Nasi Minyak (Makanan Tradisional Orang Batin dan Penghulu)

Nasi minyak adalah jenis makanan yang dibuat khusus pada waktu upacara, baik upacara keagamaan ataupun kendurian yang diadakan oleh warga masyarakat setempat. Di daerah pedesaan, nasi minyak ini pengolahanya adalah sederhana atau tidak terlalu banyak bahan. Tetapi di daerah yang sudah agak maju, bumbu dan variasinya sudah kompleks. Tentu saja bumbu yang kompleks ini semakin menambah lezat dan wanginya, tetapi tidak semua kalangan bisa membuatnya demikian.

Untuk kalangan pesta perorangan, tidak semua lapisan masyarakat dapat membuat kendurian dengan menghidangkan nasi minyak ini sebagai makanan utama, karena biayanya agak mahal dan juga masih harus ditambah lagi dengan lauk pauknya. Oleh karena itu, biasanya perorangan yang membuat makanan ini biasanya tergolong kelas menengah ke atas. Nasi minyak ini dibuat berkenaan pada upacara Maulud Nabi Muhammad yang biasanya diadakan setiap tanggal 12 Rabiul Awal Tahun Hijriah, berkenaan dengan peristiwa lahirnya Nabi Muhammad.

Walaupun upacara ini dilaksanakan oleh semua warga masyarakat Islam di Indonesia dengan tata tertib yang tidak jauh berbeda, namun makanan yang dihidangkan dalam rangka upacara itu mungkin saja berbeda antara satu kelompok dengan kelompok lain atau suku bangsa dengan suku bangsa lainnya sesuai dengan kondisi lingkungan fisik dan tingkat perekonomian masyarakat setempat.

Bagi masyarakat Penghulu yang umumnya beragama Islam, makanan yang dihidangkan pada waktu penyelenggaraan Maulid Nabi adalah nasi minyak.

Minyak yang dipakai untuk memasak nasi minyak ini adalah minyak yang diolah sendiri oleh masyarakat yang disebut dengan minyak samin. Minyak ini dapat dibeli di pasar. Minyak ini sangat digemari oleh msyarakat setempat karena cocok untuk makanan yang akan meeka masak seperti nasi minyak ini.

Adapun bahan nasi minyak ini adalah beras, minyak samin, bawang merah, bawang putih, jahe, lada, adas manis, kulit manis, pak kak, puar logo, kembang pala, cengkeh, tomat halus, susu encer, garam, gula dan air bersih.

Cara pengolahannya dimulai dengan mencuci beras dalam kiding atau bakul. Setelah itu, bawangnya diiris, kemudian bawang putih dan jahe digiling halus. Lada, adas manis, kulit manis, pak kak, puar logo, kembang pala, buah pala dan cengkeh direbus dalam kuali sampai keluar sarinya. Setelah itu periuk dijerangkan di atas api. Bawang yang telah diiris ditumis dengan minyak samin. Air sari rebusan tomat dan minyak samin dimasukkan ke dalam periuk, kemudian tambahkan air dan biarkan sampai mendidih. Setelah mendidih, masukkan beras dan aduk rata sampai airnya kering. Sebelum airnya kering, masukkan susu encer. Sesudah airnya kering, kecilkan apinya dan kuali ditutup rapat.

Nasi minyak disajikan dalam piring besar atau nampan, biasanya disajikan untuk 3 orang sekaligus dan dalam nampan tesebut sudah disediakan pula lauk pauk secukupnya. Selain itu disediakan cuci tangan dan air minum. Nasi minyak ini dimakan bersama-sama sambil duduk bersila. Sebagai makanan pelengkap, disediakan juga sambal nenas atau acar timun.

Peralatan yang dipergunakan untuk pengolahan nasi minyak ini antara lain adalah: bakul untuk tempat mencuci beras, periuk untuk memasak nasi, piring besar atau nampan, pisau, penggilingan, kuali.

Fungsi makanan ini adalah makanan khusus untuk upacara keagamaan dan upcara adat atau kendurian yang dihidangkan untuk dimakan oleh peserta upacara.

Sumber:
Zulvita Eva, dkk, 1993, Kearifan Tradisional Masyarakat Pedesaan Dalam Pemeliharaan Lingkungan Hidup di Daerah Propinsi Jambi. Departemen P dan K. Direktorat Jenderal Kebudayaan. Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional: Proyek P2NB.
hal
Dilihat: