Lagu Asyik Buat Ngopi Pinggir Sawah
Showing posts with label Cerita Rakyat Bangka-Belitung. Show all posts
Showing posts with label Cerita Rakyat Bangka-Belitung. Show all posts

Legenda Pulau Kapal

(Cerita Rakyat Daerah Bangka Belitung)

Alkisah, di tepi Sungai Cerucuk, Bangka Belitung, dahulu ada sebuah keluarga miskin terdiri atas suami, istri dan seorang anak laki-laki mereka bernama Kulup. Untuk mencukupi kebutuhan hidup Sang suami bekerja mencari kayu bakar, sementara istrinya di ladang menanam tanaman lahan kering. Sedangkan Kulup sendiri tanpa mengenal lelah membantu keduanya.

Suatu hari saat sedang mencari kayu bakar Sang Ayah menemukan tunas-tunas bambu mulai tumbuh. Tertarik menjadikannya sayur rebung, tunas-tunas bambu itu dipotongnya. Tanpa disangka diantara tunas menyembul sebuah tongkat yang setelah dibersihkan bagian kepalanya berhias intan permata.

Tongkat lalu dibawa pulang untuk ditunjukkan pada Sang istri dan Kulup. Sang istri mengusulkan agar tongkat dikembalikan kepada pemiliknya. Sementara Kulup mengusulkan untuk menjualnya di kota. Hasil penjualan dapat mereka gunakan memperbaiki gubuk yang sudah reot dan hampir roboh.

Esok harinya, seusai berpamitan Kulup berangkat menuju kota dengan harapan dapat bertemu saudagar kaya yang mau membeli tongkat temuan Sang ayah. Sebelum berpamitan Kulup berjanji bahwa akan segera pulang apabila tongkat telah laku terjual. Dia akan mencari rute seaman mungkin agar dapat kembali dengan selamat.

Sampai di kota dalam waktu tidak terlalu lama dia berhasil menjual tongkat dengan harga fantastis. Berkarung-karung uang diterima dari Sang Saudagar yang melihat bahwa tongkat itu sebagai benda langka tiada duanya. Sang saudagar berniat menjualnya ke negeri jiran yang orang-orangnya dikenal sangat royal menggelontorkan uang.

Setelah mendapat uang Kulup rupanya lupa akan janjinya. Dia malah memutuskan tinggal di kota dan membeli sebuah rumah mewah. Selanjutnya, dia juga menikahi anak salah seorang saudagar terkaya di kota sehingga harta kekayaannya pun semakin melimpah.

Bertahun-tahun kemudian, Sang mertua memerintah Kulup dan anaknya berlayar menyusur Sungai Cerucuk. Adapun tujuannya adalah ke kampung halaman Kulup untuk mengambil hasil bumi penduduk setempat. Hasil bumi nantinya akan mereka jual lagi dengan harapan dapat menghasilkan keuntungan berlipat ganda.

Mendapat perintah langsung dari Sang mertua tentu saja Kulup terperanjat. Di dalam hati dia sebenarnya menolak karena takut identias aslinya terbongkar. Sebab, selama ini dia mengaku sebagai anak saudagar kaya raya yang bergelimang harta. Namun, karena tidak ada jalan lain, dia terpaksa menyanggupi. Harapan naifnya, tentu kedua orang tua telah tiada dimakan usia.

Beberapa hari setelahnya barulah Kulup, istri, beserta para pengawalnya berlayar menyusur Sungai Cerucuk menggunakan sebuah perahu super mewah. Di sepanjang perjalanan perahu itu menjadi perhatian. Mereka umumnya berdecak kagum melihat ukuran, jenis kayu perahu, bentuk perahu, hingga orang-orang yang menaikinya. Bahkan, ketika mau merapat pun di pelabuhan sudah padat dengan kerumunan manusia yang sepanjang hidup baru pertama kali melihat perahu mewah.

Orang-orang semakin bertambah terkesima ketika pemilik perahu menampakkan diri dan akan menuruni tangga perahu. Sebagian besar penonton mengagumi pakaian yang dikenakan sang pemilik perahu beserta istrinya. Namun, ada juga yang menyidik hingga ke paras dan bentuk perawakan mereka. Orang-orang ini kemudian bergunjing dan menarik kesimpulan bahwa pemilik perahu tidak lain adalah Kulup yang telah lama merantau. Dan, kesimpulan tadi menuntun mereka menemui orang tua Kulup untuk melaporkan kedatangan anaknya.

Kedua orang tua yang dilapori tentu saja gembira bukan kepalang. Anak semata wayang yang hilang entah kemana tiba-tiba pulang dalam keadaan sehat dan kaya raya. Mereka bergegas menuju pelabuhan untuk menyambut. Sebagai tanda kasih sayang, tak lupa Sang ibu membawa kue kesukaan Kulup.

Sayangnya, kegembiraan mereka hanya sampai di depan perahu saja. Niat untuk menyambut dengan sukacita berubah ketika Kulup menghardik dan mengusir. Dia malu pada Sang istri, sebab selama ini mengaku sebagai anak saudagar kaya raya. Sementara dua orang di hadapannya berpenampilan lusuh layaknya seorang pengemis.

Namun, karena mereka tidak juga beranjak dan tetap menyeru Kulup sebagai anak, maka dia menjadi kalap. Di dorongnya kedua orang tua renta itu hingga terjerembab ke tanah. Selanjutnya, dia memerintah anak buahnya ke kapal untuk segera kembali berlayar. Pikirnya, semakin lama berada di darat, akan semakin terbongkarlah rahasia yang selama ini dipendamnya.

Sementara sang ibu yang tersimpuh di tanah, sambil berurai air mata mengucapkan kalimat-kalimat tertentu yang intinya meminta Tuhan menghukum Kulup atas perlakuan buruk terhadap dirinya. Kalimat-kalimat Sang ibu rupanya dikabulkan. Hanya dalam hitungan menit tiba-tiba langit menggelap disertai petir dan angin kencang penanda badai. Kapal milik mertua Kulup terombang-ambing akibat kencanganya angin dan akhirnya terbalik dan karam di tengah sungai. Seluruh penumpang (termasuk Kulup dan istrinya) ikut tenggelam bersama kapal.

Setelah badai berlalu, dari lokasi karamnya kapal muncullah sebuah pulau kecil. Oleh karena bentuk pulau menyerupai kapal terbalik, masyarakat setempat mempercayai bahwa pulau itu adalah jelmaan kapal Kulup yang karam dihantam badai. Mereka kemudian menamainya sebagai Pulau Kapal.

Diceritakan kembali oleh gufron

Legenda Tanjung Penyusuk

(Cerita Rakyat Daerah Bangka Belitung)

Alkisah, di daerah Bangka dahulu ada sebuah kerajaan makmur gemah ripah lohjinawi. Kerajaan ini dipimpin oleh seorang arif dan bijaksana bernama Hasyim. Baginda Hasyim nan rupawan memiliki istri bernama Ratu Malika. Keduanya telah lama menikah namun belum juga dikaruniai momongan.

Suatu hari Sang raja memergoki permaisurinya sedang duduk termenung dengan wajah tampak murung. Ketika ditanya jawab Ratu Malika seperti biasanya, yaitu dia sedih karena belum juga dikaruniai momongan. Apabila nanti mereka meninggal tidak akan ada lagi penerus tahta kerajaan.

Mendengar keluh kesah Sang Ratu, Raja tidak dapat berbuat apa-apa. Dia hanya bisa menghibur dengan mengatakan bahwa Tuhan belum mengabulkan doa mereka. Begitu jawaban Raja tiap kali Ratu Malika berkeluh kesah tentang momongan hingga suatu hari ada upacara adat berupa pesta rakyat sebagai wujud syukur atas panen yang melimpah.

Sang Ratu yang biasanya murung agak sedikit terhibur. Bersama sahabat sekaligus dayangnya bernama Biru, dia berkeliling alun-alun kerajaan melihat pesta perayaan panen. Di tengah meriahnya pesta dari arah belakang tiba-tiba dia dikejutkan oleh tepukan di bahu dari seorang laki-laki tua.

Saat Sang Ratu menoleh, kakek itu tersenyum dan berkata kalau senang sekali melihat Ratu Malika mau menghilangkan kegundahan hati walau sesaat. Sang kakek lalu berkata bahwa apabila Ratu Malika benar-benar menginginkan anak, maka dia akan memberitahu caranya.

Terkejut akan perkataan tadi, Sang Ratu lantas bertanya mengapa Sang kakek bisa mengetahui permasalahan yang sedang dihadapinya. Namun pertanyaan itu tidak lantas dijawab. Sang kakek malah berkata bahwa Ratu Malika harus mencari seekor penyu hijau di laut Bangka Utara. Penyu hijau itu merupakan penyu ajaib yang dapat mengabulkan apapun permohonan orang yang bisa menangkapnya.

Belum sempat Ratu Malika bertanya lebih lanjut perihal penyu hijau ajaib, tiba-tiba Sang kakek menyelinap dan hilang di antara kerumunan orang. Dia pun bergegas ke istana menemui raja untuk melaporkan apa yang baru saja dialami bersama pria tua misterius di tengah keramaian pesta.

Raja tidak lantas mempercayai apa yang dikatakan oleh pria tua misterius itu. Dia perlu menimbang-nimbang dulu sebelum mengambil keputusan. Dan, baru setelah beberapa minggu dia akhirnya berniat mencobanya. Pikirnya, toh tidak ada salahnya mencari alternatif selain ke tabib atau ke orang-orang pintar lainnya. Lagi pula dia hanya tinggal memerintahkan para prajurit mencari penyu hijau ajaib tanpa perlu pergi sendiri ke laut Bangka Utara.

Beberapa hari kemudian menghadaplah seorang perwakilan prajurit sambil membawa penyu hijau. Si penyu hijau lalu diletakkan dalam sebuah kotak bening yang terdapat di sudut kamar tidur raja. Malam harinya sebelum beranjak ke peraduan Raja dan Ratu menuju sudut kamar melihat si penyu hijau.

Ketika didekati, tanpa dinyana Si penyu hijau berucap pada mereka dengan menanyakan apakah Raja dan Permaisuri benar-benar menginginkan seorang anak. Pertanyaan ini sungguh mengejutkan Raja dan Permaisuri karena tidak menduga Si penyu hijau dapat berbicara. Mereka lantas mengiyakan pertanyaan Si penyu hijau tadi.

Sejurus setelahnya tubuh Si penyu tiba-tiba mengeluarkan cahaya berwarna kehijauan yang menggumpal menjadi sebuah kalung permata. Kalung itu lalu diberikan pada permaisuri agar dipakai hingga mengandung. Selanjutnya Si penyu hijau berpesan bahwa apabila Sang permaisuri telah melahirkan hendaklah kalung permata miliknya dikembalikan. Selain itu, dia juga berpesan agar keberadaannya di Laut Bangka Utara dirahasiakan.

Setelah berkata demikian tubuh Si penyu hijau perlahan mengaluarkan sinar putih yang menyilaukan. Seiring meredupnya sinar, lenyap pulalah tubuh Si penyu hijau. Dia kembali ke tempat asalnya di suatu tempat di Laut Bangka Utara.

Sepeninggal Si penyu hijau, Ratu Malika selalu mengenakan kalung permata hijau. Tidak berapa lama setelahnya dia pun hamil dan sembilan bulan kemudian lahirlah seorang bayi perempuan. Sang bayi mereka beri nama Komala Ratna Juwita dengan harapan agar kelak memiliki budi pekerti luhur dan berbakti kepada orang tua.

Namun, harapan tinggallah harapan. Ketika tumbuh dewasa sifat Komala Ratna Juwita berbanding terbalik dengan harapan orang tua. Walau cantik jelita, dia memiliki tabiat buruk. Merasa sebagai anak raja yang terlalu dimanja, segala keinginannya harus dipenuhi. Apabila tidak, dia akan merajuk atau melampiaskan kemarahan pada apa dan siapa saja yang ada dihadapannya.

Suatu hari dia merajuk pada orang tuanya. Komala berkeinginan memiliki peliharaan berupa penyu hijau yang dilihatnya dalam mimpi. Tetapi karena Sang Raja tidak mengizinkan, Komala langsung masuk kamar. Selama beberapa hari dia mengurung diri di dalam kamar hingga kedua orang tuanya cemas dan akhirnya menyetujui permintaannya dengan catatan harus merubah sikap dan menjadi anak berbakti.

Setelah Komala menyanggupi, dua hari berikutnya mereka berangkat menuju Laut Bangka Utara. Dalam perjalanan Raja dan Permaisuri sebenarnya dilanda kecemasan, sebab mereka telah berjanji pada Si penyu hijau untuk tidak memberitahukan keberadaannya kepada siapa pun. Namun, kasih sayang yang terlalu besar pada Komala membuat mereka harus mengingkari janji.

Sampai di pantai Raja langsung memerintahkan para prajurit mencari keberadaan penyu hijau. Namun, hingga menjelang matahari terbenam tak satu pun dari mereka yang berhasil menemukannya. Walhasil, keluarlah sifat lama Komala. Dia memaki-maki seluruh prajurit karena tidak berhasil menemukan keberadaan penyu hijau.

Selesai mengeluarkan seluruh amarahnya, tiba-tiba Putri Komala melihat ada seberkas cahaya hijau di tengah lautan. Tanpa berpikir panjang dia langsung berlari dan berenang menuju cahaya yang dianggapnya sebagai penyu hijau. Sayangnya, semakin dikejar cahaya malah semakin menjauh. Putri Komala lantas naik pitam dan memaki-makinya dengan kata-kata “penyu busuk”. Begitu seterusnya hingga tanpa terasa dia telah berada jauh di tengah laut dan akhirnya hilang dari pandangan.

Raja dan Ratu Malika yang tidak menyangka Komala akan berbuat senekat itu hanya diam terpaku tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka akhirnya sadar bahwa ini adalah akibat dari janji yang telah diingkari. Namun nasi telah menjadi bubur. Komala hilang dan tidak kembali lagi. Dan, oleh masyarakat setempat kata-kata terakhir dari Putri Komala tadi akhirnya dijadikan sebagai nama tanjung tempat dia mulai berenang dan hilang ditelan ombak, yaitu Tanjung Penyusuk berasal dari kata “penyu busuk”.

Diceritakan kembali oleh ali gufron

Si Kelingking

(Cerita Rakyat Daerah Bangka Belitung)

Alkisah, hidup sepasang suami-istri sangat miskin yang tinggal dalam sebuah gubuk kecil reot. Sang suami bekerja sebagai pencari kayu bakar di hutan sekitar gubuk mereka. Sementara istrinya mengolah lahan di belakang gubuk dengan menanam tanaman ladang, seperti singkong, ubi, dan jagung.

Kehidupan mereka sangatlah harmonis. Sayangnya, walau telah bertahun-tahun menikah belum juga dikarunia anak. Hampir tiap malam keduanya berdoa agar diberkahi momongan. Bahkan, suatu hari dalam doa Sang istri memohon agar diberi momongan walaupun hanya sebesar kelingking. Dia berjanji akan selalu menyayanginya sepenuh hati.

Doa ini rupanya dikabulkan Tuhan. Tidak berapa lama kemudian Sang istri mengandung. Sembilan bulan setelahnya lahirlah seorang bayi mungil berjenis kelamin laki-laki. Dia lahir dengan sehat tanpa ada cacat bawaan. Hanya saja ukurannya yang tidak masuk akal, yaitu sebesar jari kelingking manusia dewasa.

Sesuai dengan ukurannya, Sang bayi diberi nama Si Kelingking. Dia dirawat dengan kasih sayang sepenuh hati. Suami dan istri itu akhirnya bisa bernapas lega karena telah memiliki keturunan. Untuk sementara mereka menjadi keluarga kecil bahagia hingga akhirnya merasa kewalahan menghadapi Si Kelingking.

Meski berbadan mungil, apabila makan dia bisa menjadi sangat rakus. Bahkan, sering kali dia menghabiskan satu canting nasi untuk sekali makan. Itu pun terkadang masih kurang hingga Sang ibu terpaksa menanak nasi lagi khusus untuknya. Begitu seterusnya setiap hari sejak Si Kelingking bisa makan sendiri tanpa disuapi.

Lama-kelamaan persediaan padi di lumbung pun semakin menipis dan bahkan hampir habis. Kedua suami-istri itu mulai menyerah karena penghasilan mereka diperkirakan tidak akan cukup bila harus memenuhi kebutuhan makan Si Kelingking.

Keadaan ini membuat mereka berpikir ulang untuk memelihara Si Kelingking hingga dewasa. Mereka memang menginginkan seorang anak sebagai penerus keturunan, tetapi bukan berukuran super mini yang mereka anggap sulit untuk membantu dalam bekerja. Oleh karena itu, mereka bersepakat menyingkirkan Si Kelingking agar tidak membebani hidup. Adapun caranya adalah dengan membawa ke tengah hutan lalu menimpanya dengan sebatang pohon besar agar terkesan seperti kecelakaan.

Esok harinya, pagi-pagi sekali Sang ayah mengajak Si Kelingking ke hutan mencari kayu. Sampai di tengah hutan dia lalu mencari sebuah pohon besar dengan area sekeliling relatif landai. Si Kelingking disuruhnya berdiri di satu titik, sementara dia menebang pohon yang jatuhnya diperkirakan akan tepat di titik Si Kelingking berdiri. Ketika pohon tumbang dan tepat mengenai Si Kelingking, dia pulang dan langsung melapor pada Sang istri.

Menjelang sore saat keduanya tengah asyik berbicang tentang kenangan-kenangan bersama Si Kelingking, tanpa dinyana orang yang dibicarakan datang membawa batang pohon hasil tebangan tadi pagi. Anehnya, batang pohon berukuran raksasa itu dapat dengan mudah dibawanya hanya dengan satu tangan.

Melihat Si Kelingking pulang selamat dan bahkan membawa kayu raksasa hanya dengan satu tangan Suami-istri itu kaget bukan kepalang. Keduanya terkejut melihat Si Kelingking baik-baik saja. Mereka tidak melihat sebuah keajaiban yang dilakukan si kelingking dengan membawa pohon yang lima atau enam orang normal dewasa pun sulit mengangkatnya secara bersamaan. Dalam pikiran mereka yang ada adalah bagaimana cara melenyapkan Si Kelingking.

Beberapa hari kemudian, setelah berunding dengan Sang Istri, Sang Suami membawa Si Kelingking ke puncak sebuah gunung. Sampai di puncak dia menyuruh Si Kelingking berjaga di bawah untuk menangkap batu besar sementara dia mendongkelnya. Dia sengaja memilih batu sangat besar agar Si Kelingking langsung tergilas ketika menangkapnya.

Namun, usaha kedua ini ternyata juga gagal. Sore hari ketika berada di rumah mereka dikejutkan lagi oleh suara Si Kelingking yang datang sambil membawa batu raksasa. Bocil itu rupanya dapat bertahan dari tindihan batu dan malah berhasil membawanya hingga ke rumah.

Sontak kedua orang tuanya menjadi murung. Mereka tidak tahu lagi harus berbuat apa untuk melenyapkan Si Kelingking. Sang ibu, sambil menangis, akhirnya berkata pada Si Kelingking bahwa mereka memang mengharapkan hadirnya seorang anak. Tujuannya bukan hanya sebagai penerus keturunan, melainkan juga dapat menyokong kehidupan keluarga. Tetapi yang dikaruniakan hanyalah anak bertubuh super mini yang tidak mungkin dapat membantu meringankan beban keluarga. Sang ibu tidak menceritakan bahwa sebenarnya mereka ingin melenyapkan Si Kelingking karena sangat rakus yang membuat dia dan suaminya harus bekerja ekstra keras untuk memenuhi kebutuhan makannya.

Mendengar penjelasan tadi Si Kelingking bukannya tersinggung dan marah. Dia malah meminta maaf atas keadaannya dan berjanji akan membantu orang tua. Sebab, walau bertubuh kecil ternyata dia memiliki kekuatan luar biasa di atas manusia normal. Kekuatan ini dapat dijadikan sebagai andalannya dalam mengangkat dan membawa barang-barang super berat seorang diri.

Sejak saat itu Si Kelingking bekerja layaknya manusia normal. Dia tidak hanya membantu orang tuanya, melainkan juga bekerja pada orang lain yang membutuhkan bantuannya. Kehidupan keluarga ini pun berangsur-angsur membaik. Mereka menjadi keluarga bahagia dan harmonis.

Diceritakan kembali oleh gufron

Si Penyumpit

(Cerita Rakyat Daerah Bangka Belitung)

Alkisah, ada seorang pemuda yang ahli dalam menyumpit hewan buruan serta meramu obat-obatan. Masyarakat setempat menamai sesuai keahliannya, yaitu Si Penyumpit. Oleh warga sekitar dia sangat disukai karena ringan tangan. Hanya seorang saja yang tidak, yaitu Kepala Desanya sendiri bernama Pak Raje. Dia benci karena almarhum ayah Si Penyumpit pernah berhutang dan dilunasi. Sebagai gantinya, dia selalu menuntut Si Penyumpit membayar hutang ayahnya.

Bahkan, suatu hari dia memaksa Si Penyumpit melunasi hutang dengan cara menjaga area kebunnya dari serangan kawanan babi hutan. Namun, hal itu tidaklah mudah dilakukan. Sebab, dia mensyaratkan agar Si Penyumpit menjaga jangan sampai ada seekor pun babi hutan yang berhasil masuk ladang. Apabila didapati ada kerusakan pada tanaman ladangnya, maka Si Penyumpit harus menggantinya sejumlah dua kali lipat.

Paksaan tadi terpaksa diterima Si Penyumpit demi melunasi hutang. Baru beberapa hari berjaga kawanan babi hutan mulai terlihat. Mereka datang mengendus aroma buah-buhan yang mulai masak di pepohonan. Saat hendak masuk area ladang, Si Penyumpit yang bermata jeli langsung menyumpit salah seekor dari kawanan babi hutan itu hingga menguik-nguik kesakitan. Sisanya ketakutan dan kembali berlari masuk hutan.

Si Penyumpit langsung berlari ke arah babi hutan yang terkena anak sumpitnya. Namun, ketika sampai di lokasi yang ditemukan hanyalah bercak darah tercecer di tanah. Penasaran dengan apa yang terjadi pada Si babi hutan, dia menelusuri jejak darahnya hingga berhenti di sebuah pondok kecil di tengah hutan.

Di dalam pondok dia melihat beberapa perempuan cantik yang salah satunya terluka oleh anak sumpit pada bagian perut. Merasa itu adalah anak sumpitnya, Si Penyumpit lalu mengetuk pintu pondok untuk meminta penjelasan mengapa anak sumpit itu ada di perut si perempuan cantik.

Ketika pintu dibuka dia lalu memperkenalkan diri dan menerangkan bahwa tujuannya datang mengikuti jejak darah babi hutan yang baru saja disumpitnya. Tanpa dinyana sambutan tuan rumah agak menyentak. Dia marah adiknya mengerang kesakitan terkena tersumpit dan tidak tahu cara melepaskannnya.

Si Penyumpit terkejut mendengar perkataan perempuan cantik itu. Dia tidak menyangka kalau mereka adalah sekumpulan siluman babi hutan yang hendak mencari makan. Sambil meminta maaf dia menawarkan pada perempuan itu untuk melepaskan anak sumpit sekaligus mengobati luka di perut adiknya.

Setelah disetujui, dengan mudah Si Penyumpit mencabut anak sumpit miliknya dari perut adik perempuan cantik itu. Dia lalu meminta Sang kakak menumbuk beberapa helai daun keremunting untuk dibalurkan pada luka bekas tusukan anak sumpit sebagai penghenti pendarahan.

Tidak lama berselang Sang adik yang juga cantik mulai menunjukkan kemajuan. Dia sudah tidak mengerang kesakitan, namun tubuhnya masih lemah. Sebagai ungkapan terima kasih Sang kakak memberi Si Penyumpit empat bungkusan kecil yang katanya berisi kunyit, daun simpur, buah jering, dan buah nyatoh.

Awalnya Si Penyumpit menolak. Luka Sang adik disebabkan oleh anak sumpit yang dilepaskannya. Namun karena Sang perempuan cantik tetap memaksa, dia akhirnya menerima dan membawanya pulang ke ladang milik Pak Raje. Sampai di ladang bungkusan tetap disimpan dan baru dibuka ketika telah berada di rumahnya sendiri.

Ketika dibuka Si Penyumpit kaget bukan kepalang. Kunyit, daun simpur, buah jering, dan buah nyatoh yang tidak berharga hanyalah akal-akalan Sang Perempuan Cantik agar dia mau menerimanya. Padahal aslinya adalah butiran emas, intan, dan berlian yang apabila dijual harganya sangat mahal.

Si Penyumpit berinisiatif menjual barang-barang tersebut. Setelah semuanya terjual dia menuju rumah Pak Raje untuk melunasi hutang ayahnya. Pak Raje awalnya sinis melihat kedatangan Si Penyumpit. Dia mengira Si Penyumpit akan meminta hutang ayahnya dilunasi karena telah menjaga ladang. Namun, kesinisan berubah menjadi sebuah senyuman lebar tatkala Si Penyumpit menyerahkan sejumlah uang sesuai dengan hutang Sang ayah.

Sembari menerima uang Pak Raje lantas menanyakan dari mana Si Penyumpit bisa mendapatkan uang sebanyak itu. Apakah dia mencuri atau merampok harta orang lain? Sebab, tidak mungkin bila pemuda miskin seperti dirinya memiliki banyak uang dalam waktu sangat singkat.

Pertanyaan Pak Raje dijawab jujur oleh Si Penyumpit. Dia lalu menceritakan pengalamannya ketika menjaga ladang, bertemu kawanan babi hutan, menyumpit salah satu di antaranya, dan mendapat hadiah dari babi hutan yang ternyata adalah bangsa siluman karena telah mengobati luka bekas sumpitan.

Jawaban Si Penyumpit rupanya mengundang minat Pak Raje yang ingin mengikuti jejaknya agar mendapat harta serupa. Oleh karena itu, malam harinya dia sudah berada di ladang guna menyumpit babi hutan yang hendak mencari makan. Dan, sama seperti Si Penyumpit dia juga berhasil melukasi satu ekor dan mengikuti hingga ke rumahnya.

Sampai di rumah siluman babi hutan dia juga mencoba menolong salah satu siluman yang terkena anak sumpit. Namun karena tidak memiliki pengetahuan tentang pengobatan, ketika mencabut anak sumpit dia tidak bisa menghentikan pendarahan. Walhasil, para siluman menjadi marah. Mereka beralih wujud dan menyerang Pak Raje hingga tubuhnya penuh luka dan lari tunggang langgang.

Sampai di rumah dia langsung tumbang dan tak sadarkan diri. Sang putri yang kebetulan sedang berada di rumah segera menemui Si Penyumpit. Sambil menangis dia meminta Si Penyumpit menolong ayahnya yang tidak sadarkan diri dengan banyak sekali luka di tubuhnya.

Oleh karena Si Penyumpit dikenal sebagai orang baik hati, dia langsung memberikan pertolongan pada Pak Raje. Padahal, selama ini selalu sinis padanya dan hanya pernah tersenyum satu kali ketika hutang ayahnya dilunasi. Sebelum itu Pak Raje selalu saja menagih hutangnya bila kebetulan berpapasan di tempat umum.

Singkat cerita, berkat pengobatan Si Penyumpit Pak Raje dapat siuman kembali. Selama beberapa berangsur-angsur dia pulih seperti sedia kala. Dan, sebagai balas jasa Pak Raje menikahkah putri sematang wayangnya yang cantik jelita. Beberapa tahun setelahnya Si Penyumpit ditunjuk sebagai pengganti dirinya menjadi kepala desa.

Diceritakan kembali oleh gufron

Si Paga

(Cerita Rakyat Daerah Bangka Belitung)

Alkisah, ada seorang laki-laki muda bernama Si Paga. Dia bertubuh relatif kecil dibanding laki-laki lain seusia dengannya. Tetapi dibalik tubuh kecil itu tersimpan nyali yang luar biasa. Suatu hari dia datang ke Desa Penyak di Pulau Bangka dan memutuskan menetap walau situasinya tidak mendukung. Desa Penyak kerap disatroni kawanan perampok yang membuat warga hidup dalam ketakutan.

Ketakutan bukan hanya berasal dari kawanan perampok. Warga Desa Penyak juga takut pada sebuah hutan yang berada tidak jauh dari pemukiman. Hutan itu dipercaya sangat angker tempat hunian hantu, jin, dedemit, kalongwewe, dan sebangsanya. Siapa pun yang berani masuk akan berakhir dengan kematian di tangan makhluk-makhluk gaib tersebut.

Sebagai warga baru Si Paga tentu diberi peringatan oleh penduduk tempatan akan keadaan Desa Penyak. Namun, entah mengapa, dia malah berniat masuk hutan dan hendak membuka lahan garapan. Padahal, sejatinya masih banyak lahan kosong di sekitar kampung yang dapat dia garap menjadi lahan pertanian tanah kering.

Setelah semua peralatan pembuka lahan dan perbekalan disiapkan Paga mulai aksinya dengan memasuki hutan. Sampai di bagian landai di tengah hutan dia mulai menebang pepohonan. Beberapa minggu kemudian, setelah pepohonan besar berhasil ditebang, giliran sebam belukar dibersikan, ditumpuk, dan dibakar sebagai pupuk. Selama masa tanam berminggu-minggu Paga tidur di sekitar ladang dengan membangun sebuah pondok kecil.

Semasa berada di ladang inilah warga masyarakat Desa Penyak heboh. Kehebohan bukan lantaran Si Paga yang masuk hutan angker dan belum kembali, melainkan ada kabar angin yang menyatakan bahwa kawanan perampok sadis akan menyatroni desa. Mereka dikenal tidak hanya merampas harta benda, melainkan juga menculik orang-orang tertentu untuk dijadikan budak belian.

Penduduk yang tidak mau menjadi korban segera mengungsi ke tempat aman. Berbondong-bondong mereka pergi membawa harta benda, baik berupa barang maupun hewan ternak. Hanya harta benda yang tidak dapat dibawa, diangkat, atau telah rusak saja yang ditinggalkan dan dibiarkan begitu saja.

Beberapa minggu setelah seluruh penduduk mengungsi datanglah kawanan perampok yang dipimpin oleh seorang bengis bernama Si Biru. Baru juga sampai dia langsung mencak-mencak karena tidak menemukan seorang pun penduduk beserta harta benda berharga mereka. Desa Penyak telah kosong layaknya desa mati terbengkalai. Sambil bersungut-sungut Si Biru memerintahkan anak buahnya membumi hanguskan Desa Penyak sebelum mereka kembali ke perahu. Adapun letak perahunya berada di sungai besar di dalam hutan angker.

Ketika masuk hutan, secara tak sengaja mereka dilihat oleh Si Paga yang sedang menjaga ladangnya. Curiga akan kedatangan orang-orang tak dikenal dia lalu membuntuti hingga ke tempat perahu ditambatkan. Sebelum para perompak naik perahu tiba-tiba dia berteriak lantang mencoba menghentikan mereka.

Melihat si penantang hanyalah seorang pemuda kurus kecil, Si Biru hanya tersenyum simpul meremehkan. Dia lantas memerintah anak buahnya berbaris membentuk sebuah lingkaran besar mengelilingi Si Paga. Selanjutnya, dia masuk ke dalam lingkaran sambil membawa sebilah pedang panjang dan langsung menyerang.

Tanpa disangka serangan Si Biru dapat ditangkis dengan mudah. Sebaliknya, serangan balik Si Paga dengan hanya menggunakan tangan kosong bersarang di ulu hati hingga pemimpin perampok itu jatuh terjerembab dan pingsan seketika.

Para perompak hanya dapat melongo melihat sang pemimpin tidak berkutik di tangan Si Paga. Mereka sadar bahwa Si Paga bukanlah orang sembarangan. Oleh karena itu, mereka lantas meletakkan senjata dan menyatakan tunduk pada Si Paga. Sang pemimpin yang kemudian disadarkan juga akhirnya tunduk serta bertobat tidak akan melakukan kejahatan lagi.

Diceritakan kembali oleh Gufron

Legenda Batu Balai

(Cerita Rakyat Daerah Bangka-Belitung)

Alkisah, hidup seorang perempuan tua bersama anak laki-laki semata wayangnya bernama Dempu Awang. Mereka tinggal dalam sebuah gubuk reot di tengah hutan. Mereka hidup dari hasil penjualan tanaman ladang berupa keladi, ubi, jagung, dan sayur mayur. Dempu Awang yang menanam dan memanen. Hasil panen, bila berlebih dan itu pun jarang, akan dijual Sang ibu ke pasar untuk ditukar dengan lauk pauk atau kebutuhan hidup lainnya.

Hidup serba pas-pasan ini membuat Dempu Awang sering meratapi nasib hingga suatu hari datang tawaran dari seorang teman untuk bekerja pada Tuan Nueng, seorang pemilik kapal dan juga tengkulak bagi nelayan-nelayan kecil di sekitarnya. Tugas Dempu Awang hanya memilih dan memilah ikan-ikan hasil tangkapan para nelayan yang dijual ke Tuan Nueng.

Tawaran tadi tentu disambut baik oleh Dempu Awang. Pikirnya, ini adalah waktu yang tepat beralih pekerjaan. Siapa tahu penghasilannya dapat mencukupi kebutuhan keluarga dan tidak perlu lagi bergantung pada hasil ladang. Oleh karena itu, ketika sudah bekerja dia sangat rajin, ulet, dan cekatan tanpa sedikit pun mengeluh.

Tuan Nueng sangat senang melihat kinerja Dempu Awang. Dia kerap memberi bonus sebagai imbalan atas kerja yang telah dilakukan. Bahkan, suatu hari dia menawarkan Dempu Awang bekerja di kapalnya. Tuan Nueng membutuhkan lebih banyak orang karena akan berlayar hingga ke negeri seberang mencari ikan-ikan besar yang hidup berkelompok.

Tawaran Tuan Nueng tidak serta merta disanggupi Dempu Awang. Walau berminat tetapi terlebih dahulu dia harus meminta izin pada Sang ibu. Dia meminta waktu untuk berbicara dan membujuk Sang Ibu. Tuan Nueng memberi tenggat waktu selama dua hari sebelum kapal berlayar.

Sampai di rumah Dempu Awang langsung menyampaikan tawaran Tuan Nueng. Awalnya Sang ibu tidak mengizinkan karena Dempu Awang adalah anak semata wayang sementara dia sendiri sudah semakin tua. Namun, karena agak memaksa, maka akhirnya dia mengizinkan. Dempu Awang berkata bahwa pelayarannya tidak akan memakan waktu terlalu lama. Dan, apabila telah kembali dia pasti membawa banyak uang karena upahnya jauh lebih besar ketimbang menjadi tukang sortir ikan.

Restu Sang ibu merupakan berkah bagi Dempu Awang. Esok harinya dia langsung menemui Tuan Nueng dan menyatakan menerima tawarannya. Lusanya, berbekal beberapa helai pakaian seadannya dia ikut bergabung bersama awak kapal pimpinan Tuan Nueng. Mereka berlayar menuju ke negeri seberang yang diperaya memiliki sumber daya ikan melimpah.

Sejak itu Sang ibu tinggal seorang diri. Untuk mencukupi kebutuhan hidup dia bekerja seperti biasa. Hanya saja segalanya harus dilakukan sendiri, mulai dari menanam, memanen, hingga memasarkannya. Begitu setiap hari hingga tanpa terasa telah sepuluh tahun berlalu sejak kepergian Dempu Awang. Entah mengapa Sang anak tidak kunjung pulang, padahal waktu itu katanya hanya beberapa bulan berlayar.

Sementara di tempat lain Dempu Awang telah menjadi pria sukses. Kebiasaan rajin, ulet, dan tidak pernah mengeluh membuatnya menjadi kaya raya. Dia pun telah mempunyai seorang istri cantik jelita. Mereka tinggal di sebuah rumah mewah dengan puluhan pelayan yang selalu siap melayani.

Suatu hari, entah mengapa, Sang istri ingin melihat kampung halaman suami. Awalnya Dempu Awang menolak dengan alasan kampungnya terlalu jauh dan tidak ada yang menarik untuk dikunjungi. Namun, karena Sang istri terus menerus merengek, terpaksa dia menyetujui. Pikirnya, Sang ibu kemungkinan telah meninggal dunia sehingga Sang istri tidak akan bertemu dengannya. Dia malu bila Sang istri tahu kehidupannya di masa lalu.

Beberapa hari kemudian berangkatlah mereka menuju kampung halaman Dempu Awang. Perjalanan yang menempuh waktu berhari-hari itu menggunakan sebuah perahu mewah dengan awak berjumlah puluhan orang. Mereka membawa perbekalan sangat banyak hingga perahu terasa penuh sesak oleh bahan makanan.

Saat tiba di pelabuhan banyak orang kagum melihat perahu mewah milik Dempu Awang. Mereka bertambah kagum ketika melihat sang pemilik turun berpakaian sangat mewah bersama seorang perempuan cantik di sampingnya. Keduanya bagaikan raja dan permaisuri dari negeri dongeng.

Salah seorang di antara kerumunan rupanya mengenali siapa pria bak raja itu. Dia lalu berlari menuju rumah Ibu Dempu Awang untuk memberitahu bahwa Sang anak telah kembali. Sang ibu yang baru pulang dari ladang tentu saja senang bukan kepalang. Tanpa mengganti pakaian dia langsung berlari menuju pelabuhan menemui anak tercintanya yang telah lama tidak bersua.

Namun, ekspektasi tidak sesuai dengan realita. Ketika bertemu dan hendak mendekap ternyata Sang anak menolak. Dempu Awang kaget bukan kepalang. Dia tidak menyangka kalau ibunya masih hidup walau penampilan fisiknya sudah tua renta dibalut pakaian seadanya dan tampak lusuh.

Malu pada Sang istri, Dempu Awang lantas menendang Sang ibu dan berteriak memerintah sejumlah pengawal mengusirnya. Dan, agar tidak bertambah malu bila orang-orang juga mengenalinya maka dia juga memerintahkan nahkoda menarik jangkar. Mereka langsung naik lagi ke perahu dan berlayar menjauh.

Sementara Sang ibu yang tidak diakui dan ditinggal begitu saja menjadi hancur hatinya. Anak yang dilahirkan, dirawat, dan didoakan setelah sukses malah mengkhianatinya. Dia benar-benar diperlakukan secara tidak layak oleh anak kandungnya sendiri. Oleh karena itu, dia pun berdoa agar Tuhan memberikan pelajaran setimpal atas perlakuan yang diterimanya.

Sejurus setelah berdoa, langitt tiba-tiba menjadi gelap yang disertai kilat menyambar-nyambar. Tidak lama kemudian datanglah hujan lebat dan angin topan penyebab gelombang tinggi. Perahu Dempu Awang yang baru saja berlayar menjadi terombang-ambing tak tentu arah dan akhirnya terbelah menjadi dua bagian. Seluruh barang bawaan beserta awaknya tergulung ombak dan tenggelam di dasar lautan.

Setelah cuaca mereda penduduk yang tadinya bersembunyi mulai berkumpul lagi di sekitar pelabuhan. Mereka heran tidak jauh dari dermaga yang surut tiba-tiba ada seonggok batu besar. Batu itu merupakan jelmaan dari Dempu Awang yang rupanya dikutuk karena telah mendurhakai orang tuanya. Singkat cerita, karena lambat laut air laut menjauh dari bibir pantai dan batu sepenuhnya tidak lagi tergenang, di sampingnya didirikan sebuah balai tempat bermusyawarah. Dan, karena letaknya berdekatan itulah maka masyarakat setempat kemudian menyebutnya sebagai Batu Balai.

Diceritakan kembali oleh gufron

Putri Pinang Gading

(Cerita Rakyat Daerah Bangka-Belitung)

Alkisah, dahulu di daerah Belitung ada sebuah desa bernama Kelekak Nangak. Di desa ini hidup sepasang suami-isteri miskin yang tidak memiliki anak. Sang suami bernama Inda, sedangkan isterinya bernama Tumina. Mereka tinggal dalam sebuah gubuk beratap rumbia dan berdinding anyaman bambu. Untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari Inda dan Tumina bekerja sebagai petani ladang dengan menanam padi tadah hujan. Selain itu, selama menunggu masa panen mereka beralih profesi sebagai nelayan dengan menangkap ikan di tepi pantai.

Suatu hari, Inda pergi menuju pantai untuk mengambil sero (sejenis perangkap ikan) yang telah dia pasang beberapa hari sebelumnya. Saat hendak mengangkat sero dia tersandung sepotong bambu yang salah satu ujungnya tertancap di pasir. Khawatir akan mencelakakan orang lain, bambu tadi dihanyutkan agar terbawa air ke tengah laut. Namun, di sekitar sero ternyata masih banyak potangan bambu lagi sehingga membuat Inda sibuk mencabut dan menghanyutkan ke laut sebelum mengambil sero miliknya.

Setelah mengeluarkan ikan yang terperangkap di dalam sero Inda bergegas hendak pulang ke rumah. Namun, sekali lagi, baru beberapa meter dia melangkah, kakinya terantuk lagi dengan bambu yang pertama kali dia hanyutkan ke laut. Dia heran bagaimana bambu dapat kembali tertancap, padahal telah hanyut jauh ke tengah laut. Pikirnya, mungkin benda itu bukanlah bambu "sembarangan". Dia lalu mengambil dia membawanya pulang bersama ikan hasil tangkapan. Sampai di rumah bambu "bertuah" tersebut digunakan untuk segala macam keperluan, mulai dari pemukul ikan hingga penindih jemuran padi agar tidak diterbangkan angin.

Suatu hari, dari arah jemuran padi terdengar bunyi letusan keras. Inda dan Tumina yang sedang berada di dalam rumah langsung berlari menuju arah sumber suara. Dia sana mereka melihat bambu telah terbelah menjadi dua bagian. Di sampingnya tergeletak seorang bayi berjenis kelamin perempuan yang tengah menangis.

Tanpa berpikir panjang Tumina meraih Sang bayi dan membawanya ke dalam rumah untuk dimandikan. Sementara Inda hanya diam tidak berbuat apa-apa. Dia masih tidak percaya kalau bambu yang dipungutnya di pantai ternyata memang memiliki tuah. Bambu tadi telah memberikan apa yang selama ini dia dambakan yaitu seorang anak. Sang bayi merupakan pelengkap hidup Inda dan Tumina dalam mengaruhi bahtera rumah tangga.

Sang bayi mereka rawat dan besarkan dengan penuh kasih sayang layaknya anak kandung sendiri. Mereka memberinya nama Putri Pinang Gading. Kehadiran bayi ini rupanya membawa berkah tersendiri bagi keluarga Inda. Hasil ladang maupun tangkapan ikan semakin melimpah sehingga kehidupan mereka kian hari semakin sejahtera.

Oleh karena Inda mengendaki agar anaknya menjadi seorang pemanah yang handal, sejak usia dini Putri Pinang Gading diajarkan berbagai macam teknik memanah. Hampir setiap minggu Inda membawanya ke hutan untuk melatih keahlian dalam memanah binatang. Hasilnya, Putri Pinang Gading seringkali dapat memanah lebih dari satu ekor binatang untuk dibawa pulang dan dijadikan sebagai bahan santapan. Keahlian ini diasah terus hingga dia beranjak dewasa.

Suatu hari, di kampung tetangga merebak kabar bahwa ada seekor burung raksasa ganas dan buas yang menyerang pemukiman penduduk. Sang burung berkeliling di atas kampung untuk memakan siapa saja yang ada dalam jangkauannya. Hal ini tentu saja membuat warga lain menjadi panik. Pada siang hari mereka memilih bersembunyi di dalam rumah agar tidak dimangsa. Malam harinya baru berani keluar karena Sang burung telah kembali ke sarang.

Merasa kasihan terhadap penderitaan penduduk di kampung tetangga, Putri Pinang Gading meminta izin pada orang tua untuk membinasakan burung yang membuat onar tersebut. Inda dan Tumina tentu saja enggan memberi izin. Mereka takut Putri Pinang Gading hanya akan menjadi sasaran empuk bagi Sang Burung. Tetapi karena Sang Putri terus memaksa, dengan berat hati mereka pun akhirnya memberikan izin.

Setelah mendapat "lampu hijau", sebelum berangkat Putri Pinang Gading menyiapkan busur beserta belasan buah anak panah yang paling mumpuni. Anak panah itu pada bagian matanya telah dilumuri semacam racun berbahan tumbuh-tumbuhan yang dapat membunuh binatang dalam hitungan beberapa menit saja. Dengan anak panah itu dia berharap dapat membinasakan burung raksasa yang mengganggu warga masyarakat.

Sesampai di desa tetangga Putri Pinang Gading disambut oleh suara pekikan Sang burung yang membahana. Sambil mengepakkan sayap berdiameter belasan meter Sang burung terbang berkeliling kampung mengincar siapa saja yang sedang berada di luar rumah. Agar tidak terlihat oleh pandangan tajam Sang burung, Putri Pinang Gading segera bersembunyi dibalik sebuah pohon besar. Sambil menanti kelengahan Sang Burung, dia mempersiapkan busur beserta anak panah beracunnya.

Ketika Sang burung terbang melewati pohon besar tempatnya bersembunyi, Putri Pinang Gading langsung melepaskan anak panah yang tepat mengenai bagian jantung. Burung raksasa itu pun limbung, terjerembab ke tanah, dan tewas seketika. Konon, tempat jatuhnya burung tersebut secara ajaib berubah menjadi tujuh buah sungai, sementara panah yang mengenainya tumbuh menjadi serumpun bambu. Oleh masyarakat setempat, lokasi bambu tersebut kemudian dinamakan sebagai Belantu. Seiring perkembangan zaman, Belantu berganti nama menjadi Membalong, sebuah kecamatan di Pulau Belitung.

Diceritakan kembali oleh ali gufron

Hikayat Raja Berekor

(Cerita Rakyat Daerah Belitung)

Alkisah, pada zaman dahulu kala di daerah Belitung ada sebuah kerajaan yang makmur sejahtera. Tetapi di tengah kemakmuran dan kesejahteraan tersebut terjadilah sebuah peristiwa menggemparkan yang membuat malu seisi kerajaan, terutama Sang Raja. Peristiwa tersebut adalah hamilnya puteri raja yang disebabkan karena berhubungan intim dengan anjing kesayangannya sendiri. Akibatnya, dia pun diusir dari kerajaan untuk menghilangkan malu sekaligus aib kerajaan.

Setelah di usir, sambil membawa perbekalan secukupnya Sang Putri bersama anjing kesayangannya pergi menuju hutan belantara yang jauh dari kerajaan. Beberapa bulan kemudian lahirlah seorang bayi laki-laki. Namun, tidak seperti bayi pada umumnya, bayi hasil hubungan manusia dengan seekor anjing ini memiliki perawakan yang aneh, yaitu sekujur tubuhnya dipenuhi bulu serta berekor layaknya seekor anjing.

Anak ini dipelihara dengan penuh kasih sayang. Semenjak bayi hingga beranjak dewasa dia selalu diajak oleh orang tuanya (Sang Putri dan anjing kesayangannya) berburu binatang hutan, menangkap ikan sungai, serta mencari segala macam tetumbuhan yang dapat dikonsumsi sebagai makanan. Maklum, semenjak diusir dari istana, persediaan makanan yang diberikan hanya cukup untuk beberapa minggu saja. Selanjutnya, mereka harus mencari makan sendiri hanya yang bertumpu pada kemurahan alam hutan.

Suatu hari, karena merasa sudah cukup ahli, si anak berekor pergi berburu seorang diri. Di suatu tempat dia berjumpa dengan sepasang burung kutilang yang sedang memberi makan anaknya. Awalnya, dia akan memanah kedua induk burung tersebut. Namun, dia mengurungkan niat karena melihat keharmonisan rumah tangga burung kutilang itu. Walau harus mencari serangga jauh dari sarang, induk kutilang tetap mencari dan memberi makan anak-anaknya dengan penuh kasih sayang. Mereka tidak menghiraukan kalau perut sendiri belum terisi makanan.

Ketika kembali ke rumah, si anak berekor segera menceritakan keluarga burung kutilang yang dilihatnya tadi. Di akhir cerita, si anak berekor mengajukan sebuah pertanyaan yang sangat mengejutkan ibundanya. Dia bertanya, di manakah ayahnya berada. Dia beranggapan kalau binatang sekecil burung kutilang saja membentuk sebuah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak-anakya. Dalam pikirannya, tentu dia juga memiliki seorang ibu dan juga ayah. Tetapi selama ini yang dilihatnya hanyalah ibu dan anjing kesayangan ibunya saja.

Terkejut dengan pertanyaan anaknya, Sang Ibu tidak mau menceritakan kejadian yang sebenarnya. Dia hanya mengatakan bahwa ayah si anak berekor tidak ada. Tetapi jawaban tersebut sangat tidak memuaskan si anak. Dia terus saja mendesak dan bahkan saking kesalnya malah mengancam akan menggunakan kekerasan apabila tidak mendapat keterangan yang sesungguhnya.

Takut akan ancaman si anak berekor yang memiliki tubuh besar, kuat, dan kekar, akhirnya Sang Ibu pun menjawab bahwa ayahnya adalah anjing yang selama ini tinggal bersama mereka. Anjing itu bernama Tumang. Pantas saja anjing ini selalu berada tidak jauh dari mereka dan bersikap seakan selalu menjaga dan melindungi.

Mendengar jawaban sang ibu, kini giliran si anak berekor yang terkejut setengah mati. Dia tidak menyangka dan sekaligus tidak percaya kalau ayahnya adalah seekor anjing. Dengan sangat marah, dalam sekejap mata dia langsung menangkap Tumang yang sedang berdiri di samping ibundanya. Tubuh Tumang lalu diangkat tinggi dan dijatuhkan dengan sangat keras ke tanah. Akibatnya, tulang tengkorak kepala Tumang pecah dan dia pun mati seketika. Anjing kesayangan yang sekaligua ayah dari si anak berekor itu telah mati di tangan anaknya sendiri. Bangkainya kemudian dibawa ke sungai untuk dihanyutkan.

Begitulah, waktu pun terus berlalu. Keluarga itu kini hidup tanpa anjing kesayangan yang sekaligus merangkap sebagai suami dan ayah. Sang Ibu tampak semakin tua karena hatinya selalu diliputi kesedihan. Sementara anaknya tumbuh menjadi seorang pemuda nekat namun gagah berani dan tidak takut dengan siapapun. Dia sudah tidak ingat lagi kalau telah membunuh ayahnya dan secara tidak sadar membuat ibunya selalu bersedih hati.

Suatu hari, sang pemuda berekor berniat mencari pengalaman baru di luar tempat tinggalnya. Oleh Sang ibu dia disarankan untuk membuat sebuah perahu. Selesai perahu dibuat, diisilah dengan berbagai macam perbekalan lalu digunakan untuk berlayar mengarungi samudra tanpa mengetahui arah mana yang akan dituju. Pikirnya, ke manapun perahu ini berlayar, suatu saat pasti akan bersandar juga.

Beberapa minggu kemudian sampailah dia di sebuah pantai dekat dengan perkampungan nelayan. Di sana dia mendapat penjelasan bahwa tempat itu adalah merupakan wilayah kekuasaan Raja Palembang. Kagum akan kehebatan Raja Palembang, si pemuda berekor segera mendatangi istananya. Maksudnya adalah untuk mengajukan diri menjadi raja juga agar dapat memperoleh kekuasaan seperti Raja Palembang.

Ternyata ajuan itu disetujui oleh Raja Palembang, asalkan si pemuda berekor memerintah di daerah asalnya sendiri dan daerah tersebut nantinya menjadi taklukan Raja Palembang. Syarat itu langsung diterima oleh si pemuda berekor, maka jadilah dia sebagai seorang raja. Julukannya adalah raja berekor karena memiliki ekor panjang layaknya kera. Raja baru ini kemudian diperintahkan kembali ke daerah asalnya dengan membawa pengikut yang berasal dari daerah jajahan Raja Palembang. Jumlah mereka diperkirakan setara dengan delapan gantang bulir padi.

Sesampainya di daerah asal, Raja Berekor memerintahkan para pengikutnya membuat istana di sekitar Aik Bebulak atau yang sekarang sejajar dengan aliran Sungai Cerucuk yang melintasi Kampung Perawas. Di tengah-tengah ruang istana dibuat sebuah singgasana dari sebuah tempayan besar yang di atasnya diletakkan sebilah papan dari kayu ulin yang diberi lubang. Fungsi lubang adalah sebagai tempat memasukkan ekor ketika duduk di singgasana.

Selanjutnya, Raja Berekor membentuk sebuah "kabinet" yang terdiri atas: perdana menteri, menteri, hulubalang, dan pesuruh. Jumlah kabinet inti adalah sembilan orang yang salah seorang diantaranya bernama Sikum. Selain itu, dipekerjakan pula sejumlah perempuan sebagai juru masak, pelayan, dan dayang istana. Hasilnya, roda pemerintahan mulai berjalan sesuai dengan rencana Raja Berekor.

Di tengah kegembiraan dapat menjadi raja yang menguasai sebuah wilayah beserta penghuni yang ada di dalamnya, ada suatu kejadian aneh. Kejadian itu bermula ketika ada seorang juru masak membuat kelalaian saat menyiapkan makanan siang untuk Sang Raja Berekor. Secara tidak sengaja salah satu jarinya tersayat pisau hingga berdarah dan menetes dalam makanan yang siap dihidangkan. Ketika akan diganti dengan yang baru makanan itu terlanjur dibawa oleh pelayan lain ke meja makan Raja Berekor.

Sang Raja yang tidak mengetahui langsung saja menyantap makanan itu dengan lahap. Bahkan sangat lahap karena dia merasa belum pernah memakan masakan yang selezat itu. Usai makan, Raja Berekor langsung memanggil perdana menterinya untuk mencari dan membawa orang yang meracik makanannya.

Singkat cerita, dengan tubuh gemetar dan wajah pucat pasi juru masak menghadap Sang Raja Berekor. Dia lalu menceritakan seluruh kejadian tentang masakan yang dihidangkan pada Sang Raja Berekor pada hari itu. Dia juga bersedia menerima hukuman karena melakukan kelalaian hingga makanan bercampur dengan darahnya.

Tanpa dinyana, bukannya marah Raja Berekor malah terbahak-bahak. Dia mengatakan pada juru masak kalau makanan yang dihidangkannya adalah makanan paling lezat yang pernah dia rasakan. Darah manusia yang secara tidak sengaja tercampur dalam masakan ternyata membuatnya lebih sedap dan nikmat. Pikir Raja Berekor, mungkin akan sangat nikmat apabila daging manusia juga ikut dijadikan sebagai makanan.

Tidak berapa lama kemudian Raja Berekor menyuruh si juru masak pergi lalu memanggil lagi perdana menteri. Setelah perdana menteri menghadap, Raja Berekor menitahkannya untuk mencari manusia yang sehat jasmaninya. Apabila tertangkap, mereka akan dijadikan tawanan untuk selanjutnya satu persatu dikorbankan sebagai santapan Sang Raja Berekor.

Awalnya perdana menteri menolak perintah tersebut. Selama hidup, dia tidak pernah melihat dan bahkan mendengar kalau daging manusia dijadikan sebagai makanan. Tetapi karena Sang Raja Berekor memperlihatkan kemurkaannya, mau tidak mau perdana menteri menurutinya, walau dalam hati tidak sependapat. Korban pertama adalah orang yang dianggap paling bersalah, yaitu si juru masak. Apabila dia tidak ceroboh, maka Raja Berekor tidak akan mungkin terbit selera untuk memakan daging manusia.

Sejak saat itu, ada saja rakyat yang dikorbankan setiap harinya sebagai santapan Raja Berekor. Mereka dapat berasal dari kalangan kanak-kanak, remaja, orang dewasa, orang tua, laki-laki, perempuan, bergantung dari selera Raja Berekor. Jumlah korbannya dapat satu hingga tiga orang dalam sehari. Akibatnya, semakin hari jumlah penduduk berkurang hingga tinggal para hulubalang dan sembilan orang "kabinet inti" kerajaan saja.

Sebagian dari hulubalang yang tidak ingin mati sia-sia segera melarikan diri ke daerah Belantu, Sijuk, dan Buding. Sementara sebagian lainnya yang tidak sempat melarikan diri terpaksa harus menjadi korban selanjutnya. Akhirnya, yang tersisa hanya tingal sembilan orang "kabinet inti" kerajaan dan Raja Berekor saja. Oleh karena itu, agar "adil" Raja Berekor memberikan sebuah teka teki berbunyi "Delipat kembang delokir, delima kembang delikam" yang harus dijawab dalam waktu dua hari. Apabila tidak dapat menjawab, maka secara bergiliran mereka akan dijadikan sebagai menu santapan.

Tanpa membuang waktu, para anggota "kabinet inti" kerajaan segera bermusyawarah untuk memecahkan teka teki Raja Berekor. Tetapi baru tengah malam teka teki itu dapat terpecahkan oleh salah seorang diantara mereka, yaitu Sikum. Dia dahulu pernah bekerja dalam pemerintahan Raja Palembang sehingga dapat memecahkan arti dari teka-teki itu, yaitu empat orang akan dimakan pada waktu siang, dan lima orang akan dimakan waktu malam.

Tetapi mereka berubah pikiran ketika Sikum mengutarakan pendapat untuk menghukum mati Raja Berekor. Adapun caranya tidak langsung berhadapan mengadu kekuatan, karena walau bersembilan rasanya tidak mungkin untuk mengalahkan Raja Berekor yang sangat kuat, bengis, dan kejam. Mereka bersiasat menggunakan pantun lagi agar Raja Berekor berpikir keras untuk menjawabnya. Saat raja berpikir keras tersebut tentu kewaspadaannya akan menurun sehingga kemungkinan besar akan kalah ketika nanti diserang secara tiba-tiba menggunakan dua buah alu sakti yang dahulu ikut dibawa dari daerah kekuasaan Raja Palembang. Kayu ini dinamakan Simpor Laki yang konon dapat dijadikan sebagai penangkal binatang buas yang hidup di hutan.

Dua hari kemudian tibalah masanya untuk menjawab teka teki Raja Berekor. Saat menghadap dua orang diantara mereka membawa alu dan bukan tombak sebagaimana biasanya. Selanjutnya, Perdana Menteri menjawab teka teki Raja Berekor dengan berpantun. Sebelum Raja Berekor sempat mencerna seluruh isi pantun tersebut, Sikum mengucapkan sebuah pantun lagi yang membutnya bertambah bingung. Dan, di saat Raja Berekor bingung itulah serentak mereka melancarkan serangan. Lima orang memegangi ekornya, sedangkan sisanya ada yang memukul kepalanya dengan alu dan ada pula yang menusuk badannya dengan tombak. Akibatnya, tubuh kekar itu langsung tersungkur bersimbah darah. Mayatnya kemudian dibawa dan dihayutkan ke sungai.

Diceritakan kembali oleh Gufron

Archive