Showing posts with label Upacara Adat Lain. Show all posts
Showing posts with label Upacara Adat Lain. Show all posts

Upacara Adat Nyalin

Nyalin adalah suatu ritual khusus yang dilaksanakan oleh masyarakat petani di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, dalam proses tanam-panen padi. Sesuai dengan namanya, upacara yang berarti “mengganti” ini berupa penggantinan tanaman padi yang akan dipanen dengan tanaman padi baru yang biasanya diadakan satu tahun sekali antarapukul 16.00 hingga 17.00 WIB.

Adapun peralatan dan perlengkapan yang diperlukan dalam penyelenggaraan nyalin, di antaranya: dawen, kemenyan, pedupaan, lisong/cerutu, rurujakan, makanan (ranginang, opak, wajit, ketupat, leupeut, tantangangin), sanggar (tempat menyimpan sesajen yang terbuat dari bambu), kain putih, daun hoar, daun kawung, daun kanyere, caruluk, dan pohon tebu. Seluruh perlengkapan tersebut kemudian diletakkan ditepi areal lahan yang akan dipanen. Pohon tebu diletakkan di tepi sebelah kiri, sedangkan sanggar yang berisi pedupaan, kemenyan, dawen, makanan, diletakkan di sisi sebelah kanan.

Bila segala perlengkapan telah siap, guguni atau orang yang mempunyai hajat dengan pakaian serba putih (termasuk ikat kepala) mulai membakar kemenyan sambil membacakan beberapa bait rajah. Setelah selesai, sambil menahan nafas guguni mulai memetik lima tangkai batang padi yang bijinya dianggap paling baik menggunakan etem (ani-ani). Kemudian, kelima tangkai tersebut diikat kain putih serta daunnya dicocang (dikepang) sebagai padi indung. Jumlah ikatannya bergantung pada hari pemetikan. Misalnya, hari senin berjumlah 4 ikatan, selasa 3 ikatan, rabu 7 ikatan, kamis 8 ikatan, jumat 6 ikatan, sabtu 9 ikatan, dan minggu 5 ikatan. Selesai diikat, padi lalu dibawa pulang, dicalikeun (disimpan sementara di atas bale atau meja), dan akhirnya disimpan di suatu tempat sebagai benih pada musim panen berikutnya.

Upacara Adat Nyadar di Desa Kebundadap Barat, Madura

Upacara adat nyadar erat kaitannya dengan seorang pangeran bernama Anggosuto. Konon, Sang Pangeran sangat berjasa bagi masyarakat Madura, khususnya masyarakat Pinggir Papas dalam membuat garam. Selain itu, berkat Beliau pula para tentara Bali yang kalah dari pasukan keraton Sumenep terselamatkan. Pangeran Aggosuto memberi jaminan kepada Raja Sumenep bahwa sisa tertara Bali yang ada di Pinggir Papas menjadi tanggung jawabnya. Jaminan tadi diterima oleh Raja Sumenep, sehingga tentara Bali tersebut menjadi cikal bakal penghuni daerah Pinggir Papas. Untuk mengingat jasanya, diadakanlah upacara Nyadar di areal pemakaman Pangeran Anggosuto. Sebagai suatu kompleks, pemakaman Pangeran Anggosuto terdiri atas: bebengo (pendopo) yang berhadap dengan dua pintu gerbang (labeng agung), labeng agung dhalem, dan labeng agung lowar. Bentuk pintu gerbang bagian luar lebih besar dan tinggi dibanding bagian luar (lebih kecil dan pendek). Pintu tersebut terletak di antara makam Anggosuto dan makam Syeh Kuasa.

Pelaksanaan nyadar didasarkan pada perhitungan bergesernya matahari dari equator menuju garis balik utara (23,5° Lintang Utara) antara tanggal 21 Maret dan 21 Juni. Pada posisi itu bintang Karteka (Kartika) dan bintang Nanggele (Bajak) muncul dari arah timur sebagai tanda musim kemarau telah tiba. Hari yang ditetapkan untuk pelaksanaan upacara adalah Jumat (hari pertama) dan Sabtu (hari kedua). Penentuan tanggal pelaksanaan ditetapkan oleh penghulu yang melaporkan kepada ketua adat dan diputuskan (disyahkan) melalui musyawarah. Hasilnya tidak diumumkan secara terbuka, melainkan disebarkan secara lisan (dari mulut ke mulut). Sebelum upacara dilaksanakan, sebagai persiapan, ada kegiatan yang disebut korabhan, yaitu pengecatan kompleks pemakaman. Kegiatan ini dilakukan oleh empat kelompok yang terdiri dari keturunan Anggosuto, Syeh Kuasa, Embah Dukun, dan Embah Bangsa. Upacara nyadar itu sendiri dipimpin oleh empat orang berdasarkan asal-usul leluhurnya. Mereka memimpin bersama-sama. Tiap keputusan merupakan hasil keputusan musyawarah dengan tokoh lainnya. Para pemimpin itu dibantu oleh seorang penghulu yang dilantik pada saat pelaksanaan upacara nyadar.

Upacara nyadar di Desa Kebundadap Barat, Kecamatan Saronggi merupakan upacara rutin yang dilaksanakan tiga kali dalam satu tahun, yaitu bulan: Juli (Nyadar Pertama), Agustus (Nyadar Kedua), dan September (Nyadar Ketiga). Pelaksanaan berbagai nyadar itu adalah sebagai berikut.

Nyadar pertama pada dasarnya adalah ziarah (nyekar). Nyadar ini dilakukan pada hari Jumat. Sebagai tanda bahwa seseorang telah mengikuti nyadar pertama adalah bahwa yang bersangkutan ada tandanya, yaitu ada bedak cair yang menempel di bagian belakang telinga atau dahinya. Penanda tersebut diyakini dapat bebas dari gangguan makhluk halus. Selanjutnya, penaruhan tumpeng dilakukan pada hari kedua (Sabtu). Tumpeng tersebut ditaruh di bawah pohon asem yang ada di sekitar pemakaman. Kegiatan ini disebut sebagai upacara knoman. Kemudian, salah seorang penghulu menghitung panjheng dan membaca mantra. Dengan cara seperti itu, konon Sang Penghulu dapat mengetahui siapa-siapa yang tidak hadir. Bagi yang tidak hadir diwajibkan mengadakan upacara nyadar di rumahnya.

Nyadar kedua dilaksanakan sebulan setelah nyadar pertama. Dalam nyadar kedua ini senjata milik Anggosuto yang berupa keris dan kodik perangshang dikeluarkan dari pasarean. Kedua senjata tersebut dibawa ke pintu gerbang kompleks pemakaman, kemudian diberi doa. Setelah itu, dikembalikan ke tempat semula.

Nyadar ketiga pada dasarnya adalah pembacaan Layang Jati Suara dan Layang Sempurnaning Sembah secara serentak di pasarean ke empat tokoh yang dihormati. Kedua layang tersebut berisi pengetahuan tentang sikap dan perilaku seorang hamba Allah.

Nilai Budaya
Apaila dicermati, ada beberapa nilai budaya yang dapat dijadikan sebagai pedoman dalam hidup bersama di masyarakat. adapun nilai budaya tersebut diantaranya adalah. kebersamaan, gotong-royong, penghormatan. Nilai kebersamaan tercermin dari berkumpulnya masyarakat dalam satu tempat untuk mengadakan upacara. nilai gotong-royong tercermin dari semua pihak yang saling bahu membahu agar pelaksanaan upacara berjalan lancar. Dalam hal ini ada yang menjadi pemimpin upacara, peserta, dan lain sebagainya. Sementara nilai penghormatan tercermin dari upacara itu sendiri yang ditujukan untuk mengenang jasa Pangeran Anggosuto bagi masyarakat Desa Kebundadap.

Pangkak

Pangkak adalah salah satu upacara tradisional yang ada di kalangan masyarakat Desa Kalikatak, Kecamatan Arjasa, Kabupaten Sumenep. Pangkak berarti “memotong”, dalam hal ini adalah “memotong padi”. Pangkak pada dasarnya merupakan perwujudan ungkapan rasa syukur atas hasil panen yang melimpah serta harapan agar di tahun-tahun mendatang tidak jauh berbeda. Upacara ini biasanya diadakan saat musim panen (pada awal musim kemarau) oleh kelompok petani dalam satu desa atau antardesa. Adapun tempat pelaksanaannya di sawah (pada malam bulan purnama) dengan perlengkapan sesaji/sesajen yang berupa biji-bijian, seperti: padi, kacang, jagung, kedelai, dan ketan hitam. Selain itu, juga peralatan musik sronen dan ronjangan (kesenian yang menitik-beratkan pada alunan alat penumbuk padi).

Prosesi upacara pangkak diawali dengan pembagian peserta upacara menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok membentuk formasi lingkaran dan berjalan searah dengan jarum jam. Selanjutnya, pawang pangkak memimpin doa bersama sebagai suatu ungkapan rasa syukur dan permohonan agar panen mendatang hasilnya memuaskan. Acara selanjutnya adalah atraksi pangkak. Dalam acara ini sesepuh yang ditunjuk sebagai ketua mendendangkan lagu yang bersyair daerah Kangean dengan iringan gendang dumek. Kemudian, disusul dengan yang lain dalam lagu dan irama yang berbeda, namun tetap menciptakan irama yang harmonis. Pembawa syair dengan pakian yang berbeda tampil ke galanggang. Peserta yang lain menyusul dan menari sambil mengelilingi pembawa syair. Sementara, di sisi lain para muda-mudi saling mencari perhatian untuk mendapatkan jodoh. Bila ada yang cocok, yang bersangkutan akan dilempari ketan. Jika gayung bersambut, maka akan terjadi saling-lempar ketan. Upacara pangkak akan diakhiri dengan sebuah kirab menuju lumbung desa. Mereka menyumbang hasil usaha taninya sebagai wujud kepedulian terhadap masyarakat desa yang tidak mampu.

Mitemeuyan

Mitemeuyan adalah istilah orang Sunda bagi sebuah ritual sebelum tandur atau menanam padi. Ritual ini dilaksanakan ketika benih yang ditebar dalam persemaian berumur 20 hari atau telah tumbuh sekitar 20 centimeter. Adapun benihnya sendiri bila dibeli dari Dinas Pertanian, saat akan ditanam harus dijemur terlebih dahulu hingga kering. Apabila telah kering benih dimasukkan dalam karung untuk direndam air selama dua hari. Selanjutnya, benih diangkat dan ditutup dengan plastik selama dua hari agar menjadi “panas” dan tumbuh daunnya ketika ditebar di areal persemaian (pabinihan).

Sedangkan bila benih berasal dari padi pada musim panen sebelumnya prosesnya agak lebih panjang. Caranya, padi yang akan dijadikan benih dijemur dan disimpan di tempat terpisah dari padi-padi lainnya. Kemudian, benih ditaruh bergantungan di ruang dapur dengan tujuan di samping untuk menghindari tikus, juga agar padi betul-betul kering. Selanjutnya, dipilih yang cabang batangnya hanya berisi sebutir padi karena dianggap sebagai padi baik untuk dijadikan benih. Tentunya pemilihan itu tidak secara satu persatu (setiap batang padi). Akan tetapi, per-pocong (setiap ikatan padi). Selanjutnya, ikatan padi dilepaskan dari batangnya dengan cara diinjak-injak agar butir padi yang lepas dari batang tidak rusak (pecah). Seteleh itu, ditampi untuk menyisihkan butir padi yang tidak berisi. Kemudian, yang bernas-bernas (berisi) dimasukkan dalam karung dan direndam pada air mengalir selama dua hari dua malam. Selanjutnya, benih ditogekeun atau ditiriskan dan ditutup dengan plastik selama dua hari dua malam agar “panas” dan menjadi kecambah ketika ditebar di areal pabinihan (persemaian).

Ketika benih dalam persemaian berumur 20 hari, dicabuti secara hati-hati dan diikat sambil dibersihkan dengan air sebelum dipindahkan ke areal sawah yang siap untuk ditanami. Bagi yang masih melakukan upacara, pada tahapan ini dilakukan upacara mitemeuyan. Pelaksanaan upacara dipimpin oleh seorang wali puhun, diikuti pemilik sawah dan para perempuan yang akan tandur, baik sebagai buruh tani maupun sebagai pekerja yang hanya akan menyumbangkan tenaganya. Wali puhun adalah orang yang dianggap mengetahui segala seluk beluk upacara terutama pertanian (biasanya seseorang yang dianggap tua dan berpengalaman atau sesepuh). Perlengkapan upacara berupa purupuyan, tempat membakar kemenyan yang telah dilengkapi dengan bara api dan serbuk kemenyan. Pangradinan, wadah sesajen yang terdiri dari 7 macam makanan dalam jumlah sedikit. Daun hanjuang, taleus hideung, daun jawer kotok, cau manggala, anak pohon pisang batu dan tamiang pugur (sebatang buluh bambu panjangnya dua jengkal tangan). Kesemuanya diikat dan ditancapkan di hulu wotan, kecuali parupuyan dan pangradinan yang disimpan ditempat kering tidak jauh dari tempat itu.

Maksud ritual atau upacara ini adalah menitipkan kelangsungan hidup tanaman padi, agar selamat dan tidak terserang hama kepada Nyi Pohaci Sanghyang Sri atau Dewi Padi. Kemudian wali puhun mulai menancapkan beberapa batang bibit padi yang jumlahnya didasarkan pada jumlah nilai dan hari pasarannya agar tanaman tumbuh dengan subur dan terhindar dari berbagai macam hama. Misalnya, apabila tandur dilaksanakan pada hari Minggu yang diartikan sebagai mega (awan), maka jumlah bibit yang ditancapkan sebanyak 5 batang dalam satu ikatan, Senin (tangkal\kembang) sebanyak 4 batang, Selasa (seneu) sebanyak 3 batang, Rabu (daun) sebanyak 7 batang, Kamis (angin) sebanyak 8 batang, Jumat (cai) sebanyak 6 batang, dan Sabtu (bumi) sebanyak 9 batang.

Setelah Wali Puhun menancapkan padi, kemudian dilanjutkan oleh kaum perempuan. Mereka berdiri di antara dua buah garis yang telah terpola, supaya sudut-sudutnya tidak terinjak/terhapus. Dua atau tiga batang bibit padi ditanamkan pada setiap sudut tersebut. Kemudian mereka bergerak dengan arah mundur ke belakang. Tangan kiri menggenggam bibit padi, sementara tangan kanan menancapkan bibit padi pada sudut kiri dan kanan pola tegel itu. Bahkan sesampainya jangkauan tangan, mereka dapat menancapkan bibit pada 3-4 sudut bentuk pola tegel. Menanam padi dengan cara menggunakan pola tersebut, membuat rumpun-rumpun padi akan tumbuh secara teratur dan rapi. Selesai tandur, sawah mulai digenangi air kurang lebih setinggi sekitar 5-7 cm.

Dugderan, Tradisi Warga Semarang Sambut Ramadhan

Asal Usul
Di daerah Semarang, Provinsi Jawa Tengah, ada suatu tradisi berupa upacara tradisional yang disebut sebagai Dugderan. Konon, asal usul nama upacara ini merupakan perpaduan dari bunyi "dug" saat bedug dipukul yang diikuti oleh suara "der" ketika meriam disulut sebagai penanda akan datangnya bulan Ramadhan1. Selain ditandai oleh pukulan bedug dan dentuman meriam, tradisi Dugderan juga dilengkapi dengan pasar malam dan arak-arakan atau kirab budaya yang melibatkan berbagai lapisan masyarakat2.

Kisah dibalik tradisi Dugderan berawal ketika adanya perbedaan pendapat antarulama dalam menentukan hari dimulainya bulan puasa. Untuk mengatasi perbedaan pendapat tersebut, pada sekitar tahun 1881 Bupati Semarang waktu itu, Adipati Kyai Raden Mas Tumenggung (KRMT) Purbaningrat, memutuskan untuk ikut menentukan awal bulan puasa. Adapun caranya adalah mengadakan upacara khusus bersama para ulama di kabupaten dan diakhiri dengan membunyikan bedug Masjid Besar Semarang di Kauman serta meletuskan meriam di halaman Kabupaten (alun-alun Kota Semarang), masing-masing sejumlah tiga kali sebagai pemberitahuan kepada khalayak ramai1.

Suara bedug serta dentuman meriam itu tentu saja menarik perhatian warga masyarakat sekitarnya. Mereka pun berbondong-bondong mendatangi asal suara untuk mengetahui kejadian apa yang sedang terjadi. Setelah masyarakat berkumpul, keluarlah Kanjeng Adipati dan Imam Masjid Besar (Kyai Tafsir Anom) memberikan sambutan dan pengumuman. Isi pengumuman diantaranya adalah informasi yang pasti tentang penentuan awal bulan puasa dan ajakan untuk selalu meningkatkan tali silaturrahim atau persatuan dan senantiasa meningkatkan kulitas ibadah3.

Lambat laun, mungkin setelah menjadi acara berulang, kerumunan orang di halaman kabupaten yang menyaksikan tanda awal bulan puasa juga dimanfaatkan oleh para pedagang "tiban" dari berbagai daerah untuk mencari keuntungan. Mereka menjual berbagai macam makanan, minuman, serta mainan anak-anak terbuat dari tanah liat, bambu, maupun kertas. Salah satu mainan yang mereka jajakan disebut sebagai Warak Ngendhog/Ngendok, berbentuk hewan berkaki empat dengan kepala mirip seekor naga4.

Dalam perkembangan selanjutnya, para pedagang tidak hanya berdagang pada saat masyarakat berkumpul mendengarkan pengumuman awal puasa. Mereka bahkan telah menggelar dagangannya jauh hari sebelum upacara dilaksanakan dalam bentuk pasar malam. Selain itu, juga ditambah dengan acara arak-arakan yang melibatkan berbagai macam kelompok. Dugderan tidak hanya sebagai sarana guna menginformasikan umat Islam mengenai waktu memulai ibadah puasa Ramadhannya, tetapi juga sebagai sarana hiburan dan ajang pentas budaya bagi warga masyarakat Kota Semarang.

Waktu, Tempat, Pemimpin dan Pihak-pihak yang Terlibat dalam Upacara
Sebagaimana upacara pada umumnya, Dugderan juga dilakukan secara bertahap. Tahap-tahap yang harus dilalui dalam upacara ini adalah sebagai berikut: (1) pengadaan pasar malam; (2) tahap upacara untuk menentukan awal puasa; (3) tahap pemukulan beduk dan penyulutan meriam, serta (4) tahap arak-arakan atau karnaval. Sebagai catatan, dahulu penyelenggaraan Dugderan dilakukan satu hari menjelang bulan puasa dan hanya berupa upacara untuk menentukan awa puasa lalu diakhiri dengan pemukulan bedug dan dentuman meriam sebagai pemberitahuan kepada masyarakat luas. Namun saat ini, setelah dikemas untuk kepentingan kepariwisataan, Dugderan diawali dengan pengadaan pasar malam satu minggu menjelang puasa demi untuk menarik minat wisatawan baik asing maupun domestik.

Tempat pelaksanaan Dugderan bergantung pada tahapan-tahapan yang harus dilalui. Untuk pergelaran pasar malam berlokasi di Pasar Johar yang konon dahulu merupakan pusat kota Semarang5. Untuk prosesi pengambilan keputusan mengenai waktu pelaksanaan puasa diadakan di Balaikota Semarang. Untuk prosesi pemukulan bedug dilakukan di Mesjid Besar Kauman6. Sedangkan untuk prosesi arak-arakan diawali dari halaman Balaikota Semarang menuju Mesjid Besar Kauman (Mesjid Agung Semarang), Mesjid Agung Jawa Tengah (MAJT) atau ke Lapangan Simpang Lima Semarang7.

Pemimpin Dugderan juga bergantung pada kegiatan atau tahap yang harus dilakukan. Pada tahap musyawarah menentukan waktu pelaksanaan puasa, yang bertindak sebagai pemimpin adalah imam Masjid Besar Kauman. Pada tahap pengumuman hasil keputusan pada ulama tentang waktu dimulainya puasa dipimpin atau dilakukan oleh Walikota Semarang. Sedangkan yang bertindak sebagai koordinator kegiatan pasar malam maupun arak-arakan atau karnaval budaya adalah pihak Pemerintah Kota Semarang, melalui beberapa dinas yang biasa menangani bidang-bidang tersebut.

Selain pemimpin, ada pula pihak-pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan Dugderan, yaitu: (1) para ulama penentu awal puasa; (2) petugas yang membunyikan bedug dan meriam; (3) pengrawit; (4) pembawa bendera; (5) beberapa kelompok kesenian yang ada di wilayah Semarang; dan (6) warga masyarakat lainnya yang membantu menyiapkan perlengkapan upacara maupun menyaksikan jalannya upacara.

Perlengkapan Upacara
Sebagai sebuah upacara yang dilaksanakan secara berurutan, tentu saja memerlukan peralatan dan perlengkapan untuk menunjang kelancaran prosesinya. Adapun peralatan dan perlengkapan tersebut, diantaranya: (1) Bendera; (2) seperangkat gamelan; (3) mesiu (obat Inggris) dan kertas koran sebagai "peluru" meriam; (4) untaian bunga untuk dikalungkan pada dua buah meriam8; (5) bom udara; dan (6) sirine.

Jalannya Upacara
Apabila Ramadhan hampir tiba, satu minggu sebelumnya diadakan pasar malam bertempat di Pasar Johar atau sekitar Masjid Besar Kauman. Di areal pasar malam yang bertujuan untuk menarik minat wisatawan ini dijual berbagai macam barang dagangan, berupa: makanan, minuman, sandang, sepatu, dan mainan anak-anak (seruling bambu, kembang api, gasing, peluit, kapal-kapalan, mainan dari gerabah, boneka plastik/karet, dan lain sebagainya termasuk sebuah mainan yang diberi nama warak ngendok).

Warak konon merupakan binatang rekaan kreasi Kyai Saleh Darat dan atau Bupati KRMT Purbaningrat. Tujuan pembuatannya adalah sebagai ikon yang dapat menarik perhatian masyarakat luas dengan fungsi setara dengan pengumuman awal puasa. Adapun bentuknya dapat dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu: klasik, modifikasi, dan kontemporer4. Warak klasik bergigi tajam, mata melotot, telinga tegak dan berjanggut lebat. Pada bagian badan, leher, dan keempat kakinya ditutupi bulu dengan warna berselang seling (merah, kuning, putih, hijau, dan biru). Sedangkan ekornya melengkung kaku berbulu serupa dengan badan dan berujung surai. Warak modifikasi berbentuk mirip kepala naga dengan moncong mirip buaya bergigi tajam, lidah bercabangm nata melotot, berkumis, berjanggut, bertanduk cabang, kulit bersisik, berambut surai di belakang kepala, dan kepala memakai mahkota. Sedangkan warak kontemporer secara struktur mirip dengan warak klasik, namun detail kepala dan bulu tidak sesuai. Ketiga tipe ini, sama-sama bisa "ngendok" (bertelur) karena di bagian perutnya dimasukkan sebuah telur rebus.

Selain barang dagangan, pasar malam juga menyajikan permainan-permainan khusus bagi anak-anak maupun orang dewasa, seperti: komidi putar, ombak asmaran, bianglala, rollercoaster mini, rumah hantu, tong setan, pemancingan ikan plastik, dan lain sebagainya. Untuk dapat menikmatinya, pengunjung hanya dikenakan biaya sebesar lima ribu rupah untuk satu kali bermain.

Sehari menjelang Ramadhan, barulah dimulai prosesi dugderan. Dahulu dugderan diawali musyawarah antara Bupati dan para ulama di Masjid Besar Kauman pada malam hari dengan melihat bulan (metode hilal) untuk menentukan awal puasa1. Namun, saat ini dugderan diselenggarakan sore hari sekitar pukul 15.30 WIB ketika bulan belum begitu tampak. Penentuan awal bulan Ramadhan telah berpedoman pada Kebutusan Kementerian Agama RI melalui Sidang Isbat.

Dalam prosesi ini Walikota (selaku umara) yang memerankan tokoh Adipati beserta isteri dan rombongan berjalan dari Balaikota menuju Masjid Besar Kauman. Mereka dikawal oleh prajurit patang puluh dan arak-arakan Warang Ngendok melewati rute Jalan Pemuda. Sesampainya di Masjid, mereka disambut oleh para ulama dan habaib terkemuka di Semarang yang sebelumnya telah bermusyawarah menentukan awal puasa. Keputusan tersebut ditulis dalam secarik kertas (sukuf holakoh) untuk diberikan kepada walikota.

Selanjutnya, usai beramah-tamah sejenak, Walikota berdiri dan membacakan teks (dalam bahasa Jawa) surat keputusan ulama tentang dimulainya ibadah puasa di bulan Ramadhan. Usai pembacaan surat keputusan, dilanjutkan doa bersama dan diakhiri dengan pemukulan bedug Masjid Besar Kauman yang langsung diikuti oleh suara dentuman sebagai penanda dimulainya dugderan. Sebagai catatan, dahulu suara dentuman berasal dari meriam yang berada di kawasan Kanjengan. Namun seiring perkembangan zaman, dentuman meriam digantikan oleh bom udara, mercon, sirine, dan bahkan bleduran terbuat dari bongkahan batang pohon yang bagian tengahnya dilubangi kemudian diisi karbit.

Setelah meriam/mercon berhenti berdentum, acara dilanjutkan dengan pembagian ganjelril dan air khataman Al Quran kepada masyarakat. Prosesi dugderan kemudian ditutup dengan acara arak-arakan atau karnaval/kirab yang diikuti oleh pasukan Merah Putih, prajurit berkuda, kereta kencana, pasukan berpakaian adat Bhinneka Tunggal Ika, drumband dari akpol, barongsai, rombongan bendi yang dikendarai para camat dan pimpinan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), rombongan sepeda onthel mobil-mobil hias berbagai tema, dan kesenian tradisional yang ada di Kota Semarang. Dan, dengan berakhirnya tahap arak-arakan ini, berakhirlah seluruh rentetan dalam upacara dugderan sebagai penanda bahwa esok hari telah memasuki bulan Ramadhan.

Nilai Budaya
Upacara dugderan, jika dicermati secara mendalam, mengandung nilai-nilai yang pada gilirannya dapat dijadikan sebagai acuan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai itu antara lain adalah kebersamaan, ketelitian, goto royong, dan religius. Nilai kebersamaan tercermn dari berkumpulnya sebagian anggota masyarakat dalam satu tempat untuk mengikuti prosesi dugderan sambil berdoa bersama demi keselamatan bersama pula. Ini adalah wujud kebersamaan dalam hidup bersama di dalam lingkungannya (dalam arti luas). Oleh karena itu, upacara ini mengandung pula nilai kebersamaan. Dalam hal ini, kebersamaan sebagai komunitas yang mempunyai wilayah, adat-istiadat dan budaya yang sama.

Nilai ketelitian tercermin dari proses upacara itu sendiri. Sebagai suatu proses, upacara memerlukan persiapan, baik sebelum upacara, pada saat prosesi, maupun sesudahnya. Persiapan-persiapan itu, tidak hanya menyangkut peralatan upacara, tetapi juga tempat, waktu, pemimpin, dan peserta. Semuanya itu harus dipersiapkan dengan baik dan seksama, sehingga upacara dapat berjalan dengan lancar. Untuk itu, dibutuhkan ketelitian.

Nilai kegotong-royongan tercermin dari keterlibatan berbagai pihak dalam penyelenggaraan upacara. Mereka saling bantu demi terlaksananya upacara. Dalam hal ini ada yang membantu menyiapkan makanan dan minuman, membuat rangkaian bunga, menjadi pemimpin upacara, dan lain sebagainya.

Nilai religius tercermin dalam doa bersama yang ditujukan kepada Tuhan agar mendapat perlindungan, keselataman dan kesejahteraan dalam menjalani kehidupan. (gufron)

Sumber:
1. Wibowo, Galih. "Kebijakan Penyelenggaraan Dugderan Tradisi Kota Semarang Menyambut Bulan Ramadhan", diakses dari http://www.academia.edu/11716792/ KEBIJAKAN_PENYELENGGARAAN_DUGDERAN, tanggal 26 Desember 2015.

2. "Sejarah Dugderan", diakses dari https://wisatasemarang.wordpress.com/2010/04/11/se jarah-dugderan/, tanggal 24 Desember 2015.

3. Mawahib,Muhamad Zainal. 2015. "Kebudayaan Masyarakat Kota Semarang: Warak Ngendok sebagai Simbol Akulturasi dalam Dugderan", dalam http://jurnal.elsaonline. com/?p=75, diakses 26 Desember 2016.

4. "Dugderan", diakses dari http://semarangkota.go.id/main/menu/26/seni-dan-budaya/du gderan, tanggal 25 Desember 2015.

5. "Dugderan", diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Dugderan, tanggal 26 Agustus 2015.

6. "Dugderan - Sebuah Potret Budaya Semarang", diakses dari http://seputarsemarang.com/ dugderan-sebuah-potret-budaya-semarang/Dugderan, tanggal 26 Desember 2015.

7. "Semarang Sambut Ramadhan dengan Dugderan", diakses dari http://www.antaranews. com/berita/383313/semarang-sambut-ramadhan-dengan-dugderan, tanggal 26 Desember 2015.

8. Nigitha Joszy. 2013. "Prosesi Acara Kirab Budaya "Dugderan"". Diakses dari http:// nigitha16joszy.blogspot.co.id/2013/07/makalah-budaya-dugderan.html, tanggal 25 Desember 2015.

Tradisi Ngumbai Atakh Masyarakat Lampung Barat

Di kalangan masyarakat Lampung Barat, khususnya yang berada di sekitar pesisir Krui, Kecamatan Way Krui, Kabupaten Lampung Barat, sekitar 330 kilometer dari Bandarlampung, terdapat sebuah tradisi yang disebut ngumbai atakh yang dalam bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai “berdoa bersama”. Ngumbai atakh adalah suatu bentuk pengharapan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar hasil perkebunan yang menjadi matapencaharian warga masyarakat meningkat dan dijauhkan dari segala musibah ataupun adanya roh jahat yang bermaksud untuk mengganggu kesuburan tanaman. Adapun pelaksanaannya umumnya dilakukan pada hari pertama bulan atau musim haji.

Ngumbai atakh kepada Tuhan Yang Maha Kuasa ini dipimpin oleh seorang ustadz yang dianggap mampu atau menguasai ilmu agama. Sementara penyelenggaranya adalah warga masyarakat pemilik perkebunan. Agar lebih afdol, acara ini umumnya juga mengundang para tokoh agama, tokoh masyarakat, dan perangkat pekon setempat. Mereka secara berjamaah memanjatkan doa tanpa menyediakan sesajen di lokasi perkebunan agar diberikan peningkatan hasil perkebunan, kemudahan rezeki, dan dijauhkan dari segala musibah yang datang secara tidak terduga. Sebagai catatan, selain untuk mendapatkan berkah dari Tuhan Yang Maha Kuasa, tradisi ngubai atakh ini juga dapat dijadikan sebagai ajang mempererat tali silaturrahim antarwarga di masing-masing pekon (desa).

Adat Bediom Masyarakat Lampung Barat

Bediom adalah suatu adat pindah rumah (lamban) yang umum dilaksanakan oleh warga masyarakat Lampung Barat bagian pesisir. Tradisi Bediom ini tidak hanya dilakukan oleh suatu keluarga ketika akan pindah ke rumah yang baru dibangun, tetapi juga rumah lama yang akan ditempati lagi setelah ditinggalkan oleh penghuni sebelumnya. Adapun tujuannya adalah untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkah yang telah diberikan.

Adat bediom biasanya dilaksanakan pada bulan-bulan yang dianggap baik dalam kalender Islam, seperti Muharam, Maulud atau Bulan Haji dengan waktu pelaksanaan sebelum subuh dan isha (antara pukul 04.30-05.00 pagi). Sementara prosesinya sendiri diawali dengan kepala keluarga meninggalkan rumah lama diikuti oleh isteri, anak-anaknya, sanak saudara dan para tetangga menuju ke tempat tinggal baru. Jumlah pengiringnya bergantung pada kemampuan orang yang sedang bediom tersebut. Apabila ia termasuk orang mampu, maka bediom akan berlangsung sangat meriah dengan dihadiri oleh puluhan atau bahkan ratusan orang dan diiringi dengan musik atau lagu tradisional. Namun apabila ekonomi orang yang berdiom hanya “pas-pasan” maka para pengiringnya hanyalah sanak keluarga dan tetangga terdekat saja.

Adapun peralatan dan perlengkapan yang harus dibawa ketika melaksanakan adat bediom ini diantaranya adalah: peralatan tidur, peralatan memasak, lampu, sembako, sajadah dan Al Quran. Al Quran dan sajadah dibawa oleh kepala keluarga yang bersangkutan sebagai simbol bahwa ia adalah pemimpin atau imam bagi keluarganya. Sedangkan peralatan lainnya dibawa oleh sanak kerabat dan para tetangga sebagai simbol bahwa keluarga yang sedang bediom akan memulai kehidupan di tempat yang baru. Peralatan tersebut akan diberikan kepada kepala keluarga sebagai “modal” melanjutkan kehidupannya setelah sampai di tempat yang baru setelah dibacakan doa-doa sesuai dengan kondisi keluarga yang bediom tersebut.

Upacara Metulak pada Masyarakat Sasak

Sasak adalah salah satu sukubangsa di Indonesia yang sebagian besar mendiami Pulau Lombok, yaitu sekitar 2,6 juta orang atau 85% dari keseluruhan jumlah penduduknya. Dalam kehidupan keseharian mereka menggunakan bahasa Sasak yang merupakan anggota suku kumpulan bahasa Bali-Sasak-Sumbawa, dalam cabang bahasa Melayu-Polinesia Barat, keluarga bahasa Austronesia (ms.wikipedia.org).

Ada beberapa versi mengenai asal usul dari kata Sasak itu sendiri. Versi pertama, menyatakan bahwa sasak berasal dari kata “sak-sak” yang dalam bahasa Indonesia berarti “sampan”. Sedangkan versi lainnya diambil dari Kitab Negarakertagama yang menyebut kata “Sasak” menjadi satu frase dengan kata “Lombok”, yaitu “Lombok Sasak Mirah Adhi”. Dalam tradisi lisan masyarakat Lombok, kata sasak dipercaya berasal dari kata “sa’-saq” yang berarti “satu”, sedangkan “Lombok” berasal dari kata “Lomboq” yang berarti “lurus” atau “jujur”. Adapun makna “Lombok Sasak Mirah Adhi” dalam Negarakertagama karangan Mpu Prapanca yang menggunakan bahasa Kawi dapat diartikan sebagai “Kejujuran adalah permata kekayaan yang baik atau utama”. Kata “lombok” dalam bahasa Jawa Kawi berarti “lurus” atau “jujur”, “mirah” berarti “permata”, “sasak” berarti “kenyataan”, dan “adhi” berarti “yang baik” atau “yang utama” (id.wikipedia.org).

Masyarakat Sasak sebagian besar menganut agama Islam yang diperkirakan telah dibawa pada awal abad ke-16 hingga ke-17 di bawah pengaruh Sunan Giri dan orang-orang muslim Makassar, Sulawesi Selatan. Tetapi, dalam perkembangannya terjadi sinkretisme dengan agama yang telah dianut sebelumnya, yaitu Hindu, Budha, dan animisme. Hasil sinkretisme tersebut berupa sebuah “aliran” baru yang dikenal sebagai Wetu Telu. Nama Wetu Telu digunakan untuk membedakannya dengan Wetu Lima yang merujuk kepada amalan orang Islam yang bersembahyang lima kali sehari. Penganut Wetu Telu jumlahnya hanya sekitar 1% dan mayoritas hanya berada di Kampung Bayan, Mataram, Pujung, Sengkol, Rambitan, Sade, Tetebatu, Bumbung, Sembalun, Senaru, Loyol, dan Pasugulan (ms.wikipedia.org).

Lepas dari berbagai kepercayaan tersebut, sebagai sebuah sukubangsa masyarakat Sasak tentu menumbuhkembangkan suatu kebudayaan sebagai tanggapan aktif terhadap lingkungannya. Salah satu dari kebudayaan tersebut adalah tradisi Metulak yang berasal dari kata “tulak” berarti “kembali” dengan ditambah awalan “me”, sehingga secara harfiah dapat diartikan sebagai “mengembalikan”.

Metulak adalah sebuah upacara penolak bala dari gangguan hama, penyakit, bencana alam dan atau roh jahat yang berada di sekitar tempat tinggal. Konon, upacara yang prosesinya sering disebut besentulak ini berasal dari tradisi para leluhur pra-Islam di Desa Pujut, Lombok Tengah (Wacana dkk., 1985). Setelah Islam masuk, tradisi Metulak tetap dipertahankan dengan ditambahkan unsur dari agama Islam berupa barzanji atau syair-syair berisi pujian kepada Nabi Muhammad SAW.

Waktu, Tempat, Pemimpin dan Pihak-pihak yang Terlibat dalam Upacara
Tempat pelaksanaan upacara Metulak bergantung pada maksud dan tujuannya. Misalnya, apabila diadakan untuk meminta penyembuhan salah seorang anggota keluarga yang sakit, mendirikan dan menempati rumah baru, pemotongan rambut bayi, atau selamatan orang yang ingin berhaji, maka metulak dilaksanakan di rumah orang yang bersangkutan. Sedangkan, apabila diadakan untuk mengusir wabah penyakit atau hama tanaman saat padi mulai berisi, maka metulak diadakan di balai desa atau di persawahan (kebudayaanindonesia.net).

Adapun waktu pelaksanaannya juga disesuaikan dengan maksud dan tujuannya. Metulak dengan tujuan sebagai penolak wabah penyakit umumnya digelar ketika ada wabah penyakit yang menyerang penduduk atau secara rutin diadakan sekali dalam jangka waktu satu, empat, atau enam tahun. Sementara metulak sebagai penolak bala untuk individu, dilakukan sesuai dengan siklus lingkaran hidup individu tersebut.

Apabila metulak dilaksanakan oleh seluruh warga masyarakat sebuah desa, pemimpin upacaranya adalah kepala desa (datu) atau /ustad/kyai/ulama setempat. Namun, apabila metulak hanya dilakukan oleh sebuah keluarga, maka pemimpin upacaranya dapat ustad atau ulama setempat saja. Dalam melaksanakan tugasnya pemimpin upacara metulak dibantu oleh penowaq (orang yang dituakan) sebagai pengundang roh leluhur dan Dewi Anjani (penguasa gunung Rinjani), keliang (pembantu kepala desa), petabah (kelompok pembaca lontar), belian (dukun), dan pemangku. Sedangkan pihak lain yang juga terlibat dalam penyelenggaraan upacara adalah: nyai (isteri kyai), para perempuan tua yang sudah menopause (tidak haid lagi) sebagai pembantu penowaq, dan warga masyarakat lainnya. Mereka (warga masyarakat) biasanya membawa sebuah botol kosong yang nantinya akan diisi air setelah didoakan oleh belian untuk dibawa pulang sebagai penolak bala dan sejumlah 9 buah kepeng atau uang koin sebagai syarat dan bukan alat tukar.

Peralatan Upacara
Peralatan dan perlengkapan yang dipersiapkan dalam upacara metulak diantaranya adalah: (1) dulang berisi satu piring bubur putih, bubur merah, moto seong (ketan yang digoreng sangan); (2) tempayan berisi air dan daun beringin; (3) pucuk enak sebagai rambu-rambu atau saweq; (4) dula merah atau kemenyan dan dupa; dan (5) bokor kuningan berisi sembilan buah gulungan sirih beserta kapurnya yang diikat dengan benang putih, sembilan batang rokok juga diikat dengan benang putih, benang lima warna (putih, hitam, kuning, merah, dan ungu), dan sembek (ampas bekas kunyahan sirih). Bahan-bahan tersebut nantinya akan ditata berjajar dari utara ke selatan secara berurutan, mulai dari pucuk enau yang ditancapkan di tanah, tempayan, bokor, dulang dan dupa.

Jalannya Upacara
Apabila suatu desa akan mengadakan upacara metulak untuk menolak bala, maka datu akan memanggil kyai, para pemangku adat, dan pemuka masyarakat untuk mengadakan musyawarah di rumahnya atau di rumah salah seorang pemuka masyarakat. Tujuannya, adalah membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan prosesi besentulak, seperti: waktu dan tempat penyelenggaraan, penyelenggara upacara, tata tertib upacara, serta peralatan dan perlengkapan yang diperlukan dalam upacara. Untuk tata tertib upacara, tujuannya adalah mengatur tentang bagaimana metulak akan dilaksanakan agar terhindar dari pantangan-pantangan adat besentulak, yaitu: kaum perempuan pembantu pemangku haruslah orang yang telah mengalami menopause, kaum lelaki yang menjadi penyelenggara upacara harus bersih jasmani dan rohani, selama upacara berlangsung tidak boleh ada yang berhubungan badan, metulak baru boleh diadakan setelah prosesi penangkapan nyale (cacing) atau ketika padi mulai menunduk sebelum bulan ke sepuluh tahun Masehi.

Setelah terjadi kesepakatan, atas perintah datu atau kepala desa, orang-orang yang ditunjuk sebagai penyelenggara upacara segera melakukan berbagai macam hal berkaitan dengan metulak, seperti: mendirikan terop dari batang bambu dan anyaman daun kelapa (kelasah), menyiapkan tempayan yang ditutup kelambu dan diberi langit-langit, menyiapkan lima panginang (penginang selao, tulis, tombak, rowah, dan sembeq), membuat das atau pondok kecil dari kayu beratap ilalang tanpa dinding dengan lantai dari bilah bambu yang dianyam dengan ijuk atau rotan, menjemput dan membawa tombak oleh dua orang penyelenggara berpakaian adat, menginstruksikan setiap keluarga membuat saweg dan memasak gulai ayam, dan mencari berbagai macam tumbuhan hutan sebagai hiasan tempayan (tumbuhan nagasari, tandan uwar, injan bote) (Wacana dkk., 1985).

Ketika seluruh persiapan selesai, pelaksanaan upacara pun segera dilaksanakan dengan diawali pembacaan barzanji atau syarakalan setelah sholat Isya. Pembacaan barzanji ini memakan waktu lama karena jumlah baitnya yang sangat banyak, sehingga harus dilakukan secara bergantian oleh para jamaah yang dipimpin kyai dan pemangku. Adapun hidangan yang disuguhkan bagi para jamaah selama menunggu dan mensyairkan barzanji, diantaranya adalah: poteng (tape), tebu, sumping, jongkong, tombek, ketupat, dan rowut. Pemilihan jenis-jenis makanan tersebut bukanlah tanpa alasan karena mengandung makna-makna simbolis tertentu bagi masyarakat Sasak. Poteng misalnya, mengandung makna simbolis sebagai daging manusia, tebu menyimbolkan tulang, sumping menyimbolkan sum-sum tulang, jongkong dan tombek menyimbolkan isi dalam tubuh, ketupat dan tekel menyimbolkan laki-laki dan perempuan, dan rowut merupakan simbol dari kehidupan (kebudayaanindonesia.net).

Usai pelantunan barzanji, prosesi dilanjutkan dengan cakepan atau pembacaan kisah Nabi Yusuf yang ditulis dalam daun lontar. Pembaca dan penterjemahnya (pembayun) adalah para petabah yang terdiri dari kyai, pemangku dan beberapa orang jemaah. Sebelum ada listrik, di dekat kitab daun lontar yang akan dibaca diletakkan sebuah lampu berbahan biji jarak atau minyak kelapa sebagai penerang. Selain penerang, diletakkan juga kelengkapan lain berupa penginang tulis, air berisi kembang, dan penganan serabi.

Ketika kyai atau pemangku selesai membacakan bait ke-9 (timpak) dari kisah Nabi Yusuf, dia akan beristirahat sejenak dengan membuka hidangan surabi yang ada dihadapannya. Surabi itu digarami dan dicucuri santan lalu dicicipi sebanyak tiga kali. Selanjutnya kyai atau pemangku mulai barzanji lagi hingga bait yang menceritakan tentang kisah Nabi Yusuf dilemparkan ke dalam sumur oleh saudaranya sendiri. Kisah pelemparan Nabi Yusuf diiringi pula dengan pembasahan lontar oleh Kyai atau Pemangku dengan air kembang yang telah disediakan.

Selesai pembasahan lontar, Kyai atau Pemangku akan menutup kembali surabi yang tadi telah dicicipi lalu mendoakannya dan melanjutkan lagi membaca cakepan. Setelah cakepan tuntas dibaca, Kyai atau Pemangku akan membacakan rowah berupa doa kubur, doa selamat, Surat Al Ikhlas sebanyak tiga kali, Surat Al Fatihah, dan bagian awal dari Surat Al Baqarah, serta dzikir la ilaha illallah sebanyak seratus kali yang diikuti oleh para jamaah.

Dan, prosesi terakhir dalam upacara metulak adalah makan bersama yang diikuti oleh seluruh peserta upacara. Selanjutnya, pembagian air bercampur kembang yang tadi telah didoakan dan digunakan sebagai pembasuh lontar kepada para peserta upacara. Air tersebut nantinya dapat digunakan sebagai penolak bala untuk menyiram lahan persawahan, areal perladangan, kandang, pekarangan dan rumah tempat tinggal, dan dapat pula diminumkan pada orang yang sedang sakit sebagai penolak bala penyakit. Prosesi pembagian air ini merupakan akhir dari serentetan rangkaian dalam upacara metulak yang dipimpin oleh Kyai atau Pemangku.

Sebagai pelengkap upacara metulak, keesokan harinya digelar kesenian tradisional berupa sebuah permainan yang disebut “peresean” yang dalam bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai “pelindung atau penangkis pukulan” (Idealita, 2011). Dalam permainan ini para pemainnya akan melakukan suatu pertarungan (saling pukul) dengan menggunakan sebatang tongkat dari rotan sebagai alat pemukul dan sebuah perisai (ende) untuk menangkis pukulan lawan.

Ada beberapa versi mengenasi asal usul permainan bela diri ini. Versi pertama, menyatakan bahwa konon peresean berasal dari legenda Ratu Mandalika yang bunuh diri karena melihat dua orang saling berkelahi hingga mati untuk memperebutkan cintanya. Sedangkan versi yang lainnya lagi menyatakan bahwa peresean timbul dari pelampiasan emosional para raja Sasak ketika akan dan atau telah selesai menghadapi peperangan melawan musuh-musuhnya. Oleh karena itu, peresean juga digunakan sebagai ajang untuk menunjukkan atau memupuk keberanian, ketangkasan dan ketangguhan seseorang dalam sebuah pertempuran. Darah yang menetes ke bumi dalam pertarungan peresean akibat sabetan alat pemukul juga diyakini sebagai simbol turunya hujan, sehingga semakin banyak darah yang menetes, semakin lebat pula hujan yang akan turun.

Nilai Budaya
Ada beberapa nilai yang terkandung dalam upacara adat metulak. Nilai-nilai itu antara lain adalah: kebersamaan, ketelitian, gotong royong, dan keselamatan. Nilai kebersamaan tercermin dari berkumpulnya sebagian besar anggota masyarakat dalam suatu tempat untuk makan dan doa bersama demi keselamatan bersama pula. Ini adalah wujud kebersamaan dalam hidup bersama di dalam lingkungannya (dalam arti luas). Oleh karena itu, upacara ini mengandung pula nilai kebersamaan. Dalam hal ini, kebersamaan sebagai komunitas yang mempunyai wilayah, adat-istiadat dan budaya yang sama.

Nilai ketelitian tercermin dari proses upacara itu sendiri. Sebagai suatu proses, upacara memerlukan persiapan, baik sebelum upacara, pada saat prosesi, maupun sesudahnya. Persiapan-persiapan itu, tidak hanya menyangkut peralatan upacara, tetapi juga tempat, waktu, pemimpin, dan peserta. Semuanya itu harus dipersiapkan dengan baik dan seksama, sehingga upacara dapat berjalan dengan lancar. Untuk itu, dibutuhkan ketelitian.

Nilai kegotong-royongan tercermin dari keterlibatan berbagai pihak dalam penyelenggaraan upacara. Mereka saling bantu demi terlaksananya upacara. Dalam hal ini ada yang membantu menyiapkan makanan dan minuman, menjadi pemimpin upacara, dan lain sebagainya.

Nilai keselamatan tercermin dalam adanya kepercayaan bahwa alam dan manusia dapat juga mengalami gangguan dari hama, penyakit, maupun roh jahat, sehingga harus di “tulak” atau “dikembalikan” agar menjadi seimbang kembali. Metulak merupakan salah satu upacara yang bertujuan untuk mencari keselamatan dari gangguan-gangguan yang dapat merusak keseimbangan alam dan manusia tersebut. (gufron)

Sumber:
Idealita, Neky Noorwinda, “Budaya Lokal Lombok Peresean”, dalam http://neky-neky.blogspot.com/2011/05/budaya-lokal-lombok-peresean.html, diakses tanggal 27 Januari 2013.

Lalu Wacana dkk,. 1985. Upacara Tradisional yang Berkaitan dengan Peristiwa Alam dan Kepercayaan Daerah Nusa Tenggara Barat. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

“Sasak”. http://ms.wikipedia.org/wiki/Sasak. Diakses 26 September 2013.

“Suku Sasak”. http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Sasak. Diakses 26 September 2013.

“Upacara Metulak”. http://kebudayaanindonesia.net/id/culture/1144/upacara-metulak#.UkEcNIaouuI. Diakses 26 September 2013.

Upacara Kebo-keboan pada Masyarakat Using (Banyuwangi, Jawa Timur)

Pengantar
Banyuwangi adalah salah satu kabupaten yang ada di Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Di sana ada sebuah etnik yang bernama Using[1]. Di kalangan mereka, khususnya yang berdiam di Dusun Krajan, Desa Alasmalang, Kecamatan Singojuruh, ada sebuah upacara tradisional yang sangat erat kaitannya dengan bidang pertanian yang disebut sebagai “Kebo-keboan”. Maksud diadakannya upacara itu adalah untuk meminta kesuburan tanah, panen melimpah, serta terhindar dari malapetaka baik yang akan menimpa tanaman maupun manusia yang mengerjakannya.

Sejak kapan upacara kebo-keboan diadakan? Sampai kini belum ada yang mengetahuinya secara pasti. Namun, menurut cerita yang berkembang secara turun-temurun di kalangan masyarakat Krajan, kisah dibalik adanya upacara kebo-keboan tersebut berawal ketika Dusun Krajan mengalami pagebluk, yaitu timbulnya berbagai macam hama penyakit yang menyebabkan kematian tanaman pertanian. Untuk mengatasi bencana tersebut, salah seorang tokoh masyarakat setempat yang bernama Buyut Karti mengadakan ritual dengan cara menirukan perilaku seekor kerbau yang sedang membajak sawah. Dan, ternyata ritual tersebut mampu menjadi penghalau dari berbagai macam bencana yang menimpa Dusun Krajan. Akhirnya, ritual yang kemudian dinamakan kebo-keboan itu dilakukan secara rutin setiap tahun sekali.

Waktu, Tempat, Pemimpin dan Pihak-pihak yang Telibat dalam Upacara
Upacara kebo-kebon di Dusun Krajan dilaksanakan satu kali dalam satu tahun yang jatuh pada hari Minggu antara tanggal 1 sampai 10 Sura (tanpa melihat hari pasaran). Dipilihnya hari minggu sebagai hari penyelenggaraan dengan pertimbangan bahwa pada hari tersebut masyarakat sedang tidak bekerja (libur), sehingga dapat mengikuti jalannya upacara. Sedangkan, dipilihnya bulan Sura dengan pertimbangan bahwa Sura, menurut kepercayaan sebagian masyarakat Jawa, adalah bulan yang keramat.

Sebagaimana upacara pada umumnya, upacara kebo-keboan di Krajan juga dilakukan secara bertahap. Tahap-tahap yang harus dilalui dalam upacara ini adalah sebagai berikut: (1) tahap selamatan di Petaunan; (2) tahap ider bumi atau arak-arakan mengelilingi Dusun Krajan; dan (3) tahap ritual kebo-keboan yang dilaksanakan di daerah persawahan Dusun Krajan.

Pemimpin dalam upacara kebo-keboan ini bergantung pada kegiatan atau tahap yang dilakukan. Pada tahap selamatan di Petaunan, yang bertindak sebagai pemimpin upacara adalah kepala Dusun Krajan. Sedangkan, yang bertindak sebagai pemimpin upacara saat mengadakan ritual ider bumi dan kebo-keboan adalah seorang pawang yang dianggap sebagai orang yang ahli dalam memanggil roh-roh para leluhur.

Adapun pihak-pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan upacara adalah: (1) para aparat Dusun Krajan; (2) beberapa kelompok kesenian yang ada di wilayah Alasmalang; (3) empat orang atau lebih yang nantinya akan menjadi kebo-keboan dan (4) warga masyarakat lainnya yang membantu menyiapkan perlengkapan upacara maupun menyaksikan jalannya upacara.

Jalannya Upacara
Satu minggu menjelang waktu upacara kebo-keboan tiba, warga masyarakat yang berada di Dusun Krajan mengadakan kegiatan gotong royong untuk membersihkan lingkungan rumah dan dusunnya. Selanjutnya, satu hari menjelang pelaksanaan upacara, para ibu bersama-sama mempersiapkan sesajen yang terdiri atas: tumpeng, peras, air kendi, kinang ayu, aneka jenang, inkung ayam dan lain sebagainya. Selain itu, dipersiapkan pula berbagai perlengkapan upacara seperti para bungkil, singkal, pacul, pera, pitung tawar, beras, pisang, kelapa dan bibit tanaman padi. Seluruh sesajen tersebut selain untuk acara selamatan, nantinya juga akan ditempatkan di setiap perempatan jalan yang ada di Dusun Krajan.

Pada malam harinya para pemuda menyiapkan berbagai macam hasil tanaman palawija seperti pisang, tebu, ketela pohon, jagung, pala gumantung, pala kependhem, pala kesimpar. Tanaman tersebut kemudian ditanam kembali di sepanjang jalan Dusun Krajan. Selain itu, mereka mempersiapkan pula bendungan yang nantinya akan digunakan untuk mengairi tanaman palawija yang ditanam.

Pagi harinya, sekitar pukul 08.00, diadakan upacara di Petaunan yang dihadiri oleh panitia upacara, sesepuh dusun, modin, dan beberapa warga masyarakat Krajan. Pelaksanaan upacara di tempat ini berlangsung cukup sederhana, yaitu hanya berupa kata sambutan dari pihak panitia upacara, kemudian dilanjutkan dengan doa yang dipimpin oleh modin dan diakhiri dengan makan bersama.

Selanjutnya, para peserta upacara yang terdiri dari para sesepuh dusun, seorang pawang, perangkat dusun, dua pasang kebo-keboan (setiap kebo-keboan berjumlah dua orang), para pembawa sesajen, pemain musik hadrah, pemain barongan dan warga Dusun Krajan akan melakukan pawai ider bumi mengeliling Dusun Krajan. Pawai ini dimulai di Petaunan kemudian menuju ke bendungan air yang berada di ujung jalan Dusun Krajan. Sesampainya di bendungan, jagatirta (petugas pengatur air) akan segera membuka bendungan sehingga air mengalir ke sepanjang jalan dusun yang sebelumnya telah ditanami tanaman palawija oleh para pemuda. Sementara, para peserta upacara segera menuju ke areal persawahan milik warga Dusun Krajan. Di persawahan inilah kebo-keboan tersebut memulai memperlihatkan perilakunya yang mirip seperti seekor kerbau yang sedang membajak atau berkubang di sawah. Pada saat kebo-keboan sedang berkubang, sebagian peserta upacara segera turun ke sawah untuk menanam benih padi.

Setelah benih tertanam, para peserta yang lain segera berebut untuk mengambil benih padi yang baru ditanam tersebut. Benih-benih yang baru ditanam itu dipercaya oleh warga masyarakat Dusun Krajan dapat dijadikan sebagai penolak bala, mendatangkan keberuntungan serta membawa berkah. Pada saat para peserta memperebutkan benih tersebut, para kebo-keboan yang sebelumnya telah dimantrai oleh pawang sehingga menjadi trance, akan segera mengejar para pengambil benih yang dianggap sebagai pengganggu. Namun, para kebo-keboan itu tidak sampai mencelakai para pengambil benih karena sang pawang selalu mengawasi setiap geraknya. Setelah dirasa cukup, maka sang pawang akan menyadarkan kebo-keboan dengan cara mengusapkan pitung tawar pada bagian kepalanya. Setelah itu, mereka kembali lagi ke Petaunan.

Sebagai catatan, sebelum tahun 1965 pelaksanaan ider bumi tidak hanya mengelilingi sepanjang jalan Dusun Krajan saja, melainkan juga ke arah batu besar yang ada di empat penjuru angin yang diawali dengan berjalan ke arah timur menuju Watu Lasa, kemudian ke barat menuju Watu Karang, lalu ke selatan menuju Watu Gajah dan ke arah utara menuju Watu Naga.

Sesampainya di Petaunan, peserta upacara kembali ke rumah masing-masing sambil membawa padi yang tadi mereka ambil di sawah untuk dijadikan sebagai penolak bala dan juga sekaligus pembawa berkah. Malam harinya, mereka kembali lagi ke Petaunan untuk menyaksikan pagelaran wayang kulit dengan lakon Sri Mulih yang mengisahkan tentang Dewi Sri. Lakon tersebut dipentaskan dengan harapan agar warga Dusun Krajan mendapatkan hasil panen padi yang melimpah. Dan, dengan dipentaskannya kesenian wayang kulit di Petaunan itu, maka berakhirlah seluruh rentetan dalam upacara kebo-keboan di Dusun Krajan.

Nilai Budaya
Upacara kebo-keboan di Dusun Krajan, Desa Alasmalang, Kabupaten Banyuwangi, jika dicermati secara mendalam, mengandung nilai-nilai yang pada gilirannya dapat dijadikan sebagai acuan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai itu antara lain adalah: kebersamaan, ketelitian, gotong royong, dan religius. Nilai kebersamaan tercermin dari berkumpulnya sebagian besar anggota masyarakat dalam suatu tempat, makan bersama dan doa bersama demi keselamatan bersama pula. Ini adalah wujud kebersamaan dalam hidup bersama di dalam lingkungannya (dalam arti luas). Oleh karena itu, upacara ini mengandung pula nilai kebersamaan. Dalam hal ini, kebersamaan sebagai komunitas yang mempunyai wilayah, adat-istiadat dan budaya yang sama.

Nilai ketelitian tercermin dari proses upacara itu sendiri. Sebagai suatu proses, upacara memerlukan persiapan, baik sebelum upacara, pada saat prosesi, maupun sesudahnya. Persiapan-persiapan itu, tidak hanya menyangkut peralatan upacara, tetapi juga tempat, waktu, pemimpin, dan peserta. Semuanya itu harus dipersiapkan dengan baik dan seksama, sehingga upacara dapat berjalan dengan lancar. Untuk itu, dibutuhkan ketelitian.

Nilai kegotong-royongan tercermin dari keterlibatan berbagai pihak dalam penyelenggaraan upacara. Mereka saling bantu demi terlaksananya upacara. Dalam hal ini ada yang membantu menyiapkan makanan dan minuman, menjadi pemimpin upacara, dan lain sebagainya.

Nilai religius tercermin dalam doa bersama yang ditujukan kepada Tuhan agar mendapat perlindungan, keselataman dan kesejahteraan dalam menjalani kehidupan.

Sumber:
Purwaningsih, Ernawati. 2007. “Kebo-keboan, Aset Budaya di Kabupaten Banyuwangi”, dalam Jantra Vol. 2 No. 4. Desember 2007. Yogyakarta: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Yogyakarta.

Wahjudi Pantja Sunjata, 2007. Fungsi dan Makna Upacara Tradisional Kebo-keboan. Yogyakarta: Eja Publisher.

[1] Wilayah pemukiman masyarakat Using hanya tercatat di 9 dari 24 kecamatan yang ada di Kabupaten Banyuwangi, yaitu di Kecamatan Banyuwangi, Giri, Glagah, Kabat, Rogojampi, Snggon, Singojuruh, Cluring, dan Genteng.

Upacara Mane’e pada Masyarakat Kakorotan (Sulawesi Utara)

Pendahuluan
Kakorotan adalah kawasan kepulauan yang mencakup Pulau: Kakorotan, Intata, dan Malo. Secara administratif kepulauan tersebut termasuk dalam wilayah Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara. Di kawasan pulau-pulau kecil yang berada di penghujung utara Indonesia itu sejak abad ke-16 ada sebuah upacara adat yang disebut mane’e yang bermakna “mengambil ikan di laut secara bersama setelah ada musyawarah mufakat”.

Tradisi menangkap ikan secara berjamaah yang dilakukan oleh 10 sukubangsa yang ada di wilayah Kakorotan tersebut merupakan akhir dari masa eha. Eha adalah masa pelarangan untuk mengambil hasil laut (ikan) dan darat (buah-buahan, sayur-mayur, binatang ternak) selama tiga sampai enam bulan setiap tahunnya. Selama masa eha itu, tak seorang warga pun yang boleh mengambil sumber daya alam di darat maupun laut dalam zona tertentu di wilayah Kakorotan. Apabila ada orang yang kedapatan melakukan pelanggaran, maka sanksinya adalah denda yang besarnya kelipatan Rp.100.00,00, atau bergantung dari jumlah orang yang memergokinya plus dua tetua adat dan satu orang tokoh dari setiap sukubangsa yang ada di sana.

Waktu, Tempat, dan Pihak-pihak yang Terlibat dalam Upacara
Sebagaimana upacara pada umumnya, upacara mane’e juga dilakukan secara bertahap. Ada empat tahap yang harus dilalui dalam upacara ini, yaitu: (1) tahap maraca pundagi atau memotong tali hutan yang diadakan tiga hari sebelum ritual mane’e diadakan; (2) tahap doa selamatan yang di pimpin oleh para tetua adat (mangolom para) di Pulau Kakorotan; (3) tahap penentuan waktu dan zona upacara di Pulau Intata (sekitar 600 meter arah utara Pulau Kakorotan). Penentuan waktu ini didasarkan pada posisi bulan yang akan berpengaruh pada pasang-surutnya air laut; dan (4) tahap mane’e atau menangkap ikan secara beramai-ramai di tepi laut. Sedangkan, pihak-pihak yang terlibat dalam upacara mane’e adalah para tetua adat, tokoh masyarakat, warga masyarakat di Kepulauan Kakorotan, dan sebagian warga di luar Kepulauan Kakorotan yang mendapat undangan atau ingin menyaksikan jalannya upacara.

Perlengkapan Upacara
Perlengkapan yang perlu dipersiapkan dalam upacara mane’e ini adalah: (1) jubih (panah laut), (2) saringan; dan (3) Jaring berbentuk segi empat yang terbuat dari janur kelapa dan tali hutan. Jaring ini dibuat secara bergotong-royong oleh seluruh warga Karorotan sehingga panjangnya dapat mencapai tiga kilometer.

Jalannya Upacara
Setelah masa eha berakhir, para tetua adat di kepulauan Kakorotan mulai mengabarkan kepada para warganya agar mereka bersiap-siap untuk mengadakan pesta mane’e baik di darat maupun di laut secara besar-besaran. Kabar ini kemudian disampaikan oleh warga pada warga lainnya yang sedang merantau atau berada di luar wilayah Kakorotan.

Tiga hari sebelum dilaksanakan upacara mane’e para warga di Pulau Kakorotan mulai melangsungkan upacara pengambilan tali di dalam hutan. Setelah itu, dilanjutkan lagi dengan upacara doa selamatan yang dipimpin oleh para tetua adat (mangolom para) di Pulau Kakorotan. Selanjutnya, diadakan musyawarah untuk menentukan waktu dan tempat upacara mane’e yang disesuaikan dengan peredaran bulan mengeliling bumi.

Pada saat para kepala adat melakukan musyawarah tersebut warga di Pulau Kakorotan mulai merajut jaring dari bahan janur kelapa dan tali hutan. Setelah jaring siap, pagi hari menjelang upacara jaring janur tersebut dibawa secara beramai-ramai untuk ditebarkan (mamoto u’sammi) ke laut yang sedang pasang. Sebelum memasang jaring, mereka membuat semacam kubangan seluas 400 meter persegi yang nantinya akan digunakan untuk memerangkap ikan ketika air laut sedang surut.

Saat seluruh peserta upacara telah berada di tepi pantai, menjelang tengah hari jaring yang telah dipasang tersebut kemudian ditarik ke tepian sambil mengarahkan ikan-ikan ke kubangan di bibir pantai. Penggiringan ikan-ikan ke kubangan itu memakan waktu sekitar empat hingga lima jam. Dan, apabila ikan-ikan telah terkumpul di kubangan, warga pun segera menangkapinya dengan menggunakan jubih (panah laut), saringan atau dengan tangan kosong. Ikan hasil tangkapan itu kemudian ada yang di bawa pulang dan ada pula yang dibagikan pada pengunjung atau wisatawan untuk dibakar dan dimakan bersama-sama. Ritual mane’e diakhiri dengan doa bersama sebagai rasa syukur kepada Tuhan (manarimma alama).

Nilai Budaya
Upacara mane’e pada masyarakat di Kepulauan Kakorotan, jika dicermati secara mendalam, mengandung nilai-nilai yang pada gilirannya dapat dijadikan sebagai acuan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai itu antara lain adalah: kebersamaan, gotong royong, kearifan dan religius. Nilai kebersamaan tercermin dari berkumpulnya sebagian besar anggota masyarakat dalam suatu tempat untuk sama-sama mengikuti prosesi mane’e dan kemudian berdoa bersama demi keselamatan bersama pula. Ini adalah wujud kebersamaan dalam hidup bersama di dalam lingkungannya (dalam arti luas). Oleh karena itu, upacara ini mengandung pula nilai kebersamaan. Dalam hal ini, kebersamaan sebagai komunitas yang mempunyai wilayah, adat-istiadat dan budaya yang sama.

Nilai kegotong-royongan tercermin dari keterlibatan berbagai pihak dalam penyelenggaraan upacara. Mereka saling bantu demi terlaksananya upacara. Dalam hal ini ada yang membantu menyiapkan bahan pembuat jaring, membuat jaring, membuat kubangan di pantai dan lain sebagainya.

Nilai kearifan tercermin dari upacara mane’e itu sendiri yang merupakan rangkaian akhir dari masa eha atau pelarangan pengambilan sumber daya yang ada di laut maupun di darat. Fungsi dari pelarangan ini pada hakikatnya adalah untuk menjaga agar sumber daya alam tetap lestari dan dapat dinikmati oleh generasi berikutnya.

Nilai religius tercermin dalam doa bersama yang ditujukan kepada Tuhan agar mendapat perlindungan, keselataman dan kesejahteraan dalam menjalani kehidupan.

Sumber: Majalah Gatra Nomor 30 Beredar Kamis, 7 Juni 2007

Upacara Ngunduh Sarang Burung Walet di Karangbolong (Kebumen, Jawa Tengah)

Asal Usul
Karangbolong merupakan suatu daerah yang terletak di pesisir pantai selatan Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Di daerah yang sebagian tanahnya merupakan pegunungan kapur ini ada suatu tradisi yang berupa upacara ngunduh atau mengambil sarang burung walet yang banyak terdapat di goa-goa yang berada pada tebing sepanjang Pantai Karangbolong. Maksud dan tujuan penyelenggaraan upacara ngunduh sarang burung walet di Desa Karangbolong, Kecamatan Buayan, Kabupaten Kebumen ini adalah memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar diberi keselamatan selama proses pengunduhan berlangsung. Selain itu, upacara ngunduh sarang burung walet juga bertujuan untuk meminta izin kepada Nyai Ratu Kidul sebagai penguasa laut selatan dan para penunggu atau yang mbaureksa goa, yaitu Kyai Bekel, Kyai Pangerengan, Kyai Sangkur, dan Mbok Lura Kenanga agar pelaksanaan pengunduhan berjalan dengan lancar. Bagi sebagian masyarakat Karangbolong, makhluk-makhluk gaib tersebut dianggap mempunyai kekuatan yang dapat mendatangkan bencana apabila “daerah kekuasaannya” diganggu tanpa meminta izin terbelih dahulu.

Sejak kapan upacara ngunduh sarang burung walet diadakan? Sampai kini belum ada yang mengetahuinya secara pasti. Namun, menurut cerita yang berkembang secara turun-temurun pada warga masyarakat Karangbolong, kisah dibalik adanya upacara ngunduh sarang burung walet tersebut berawal pada abad XVII ketika permaisuri Raja Mataram mengalami sakit yang tidak kunjung sembuh. Oleh karena segala obat dari tabib maupun dukun tidak ada yang berhasil menyembuhkannya, maka raja pun kemudian melakukan tapa brata untuk mencari petunjuk dari Yang Maha Kuasa agar dapat menolong isterinya. Dan, dalam semedinya itu raja mendapat wangsit bahwa obat yang dapat menyembuhkan permaisuri adalah jamur yang tumbuh pada batu karang di sekitar pantai laut selatan.

Setelah mendapat wangsit tersebut, lalu sang raja mengadakan musyawarah dengan para kerabatnya dan petinggi kerajaan. Dalam musyawarah tersebut akhirnya diputuskan untuk memanggil Adipati Bagelen (kini ikut wilayah Kabupaten Purworejo) menghadap ke istana. Setelah Adipati Bagelen menghadap, ia diperintahkan untuk mencari jamur yang tumbuh pada batu karang di sekitar pantai selatan. Adipati Bagelen pun berangkat menyusuri pantai laut selatan bersama dua orang abdinya yang bernama Ki Sanglur dan Ki Sanglar.

Singkat cerita, suatu hari sampailah rombongan Adipati di Gunung Karang Kuda (termasuk daerah Karangbolong). Di tempat itu ia bersemedi, namun tidak berhasil mendapatkan wangsit. Selanjutnya, rombongan adipati pindah ke Karangbolong. Ketika bersemedi di Karangbolong ini ia akhirnya mendapat petunjuk dari seorang puteri bernama Dewi Suryawati yang mengaku sebagai anak buah Nyi Roro Kidul, penguasa Laut Selatan. Dewi Suryawati mengatakan bahwa jamur yang selama ini dicari Adipati berada di dalam goa yang letaknya tidak jauh dari tempatnya bersemedi. Sang Dewi juga mengatakan bahwa ia bersedia membantu mengambil jamur tersebut dengan syarat Adipati beserta rombongan harus mengadakan ritual-ritual tertentu dan ketika masuk ke dalam gua tidak boleh menoleh ke belakang. Akhirnya, dengan pertolongan Sang Dewi Adipati Bagelen berhasil memetik jamur yang tidak lain adalah sarang burung walet.

Sarang burung walet itu selanjutnya ia bawa ke Mataram untuk diserahkan kepada raja sebagai obat bagi penyakit Permaisuri. Dan, setelah permaisuri diobati dengan sarang burung walet tersebut, tidak berapa lama kemudian ia menjadi sembuh seperti sedia kala. Atas jasa sang Adipati, Raja Mataram berkenan memberikan hadiah. Namun, hadiah dari Raja Mataram ditolak Adipati Bagelen karena ia telah mengikat janji dengan Dewi Suryawati.

Konon, sang Adipati beserta kedua abdinya kemudian kembali lagi ke Karangbolong. Di sana ia berganti nama menjadi Ki Surti dan menikah secara kebatinan dengan Dewi Suryawati. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, Adipati beserta para abdinya bekerja sebagai pencari sarang burung walet. Namun, setelah berkali-kali mengambil sarang burung, suatu saat Ki Sanglur dan Ki Sanglar melanggar pantangan Dewi Suryawati, yaitu menoleh ke belakang. Mereka pun langsung jatuh ke laut dan tewas seketika. Sejak saat itu Dewi Suryawati tidak mau lagi membantu mengunduh sarang burung walet.

Hal ini memaksa Ki Surti terpaksa meminta bantuan pada bekel Karangbolong yang bernama Ki Napsiah untuk membuat tangga yang nantinya akan digunakan untuk memanjat gua tempat burung walet bersarang. Namun, setelah kerjasama itu berjalan beberapa tahun, timbul nafsu jahat dari Ki Napsiah untuk menguasai goa tempat burung walet bersarang. Ia lalu mencoba membunuh Ki Surti dengan memberi racun pada makanannya. Namun, usahanya mengalami kegagalan karena isterinya sendiri ternyata memberitahukan rencana jahatnya itu kepada Ki Surti.

Suatu ketika, saat Ki Surti akan mengunduh sarang walet, Ki Napsiah melancarkan niat jahatnya lagi. Ia tiba-tiba menyerang dan mendorong tubuh Ki Surti ke jurang yang terjal. Saat Ki Surti hendak menyelamatkan diri, tiba-tiba tubuhnya ditebas oleh Ki Napsiah hingga tewas. Namun, sebelum menghembuskan nafas terakhirnya Ki Surti sempat berucap, “Kapan saja akan aku balas perbuatanmu, bekel Napsiah!”

Mengetahui perbuatan Ki Napsiah yang sangat tercela tersebut, Raja Mataram menjadi marah dan langsung mengambil alih pengelolaan sarang burung walet di wilayah Karangbolong. Oleh raja lokasi sarang burung tersebut kemudian dijual kepada pemerintah Belanda. Dan, untuk mempermudah penarikan hasil sarang burung walet di wilayah Karangbolong, pemerintah Belanda menunjuk seorang Tionghoa yang berdomisili di Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Kebumen untuk melaksanakan pengunduhan secara borongan.

Setelah Indonesia merdeka pengelolaan sarang burung walet diambil-alih dari tangan Belanda, kemudian diserahkan ke Pemerintah Daerah Kebumen. Namun, sayangnya sarang burung walet yang banyak menyumbang penghasilan bagi pemerintah daerah itu ditenderkan kepada perusahaan swasta yang hanya mengejar keuntungan tanpa memperhatikan kondisi lingkungan. Hal ini menyebabkan unsur konservasi alam kurang mendapat perhatian atau bahkan diabaikan, sehingga dari tahun ke tahun hasil dan keberadaan burung walet dan sarangnya di Karangbolong semakin menurun. Menyadari kesalahannya, pada tahun 2005 Pemerintah Daerah Kebumen meniadakan sistem tender dan mengusahakan sendiri pengunduhan sarang burung walet sebagai pendapatan asli daerahnya.

Waktu, Tempat, Pemimpin dan Pihak-pihak yang Telibat dalam Upacara
Sebagaimana upacara pada umumnya, upacara ngunduh sarang burung walet di Karangbolong juga dilakukan secara bertahap. Tahap-tahap yang harus dilalui dalam upacara ini adalah sebagai berikut: (1) tahap selamatan di paseban (pendapa) kantor Dipenda Karangbolong; (2) tahap pementasan wayang kulit di Goa Contoh; (3) tahap melarung sesajen di Pantai Karangbolong; (4) tahap kenduri atau selamatan di rumah mandor pengunduh sarang burung walet; dan (5) tahap selamatan di pos penjagaan sarang burung walet. Sebagai catatan, upacara ngunduh sarang burung walet di daerah Karangbolong dilaksanakan empat kali dalam satu tahun yang jatuh pada mangsa karo sekitar bulan Agustus (unduhan pertama), mangsa kapat sekitar bulan Oktober (unduhan kedua), mangsa kepitu sekitar bulan Januari (unduhan ketiga), dan mangsa kasanga yang jatuh sekitar bulan Maret (unduhan keempat).

Pemimpin dalam upacara ngunduh sarang burung walet ini bergantung pada kegiatan atau tahap yang dilakukan. Pada tahap selamatan di paseban kantor Dipenda Karangbolong, yang bertindak sebagai pemimpin upacara adalah kepala unit Dipenda Karangbolong. Kemudian, yang bertindak sebagai pemimpin upacara saat mengadakan pementasan wayang kulit di Goa Contoh dan melarung sesaji di Pantai Karangbolong adalah Ki Dalang Sayut Hadisutopo. Sedangkan, yang bertindak sebagai pemimpin upacara tirakatan di rumah mandor dan pos penjagaan sarang burung walet adalah mandor pengunduh sarang burung walet sendiri.

Adapun pihak-pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan upacara adalah: (1) para aparat Desa Karangbolong; (3) beberapa kelompok kesenian yang ada di wilayah Karangbolong; dan (4) warga masyarakat lainnya yang membantu menyiapkan perlengkapan upacara maupun menyaksikan jalannya upacara.

Jalannya Upacara
Menjelang waktu pengunduhan tiba, mandor pengawas sarang burung walet mengajukan anggaran ke kantor unit Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Kebumen yang ada di Karangbolong. Kemudian, unit tersebut meneruskannya ke pemerintah Kabupaten Kebumen, dalam hal ini Dinas Pendapatan Daerah (Dipenda) untuk meminta dana bagi pelaksanaan upacara ngunduh sarang burung walet. Setelah disetujui dan dana turun, maka mandor beserta anak buahnya segera menggunakan dana tersebut untuk membeli peralatan dan perlengkapan upacara, seperti: seekor kerbau, ayam jantan yang masih muda, beras, bunga-bungaan, kemenyan, dan lain sebagainya.

Setelah peralatan dan perlengkapan upacara telah siap, kerbau yang telah dibeli disembelih di rumah mandor, kemudian dagingnya dibawa ke pendopo kantor Dipenda yang ada di Karangbolong, pos penjagaan yang berada di atas goa tempat burung walet bersarang, dan ke rumah mandor sendiri untuk dimasak. Selain kerbau, peralatan dan perlengkapan upacara lainnya juga dibawa ke tiga tempat tersebut untuk diolah dan dimasak.

Selesai memasak, siang harinya sekitar pukul 13.00 diadakan upacara di pendopo kantor Dipenda Karangbolong yang dihadiri oleh kepala unit Dipenda Karangbolong, Kapolsek, Danramil, dan para karyawan (pengunduh) sarang burung walet. Pelaksanaan upacara di tempat ini berlangsung cukup sederhana, yaitu hanya berupa kata sambutan dari kepala unit Dipenda Karangbolong, kemudian dilanjutkan dengan doa yang dipimpin oleh sesepuh sikep (pengunduh yang paling tua) dan diakhiri dengan makan bersama.

Selanjutnya, para peserta upacara akan menuju ke Goa Contoh yang letaknya sekitar 1,5 kilometer dari kantor Dipenda dengan kendaraan yang telah disiapkan sebelumnya. Sesampai di Goa Contoh yang berada di Pantai Karangbolong mereka segera menata peralatan wayang kulit yang akan dimainkan di tempat itu. Peralatan wayang kulit yang dibawa untuk dimainkan di Goa Contoh tidak begitu banyak jumlahnya (sekitar 10 karakter wayang), karena hanya berlangsung sekitar dua jam saja. Pagelaran wayang tersebut dimainkan oleh Ki Dalang Sayut Hadisutopo yang mengambil lakon Rama Tambah (Dewi Sri Lampet). Selesai pementasan, Ki Dalang Sayut Hadisutopo bersama beberapa orang peserta upacara langsung menuju ke Pantai Karangbolong untuk melarung sesajen yang berupa: kelapa muda, jenang abang-putih, kembang telon dan lain sebagainya.

Malam harinya, sekitar pukul 18.30 diadakan lagi kenduri atau selamatan di rumah mandor yang hanya dihadiri oleh aparat Desa Karangbolong, serep (anak buah mandor), dan warga masyarakat sekitarnya. Pelaksanaan upacara di rumah mandor ini juga berlangsung cukup sederhana, yaitu hanya berupa kata sambutan beserta ujub dari mandor, kemudian dilanjutkan dengan doa yang dipimpin oleh modin Desa Karangbolong dan diakhiri dengan makan nasi tumpeng bersama.

Dalam upacara selamatan di rumah mandor ini disediakan juga sesajen yang jumlahnya 66 macam, yaitu: degan (kelapa muda), gedang raja ijo (pisang raja hijau), rokok sintren atau siong (terbuat dari tembakau, kemenyan, klembak), rokok filter, kembang menyan (bunga dan kemenyan), pengilon kumplit (cermin, sisir, dan minyak wangi), lintingan pakai candu (gedang katiwawar dirajang dipe = pisang katiwawar diiris-iris kemudian dijemur), rokok duwet golong (uang yang digulung seperti rokok), gula batu, sambelan, jenang abang-putih, telur ayam, krawu ketan (ketan yang dicampur dengan ampas kelapa), gimbal ketan, mbako candu (daun katiwawar dijemur sampai kering kemudian dilinting/digulung pakai klarasa/daun kering pisang raja atau pisang gabu atau juga pisang klutuk wulung), lombok abang, brambang, bawang (cabe merah, bawang merah, bawang putih), duwit kricik (uang logam), beras abang (beras merah), gedang ambon loro mentah mateng (pisang ambon dua biji belum masak dan sudah masak), buah asam, jeruk werangan, pepesan katul, lenga duyung (minyak wangi cap ikan duyung), tetel abang putih (tetel merah putih), gula kelapa, kembang telon, parem gadung, kembang biasa, wedang kopi manis, wedang kopi pahit, wedang teh manis, wedang teh pahit, wedang arang arang kambang, wedang jembawuk, wedang bening, wedang asem, komoh kembang (air putih dicampur gula pasir dan diberi bunga), kolak pisang mas, godong (daun) tawa dimasukkan dalam gelas, jangan (sayur) mie, jangan (sayur) suun, tempe, peyek kacang brul (kacang tanah), peyek gesek (ikan asin), peyek kacang tholo, krupuk, karag (krupuk dari ubi kayu), telur ceplok, srundeng, bregedel, nasi rames, nasi biasa, iwak (ikan) digoreng asin, iwak digoreng adem (tawar/tidak asin), iwak disemur asin, iwak disemur adem, gadon, didih asin, didih adem (tidak asin), kare, tegean (sayur bening), jeroan asin, jeroan adem, ikan bandeng, lalaban. Sebagai catatan, sesajen tersebut harus lengkap, sebab apabila kurang dipercaya dapat mengakibatkan proses pengunduhan menjadi tidak lancar.

Setelah itu, peserta upacara menuju ke kantor Dipenda Karangbolong untuk menyaksikan pergelaran wayang kulit yang dibawakan oleh Ki Dalang Sayut Hadisutopo. Pergelaran wayang kulit di pendopo atau paseban Dipenda Karangbolong ini menggunakan peralatan wayang lengkap karena berlangsung semalam suntuk. Namun, tidak seperti pementasan-pementasan wayang kulit lainnya, pementasan wayang kulit yang merupakan rangkaian dari upacara ngunduh sarang burung walet ini mempunyai pantangan-pantangan tertentu yang harus ditaati. Pantangan-pantangan tersebut diantaranya adalah: tidak boleh ada tokoh atau karakter wayang yang meninggal dalam lakon atau cerita yang dibawakan dan tidak boleh berbicara saru dan sembrono walaupun sedang mementaskan adegan lawakan atau gara-gara.

Pagi harinya, sekitar pukul 07.00 WIB, mandor beserta beberapa anak buahnya menuju ke pos penjagaan sarang burung walet yang berada di atas bukit di tepi Pantai Karangbolong. Mereka berjalan kaki sejauh dua kilometer melalui jalan setapak yang kondisinya naik-turun dan relatif licin dengan membawa peralatan termasuk sesajen dan makanan yang akan digunakan untuk mengadakan selamatan. Selama dalam perjalanan rombongan beberapa kali berhenti untuk menaruh sesajen di tempat-tempat yang dianggap angker yang jumlahnya relatif banyak (lebih dari sepuluh tempat). Setelah sampai di pos jaga mereka segera mengadakan upacara selamatan. Dalam upacara ini mandor menyampaikan ujubnya, kemudian dilanjutkan dengan pembacaan doa dan diakhiri dengan makan bersama.

Selesai selamatan di pos jaga, mandor beserta anak buahnya kembali lagi ke pendapa Dipenda Karangbolong untuk mempersiapkan peralatan mengunduh, seperti tangga yang terbuat dari rotan, galah bambu, tali-temali dan lain sebagainya. Setelah segala peralatan mengunduh siap, pihak Dipenda Karangbolong, mandor sarang burung, sortir, gandhek, sikep, dan bantu kemudian mengadakan rapat lagi untuk menentukan waktu yang tepat bagi pelaksanaan pengunduhan sarang burung walet.

Apabila sudah ada kesepakatan kapan waktu yang tepat untuk mengunduh sarang burung, maka selepas magrib diadakan upacara sekali lagi. Setelah itu, peserta akan menuju ke pendopo Dipenda untuk menyaksikan pertunjukan kesenian tayub (tayuban). Dan, dengan dipentaskannya kesenian tayub di pendopo (paseban) itu, maka berakhirlah seluruh rentetan dalam upacara ngunduh sarang burung walet di Desa Karangblong.

Nilai Budaya
Upacara ngunduh sarang burung walet di Karangbolong, jika dicermati secara mendalam, mengandung nilai-nilai yang pada gilirannya dapat dijadikan sebagai acuan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai itu antara lain adalah: kebersamaan, ketelitian, gotong royong, dan religius. Nilai kebersamaan tercermin dari berkumpulnya sebagian besar anggota masyarakat dalam suatu tempat, makan bersama dan doa bersama demi keselamatan bersama pula. Ini adalah wujud kebersamaan dalam hidup bersama di dalam lingkungannya (dalam arti luas). Oleh karena itu, upacara ini mengandung pula nilai kebersamaan. Dalam hal ini, kebersamaan sebagai komunitas yang mempunyai wilayah, adat-istiadat dan budaya yang sama.

Nilai ketelitian tercermin dari proses upacara itu sendiri. Sebagai suatu proses, upacara memerlukan persiapan, baik sebelum upacara, pada saat prosesi, maupun sesudahnya. Persiapan-persiapan itu, tidak hanya menyangkut peralatan upacara, tetapi juga tempat, waktu, pemimpin, dan peserta. Semuanya itu harus dipersiapkan dengan baik dan seksama, sehingga upacara dapat berjalan dengan lancar. Untuk itu, dibutuhkan ketelitian.

Nilai kegotong-royongan tercermin dari keterlibatan berbagai pihak dalam penyelenggaraan upacara. Mereka saling bantu demi terlaksananya upacara. Dalam hal ini ada yang membantu menyiapkan makanan dan minuman, menjadi pemimpin upacara, dan lain sebagainya.

Nilai religius tercermin dalam doa bersama yang ditujukan kepada Tuhan agar mendapat perlindungan, keselataman dan kesejahteraan dalam menjalani kehidupan.

Sumber:
Sujarno. 2008. “Upacara Ngunduh Sarang Burung Walet di Karangbolong”, dalam Patrawidya Vol. 9 No. 1. Maret 2008. Yogyakarta: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Yogyakarta.

Upacara Balai Panjang (Upacara Tradisional Orang Talang Mamak di Provinsi Riau)

Pengantar
Talang Mamak adalah salah satu komunitas yang sering dikategorikan sebagai masyarakat terasing yang ada di Provinsi Riau. Mereka tersebar di beberapa kecamatan yang tergabung dalam Kabupaten Indragiri Hulu, yaitu Kecamatan: Pasir Penyu, Seberida, dan Rengat. Di Kecamatan Pasirpenyu mereka bermukim di desa: Talang Parit, Talang Perigi, Talang Gedabu, Talang Sungai Limau, Talang Selantai, Talang Tujuh Buah Tangga, dan Talang Durian Cacar. Kemudian, di Kecamatan Seberida mereka bermukim di sebagian desa Pangkalan Kasai, Anak Talang, Seberida, Sungai Akar, Talang Lakat, Siambul, Rantau Langsat, Durian Cacar, Parit Perigi, Sungai Limau, dan Selantai. Selain itu, ada yang menyebar di Belongkawang, Sungai Tedung, dan di sepanjang Sungai Kelawang. Sebagai catatan, kelompok Orang Talang Mamak di Durian Cacar, Parit Perigi, Sungai Limau, dan Selantai yang secara administratif tergabung dalam wilayah Kecamatan Siberida, menyebut dirinya sebagai “Suku Nan Enam”. Selanjutnya, di Kecamatan Rengat mereka bermukim di Talang Jerinjing dan Sialang Dua Dahan (Melalatoa, 1995: 817, Hidayah, 2000:253, dan Nursyamsiah, 1996: 6). Persebaran orang Talang Mamak tampaknya tidak hanya beberapa tempat di Kabupaten Inhu semata, tetapi juga di daerah Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil). Bahkan, di daerah yang termasuk wilayah propinsi lain (Jambi), yaitu di daerah Bukittigapuluh (Hidayah, 2000: 253).

Sebagaimana masyarakat lainnya, orang Talang Mamak juga menumbuh-kembangkan kebudayaannya sebagai tanggapan aktif terhadap lingkungannya dalam arti luas (alam, sosial, dan binaan). Mengingat bahwa kebudayaan meliputi keseluruhan aspek kehidupan manusia, maka artikel ini hanya akan membahas salah satu unsur kebudayaan yang ditumbuh-kembangkan oleh mereka, yaitu sistem religi (sistem kepercayaan) yang ada di kalangan mereka, khususnya upacara balai panjang.

Proses dan Perlengkapan Upacara
Balai panjang adalah salah satu upacara tradisional Orang Talang Mamak yang berkenaan dengan pengobatan dan atau tolak bala. Sebelum upacara ini dilakukan, kumantang (dukun) “menghadap” Sanggaran Tujuh (Puteri Tujuh) untuk memberitahu dan sekaligus meminta izin bahwa ia akan melaksanakan upacara balai panjang. Sedangkan, upacaranya itu sendiri baru akan dilakukan pada malam hari (sekitar pukul 20.00--04.00 WIB). Upacara yang dipimpin kumantang ini diiringi dengan berbagai permainan dan kesenian.

Perlengkapan dalam upacara balai panjang antara lain: tujuh bahan bambu dan sesajen, berbagai jenis ancak yang terdiri dari pelepah dan daun/pucuk enau, berbagai jenis pesilih, lancang yang terbuat dari pelepah enau, daun pisang, pucuk enau, daun beringin, upih pinang bambu, dan daun bambu.

Satu hal yang tidak boleh dilupakan dalam upacara balai panjang ini adalah bertih (padi yang sudah tua). Dalam hal ini bertih dimasukkan kedalam kuali kemudian dipanaskan sampai meletus. Setelah itu, diletakkan dalam penampih beras untuk memisahkan padi yang sudah meletus dan tidak meletus. Bagian yang tidak meletus digunakan untuk makanan ayam. Sedangkan, yang meletus digunakan untuk perlengkapan dukun. Sebagai catatan, bertih tidak hanya menjadi salah satu perlengkapan yang harus ada dalam upacara pengobatan, tetapi juga upacara-upacara lainnya, seperti: tolak bala, dan menyemah atau membersihkan kampung.

Batin (kepala suku) hanya berperan sebagai penanggungjawab. Sementara, kumantang sebagai pemimpin upacara, dibantu oleh dua orang pendayu yang bertugas menyediakan obat dan permainan. Selain itu, ada juga dua orang panginang yang bertugas menyiapkan ramuan, asapan, membantu memakaikan pakaian Sang Kumantang dan penandung (pelantun nyanyian khas upacara).

Ketika upacara balai panjang sedang berlangsung, ada pantangan-pantangan yang mesti diindahkan, antara lain: tidak boleh menyebut nama dukun, membuat kericuan, dan berbuat tidak senonoh (amoral),

Adakalanya kemantang gagal mengobati orang sakit, sehingga pasien meninggal. Jika ini terjadi maka air sirih ditumpahkan, lilin lebah dipadamkan, dan ditumbangkan. Orang seisi rumah pun meratap dan menangis. Kemudian, pinggan mangkok, piring cangkir dipecahkan. Beras pun ditaburkan di sekeliling rumah. Tanaman seperti pisang yang ada di sekitar rumah ditebang dan dipancung sebagai pernyataan berduka cita atas kematian itu. Dengan demikian, roh si mati (almarhum) tidak akan mengganggu yang ditinggalkan (yang hidup). (gufron)

Sumber:
Galba, Sindu. “Masyarakat dan Kebudayaan Orang Talang Mamak” (Naskah Laporan Penelitian 2003).

Upacara Jamasan Pusaka Mangkunegaran di Selogiri (Jawa Tengah)

Asal Usul
Di Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah, ada suatu tradisi yang berupa upacara jamasan atau siraman pusaka Mangkunegaran. Dalam upacara jamasan pusaka Mangkunegaran tersebut yang dijamas atau dimandikan adalah dua buah keris dan sebuah tombak peninggalan Raden Mas Said atau Mangkunegara I yang ditempatkan di Kecamatan Selogiri. Keris-keris tersebut bernama Kyai Koriwelang dan Kyai Jaladara, sedangkan tombaknya diberi nama Kyai Totok.

Kisah dibalik keberadaan benda-benda pusaka tersebut di Selogiri, berawal ketika Raden Mas Said berusaha mempertahankan daerahnya dari penjajah Belanda yang mulai masuk ke daerah sekitar Gunung Wijil. Dalam peperangan mempertahankan daerahnya itu, Raden Mas Said yang menggunakan senjata-senjata pusaka tersebut dan dibantu oleh rakyat Selogiri berhasil mengusir pasukan Belanda.

Setelah berhasil menghalau pasukan Belanda, Raden Mas Said kembali lagi ke Mangkunegaran. Keris dan tombak pusakanya pun turut pula dibawa pulang. Baru pada tahun 1935, saat Mangkunegara VII berkuasa, keris dan tombak pusaka Mangkunegara I tersebut diserahkan kepada masyarakat dan kerabatnya yang berada di Kecamatan Selogiri, sebagai ungkapan terima kasih atas jasa-jasa yang telah diberikan oleh masyarakat dan kaum kerabatnya yang ada di Selogiri. Sebagai catatan, waktu mengadakan perlawanan di Gunung Wijil, Raden Mas Said sempat mengawini gadis setempat yang bernama Rara Rubiah, salah seorang puteri dari Kasan Kamani. Setelah menjadi isteri Raden Mas Said, Rara Rubiah mengganti namanya menjadi Raden Ayu Patah Aji. Jadi, kaum kerabat di sini adalah orang-orang yang berasal dari keturunan maupun kerabat Raden Ayu Patah Aji.

Setelah menerima ketiga pusaka tadi, masyarakat Selogiri kemudian membuat sebuah bangunan berbentuk tugu berukuran 7x7 meter dan tinggi 6 meter. Pada bagian puncak tugu dibuat semacam kotak yang cukup untuk menyimpan ketiga pusaka itu. Dan, untuk menutupnya dibuatkan semacam lempengan yang terbuat dari batu1. Selain itu, setiap satu tahun sekali mereka juga mengadakan upacara jamasan atau pemandian bagi pusaka-pusaka yang dianggap keramat tersebut.

Maksud dan tujuan penyelenggaraan upacara jamasan pusaka Mangkunegaran adalah untuk mendapatkan keselamatan, perlindungan dan ketenteraman. Bagi sebagian masyarakat Selogiri, benda-benda pusaka tersebut dianggap mempunyai kekuatan gaib yang akan mendatangkan berkah apabila dirawat dengan cara dibersihkan atau dimandikan. Apabila tidak dirawat, mereka percaya “isi” yang ada di dalam benda-benda keramat tersebut akan pudar atau malah hilang sama sekali dan hanya berfungsi sebagai senjata biasa.

Selain itu, fungsi lain dari jamasan adalah agar senjata-senjata pusaka tersebut tidak lekas rapuh dan dapat bertahan lama. Pusaka yang sudah cukup tua apabila tidak dirawat dengan semestinya, maka kemungkian besar akan menjadi berkarat dan akhirnya rusak. Untuk itu, perlu dilakukan perawatan secara berkala agar apabila terdapat kerusakan dapat diketahui secara dini.

Waktu, Tempat, Pemimpin dan Pihak-pihak yang Telibat dalam Upacara
Sebagaimana upacara pada umumnya, upacara jamasan pusaka juga dilakukan secara bertahap. Tahap-tahap yang harus dilalui dalam upacara ini adalah sebagai berikut: (1) tahap pengambilan pusaka yang disimpan di puncak tugu; (2) tahap tirakatan; (3) tahap arak-arakan; dan (4) tahap pemandian atau jamasan pusaka. Sebagai catatan, dahulu penyelenggaraan upacara jamasan pusaka dilakukan setiap satu tahun sekali pada hari Jumat pertama di bulan Suro. Namun saat ini, setelah dikemas untuk kepentingan kepariwisataan, upacara jamasan dilakukan pada hari libur dengan alasan untuk menarik wisatawan baik asing maupun domestik.

Tempat pelaksanaan upacara jamasan pusaka bergantung dari tahapan-tahapan yang harus dilalui. Untuk prosesi pengambilan senjata pusaka Mangkunegara I dilakukan di sebuah tugu yang terletak di sebelah barat kantor Kecamatan Selogiri. Untuk prosesi tirakatan diadakan di pendopo Kecamatan Selogiri. Untuk prosesi arak-arakan atau kirab diawali dari pendopo Kecamatan Selogiri, kemudian ke kantor Kabupaten Wonogiri dan dilanjutkan lagi ke Kodim Wonogiri. Sedangkan, untuk prosesi pencucian atau jamasan pusaka Mangkunegara I dilakukan di Waduk Gadjah Mungkur. Sebagai catatan, dahulu tempat pelaksanaan jamasan dilakukan di pendopo Kecamatan Selogiri. Namun, pada saat bupati Wonogori dijabat oleh Soemarsono, upacara ini dikemas menjadi suatu aset atau agenda pariwisata yang pelaksanaannya dipindahkan ke Waduk Gadjah Mungkur. Tujuannya adalah untuk mendukung program pemerintah dalam meningkatkan pariwisata.

Pemimpin upacara juga bergantung pada kegiatan atau tahap yang dilakukan dalam upacara jamasan pusaka Mangkunegaran. Pada tahap pengambilan pusaka, yang bertindak sebagai pemimpin upacara adalah salah seorang yang dituakan dari kerabat Mangkunegaran. Kemudian, yang bertindak sebagai pemimpin upacara saat tirakatan dan kirab menuju Kabupaten dan Kodim adalah Camat Selogiri. Sedangkan, yang bertindak sebagai pemimpin upacara jamasan di Waduk Gadjah Mungkur adalah salah seorang abdi dalem Mangkunegaran yang sudah berpengalaman dalam melaksanakan upacara jamasan pusaka.

Adapun pihak-pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan upacara adalah: (1) beberapa orang kerabat Mangkunegara yang datang langsung dari Surakarta maupun yang bertempat tinggal di Selogiri; (2) para aparat Kecamatan Selogiri maupun Kabupaten Wonogiri; (3) beberapa kelompok kesenian yang ada di wilayah Wonogiri; dan (4) warga masyarakat lainnya yang membantu menyiapkan perlengkapan upacara maupun menyaksikan jalannya upacara.

Perlengkapan Upacara
Peralatan dan perlengkapan yang perlu dipersiapkan dalam upacara jamasan pusaka Mangkunegaran adalah: (1) jenang abang; (2) jenang putih; (3) jenang baro-baro; (4) kembang setaman yang terdiri dari mawar, kenanga dan kantil; (5) kemenyan; (6) nasi uduk; (7) ingkung ayam; (8) nasi golong; (9) gecok pecel itik; (10) pisang; (11) nasi putih; (12) sirih; (13) rempeyek; (14) tempe goreng yang dibuat kecil-kecil; dan (15) haban/warangan (bahan untuk membersihkan pusaka)

Jalannya Upacara
Upacara jamasan pusaka diawali sekitar pukul 16.00 WIB dengan mengadakan prosesi pengambilan pusaka yang ditempatkan di puncak sebuah tugu yang terletak di sebelah barat kantor Kecamatan Selogiri. Prosesi pengambilan benda pusaka ini hanya dilakukan oleh beberapa orang yang masih mempunyai hubungan darah dengan Mangkunegara. Sebelum mengambil keris dan tombak pusaka, di ambang pintu masuk tugu terlebih dahulu diadakan pembakaran kemenyan dan peletakan sesajen yang berupa: gecok pecel itik, jenang putih, jenang abang, jenang boro-boro, pisang, nasi putih, suruh, rempeyek, tinto, dan tempe goreng berbentuk kecil-kecil.

Selesai membakar kemenyan dan menaruh sesajen, empat atau lima kerabat Mangkunegara mulai menaiki tangga besi yang dipersiapkan khusus oleh pemerintah Kecamatan Selogiri, mengambil pusaka-pusaka tersebut di puncak tugu. Sewaktu prosesi pengambilan pusaka ini sedang berlangsung, masyarakat Selogiri yang bukan kerabat Mangkunegaran hanya melihat dan menanti dari bawah sambil berdoa memohon keselamatan kepada Tuhan.

Setelah pusaka milik Mangkunegara I berhasil diturunkan, mereka membawanya menuju pendopo Kecamatan Selogiri. Pusaka-pusaka tersebut kemudian ditaruh di sebuah tempat khusus yang terletak di bagian tenggara pendopo. Setelah itu, mereka beramah-tamah sejenak dengan camat dan muspika Kecamatan Selogiri. Selesai beramah-tamah, para kerabat Mangkunegara itu pulang lagi ke Surakarta.

Sekitar pukul 20.00 WIB para kerabat Mangkunegara itu kembali lagi ke Selogiri untuk mengikuti acara tirakatan di pendopo Kecamatan Selogiri. Selain para kerabat Mangkunegara, yang hadir dalam acara tirakatan itu diantaranya adalah para pamong desa, tokoh masyarakat, tamu undangan dari beberapa instansi di Kabupaten Wonogiri, dan warga masyarakat Selogiri.

Acara tirakatan ini dibuka dengan sambutan dari Camat Selogiri yang berisi tentang maksud dan tujuan diadakannya upacara jamasan pusaka Mangkunegara. Selesai acara sambutan dari Pak Camat, para tamu undangan yang sebelumnya sudah ditunjuk oleh panitia mulai mengalunkan tembang-tembang macapat. Pelantunan tembang-tembang macapat tersebut berlangsung sampai acara tirakatan selesai sekitar pukul 10.00 WIB. Setelah selesai tirakatan, sebagian tamu undangan akan pulang ke rumahnya masing-masing dan sebagian lagi tetap berada di pendopo sambil menjaga senjata pusaka.

Keesokan harinya, kurang lebih pukul 07.30 WIB dimulailah acara arak-arakan menuju kantor Bupati Wonogiri yang dipimpin oleh Camat Selogiri. Acara arak-arakan ini diikuti oleh orang-orang yang tadi malam mengikuti tirakatan ditambah dengan warga masyarakat yang berasal dari Girimarto. Selama dalam perjalanan menuju kantor Bupati Wonogiri, arak-arakan pembawaan senjata pusaka milik Mangkunegara I ini mendapat sambutan hangat dari warga yang rumahnya dilewati oleh arak-arakan.

Saat sampai di pendopo Kabupaten Wonogiri, rombongan yang berasal dari Selogiri dipersilakan oleh panitia setempat untuk menuju ke halaman sebelah barat kantor bupati. Sementara rombongan dari Girimarto ditempatkan di halaman sebelah timur. Setelah itu, ketua rombongan (Camat) akan melapor kepada Bupati. Usai melapor, diadakan upacara serah terima pusaka dari kerabat Mangkunegaran kepada Manggala Yuda untuk dikirabkan lagi menuju Kodim Wonogiri. Saat rombongan memulai kirab menuju Kodim, berbagai kesenian seperti: jathilan, reog, drum band dari salah satu sekolah di Wonogiri turut mengiringinya. Dan, sama seperti ketika dikirabkan dari Kecamatan Selogiri, kirab menuju ke Kodim juga disambut hangat oleh warga masyarakat yang tempatnya dilewati.

Sebagai catatan, dalam kirab menuju Kodim ini tidak hanya senjata pusaka milik Mangkunegara I saja yang dibawa, melainkan juga beberapa senjata lain seperti: Semar Tinandu (juga pusaka milik Mangkunegara I yang disimpan di Girimulyo), Kyai Mendung, Kyai Slamet, Kyai Singkir, dan Kyai Singo Barong (pusaka yang disimpan di kantor bupati Wonogiri)

Setelah sampai di Kodim seluruh peserta upacara langsung membubarkan diri menuju ke beberapa kendaraan yang akan mengangkat mereka menuju ke Waduk Gadjah Mungkur. Waktu yang diperlukan dari Kodim Wonogiri ke Gadjah Mungkur sekitar 30 menit. Saat sampai di Waduk Gadjah Mungkur mereka kemudian berkumpul untuk mendengarkan sambutan dari panitia yang dilanjutkan dengan upacara serah terima kembali pusaka kepada pihak Mangkunegaran.

Selanjutnya, seluruh senjata pusaka itu akan diserahkan kepada seorang abdi dalem Mangkunegaran yang telah berpengalaman dalam menyelenggarkaan upacara jamasan, untuk segera memulai upacara jamasan atau pemandian pusaka. Pemandian pusaka itu dilaksanakan di sebuah panggung yang terletak di sebelah barat waduk dengan posisi agak tinggi agar dapat dilihat oleh para peserta upacara.

Sang abdi dalem lalu mulai menyirami satu persatu pusaka tersebut secara cermat dan teliti. Pusaka yang lebih dahulu dijamasi adalah ketiga pusaka milik Mangkunegara I yang ada di Selogiri, yaitu Kyai Koriwelang, Kyai Jaladara dan Kyai Totok. Setelah semua pusaka milik dari Mangkunegara selesai dijamasi, barulah kemudian pusaka-pusaka milik Kabupaten Wonogiri. Sedangkan, sisa air jamasan tersebut selanjutnya digunakan untuk menjamasi pusaka-pusaka milik warga masyarakat. Dan, dengan berakhirnya tahap penjamasan pusaka ini, berakhirlah seluruh rentetan dalam upacara jamasan pusaka Mangkunegaran. Seluruh pusaka akan dikembalikan lagi di tempatnya semula.

Nilai Budaya
Upacara jamasan pusaka Mangkunegaran, jika dicermati secara mendalam, mengandung nilai-nilai yang pada gilirannya dapat dijadikan sebagai acuan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai itu antara lain adalah: kebersamaan, ketelitian, gotong royong, dan religius. Nilai kebersamaan tercermin dari berkumpulnya sebagian besar anggota masyarakat dalam suatu tempat, makan bersama dan doa bersama demi keselamatan bersama pula. Ini adalah wujud kebersamaan dalam hidup bersama di dalam lingkungannya (dalam arti luas). Oleh karena itu, upacara ini mengandung pula nilai kebersamaan. Dalam hal ini, kebersamaan sebagai komunitas yang mempunyai wilayah, adat-istiadat dan budaya yang sama.

Nilai ketelitian tercermin dari proses upacara itu sendiri. Sebagai suatu proses, upacara memerlukan persiapan, baik sebelum upacara, pada saat prosesi, maupun sesudahnya. Persiapan-persiapan itu, tidak hanya menyangkut peralatan upacara, tetapi juga tempat, waktu, pemimpin, dan peserta. Semuanya itu harus dipersiapkan dengan baik dan seksama, sehingga upacara dapat berjalan dengan lancar. Untuk itu, dibutuhkan ketelitian.

Nilai kegotong-royongan tercermin dari keterlibatan berbagai pihak dalam penyelenggaraan upacara. Mereka saling bantu demi terlaksananya upacara. Dalam hal ini ada yang membantu menyiapkan makanan dan minuman, menjadi pemimpin upacara, dan lain sebagainya.

Nilai religius tercermin dalam doa bersama yang ditujukan kepada Tuhan agar mendapat perlindungan, keselataman dan kesejahteraan dalam menjalani kehidupan. (ali gufron)

Sumber:
Murtjipto. 2004. “Fungsi dan Makna Siraman Pusaka Mangkunegaran di Selogiri Kabupaten Wonogiri”, dalam Patra-Widya Vol. 5 No. 2. Juni 2004. Yogyakarta: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Yogyakarta.
Cara Pasang Tali Layangan agar Manteng di Udara
Topeng Monyet
Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama

Archive