Arkeologi Konflik Sosial di Indonesia

Oleh Muh Hanif Dhakiri

Kehidupan bangsa Indonesia dewasa ini tengah menghadapi ancaman serius berkaitan dengan mengerasnya konflik-konflik dalam masyarakat, baik yang bersifat vertikal maupun horizontal. Konflik-kokflik itu pada dasarnya merupakan produk dari sistem kekuasaan Orde Baru yang militeristik, sentralistik, dominatif, dan hegemonik. Sistem tersebut telah menumpas kemerdekaan masyarakat untuk mengaktualisasikan dirinya dalam wilayah sosial, ekonomi, politik, maupun kultural.

Kemajemukan bangsa yang seharunya dapat kondusif bagi pengembangan demokrasi ditenggelamkan oleh ideologi harmoni sosial yang serba semu, yang tidak lain adalah idelogi keseragaman. Bagi negara kala itu, kemajemukan dianggap sebagai potensi yang dapat mengganggu stabilitas politik. Karena itu negara perlu menyeragamkan setiap elemen kemajemukan dalam masyarakat sesuai dengan karsanya, tanpa harus merasa perlu mengingkari prinsip dasar hidup bersama dalam kepelbagaian. Dengan segala kekuasaan yang ada padanya negara tidak segan-segan untuk menggunakan cara-cara koersif agar masyarakat tunduk pada ideologi negara yang maunya serba seragam, serba tunggal.

Perlakuan negara yang demikian itu kemudian diapresiasi dan diinternalisasi oleh masyarakat dalam kesadaran sosial politiknya. Pada gilirannya kesadaran yang bias state itu mengarahkan sikap dan perilaku sosial masyarakat kepada hal-hal yang bersifat diskriminatif, kekerasan, dan dehumanisasi.

Hal itu dapat kita saksikan dari kecenderungan xenophobia dalam masyarakat ketika berhadapat dengan elemen-elemen pluralitas bangsa. Penerimaan mereka terhadap pluralitas kurang lebih sama dan sebangun dengan penerimaan negara atas fakta sosiologis-kultural itu. Karena itu, subyektivitas masyarakat kian menonjol dan pada gilirannya menafikan kelompok lain yang dalam alam pikirnya diyakini “berbeda”. Dari sinilah konflik-rasionalnya. Tentu saja untuk hal ini kita patut meletakkan negara sebagai faktor dominan yang telah membentuk pola pikir dan kesadaran antidemokrasi di kalangan masyarakat.

Ketika negara mengalami defisit otoritas, kesadaran bias state masyarakat semakin menonjol dalam pelbagai pola perilaku sosial dan politik. Munculnya reformasi telah menyediakan ruang yang lebih lebar bagi artikulasi pendapat dan kepentingan masyarakat pada umumnya. Masalahnya, artikulasi pendapat dan kepentingan itu masih belum terlepas dari kesadaran bias state yang mengaplikasikan dehumanisasi. Itulah mengapa kemudian muncul pelbagai bentuk tragedi kemanusiaan yang amat memilukan seperti kita saksikan dewasa ini di Aceh, Ambon, Sambas, Papua dan beberapa daerah lain. Ironisnya lagi, ternyata ada the powerfull invisible hand yang turut bermain dalam menciptakan tragedi kemanusiaan itu.

Jadi, reformasi yang tengah kita laksanakan sekarang ini harus mampu membongkar aspek struktural dan kultural yang kedua-duanya saling mempengaruhi kehidupan masyarakat. Kita tidak dapat semata-mata bertumpu kepada aspek struktural atau sistem kekuasaan yang ada, melainkan harus pula melakukan dislearn atau wacana dan konstruksi pemikiran masyarakat. Di sini kita sebenarnya berada dalam area dominasi dan hegemoni negara seperti yang dibeberkan Karl Marx dan Antonio Gramsci.

Repotnya, apa yang terjadi di Indonesia adalah reformasi, dan bukan revlusi sosial. Gerakan reformasi, karena sifatnya yang moderat, cenderung berkompromi dengan anasir-anasir lama yang pra-status qou. Ini yang disebut Samuel P Huntington sebagai konsekuensi reformasi. Sementara revolusi, karena sifatnya yang radikal, bersikap tegas dalam menghadapi rezim kekuasaan yang lama dan anasir-anasir pro-status quo. Revolusi Bolshevik 1917 di bekas negara Uni Soviet merupakan contoh dari ketegasan sikap para pemimpin gerakan revolusi terhadap anasir kekuatan lama.

Dalam era pandang revolusioner, struktur kekuasaan harus dibalik sedemikian rupa sehingga diujudkan struktur kekuasaan yang benar-benar baru. Itulah mengapa kita rasakan perjalanan reformasi bangsa ini terasa menggemaskan karena lambatnya. Seringkali kita memang tidak begitu sabar untuk menjadi seorang demokrat, namun untuk menjadi seorang revolusioner sejati kita pun acap tidak punya nyali.

Kenyataan bahwa yang terjadi sekarang ini adalah reformasi menuntut segenap elemen dalam masyarakat untuk mereposisi gerakannya agar lebih kondusif bagi akselerasi reformasi. Artinya, kita tidak dapat lagi menggunakan wacana dan metode gerakan sosial apa pun dalam masyarakat harus memulai menyediakan alternatif-alternatif yang lebih konkret kepada para pengambil keputusan.

Mengapa demikian? Karena kekuasaan negara hari ini, meskipun struktur dan sistemnya masih Orde Baru, tetapi di dalamnya mulai berlangsung dinamika yang lebih baik ke arah demokratisasi. Namun demikian ada dua soal yang harus secara terus-menerus dipertegas. Pertama, political will dan konsistensi pemerintah baru untuk melaksanakan agenda reformasi. Kedua, kesediaan masyarakat untuk bekerja sama dengan pemerintah dalam mempercepat jalannya agenda reformasi.

Dalam konteks pengembangan kehidupan bangsa yang humanis, plural dan demokratis, baik pemerintah maupun masyarakat bertanggung jawab untuk membongkar struktur dan kultur dalam masyarakat yang masih diskriminatif. Kita tidak boleh lagi menyerahkan segala urusan kepada pemerintah sebagaimana yang sudah-sudah. Karena dengan begitu kita sebagai warga negara akan semakin kehilangan peran strategis, sementara pemerintah akan semakin dominan. Inilah momentum yang tepat bagi segenap warga negara Indonesia untuk berpartisipasi semaksimal mungkin dalam mengarahkan dan mengendalikan proses transisi bangsa dan negara ini menuju demokrasi yang sejati, atau minimal demokrasi yang stabil (stable democracy).

Sumber: www.kompas.com

Rumah Jolopong (Jawa Barat)

Oleh D Indrawati

Orang Sunda, adalah salah satu suku bangsa yang mendiami sebagian besar wilayah Propinsi Jawa Barat, dan merupakan penduduk asal daerah itu. Wilayah asal orang Sunda itu bisa ditebut Tatar Sunda atau Tanah Pasundan. Dalam wilayah Jawa Barat itu, orang Sunda bertetangga atau hidup berdampingan dengan beberapa kelompok lain seperti kelompok orang Banten Cirebon dan Baduy.

Pada umumnya pemukiman penduduk daerah Jawa Barat bervariasi, ada yang mengelompok dan ada yang menyebar.

Pola perkampungan masyarakat Sunda sebelum mengalami perubahan dikemukakan oleh Ir Anwar Adiwilaga bahwa: Orang Sunda umumnya mempunyai rumah menyendiri di tengah padang luas atau di tengah hutan. Kalaupun mereka berkampung halaman, maka rumah mereka selalu berhimpit-himpitan, dua deret saling berhadapan, terpisah oleh pelataran.

Bentuk Rumah
Secara tradisional rumah orang Sunda berbentuk panggung yang tingginya 0,5 m - 0,8 m atau 1 meter di atas permukaan tanah. Pada rumah-rumah yang sudah tua usianya, tinggi kolong ada yang mencapai 1,8 meter, karena digunakan untuk tempat mengikat binatang-binatang peliharaan seperti sapi, kuda atau untuk menyimpan alat-alat pertanian seperti cangkul, bajak, garu dan sebagainya. Untuk menaiki rumah disediakan tangga yang disebut Golodog terbuat dari kayu atau bambu, biasanya tidak lebih dari tiga anak tangga. Golodog berfungsi pula untuk membersihkan kaki sebelum naik ke dalam rumah.

Sekalipun rumah orang Sunda berbentuk panggung, akan tetapi tidak berarti sebutan rumah orang Sunda adalah rumah panggung, sebab di hampir seluruh provinsi di Indonesia secara tradisional berbentuk panggung, dan itu merupakan sebutan yang khas.

Rumah-rumah orang Sunda memiliki nama yang berbeda-beda tergantung pada bentuk atap dan pintu rumahnya. Secara tradisional ada atap yang bernama suhunan jolopong, tagong anjing, badak heuay, perahu kemureb dan jubleg nangkub dan buka pongpok.

Suhunan Jolopong dikenal juga dengan sebutan Suhunan Panjang Jolopong artinya tergolek lurus. Bentuk Jolopong merupakan bentuk yang cukup tua, karena bentuk ini ternyata terdapat pada bentuk atap bangunan saung (dangan) yang diperkirakan bentuknya sudah sangat tua.

Bentuk Jolopong memiliki dua bidang atap. Kedua bidang atap ini dipisahkan oleh jalur suhunan di tengah bangunan rumah. Batang suhunan sama panjangnya dan sejajar dengan kedua sisi bawah bidang atap yang sebelah menyebelah. Sedangkan lainnya lebih pendek dibanding dengan suhunan dan memotong tegak lurus di kedua ujung suhunan itu.

Susunan Ruangan
Ruang Jolopong terdiri atas ruang depan disebut emper atau tepas; ruangan tengah disebut tengah imah atau patengahan; ruangan samping disebut pangkeng (kamar); dan ruangan belakang yang terdiri atas dapur yang disebut pawon dan tempat menyimpan beras yang disebut padaringan.

Ruangan yang disebut emper berfungsi, untuk menerima tamu. Pada waktu dulu ruangan ini dibiarkan kosong tanpa perkakas atau perabot rumah tangga seperti meja, kursi, ataupun bale-bale tempat duduk. Kalau tamu datang barulah yang empunya rumah menggelarkan tikar untuk duduk tamu. Namun sekarang sudah disediakan meja dan kursi bahkan peralatan lainnya.

Ruang balandongan berfungsi untuk menambah kesejukan bagi penghuni rumah. Pangkeng merupakan tempat untuk tidur. Ruangan sejenis pangkeng ialah jobong atau gudang yang digunakan untuk menyimpan barang-barang atau alat-alat rumah tangga.

Ruangan tengah digunakan sebagai tempat berkumpulnya keluarga dan sering digunakan untuk melaksanakan upacara atau selamatan yang mengundang orang banyak. Ruang belakang (dapur) digunakan untuk memasak.

Ragam Hias
Jenis ragam hias yang terdapat pada rumah-rumah secara tradisional sudah amat langka ditemui sekarang ini, kecuali di beberapa daerah di Cirebon yaitu pada rumah-rumah keluarga bangsawah (keraton) dan pada bangunan-bangunan peninggalan kesultanan Cirebon.

Hal tersebut penyebabnya antara lain orang Sunda pada zaman dahulu tidak mempunyai kebiasaan membuat ukiran pada rumah, karena rumah mereka umumnya terbuat dari kayu dan bambu yang tidak tahan seumur hidup. Orang Sunda lebih banyak perhatian pada bangunannya dibanding dengan ukirannya. Pada sisa bangunan bangsawan atau kesultanan di Cirebon ditemukan beberapa ragam hias dengan motif tumbuh-tumbuhan, binatang, alam dan motif lain-lainnya. Ragam hias dengan motif tumbuh-tumbuhan yang ada di bangunan lama di daerah Cirebon antara lain: kawung rucuk bung, keliangan, kangkungan patran simbar dan kombinasi dari beberapa tumbuhan.

Ragam hias yang terdapat pada bangunan-bangunan lama (tradisional) seperti yang berpola geometris yang disebut anggun, wajikan, tumpal, dan yang polakan sarigsig yang diberi nama jangkalong, rusuk ikan atau bangreng.

Ragam hias pola geometris biasanya terdiri atas gambar-gambar bergaris lurus yang seluruhnya membentuk tepi keliling yang disebut banji. Ragam hias ini merupakan pengisi bagian dinding dengan gambar-gambar bergaris lurus yang disebut swastika. Potongan-potongan kayu yang disusun pun jadi pola garis lurus dan melintang sebagai pengisi lubang-lubang angin di pintu-pintu/jendela-jendela rumah dan merupakan ragam hias tersendiri yang disebut angen. Demikian pula pola wajikan sesuai dengan namanya, pola ini menyerupai bentuk wajik (jajaran genjang).

Dalam bentuk segitiga, pola geometris muncul pada motif-motif tempel. Sedangkan yang berpola sarigsig yakni dalam bentuk tulang-tulang sayap burung (kalong) menyerupai huruf "w." Rusuk ikan mengambil letak garis-garis sejajar disusun menyerupai rusuk ikan.

Pola angen biasanya diletakkan pada lubang-lubang angin di atas pintu-pintu/jendela. Pola wajikan banyak diletakkan pada lubang-lubang angin dan di pagar-pagar teras (tepas) rumah. Sedangkan pola sarigsig banyak diletakkan pada daun pintu, di depan dan di tengah rumah, berfungsi sebagai pengatur udara dalam ruangan.

D Indrawati (Asdep Pemberdayaan Masyarakat/Proyek Pemanfaatan Kebudayaan)

Sumber: www.hupelita.com

Rumah Joglo (Yogyakarta)

Oleh Dewi I

Rumah bagi orang Jawa merupakan patokan tentramnya suatu keluarga, sebab dengan sudah mampu memiliki rumah, keluarga tersebut sudah merasa tenang, tidak harus nyewa atau ngindung (numpang).

Rumah-rumah yang ada di daerah perkotaan sangat padat, sehingga hampir tidak ada batas atau garis pemisah antara rumah satu dengan lainnya. Berbeda dengan rumah-rumah yang ada di daerah pedesaan, yang penduduknya masih memiliki pekarangan cukup luas, maka batas antar rumah sangat jelas, misalnya dibatasi pagar, pohon atau tanaman. Dahulu hanya orang yang tergolong dan terpandang dalam masyarakatlah, yang dapat membangun rumah joglo yang besar dan megah. Berbeda dengan orang biasa, pada umumnya mereka membangun rumah setengah permanen, atau rumah bentuk kampung ata rumah limasan sederhana. Perbedaan dari sebutan rumah itu dilihat dari atapnya dan kelengkapan ruangan dalam satu rumah. Tapi sekarang Rumah Joglo sudah dapat dibuat oleh golongan manapun asalkan cukup biayanya.

Bentuk Rumah
Orang Jawa menyebut rumah omah yang berarti tempat tinggal. Bentuknya empat persegi panjang atau bujur sangkar. Bentuk rumah joglo merupakan bentuk rumah tradisional Jawa yang paling sempurna. Bangunan ini memiliki bentuk dan teknik pembuatan tinggi, sehingga tampak sangat megah dan artistik. Keistimewaan rumah joglo terletak pada empat soko guru yang menyangga blandar tumpang sari. Kemudian bagian kerangka yang disebut brunjung yaitu bagian atas keempat soko guru atau tiang utama sampai bubungan yang disebut molo atau suwunan. Oleh karenanya rumah joglo banyak membutuhkan kayu sebagai bahan bangunannya.

Rumah tradisional Jawa bukanlah berbentuk panggung. Sebagai fondosi (bebatur) dibuat dari tanah yang ditinggikan dan dipadatkan atau diperkeras, yang menurut istilah setempat disebut dibrug. Tiang rumah didirikan di atas ompak, yaitu alas tiang dari batu alam berbentuk persegi empat, bulat atau segi delapan. Pada mulanya rumah joglo hanya bertiang empat seperti yang ada di bagian tengah rumah joglo jaman sekarang (soko guru). Selanjutnya joglo diberi tambahan pada bagian samping dan bagian lain, sehingga tiangnya bertambah sesuai dengan kebutuhan.

Susunan Ruangan
Dari halaman depan, pertama-tama yang kita temui adalah ruangan lepas terbuka yang disebut pendopo. Ruang ini berfungsi sebagai tempat menerima tamu, pertemuan bila ada musyawarah serta kegiatan kesenian seperti menari, bermain sandiwara atau pementasan wayang. Pada bagian pinggir pendopo, yaitu bagian emperannya dahulu tempat anak-anak perempuan bermain dakon. Pada waktu ada upacara atau pagelaran kesenian, pendopo ini menjadi tempat pertunjukkan. Sementara para undangan duduk di bagian kanan dan kiri ruang pendopo. Ruang terdepan diperuntukkan bagi iringan gamelan atau musik pemilik rumah beserta keluarga duduk dalam ruangan pendopo menghadap keluar searah bangunan.

Selanjutnya masuk ke ruangan tengah yang disebut pringgitan, tempat untuk mementaskan wayang (pringgit). Kadang-kadang antara pendopo dan pringgitan dibuat terpisah oleh gang kecil yang disebut longkangan. Ruang tersebut digunakan untuk jalan kendaraan kereta atau mobil keluarga. Bila pendopo bersambung dengan pringgitan, maka untuk pemberhentian kendaraan dibuat di depan pendopo, yang disebut kuncung.

Dari ruang tengah kemudian menuju ruang belakang, yang disebut dalem atau omah jero. Ruangan ini berfungsi sebagai ruang keluarga atau tempat menerima tamu wanita. Di kala ada pementasan wayang kulit, dahulu wanita hanya diperbolehkan menyaksikan di balik kelir, di ruangan ini. Di dalem atau rumah jero, terdapat tiga buah kamar atau senthong yaitu senthong kiwo (kiri), senthong tengah dan senthong tengen (kanan).

Pada para petani, senthong kiwo berfungsi untuk menyimpan senjata atau barang-barang keramat. Senthong tengah untuk menyimpan benih atau bibit akar-akaran atau gabah. Sedangkan senthong tengen untuk ruang tidur. Kadang-kadang senthong tengah dipakai pula untuk berdoa dan pemujaan kepada Dewi Sri. Oleh karenanya disebut juga pasren atau petanen. Senthong tengah tersebut diberi batas kain yang disebut langse atau gedhek, berhias anyaman yang disebut patang aring.

Pada rumah joglo milik bangsawan, senthong tengah ini berisi bermacam-macam benda lambang (perlengkapan) yang mempunyai kesatuan arti yang sakral (suci). Setiap benda memiliki arti lambang kesuburan dan kebahagiaan rumah tangga. Sebelah kiri, kanan dan belakang senthong terdapat gandhok, yaitu bangunan kecil yang digunakan untuk tempat tinggal kerabat. Bila ada upacara atau kenduri, gandhok ini dipakai untuk tempat para wanita mengerjakan segala keperluan dan persiapan upacara terutama mengatur makanan yang sudah dimasak di dapur. Dapur (pawon) terletak di belakang dalem, yang selain untuk memasak, juga berfungsi sebagai tempat menyimpan perkakas dapur serta bahan makanan seperti kelapa, palawija, beras dan sebagainya. Antara gadhok kiri dan kanan dengan dalem, dibuat gerbang kecil yang disebut seketheng.

Ragam Hias
Fungsi hiasan pada suatu bangunan adalah untuk memberi keindahan, yang diharapkan dapat memberi ketentraman dan kesejukan bagi yang menempatinya. Pada orang Jawa di Yogyakarta, hiasan rumah tersebut banyak diilhami oleh flora, fauna, dan alam. Pada alas tiang yang disebut umpak, biasanya diberi hiasan terutama umpak pada soko guru. Hiasan tersebut berupa ukiran bermotif bunga mekar, yang disebut Padma. Padma adalah bunga teratai merah sebagai lambang kesucian, kokoh dan kuat yang tidak mudah tergoyahkan oleh segala macam bencana yang menimpanya.

Ragam hias lung-lungan merupakan ragam hias yang paling banyak dijumpai. Lung-lungan berarti batang tumbuh-tumbuhan melata yang masih muda. Hiasan ini biasanya diukirkan pada kayu, banyak mengambil gambar bunga teratai, bunga melati, daun markisa dan tanaman lain yang bersifat melata. Semua hiasan itu memberi arti ketentraman, di samping sifat wingit dan angker.

Ragam hias saton dan tlacapan merupakan dua kesatuan yang tidak terpisahkan, memberi arti persatuan dan kesatuan.

Ragam hias nanasan, mengambil contoh buah nanas yang penuh duri, melambangkan bahwa untuk mendapat sesuatu yang diinginkan, harus mampu mengatasi rintangan yang penuh duri.

Ragam hias yang banyak bernuansa fauna banyak mengambil gambar burung garuda, ayam jago, kala, dan ular. Burung garuda merupakan jenis burung yang paling besar yang mampu terbang tinggi di angkasa, melambangkan pemberantas kejahatan. Biasanya ragam hias garuda dipadukan dengan ragam hias ular, karena ular mempunyai unsur jahat.

Ragam hias jago yang mengambil gambar ayam jago, memiliki arti penghuni rumah mempunyai andalan pada berbagai bidang, baik anak laki-laki maupun perempuan, sebab andalan itu merupakan kebanggaan seluruh keluarga.

Ragam hias perwujudan alam berupa gunung, matahari, dan sebagainya.

Ragam hias gunungan berarti hiasan yang bentuknya mirip dengan gunung.

Gunungan merupakan lambang alam semesta dengan puncaknya yang melambangkan pula keagungan dan keesaan. Sedangkan kayon atau pohonnya melambangkan tempat berlindung dan ketentraman. Dengan demikian ragam hias tersebut memberi arti bahwa keluarga yang menempati rumah itu dapat berteduh dan mendapatkan ketentraman, keselamatan serta dilindungi Tuhan Yang Maha Kuasa.

Ragam hias praba berarti sinar, mengandung arti menyinari tiang-tiang yang terpancang di rumah tersebut, sehingga dapat menyinari rumah secara keseluruhan.

Ragam hias mega mendhung berarti awan putih dan awan hitam. Mega mendhung melambangkan dua sisi yang berbeda, seperti ada siang ada malam, laki-laki dan perempuan, baik dan buruk, tegak dan datar, hidup dan mati dan sebagainya. Dengan demikian ragam hias tersebut mengandung makna bahwasannya manusia dalam hidup di dunia ini harus selalu ingat bahwa di dunia ini ada dua sifat yang sangat berbeda, oleh karenanya setiap manusia harus mampu membedakan keduanya dan mana yang lebih bermanfaat dalam hidup sebagai pilihan.

Dewi I (Asdep Pemberdayaan Masyarakat/Proyek Pemanfaatan Kebudayaan)

Sumber: www.hupelita.com

Kajang Lako Rumah Orang Batin (Jambi)

Oleh Dewi Indrawati

Orang Batin adalah salah satu suku bangsa yang ada di Provinsi Jambi. Sampai sekarang orang Batin masih mempertahankan adat istiadat yang diwariskan oleh nenek moyang mereka, bahkan peninggalan bangunan tua pun masih bisa dinikmati keindahannya dan masih dipergunakan hingga kini.

Konon khabarnya orang Batin berasal dari 60 tumbi (keluarga) yang pindah dari Koto Rayo. Ke 60 keluarga inilah yang merupakan asal mula Marga Batin V, dengan 5 dusun asal. Jadi daerah Marga Batin V itu berarti kumpulan 5 dusun yang asalnya dari satu dusun yang sama. Kelima dusun tersebut adalah Tanjung Muara Semayo, Dusun Seling, Dusun Kapuk, Dusun Pulau Aro, dan Dusun Muara Jernih. Daerah Margo Batin V kini masuk wilayah Kecamatan Tabir, dengan ibukotanya di Rantau Panjang, Kabupaten Sorolangun Bangko.

Pada awalnya orang Batin tinggal berkelompok, terdiri dari 5 kelompok asal yang membentuk 5 dusun. Salah satu perkampungan Batin yang masih utuh hingga sekarang adalah Kampung Lamo di Rantau Panjang. Rumah-rumah di sana dibangun memanjang secara terpisah, berjarak sekitar 2 m, menghadap ke jalan. Di belakang rumah dibangun lumbung tempat menyimpan padi.

Pada umumnya mata pencaharian orang Batin adalah bertani, baik di ladang maupun di sawah. Selain itu, mereka juga berkebun, mencari hasil hutan, mendulang emas, dan mencari ikan di sungai.

Bentuk Rumah
Rumah tinggal orang Batin disebut Kajang Lako atau Rumah Lamo. Bentuk bubungan Rumah Lamo seperti perahu dengan ujung bubungan bagian atas melengkung ke atas. Tipologi rumah lamo berbentuk bangsal, empat persegi panjang dengan ukuran panjang 12 m dan lebar 9 m. Bentuk empat persegi panjang tersebut dimaksudkan untuk mempermudah penyusunan ruangan yang disesuaikan dengan fungsinya, dan dipengaruhi pula oleh hukum Islam.

Sebagai suatu bangunan tempat tinggal, rumah lamo terdiri dari beberapa bagian, yaitu bubungan/atap, kasau bentuk, dinding, pintu/jendela, tiang, lantai, tebar layar, penteh, pelamban, dan tangga.

Bubungan/atap biasa juga disebut dengan 'gajah mabuk,' diambil dari nama pembuat rumah yang kala itu sedang mabuk cinta tetapi tidak mendapat restu dari orang tuanya. Bentuk bubungan disebut juga lipat kajang, atau potong jerambah. Atap dibuat dari mengkuang atau ijuk yang dianyam kemudian dilipat dua. Dari samping, atap rumah lamo kelihatan berbentuk segi tiga. Bentuk atap seperti itu dimaksudkan untuk mempermudah turunnya air bila hari hujan, mempermudah sirkulasi udara, dan menyimpan barang.

Kasau Bentuk adalah atap yang berada di ujung atas sebelah atas. Kasau bentuk berada di depan dan belakang rumah, bentuknya miring, berfungsi untuk mencegah air masuk bila hujan. Kasou bentuk dibuat sepanjang 60 cm dan selebar bubungan.

Dinding/masinding rumah lamo dibuat dari papan, sedangkan pintunya terdiri dari 3 macam. Ketiga pintu tersebut adalah pintu tegak, pintu masinding, dan pintu balik melintang. Pintu tegak berada di ujung sebelah kiri bangunan, berfungsi sebagai pintu masuk. Pintu tegak dibuat rendah sehingga setiap orang yang masuk ke rumah harus menundukkan kepala sebagai tanda hormat kepada si empunya rumah. Pintu masinding berfungsi sebagai jendela, terletak di ruang tamu. Pintu ini dapat digunakan untuk melihat ke bawah, sebagai ventilasi terutama pada waktu berlangsung upacara adat, dan untuk mempermudah orang yang ada di bawah untuk mengetahui apakah upacara adat sudah dimulai atau belum. Pintu balik melintang adalah jendela terdapat pada tiang balik melintang. Pintu itu digunakan oleh pemuka-pemuka adat, alim ulama, ninik mamak, dan cerdik pandai.

Adapun jumlah tiang rumah lamo adalah 30 terdiri dari 24 tiang utama dan 6 tiang palamban. Tiang utama dipasang dalam bentuk enam, dengan panjang masing-masing 4,25 m. Tiang utama berfungsi sebagai tiang bawah (tongkat) dan sebagai tiang kerangka bangunan.

Lantai rumah adat dusun Lamo di Rantau Panjang, Jambi, dibuat bartingkat. Tingkatan pertama disebut lantai utama, yaitu lantai yang terdapat di ruang balik melintang. Dalam upacara adat, ruangan tersebut tidak bisa ditempati oleh sembarang orang karena dikhususkan untuk pemuka adat. Lantai utama dibuat dari belahan bambu yang dianyam dengan rotan. Tingkatan selanjutnya disebut lantai biasa. Lantai biasa di ruang balik menalam, ruang tamu biasa, ruang gaho, dan pelamban.

Tebar layar, berfungsi sebagai dinding dan penutup ruang atas. Untuk menahan tempias air hujan, terdapat di ujung sebelah kiri dan kanan bagian atas bangunan. Bahan yang digunakan adalah papan.

Penteh, adalah tempat untuk menyimpan terletak di bagian atas bangunan.

Bagian rumah selanjutnya adalah pelamban, yaitu bagian rumah terdepan yang berada di ujung sebelah kiri. Pelamban merupakan bangunan tambahan/seperti teras. Menurut adat setempat, pelamban digunakan sebagai ruang tunggu bagi tamu yang belum dipersilahkan masuk.

Sebagai ruang panggung, rumah tinggal orang Batin mempunyai 2 macam tangga. Yang pertama adalah tangga utama, yaitu tangga yang terdapat di sebelah kanan pelamban. Yang kedua adalah tangga penteh, digunakan untuk naik ke penteh.

Susunan Ruangan
Kajang Lako terdiri dari 8 ruangan, meliputi pelamban, ruang gaho, ruang masinding, ruang tengah, ruang balik melintang, ruang balik menalam, ruang atas/penteh, dan ruang bawah/bauman.

Yang disebut pelamban adalah bagian bangunan yang berada di sebelah kiri bangunan induk. Lantainya terbuat dari bambu belah yang telah diawetkan dan dipasang agak jarang untuk mempermudah air mengalir ke bawah.

Ruang gaho adalah ruang yang terdapat di ujung sebelah kiri bangunan dengan arah memanjang. Pada ruang gaho terdapat ruang dapur, ruang tempat air dan ruang tempat menyimpan.

Ruang masinding adalah ruang depan yang berkaitan dengan masinding. Dalam musyawarah adat, ruangan ini dipergunakan untuk tempat duduk orang biasa. Ruang ini khusus untuk kaum laki-laki.

Ruang tengah adalah ruang yang berada di tengah-tengah bangunan. Antara ruang tengah dengan ruang masinding tidak memakai dinding. Pada saat pelaksanaan upacara adat, ruang tengah ini ditempati oleh para wanita.

Ruangan lain dalam rumah tinggal orang Batin adalah ruang balik menalam atau ruang dalam. Bagian-bagian dari ruang ini adalah ruang makan, ruang tidur orang tua, dan ruang tidur anak gadis.

Selanjutnya adalah ruang balik malintang. Ruang ini berada di ujung sebelah kanan bangunan menghadap ke ruang tengah dan ruang masinding. Lantai ruangan ini dibuat lebih tinggi daripada ruangan lainnya, karena dianggap sebagai ruang utama. Ruangan ini tidak boleh ditempati oleh sembarang orang. Besarnya ruang balik melintang adalah 2x9 m, sama dengan ruang gaho.

Rumah lamo juga mempunyai ruang atas yang disebut penteh. Ruangan ini berada di atas bangunan, dipergunakan untuk menyimpan barang. Selain ruang atas, juga ada ruang bawah atau bauman. Ruang ini tidak berlantai dan tidak berdinding, dipergunakan untuk menyimpan, memasak pada waktu ada pesta, serta kegiatan lainnya.

Ragam Hias
Bangunan rumah tinggal orang Batin dihiasi dengan beberapa motif ragam hias yang berbentuk ukir-ukiran. Motif ragam hias di sana adalah flora (tumbuh-tumbuhan) dan fauna (binatang).

Motif flora yang digunakan dalam ragam hias antara lain adalah motif bungo tanjung, motif tampuk manggis, dan motif bungo jeruk.

Motif bungo tanjung diukirkan di bagian depan masinding. Motif tampuk manggis juga di depan masinding dan di atas pintu, sedang bungo jeruk di luar rasuk (belandar) dan di atas pintu. Ragam hias dengan motif flora dibuat berwarna.

Ketiga motif ragam hias tersebut dimaksudkan untuk memperindah bentuk bangunan dan sebagai gambaran bahwa di sana banyak terdapat tumbuh-tumbuhan.

Adapun motif fauna yang digunakan dalam ragam hias adalah motif ikan. Ragam hias yang berbentuk ikan sudah distilir ke dalam bentuk daun-daunan yang dilengkapi dengan bentuk sisik ikan. Motif ikan dibuat tidak berwarna dan diukirkan di bagian bendul gaho serta balik melintang.

Dewi Indrawati (Asdep Pemberdayaan Masyarakat/Proyek Pemanfaatan Kebudayaan)

Sumber: www.hupelita.com

Upacara Daur Hidup Mandi Tian Mandaring

Oleh Amurwani

Kekayaan budaya di Indonesia memang tak dapat diragukan lagi seperti halnya daerah lain, upacara daur hidup merupakan salah satu unsur budaya yang sifatnya universal. Hampir setiap daerah mempunyai cara-cara yang khas untuk memperingati masa-masa penting dalam suatu kehidupan dengan suatu upacara daur hidup. Hal ini tidak dapat lepas dari cara pandang masyarakat itu sendiri.

Upacara daur hidup dilakukan berdasarkan tradisi yang mereka anut secara turun-temurun. Begitu pula dengan upacara daur hidup Mandi Tian Mandaring yang dilakukan oleh suku bangsa Banjar. Upacara ini merupakan salah satu upacara daur hidup yang dilakukan pada saat kehamilan pertama. Biasanya dilaksanakan pada saat usia kehamilan tujuh bulan, sedangkan kata Mandaring sendiri dalam bahasa Banjar berarti kehamilan pertama. Upacara Mandi Tian Mandaring sudah begitu melekat pada masyarakat suku bangsa Banjar dari desa hingga kota, dari kalangan bangsawan hingga rakyat biasa di kawasan Kalimantan Selatan.

Tujuan pelaksanaan upacara ini terutama ditujukan untuk keselamatan ibu dan anak yang akan dilahirkan. Menurut kepercayaan orang Banjar, wanita yang sedang hamil seolah-olah sangat diingini oleh makhluk-makhluk halus yang sering mengganggu, termasuk pada saat melahirkan anak yang sedang dikandungnya.

Peralatan Upacara
Peralatan yang diperlukan pada saat upacara ini dilaksanakan antara lain berupa; Banyu Yasien (air yang sebelumnya dibacakan surah Yasien), Banyu Tuju, Banyu Baya, dan Mayang Balik Tilantang. Maksud digunakan peralatan ini agar keselamatan ibu dan anak terjaga hingga saatnya lahir nanti. Juga diperlukan tempat untuk mandi berupa balai atau balai warti, yaitu tempat pelaksanaan upacara yang diletakan di depan rumah dengan menghadap ke arah matahari pajah (arat barat). Balai ini berbentuk panggung dengan tangga yang berjumlah ganjil. Bagian atapnya biasanya dihiasi dengan kain kuning, sebagai warna kebesaran dalam keraton Banjar pada waktu itu. Pada keempat sudutnya dihiasi dengan tebu hijau (manisan hijau) lengkap dengan daunnya. Jika mempunyai tombak pusaka dapat ditegakkan pada keempat tiang balai wati tersebut. Selain itu juga disediakan tempat duduk yang digunakan pada saat mandi. Untuk keperluan mandi diperlukan perlengkapan seperti, mayang maurai, mayang bungkus, mayang maupung, atau bunga pinang yang masih terbungkus dalam seludangnya, daun kambat, kambang bacurai (bungai yang dirangkai), kambang barenteng (karangan bunga yang berbentuk untaian yang dirangkai dengan kulit batang pisang). Selain itu, juga dilengkapi dengan pakaian adat dan tilasan mandi serta perhiasan dan alat-alat penunjang lainnya.

Jalannya Upacara
Pelaksanaan upacara biasanya dilaksanakan pada siang hari, sesudah turun matahari atau sesudah sholat lohor, yaitu antara pukul 13.00 hingga 14.00, hal ini dilakukan agar pada saat melahirkan nanti mendapat kemudahan, seperti matahari yang turun tidak ada halangan apa-apa.

Untuk pelaksanaan mandi dilakukan oleh dukun bayi atau bidan yang sudah biasa melaksanakan upacara dan dianggap berpengetahuan. Jumlah bidan atau dukun bayi biasanya selalu ganjil, antara tiga hingga tujuh orang, dengan satu orang yang dianggap sebagai pemimpin dalam upacara tersebut. Serta beberapa angga keluarga dekat yang sudah lanjut usia ikut pula memandikan calon ibu.

Pelaksanaan upacara mandi tian mandaring, mula-mula calon ibu yang sedang hamil diberi pakaian dengan urutan, pakaian tilasan mandi berupa kain kuning. Setelah itu baru dipasang pakaian penganten. Setelah selesai berpakaian penganten calon ibu tadi dikawal oleh bidan kepala bersama pembantu pengiringnya. Calon ibu ini dibawa menuju ke balai warti di tempat upacara mandi tersebut dilaksanakan sambil diikuti oleh seorang yang membawa tutudung untuk tempat pakaian penganten yang dilepaskan ketika calon ibu ini dimandikan.

Ketika melewati pintu balai sholawatpun dikumandangkan oleh seorang petugas khusus sambil menaburkan beras kuning ke arah calon ibu dan bidan. Kadang-kadang juga bersama uang logam ditaburkan dan kemudian direbutkan oleh anak-anak kecil yang hadir pada saat itu dan para undangan pun membaca sholawat secara bersama.

Calon ibu kemudian dudukkan di balai warti bersama bidan dan pembantunya. Pakaian penganten mulai dilepaskan satu demi satu dan diletakkan ke dalam tudung saji yang terlentang yang dibawa oleh seorang petugas khusus.

Pada saat itu, dibunyikan terbang dengan lagu-lagu Hadrah dan Maulud nabi, sampai acara mandi di balai warti selesai dan calon ibu naik kembali untuk dirias. Sebelum turun dari balai diadakan upacara balulus, yaitu dengan membuat lingkaran lawai kuning yang sebelumnya dibuat oleh petugas khusus. Calon ibu yang telah selesai mandi memasukkan badannya ke dalam lingkaran benang atau lawai kuning yang diulang sebanyak tiga kali berturut-turut. Setelah itu calon pengantin dibawa ke dalam rumah.

Acara kemudian dilanjutkan dengan membaca surah Yasien secara bersama-sama dengan semua undangan yang hadir. Setelah calon ibu selesai dirias, ia kemudian didudukkan di atas susunan lipatan tapih yang telah disediakan menghadap ke arah wadai 41 (kue sebanyak 41 macam). Kemudian diadakan pembacaan doa untuk keselamatan wanita hamil dan anak yang dikandungnya, yang dipimpin oleh salah seorang yang berpengetahuan agama. Selesai pembacaan doa hidangan berupa nasi dan lauk pauk disuguhkan kepada para undangan untuk disantap bersama, beserta wadai 41.

Setelah acara selesai kain tilasan mandi diserahkan kepada bidan kepala atau dapat juga digantikan dengan uang. Bidan kepala ini biasanya pada saat calon ibu ini melahirkan, ia akan diundang untuk menolong kelahiran wanita tersebut.

Amurwani (Asdep Pemahaman Makna Sejarah & Integrasi Bangsa/Proyek Pemanfaatan Kebudayaan)

Sumber: www.hupelita.com
Cara Pasang Tali Layangan agar Manteng di Udara
Topeng Monyet
NUSANTARA COSMIC ECHOES - Pink Floyd Style Progressive Rock

Archive