Kelenteng Di Cang Yuan (Provinsi DKI Jakarta)

Pengantar
Kelenteng Di Cang Yuan terletak di Jalan Lautze Nomor 64, Kelurahan Kartini, Kecamatan Sawah Besar, Kotamadya Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta. Kelenteng yang dikenal juga dengan nama Vihara Tri Ratna ini dibangun pada tahun 1789 dan dibaktikan kepada Dewa Raja Neraka. Kelentang Di Cang Yuan tidak dikhususkan bagi para penganut Buddha saja, sebab selain terdapat beberapa patung Buddha dan patung dewa 18 Arhat yang merupakan pengikut setia Sang Buddha, juga patung dewa-dewa yang biasa dipuja oleh masyarakat Tionghoa dan sebuah ruangan khusus untuk mengirim doa pada arwah bagi para penganut Konghuchu.

Data Bangunan
Kelenteng Di Cang Yuan dapat dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu: halaman, bangunan utama, dan bangunan tambahan. Berikut ini adalah uraian tentang bagian-bagian tersebut. Halaman Kelenteng Di Cang Yuan memiliki dua pintu gerbang. Pintu gerbang pertama berbentuk gapura dengan hiasan tiga buah stupa (di bagian atas) dan patung naga. Daun pintunya berhias lingkaran dan bunga. Pintu gerbang pertama ini hanya dibuka pada waktu tertentu saja. Sedangkan, pintu gerbang kedua terletak di sebelah kiri dan berbentuk biasa tanpa hiasan. Pintu kedua ini selalu terbuka terutama pada siang hari.

Di sebelah kiri halaman terdapat sebuah tiang batu setinggi sekitar 2,40 meter, berwarna putih, berbentuk segi enam dan berhias aksara Cina pada salah satu sisinya. Pada puncak tiang tersebut terdapat hiasan berbentuk kuncup bunga. Di halaman kelenteng yang sudah diberi conblock ini juga terdapat sebuah pohon bodhi.

Setelah melewati halaman terdapat sebuah teras yang telah diberi atap dan berlantai keramik berwarna merah bata. Di sudut kiri teras terdapat patung singa bergaya Eropa dengan posisi duduk dengan kaki depan memegang suatu benda berbentuk bulat panjang. Sedangkan, di kiri dan kanan teras terdapat sebuah patung singa lagi yang berdiri di atas lapik berbentuk segi empat, berhias relief bunga teratai, dan berukuran 60x90x50 sentimeter. Patung singa yang ada di sebelah kanan, pada bagian kaki kirinya terdapat patung singa berukuran kecil. Sedangkan, patung singa yang ada di sebelah kiri, pada kaki kanan bagian depan menginjak sebuah bola.

Di depan pintu masuk bangunan terdapat altar Thian dengan tempat dupa yang terbuat dari kuningan, pegangan berbentuk kepala singa dan gelang pada mulutnya. Meja altar terbuat dari kayu berukir hiasan tumbuh-tumbuhan dan naga dalam posisi saling berhadapan dengan bola api di antaranya. Di sebelah kanannya terdapat tempat pembakaran kertas yang merupakan satu ruangan dengan relief stupa pada ambang lubang pembakaran. Di depan tempat pembakaran terdapat dua buah patung singa (kiri dan kanan).

Sedangkan, pintu masuk ruang utama terbuat dari kayu yang berhias tumbuh-tumbuhan (di bagian atas) dan berjeruji. Lantai ruang utama terbuat dari batu granit warna merah dan dindingnya diberi keramik deangan warna krem. Ruang utama ini disangga oleh dua buah tiang berbentuk segi empat, berukuran 30x30 sentimeter, dan empat buah tiang bulat dengan bagian bawahnya berbentuk bunga teratai. Pada tiang bulat sebelah kiri depan terdapat genderang yang tergantung di sisi kiri. Sedangkan, pada sebelah kanan depannya tergantung lonceng dengan hiasan paku-paku (pada bagian atas). Gagang tempat gantungan lonceng berbentuk seekor binatang.

Pada ruang utama, tepat di depan pintu masuk, terdapat altar Dewi Kwan Im. Di meja altar terdapat patung Dewi Kwan Im dalam posisi duduk, tangan kiri membawa botol, tangan kanan dengan jari-jari menghadap ke atas, jari tengah dan jempol membentuk sebuah lingkaran. Di meja altar ini juga terdapat tempat pembakaran dupa, ketokan kayu dan mangkuk biksu yang hanya dibunyikan pada waktu sembahyang. Di belakang patung Kwan Im terdapat tiga patung Buddha duduk di atas padmasana. Di sebelah kanan altar terdapat genderang dan lonceng kecil.

Altar utama di ruang utama ini adalah altar dewa Kshitigarba Bodhisatva, yaitu dewa pelindung arwah yang patungnya digambarkan dalam posisi duduk bersila di atas binatang qilin. Tangan kirinya bola kristal, sedangkan tangan kanannya memegang tongkat biksu. Kshitigarba Bodhisatva yang biasa disebut juga Di Zang Wang Pu Sa (Tee Cong Ong Po Sat) merupakan dewa Budhisme yang paling banyak dipuja oleh masyarakat, disamping Dewi Kwan Im. Di mata orang Tionghoa, Di Zang Wang Pu Sa adalah Dewa Pelindung bagi arwah-arwah yang sedang menderita siksaan di neraka agar mereka dapat lekas dibebaskan dan menitis kembali. Ia menjadi pelindung dan pembimbing para arwah agar mereka insaf dan tidak mengulangi perbuatannya yang terdahulu.

Di sebelah kiri patung Kshitigarba Bodhisatva terdapat patung Dewa Onie Tho Fut dalam posisi berdiri dengan hiasan swastika di dada, tangan kanannya ke bawah, sedangkan tangan kirinya membawa bunga teratai di depan dada. Altar utama diapit oleh rak tempat lilin. Di sebelah kanan rak lilin terdapat altar Dewa Fu Fat Pho Sat atau tentara langit yang bertugas sebagai dewa penjaga. Patung Dewa Fu Fat Pho Sat digambarkan dalam posisi duduk di atas bangku, tangan kirinya memegang ular dan tangan kanannya memegang sebuah tongkat berujung bola berduri. Pada dinding kiri dan kanan ruang utama terdapat lemari kaca yang berisi patung dewa-dewa dari 18 Arhat.

Ruang sayap kanan bangunan Kelenteng Di Cang Yuan berlantai granit dengan warna merah. Pada dindingnya terdapat rak tempat papan-papan kecil bertulis nama-nama orang yang sudah meninggal. Ruang tersebut merupakan tempat sembahyang untuk mengirim doa pada arwah orang yang telah meninggal. Selain itu, pada ruang sayap kanan juga terdapat altar Dewa Chai Sen Ye (patungnya digambarkan dalam posisi berdiri sambil memegang sebuah tulisan), altar Dewa Sam Kwan Thay Tie (dalam posisi duduk), dan altar Dewa Thay Swei Seng Kun (dalam posisi duduk). Di bagian bawah altar-altar tersebut terdapat altar Dewa Phai Hu Ciang Cwin dengan patung berbentuk macan putih. Sedangkan, di ruang sayap kiri terdapat altar pemujaan Dewi Kwan Im Pho Sat, yang patungnya digambarkan dalam posisi duduk dengan tangan dalam sikap semedi. Di halaman belakang kelenteng terdapat sebuah prasasti beraksara Cina tahun 1761. Prasasti tersebut dibuat untuk memperingati dibukanya sebuah pekuburan baru yang dahulu pernah ada di daerah tersebut. (pepeng)

Sumber:
Supardi, Nunus, dkk,. 2000. Kelenteng Kuno di DKI Jakarta dan Jawa Barat. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

http://community.siutao.com
http://www.detiknews.com
http://www.geocities.com/
hal
Dilihat: