Taman Nasional Meru Betiri (Provinsi Jawa Timur)

Taman Nasional Meru Betiri (TNMB) terletak di pantai selatan Jawa Timur, yang secara administratif termasuk dalam dua kabupaten yakni Jember seluas 37.585 ha dan Banyuwangi seluas 20.415 ha. Kawasan Meru Betiri yang secara geografis terletak antara 113° 37' - 113° 58' BT dan 08° 21' - 08° 34' LS ini ditetapkan sebagai Taman Nasional pada tahun 1997 yang pengelolaannya berada di bawah Balai Taman Nasional Meru Betiri.

Untuk menuju lokasi Taman Nasional Meru Betiri dari Kota Surabaya dapat dicapai melalui dua rute (menggunakan angkutan umum). Rute pertama, dari Kota Surabaya menuju Jember-Ambalulu-Curahnongko hingga sampai ke Bandealit (pintu gerbang Meru Betiri bagian barat) sejauh 256 kilometer yang dapat ditempuh dalam waktu sekitar 5 jam. Sedangkan, rute kedua dari Kota Surabaya menuju Banyuwangi-Jajag-Sarongan hingga sampai ke Sukamade sejauh 137 kilometer dengan waktu tempuh sekitar 4 jam.

Kondisi Taman Nasional Meru Betiri
Taman Nasional Meru Betiri yang namanya diambil dari nama sebuah gunung yang ada di dalamnya (Gunung atau meru Betiri), secara umum memiliki kondisi topografi yang bergelombang, berbukit dan bergunung-gunung dengan variasi mulai dari dataran pantai sampai dengan ketinggian 1.223 meter di atas permukaan air laut. Sedangkan berdasarkan survey dari John Seidenticker dkk pada tahun 1976, di dalam kawasan TNMB ini sedikitnya terdapat tiga jenis tanah yaitu aluvial, regosol, dan latosol.

Kondisi topografis yang bervariasi tersebut menjadikan kawasan Taman nasional ini memiliki formasi vegetasi yang cukup lengkap. Bahkan, dari sebelas tipe vegetasi yang ada di Pulau Jawa, lima diantaranya terdapat di kawasan Meru Betiri. Kelima tipe vegetasi itu adalah vegetasi pantai, payau, rawa, hutan hujan tropika dataran rendah, dan rheofit.

Vegetasi pantai dapat dijumpai di sekitar Teluk Sukamade dan Teluk Meru. Vegetasi ini terdiri dari formasi Prescaprae dan formasi Baringtonis. Formasi Prescaprae terdiri dari tumbuhan rendah yang didominasi oleh jenis herba, sebagian tumbuhan menjalar dan jenis yang paling banyak adalah ubi pantai (ipomoea prescaprae) dan rumput liar (spinifex squarosus). Sedangkan formasi Baringtonia terdiri dari keben (baringtonia asiatica), nyamplung (calophyllum inophyllum), waru (hibiscus tiliaceus), ketapang (terminalia catappa), pandan (pandanus tecorius), dan lain sebagainya.

Vegetasi payau dapat dijumpai pada bagian timur Teluk Rajegwesi yang merupakan muara Sungai Lembu dan Karang Tambak, Teluk Meru, dan Pantai Sukamade. Jenis-jenis tumbuhan yang mendominasinya adalah bakau (rhizophora sp.), api-api (avicenia sp.), tancang (bruguera sp.), dan nipah (nypa fruticans).

Vegetasi rawa dapat dijumpai di belakang hutan payau Sukamade. Jenis-jenis tumbuhan yang banyak dijumpai di dalam vegetasi ini diantaranya adalah sawo kecik (manilkara kauki), rengas (gluta renghas), pulai (alstonia scholaris), dan kepuh (steculia feotida).

Vegetasi hujan tropika dataran rendah dapat dijumpai di sebagian besar kawasan hutan Taman Nasional Meru Betiri. Tumbuhan yang termasuk dalam vegetasi ini adalah bayur (pterospermum sp.), winong (tetrameles nudiflora), gondang (ficus variegata), budengan (diospyros cauliflora), pancal kidang (algaia variegata), rau (dracontomelon mangiferum), glintungan (bischoffia javanica), ledoyo (dysoxylum amoroides), randu agung (gossampinus heptaphylla), nyampuh (litsea sp.), rotak warak (plectocomia elongata), dan lain sebagainya.

Vegetasi Rheofit dapat dijumpai di dataran yang digenangi oleh air sungai, seperti di aliran Sungai Sukamade. Jenis tumbuhan yang dapat hidup di daerah ini sebagian besar adalah glagah (sccharum spontaneum). Sebagai catatan, di kawasan Taman Nasional Meru Betiri terdapat 518 jenis tumbuhan yang telah teridentifikasi dengan 239 jenis diantaranya adalah tumbuhan obat, seperti: kemukus (piper cubeba), cabe jawa (piper retrofractum), kedawung (parkia roxburghi), joho lawe (terminalia balerica), kluwek (pangium edule), pule pandak (rauwolfia serpentina), widoro upas (merremia mommosa), jati belanda (guazuma tomentosa kunth), gadung (dioscorea hispida denn.), pulasari (alyxia reinwardtii bl.), patmosari (rafflesia zollingeriana kds.), dan lain sebagainya.

Kelima vegetasi yang ada di TNMB tersebut sampai saat ini kondisinya relatif masih lengkap dan asli, sehingga memungkinkan beraneka ragam jenis fauna hidup dan berkembang di dalamnya. Menurut laporan Primate (2002), di taman nasional ini memiliki 217 jenis satwa yang terdiri dari 25 jenis mamalia (18 jenis diantaranya dilindungi undang-undang), 184 jenis burung (64 dilindungi), dan 8 repilia yang enam jenis diantaranya dilindungi undang-undang.

Jenis-jenis satwa yang hidup di TNMB diantaranya adalah: banteng (Bos javanicus), babi hutan (Sus sp.), kijang (Muntiacus muntjak), kancil (Tragulus javanicus), landang (Histryx javanica), linsang (Prionodon linsang), musang luwak (Paradoxurus sp.), macan tutul (Panthera pardus melas), lutung budeng (Trachypithecus auratus), monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), kukang (Nycticebus coucang), ajag (Cuon alpinus javanicus), kucing hutan (Prionailurus bengalensis javanensis), rusa (Cervus timorensis russa), bajing terbang ekor merah (Iomys horsfieldii), merak (Pavo muticus), pecuk ular (Anhinga melanogaster), kuntul (Egretta garzetta), kuntul kerbau (Bulbucus ibis), kuntul karang (Egretta sacra), bangau hitam (Ciconia episcopus), bangau tong-tong (Leptoptilos javanicus), roko-roko (Plegadis falcinellus), trulek (Hiamantopus linnaeus), blekek (Limnodromus sempalmatus), trinil pantai (Tringa hypoleucos), cekakak (Todirhamphus (Halcyon) chloris), ayam-ayaman/truwok (Gallicres cinerea), dara laut jambul besar (Sterna bergii), cangak merah (Ardea purpurea), julang (Ryticeros undulatus), kangkareng (Anthracoceros convexus), elang jawa (Spizaetus bartelsi), elang ular-bido (Spilornis cheela), elang laut perut putih (Haliaeetus Ieucogaster), elang hitam (Ictinaetus melayensis), elang bondol (Haliastur indus), elang brontok (Spizaetus cirrhatus), elang kelabu (Butastur indicus), sikep-madu Asia (Pernis ptiiorynchus), kukuk beluk (Strix Ieptogrammica), dan lain sebagainya.

Sebagai catatan, TNMB juga diyakini sebagai habitat terakhir harimau loreng jawa (Panthera tigris sondaica), salah satu satwa liar paling dilindungi karena terancam punah. Namun, hingga saat ini satwa langka tersebut tidak pernah dapat ditemukan lagi sehingga beberapa pakar memperkirakan macan jawa telah punah.

Selain kaya akan flora dan fauna, di Taman Nasional Meru Betiri juga terdapat beberapa area yang dijadikan sebagai obyek wisata, yaitu: (1) Pantai Sukamade, yang oleh pemerintah Kabupaten Banyuwangi dijadikan sebagai salah satu obyek wisata yang masuk dalam “segi tiga berlian” yang dijadikan sebagai andalan sumber pemasukan dana dari sektor pariwisata. Pantai Sukamade merupakan habitat dan penangkaran penyu. Di pantai tersebut terdapat empat jenis penyu, yaitu: penyu blimbing, penyu slengkrah, penyu hijau dan penyu sisik. Obyek wisata lain yang masuk dalam “segi tiga berlian” Banyuwangi adalah kawah Gunung Ijen yang memiliki pemandangan indah dan unik. Dan, yang terakhir adalah Pantai Plengkung atau biasa disebut sebagai G-Land yang terkenal dengan ombaknya yang besar; (2) Teluk Damai dan Teluk Hijau; (3) Pantai Rajegwesi, yang merupakan pintu masuk kawasan Taman Nasional Meru Betiri di bagian timur (Kabupaten Banyuwangi); dan (4) Teluk Permisan yang merupakan jalur traking yang dapat ditempuh dalam waktu 4-5 jam berjalan kaki. Teluk Permisan ini adalah tempat beristirahat para pecinta alam yang melakukan kegiatan traking lintas Meru Betiri dari Jember (Bandealit) ke Banyuwangi (Pantai Sukamade). (gufron)

Foto: http://www.dephut.go.id
Sumber:
http://www.dephut.go.id
http://www.sinarharapan.co.id
http://navigasi.net
http://www.mapala-upn-yk.org
hal
Dilihat: