Sejak usia belia, Gebar menunjukkan ketertarikan pada gambar dan bentuk. Ia kerap mencoret tanah, dinding, atau kertas seadanya dengan garis-garis spontan. Ketertarikan ini tumbuh secara alamiah tanpa bimbingan pendidikan seni formal. Dalam keluarganya, seni tidak dipahami sebagai profesi, melainkan sekadar aktivitas pengisi waktu. Namun justru dari keterbatasan itulah muncul kepekaan visual yang kuat, karena ia belajar langsung dari realitas sekitar, dari wajah-wajah lelah para petani hingga tubuh-tubuh yang bekerja dalam diam.
Memasuki usia remaja, perjalanan hidup Gebar berubah drastis akibat dinamika politik nasional pada pertengahan 1960-an. Pada usia sekitar 14 tahun, ia ditangkap dan dijadikan tahanan politik tanpa proses hukum yang jelas. Masa remajanya terhenti secara paksa, digantikan oleh kehidupan di balik jeruji besi. Peristiwa ini menjadi titik balik yang sangat menentukan, tidak hanya dalam perjalanan hidupnya sebagai individu, tetapi juga dalam pembentukan kesadaran artistik dan sikap ideologisnya terhadap kemanusiaan dan kekuasaan.
Selama masa penahanan yang berlangsung bertahun-tahun, termasuk di penjara berkeamanan tinggi seperti Nusa Kambangan, Gebar hidup dalam kondisi keras, penuh tekanan fisik dan psikis. Ia menyaksikan penderitaan sesama tahanan, kekerasan sistemik, serta hilangnya hak-hak dasar manusia. Dalam situasi inilah seni menjadi sarana bertahan hidup. Menggambar dan membentuk menjadi cara untuk menjaga kewarasan, menyimpan ingatan, dan menyalurkan emosi yang tidak mungkin diungkapkan secara verbal.
Pengalaman panjang sebagai tahanan politik membentuk karakter seni Gebar Sasmita yang jujur dan lugas. Ia tidak mengejar keindahan yang bersifat dekoratif, melainkan menekankan ekspresi pengalaman batin manusia. Dalam masa ini pula ia mulai mengenal karya-karya pelukis Indonesia seperti Hendra Gunawan, yang memberi pengaruh dalam pendekatan realisme sosial dan keberanian menampilkan figur manusia apa adanya. Meski demikian, Gebar tidak menjadi peniru, melainkan mengolah pengaruh tersebut sesuai dengan pengalaman hidupnya sendiri.
Setelah dibebaskan pada akhir dekade 1970-an, Gebar kembali ke masyarakat dengan membawa trauma sekaligus keteguhan sikap. Ia menghadapi stigma sosial sebagai mantan tahanan politik dan harus membangun kembali kehidupannya dari awal. Dalam kondisi yang serba terbatas, ia memilih seni sebagai jalan hidup. Melukis dan memahat menjadi aktivitas harian yang tidak hanya bersifat kreatif, tetapi juga terapeutik, sebagai upaya berdamai dengan masa lalu.
Pada dekade 1980 hingga 1990-an, Gebar mulai berkarya secara lebih intensif dan konsisten. Tema-tema kemanusiaan, penderitaan, dan ingatan sejarah menjadi benang merah dalam karya-karyanya. Figur manusia tampil dominan, sering kali dengan proporsi tubuh yang tidak ideal, wajah-wajah yang menegang, dan gestur yang menyiratkan beban hidup. Warna-warna kuat dan sapuan ekspresif digunakan bukan untuk memperindah, melainkan untuk menegaskan emosi.
Selain melukis, Gebar juga mengembangkan karya patung dan pahatan. Medium tiga dimensi memberinya ruang lain untuk mengeksplorasi pengalaman tubuh dan ruang. Patung-patungnya tampil kasar, minim polesan, dan cenderung menolak estetika yang halus. Bentuk-bentuk ini merepresentasikan tubuh manusia sebagai ruang luka dan ingatan, sekaligus sebagai simbol ketahanan hidup.
Meski tidak tinggal di pusat-pusat seni rupa nasional seperti Jakarta atau Yogyakarta, Gebar tetap konsisten berkarya dari daerah. Jarak geografis ini justru memberinya kebebasan dari tekanan pasar seni dan tren yang cepat berubah. Ia berkarya dengan ritme sendiri, setia pada pengalaman hidup dan nilai-nilai yang diyakininya. Dalam konteks ini, seni baginya bukan komoditas, melainkan kesaksian sejarah.
Memasuki era reformasi, karya-karya Gebar mulai mendapatkan perhatian lebih luas. Pameran demi pameran diselenggarakan, baik di tingkat lokal maupun regional. Para kurator, peneliti, dan pemerhati seni mulai menempatkan karyanya sebagai bagian penting dari narasi seni rupa Indonesia pasca-1965. Gebar tidak hanya dilihat sebagai seniman, tetapi juga sebagai penyintas sejarah yang membawa suara dari pinggiran.
Salah satu tonggak penting dalam perjalanan keseniannya adalah pameran tunggal bertajuk Perjalanan Panjang. Pameran ini menampilkan karya-karya yang merekam lintasan hidupnya sejak masa kanak-kanak, pengalaman penahanan, hingga usia lanjut. Pameran tersebut berfungsi sebagai ruang ingatan kolektif, yang mengajak publik untuk menengok kembali sejarah melalui sudut pandang personal dan kemanusiaan.
Pada usia senja, Gebar Sasmita tetap aktif berkarya. Keterbatasan fisik tidak menghentikan dorongan kreatifnya. Ia terus melukis dan memahat sebagai bentuk tanggung jawab moral terhadap pengalaman hidup yang telah dilaluinya. Bagi Gebar, seni adalah cara menjaga ingatan agar tidak tenggelam dalam lupa, sekaligus bentuk perlawanan yang sunyi namun konsisten.
Dalam karya-karya terakhirnya, refleksi tentang usia, kematian, dan makna hidup semakin terasa. Figur manusia tidak lagi semata-mata menampilkan penderitaan, tetapi juga keheningan dan penerimaan. Ada ketenangan yang perlahan muncul, meskipun jejak luka masa lalu tetap hadir. Hal ini menunjukkan kedewasaan artistik yang lahir dari perjalanan hidup yang panjang dan berat.
Hingga saat ini, Gebar Sasmita dikenang sebagai seniman yang setia pada pengalaman hidupnya sendiri. Biografinya adalah kisah tentang manusia yang bertahan, mengingat, dan bersuara melalui seni. Karya-karyanya bukan hanya ekspresi personal, tetapi juga arsip visual tentang sejarah, penderitaan, dan martabat manusia yang terus hidup dari generasi ke generasi.
Foto: https://www.bantennews.co.id/perjalanan-panjang-gebar-sasmita-di-bale-budaya-pandeglang/
Memasuki era reformasi, karya-karya Gebar mulai mendapatkan perhatian lebih luas. Pameran demi pameran diselenggarakan, baik di tingkat lokal maupun regional. Para kurator, peneliti, dan pemerhati seni mulai menempatkan karyanya sebagai bagian penting dari narasi seni rupa Indonesia pasca-1965. Gebar tidak hanya dilihat sebagai seniman, tetapi juga sebagai penyintas sejarah yang membawa suara dari pinggiran.
Salah satu tonggak penting dalam perjalanan keseniannya adalah pameran tunggal bertajuk Perjalanan Panjang. Pameran ini menampilkan karya-karya yang merekam lintasan hidupnya sejak masa kanak-kanak, pengalaman penahanan, hingga usia lanjut. Pameran tersebut berfungsi sebagai ruang ingatan kolektif, yang mengajak publik untuk menengok kembali sejarah melalui sudut pandang personal dan kemanusiaan.
Pada usia senja, Gebar Sasmita tetap aktif berkarya. Keterbatasan fisik tidak menghentikan dorongan kreatifnya. Ia terus melukis dan memahat sebagai bentuk tanggung jawab moral terhadap pengalaman hidup yang telah dilaluinya. Bagi Gebar, seni adalah cara menjaga ingatan agar tidak tenggelam dalam lupa, sekaligus bentuk perlawanan yang sunyi namun konsisten.
Dalam karya-karya terakhirnya, refleksi tentang usia, kematian, dan makna hidup semakin terasa. Figur manusia tidak lagi semata-mata menampilkan penderitaan, tetapi juga keheningan dan penerimaan. Ada ketenangan yang perlahan muncul, meskipun jejak luka masa lalu tetap hadir. Hal ini menunjukkan kedewasaan artistik yang lahir dari perjalanan hidup yang panjang dan berat.
Hingga saat ini, Gebar Sasmita dikenang sebagai seniman yang setia pada pengalaman hidupnya sendiri. Biografinya adalah kisah tentang manusia yang bertahan, mengingat, dan bersuara melalui seni. Karya-karyanya bukan hanya ekspresi personal, tetapi juga arsip visual tentang sejarah, penderitaan, dan martabat manusia yang terus hidup dari generasi ke generasi.
Foto: https://www.bantennews.co.id/perjalanan-panjang-gebar-sasmita-di-bale-budaya-pandeglang/
