Mamaos Cianjuran

Asal-usul dan Perkembangan
Cianjur adalah salah satu kabupaten yang secara administratif termasuk dalam Provinsi Jawa Barat. Di kabupaten ini ada satu jenis kesenian yang disebut sebagai “Mamaos Cianjuran”. Kesenian ini sangat erat kaitannya keturunan rundayan (Dalem Ciabjur). Konon, di masa lalu adalah seorang yang bernama R. Aria Wangsaparana. Ia adalah salah seorang keturunan Sunan Talaga Majalengka. Sunan Talaga Majalengka beragama Hindu, sementara R. Aria Wangsaparana beragama Islam. Oleh karena itu, ia meninggalkan talaga (pindah ke Sagaraherang Cagak Subang. Di sana ia mendirikan Nagari Sagaraherang dan menyebarkan agama Islam di daerah sekitarnya. Ia mempunyai putera yang bernama Jaya Sasena yang bergelar R.A. Wiratanudatar yang sering disebut juga sebagai Dalem Cikundul karena dimakamkan di Cikundul, Cikalong Kulon, Cianjur. R.A. Wiratanudatar itu sendiri mempunyai beberapa anak, yaitu: R.A. Wiramanggala Dalem Tarikolot (R.A.A. Wiratanudatar II) yang kemudian menggantikan kedudukannya; R. Aria Natadimanggala (R. Aria Kidul) yang ahli sastera; dan R. Aria Cikondang yang ahli dalam bidang kadugalan. Ketika R.A.A. Wiratanudatar meninggal, kedudukannya digantikan oleh anaknya yang bernama Astra Manggala dengan gelar Aria Wiratanu III. Dan, ialah yang mendirikan Kampung Cianjur. Ketika itu mamaos cianjuran belum ada. Kesenian ini baru ada pada masa kabupaten diperintah oleh R.A.A. Wiratanudatar IV (1761--1776) yang disebut Dalem Muhyidin dengan juru pantun Tjakradiparana.

R.A.A. Wiratanudatar IV digantikan oleh anaknya yang bernama Wiratanudatar V yang sering disebut dengan Dalem Enoch (1776--1813). Ketika itu, selain mamaos cianjuran juga dikembangkan kesenian lainnya seperti maenpo (pencak silat). Dalem Enoch mempunyai beberapa saudara, yaitu R. Aria Wasitaredja dan R. Tandjungnagara. R. Aria Wasitaredja yang disebut juga sebagai Dalem Seni karena ia memperdalam mamaos cianjuran dalam bentuk wanda, papantunan, dedegungan, dan jejemplangan. Sementara, R. Tandjungnagara menikah dengan ulama Banten yang kemudian melahirkan ulama-ulama besar Cianjur. Salah seorang anaknya diangkat menjadi bupati yang kemudian disebut sebagai Dalem Sepuh Kaum (1813--1830). Ia diganti oleh anaknya yang bernama Aoum Hasan dan diberi gelar R.A.A. Kusumahningrat yang sering disebut dengan Dalem Pancaniti (1834--1862). Ia juga seorang yang sangat peduli terhadap mamaos cianjuran. Dengan bantuan saudara-saudaranya, ia mengantar mamaos cianjuran mencapai kejayaannya. Ketika itu, yang menjadi juru pantunnya adalah Aen. Tahun 1862 Dalem Pancaniti wafat dan digantikan oleh anaknya yang bernama Aom Alibasah yang sering disebut juga Dalem Marhum. Ketika itu mamaos cianjuran diolah oleh tiga orang, yaitu: R. Djajawiredja, Aong Djalalahiman, dan R. Etje Maadjid. Yang disebutkan terakhir ini adalah seorang budayawan yang serba bisa, mulai dari membuat syair, mencipta lagu, sampai menabuh peralatan musik. Salah satu ciptaannya adalah Guguritan Laut Kidul.

Dalem Marhum (R.A. Prawiradiredja II) yang meninggal pada tahun 1910 digantikan oleh Patih R. Demang Natakoesumah. Pada masa pemerintahan Patih R. Demang Natakoesumah ini mamaos cianjuran mengalami masa kevakuman. Namun, bangkit kembali ketika pemerintahan dipercayakan kepada R. Muharam Wiranatakoesumah. Dan, R. Etje Madjid yang bertempat tinggal di Pasarbaru Cianjur pun mulai mengajarkan mamaos cianjuran kepada saudara-saudara dekatnya. Selanjutnya, mamaos cianjuran pun dikembangkan ke luar daerah Cianjur. Adapun nama-nama yang mengembangkannya (selain Etje Madjid) adalah: Djalalahiman, R. Djajawiredja, dan Moh. Asikin. Beberapa nama yang pernah menjadi murid Etje Madjid adalah: Apih Somah (asal Bandung), Neng Emay (asal Tasikmalaya), R. Muhamad Djuwaeni (asal Sukabumi), R.H. Muhamad (asal Cisaat), Kalipah Apo (asal Bandung), R. Ihot (asal Bandung), R. Emung (asal Bandung), dan masih banyak lainnya.

Peralatan
Peralatan musik yang digunakan dalam mamaos cianjuran adalah: kacapi, suling dan rebab. Kacapi terbuat dari kayu yang keras dan kawat tembaga. Bagian-bagiannya terdiri atas: papalayu, yaitu papan bagian atas; pureut yaitu alat untuk menyetem (nyurupkeun) yang dipasang di bagian depan; dan inang yaitu alat yang berbentuk kerucut atau limas yang ditempatkan pada papalayu. Alat ini gunanya untuk merentangkan kawat (dawai) dengan bagian tumpangsari yang berfungsi untuk menyetem (melaras). Sedangkan, suling terbuat dari bambu tamiang. Bagian-bagiannya terdiri atas: sumber (lubang suling bagian atas); suliwer (sutas tali yang dilitkan pada bagian atas suling); lubang nada (lubang untuk menghasilkan nada). Sementara, bagian-bagian rebab yang terbuat dari kayu dan kawat terdiri atas: pucuk (bagian paling atas rebab); pureut (alat untuk menyetem yang juga terdapat di bagian atas rebab); wangkis yang berfungsi sebagai resonater; beuti cariang (bagian bawah wangkis); soko 9bagian paling bawah rebab; dan tumpangsari (alat yang diikatkan pada dua buah kawat yang direntengkan). Kemudian, bagian penggesek terdiri atas pucuk, gandar, dan bulu-bulu pengesat.

Pemain dan Busana
Pemain kesenian yang disebut sebagai mamaos cianjuran terdiri atas: seorang pemain kacapi indung yang tugasnya adalah memberi pasieup, narangtang, pangkat lagu, dan memngiri lagu baik mamaos mamupun panambih; satu atau dua orang pemain kacapi rincik yang bertugas membuat hiasan pada iringan kacapi indung ketika penembang membawakan wanda panambih; sementara yang satunya lagi bertugas sebagai anggeran wilatan (memberi batasan-batasan ketukan); seorang pemain suling yang bertugas membuat hiasan-hiasan lagu di sela-sela kekosongan sekaran (vokal) dan memberi lelemah sore (dasar nada); dan penembang yang membawakan berbagai jenis lagu mamaos cianjuran. Sebagai catatan, lagu panambih hanya dilantunkan oleh penembang wanita. Adapun busana yang dikenakan oleh pemain laki-laki adalah baju taqwa, sinjang (dodot), dengan benggol sebagai aksesorisnya. Sedangkan, pakaian yang dikenakan oleh para pemain wanitanya adalah: kebaya, sinjang, dan selendang.

Pementasan
Dalam suatu pementasan, baik dalam rangka memeriahkan suatu helatan (khajatan0 maupun hari-hari besar nasional (17 Agustusan), diawali dengan gending bubuka (pembukaan) yang berupa karawitan gending kacapi dan suling dalam bentuk intrumental. Kemudian, diteruskan dengan pasieup kacapi dan gelenyu atau narangtang yang disesuaikan dengan wanda cianjuran yang akan ditembangkan. Setelah itu, barulah pelantunan lagu wanda panambih yang dilakukan oleh wanita. Pementasan diakhiri dengan gending penutup yang berupa kacapi suling.

Sekar gending mamaos cianjuran disajikan dalam enam wanda, yakni: papantun, jejemplangan, dedegungan, rarancagan, kakawen, dan panambih.

Wanda papantunan adalah lagu-lagu cianjuran yang isinya berupa ceritera-ceritera dalam pantun. Ciri-ciri wanda ini adalah: (1) lagu-lagunya mempunyai gelenyu dan pirigen-nya mandiri; (2) jatuhnya irigan lagu pada nada 2 dan 3 pada laras pelog; (3) syairnya berbentuk puisi pantun (berjumlah 8 suku kata pada setiap barisnya dan murwakanti); (4) berbentuk sisindiran dan pupuh; (5) lagu yang dibawakannya pndek-pendek dengan suara dada; dan (6) pepantunnya agung. Wanda jejemplangan adalah dua nada yang dibunyikan secara bersamaan. Ciri-cirinya; (1) memakai lelelmah sora 2 dan 5 atau I dan 4; (2) teknik suaranya eur-eur dan gelesoh; (3) syair bersajak menurut aturan pupuh; dan (4) berwatak sedih. Wanda dedegungan adalah lagu gamelan degung yang disesuaikan dengan nuansa cianjuran yang rumpakannya.

Menggunakan aturan pupuh. Ciri-cirinya: (1) jatuhnya suara pada nada 2,5, dan 3; (2) akhir lagu tidak boleh dibuntukan; (3) rumpaka lagu memakai aturan pupuh; dan (4) berwatak gagah. Wanda rarancagan adalah tembang sederhana (tidak banyak memakai senggol). Ciri-cirinya: (1) jatuhnya suara tidak dibatasi harus pada nada 1,2,3,4, dan 5, tetapi diberi kebebasan; (2) teknik suara memakai gedag, candet, dan sebagainya; (3) watak rarancagan disesuaikan (sedih, gembira, dan sebagainya); dan (4) rumpaka memakai aturan pupuh. Wanda kakawen adalah wanda yang rumpaka-nya memakai bahasa Kawi atau Jawa. Dan, wanda panambih adalah lagu-lagu yang berirama tandak (terikat dengan ketukan). Wanda ini semula hanya sebagai pengisi waktu luang, yaitu ketika penembang laki-laki sedang beristirahat. Oleh karena itu, wanda ini dilakukan oleh penembang perempuan. Ciri-cirinya: (1) berirama sekar tandak: (2) lagu-lagunya berasal dari kawih degung kliasik; (3) dihidangkan tersendiri tanpa mamaos cianjuran tetapi tidak menghilangkan nilai-nilai estetika tembang cianjuran; dan (4) bentuk puisinya bebas (bisa sisindiran atau pupuh).

Fungsi dan Nilai Budaya
Fungsi kesenian yang disebut sebagai mamaos cianjuran adalah sebagai hiburan. Sedangkan, nilai yang terkandung di dalamnya tidak hanya sekedar estetika semata, tetapi juga kerjasama dan kreativitas. Nilai kerjasama tercermin dalam suatu pementasan. Dalam hal ini jika penembang laki-laki beristirahat, maka penembang perempuan tampil mengisinya. Dengan demikian, suasana tidak vakum tetapi berkesinambungan. Nilai kreativitas tidak hanya tercermin dari keterampilan para pemainnya dalam sisindiran, tetapi juga dalam pengadopsian jenis-jenis kesenian lain (degung) tanpa menghilangkan rohnya (jatidiri kesenian mamaos cianjuran).

Kondisi Dewasa Ini
Sebagaimana jenis kesenian tradisional lainnya di kalangan masyarakat Cianjur, kesenian mamaos cianjuran dewasa ini juga kondisinya memprihatinkan. Hal itu tercermin dari kurangnya nara sumber, tingkat apresiasi masyarakat yang semakin dan enggannya generasi muda untuk mempelajarinya karena dianggap sebagai kuno atau kampungan. Mereka lebih menyukai jenis-jenis kesenian kontemporer. Sehubungan dengan itu, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Cianjur (2002) menginventarisasi dan mendokumentasikannya dalam rangka melindungi, membina dan mengembangkannya. (gufron)

Sumber:
Galba, Sindu. 2007. “Kesenian Tradisional Masyarakat Cianjur”.

Tim Seksi Kebudayaan.2002. Deskripsi Seni Tradisional Reak. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Cianjur.
Dibaca: