Koentjaraningrat melalui buku Kebudayaan, Mentalitas dan Pembangunan menempatkan kebudayaan bukan sebagai ornamen sosial, melainkan sebagai fondasi mendalam yang menentukan arah dan kualitas pembangunan. Buku ini lahir dari kegelisahan intelektual yang sangat kontekstual: mengapa pembangunan, yang secara ekonomi dan teknokratis dirancang dengan cermat, kerap tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan? Jawaban Koentjaraningrat tidak dicari pada kekurangan modal, teknologi, atau kebijakan semata, melainkan pada cara manusia berpikir, bersikap, dan memberi makna terhadap perubahan. Dalam pengertian ini, buku ini bukan sekadar analisis antropologis, tetapi juga refleksi kritis atas pengalaman pembangunan Indonesia.
Sejak awal, Koentjaraningrat menegaskan bahwa pembangunan bukanlah proses mekanis yang dapat dipindahkan begitu saja dari satu masyarakat ke masyarakat lain. Pembangunan selalu berhadapan dengan kebudayaan, yakni sistem nilai, orientasi hidup, dan pola perilaku yang telah lama mengendap dalam masyarakat. Resensi ini melihat bahwa di sinilah letak keberanian buku tersebut: pembangunan tidak diperlakukan sebagai proyek netral, tetapi sebagai arena perjumpaan—bahkan benturan—antara logika modern dan mentalitas tradisional yang kompleks.
Konsep mentalitas menjadi kunci utama dalam buku ini. Koentjaraningrat menggunakan istilah mentalitas untuk menunjuk pada sikap batin, etos kerja, dan cara pandang masyarakat terhadap waktu, usaha, dan tanggung jawab. Mentalitas tidak bersifat individual semata, tetapi merupakan produk sejarah dan kebudayaan kolektif. Dalam pembacaan resensial ini, mentalitas tampil sebagai jembatan analitis antara kebudayaan yang abstrak dan perilaku sosial yang konkret. Melalui konsep ini, Koentjaraningrat berhasil menjelaskan mengapa perubahan struktural sering kali tidak diikuti oleh perubahan sikap.
Koentjaraningrat menguraikan bahwa dalam banyak masyarakat berkembang, termasuk Indonesia, terdapat nilai-nilai budaya yang pada satu sisi menjaga harmoni sosial, tetapi pada sisi lain dapat menghambat dinamika pembangunan. Orientasi pada hubungan personal, rasa sungkan, dan kecenderungan menghindari konflik sering kali berbenturan dengan tuntutan efisiensi, rasionalitas, dan disiplin modern. Resensi ini menangkap bahwa Koentjaraningrat tidak memposisikan nilai-nilai tersebut sebagai “salah”, melainkan sebagai fakta budaya yang perlu dipahami secara jernih.
Salah satu kekuatan buku ini terletak pada upaya Koentjaraningrat menghindari jebakan penilaian moral. Ia tidak menyederhanakan persoalan dengan membagi kebudayaan menjadi “maju” dan “terbelakang”. Sebaliknya, ia menunjukkan bahwa setiap kebudayaan memiliki logika internalnya sendiri. Masalah muncul ketika logika tersebut tidak selaras dengan tuntutan pembangunan tertentu. Resensi ini membaca pendekatan tersebut sebagai sikap antropologis yang matang dan etis.
Pembahasan mengenai etos kerja menjadi bagian penting dalam buku ini. Koentjaraningrat menyoroti bagaimana pandangan terhadap kerja, usaha, dan prestasi sangat dipengaruhi oleh latar budaya. Dalam masyarakat tertentu, kerja keras dan perencanaan jangka panjang dihargai tinggi; dalam masyarakat lain, keseimbangan hidup dan relasi sosial lebih diutamakan. Resensi ini melihat bahwa Koentjaraningrat tidak sedang membandingkan secara hierarkis, melainkan mengajak pembaca memahami implikasi praktis dari perbedaan tersebut dalam konteks pembangunan nasional.
Buku ini juga mengulas hubungan antara kepemimpinan, birokrasi, dan mentalitas budaya. Koentjaraningrat menunjukkan bahwa struktur organisasi modern sering kali diisi oleh pola pikir tradisional yang menekankan loyalitas personal daripada profesionalisme. Dalam resensi ini, bagian tersebut terasa sangat relevan, karena ia menjelaskan mengapa reformasi kelembagaan sering terhambat bukan oleh aturan, tetapi oleh cara orang memaknainya.
Dalam konteks pembangunan pedesaan, Koentjaraningrat menekankan pentingnya memahami sistem nilai lokal sebelum menerapkan program perubahan. Pembangunan yang mengabaikan kebudayaan setempat berisiko ditolak, disalahpahami, atau hanya diterima secara formal tanpa perubahan substantif. Resensi ini membaca argumen tersebut sebagai kritik halus terhadap pendekatan pembangunan yang terlalu teknokratis dan kurang etnografis.
Koentjaraningrat juga menyinggung peran pendidikan sebagai sarana transformasi mentalitas. Namun pendidikan tidak dipahami semata sebagai transfer pengetahuan teknis, melainkan sebagai proses pembentukan sikap, disiplin, dan tanggung jawab sosial. Resensi ini mencatat bahwa pendidikan, dalam kerangka Koentjaraningrat, adalah jembatan antara kebudayaan lama dan tuntutan masa depan.
Sebagai karya ilmiah, buku ini menunjukkan kekuatan Koentjaraningrat dalam meramu teori antropologi dengan realitas Indonesia. Ia tidak terjebak dalam abstraksi teoritis, tetapi selalu kembali pada contoh-contoh konkret kehidupan sosial. Resensi ini melihat gaya tersebut sebagai ciri khas Koentjaraningrat: antropologi yang membumi dan relevan secara sosial.
Namun demikian, buku ini juga mencerminkan konteks zamannya. Beberapa asumsi tentang pembangunan dan modernisasi lahir dari paradigma yang dominan pada masanya. Resensi ini tidak memandang hal tersebut sebagai kelemahan mutlak, melainkan sebagai penanda sejarah pemikiran pembangunan di Indonesia. Justru dari situ, pembaca dapat memahami bagaimana gagasan tentang pembangunan terus mengalami perubahan.
Dalam pembacaan kontemporer, Kebudayaan, Mentalitas dan Pembangunan tetap menawarkan pelajaran penting. Ia mengingatkan bahwa pembangunan bukan sekadar persoalan kebijakan dan angka statistik, tetapi persoalan manusia dengan segala kompleksitas budayanya. Resensi ini menilai bahwa buku ini masih relevan untuk membaca berbagai kegagalan dan paradoks pembangunan saat ini.
Lebih jauh, buku ini mengajarkan pentingnya sikap reflektif dalam merancang perubahan sosial. Pembangunan yang berhasil bukanlah pembangunan yang memaksakan perubahan, tetapi yang mampu berdialog dengan nilai-nilai lokal. Resensi ini melihat Koentjaraningrat sebagai pemikir yang menawarkan jalan tengah antara romantisme budaya dan determinisme modernisasi.
Pada akhirnya, Kebudayaan, Mentalitas dan Pembangunan adalah sebuah undangan untuk berpikir lebih dalam tentang hubungan antara manusia, kebudayaan, dan perubahan sosial. Buku ini tidak memberikan resep instan, tetapi menawarkan kerangka pemahaman yang tajam dan manusiawi. Dalam resensi ini, karya Koentjaraningrat tampil sebagai pengingat bahwa pembangunan sejati selalu dimulai dari pemahaman terhadap manusia itu sendiri.
Menutup pembacaan ini, dapat dikatakan bahwa buku Koentjaraningrat tersebut merupakan salah satu karya penting dalam khazanah ilmu sosial Indonesia. Ia menghubungkan antropologi dengan persoalan nyata bangsa, dan menempatkan kebudayaan sebagai pusat analisis pembangunan. Resensi ini menegaskan bahwa selama pembangunan masih menjadi agenda sosial, pemikiran Koentjaraningrat akan tetap relevan untuk dibaca, ditafsirkan, dan diperdebatkan.
Home »
Book Review
» Kebudayaan, Mentalitas, dan Pembangunan: Membaca Ulang Pemikiran Koentjaraningrat
