Permainan Laince (Indramayu)

Permainan ini dapat dilakukan oleh anak laki-laki atau anak perempuan , dan dapat pula campuran. Pelaksanaannya tidak membutuhkan tempat khusus beserta ukurannya. Bisa dilaksanakan di depan halaman rumah, lapangan, dan jalan sepi. Jumlah personel dalam permainan ini minimal tiga orang, makin banyak makin baik.

Setelah ditentukan para pemain dan penjaganya, maka permainan pun dimulai. Para pemain membentuk lingkaran yang di tengahnya jongkok penjaga dengan matanya ditutup sapu tangan. Ketika penjaga jongkok, para pemain berjalan berkeliling sambil bernyanyi.

Laince-laince aja geger-geger
Kene, geger pasar gede, piring
Kebanting keranjang kebuang
Pitik cilik igel-igel

Pada saat syair lagu selesai dinyanyikan, maka semua pemain diam tidak bergerak dan bersuara sedikit pun dengan posisi jongkok. Si kucing yang matanga tertutup kemudian bergerak untuk menangkap salah satu pemain, jika ada pemain yang tertangkap maka pemain itu menjadi kucing (penjaga) selanjutnya.

Sumber:
Purnama, Yuzar, dkk,. 2004. Budaya Tradisional pada Masyarakat Indramayu. Bandung: Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung.

Permainan Bon-bonan (Indramayu)

Permainan ini biasanya dilakukan oleh anak-anak seusia sekolah dasar, dapat di lapangan terbuka atau jalanan. Untuk menentukan regu biasanya dengan jalan sut atau mereka memilih sendiri siapa pasangannya dan dengan siapa harus berhadapan. Jumlah personel tiap regu tidak ditetapkan secara pasti hanya biasanya lebih dari tiga orang.

Tiap regu harus berada di tempatnya masing-masing, yaitu sebuah gawang yang lebarnya lebih kurang satu sampai dua meter, setiap ujunga dibatasi dengan onggokan batu atau genting. Jadi dalam permainan ini ada dua gawang yang saling berhadapan dengan jarak lebih kurang sepuluh sampai duapuluh lima meter.

Setelah berdiri di tempat regunya masing-masing, permainan diawali dengan berlarinya seseorang dari salah satu regu kemudian dikejar oleh regu lawan. Jika kena maka harus berdiri di pinggri gawang lawan dengan salah satu kakinya menginjak onggokan batu (genting) dan tangannya direntangkan. Maksud dengan direntangkan adalah jika kemudian dapat dipegang oleh kawannya ia akan terbebeas dan boleh bermain lagi atau ia dapat menginjak unggukan batu sambil berteriak “boooonn”, yang menandakan permainan dimenangkan oleh regunya.

Mereka terus saling kejar-mengejar, yang kena harus jaga dan yang tersisa berusaha untuk mengalahkan lawannya dengan cara paling dahulu menginjak gawang lawannya. Sekali menginjak gawang lawan dengan meneriakkan “booonn” menandakan satu point atau satu kali menang. Pemainan diakhiri jika mereka sepakat menghentikan karena kelelahan dan pemenangnya dipegang oleh regu yang paling banyak mendapatkan point.

Sumber:
Purnama, Yuzar, dkk,. 2004. Budaya Tradisional pada Masyarakat Indramayu. Bandung: Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung.

Permainan Komboyan (Indramayu)

Permainan komboyan atau gaya baru menggunakan peralatan dari potongan genting dan bola kasti. Genting dibuat bundar dengan jumlah sesuai dengan jumlah pemain. Genting tersebut disusun kemudian dilempar dengan bola kasti. Jarak antara susunan genting dengan tempat melempat kurang lebih lima meter.

Penentuan pemain dan penjaga (disebut kucing) dilakukan dengan cara gambreng. Setelah terpilih penjaga dan pemain barulah permainan komboyan itu dimulai. Si kucing terlebih dahulu menyusun genting, setelah itu satu persatu pemain melempar genting dari tempat yang telah ditentukan. Jika bola mengenai genting, para pemain berhamburan untuk bersembunyi. Namun jika pada hitungan pemain terakhir masih tidak ada yang mengenai, maka penjaga berkesempatan untuk melempar dan bila mengenai yang menjadi kucingnya pelempar yang pertama begitu seterusnya.

Pada saat pemain berhamburan, si kucing segera menyusun genting kembali. Setelah genting selesai disusun ia akan mencari pemain satu persatu. Menangkap pemain cukup lihat dan menyebutkan namanya saja, setelah itu menginjak garus bulat tempat genting disusun. Maka pemain yang bersembunyi sudah dinyatakan tertangkap. Namun jika ada pemain yang berhasil mendahului si kucing ke posnya, si pemain langsung menendang genting kemudian berlari lagi bersama pemain yang tertangkap untuk bersembunyi. Dan jika semua pemain sudah tertangkap maka yang menjadi si kucing adalah pemain yang pertama tertangkap. Permainan baru diakhiri apabila para pemain telah lelah bermain.

Sumber:
Purnama, Yuzar, dkk,. 2004. Budaya Tradisional pada Masyarakat Indramayu. Bandung: Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung.

Pulau Mas

Ringkasan Cerita
Alkisah ketika Raden Wiralodra akan membuka hutan Indramayu untuk dijadikan pemukiman atau pedukuhan. Namun, usaha itu banyak mengalami halangan dan rintangan yang mengganggu rencananya. Salah satu kendala yang sangat berat adalah ia harus berhadapan dengan jin penguasa hutan Indramayu.

Jin itu akan membinasakan setiap orang yang mencoba mengusik kekuasaannya. Begitu pula saat ada Raden Wiralodra yang sedang membabat hutan Indramayu untuk dijadikan tempat tinggal, maka dengan serta merta si jin marah dan menghalau rencana Raden Wiralodra.

Akibatnya, pertempuran pun tidak dapat dielakkan. Raden Wiralodra yang gagah perkasa berhadapan dengan makhluk jin yang terkenal sangat sakti. Keduanya mengeluarkan semua ilmu kedigjayaan.

Tidak diketahui berapa lamanya pertempuran itu terjadi, namun kuasa Tuhan menentukan bahwa manusialah yang harus menang. Raden Wiralodra berhasil mengalahkan jin. Setelah jin itu takluk, ia mohon kepada Raden Wiralodra agar diberi kebebasan untuk hidup di sebuah pulau. Di sana ia tidak akan mengganggu manusia lagi, terutama keturunan Raden Wiralodra.

Pendek kata, Raden Wiralodra mengizinkan keinginan makhluk jin tadi. Maka pergilah jin itu menuju ke sebuah pulau. Ia menetap di pulau itu sampai kini. Masyarakat sekitar pulau tersebut, jika malam hari sering melihat pulau tersebut bercahaya kekuningan seperti sinar emas, maka disebutlah Pulau Mas.

Sumber:
Purnama, Yuzar, dkk,. 2004. Budaya Tradisional pada Masyarakat Indramayu. Bandung: Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung.

Gunung Bagus

(Cerita Rakyat Yogyakarta)

Pada masa Mataram diperintah oleh Gusti Sultan Agung, negeri Mataram terbagi atas beberapa daerah. Masing-masing daerah itu diketuai oleh seorang “rangga” atau penguasa daerah. Salah satu diantara daerah itu ialah daerah Blimbing, dan ketuanya disebut Rangga Blimbing.

Sudah menjadi tradisi di negeri Mataram bahwa pada saat-saat tertentu secara rutin mengadakan “pisowanan pasok bulu bekti”, yaitu persembahan semacam upeti kepada raja sebagai tanda takluk. Pada kesempatan ini semua rangga yang ada di wilayah Mataram harus hadir. Jika berhalangan, harus memberi kabar. Apabila ada yang tidak hadir tanpa memberi kabar sama sekali, maka pihak keraton lalu mengirimkan utusan untuk menyelidiki, karena dikhawatirkan kalau rangga tersebut mulai membangkang, atau memberontak.

Rangga Blimbing adalah seorang rangga yang setia terhadap Gusti Sultan Agung. Ia tidak pernah absen mendatangi pisowanan. Bahkan tidak jarang ia membawa anak laki-lakinya yang bernama Jaya Ketok ke pisowanan. Jaya Ketok adalah seorang pemuda yang berperawakan gagah dan berwajah tampan, cerdas, serta tingkah lakunya menarik. Setiap kali ikut ayahnya menghadiri pisowanan, Jaya Ketok selalu bertemu dengan Gusti Rara Pembayun, salah seorang puteri Gusti Sultan Agung. Puteri ini parasnya sangat cantik.

Karena sering bertemu, maka antara Jaya Ketok dengan Gusti Rara Pembayun lalu merasa saling tertarik yang selanjutnya berkembang menjadi saling satuh cinta. Sejak saat itu Jaya Ketok secara sembunyi-sembunyi sering mengadakan pertemuan dengan Gusti Rara Pembayun.
Hubungan antara kedua orang ini akhirnya diketahui oleh seorang abdi, yang kemudian menyampaikan kepada Gusti Sultan Agung. Mula-mula Sultan Agung sangat terkejut begitu mendengar kabar tersebut. Dalam hati beliau bertekad tidak akan membiarkan hubungan ini berlangsung terus. Menurut pertimbangan beliau apabila hubungan ini tidak segera diputuskan akan menjatuhkan martabatnya, sebab Gusti Rara Pembayun adalah puteri seorang Raja besar, sedangkan Jaya Ketok hanyalah anak seorang rangga. Jadi sama sekali tidak seimbang. Meskipun dalam hati Gusti Sultan Agung juga mengakui bahwa Jaya Ketok adalah pemuda pilihan.

Gusti Sultan Agung ingin menyelesaikan persoalan ini dengan cara bijaksana. Dipanggilnya Rangga Blimbing, Jaya Ketok dan Gusti Rara Pembayun. Setelah ketiganya menghadap lalu dinasehati agar mereka menyadari kedudukan masing-masing, dan jangan sampai hubungan ini diteruskan. Dan kepada Rangga Blimbing, Sang Prabu berpesan agar memberi pengertian kepada anaknya.

Rangga Blimbing bisa menerima nasihat Gusti Sultan Agung dengan hati lapang. Tetapi bagi Jaya Ketok dan Gusti Rara Pembayuan, nasihat Sang Prabu ini hanya pura-pura disanggupi. Secara sembunyi-sembunyi mereka tetap mengadakan pertemuan. Hal ini diketahui dan dilaporkan lagi oleh seorang abdi dalem kepada Gusti Sultan Agung. Begitu menerima laporan, Gusti Sultan Agung menjadi sangat murka. Dianggapnya Rangga Blimbing tidak mau menyadarkan anaknya. Akhirnya ia mengutus prajuritnya untuk membunuh Rangga Blimbing.

Rupanya Rangga Blimbing sudah mendengar bahwa daerahnya akan diserang, sehingga sementara prajurit Mataram dalam perjalanan ke Blimbing, pihak Blimbing telah menyiapkan pasukannya. Ketika prajurit Mataram datang, terus mereka hadapi. Ternyata ketahanan prajurit Blimbing cukup kuat. Pihak mataram menjadi kewalahan. Akhirnya pihak Blimbing berhasil mendesak mundur lawannya sehingga dengan kekuatan yang masih tersisa prajurit Mataram kembali ke keraton.

Masa itu sudah banyak Belanda yang berdiam di negeri Mataram. Dengan tidak berpikir panjang Gusti Sultan Agung lalu minta bantuan kepada Belanda. Maka diserbulah daerah Blimbing untuk kedua kalinya. Kali ini prajurit Mataram yang disertai pasukan Belanda itu lebih unggul peperangannya. Akhirnya pasukan Blimbing terdesak. Sedang Jaya Ketok dapat ditangkap dan dibunuh di sebuah telaga yang terletak dekat Desa Blimbing.

Dengan terbunuhnya Jaya Ketok bukan berarti keamanan negeri Mataram telah pulih kembali, sebab lalu menyusul peperangan lain yang lebih besar. Kali ini peperangan antara Mataram dengan Belanda.

Adapun penyebab dari peperangan kedua ini, dari pihak belanda merasa telah berjasa dan mereka menuntut Gusti Sultan Agung agar menyerahkan Gusti Rara Pembayun kepada seorang perwira Belanda untuk dijadikan isterinya. Sultan Agung bersedia memenuhi permintaan itu, asalkan Gusti Rara Pembayun mau. Ternyata Gusti Rara Pembayun tidak bersedia diambil isteri oleh perwira Belanda itu.

Perwira Belanda itu sangat marah ketika mendapat kabar bahwa Gusti Rara Pembayun tidak bersedia menjadi isterinya. Ia lalu menuduh Sultan Agung telah mempengaruhi puterinya agar menolak lamarannya. Tuduhan ini membuat Sultan Agung sangat marah, karena merasa dihina sehingga beliau lalu mengambil keputusan menentang Belanda.

Tidak lama kemudian terjadilah peperangan antara prajurit Mataram melawan Belanda. Peperangan ini cukup ramai, karena masing-masing pihak berusaha mengalahkan lawannya. Tetapi karena perlengkapan perang Belanda lebih modern, maka sedikit demi sedikit prajurit Mataram mulai terdesak. Akhirnya prajurit Mataram sudah tidak dapat bertahan lagi.

Untuk menyelamatkan diri Sultan Agung terpaksa meninggalkan keraton. Perjalanan Sultan Agung disertai oleh permaisuri dan beberapa orang pengawal. Pengembaraan Sultan Agung baru berhenti setelah sampai di Desa Kedunglumbu, daerah Surakarta. Dengan demikian untuk sementara pemerintahan di Keraton Mataram mengalami kekosongan karena ditinggal mengungsi.

Di Desa Kedunglumbu tempat Sultan Agung mengungsi berdiamlah seorang gadis anak seorang janda miskin. Meskipun gadis ini hanya keturunan orang kebanyakan dan tinggalnya di desa, tetapi ia mempunyai kelebihan dari gadis-gadis desa yang lain, yaitu wajahnya sangat cantik serta tingkah lakunya sangat menarik. Ketika Gusti Sultan Agung melihat gadis itu beliau lalu tertarik. Selanjutnya gadis tadi dijadikan salah seorang selirnya.

Dari perkawinan antara Sultan Agung dengan perempuan Desa Kedunglumbu itu lahirlah seorang anak laki-laki yang tampan, dinamakan Jaka Bagus. Tidak lama setelah Jaka Bagus lahir, maka permaisuri Gusti Sultan Agung yang ikut mengungsi juga melahirkan seorang anak laki-laki, namanya Jaka Trenggana. Jaka Bagus dan Jaka Trenggana yang besarnya hampir sebaya itu dididik bersama di Desa Kedunglumbu. Keduanya dapat rukun seperti halnya dua orang bersaudara kandung.

Pada suatu hari Jaka Bagus secara tiba-tiba terserang penyakit cacar. Oleh Gusti Sultan Agung ia lalu dibawa ke Desa Giring daerah Gunung Kidul, maksudnya akan dititipkan kepada Ki Ageng Wonoboyo Giring. Bersama Jaka Bagus disertakan pula seorang emban (pengasuh) dan seorang abdi laki. Waktu menyerahkan kepada Ki Ageng Wonoboyo, Sultan Agung bersabda: “Ki Ageng Wonoboyo, saya titip anak saya untuk dirawat dari sakitnya. Apabila anak saya ini dapat sehat kembali maka saya serahkan kepada Ki Ageng untuk mengasuhnya. Tetapi apabila tidak dapat sembuh saya harap Ki Ageng mau menguburnya di sebuah puncak bukit yang tinggi, dan tingginya harus melebihi puncak bukit makan kedua orang abdinya kelak.”

“sendika”, demikian jawab Ki Ageng Wonoboyo. Setelah penyerahan itu selesai Gusti Sultan Agung lalu kembali lagi ke tempat pengungsiannya di Desa Kedunglumbu.

Setelah Sultan Agung meninggalkan Giring, maka Ki Ageng Wonoboyo lalu berusaha dengan berbagai cara merawat penyakit Jaka Bagus. Namun segala usaha itu tidak berhasil, akhirnya Jaka Bagus meninggal. Sesuai dengan pesan Gusti Sultan Agung, maka jenazah Jaka Bagus lalu dimakamkan di sebuah puncak bukit yang tinggi, yang tingginya melebihi puncak bukit di sekitarnya. Bukit itu terletak di sebelah selatan Desa Giring.

Setelah pekerjaan memakamkan Jaka Bagus itu selesai, Ki Ageng Wonoboyo lalu menghadap Gusti Sultan Agung melaporkan, bahwa usahanya merawat Jaka Bagus tidak berhasil. Di hadapan Gusti Sultan Agung, Ki Ageng Wonoboyo menyatakan: “Ampun Gusti, ternyata hamba tidak berhasil menjalankan titah paduka, sehingga putera paduka wafat. Jenazahnya telah hamba makamkan, di sebuah puncak bukit yang tinggi”.

Gusti Sultan Agung lalu menjawab, “Sudahlah Ki Ageng, jangan terlalu bersedih. Rupanya memang sudah kodratnya Jaka Baus tidak berumur panjang. Lagi pula apabila Jaka Bagus dapat sembuh mungkin kelak akan menyebabkan terjadinya keributan di Mataram, sebab bukan dia yang akan saya angkat menjadi penggantiku, tetapi puteraku Trenggana.”

Selanjutnya bukit tempat memakamkan Jaka Bagus ini lalu dinamakan Gunung Bagus. Sedang kedua orang abdi yang menyertai Jaka Bagus dari Kedunglumbu lalu menetap di Giring. Dan setelah meninggal dimakamkan di dekat Giring pula, tetapi tempatnya dipilih yang lebih rendah dari Gunung Bagus.

Makam Gunung Bagus ini terkenal sangat angker. Kabarnya apabila ada burung yang terbang di atasnya akan jatuh dan mati. Dan jika ada binatang yang mendaki bukit tersebut pasti akan hilang.

Sumber:
Diadaptasi bebas dari Suwondo, Bambang. 1981. Cerita Rakyat Daerah Istimewa Yogyakarta. Yogyakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Upacara Rakeho pada Orang Kulawi (Sulawesi Tengah)

Kulawi adalah salah satu etnik yang terdapat di Sulawesi Tengah, Indonesia. Di kalangan mereka ada sebuah upacara tradisional yang sangat erat kaitannya dengan daur hidup (lingkaran individu), khususnya upacara masa peralihan bagi seorang laki-laki dari masa anak-anak menuju dewasa. Upacara ini oleh mereka disebut sebagai “Rakeho” yang dalam bahasa Indonesianya adalah “meratakan gigi bagian depan atas dan bawah serata dengan gusi”.

Seorang laki-laki yang telah melalui upacara ini berarti sudah dianggap sebagai orang dewasa (bukan kanak-kanak lagi) dan karenanya yang bersangkutan diperbolehkan untuk membentuk sebuah keluarga. Melalui upacara ini juga yang bersangkutan pada gilirannya mempunyai kedudukan, hak dan kewajiban yang sama, sebagaimana anggota masyarakat lainnya.

Waktu, Tempat, Pemimpin dan Pihak-pihak yang Telibat dalam Upacara
Sebagaimana upacara pada umumnya, upacara rakeho ini juga dilakukan secara bertahap. Tahap-tahap yang harus dilalui oleh seseorang dalam upacara ini adalah sebagai berikut: (1) tahap pemakian pakaian yang terdiri dari baju biasa dan puruka (celana pendek atau cawat); (2) tahap penyuapan makanan berupa ketan putili dan telur; dan (3) tahap meratakan gigi. Seluruh rentetan upacara ini biasanya dilakukan dari pagi sampai sore hari. Sebagai catatan, penyelenggaraan upacara biasanya dilakukan setelah panen dengan pertimbangan bahwa sesudah panen orang tua dari si anak yang diupacarakan sudah memiliki dana yang cukup.

Tempat pelaksanaan upacara rakeho bergantung dari tahapan-tahapan yang harus dilalui oleh si anak. Untuk prosesi pemakaian pakaian dan penyuapan makanan diadakan di dalam rumah. Sedangkan, prosesi meratakan gigi diadakan di tempat-tempat tertentu, seperti di bawah pohon yang besar atau di sebuah rumah yang telah dikosongkan sebelumnya. Upacara ini dipimpin oleh topekeho, yaitu seorang yang mempunyai keahlian khusus dalam meratakan gigi. Keahlian dalam meratakan gigi pada seorang topekeho biasanya diperoleh secara turun-temurun. Adapun pihak-pihak yang terlibat dalam upacara rakeho adalah empat orang tadulako1 yang bertugas membantu topekeho dalam melaksanakan upacara dan para anggota kerabat dari anak yang diupacarakan, seperti taoma (orang tua si anak), ompi-ompi (paman), tumpu (nenek), dan tina lolo (bibi).

Peralatan
Peralatan yang perlu dipersiapkan dalam upacara rakeho ini adalah: (1) lida (tikar); (2) luna (bantal); (3) baju; (4) celana pendek atau cawat (puruka) yang terbuat dari kulit kayu; (5) pengoaha (kikir besi); (6) air hangat; (7) putili (ketan putih); (8) parania mavau (sejenis rumput); (9) kain nunu; dan (10) sebutir telur.

Jalannya Upacara
Ketika kedua orang tua menganggap bahwa anaknya telah dewasa, maka mereka kemudian mengadakan rapat dengan para kerabat terdekat untuk menentukan penyelenggaraan upacara rakeho. Jika telah ada kesepakatan, mereka akan menemui topekeho dan pembantu-pembantunya (para tadulako) untuk memberitahukan dan sekaligus meminta topekeho untuk menjadi pemimpun upacara.

Pada hari yang telah ditentukan dan semua peserta upacara telah berkumpul di rumah anak yang diupacarakan, maka upacara pun dilaksanakan. Upacara diawali dengan pemakaian baju dan puruka (celana pendek atau cawat) yang berwarna putih pada si anak oleh topekeho. Baju dan puruka yang berwarna putih itu mengandung maka keikhlasan hati keluarga anak yang diupacarakan untuk memberikan anaknya kepada topekeho untuk dirakeho.

Setelah pemakaian cawat, kegiatan dilanjutkan dengan penyuapan makanan oleh topekeho pada si anak dengan ketan putili dan telur. Ketan putili dan telur ini mengandung makna selain permohonan kepada Tuhan atas keselamatan anak yang diupacarakan, juga merupakan simbol keikhlasan dan kebulatan hati dari keluarga untuk melaksanakan upacara. Kemudian, topekeho, para tadulako, ayah-ibu beserta sanak keluarga, membawa si anak ke sebuah tempat khusus yang sudah dipersiapkan sebelumnya untuk melaksanakan upacara rakeho. Tempat khusus tersebut dapat di bawah sebuah pohon besar atau di sebuah rumah yang telah dikosongkan sebelumnya. Setiba di tempat upacara, maka ayah-ibu serta sanak keluarga yang mengantar tadi kembali ke rumah untuk menunggu selesainya upacara rakeho ini dilaksanakan.

Setelah itu, para tadulako mulai menghamparkan tikar dan meletakkan bantal di atasnya untuk tempat tidur. Selanjutnya, kedua mata anak yang diupacarakan itu ditutup dengan kain nunu lalu ditidurkan. Sesudah anak yang diupacarakan ditidurkan dalam keadaan terlentang, maka para tadulako mulai mengambil tempat masing-masing, yakni dua orang di samping bahu kiri dan kanan si anak dan dua orang lagi di bagian kaki kiri dan kanannya. Keempat tadulako tersebut bertugas memegangi si anak agar jangan sampai menggoyangkan tubuhnya (bergerak) pada saat giginya diratakan oleh topekeho. Apabila para tadulako sudah siap pada posisinya masing-masing, maka topekeho sambil memegang pongaha (kikir), berjongkok di samping si anak. Kemudian, ia mulai membaca mantera (gane): "Ane motomoleko potumpako, ane motumpako patumoleko, Bona nemo madea ra mehuko tiroi daka kami". Artinya, bila tidur tengadah dan tengkurap, bila tidur tengkurap dan tengadah, jangan sampai banyak darah, maka lihatlah kami. Selanjutnya, topekeho memasukkan pangaha (kikir) di antara bagian gigi atas dan bagian gigi bawah. Bersamaan dengan itu para tadulako mulai memegang erat tubuh dan bagian kaki si anak. Kemudian, topekeho mulai menggosokkan kikirnya pada bagian gigi atas sampai hampir serata dengan gusi. Setelah gigi bagian atas dianggap rata, gosokan pangaha beralih pada gigi bagian bawah.

Setelah gigi dianggap rata oleh topekeho, maka si anak diberi obat berupa air hangat untuk berkumur dan parania mavau (sejenis rumput-rumputan yang baunya sangat busuk) untuk digigit-gigit. Kemudian, sambil dibopong oleh para tadulako, si anak dibawa ke rumahnya kembali untuk diserahkan kepada orang tuanya. Dengan berakhirnya tahap meratakan gigi ini, berakhirlah seluruh rentetan upacara rakeho. Sebagai catatan, orang yang baru saja melalui upacara rakeho ini tidak boleh memakan makanan yang keras dan minum air selama tiga hari. Apabila pantangan ini dilanggar, maka gusi akan membengkak dan proses kesembuhan menjadi lebih lama lagi.

Nilai Budaya
Ada beberapa nilai yang terkandung dalam upacara rakeho. Nilai-nilai itu antara lain adalah: kebersamaan, ketelitian, gotong royong, keselamatan, dan religius. Nilai kebersamaan tercermin dari berkumpulnya sebagian sanak kerabat untuk berdoa bersama demi keselamatan bersama pula. Ini adalah wujud kebersamaan dalam hidup bersama di dalam lingkungannya (dalam arti luas). Oleh karena itu, upacara ini mengandung pula nilai kebersamaan.

Nilai ketelitian tercermin dari proses upacara itu sendiri. Sebagai suatu proses, upacara memerlukan persiapan, baik sebelum upacara, pada saat prosesi, maupun sesudahnya. Persiapan-persiapan itu, tidak hanya menyangkut peralatan upacara, tetapi juga tempat, waktu, pemimpin, dan peserta. Semuanya itu harus dipersiapkan dengan baik dan seksama, sehingga upacara dapat berjalan dengan lancar. Untuk itu, dibutuhkan ketelitian.

Nilai kegotong-royongan tercermin dari keterlibatan berbagai pihak dalam penyelenggaraan upacara. Mereka saling bantu demi terlaksananya upacara. Dalam hal ini ada yang membantu menyiapkan makanan dan minuman, menjadi pemimpin upacara, membantu pemimpin upacara, dan lain sebagainya.

Nilai keselamatan tercermin dalam adanya kepercayaan bahwa peralihan kehidupan seorang individu dari satu masa ke masa yang lain penuh dengan ancaman (bahaya) dan tantangan. Untuk mengatasi krisis dalam daur kehidupan seorang manusia itu, maka perlu diadakan suatu upacara. Rakeho merupakan salah satu upacara yang bertujuan untuk mencari keselamatan pada tahap peralihan dari masa kanak-kanak menuju dewasa.

Nilai religius tercermin dalam doa atau mantra yang dilakukan oleh topekeho, pada acara perataan gigi yang merupakan bagian akhir dari serentetan tahapan dalam upacara rakeho. Tujuannya adalah agar si anak mendapatkan perlindungan dari Tuhan dan roh-roh para leluhur. (gufron)

Sumber:

1 Tadulako adalah orang yang mempunyai kekuatan sakti berdasarkan tenaga dalam yang bertugas untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan (gangguan gaib) sewaktu pelaksanaan upacara.

Sistem Kepercayaan Masyarakat Cina

Pada dasarnya pandangan berpikir orang Cina selalu mengembalikan hakekat keharmonisan antara kehidupan “langit” (alam gaib) dan kehidupan di bumi (alam dunia nyata). Mereka percaya bahwa alam semesta ini sebagai akibat dari inkarnasi kekuatan alam. Alam dikuasai oleh spirit-spirit yang kekuatannya luar biasa. Alam semesta semata-mata hanyalah ekspresi dari kekuatan-kekuatan alam yang dipengaruhi oleh spirit-spirit yang mendiami alam. Beberapa spirit itu berada dan hidup di dalam fenomena-fenomena alam seperti langit, matahari, tanah, air, tumbuh-tumbuhan, gunung, serta fenomena-fenomena alam lainnya. Di antara spirit-spirit alam itu adalah spirit yang berasal dari arwah leluhur yang kekuatan hidupnya sangat besar, sekeluarga dapat melanjutkan kekekalan hidupnya setelah jasad jasmaniahnya mati.

Menurut dasar pikiran orang Cina, seluruh fenomena alam itu dapat dibagi dua klasifikasi yaitu yang dan yin. “Yang” merupakan prinsip dasar untuk laki-laki, matahari, arah selatan, panasnya cahaya (siang), dan segala yang termasuk keaktifan, sedangkan “yin” adalah suatu prinsip seperti: wanita, bulan, arah utara, dingin, gelap (malam), dan segala yang bersifat pasif. Orang Cina beranggapan bahwa manusia harus dapat menyesuaikan diri dengan ritme alam semesta. kehidupan harus harmonis dengan tiga dasar yaitu: kehidupan langit, bumi, dan kehidupan manusia itu sendiri. Di samping itu harus disesuaikan pula dengan fengsui yang berarti angin dan air. Penyesuaian itu berarti hidup manusia itu harus disesuaikan dengan arah angin dan keadaan air di mana manusia bertempat tinggal. Tiap bangunan yang dipergunakan harus pula disesuaikan dengan keadaan fengsui, sehingga akan terhindar dari segala malapetaka.

Kedua prinsip yin dan yang ini merupakan nafas dan kekuatan yang dilambangkan dalam bentuk lingkaran yang dibagi dalam dua bagian dengan garis yang saling melingkar yang memisahkan yang dan ying. Bulatan melambangkan prinsip alam semesta, dimana alam semesta ini terwujud oleh karena kedua prinsip kesatuan antara yang dan yin. “Yang” merupakan daya cipta suatu sifat Tuhan yang memberi gerakan dan hidup kepada sesuatu. “Yin” bersifat bahan atau zat yang diberi kemampuan menerima “yang”, sehingga terjadilah hidup dan bergerak. Dengan kata lain, “yang” bersifat memberi dan memperbanyak, sedangkan “yin” bersifat menerima dan menyimpan. Adanya kesatuan hidup ini terjelmalah fenomena alam semesta seperti: air, kayu, bumi, dan makhluk hidup di dalamnya. Penciptaan dan pergerakan kesatuan yang dan yin tunduk dan mengikuti hukum tata kehidupan alam semesta, sehingga dengan demikian bergerak dengan teratur dan berirama. Ritme ini mengisi dan mengatur setiap ruangan di alam semesta ini seperti jalannya matahari, bintang, bulan, pergantian musim, dan lain-lain. Ritme ini disebut tao yaitu bagaimana sesuatu di dunia itu dijadikan dan jalan bagaimana orang harus mengatur hidup. Tao adalah jalan Tuhan. Dasar demikian inilah yang selanjutnya menimbulkan paham Taoisme.

Dalam kehidupan orang Cina, ada tiga ajaran yang mereka anut yaitu Toisme, Konfusianisme, dan Buddha. Ketiga ajaran ini sudah saling menyatu (sinkretisme) dan dikenal dengan nama San Jiao atau Sam Kauw (dialek Hokkian). Dalam kehidupannya, orang Cina memang sangat toleran terhadap soal-soal agama. Setiap agama dianggap baik dan bermanfaat, begitu pula dengan ajaran Taoisme, Konfusianisme, dan Buddha yang mempunyai banyak kesamaan-kesamaan pandangan dan saling membutuhkan sehingga ketiga ajaran tersebut berpadu menjadi satu.

Toisme
Taoisme merupakan ajaran pertama bagi orang Cina yang dikemukakan Laotze. Ia dilahirkan di Provinsi Hunan pada tahun 604 SM. Dikisahkan, Laotze merasa amat kecewa akan kehidupan dunia, sehingga ia memutuskan untuk pergi mengasingkan diri dengan tidak mencampuri urusan keduniawian. Ia kemudian menulis kitab Tao Te Ching yang kelak menjadi dasar pandangan ajaran Taoisme. Tao berarti “jalan” dan dalam arti luas yaitu realitas absolut, yang tidak terselami, dasar penyebab, dan akal budi. Kitab Tao Te Ching memuat ajaran bahwa seharusnya manusia mengikuti geraknya (hukum alam) yaitu dengan menilik kesederhanaan hukum alam. Dengan Tao manusia dapat menghindarkan diri dari segala keadaan yang bertentangan dengan irama alam semesta. Taoisme diakui sebagai suatu pre-sistematik berpikir terbesar di dunia yang telah mempengaruhi cara berpikir orang Cina.

Haryono (1994), menyimpulkan bahwa pada dasarnya filsafat Taoisme dibangun dengan tiga kata, yaitu:
  1. Tao Te, “tao” adalah kebenaran, hukum alam, sedangkan “te” adalah kebajikan. Jadi Tao Te berarti hukum alam yang merupakan irama dan kaidah yang mengatur bagaimana seharusnya manusia menata hidupnya.
  2. Tzu-Yan artinya wajar. Manusia seharusnya hidup secara wajar, selaras dengan cara bekerja sama dengan alam.
  3. Wu-Wei berati tidak campur tangan dengan alam. Manusia tidak boleh mengubah apa yang sudah diatur oleh alam.
Pada zaman pertengahan dinasti Han muncul seorang yang bernama Zhang Dao-ling, yang juga menulis kitab Tao. Ia juga menyembuhkan orang sakit, membuat jimat sehingga banyak orang yang kemudian menjadi pengikutnya. Begitu besar pengaruhnya hingga pada akhirnya ajaran-ajarannya menjadi dasar dari agama Tao yang kemudian disebut Tao-Jiao. Di dalam penerapannya, aliran mereka berbeda dengan ajaran Tao yang dilontarkan oleh Laotze. Jika Laotze mengajarkan hidup selaras dengan alam, Tao-Jiao justru mengajarkan upaya untuk menentang kehendak alam. Usaha ini mereka lakukan dengan jalan melakukan tapa untuk hidup abadi, membuat jimat-jimat dan kias guna menolak pengaruh jahat, sakit, penyakit, dan sebagainya (Setiawan, dkk, 1982: 156-157). Dalam prakteknya, perwujudan ajaran Tao-Jiao antara lain berupa atraksi-atraksi seperti berjalan di atas bara api, memotong lidah, dan perayaan-perayaan tertentu.

Konfusianisme
Konfusianisme atau Konghuchu mulai dikenal di Cina melalui pemikiran-pemikirannya yang cemerlang yang dilontarkan pada zaman Chou Timur (770-221 SM). Konghuchu lahir pada tahun 551 SM berasal dari kota Lu, Provinsi Shandong. Pada masa itu dinasti Chou tengah kehilangan kendali terhadap para tuan tanah yang menempati hampir setengah bagian dari wilayah Cina. Konghuchu dibesarkan oleh ibunya karena ia sudah kehilangan ayahnya ketika masih berusia tiga tahun. Ketika dewasa dan bekerja sebagai pegawai di kuil bangsawan Zhou, ia mengikuti semua detail-detail yang terdapat dalam perayaan yang akhirnya menjadikannya sebagai seorang yang ahli dalam ritual agama kuno.

Konfusianisme adalah humanisme, tujuan yang hendak dicapai adalah kesejahteraan manusia dalam hubungan yang harmonis dengan masyarakatnya. Kodrat manusia menurut konfusius adalah “pemberian langit”, yang berarti bahwa dalam hal tertentu ia berada di luar piliham manusia. Kesempurnaan manusia terletak dalam pemenuhannya sebagai manusia yang seharusnya. Moralitas merupakan realisasi dari rancangan yang ada dalam manusia. Oleh karena itu, tujuan manusia yang paling tinggi adalah menemukan petunjuk sentral bagi moral yang mempersatukan manusia dengan seluruh isi alam semesta. Bagi Konfusius, manusia adalah baian dari konstitutif dai seluruh isi alam semesta. Manusia harus berhubungan secara indah dan harmonis dengan harmoni alam di luarnya. Ungkapan yang paling terkenal yang merupakan inti ajarannya yaitu tidak berbuat kepada orang lain apa yang dia tidak sukai orang lain perbuatan pada dirinya. Secara praktis ajaran Konfusius dapat disimpulkan menjadi tiga pokok yaitu:

1. Pemujaan terhadap Tuhan (Thian)
Konfusius mengajarkan keyakinan kepada pengikutnya bahwa Thian atau Tuhan menjadi awal atas sumber kesadaran alam semesta dan segalanya. Ia menekankan bahwa amat perlu untuk melakukan sembahyang korban terhadap Thian. Pengertian Tuhan dalam kepercayaan Tionghoa sebenarnya juga tidak berbeda dengan agama-agama yang lain yaitu sebagai pencipta alam semesta dan segala isinya. Dalam kepercayaan kalangan rakyat, Tuhan biasanya disebut sebagai Thian atau Shangdi atau Siang Te (dialek Hokkian). Thian adalah penguasa tertinggi alam semesta ini. Karena itu, kedudukan-Nya berada di tempat yang paling agung, sedangkan para dewa dan malaikat yang lain adalah para pembantunya dalam menjalankan roda pemerintahan di alam semesta ini, sesuai dengan fungsinya masing-masing. Di dalam sistem pemerintahan ini, merupakan cerminan dari prinsip Yin dan Yang, yang diwujudkan dalam bentuk pemerintahan di dunia dan pemerintahan surga yang dilakukan oleh para dewa yang dipuncaki oleh Shangdi. Rakyat percaya pemerintahan surga memiliki struktur yang sama dengan pemerintahan dunia. Kalau pemerintahan dunia terdiri dari kaisar, para keluarganya, perdana menteri, menteri-menteri sipil dan militer, dan lain sebagainya, maka pemerintahan surga pun dipimpin oleh Shangdi dan dibantu para dewa-dewa baik sipil maupun militer untuk mengatur tata tertib di alam semesta ini. Sebab inilah maka para kaisar (hung-di) yang di bumi merasa perlu untuk memuja Shangdi (yang berkedudukan di atas) untuk memohon perlindungan dan berkah serta petunjuk-petunjuk untuk menjalankan roda pemerintahan di mayapada ini agar selalu selaras dengan kehendak Shangdi (Shang=di atas, di=tanah).

2. Pemujaan terhadap leluhur
Pemujaan terhadap leluhur adalah menolong seseorang untuk mengingat kembali asal-usulnya. Di sini asal mula manusia adalah dari leluhurnya. Upacara pemujaan terhadap leluhur di sini diperlukan sesaji. Sebagian besar aktifitas rumah tangga dalam keluarga Cina selalu berhubungan dengan roh leluhur. Salah satu fungsi utama dalam keluarga adalah melakasanakan pemujaan terhadap leluhur. Pemujaan leluhur dipandang sebagai perwujudan dari bakti anak terhadap orang tua dan leluhurnya (Xiao). Pelaksanaan upacara pemujaan leluhur dalam keluarga dipimpin oleh ayah sebagai kepala keluarga. Keluarga Cina menganut garus keturunan dari pihak ayah atau disebut patrilineal. Garis keturunan sangat penting bagi mereka guna menjaga kelangsungan keluarga. Oleh karena itu, anak laki-laki sangat penting untuk meneruskan garis keturunan.

3. Penghormatan terhadap Konfusius
Bagi orang Cina merupakan kewajiban mereka untuk menghormati Konghuchu yang mereka anggap sebagai guru besar seperti halnya penghormatan terhadap orang tua. Konghuchu dianggap telah berjasa dalam mengajarkan dasar-dasar ajaran moral yang sampai sekarang masih terus diterapkan. Filsafatnya yang pada akhirnya menyatu dengan kehidupan masyarakat Cina membuat secara keseluruhan ajaran Konfusius lebih banyak ditujukan kepada manusia sebagai makhluk hidup.

Buddhisme
Agama Buddha sudah menjadi bagian dari filosofi Cina selama hampir 2000 tahun. Meskipun Buddha bukanlah merupakan agama asli, melainkan pengaruh dari India, tetapi ajaran Buddha mempunyai pengaruh yang cukup berarti pada kehidupan orang Cina. Tema pokok ajaram agama Buddha adalah bagaimana menghindarkan manusia dari penderitaan (samsara). Kejahatan adalah pangkal penderitaan. Manusia yang lemah, tidak berpengetahuan (akan Buddhisme) akan sangat mudah terkena kejahatan dan sulit untuk membebaskan diri dari penderitaan.

Pendiri agama Buddha adalah Sidharta Gautama. Ia dilahirkan dari keluarga bangsawan di India. Sewaktu kecil, ayahnya menjauhkan Sidharta dari segala macam bentuk penderitaan dunia, sampai pada suatu hari secara tidak sengaja ia melihat orang-orang yang selama ini belum dilihatnya yaitu orang-orang tua, seorang yang sakit dan yang meninggal. Kenyataan tersebut membuatnya kemudian meninggalkan istana dan bertapa di bawah pohon bodhi. Setelah bertapa selama enam tahun akhirnya ia memperoleh pencerahan dengan menemukan obat penawar bagi penderitaan, jalan keluar dari lingkaran tanpa akhir yaitu melalui kelahiran kembali kepada suatu jalan menuju Nirwana. Jalan ini yang kemudian dikenal juga sebagai inti dari ajaran Buddha.

Buddhisme masuk ke Cina kira-kira abad 3 Masehi, pada masa pemerintahan dinasti Han. Buddhisme selanjutnya mengalami perkembangan sendiri di negara tersebut. Ajarannya di Cina mendapat pengaruh dari kepercayaan yang sudah ada sebelumnya yaitu Taoisme dan Konfusiansianisme. Hal yang paling kentara dari percampuran ini ialah dengan munculnya sekte Shan, yang juga muncul di Jepang dengan nama Zen yang merupakan Buddhisme India bercorak Taoisme Cina. Wujud dari agama ini adalah timbulnya versi-versi signifikan dari dewata-dewata buddha, seperti Avalokitecvara, Maitreya, dan sebagainya. Avalokitecvara berubah menjadi Dewi Welas Asih (Guan Yin atau Kwan Im). Dewi ini sangat populer sekali di kalangan orang Cina, tempat orang memohon pertolongan dalam kesukaran, memohon keturunannya, dan lain sebagainya. Kwan Im dalam penampilannya mempunyai 33 wujud, diantaranya yang paling populer adalah Kwan Im berbaju putih, Kwan Im membawa botol air suci, dan Kwan Im bertangan seribu. Dalam Avalokitecvara, Maitreya juga mempunyai wujud lain di Cina yaitu Mi le fo, seorang yang bertubuh gemuk dan raut muka yang selalu tertawa. Dewa ini dikenal sebagai dewa pengobatan.

Selain dewata-dewata Buddhis, di dalam sistem kepercayaan rakyat Cina mengenal tiga penggolongan utama dewata, yaitu:
  1. Dewata penguasa alam semesta yang mempunyai wilayah kekuasaan di langit. Para dewata golongan ini dipimpin oleh dewata tertinggi yaitu Yu Huang Da Di, Yuan Shi Tian Sun, dan termasuk di dalamnya antara lain dewa-dewa bintang, dewa kilat, dan dewa angin.
  2. Dewata penguasa bumi yang memiliki kekuasaan di bumi, walau sebetulnya mereka termasuk malaikat langit. Kekuasaan mereka adalah dunia dan manusia, termasuk akhirat. Mereka dikatakan sebagai para dewata yang menguasai Wu-Xing (lima unsur), yaitu: (a) kayu (dewa hutan, dewa kutub, dan lain sebagainya); (b) api (dewa api, dewa dapur); (c) logam (dewata penguasa kekayaan dalam bumi); (d) air (dewa sumur, dewa sungai, dewa laut, dewa hujan, dan lain sebagainya); (e) tanah (dewa bumi, dewa gunung, penguasa akhirat, dewa pelindung kota, dan lain sebagainya)
  3. Dewata penguasa manusia, yaitu para dewata yang mengurus soal-soal yang bersangkutan dengan kehidupan manusia seperti kelahiran, perjodohan, kematian, usia, rezeki, kekayaan, kepangkatan dan lain sebagainya. Termasuk dalam golongan dewata penguasa manusia ini adalah para dewata pelindung usaha pertokoan, dewata pengobatan, dewata pelindung, dan peternakan ulat sutra. Di samping itu, terdapat dewata-dewata kedaerahan yang menjadi pelindung masyarakat yang berasal dari daerah yang sama.
Sumber:
Supardi, Nunus, dkk,. 2000. Kelenteng Kuno di DKI Jakarta dan Jawa Barat. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

Mystique Feminine Wipes

By: Karen Stephens

Perhaps one of the most difficult problems that women deal with is vaginal odor and discomfort. Many things, from menses, hygiene, life style, stress, exercise, and hormones; to diet and harsh cleansing products, can upset the delicate feminine system and cause embarrassing odor. Feminine odor, regardless of the cause, creates problems that extend beyond the physical aspects of the issue.

Women who are subject to embarrassing vaginal odor understandably find themselves worrying about the social and psychological aspects of the problem. It is difficult to feel personally confident during social interactions or in intimate situations when unpleasant odors get in the way. Even if these odors are not noticeable to others, their mere presence is enough to destroy a woman’s self-image. Not exactly the topic of casual conversation, many women are unsure of what to do to resolve the problem and which products are not only effective, but safe.

There are numerous products on the market developed specially to stop vaginal odor but these products fail to inform women how their use can likely make the problem worse or create an altogether new problem. The artificial ingredients contained in the majority of these products can upset the balance that a woman’s body maintains and can actually promote more discomfort, making what is obviously an uncomfortable situation, even worse.

Most feminine products such as wipes, creams, and douches, are formulated only to deal with the problem at hand – the immediate odor. Remember, most commercial products are designed to mask odor, not eliminate it. But, even worse, the ingredients within the products may actually aggravate the condition, forcing women to switch to other brands and products in order to find one that really works. While it’s always a relief to…well…get relief, the additional problems created by products that contain artificial fragrances, deodorants, detergents, and other chemical ingredients aren’t worth the price of the product.

Mystique Feminine Wipes are a new and unique product that provides more than temporary relief; a breakthrough in feminine hygiene application. This product provides what no other product currently on the market can match; a solution to the problem of feminine odor with a natural and healthy formula. These wipes were created by a gynecologist after extensive research and have been designed to alleviate the immediate issue without creating other problems. All natural ingredients in Mystique Feminine Wipes have been carefully selected to work with the delicate balance of a woman’s body.

Instead of temporarily masking feminine odor and discomfort, Mystique Feminine Wipes gently eliminate both problems while promoting feminine health. Imagine regaining personal confidence and promoting a positive body image with one product. These conveniently packaged and discreet wipes eliminate odor safely and effectively providing lasting freshness and confidence anytime, anywhere.

Source:
http://www.articlecompilation.com
http://www.MystiqueWipes.com

Kuah Sate Ikan

Bahan
1 buah kelapa
½ ons Eby
Bumbu
3 siung bawang merah
2 siung bawang putih
Jahe, laos secukupnya
Daun salam 3 lembar
A batang serai
Kunyit seckupnya
1 sendok teh garam

Cara membuat
Kelapa dijadikan santan sebanyak 4 gelas. Bumbu-bumbu dihaluskan, kecuali serai dan daum salam. Masak santan sampai mendidih, setelah itu masukkan bumbu tadi, lalu masukan Eby. Setelah masak, dihidangkan, ditaburi dengan bawang goreng.

Kue Lumpang

Bahan
200 gr tepung beras
225 cc air dingin
250 gr gula merah
2 sendok makan gula pasir
½ butir kelapa agak muda
Santan dari ½ butir kelapa
Garam secukupnya

Cara membuat
Campurkan tepung beras dengan air dingin, lalu aduk sampai rata. Kelapa dijadikan santan kental lalu dimasak sampai mendidih. Gula merah tambah gula pasir dimasak dengan sedikit air lalu saring. Campurkan adonan tepung tadi dengan gula dan santan lalu aduk rata kemudian disaring dengan tapisan atau kain jarang. Panaskan cetakan yang telah diberi minyak lalu masukkan adonan tersebut dikukus sampai masak. Dihidangkan dengan kelapa parut yang telah diberi sedikit garam. Siap untuk dinikmati.

Ki Penganjang (Cerita Rakyat Indramayu)

Ringkasan cerita
Alkisah, ada seorang pemuda yang sedang menyambit rumput di wilayah Sindang. Ketika ia sedang asyik-asyiknya menyabit rumput turun hujan gerimis. Tidak lama kemudian terlihat ada pelangi. Sang penyabit rumput melihat ujung pelangi jatuh di sebuah sumur milik masyarakat setempat. Merasa heran, pemuda tadi mendekati sumur, namun ia tertegun karena di sumur tersebut ada tujuh orang bidadari yang sedang mandi.

Saat ia memperhatikan ketujuh bidadari yang cantik jelita tersebut, terbersit di dalam hatinya untuk mempermainkan salah seorang bidadari. Ia mengambil salah satu baju yang disimpan tidak jauh dari sumur. Setelah merasa cukup bersenang-senang mandi, pada bidadari hendak pergi ke tempat asalnya, kayangan. Setelah mengenakan pakaian, ternyata masih ada salah seorang bidadari masih sibuk mencari pakaiannya. Namun, karena teman-temannya sudah tidak sabar menunggu, akhirnya ia berkata, “Tinggalkan saja aku di sini, nanti jika pakaiannya sudah ketemu akan menyusul”. Setelah lelah mencari sampai sore hari pakaiannya tidak juga ketemu, ia terduduk lesu di tepi sumur. Melihat bidadari sedang duduk sendirian, sang pemuda yang mencuri pakaiannya menghampir, seraya berkata, “Adik sedang apa? Sekarang sudah menjelang malam mari beristirahat di rumahku.”

Singkat cerita, akhirnya kedua makhluk tadi menikah dan dikaruniai seorang putera. Pada saat memasak untuk keluarganya, ada suatu keanehan yang biasa dilakukan oleh sang Bidadari. Ia hanya mengambil beberapa butir padi kemudian disimpan di dalam wajan. Tidak lama kemudian wajan dibuka dan padi sudah berubah menjadi nasi. Begitu yang dilakukan bidadari setiap ia menanak nasi.

Suatu hari sang Bidadari hendak berangkat ke suatu tempat, maka ia berpesan kepada suaminya agar menjaga padi yang sedang dimasak di dalam wajan dan jangan sesekali membuka wajan tersebut. Namun setelah keberangkatan isterinya, sang suami penasaran ingin membuka wajan tersebut, ketika dibuka terlihat butiran padi. Ketika isterinya pulang, ia langsung membuka wajan dan dilihatnya hanya butiran padi. Maka ia berkata dalam hatinya bahwa suaminya telah melanggar janji untuk tidak membuka wajan. Mulai saat itu, sang bidadari harus menanak nasi seperti sekarang.

Suatu ketika pada saat sang bidadari sedang mengambil padi di lumbung, ia menemkan pakaiannya. Maka terbanglah ke kayangan. Suaminya mondar-mandir mencari isterinya karena anaknya ingin menyusui. Maka terdengarlah suara bahwa saat ini ia sudah kembali ke kayangan dan jika anaknya ingin menyusui simpan saja di suatu tempat yang aak tinggi, nanti dia akan ke sana dan setelah menyusui akan kembali ke kayangan lagi.

Sumber:
Surnama, Yuzar, dkk,. 2004. Budaya Tradisional pada Masyarakat Indramayu. Bandung: Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung.

Permainan Maggalenceng (Sulawesi Selatan)

Asal Usul
Maggalenceng adalah salah satu permainan yang ada di kalangan orang Bugis. Permainan ini dahulu dianggap sakral karena hanya dimainkan pada saat ada kematian. Dengan perkataan lain, permainan ini tidak boleh dilakukan di sembarang waktu karena dapat mendatangkan kematian bagi anggota keluarga si pemain. Oleh karena itu, para orang tua melarang siapa saja yang memainkan permainan ini pada saat yang tidak tepat (bukan saat-saat ada kematian).

Penyelenggara permainan ini adalah pihak keluarga yang berkabung. Lama dan singkatnya penyelenggaraan permainan ini bergantung pada status sosial orang keluarga yang meninggal. Dalam konteks ini jika orang yang meninggalkan adalah orang kebanyakan, maka penyelenggaraan permainan hanya dilakukan dalam waktu 7 hari (berturut-turut dan dilakukan pada malam sampai menjelang pagi hari). Namun, jika orang yang meninggal mempunyai status sosial yang tinggi di dalam masyarakatnya (kaum bangsawan), maka permainan biasanya akan diselenggarakan selama 40--100 hari.

Kesakralan permainan yang sebenarnya hanya untuk berjaga-jaga agar tidak mengantuk dan sekaligus menghibur anggota keluarga yang meninggal itu berangsur-angsur memudar sejak datangnya agama Islam yang dibawa oleh Abdul Makmur dari Minangkabau (Sumatera Barat) pada abad ke-16 (www.wikipedia.org). Dewasa ini tidak ada lagi kesakralannya. Malahan, fungsinya berubah menjadi suatu permainan muda-mudi. Melalui permainan ini remaja yang berlainan jenis itu saling merajuk dan atau mengungkapkan isi hatinya.dengan nyanyian yang berupa syair. Syair itu antara lain adalah sebagai berikut:

Addara-dara teduce
Anggalacang tasitembak
Manna taduce
Naduceanji kalenna
Manna tatette
Natettekanji kalenna

Artinya:
Bermain dara-dara tidak pernah salah
Bermain galaceng tidak saling mengalahkan
Walau tidak kalah
Dia mengalahkan dirinya
Meskipun tidak menang
Dia memenangkan dirinya

Laka-kelamaan para pemuda menganggap bahwa permainan ini kurang menantang karena tidak perlu mengeluarkan tenaga dan fisik yang kuat, sehingga jarang pemuda ikut dalam permainan ini.

Pemain
Permainan maggalenceng dapat dilakukan oleh anak-anak dan orang dewasa laki-laki maupun perempuan. Namun, saat ini, secara umum maggalenceng dimainkan oleh kaum perempuan, terutama anak-anak yang berusia 6--12 tahun. Kaum laki-laki sangat jarang memainkannya. Jumlah pemain tergantung dari jumlah papan maggalenceng yang tersedia. Untuk satu papan permainan hanya dapat dimainkan oleh dua orang.

Tempat Permainan
Dahulu maggalenceng hanya dimainkan di teras atau beranda rumah orang yang baru saja meninggal dunia. Namun, sekarang ini dapat dimainkan di mana saja dan kapan saja karena tidak memerlukan tempat yang khusus. Jadi, bisa di dalam rumah, di beranda rumah, atau di balai-balai rumah adat (bisa pagi, siang, sore, atau malam hari).

Peralatan Permainan
Peralatan yang digunakan dalam permainan adalah aggalancengngeng yang terbuat dari kayu yang tebalnya kurang lebih 10 cm, lebar 20 cm dan panjang 50 cm. Kayu tersebut diberi lubang-lubang (bundar) dengan kedalaman kurang lebih 5 cm. Jumlah lubang seluruhnya adalah 12 buah, dengan rincian 10 lubang dibuat dua jejer (masing-masing jejer 5 lubang), kemudian dua lubang yang agak besar di setiap ujungnya (aggalancengngeng). Selain aggalancengngeng, permainan ini juga menggunakan biji-biji buah pohon asam atau kerikil yang jumlahnya antara 50--70 biji untuk mengisi lubang yang tersedia. Biji-biji tersebut nantinya dibagi menjadi dua untuk masing-masing pemain.

Aturan Permainan
Ada empat cara yang dikenal oleh orang Bugis-Makassar dalam permainan ini. Pertama, mabbetta, yaitu jika biji yang terakhir kena lubang yang kosong di daerahnya sendiri, sementara lubang lawan di depannya berisi maka bijinya diambil sebagai kemenangan pihak lawan. Kedua, maddappeng, yaitu apabila biji persis habis pada lubang lawan yang berisi tiga biji, maka bijinya diambil sebagai kemenangan lawan. Ketiga, gabungan dari mabbetta dan maddappeng. Dan, keempat sigappae, yaitu masing-masing ulu tidak diisi tetapi digunakan sebagai tempat biji kemenangan.

Jalannya Permainan
Jalannya permainan dimulai dengan memasukkan biji-biji ke dalam lubang-lubang yang ada di dalam papan permainan (aggalancengngeng), kecuali dua buah lubang besar saja yang berada di ujung aggalancengngeng. Kedua lubang ini tidak boleh diisi. Jumlah biji pada setiap lubang adalah sama. Jika jumlah seluruh biji yang disepakati adalah 70 biji, maka setiap lubang akan diisi oleh 7 biji. Kemudian salah satu pemain yang mendapat kesempatan pertama akan mengambil semua biji dari lubang paling ujung yang ada di daerahnya sendiri. Biji-biji tersebut kemudian akan diedarkan satu persatu dengan arah yang berlawanan jarum jam ke setiap lubang yang ada di papan permainan, kecuali satu lubang besar di ujung papan yang menjadi “milik” lawan. Apabila biji masuk ke lubang yang paling besar (miliknya sendiri), maka biji tersebut merupakan nilai bagi pemain yang bersangkutan. Namun, jika biji yang terakhir jatuh ke lubang yang masih ada bijinya, maka pemain mengambil biji-biji tersebut untuk diedarkan kembali. Demikian seterusnya hingga suatu saat biji terakhir jatuh pada lubang yang kosong. Jika itu terjadi, maka pemain yang lain (lawan mainnya) akan menggantikannya. Permainan akan berlangsung terus hingga biji-biji yang berada di lubang-lubang kecil seluruhnya masuk ke dua buah lubang besar di ujung papan permainan milik kedua pemain. Bagi pemain yang mendapatkan biji terbanyak akan menjadi pemenangnya.

Nilai Budaya
Nilai yang terkandung dalam permainan maggalenceng adalah kecermatan dan sportivitas. Nilai kecermatan tercermin dari perlunya perhitungan yang pas agar biji-biji yang akan dijatuhkan tidak mengenai lubang yang kosong sehingga dapat terus bermain dan mengumpulkan nilai sebanyak-banyaknya. Nilai sportivitas tercermin tidak hanya dari sikap para pemain yang tidak berbuat curang saat berlangsungnya permainan, tetapi juga mau menerima kekalahan dengan lapang dada. (pepeng)

Sumber:
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1980. Permainan Rakyat Suku Bugis Makasar di Sulawesi Selatan. Ujung Pandang: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
http://ms.wikipedia.org/

Permainan Ngadu Domba (Jawa Barat)


1. Pendahuluan
Ngadu domba adalah suatu istilah dalam bahasa Sunda yang digunakan untuk menamakan suatu permainan. Istilah ini berasal dari dua kata, yaitu “ngadu” dan “domba”. “Ngadu” berasal dari kata dasar “adu” yang mengalami proses nasalisasi menjadi “ngadu”. Artinya, “memperlagakan” atau “mempertarungkan” (Priarna, dkk; 1993: 16). Dengan demikian, ngadu domba berarti mempertarungkan atau memperlagakan antardomba (domba melawan domba). Dilihat dari sudut folklor1), ngadu domba dapat dikategorikan sebagai permainan rakyat2).

Istilah ngadu domba merupakan sebuatan masyarakat umum, sedangkan di kalangan penggemar domba aduan sendiri dahulu dikenal istilah lain, yaitu ngaben dan pamidangan. Kata ngaben berasal dari kata aben yang artinya “adu”. Kata tersebut mengalami proses nasalisasi menjadi “ngaben” yang artinya sama dengan kata “ngadu”. Karena pada praktiknya ngaben cenderung mengarah pada “perjudian” yang sering menimbulkan perkelahian antarpemilik ataupun penonton, maka nama tersebut diubah menjadi pamidangan yang berasal dari kata “pidang” artinya “tampil”. Kemudian kata tersebut mendapat sisipan “am” menjadi pamidangan yang bermakna tempat. Jadi, pamidangan berarti “menampilkan” atau “tempat penampilan”. Istilah tersebut dipakai hingga sekarang. Istilah pamidangan cenderung ke arah bisnis sebab permainan ini semata-mata dilakukan untuk mempromosikan dan meningkatkan harga jual domba aduan sehingga penjualan domba tidak berdasarkan besar-kecilnya domba, namun ditentukan oleh nilai-nilai keindahan domba, baik tanduk, bulu maupun keindahan gerak otonya saat bertanding.

Munculnya permainan ngadu domba belum diketahui secara pasti. Namun apabila didasarkan pada rangkaian peristiwa asal-usul domba aduan yang konon berasal dari Kampung Cibuluh, Garut, diperkirakan permainan ngadu domba dimulai sekitar tahun 1931-1932. Waktu itu penyelenggaraan dilaksanakan di lapangan Bunisari yang terletak di Kampung Cibuluh. Selang beberapa lama, pindah ke lapangan Babakan kemudian ke sebuah lapangan yang sekarang menjadi lapangan Kostrad.

Penyebaran permainan ini dimulai sejak pertama kali diadakan ngaben. Penyebarannya terjadi secara tidak langsung melalui penonton yang menyaksikan permainan tersebut dan menceritakannya kepada orang-orang di daerahnya sehingga permainan ini dikenal lebih luas hingga akhirnya ngadu domba tidak hanya dikenal di Garut saja, melainkan hampir di seluruh wilayah Jawa Barat.

Perkembangan permainan ngadu domba dapat dilihat dalam dua periode, yaitu periode pertama tahun 1931-1969 (ketika masih memakai nama ngaben) dan periode kedua sejak tahun 1970 hingga sekarang, dengan nama pamidangan. Pergantian nama tersebut disesuaikan dengan tujuan dan peraturan permainan yang telah disempurnakan. Kalau ngaben dalam prakteknya mengarah kepada hal negatif (perjudian), maka dalam pamidangan tidak lagi tendensi ke arah perjudian, melainkan hiburan rakyat. Namun selanjutnya, seiring dengan munculnya nilai-nilai baru yang terjadi dalam masyarakat pendukungnya, tujuan permainan tidak lagi sekadar penyalur kesenangan, tetapi juga dijadikan sebagai ajang adu prestasi dan gengsi para pesertanya.

Penyelenggaraan permainan ngadu domba atau Pamidangan diadakan seminggu sekali, yaitu pada setiap hari Minggu. Apabila bertepatan dengan hari-hari besar seperti 17 Agustus, penyelenggaraannya lebih meriah dan semarak. Namun, pada hari-hari besar keagamaan, seperti Idul Fitri, Idul Adha, Natal, dan Nyepi tidak ada penyelenggaraan. Selain itu, apabila turun hujan, permainan ditiadakan untuk menjaga kesehatan domba. Biasanya acara itu dimulai sekitar pukul 08.00 sampai dengan 16.00 WIB, atau bergantung pada jumlah domba yang dipertandingkan.

2. Pihak-pihak yang Terlibat dalam Penyelenggaraan Ngadu Domba
Ngadu domba adalah salah jenis permainan rakyat yang banyak melibatkan berbagai pihak. Pihak-pihak lain yang terkait dalam penyelenggaraan permainan ngadu domba adalah: (1) pemilik domba aduan; (2) Dinas Peternakan yang bertugas menangani domba saat mengalami cidera. Selain itu, memberikan pengarahan kepada masyarakat yang merasa keberatan dengan terselenggaranya permainan tersebut, sebab belum mengerti tujuan sebenarnya dari permainan tersebut; (4) aparat pemerintahan desa yang mencakup Kepala Desa (Kades) sebagai pelindung, Kepala Urusan Pembangunan (Kaur) sebagai pembina dan dibantu staf lainnya; (5) wasit dan pendamping. Wasit dan pendamping selama berada di lapangan menggunakan pakaian berwarna hitam seperti kostum para pesilat dan memakai ikat kepala barangbang semplak dengan motif belang-belang hitam putih. Untuk menjadi wasit dan pendamping bukan merupakan suatu hal yang mudah, karena harus memiliki syarat-syarat tertentu.

Syarat-syarat selaku wasit adalah: (1) harus menguasai beladiri pencak silat, sebab seorang wasit dituntut untuk dapat mengamankan situasi saat terjadi kericuhan, misalnya bila ada penonton yang mengamuk karena domba unggulannya kalah; (2) harus mengetahui kondisi domba yang layak untuk melanjutkan pertarungan; (3) bertindak tegas terhadap peristiwa-peristiwa yang akan mengganggu jalannya permainan; (4) bisa menyuruh pemilik domba yang kalah untuk menari (ngengklak) agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan; dan (5) dapat menguasai emosi penonton.

Sedangkan syarat-syarat untuk menjadi pendamping adalah: (1) harus menguasai seni beladiri pencak silat yang digunakan apabila pertarungan sedang berlangsung seru untuk menambah semaraknya suasana; (2) memiliki kemampuan mengurus atau mengobati domba apabila domba yang didampinginya mengalami kecelakaan, seperti terkilir, agar di bisa mengurut atau memijatnya sebab fungsi pendamping sekaligus sebagai bobotoh; (3) pendamping tidak harus panitia, tetapi panitia menyediakan apabila pemilik domba tidak mempunyai bobotoh; dan (4) pendaping dapat menari (ngengklak) dalam gerak kocak yang berguna untuk meramaikan suasana agar meriah dan penuh gelak tawa.

3. Tempat Permainan
Suatu permainan, apa pun jenis dan namanya, selalu memerlukan sarana. Ngadu domba pun tidak lepas dari itu, ia membutuhkan arena sebagai tempat untuk memperlagakan atau mempertarungkan binatang-binatang yang diadukan (domba). Penyelenggaraan permainan ngadu domba dilakukan di tempat terbuka, yaitu di lapangan pamidangan, baik yang berumput maupun tidak.

Secara garis besar, lapangan pamidangan terdiri atas tiga bagian. Pertama, arena ngadu domba yang berukuran standar 20 m x 20 m dengan dua buah pintu serta sekelilingnya dipagari pembatas (galar). Kedua, podium atau panggung yang berfungsi sebagai tempat penabuh kendang pencah (nayaga) dan sekaligus sebagai meja panitia. Ketiga, lapangan di luar arena yang terdiri atas tiang-tiang (pancuh) untuk menambatkan domba. Untuk kelancaran komunikasi di lapangan, baik antarpanitia maupun dengan peserta, dalam penyelenggaraan ngadu domba digunakan perangkat pengeras suara.

4. Peralatan Permainan
Peralatan yang digunakan dalam permainan ngadu domba adalah:
a. Domba Aduan
Domba yang dilatih sedemikian rupa untuk dipertarungkan dengan domba lain, disebut sebagai “domba aduan”. Domba yang dipersiapkan sebagai “petarung” ini biasanya berasal dari Garut, terutama dari daerah Sukawargi. Menurut para ahli, domba Garut adalah hasil perkawinan silang segitiga antara domba Merino, domba Ekor Gemuk yang berasal dari Jazirah Arab dan Australia, serta domba Priangan. Beberapa buktinya terlihat jelas pada ekor, bulu dan tanduk. Ekornya bercirikan ekor gemuk, bulu dan tanduknya bercirikan domba Merino. Selain itu, domba jenis ini mudah beradaptasi dengan lingkungannya dan tidak mudah mengalami stress atau shock.

Konon menurut cerita, orang pertama yang telah berhasil mengembangkan domba-domba berkualitas baik untuk pamidangan di Garut adalah Kangjeng Dalem Suryakarta Logawa dengan teman seperguruannya yang bernama H. Soleh. Kangjeng Dalem Suryakarta Logawa, seorang Bupati Garut yang telah memimpin pada periode 1915-1929, mempunyai kegemaran berburu dan memelihara domba. H. Soleh yang tinggal di Cibuluh juga gemar memelihara domba. Saat itu perkampungan Cibuluh belum padat seperti sekarang ini, serta keadaan sekitarnya masih berupa hutan belantara. Kangjeng Dalem Suryakarta Logawa sering berkunjung ke sana, selain untuk berburu juga mengunjungi sahabatnya itu. Dalam tiap kunjungannya, beliau memperhatikan pula cara sahabatnya menangani domba-domba peliharaannya, mulai dari pengandangan, pemberian makanan sampai pemilihan bibit. Adapun cara pemeliharaan yang dilakukan oleh H. Soleh saat itu dinilainya kurang baik. Misalnya, domba jantan dan betina ditempatkan dalam satu kandang, pemberian makanan (rumput) hanya pada saat digembalakan, dan tidak ada seleksi dalam mengawinkan domba.

Pada suatu hari, ketika sedang mengunjungi H. Soleh, Kangjeng Dalem Suryakarta Logawa melihat seekor domba betina bertanduk lebih bagus dibandingkan dengan yang lainnya. Ketika mengetahui bahwa domba yang akan meneruskan keturunannya adalah domba jantan biasa seperti pada umumnya, Kangjeng Dalem Suryakarta Logawa yang kebetulan memiliki domba jantan bernama Si Dewa, mengusulkan domba H. Soleh yang dipanggil Si Lenjang dikawinkan dengan Si Dewa. Ide ini muncul mengingat Si Dewa memiliki nilai lebih daripada domba-domba Cibuluh, maka dianggap dapat meneruskan keturunan yang lebih baik. Disamping itu, dengan mengawinkannya dengan Si Dewa, kelebihan Si Lenjang dapat berkelanjutan pada keturunannya. Selanjutnya, Kangjeng Dalem Suryakarta Logawa membawa Si Dewa ke Kampung Cibuluh untuk dikawinkan dengan Si Lenjang. Beberapa bulan kemudian, lahir domba jantan dan betina. Domba jantan diberi nama Si Toblo, sedangkan yang betina tidak diberi nama. Selain itu dengan Si Lenjang, Si Dewa dikawinkan pula dengan domba betina lain sehingga keturunannya bertambah banyak.

Ketertarikan masyarakat akan kegagahan dan kelincahan domba sejak adanya Si Dewa, telah memotivasi para penggemar domba untuk mengadakan hiburan rakyat berupa pertandingan domba yang disebut Ngaben, baik di Cibuluh-Garut maupun di Sumedang. Khusus di Cibuluh, pernah diabenkan anak Si Dewa melawan anak Si Toblo dari Sumedang yang telah dibeli oleh seorang peternak Cibuluh. Kekuatan mereka seimbang sehingga tidak ada yang menang atau kalah. Hal ini tentu saja mengundang rasa penasaran para penggemar domba adu. Di antaranya, di Bunisari ada seorang bernama Aki Intasik yang ingin memiliki domba untuk menandingi kedua domba tersebut. Caranya dengan membeli Si Toblo dari Sumedang dan mengawinkannya dengan domba betina miliknya yang dipercayakan pemeliharaannya kepada orang lain, yaitu Mang Atori di Cimanyar. Usahanya tersebut tidak sia-sia karena dari perkawinan tersebut lahir dua pejantan, yaitu Si Joki dan Si Jonas. Sebelum dibawa pulang oleh Aki Intasik, Si Jonas dipertahankan oleh Mang Atori karena merasa berhak atas domba tersebut yang telah dipeliharanya. Namun akhirnya, Si Jonas dibeli oleh Aki Intasik.

Meskipun kedua domba tersebut secara fisik memenuhi syarat sebagai domba aduan, ada kelebihan lain pada Si Joki, yaitu memiliki tanduk “cerah”. Hal ini membuat Si Joki dijual ke Cikeris/Cikandang untuk dikembangbiakkan. Namun sebelum dijual, baik Si Joki maupun Si jonas, dikawinkan dengan domba-domba betina setempat (Bunisari) sampai beranak-pinak. Seperti halnya induknya, keturunan Si Joki dan Si Jonas, memiliki kehebatan luar biasa sebagai domba aduan.

Baik keturunan Si Joki dari Cikeris maupun keturunan Si Toblo dari Sumedang, semuanya diakui sebagai domba Garut karena bibitnya berasal dari Cibuluh. Mereka merupakan potensi domba adu di Kabupaten Garut yang telah turut mengangkat permainan rakyat khas Jawa Barat ini tidak saja ke tingkat provinsi, tetapi juga ke tingkat nasional melalui kontes-kontes sejak tahun 1985 di Cikeris hingga sekarang.

Sebagai hewan yang dipersiapkan untuk bertanding, domba aduan memiliki kelebihan khusus dibandingkan dengan domba biasa. Hal ini berkat adanya kecakapan dalam pemeliharaan dan pemilihan bibit yang pada umumnya diperoleh secara turun-temurun. Untuk menentukan domba yang akan dijadikan sebagai hewan adu, terlebih dahulu harus mengetahui berbagai persyaratannya, meliputi keadaan fisik, pemeliharaan, dan pantangan-pantangannya.

- Ciri-ciri Fisik
Ciri-ciri fisik yang dianggap ideal bagi domba aduan dapat dilihat dari sturktur tubuhnya, yaitu: (1) Tanduk. Tanduk adalah cula yang tumbuh di kepala (KBBI, 1990: 896), berfungsi sebagai alat menyerang dan pertahanan diri dari serangan musuh. Tanduk domba aduan memiliki nama yang berbeda-beda sesuai dengan bentuknya, antara lain: Tewang, Bendo, Lele paeh, Pasangan doa, Padangkrang, dan Jalaprang. Dari beberapa jenis tanduk tersebut, menurut peternak dan penggemar domba aduan, jenis tanduk yang paling baik adalah Bendo karena berbentuk melengkung penuh; (2) Kepala. Bentuk kepala yang ideal untuk domba adu ngabeungeut kuda (menyerupai kepala kuda); (3) Mata. Domba aduan yang baik memiliki mata dengan ciri-ciri sebagai berikut: beureum kupa (merah buah kupa), hideung manggu (hitam buah manggu), dan panon jalak (mata burung jalak); (4) Telinga. Telinga yang dianggap ideal untuk domba aduan adalah yang disebut ceuli rumping (telinga pendek) atau ngadaun hiris (seperti daun hiris); (5) Punggung. Punggung yang baik untuk domba aduan disebut tonggong leceng (punggung lurus); (6) Kelamin. Kelamin yang baik untuk jantan adalah kanjut laer (panjang dan berisi). Sebagai catatan, para pemilik domba aduan tidak pernah memilih domba yang memiliki biji pelir ganjil (satu) atau dalam istilah setempat disebut siki kanjut sanglir. Domba yang memiliki biji pelir ganjil dianggap kurang cakap dalam pertandingan dan kurang potensial dalam memberikan keturunan; (7) Kaki. Kaki yang baik disebut ngaregang waru (seperti ranting pohon waru), yaitu antara kaki kiri dan kaki kanan seimbang serta pangkalnya kekar dan besar; (8) Kuku. Kuku yang baik disebut kuku ngukuh (kuku kuat); (9) Ekor. Ekor memiliki ciri gemuk dan keras. Sebagai catatan, para pemilik domba aduan tidak pernah memilih domba yang berekor buntel mayit (kafan). Ciri-ciri domba buntel mayit pada ekornya tampak benjolan, ujungnya melilit ke luar dan tidak berbulu, bulu ekor terbalik, bulu badan melilit ke luar dan jarang terlihat. Domba dengan ciri-ciri tersebut dianggap sebagai pembawa sial, baik bagi domba itu sendiri maupun bagi domba lain. Misalnya, selalu mengakibatkan kekalahan, kecelakaan, atau arena pamidangan menjadi sepi dari pengunjung. Lebih buruk lagi, acara tersebut bisa bubar, tidak ada lagi pamidangan; dan (10) Memiliki bentuk badan seperti singa atau disebut ngabadan singa.

- Pemeliharaan
Pemeliharaan domba aduan mempunyai tata cara yang khusus, baik dalam pembuatan kandang3), pemberian makanan, cara memandikan maupun perawatan kesehatannya.

a. Kandang
Kandang untuk domba aduan di Jawa Barat tampak memiliki keseragaman satu dengan lainnya. Kemiripan bentuk ini menjadi salah satu ciri warisan leluhur yang hingga kini belum berubah dan hampir selalu dijumpai di setiap daerah di Jawa Barat. Kandang dibuat sedemikian rupa dengan menggunakan bahan-bahan seperti kayu dan bambu. Sedangkan atap terbuat dari ijuk dan mabmu (tatahan). Selain itu, banyak pula atap yang terbuat dari genting atau seng. Konstruksi bangunan terdiri dari beberapa bagian, yaitu atap, dinding, pintu, lantai, tempat makanan (pamakanan), dan kolong.

Pintu kandang dibuat dengan model yang memungkinkan udara dengan bebas keluar atau masuk. Pada arah yang berlawanan dengan pintu, terdapat tempat makanan. Sedangkan sisi kiri dan kanan tertutup rapat dinding kayu. Di bagian bawah, lantai terbuat dari bambu (bahas) yang dipasang sedemikian rupa agar kotoran domba jatuh ke kolong. Pemasangan bahas bersilang arah dengan arah menghadap kandang untuk mencegah terjepitnya kuku domba. Bagian kolong yang tingginya 50 cm berfungsi sebagai bak penampungan kotoran.

Dalam pembuatan dan pemanfaatan kandang terdapat perbedaan antara dahulu dan sekarang. Dahulu, satu kandang digunakan untuk mengandangkan beberapa ekor domba secara bersama-sama. Bentuk bangunan selalu berkolong guna menghindari serangan hama atau binatang buas, karena pada masa itu daerahnya masih berupa hutan. Akan tetapi sekarang, satu bangunan terdiri atas beberapa ruangan dengan bentuk memanjang ke samping sehingga posisi domba-domba tampak berjejer. Setiap ruangan berukuran 1 meter sampai 1,20 meter, khusus untuk domba jantan. Sedangkan kandang untuk domba betina berukuran 1,50 meter, lebih luas daripada kandang jantan sehingga kandang tersebut dapat ditempati induk dan anaknya bila domba beranak. Jumlah ruangan harus selalu ganjil (gangsal), misalnya 1, 3, 5 dan seterusnya. Pembagian ruangan dan ketentuan arah tersebut saat ini sudah tidak dipakai lagi karena faktor keperluan dan kondisi lokasinya. Dalam hal pembuatan atap, khususnya yang menggunakan genting, dijumpai dua tipe, yaitu atap yang bersatu dengan bangunan dan atap yang terpisah. Tipe pertama untuk kandang betina karena jenis ini jarang membentur-benturkan kepalanya pada dinding kandang. Sedangkan tipe kedua khusus untuk kandang jantan sebab domba jantan memiliki kebiasaan membentur-benturkan kepalannya pada dinding kandang, sehingga tidak jarang menimbulkan getaran-getaran keras terhadap bangunan dan akibatnya atap cepat rusak. Maka dengan atap terpisah, kerusakan tersebut akan terhindarkan.

b. Memandikan domba
Selain kandang, memandikan domba merupakan salah satu rangkaian dari tahap-tahap pemeliharaan domba aduan untuk menjaga kebersihan tubuhnya. Dalam pelaksanaannya, terkandung unsur-unsur sakral yang merupakan warisan leluhur yang sampai sekarang tradisi tersebut masih dilaksanakan oleh masyarakat pendukungnya.

Memandikan domba umumnya dilakukan sekali seminggu, setiap hari Jumat pagi. Kebiasaan tersebut berkaitan dengan kepercayaan dahulu, bahwa pada hari Jumat air dalam keadaan “baik” (Jumaah huripna cai). Tempat yang biasa digunakan untuk memandikan hewan tersebut adalah di sumber mata air, seperti balong (kolam), walungan (sungai), leuwi (air deras) atau di lapangan dengan cara mengguyur domba. Acara mandi, selain untuk membersihkan tubuh domba, juga sebagai ajang pelatihan domba agar otot-ototnya kuat dengan cara menggiringnya di air deras dari hilir ke hulu (berlawanan arah dengan arah air mengalir). Tata cara demikian biasanya diawali dengan jampi-jampi yang berisi harapan agar domba yang dimandikan mendapat kekuatan.

Contoh jampi-jampi (doa):
Bismillaahirrahmaanirrahim
Bismillaahirrahmaanirrahim
Ashadu anla ilaha ilallah
Waashadu anna muhammadar rasullullah
sumun bukmun umyun fahum
la la la la la la la

pada waktu mengucapkan kata la sebanyak tujuh kali, orang yang memandikan diwajibkan menahan nafas (mepet banyu). Setelah itu baru mengambil air untuk diusapkan di muka domba. Jampi tersebut menurut anggapan penggemar/pemelihara domba berfungsi menundukkan domba-domba yang menjadi lawan tandingnya di arena pamidangan. Di samping itu, untuk mencegah perbuatan dhalim atau hianat dari pemilik domba lawan tandingnya.

Jampi-jampi lainnya adalah:
Amit isun banyu suci
Umur Allah takbir Allahu akbar
Semu ku banyu
Hurip ku cai Gusti waras ku kersaning Allah
Manisan mani Allah
Manisan badan jasmani
Manisan nyawa rohani
Daging cara sekar wangi
Getih cara sekar mulya
Urat dina sungsum ningrat
Sungsum kaya aer mawar
Kaum kulit bekas tori
Haur pula gulung pulo
Alip tunggal mulya muncup
La ilaha illallah
Muhammadarrasulullah

Setelah selesai dimandikan, domba dibawa kembali untuk dijemur dan diikat pada tiang pancuh dengan tali longgar. Hal ini dimaksudkan agar domba bisa berputar-putar. Di samping untuk mengeringkan tubuh, juga untuk melatih otot-otot. Kebiasaan ini berlangsung sampai matahari terbenam.

c. Makanan
Makanan merupakan salah satu aspek dalam pemeliharaan domba aduan untuk membangun pertumbuhan badan yang sehat, tetap dalam kondisi prima, dan memiliki tenaga yang kuat sebagai domba aduan. Porsi, pemilihan, dan pemberian makanan yang benar bertujuan agar hewan tidak mudah sakit. Oleh karena itu, dalam makanan yang diberikan setiap hari harus mengandung zat-zat dan vitamin yang diperlukan bagi tubuh. Unsur-unsur tersebut selain terdapat dalam makanan pokok, diperoleh pula dari makanan penguat dan makanan pelengkap.

Makanan pokok yang diberikan pada domba adu adalah jenis rerumputan, yaitu rumput lapangan dan rumput gajah. Di samping itu, daun-daunan atau limbah pertanian. Untuk rumput diberikan sebanyak 75%. Sedangkan daun-daunan atau limbah pertanian 25%. Selain makanan pokok tersebut, domba aduan diberi makanan penguat, berupa campuran biji-bijian yang diolah menjadi semacam bubur. Adakalanya bahan yang digunakan sebagai penguat ini adalah buah labu putih, terutama pada saat harga di pasaran sedang murah. Buah tersebut dalam keadaan mentah dirajang kemudian dicampuri sekam dan sedikit garam. Semua bahan dilarutkan dengan air mendidih. Setelah agak dingin, makanan semacam konsentrat ini baru diberikan kepada domba. Selain buah labu putih, ada pula peternak yang menyediakan telur ayam kampung atau jamu yang diberikan pada saat-saat menjelang domba diadukan atau beberapa hari menjelang pelaksanaan Pamidangan. Sebagian peternak memberi minuman (arak) kepada domba yang akan bertanding. Secara rutin hewan diberi makan sehari tiga kali, sedangkan untuk minumnya cukup dengan air yang dicipratkan pada rumput (kering) yang akan dimakan. Hal ini tidak perlu dilakukan apabila keadaan rumput sudah basah.

Dalam hal pemberian makanan, tidak sembarang makanan dapat diberikan, seperti pantang memberi makan berupa ubi mentah, daun Labu, atau daun singkong layu, dan rumput basah karena akan berakibat buruk pada pencernaan atau menimbulkan sakit perut. Demikian pula dalam embuatan kandang terdapat ketentuan khusus yang dahulu dijadikan pantangan. Misalnya, kandang tidak boleh nyanghulu mhaler ngidul ‘memanjang dari utara ke selatam’ sebab akan menyebabkan domba mati atau mengalami kemandulan, dan arah menghadap bangunan tidak boleh nyanghul ngetan ngulon ‘dari barat ke timur’ (atau sebaliknya) sebab pada saat makan, domba harus menghadap ke timur (tempat pemakanan berada), yaitu arah datangnya sinar matahari yang bisa menyilaukan pandangan dan demikian pula pada sore hari, saat beristirahat, domba menghadap ke barat arah sinar matahari sore.

d. Kesehatan
Pemeliharaan domba aduan tidak hanya menyangkut kandang dan makanan, tetapi kesehatannya pun harus diperhatikan, baik pencegahan penyakit maupun pengobatannya.

Untuk menjaga kondisi domba agar tetap segar, sekali dalam seminggu, domba diberi madu yang dicampur dengan kuning telur. Sedangkan putih teluarnya tidak dimasukkan karena dapat berakibat tidak baik pada kesehatan mata. Pemberian arak sebagai penghangat tubuh dilakukan sebelum pertandingan dimulai.

Mencukur bulu domba pengaruhnya besar terhadap kesehatan domba, maka harus dilakukan secara teratur minimal tiga hari sebelum domba dibawa ke arena pamidangan sebab apabila domba yang baru dicukur kemudian esok harinya dibawa ke arena, bulu-bulunya akan rontok.

Seperti halnya manusia, domba pun sekali-kali mengalami kurang nafsu makan. Menghadapi hal demikian, pemilik akan segera mencari anak tikus yang masih merah, untuk dimakankan (dicekok).

Penyakit yang biasa menyerang domba, misalnya perut kembung dan mencret, adalah akibat pemberian makanan yang kurang baik atau berlebihan. Perut kembung disebabkan oleh rumput basah, pemberian daun ketela dan daun labu. Penyakit ini biasanya cukup diatasi secara tradisional, yaitu dengan memberikan rujak asam atau seduhan air pucuk labu besar. Sedangkan apabila domba mencret-mencret dapat disembuhkan dengan memberikan makanan berupa daun pisang atau daun nangka. Jenis penyakit lainnya disebabkan oleh hama, seperti penyakit cacingan. Obat tradisional yang dapat membunuh penyakit ini antara lain air perasan jambu dan air bako yang telah dibubuhi gula merah. Sakit mata dapat pula dialami oleh domba, biasanya domba yang baru dipindahkan dari kota ke kampung. Untuk menyembuhkannya, sebagian peternak telah mencobanya dengan air kencing domba dan hasilnya cukup memuaskan.

Penanganan hewan yang sakit, baik karena makanan atau hama, selain diatasi secara tradisional juga dengan obat-obatan modern. Obat-obat yang biasa digunakan oleh manusia cukup mampu pula memulihkan kesehatan domba, hanya dosisnya harus lebih banyak daripada yang dimakan oleh manusia. Namun demikian, pada umumnya pengobatan domba yang sakit lebih sering dengan memanfaatkan obat-obat tradisional karena obat warisan leluhur dianggap efektif dan biasanya lebih murah.

b. Kendang Penca
Di samping lapangan dan kelengkapannya, dalam permainan ngadu domba digunakan pula seperangkat tatabuhan (waditra) yang menjadi ciri khasnya. Kelengkapan tersebut berupa peralatan kesenian kendang penca untuk mengiringi permainan. Kendang Penca merupakan salah satu jenis kesenian tradisional di Jawa Barat yang hingga kini masih digemari oleh masyarakat pedesaan. Penyebarannya hampir di semua kabupaten di Jawa Barat, seperti Kabupaten Ciamis, Sumedang, Tasikmalaya, Subang, Cianjur, Sukabumi, Serang, Tanggerang, Pandeglang, Karawang, Kuningan, Majalengka, Cirebon, Bandung, Bogor, Bekasi, dan Garut.

Pada mulanya, Kendang Penca berfungsi sebagai pengiring pada seni beladiri pencak silat. Pada perkembangannya, Kendang Penca digunakan pula sebagai pengiring dalam permainan rakyat ngadu domba dengan jenis-jenis pukulan kendang seperti yang berlaku dalam pencak silat. Keterlibatan jenis kesenian ini dalam penyelenggaraan permainan ngadu domba memiliki latar belakang historis, yaitu mungkin karena dahulu yang membawa dan mempertandingkan domba sebagian besar adalah para pesilat dan jawara. Dilihat dari segi lain, sifat dan isi permainan yang diiringinya tidak jauh berbeda dengan pencak silat, hanya pelakunya yang berlainan, yaitu domba. Di samping itu, pertarungan tersebut akan lebih hidup apabila diiringi Kendang Penca dan karena permainan ini merupakan hiburan, maka Kendang Penca tetap dipakai untuk menyemarakkan suasana dalam permainan.

Sebenarnya, waditra dalam Kendang Penca tidak hanya kendang saja, tetapi masih terdapat yang lainnya. Mungkin karena fungsinya yang paling dominan di antara waditra lain, maka kesenian ini dinamakan Kendang Penca. Waditra selengkapnya di dalam Kendang Penca terdiri atas: dua buah kendang, dua buah kulanter (kendang kecil), sebuah tarompet, dan sebuah goong kecil (kempul atau bende).

Kendang (Gendang)
Kendang atau dalam bahasa Indonesia gendang menurut definisi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1990: 268) adalah nama bunyi-bunyian berupa kayu bulat panjang, di dalamnya berongga dan pada lubangnya ditutupi kulit (untuk dipukul). Bahan baku kendang banyak terdapat di alam pedesaan, seperti badan kendang terbuat dari batang pohon kayu nangka, kedua ujung rongga ditutup dengan kulit/wangkis yang sekeliling tepinya diikat dengan rarawat dan simpay ‘cincin’ serta wengku ‘pengikat’ dari rotan. Menurut ukurannya, kendang ada dua macam, yaitu kendang besar dan kendang kecil yang disebut kulanter. Bentuk kendang adalah bulat panjang dan besar, kedua bidang mukanya tidak sama. Di tengah-tengah badan tampak membesar dan mengecil pada kedua ujungnya.

Tarompet (Terompet)
Tarompet merupakan pelengkap tetabuhan kendang; terbuat dari bahan kayu dan tempurung. Bagian pangkalnya yang terbuat dari tempurung berfungsi sebagai penahan rongga mulut ketika meniup alat tersebut. Alat musik tiup ini memiliki tujuh lubang nada serta empat ‘lidah suara” sebagai sumber bunyi. Cara memainkan tarompet ditiup sesuai dengan nada dan wirahma lagu yang diinginkan. Kombinasi dengan penggunaan alat tersebut bergantung pada lagu atau gerakan yang diiringinya.

Kempul (Gong Kecil)
Kempul atau dalam bahasa Indonesia canang, merupakan alat musik pukul yang berfungsi sebagai penambah harmonisasi bunyi kendang atau lagu. Alat ini terbuat dari perunggu dengan bentuk bulat cekung.

Para pemain tetabuhan tersebut disebut nayaga, yaitu para penabuh gamelan yang jumlahnya bergantung banyaknya jenis waditra yang ada. Pakaian/kostum yang dikenakan para nayaga kendang Penca berupa setelah celana pangsi, baju kampret, dan iket (ikat kepala).

Lagu-lagu yang sering dibawakan dalam kesenian Kendang Panca khususnya untuk mengiringi permainan Ngadu Domba adalah “Buah Kawung”, “Bajing Luncat”, dan lain-lain. Tingginya intensitas pemakaian lagu-lagu tersebut menjadikan lagu tersebut sebagai ciri khas permainan Ngadu Domba.

Contoh syair lagu tersebut adalah sebagai berukut.
Buah Kawung
Buah kawung da rurun-ruruntuyan
Curuluk mah cisoca-soca bijil
Kendang gede pakauman
Sok dag dig dug pipikiran
Bajing Luncat
Bajing luncat ke astana
Kumaha mengkolkeunana
Kuring beurat ke manehna
Kumaha geusan nyombona

5. Aturan Permainan
Aturan dalam permainan ngadu domba diantaranya adalah: (1) pemilihan lawan atau musuh bergantung pada kesepakatan pemilik domba; (2) permainan dilakukan dalam beberapa hantaman atau teunggaran yang bergantung juga pada kelas domba yang diadukan (3) banyaknya hantaman pada masing-masing kelas dibagi menjadi tiga bagian. Kelas A sebanyak 30 hantaman, kelas B sebanyak 25 hantaman, dan kelas C sebanyak 20 hantaman; (4) apabila menurut penilaian wasit domba yang diadukan itu mempunyai angka penilaian seri (draw), maka pertandingan ditambah beberapa hantaman untuk menentukan pemenangnya. Sebagai catatan, kemenangan dan kekalahan domba aduan di samping dapat dilihat dari sikap domba itu sendiri, yang biasanya lari meninggalkan arena, juga ditentukan oleh wasit; (5) setiap permainan diatur oleh wasit dan pendamping; dan (6) lamanya permainan tidak ditentukan, tetapi bergantung pada banyaknya domba yang akan diadukan; (7) peserta diharuskan mendaftar kepada panitia dengan menyebutkan nama domba, asal daerahnya, dan lawan tanding yang sesuai dengan jenis kelasnya; (8) selain itu, membayar uang pendaftaran yang besarnya telah ditentukan oleh panitia; (9) peserta harus membayar uang sewa pancuh; (10) membayar iuran rutin per tahun; dan (11) domba yang kalah dan mengalami cidera cukup berat harus dipotong dan dibagi-bagikan kepada peserta dan pemiliknya. Selain itu, pemiliknya menerima uang ganti dari panitia sesuai dengan harga yang telah disepakati.

6. Jalannya Permainan
sebelum permainan ngadu domba dilaksanakan, terlebih dahulu diadakan persiapan-persiapan untuk menunjang kelancaran permainan. Secara garis besar, ada dua tahap persiapan dalam penyelenggaraan permainan ngadu domba, yaitu persiapan sebelum di lokasi dan di lokasi. Persiapan sebelum di lokasi di antaranya dengan mengadakan musyawarah yang melibatkan tokoh masyarakat, aparat pemerintah, pemilik domba, dan masyarakat lain yang akan aktif dalam kepanitiaan. Dalam musyawarah tersebut ditentukan waktu, tempat, kelengkapan, aturan dan tata tertib permainan, masalah administrasi, serta pembentukan panitia. Ketetapan yang telah diputuskan dalam musyawarah tersebut, selanjutnya diinformasikan kepada masyarakat secara lisan atau tertulis.

Setelah melewati tahap musyawarah, tahap berikutnya adalah persiapan di lokasi. Beberapa hari atau sehari menjelang penyelenggaraan, lapangan pamidangan disiapkan. Membuat arena pamidangan cukup dilakukan sekali saja apabila lokasinya tidak berpindah-pindah. Jadi, setiap akan mengadakan pamidangan panitia hanya melakukan pembenahan atau penataan kembali arena pamidangan yang telah ada.

Pada hari yang telah ditentukan, sekitar pukul 07.00 panitia mempersiapkan berbagai keperluan permainan, seperti pemasangan perangkat pengeras suara yang dilakukan sedemikian rupa untuk menghasilkan suara yang dapat mencapai jarak jauh. Para nayaga yang tergabung dalam kelompok kesenian kendang penca juga mempersiapkan diri. Mereka ditempatkan di atas panggung (podium) bersatu dengan meja panitia yang berfungsi mengatur jalannya permainan. Dalam acara-acara yang bersifat rutin, yang tidak berkaitan dengan “pesanan” pihak lain atau suatu perayaan, biasanya kelompok kesenian Kendang Penca ini tidak ditampilkan. Akan tetapi, diganti dengan kaset. Hal ini dimaksudkan untuk menghemat waktu dan biaya.

Sebelum acara pokok dimulai, kendang penca telah mulai ditabuh, sehingga menambah kesemarakan suasana. Sementara itu, para peserta, baik kelompok maupun perorangan, mulai berdatangan sambil menuntut dombanya masing-masing. Mereka langsung menambatkan dombanya pada pancuh-pancuh yang telah tersedia. Selama menunggu acara dimulai, para pemilik domba saling menimbang dan menilai keadaan fisik domba-domba lawannya. Dalam suasana demikian, biasanya terjalin keakraban di antara pemilik domba. Menjelang permainan dimulai, panitia memberitahukan agar para peserta segera mendaftarkan diri.

Setelah peserta terdaftar semua, panitia mulai mengelompokkan domba pada kelas-kelas yang ditentukan berdasarkan beratnya. Pembagian kelas ini berhubungan dengan lamanya atau banyaknya hantaman yang harus dipenuhi, yaitu 30 hantaman untuk kelas A, 25 hantaman untuk kelas B, dan 20 hantaman untuk kelas C. Sementara pengaturan ini berjalan, kendang penca menaikkan tempo iramanya sehingga menambah meriah suasana serta “kegagahan” domba.

Ketika pertandingan akan dimulai, wasit memasuki arena diikuti oleh pendamping, yang masing-masing membawa domba yang akan diadukan. Setelah domba berada di tengah arena, irama kendang penca beralih pada irama padungdung. Dalam suasana demikian – mungkin karena hasil pelatihan – domba tampak beringas, ingin cepat-cepat menubruk lawannya, namun ditahan oleh pendamping dengan memegangi selangkangan atau kedua tanduk domba. Begitu wasit memberikan aba-aba, domba akan dilepas dan berlari menerjang lawannya sekeras mungkin. Ketika kepala kedua domba beradu, panitia yang bertugas sebagai penghitung jumlah hantaman, menyebutkan bilangan hantaman melalui pengeras suara sehingga penonton dapat mengikuti terus jalannya permainan. Hal itu berlangsung terus sampai wasit menghentikan permainan pada teunggaran yang telah ditentukan.

Ketika pertandingan berlangsung, wasit harus dapat menengahi dan mencegah hal-hal yang dapat menimbulkan ketidakpuasan kedua belah pihak. Oleh karena itu, ia harus mampu menguasai berbagai hal, baik yang bersifat teknis maupun nonteknis. Yang bersifat teknis berkaitan dengan peraturan-peraturan yang telah ditetapkan bersama, sedangkan yang bersifat nonteknis berkaitan dengan emosi atau luapan perasaan, baik penonton maupun pendamping yang kadang-kadang melampaui batas.

Permainan akan dihentikan apabila wasit telah menentukan pemenangnya. Biasanya tanda-tanda kekalahan pada salah satu domba terlihat pada gerakannya, apakah menjauhi lawannya atau lari. Namun, apabila perolehan angkanya seri atau seimbang, maka panitia akan menambah jumlah hantaman disesuaikan dengan kondisi domba yang ditandingkan.

Tugas pendamping pada permainan ini cukup berat. Sekali saja ia lengah akan berakibat fatal. Ia harus mengetahui kondisi dombanya sebab tidak tertutup kemungkinan dombanya akan terluka parah. Jadi, selesai suatu teunggaran pendamping harus sigap mengurut-urut atau memijit-mijit domba, untuk melancarkan peredaran darah dan sekaligus memeriksa kondisi domba yang bersangkutan.

Selama permainan berlangsung, pemilik domba tidak boleh mencampuri atau mempengaruhi wasit dalam menentukan kelanjutan permainan meskipun domba miliknya telah luka sebelum memenuhi jumlah teunggaran. Dengan kata lain, mati dan hidup domba adalah tanggung jawab wasit. Anggapan ini tidak perlu dikhawatirkan karena yang ditunjuk sebagai wasit biasanya adalah orang yang telah berpengalaman, sehingga mengetahui secara pasti kapan permainan harus dihentikan atau dilanjutkan serta dapat mengukur batas kemampuan domba untuk terus bertanding.

Keberhasilan domba ditentukan oleh kemampuan memenuhi jumlah hantaman. Sedangkan bagi domba yang luka hingga tidak mampu menyelesaikan permainan, telah menjadi ketentuan permainan bahwa domba tersebut harus disembelih saat itu juga dan dagingnya dibagi-bagikan kepada peserta dengan timbangan yang sama dan harganya sesuai dengan yang telah ditentukan oleh panitia.

7. Nilai Budaya
Permainan ngadu domba jika dicermati secara mendalam mengandung nilai-nilai yang pada gilirannya dapat dijadikan sebagai acuan dalam kehidupan bermasyarakat. Nilai-nilai itu adalah: kerja keras, kerja sama, persaingan, dan ketertiban.

Nilai kerja keras tercermin dalam proses pelatihan domba, sehingga menjadi seekor domba aduan yang mengagumkan (kuat dan tangkas). Untuk menjadikan seekor domba seperti itu tentunya diperlukan kesabaran, ketekunan dan kerja keras. Tanpa itu mustahil seekor domba aduan dapat menunjukkan kehebatannya di arena ngadu domba.

Nilai kerja sama tercermin dalam proses ngadu domba itu sendiri. Permainan ngadu domba, sebagaimana telah disinggung pada bagian atas, adalah suatu kegiatan yang melibatkan berbagai pihak. Pihak-pihak itu satu dengan lainnya saling membutuhkan. Untuk itu, diperlukan kerja sama sesuai dengan kedudukan dan peranan masing-masing. Tanpa itu mustahil permainan ngadu domba dapat terselenggara dengan baik.

Nilai persaingan tercermin dalam arena ngadu domba. Persaingan menurut Koentjaraningrat (2003: 187) adalah usaha-usaha yang bertujuan untuk melebihi usaha orang lain dalam masyarakat. Dalam konteks ini para peserta permainan ngadu domba berusaha sedemikian rupa agar domba aduannya dapat bergerak cepat menyerang dan mengalahkan domba lawan sesuai dengan yang diharapkan. Gerakan yang gesit, sararan yang tepat dan cepat adalah dambaan para peserta. Oleh karena itu, masing-masing berusaha agar dombanya dapat melakukan hal itu sebaik-baiknya. Jadi, antarpeserta bersaing dalam hal ini.

Nilai ketertiban tercermin dalam proses permainan ngadu domba itu sendiri. Permainan apa saja, termasuk ngadu domba, ketertiban yang diperlukan. Ketertiban ini tidak hanya ditunjukkan oleh para peserta, tetapi juga penonton yang mematuhi peraturan-peraturan yang dibuat. Dengan sabar para peserta menunggu giliran dombanya untuk diperlagakan. Sementara, penonton juga mematuhi aturan-aturan yang berlaku. Mereka tidak membuat keonaran atau perbuatan-perbuatan yang pada gilirannya dapat mengganggu atau menggagalkan jalannya permainan. (Gufron)

Foto: http://www.garut.go.id
Sumber:
Danandjaja, James. 1998. “Folklor dan Pembangunan Kalimantan Tengah: Merekonstruksi Nilai Budaya Orang Dayak Ngaju dan Ot Danum Melalui Cerita Rakyat Mereka”. Dalam Metodologi Kajian Tradisi Lisan. Editor Pudentia MPSS. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia dan Yayasan Asosiasi Tradisi Lisan.

_____. 2002. Folklor Indonesia, Jakarta: Grafiti.

Ekadjati, Edi S. 1984. Masyarakat Sunda dan Kebudayaannya. Jakarta: Girimukti Pustaka.

na, Suwardi Alamsyah, dkk. 1993. Permainan Rakyat Ngadu Domba di Kampung Cibuluh Kecamatan Cisurupan Kabupaten Garut. Bandung: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Sariyun, Yugo, dkk. 1992. Nilai Budaya Dalam Permainan Rakyat Jawa Barat. Bandung: Depdikbud.

Koesman, M.D. 1984. Kamus Kecil Sunda-Indonesia. Bandung: Penerbit Tarate.

LBSS. 1975. Kamus Umum Basa Sunda. Bandung: Penerbit Tarate.

Pusat Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Indonesia. 1990. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Soepandi, A. dan Enoch Atmadibrata. 1983. Khasanah Kesenian Daerah Jawa Barat. Bandung: Pelita Masa.

Soepandi, A. dkk. 1985-1986. Peralatan Hiburan dan Kesenian Tradisional di Jawa Barat. Bandung: Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah – Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

1) Folklor adalah sebagian kebudayaan suatu kolektif, yang tersebar dan diwariskan turun-temurun, di antara kolektif macam apa saja, secara tradisional dalam versi yang berbeda, baik dalam bentuk lisan maupun contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu pengingat (Danandjaja, 2002:2).

2) Permainan rakyat merupakan salah satu bentuk folklor sebagian lisan karena diperoleh melalui warisan lisan dan mempunyai bentuk-bentuk yang bukan lisan seperti gerak tubuh (lari, lompat dan lain sebagainya) dan benda-benda yang berkaitan dengan permainan, baik benda-benda mati, seperti: boneka singa dalam permainan “sisingaan”, benda-benda tajam yang terbuat dari besi dalam permainan “debus” dan lain sebagainya; dan benda hidup seperti kuda dalam permainan “kuda renggong”, domba dalam “adu domba”, sapi dalam “kerapan sapi”, dan lain sebagainya (Sariyun, dkk; 1992). Berdasarkan perbedaan sifat permainan, maka permainan rakyat (folk games) dapat dibagi menjadi dua golongan besar, yaitu permainan untuk bermain (play) dan permainan untuk bertanding (game). Perbedaan permainan bermain dan permainan bertanding, adalah bahwa yang pertama lebih bersifat untuk mengisi waktu senggang atau rekreasi, sedangkan yang kedua bersifat kurang mempunyai sifat itu. Namun yang kedua hampir selalu mempunyai lima sifat khusus, seperti: (1) terorganisasi, (2) perlombaan (competitive), (3) harus dimainkan paling sedikit oleh dua orang peserta, (4) mempunyai kriteria yang menentukan siapa yang menang dan siapa yang kalah, dan (5) mempunyai permainan yang telah diterima bersama oleh para pesertanya (Roberts, Arth, dan Bush, 1959, dalam Danandjaja 2002: 171).

3) Kandang adalah bangunan tempat tinggal binatang (KKBI, 1990: 385). Untuk setiap jenis hewan (binatang) peliharaan memiliki model/konstruksi kandang yang disesuaikan dengan kebutuhannya masing-masing.

Popular Posts

-