Tahu kupat Mangunreja merupakan salah satu kuliner khas Tasikmalaya yang tumbuh dari kehidupan sehari-hari masyarakat Priangan Timur. Ia bukan makanan yang lahir dari dapur besar atau perayaan megah, melainkan dari kebiasaan sederhana warga desa yang akrab dengan sawah, pasar tradisional, dan ritme hidup yang tenang. Dalam seporsi tahu kupat, tersimpan cerita tentang cara masyarakat Mangunreja memaknai makanan bukan hanya sebagai pengisi perut, tetapi juga sebagai bagian dari keseharian yang menyatu dengan budaya dan lingkungan.
Mangunreja dikenal sebagai wilayah agraris, tempat sebagian besar masyarakatnya menggantungkan hidup pada pertanian dan perdagangan kecil. Sawah, kebun, dan pasar tradisional menjadi ruang hidup yang membentuk pola makan masyarakatnya. Dalam konteks ini, makanan tidak diperlakukan sebagai sesuatu yang berlebihan, tetapi secukupnya, asal mengenyangkan dan memberi tenaga untuk bekerja. Tahu kupat menjawab kebutuhan itu. Ketupat sebagai sumber karbohidrat, tahu sebagai lauk sederhana, serta bumbu kacang dan kuah gula merah sebagai penambah rasa, berpadu menjadi hidangan yang lengkap tanpa harus rumit.
Asal-usul tahu kupat Mangunreja tidak tercatat dalam dokumen sejarah resmi, tetapi hidup dalam ingatan kolektif masyarakat. Ceritanya diwariskan dari mulut ke mulut, dari penjual ke pembeli, dari orang tua ke anak. Konon, hidangan ini berkembang seiring dengan ramainya pasar tradisional dan aktivitas jual beli di desa. Para pedagang dan petani membutuhkan makanan yang bisa disantap cepat sebelum bekerja atau setelah lelah beraktivitas. Ketupat yang sudah matang sejak pagi, tahu yang digoreng ulang agar hangat, serta bumbu kacang yang disiapkan dalam jumlah besar menjadikan tahu kupat sebagai pilihan yang efisien, murah, dan mengenyangkan.
Keberadaan tahu kupat Mangunreja juga tidak bisa dilepaskan dari tradisi berdagang masyarakat Sunda yang ulet dan bersahaja. Banyak penjual tahu kupat memulai usaha mereka dari skala kecil, berjualan di pasar pagi atau di pinggir jalan desa. Gerobak sederhana, meja kayu, dan bangku panjang menjadi pemandangan yang akrab. Dari tempat-tempat sederhana inilah tahu kupat Mangunreja menyebar dan dikenal luas, bukan lewat promosi besar, melainkan lewat rasa dan kebiasaan.
Meski tahu kupat dapat ditemukan di berbagai daerah di Jawa Barat, versi Mangunreja memiliki kekhasan tersendiri. Bumbu kacangnya cenderung lebih ringan dan halus, tidak terlalu pedas, serta tidak terlalu kental. Kuah gula merah yang disiramkan pun tidak berlebihan, hanya cukup untuk memberi sentuhan manis yang lembut. Rasa manis dan gurih hadir seimbang, tidak saling mendominasi. Karakter rasa seperti ini mencerminkan selera masyarakat Mangunreja yang cenderung menyukai masakan yang ramah di lidah dan bisa dinikmati berulang kali tanpa rasa jenuh.
Bahan-bahan tahu kupat Mangunreja mencerminkan kedekatan masyarakat dengan alam sekitarnya. Beras untuk ketupat berasal dari hasil sawah lokal, baik milik sendiri maupun hasil beli dari tetangga. Tahu diproduksi oleh perajin setempat dengan cara tradisional, biasanya tanpa bahan pengawet, sehingga rasanya segar dan teksturnya lembut. Kacang tanah, bawang putih, cabai, dan gula merah mudah ditemukan di pasar desa. Tidak ada bahan yang benar-benar asing atau mahal. Semua berasal dari lingkungan sekitar, menjadikan tahu kupat sebagai kuliner yang tumbuh dari dan untuk masyarakatnya sendiri.
Proses pembuatan tahu kupat Mangunreja relatif sederhana, namun tetap membutuhkan ketelatenan. Ketupat dibuat dari beras yang dimasukkan ke dalam anyaman janur, lalu direbus dalam waktu lama hingga matang sempurna. Proses ini tidak bisa dipercepat karena menentukan tekstur ketupat. Ketupat yang terlalu keras atau terlalu lembek akan memengaruhi kenikmatan saat disantap. Karena itu, banyak pembuat ketupat mengandalkan pengalaman dan kebiasaan, bukan hitungan waktu yang kaku.
Tahu digoreng hingga bagian luarnya berkulit tipis, sementara bagian dalamnya tetap lembut. Tekstur ini penting karena tahu harus mampu menyerap bumbu tanpa hancur. Bumbu kacang dibuat dari kacang tanah goreng yang dihaluskan bersama bawang putih, cabai, dan sedikit garam. Bumbu ini kemudian disiram dengan kuah gula merah yang hangat, menghasilkan rasa manis-gurih yang khas. Sebagai pelengkap, ditambahkan tauge segar, kerupuk, dan taburan bawang goreng untuk memperkaya rasa dan tekstur.
Penyajian tahu kupat Mangunreja pun memiliki suasana tersendiri. Penjual biasanya meracik pesanan di depan pembeli, memotong ketupat, mengiris tahu, lalu menyiramkan bumbu secara perlahan. Proses ini sederhana, tetapi menghadirkan kedekatan antara penjual dan pembeli. Sambil menunggu pesanan, sering terjadi obrolan ringan tentang cuaca, hasil panen, atau kabar kampung. Dari sinilah tahu kupat tidak hanya menjadi makanan, tetapi juga medium interaksi sosial.
Dalam kehidupan sehari-hari, tahu kupat Mangunreja sering dijadikan sarapan atau makanan sela di siang hari. Para petani menyantapnya sebelum berangkat ke sawah atau sepulang bekerja. Pedagang pasar menjadikannya pengganjal lapar di tengah kesibukan. Anak-anak mengenalnya sebagai jajanan yang mengenyangkan dan mudah diterima oleh lidah mereka. Kehadiran tahu kupat dalam berbagai situasi ini menunjukkan betapa lekatnya hidangan tersebut dengan kehidupan masyarakat.
Nilai budaya tahu kupat Mangunreja terletak pada kesederhanaan dan kebersamaan. Hidangan ini mengajarkan bahwa makanan tidak harus mewah untuk bermakna. Ia hadir apa adanya, tanpa hiasan berlebihan, tetapi tetap memberi rasa puas. Cara penyajiannya yang mudah dibagikan mencerminkan budaya Sunda yang menjunjung kebersamaan dan keterbukaan. Tahu kupat kerap disantap bersama, duduk berdampingan di warung kecil atau di pinggir pasar, sambil berbincang santai.
Selain itu, tahu kupat Mangunreja juga menyimpan nilai pewarisan pengetahuan tradisional. Resepnya jarang ditulis secara rinci. Takaran bumbu ditentukan oleh kebiasaan, pengalaman, dan rasa. Anak-anak belajar dengan melihat orang tua atau orang dewasa menyiapkan bahan, mengaduk bumbu, dan mencicipi hasilnya. Proses belajar semacam ini menunjukkan bahwa pengetahuan kuliner tradisional bersifat hidup, mengalir, dan terus diwariskan melalui praktik sehari-hari.
Di tengah perubahan gaya hidup dan masuknya makanan cepat saji, keberadaan tahu kupat Mangunreja menghadapi tantangan. Banyak generasi muda yang lebih akrab dengan makanan instan atau kuliner modern. Namun justru di situlah letak pentingnya tahu kupat sebagai pengingat. Ia mengingatkan pada cara hidup yang lebih sederhana, pada makanan yang dekat dengan sumbernya, dan pada relasi sosial yang terbangun di sekitar aktivitas makan bersama.
Melestarikan tahu kupat Mangunreja berarti menjaga lebih dari sekadar satu jenis makanan. Ia berarti menjaga ingatan tentang kampung, pasar, dan dapur tradisional. Ia juga berarti merawat identitas budaya masyarakat Tasikmalaya yang tumbuh dari kesahajaan dan kebersamaan. Selama masih ada yang membuat, menjual, dan menikmati tahu kupat dengan cara tradisional, selama itu pula cerita tentang Mangunreja akan terus hidup melalui rasa.
Pada akhirnya, tahu kupat Mangunreja bukan sekadar kombinasi ketupat, tahu, dan bumbu kacang. Ia adalah cerminan kehidupan masyarakat Priangan Timur yang bersahaja, tekun, dan menjunjung kebersamaan. Dari seporsi tahu kupat, kita bisa belajar bahwa makanan sederhana pun mampu menyimpan makna yang dalam, selama ia lahir dari kehidupan yang dijalani dengan penuh rasa dan kesadaran.
