Masyarakat Terasing dan Cara Kita Memandang Indonesia

Buku Masyarakat Terasing di Indonesia yang disunting oleh Koentjaraningrat bersama V. Simorangkir dan pertama kali diterbitkan pada tahun 1993 oleh PT Gramedia Pustaka Utama bekerja sama dengan Departemen Sosial Republik Indonesia serta Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial, bukanlah buku yang ringan untuk dibaca dengan tergesa-gesa. Ia menuntut waktu, kesabaran, dan kesediaan pembacanya untuk masuk ke dunia yang selama ini jarang disinggahi oleh wacana publik arus utama. Buku ini tidak sekadar menyajikan informasi tentang kelompok-kelompok masyarakat yang hidup jauh dari pusat kekuasaan dan pembangunan, tetapi juga secara tidak langsung mengajak pembaca merenungkan cara kita, sebagai bangsa, memberi nama, jarak, dan makna pada sesama warga Indonesia.

Istilah “masyarakat terasing” yang digunakan dalam buku ini sejak awal terasa problematis sekaligus menggugah. Kata “terasing” seolah menyiratkan keterputusan, keterbelakangan, dan jarak yang sulit dijembatani. Namun ketika membaca halaman demi halaman buku ini, pembaca segera menyadari bahwa keterasingan yang dimaksud tidak sesederhana itu. Masyarakat yang digambarkan di dalamnya tidak pernah terasing dari kehidupan mereka sendiri. Mereka memiliki sistem sosial, nilai, pengetahuan, dan cara hidup yang terstruktur dengan baik. Yang membuat mereka disebut terasing justru adalah posisi mereka dalam peta sosial nasional: jauh dari pusat administrasi, berbeda dari pola hidup mayoritas, dan tidak sepenuhnya terjangkau oleh logika pembangunan modern.

Buku ini disusun dari berbagai tulisan etnografis yang masing-masing mengangkat komunitas tertentu di berbagai wilayah Indonesia. Setiap tulisan berfungsi seperti jendela kecil yang membuka pandangan ke dunia yang jarang terlihat. Melalui deskripsi tentang pola permukiman, mata pencaharian, sistem kekerabatan, dan kepercayaan, pembaca diajak melihat bahwa keberagaman Indonesia bukan hanya soal perbedaan bahasa atau pakaian adat, tetapi juga soal cara berpikir, cara mengatur hidup, dan cara memaknai hubungan manusia dengan alam sekitarnya.

Salah satu kekuatan buku ini terletak pada kedekatannya dengan pengalaman lapangan. Tulisan-tulisan di dalamnya lahir dari pengamatan langsung dan interaksi nyata dengan masyarakat yang diteliti. Karena itu, deskripsi yang disajikan tidak terasa abstrak. Kita bisa membayangkan hutan sebagai ruang hidup, sungai sebagai jalur mobilitas, ladang sebagai sumber kehidupan sekaligus simbol hubungan manusia dengan tanah. Praktik hidup yang sering dianggap “tradisional” atau “primitif” justru tampil sebagai hasil dari penyesuaian panjang dengan lingkungan dan sejarah.

Koentjaraningrat sebagai editor memainkan peran penting dalam menjaga arah buku ini. Ia tidak membiarkan tulisan-tulisan di dalamnya terjebak pada nada eksotisme atau romantisasi berlebihan. Masyarakat terasing tidak digambarkan sebagai manusia “aneh” yang hidup di luar peradaban, tetapi sebagai komunitas dengan logika kebudayaan sendiri. Pendekatan ini membuat buku ini terasa lebih manusiawi. Pembaca tidak diajak untuk mengasihani, tetapi untuk memahami.

Namun, buku ini juga tidak sepenuhnya bebas dari bahasa dan cara pandang zamannya. Diterbitkan pada awal 1990-an, buku ini lahir di tengah kuatnya wacana pembangunan nasional yang menekankan integrasi, pembinaan, dan modernisasi. Hal ini tercermin dalam beberapa bagian yang memposisikan masyarakat terasing sebagai kelompok yang “perlu disentuh” oleh program pemerintah. Bahasa kebijakan sosial terkadang muncul berdampingan dengan bahasa antropologi, menciptakan ketegangan yang halus tetapi nyata antara upaya memahami dan keinginan untuk mengubah.

Ketegangan ini justru menjadi salah satu aspek paling menarik dari buku ini. Di satu sisi, ada usaha serius untuk mendokumentasikan dan menghargai keberagaman budaya. Di sisi lain, ada bayang-bayang negara yang melihat perbedaan sebagai sesuatu yang harus dikelola. Buku ini dengan demikian tidak hanya berbicara tentang masyarakat terasing, tetapi juga tentang relasi kuasa, tentang cara negara hadir dalam kehidupan warganya yang berada di pinggiran.

Dalam uraian tentang sistem sosial dan kepercayaan, buku ini menunjukkan bahwa masyarakat yang disebut terasing memiliki struktur yang tidak kalah kompleks dibanding masyarakat modern. Hubungan kekerabatan diatur dengan aturan yang jelas, kepemimpinan lokal memiliki legitimasi simbolik, dan kepercayaan terhadap dunia gaib bukan sekadar takhayul, melainkan bagian dari sistem pengetahuan yang mengatur hubungan manusia dengan alam dan sesama. Semua ini memperlihatkan bahwa ukuran rasionalitas tidak bisa disempitkan pada standar modernitas semata.

Buku ini juga memperlihatkan bagaimana perubahan perlahan masuk ke dalam kehidupan masyarakat terasing. Kontak dengan dunia luar, baik melalui pedagang, aparat pemerintah, maupun program pembangunan, membawa dampak yang tidak selalu sederhana. Perubahan tidak selalu berarti kemajuan, dan keterbukaan tidak selalu berarti kesejahteraan. Dalam beberapa kasus, perubahan justru menghadirkan ketegangan baru: antara generasi tua dan muda, antara nilai lama dan tuntutan baru, antara kebutuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan.

Dari segi penyajian, bahasa yang digunakan dalam buku ini relatif akademik, tetapi masih dapat diikuti oleh pembaca umum yang bersedia membaca dengan cermat. Kehadiran foto dan peta membantu memperkuat imajinasi pembaca, sekaligus menegaskan bahwa buku ini juga berfungsi sebagai arsip visual. Ia merekam wajah-wajah, lanskap, dan ruang hidup yang mungkin kini telah berubah atau bahkan hilang.

Keterbatasan buku ini terutama terletak pada dominasi suara peneliti. Masyarakat terasing lebih sering hadir sebagai objek cerita daripada sebagai subjek yang berbicara langsung. Perspektif mereka muncul melalui penuturan yang telah disaring dan diinterpretasikan. Namun, dalam konteks tradisi penulisan antropologi pada masanya, hal ini bukanlah kelemahan yang mengurangi nilai buku, melainkan penanda periode intelektual tertentu.

Membaca Masyarakat Terasing di Indonesia hari ini memberikan pengalaman yang berlapis. Ia bisa dibaca sebagai buku antropologi, sebagai dokumen kebijakan sosial, sekaligus sebagai arsip sejarah pemikiran. Ia mengingatkan kita bahwa cara kita memberi label pada kelompok tertentu tidak pernah netral. Istilah “terasing” bukan hanya deskripsi, tetapi juga cermin cara pandang.

Buku ini pada akhirnya mengajak pembaca untuk merenungkan ulang makna kebersamaan dalam kerangka kebangsaan. Indonesia tidak hanya terdiri dari kota-kota besar dan pusat ekonomi, tetapi juga dari komunitas kecil yang hidup dengan cara berbeda. Keberadaan mereka menantang kita untuk memperluas definisi tentang apa itu menjadi Indonesia.

Sebagai resensi, buku ini layak dibaca bukan hanya oleh mahasiswa atau peneliti, tetapi juga oleh siapa pun yang tertarik pada persoalan kebudayaan dan keadilan sosial. Ia tidak menawarkan jawaban mudah, tetapi membuka ruang refleksi. Di tengah arus modernisasi yang terus bergerak cepat, Masyarakat Terasing di Indonesia mengingatkan bahwa memahami sesama tidak cukup dengan angka dan kebijakan, tetapi membutuhkan kesediaan untuk mendengar, melihat, dan menghargai cara hidup yang berbeda.

Dengan demikian, buku Koentjaraningrat dkk. ini tetap relevan hingga kini. Bukan karena semua isinya masih aktual, tetapi karena pertanyaan-pertanyaan yang diajukannya belum sepenuhnya terjawab. Siapa yang kita anggap terasing? Dari sudut pandang siapa? Dan untuk kepentingan siapa keterasingan itu didefinisikan? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang membuat buku ini terus hidup sebagai bacaan reflektif tentang Indonesia dan kebudayaannya.
Cara Pasang Tali Layangan agar Manteng di Udara
Topeng Monyet
Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama

Archive