Kondisi Geografis Daerah Orang Talang Mamak (Provinsi Riau)

Pengantar
Talang Mamak adalah salah satu komunitas yang sering dikategorikan sebagai masyarakat terasing yang berada di Pulau Sumatera, yaitu sebuah pulau yang terbagi hampir sama besarnya oleh garis katulistiwa yang melintasinya. Banyak nama yang diberikan kepada pulau ini. Salah satu diantaranya adalah Zamatra atau Somatra oleh P. Antonio Pigafetta yang dikutip oleh William Marsden (1999). Selain itu, juga ada nama Java Minor sebagaimana yang diberikan oleh Marco Polo. Namun demikian, menurut Marsden (1999), sesungguhnya yang paling besar kemungkinannya adalah kata Shamatrah yang terdapat dalam karya seorang Persia tahun 1611. Memang benar kata tersebut belum bebas dari kecurigaan akan kemungkinan masuknya istilah tersebut ke bahasa Melayu dan Persia melalui pergaulan orang-orang Eropa. Akan tetapi, bagi seseorang yang paham bahasa-bahasa di Jazirah India, nama itu cukup jelas. Bagaimanapun kata tersebut mempunyai persamaan yang kuat dengan kata-kata tertentu dalam bahasa Sanskerta. Penamaan pulau dari bahasa Sansekerta adalah bukanlah hal yang dianggap luar biasa. Bila kita mempertimbangkan (yang sekarang telah diakui penuh) maka banyak bagian dari bahasa Melayu berasal dari Sansekerta. Begitu pula dengan nama-nama tempat disini, seperti Indrapura dan Indragiri (Marsden, 1999: 8).

Lepas dari berbagai nama yang diberikan kepada pulau yang disebut sebagai Sumatera itu, yang jelas bahwa masyarakat Talang Mamak tinggal di beberapa tempat (provinsi) di pulau itu. Di Riau mereka terpusat di Kabupaten Indragiri Hulu, dengan persebaran di tiga kecamatan yang tergabung dalam kabupaten tersebut, yaitu Kecamatan: Pasir Penyu, Seberida, dan Rengat. Di Kecamatan Pasirpenyu mereka bermukim di Desa: Talang Parit, Talang Perigi, Talang Gedabu, Talang Sungai Limau, Talang Selantai, Talang Tujuh Buah Tangga, dan Talang Durian Cacar. Kemudian, di Kecamatan Seberida mereka bermukim di sebagian Desa Pangkalan Kasai, Anak Talang, Seberida, Sungai Akar, Talang Lakat, Siambul, Rantau Langsat, Durian Cacar, Parit Perigi, Sungai Limau, dan Selantai. Selain itu, ada yang menyebar di Belongkawang, Sungai Tedung, dan di sepanjang Sungai Kelawang. Selanjutnya, di Kecamatan Rengat mereka bermukim di Talang Jerinjing dan Sialang Dua Dahan (Melalatoa, 1995: 817, Hidayah, 2000:253, dan Nursyamsiah, 1996: 6). Persebaran orang Talang Mamak tampaknya tidak hanya beberapa tempat di Kabupaten Inhu semata, tetapi juga di daerah Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil). Bahkan, di daerah yang termasuk wilayah propinsi lain (Jambi), yaitu di daerah Bukittigapuluh (Hidayah, 2000: 253).

Sesungguhnya di Inhu --akronim dari kata Indragiri Hulu yang kemudian lazim dipakai oleh masyarakat setempat dan masyarakat Riau pada umumnya-- orang Talang Mamak tidak sendirian, tetapi mereka hidup “berdampingan” dengan pendukung sukubangsa lainnya, terutama Orang Melayu-Inhu. Pada masa kini Indragiri Hulu merupakan sebuah kabupaten yang terpisah dengan Kabupaten Indragiri Hilir yang oleh masyarakat setempat sering disebut sebagai “Inhil”. Namun, pada masa lalu, ketika Belanda masih bercokol di Indonesia, kedua daerah tersebut termasuk dalam satu wilayah administrasi pemerintahan, yaitu Indragiri.

Sejak tahun 1692 wilayah Indragiri bersama dengan wilayah Kepulauan Riau diatur dalam satu kesatuan wilayah yang dinamakan Resedentie Riouw (Karesidenan Riau) yang berpusat di Tanjungpinang (Kepulauan Riau). Sesuai dengan namanya, kepala kesatuan wilayah ini disebut sebagai Residen yang berkedudukan di Tanjungpinang. Sedangkan, Asisten Residennya berkedudukan di Rengat. Meskipun demikian, sebenarnya kesatuan wilayah ini secara embrional sudah dikenal sejak pemerintahan Sang Sapurba sebagaimana yang dikisahkan dalam sejarah Melayu. Konon, dalam perjalanannya dari Bukit Siguntang (Palembang) ke Pulau Bentan (Sekarang Pulau Bintan), ia beserta rombongannya singgah di suatu daerah yang bernama Kuantan. Di sana ia disambut secara meriah (dirayakan) oleh masyarakat setempat. Oleh karena itu, kekuasaan Kerajaan Bentan tidak hanya terbatas pada Pulau Bentan dan pulau-pulau sekitarnya saja, tetapi meliputi daerah Riau sekarang ini, yaitu dari Kuantan di sebelah barat hingga ke Siantan di sebelah timur.

Di masa lalu memang tidak ada Indragiri Hulu dan Indragiri Hilir, yang ada adalah Indragiri saja. Namun, dalam perkembangannya Indragiri telah menjadi sebuah kabupaten (sebelum tahun 1999). Demikian juga Indragiri Hilir. Bahkan, sesudah tahun tersebut pun masih tergabung dalam Propinsi Riau. Bedanya, jika sebelum tahun 1999 belum dimekarkan, maka sesudah tahun tersebut kabupaten ini dimekarkan menjadi dua kabupaten, yakni Kabupaten Indragiri Hulu itu sendiri dan Kabupaten Kuantan Singingi. Kedua kabupaten ini terbentuk berdasarkan Undang-undang tahun 1998 dan SK Gubernur Militer Sumatera Tengah Nomor: 10/GM/ST.99 tanggal 9 November 1999 serta UU. Nomor 4. 1952 jo UU. Nomor 12. 1956 tentang pembentukan daerah ekonomi dengan wilayah administrasi: Kewedanaan Rengat, Kewedanaan Tembilahan, dan Kewedanaan Taluk Kuantan. Berdasarkan UU. Nomor 58 tahun 1999 Kabupaten tersebut dimekarkan menjadi dua kabupaten yaitu: Kabupaten Indragiri Hulu dan Kabupaten Kuantan Singingi.

Konsekuensi pemekaran adalah semakin menciut luas wilayahnya. Sebelum pemekaran, luas wilayahnya mencapai 16,77% dari luas Provinsi Riau, tepatnya 15.854,29 km2. Akan tetapi, setelah pemekaran luas itu berkurang menjadi 8.195,26 Km persegi (819.826 hektar). Kabupaten yang beribukota di Rengat ini membawahi 9 kecamatan, yakni Kecamatan: Rengat yang beribukota di Rengat; Rengat Barat yang beribukota di Pematang Reba; Seberida yang berikota di Pangkalan Kasai/Belilas; Pasir Penyu yang beribukota di Air Molek; Peranap yang beribukota di Peranap; Kelayang yang beribukota di Simpang Kelayang; Lirik yang beribukota di Lirik; Batang Gangsal yang beribukota di Seberida; dan Batang Cenaku yang beribukota di Aur Cina. Secara administratif kabupaten ini sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Pelelawan; sebelah selatan berbatasan dengan Propinsi Jambi; sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Kuansing (Kuantan Singingi); dan sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Indragiri Hilir.

Kondisi Geografis
Wilayah Kabupaten Indragiri Hulu sebagian berupa dataran rendah yang sedikit bergelombang dan perbukitan. Sebagian lainnya, yang mewarnai daerah ini adalah rawa-rawa, yang jika dibandingkan dengan daratan dan atau perbukitan merupakan bagian yang tidak seberapa. Yang jelas, jika perbukitannya dibandingkan dengan dataran rendahnya, ternyata perbukitannya lebih luas (perbukitannya mencapai 60% dari luas daerah secara keseluruhan, sedangkan dataran rendahnya, termasuk rawa-rawa, hanya 40%). Ini bermakna bahwa Kabupaten Indragiri Hulu sebagian besar berupa perbukitan, dengan ketinggian antara 5--400 meter dari permukaan air laut.

Sungai-sungai yang berada di wilayahnya, tidak hanya sungai-sungai besar, tetapi juga sungai-sungai kecil. Malahan, beberapa diantaranya bercabang (anak sungai) de-ngan nama-nama tersendiri. Diantara sungai-sungai tersebut yang terpanjang dan terbesar adalah sungai yang namanya sama dengan nama depan kabupaten ini, yaitu Indragiri. Sungai ini pada bagian hulunya bernama “Batang Kuantan”. Panjangnya lebih kurang 250 Km. Pada musim kemarau kedalamannya kurang lebih 9 meter. Akan tetapi, pada musim penghujan kedalamannya bisa mencapai 12 meter.

Sementara itu, tanahnya yang sebagian besar berupa tanah merah (fexsolit) di dalamnya tersimpan berbagai bahan tambang, seperti: bijih besi, batubara, pasir kuarsa, granit, emas, kaolin, bentonit, dan timah. Sebagaimana daerah lainnya di Indonesia, iklim yang menyelimutinya adalah tropis yang disertai oleh dua musim, yakni penghujan dan kemarau. Musim penghujan biasanya terjadi pada bulan-bulan Oktober sampai dengan April. Sedangkan, musim kemarau biasanya terjadi pada bulan-bulan Mei sampai dengan September. Meskipun demikian, di musim kemarau bukan berarti sama sekali tidak ada hujan, karena berdasarkan Badan Meteorologi Japura menyebutkan setiap bulan ada hujan, dengan rincian sebagai berikut: bulan Januari terdapat 15 hari hujan dengan curah hujan 267,00 milimeter; bulan Pebruari terdapat 9 hari hujan dengan curah hujan 91,00 milimeter; bulan Maret terdapat 10 hari hujan dengan curah hujan 155,20 milimeter; bulan April terdapat 15 hari hujan dengan curah hujan 282,20 milimeter; bulan Mei terdapat 9 hari hujan dengan curah hujan 133,00 milimeter; bulan Juni terdapat 8 hari hujan dengan curah hujan 87,20 milimeter; bulan Juli terdapat 6 hari hujan dengan curah hujan 95,60 milimeter; bulan Agustus terdapat 9 hari hujan dengan curah hujan 167,60 milimeter; bulan September terdapat 8 hari hujan dengan curah hujan 208,75 milimeter; bulan Oktober terda-pat 12 hari hujan dengan curah hujan 260,33 milimeter; bulan Nopember terdapat 15 hari hujan dengan curah hujan 411,66 milimeter; dan bulan Desember terdapat 12 hari hujan dengan curah hujan 289,40 milimeter.

Berdasarkan data itu, maka dapat dikatakan bahwa bulan-bulan yang banyak hujannya adalah: Januari, April, dan Nopember. Sedangkan, bulan-bulan yang sedikit hari hujan-nya adalah: Mei, Juni, dan Juli. Adapun curah hujan yang tertinggi terjadi bulan Desember. Berdasarkan data itu pula dapat dikatakan bahwa dalam satu tahun terdapat 128 hari hujan dengan curah hujan 2.448,94 milimeter.

Sementara itu, suhu udara (keadaan temperatur) pada setiap bulan berserta rata-ratanya pada setiap bulan adalah sebagai berikut: bulan Januari berkisar antara 22,0—30,6 dera-jat Celcius (rata-rata 25,8 derajat Celcius); bulan Pebruari berkisar antara 21,8—31,6 derajat Celcius (rata-rata 26,4 derajat Celcius); bulan Maret berkisar antara 22,2—32,8 derajat Celcius (rata-rata 26,9 derajat Celcius); bulan April berkisar antara 22,5—31,9 derajat Celcius (rata-rata 22,5 derajat Celcius); bulan Mei berkisar antara 22,7—32,7 derajat Celcius (rata-rata 27,2 derajat Celcius); bulan Juni berkisar antara 21,4—32,0 derajat Celcius (rata-rata 26,6 derajat Celcius); bulan Juli berkisar antara 21,9—32,3 derjat Celcius (rata-rata 26,8 derajat Celcius); bulan Agustus berkisar antara 22,4—33,7 derajat Celcius (rata-rata 27,6 derajat Celcius); bulan September berkisar antara 21,8—32,5 derajat Celcius (rata-rata 26,4 derajat Celcius); bulan Oktober berkisar antara 22,3—32,0 derajat Celcius (rata-rata 26,6 derjat Celcius); bulan Nopember berkisar antara 22,2—30,2 derajat Celcius (rata-rata 26,3 derajat Celcius); dan bulan Desember berkisar antara 22,3—31,8 derajat Celcius (rata-rata 26,2 derajat Celcius).

Berdasarkan data yang diperoleh dari Potensi Daerah Kabupaten Indragiri Hulu Tahun 2002 ini dapat dikatakan bahwa dalam setiap tahun suhu udaranya berkisar antara 22,0—32,8 derajat Celcius dan rata-ratanya berkisar antara 25,8—27,2 derajat Celcius.

Flora dan Fauna
Sesuai dengan iklimnya, maka flora yang ada juga tidak lepas dari iklimnya yang tropis itu. Beraneka ragam jenis tanaman tumbuh di Kabupaten Indragiri Hulu ini. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika Marsden (1999: 69) mengatakan bahwa alam telah menganugerahkan segala kemampuannya di negeri orang Melayu. Tidak satu pun ada daerah lain di bumi dapat membanggakan diri dan sanggup mengimbangi daerah mereka, baik dari jumlahnya maupun dari segi keanekaragaman buah-buahan yang asli miliknya. Berbagai jenis tanaman itu antara lain: manggis (Garsinia mangostana L), durian (Durio zibethinus), sukun dan nangka (Artrocarpus incisa), mangga (Mangifera indica),nenas (Bromelia ananas), jeruk, srikaya (Annona squamosa), pepaya (Carica papaya), rambutan (Nephelium lappaceum), langsat (Lansium donesticum), belimbing (Averrhoa carambola), katapang (Terminalia catappa L), kemiling (Camirium cordifolium), pisang, dan salak (Calamus zalacca).

Selain tanaman tersebut banyak juga tanaman lain yang termasuk dalam bunga-bungaan. Tanaman-tanaman itu antara lain: kenanga (Uvaria cananga), cempaka (Michelia champaka), bunga tanjung (Mimusops elengi, L), kacapiring (Gardenia flore simplice), bunga raya (Hibiscus rosa sinensis), kamboja (Plumeria obtusa), melati (Nyctanthes sambac), angsoka (Pavetta indica), pandan (Pandanus), anggrek (Epidendrum), dan teratai (Nymphaea nelumbo). Selain itu, ada juga tanaman yang diperdagangkan, seperti: lada, pala, cengkeh, kapas, pinang, kopi, damar, gambir, jer-nang, dan gaharu. Kemudian, tanaman yang kayunya dapat digunakan untuk bangunan adalah: kayu besi, merbau, kayu gadis, eru, dan rengas.

Adapun tumbuhan perdu yang berkhasiat untuk mengobati berbagai macam penyakit diantaranya adalah: legundi (Vitex trifolia, L.), katupong, siup, sikaduduk (Melastoma, labu, marampuyan, mali-mali, maribungan ampi-ampi, kadus (“piperaceae”), gumbai, tabulan (semiflosceulous ), sidingin ( Cotyledon laciniata ), lada panjang ( Piper longum), dan kunyit6).

Ada lagi jenis tumbuhan yang digunakan khusus untuk obat luar, yaitu: sipit tunggal, hati air, tapak badak ( Varietes callicarpa), laban (Vitex altissima ), pisang ruka ( species musa ), dan paku lamiding (species polypodium ). Pada umumnya keseluruhan species tumbuhan tersebut diramu dengan akar malabatei. Untuk mengobati kurap digu-nakan daun gelinggang (cassia quaderialata) yaitu semacam belukar dengan daun besar-besar, bersirip dan berbunga kuning. Alternatif lain ramuan obat penyembh kurap adalah daun barangan (arsenit berwarna atau orpimen ), racun yang sangat kuat digosokkan ke penyakit kurap.

Berdasarkan hasil ekspedisi yang dilakukan oleh Balai Taman Nasional Bukit Tiga Puluh (BTNBT), Fakultas Biologi UNRI, dan Mapala OASIS, yang dikutip oleh Silalahi (2003), pada bulan April 2003 ditemukan lebih dari 20 bunga Rafflesia Hasseltii Suringar yang sudah mulai mekar di Dusun Tanah Datar BTNBT. Bunga tersebut adalah dari tumbuhan langka yang terdapat di Taman Nasional Bukit Tigapuluh yang dikenal masyarakat setempat dengan nama “Cendawan Muka Rimau”. Sebenarnya tumbuhan ini bukan jamur atau cendawan, tetapi termasuk tumbuhan holoparasit, yaitu tumbuhan yang sepenuhnya menggantungkan hidupnya pada tumbuhan lain untuk kebutuhan makanannya.

Sebagaimana anggota kelompok Rafflesiaceae lainnya, rafflesia hasseltii tidak mempunyai klorofil, namun mempunyai akar isap (haustorium) yang berfungsi sebagai penyerap nutrisi yang dibutuhkannya. Menghisap sari maka-nan dari liana tetrastigma lanceolarium yang menjadi inang-nya. Dia tidak mempunyai daun, akar dan batang , tetapi hanya berwujud bunga yang menempel pada akar.

Siklus hidupnya sangat lama. Diduga waktu yang dibutuhkan dari knop/kuncup awal diameter 0,5 cm sampai knop siap mekar (diameter 18 cm) adalah 280 hari. Waktu knop mulai mekar dan kemudian membusuk selama 5--8 hari. Jadi, total hidup raflesia hasseltii dari knop atau kuncup awal sampai mekar sempurna dan akhirnya membusuk adalah 228 hari (kira-kira 9 bulan). Pada waktu mekar bunga ini mem-punyai diameter 20 hingga 50 centimeter, dengan ciri khas adanya bercak-bercak putih memanjang yang lebih dominan pada permukaan diafragma bunga dan mengeluarkan bau busuk. Bau busuk akan terasa sangat tajam pada hari kedua sampai ketiga sejak ia mekar, oleh karena itulah orang sering menyebutnya dengan bunga bangkai. Tumbuhan yang tergo-long dalam famili raflesiaceae dari divisi spermatophyeta ini, termasu vegetasi berumah dua (dioeceos), artinya bunga betina dan bunga jantan terpisah pada individu yang berbeda (Mackinnon, 1986). Biji sebagai alat perkembangbiakannya kemungkinan besar disebarkan oleh aliran air, angin, serang-ga tanah, dan mamalia hutan yang berkuku. Karena kuku ma-mamalia hutan dapat menimbulkan luka pada liana dan membawa biji-biji raflesiahaseltii yang sangat kecil untuk menempel padanya. Persebaran raflesiahaseltii sangat dipe-ngaruhi oleh persebaran tumbuhan inang terrastigma lanceolarium dan faktor penyebaran biji. Bunga ini diduga merupakan jenis endemik yang hanya ditemukan di sekitar Taman Nasional Bukit Tiga Puluh.

Sesuai dengan iklimnya yang tropis pula, maka fauna yang ada juga tidak dari iklimnya yang tropis pula. Berbagai binatang yang ada di sana antara lain: kerbau, sapi, gajah, badak, harimau, rusa, pengguling, kelelawar, buaya, tokek, bunglon, kadal terbang, kura-kura, ikan layar, burung merak, burung enggang, burung bangau, burung merpati, burung pipit, burung murai, dan berbagai macam serangga. (pepeng)

Sumber:
Galba, Sindu. 2006. “Masyarakat dan Kebudayaan Talang Mamak”
hal
Dilihat: