Permainan Jaran Cecekan (Indramayu)

Permainan jaran cecekan menggunakan alat seperti kuda-kudaan yang terbuat dari pelepah pisang, kardus, atau bambu. Kuda-kudaan yang terbuat dari pelepah pisang biasanya pelepah pisang yang agak besar dibuang bagian daunnya, kecuali daun di bagian ujungnya yang kecil. Pelepah tersebut dibentuk mirip kuda dengan bagian kepala, badan, dan ekor. Bagian badan dibuat menjorok persegi empat ke bawah gunanya untuk dimasukkan ke paha agar permainan mirip seperti kuda-kudaan yang bisa berjalan. Adapun ekornya dari bagian pelepah yang ada daunnya agar saat digoyang seperti gerakan ekor kuda. Antara pundak dan “tunggir” (bokong) dibentangkan tali untuk diletakkan di pundak si pemain kuda-kudaan ini.

Jaran cecekan yang lainnya bagian kepala dan ekor terbuat dari kardus yang dibentuk mirip kepala kuda dan ekor kuda, kemudian kedua bagian ini dihubungkan dengan sebilah bambu yang diraut sedemikian rupa dan dilengkungkan ke atas, gunanya untuk meletakkan paha. Adapun bagian atas bambu yang dilengkungkan disambung dengan tali agar bisa digantungkan di atas pundak.

Anak-anak seusia enam sampai duabelas tahun bermain jaran cecekan di depan halaman rumah atau di lapangan terbuka dengan jumlah lebih dari dua orang. Mereka berputar-putar sambil menari dan bernyanyi.

Sumber:
Purnama, Yuzar, dkk,. 2004. Budaya Tradisional pada Masyarakat Indramayu. Bandung: Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung.
hal
Dilihat: