Album The Book of Souls merupakan karya studio ke-16 dari Iron Maiden yang dirilis pada tahun 2015 dan menjadi salah satu pencapaian paling ambisius dalam perjalanan panjang mereka. Sebagai double album pertama dalam sejarah band ini, durasinya yang melampaui 90 menit langsung menandakan keseriusan konsep yang diusung. Ini bukan sekadar kumpulan lagu yang dirangkai untuk memenuhi pasar, melainkan sebuah pernyataan artistik yang luas dan penuh percaya diri. Pada fase karier ketika banyak band memilih bermain aman, Maiden justru memperluas kanvas mereka, menampilkan komposisi panjang, struktur kompleks, serta tema lirik yang kaya akan sejarah, mitologi, dan refleksi personal.
Proses kreatif album ini juga memiliki dimensi emosional yang kuat. Rekaman dilakukan sebelum vokalis Bruce Dickinson menjalani pengobatan kanker, sebuah fakta yang kemudian memberi lapisan makna tambahan ketika album dirilis. Suara Dickinson terdengar bertenaga sekaligus matang, tidak lagi sekadar agresif, tetapi penuh penghayatan dan pengalaman. Ia tidak hanya menyanyikan lagu, melainkan menyampaikan narasi dengan intensitas dramatik yang khas. Dalam beberapa momen, terutama pada komposisi panjang, vokalnya terasa seperti penutur kisah yang memandu pendengar melewati lorong waktu dan ruang.
Secara musikal, The Book of Souls melanjutkan kecenderungan progresif yang telah berkembang sejak era 2000-an dalam diskografi Iron Maiden. Lagu seperti “If Eternity Should Fail” membuka album dengan atmosfer misterius dan nuansa gelap yang perlahan berkembang menjadi ledakan riff khas Maiden. “Speed of Light” menghadirkan energi yang lebih langsung dan ritmis, mengingatkan pada semangat klasik mereka dengan tempo yang lebih lugas. Namun pusat gravitasi album ini terletak pada komposisi panjang seperti “The Red and the Black” dan “Empire of the Clouds”. Pada lagu-lagu tersebut, struktur tidak dibatasi oleh pola verse dan chorus yang sederhana. Ada perubahan tempo, bagian instrumental yang panjang, harmoni gitar berlapis, serta dinamika yang naik turun secara dramatis.
“Empire of the Clouds” menjadi puncak artistik album ini. Lagu berdurasi lebih dari delapan belas menit tersebut dibangun di atas komposisi piano yang ditulis oleh Dickinson sendiri, sesuatu yang jarang ditemukan dalam katalog Maiden. Kisah tragedi kapal udara R101 yang diangkat dalam lirik menghadirkan suasana megah sekaligus melankolis. Aransemen orkestra dan permainan gitar yang menyusul menciptakan kesan sinematik, seolah pendengar diajak menyaksikan drama sejarah yang bergerak perlahan menuju klimaks. Lagu ini menegaskan bahwa band ini masih berani bereksperimen tanpa kehilangan identitas dasar mereka sebagai kelompok heavy metal.
Tema lirik dalam album ini juga menunjukkan kedewasaan. Selain mengangkat sejarah dan peristiwa besar, terdapat refleksi tentang kematian, kefanaan, dan pencarian makna. Judul album sendiri merujuk pada konsep spiritual dan kebudayaan kuno, yang memperkaya citra visual serta atmosfer keseluruhan karya. Sampul album dengan figur Eddie yang terinspirasi dari ikonografi peradaban Maya memperkuat nuansa tersebut, menciptakan kesinambungan antara aspek visual dan musikal.
Jika diperhatikan lebih jauh, kekuatan album ini juga terletak pada kerja sama antaranggota band yang terasa solid dan setara. Tiga gitaris mereka membangun dinding suara yang tebal namun tetap terstruktur, dengan melodi yang saling berkelindan dan solo yang tidak saling berebut ruang. Permainan bass dan drum memberi fondasi ritmis yang kokoh sekaligus fleksibel, memungkinkan perubahan tempo terjadi tanpa terasa janggal. Produksi yang cenderung organik membuat album ini terdengar hidup, seperti rekaman pertunjukan langsung yang penuh energi.
Di sisi lain, beberapa kritik muncul terkait kepadatan materi yang dianggap kurang tersaring. Ada bagian yang mungkin bisa dipadatkan agar alur album terasa lebih ringkas. Namun bagi pendengar yang menikmati pendekatan progresif, justru kelimpahan ide inilah yang menjadi daya tarik utama. Setiap lagu seperti memiliki ruang untuk bernapas dan berkembang secara alami, tanpa dipaksa mengikuti formula radio friendly yang singkat dan instan.
Album ini juga memiliki posisi penting dalam konteks sejarah panjang Iron Maiden. Setelah melewati berbagai fase, dari era klasik 1980-an hingga eksperimen yang lebih gelap pada 1990-an dan kebangkitan kembali pada 2000-an, The Book of Souls terasa sebagai bentuk sintesis. Ia merangkum semangat heroik masa lalu sekaligus kedalaman komposisi era modern mereka. Tidak ada upaya untuk terdengar muda secara artifisial, melainkan keyakinan bahwa identitas yang telah dibangun selama puluhan tahun masih relevan dan kuat.
Secara emosional, album ini menyiratkan semacam perenungan tentang perjalanan dan ketahanan. Usia para personel yang tidak lagi muda tidak mengurangi intensitas musikal mereka. Justru ada kesan bahwa pengalaman hidup memberi warna baru pada setiap nada dan lirik. Mendengarkan album ini dari awal hingga akhir terasa seperti mengikuti perjalanan panjang yang penuh tikungan, dengan momen hening yang reflektif dan ledakan energi yang membangkitkan semangat.
Pada akhirnya, The Book of Souls berdiri sebagai karya monumental yang menegaskan keberanian untuk berpikir besar di tengah industri musik yang semakin serba cepat. Ia menuntut kesabaran, perhatian, dan keterbukaan dari pendengarnya, namun imbalannya adalah pengalaman musikal yang kaya dan berlapis. Album ini bukan hanya penanda keberlanjutan karier sebuah band legendaris, melainkan juga bukti bahwa dedikasi terhadap visi artistik dapat melampaui batas usia dan tren.
Home »
Album Musik
» Menjelajah Jiwa dan Waktu dalam Iron Maiden The Book of Souls
