Showing posts with label Peralatan Pertanian. Show all posts
Showing posts with label Peralatan Pertanian. Show all posts

Nalih

Nalih adalah wadah sejenis bakul yang mempunyai pegangan berfungsi sebagai tempat penyimpanan sementara hasil kebun atau ladang seperti lada dan kopi. Wadah ini dibuat dari anyaman bambu atau rontan yang dibentuk sedemikian rupa dengan memakai pegangan untuk dapat diangkat dengan tangan. Pada masyarakat pedesaan Lampung Nalih umumnya dibuat sendiri dan bukan dibeli di pasar tradisional.

Babalang

Babalang adalah sebutan orang Lampung Pepadun bagi sebuah wadah atau peralatan untuk menyimpan hasil pertanian, seperti: padi, lada, jagung, kopi, cengkeh, dan lain sebagainya. Wadah ini berbentuk keranjang yang cara membawanya dapat diangkat maupun didukung. Adapun bahan pembuatnya dapat berupa bambu yang dianyam dan atau rotan. Babalang umumnya hanya digunakan sebagai wadah penyimpanan sementara ketika sedang mengadakan pengolahan hasil ladang.

Renet

Renet adalah istilah orang Manggarai di Nusa Tenggara Timur bagi sebuah wadah yang dalam bahasa Indonesia biasa disebut sebagai keranjang atau bakul. Di Indonesia sendiri keranjang umumnya dibuat dari anyaman bambu. Adapun fungsinya dapat bermacam-macam bergantung ukuran serta bentuknya. Jadi, ada keranjang yang dibuat khusus untuk mengangkut satu atau beberapa jenis barang saja dan ada pula yang multifungsi. Renet merupakan salah satu wadah yang hanya berfungsi sebagai penampung satu jenis barang saja, yaitu bulir padi. Wadah ini berbentuk keranjang besar terbuat dari anyaman bambu pada bagian penampungnya dengan tinggi antara 1 sampai 1,5 meter dan bilah-bilah bambu tipis sebagai penyangganya. Untuk satu kali angkut renet dapat membawa sekitar 50 kilogram bulir padi.

Nggoet

Nggoet adalah istilah orang Manggarai di Nusa Tenggara Timur bagi sebuah wadah berbentuk keranjang pengangkut bulir padi hasil pengetaman. Nggoet terbuat dari bambu wuluh muda (berumur sekitar satu tahun). Bambu ini ada yang dibelah dan dihaluskan sebagai penyangga/kerangka nggoet dengan ukuran antara 1-1,5 centimeter dan ada pula yang dianyam membentuk sebuah keranjang. Pekerjaan membelah bambu umumnya dilakukan kaum laki-laki, sedangkan proses menganyamnya oleh kaum perempuan.

Apabila nggoet telah terbentuk, proses selanjutnya adalah mengeringkan dengan cara dijemur di panas mahatari selama beberapa hari. Nggoet hasil karya orang Manggarai ini memiliki volume bervariasi antara 2,5-5 kilogram. Adapun cara membawanya disandang di pinggang kiri ataupun kanan, bergantung pada kebiasaan si pembawanya menggunakan tangan mana ketika mengetam. Dan, agar tidak jatuh ketika disandang, pada bagian bilah bambunya diberi semacam tali untuk diikatkan di pinggang.

Beka Renco

Beka renco adalah istilah orang Manggarai di Nusa Tenggara Timur untuk menyebut sebuah wadah berbentuk keranjang besar berfungsi sebagai penyalin bulir padi yang telah dietam dan dimasukkan dalam nggoet. Beka renco berasal dari kata beka yang berarti keranjang atau wadah dan renco berarti menyalin. Wadah ini terbuat dari anyaman bambu pada bagian penampungnya dan bilah-bilah bambu tipis sebagai penyangganya.

Pekerjaan menyalin bulir padi dari nggoet ke dalam beka renco umumnya dilakukan oleh salah seorang pengetam. Dia disebut sebagai ata renco, yaitu orang (laki-laki atau perempuan) dewasa yang diberi tugas khusus menyalin bulir padi ke beka benco untuk selanjutnya dibawa ke tempat rik (irik).

Cola

Cola merupakan salah satu peralatan yang digunakan dalam proses rima atau pembabatan pepohonan guna membuka linko (ladang) pada masyarakat peladang di daerah Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Cola adalah istilah setempat bagi sebuah benda yang dalam bahasa Indonesia disebut sebagai kapak. Adapun kegunaannya untuk menebang pepohonan besar yag sulit ditebas hanya dengan menggunakan kope (parang). Di daerah Manggarai cola dibagi menjadi dua jenis berdasarkan panjang corang atau pegangannya. Cola dengan panjang corang hanya sekitar 50 centimeter berfungsi menebang pepohonan besar dan keras, sementara yang berukuran hingg 100 centimeter untuk membelah kayu.

Kope

Kope adalah salah satu peralatan yang digunakan oleh masyarakat peladang di daerah Manggarai, Nusa Tenggara Timur, saat melakukan aktivitas rima dalam usaha pembukaan lingko (ladang). Kope atau parang dapat dibagi menjadi beberapa jenis menurut ukuran, bentuk, maupun kegunaannya. Untuk menebang pepohonan berukuran kecil sekaligus memapas cabang-cabangnya kope yang digunakan disebut kope selek. Sementara untuk memotong cabang pohon yang berdiameter agak besar digunakan kope lobo yang berukuran pendek dengan bilah tebal dan bagian mata berbentuk agak buncit. Sedangkan bila pohon yang akan ditebang berukuran besar, kopenya juga berukuran besar yaitu kope cenge (mirip seperti kope lobo namun lebih besar). Dan, kope terakhir adalah kope cengok, berbentuk kecil untuk menebas rerumputan.

Seluruh jenis kope bagian bilahnya dibuat dari besi/baja yang ditempat sedemikian rupa hingga pipih, halus dan tajam. Bagian gagang (corang) untuk kope selek dan kope cengok terbuat dari akar kayu. Sedangkan corang kope lobo dan cenge dari pokok bambu yang berada di dalam tanah (tempat tumbuh akar bambu). Selain itu, sebagai pelengkap setiap kope diberi sarung/pelindung yang disebut sebagai bako kope.

Getas

Getas adalah sebutan orang Lampung bagi alat penuai padi pada saat dipanen tiba. Getas dibuat dari kayu (papan) tipis setebal sekitar 5 cm dengan lebar 5 cm dan panjang 13 cm, sepotong bambu sebesar ibu jari dengan panjang sekitar 13 cm yang nantinya dipasang di bagian belakang sebagai pegangan dan sebilah besi tipis sebagai mata getasnya. Di daerah Lampung para petani umumnya memperoleh getas dengan cara membelinya di pasar atau di toko-toko yang menjual alat pertanian.

Gasrok

Gasrok adalah sebutan orang Sunda pada sebuah alat yang digunakan untuk ngarambet atau membersihkan rerumputan yang mengganggu pertumbuhan tanaman padi. Gasrok terdiri atas dua macam bentuk. Bentuk pertama berupa bantalan kayu yang bagian bawahnya dipasangi paku-paku bengkok berderet hingga memenuhi permukaannya. Sebagai pegangannya, bantalan kayu ini diberi tangkai mencuat ke atas dengan sudut kemiringan sekitar 45 derajat. Rerumputan yang tergasrok akan terkait oleh paku-paku yang ada di bawah bantalan. Sedangkan bentuk gasrok lainnya berupa kotak kayu persegi enam yang diberi as (sumbu roda) sehingga dapat berputar. Setiap segi dari kotak kayu tersebut diberi cucuk besi yang akan berdiri bila sedang dipergunakan (seperti bulu binatang landak), sehingga rumput-rumput liar akan terkait olehnya. Adapun cara menggunakan kedua jenis gasrok itu adalah dengan mendorongnya mengikuti gang atau celah-celah antartanaman. (gufron)

Traktor

Traktor adalah kendaraan yang dijalankan dengan bensin atau motor diesel, dipakai untuk menarik benda yang berat atau membajak (meratakan) tanah (kbbi.web.id). Istilah tractor sendiri berasal dari bahasa Latin “trahere” atau “menarik/menghela” yang awalnya dipakai untuk mendefinisikan suatu mesin atau kendaraan beroda empat (roda belakang lebih besar ketimbang roda depan) yang dilengkapi sebuah sambungan khusus sebagai penarik atau pendorong gerbong. Oleh karena itu, jenis mesinnya pun umumnya didesain secara spesifik untuk keperluan traksi tinggi pada kecepatan rendah dengan rasio kecepatan antara 3 hingga 6 persneling. Apabila mesin dirancang berkecepatan tinggi, maka traktor disebut dengan istilah unit-tractor, semi-trailer atau truk tractor1 dan penggunaannya khusus untuk jalan beraspal.

Traktor pertama kali digunakan di Benua Eropa (Inggris, Irlandia, Spanyol, Jerman) dan Amerika (Argentina) sebagai mesin pembajak tanah pada sekitar tahun 1800-an dengan teknologi masih menggunakan mesin uap. Sedangkan di Amerika Serikat dan Kanada traktor digunakan sebagai kendaraan penarik trailer sehingga dinamai juga sebagai “truk semi-trailer”. Adapun tujuan penggunaanya adalah untuk menggantikan tenaga hewan yang biasa menghela atau menarik beban. Traktor dinilai jauh lebih kuat dalam menarik beban dibandingkan dengan tenaga puluhan hewan atau bahkan ratusan manusia.

Satu setengah abad kemudian (awal abad ke-20) pengunaan teknologi baru mulai diterapkan dengan penggantian bahan bakar batu bara menjadi bensin sebagai bahan bakar utama dan minyak tanah serta etanol sebagai alternatifnya. Dan, puncak pembaruan mesin traktor terjadi sekitar tahun 1960-an dengan menggunakan mesin diesel berbahan bakar solar dan penggunaan sistem hidrolik2 pada stir, rem serta persneling. Pembaruan juga terjadi pada komponen-komponen traktor lain yang oleh Zulfahrizal dan Purwana Satriyo (2007) dibedakan menjadi 5 bagian, yaitu: (1) penggerak (engine) berupa motor diesel; (2) rangka (chasis) terbuat dari bahan yang kuat dan tahan korosi; (3) penutup (canopy) sebagai pelindung operator; (4) roda penggerak yang dapat berupa karet, rantai, dan besi; dan (5) instrumen-isntrumen yang berfungsi sebagai kendali dalam pengoperasian (stir, pedal gas, rem, lampu, dll) serta alat ukur untuk mengetahui kondisi kerja traktor (penduga tekanan oli, penduga jumlah bahan bakar, speedometer, dll).

Selain pembaruan mesin, fungsi traktor dalam bidang pertanian juga mengalami perkembangan. Saat ini, traktor tidak hanya digunakan untuk membajak sawah, melainkan juga menanam, memelihara tanaman, memutar pompa irigasi, memanen (menggunakan pisau reaper), perontok padi, serta untuk mengangkut (bibit, pupuk, peralatan hingga hasil panen) dengan mesin yang umumnya didominasi oleh diesel dan memiliki output power antara 18 hingga 575 tenaga kuda (15-480 kW).

Oleh karena fungsi atau kegunaannya sudah bermacam-macam, maka traktor pun akhirnya dibedakan menjadi lima macam, yaitu: (1) general purpose tractor yang memiliki poros roda relatif rendah dan dirancang untuk melaksanakan pekerjaan yang bersifat umum; (2) special purpose tractor yang dirancang khusus dalam bidang pertanian dengan karakteristik poros roda (ground clearance) tinggi, jarak roda kiri dan kanan (wheelbase) dapat diatur dan dapat dirangkaikan dengan alat-alat untuk pengolah tanah, pemeliharaan tanaman, dan pemanenan; (3) industrial tractor, dirancang khusus untuk keperluan industri dan pembangunan dengan karakteristik roda depan dan belakang hampir sama dan bergardan ganda sehingga memiliki tenaga besar; (4) plantation tractor, dirancang dengan konstruksi pusat titik berat rendah, berdaya besar dan dilengkapi dengan pelindung agar mudah dan aman digunakan pada lahan yang banyak tanamannya dan lahan yang mempunyai kemiringan tinggi; dan (5) garden tractor, dirancang khusus untuk pekerjaan-pekerjaan yang bersifat ringan. (Putri: 2011)

Sementara menurut Sutantra sebagaimana dikutip Putri (2011), berdasarkan bentuk dan ukurannya secara garis besar traktor dibagi menjadi tiga macam, yaitu: traktor besar, traktor mini, dan traktor tangan. Traktor besar adalah traktor yang mempunyai minimal dua poros roda (beroda empat atau lebih) dengan panjang berkisar antara 2.650-3.910 mm, lebar 1.740-2.010 mm dan daya 20-120 hp (tenaga kuda).

Traktor mini adalah traktor yang mempunyai dua poros roda (beroda empat) dengan panjang berkisar antara 1.790-2.070 mm, lebar 995-1.020 mm, daya 12,5-20 hp (tenaga kuda), dan dilengkapi dengan sumbu PTO (power take off)3 serta three point hitch (tiga titik penggandengan/mounted system). Mesinnya bermotor diesel dua silinder atau lebih dengan transmisi (versneling) 6 kecepatan maju dan 2 mundur (4 kecepatan rendah dan 4 kecepatan tinggi). Traktor yang hanya berbeda pada kekuatan daya dengan traktor besar ini dapat bekerja pada kisaran 0.94-4,79 km/jam dengan kecepatan transport antara 7,54-13,31 km/jam.

Jenis traktor terakhir adalah traktor tangan yang hanya mempunyai sebuah poros roda (beroda dua) dengan panjang berkisar 1.740-2.290 mm, lebar 710-880 mm, dan daya 6-10 hp (tenaga kuda). Berdasarkan jenis bahan bakar yang digunakannya, traktor tangan dapat dibagi menjadi tiga, yaitu: traktor berbahan bakar solar, bensin, dan minyak tanah atau kerosin. Sedangkan apabila dilihat berdasarkan besarnya daya motor, traktor tangan dapat dibagi lagi menjadi tiga juga, yaitu: traktor tangan berukuran kecil dengan tenaga penggerak kurang dari 5 hp, traktor tangan berukuran sedang dengan tenaga penggerak antara 5-7 hp, dan traktor tangan berukuran besar dengan tenaga antara 7 hingga 12 hp (horse power/tenaga kuda).

Baik traktor tangan berukuran kecil, sedang, dan besar yang berbahan bakar solar, bensin atau kerosin memiliki komponen-komponen utama yang sama, yaitu: tenaga penggerak (mesin), kerangka dan transmisi (penerus tenaga), tuas kendali, roda, dan peralatan pengolah tanah (implements) (Hardjosentono, dkk: 2002). Jenis tenaga penggerak traktor tangan didominasi oleh mesin diesel satu silinder berbahan bakar solar, berdaya antara 5 hingga 12 tenaga kuda dengan pengoperasian engkol. Mesin tersebut terdiri dari komponen-komponen yang saling berhubungan satu sama lain, yaitu: free wheel (roda angin) untuk menstabilkan putaran mesin, radiator sebagai pendingin mesin, saringan udara untuk menyaring udara sebelum masuk ke ruang bakar mesin, tangki tempat pengisian bahan bakar, gardan sebagai penyalur putaran dari perseling ke as roda, pully sebagai motor penggerak, persneling yang berhubungan dengan tuas transmisi, kipas pendingin radiator, sabuk v-belt, knalpot sebagai saluran pembuangan hasil pembakaran, pull persneling, dan lain sebagainya. Motor atau mesin penggerak ini dipasang pada kerangka (sasis) dengan empat buah baut pengencang yang lubangnya (drat) dibuat memanjang agar posisi motor dapat digerakkan maju mundur dan memperoleh keseimbangan dengan ukuran v-belt yang digunakan. Sementara jenis yang lainnya adalah motor bermesin minyak tanah dan bensin dengan pengoperasian menggunakan tali starter.

Komponen selanjutnya adalah kerangka (sasis) dan transmisi (penerus tenaga). Kerangka traktor tangan berfungsi sebagai tempat kedudukan motor penggerak, transmisi, dan bagian-bagian traktor lainnya yang dikaitkan dengan beberapa buah baut pengencang. Sedangkan transmisi (berbagai macam bentuk4) adalah penerus atau penyalur tenaga dari motor penggerak menuju ke kopling utama untuk menggerakkan serta mengatur kecepatan putaran poros roda dan poros PTO. Selanjutnya, dari PTO tenaga disalurkan lagi melalui gigi dan rantai ke mesin rotari sehingga traktor dapat bergerak maju, mundur atau berbelok. Transmisi pada traktor tangan umumnya berjumlah 8 kecepatan (6 maju dan 2 mundur) untuk digunakan sesuai dengan jenis pekerjaan yang sedang dilaksanakan, seperti: kecepatan satu untuk membajak tanah dengan mesin rotary, kecepatan dua untuk membajak tanah dengan bajak singkal/piringan, kecepatan tiga untuk membajak sawah yang tergenang, kecepatan empat untuk berjalan di jalan biasa, kecepatan lima dan enam untuk menarik trailer atau gerobak, kecematan mundur satu digunakan pada saat operator berjalan, dan kecepatan mundur dua digunakan saat operator naik di trailer atau gerobak.

Setelah kerangka dan transmisi ada pula komponen tuas kendali untuk mempermudah operasionalisasi traktor. Sebuah traktor umumnya dilengkapi beberapa macam tuas kendali untuk mengendalikan pergerakannya, yaitu: (1) tuas persnileng utama, berfungsi untuk memindahkan susunan gigi pada persnileng sehingga perbandingan kecepatan putar poros motor penggerak dan poros roda dapat diatur; (2) tuas persnileng cepat-lambat, berfungsi untuk memisahkan antara pekerjaan mengolah tanah dengan menarik trailer atau gerobak; (3) tuas kopling utama, berfungsi untuk mengoperasikan kopling utama yang bila dilepas pada posisi pasang/on akan menyambungkan gigi persnileng ke tenaga motor dan apabila ditarik ke posisi netral/off maka tenaga tidak akan disalurkan dan langsung tersambung dengan rem yang berada pada rumah kopling utama; (4) tuas persnileng mesin rotary, berfungsi sebagai pengatur kecepatan putar poros POT; (5) tuas kemudi, berfungsi untuk mengoperasikan kopling kemudi kiri dan kanan sebagai pengendali roda. Ada dua buah tuas kemudi pada setiap traktor tangan yang letaknya di bawah persnileng. Apabila tuas kemudi kanan ditekan, maka putaran gigi persnileng tidak tersambung dengan poros roda bagian kanan sehingga roda kanan berhenti dan traktor akan berbelok ke kiri. Demikian pula sebaliknya, apabila kopling kemudi kanan ditekan, maka putaran gigi persnileng tidak tersambung dengan poros roda bagian kiri sehingga roda kiri berhenti dan traktor akan berbelok ke kanan; (6) stang kemudi dan kemudi pembantu, berfungsi membantu tuas kopling saat traktor berbelok, mengangkat implemen saat pengoperasian, dan tempat bertumpu bahu operator agar menambah beban bagian belakang traktor, sehingga hasil pengolahan tanah bisa lebih dalam; (7) tuas gas, berfungsi untuk mengubah kecepatan putaran poros motor penggerak yang sesuai dengan tenaga yang dibutuhkan. Selain itu, tugas gas juga berfungsi untuk mematikan mesin apabila ditempatkan pada posisi “stop”; dan (8) tuas penyangga depan yang apabila didorong akan menjadi penyangga traktor yang hanya memiliki dua roda.

Agar traktor dapat berjalan, tentu saja harus ada komponen lain yaitu roda, baik berupa roda pneumatik (ban karet), roda besi (besar atau kecil), dan roda apung atau roda sangkar (cage wheel). Roda pneumatik biasanya digunakan pada lahan kering atau sebagai sarana pengangkutan. Menurut Frans Jusuf Daywin, dkk (2008), bentuk permukaan roda pneumatik beralur (sirip silang) agak dalam untuk mencegah slip dan dapat meredam getaran sehingga tidak merusak jalan. Jenis selanjutnya adalah roda besi ukuran besar digunakan pada lahan basah atau berlumpur dan roda besi ukuran kecil pada lahan lembab atau areal perkebunan. Roda besi ini mempunyai alur berbentuk sirip melintang yang akan menancap di tanah sehingga akan mengurangi terjadinya slip pada saat menarik beban berat. Sedangkan jenis roda terakhir disebut roda apung atau roda sangkar untuk digunakan pada lahan basah agar traktor tidak tenggelam dalam lumur.

Komponen terakhir adalah unit implemen atau alat yang dapat dipasang dan dilepaskan untuk pekerjaan tertentu. Kegunaan implemen dapat bermacam-macam, seperti: mempercepat waktu penanganan pra-panen, menjamin kenaikan kualitas dan kuantitas serta kapasitas produksi, mengurangi tenaga masusia, dan dapat melakukan perluasan areal pertanian. Implemen-implemen tersebut diantaranya adalah: gelebeg (alat pengolah tanah yang dipasang pada penggandeng/hitch traktor), transplanter (alat untuk menanam bibit padi), ridger (alat untuk membuat guludan di lahan kering yang telah diolah), seed drill (alat untuk membuat alur agar benih padi yang ditebar menjadi teratur), trailer (gerbong atau gerobak yang berkapasitas sekitar 500 kilogram) dan bajak/plow.

Khusus untuk bajak dapat dibagi lagi menjadi 5 macam atau jenis, menurut bentuk dan kegunaannya. Jenis pertama disebut bajak singkal (moldboard plow), merupakan jenis bajak tertua yang digunakan untuk membuat alur (furrow) dengan memotong dan membalik berbagai macam jenis tanah secara satu arah (biasanya arah kanan) atau dua arah (reversible plow). Bagian-bagian dari sebuah bajak singkal terdiri dari singkal (mold board) untuk melempar tanah, pisau (share) untuk memotong tanah, dan penahan samping (landside) sebagai penyeimbang serta penahan bajak.

Jenis kedua disebut pajak piringan (disc plow) yang fungsinya sama dengan bajak singkal, hanya singkalnya saja yang bentuknya menyerupai piringan bulat seperti parabola. Kelebihan dari bajak piringan ini dapat bekerja di tanah yang keras dan kering, lengket, berbatu dan berakar. Sementara kekurangannya, tidak dapat menutup sisa tanaman/rumput yang telah terpotong, bekas pembajakan tidak dapat benar-benar rata, dan hasil pengolahan tanahnya masih berupa bongkahan-bongkahan besar.

Jenis ketiga disebut bajak rotari/pisau berputar (rotary plow), berfungsi hanya untuk memotong tanah saja menggunakan pisau-pisau yang terpasang pada poros yang berputar karena digerakkan oleh motor. Selanjutnya, bajak pahat (chisel plow), berbentuk tajak yang disusun pada suatu rangka dan digunakan untuk memecah tanah keras dan kering hingga kedalaman sekitar 18 inci, mengolah tanah berjerami dan memotong sisa-sisa akar padi dalam tanah, serta memperbaiki inflitrasi air pada tanah. Dan, jenis terakhir adalah bajak tanah (subsoil plow) dengan kegunaan hampir sama dengan bajak pahat, namun dapat mencacah tanah hingga kedalaman antara 50-90 centimeter.

Selain komponen-komponen utama tersebut, terdapat komponen lain yang menunjang bekerjanya sebuah traktor tangan. Komponen-komponen tersebut adalah: tombol lampu dan bel, kumparan arus listrik untuk menghidupkan lampu dan bel, standar depan dan samping (khusus untuk pemasangan roda), instrumen kendali dan instrumen alat ukur, pengunci diferensial (gardan) untuk merubah sudut putaran mesin menjadi 90º agar traktor tidak slip, dan pemberat (ballast) agar roda depan tidak terangkat apabila menarik beban berat. (ali gufron)

Sumber:
Daywin, Frans Jusuf, dkk. 2008. Mesin-mesin Budidaya Pertanian di Lahan Kering. Jakarta: Graha Ilmu.

Hardjosentono, dkk. 2002. Mesin-mesin Pertanian. Jakarta: Bumi Aksara

Putri, Amalia Rochimah. 2011. “Mengenal Traktor Mini dan Hand Traktor Beserta Komponennya”. http://manumeng.blogspot.com/. Diakses 10 Juli 2012

Smith H. P dan Lambert H. W, 1990. Mesin dan Peralatan Usaha Tani. Gajah Mada Unversity Press, Yogyakarta.

Zulfahrizal dan Purwana Satriyo. 2007. Daya di Bidang Pertanian. Banda Aceh: Universitas Syiah Kuala.

"Traktor", diakses dari http://kbbi.web.id/traktor, tanggal 16 Mei 2016.
Foto: http://www.spiegel.de/fotostrecke/hightech-traktor-new-holland-t7-automatisch-pfluegen-saeen-ernten-fotostrecke-91099.html
____________________________
1. Pada tipe truk tractor umumnya dipasang lengan penggaruk, dozer blade, backhoe, dan lain sebagainya dengan penggerak mirip konveyor.
2. Sistem hidrolik adalah suatu sistem penerusan daya dengan menggunakan aliran fluida tak mampat (minyak peluas/oli). Minyak pelumas tersebut dipompakan dari bak penampung (reservoir) untuk selanjutnya disalurkan ke silinder penekan hidrolik pada power steering, pengereman, pengunci diferensial, sistem pengangkatan dan penggandengan (Putri: 2011).
3. PTO atau Power Take Off adalah daya dari mesin yang berupa putaran untuk menggerakkan peralatan lain. Menurut Smith H.P dan Lambert H.W (1990) standar mengenai bentuk, posisi dan putaran sumbut PTO bergantung pada implement yang digerakkannya. Misalnya, PTO buatan Japan Industrial Standards mempunyai standar kecepatan pada putaran rendah sekitar 540 +10 rpm, sedangkan pada kecepatan yang lebih tinggi adalah 1000 +25 rpm.
4. Jenis transmisi dapat bermacam-macam, seperti: pully, belt, kopling, gigi persneling, rantai dan lain sebagainya.

Pakokh Balak

Pertanian tanah basah atau sawah umumnya memiliki sebuah saluran air utama yang akan mengalirkan air ke saluran sekunder dan tersier untuk menggenangi lahan. Agar setiap saluran mendapatkan jatah air secara merata tentu diperlukan suatu peralatan tertentu untuk mengatur aliran airnya. Di daerah Lampung, peralatan untuk mengatur aliran itu disebut pakokh balak.

Pakokh balak merupakan sebuah susunan kayu atau bambu untuk membendung hilian way (jalur air) di saluran utama. Tujuannya agar dapat mensuplai kebutuhan air pada seluruh saluran sekunder secara merata sehingga tidak terjadi penggenangan pada satu atau beberapa areal lahan saja. Alat ini dibuat oleh para petani pemakai air secara begotong-royong dengan jumlah antara 6-10 orang untuk setiap satu saluran sekunder.

Adapun pembuatannya diawali dengan menancapkan kayu-kayu penyangga pada saluran utama dalam jarak sekitar 30 centimeter. Pada kayu-kayu penyangga tersebut kemudian dipasangi bambu atau papan sebagai pembendung sekaligus pengarah aliran air menuju ke saluran sekunder yang dikehendaki. Dan, dari saluran sekunder dibuat lagi pembendung air serupa di saluran tersier dengan ukuran lebih yang lebih kecil atau bergantung dari lebar siring (sikhing). Pembendung kecil ini disebut sebagai pakokh lunik.

Caplakan (Jawa Barat)

Caplakan termasuk alat pertanian tradisional yang berfungsi untuk membuat garis-garis pola jarak tanam padi. Secara keseluruhan, bahan alat ini terbuat dari kayu. Bagian bawah caplakan terdiri atas bilahan kayu yang dipasangi kayu lain berbentuk setengah lingkaran. Jarak antara satu kayu (setengah lingkaran) dengan kayu lain antara 25-30 cm, sesuai dengan jarak rumpun-rumpun padi yang akan ditanam. Bagian atasnya berupa batang kayu bulat sebagai pegangan. Cara menggunakan alat ini adalah menariknya secara vertikal dan horizontal, sehingga pertemuan garis-garis yang tercetak oleh caplakan akan membentuk garis kota-kota. Pada titik-titik sudut kotak inilah padi ditanam.

Sumber:
Sucipto, Toto, Rosyadi, dkk,. 2000. Kebudayaan Masyarakat Sunda di Kabupaten Lebak. Bandung: Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai-nilai Budaya Jawa Barat.
Cara Pasang Tali Layangan agar Manteng di Udara
Topeng Monyet
NUSANTARA COSMIC ECHOES - Pink Floyd Style Progressive Rock

Archive