Upacara Ngunduh Sarang Burung Walet di Karangbolong (Kebumen, Jawa Tengah)

Asal Usul
Karangbolong merupakan suatu daerah yang terletak di pesisir pantai selatan Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Di daerah yang sebagian tanahnya merupakan pegunungan kapur ini ada suatu tradisi yang berupa upacara ngunduh atau mengambil sarang burung walet yang banyak terdapat di goa-goa yang berada pada tebing sepanjang Pantai Karangbolong. Maksud dan tujuan penyelenggaraan upacara ngunduh sarang burung walet di Desa Karangbolong, Kecamatan Buayan, Kabupaten Kebumen ini adalah memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar diberi keselamatan selama proses pengunduhan berlangsung. Selain itu, upacara ngunduh sarang burung walet juga bertujuan untuk meminta izin kepada Nyai Ratu Kidul sebagai penguasa laut selatan dan para penunggu atau yang mbaureksa goa, yaitu Kyai Bekel, Kyai Pangerengan, Kyai Sangkur, dan Mbok Lura Kenanga agar pelaksanaan pengunduhan berjalan dengan lancar. Bagi sebagian masyarakat Karangbolong, makhluk-makhluk gaib tersebut dianggap mempunyai kekuatan yang dapat mendatangkan bencana apabila “daerah kekuasaannya” diganggu tanpa meminta izin terbelih dahulu.

Sejak kapan upacara ngunduh sarang burung walet diadakan? Sampai kini belum ada yang mengetahuinya secara pasti. Namun, menurut cerita yang berkembang secara turun-temurun pada warga masyarakat Karangbolong, kisah dibalik adanya upacara ngunduh sarang burung walet tersebut berawal pada abad XVII ketika permaisuri Raja Mataram mengalami sakit yang tidak kunjung sembuh. Oleh karena segala obat dari tabib maupun dukun tidak ada yang berhasil menyembuhkannya, maka raja pun kemudian melakukan tapa brata untuk mencari petunjuk dari Yang Maha Kuasa agar dapat menolong isterinya. Dan, dalam semedinya itu raja mendapat wangsit bahwa obat yang dapat menyembuhkan permaisuri adalah jamur yang tumbuh pada batu karang di sekitar pantai laut selatan.

Setelah mendapat wangsit tersebut, lalu sang raja mengadakan musyawarah dengan para kerabatnya dan petinggi kerajaan. Dalam musyawarah tersebut akhirnya diputuskan untuk memanggil Adipati Bagelen (kini ikut wilayah Kabupaten Purworejo) menghadap ke istana. Setelah Adipati Bagelen menghadap, ia diperintahkan untuk mencari jamur yang tumbuh pada batu karang di sekitar pantai selatan. Adipati Bagelen pun berangkat menyusuri pantai laut selatan bersama dua orang abdinya yang bernama Ki Sanglur dan Ki Sanglar.

Singkat cerita, suatu hari sampailah rombongan Adipati di Gunung Karang Kuda (termasuk daerah Karangbolong). Di tempat itu ia bersemedi, namun tidak berhasil mendapatkan wangsit. Selanjutnya, rombongan adipati pindah ke Karangbolong. Ketika bersemedi di Karangbolong ini ia akhirnya mendapat petunjuk dari seorang puteri bernama Dewi Suryawati yang mengaku sebagai anak buah Nyi Roro Kidul, penguasa Laut Selatan. Dewi Suryawati mengatakan bahwa jamur yang selama ini dicari Adipati berada di dalam goa yang letaknya tidak jauh dari tempatnya bersemedi. Sang Dewi juga mengatakan bahwa ia bersedia membantu mengambil jamur tersebut dengan syarat Adipati beserta rombongan harus mengadakan ritual-ritual tertentu dan ketika masuk ke dalam gua tidak boleh menoleh ke belakang. Akhirnya, dengan pertolongan Sang Dewi Adipati Bagelen berhasil memetik jamur yang tidak lain adalah sarang burung walet.

Sarang burung walet itu selanjutnya ia bawa ke Mataram untuk diserahkan kepada raja sebagai obat bagi penyakit Permaisuri. Dan, setelah permaisuri diobati dengan sarang burung walet tersebut, tidak berapa lama kemudian ia menjadi sembuh seperti sedia kala. Atas jasa sang Adipati, Raja Mataram berkenan memberikan hadiah. Namun, hadiah dari Raja Mataram ditolak Adipati Bagelen karena ia telah mengikat janji dengan Dewi Suryawati.

Konon, sang Adipati beserta kedua abdinya kemudian kembali lagi ke Karangbolong. Di sana ia berganti nama menjadi Ki Surti dan menikah secara kebatinan dengan Dewi Suryawati. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, Adipati beserta para abdinya bekerja sebagai pencari sarang burung walet. Namun, setelah berkali-kali mengambil sarang burung, suatu saat Ki Sanglur dan Ki Sanglar melanggar pantangan Dewi Suryawati, yaitu menoleh ke belakang. Mereka pun langsung jatuh ke laut dan tewas seketika. Sejak saat itu Dewi Suryawati tidak mau lagi membantu mengunduh sarang burung walet.

Hal ini memaksa Ki Surti terpaksa meminta bantuan pada bekel Karangbolong yang bernama Ki Napsiah untuk membuat tangga yang nantinya akan digunakan untuk memanjat gua tempat burung walet bersarang. Namun, setelah kerjasama itu berjalan beberapa tahun, timbul nafsu jahat dari Ki Napsiah untuk menguasai goa tempat burung walet bersarang. Ia lalu mencoba membunuh Ki Surti dengan memberi racun pada makanannya. Namun, usahanya mengalami kegagalan karena isterinya sendiri ternyata memberitahukan rencana jahatnya itu kepada Ki Surti.

Suatu ketika, saat Ki Surti akan mengunduh sarang walet, Ki Napsiah melancarkan niat jahatnya lagi. Ia tiba-tiba menyerang dan mendorong tubuh Ki Surti ke jurang yang terjal. Saat Ki Surti hendak menyelamatkan diri, tiba-tiba tubuhnya ditebas oleh Ki Napsiah hingga tewas. Namun, sebelum menghembuskan nafas terakhirnya Ki Surti sempat berucap, “Kapan saja akan aku balas perbuatanmu, bekel Napsiah!”

Mengetahui perbuatan Ki Napsiah yang sangat tercela tersebut, Raja Mataram menjadi marah dan langsung mengambil alih pengelolaan sarang burung walet di wilayah Karangbolong. Oleh raja lokasi sarang burung tersebut kemudian dijual kepada pemerintah Belanda. Dan, untuk mempermudah penarikan hasil sarang burung walet di wilayah Karangbolong, pemerintah Belanda menunjuk seorang Tionghoa yang berdomisili di Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Kebumen untuk melaksanakan pengunduhan secara borongan.

Setelah Indonesia merdeka pengelolaan sarang burung walet diambil-alih dari tangan Belanda, kemudian diserahkan ke Pemerintah Daerah Kebumen. Namun, sayangnya sarang burung walet yang banyak menyumbang penghasilan bagi pemerintah daerah itu ditenderkan kepada perusahaan swasta yang hanya mengejar keuntungan tanpa memperhatikan kondisi lingkungan. Hal ini menyebabkan unsur konservasi alam kurang mendapat perhatian atau bahkan diabaikan, sehingga dari tahun ke tahun hasil dan keberadaan burung walet dan sarangnya di Karangbolong semakin menurun. Menyadari kesalahannya, pada tahun 2005 Pemerintah Daerah Kebumen meniadakan sistem tender dan mengusahakan sendiri pengunduhan sarang burung walet sebagai pendapatan asli daerahnya.

Waktu, Tempat, Pemimpin dan Pihak-pihak yang Telibat dalam Upacara
Sebagaimana upacara pada umumnya, upacara ngunduh sarang burung walet di Karangbolong juga dilakukan secara bertahap. Tahap-tahap yang harus dilalui dalam upacara ini adalah sebagai berikut: (1) tahap selamatan di paseban (pendapa) kantor Dipenda Karangbolong; (2) tahap pementasan wayang kulit di Goa Contoh; (3) tahap melarung sesajen di Pantai Karangbolong; (4) tahap kenduri atau selamatan di rumah mandor pengunduh sarang burung walet; dan (5) tahap selamatan di pos penjagaan sarang burung walet. Sebagai catatan, upacara ngunduh sarang burung walet di daerah Karangbolong dilaksanakan empat kali dalam satu tahun yang jatuh pada mangsa karo sekitar bulan Agustus (unduhan pertama), mangsa kapat sekitar bulan Oktober (unduhan kedua), mangsa kepitu sekitar bulan Januari (unduhan ketiga), dan mangsa kasanga yang jatuh sekitar bulan Maret (unduhan keempat).

Pemimpin dalam upacara ngunduh sarang burung walet ini bergantung pada kegiatan atau tahap yang dilakukan. Pada tahap selamatan di paseban kantor Dipenda Karangbolong, yang bertindak sebagai pemimpin upacara adalah kepala unit Dipenda Karangbolong. Kemudian, yang bertindak sebagai pemimpin upacara saat mengadakan pementasan wayang kulit di Goa Contoh dan melarung sesaji di Pantai Karangbolong adalah Ki Dalang Sayut Hadisutopo. Sedangkan, yang bertindak sebagai pemimpin upacara tirakatan di rumah mandor dan pos penjagaan sarang burung walet adalah mandor pengunduh sarang burung walet sendiri.

Adapun pihak-pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan upacara adalah: (1) para aparat Desa Karangbolong; (3) beberapa kelompok kesenian yang ada di wilayah Karangbolong; dan (4) warga masyarakat lainnya yang membantu menyiapkan perlengkapan upacara maupun menyaksikan jalannya upacara.

Jalannya Upacara
Menjelang waktu pengunduhan tiba, mandor pengawas sarang burung walet mengajukan anggaran ke kantor unit Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Kebumen yang ada di Karangbolong. Kemudian, unit tersebut meneruskannya ke pemerintah Kabupaten Kebumen, dalam hal ini Dinas Pendapatan Daerah (Dipenda) untuk meminta dana bagi pelaksanaan upacara ngunduh sarang burung walet. Setelah disetujui dan dana turun, maka mandor beserta anak buahnya segera menggunakan dana tersebut untuk membeli peralatan dan perlengkapan upacara, seperti: seekor kerbau, ayam jantan yang masih muda, beras, bunga-bungaan, kemenyan, dan lain sebagainya.

Setelah peralatan dan perlengkapan upacara telah siap, kerbau yang telah dibeli disembelih di rumah mandor, kemudian dagingnya dibawa ke pendopo kantor Dipenda yang ada di Karangbolong, pos penjagaan yang berada di atas goa tempat burung walet bersarang, dan ke rumah mandor sendiri untuk dimasak. Selain kerbau, peralatan dan perlengkapan upacara lainnya juga dibawa ke tiga tempat tersebut untuk diolah dan dimasak.

Selesai memasak, siang harinya sekitar pukul 13.00 diadakan upacara di pendopo kantor Dipenda Karangbolong yang dihadiri oleh kepala unit Dipenda Karangbolong, Kapolsek, Danramil, dan para karyawan (pengunduh) sarang burung walet. Pelaksanaan upacara di tempat ini berlangsung cukup sederhana, yaitu hanya berupa kata sambutan dari kepala unit Dipenda Karangbolong, kemudian dilanjutkan dengan doa yang dipimpin oleh sesepuh sikep (pengunduh yang paling tua) dan diakhiri dengan makan bersama.

Selanjutnya, para peserta upacara akan menuju ke Goa Contoh yang letaknya sekitar 1,5 kilometer dari kantor Dipenda dengan kendaraan yang telah disiapkan sebelumnya. Sesampai di Goa Contoh yang berada di Pantai Karangbolong mereka segera menata peralatan wayang kulit yang akan dimainkan di tempat itu. Peralatan wayang kulit yang dibawa untuk dimainkan di Goa Contoh tidak begitu banyak jumlahnya (sekitar 10 karakter wayang), karena hanya berlangsung sekitar dua jam saja. Pagelaran wayang tersebut dimainkan oleh Ki Dalang Sayut Hadisutopo yang mengambil lakon Rama Tambah (Dewi Sri Lampet). Selesai pementasan, Ki Dalang Sayut Hadisutopo bersama beberapa orang peserta upacara langsung menuju ke Pantai Karangbolong untuk melarung sesajen yang berupa: kelapa muda, jenang abang-putih, kembang telon dan lain sebagainya.

Malam harinya, sekitar pukul 18.30 diadakan lagi kenduri atau selamatan di rumah mandor yang hanya dihadiri oleh aparat Desa Karangbolong, serep (anak buah mandor), dan warga masyarakat sekitarnya. Pelaksanaan upacara di rumah mandor ini juga berlangsung cukup sederhana, yaitu hanya berupa kata sambutan beserta ujub dari mandor, kemudian dilanjutkan dengan doa yang dipimpin oleh modin Desa Karangbolong dan diakhiri dengan makan nasi tumpeng bersama.

Dalam upacara selamatan di rumah mandor ini disediakan juga sesajen yang jumlahnya 66 macam, yaitu: degan (kelapa muda), gedang raja ijo (pisang raja hijau), rokok sintren atau siong (terbuat dari tembakau, kemenyan, klembak), rokok filter, kembang menyan (bunga dan kemenyan), pengilon kumplit (cermin, sisir, dan minyak wangi), lintingan pakai candu (gedang katiwawar dirajang dipe = pisang katiwawar diiris-iris kemudian dijemur), rokok duwet golong (uang yang digulung seperti rokok), gula batu, sambelan, jenang abang-putih, telur ayam, krawu ketan (ketan yang dicampur dengan ampas kelapa), gimbal ketan, mbako candu (daun katiwawar dijemur sampai kering kemudian dilinting/digulung pakai klarasa/daun kering pisang raja atau pisang gabu atau juga pisang klutuk wulung), lombok abang, brambang, bawang (cabe merah, bawang merah, bawang putih), duwit kricik (uang logam), beras abang (beras merah), gedang ambon loro mentah mateng (pisang ambon dua biji belum masak dan sudah masak), buah asam, jeruk werangan, pepesan katul, lenga duyung (minyak wangi cap ikan duyung), tetel abang putih (tetel merah putih), gula kelapa, kembang telon, parem gadung, kembang biasa, wedang kopi manis, wedang kopi pahit, wedang teh manis, wedang teh pahit, wedang arang arang kambang, wedang jembawuk, wedang bening, wedang asem, komoh kembang (air putih dicampur gula pasir dan diberi bunga), kolak pisang mas, godong (daun) tawa dimasukkan dalam gelas, jangan (sayur) mie, jangan (sayur) suun, tempe, peyek kacang brul (kacang tanah), peyek gesek (ikan asin), peyek kacang tholo, krupuk, karag (krupuk dari ubi kayu), telur ceplok, srundeng, bregedel, nasi rames, nasi biasa, iwak (ikan) digoreng asin, iwak digoreng adem (tawar/tidak asin), iwak disemur asin, iwak disemur adem, gadon, didih asin, didih adem (tidak asin), kare, tegean (sayur bening), jeroan asin, jeroan adem, ikan bandeng, lalaban. Sebagai catatan, sesajen tersebut harus lengkap, sebab apabila kurang dipercaya dapat mengakibatkan proses pengunduhan menjadi tidak lancar.

Setelah itu, peserta upacara menuju ke kantor Dipenda Karangbolong untuk menyaksikan pergelaran wayang kulit yang dibawakan oleh Ki Dalang Sayut Hadisutopo. Pergelaran wayang kulit di pendopo atau paseban Dipenda Karangbolong ini menggunakan peralatan wayang lengkap karena berlangsung semalam suntuk. Namun, tidak seperti pementasan-pementasan wayang kulit lainnya, pementasan wayang kulit yang merupakan rangkaian dari upacara ngunduh sarang burung walet ini mempunyai pantangan-pantangan tertentu yang harus ditaati. Pantangan-pantangan tersebut diantaranya adalah: tidak boleh ada tokoh atau karakter wayang yang meninggal dalam lakon atau cerita yang dibawakan dan tidak boleh berbicara saru dan sembrono walaupun sedang mementaskan adegan lawakan atau gara-gara.

Pagi harinya, sekitar pukul 07.00 WIB, mandor beserta beberapa anak buahnya menuju ke pos penjagaan sarang burung walet yang berada di atas bukit di tepi Pantai Karangbolong. Mereka berjalan kaki sejauh dua kilometer melalui jalan setapak yang kondisinya naik-turun dan relatif licin dengan membawa peralatan termasuk sesajen dan makanan yang akan digunakan untuk mengadakan selamatan. Selama dalam perjalanan rombongan beberapa kali berhenti untuk menaruh sesajen di tempat-tempat yang dianggap angker yang jumlahnya relatif banyak (lebih dari sepuluh tempat). Setelah sampai di pos jaga mereka segera mengadakan upacara selamatan. Dalam upacara ini mandor menyampaikan ujubnya, kemudian dilanjutkan dengan pembacaan doa dan diakhiri dengan makan bersama.

Selesai selamatan di pos jaga, mandor beserta anak buahnya kembali lagi ke pendapa Dipenda Karangbolong untuk mempersiapkan peralatan mengunduh, seperti tangga yang terbuat dari rotan, galah bambu, tali-temali dan lain sebagainya. Setelah segala peralatan mengunduh siap, pihak Dipenda Karangbolong, mandor sarang burung, sortir, gandhek, sikep, dan bantu kemudian mengadakan rapat lagi untuk menentukan waktu yang tepat bagi pelaksanaan pengunduhan sarang burung walet.

Apabila sudah ada kesepakatan kapan waktu yang tepat untuk mengunduh sarang burung, maka selepas magrib diadakan upacara sekali lagi. Setelah itu, peserta akan menuju ke pendopo Dipenda untuk menyaksikan pertunjukan kesenian tayub (tayuban). Dan, dengan dipentaskannya kesenian tayub di pendopo (paseban) itu, maka berakhirlah seluruh rentetan dalam upacara ngunduh sarang burung walet di Desa Karangblong.

Nilai Budaya
Upacara ngunduh sarang burung walet di Karangbolong, jika dicermati secara mendalam, mengandung nilai-nilai yang pada gilirannya dapat dijadikan sebagai acuan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai itu antara lain adalah: kebersamaan, ketelitian, gotong royong, dan religius. Nilai kebersamaan tercermin dari berkumpulnya sebagian besar anggota masyarakat dalam suatu tempat, makan bersama dan doa bersama demi keselamatan bersama pula. Ini adalah wujud kebersamaan dalam hidup bersama di dalam lingkungannya (dalam arti luas). Oleh karena itu, upacara ini mengandung pula nilai kebersamaan. Dalam hal ini, kebersamaan sebagai komunitas yang mempunyai wilayah, adat-istiadat dan budaya yang sama.

Nilai ketelitian tercermin dari proses upacara itu sendiri. Sebagai suatu proses, upacara memerlukan persiapan, baik sebelum upacara, pada saat prosesi, maupun sesudahnya. Persiapan-persiapan itu, tidak hanya menyangkut peralatan upacara, tetapi juga tempat, waktu, pemimpin, dan peserta. Semuanya itu harus dipersiapkan dengan baik dan seksama, sehingga upacara dapat berjalan dengan lancar. Untuk itu, dibutuhkan ketelitian.

Nilai kegotong-royongan tercermin dari keterlibatan berbagai pihak dalam penyelenggaraan upacara. Mereka saling bantu demi terlaksananya upacara. Dalam hal ini ada yang membantu menyiapkan makanan dan minuman, menjadi pemimpin upacara, dan lain sebagainya.

Nilai religius tercermin dalam doa bersama yang ditujukan kepada Tuhan agar mendapat perlindungan, keselataman dan kesejahteraan dalam menjalani kehidupan.

Sumber:
Sujarno. 2008. “Upacara Ngunduh Sarang Burung Walet di Karangbolong”, dalam Patrawidya Vol. 9 No. 1. Maret 2008. Yogyakarta: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Yogyakarta.
hal
Dilihat: