Cerita berpusat pada Charlie Babbitt (Tom Cruise), seorang dealer mobil mewah di Los Angeles yang egois, temperamental, dan sedang tercekik masalah finansial yang besar. Kabar kematian ayahnya yang terasing membawa Charlie kembali ke kampung halamannya di Cincinnati dengan harapan mendapatkan warisan jutaan dolar untuk menyelamatkan bisnisnya. Namun, Charlie terkejut dan murka ketika mengetahui bahwa seluruh aset berharga senilai 3 juta dolar diwariskan kepada sebuah lembaga perawatan mental rahasia, sementara ia hanya mendapatkan mobil Buick Roadmaster 1949 tua dan beberapa tanaman mawar.
Penyelidikan Charlie membawanya pada sebuah kenyataan yang mengejutkan: ia memiliki seorang kakak laki-laki bernama Raymond (Dustin Hoffman) yang menderita autisme dan tinggal di lembaga tersebut. Didorong oleh keserakahan untuk menguasai setengah dari uang warisan, Charlie secara impulsif membawa kabur Raymond keluar dari institusi tersebut dengan rencana menuju Los Angeles. Namun, karena Raymond menolak keras untuk terbang dengan pesawat akibat ketakutan akut terhadap kecelakaan udara, kedua bersaudara ini terpaksa melakukan perjalanan darat panjang melintasi benua Amerika yang mengubah segalanya.
Keberhasilan sinematik film ini bertumpu sepenuhnya pada dinamika hubungan yang unik dan pertumbuhan karakter yang terjadi sepanjang perjalanan darat tersebut. Raymond, dengan rutinitasnya yang kaku, ketergantungan pada siaran televisi tertentu, dan ketidakmampuannya mengekspresikan emosi secara normal, awalnya menjadi beban yang sangat menyebalkan bagi Charlie yang tidak sabaran. Namun, seiring berjalannya waktu, Charlie mulai menyadari kejeniusan luar biasa di balik keterbatasan Raymond—termasuk kemampuan menghitung angka dalam hitungan detik dan memori fotografis yang masif—yang puncaknya membawa mereka pada sekuens ikonik di kasino Las Vegas untuk memenangkan permainan blackjack.
Persinggungan emosional ini perlahan-lahan mengikis cangkang egois Charlie saat ia menyadari bahwa Raymond adalah sosok "Rain Man", teman masa kecil imajiner yang dulu sering menyanyikan lagu untuk menenangkannya saat ketakutan, yang ternyata adalah memori nyata yang terkubur dari masa lalunya. Transformasi Tom Cruise dari seorang pria manipulatif yang memandang kakaknya sebagai alat penarik uang menjadi seorang adik yang penuh kasih sayang dan protektif digambarkan dengan sangat subtil dan menyentuh, membuktikan kematangan akting Cruise di luar peran-peran aksi dan komedi remajanya.
Dari segi estetika dan penyutradaraan, Rain Man dipuji karena kemampuannya menjaga keseimbangan nada cerita agar tidak jatuh ke dalam drama yang terlalu cengeng (sentimental tearjerker). Barry Levinson bersama sinematografer John Seale memanfaatkan lanskap jalanan Amerika yang luas, gersang, dan sinematik untuk mencerminkan isolasi emosional yang dialami oleh kedua karakter utama. Setiap adegan diatur dengan ritme yang pas, membiarkan keheningan dan interaksi natural yang canggung antara Hoffman dan Cruise membangun kedekatan emosional yang kuat dengan penonton secara bertahap.
Lanskap audio film ini juga memegang peranan revolusioner dalam mendukung atmosfer modern yang unik. Komposer legendaris Hans Zimmer—yang meraih nominasi Oscar pertamanya lewat film ini—menggubah musik latar yang tidak biasa untuk sebuah film drama pada masa itu. Alih-alih menggunakan orkestra string tradisional yang melankolis, Zimmer menggunakan perpaduan musik elektronik synthesizer dengan perkusi vokal dan tiupan seruling khas Afrika. Musik latar ini memberikan energi kontemporer yang berdenyut, mencerminkan isi kepala Raymond yang sibuk, sekaligus memberikan bobot emosional yang segar tanpa terkesan memaksa penonton untuk bersedih.
Namun, fokus cerita yang sangat terpusat pada interaksi intim kedua bersaudara ini dapat menjadi tantangan bagi penonton yang mengharapkan plot dengan konflik eksternal yang dramatis atau penuh aksi. Paruh kedua film yang berfokus pada rutinitas perjalanan darat dan perdebatan hukum mengenai hak asuh Raymond mungkin akan terasa memiliki tempo yang melambat bagi sebagian orang. Selain itu, penggambaran autisme savan dalam film ini terkadang dinilai menciptakan stereotip di masyarakat bahwa semua penyandang autisme memiliki kemampuan jenius supranatural, meskipun film ini sendiri tetap diakui sebagai pionir penting dalam meningkatkan kesadaran sosial terhadap autisme.
Secara keseluruhan, jika Anda mencari film drama dengan plot yang cepat atau penyelesaian konflik yang bombastis, Rain Man mungkin akan terasa terlalu kontemplatif. Sebaliknya, jika Anda ingin menikmati kekuatan akting level tertinggi dari dua aktor besar, dialog yang menyentuh sekaligus menghibur, serta sebuah perjalanan emosional mendalam tentang bagaimana kasih sayang mampu meruntuhkan dinding isolasi mental, film ini adalah sebuah mahakarya sinema klasik sejati yang akan terus menggetarkan hati setiap generasi.
