musik R&B, salah satu di antaranya berbahasa Inggris.

Sebagai catatan, selama meniti karir di dunia hiburan Alya telah memerankan berbagai macam karakter dalam sinetron dan film. Adapun judulnya antara lain: Meniti Cinta, Istri Impian, Kejar Kusnadi, Buah Hati Mama, Jalan Lain ke Sana, Emak, Dunia Tanpa Koma, Andini, Malin Kundang, Suami Istri dan Dia, Serpihan Mutiara Retak, Moga Bunda Disayang Allah, dan Di Balik 98. Sedangkan tayangan komersial (iklan) yang pernah dibintangi, di antaranya: Sunsilk, Neril, Oxone, dan Sajiku (profilseleb.blogspot.co.id). Khusus untuk film berjudul Di Balik 98, Alya mendapat nominasi dalam kategori pemeran pendukung wanita terbaik dari Indonesia Box Office Movie Awward 2016 (id.wikipedia.org).

Segala aktivitas dalam berakting tersebut ternyata tidak mengurungkan niat Ayla melanjutkan pendidikan formalnya. Setelah memperoleh gelar Sajana Hukum dari Universitas Trisakti misalnya, Alya mengambil program S2 Magister Hukum dan S2 Magister Kenotariatan di Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Ilmu-ilmu tersebut merupakan bekal untuk mencari nafkah sebagai notaris.

Foto: http://www.tribunnews.com/seleb/2015/01/10/cara-alya-rohali-rawat-rambutnya-saat-berhijab
Sumber:
"Alya Rohali" diakses dari http://www.jakarta.go.id/v2/dbbetawi/detail/74/Alya-Rohali, tanggal 7 Agustus 2017.

"Alya Rohali" diakses dari https://www.kapanlagi.com/alya-rohali/profil/, tanggal 7 Agustus 2017.

"Alya Rohali" diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Alya_Rohali, tanggal 8 Agustus 2017.

"Profil Alya Rohali", diakses dari http://www.wowkeren.com/seleb/alya_rohali/bio.html, tanggal 8 Agustus 2017.

"Alya Rohali Profil", diakses dari http://profilseleb.blogspot.co.id/2009/02/alya-rohali-profil.html, tanggal 9 Agustus 2017.

Erlina

Dalam sistem kekerabatan masyarakat Lampung Saibatin di Pesisir Barat yang bersifat parilineal, peran laki-laki sangatlah dominan. Kaum laki-laki selalu memiliki peran lebih dibanding perempuan, seperti: pemimpin keluarga, penerus garis keturunan, pewaris harta warisan, dan pengambil keputusan di sektor publik (dalam kegiatan sosial, politik, maupun budaya). Sementara kaum perempuan ditempatkan dalam sektor domestik. Adapun perannya hanya sebagai konco wingking (Jawa) yang selalu berkutat dengan urusan seputar dapur, sumur, dan kasur.

Konstruksi sosial demikian membuat ruang gerak kaum perempuan Saibatin sangat terbatas. Semenjak kecil mereka telah dikondisikan oleh keluarga dan lingkungan sekitar untuk menaati segala aturan adat yang dibuat oleh laki-laki untuk mengekalkan kekuasaan mereka. Dan, karena telah berlangsung sejak lama, maka dianggap sebagai suatu kebiasaan turun-temurun dan tidak dipersoalkan lagi sebagai tindakan ketidakadilan dan subordinasi gender. Atau dengan kata lain, posisi subordiasi ini diterima sebagai ketentuan adat yang harus ditaati.

Namun tidak semua laki-laki Saibatin Pesisir Barat menerapkan aturan adat pada perempuan. Azharuddin misalnya, walau hanya bekerja sebagai seorang petani tetapi tidak serta merta menerapkan hak dan kewajiban pada anak-anaknya berdasarkan gender yang ditetapkan oleh adat. Buktinya, salah satu dari enam orang anaknya, bernama Erlina (berjenis kelamin perempuan) saat ini berhasil menembus "barikade patriarki" dengan menjadi Wakil Bupati Pesisir Barat periode 2016-2021. Dia adalah perempuan pertama yang menduduki pos jabatan tersebut setelah bersama pasanganya (Agus Istiqlal) memenangi Pemilihan Umum Kepala Daerah Pesisir Barat pada 9 Desember 2015 (wikiwand.com).

Erlina lahir di Penengahan Krui 18 Agustus 1975. Masa kecilnya dihabiskan di Krui dengan bersekolah di SD Negeri 1 Panengahan Krui (1982-1988) dan SMP Negeri 2 Krui (1989-1992). Ketika menginjak masa remaja Erlina hijrah ke Bandarlampung dan bersekolah di SMA Negeri 3 Tanjungkarang (1992-1994). Lulus SMA meneruskan pendidikan di Universitas Lampung mengambil jenjang D3 Penyuluh Pertanian (1994-1997). Selanjutnya, menempuh jenjang Strata 1 di universitas yang sama dengan mengambil jurusan Sosial Ekonomi Pertanian (1997-2001). Terakhir, dia berhasil menamatkan jenjang S-2 di Magister Hukum Universitas Bandar Lampung (2012).

Keberhasilan Erlina hingga menjabat sebagai Wakil Bupati tentu tidak terlepas dari sepak terjangnya selama bersekolah. Berdasarkan data yang diperoleh dari kpud-lampungbaratkab.go.id, riwayat keorganisasian yang digeluti Erlina cukup beragam, yaitu: (1) Ketua Korp Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri (KOPRI) Komisariat Brojonegoro Universitas Lampung (1998-1999); (2) Ketua Korp Pergerakan Mahasiswa Islan Putir (KOPRI) Cabang Lampung (1999-2000); (3) Pembina Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) Kota Bandarlampung (2008-2010); (4) Sekretaris Fatayat Nahdlatul Ulama Provinsi Lampung (2000-2009); Wakil Ketua DPD KNPI Provinsi Lampung (2010-2013); (5) Pengurus Karang Taruna Provinsi Lampung (2013-sekarang); (6) Pimpinan Wilayah Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) Nahdlatul Ulama Provinsi Lampung (2010-2012); (7) Ketua Pemberdayaan Perempuan KNPI Provinsi Lampung (2014-2017); dan (8) Pimpinan Wilayah Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama Provinsi Lampung (2013-2017).

Sedangkan data pengalaman pekerjaan yang pernah dilakukannya adalah: (1) Koordinator Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPPR) Kabupaten Lampung Barat (2004); (2) Koordinator Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPPR) Provinsi Lampung (2005-2008); (3) Anggota KPU Kota Bandarlampung (2008); (4) Ketua KPU Kota Bandarlampung (2010); (5) Ketua Pokja Sosialisasi dan Pendidikan Pemilih KPU Kota Bandarlampung dan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden (2009); (6) Ketua Pokja Sosialisasi KPU Kota Bandarlampung pada Pemilu DPR, DPD, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota (2009); (7) Divisi Teknis dan Humas KPU Kota Bandarlampung (2011); (8) Ketua Pokja Sosialisasi KPU Kota Bandarlampung (2012); (9) Ketua Pokja Pemutakhiran Data dan Sosialisasi untuk Pemilu Kepala Daerah, Walikota dan Wakil Walikota Bandarlampung (2013-2014); (9) Ketua Pokja Sosialisasi KPU Kota Bandarlampung pada Pemilu DPR, DPD, DPRD, Presiden dan Wakil Presiden (2013-2014); dan (10) Ketua Pokja Pemutakhiran Data Pemilih untuk Pemilu Anggota DPR, DPD, DPRD, Presiden dan Wakil Presiden (2013-2014).

Segudang pengalaman tersebut tidak lantas membuat Erlina dapat melenggang dengan mudah menjadi orang nomor dua di Pesisir Barat. Bersama Agus Istiqlal, dia harus bahu-membahu menggalang massa agar memenangkan Pemilukada. Salah satunya adalah beradu visi dan misi melawan tiga pasang calon Bupati dan Wakil Bupati Pesisir Barat lainnya, yaitu Aria Lukita Budiwan-efan Tolani, Jamal Naser-Syahrial, dan Oking Ganda Miharja-Irawan Topani. Debat diselenggarakan oleh KPU Kabupaten Lampung Barat di GSG Selalaw dan disiarkan langsung melalui Radio Republik Indonesia (harianlampung.com).

Dalam debat yang dimoderatori Juwendra Adriyansyah tersebut Erlina dan Agus Istiqlal berjanji mewujudkan Pesisir Barat yang religius, menciptakan pemerintahan bersih, mengoptimalkan kekayaan potensi laut, pertanian, serta meningkatkan infrastruktur guna mendukung kemajuan pariwisata (harianlampung.com). Mereka mengusung visi "Terwujudnya Kabupaten Pesisir Barat yang Adil, Makmur, Sejahtera, Maju dan Modern". Dan untuk mewujudkannya mereka merumuskannya ke dalam delapan misi, yaitu: (1) Mengembangkan, memanfaatkan dan menggali sumber daya alam yang ada sebagai modal dasar pembangunan di daerah Kabupaten Pesisir Barat; (2) Meningkatkan kualitas pendidikan, kesehatan, penguasaan iptek dan nilai-nilai ketaqwaan, mengembangkan kreativitas seni dan budaya serta meningkatkan prestasi olahraga; (3) Mengembangkan Kabupaten Pesisir Barat sebagai pusat budidaya flora dan fauna; (4) Meningkatkan pelayanan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat; (5) Meningkatkan daya dukung sarana prasarana yang berbasis penataan dan pengembangan pariwisata; (6) Meningkatkan pelayanan publik dan peningkatan kinerja birokrasi yang bersif, profesional, dan berorientasi kewirausahaan serta bertatakelola yang baik; (7) Penataan, pembenahan, pengaturan lembaga fisik kabupaten sejalan dengan "land use planning" yang ada pada RUTRKIRIK dan RBWK serta RDTRK; dan (8) Mewujudkan sarana dan prasarana pembangunan infrastruktur pemerintah Kabupaten Pesisir barat (kpud-lampungbaratkab.go.id).

Visi dan misi Erlina-Agus Istiqlal ternyata sejalan dengan keinginan sebagian besar masyarakat Pesisir Barat sehingga mereka pun terpilih menjadi Bupati dan Wakil Bupati. Mereka dilantik bersama tujuh pasang bupati/walikota se-Provinsi Lampung oleh Gubernur Lampung M. Ridho Ficardo di kantor DPRD Lampung tanggal 17 Februari 2016 (nyokabar.com). Sedangkan serah terima jabatannya sendiri dilakukan sehari setelah pelantikan bertempat di ruang rapat Pemerintah Kabupaten Pesisir Barat. Sertijab dihadiri oleh Staf Ahli Gubernur Lampung Bidang Kemasyarakatan, anggota Forkopimda Pesisir Barat dan Lampung Barat, ketua dan anggota DPRD Pesisir Barat, Sekda Pesisir Barat, Staf ahli bupati, SKPD, pimpinan tokoh politik, tokoh agama, tokoh adat, dan tokoh masyarakat Pesisir Barat (pesisirbaratkab.go.id).

Setelah menjabat sebagai wakil bupati, perempuan yang bersuamikan Muhidin dan ibu dari Syam Permana P. Gemilang serta Aleshia Samita ini langsung tancap gas memenuhi janji pada warga masyarakat yang memilihnya. Bersama Agus Istiqlal dia mulai bergerak menjalankan roda pemerintahan dengan membangun sarana dan prasarana guna kesejahteraan masyarakat. Agar dapat memberikan pelayanan yang maksimal, mereka melakukan restrukturisasi organisasi pemerintahan, revitalisasi birokrasi, refungsionalisasi seluruh lembaga pemerintahan, dan mereposisi seluruh pimpinan aparat pemerintahan.

Foto: "Erlina (Wakil Bupati)", diakses dari http://www.wikiwand.com/id/Erlina_(wakil_bupa ti), tanggal 27 Juni 2017.

Sumber:
"Erlina (Wakil Bupati)", diakses dari http://www.wikiwand.com/id/Erlina_(wakil_bupati), tanggal 27 Juni 2017.

"Data Pasangan Calon No Urut Pendaftaran 82", diakses dari http://www.kpud-lampungbarat kab.go.id/2015/08/data-pasangan-calon-no-urut-pendaftaran_82.html, tanggal 27 Juni 2017.

"Empat Paslon Pesisir Barat Adu Visi dan Misi", diakses dari http://www.harianlampung .com/m/index.php?ctn=1&k=politik&i=16628-Empat-Paslon-Pesisir-Barat-Adu-Visi-dan-Misi, tanggal 27 Juni 2017.

"Chusnunia & Erlina Bupati dan Wakil Bupati Wanita Pertama di Lampung" diakses dari http://www.nyokabar.com/berita-1873-chusnunia--erlina-bupati-dan-wakil-bupati-wanita-pertama-di-lampung.html, tanggal 28 Juni 2017.

"Serah Terima Jabatan Pj Bupati Dengan Bupati Dan Wakil Bupati Periode 2016-2021", diakses dari http://Www.Pesisirbaratkab.Go.Id/?P=16533, tanggal 29 Juni 2017.

Fifi Firman Muntaco

Bila mendengar nama Firman Muntaco yang ada di belakang nama Fifi, maka terbayang di benak sebagian kita seorang sastrawan handal yang telah menelurkan ribuan karya sastra. Sebagai seorang sastrawan asli Betawi, hampir seluruh hidup Firman Muntaco didedikasikan untuk memajukan etnisnya dengan cara membuat cerpen berdialek Betawi. Menurut majalahbetawi.com, karya sastra Firman mencapai sekitar 5.000 buah. Namun yang sempat tercatat di pusat dokumentasi HB Jassin hanya sekitar 499 buah.

Fifi adalah salah seorang anak Firman Muntaco yang secara permanen menggunakan nama sang Ayah dibelakang namanya sendiri. Namun Fifi tidak hanya sekadar menyandang nama besar tersebut. Perempuan yang lahir di Jakarta pada tanggal 19 Agustus tahun 1966 ini ternyata juga mewarisi bakat seni sang Ayah. Dia sekarang menjadi pegiat budaya Betawi sekaligus sebagai pimpinan Sanggar Firman Muntaco.

Masa kecil perempuan yang kini tinggal di Gang Kayu Manis, Bale Kambang, Kramat Jati, dihabiskan di wilayah Jakarta Barat. Fifi mengawali pendidikan formalnya di Sekolah Dasar Pembangunan, Slipi. Lulus dari SD Pembangunan dia melanjutkan ke SMPN 61 Jakarta Barat dan SMA 65. Setelah menamatkan SMA dia melanjutkan pendidikan ke Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Indonesia (jakarta.go.id).

Bakat seni Fifi mulai muncul ketika sering diajak Firman Muntaco mengikuti gelaran seni Betawi di seantero Jakarta. Selain itu, semasa masih remaja (sekitar tahun 1960-an) di rumahnya sendiri juga membuka Sanggar yang melatih bermacam kesenian khas Betawi, seperti lenong, tanjidor, ondel-ondel, dan lain sebagainya. Kebersinggungan dengan dunia seni khususnya seni budaya Betawi inilah yang membuatnya memilih jalur seni sebagai jalan hidup sekaligus untuk memajukan etnisnya.

Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila setelah menikah (dengan Ruseno) dan dikaruniai dua orang anak Fifi tetap aktif di berbagai organisasi kebetawian, seperti: pengurus DPP Forkabi tahun 2006-2011; aktif dalam Persatuan Wanita Betawi pimpinan Hj. Ema Agus Bisrie; pengurus budang kebudayaan di Badan Musyawarah Masyarakat Betawi (Bamus Betawi) tahun 2008-2013; penasihat Rumpun Masyarakat Betawi tahun 2008-2013; dan mesuk dalam kepengurusan Laskar Merah Putih bidang peranan wanita tahun 2009 (jakarta.go.id).

Sementara di rumah pun dia tetap meneruskan sanggar yang didirikan oleh ayahnya yang diberi nama Sanggar Betawi Firman Muntaco. Menurut kicaunews.com, kesanggupan Fifi mempertahankan keberadaan sanggar hingga sekarang tidak lepas dari dukungan keluarga serta ingin mewujudkan impian Sang Ayah melestarian kesenian betawi. Selepas wafatnya Firman Muntaco Januari 1993, melalui bantuan sang adik (Ahmad Fanfani), Fifi berusaha mengembangkan sanggar. Ahmad Fanfani mengajarkan kesenian Betawi, sementara Fifi sebagai manager yang bertugas dari mulai mencari order hingga mengatur keuangan dan kebutuhan sanggar.

Berkat kerja sama dua bersaudara tersebut Sanggar Betawi Firman Muntaco berkembang pesat. Sejumlah kegiatan dan penghargaan berhasil mereka raih, diantaranya: (1) Penghargaan Hut Orari DKI (2006); (2) pengiring acara Gubernur Kita Jak TV Live setiap minggu selama 6 bulan (2007); (3) narasumber pada acara OASIS (2011); (4) juara harapan I Lomba Perkusi Tingkat DKI Jakarta (2011); (5) pimpinan sanggar meraih juara pertama pada Lomba Penulis Cerpen Betawi Tingkat DKI Jakarta dengan judul "Penyanyi Samrah" (2011); (6) pengisi panggung rutin di Pekan Raya Jakarta; dan (7) partner dalam acara "Sehari Bersama Band Cokelat" (2012) (sanggarbetawifm.blogspot.co.id).

Dalam aktivitasnya sanggar ini juga melatih orang-orang yang berminat mendalami kesenian betawi, seperti: (1) musik samrah. Samrah adalah kelompok pemusik yang memainkan musik Melayu Betawi menggunakan alat musik berupa harmonium, biola, gitar, tamborin, rebana, dan gendang untuk mengiringi nyanyian dan tarian. Para pemainnya mengenakan dua macam kostum. Kostum pertama terdiri atas peci, jas, dan kain pelekat, sedangkan kostum kedua terdiri atas peci, baju sadariah, dan celana batik (jakarta.go.id). Adapun lagu-lagu yang dimainkan diantaranya adalah Burung Putih, Pulau Angsa Dua, Cik Minah Sayang, Sirih Kuning, Masmura, Kicir-kicir, Jali-jali, Lenggang-lenggang Kangkung, dan sebagainya (id.wikipedia.org); (2) lenong (dewasa dan bocah). Lenong adalah teater tradisional berdialek Melayu Betawi yang pementasannya diiringi musik gambang kromong. Konon lenong mulai berkembang sejak akhir abad ke-19, hasil adaptasi dari komedi bangsawan dan teater stambul (id.wikipedia.org). Berdasarkan tema cerita yang dipentaskan, lenong dibagi menjadi dua jenis yaitu lenong preman dan denes. Lenong preman umumnya mengangkat tema keseharian masyarakat dengan pemain mengenakan busana sehari-hari. Sedangkan lenong denes (berasal dari kata dinas atau formal) mengangkat tema kerajaan atau bangsawan sehingga para pemainnya menggunakan busana resmi sesuai tema (negerikuindonesia.com); (3) tari betawi; (4) palang pintu. Palang pintu merupakan salah satu prosesi dalam upacara adat Betawi, seperti pernikahan, khitanan, atau penyambutan tamu kehormatan. Sesuai dengan namanya, prosesi ini berbentuk penghadangan seseorang atau rombongan yang ingin masuk sebelum memenuhi persyaratan yang diminta tuan rumah (bermain silat, mengaji, dan berpantun); dan (5) Marawis. Marawis adalah kelompok pemusik yang memainkan musik Melayu Betawi menggunakan alat musik tabuh berupa marawis, hajir (gendang besar), dumbuk (jimbe) pinggang, dumbuk batu, darbuka (cantiq), tamborin, dan kecrek. Marawis merupakan jenis kolaborasi antara kesenian Timur Tengah dan Betawi yang kental unsur keagamaan. Ia dimainkan oleh minimal sembilan atau sepuluh orang yang masing-masing memegang sebuah alat musik sambil bernyanyi.

Keseriusan perempuan yang juga aktif menulis cerpen ini menjadi pegiat dalam melestarikan budaya Betawi menurut jakarta.go.id adalah karena kekhawatiran akan kondisi kesenian Betawi yang kian terpuruk di daerahnya sendiri. Banyak di antara kesenian tersebut mulai ditinggalkan orang karena dianggap tidak sesuai lagi dengan zamannya. Baginya hal ini tak ubahnya buah simalakama. Jika dirombak akan kehilangan unsur keasliannya, tetapi bila tetap mempertahankan pakem yang telah ada akan kurang menarik bagi penonton masa kini. Oleh karena itu, perlu adanya perhatian khusus agar generasi muda mau mengenalnya. (ali gufron)

Foto: http://www.majalahbetawi.com/2015/03/gelar-tiker-ala-betawi-episode-1.html
Sumber:
"Gelar Tiker Ala Betawi Episode 1: Firman Muntaco Pejuang Budaya Betawi", diakses dari http://www.majalahbetawi.com/2015/03/gelar-tiker-ala-betawi-episode-1.html, tanggal 10 Agustus 2017.

"Fifi Firman Muntaco", diakses dari http://www.jakarta.go.id/v2/dbbetawi/detail/148/Fifi-Firman-Muntaco, tanggal 20 Agustus 2017.

"Pertahankan Sejarah, Fifi Firman Muntaco Menjaga Asa Sanggar Betawi", diakses dari https://kicaunews.com/2017/07/28/pertahankan-sejarah-fifi-firman-muntaco-menjaga-asa-sanggar-betawi/, tanggal 20 Agustus 2017.

"Our Port Folio" diakses dari http://sanggarbetawifm.blogspot.co.id/2013/06/our-port-folio.html, tanggal 20 Agustus 2017.

"Samarah, Musik", diakses dari http://www.jakarta.go.id/web/encyclopedia/detail/2656/ Samrah-Musik, tanggal 2 September 2017.

"Samrah", diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Samrah, tanggal 2 September 2017.

"Lenong", diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Lenong, tanggal 2 September 2017.

"Kesenian Nusantara - Lenong", diakses dari http://www.negerikuindonesia.com/2015/03/ kesenian-nusantara-lenong.html, tanggal 4 September 2017.

Cut Nyak Dhien

Riwayat Singkat
Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang terletak di ujung barat Indonesia banyak melahirkan pahlawan besar yang berjuang dengan gagah berani melawan penjajah. Salah satu dari pahlawan itu adalah Cut Nyak Dhien yang lahir di Lampadang pada tahun 1848. Ia adalah puteri dari Teuku Nanta Setia, seorang uleebalang VI Mukim yang masih keturunan dari Machmoed Sati, perantau asal Sumatera Barat. Sedangkan, ibunya adalah puteri dari uleebalang Lampagar.

Masa kecil Cut Nyak Dhien hanya berlangsung singkat karena pada umur 12 tahun ia sudah dinikahkan dengan Teuku Cek Ibrahim Lamnga, putera dari uleebalang Lamnga XIII. Namun walau masih sangat belia, sesuai dengan zamannya, ia telah dibekali berbagai macam ilmu untuk berumah tangga, seperti: agama, memasak, merawat bayi dan suami dan lain sebagainya, sehingga tidak canggung lagi ketika menikah dengan Teuku Cek Ibrahim Lamnga. Dan, dari hasil pernikahan ini mereka dikaruniai seorang anak laki-laki.

Berpisah dengan Teuku Cek Ibrahim Lamnga
Pada 26 Maret 1873 Belanda yang dipimpin oleh Kohler bersama 3.198 orang prajuritnya menyatakan perang melawan Kesultanan Aceh. Mereka mulai melepaskan tembakan dari kapal Citdadel van Antwerpen lalu mendarat di Pantai Ceureumen dan menguasai serta membakar Masjid Raya Baiturrahman. Keadaan ini membuat Teuku Cek Ibrahim Lamnga harus berpisah sementara dengan Cut Nyak Dhien untuk mengikuti Panglima Polim dan Sultan Machmud Syah melawan Belanda. Peperangan tersebut dimenangkan oleh rakyat Aceh, sementara Kohler tewas tertembak dan sisa pasukannya lari tunggang-langgang.

Beberapa bulan kemudian Belanda menyerang lagi dibawah pimpinan Jenderal Van Swieten. Pada serangan kali ini pihak Belanda berhasil merebut daerah VI Mukim dan Keraton Sultan Aceh. Cut Nyak Dhien pun terpaksa harus berpisah lagi dengan suaminya. Ia dan bayinya bersama para perempuan lainnya mengungsi ke daerah yang dianggap aman pada tanggal 24 Desember 1875. Sementara suaminya ikut bertempur bersama para pejuang Aceh lainnya untuk merebut kembali daerah VI Mukim.

Perpisahan yang kedua ternyata bukanlah untuk sementara melainkan untuk selamanya, karena pada tanggal 29 Juni 1878 Teuku Cek Ibrahim Lamnga gugur dalam pertempuran melawan pasukan Belanda di daerah Gle Tarum. Kematian Teuku Cek Ibrahim Lamnga begitu menyakitkan hati sehingga Cut Nyak Dhien marah dan bersumpah akan menuntut balas pada pasukan Belanda. Ia pun kemudian mulai melakukan perlawanan terhadap Kapke Ulanda (Belanda kafir) bersama para pejuang Aceh lainnya dengan bergerilya ke seluruh pelosok wilayah Aceh.

Menikah dengan Teuku Umar
Setelah dua tahun menjanda, Cut Nyak Dhien mendapat lamaran lagi dari tokoh pejuang Aceh lainnya yang masih kemenakan ayahnya, yaitu Teuku Umar. Awalnya ia menolak, namun karena Teuku Umar mempersilahkannya untuk ikut bertempur, akhirnya ia menerimanya. Pernikahan pun dilakukan pada tahun 1880. Dari pernikahannya dengan Teuku Umar ia dikaruniai seorang anak bernama Cut Gambang yang dilahirkan di tempat pengungsian karena pada saat itu rumahnya sudah dikuasai oleh Belanda.

Perkawinannya yang kedua ini juga ternyata berlangsung singkat (sekitar 19 tahun), karena Teuku Umar gugur dalam pertempuran melawan pasukan Belanda di Meulaboh pada tanggal 11 Februari 1899. Cut Nyak Dhien bersama Cut Gambang kemudian memimpin pasukan Teuku Umar melakukan perlawanan secara gerilya terhadap Kapke Ulanda yang sangat dibencinya.

Ditangkap Belanda
Selama beberapa tahun ia berjuang bersama pasukannya secara bergerilya di pedalaman Meulaboh. Namun seiring dengan berlalunya waktu, Cut Nyak Dhien pun semakin bertambah tua dan fisiknya mulai melemah (pengelihatan mulai rabun, sering terkena encok, dll).

Melihat hal itu, Pang Laot, panglima perang dan orang kepercayaannya merasa kasihan dan berinisiatif untuk menyerahkannya pada pihak Belanda. Maksudnya, agar Belanda mau memberikan pelayanan medis sehingga Cut Nyak Dhien dapat menjalani hari tuanya dengan sedikit lebih tenteram. Cut Nyak Dhien pun akhirnya ditangkap di Beutong Le Sageu dan dibawa ke Banda Aceh.

Tetapi penangkapan oleh Belanda ternyata tidak lantas membuat perlawanan Cut Nyak Dhien mereda. Ia masih saja berhubungan dengan para pejuang Aceh yang belum tertangkap. Pihak Belanda menjadi khawatir dan akhirnya mengeluarkan Surat Keputusan No 23 (Kolonial Verslag 1907: 12) untuk mengasingkan Cut Nyak Dhien ke Sumedang, Jawa Barat.

Pada tanggal 11 Desember 1906, bersama dengan dua pengikutnya, seoranng panglima berusia 50 tahun dan kemenakannya sendiri yang masih berusia 15 tahun bernama Teungku Nana, Cut Nyak Dhien dititipkan pada Bupati Sumedang, Pangeran Aria Suriaatmaja, yang diberi gelar Pangeran Makkah. Oleh Pangeran Aria Suriaatmaja, ia tidak ditempatkan di dalam penjara, melainkan dititipkan lagi di rumah H. Ilyas, seorang tokoh agama setempat yang tinggal di belakang Kaum (Masjid Besar Sumedang).

Meninggal
Sebagai tahanan politik, perempuan yang oleh masyarakat setempat diberi gelar Ibu Perbu (Ratu) itu jarang sekali keluar dari rumah. Walau demikian, ia sering dikunjungi oleh anak-anak disekitarnya untuk belajar mengaji. Hal ini terus berlangsung selama 2 tahun sebelum akhirnya pejuang wanita yang gigih dan berani ini meninggal dunia pada tanggal 6 November 1908. Ia dimakamkan di komplek pemakaman para bangsawan Sumedang di daerah Gunung Puyuh.

50 tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1959, atas dasar permintaan Gubernur Aceh waktu itu, Ali Hasan, dilakukan pencarian terhadap makam berdasarkan arsip data dari pihak Belanda. Setelah makam ditemukan dan dibersihkan, pada tanggal 2 Mei 1964 Cut Nyak Dhien resmi dinobatkan oleh pemerintah menjadi Pahlawan Nasional Indonesia melalui SK Presiden RI No. 106 tahun 1964.

Pada tahun 1987 makam Cut Nyak Dhien untuk pertama kali dipugar yang peresmiannya ditandatangani oleh Gubernur Daerah Istimewa Aceh waktu itu, Ibrahim Hasan. Hasil dari pemugaran berupa pagar besi yang ditanam bersama beson dengan luas 1.500 meter persegi mengelilingi makam yang dibelakangnya didirikan sebuah meunasah (mushola). Sementara pada batu nisannya sendiri tertulis riwayat hidupnya, hikayat cerita Aceh, Surat At Taubah dan Surat Al Fajar. (pepeng)

Foto:
http://ridiah.wordpress.com/2010/01/16/cut-nyak-dien-wanita-revolusioner-indonesia-1/
Sumber:
http://www.tokohindonesia.com
http://id.wikipedia.org
http://samanui.wordpress.com
http://www.geocities.com

Camelia Malik

Riwayat Singkat
Camelia Malik adalah salah seorang penyanyi terkemuka dari khasanah musik ndangndut di Indonesia. Seniwati yang populer sebagai “Diva Dangdut Jaipong” ini telah lebih dari 25 tahun malang melintang di dunia tarik suara dan berhasil mengangkat citra musik dangdut di mata masyarakat Indonesia. Saat ini, meski telah banyak bermunculan penyanyi dangdut yang mengusung berbagai macam “goyangan model baru”, Camelia Malik masih tetap eksis dan mempunyai banyak penggemar.

Camelia Malik atau yang akrab disapa Mia ini lahir di Jakarta pada tanggal 22 April 1955. Mia lahir dan besar dalam lingkungan dunia perfilman. Ayahnya, Jamaluddin Malik adalah insan perfilman yang memiliki sebuah perusahaan film. Sewaktu usianya baru 16 tahun, perempuan yang berpostur tubuh 163 cm dan berat 59 kilogram ini sudah mulai karirnya dalam dunia seni dengan bermain film yang berjudul “Ratna” bersama bintang film kawakan Rachmat Kartolo.

Pada tahun 1977, saat usianya sekitar 22 tahun, Camelia Malik menikah dengan Reynold Panggabean, seorang musisi yang tergabung dalam group The Mercys. Pernikahan dengan Reynold Panggabean inilah yang mengubah jalan hidupnya menjadi seorang biduwanita sampai sekarang ini. Hal ini terjadi lantaran pada waktu itu Reynold dianjurkan oleh produsernya untuk bersolo karir. Anjuran tersebut ditanggapi Reynold dengan membentuk Group Tarantula yang beraliran dangdut. Kemudian, ia mencipta beberapa lagu dan menawarkan untuk dinyanyikan oleh Camelia Malik, isterinya sendiri. Dan, setelah mempelajarinya, akhirnya Mia pun bersedia untuk menyanyikannya.

Album perdana Mia bersama group Tarantula yang berjudul Colak-colek (1979) ternyata meraih sukses besar dan berhasil melambungkan namanya sejajar dengan deretan penyanyi dangdut papan atas waktu itu, seperti Rhoma Irama, Muchsin Alatas, Elvy Sukaesih, Rita Sugiarto, Elya Kadham dan lain sebagainya. Bahkan, salah satu lagu andalan dari album ini yaitu Colak-colek berhasil mendapatkan penghargaan dari Pusat Penerangan ABRI.

Selanjutnya, Mia bersama group Tarantulanya mulai tampil dari panggung ke panggung untuk menghibur para penikmat musik dangdut. Mereka pun sempat tampil bersama Hetty Koes Endang, Elvy Sukaesih dan beberapa penyanyi lain di Istora Senayan Jakarta yang dihadiri oleh lebih dari 12 ribu penonton. Pengalaman tampil bersama para penyanyi papan atas dan ditonton oleh ribuan orang ini membuat Mia sadar bahwa jalan hidupnya adalah sebagai seorang penyanyi.

Tahun-tahun berikutnya album-album baru pun mulai dirilis oleh Mia bersama Gorup Tarantula, diantaranya adalah: Raba-raba, Ceplas-ceplos, Gengsi Dong, Wakuncar, Murah Meriah dan Colak-colek II. Selain menelurkan album baru, Mia juga terus berkiprah di dunia film yang pernah di tekuninya. Film-film yang dibintanginya diantaranya adalah: Nada-nada Rindu, Jaka Swara, Laki-laki Pilihan, Lorong Hitam, Dalam Sinar Matamu, Mencari Ayah, Pacar Ketinggalan Kereta, Para Perintis Kemerdekaan, Di Bawah Lindungan Ka’bah, dan Gengsi Dong (bersama Warkop DKI).

Namun, kesuksesan besar dalam berkarier ternyata bertolak belakang dengan kehidupan rumah tangganya. Setelah 12 tahun menikah, pada Kamis, 2 Maret 1989 akhirnya pasangan Reynold Panggabean-Camelia Malik memutuskan untuk bercerai di pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Walau telah bercerai Camelia Malik tidak merasa kesepian, sebab dalam waktu yang relatif singkat (sekitar dua bulan) ia sudah dipersunting lagi oleh seorang aktor film yang bernama Harry Capri. Pernikahan kedua Camelia Malik dengan Harry Capri dilakukan atas saran Rhoma Irama yang sekaligus menjadi wali hakimnya pada hari Minggu 16 Juli 1989. Dan, dari pernikahan ini Camelia Malik dikaruniai 2 orang anak bernama Alika dan Saddam, walaupun sempat mengalami keguguran pada saat mengandung anak pertamanya.

Saat ini, walau telah berusia kepala lima Camelia Malik masih aktif di dunia tarik suara bersama group Trakebah yang membawakan paduan antara musik dangdut dan sejumlah aliran musik lainnya. Bahkan, ia pun masih menyempatkan diri untuk mengarang lagu, mengorganisasi beberapa pertunjukan, dan mengelola stasiun radio Muara yang ia dirikan bersama Rhoma Irama dan Sys N.S.

Sumber:

Raden Ajeng Kartini

Riwayat Singkat
Raden Ajeng Kartini adalah seorang perintis perubahan yang memberi arti dan spirit tersendiri dalam perjuangan meraih persamaan dan kesetaraan gender atau yang biasa disebut juga emansipasi bagi kaum wanita Indonesia, sehingga diberi gelar kehormatan oleh pemerintah sebagai pahlawan nasional. Perempuan yang cerdas, berbakat, bersikap kritis terhadap kepincangan-kepincangan yang ada dalam lingkungan sosialnya, dan tidak lekas menyerah (putus asa) dalam menghadapi berbagai rintangan hidup ini lahir pada tanggal 21 April 1879 di Desa Mayong, sekitar 22 km dari Kota Jepara. Dia adalah puteri dari pasangan Raden Mas Adipati Sastrodiningrat dan Mas Ajeng Ngasirah. Ayahnya adalah seorang Bupati Jepara, sedangkan ibunya adalah seorang yang berasal dari kalangan rakyat biasa yang dijadikan sebagai garwo ampil.

Sebagai anak seorang bangsawan, pada saat usianya 7 tahun ia boleh bersekolah di Europeesche Legere School (setingkat sekolah dasar yang sebetulnya hanya diperuntukkan bagi anak-anak Belanda). Pada masa-masa itu, selain belajar di sekolah ia pun mendapat pelajaran tambahan di rumahnya, seperti pelajaran: agama, bahasa Jawa, memasak, menjahit dan mengurus rumah tangga.

Setelah lulus dari Europeesche Legere School, Kartini bermaksud hendak melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi lagi. Namun, karena usianya telah mencapai 12 tahun, maka ia pun harus menjalani masa pingitan sesuai dengan adat istiadat masyarakat Jawa pada masa itu. Keluarganya yang memegang teguh adat lama, tidak menyetujui keinginan Kartini untuk melanjutkan sekolahnya.

Sejak saat itu hidup Kartini mulai berubah. Ia tidak lagi bisa bersekolah dan bermain bersama teman-teman sebayanya karena harus berdiam di dalam rumah untuk menjalani masa pingitan. Untuk menghilangkan kegundahan hatinya, ia mulai rajin membaca buku-buku milik kakak dan ayahnya dan menulis surat kepada seorang teman sekolahnya yang telah berada di negeri Belanda. Dalam surat-surat yang ditulisnya itu ia menceritakan bagaimana ketentuan adat istiadat Jawa yang menimbulkan berbagai penderitaan bagi gadis-gadis yang telah menginjak masa remaja.

Sebagai seorang gadis remaja, Kartini tidak dapat menerima demikian saja ketentuan-ketentuan adat Jawa yang berlaku bagi dirinya dan para gadis yang seumur dengannya. Hal yang paling menyedihkan bagi Kartini adalah larangan untuk meneruskan pendidikan karena ia tidak mungkin dapat meninggalkan halaman kabupaten yang dilingkungi oleh empat tembok yang kokoh dan tinggi. Namun demikian, ia tidak putus asa, terutama untuk senantiasa menyakinkan pada ayahnya agar ia diperbolehkan meneruskan dan mengikuti pendidikan untuk memperoleh suatu keterampilan. Dalam benak Kartini, keterampilan sangat diperlukan agar secara efektif wanita dapat menyumbangkan tenaga dan pikiran untuk meningkatkan harkat kaumnya.

Namun, sebelum upaya itu tercapai, ternyata Kartini akhirnya harus menyesuaikan diri pada ketentuan keluarga untuk bersedia menikah pada tanggal 12 November 1903 dengan Adipati Djojoadiningrat, seorang Bupati Rembang. Kesediaan untuk menikah dengan orang yang sama sekali belum pernah dikenalnya ini adalah suatu sikap conform dari sosok seorang wanita Jawa seperti Kartini yang lebih mementingkan untuk tetap memelihara hubungan harmonis dengan orang tuanya. Ia mau menuruti kehendak orang tuanya meski hal itu sebenarnya bertentangan dengan batinnya, hanya semata-mata demi menjaga keluhuran dan keharuman nama baik orang tua beserta keluarganya.

Setelah menikah Raden Ajeng Kartini kemudian pindah ke Rembang mengikuti suaminya. Di tempat barunya itu, berkat dukungan dari suaminya, ia dapat melanjutkan cita-cita yang selama ini dipendamnya yaitu untuk memajukan kaum wanita. Usaha yang dilakukannya untuk memajukan kaum wanita agar dapat sederajat dengan kaum pria tersebut adalah dengan memberikan pengajaran melukis dengan cat minyak, menjahit, membuat pola pakaian dan berbagai keterampilan lainnya kepada gadis-gadis priyayi yang ada di sekitar tempat tinggalnya.

Namun sayang, beberapa bulan kemudian tepatnya tanggal 13 September 1904, saat melahirkan anak pertamanya yang diberi nama Singgih atau R.M. Soesalit, kondisi kesehatan Kartini memburuk. Dan, meskipun telah dilakukan perawatan secara khusus, namun akhirnya pada tanggal 17 September 1904 Kartini menghembuskan nafasnya yang terakhir pada usia yang masih sangat muda, yaitu 25 tahun.

Walau Kartini tidak sempat menikmati kebebasan sebagai wanita yang mempunyai hak yang sama dengan kaum pria, namun berkat jasa-jasanya kaum wanita Indonesia saat ini dapat memperoleh dan mengisi berbagai peran yang di eranya dahulu hanya merupakan idaman. Bahkan yang dulu sama sekali tidak pernah terbayangkan atau terpikirkan pun, sekarang menjadi kenyataan. Ada wanita menjadi pemain sepak bola profesional, pilot pesawat, sopir (bus,truk,taksi), dan bahkan kuli bangunan. (gufron)

Foto: http://cicye.files.wordpress.com
Sumber:
Jentara, Jurnal Sejarah dan Budaya. 2006. Volume 1, No. 2
http://pkk.pemkab-tanjungjabungbarat.go.id
http://ginageh.wordpress.com
http://www.jeparakab.go.id

Raden Dewi Sartika

Riwayat Singkat
Raden Dewi Sartika lahir pada tanggal 4 Desember 1884. Dia adalah puteri kedua dari lima bersaudara. Ayahnya bernama Raden Rangga Somanagara (Patih Afdeling Mangunreja). Ibunya bernama Raden Ayu Rajapermas, puteri Bupati Bandung R.A.A. Wiranatakusumah IV (1846-1876), yang juga terkenal dengan sebutan Dalem Bintang.

Tujuh tahun setelah kelahiran Uwi (panggilan Dewi Sartika), ayahnya diangkat menjadi Patih Bandung. Mereka sekeluarga kemudian pindah ke sebuah rumah besar di Kapatihan Straat (sekarang Jalan Kepatihan, di pusat kota Bandung). Karena anak seorang patih, Dewi Sartika dan saudara-saudaranya boleh bersekolah di Eerste Klasse School (setingkat sekolah dasar yang sebetulnya diperuntukkan bagi anak-anak Belanda dan peranakan). Dewi Sartika sempat belajar bahasa Belanda dan Inggris di sekolah itu.

Ketika Dewi berusia sembilan tahun dan masih duduk di kelas III ELS (Europesche Lagere School), ayahnya dibuang ke Ternate karena dituduh terlibat dalam percobaan pembunuhan Bupati Bandung R.A.A. Martanagara (yang keturunan menak Sumedang) dan beberapa pejabat Belanda di Kota Bandung pada 1893. Peristiwa itu membuat Uwi harus berhenti sekolah karena teman dan kerabatnya menjauhi keluarganya. Mereka takut dituduh terlibat dalam peristiwa itu.

Selanjutnya, Dewi Sartika dibawa Uaknya (kakak orangtuanya) yang berkedudukan sebagai Patih Aria di Cicalengka. Karena dianggap sebagai puteri pemberontak, sang Uak memperlakukan Uwi sebagai orang biasa. Uaknya lebih condong kepada atasannya (orang Belanda). Walapun begitu, di sana ia bersama puteri-puteri Uaknya mendapat pendidikan keterampilan wanita dari isteri Asisten Residen Cicalengka. Dalam waktu senggangnya, Dewi bermain "sekolah-sekolahan" dengan anak-anak pegawai kepatihan dan ia sendiri menjadi gurunya.

Kebiasaan bergaul dengan anak-anak somah ini membentuk pandangan hidupnya. Ia bercita-cita untuk memajukan anak-anak gadis, baik anak menak maupun anak somah. Selain itu, setelah dewasa tentunya, yang membuat pandangan hidupnya untuk memajukan kaum perempuan adalah kondisi kesehatan ibunya yang memburuk karena memikirkan suaminya di pengasingan, sementara secara ekonomis ia tidak dapat mandiri. Melihat ketidakberdayaan ibunya inilah yang semakin memperkuat keinginan Dewi Sartika untuk melaksanakan niatnya. Pikirannya tentang kecakapan minimum yang harus dimiliki oleh seorang perempuan tercermin pada slogannya yang penuh arti: “Ari jadi awewe kudu segala bisa, ambeh bisa hidup” (menjadi perempuan harus mempunyai banyak kecakapan agar mampu hidup).

Setelah menginjak remaja Dewi Sartika kembali ke rumah ibunya di Bandung. Waktu itu jiwanya yang mulai dewasa semakin menggiringnya untuk mewujudkan cita-citanya. Di samping itu, pemerintah Hindia Belanda pada waktu itu (1901) mulai menjalankan politik etis atau Ethische Politic dengan maksud mewujudkan kondisi yang lebih cocok dengan sistem liberal bidang ekonomi di Indonesia. Khusus untuk Pulau Jawa telah dijalankan sejak 1870. Dampak politik tersebut di bidang pendidikan adalah adanya upaya pemerintah kolonial mendirikan sekolah bumi putera. Sebelumnya, pada 1851 di Batavia telah didirikan sekolah-sekolah bumi putera.

Pada tahun 1902 Dewi Sartika memulai memberikan pengajaran membaca, menulis dan keterampilan lainnya kepada sanak keluarganya di belakang rumah ibunya. Kegiatan tersebut tercium oleh C. Den Hammer, seorang pejabat Inspektur Pengajaran Hindia Belanda di Bandung. Kemudian, Den Hammer mengusulkan untuk meminta bantuan Bupati Bandung Raden Adipati Martanagara. Ini adalah sesuatu yang sulit bagi Dewi Sartika karena ayahnya pernah menentang pelantikan Martanagara sebagi bupati, sehingga dibuang ke Ternate dan wafat di sana. Namun demikian, akhirnya Dewi Sartika memberanikan diri untuk berbicara dengan Bupati Martanagara. Kemudian, bupati membicarakan usulan Dewi Sartika dengan para sahabat dan petinggi di jajaran pemerintahannya (sebelum memutuskan untuk mendukung usulan Dewi Sartika).

Pada tanggal 16 Januari 1904, ketika berumur 20 tahun, Dewi Sartika mendirikan sekolah perempuan pertama di Indonesia. Sekolah yang dinamai Sakola Istri itu awalnya diselenggarakan di Pendopo Kabupaten Bandung atas izin Bupati Bandung R.A.A. Martanagara (1893-1918). Tenaga pengajarnya tiga orang, yaitu Dewi Sartika, Nyi Poerwa dan Nyi Oewid (keduanya saudara misan Dewi Sartika). Di sekolah ini, anak-anak gadis selain mendapat pelajaran umum, juga mendapat pelajaran keterampilan wanita, seperti memasak, membatik, menjahit, merenda, menyulam, dan lain sebagainya. Di sekolah ini pula diajarkan pelajaran agama Islam

Setahun kemudian sekolahnya bertambah kelas, sehingga pindah ke Jalan Ciguriang, Kebon Cau (sekarang jalan Keutamaan Istri/Jalan Raden Dewi Sartika). Lokasi baru ini dibeli Dewi Sartika dengan uang tabungan pribadinya, serta bantuan dana pribadi dari Bupati Bandung. Tahun 1906 Dewi Sartika menikah pada usia 22 tahun dengan Raden Kanduruan Agah Suriawinata, seorang Eerste Klasse School di Karang Pamulang, yang pada waktu itu merupakan Sekolah Latihan Guru. Sebagai catatan, Dewi Sartika sebelumnya pernah dilamar olah Pangeran Djajadiningrat dari banten, namun ditolak.

Pada November 1910 nama sekolah diganti menjadi Sakola Kautamaan Isteri dengan mengadaptasi kurikulum Tweede Klasse School. Jumlah muridnya semakin banyak dan cabang-cabang sekolah dibuka di Bogor, Serang, dan Ciamis. Pada 1911 jumlah muridnya 210 orang dengan guru lima orang. Pada 1914 nama sekolah diganti menjadi Sakola Raden Dewi. Sekolah ini didirikan pula di berbagai kota di Jawa Barat, seperti di Garut, Ciamis, Purwakarta, Bogor, Serang, bahkan di Sumatra Barat yang didirikan oleh Encik Rama Saleh. Atas jasa-jasanya, Pemerintah Hindia Belanda memberi tanda penghargaan bintang emas (gouden ster) dan diberi bantuan peralatan sekolah.

Pada masa pendudukan Jepang Dewi Sartika dicurigai sebagai NICA, sehingga mengharuskannya keluar dari Kota Bandung dan menyingkir ke Garut dan akhirnya ke Cineam. Setelah berjuang hingga melewati zaman kemerdekaan, Dewi Sartika wafat pada 11 September 1947 di Cineam, Tasikmalaya dengan meninggalkan enam orang anak. Ia dimakamkan dengan suatu upacara pemakaman sederhana di pemakaman Cigagadon, Desa Rahayu, Kecamatan Cineam, Kabupaten Tasikmalaya. Tiga tahun kemudian makamnya dibongkar dan dipindah ke kompleks Pemakaman Bupati Bandung di Jalan Karang Anyar, Bandung. Untuk mengenang jasa dan kepahlawanannya, pada tanggal 1 Desember 1966, Presiden Soekarno menetapkannya menjadi Pahlawan Kemerdekaan Nasional.

Hingga kini gedung sekolah itu masih bertahan dan menjadi SD dan SMP Dewi Sartika di Jalan Dewi Sartika, Bandung. Bangunan sekolah ini masih persis dengan bentuk aslinya. Dasar bangunannya berbentuk huruf “U”, bagian tengahnya terdapat halaman yang disemen. Gedung tersebut terdiri atas tiga ruangan (serambi), masing-masing mempunyai dua jendela, satu pintu dan tiga lubang angin. Dinding bagian atas berbentuk persegi dan berkerawang. Bagian ruangan depan terdapat selasar yang disangga tiang-tiang polos, sedangkan atap bangunan terbuat dari genteng. Menurut Undang-Undang Benda Cagar Budaya Nomor 5 tahun 1992, gedung tersebut termasuk bangunan yang dilindungi dan dilestarikan oleh pemerintah. (gufron)

Foto: http://upload.wikimedia.org
Sumber:
Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1998. Aneka Ragam Khasanah Budaya Nusantara IX. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Pikiran Rakyat, Senin, 04 Desember 2006

http://id.wikipedia.org
http://64.203.71.11/kompas-cetak
http://www.mail-archive.com/
http://yulian.firdaus.or.id
http://forum.wgaul.com/
http://ms.wikipedia.org

Perjuangan Opu Daeng Risaju di Sulawesi Selatan (1930-1950)

Oleh: Salmah Gosse

Pendahuluan
Konflik dan kekerasan merupakan suatu fenomena historis yang bisa terjadi dalam hubungan antara negara (kekuasaan) dengan individu. Konflik biasa muncul manakala cita-cita individu bertentangan dengan kemauan negara. Individu biasanya akan terus memperjuangkan cita-citanya baik dalam bentuk gagasan maupun aksi. Sedangkan negara akan terus berusaha untuk menekan aktivitas individu, agar jangan sampai aktivitas individu dapat membahayakan stabilitas negara. Upaya negara untuk menekan individu dapat sampai pada tingkat bentuk tindak kekerasan.

Fenomena tersebut di atas biasa terjadi dalam sebuah kekuasaan negara yang otoriter. Dalam kekuasaan ini kebebasan individu dikekang. Negara memiliki kekuasaan yang mutlak terhadap diri individu. Individu harus tunduk pada peraturan-peraturan yang dibuat negara. Peraturan-peraturan yang dibuat biasanya dalam model kekuasaan yang seperti ini adalah peraturan yang dapat melanggengkan kekuasaan.

Dalam sejarah Indonesia beberapa kasus konflik dan kekerasan yang dilakukan oleh negara (kekuasaan) terhadap individu sudah banyak terjadi. Peristiwa-peristiwa di zaman kolonial Belanda dan Jepang, misalnya merupakan contoh, betapa pemerintah menjalankan kekuasaannya semata-mata demi kekuasaan itu sendiri atau demi kepentingan rakyat terjajah.

Makalah ini akan mengangkat salah satu bentuk pengekangan dan kekerasan yang menimpa Opu Daeng Risaju. Sebuah peristiwa yang memperlihatkan konflik dan kekerasan yang dilakukan oleh negara (pemerintah kolonial dan kerajaan Luwu) terhadap aktivitas perjuangan individu di Sulawesi Selatan. Individu yang dimaksud di sini adalah Opu Daeng Risaju yang aktif dalam organisasi pergerakan kebangsaan Partai Syarekat Islam Indonesia (PSII).

Ada tiga hal yang menarik dalam peristiwa ini yang menimpa Opu Daeng Risaju itu. Pertama, Opu lahir dan dibesarkan sebagai seorang bangsawan, kedua, sangat kebetulan ia dilahirkan sebagai seorang wanita, dan ketiga, sebagai seorang anggota keluarga bangsawan, Opu ternyata sama sekali tidak pernah mengenyam pendidikan Barat (Sekolah Formal). Lalu, bagaimana seorang wanita bangsawan yang tidak pernah mengenyam pendidikan Barat, dipandang sebagai musuh yang berbahaya oleh pemerintah kolonial Belanda? Persoalan inilah yang coba diangkat dalam makalah ini.

Latar Belakang Kehidupan Opu Daeng Risaju
Nama kecil Opu Daeng Risaju adalah Famajjah. Ia dilahirkan di Palopo pada tahun 1880, dari hasil perkawinan antara Opu Daeng Mawellu dengan Muhammad Abdullah to Barengseng. Nama Opu menunjukkan gelar kebangsawanan di kerajaan Luwu. Dengan demikian Opu Daeng Risaju merupakan keturunan dekat dari keluarga Kerajaan Luwu.

Pendidikan yang ditanamkan sejak kecil lebih ditekankan pada persoalan yang menyangkut ajaran dan nilai-nilai moral baik yang berlandaskan budaya maupun agama. Sebagai seorang puteri bangsawan di daerah Luwu, sudah menjadi tradisi bagi keluarga bangsawan untuk mengajarkan kepada keluarga atau anak-anaknya tentang pola perilaku yang harus dimiliki oleh seorang perempuan. Pengajaran tentang tata cara kehidupan seorang bahsawan dilaksanakan baik di istana sendiri maupun di luar lingkungan istana. Materi ajaran yang diberikan misalnya bagaimana gerak-gerik diatur, tingkah laku dan cara bergaul bagi anak bangsawan. Pengajaran itu disalurkan lewat pesan-pesan, ceritera-ceritera yang bersifat dongeng dari orang tua atau inang pengasuh. Diajarkan pula tentang tata cara memimpin, bergaul, berbicara dan memerintah rakyat kebanyakan. Di samping itu, diajarkan pula keharusan senantiasa menampilkan keluhuran budi yang memupuk simpatik orang banyak[1].

Disamping belajar moral yang didasarkan pada adat kebangsawanan, Opu Daeng Risaju belajar pula peribadatan dan akidah sebagaimana yang diajarkan dalam agama Islam. Dalam tradisi di Luwu, agama dan budaya menjadi satu. Famajjah sejak kecil membaca Al Quran sampai tamat 30 juz. Setelah membaca Al Quran, ia mempelajari fiqih dari buku yang ditulis tangan sendiri oleh Khatib Sulaweman Datuk Patimang, salah seorang tokoh penyebar agama Islam di Sulawesi Selatan. Dalam pengajaran agama tersebut, Famajjah dibimbing oleh seorang ulama. Ilmu lain yang ia pelajari dalam agama yaitu nahwu, syaraf dan balagah. Dengan demikian, Opu Daeng Risaju sejak kecil tidak pernah memasuki pendidikan Barat (Sekolah Umum), walaupun ia keluarga bangsawan, sebagaimana lazimnya aktivitas pergerakan di Indonesia pada waktu itu. Boleh dikatakan, Opu Daeng Risaju adalah seorang yang “buta huruf” latin, dia dapat membaca dengan cara belajar sendiri yang dibimbing oleh saudaranya yang pernah mengikuti sekolah umum.

Setelah dewasa Famajjah kemudian dinikahkan dengan H. Muhammad Daud, seorang ulama yang pernah bermukim di Mekkah. Suami Famajjah adalah anak dari teman dagang ayahnya. Karena menikah dengan keluarga bangsawan dan memiliki pengetahuan yang luas tentang agama, H. Muhammad Daud kemudian diangkat menjadi imam masjid istana Kerajaan Luwu. Nama Famajjah bertambah gelar menjad Opu Daeng Risaju.

Aktif di PSII
Opu Daeng Risaju mulai aktif di oraganisasi Partai Syarekat Islam Indonesia (PSII) melalui perkenalannya dengan H. Muhammad Yahya, seorang pedagang Asal Sulawesi Selatan yang pernah lama bermukim di Pulau Jawa. H. Muhammad Yahya sendiri mendirikan Cabang SI di Pare-Pare. Opu Daeng Risaju, ketika berada di Pare-Pare masuk menjadi anggota SI Cabang Pare-Pare bersama suaminya.

Ketika pulang ke Palopo, Opu Daeng Risaju mendirikan cabang PSII di Palopo. PSII cabang Palopo resmi dibentuk pada tanggal 14 januari 1930 melalui suatu rapat akbar yang bertempat di Pasar Lama Palopo (sekarang Jalan Landau), atas prakarsa Opu Daeng Risaju sendiri yang dikoordinasi oleh orang-orang PSII. Rapat ini dihadiri oleh aparat pemerintah Kerajaan Luwu, pengurus PSII pusat, pemuka masyarakat dan masyarakat umumnya. Hadir pengurus PSII pusat yaitu Kartosuwiryo. Ketika berada di Palopo, Kartosuwiryo menginap di rumah Opu Daeng Risaju. Kedatangan Kartosuwiryo diundang langsung oleh Opu Daeng Risaju.

Opu Daeng Risaju dalam rapat akbar tersebut terpilih sebagai ketua, sedangkan Mudehang seorang gadis yang masih saudara Opu Daeng Risaju terpilih sebagai sekretaris. Mudehang terpilih sebagai sekretaris merupakan kebutuhan organisasi karena dia seorang wanita tamatan sekolah dasar lima tahun yang tentu saja mampu membaca dan menulis.

Mendapat Tekanan
Setelah resmi PSII berdiri di Palopo, Opu Daeng Risaju kemudian menyebarkan sayap perjuangannya. Cara penyebaran yang ia lakukan yaitu melalui familinya yang terdekat kemudian kepada rakyat kebanyakan. Dalam merekrut anggota PSII di mata rakyat kebanyakan dilakukan dengan cara menyebarkan kartu anggota yang bertuliskan lafadz “Ashadu Alla Ilaaha Illallah”. Dengan menggunakan kartu tersebut aspek ideologi tertanam dalam diri anggota, siapa yang memiliki kartu tersebut (menjadi anggota PSII) berarti dia seorang muslim. Dengan cara seperti ini, perjuangan PSII yang dilakukan oleh Opu Daeng Risaju mendapatkan dukungan yang sangat besar dari rakyat. Selain itu, dukungan dari rakyat ini timbul karena status Opu Daeng Risaju sebagai seorang bangsawan yang cukup kharismatis di mata masyarakat.

Dukungan yang begitu besar terhadap perjuangan Opu Daeng Risaju menimbulkan kekhawatiran bagi pemerintah Belanda dan Kerajaan Luwu. Kegiatan Opu Daeng Risaju dianggap sebagai kekuatan politik yang membahayakan pemerintah Belanda. Melalui Kerajaan Luwu berupaya melakukan tekanan-tekanan terhadap kegiatan Opu Daeng Risaju.

Daerah yang pertama kali menjadi tempat pendirian ranting PSII adalah di Malangke, sebuah kota di sebelah utara Palopo. Di malangke Opu Daeng Risaju mengadakan pendaftaran anggota PSII. Selama lima belas hari Opu Daeng Risaju berada di kota ini. Masyarakat di Malangke begitu antusias menerima kedatangan Opu Daeng Risaju. Apalagi di kota ini banyak famili dekat Opu Daeng Risaju.

Kegiatan Opu Daeng Risaju didengar oleh controleur afdeling Masamba (Malangke merupakan daerah afdeling Masamba). Controleur afdeling Masamba kemudian mendatangi kediaman Opu Daeng Risaju dan menuduh Opu Daeng Risaju melakukan tindakan menghasut rakyat atau menyebarkan kebencian di kalangan rakyat untuk membangkan terhadap pemerintah. Atas tuduhan tersebut, pemerintah kolonial Belanda menjatuhkan hukuman penjara kepada Opu Daeng Risaju selama 13 bulan.

Hukuman penjara tersebut ternyata tidak membuat jera bagi Opu Daeng Risaju. Setelah keluar dari penjara Opu Daeng Risaju semakin aktif dalam menyebarkan PSII. Pada tanggal 1 Maret 1932, Opu Daeng Risaju meresmikan cabang PSII di Malili bersama suaminya Haji Muhammad Daud. Aktiftas Opu Daeng Risaju, di Malili ternyata diawasi juga oleh pemerintah kolonial Belanda. Ketika Opu Daeng Risaju tiba di distrik Patampanua, dalam perjalanannya setelah dari Malili, Opu Daeng Risaju ditangkap kembali oleh Kepada Distrik atas instruksi pemerintah kolonial Belanda. Opu Daeng Risaju, oleh pemerintah kolonial Belanda dianggap sebagai orang yang membahayakan dan perlu diawasi.

Dari distrik Patampanua Opu Daeng Risaju bersama suaminya dibawa ke Palopo melalui jalan laut dengan pengawalan yang cukup ketat. Ketika di bawa ke Palopo, Opu Daeng Risaju dan suaminya diborgol karena dianggap membahayakan. Tindakan Belanda tersebut menimbulkan protes dari salah seorang familinya yang menjadi pejabat pada pemerintahan Kerajaan Luwu, yaitu Opu Balirante. Tindakan Belanda terhadap Opu Daeng Risaju dan suaminya, menurut Opu Balirante merupakan tindakan yang menghina terhadap derajat kebangsawanan yang menempel pada diri Opu Daeng Risaju. Opu Dalirante memprotes kepada pemangku adat Kerajaan Luwu dan pemerintah kolonial Belanda dan mengancam akan mengundurkan diri. Ancaman Opu Balirante tersebut ternyata berhasil meluluhkan pihak kerajaan dan pemerintah Belanda. Opu Daeng Risaju tidak jadi dihukum[2].

Pembelaan yang dilakukan oleh Opu Balirante, ternyata tidak meluluhkan semangat perjuangan Opu Daeng Risaju dalam menyebarkan PSII. Opu Daeng Risaju semakin aktif melakukan kegiatan politiknya. Aktivitas Opu Daeng Risaju sangat tidak disenangi oleh pemerintah Kerajaan Luwu. Opu Daeng Risaju di samping ditekan oleh pemerintah kolonial Belanda, juga ditekan oleh pihak kerajaan sendiri. Dalam pandangan pihak kerajaan, Opu Daeng Risaju sebagai seorang bangsawan yang dekat dengan keluarga kerajaan tidak boleh melakukan kegiatan politik yang dapat mengganggu hubungan antara pemerintah kolonial Belanda dengan Kerajaan Luwu. Waktu itu, Kerajaan Luwu sudah terikat oleh “Korte Werklaring” dengan pemerintah kolonial Belanda. Perjanjian tersebut sesungguhnya merupakan salah satu usaha Belanda untuk mengendalikan Kerajaan Luwu, misalkan pengakatan raja harus sepengetahuan dan persetujuan dari pemerintah kolonial Belanda.

Pemerintah kerajaan Luwu kemudian memanggil Opu Daeng Risaju dan memintanya agar menghentikan kegiatan politiknya. Permintaan kerajaan Luwu tersebut ditolak oleh Opu Daeng Risaju. Bagi Opu Daeng Risaju, kegiatan di PSII merupakan kegiatan dalam rangka mengikuti perintah Tuhan, yaitu “amar ma’ruf nahyil munkar”. Akibat pernolakan tersebut, akhirnya Opu Daeng Risaju disebut gelar kebangsawanannya yaitu gelar “Opu”. Opu Daeng Risaju dipanggil menjadi “Indok” (Ibu) Saju, sebagaimana layaknya rakyat kebanyakan.

Tekanan dari pihak kerajaan bukan hanya pencabutan gelar kebangsawanan. Pihak kerajaan atas kendali Belanda meminta kepasa suami Opu Daeng Risaju yaitu H. Muhammad Daud, agar mau membujuk isterinya menghentikan kegiatannya. Bujukan suaminya ditolak oleh Opu Daeng Risaju, bahkan Opu Daeng Risaju mempersilakan suaminya untuk mancari isteri lain dan Opu siap untuk bercerai. Akibat tekanan ini, akhirnya Opu Daeng Risaju rela bercerai dengan suaminya.

Walaupun sudah mendapat tekanan yang sangat berat baik dari pihak kerajaan dan pemerintah kolonial Belanda, Opu Daeng Risaju tidak menghentikan aktivitasnya. Dia mengikuti kegiatan dan perkembangan PSII baik di daerahnya maupun di tingkat nasional. Pada tahun 1933 Opu Daeng Risaju dengan biaya sendiri berangkat ke Jawa untuk mengikuti kegiatan Kongres PSII. Dia berangkat ke Jawa dengan biaya sendiri dengan cara menjual kekayaan yang ia miliki. Bukanlah hal yang mudah untuk datang ke Jawa pada saat itu, mengingat jarak antara Pulau Jawa dengan Sulawesi sangat jauh.

Kedatangan Opu Daeng Risaju ke Jawa, ternyata menimbulkan sikap tidak senang dari pihak kerajaan. Opu Daeng Risaju kembali dipanggil oleh pihak kerajaan. Dia dianggap telah melakukan pelanggaran dengan melakukan kegiatan politik. Oleh anggota Dewan hadat yang pro-Belanda, Opu Daeng Risaju dihadapkan pada pengadilan adat dan Opu Daeng Risaju dianggap melanggar hukum (Majulakkai Pabbatang). Anggota Dewan Hadat yang pro-Belanda menuntutu agar Opu Daeng Risaju dijatuhi hukuman dibuang atau diselong. Akan tetapi Opu Balirante yang pernah membela Opu Daeng Risaju, menolak usul tersebut. Akhirnya Opu Daeng Risaju dijatuhi hukuman penjara selama empat belas bulan pada tahun 1934[3].

Sebagai orang hukuman, Opu Daeng Risaju harus bekerja di luar penjara seperti orang-orang hukuman lainnya karena tidak mempunyai lagi hak-hak istimewa sebagaimana berlaku bagi bangsawan. Haknya telah dicabut berrsamaan dengan pencopotan gelar kebangsawanannya. Selama dipenjara, Opu Daeng Risaju disuruh mendorong gerobak, bekerja membersihkan jalan di tengah-tengah kota Palopo.

Penggerak Pemberontakan dan Dipenjara NICA
Pada masa pendudukan Jepang Opu Daeng Risaju tidak banyak melakukan kegiatan di PSII. Hal ini dikarenakan adanya larangan dari pemerintah pendudukan Jepang terhadap kegiatan politik Organisasi Pergerakan Kebangsaan, termasuk di dalamnya PSII.

Opu Daeng Risaju kembali aktif pada masa revolusi. Pada masa revolusi di Luwu terjadi pemberontakan yang digerakkan oleh pemuda sebagai sikap penolakan terhadap kedatangan NICA di Sulawesi Selatan yang berkeinginan kembali menjajah Indonesia. Pemicu pemberontakan ini terjadi, ketika tentara NICA menggeledah rumah Opu Gawe untuk mencari senjata, akan tetapi tidak menemukannya. Kemudian tentara NICA menuju ke masjid dan menanyakan orang-orang di dalam masjid, di antaranya seorang Doja (penjaga measjid) yang bernama Tomanjawani. Jawaban dari Tomanjawani tidak memuaskan, sehingga tentara NICA mengobrak-abrik masjid dan menginjak Al Quran, bahkan Tomanjawani sendiri dipukuli karena mencegah tindakan tentara NICA di Masjid[4].

Tindakan tentara NICA tersebut menimbulkan kemarahan rakyat di Luwu. Mengobrak-abrik masjid dan menginjak Al Quran sudah merupakan “siri” bagi orang Sulawesi Selatan. Akhirnya para pemuda memberikan ultimatum kepada tentara NICA yang ada di Palopo agar kembali ke tangsinya, tidak berkeliaran di kota. Ultimatum tersebut tidak diindahkan oleh tentara NICA, yang kemudian berakibat timbulnya konflik senjata yang sangat besar antara tentara NICA dengan para pemuda. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 23 Januari 1946.

Peristiwa 23 Januari 1946 di Palopo kemudian merembet ke kota-kota lainnya. Di kota-kota lain timbul konflik-konflik senjata antara tentara NICA dengan para pemuda. Salah satu kota yang ikut kena imbasnya dari peristiwa 23 Januari 1946 di Palopo adalah Beloppa, kota tempat Opu Daeng Risaju tinggal[5].

Opu Daeng Risaju ketika berada di Belopa memiliki peran besar terhadap upaya perlawanan terhadap tentara NICA. Dia banyak melakukan mobilisasi terhadap pemuda dan memberikan doktrin perjuangan kepada pemuda. Tindakan Opu Daeng Risaju ini membuat NICA berupaya untuk menangkapnya.

Upaya yang dilakukan NICA terhadap Opu Daeng Risaju dengan cara mengeluarkan pengumuman yang berisi persyaratan bahwa barang siapa yang dapat menangkap Opu Daeng Risaju baik dalam keadaan hidup atau mati, akan diberikan hadiah. Akan tetapi tidak ada seorang yang melaksanakan pengumuman Belanda tersebut.

Opu Daeng Risaju melalukan persembunyian dari satu tempat ke tempat lainnya ketika NICA melakukan pengejaran. NICA dapat menangkap Opu Daeng Risaju ketika berada di Lantoro. Opu Daeng Risaju ditangkap dalam persembunyainnya. Kemudian ia dibawa ke Watampone dengan cara berjalan kaki sepanjang 40 km. Opu Daeng Risaju ditahan di penjara Bone dalam satu bulan tanpa diadili kemudian dipindahkan ke penjara Sengkang dan dari sini dibawa ke Bajo.

Ketika berada di Bajo, Opu Daeng Risaju disiksa oleh Kepala Distrik Bajo yang bernama Ladu Kalapita. Opu Daeng Risaju dibawa ke lapangan sepak bola. Dia disuruh berlari mengelilingi tanah lapangan yang diiringi dengan letusan senapan. Setelah itu Opu disuruh berdiri tegap menghadap matahari, lalu Ludo Kalapita mendekatinya dan meletakkan laras senapannya pada pundak Opu yang waktu itu sudah berusia 67 tahun. Kemudian Ludo Kalapita meletuskan senapannya. Akibatnya Opu Daeng Risaju jatuh tersungkur mencium tanah di antara kaki Luda Kalapita dan masih sempat menyepaknya. Opu Daeng Risaju kemudian dimasukkan ke “penjara” semacam tahanan darurat di bawah kolong tanah).

akibat penyiksaan yang dilakukan oleh Ludo Kalapita terhadap Opu Daeng Risaju yaitu Opu enjadi tuli seumur hidup. Seminggu kemudian Opu dikenakan tahanan luar dan beliau tinggal di rumah Daeng Matajang. Tanpa diadili Opu dibebaskan dari tahanan sesudah menjalaninya selama 11 bulan dan kembali ke Bua kemudian menetap di Belopa.

Setelah pengakuan kedahulatan RI tahun 1949, Opu Daeng Risaju pindah ke Pare-Pare mengikuti anaknya Haji Abdul Kadir Daud yang waktu itu bertugas di Pare-Pare. Sejak tahun 1950 Opu Daeng Risaju tidak aktif lagi di PSII, ia hanya menjadi sesepuh dari organisasi itu. Pada tanggal 10 Februari 1964, Opu Daeng Risaju meninggal dunia. Beliau dimakamkan di pekuburan raja-raja Lokkoe di Palopo, tanpa ada upacara kehormatan sebagaimana lazimnya seorang pahlawan yang baru meninggal.

Kesimpulan
Perjuangan Opu Daeng Risaju memiliki dasar nilai budaya yang dipegangnya. Dalam masyarakat Sulawesi Selatan ada sistem nilai budaya yang disebut Siri’ na Pesse. Secara harfiah siri’ berarti malu. Secara kultural siri’ mengandung arti pertama, ungkapan psikis yang dilandasi perasaan malu yang dalam guna berbuat sesuatu hal yang tercela serta dilarang oleh kaidah adat. Kedua, yaitu nilai harga diri yang berarti kehormatan atau disebut martabat. Pesse merupakan padanan kata siri’. Secara harfiah pesse mengandung arti pedih atau perih meresap dalam kalbu karena melihat penderitaan orang lain. Pesse berfungsi sebagai pemersatu, penggalang solidaritas, pembersamaan serta pemuliaan humanitas (‘sipakatau)[6].

Kalaulah dianalisis mengapa perjuangan Opu Daeng Risaju menimbulkan konflik dan kekerasan dengan pemerintah kolonial Belada dan Kerajaan Luwu, dapat dilihat dari sistem nilai budaya lokal yang mendasarinya. Bagi Opu Daeng Risaju aktifnya ia di PSII memiliki nilai pesse. Opu Daeng Risaju melihat penjajahan Belanda di daerahnya menimbulkan kesengsaraan bagi rakyaat. Penderitaan rakyat yang dialaminya, membuat Opu Daeng Risaju merasa terpanggil untuk membelanya dengan cara aktif di PSII.

Perjuangan yang memiliki nilai pesse tersebut ternyata tidak dihargai oleh pemerintahan kerajaan Luwu akibat tekanan dari Belanda. Sikap kerajaan Luwu dan pemerintahan kolonial Belanda dengan melakukan larangan, tekanan sampai pada penangkapan dan pemenjaraan terhadap Opu Daeng Risaju menimbulkan sikap siri’. Aktifitas dan pengangkatan Opu Daeng Risaju di PSII dalam pandangannya merupakan suatu harga diri yang dipertaruhkan.

Opu Daeng Risaju bersikukuh tetap berjuang di PSII karena ia menjunjung tinggi nilai siri’ na pesse dan pada sisi lain kerajaan Luwu dengan kendali Belanda bersikukuh melarang kegiatan Opu Daeng Risaju karena dapat membahayakan tatanan politik pemerintahan, mengakibatkan timbulnya konflik dan kekerasan. Bagi Opu Daeng Risaju perjuangan adalah kemulyaan sedangkan bagi pihak pemerintah kerajaan Luwu dan Belanda, perjuangan Opu Daeng Risaju membahayakan bagi tatanan kekuasaannya.

Daftar Pustaka
Anthon A. Pangerang, et. al. 1986. Sejarah Ringkas Perjuangan Pertahanan Keamanan Rakyat (PKR) Luwu Dalam Membela dan Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945, Luwu: Badan Penggerak Pembina “Angkatan45” Dewan Harian Cabang Kabupaten Luwu.

Lahadjdji Patang, Sulawesi Selatan dan Pahlawan-pahlawannya, Yayasan Generasi Muda Indonesia (YKGMI).

M. Laica Marzuki. 1995. Siri, bagian Kesadaran Hukum Rakyat Bugis Makassar (Sebuah Telaah Filsafat Hukum), Ujung Pandang: Hasanuddin University Press.

Muhammad Arfah. 1991. Opu Daeng Risaju Perintis Pergerakan Kebangsaan/Kemerdekaan Republik Indonesia. Ujung Pandang: Depdikbud.

Syamsul Alam, “Opu Daeng Risaju Wanta Alam yang Jadi Kaum Pergerakan”, dalam Mimbar Ulama, No. 4. tahun I September 1976.

Sanusi Daeng Mattata. 1967. Luwu Dalam Revolusi. Makassar: Bhakti Baru, hlm. 335.

Sumber:
Makalah dalam Kongres Nasional Sejarah tanggal 28-30 Oktober 2001 di Jakarta.

[1] Muhammad Arfah (1991), Opu Daeng Risaju Perintis Pergerakan Kebangsaan/Kemerdekaan Republik Indonesia. Ujung Pandang: Depdikbud, hlm 41.
[2] Syamsul Alam, “Opu Daeng Risaju Wanita Alam yang Jadi Kaum Pergerakan”, dalam, Mimbar Ulama, No. 4. Tahun I September 1976.
[3] Lahadjidji Patang, Sulawesi Selatan dan Pahlawan-pahlawannya, Yayasan Generasi Muda Indonesia (YKGMI), hlm. 43.
[4] Sanusi Daeng Mattata. 1967. Luwu Dalam Revolusi, Makassar: Bhakti Baru, hlm. 335.
[5] Anthon A. Pangerang, et. al (1986), Sejarah Ringkas Perjuangan Pertahanan Keamanan Rakyat (PKR) Luwu Dalam Membela dan mempertahankan Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945, Luwu: Badan Penggerak Pembina “Angkatan 45” Dewan Harian Cabanga Kabupaten Luwu, hlm. 1.
[6] M. Iaica Marzuki. 1995. Siri, bagian Kesadaran Hukum rakyat Bugis Makassar (Sebuah Telaah Filsafat Hukum), Ujung Pandang Hasanuddin University Press, hlm. 115-133.
Cara Pasang Tali Layangan agar Manteng di Udara
Topeng Monyet
Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama

Archive