Sate manis gerendeng merupakan salah satu kekayaan kuliner tradisional Tangerang yang lahir dari pertemuan panjang antara alam, budaya, dan ingatan kolektif masyarakatnya. Di tengah gegap gempita kuliner modern, sate gerendeng tetap bertahan sebagai sajian sederhana yang sarat makna. Ia tidak sekadar hadir sebagai makanan pengganjal perut, melainkan sebagai penanda sejarah, kebiasaan, dan cara hidup orang Tangerang tempo dulu. Rasa manis yang dominan, berpadu dengan gurih dan aroma daging yang dibakar perlahan, menjadikan sate gerendeng mudah dikenali sekaligus sulit dilupakan oleh siapa pun yang pernah mencicipinya.
Asal-usul sate manis gerendeng tidak bisa dilepaskan dari kehidupan masyarakat agraris dan pesisir Tangerang, terutama di wilayah yang dikenal sebagai Tanah Benteng. Pada masa lalu, masyarakat Tangerang hidup dalam ritme kerja yang sangat dekat dengan alam—bertani, berkebun, berdagang, dan memelihara ternak dalam skala kecil. Ketersediaan bahan pangan sangat bergantung pada musim dan hasil lokal. Daging, yang pada masa itu bukan bahan makanan sehari-hari, biasanya diolah pada momen tertentu seperti hajatan, selamatan, atau perayaan keagamaan. Dalam konteks inilah sate gerendeng muncul sebagai bentuk pengolahan daging yang praktis, bisa dibagi, dan mudah disesuaikan dengan selera bersama.
Istilah gerendeng sendiri merujuk pada teknik dan hasil olahan daging yang dimasak hingga bumbu meresap, agak kering, dan berwarna cokelat gelap karena dominasi gula. Dalam tradisi kuliner Tangerang, penggunaan gula merah atau gula aren bukan sekadar soal rasa, tetapi juga soal ketersediaan bahan lokal. Gula aren mudah ditemukan di wilayah Banten dan sekitarnya, sehingga menjadi pemanis utama dalam berbagai masakan tradisional, termasuk sate gerendeng. Rasa manis yang kuat inilah yang kemudian menjadi ciri khas sate manis gerendeng Tangerang, membedakannya dari sate-sate lain di Jawa yang lebih menonjolkan rasa asin atau pedas.
Bahan pembuat sate manis gerendeng pada dasarnya sederhana, mencerminkan prinsip masakan rakyat yang memanfaatkan apa yang ada di sekitar. Bahan utama yang digunakan adalah daging sapi atau daging kambing, meskipun dalam beberapa versi lokal juga dikenal penggunaan daging ayam. Daging dipilih dari bagian yang tidak terlalu berlemak, agar ketika dimasak lama tidak menghasilkan bau prengus dan tetap empuk. Selain daging, bahan penting lainnya adalah gula merah atau gula aren, bawang merah, bawang putih, ketumbar, lengkuas, dan kecap manis sebagai penguat rasa. Beberapa pembuat sate gerendeng menambahkan asam jawa atau sedikit air kelapa untuk memberi sentuhan rasa segar dan memperkaya aroma.
Proses pembuatan sate manis gerendeng membutuhkan kesabaran dan ketelatenan, dua hal yang sangat lekat dengan karakter masakan tradisional. Daging yang telah dipotong kecil-kecil terlebih dahulu direbus atau dimasak bersama bumbu halus dan gula merah dalam waktu yang cukup lama. Proses ini bertujuan agar bumbu benar-benar meresap hingga ke serat daging. Api kecil digunakan agar gula tidak cepat gosong dan rasa manisnya berkembang perlahan. Pada tahap ini, daging akan berubah warna menjadi cokelat gelap, teksturnya lebih padat, dan aromanya semakin kuat.
Setelah bumbu meresap dan kuah menyusut, daging ditusuk menggunakan tusuk sate dari bambu. Tahap berikutnya adalah pembakaran di atas bara api. Pembakaran tidak dilakukan terlalu lama, cukup untuk memberi aroma asap dan sedikit karamelisasi pada permukaan daging. Sate kemudian diolesi kembali dengan sisa bumbu gerendeng agar rasanya semakin mantap. Hasil akhirnya adalah sate dengan rasa manis yang dominan, gurih, sedikit smoky, dan tekstur daging yang empuk namun tidak lembek.
Dalam kehidupan sosial masyarakat Tangerang, sate manis gerendeng memiliki nilai budaya yang cukup kuat. Ia sering hadir dalam acara-acara penting seperti hajatan, pernikahan, khitanan, dan perayaan hari besar keagamaan. Kehadirannya di meja makan menjadi simbol kebersamaan dan rasa syukur. Proses memasaknya pun kerap dilakukan secara gotong royong, terutama ketika disajikan dalam jumlah besar. Para lelaki biasanya bertugas membakar sate, sementara perempuan menyiapkan bumbu dan mengolah daging. Aktivitas ini bukan hanya soal memasak, tetapi juga menjadi ruang interaksi sosial dan pertukaran cerita antarwarga.
Nilai budaya lain yang melekat pada sate manis gerendeng adalah prinsip kesederhanaan dan keberlanjutan. Resepnya diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi, tanpa takaran pasti, melainkan berdasarkan kebiasaan dan rasa. Hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan kuliner tradisional bersifat kontekstual dan hidup, menyesuaikan dengan kondisi bahan dan selera zaman. Di tengah perubahan gaya hidup dan masuknya makanan cepat saji, sate gerendeng tetap menjadi penanda identitas lokal yang mengingatkan masyarakat Tangerang pada akar budaya mereka.
Saat ini, sate manis gerendeng mulai jarang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari dan lebih sering muncul pada acara-acara tertentu atau dijual oleh penjual tradisional yang masih mempertahankan resep lama. Namun justru di situlah letak nilainya. Ia menjadi semacam arsip rasa—pengingat bahwa kuliner bukan sekadar urusan lidah, tetapi juga memori, relasi sosial, dan sejarah lokal. Melestarikan sate gerendeng berarti juga menjaga cerita tentang Tangerang, tentang Tanah Benteng, dan tentang cara masyarakatnya memaknai makanan sebagai bagian dari kehidupan.
Foto: https://www.tangerangkota.go.id/berita/detail/34343/liburan-di-kota-tangerang-jangan-lewatkan-kuliner-sate-manis-khas-gerendeng
