Showing posts with label Ungkapan Tradisional. Show all posts
Showing posts with label Ungkapan Tradisional. Show all posts

Ungkapan Tradisional Masyarakat Melayu-Jambi

Ada genting menanti putus, ada retak menanti pecah, ada biang menanti tebuk

(Ada genteng menanti putus, ada retak menanti pecah, ada biang menanti tebuk)

Segala sesuatu yang akan terjadi diawali dengan berbagai tanda. Agar segala sesuatu yang akan terjadi atau terjadi tidak menimbulkan hal-hal yang diinginkan (merugikan dan atau menyengsarakan), maka perlu adanga sikap kehati-hatian. Dan, sesuatu yang bisa saja terjadi yang pada gilirannya bisa merugikan atau menyengsarakan, digambarkan dengan genteng yang retak dan biang akan tebuk. Ini artinya sebuah peringatan agar seseorang harus hati-hati. Oleh karena itu, nilai yang terkandung dalam seloka ini adalah nilai kehati-hatian.


Adat diisi, lembago dituang

(Adat diisi lembaga dituang)

Adat adalah sesuatu yang telah disepakati dan dilakukan secara turun-temurun (dari satu generasi ke generasi berikutnya). Ia berisi aturan-aturan, norma-norma, dan nilai-nilai yang menjadi acuan dalam suatu masyarakat yang berfungsi agar kehidupan masyarakat yang bersangkutan selaras, serasi, dan harmonis. Melanggar adat berarti menyimpang dari aturan-aturan, norma-norma, dan nilai-nilai yang terdapat dalam masyarakat dimana yang bersangkutan menjadi warganya. Dan, penyimpangan itu akan dikenakan sanksi, baik yang ringan maupun berat, bergantung pada pelanggarannya. Demi tegaknya adat-istiadat, maka ditumbuhkembangkan seloka yang berbunyi sebagaimana tersebut di atas. Intinya adalah agar adat-istiadat wajib ditaati. Oleh karena itu, nilai yang terkandung dalam seloka ini adalah nilai kewajiban (melaksanakan adat-istiadat yang ditumbuhkan dan dikembangkan oleh suatu masyarakat. Dalam hal ini adalah masyarakat Melayu-Jambi.


Adat seadat ico pakai lain-lain

Adat-istiadat dalam arti luas adalah kebudayaan. Dalam sebuah kebudayaan ada variasi geografis yang pada gilirannya membuat adanya persamaan-persamaan dan perbedaan-perbedaan. Melayu sebagai suatu kebudayaan pada hakekatnya satu (serumpun). Akan tetapi, karena faktor geografis akhirnya membuat Melayu yang tampaknya satu (sama) itu sebenarnya ada perbedaan-perbedaan. Melayu-Riau tidak sama persis dengan Melayu-Riau Kepulauan, tidak sama persis dengan Melayu-Kampar, tidak sama persis dengan Melayu-Jambi, dan seterusnya. Hal itu antara lain tercermin dari bahasa dan pakaian adat perkawinannya. Ini bermakna bahwa antara Melayu yang satu dengan lainnya mempunyai adat-istiadat tersendiri, walaupun rohnya sama (Islam). Dengan demikian, seloka ini mengandung nilai keberagaman kemelayuan.


Alam nan barajo

Masyarakat Melayu-Jambi mengenal adanya dua alam, yakni alam nyata (dunia) dan alam gaib (akherat). Alam dunia bersifat fana, sedangkan alam akherat bersifat kekal (abadi). Alam yang dimaksudkan dalam seloka ini adalah alam pertama. Masyarakat di mana pun membutuhkan pimpinan demi keteraturan mayarakat itu sendiri. Dan, seorang pemimpin digambarkan sebagai raja. Namun, bukan raja yang zalim melainkan raja yang arif dan bijaksana. Selako ini, dengan demikian, mempunyai nilai kepemimpinan. Dalam hal ini adalah kepemimpinan yang arif dan bijaksana.


Alim sekitab cerdik secendikio, batino semalu jantan basopan

Masyarakat adalah sekelompok manusia yang hidup dalam satu komunitas tertentu. Walaupun masyarakat yang ideal hanya merupakan utopia, namun setiap masyarakat pada dasarnya tidak menginginkan adanya kekacauan. Mereka menginginkan adanya kehidupan yang tenteram, damai, dan sejahtera. Untuk mewujudkan hal itu, faktor kebersamaan menjadi sangat penting. Berkenaan dengan itu, hubungan yang selaras, serasi, harmonis antarindividu sesuai dengan peranan sesorang dalam masyarakat yang bersangkutan perlu dihayati untuk kemudian diamalkan. Dengan perkataan lain, setiap individu dalam suatu masyarakat mesti menjalankan tugas dan kewajibannya sesuai peranan yang diembannya, sehingga hubungan antarindividu terjalin dengan baik. Hubungan yang demikian oleh masyarakat Melayu-Jambi digambarkan sebagai “Alim sekitab cerdik secendikio, batino semalu jantan basopan”. Nilai yang terkandung dalam seloka ini, dengan demikian, adalah nilai kebersamaan. Dalam hal ini adalah kebersamaan sebagai anggota dalam suatu masyarakat.


Anak bebapak

Sistem kepemimpinan dalam suatu masyarakat ada yang berdasarkan demokrasi dan ada pula genealogis (faktor keturunan yang berdasarkan darah). Dalam masyarakat Jambi jika ada orang tuanya menjadi pemimpin, kemudian anak yang menggantikannya, maka hal itu disebut sebagai anak bebapak. Sehubungan dengan itu, nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah nilai keturunan.


Anak bujang sulung menggerah, tapeso sekali belum

Budaya Melayu, termasuk Melayu-Jambi, banyak dicoraki oleh ajaran-ajaran agama Islam. Demikian kentalnya Islam mewarnai budaya Melayu sehingga Melayu sering diidentikkan dengan Islam. Itu tercermin dari ungkapan yang berbunyi “Orang Melayu adalah orang yang beragama Islam, berbahasa Melayu, dan beradat-istiadat Melayu”. Ungkapan “Anak bujang sulung menggerah, tapeso sekali belum” juga ada kaitannya dengan pengaruh Islam karena ungkapan tersebut berarti akil baligh, yaitu suatu masa dimana seorang anak, baik laki-laki maupun perempuan, sudah diwajibkan untuk melaksanakan ajaran-ajaran agama Islam. Meskipun demikian, bukan berarti yang bersangkutan telah menjadi dewasa. Nilai yang terkandung dalam ungkapan itu, dengan demikian, adalah kewajiban. Dalam hal ini adalah kewajiban untuk menjalankan ajaran-ajaran agama Islam.


Anak idak lagi sekato bapaknyo, penakan idak lagi sekato pemamaknyo

Dalam keluarga Melayu, termasuk Melayu-Jambi, ketika anak masih kecil (belum dewasa atau menikah) adalah menjadi tanggungjawab orang tuanya dan atau kerabatnya. Akan tetapi, ketika ia telah dewasa dan atau menikah, tidak lagi menjadi tanggungjawab orang dan atau kerabatnya. Dan, jika itu terjadi, maka keadaan seperti itu diungkapan sebagai “Anak idak lagi sekato bapaknyo, penakan idak lagi sekato pemamaknyo” Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini, dengan demikian, adalah kemandirian.


Angin betiup melambai dan hujan turun membasahi rintik

Segala sesuatu bisa saja terjadi secara rekayasa maupun alam. Jika suatu peristiwa bakal terjadi secara alami (pasti), maka hal itu diungkapkan sebagai “Angin betiup melambai dan hujan turun membasahi rintik”. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini, dengan demikian, adalah kepastian.


Arang abis besi binasa

Suatu kegiatan atau pekerjaan pada dasarnya dapat dibedakan atau dikategorikan menjadi dua, yaitu bermanfaat dan tidak bermanfaat. Seseorang yang melakukan pekerjaan yang tidak bermanfaat diungkapkan sebagai “Arang abis besi binasa”. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini, dengan demikian, adalah kesia-siaan.


Ayam berinduk anak banyak, serai berumpun banyak batang

Fungsi sebuah keluarga, tidak hanya pendidikan, melindungi anggota keluarga yang sudah jompo, dan ekonomi semata, tetapi juga reproduksi (mengembangkan keturunan). Untuk fungsi yang disebutkan terakhir ini berbagai cara dilakukan untuk mendapatkan keturunan. Dan, jika sebuah keluarga mempunyai banyak keturunan, maka keluarga tersebut diungkapkan sebagai “Ayam berinduk anak banyak, serai berumpun banyak batang”. Di masa kini keluarga besar tampaknya tidak sesuai lagi dengan zaman. Namun, di masa lalu, ketika tenaga kerja sangat langka dan dibutuhkan, maka keluarga besar menjadi penting. Berkenaan dengan itu, maka ungkapan ini (pada masa lalu) mengandung nilai ekonomi.


Ayam berinduk serai serumpun

Artinya: ada panutan.

Sebuah masyarakat, di mana pun, membutuhkan seseorang yang dapat mempersatukan anggotanya. Tanpa itu sebuah masyarakat menjadi bercerai-berai, sehingga kehidupan bersama yang sejahtera tidak mereka peroleh. Jika dalam sebuah masyarakat ada seseorang yang dapat menjadi panutan, maka hal itu diungkapkan sebagai “Ayam berinduk serai serumpun”. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini, dengan demikian, adalah ketauladan.


Ayam hitam terbang malam, hinggap dirumpun pandan, ngokok bunyinyo

Masyarakat di mana pun berada, termasuk masyarakat etnik Melayu-Jambi, pasti akan menumbuhkembangkan hukum sebagai sarana untuk menertibkan anggotanya. Seseorang yang diduga melakukan pelanggaran bukan berarti bersalah. Karena itu, untuk menentukan bersalah atau tidaknya seseorang akan ditentukan di pengadilan. Jadi, sebelum pengadilan menentukan bersalah, maka yang bersangkutan belum dapat dikatakan bersalah. Keadaan seperti ini sering disebut sebagai asas praduga tidak bersalah. Masyarakat etnik Melayu-Jambi mengungkapkan hal itu sebagai “Ayam hitam terbang malam, hinggap dirumpun pandan, ngokok bunyinyo”. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini, dengan demikian, adalah kearifan.


Bajalan sampai kebateh, belajar sampai kepulau

Setiap orang mempunyai cita-cita. Ada yang sederhana dan ada pula yang setinggi langit. Jika apa yang dicita-citakan oleh seseorang tercapai, maka ketercapaian cita-cita itu diungkapkan sebagai “Bajalan sampai kebateh, belajar sampai kepulau”. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini, dengan demikian, adalah keberhasilan.


Bak dalam dengan ketitir, angguk seangguk segayo tidak

Perbedaan pendapat adalah hal yang wajar dalam bermasyarakat. Jika dalam suatu perbincangan terdapat orang berbeda pendapat, maka orang yang bersangkutan disebut sebagai “bak dalam dengan ketitir, angguk seangguk segayo tidak”. Nilai yang terkandung dalam ungkapan, dengan demikian, adalah keberagaman.


Bak kerakap tumbuh dibatu, hidup segan matipun tak mau

Setiap orang menginginkan hidup yang sejahtera. Namun demikian, ada kalanya kehidupan yang diinginkan itu jauh dari kenyataannya, walaupun berbagai usaha telah dilakukannya. Jika hal seperti itu menimpa seseorang, maka orang yang bersangkutan dinungkapkan bak kerakap tumbuh dibatu, hidup segan matipun tak mau. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah kepasrahan.


Bakilek ikan dalam aek tentu jantan betino

Manusia adalah makluk sosial. Artinya, seseorang tidak dapat hidup tanpa bantuan orang lain. Oleh karena itu, manusia harus tolong-menolong. Tolong-menolong yang saling menguntungkan oleh masyarakat Melayu-Jambi diungkapkan sebagai bakilek ikan dalam aek tentu jantan betino. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah tolong-menolong.


Bak napuh, diujung tanduk, ilang sikok beganti sikok

Suatu komunitas atau masyarakat dapat diibaratkan sebagai perahu yang memerlukan seorang nahkoda yang dapat mengantar ke suatu tujuan yang diinginkan. Dengan perkataan lain, sebuah masyarakat memerlukan seorang pimpinan yang dapat menyejahterakannya. Jika seorang pemimpin memang sudah harus diganti, maka penggantinya juga seorang (bukan lebih dari satu orang). Pergantian pemimpin seperti itu oleh masyarakat Jambi disebut bak napuh, diujung tanduk, ilang sikok beganti sikok. Nilai yang terkandung dalam ungkpan ini adalah kesinambungan.


Bak tali bepintal tigo, bak emas dengan suaso

Sesuatu yang sudah menjadi pasangannya oleh masyarakat Melayu-Jambi diungkapkan bak tali bepintal tigo, bak emas dengan suaso. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah keserasian.


Bakaul tempat nan keramat, batanyo pada tempat nan tau

Kehidupan manusia tidak lepas dari permasalahan dan ketidaktahuan. Jika seseorang mempunyai masalah dan atau ketidaktahuan, kemudian orang tersebut menanyakan kepada orang yang dapat memecahkannya atau mengetahuinya, maka hal itu oleh masyarakat Melayu-Jambi disebut sebagai bakaul tempat nan keramat, batanyo pada tempat nan tau. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah ketepatan.


Batanyo lepas tidak batanyo lepas arak

Dalam kehidupan seringkali ada seseorang yang enggan bertanya. Padahal, orang tesebut dalam kenyataannya tidak tahu. Orang yang demikian dalam masyarakat Melayu-Jambi disebut sebagai batanyo lepas tidak batanyo lepas arak. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini, dengan demikian, adalah kesombongan.


Betanyo lepas litak, berunding lepas makan

Setiap masyarakat mengenal pembagian waktu untuk kegiatan-kegiatan yang mereka lakukan setiap harinya. Berkenaan dengan itu, jika ada seseorang ingin menanyakan dan atau merundingkan sesuatu maka sepatutnya dilakukan pada saat kegiatan sudah berlangsung. Masyarakat Melayu-Jambi mengungkapkan hal itu sebagai betanyo lepas litak, berunding lepas makan. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah ketepatan.


Basusuk basengkan, barumah batanggo, bajamban batepian, pergi pagi balek malam, sayang dek bini ditinggal-tinggal, sayang dek anak dilepas-lepaskan

Kehidupan di alam dunia adalah fana. Bahkan, hanya sebentar. Masyarakat Jawa mengungkapkannya sebagai mampir ngombe. Oleh karena itu, mesti mempunyai program yang terencana. Dan, jika seseorang telah mempunyai hal itu, maka oleh masyarakat Melayu-Jambi diungkapkan sebagai basusuk basengkan, barumah batanggo, bajamban batepian, pergi pagi balek malam, sayang dek bini ditinggal-tinggal, sayang dek anak dilepas-lepaskan. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah perencanaan.


Batas kepalo dijunjung, batas bahu dipikul

Setiap orang mempunyai tanggung jawab sesuai dengan kemampuan dan kedudukannya. Tanggung jawab yang demikian oleh masyarakat Melayu-Jambi disebut sebagai batas kepalo dijunjung, batas bahu dipikul. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah tanggung jawab.


Belum enggang lalu belum ranting patah, belum gajah lalu belum rumput lindo

Ada dua pendapat yang berkenaan dengan sifat manusia, yaitu manusia pada dasarnya adalah jahat (menurut kriminologi) dan manusia pada dasarnya adalah baik (agama). Lepas dari kedua pendapat itu, yang jelas bahwa di dalam hidup ini banyak dijumpai orang-orang yang jahat. Meskipun demikian, bukan berarti bahwa orang-orang tersebut tidak mempunyai peluang untuk merubah perangainya menjadi baik. Pada masyarakat Melayu-Jambi hal itu diungkapkan sebagai belum enggang lalu belum ranting patah, belum gajah lalu belum rumput lindo. Nilai yang terkandung dalam ungkapan itu adalah kesempatan dan atau peluang.


Berani kareno benar, takut kareno salah

Dalam kehidupan seringkali dijumpai orang yang tidak mempunyai keberanian untuk menyampaikan sesuatu. Sementara itu, ada juga yang berani menyampaikannya karena apa yang akan disampaikan itu adalah benar. Keberanian yang didasarkan atas kebenaran itu oleh masyarakat Melayu-Jambi diungkapkan sebagai berani kareno benar, takut kareno salah. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah kebenaran.


Berneh setangkai masak setandan

Sistem adalah suatu kesatuan yang terdiri atas berbagai unsur. Suatu komunitas atau masyarakat dapat dilihat sebagai suatu sistem yang terdiri atas berbagai komponen. Sebagai suatu kesatuan tentunya dalam berbagai kegiatan, terutama yang menyangkut kepentingan masyarakat itu sendiri, tidak semuanya menyampaikannya secara bersamaan, tetapi melalui seseorang yang disepakati untuk mewakilinya. Hal yang demikian oleh masyarakat Melayu-Jambi diungkapkan sebagai berneh setangkai masak setandan. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini, dengan demikian, adalah perwakilan.


Bersengelak segan keno, tegaman segan jatuh

“Berani berbuat harus berani bertanggung jawab”, demikian ungkapan yang seringkali kita dengar. Jadi, siapapun yang melakukannya, maka yang bersangkutan mesti berani bertanggung jawab. Pada masyarakat Melayu-Jambi, jika seseorang melakukan suatu perbuatan tetapi tidak mau bertanggung jawab, maka orang tersebut dianggap sebagai licik. Dan, ungkapan yang berkenaan dengan itu adalah bersengelak segan keno, tegaman segan jatuh. Nilai yang terkandung dalam ungkapan itu adalah kelicikan.


Beternak bakandang malam, bahumo bakandang siang, babuling bakawain, batali batijak-tijakan, baketuk bakalo-kalo

Kedudukan dan peranan seseorang dalam suatu masyarakat tidak lepas dari hak dan kewajiban. Misalnya, sebagai orang tua, ia mempunyai kewajiban untuk menyiapkan anak-anaknya agar dikemudian hari dapat bermasyarakat dengan baik. Berkenaan dengan matapencaharian yang dipilihnya, ia juga mempunyai kewajiban agar yang dipilihnya itu dapat menghasilkan sesuai yang diinginkan. Dengan perkataan lain, apapun yang dilakukan ada resikonya. Pada masyarakat Melayu-Jambi resiko yang notabene adalah suatu kewajiban diungkapkan sebagai beternak bakandang malam, bahumo bakandang siang, babuling bakawain, batali batijak-tijakan, baketuk bakalo-kalo. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah kewajiban.


Betirai api, babantal tumang, bakalambu asap, bakain basah, babadan litak, babaju peluh, mulai dari depan sampai kedapur balai batanak

Kedudukan seseorang dalam suatu kegiatan tidak lepas dari hak dan kewajiban. Dengan perkataan lain, orang tersebut mempunyai kewajiban melaksanakan tugas yang diembannya. Sebagaimana kita tahu bahwa setiap kegiatan ada pembagian tugas. Dan, yang ditugasi pekerjaan tertentu semestinya ia bertanggung jawab atas terlaksananya tugas tersebut dengan baik. Berkenaan dengan hal yang demikian, masyarakat Melayu-Jambi mengungkapkannya sebagai betirai api, babantal tumang, bakalambu asap, bakain basah, babadan litak, babaju peluh, mulai dari depan sampai kedapur balai batanak. Nilai yang terkandung dalam ungkapan itu, dengan demikian, adalah tanggung jawab.


Berani kareno benar, takut kareno salah

“Berani berbuat harus berani bertanggung jawab”, demikian ungkapan yang seringkali kita dengar. Jadi, siapapun yang melakukannya, maka yang bersangkutan mesti berani bertanggung jawab. Pada masyarakat Melayu-Jambi, jika seseorang melakukan keberanian karena benar, maka hal itu diungkapkan sebagai berani kareno benar, takut kareno salah. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah kebenaran.


Bekato peliharo lidah

“Mulutmu adalah harimaumu”, demikian ungkapan yang tidak asing lagi bagi kita. Artinya, bicara jangan sembarangan karena sesuatu yang tidak diinginkan dapat menimpa dirinya. Ungkapan lain yang senada adalah “Menebur angin, menuai badai”. Hal yang senada, oleh masyarakat Melayu-Jambi disebut sebagai bekato peliharo lidah. Nilai yang terkandung di dalamnya adalah kehati-hatian.


Bersambung orang nak panjang

Manusia di dalam kehidupannya, terutama dalam memenuhi kebutuhannya, tidak mungkin dilakukan sendiri, tanpa membutuhkan atau kerjasama dengan orang lain. Oleh karena itu, disamping disebut sebagai makluk yang berbudaya, sekaligus sebagai makluk sosial. Berhubungan dengan orang lain yang saling menguntungkan oleh masyarakat Melayu-Jambi diungkapkan sebagai bersambung orang nak panjang. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini, dengan demikian, adalah kerjasama.


Bersambung panjang pendek

Keluarga adalah sebuah komunitas kecil yang mempunyai banyak fungsi, antara lain: ekonomi, pendidikan, pengembangan keturunan. Berkenaan dengan fungsi yang disebutkan terakhir ini, seorang – melalui perkawinan yang disyahkan menurut adatnya – akan selalu berusaha untuk memperoleh keturunan. Dalam hal ini, ada yang mempunyai banyak keturunan atau sebaliknya (sedikit). Malahan, ada juga yang tidak punya keturunan. Sebuah keluarga itu sendiri seringkali banyak dijumpai terdiri atas keluarga senior dan keluarga yunior (keluarga luas), disamping banyak juga terdiri atas keluarga inti semata. Dengan demikian, ada keluarga yang anggotanya banyak dan keluarga yang anggotanya sedikit. Jika dalam sebuah keluarga terdiri atas keluarga yang senior dan yunior (keluarga luas), maka hal itu, oleh masyarakat Melayu-Jambi, diungkapkan sebagai bersambung panjang pendek. Nilai yang terkandung dalam ungkapan tersebut adalah kebersamaan.


Bekampuh lebar cabik

Fungsi sebuah keluarga adalah sebagai kesatuan ekonomi, sosialisasi, pendidikan, pengembangan keturunan, dan memelihara atau merawat anggota keluarga yang sudah jompo. Jika fungsi-fungsi tersebut telah dilaksanakan atau berjalan dengan baik, maka keluarga yang bersangkutan dapat disebut sebagai keluarga yang baik. Sebaliknya, jika tidak berjalan sebagaimana mestinya, maka keluarga itu disebut sebagai keluarga yang rusak. Keluarga yang demikian digambarkan atau diungkapkan sebagai bekampuh lebar cabik. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini, dengan demikian, adalah ketidakberaturan.


Beuleh panjang putus

Sebuah keluarga idealnya adalah terdiri atas suami, isteri, dan anak-anaknya. Keluarga seperti itu dalam literatur antropologi disebut sebagai keluarga inti. Namun demikian, dalam kenyataannya sebuah keluarga ada juga hanya terdiri atas suami dan isteri semata, atau hanya ada ayah dan anak-anaknya, atau hanya ada ibu dan anak-anaknya. Keluarga yang demikian, dalam masyarakat Melayu-Jambi diungkapkan sebagai beuleh panjang putus. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah ketidakutuhan.


Besamo beternak beladang, bekebun beperlak

Keluarga adalah sebuah komunitas kecil yang mempunyai banyak fungsi. Salah satu dianataranya adalah ekonomi. Sebagai kesatuan ekonomi semestinya satu dengan lainnya saling bahu-membahu dalam menjalani berbagai kehidupannya, termasuk kehidupan yang berkenaan dengan ekonomi itu sendiri. Kehidupan keluarga yang demikian oleh masyarakat Melayu-Jambi diungkapkan sebagai besamo beternak beladang, bekebun beperlak. Nilai yang terkandung dalam ungkapan adalah kebersamaan.


Besamo beternak melepas pagi, mengurung petang

Keluarga adalah sebuah komunitas kecil yang mempunyai banyak fungsi. Salah satu dianataranya adalah ekonomi. Sebagai kesatuan ekonomi semestinya satu dengan lainnya saling bahu-membahu dalam menjalani berbagai kehidupannya. Susah dan senang mesti dijalani bersama. Kehidupan keluarga yang demikian oleh masyarakat Melayu-Jambi diungkapkan sebagai besamo beternak melepas pagi, mengurung petang. Nilai yang terkandung dalam ungkapan adalah kebersamaan.


Besamo berjual beli, bedagang beniago

Keluarga adalah sebuah komunitas kecil yang mempunyai banyak fungsi. Salah satu dianataranya adalah ekonomi. Sebagai kesatuan ekonomi semestinya satu dengan lainnya saling bahu-membahu dalam menjalani berbagai kehidupannya. Susah dan senang mesti dijalani bersama. Kehidupan keluarga yang demikian oleh masyarakat Melayu-Jambi diungkapkan sebagai besamo berjual beli, bedagang beniago. Nilai yang terkandung dalam ungkapan adalah kebersamaan.


Beruji samo merah, batimang samo berat

Dalam segala aspek kehidupan keadilan sangat penting karena perilaku yang adil dqan bijaksana kehidupan suatu masyarakat tidak berjalan sebagaimana mestinya. Bahkan, dapat saja menimbulkan ketidakpuasan yang pada gilirannya membuahkan kekacauan (chaos). Suatu perilaku atau kebijakan yang mengarah ke keadilan oleh masyarakat Melayu-Jambi diungkapkan sebagai beruji samo merah, batimang samo berat. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah keadilan.


Bekampuh lebar, beuleh panjang

Sebuah keluarga ada yang anggotanya hanya terdiri atas dua sampai 4 orang saja. Namun, ada juga sebuah keluarga yang anggotanya lebih dari itu. Keluarga yang demikian, oleh masyarakat Melayu-Jambi disebut sebagai keluarga besar. Dan, ungkapan yang berkenaan dengan itu adalah bekampuh lebar, beuleh panjang. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah kebersamaan.


Bekampuh lebar cabik, bauleh

Jika dalam sebuah keluarga ada anggotanya yang berbuat tidak semestinya, bahkan dapat mencoreng keluarga yang bersangkutan, maka masyarakat Melayu-Jambi mengungkapkannya sebagai bekampuh lebar cabik, bauleh. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah kesatuan.


Bini nan belaki

Jika suatu masyarakat yang berhak menjadi pimpinan adalah lelaki, maka masyarakat Melayu-Jambi mengungkapkannya sebagai bini nan belaki. Nilai yang terkadung dalam ungkapan ini gender.


Bini berajo kepado laki

Jika dalam sebuah keluarga yang sangat menentukan adalah lelaki (suami), maka masyarakat Melayu-Jambi mengungkapkan hal itu sebagai bini berajo kepado laki. Nilai yang terkandung dalam ungkapan tersebut adalah gender.


Biduk sebiduk selantai samo, angguk-seangguk bunyipun samo, segendang sekemeno,sebiduk sepeculang

Keseiramaan dan bersikap dan bertingkah laku oleh masyarakat Melayu-Jambi diungkapkan sebagai Biduk sebiduk selantai samo, angguk-seangguk bunyipun samo, segendang sekemeno,sebiduk sepeculang. Nilai yang terkandung dalam ungkapan tersebut adalah kesatuan.


Bujuk rayu, ugut ugat, tipu tepo, samun sakal

Dalam kehidupan sehari-hari bukan hal yang mustahil seseorang akan bertemu dengan orang yang suka menipu. Lalu, jika terjadi penipuan, maka orang yang tertipu digambarkan atau diungkapkan sebagai bujuk rayu, ugut ugat, tipu tepo, samun sakal. Pesan yang terkandung dalam ungkapan ini adalah kewaspadaan. Oleh karena itu, nilai yang terkandung di dalamnya adalah kewaspadaan.


Bulat aek dek pembuluh, bulat kato dek mufakat

Dalam suatu pertemuan atau musyawarah bisa saja terjadi perbedaan pendapat atau sependapat. Jika dalam musyawarah tersebut terjadi kesepatakan untuk mufakat, maka oleh masyarakat Melayu-Jambi diungkapkan sebagai bulat aek dek pembuluh, bulat kato dek mufakat. Nilai yang terkandung dalam ungkapan tersebut adalah kemufakatan.


Bukit lengeh pematang kering, capo sebatang idak tumbuh, tumbuh sebatang lah layu pulo

Orang seringkali telah berusaha segala sesuatu untuk hidup sejahtera. Namun demikian, apa yang diinginkan itu tak kunjung datang. Orang yang demikian, oleh masyarakat Melayu-Jambi, diungkapkan sebagai bukit lengeh pematang kering, capo sebatang idak tumbuh, tumbuh sebatang lah layu pulo. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah kepasrahan karena segala sesuatu ada yang menentukan, yaitu Allah. Jadi, manusia merencanakan tetapi Tuhan yang menentukan.


Buah hati pengarang jantung, nyawo di luar badan

Seseorang dengan berbagai cara berusaha untuk memperoleh keturunan (anak). Jika anak yang dimilikinya adalah merupakan darah dagingnya (keturunannya), maka hal itu, oleh masyarakat Melayu-Jambi diungkapkan sebagai buah hati pengarang jantung, nyawo di luar badan. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah keturunan.


Bungo disunting, batang ditijak

Orang yang tidak bertanggung jawab, oleh masyarakat Melayu-Jambi, diungkapkan sebagai bungo disunting, batang ditijak. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah ketidak-bertanggung-jawaban.


Cahayo balik kemuko, seri pulang kebadan, darahlah balek dado

Orang yang menghadapi segala sesuatu dengan ketenangan, oleh masyarakat Melayu-Jambi, diungkapkan sebagai cahayo balik kemuko, seri pulang kebadan, darahlah balek dado. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini, dengan demikian, adalah ketenangan.


Cakap pagi idak sampai petang, cakap petang idak sampai malam

Orang yang mudah berubah pikiran, oleh masyarakat Melayu-Jambi, diungkapkan sebagai cakap pagi idak sampai petang, cakap petang idak sampai malam. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah ketidakkonsistenan.


Cepatkan kaki ringankan tangan

Sifat seseorang ada yang pemalas tetapi ada juga yang rajin. Orang yang disebutkan terakhir ini, oleh masyarakat Melayu-Jambi, diungkapkan sebagai cepatkan kaki ringankan tangan. Nilai yang terdapat dalam ungkapan ini adalah kerjakeras.


Cermin gedang nan idak kabur

Peraturan seringkali berubah-ubah sehingga membuat orang menjadi bingung. Untuk itu, diperlukan suatu aturan yang kemudian menjadi pedoman yang tetap. Pedoman yang tetap ini, oleh masyarakat Melayu-Jambi, diungkapan sebagai cermin gedang nan idak kabur. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini, dengan demikian, adalah ketetapan.


Datar bak lantai kulit, licin bak dinding bemban

Memperlakukan seseorang sama dengan orang lain (tanpa pilih kasih) adalah sifat yang terpuji. Dan, apabila hal ini dilakukan oleh seseorang, khususnya pemimpin, maka oleh masyarakat Melayu-Jambi disebut sebagai datar bak lantai kulit, licin bak dinding bemban. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah keadilan.


Dapat samo balabo, ilang samo barugi, tampai samo kering, terendam samo basah

Suatu keluarga adalah kesatuan sosial yang terkecil yang mempunyai banyak fungsi. Sebagai suatu kesatuan semestinya antaranggotanya memiliki perasaan senasib dan sepenanggungan. Antaranggota saling membagi rasa, baik suka maupun duka. Hal seperti ini oleh masyarakat Melayu-Jambi diungkapkan sebagai dapat samo balabo, ilang samo barugi, tampai samo kering, terendam samo basah. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah kebersamaan.


Dak lapuk dek hujan, dak lekang dek paneh

Ungkapan ini adalah untuk menggambar sesuatu yang tidak dirubah. Nilai yang terkandung dalam ungkapan adalah keteguhan.


Dikain dibaju, diparumah dipalaman

Seorang suami mempunyai kewajiban tertentu (berdasarkan adat setempat) terhadap isterinya. Kewajiban seorang suami terhadap isterinya itu oleh masyarakat Melayu-Jambi diungkapkan sebagai dikain dibaju, diparumah dipalaman. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah kewajiban.


Dimano bumi dipijak disitu langit dijunjung, dimano temilang dicacak disitu tanaman tumbuh

Seseorang yang merantau ke “negeri orang” mesti menyesuaikan adat-istiadat yang ditumbuhkembangkan oleh masyarakat di “negeri orang” tersebut. Sikap dan perilaku yang demikian, oleh masyarakat Melayu-Jambi, diungkapkan sebagai dimano bumi dipijak disitu langit dijunjung, dimano temilang dicacak disitu tanaman tumbuh. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini, dengan demikian, adalah penyesuaian diri.


Dimano ranting dipatah, disitu aek disauk

Seseorang yang merantau ke “negeri orang” mesti menyesuaikan adat-istiadat yang ditumbuhkembangkan oleh masyarakat di “negeri orang” tersebut. Sikap dan perilaku yang demikian, oleh masyarakat Melayu-Jambi, dapat juga dingkapkan sebagai dimano ranting dipatah, disitu aek disauk. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah sama, yaitu penyesuaian diri.


Dimano penuk pecah disitu tembikar tinggal

Seseorang yang merantau ke “negeri orang” mesti menyesuaikan adat-istiadat yang ditumbuhkembangkan oleh masyarakat di “negeri orang” tersebut. Sikap dan perilaku yang demikian, oleh masyarakat Melayu-Jambi, dapat juga dingkapkan sebagai dimano penuk pecah disitu tembikar tinggal. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah sama, yaitu penyesuaian diri.


Dibuat pasak idak baik, dibuat pakan idak elok

Sesuatu yang tidak berguna, oleh masyarakat Melayu-Jambi, diungkapkan sebagai dibuat pasak idak baik, dibuat pakan idak elok. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah ketidakbergunaan.


Diagak baru diageh

Seseorang yang dalam kehidupannya selalu berfikir positif (selalu memandang orang lain baik), oleh masyarakat Melayu-Jambi, diungkapkan sebagai diagak baru diageh. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah kepositifan (prasangka baik).


Dianyak layu, dianggung mati

Sesuatu yang bersifat dilematis, oleh masyarakat Melayu-Jambi, disebut sebagai dianyak layu, dianggung mati. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah kedilematisan.


Diasak baso, diubah pakuoh

Komunikasi yang menggunakan acuan yang berbeda dapat menimbulkan kesalahahpahaman. Dengan perkataan lain, pesan komunikator tidak diterima dengan baik (tidak sampai) pada komunikan. Untuk itu, diperlukan adanya suatu penjelasan atau penerjemah. Jika ini terjadi, maka masyarakat Melayu-Jambi, menyebutnya sebagai diasak baso, diubah pakuoh. Nilai yang terkandung dalam ungkapan itu adalah kelancaran.


Dibiayo dibelanjo

Seorang suami mempunyai tanggung jawab dalam kelancaran ekonomi keluarganya. Tanggung jawab yang demikian, oleh masyarakat Melayu-Jambi, diungkapkan sebagai dibiayo dibelanjo. Dengan demikian, nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah kebertanggungjawaban.


Dipaumo dipedalaman

Seorang suami mempunyai tanggung jawab dalam kelancaran ekonomi keluarganya. Tanggung jawab yang demikian, oleh masyarakat Melayu-Jambi, dapat diungkapkan pula sebagai dipaumo dipedalaman. Dengan demikian, nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah kebertanggungjawaban.


Diperumah dipetanggo

Tanggung jawab sebagai orang tua tidak hanya mendidik anak-anaknya dalam arti luas, tetapi juga membuatkan rumah (setelah anak itu berumah tangga). Tanggung jawab yang demikian, oleh masyarakat Melayu-Jambi, disebut sebagai diperumah dipetanggo. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah kebertanggungjawaban.


Dilarik dijajo

Apa yang menjadi milik, baik seseorang maupun kelompok, mestinya harus diperlakukan sebagaimana mestinya (dijaga dan ditertibkan). Hal yang demikian, oleh masyarakat Melayu-Jambi, diungkapkan sebagai dilarik dijajo. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah ketertiban.


Ditegur disapo

Jika seseorang sangat memperdulikan orang lain, oleh masyarakat Melayu-Jambi, diungkapkan sebagai ditegur disapo. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah kepedulian.


Ditunjuk diajar

Jika seseorang melakukan tunjuk-ajar kepada orang lain, baik itu terhadap anaknya, kerabatnya, maupun orang-orang di luar kerabatnya, oleh masyarakat Melayu-Jambi, diungkapkan sebagai ditunjuk diajar. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah kepedulian.


Dilepas pagi dikurung petang

Jika seseorang memperlakukan atau mendidik orang lain, terutama anak-anaknya, dengan sistem tarik-ulur, maka oleh masyarakat Melayu-Jambi disebut sebagai dilepas pagi dikurung petang. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah keselarasan.


Ditampal disulam

Di dalam sebuah keluarga, isteri mempunyai kewajiban mengatur kehidupan ekonomi keluarganya. Oleh masyarakat Melayu-Jambi, hal yang demikian diungkapkan sebagai ditampal disulam. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah kreativitas.


Di nanti tabuh lah tibo, dihitung bulan lah cukup, dibilang hari lah genap

Kegiatan apa saja mestinya dilakukan secara terarah dan terencana. Jika seseorang telah merencanakan suatu kegiatan, kemudian kegiatan itu sudah saatnya dilakukan, maka oleh masyarakat Melayu-Jambi, diungkapkan sebagai di nanti tabuh lah tibo, dihitung bulan lah cukup, dibilang hari lah genap. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah perencanaan.


Duduk berimpit rumput, tegak besinggung bahu

Memperlakukan orang lain sebagaimana mestinya. Dalam hal ini adalah tanpa memandang rendah atau tinggi, tetapi sederajat, maka hal tersebut, oleh masyarakat Melayu-Jambi, disebut sebagai duduk berimpit rumput, tegak besinggung bahu. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah kesetaraan.


Empat batu lah dikalek, empang batang lah di kabung, empang unak lah direteh

Semua manusia tidak lepas dari masalah. Dengan perkataan lain, suatu usaha tentu akan diiringi oleh berbagai rintangan. Jika seseorang telah dapat mengatasi suatu rintangan dalam usaha mencapai apa yang dicita-citakan, maka oleh masyarakat Melayu-Jambi diungkapan sebagai empat batu lah dikalek, empang batang lah di kabung, empang unak lah direteh. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah kerja keras.


Rajo adil rajo disembah, rajo zalim rajo disanggah

Seorang raja diharapkan dapat mensejahterakan rakyatnya. Untuk itu, seorang raja mestilah adil dan bijaksana. Sebab jika justeru sebaliknya, yaitu semena-semena terhadap rakyatnya (zalim), maka akan dibenci oleh rakyatnya. Ungkapan yang berkenaan dengan hal itu adalah rajo adil rajo disembah, rajo zalim rajo disanggah. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah keadilan.


Gading tessurung kerumah rajo

Jika sesuatu karena sifatnya rahasia atau harus dirahasiakan, maka sesuatu itu, oleh masyarakat Melayu-Jambi, diungkapkan sebagai gading tessurung kerumah rajo. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini, dengan demikian, adalah kerahasiaan.


Gayung besambut

Sesuatu yang menjadi pasangannya atau jodohnya, terutama yang menyangkut sikap dan perilaku, maka hal itu oleh masyarakat Melayu-Jambi disebut sebagai gayung besambut. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah kecocokan.


Gedang kawan dilando, kecik kawan dilindan

Seseorang merasa dirinya lebih dari yang lain, sehingga tidak memerlukan orang atau meremehkan orang lain, oleh masyarakat Melayu-Jambi diungkapkan sebagai gedang kawan dilando, kecik kawan dilindan. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah kesombongan.


Hati kuman samo dicecah, hati gajah samo dilapah

Dalam kehidupan suatu masyarakat, kebersamaan menjadi sesuatu yang mesti dijaga. Kebersamaan suatu masyarakat dalam berbagai aspek yang tujuannya adalah mensejahterakan masyarakat yang bersangukutan, oleh masyarakat Melayu-Jambi, diungkapan sebagai hati kuman samo dicecah, hati gajah samo dilapah. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah kebersamaan.


Hati nan bakutuk, mato nan basetan

Seseorang pasti mempunyai kehendak atau keinginan yang menjadi tujuannya. Apa yang menjadi tujuan itu, oleh masyarakat Melayu-Jambi, diungkapkan sebagai hati nan bakutuk, mato nan basetan. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah perencanaan.


Hari elok ketiko nan baik

Segala sesuatu mesti diperhitungkan secara masak-masak, sehingga kapan saat-saat memulai suatu kegiatan dapat dilakukan secara tepat. Hal yang demikian, oleh masyarakat Melayu-Jambi, diungkapkan sebagai hari elok ketiko nan baik. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah ketepatan.


Harto depatan tinggal, harta pembawaan kembali

Dalam suatu perkawinan ada yang disebut sebagai barang bawaan dari masing-masing pihak dan barang milik bersama, yaitu barang yang diperoleh ketika kedua mempelai resmi menjadi suami-isteri. Jika karena satu dan lain hal suami-isteri itu harus berpisah (bercerai), maka ada jenis barang dibagi dan ada pula yang kembali kepada pimiliknya. Dalam hal ini adalah barang bawaan. Untuk mengungkapkan barang demikian, masyarakat Melayu-Jambi , mengungkapkannya sebagai harto depatan tinggal, harta pembawaan kembali. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah keadilan.


Hidup dalam sikso, gedang dalam penyakit

Kehidupan yang penuh dengan penderitaan, oleh masyarakat Melayu-Jambi, diungkapan sebagai hidup dalam sikso, gedang dalam penyakit. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini kenasiban. Dalam hal ini adalah nasib yang malang.


Ibarat buah banyak raso, ibarat bungo banyak mambu

Jika seseorang mengharapkan sesuatu, kemudian apa yang diharapkan itu menjadi kenyataan (sesuai yang diinginkan), maka masyarakat Melayu-Jambi mengungkapkannya sebagai ibarat buah banyak raso, ibarat bungo banyak mambu. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini, dengan demikian, adalah keberhasilan.


Ikuk sinteng kepak menganggeh

Harta dalam kehidupan seseorang menjadi sesuatu yang mesti dicari. Namun demikian, walau sudah berusaha sekuat tenaga, adakalanya harta itu tak kunjung datang. Keadaan seseorang yang demikian, oleh masyarakat Melayu-Jambi, diungkapan sebagai ikuk sinteng kepak menganggeh. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah penerimaan apa adanya.


Ilang rupo dek penyakit, ilang bangso idak beremeh

Harta dalam kehidupan seseorang menjadi sesuatu yang mesti dicari. Namun demikian, walau sudah berusaha sekuat tenaga, adakalanya harta itu tak kunjung datang. Keadaan seseorang yang demikian, oleh masyarakat Melayu-Jambi, disampingkan diungkapkan sebagai ikuk sinteng kepak menganggeh tetapi dapat juga melalui ungkapan yang lain, yaitu ilang rupo dek penyakit, ilang bangso idak beremeh. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah penerimaan apa adanya.


Ilir bekecimpung kaki, mudik bekecimpung tangan

Jika seseorang dalam bersikap dan bertingkah laku tidak ada tekanan dari pihak luar, maka dalam masyarakat Melayu-Jambi diungkapkan sebagai ilir bekecimpung kaki, mudik bekecimpung tangan. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah kebebasan.


Ilir sampai ke muaro, mudik sampai ke gunung

Suatu pekerjaan mestinya jangan dilakukan secara setengah-setengah, tetapi harus diselesaikan. Sikap dan perilaku yang mengerjakan suatu kegiatan tidak tanggung-tanggung itu, oleh masyarakat Melayu-Jambi, diungkapkan sebagai ilir sampai ke muaro, mudik sampai ke gunung. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini, dengan demikian, adalah kesempurnaan.


Ilok arak dek seiring, ilok kato dek mufakat

Dalam suatu masyarakat sering terjadi permasalahan. Jika permasalahan itu dipecahkan secara bersama sehingga menghasilkan suatu kesepakatan, maka oleh masyarakat Melayu-Jambi disebut sebagai ilok arak dek seiring, ilok kato dek mufakat. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah kemufakatan.


Jangan berpikir sekali lalu, jangan berhemat sekali sudah

Segala sesuatu harus diperhitungkan secara masak-masak. Hal yang demikian, oleh masyarakat Melayu-Jambi, diungkapkan sebagai jangan berpikir sekali lalu, jangan berhemat sekali sudah. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah ketelitian.


Jangan becupak bengantang dewek

Dalam kehidupan sehari-hari, bukan hal mustahil, ada orang yang hanya mementingkan diri sendiri. Dengan perkataan lain, orang tersebut tidak memerdulikan kepentingan orang lain atau kepentingan bersama. Sikap dan perilaku yang demikian, pada masyarakat Melayu-Jambi, dianggap sebagai sikap dan perilaku yang tidak terpuji. Oleh karena itu, mesti dijauhi. Dan, salah satu cara untuk mencegahnya adalah dengan menampilkan ungkapan yanga berbunyi: “Jangan becupak bengantang dewek”. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini, dengan demikian, adalah kebersamaan.


Jangan makan mengacau-ngacau

Setiap masyarakat menghendaki kehidupan yang aman, tertib, dan damai. Dengan demikian, kehidupan yang sejahtera yang diidam-idamkan dapat menjadi kenyataan. Namun demikian, dalam kenyataannya ada saja anggota masyarakat atau sekelompok orang yang membuat masyarakat menjadi resah. Sikap dan perilaku yang demikian, juga tidak terpuji dalam masyarakat Melayu-Jambi. Dan, salah satu cara untuk membuat masyarakat aman, tertib, dan damai, adalah dengan melalui ungkapan yang berbunyi: “Jangan makan mengacau-ngacau”. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah keteraturan.


Jangan mandi mengeruh-ngeruh

Manusia memang ciptaan Tuhan yang paling tinggi derajatnya. Namun demikian, bukan berarti bahwa manusia tidak lepas dari kesalahan. Oleh karena itu, jika ada sesamanya yang melakukan kesalahan, kemudian yang bersangkutan minta maaf dan tidak mengulanginya lagi, maka tidak ada alasan untuk membecinya. Ini penting karena sebuah komunitas diperlukan kehidupan yang selaras, serasi, dan harmonis. Salah satu cara untuk mewujudkannya adalah jangan membuat kebencian. Dengan kata lain, jangan membuat masyarakat yang hidup tenteram, damai, dan sejahtera, menjadi chaos. Pada masyarakat Melayu-Jambi, seseorang yang membuat keresahan dengan jalan membuat kebencian terhadap orang lain atau kelompok lain sering disebut sebagai mandi mengeruh-ngeruh. Untuk itu, jika ada seseorang atau kelompok yang akan membuat keresahan, maka yang bersangkutan dicegah atau diingatkan melalui ungkapan yang berbunyi: “Jangan mandi mengeruh-ngeruh”. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah kedamaian.


Jangan mengubak gabing mengupeh bumbun

Manusia memang ciptaan Tuhan yang paling tinggi derajatnya. Namun demikian, bukan berarti bahwa manusia tidak lepas dari kesalahan. Oleh karena itu, jika ada sesamanya yang melakukan kesalahan, kemudian yang bersangkutan minta maaf dan tidak mengulanginya lagi, maka tidak ada alasan untuk membecinya. Ini penting karena sebuah komunitas diperlukan kehidupan yang selaras, serasi, dan harmonis. Salah satu cara untuk mewujudkannya adalah jangan membuat keonaran. Oleh karena itu, jika ada seseorang yang membuat keonaran, yang bersangkutan diingatkan dengan ungkapan yang berbunyi: “Jangan mengubak gabing mengupeh bumbun”. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini, dengan demikian, adalah ketertiban.


Jangan menyuruk budi merangkak akal

Kejujuran adalah sikap yang terpuji. Dan, orang yang jujur pasti akan disukai oleh sesamanya dan Sang Penciuptanya. Sebaliknya, orang yang tidak jujur tentunya akan tidak disukai, baik oleh sesamanya maupun Sang Penciptanya. Orang yang tidak jujur, oleh masyarakat Melayu-Jambi, sering disebut sebagai menyuruk budi merangkak akal. Oleh karena itu, jika ada seseorang yang tidak jujur, yang bersangkutan diingatkan melalui ungkapan yang berbunyi: “Jangan menyuruk budi merangkak akal”. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini, dengan demikian, adalah kebenaran.


Jangan liko di kebun bungo, melihat bungo sedang kembang

Setiap orang mempunyai berbagai peranan dalam kehidupannya. Dan, setiap peranan yang dimainkan diselimuti oleh hak dan kewajiban yang harus dilakukan dengan penuh tanggung jawab. Seorang suami misalnya, ia mempunyai kewajiban untuk menyejahterakan keluarganya (anggotanya). Contoh yang lain adalah seseorang yang diberi tanggung jawab tertentu. Namun demikian, ada kalanya seseorang lupa tentang apa yang menjadi kewajibannya. Dan, orang yang demikian sering disebut sebagai liko di kebun bungo, melihat bungo sedang kembang. Pada masyarakat Melayu-Jambi, orang yang demikian sering diingatkan dengan melalui yang berbunyi: “Jangan liko di kebun bungo, melihat bungo sedang kembang. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini, dengan demikian, adalah tanggungjawab.

Sumber:

Galba, Sindu. 2004. Ungkapan Tradisional Sukubangsa Melayu-Natuna di Propinsi Jambi. Kepulauan Riau: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Tanjungpinang.

Ungkapan Tradisional Masyarakat Melayu-Natuna (2)

Mali1 duduk melekang lawang
Nandek tulak lih andu

Mali duduk membelakangi pintu
Nanti ditolak oleh hantu

Pintu adalah jalan untuk keluar-masuk orang. Duduk membelakangi pintu, selain dapat terjatuh (jika ada yang membukanya dari dalam), yang tidak kalah pentingnya adalah menghalangi orang yang akan keluar-masuk. Oleh karena itu, duduk membelakangi pintu tidak diperbolehkan. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini keterbukaan.


Mali makan jeuh deghi duleng
Nandek landuk susu bini

Mali makan jauh dari dulang (talam)
Nanti panjang ke bawah susu bini

Makan jauh dari talam dapat menyebabkan nasi dan atau lauk-pauknya tercecer, sehingga terkesan berantakan. Makan dengan cara seperti dianggap tidak sopan. Oleh karena itu, makan jauh dari talam tidak diperbolehkan. Nilai yang terdapat dalam ungkapan ini, dengan demikian, adalah kesopansantunan dan atau kerapihan.


Mali mesok tangan delem pinggen
Nandek benyek utang

Mali membasuk tangan dalam pinggan
Nanti banyak hutang

Pinggan adalah tempat untuk menaruh sayur dan bukan untuk mencuci tangan. Oleh karena itu, mencuci tangan dalam pinggan tidak diperbolehkan. Nilai yang terkandung di dalam ungkapan ini adalah ketertiban (menempatkan sesuatu sesuai dengan tempatnya).


Mali besiol delem ghumah
Nandek naek ula

Mali bersiul dalam rumah
Nanti naik ular

Rumah identik dengan kedamaian dan ketenteraman. Sementara siulan dapat mengusiknya. Oleh karena itu, bersiul di dalam rumah tidak diperbolehkan. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah tempat ketenteraman.


Mali mecot ughang dengan sapu
Nandek sia

Mali melecut orang dengan sapu
Nanti sial

Sapu fungsinya adalah untuk membersihkan rumah dan atau halaman. Jadi, bukan untuk melecut orang. Oleh karena itu, melecut orang dengan sapu tidak diperbolehkan. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah ketertiban (menempatkan atau menggunakan sesuatu sesuai dengan tempat atau fungsinya).


Mali kemeh tengah jelen
Nandek benggak butoh

Mali kemih (kencing) tengah jalan
Nanti bengkak butuh (zakar)

Kencing berarti mengeluarkan kotoran (najis). Najis ini tidak semestinya dibuang ke sembarang tempat, tetapi di tempat-tempat yang ditentukan, sehingga tidak merusak atau menganggu lingkungan (menimbulkan polusi). Oleh karena itu, tidak semestinya kencing di tengah jalan. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah kebersihan lingkungan.


Mali ngelen ughang
Nandek jedi beghuk

Mali mencibir orang
Nanti jadi beruk

Di mata Tuhan manusia adalah sama. Lagi pula, setiap manusia mempunyai kelebihan dan karenanya belum tentu yang dicibir itu lebih rendah. Oleh karena itu, tidak semestinya mencibir orang. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini, dengan demikian, adalah penghormatan sesama manusia.


Mali meghenong kuceng bejubo
Nandek kenak segheng-e

Mali merenung (melihat) kucing bersetubuh
Nanti nafsu kebinatangannya

Bersetubuh adalah kebutuhan biologis hewan dan manusia. Bedanya, jika hewan tidak diselimuti oleh kebudayaan, maka manusia diselimuti oleh kebudayaan. Dengan perkataan lain, hewan melakukannya secara sembarangan, manusia menggunakan tata cara dan adat-istiadat tertentu; jadi tidak secara sembarangan. Oleh karena itu, tidak diperbolehkan melihat kucing yang bersetubuh. Sebab dikhawatirkan apa yang dilakukan oleh binatang akan ditiru sepenuhnya. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini, dengan demikian, adalah kemanusiaan yang beradab dan berbudaya.


Mali makan bedighi lutot
Nandek kenak saket talak

Mali makan berdiri lutut
Nanti kena sakit talak (semacam sepilis)

Makan mestinya dilakukan secara benar (bukan berdiri). Sebab makan sambil berdiri disamping kurang patut, dapat menyebabkan sesuatu yang tidak diinginkan (peralatan makan terjatuh). Oleh karena itu, janganlah makan sambil berdiri. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah ketertiban.


Mali beghing kaki naek cok dinding
Nandek pemalas

Mali baring kaki naik pucuk (atas) dinding
Nanti pemalas

Berbaring sambil menaikkan kaki ke dinding dapat membuat dinding menjadi kotor. Lagi pula, tidak pantas walaupun perbuatan itu mungkin saja mengasikkan. Akan tetapi, justeru keasyikan itulah yang kemudian dapat menjadikan seseorang lupa. Oleh karena itu, janganlah berbaring sambil menaikkan kaki ke dinding. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini, dengan demikian, disamping kebersihan adalah kerja keras.


Mali ngindep ughang
Nandek butak mateu

Mali ngintip orang
Nanti buta mata

Fungsi mata memang untuk melihat, tetapi bukan untuk mengintip, karena perbuatan mengintip sama dengan mencuri. Artinya, ada pihak lain yang tidak menghendaki. Oleh karena itu janganlah mengintip. Nilai yang terkandung di dalam ungkapan ini adalah kebaikan.


Mali endik nyecah mendeu makan
Nandek punan

Mali tidak menyecah (mencicipi) benda makan
Nanti punan (ditimpa musibah)

Makanan yang akan dihidangkan haruslah dicicipi dahulu untuk menentukan apakah sudah sesuai dengan yang diinginkan atau belum, sehingga tidak mubazir atau kerja dua kali. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini, dengan demikian, adalah keefektivan dan keefisienan.


Mali ngughong bughung
Nandek lah mati dikughek lih dieu mate

Mali mengurung burung
Nanti sudah mati dikoreknya mata

Burung, sebagaimana manusia, menginginkan kebebasan. Mengurung burung berarti mengekang kebebasannya. Oleh karena itu, mengurung burung tidak semestinya dilakukan. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah kebebasan.


Mali tetawak ngilai
Nandek jedi andu kiwi

Mali tertawa mengilai
Nanti menjadi hantu kiwi (hantu berwajah perempuan jelek)

Tertawa memang sehat. Akan tetapi, tertawa terkekeh-kekeh tanpa memperhatikan situasi dan kondisi adalah tidak patut (sopan). Oleh karena itu, tertawa terkekeh-kekeh yang tidak pada tempatnya jangan dilakukan. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini, adalah kesopan santunan.


Mali nyenyi tengah bighok
Nandek tumbuh tumbe cok mate

Mali bernyanyi tengah berak
Nanti tumbuh tumbi (bisul kecil) di atas mata

Membuang hajat memerlukan konsentrasi. Membuang hajat sambil menyanyi dapat memecah konsentrasi, sehingga kototan tidak terbuang secara total. Oleh karena itu, tidak diperbolehkan membuang hajat sambil bernyanyi. Nilai terkandung di dalam ungkapan ini adalah keseriusan.


Mali beghing melaos
Nandek mati mak

Mali baring menelungkup
Nanti mati mak

Berbaring menelungkup dapat menyebabkan dada terasa sakit dan tidak dapat bernafas secara bebas. Ini dapat merusak kesehatan. Oleh karena itu, berbaring menelungkup tidak diperbolehkan. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah kesehatan.


Mali meen sunggok ughang
Nandek tulah

Mali memainkan kopiah orang
Nanti tulah (kualat)

Kepala adalah maruah. Mengingat kopiah sangat erat kaitannya dengan kepala, maka memainkan kopiah orang sama halnya dengan menghina pemiliknya. Oleh karena itu, memainkan kopiah orang lain tidak diperbolehkan. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah penghormatan terhadap sesamanya.


Mali nyembel muke lawang
Nandek payah bini nak beghenek

Mali menyembal (masuk sedikit) muka pintu
Nanti payah bini nak beranak

Masuk sedikit (berada) dimuka pintu dapat menganggu orang yang akan lalu-lalang. Oleh karena itu, berada di muka pintu tidak diperbolehkan. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah kelancaran.


Mali begendeng pinggen
Nandek mahal rezeki

Mali bergendang pinggan
Nanti mahal rezeki

Bergendang pinggan berarti tidak berbuat sesuatu. Oleh karena itu, tidak diperbolehkan. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah kerja keras.


Mali beghejung kaen
Nandek mati ayah

Mali berejung (sampan) kain
Nanti mati ayah

Bersampan dengan kain dapat menimbulkan sesuatu yang tidak diinginkan. Oleh karena itu, tidak diperbolehkan. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah keselamatan.


Mali duduk melengkang luan
Nandek temu aghal

Mali duduk membelakang haluan
Nanti temu aral

Duduk membelakangi haluan berarti mengabaikan apa yang akan dan atau terjadi di hadapan. Oleh karena itu, duduk dengan cara demikian tidak diperbolehkan. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah kewaspadaan.


Mali ngendin anak pakai buluh
Nandek sial

Mali memukul anak pakai buluh
Nanti sial

Buluh, disamping cukup keras, apalagi yang sudah kering, juga ruas-ruasnya kasar. Oleh karena itu, tidak sepatutnya dipergunakan sebagai alat untuk memukul anak. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah kasih sayang terhadap anak.


Mali beghing ngukek
Nandek pemalas

Mali baring dengan kaki ke atas
Nanti pemalas

Berbaring dengan kaki ke atas tidak pantas dilihat orang. Oleh karena itu, tidak semestinya dilakukan. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah kesopan-santunan.


Mali nubeu ikan delam aek aghong
Nandek sulah paleu

Mali menuba ikan dalam sungai kecil
Nanti sulah kepala

Sungai yang kecil tentunya debit airnya terbatas. Menuba ikan di sungai kecil tentunya akan mencemarinya. Oleh karena itu, tidak sepatutnya dilakukan. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah kelestarian lingkungan.


Mali jelen malam anak kecik mbek belakang
Nandek beleu lih andu

Mali jalan malam anak kecil gendong belakang
Nanti diganggu oleh hantu

Anak kecil memang masih memerlukan perhatian dan pengawasan yang ketat. Menggendong anak kecil di bagian belakang, apalagi malam, berarti sama saja dengan mengabaikannya. Oleh karena itu, tidak patut dilakukukan. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah kepedulian.


Mali mengejut anak kecik
Nandek ngigau tido malam

Mali mengejutkan anak kecil
Nanti mengigau tidur malam

Jantung anak kecil masih dalam pertumbuhan. Mengejutkannya berarti sama dengan mengganggu detak jantungnya. Oleh karena itu, tidak semestinya dilakukan. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah kasih sayang.


Mali begendeng kupek
Nandek biseu peghot

Mali bergendang bantal
Nanti bisa perut

Bergendang bantal, disamping tidak lazim, dapat membuat sarungnya sobek, sehingga isinya berhamburan. Oleh karena itu, tidak semestinya dilakukan. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah kehematan.


Mali begendeng landai
Nandek bejugit andu bewih ghumah

Mali bergendang lantai
Nanti berjoget hantu bawah rumah

Lantai, walaupun dapat mengeluarkan bunyi, namun ia bukanlah gendang. Menjadikan lantai sebagai gendang berarti sama saja merusak lantai itu sendiri. Oleh karena itu, tidak semestinya dilakukan. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah menempatkan sesuatu sesuai dengan fungsinya.


Mali betanjuk siang aghi
Nandek tawak andu

Mali bertanjuk (berjalan pakai lampu) siang hari
Nanti tertawa hantu

Siang berarti ada matahari yang menyinarinya, sehingga keadaan menjadi terang benderang. Oleh karena itu, tidak perlu di siang hari menggunakan lampu. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah kemubaziran.


Mali anak kecik begugheu cok tempat tido
Nandek pengemeh

Mali anak kecil bergurau di atas tempat tidur
Nanti pengemih

Tempat tidur, sesuai dengan namanya, adalah untuk tidur. Jadi bukan untuk bergurau. Oleh karena itu, tidak sepatutnya untuk bergurau, karena bukan hal yang mustahil dapat merusaknya. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah menempatkan atau mengerjakan sesuatu sesuai dengan tempatnya (ketertiban).


Mali ughang laki ambut panjang
Nandek jedi andu

Mali orang lelaki rambut panjang
Nanti jadi hantu

Jenis-jenis pekerjaan yang dilakukan oleh laki-laki relatif penuh tantangan ketimbang perempuan. Dan, rambut yang panjang dapat mengganggunya dalam melaksanakan pekerjaannya. Oleh karena itu, tidak sepatutnya laki-laki berambut panjang. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah kepraktisan.


Mali begeghuh pakai isok
Nandek kughap

Mali bergaruk pakai pisau
Nanti kurap

Pisau, sebagaimana kita tahu, adalah benda yang keras dan tajam. Menggaruk dengan pisau, dengan demikian, dapat membuat yang digaruk tergores kulitnya sehingga mengeluarkan darah. Oleh karena itu, tidak semestinya dilakukan. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah menggunakan sesuatu sesuai dengan fungsinya (ketertiban).


Mali makan ikan bughuk
Nandek busok kendot

Mali makan ikan buruk
Nanti busuk kentut

Ikan yang telah membusuk tentunya mengandung bakteri yang dapat mengganggu kesehatan. Oleh karena itu, tidak semestinya dimakan. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah kesehatan.


Mali duduk besugang tangan ke belakang
Nandek setukoh duduk ughang delem neghakeu

Mali duduk bersugang tangan ke belakang
Nanti setokoh orang duduk dalam neraka

Duduk bersugang tangan ke belakang berarti tidak melakukan sesuatu (tangan tidak digunakan untuk mengerjakan sesuatu). Oleh karena itu, tidak semestinya dilakukan. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah kerja keras.


Mali mueng ghambut delem pelimbih
Nandek biseu kepaleu

Mali membuang rambut dalam pelimbah
Nanti bisul kepala

Rambut bagi masyarakat Bunguran-Natuna dipercayai mempunyai kekuatan tertentu. Oleh karena itu, tidak semestinya dibuang sembarangan. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah kehati-hatian.


Mali ughang muan ngeghat ghambut
Nandek lah mati ditundot lih dieu

Mali orang perempuan mengerat rambut
Nanti lah mati dituntut olehnya

Laki-laki, karena jenis pekerjaan yang dilakukan relatif menantang, maka mereka berambut pendek. Sebaliknya, perempuan berambut panjang. Dan, ini telah menjadi adat. Oleh karena itu, tidak semestinya perempuan memangkas rambutnya. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini kehaketan terhadap sesuatu.


Mali becuko malam aghi
Nandek pandek umo

Mali bercukur malam hari
Nanti pendek umur

Bercukur tentunya menggunakan benda yang tajam (pisau cukur). Dan, untuk mencukur seseorang dibutuhkan sinar yang terang. Mencukur pada waktu malam, karena sinarnya relatif gelap, bukan hal yang mustahil dapat menyebabkan terjadinya sesuatu yang tidak diinginkan; misalnya tergores atau malah tidak rata. Oleh karena itu, bercukur pada malam hari tidak dibenarkan. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah keselamatan.


Mali anak muan meghenong butoh ughang besunat
Nandek lambet sembuh

Mali anak perempuan melihat butuh orang bersunat
Nanti lambat sembuh

Anak perempuan, apalagi sudah akhil baliq (dewasa), tidak dibenarkan melihat kemaluan laki-laki, karena bisa menimbulkan khayalan yang bukan-bukan atau sesuatu yang tidak diinginkan. Nilai yang terdapat dalam ungkapan ini, dengan demikian, adalah keprevetifan.


Mali bini bunding ngeli paghet
Nandek sumbing anak

Mali bini bunting menggali parit
Nanti sumbing anak

Seseorang yang hamil membutuhkan istirahat yang cukup dan tidak perlu mengerjakan pekerjaan berat. Oleh itu, tidak dibenarkan isteri yang sedang hamil menggali parit. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah kehati-hatian.


Mali muet patong
Nandek lah mati sughoh lih Tuhan muet nyaweu

Mali membuat patung
Nanti lah mati disuruh Tuhan membuat nyawa

Membuat patung diibaratkan sama dengan membuat manusia. Padahal, hanya Tuhan lah dapat menciptakan manusia. Membuat patung, dengan demikian, diibaratkan menyaingi kekuasaan Tuhan. Oleh karena itu, tidak boleh dilakukan. Nilai yang terkandung di dalam ungkapan ini adalah ketuhanan.


Mali makan bejundai kaki
Nandek mati bini

Mali makan berjuntai kaki
Nanti mati bini

Makan berjuntai kaki, disamping tidak sopan juga dapat mengganggu proses pencernakan. Oleh karena itu, makan dengan cara seperti itu tidak patut dilakukan. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah kesopan-santunan.


Mali makan cok kuko
Nandek pemalas

Mali makan atas kukur
Nanti pemalas

Makan di atas kukur juga tidak sopan. Oleh karena itu, tidak pantas untuk dilakukan. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah kesopan-santunan.


Mali nguko nyok belubeng tengah
Nandek jumul teme’e

Mali mengukur nyiur berlobang tengah
Nanti sangat tamak

Melakukan suatu pekerjaan mestinya dengan sungguh-sungguh, termasuk mengukur kelapa. Oleh karena itu, mengkukurnya dengan tidak sempurna mesti dihindarkan. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah ketelitian dan kesungguhan.


Mali nyameu ikan laot dengen ikan deghet
Nandek ghebes ambut

Mali menyamai ikan laut dengan ikan darat
Nanti rebas (gugur, rontok) rambut

Sesuatu yang berbeda tentunya harus dibedakan. Oleh karena itu, menyamakan ikan laut dengan ikan darat mesti dihindari. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah menempatkan sesuatu sebagaimana mestinya. Dengan perkataan lain, ketelitian dan jangan melakukan kesiasiaan.


Mali kayu api ndik beghuah deghi tunjeng
Nandek kebebeng bini beghenek

Mali kayu api tak diruah (dikeluarkan) dari tunjang
Nanti kebebang (anak tak mau keluar) bini beranak

Kayu api sebagai bahan bakar harus dibuat sepraktis-praktis atau serapi-rapinya hingga memudahkan dalam pembakarannya. Oleh karena itu, kayu api jangan dibiarkan tak diruah (dikeluarkan) dari dalam tunjang (keranjang). Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah kesungguhan dan menyelesaikan dalam mengerjalan sesuatu.


Mali meka taek
Nandek bughuk jubo

Mali membakar tahi
Nanti buruk jubur

Tahi yang dibakar dapat mengeluarkan aroma tidak sedap. Oleh karena itu, tahi mestinya ditempatkan pada tempat tertentu dan bukan dibakar. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah kebersihan lingkungan.


Mali makan delem tapes
Nandek kenak sakit naon

Mali makan dalam tapis
Nanti kena penyakit menahun

Makan sesuatu disesuaikan dengan tempatnya. Tapis adalah bukan tempat untuk makan, tetapi untuk menyaring santan dan sebagainya. Oleh karena itu, tidak layak untuk dilakukan. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini dalah menempatkan sesuatu sesuai dengan fungsinya (ketertiban).


Mali begewei aghi ughang mati
Nandek ndik selamat

Mali bergawai (pesta perkawinan) hari orang mati
Nanti tak selamat

Mati berarti meninggal dunia untuk selama-lamanya. Oleh karena itu, pada saat ada orang meninggal mestinya meluangkan waktu untuk menjenguknya dan menguburnya. Hari itu, ada orang tengah berduka-cita, maka tidak sepatutnya melakukan gawai (pesta perkawinan) yang bersuka ria. Jadi, bersuka-ria atau bekerja pada saat ada orang mati tidak patut dilakukan. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah penghormatan terhadap orang yang meninggal dan sekaligus menjalankan perintah agama.


Mali ikat beghekas kayu ndik bukak
Nandek bini mati bebunggos

Mali ikat berkas kayu tak dibuka
Nanti bini mati berbungkus

Kayu yang akan diperlukan untuk sesuatu mesti dibuka talinya untuk memudahkan pengambilannya. Dengan demikian, pekerjaan yang akan dilakukan dapat diselesaikan dengan mudah. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah ketuntasan dan keselamatan.


Mali tido tamak aghi
Nandek namak setan

Mali tidur menjelang senja
Nanti namak (menyerupai) setan

Senja hari adalah saat untuk membersihkan diri guna mempersiapkan sholat magrib dna sekaligus istirahat di malam hari. Oleh karena itu, tidak patut tidur di senja hari. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah ketepatan dalam pemanfaatan waktu.


Mali jelan delem ujen panas
Nandek cacok lih andu

Mali jalan dalam hujan-panas
Nanti ditegur oleh hantu

Hujan disertai panas membuat suhu udara menjadi tak karuan. Oleh karena itu, jalan pada saat-saat yang demikian tidak diperbolehkan. Apalagi, yang namanya tentunya akan membuat badan menjadi basah. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah kesehatan.


Mali makai beju besah
Nandek payah dapat rezeki

Mali memakai baju basah
Nanti payah dapat rezeki

Baju yang basah dapat membuat badan menjadi sakit (masuk angin). Oleh karena itu, tidak semestinya dipakai. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini kesehatan.


Mali makai beju/seluwa salah balik
Nandek ndik isek keghejeu nak sudih

Mali memakai baju/celana terbalik
Nanti tak ada kerja yang sudah

Baju dan celana memang dibuat sedemikian rupa sehingga nyaman (selesa) dipakai. Memakai baju dan atau celana terbalik berarti mengurangi kenyamanan. Lagipula, tidak lazim. Oleh karena itu, mesti dhindari. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah ketertiban.


Mali bepayong delem ghumah
Nandek panah lih linda

Mali berpayung dalam rumah
Nanti panah (sambar) oleh halilintar

Di dalam rumah berarti terlindung dari teriknya sinar matahari atau tetesan air hujan. Oleh karena itu, di dalam rumah tidak perlu menggunakan payung. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah kemubaziran.


Mali ngasah belekang isok
Nandek bebel

Mali mengasah belakang pisau
Nanti bebal

Pisau sebagai alat untuk memotong atau membelah sesuatu tentunya matanya harus tajam. Ini artinya, jika ingin mengasahnya, maka mata pisaunyalah yang diasah, bukan punggungnya (bagian belakang pisau). Oleh karena itu, punggung pisau tidak perlu diasah. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah kemubaziran dan kesia-siaan.


Mali anak mudik duduk cok lesong
Nandek beghet tunggeng

Mali anak gadis duduk atas lesung
Nanti berat tungking

Lesung adalah tempat untuk menumbuk (menghaluskan sesuatu). Oleh karena itu, tidak sepatutnya diduduki. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah menggunakan sesuatu sesuai dengan fungsinya (ketertiban).


Mali ngendak kayu nyusang
Nandek bini beghenek nyusang

Mali memancang kayu sungsang
Nanti bini beranak sungsang

Memancang kayu hendaknya tepat (tegak lurus); sebab jika tidak akan membahayakan. Oleh karena itu, memasang kayu dalam posisi sungsang, tidak diperbolehkan. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah keselamatan ketepatan.


Mali tido tangan cok keneng
Nandek ndik tecapai cita-cita

Mali tidur tangan atas kening
Nanti tak tercapai cita-cita

Tidur dengan posisi tangan di atas kening berarti menambah beban kepala. Oleh karena itu, tidak semestinya dilakukan. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah kebebasan.


Mali nyiom tangan anak kecik
Nandek lah beso sukeu mindak

Mali mencium tangan anak kecil
Nanti setelah besar suka minta

Sebagai penghormatan terhadap yang lebih senior adalah dengan mencium tangannya. Dengan demikian, mencium tangan anak kecil dapat diartikan sebagai perbuatan yang tidak perlu dilakukan. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah penghormatan terhadap senior.


Mali duduk nganggang
Nandek luto lih andu

Mali duduk mengangkang
Nanti dilontar oleh hantu

Duduk mengangkang adalah tidak pada tempatnya. Apalagi, jika itu dilakukan oleh perempuan. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah kesopan-santunan.


Mali bejeung-jeung delem ghutan tueu
Nandek saot lih andu

Mali berjaung-jaung dalam hutan belantara
Nanti disahut oleh hantu

Hutan disamping berfungsi sebagai persediaan air yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan, juga merupakan habitat dari berbagai hewan. Oleh karena itu, tidak diperbolehkan mengusiknya dengan membuat kegaduhan atau keributan yang dapat merusak hutan tersebut. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini, dengan demikian, adalah kelestarian lingkungan.


Mali begendeng aek
Nandek tanggap lih beyik

Mali bergendang air
Nanti ditangkap oleh buaya

Bergendang air dapat membuat air menjadi keruh. Disamping itu, tidak bermanfaat. Oleh karena itu, tidak patut untuk dilakukan. Nilai yang terkandung di dalam ungkapan ini, dengan demikian, adalah kemanfaatan.


Mali duduk betunggad jeguk
Nandek sipak lih setan

Mali duduk bertongkat dagu
Nanti disepak oleh setan

Duduk bertongkat dagu berarti tidak mengerjakan sesuatu (bermalas-malasan). Oleh karena itu, tidak patut dilakukan. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah kerja keras.


Mali sambai ngikis aek tepayan
Nandek tido lih andu

Mali sampai mengikis air tempayan
Nanti ditidur oleh hantu

Air, sebagaimana kita tahu, adalah sumber kehidupan. Setiap rumah tangga harus menyimpannya. Oleh karena itu, membiarkan tempayan tak berisi air setetes pun tidak diperbolehkan. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah kerajinan.


Mali ngambin isok delem tunjeng
Nandek ghebes ghambut

Mali mengambin pisau dalam tunjang
Nanti rebas (gugur, rontok) rambut

Mengambin (membawa) pisau dalam tunjang (seperti keranjang teranyam dari rotan) dapat membahayakan diri sendiri. Oleh karena itu, perbuatan tersebut tidak diperbolehkan. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah kehati-hatian.


Mali nyetek tamak aghi
Nandek kenak mateu andu

Mali menyetik (menembak dengan ketapel) senja hari
Nanti kena mata hantu

Senja hari adalah saat-saat pergantian antara siang dan malam. Pada saat-saat yang demikian, tentunya penglihatan seseorang tidak begitu tajam (jelas). Menggunakan katapel pada saat-saat yang demikian dapat mencelakai seseorang. Lagi pula, saat-saat yang demikian adalah saat-saat untuk membersihkan diri guna melakukan sholat Magrib. Oleh karena itu, menggunakan katapel di senja hari tidak diperbolehkan. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah keselamatan.


Mali jelen mighek tumet kawan
Nandek mati mak

Mali berjalan memirik (memijak, menginjak) tumit kawan
Nanti mati mak

Jalan bersama teman dan atau orag lain hendaknya diatur jaraknya, sehingga tidak membuat tumit teman dan atau orang lain itu terinjak. Menginjak kaki orang tentunya dapat membuat yang bersangkutan terjatuh. Oleh karena itu, tidak patut dilakukan. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah perhormatan terhadap orang lain.


Mali bighok cok pase tepi laot
Nandek penyok ndik maok naek betelo

Mali berak di atas pasir tepi laut
Nanti penyu tak mau naik bertelur

Membuang hajat besar (kotoran) hendaknya dilakukan pada tempat yang telah disediakan. Membuang kotoran di atas pasir tepi laut, disamping menganggu orang lain juga keindahan pantai itu sendiri. Oleh karena itu, tidak patut dilakukan. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah ketertiban, kebersihan dan keindahan.


Mali meka kulet pisang
Nandek kenak penyaket miang

Mali membakar kulit pisang
Nanti kena penyakit miang

Kulit pisang relatif tebal dibanding dedaunan. Lagi pula, ia tidak cepat kering sehingga sulit terbakar. Disamping itu, hal itu tidak lazim. Oleh karena itu, tidak patut dilakukan. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah kemubaziran.


Mali meka kulet telo
Nandek kenak penyaket beghuh delem

Mali membakar kulit telur
Nanti kena penyakit barah dalam

Sebagaimana dengan kulit pisang, kulit telut juga relatif lebih tebal dan keras dibanding dedaunan, sehingga sulit terbakar. Disamping itu, tidak lazim untuk dibakar. Oleh karena itu, juga tidak patut dilakukan. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah juga kemubaziran dan kesia-siaan.


Mali makan delem lesong betu
Nandek kenak penyaket beghuh

Mali makan dalam lesung batu
Nanti kena penyakit barah

Lesung batu bukan tempat untuk makan. Oleh karena itu, tidak patut dilakukan. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah menggunakan sesuatu sesuai dengan fungsinya (ketertiban).


Mali betudung tapes
Nandek sulah paleu

Mali bertudung tapis
Nanti sulah (botak, gundul) kepala

Tapis bukan benda atau sesuatu yang pantas untuk dijadikan tudung kepala, tetapi untuk menyaring santan kelapa. Oleh karena itu, tidak patut dilakukan. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah menggunakan sesuatu dengan fungsinya (ketertiban).


Mali makan betekan lutot
Nandek jedi ughang pemalas

Mali makan bertekan lutut
Nanti jadi orang pemalas

Makan adalah salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan biologis guna memperoleh energi (tenaga). Akan tetapi, harus dilakukan sesuai dengan adat. Makan dengan cara bertekan lutut, disamping tidak lazim (sesuai dengan adat), juga dapat mengganggu proses pencernaan. Oleh karena itu, tidak patut dilakukan. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah kesantunan.


Mali canggol tinggel delem lubeng
Nandek mindak nyaweu

Mali cangkul tinggal dalam lobang
Nanti minta nyawa

Mengerjakan sesuatu tidak boleh setengah-setengah dan harus rapih. Oleh karena itu, meninggalkan cangkul dalam lobang tidak patut dilakukan. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah ketuntasan.


Mali bersiol dekat kubo
Nandek ughang delem kubo nyanggeu lah kiamat

Mali bersiul dekat kubur
Nanti orang dalam kubur menyangka sudah kiamat

Kubur atau makam adalah suatu tempat yang mestinya penuh kekhidmatan. Oleh karena itu, bersiul dekat kubur mesti dihindari, sebaliknya mengucapkan salam atau doa-doa. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah penghormatan terhadap orang yang telah meninggal.


Mali duduk betunggat jeguk
Nandek sial

Mali duduk bertongkat dagu
Nanti sial

Duduk bertongkat dagu berarti membiarkan dirinya tidak berbuat sesuatu. Oleh karena itu, mesti dihindari. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah tidak pemalas atau kerja keras.


Mali duduk pelok lutot
Nandek namak ughang kalah judi

Mali duduk berpeluk lutut
Nanti namak (menyerupai, seperti) orang kalah judi

Duduk hendaknya dilakukan secara benar (sesuai dengan kesantunan). Oleh karena itu, duduk berpeluk lutut tidak patut dilakukan. Juga, berpeluk lutut mengisyaratkan pemalas. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah kesopan-santunan dan kerajinan.


Mali tido delem gulung tika
Nandek langgah lih andu

Mali tidur dalam gulung tikar
Nanti dilangkah oleh hantu

Tikar disamping dipergunakan untuk berbagai keperluan, juga sebagai alas tidur. Namun demikian, bukan berarti seseorang dapat tidur dengan seenaknya; misalnya dalam gulung tikar. Oleh karena itu, tidak semestinya dilakukan. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah menggunakan atau menempatkan sesuatu dengan fungsinya. Dengan perkataan lain nilai yang terkandung adalah ketertiban.


Mali anak maseh kecik jelen cok tanah
Nandek pandek umo

Mali anak masih kecil jalan atas tanah
Nanti pendek umur

Tanah sering dilambangkan sebagai kesuburan. Namun, tanah juga menyimpan berbagai baksil (bakteri) yang pada gilirannya menimbulkan penyakit. Sementara, anak kecil memerlukan perawatan yang khusus, karena pisiknya belum kebal terhadap berbagai macam penyakit. Oleh karena itu, tidak semestinya anak kecil jalan di atas tanah. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah kesehatan.


Mali nguap sambai ngeloh
Nandek suap lih andu dengan taek

Mali menguap sampai mengeluh
Nanti suap olah hantu dengan tahi

Setiap orang pasti akan menguap. Akan tetapi, hal itu mesti dilakukan secara sopan. Menguap sampai mengeluh, dengan demikian, tidak pantas untuk dilakukan karena akan mengurangi kepribadian yang bersangkutan. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah kesopan-santunan.


Mali beceghemen aek
Nandek bughuk ghupeu

Mali bercermin air
Nanti buruk rupa

Air, walaupun dapat digunakan untuk bercermin, tetapi alangkah baiknya jika menggunakan cermin. Oleh karena itu, bercermin melalui air tidak diperbolehkan. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah menggunakan sesuatu sesuai dengan fungsinya (ketertiban).


Mali nimbek aek dengen peghiok itam
Nandek ghibut haghi

Mali menimba air dengan periuk hitam
Nanti ribut hari

Periuk yang berwarna hitam dapat menyebabkan air menjadi keruh jika digunakan untuk menimba. Lagi pula, periuk lazimnya digunakan untuk memasak. Oleh karena itu, menimba dengan periuk tidak diperbolehkan. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah menggunakan sesuatu sesuai dengan fungsinya (ketertiban).


Mali numbuk sambil duduk
Nandek kenak bughut

Mali menumbuk sambik duduk
Nanti kena burut (bengkak buah pelir)

Apabila menumbuk sambil duduk, tenaga yang dikeluarkan tidak optimal dibandingkan dengan berdiri. Oleh karena itu, menumbuk sambil duduk tidak diperbolehkan. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah keekfektif dan keefisienan.


Mali ngisa padi pakai kaki
Nandek kenak bughut

Mali mengisa padi pakai kaki
Nanti kena burut (bengkak buah pelir)

Padi adalah makanan pokok sehari-hari yang harus diperlakukan sedemikian rupa. Oleh karena itu, mengais padi dengan kaki tidak diperbolehkan, karena mencerminkan bekerja tidak serius, pemalas. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah menggunakan sesuatu dengan fungsinya.


Mali duduk temenong
Nandek dilalek lih andu

Mali duduk termenung
Nanti dilalik (dilalaikan) oleh hantu

Duduk termenung (melamun) berarti tidak memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Dan, ini berarti pula tidak mengerjakan sesuatu. Lagi pula, melamun berarti membiarkan pikiran kosong yang dapat menyebabkan sesuatu yang tidak diinginkan dapat terjadi. Oleh karena itu, duduk melamun tidak diperbolehkan. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah kerja keras.


Mali duduk berjuntai cok tanggik
Nandek taghek lih andu

Mali duduk berjuntai atas tangga
Nanti ditarik oleh hantu

Duduk berjuntai di atas tangga dapat tergelincir dan jatuh. Lagi pula, tangga bukan tempat untuk duduk melainkan untuk memanjat sesuatu yang tidak terjangkau oleh tangan. Oleh karena itu, duduk di atas tangga hendaknya dihindarkan. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah menempatkan atau menggunakan sesuatu sesuai dengan fungsinya (ketertiban).


Mali nakek tunggul delem kebun
Nandek genes musoh

Mali menakik tunggul dalam kebun
Nanti ganas musuh

Kebun adalah sebidang tanah yang harus ditanami oleh tanaman yang menghasilkan dan karenanya harus dijaga dengan baik. Menakik tunggul dalam kebun dapat merusak kebun itu sendiri. Oleh karena itu, perbuatan yang demikian tidak diperbolehkan. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini, dengan demikian, adalah kelestarian (alam).


Mali tido naek aghi
Nandek pelumes

Mali tidur naik hari
Nanti pelumis (selalu sakit-sakitan)

Menjelang tengah hari adalah waktunya orang untuk bekerja. Jadi, bukan untuk tidur. Oleh karena itu, tidur menjelang tengah hari tidak diperbolehkan. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah bekerja keras.


Mali ngamang-ngamang isok
Nandek lalu lih belis

Mali mengamang-ngamang (mengacung-acung, mengarah-arahkan) pisau
Nanti lalu (masuk) oleh iblis

Pisau adalah benda tajam yang dapat membayakan diri sendiri atau orang lain. Oleh karena itu, alat tersebut tidak diperbolehkan untuk mainan. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah kehati-hatian.


Mali lesong betu endik pakai besok
Nandek taes tundun

Mali lesung batu tidak pakai basuh
Nanti tais (selalu basah, berair terus) tundun (vagina)

Lesung batu, adalah tempat menumbuk bumbu lauk-pauk, seperti cabe dan sebagainya. Apabila selesai menumbuk bahan-bahan lauk-lauk tersebut tidak dibersihkan, maka akan kotor dan berpotensi menyimpan penyakit. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah kebersihan.


Mali numbuk lesong batu kusong
Nandek endik depat laki

Mali menumbuk lesung batu kosong
Nanti tidak dapat suami

Lesung batu yang kosong tentunya jika ditumbuk akan merusak lubang lesung itu sendiri. Oleh karena itu, menumbuk lesung dalam keadaan kosong tidak diperbolehkan. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah ketidak sia-siaan atau kehematan.


Mali pegi keghejeu bulen potos
Nandek naas

Mali pergi bekerja bulan putus
Nanti naas

Melakukan pekerjaan hendaknya penuh dengan perhitungan dan jangan setengah-setengah. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini, dengan demikian, adalah ketelitian.


Mali pegi kaghang aghi jemeet
Nandek jedi keghak

Mali pergi karang (menuba ikan di pantai) hari Jumat
Nanti jadi kera

Melayu sering diidentikkan sebagai Islam, dan hari Jumat adalah hari yang diagungkan oleh orang Islam. Pada hari itulah orang Islam melakukan sholat Jumat secara berjamaah. Oleh karena itu, menuba ikan pada hari tersebut tidak diperbolehkan. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah ketaqwaan.


Mali ngasah isok pakai aek ludih
Nandek kenak penyaket panas

Mali mengasah pisau pakai air ludah
Nanti kena penyakit panas

Air ludah, sebagaimana kita tahu, adalah sesuatu yang menjijikkan. Oleh karena itu, tidak sepatutnya mengasah pisau dengan air tersebut. Nilai yang terkandung dalam ungkapan itu, dengan demikian, adalah kebersihan atau ketertiban.


Mali tido lom tapok kaki ayam
Nandek beghulat mateu

Mali tidur sebelum bertapuk (berkumpul) kaki ayam
Nanti berulat mata

Tidur di malam hari hendaklah jangan terlalu awal (ayam masih belum tidur), tetapi tidurlah sebagaimana waktu yang tepat, semestinya. Sehingga, tidak menyia-nyiakan waktu. Nilai ungkapan ini adalah tanggungjawab atau disiplin.


Mali nyebut nangoi
Nandek juleng lih dieu ghumah

Mali menyebut nangui
Nanti rumah dijulang olehnya

Nangui adalah binatang sejenis babi, tetapi agak kecil dari babi dan ada pula yang menyebutkan jauh lebih besar dari babi. Sebagai manusia, hendaklah mengeluarkan perkataan atau menyebutkan sesuatu yang bermanfaat. Jangan berbicara tanpa tujuan dan makna. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah keseriusan dan kecermatan.


Mali nyebut babi tengah laot
Nandek ghibut aghi

Mali menyebut babi tengah laut
Nanti ribut hari

Laut, apalagi di sekitar Bunguran-Natuna, sangat seram karena bergelombang besar. Oleh karena itu, ketika di tengah laut tidak sepatutnya mengucapkan kata-kata yang tidak “senonoh”. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah kearifan.


Mali nyusok bewih panda
Nandek biseu paleu

Mali menyusuk (melintas, melewati) bawah panta (tali peranginan, jemuran)
Nanti bisa sakit kepala

Peranginan fungsinya adalah mengeringkan pakaian yang basah (habis dicuci). Melintasi peranginan, dengan demikian, dapat membuat pakaian yang dijemur tadi menjadi kotor atau malah terjatuh. Oleh karena itu, melintasi peranginan tidak sepatutnya dilakukan. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah ketertiban.


Mali nyeit pakai cok beden
Nandek pandek umo

Mali menjahit pakaian atas badan
Nanti pendek umur

Menjahit sesuatu (pakaian) berarti berurusan dengan benda yang sangat runcing dan kerana harus dilakukan secara benar. Oleh karena itu, menjahit di badan tidak dibenarkan. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah ketertiban.


Mali ngayon ayon kusong
Nandek mati anak

Mali mengayun ayunan kosong
Nanti mati anak

Mengayun ayunan yang kosong sama saja dengan mengerjakan sesuatu yang tidak ada gunanya (sia-sia). Oleh kerena itu, tidak patut dilakukan. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah kemanfaatan.


Mali makan ngok-ngam
Nandek kujud

Mali makan tidak sekaligus
Nanti kujud (tidak pernah cukup)

Makan sesuatu harus dihabiskan untuk menghindari kemubaziran. Oleh karena itu, makan tidak sekaligus tidak diperbolehkan. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah ketidakmubaziran.


Mali makan endik abis kuah
Nandek mati anak ayam

Mali makan tidak habis kuah
Nanti mati anak ayam

Kuah sangat penting bagi kesehatan. Di samping itu, kuah yang tidak dihabiskan akan menjadi mubazir. Oleh karena itu, kuah harus dihabiskan. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini, dengan demikian, adalah ketidakmubaziran.


Mali meka geghem
Nandek kenak penyaket cambak

Mali membakar garam
Nanti kena penyakit campak

Garam yang dibakar tidak dapat dimanfaatkan lagi. Oleh karena itu, membakar garam tidak diperbolehkan. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah memperlakukan atau menggunakan sesuatu sesuai dengan kegunaannya.


Mali betudung beju
Nandek bughuk kepaleu

Mali bertudung baju
Nanti buruk kepala

Fungsi baju adalah untuk menutupi badan dan bukan untuk menutupi kepala. Oleh karena itu, bertudung baju tidak diperbolehkan. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah menempatkan sesuatu sesuai dengan tempatnya.


Mali mendeu makan telengek
Nandek bighok lih andu

Mali makan benda tidak tertutup
Nanti diberak oleh hantu

Perangkat makan mesti ditutup untuk menghindari berbagai kemungkinan yang menyebabkan peralatan tersebut menjadi kotor. Oleh karena itu, mesti ditutup. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah kebersihan.


Mali makan delem gelep
Nandek tegigit butoh andu

Mali makan dalam gelap
Nanti tergigit butuh (zakar) hantu

Makan di dalam gelap dapat menyebabkan sesuatu yang tidak diinginkan. Misalnya, salah mengambil atau menumpahkan makanan itu sendiri. Oleh karena itu, makan dalam gelap tidak diperbolehkan. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah keselamatan.


Mali beghing cok tanah
Nandek langgah lih andu

Mali berbaring di atas tanah
Nanti dilangkah oleh hantu

Berbaring di atas tanah dapat menyebabkan, tidak hanya pakaian tetapi juga badan menjadi kotor. Oleh karena itu, tidak diperbolehkan. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah kebersihan.


Mali bighok tengah jelen
Nandek bughuk jubo

Mali berak tengah jalan
Nanti buruk dubur

Berak di tengah jalan dapat menganggu dan malahan mengotori orang yang melintasinya (terinjak). Oleh karena itu, berak mestinya di tempat yang telah disediakan dan bukan di jalan. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah ketertiban.


Mali makan delem peghiok
Nandek itam jedi nganden

Mali makan dalam periuk
Nanti hitam jadi pengantin

Periuk adalah tempat untuk menanak nasi. Sebagai tempat, tentunya diselimuti oleh jeledu yang berwarna hitam. Makan dalam periuk, dengan demikian, disamping tidak selesa, namun yang tidak kalah pentingnya adalah tangan dapat menjadi kotor (berwarna hitam). Oleh karena itu, makan dengan cara yang demikian tidak diperbolehkan. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah menggunakan sesuatu sesuai dengan fungsinya.


Mali nanges lite
Nandek detang lanon

Mali menangis lete (tak henti-henti)
Nanti datang lanun

Menangis dapat membuat perasaan lega. Namun demikian, menangis terus-menerus dapat membuat orang lain resah. Oleh karena itu, menangis secara terus-menerus tidak diperbolehkan. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah tenggang rasa.


Mali makan telo melik
Nandek endik kenak pinang

Mali memakan telor melik (telur yang tidak jadi menetas tetapi masih bisa dimakan)
Nanti tidak kena pinang

Telur yang tidak jadi menetas, walaupun masih bisa dimakan, namun sudah tidak bagus lagi (mengalami perubahan, baik warna dan aromanya), sehingga jika dimakan dapat menyebabkan suatu penyakit. Oleh karena itu, makan telur yang tidak jadi menetas tidak diperbolehkan. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah kesehatan.


Mali nambek beghes ngacong tengah ghumah
Nandek nyumbah tuan

Mali menampi beras mengacung tengah rumah
Nanti menyumpah tuan

Beras yang ditampi tentunya mengeluarkan debu (kotoran). Jika beras ditampi di tengah rumah, tentunya tengah rumah itu akan menjadi kotor. Oleh karena itu, menampi beras ditengah rumah tidak diperbolehkan. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah ketertiban dan kebersihan.


Mali meghukok peghot sabut
Nandek bughuk idung

Mali merokok perut sabut
Nanti buruk hidung

Merokok perut sabut dapat menyebabkan sesak nafas. Oleh karena itu, tidak diperbolehkan. Nilai yang terkandung di dalamnya adalah kesehatan.


Mali lukek
Nandek lah mati sepet lih tanah

Mali lokek
Nanti lah mati dijepit tanah

Lokek berarti mementingkan diri sendiri dan merugikan orang lain. Padahal, manusia saling membutuhkan. Oleh karena itu, lokek tidak dibenarkan. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah timbal balik.


Mali ngasah isok endik pakai aek
Nandek gileu sughang

Mali mengasah pisau tidak pakai air
Nanti gila seorang (bertepuk sebelah tangan)

Mengasah pisau dengan tidak menggunakan air, disamping dapat menimbulkan penyakit, debu dari batu asah atau besi pisau itu sendiri menjadi beterbangan. Oleh karena itu, mengasah pisau tanpa air tidak diperbolehkan. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah kesehatan.


Mali meen api
Nandek kughos beden

Mali main api
Nanti kurus badan

Kecil menjadi teman, besar menjadi lawan. Itulah peribahasa yang berkenaan dengan api. Namun demikian, api tidak semestinya untuk mainan karena dapat merugikan diri sendiri (anggota badannya terbakar) dan masyarakat (kebakaran). Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah keselamatan.


Mali ngungon tidu
Nandek kenak saket naon

Mali ngungun (terlambat bangun pagi dari) tidur
Nanti kena sakit menahun

Tidur memang baik untuk kesehatan. Akan tetapi, tidur yang berlebihan sehingga terlambat bangun adalah tidak baik, karena dapat merugikan orang lain dan terutama diri sendiri. Oleh karena itu, terlambat bangun tidak diperbolehkan. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah ketertiban dan kerja keras.


Mali berseleng tangan
Nandek masok neghakeu

Mali berseling tangan
Nanti masuk neraka

Berseling tangan berarti tidak bekerja. Oleh karena itu, tidak diperbolehkan. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini, dengan demikian, adalah kerja keras.


Mali pagi berselibung kaen
Nandek kenak kughap

Mali pagi berselibung (berselimut) kain,
Nanti kena kurap

Kain adalah sebagai kelengkapan dalam berpakaian. Dijadikan selimut kalau mau tidur. Di pagi hari, tak masanya lagi berselimut kain, tetapi bekerja atau memulai aktivitas. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah menggunakan sesuatu sesuai dengan fungsinya (ketertiban).


Mali meghaot buluh malam aghi
Nandek sial

Mali meraut buluh malam hari
Nanti sial

Meraut buluh pada malam hari dapat membuat sesuatu yang tidak diinginkan terjadi (tergores pisau); dan lagi malam hari, pergunakanlah untuk istirahat. Oleh karena itu, meraut buluh pada malam hari tidak diperbolehkan. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah pencegahan (kepreventifan).

Sumber:
Galba, Sindu dan Sudiono. 2004. Ungkapan Tradisional Masyarakat Melayu-Natuna. Kepulauan Riau: Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI, Deputi Bidang Pelestarian dan Pengembangan Kebudayaan, Asdep Tradisi.

1 Mali seringkali diartikan sebagai “pantang”, “susah”, “jangan” atau “tidak boleh”. Namun demikian, kata-kata tersebut rasanya tidak pas betul, karena kata mali di dalamnya mengandung kekuatan magis. Sebagai contoh, jika seseorang dilarang dengan menggunakan kata “jangan”, “tidak boleh”, dan lain sebagainya, maka yang bersangkutan akan biasa-biasa saja. Bahkan, mungkin akan melakukan juga. Namun, jika yang didengarnya adalah kata mali, maka yang bersangkutan akan mentaatinya, karena di balik kata itu ada kekuatan magis, yang apabila dilanggarnya, diyakini dapat menyebabkan sesuatu yang tidak diinginkan.

Cara Pasang Tali Layangan agar Manteng di Udara
Topeng Monyet
NUSANTARA COSMIC ECHOES - Pink Floyd Style Progressive Rock

Archive