Masjid Besar Mataram Kotagede (Daerah Istimewa Yogyakarta)

Di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta banyak dijumpai berbagai peninggalan sejarah yang berupa bangunan-bangunan tua. Salah satu diantaranya adalah Masjid Besar Mataram Kotagede. Masjid ini terletak di Desa Jagalan, Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul. Masjid yang berdenah bujur sangkar berukuran 35,46x26,55 meter ini diperkirakan dibangun pada masa pemerintahan Panembahan Senopati antara tahun 1575--1601 Masehi. Di sebelah utara masjid ini berbatasan dengan pemukiman penduduk, sebelah selatan berbatasan dengan pemandian Sendang Seliran, dan sebelah timur berbatasan dengan pemandian Sumber Kemuning.

Kompleks Masjid Besar Mataram Kotagede dikelilingi pagar tembok yang ukurannya tidak sama. Tembok bagian kiri dibangun pada masa Sultan Agung. Tembok tersebut terbuat dari batu bata yang ukurannya agak besar, berwarna merah, serta terdapat batu seperti marmer yang di permukaannya ditulis aksara Jawa. Sedangkan, tembok yang lain merupakan hasil renovasi Paku Buwono X yang terbuat dari batu bata berwarna agak muda, dengan ukuran lebih kecil, dan polos.

Sampai saat ini Masjid Besar Mataram Kotagede masih digunakan oleh warga setempat untuk tempat melaksanakan kegiatan keagamaan. Bila datang waktu sholat, akan terlihat puluhan warga menunaikan ibadah. Di luar waktu sholat banyak warga yang menggunakan mesjid ini untuk berkomunikasi, belajar Al Quran, dan lain sebagainya.

Kompleks Masjid Besar Mataram Kotagede
Masjid Besar Mataram Kotagede dapat dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu: halaman, bangunan utama, bangunan tambahan, dan makam. Berikut ini adalah uraian tentang bagian-bagian tersebut. Di depan kompleks masjid, ada sebuah pohon beringin yang konon usianya sudah ratusan tahun. Pohon itu tumbuh di lokasi yang kini dimanfaatkan untuk tempat parkir. Karena usianya yang tua, penduduk setempat menamakannya "Wringin Sepuh" dan menganggapnya dapat mendatangkan berkah. Konon, apabila seseorang bertapa di bawah pohon itu dan mendapatkan dua lembar daun yang jatuh dengan posisi satu tertelungkup dan satu lagi terlentang, maka keinginannya akan terkabul.

Setelah melewati pohon beringin ada sebuah gapura yang terbuat dari batu bata dan berbentuk paduraksa. Persis di bagian depan gapura ada sebuah tembok yang berbentuk huruf “L”. Pada tembok itu terpahat beberapa gambar yang merupakan lambang kerajaan. Bentuk paduraksa dan tembok “L” itu konon merupakan wujud toleransi Sultan Agung pada warga para pemeluk agama Hindu dan Budha yang ikut membangun masjid. Sedangkan, di bagian belakang gapura terdapat bangunan kelir yang terbuat dari bata. Bangunan kelir ini panjangnya sekitar 5,66 meter dan tinggi 2,5 meter. Selain gapura yang merupakan pintu masuk ke halaman depan masjid ini, ada dua buah gapura paduraksa lagi yang ada di sisi utara dan selatan. Gapura sisi utara yang terbuat dari batu kapur puncak dan sayapnya masih utuh. Gapura sisi selatan mempunyai anak tangga sejumlah lima buah yang juga terbuat dari batu kapur.

Di halaman masjid ada sebuah prasasti yang berwarna hijau. Prasasti dengan tinggi sekitar 3 meter itu adalah sebagai tanda bahwa Paku Buwono X pernah merenovasi masjid ini. Bagian dasar prasasti berbentuk bujur sangkar dan di bagian puncaknya terdapat mahkota lambang Kasunanan Surakarta. Sebuah jam diletakkan di sisi selatan prasasti sebagai acuan waktu sholat.
Bangunan masjid itu sendiri dikelilingi oleh sebuah parit. Parit itu pada masa lalu digunakan sebagai saluran drainase air wudlu, khususnya yang ada di sebelah utara mesjid. Kini warga setempat telah memperbaiki parit tersebut dengan memasang porselen di bagian dasar parit dan menggunakannya sebagai tempat memelihara ikan. Untuk memudahkan orang memasuki masjid dibuatlah sebuah jembatan kecil yang terbuat dari kayu-kayu yang disusun berderet.

Bangunan utama masjid berbentuk limasan yang terbuat dari batu bata, semen, pasir dan kayu. Bagian serambinya ditopang oleh 26 buah tiang kayu jati. Lantai serambi dari tegel abu-abu. Sedangkan, atap serambi yang berbentuk tumpang terbuat dari sirap. Di ruang serambi terdapat bedug berukuran panjang 184 sentimeter dengan diameter 85 sentimeter dan kentongan yang berukuran panjang 114 sentimeter dengan diameter 40 sentimeter. Bedug itu merupakan hadiah dari Nyai Pringgit yang berasal dari Desa Dondong, Kabupaten Kulon Progo. Atas jasanya memberikan bedug itu, keturunan Nyai Pringgit diberi hak untuk menempati wilayah sekitar masjid yang kemudian dinamakan Dondongan.

Pintu masuk masjid terdapat di sisi timur, utara dan selatan. Pintu masuk di sisi timur ada tiga buah yang semuanya terbuat dari kayu jati. Masing-masing pintu dilengkapi dua buah daun pintu. Pintu utama terletak di tengah-tengah. Pada ambang atas pintu utama terdapat tulisan huruf Jawa. Tulisan tersebut sudah agak aus, namun masih dapat terbaca yang berbunyi: kamulyaaken tahun Ehe ngademken cipto sawaraning jalmi. Sedangkan, pintu masuk yang ada di sisi utara dan selatan masing-masing terdapat dua pintu yang juga terbuat dari kayu jati. Kedua pintu yang ada di sisi selatan menghubungkan ruang utama dengan tempat wudlu.

Ruang utama berukuran panjang 15,22x14,19 meter. Ruang utama ini ditopang oleh empat buah soko guru yang terbuat dari kayu jati. Lantai ruang utama dari ubin teraso yang berukuran 30x 30 sentimeter. Dindingnya terbuat dari tembok dan jendelanya ada delapan buah; enam buah dilngkapi denga jeruji besi dan dua buah dari jeruji kayu. Di dalam ruang utama terdapat mihrab yang berukuran panjang 1,60x2,18x2,92 meter. Mihrab itu diperindah dengan tiang semu yang pada bagian atasnya mempunyai sekumpulan bingkai. Di atas bingkai ini terdapat papan dari kayu jati yang penuh dengan ukir-ukiran dengan motif sulur daun.

Di sebelah kanan mihrab terdapat mimbar yang berukuran 2,19x1,40x2,65 meter. Mimbar itu berdiri di atas lapik yang tersusun bertingkat. Lapik paling bawah berukuran 2,50x1,30 meter. Di atasnya ada lapik yang lebih masuk ke dalam yang berukuran 2,30x1,15 meter, sedangkan yang paling atas berukuran 2,10x1,05 meter. Bagian bawah mimbar merupakan perpaduan pelipit. Pelipit yang pertama adalah pelipit rata dan di atasnya adalah pelipit padma. Mimbar ini dibawa oleh Sultan Agung saat ia mampir ke Palembang menjenguk salah satu adipati di tempat itu (setelah pulang dari menunaikan ibadah haji). Sebagai penghargaannya, adipati Palembang memberikan mimbar tersebut. Mimbar itu kini jarang digunakan karena sengaja dijaga agar tidak rusak. Sebagai pengganti mimbar itu warga setempat menggunakan mimbar kecil untuk kepentingan ibadah sehari-hari.

Di sisi selatan bangunan utama, terdapat ruang shalat untuk perempuan (pawestren). Ruangan ini berukuran 12,50 x 6,50 m. Lantai ruang pawestren dari ubin teraso. Antara pawestren dan ruang utama dihubungkan sebuah pintu. Atap bangunan mesjid bertingkat dua. Atap tersebut terbuat dari kayu dan ditutup dengan genteng. Atap tingkat atas berbentuk segi tiga dengan sudutnya yang runcing. Sedangkan, atap tingkat bawah seperti segi tiga yang terpotong bagian atasnya. Puncak atap diberi mahkota yang disebut pataka. Sementara, bangunan tambahan yang terdapat dalam kompleks mesjid ini ada di sebelah utara bangunan induk. Bangunan tambahan ini dipergunakan sebagai tempat wudlu yang berukuran 3,47x2,20x1,94 meter dan dilengkapi dengan dua buah kamar mandi. Bangunan ini merupakan hasil perbaikan karena bangunan yang asli telah rusak.

Di halaman masjid ini ada beberapa bangunan makam yang terdiri dari tiga bagian, yaitu: bagian depan yang disebut Prabayaksa, bagian tengah (Witana), dan bagian belakang (Tajug). Bangunan Prabayaksa dikelola oleh keraton Surakarta, sedangkan bangunan Witana dan Tajug dikelola oleh keraton Yogyakarta. Di dalam bangunan Prabayaksa terdapat 64 makam yang salah satunya adalah makam Sultan Sedo Ing Krapyak. Di dalam bangunan Witana terdapat 15 makam yang di antaranya adalah makam Kyai dan Nyai Ageng Senopati, dan makam Ki Juru Mertani. Sedangkan, di dalam bangunan Tajug hanya terdapat tiga buah makam, yaitu: makam Nyai Ageng Enis, makam Pangeran Joyoprono, dan makam Datuk Palembang.

Selain makam-makam tersebut ada satu makam lagi, yaitu makam Ki Ageng Mangir Wonoboyo yang letaknya sebagian di dalam dan sebagian lagi diluar bangunan Prabayaksa. Hal ini memberi makna bahwa Ki Ageng Mangir adalah seorang musuh, tetapi dalam hubungan keluarga ia diterima sebagai menantu Panembahan Senopati. Konon, sewaktu Ki Ageng Mangir akan dimakamkan, rombongan yang mengangkut jenazahnya tidak diperkenankan melalui gapura serta tidak boleh seluruh jasadnya dimakamkan di dalam kompleks masjid ini. Oleh karena itu, sebagian tembok yang berada di sisi utara kompleks masjid terpaksa dirobohkan untuk mengubur jasad Ki Ageng Mangir. (gufron)

Sumber:
Dibaca: