NUSANTARA COSMIC ECHOES - Pink Floyd Style Progressive Rock
Showing posts with label N. Show all posts
Showing posts with label N. Show all posts

Nasi Grombyang

Nasi grombyang merupakan salah satu kuliner khas Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, yang tidak hanya dikenal karena cita rasanya yang kuat dan autentik, tetapi juga karena nilai sejarah dan identitas kultural yang melekat padanya. Hidangan ini menempati posisi istimewa dalam khazanah kuliner pesisir utara Jawa, khususnya sebagai representasi makanan rakyat yang lahir dari pengalaman hidup masyarakat sederhana. Nama “grombyang” sendiri merujuk pada kondisi kuahnya yang berlimpah dan tampak “bergoyang” ketika disajikan, mencerminkan karakter sajian yang tidak kering, tidak padat, melainkan cair dan hangat, seolah mengundang untuk segera disantap. Dalam kehidupan masyarakat Pemalang, nasi grombyang bukan sekadar makanan pengganjal perut, melainkan simbol kebersahajaan, kehangatan, dan keberlanjutan tradisi kuliner yang diwariskan lintas generasi.

Asal-usul nasi grombyang tidak dapat dilepaskan dari kondisi sosial dan ekonomi masyarakat Pemalang pada masa lampau. Sebagai wilayah yang sebagian besar penduduknya bekerja sebagai petani, buruh, dan pedagang kecil, kebutuhan akan makanan yang murah, mengenyangkan, dan mudah dibuat menjadi sangat penting. Nasi grombyang lahir dari kebutuhan tersebut, memanfaatkan bahan-bahan lokal yang tersedia dengan teknik memasak yang sederhana namun sarat rasa. Pada awal kemunculannya, hidangan ini dikenal sebagai makanan rakyat jelata, sering dijajakan pada malam hari untuk menghangatkan tubuh setelah seharian bekerja. Penjual nasi grombyang biasanya menggunakan pikulan sederhana, berkeliling dari kampung ke kampung, menyajikan semangkuk nasi dengan kuah daging kerbau atau sapi yang gurih dan beraroma rempah.

Dalam catatan lisan masyarakat setempat, nasi grombyang diyakini telah ada sejak puluhan bahkan ratusan tahun lalu, berkembang secara alami tanpa campur tangan resep tertulis atau standar baku. Setiap penjual memiliki racikan bumbu yang sedikit berbeda, namun tetap mempertahankan ciri utama berupa kuah bening kecokelatan, nasi putih hangat, serta potongan daging yang empuk. Keberadaan nasi grombyang pada masa lalu juga berkaitan erat dengan tradisi konsumsi daging kerbau, yang pada waktu itu lebih umum digunakan dibandingkan daging sapi. Kerbau dianggap sebagai hewan pekerja sekaligus sumber pangan, dan dagingnya dimanfaatkan secara maksimal, termasuk bagian-bagian yang jarang digunakan dalam masakan modern.

Bahan pembuat nasi grombyang mencerminkan kesederhanaan sekaligus kekayaan rempah Nusantara. Komponen utamanya terdiri atas nasi putih, daging kerbau atau sapi, kuah kaldu, serta aneka bumbu dan rempah tradisional. Nasi yang digunakan biasanya adalah nasi putih pulen yang baru matang, karena teksturnya yang hangat dan lembut menjadi penyeimbang kuah yang kaya rasa. Daging dipilih dari bagian yang tidak terlalu berlemak namun memiliki serat yang cukup, sehingga setelah dimasak lama akan menghasilkan tekstur empuk tanpa kehilangan cita rasa alaminya. Dalam praktik tradisional, daging direbus dalam waktu lama untuk menghasilkan kaldu yang jernih dan kuat.

Rempah-rempah yang digunakan dalam nasi grombyang antara lain bawang merah, bawang putih, ketumbar, lengkuas, jahe, daun salam, dan sedikit gula merah. Beberapa penjual juga menambahkan kluwek dalam jumlah kecil untuk memperkaya warna dan rasa kuah, meskipun tidak semua resep menggunakannya. Garam digunakan secukupnya untuk menyeimbangkan rasa, sementara cabai disajikan terpisah dalam bentuk sambal, sehingga tingkat kepedasan dapat disesuaikan dengan selera masing-masing penikmat. Keseluruhan bahan ini diracik dengan prinsip keseimbangan, tidak ada rasa yang terlalu dominan, melainkan saling melengkapi dalam harmoni rasa gurih, hangat, dan sedikit manis.

Proses pembuatan nasi grombyang dimulai dari tahap persiapan bahan, terutama daging dan rempah. Daging dibersihkan secara menyeluruh, kemudian direbus bersama air dalam jumlah cukup besar untuk menghasilkan kaldu. Perebusan dilakukan dengan api kecil dan waktu yang panjang, bertujuan untuk mengekstraksi rasa alami daging sekaligus membuat teksturnya menjadi empuk. Selama proses ini, busa atau kotoran yang muncul di permukaan air rebusan dibuang agar kuah tetap jernih. Tahap ini merupakan kunci utama dalam menghasilkan kuah nasi grombyang yang bening namun kaya rasa.

Sementara daging direbus, bumbu halus disiapkan dengan cara ditumbuk atau diulek secara tradisional. Bawang merah, bawang putih, dan ketumbar dihaluskan hingga membentuk pasta, kemudian ditumis dengan sedikit minyak hingga harum. Penumisan bumbu tidak bertujuan untuk mengeringkan atau menggelapkan warna, melainkan sekadar mengeluarkan aroma dan memperdalam rasa. Setelah bumbu matang, tumisan tersebut dimasukkan ke dalam rebusan daging, disertai dengan tambahan lengkuas, jahe, dan daun salam. Kuah kemudian dimasak kembali hingga bumbu menyatu sempurna dengan kaldu.

Tahap berikutnya adalah penyesuaian rasa, yang dilakukan secara bertahap dan penuh kehati-hatian. Garam dan gula merah ditambahkan sedikit demi sedikit sambil terus dicicipi. Dalam tradisi memasak nasi grombyang, proses mencicipi dianggap sebagai bentuk kepekaan rasa yang hanya dapat diperoleh melalui pengalaman panjang. Tidak ada takaran pasti, karena setiap bahan memiliki karakter berbeda tergantung kualitas dan asalnya. Kuah yang ideal adalah kuah yang terasa gurih, hangat, dan ringan, tanpa rasa lemak berlebihan atau aroma rempah yang terlalu tajam.

Penyajian nasi grombyang menjadi ciri khas tersendiri yang membedakannya dari hidangan nasi berkuah lainnya. Nasi putih ditempatkan dalam mangkuk, kemudian disiram dengan kuah dalam jumlah banyak hingga nasi tampak “tenggelam”. Potongan daging diletakkan di atas nasi, disertai taburan bawang goreng sebagai penambah aroma dan tekstur. Sambal disajikan terpisah atau ditambahkan langsung sesuai permintaan pembeli. Dalam penyajian tradisional, nasi grombyang sering dinikmati selagi panas, terutama pada malam hari, untuk memberikan efek menghangatkan tubuh.

Dalam konteks budaya, nasi grombyang memiliki makna yang melampaui aspek kuliner. Hidangan ini menjadi bagian dari ritme kehidupan masyarakat Pemalang, hadir dalam keseharian sebagai makanan malam, sajian setelah bekerja, atau hidangan untuk berkumpul bersama keluarga dan tetangga. Keberadaannya di warung-warung sederhana dan lapak kaki lima mencerminkan sifat inklusifnya, dapat dinikmati oleh siapa saja tanpa memandang latar belakang sosial. Nasi grombyang juga sering menjadi simbol kerinduan bagi perantau asal Pemalang, mengingatkan pada kampung halaman dan kehangatan suasana desa.

Seiring perkembangan zaman, nasi grombyang mengalami berbagai penyesuaian tanpa kehilangan identitas dasarnya. Penggunaan daging sapi menjadi lebih umum seiring berkurangnya konsumsi daging kerbau, sementara teknik memasak tetap mempertahankan prinsip tradisional. Beberapa penjual mulai menambahkan variasi pelengkap, seperti sate atau gorengan, untuk menarik minat generasi muda. Meski demikian, esensi nasi grombyang sebagai hidangan sederhana dengan kuah melimpah dan rasa autentik tetap dijaga.

Keberlanjutan nasi grombyang sebagai warisan kuliner sangat bergantung pada peran generasi penerus dalam menjaga resep dan teknik memasaknya. Di tengah arus modernisasi dan globalisasi makanan, nasi grombyang menjadi contoh bagaimana kuliner lokal dapat bertahan melalui adaptasi yang bijak. Pelestarian tidak selalu berarti mempertahankan bentuk lama secara kaku, melainkan memahami nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dan menerjemahkannya ke dalam konteks masa kini.

Dengan demikian, nasi grombyang khas Pemalang bukan sekadar sajian nasi berkuah, melainkan representasi sejarah, budaya, dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dari asal-usulnya yang sederhana, bahan-bahan lokal yang digunakan, hingga proses pembuatan yang sarat pengalaman, nasi grombyang menghadirkan narasi panjang tentang hubungan manusia dengan lingkungan, tradisi, dan rasa. Hidangan ini menjadi bukti bahwa kuliner dapat berfungsi sebagai arsip hidup, menyimpan cerita masa lalu sekaligus menjadi jembatan menuju masa depan.

Foto: https://gofood.co.id/tegal/restaurant/nasi-grombyang-pak-uguh-jl-kapten-sudibyo-no-110-2d1e14da-fa2f-4701-9277-d604424cd1a5

Nasi Lengko

Nasi lengko merupakan salah satu kuliner tradisional khas Cirebon dan wilayah sekitarnya di Jawa Barat yang memiliki karakter unik dibandingkan dengan hidangan nasi lainnya di Nusantara. Hidangan ini dikenal sebagai makanan sederhana yang berbasis nasi putih dan aneka lauk nabati, disajikan dengan bumbu kacang yang gurih serta siraman kecap manis. Kesederhanaan nasi lengko justru menjadi kekuatannya, karena mencerminkan pola konsumsi masyarakat agraris dan pesisir yang mengutamakan keseimbangan gizi, keterjangkauan bahan, serta keharmonisan rasa. Dalam konteks budaya kuliner Indonesia, nasi lengko sering dipandang sebagai representasi kearifan lokal yang mengedepankan pemanfaatan bahan pangan sehari-hari tanpa menghilangkan nilai kelezatan.

Secara historis, nasi lengko tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat Cirebon sebagai makanan rakyat yang akrab dengan kehidupan sehari-hari. Cirebon sebagai wilayah pertemuan budaya Sunda dan Jawa turut memengaruhi karakter kulinernya, termasuk nasi lengko yang mencerminkan perpaduan tersebut. Hidangan ini diyakini muncul dari kebiasaan masyarakat mengonsumsi nasi dengan lauk sederhana seperti tahu, tempe, dan sayuran segar, yang kemudian diperkaya dengan saus kacang dan kecap manis. Keberadaan nasi lengko juga tidak terlepas dari kondisi sosial-ekonomi masyarakat masa lalu, di mana makanan yang murah, mengenyangkan, dan bergizi menjadi kebutuhan utama.

Dari segi komposisi, nasi lengko memiliki ciri khas berupa dominasi bahan nabati. Nasi putih menjadi elemen utama sebagai sumber karbohidrat, disajikan dalam porsi sedang. Lauk pelengkap biasanya terdiri atas tahu goreng dan tempe goreng yang dipotong kecil-kecil, memberikan sumber protein nabati yang cukup. Selain itu, irisan mentimun segar dan tauge rebus atau mentah kerap ditambahkan untuk memberikan sensasi segar sekaligus meningkatkan kandungan serat. Beberapa variasi juga menyertakan daun kucai atau seledri yang diiris halus sebagai penambah aroma.

Bumbu kacang merupakan komponen penting yang menentukan karakter rasa nasi lengko. Bumbu ini umumnya dibuat dari kacang tanah goreng yang dihaluskan, dicampur dengan bawang putih, cabai rawit, garam, dan sedikit air hingga mencapai kekentalan yang diinginkan. Berbeda dengan bumbu kacang pada sate atau gado-gado, bumbu kacang nasi lengko cenderung lebih ringan dan tidak terlalu pekat. Keistimewaan lainnya adalah penggunaan kecap manis yang disiramkan di atas hidangan, menciptakan perpaduan rasa gurih, manis, dan sedikit pedas yang khas.

Dalam proses penyajian tradisional, nasi lengko biasanya disusun dengan nasi putih sebagai alas, kemudian ditata tahu dan tempe goreng di atasnya. Sayuran segar diletakkan sebagai pelengkap, lalu seluruh sajian disiram dengan bumbu kacang dan kecap manis secukupnya. Taburan bawang goreng sering ditambahkan untuk memberikan aroma harum dan tekstur renyah. Penyajian yang sederhana ini mencerminkan filosofi kuliner nasi lengko yang tidak berlebihan, namun tetap memperhatikan keseimbangan rasa dan tekstur.

Dari perspektif gizi, nasi lengko dapat dikategorikan sebagai hidangan yang relatif seimbang. Kandungan karbohidrat dari nasi berpadu dengan protein nabati dari tahu dan tempe, serta vitamin dan mineral dari sayuran segar. Bumbu kacang menyumbang lemak nabati yang cukup, sementara kecap manis memberikan energi tambahan. Kombinasi ini menjadikan nasi lengko sebagai pilihan makanan yang tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga cukup bergizi, terutama bagi masyarakat yang mengandalkan sumber protein nabati dalam pola makan sehari-hari.

Nasi lengko juga memiliki dimensi sosial dan budaya yang kuat. Hidangan ini sering dijumpai di warung-warung kecil, pasar tradisional, hingga dijajakan oleh pedagang kaki lima. Keberadaannya di ruang-ruang publik tersebut menjadikan nasi lengko sebagai makanan yang inklusif, dapat dinikmati oleh berbagai lapisan masyarakat tanpa memandang latar belakang sosial. Dalam berbagai acara keluarga atau kegiatan komunitas, nasi lengko kerap disajikan sebagai menu sederhana yang akrab dan mudah diterima oleh semua kalangan.

Seiring perkembangan zaman, nasi lengko mengalami berbagai adaptasi tanpa meninggalkan identitas dasarnya. Beberapa penjual menambahkan lauk lain seperti telur rebus, telur goreng, atau kerupuk sebagai pelengkap. Ada pula yang memodifikasi bumbu kacang dengan tingkat kepedasan yang lebih tinggi untuk menyesuaikan selera konsumen modern. Meskipun demikian, esensi nasi lengko sebagai hidangan berbasis bahan nabati dengan cita rasa sederhana tetap dipertahankan.

Dalam konteks pariwisata kuliner, nasi lengko memiliki potensi besar sebagai ikon kuliner daerah Cirebon. Hidangan ini kerap diperkenalkan kepada wisatawan sebagai contoh makanan tradisional yang mencerminkan kesahajaan dan kearifan lokal masyarakat setempat. Melalui promosi yang tepat, nasi lengko tidak hanya berfungsi sebagai makanan, tetapi juga sebagai medium untuk memperkenalkan nilai-nilai budaya dan sejarah Cirebon kepada khalayak yang lebih luas.

Secara keseluruhan, nasi lengko merupakan manifestasi dari filosofi kuliner yang mengedepankan kesederhanaan, keseimbangan, dan keberlanjutan. Dengan bahan-bahan yang mudah diperoleh, proses penyajian yang tidak rumit, serta rasa yang bersahabat, nasi lengko mampu bertahan sebagai bagian penting dari identitas kuliner Cirebon. Keberadaannya hingga kini menunjukkan bahwa makanan tradisional tidak harus mewah untuk memiliki nilai budaya yang tinggi, melainkan cukup dengan kejujuran rasa dan kedekatan dengan kehidupan masyarakat sehari-hari.

Foto: https://kabarcirebon.pikiran-rakyat.com/intermezo/pr-2938111765/rekomendasikan-3-tukang-jualan-nasi-lengko-legenda-di-cirebon

Nasi Jamblang

Nasi jamblang merupakan salah satu kuliner tradisional khas Cirebon yang memiliki posisi penting dalam khazanah gastronomi Nusantara karena tidak hanya berfungsi sebagai pemenuh kebutuhan pangan, tetapi juga sebagai representasi identitas budaya lokal. Hidangan ini dikenal luas karena penyajiannya yang unik menggunakan daun jati sebagai alas nasi serta sistem penyajian prasmanan yang memungkinkan konsumen memilih lauk sesuai selera, yang menurut Suryadi (2018) mencerminkan adaptasi budaya masyarakat pesisir terhadap kondisi sosial dan lingkungan sekitarnya. Keberadaan nasi jamblang dengan demikian tidak hanya merepresentasikan kekayaan rasa, tetapi juga memuat nilai sejarah, sosial, dan kearifan lokal yang berkembang sejak masa kolonial.

Dalam kajian kuliner tradisional, nasi jamblang sering dipandang sebagai simbol hubungan erat antara makanan dan konteks sosial-budaya masyarakat pendukungnya, di mana makanan berfungsi sebagai medium ekspresi budaya. Keunikan nasi jamblang tidak terletak pada satu jenis lauk tertentu, melainkan pada keragaman lauk yang disajikan secara bersamaan—mulai dari olahan daging, ikan, telur, hingga sayuran—yang menurut Rachman (2016) mencerminkan pola konsumsi masyarakat pesisir yang adaptif terhadap berbagai sumber pangan lokal. Keragaman ini menunjukkan bahwa nasi jamblang merupakan produk budaya yang terbentuk melalui interaksi panjang antara manusia dan lingkungannya.

Lebih jauh, nasi jamblang juga menunjukkan bagaimana tradisi kuliner mampu bertahan dan beradaptasi di tengah perubahan zaman, terutama ketika tradisi tersebut terus dikontekstualisasikan ulang. Di era modern, nasi jamblang tidak hanya dikonsumsi oleh masyarakat lokal, tetapi juga berkembang menjadi daya tarik wisata kuliner yang menarik minat wisatawan domestik maupun mancanegara, sehingga menurut Kurniawan (2021) menjadikannya objek kajian yang relevan dalam studi budaya dan pariwisata kuliner.
 
Asal Usul dan Sejarah Nasi Jamblang
Secara historis, nasi jamblang berasal dari Desa Jamblang, sebuah wilayah di Kabupaten Cirebon yang menjadi cikal bakal penamaan hidangan ini dan berperan penting dalam sejarah perkembangannya. Pada masa penjajahan Belanda, nasi jamblang dikenal sebagai makanan yang disiapkan untuk para pekerja rodi yang membangun infrastruktur kolonial seperti jalan raya dan jalur transportasi, di mana Rachman (2016) menjelaskan bahwa sifatnya yang praktis dan mudah dibagikan menjadikannya pilihan utama dalam sistem kerja paksa. Dalam konteks ini, nasi jamblang berfungsi sebagai makanan fungsional yang menunjang keberlangsungan aktivitas kerja berat.

Penggunaan daun jati sebagai pembungkus nasi memiliki latar belakang historis dan ekologis yang kuat, karena daun jati dipilih berdasarkan ketersediaannya di lingkungan sekitar serta karakteristiknya yang lebar dan aromatik. Menurut Widyastuti (2019), daun jati mampu menjaga nasi tetap hangat sekaligus memberikan aroma khas yang memperkaya pengalaman konsumsi, sehingga pemanfaatannya mencerminkan kearifan lokal masyarakat Cirebon dalam mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan.

Seiring berjalannya waktu, nasi jamblang tidak lagi terbatas sebagai makanan pekerja, melainkan berkembang menjadi hidangan rakyat yang dikonsumsi oleh berbagai lapisan masyarakat. Transformasi fungsi ini, sebagaimana dikemukakan oleh Suharto (2017), menunjukkan dinamika sosial dalam tradisi kuliner, di mana makanan yang awalnya bersifat fungsional kemudian memperoleh nilai simbolik dan identitas budaya yang lebih luas.

Komposisi dan Bahan Utama Nasi Jamblang
Komposisi utama nasi jamblang terdiri atas nasi putih yang disajikan menggunakan daun jati serta aneka lauk pauk yang beragam, yang bersama-sama membentuk karakter khas hidangan ini. Nasi yang digunakan umumnya adalah nasi putih biasa, namun aroma daun jati yang menyertainya memberikan karakter rasa tersendiri yang membedakannya dari nasi pada umumnya, sebagaimana dijelaskan oleh Widyastuti (2019) bahwa elemen penyajian memiliki peran penting dalam membentuk pengalaman sensorik sebuah hidangan.

Lauk pauk nasi jamblang sangat beragam, di antaranya sambal goreng, telur balado, tempe goreng, tahu, ikan asin, cumi hitam, paru goreng, hingga sate kentang, yang masing-masing memiliki cita rasa khas. Keragaman lauk ini, menurut Suryana (2020), mencerminkan keterbukaan tradisi kuliner Cirebon terhadap berbagai pengaruh budaya, baik dari lingkungan pesisir maupun agraris di wilayah sekitarnya.

Selain itu, penggunaan bumbu yang kaya rempah menjadi ciri khas nasi jamblang dan memperkuat identitas rasanya. Rempah-rempah seperti bawang merah, bawang putih, ketumbar, lengkuas, dan cabai digunakan secara seimbang untuk menciptakan rasa gurih dan pedas yang khas, yang menurut Putri et al. (2020) menegaskan posisi nasi jamblang sebagai produk budaya hasil interaksi panjang antara manusia, alam, dan tradisi kuliner lokal.

Proses Penyajian dan Sistem Konsumsi
Proses penyajian nasi jamblang memiliki karakteristik unik yang membedakannya dari hidangan nasi tradisional lainnya, terutama melalui penerapan sistem prasmanan. Sistem ini memungkinkan konsumen mengambil nasi dan memilih lauk secara mandiri sesuai selera dan kemampuan ekonomi, yang menurut Suharto (2017) mencerminkan nilai egalitarianisme dalam budaya masyarakat Cirebon.

Daun jati yang digunakan sebagai alas nasi tidak hanya berfungsi sebagai pembungkus, tetapi juga sebagai elemen estetika dan identitas budaya. Aroma khas daun jati yang berpadu dengan nasi hangat menciptakan sensasi makan yang autentik, dan dalam kajian antropologi pangan Widyastuti (2019) menegaskan bahwa pengalaman makan ditentukan tidak hanya oleh rasa, tetapi juga oleh aroma, visual, dan simbolisme.

Sistem konsumsi nasi jamblang yang fleksibel juga memungkinkan hidangan ini diterima oleh berbagai lapisan masyarakat, baik lokal maupun wisatawan. Fleksibilitas tersebut, sebagaimana dikemukakan oleh Kurniawan (2021), menjadikan nasi jamblang sebagai kuliner yang inklusif dan adaptif terhadap berbagai konteks sosial.

Nilai Gizi dan Aspek Kesehatan
Dari perspektif gizi, nasi jamblang merupakan hidangan yang cukup lengkap karena mengandung karbohidrat, protein, dan lemak dalam satu sajian. Nasi sebagai sumber karbohidrat utama menyediakan energi, sementara lauk pauk seperti telur, ikan, dan daging menyumbang protein hewani dan nabati yang penting bagi tubuh, sebagaimana dijelaskan oleh Putri et al. (2020) dalam kajian gizi makanan tradisional Indonesia.

Namun demikian, beberapa jenis lauk nasi jamblang diolah dengan cara digoreng dan mengandung kadar lemak serta garam yang cukup tinggi. Konsumsi berlebihan terhadap jenis lauk tersebut, menurut Sari (2022), berpotensi meningkatkan risiko gangguan kesehatan sehingga perlu diimbangi dengan pilihan lauk yang lebih sehat serta konsumsi sayuran.

Dalam konteks modern, kesadaran akan pola makan sehat mendorong munculnya variasi nasi jamblang dengan pengolahan yang lebih ramah kesehatan. Adaptasi ini, sebagaimana dikemukakan oleh Hidayat (2022), menunjukkan bahwa tradisi kuliner dapat berkembang sejalan dengan pengetahuan gizi tanpa harus kehilangan identitas dasarnya.

Nasi Jamblang dalam Konteks Sosial dan Budaya
Nasi jamblang memiliki fungsi sosial yang kuat dalam kehidupan masyarakat Cirebon karena sering disajikan dalam acara keluarga, pertemuan sosial, dan kegiatan budaya. Melalui praktik makan bersama tersebut, menurut Suharto (2017), nasi jamblang berkontribusi dalam memperkuat ikatan sosial antarindividu.

Lebih dari itu, nasi jamblang juga menjadi simbol identitas lokal yang membedakan Cirebon dari daerah lain. Keberadaannya dalam festival kuliner dan promosi pariwisata, sebagaimana dijelaskan oleh Kurniawan (2021), menunjukkan peran strategis nasi jamblang sebagai representasi budaya daerah.

Dalam kajian budaya, makanan seperti nasi jamblang dipahami sebagai teks sosial yang merekam sejarah, nilai, dan dinamika masyarakat. Setiap elemen dalam nasi jamblang—mulai dari bahan, cara penyajian, hingga pola konsumsi—menurut Suryadi (2018) mengandung makna simbolik yang mencerminkan kehidupan sosial masyarakat pendukungnya.

Foto: https://jadesta.kemenparekraf.go.id/paket/nasi_jamblang
Sumber:
Hidayat, R. 2022. Inovasi kuliner tradisional di era modern. Bandung: Humaniora.
Kurniawan, D. (2021). Kuliner tradisional sebagai identitas budaya daerah. Jurnal Budaya Nusantara, 5(2), 112–125.
Putri, A. R., Santoso, B., & Lestari, M. 2020. Analisis gizi makanan tradisional Indonesia. Jurnal Gizi dan Pangan, 15(1), 45–53.
Rachman, A. 2016. Sejarah kuliner Cirebon. Bandung: Balai Pustaka.
Sari, M. 2022. Pola konsumsi lemak dan implikasi kesehatan. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 17(2), 89–101.
Suharto, E. 2017. Makanan tradisional sebagai media interaksi sosial. Jurnal Sosiologi, 9(1), 67–80.
Suryadi, A. 2018. Budaya kuliner pesisir Jawa. Jakarta: Balai Pustaka.
Suryana, Y. 2020. Pelestarian kuliner tradisional di era globalisasi. Jurnal Pariwisata Budaya, 4(2), 89–101.
Widyastuti, L. 2019. Kearifan lokal dalam pengemasan makanan tradisional. Jurnal Teknologi Pangan, 14(2), 133–145.

Nyaplak

Dalam proses pengolahan pertanian lahan basah (sawah) di daerah Jawa Barat ada istilah yang dinamakan nyaplak atau membuat garis-garis sebagai batas tanam bibit padi. Nyaplak dilakukan setelah ngangler dan ngagaru. Ngangler adalah menghancur-lembutkan tanah yang masih berbongkah-bongkah dengan menggunakan pacul, sementara ngagaru adalah proses merata-haluskannya menggunakan garu dengan tujuan agar air betul-betul meresap ke dalam tanah hingga menyerupai lumpur.

Sawah yang wujudnya mirip seperti lumpur kemudian disurutkan airnya hingga tanah dalam kondisi macak-macak (tidak terlalu basah dan tidak terlalu kering). Proses ini dinamakan nyataan dan hanya memerlukan cangkul atau cukup dengan tangan untuk membuat celah pada galengan sebagai jalan keluar air. Bila sawah dianggap telah macak-macak, maka mulailah tahap nyaplak dilakukan dengan membuat garis-garis membujur dan melintang hingga membentuk pola bujur sangkar kecil-kecil seperti lantai keramik berukuran 25x25 cm atau 27x27 centimeter, bergantung pada tingkat kesuburan tanah. Pada tanah yang relatif subur, jarak polanya berukuran 27x27 centimeter, sedangkan tanah yang tidak begitu subur jaraknya dibuat agak kecil menjadi 25x25 centimeter. Alat yang digunakan untuk membuat pola disebut caplak, bentuknya hampir menyerupai sosorog hanya bagian bawahnya dibuat dibuat seperti sisir.

Ngangler dan Ngagaru

Ngangler dan ngagaru adalah salah satu tahap dalam proses pengolahan lahan persawahan di daerah Jawa Barat. Tahap ini dilaksanakan setelah ngacaian, nyacar, mopok, ngawalajar, dan mapag galeng (memperbaiki pematang atau galengan). Ngawalajar sendiri adalah proses membalikkan lapisan tanah agar tidak asam dan dapat terkena sinar matahari dengan menggunakan peralatan berupa cangkul, bajak, atau traktor (bergantung luas dan kemiringan tanah).

Apabila ngawalajar menggunakan traktor, maka proses ngangler dan ngagaru tidak perlu dilaksanakan karena tanah sudah rata dan berbentuk seperti lumpur. Namun, bila ngawalajar menggunakan bajak bertenaga munding (kerbau), setelah proses mapak galeng selesai dilanjutkan dengan ngangler untuk menghancurkan atau melembutkan tanah yang masih berbongkah-bongkah dengan menggunakan pacul. Tujuan dari ngangler agar tahap berikutnya (ngagaru) dapat dilakukan dengan mudah, karena tidak mungkin ngagaru dilakukan pada tanah yang berbongkah-bongkah. Tahap ini biasanya dilakukan sehari setelah mapag galeng dengan tujuan agar air dapat betul-betul meresap ke dalam tanah, sehingga pencangkulan dapat dilakukan dengan mudah.

Setelah tanah tidak lagi berbongkah-bongkah, proses selanjutnya adalah merata-haluskannya menggunakan garu, sehingga prosesnya dinamakan ngagaru. Garu adalah sebuah alat persegi panjang dengan ujung menyerupai sisir. Pada salah satu sisi garu diberi tangkai dengan arah agak mencuat ke atas untuk disambungkan pada pasangan agar dapat ditarik kerbau. Prosesnya dilakukan dua kali karena ngagaru pertama hasilnya tidak akan betul-betul rata dan halus. Ngagaru kedua dilakukan pada hari kedua sampai ke empat setelah ngagaru pertama dengan tujuan agar air betul-betul meresap ke dalam tanah hingga menyerupai lumpur.
Garu
Pada ngagaru kedua ini posisi garu agak digeser sedikit, sehingga “gigi-gigi”-nya tidak berada pada bekas garu-an pertama agar hasilnya lebih rata dan halus. Adapun alatnya juga dapat menggunakan sosorog. Alat ini terbuat dari sebilah papan kayu berbentuk empat persegi panjang dan diberi tangkai pegangan agak panjang sebagai pegangannya. Cara kerjanya hanyalah dengan mendorong-dorongkannya pada permukaan tanah hingga permukaannya menjadi rata. Dan, apabila proses ngagaru telah selesai, lahan yang belum ditanami padi dapat pula dimanfaatkan untuk memelihara ikan mas hingga menjelang masa tandur.
Sosorog

Ngawalajar

Ngawalajar adalah istilah orang Sunda bagi suatu proses membalikkan lapisan tanah agar tidak asam dan dapat terkena sinar matahari. Ngawalajar merupakan salah satu dari rangkaian dalam proses pengolahan lahan persawahan. Tahap ini mulai dilaksanakan setelah nyacar atau pembersihan jerami bekas panen pada tanah sawah yang telah tergenang air.

Setelah jerami mulai membusuk dan air yang menggenai sawah mulai surut, mulailah tahap ngawalajar dengan menggunakan peralatan berupa cangkul, bajak, atau traktor (bergantung pada luas dan kemiringan tanah). Pada sawah yang tidak begitu luas dan atau berada pada kemiringan relatif tinggi, maka ngawalajar hanya menggunakan cangkul. Sedangkan pada lahan sawah berukuran sedang hingga luas dan kontur tanahnya relatif datar dapat menggunakan bajak tenaga hewan atau bajak mesin (hand tractor).

Apabila menggunakan cangkul atau pacul yang pekerjaannya disebut macul, maka tanah dibalik memakai pacul lalu diinjak-injak agar bongkahan tanah dapat hancur dan terendam air. Pekerjaan macul ini dilakukan pada sawah yang luasnya relatif kecil dan berbentuk terasiring (berundak-undak) karena berada di sekitar kaki gunung yang konturnya tidak rata, sehingga hanya perlu satu hingga empat orang petani laki-laki untuk mengerjakannya. Selain tidak terlalu luas, kontur tanah yang tidak rata dan bahkan ada yang memiliki kemiringan tinggi tidak memungkinkan petani menggunakan bajak tenaga hewan atau mesin (traktor).

Ngacaian

Ngacaian adalah istilah orang Sunda bagi tahap pertama dalam pengolahan lahan sawah. Tahap lainnya adalah nyacar, mopok, ngawalajar, ngagaru atau ngangler, ngacak, ngararata, nyataan dan nyaplak. Ngacaian atau dapat diartikan sebagai ngeu’eum atau “merendam”, yaitu merendam atau memberi air pada lahan sawah yang akan digarap (dikerjakan). Tujuannya, agar tanah menjadi gembur sehingga mempermudah proses pencangkulan dan pembajakan. Sawah yang setelah panen tidak segera dikeu’em atau dicaian mudah mengeras dan akan menguras banyak tenaga untuk mencangkulnya. Dalam proses yang dilakukan setelah panen ini sawah diairi hingga seluruh permukaannya tertutup oleh air. Kemudian, sawah dibiarkan begitu saja selama beberapa hari agar air yang menggenangi sawah tersebut susut (terserap ke dalam tanah).

Nyacar

Nyacar adalah istilah orang Sunda bagi tahap kedua dalam pengolahan lahan sawah (setelah ngacaian). Tahap lainnya adalah ngacaian, mopok, ngawalajar, ngagaru atau ngangler, ngacak, ngararata, nyataan dan nyaplak. Nyacar adalah proses pembersihan jerami bekas panen pada tanah sawah yang telah tergenang air. Dalam proses nyacar jerami yang masih tertanam di tanah dipotong menggunakan arit dan congkrang yang pengerjaannya dilakukan oleh kaum laki-laki. Bagi petani yang memiliki ternak sapi, kerbau atau domba, potongan jerami tersebut dapat dimanfaatkan sebagai makanan ternaknya. Namun, jika tidak digunakan untuk pakan ternak, maka potongan jerami itu ditumpuk dan dibiarkan begitu saja selama satu hingga dua minggu agar busuk dan menjadi pupuk.

Nandur

Nandur adalah istilah petani di Jawa Tengah bagi aktivitas menanam di ladang maupun sawah. Pada aktivitas di tanah pertanian basah (sawah), sebelum nandur dilakukan, para petani telah mempersiapkan biji padi yang dijadikan benih. Caranya, ketika panen, padi yang direncanakan untuk dijadikan benih dipisahkan. Kemudian, padi tersebut dijemur dan disimpan ditempat terpisah dari padi-padi lainnya. Biasanya ditaruh bergantungan di ruang dapur selama kurang lebih satu bulan. Hal itu dimaksudkan di samping untuk menghindari hama tikus, juga agar padi betul-betul kering. Selanjutnya, padi dipilih yang cabang batangnya hanya berisi sebutir padi. Butir padi yang demikian disebut “Pari Fatimah” atau “Sri Sedene”. Butir padi yang demikian bagus dijadikan benih karena mudah hidup. Tentunya pemilihan itu tidak secara satu persatu (setiap batang padi) melainkansetiap ikatan padi. Selanjutnya, ikatan padi dilepaskan dari batangnya dengan cara diinjak-injak agar butir padi yang lepas dari batangnya tidak rusak atau pecah. Seteleh itu, butir padi ditampi agar butir yang tidak berisi tersisih. Kemudian, yang bernas (berisi) dimasukkan dalam wadah terbuat dari tembikar, diberi air secukupnya, dan dibiarkan selama dua hari dua malam. Selanjutnya, dicuci dan dimasukkan ke dalam wadah terbuat dari anyaman bambu yang dialasi dan ditutup dengan daun pisang. Kemudian, dibiarkan selama dua hari dua malam. Benih tersebut selanjutnya ditebarkan pada persemaian yang telah dipersiapkan sebelumnya (biasanya di bagian pojok sawah) untuk mempermudah pemeliharaan dan sekaligus pencabutan. Ketika benih yang berumur 22 hari (biasanya tingginya sudah mencapai 20 centimenter), kemudian dicabut dan diikat untuk dipindahkan ke areal sawah yang akan ditanami. Peletakkannya dilakukan secara tersebar (tidak terpusat pada suatu tempat agar mempermudah penanaman (nandur).

Nandur pada beberapa masyarakat petani Jawa tidak dilakukan secara sembarangan, tetapi melalui perhitungan-perhitungan tertentu dengan tujuan agar tanaman tumbuh subur dan terhindar dari berbagai macam hama. Pada masyarakat Pemalang misalnya, acuan yang digunakan adalah “wit, godong, tibe, woh” yang perhitungannya didasarkan pada jumlah nilai hari dan pasaran. Hari Ahad (Minggu) bernilai 5, Senen (Senin) bernilai 4, Slasa (Selasa) bernilai 3, Rebo (Rabu) benilai 7, Kemis (Kamis) bernilai 8, Jemuah (Jumat) bernilai 6, dan Setu (Sabtu) bernilai 9. Sedangkan, pasaran yang jumlahnya ada lima (Paing, Pon, Wage, Kliwon, dan Manis) masing-masing nilainya adalah sebagai berikut: Pahing bernilai 9, Pon bernilai 7, Wage bernilai 4, Kliwon bernilai 8, dan Manis/Legi bernilai 5. Dalam nandur jumlah antara nilai hari dan nilai pasaran diusahakan agar jatuh pada wit (pohon) atau godong (daun). Misal Senen Pahing; Senen bernilai 4 dan Pahing bernilai 9. Dari nilai hari (Senin) dan pasaran (Paing) dapat diketahui jumlahnya, yaitu 13. Jumlah tersebut dihitung secara urut dan berulang berdasarkan acuan wit, godhong, tibe, woh (1=wit, 2=godong, 3=tibe, 4=woh, 5=wit, 6=godhong, 7=tibe, 8=woh, 9=wit, 10=gohdong, 11=tibe, 12=woh, dan 13=wit.

Selain melalui perhitungan hari, nandur juga memperhatikan pranata mangsa, yaitu: kapat, kanem, kepitu, kesanga. Setiap mangsa lamanya 3 bulan. Mangsa kapat ditandai dengan tumbuhnya dedaunan; mangsa kanem ditandai dengan angin dan hujan (rendeng), uler, keper, tikus. Mangsa kepitu ditandai hujan sehari-hari (rendeng), keper. Mangsa kesanga (musim ketiga).Mangsa yang tepat untuk penanduran adalah kapat karena pada masa ini biasanya pepohonan mrintis (dedaunannya bertumbuhan). Jadi, diusahakan jangan sampai mangsa kesanga karena bertepatan dengan musim kemarau.

Namping

Namping adalah istilah petani di Jawa Tengah bagi sebuah ahap dalam proses pengolahan lahan pertanian tanah basah (sawah). Namping dilakukan setelah sawah dibalik tanahnya dengan menggunakan luku (ngluku) dengan diperbaiki dan atau diluruskan dengan cangkul sepanjang tepian sawah (pematang). Kegiatan yang biasanya dilakukan 4 hari setelah ngluku ini dalam satu bau (kurang lebih 0,5 hektar) tenaga yang diperlukan sejumlah 4 orang. Mereka bekerja mulai dari pukul 07.00-01.00 WIB. Menjelang tengah hari biasanya mereka dikirimi makanan dan minuman yang oleh masyarakat setempat disebut kojong. Tujuan namping di samping pematang sawah kelihatan lurus dan rapih, lubang yuyu (sejenis kepiting) dan atau tikus dapat tertutup. Selain itu, yang tidak kalah pentingnya adalah agar mudah dilalui.

Nggaru

Dalam proses pengolahan lahan pertanian padi (sawah) pada masyarakat Pemalang, Jawa Tengah, ada istilah yang dinamakan sebagai nggaru. Nggaru sendiri adalah proses merata-haluskan tanah setelah dicangkul. Hasil Cangkulan biasanya hanya untuk membalikkan dan meratakan tanah, tetapi tidak betul-betul rata dan halus. Tanah perlu dirata-haluskan atau dinggaru dengan alat yang disebut garu, sebuah alat berbentuk menyerupai sisir. Penggaruan dilaksanakan secara bertahap. Tahap pertama (nggaru sepisan) hasilnya tidak betul-betul rata dan halus. Baru setelah tahap kedua (nggaru pindo) tanah menjadi halus dan rata setelah posisi garu digeser sedikit, sehingga “gigi-gigi”-nya tidak berada pada bekas garu-an yang pertama. Nggaru pindo ini biasanya dilakukan pada hari kedua sampai ke empat setelah nggaru sepisan. Dan, apabila proses penggaruan selesai, tahap berikutnya adalah nandur atau menanam bibit padi.

Nalih

Nalih adalah wadah sejenis bakul yang mempunyai pegangan berfungsi sebagai tempat penyimpanan sementara hasil kebun atau ladang seperti lada dan kopi. Wadah ini dibuat dari anyaman bambu atau rontan yang dibentuk sedemikian rupa dengan memakai pegangan untuk dapat diangkat dengan tangan. Pada masyarakat pedesaan Lampung Nalih umumnya dibuat sendiri dan bukan dibeli di pasar tradisional.

Nggoet

Nggoet adalah istilah orang Manggarai di Nusa Tenggara Timur bagi sebuah wadah berbentuk keranjang pengangkut bulir padi hasil pengetaman. Nggoet terbuat dari bambu wuluh muda (berumur sekitar satu tahun). Bambu ini ada yang dibelah dan dihaluskan sebagai penyangga/kerangka nggoet dengan ukuran antara 1-1,5 centimeter dan ada pula yang dianyam membentuk sebuah keranjang. Pekerjaan membelah bambu umumnya dilakukan kaum laki-laki, sedangkan proses menganyamnya oleh kaum perempuan.

Apabila nggoet telah terbentuk, proses selanjutnya adalah mengeringkan dengan cara dijemur di panas mahatari selama beberapa hari. Nggoet hasil karya orang Manggarai ini memiliki volume bervariasi antara 2,5-5 kilogram. Adapun cara membawanya disandang di pinggang kiri ataupun kanan, bergantung pada kebiasaan si pembawanya menggunakan tangan mana ketika mengetam. Dan, agar tidak jatuh ketika disandang, pada bagian bilah bambunya diberi semacam tali untuk diikatkan di pinggang.

Nyallai Siwok

Indonesia kaya akan makanan tradisional yang diolah sedemikian rupa dengan cara dibakar, dipanggang, dikukus, dipepes, digoreng, dan diasapi untuk dikonsumsi sehari-hari maupun sebagai perlengkapan dalam upacara adat. Makanan tradisional, yang oleh globallavebookx.blogspot.co.id didefinisikan sebagai segala jenis olahan khas yang dipengarui oleh kebiasaan dan menyatu dalam sistem sosial budaya sehingga rasa, tekstur, dan aroma yang sesuai dengan lidah masyarakatnya, umumnya menggunakan berbagai macam bahan yang diperoleh dari lingkungan sekitar.

Salah satu bahan tersebut adalah beras ketan. Menurut Ramadhanny (2017), beras ketan termasuk dalam jenis padi-padian yang buahnya berwarna lebih putih serta berukuran lebih besar dan keras daripada jenis padi lain. Beras ketan mengandung 169 kalori (dalam 200 gram), vitamin B-6, dan zat tembaga yang berkhasiat dapat mengurangi resiko penyakit jantung, penabah energi, pelawan radikal bebas, penyeimbang metabolisme tubuh, mencegah anemia, memperlancar sistem pencernaan, membantu kesehatan otak, dan lain sebagainya.

Di Provinsi Lampung, tepatnya di Kabupaten Lampung Barat beras ketan disebut juga dengan siwok. Oleh masyarakat di sana siwok dapat dibuat menjadi berbagai macam penganan, seperti: segubai (dicampur dengan santan kelapa dan dibungkus daun pisang), bebay maghing (dicampur dengan kentang kukus, gula tepung, garam, santan, dan minyak goreng), tapol (dicampur dengan santan kelapa, daun pisang, dan bawang merah), bekhebus (dicampur pisang), tapai (dicampur ragi dan dibungkus daun pisang), jipang (dicampur gula, loba lobi, dan minyak goreng), dan juwadah (dicampur gula merah, gula pasir, santan, dan daun pandan) (keunikanbahasalampung.blogspot.co.id).

Khusus untuk warga di Kampungbaru, Pekon Wates, Kecamatan Balikbukit, Lampung Barat, ada sebuah tradisi unik dalam memproses siwok. Tradisi ini dinamakan sebagai nyallai siwok atau sangrai ketan. Menurut Saputra (2016), nyallai siwok merupakan salah satu tahapan dalam rangkaian upacara perkawinan. Bujang-gadis pasangan yang akan menikah diharuskan membuat nyallai yang berbahan siwok dan gula merah sebagai pedatong atau oleh-oleh bagi calon kerabat baru berdasar ikatan pernikahan. Nyallai (sangraian) yang dibuat oleh bujang disebut kakilu yang akan diberikan pada indau atau kawan akrabnya, sedangkan nyallai buatan sang gadis disebut babekhas akan diberikan kepada kelama atau calon ibu mertuanya. (gufron)

Sumber:
"Pengertian Makanan Tradisional atau Makanan Khas Menurut Ahli", diakses dari http://globallavebookx.blogspot.co.id/2015/04/pengertian-makanan-tradisional-atau.html, tanggal 29 Juli 2017.

Ramadhanny, Caesarra Nur. 2017. "Beras Ketan", diakses dari http://www.kerjanya.net/faq/18726-beras-ketan.html, tanggal 1 Agustus 2017.

Saputra, Edi. 2016. "Nyallai Siwok, Tradisi Masyarakat Asli Lampung Barat", diakses dari http://www.saibumi.com/artikel-79574-nyallai-siwok-tradisi-masyarakat-asli-lampung-barat-.html#ixzz4p1uTJlRU , tanggal 29 Juli 2017.

"Kue Khas Lampung yang terbuat dari Ketan (Siwok), diakses dari http://keunikanbahasalampung.blogspot.co.id/2013/05/kue-khas-lampung-yang-terbuat-dari.html, tanggal 2 Agustus 2017.

Nayuh

Nayuh adalah acara adat yang umumnya dilakukan oleh suatu keluarga besar ulun Lampung Saibatin ketika akan mengadakan khitanan, mendirikan rumah, pernikahan, dan lain sebagainya. Tujuan nayuh adalah untuk merundingkan dan mempersiapkan segala keperluan guna melangsungkan suatu upacara secara bersama-sama dalam sebuah keluarga besar. Jadi, sebelum upacara dilangsungkan seperti khitanan atau pernikahan, pihak keluarga besar akan bermusyawarah menyiapkan berbagai peralatan dan perlengkapannya, seperti: tandang bulung, kecambi, nyami buek, nyekhallai siwok, khambah babukha sappai di begalai, setukhuk (bahan-bahan mentah untuk dibuat penganan dan makanan), ngejappang (makanan yang sudah dimasak dan siap untuk dihidangkan), dan lain sebagainya.

Khusus untuk upacara pernikahan, selain barang-barang tersebut di atas, pihak keluarga besar juga akan memusyawarahkan barang-barang yang harus disediakan oleh calon mempelai laki-laki yang oleh orang Lampung Saibatin disebut himpun. Himpun ini nantinya akan dipertunjukan bersama dengan perangkat adat lain seperti pakaian adat di lamban dan di bah (arak-arakan) yang disesuaikan dengan adok atau status sosialnya dalam masyarakat.

Ngaseuk

Berladang merupakan salah satu bentuk pertanian (dalam arti luas). Dalam kebudayaan Sunda proses bercocok tanam di ladang para prinsipnya ada empat tahap, yaitu: pengolahan tanah, penanaman, pemeliharaan, dan penuaian (pemungutan hasil). Pada tahap pengolahan tanah terdiri atas ngaresik, nguyab, ngeprek, ngagaritan, ngalobang, dan ngaseuk.

Ngaseuk adalah membuat lubang sebagai tempat untuk memasukkan benih. Alat yang dipergunakan adalah sebatang kayu berbentuk menyerupai alu (alat penumbuh padi) yang salah satu ujungnya runcing, sehingga ketika ditusukkan ke tanah akan menghasilkan lubang.

Ngaberak

Ngaberak adalah istilah orang Sunda bagi kegiatan memberikan pupuk pada tanaman pertanian tanah basah (sawah). Kegiatan ini dilaksanakan pada saat nyacar dan setelah ngarambet kahiji serta ngarambet mindo. Ngaberak pada saat nyacar menggunakan pupuk organik dari kotoran hewan seperti kambing dan kerbau serta pupuk organik buatan pabrik. Adapun caranya adalah dengan membenamkannya ke dalam tanah bersamaan dengan jerami bekas panen yang sedang dicacar agar menjadi busuk.

Sementara untuk pemupukan pada saat ngarambet menggunakan pupuk kimia (anorganik) berupa Urea dan ZA atau NPK. Kedua jenis pupuk ini dapat dibeli dari Dinas Pertanian maupun toko-toko penyedia peralatan dan perlengkapan pertanian. Harga pupuk bergantung pada banyak tidaknya stok persediaan dan kondisi sosial politik di Indonesia. Caranya adalah dengan menebarkan pupuk secara merata agar tanah semakin gembur, sehingga anak tanaman bertambah banyak. Adapun jumlah takaran pemberian pupuknya bergantung pada luas lahan yang sedang digarap. Misalnya, satu hektar sawah memerlukan 1,5 kuintal orea dan 3 kuintal NPK untuk dua kali pemupukan. Pemupukan pertama yang dilaksanakan setelah ngarambet pertama ditebarkan sebanyak satu kuintal orea dan dua kuintal NPK. Sedangkan sisanya sebanyak 50 kilogram orea dan 1 kuintal NPK baru ditebarkan lagi ketika selesai ngarambet kedua. Alat pembawa pupuk buatan tidak ada kekhususan, cukup dengan dingkul atau wadah lainnya dan jika telah sampai di sawah maka pupuk buatan ini dipindahkan ke dalam wadah yang lebih kecil untuk kemudian ditebarkan. Untuk pupuk kandang dibawa pada carangka dengan cara dipikul.

Ngarambet

Ngarambet adalah istilah orang Sunda untuk kegiatan pembersihan rerumputan yang mengganggu pertumbuhan tanaman padi dengan cara menenggelamkannya ke dalam tanah agar busuk dan menjadi pupuk. Tahap ngarambet (menyiangi) dilakukan dua kali, yaitu pada saat umur padi 15-20 hari ke arah panjang lahan dan 35-40 hari ke arah lebar lahan. Sedangkan Pelaksanaan pekerjaannya dapat dilakukan juga dengan dua cara. Cara pertama, cukup dengan tangan tanpa bantuan alat, segala tanaman yang mengganggu dicabut kemudian ditenggelamkan ke dalam tanah. Cara kedua, menggunakan alat yang disebut gasrok.

Pemeliharaan tanaman padi dengan cara membersihan tanaman pengganggu tidak hanya dilakukan di sela-sela tanaman padi, tetapi juga pada tepian galengan atau pematang. Pembersihan rerumputan di tepian galengan ini bukan dinamakan ngarambet tetapi namping atau nyacar galeng atau ngabutik. Alat yang dipergunakan pun bukan gasrok melainkan parang atau arit dan dilakukan oleh petani laki-laki. (gufron)
Cara Pasang Tali Layangan agar Manteng di Udara
Topeng Monyet
Echoes of the Cosmic Groove – 1970s Psychedelic & Progressive Rock

Archive