Upacara Tantulak pada Masyarakat Dayak Ngaju

Pengantar
Kalimantan Tengah adalah sebuah provinsi yang ada di Indonesia. Di sana ada beberapa masyarakat yang dikategorikan sebagai diupayakan berkembang (“masyarkat terasing”). Salah satu diantaranya adalah orang Dayak Ngaju. Sebagaimana masyarakat di Indonesia pada umumnya, mereka juga mempercayai bahwa kehidupan manusia selalu diiringi dengan masa-masa kritis, yaitu suatu masa yang penuh dengan ancaman dan bahaya (Koentjaraningrat, 1985; Keesing, 1992). Masa-masa itu adalah peralihan dari tingkat kehidupan yang satu ke tingkat kehidupan lainnya (dari manusia masih berupa janin sampai meninggal dunia). Oleh karena masa-masa tersebut dianggap sebagai masa yang penuh dengan ancaman dan bahaya, maka diperlukan adanya suatu usaha untuk menetralkannya, sehingga dapat dilalui dengan selamat. Usaha tersebut diwujudkan dalam bentuk upacara yang kemudian dikenal sebagai daur hidup (upacara lingkaran hidup individu) yang meliputi: kehamilan, kelahiran, khitanan, perkawinan, dan kematian. Tulisan ini terfokus pada upacara kematian di kalangan mereka yang disebut sebagai tantulak.

Waktu, Tempat, Pemimpin dan Pihak-pihak yang Terlibat dalam Upacara
Upacara tantulak dilakukan tiga hari setelah upacara penguburan dengan tujuan untuk memindahkan arwah orang yang baru saja meninggal dari alam kubur ke tempat penantian bersama Nyai Bulu Indu Rangkang (sebelum dilaksanakannya pesta tiwah). Selain itu, upacara tantulak juga bertujuan untuk memulihkan keseimbangan magis, menjauhkan segala macam marabahaya dan menghilangkan segala kemalangan atau kesialan dan hal-hal yang tidak baik yang dapat timbul pada keluarga si mati maupun pada seluruh warga kampung.

Sebagaimana upacara pada umumnya, upacara tantulak ini juga dilakukan secara bertahap. Tahap-tahap yang harus dilalui oleh seseorang dalam upacara ini adalah sebagai berikut: (1) tahap penyembelihan babi; (2) tahap penaburan makanan di kuburan si mati; (3) tahap menabur beras yang telah diasapi dengan kemenyan untuk mandurut sangiang (mengabarkan dan mengundang kehadiran Sangiang); (4) tahap mangkang sangiang atau penyambutan Sangiang Raja Duhung Mama Tandang; (5) tahap pengolesan darah babi dan ayam; (6) tahap memapas nyalentup, yaitu tahap pengusiran kuasa jahat dan kesialan dari rumah si mati; (7) tahap menghanyutkan daun sawang dan humbang ke sungai; dan (8) tahap peramalan dengan tujuh butir behas hambaruang. Seluruh rentetan upacara ini biasanya dilakukan dari pagi hingga malam hari.

Tempat pelaksanaan upacara tantulak bergantung dari tahapan-tahapan yang harus dilalui. Untuk prosesi penyembelihan babi, menabur beras yang telah diasapi kemenyan, penyambutan Sangiang Raja Duhung Mama Tandang, pengolesan darah babi dan ayam, memapas nyalentup, dan tahap peramalan dengan tujuh butir behas hambaruang, dilakukan di rumah orang yang meninggal dunia. Untuk prosesi penaburan makanan dilakukan di kuburan orang yang meninggal tersebut. Sedangkan, untuk prosesi penghanyutan daun sawang dan humbang dilakukan di sungai. Sebagian besar upacara ini dipimpin oleh seorang basir upu dan dibantu oleh dua orang basir lainnya. Sedangkan, acara penaburan makanan dan pemotongan babi dilakukan oleh anggota keluarga dari orang yang meninggal. Adapun pihak-pihak yang terlibat dalam upacara tantulak adalah sanak kerabat dari orang yang meninggal dan warga masyarakat sekitarnya.

Peralatan Upacara
Peralatan dan perlengkapan yang perlu dipersiapkan dalam upacara tantulak adalah: (1) satu ekor babi yang darahnya akan dibagikan pada setiap rumah yang ada di dalam kampung; (2) dua ekor ayam yang telah dimasak tanpa dipotong-potong yang nantinya akan digunakan sebagai sesajen untuk Sangiang; (3) sebuah mangkuk tambuk yaitu mangkuk yang berisi beras; (4) sebuah mangkuk lagi yang berisi behas hambaruang, yaitu beras yang dianggap bening dan tanpa cacat sebanyak tujuh butir; (5) sebuah gong yang ditelentangkan dan di dalamnya ditaruh satu pasang pakaian si mati semasa masih hidup, sisir, minyak, cermin, dan sedikit air. Benda-benda tersebut dilambangkan sebagai pakaian yang nantinya akan dipakainya setelah Sangiang memandikan arwah si mati; (6) sebuah kelapa yang ditancapkan sebilah tombak dan diikatkan jenjuang sawung, kemudian ditaruh dalam sebuah bakul (palundu). Kelapa tersebut nantinya akan dipakai oleh Sangiang Raja Duhung Mama Tarandang untuk memandikan arwah si mati setelah ia dihidupkan kembali. Namun, ada juga yang menyatakan bahwa kelapa yang ditaruh dalam palundu itu melambangkan si mati saat ia masih dalam kandungan ibunya; (7) beberapa ruas bambu (humbang) yang di dalamnya diisi sedikit air dan dibungkus dengan kain hitam. Jumlah humbang itu tergantung dari jenis kelamin si mati. Apabila yang meninggal adalah perempuan, maka ruas bambunya berjumlah lima buah. Sedangkan, apabila yang meninggal adalah laki-laki, maka ruas bambunya berjumlah tujuh buah (humbang kanyalun liau).

Jalannya Upacara
Pada hari ketiga setelah upacara penguburan, keluarga orang yang meninggal dunia itu memulai upacara tantulak dengan menyembelih seekor babi. Darahnya diambil dan dicampur dengan beras, kemudian dibagikan kepada seluruh keluarga/rumah tangga yang ada di dalam kampung. Beras bercampur darah babi itu lalu diletakkan di atas sebuah batu asah dan diinjak secara bergiliran oleh setiap anggota keluarga. Cara menginjaknya, mula-mula dengan kaki sebelah kiri sambil menghadap ke arah matahari terbenam. Ini melambangkan bahwa seperti terbenamnya matahari, demikian juga segala kemalangan dan hal-hal yang tidak baik akan menjadi hilang atau lenyap. Sesudah itu, baru dengan kaki sebelah kanan dan menghadap ke arah timur. Ini melambangkan seperti terbitnya matahari, demikian juga datangnya untung, murah rezeki, panjang umur dan selalu dalam keadaan sehat tanpa gangguan apapun dalam hidup mereka.

Selepas tengah hari dan sebelum basir mulai balian, salah seorang anggota keluarga si mati datang ke kuburan untuk membawa sedikit makanan. Makanan tersebut kemudian ditaburkan dengan tangan kiri di atas kuburan si mati. Maksud dari tindakan ini adalah untuk memberitahukan kepada arwah yang baru meninggal agar ia mempersiapkan diri karena rohnya akan dipindahkan dari tempat itu ke “Bukit Pasahan Raung”. Selain itu, tindakan menabur makanan juga bermaksud untuk memberitahukan kepada roh-roh penjaga kuburan agar tidak mengganggu selama upacara tantulak berlangsung.

Pada pukul empat atau lima sore para basir yang dipimpin oleh basir upu mulai melakukan balian dengan cara duduk sambil menabur beras yang sudah diasapi kemenyan. Setelah beras ditaburkan, biasanya tujuh kali, barulah ketiga orang basir memukul alat upacara yang disebut katambung1. Pemukulan katambung ini dilakukan sebentar saja dengan maksud untuk mandurut sangiang (mengabarkan dan mengundang kehadiran Sangiang). Sedangkan, maksud dari tindakan menabur beras adalah untuk mengundang Sangiang Raja Duhung Mama Tandang beserta para pembantunya agar datang dalam upacara tentulak. Konon, Raja Duhung Mama Tandang ini nantinya akan turun dari dunia para dewa (Lewu Sangiang) dengan menggunakan kendaraan yang disebut lasang papan talawang teras jambu bahandang jintung muntei bulan. Dalam upacara tantulak, Raja Duhung Mama Tandang berperan menghidupkan arwah si mati dan membawanya ke tempat Nai Balu Indu Rangkung.

Pada malam harinya, ketiga basir itu melakukan balian lagi dengan duduk di atas bangku panjang, yang dalam bahasa Ngaju disebut katil. Balian tahap kedua ini disebut mangkang sangiang yang bertujuan untuk menyambut kedatangan Sangiang. Setelah Sangiang Raja Duhung Mama Tandang dirasa telah datang, maka ketiga basir tersebut melalukan balian lagi yang disebut puturan sangiang. Selanjutnya, ketiga basir tersebut mendatangi seluruh anggota keluarga si mati untuk mengoleskan darah babi dan ayam. Maksud dari tindakan pengolesan darah itu adalah untuk menghapus segala macam kesialan, penyakit dan pantangan-pantangan yang timbul akibat adanya kematian salah seorang anggota keluarga. Selain itu, darah babi dan ayam juga merupakan lambang bagi anggota keluarga yang ditinggalkan akan adanya kehidupan baru, murah rezeki, panjang umur dan selalu sehat serta terhindar dari segala macam marabahaya.

Setelah semua anggota keluarga diolesi dengan darah babi dan ayam, ketiga basir kemudian memapas nyalentup, yaitu balian yang dilakukan sambil berjalan berkeliling rumah dan mengambil beberapa daun sawang serta beberapa ruas bambu muda (humbang). Bambu itu kemudian dipanaskan secukupnya (imaru) lalu dipukulkan pada tiang-tiang rumah, ambang pintu, dan jendela sambil membaca doa-doa. Maksud dari balian memapas nyalentup ini adalah untuk mengusir segala kuasa jahat, kesialan dan kemalangan dari rumah si mati.

Usai memapas nyalentup, ketiga basir lalu menuju ke sungai yang diikuti oleh para peserta upacara. Dalam iring-iringan tersebut, salah seorang anggota keluarga si mati diserahi tugas untuk membawa daun sawang dan ruas bambu yang tadi telah dipakai dalam memapas nyalentup. Sesampainya di sungai, bambu dan daun sawang itu lalu dihanyutkan sebagai simbol bahwa telah hanyut pula segala kesialan, kemalangan dan penyakit yang hinggap pada keluarga si mati. Kemudian, atas instruksi basir upu, salah seorang anggota keluarga mengambil air dengan sebuah mangkuk dari ruang timba sebuah perahu. Selesai mengambil air, seluruh peserta upacara kembali ke rumah keluarga si mati.

Sesampai di rumah, air dari sungai yang dibawa dengan mangkuk tersebut dicampur dengan tengang (semacam bahan untuk tali). Sebelum basir upu memulai acara selanjutnya, para peserta upacara diperkenankan untuk mencelupkan atau mengelap muka mereka dengan air itu. Setelah itu, para basir merobek tengang yang ada di dalam mangkuk tadi menjadi sobekan-sobekan kecil dan mengikatkan ke tangan peserta upacara yang menghendakinya. Pengikatan tengang ke tangan ini merupakan lambang kuatnya jasmani dan rohani, seperti kuatnya tengang itu sendiri.

Selanjutnya, basir upu membuka bungkusan berisi tujuh butir behas hambaruang yang ada di dalam mangkuk. Menurut kepercayaan mereka, melalui ketujuh butir behas hambaruang yang dibungkus itu dapat dilihat apa yang akan terjadi dalam keluarga itu dalam waktu yang dekat. Apabila ketujuh butir beras yang mulanya bening tanpa cacat, setelah dibuka kemudian ternyata sebagian besar menjadi cacat, rapuh atau bahkan putus, maka pertanda akan ada hal-hal yang kurang baik terjadi dalam lingkungan keluarga tersebut. Namun sebaliknya, apabila sebagian besar utuh, maka hal itu merupakan pertanda baik. Dan, dengan berakhirnya tahap peramalan melalui behas hambaruang ini, berakhirlah seluruh rentetan dalam upacara tantulak.

Nilai Budaya
Upacara tantulak, jika dicermati secara mendalam, mengandung nilai-nilai yang pada gilirannya dapat dijadikan sebagai acuan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai itu antara lain adalah: kebersamaan, ketelitian, gotong royong, keselamatan dan religius. Nilai kebersamaan tercermin dari berkumpulnya sebagian besar anggota masyarakat dalam suatu tempat, makan bersama dan doa bersama demi keselamatan bersama pula. Ini adalah wujud kebersamaan dalam hidup bersama di dalam lingkungannya (dalam arti luas). Oleh karena itu, upacara ini mengandung pula nilai kebersamaan. Dalam hal ini, kebersamaan sebagai komunitas yang mempunyai wilayah, adat-istiadat dan budaya yang sama.

Nilai ketelitian tercermin dari proses upacara itu sendiri. Sebagai suatu proses, upacara memerlukan persiapan, baik sebelum upacara, pada saat prosesi, maupun sesudahnya. Persiapan-persiapan itu, tidak hanya menyangkut peralatan upacara, tetapi juga tempat, waktu, pemimpin, dan peserta. Semuanya itu harus dipersiapkan dengan baik dan seksama, sehingga upacara dapat berjalan dengan lancar. Untuk itu, dibutuhkan ketelitian.

Nilai kegotong-royongan tercermin dari keterlibatan berbagai pihak dalam penyelenggaraan upacara. Mereka saling bantu demi terlaksananya upacara. Dalam hal ini ada yang membantu menyiapkan makanan dan minuman, menjadi pemimpin upacara, membantu pemimpin upacara, dan lain sebagainya.

Nilai keselamatan tercermin dalam adanya kepercayaan bahwa peralihan kehidupan seorang individu dari satu masa ke masa yang lain penuh dengan ancaman (bahaya) dan tantangan. Untuk mengatasi krisis dalam daur kehidupan seorang manusia itu, maka perlu diadakan suatu upacara. Tantulah merupakan salah satu upacara yang bertujuan untuk mencari keselamatan pada tahap peralihan dari masa kehidupan di dunia menuju ke kehidupan di alam yang lain.

Nilai religius tercermin dalam doa bersama yang dipimpin oleh basir upu dengan tujuan agar si mati mendapat perlindungan dari Sangiang Raja Duhung Mama Tandang dan orang-orang disekitarnya terbebas dari kemalangan, kesialan dan hal-hal yang merugikan lainnya. (ali gufron)

Sumber:
Keesing, Roger. 1992. Antropologi Budaya Edisi ke dua. Jakarta: Erlangga.
Koentjaraningrat. 1985. Beberapa Pokok Antropologi Sosial. Jakarta: Dian Rakyat.
Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1992. Aneka Ragam Khasanah Budaya Nusantara III. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1995. Aneka Ragam Khasanah Budaya Nusantara VI. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

1 Alat musik “katambung” yang dalam bahasa Indonesia berarti “pukul”, konon sudah mulai dikenal dan berkembang di kalangan orang Dayak sebelum abad X Masehi. Katambung umumnya digunakan pada upacara yang berkaitan dengan upacara gawi belom (memotong pantan, yaitu sejenis kayu yang diletakkan melintang di pintu gerbang tempat upacara) dan gawi matey. Pada upacara gawi belom, katambung digunakan untuk mengiringi penyambutan tamu. Sedangkan pada gawi matey, katambung ditabuh pada saat upacara tiwah (kematian), termasuk pada upacara balian ngarahang tulang (mengangkat tulang belulang), balian tantulak (penguburan), dan balian untung (upacara syukuran setelah penguburan maupun mengangkat tulang-belulang).
hal
Dilihat: