Menyusuri Makna Agama: Tafsir atas Seven Theories of Religion Karya Daniel L. Pals

Daniel L. Pals melalui Seven Theories of Religion menghadirkan sebuah peta intelektual yang tidak sekadar memperkenalkan teori-teori besar tentang agama, tetapi juga mengajak pembaca memasuki cara berpikir para perumusnya. Buku ini bukanlah kitab dogmatik tentang apa itu agama, melainkan sebuah perjalanan hermeneutik yang menelusuri bagaimana agama dipahami, ditafsirkan, dan diperdebatkan dalam tradisi ilmu sosial dan humaniora modern. Dalam pengertian ini, karya Pals memiliki kemiripan tertentu dengan apa yang dilakukan Clifford Geertz dalam The Interpretation of Cultures: sama-sama tidak berangkat dari definisi tunggal, melainkan dari jejaring makna, simbol, dan kerangka penjelasan yang saling bersilang. Pals mengajak pembaca untuk menyadari bahwa berbicara tentang agama berarti berbicara tentang sudut pandang—tentang posisi intelektual dan asumsi-asumsi dasar yang kerap tidak disadari.

Teori pertama yang dibahas Pals, yakni pemikiran E. B. Tylor dan James Frazer, mewakili fase awal antropologi yang melihat agama sebagai hasil dari kesalahan intelektual manusia purba dalam memahami alam. Agama, dalam pandangan ini, dipahami sebagai upaya rasional yang belum matang—sebuah bentuk “ilmu pengetahuan awal” yang keliru. Pals tidak sekadar merangkum gagasan animisme atau evolusi kepercayaan, tetapi juga menunjukkan keterbatasan perspektif tersebut: betapa agama direduksi menjadi kesalahan logika, dan betapa pengalaman religius dipisahkan dari konteks sosial dan simboliknya. Di sini, pembaca diajak untuk memahami bahwa teori tentang agama selalu lahir dari zamannya, lengkap dengan prasangka kemajuan dan superioritas rasional Barat.

Memasuki pemikiran Sigmund Freud, Pals membawa pembaca ke wilayah psikologi yang lebih dalam dan gelap. Agama tidak lagi dilihat sebagai kesalahan intelektual, melainkan sebagai ilusi emosional—proyeksi hasrat, ketakutan, dan konflik batin manusia. Tuhan hadir sebagai figur ayah kosmis, dan ritual keagamaan sebagai pengulangan simbolik dari trauma masa kanak-kanak. Dalam resensi ini, penting dicatat bahwa Pals tidak menempatkan Freud sebagai musuh agama, melainkan sebagai penafsir yang serius terhadap fungsi psikologis agama. Agama, betapapun ilusifnya, memiliki daya tahan karena ia bekerja pada lapisan terdalam pengalaman manusia. Seperti Geertz yang membaca ritual sebagai “model of” dan “model for” realitas, Freud membaca agama sebagai cermin batin manusia yang rapuh.

Karl Marx, dalam tafsiran Pals, menghadirkan wajah agama yang sepenuhnya politis dan material. Agama adalah “opium rakyat”, bukan semata karena ia meninabobokan, tetapi karena ia berfungsi sebagai penghibur dalam dunia yang penuh penderitaan struktural. Pals dengan cermat menunjukkan bahwa kritik Marx terhadap agama tidak bisa dipisahkan dari kritiknya terhadap kapitalisme dan alienasi. Agama bukan penyebab utama penderitaan, melainkan gejala dari tatanan sosial yang timpang. Dalam konteks ini, agama menjadi bahasa penderitaan sekaligus alat legitimasi. Resensi terhadap bagian ini mengungkapkan bahwa Pals berhasil menampilkan Marx bukan sebagai perusak iman, tetapi sebagai pembaca tajam atas relasi kuasa yang bersembunyi di balik simbol-simbol suci.

Berbeda dengan Marx, Émile Durkheim membawa agama kembali ke tengah kehidupan sosial sebagai sumber solidaritas dan makna kolektif. Dalam pembacaan Pals, Durkheim memandang agama sebagai cermin masyarakat itu sendiri; yang disembah manusia sejatinya adalah kekuatan sosial yang melampaui individu. Sakral dan profan bukan kategori metafisik, melainkan kategori sosial. Resensi ini menemukan bahwa pada titik inilah Seven Theories of Religion mulai terasa sangat dekat dengan Geertz, terutama dalam penekanan pada simbol dan ritus sebagai pengikat komunitas. Agama bukan soal kebenaran teologis, melainkan soal bagaimana masyarakat memahami dan meneguhkan dirinya sendiri.

Max Weber, sebagaimana ditafsirkan Pals, menghadirkan nuansa yang lebih halus dan historis. Agama tidak direduksi menjadi ilusi, ideologi, atau fungsi sosial semata, melainkan dipahami sebagai kekuatan makna yang mampu menggerakkan tindakan manusia. Etika Protestan dan semangat kapitalisme menjadi contoh bagaimana keyakinan religius dapat membentuk orientasi hidup dan struktur ekonomi. Dalam resensi ini, Weber tampil sebagai pemikir yang menjembatani makna subjektif dan struktur objektif—sebuah pendekatan yang kelak sangat memengaruhi antropologi simbolik ala Geertz.

Tokoh keenam, yakni Mircea Eliade, membawa pembaca keluar dari kerangka reduksionis ilmu sosial menuju pengalaman religius sebagai sesuatu yang sui generis. Agama, bagi Eliade, adalah perjumpaan dengan yang sakral, sebuah pengalaman eksistensial yang tidak bisa sepenuhnya dijelaskan oleh faktor psikologis atau sosial. Pals dengan jujur menunjukkan kekuatan sekaligus kelemahan pendekatan ini: di satu sisi, ia menghormati pengalaman religius; di sisi lain, ia berisiko mengabaikan konteks sejarah dan kekuasaan. Dalam resensi ini, Eliade tampak seperti pengingat bahwa agama tidak selalu tunduk pada analisis sosial, tetapi juga mengandung dimensi rasa, keterpesonaan, dan keterlemparan manusia di hadapan yang transenden.

Clifford Geertz, sebagai teori ketujuh, hadir bukan sebagai penutup biasa, melainkan sebagai sintesis terbuka. Pals menempatkan Geertz sebagai pemikir yang memahami agama sebagai sistem simbol yang bekerja membentuk suasana hati dan motivasi manusia dengan memberi mereka konsepsi tentang tatanan realitas. Resensi ini menegaskan bahwa Geertz tidak berusaha menjawab apakah agama itu benar atau salah, melainkan bagaimana agama bermakna. Dengan pendekatan interpretatifnya, agama dibaca seperti teks budaya yang harus ditafsirkan dengan kesabaran etnografis.

Secara keseluruhan, kekuatan utama Seven Theories of Religion terletak pada kejernihan narasi dan keadilan intelektualnya. Pals tidak memihak secara dogmatis pada satu teori, melainkan membuka ruang dialog antarpendekatan. Setiap teori diperlakukan sebagai lensa, bukan kebenaran mutlak. Resensi ini melihat bahwa buku ini mengajarkan satu pelajaran penting: memahami agama berarti bersedia hidup dengan ketegangan interpretasi, bukan mencari kepastian final.

Dalam konteks pembaca Indonesia, buku Pals memiliki relevansi yang sangat kuat. Di tengah perdebatan tentang agama, modernitas, dan identitas, Seven Theories of Religion menawarkan cara berpikir yang lebih reflektif dan rendah hati. Agama tidak diposisikan sebagai objek serangan atau pembelaan, melainkan sebagai fenomena manusia yang kompleks dan berlapis. Resensi ini membaca buku Pals sebagai undangan untuk berpikir, bukan untuk menghakimi.

Sebagaimana Tafsir Kebudayaan karya Geertz, buku Pals menuntut pembaca untuk sabar, telaten, dan bersedia menunda kesimpulan. Ia bukan bacaan cepat, melainkan bacaan yang mengajak dialog batin. Setiap teori membuka pintu pertanyaan baru, dan setiap pertanyaan menantang pembaca untuk merefleksikan posisinya sendiri terhadap agama.

Pada akhirnya, Seven Theories of Religion bukan hanya buku tentang teori agama, tetapi tentang cara manusia memahami dirinya sendiri. Melalui agama, manusia berbicara tentang ketakutan, harapan, penderitaan, dan makna hidup. Resensi ini melihat bahwa kekuatan terbesar buku Pals terletak pada kemampuannya menjaga kerumitan itu tetap hidup, tanpa mereduksinya menjadi jawaban sederhana.

Menutup pembacaan ini, dapat dikatakan bahwa Daniel L. Pals berhasil menyusun sebuah karya yang layak dibaca berulang kali, terutama oleh mereka yang ingin memahami agama bukan sebagai doktrin beku, tetapi sebagai fenomena budaya yang terus ditafsirkan. Seperti Geertz, Pals mengingatkan kita bahwa tugas ilmuwan bukanlah menyederhanakan dunia, melainkan membuatnya dapat dipahami dalam seluruh kerumitannya.
Cara Pasang Tali Layangan agar Manteng di Udara
Topeng Monyet
Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama

Archive