Upacara Kematian pada Suku Bangsa Madura di Desa Lenteng Timur

Lenteng Timur merupakan salah satu di antara dua puluh desa di Kecamatan Lenteng, Kabupaten Sumenep (Madura). Desa ini terletak sepuluh kilometer dari barat Kabupaten Sumenep. Luas wilayahnya 407,425 ha terdiri dari tanah sawah 50 ha, untuk telah 297,625 ha, tanah pekarangan 55,250 ha, tanah kuburan 3,300 ha dan tanah wakaf 1,250 ha, merupakan tanah pribadi yang disumbangkan untuk keperluan desa. Penduduknya berjumlah 5.223 jiwa, 1.309 kepala keluarga, sesuai hasil sesnsus penduduk 1982, hidup dari pertanian, perdagangan, pegawai negeri, swasta, TNI/Polri dan lain-lain.

Upacara kematian
Pada suatu hari dari suatu rumah kedengaran orang membaca surat Yassin. Bagi masyarakat setempat membaca surat Yassin mempunyai arti khusus, yaitu mengaji untuk menuntut orang yang akan meninggal dunia atau dibaca pada setiap malam Jumat oleh anggota masyarakat yang menjadi anggota perkumpulan Yassinan. Membaca Yassin bersama adalah suatu amalan, seperti halnya tahlilan untuk memintakan ampun bagi sanak famili serta sahabat yang sudah meninggal. Salah satu tanda bahwa ia akan segera meninggal bila ia sudah elemelle-e, artinya berjaga-jaga selalu pada malam hari. Jika keadaannya demikian, kerabatnya sekali-sekali melakukan epettok, yaitu bisikan agar selalu ingat kepada Tuhan.

Para tetangg dekatnya segera tahu bahwa tetangganya sedang menghadapi musibah. Para tetangga dekat bertandang atau menjenguknya, sebagai pernyataan solidaritas atau musibah yang sedang dihadapi oleh keluarga itu.

Di kalangan masyarakat Lenteng Timur, apabila ada salah seorang keluarganya yang sedang menghadapi kematian, lebih-lebih jika saat yang demikian itu berlangsung berlarut-larut hingga beberapa hari, maka si sakit dibacakan surat Yassin. Jika ia masih dapat berbicara, dibimbing untuk membaca Laa Ilaha Illallah, yang artinya “tidak ada Tuhan selain Allah”. Bacaan itu dituntunkan agar orang yang akan meninggal dunia, mati dalam keadaan Islam.

Biasanya seorang tetangganya segera memukul kentongan dengan pukulan yang segera dapat dimaklumi artinya oleh orang-orang sekitarnya, yaitu sebagai pemberitahuan adanya kematian pada warga kampung mereka.

Merawat Jenazah
Ketika orang yang sekarat sudah tidak bernyawa lagi, seseorang mengambil alih tugas selanjutnya. Dengan mengucap “Inna Lillahi wa’inna Illaihi Raji’un” (kita berasal dari Allah dan kembali kepada-Nya), pertama-tama mengatur tangan mayat yang semula sejajar dengan badannya, disilangkan di dada, seperti sikap orang sholat. Agar tidak terlepas, diikat dengan sapu tangan. Kemudian diperbaiki letak kakinya, diluruskan dan pada ujung kedua kakinya juga diikat, agar letaknya tidak terbuka. Mulutnya yang sedikit menganga, dikatupkan rapat untuk mencegah agar tidak terbuka lagi dari geraham diikat dengan kain yang simpulnya berada di ubun-ubun. Demikian pula matanya yang sedikit terbuka, dipejamkan pada kelopak matanya ditindih dengan uang benggol, dengan suatu doa: “allahumagdir lihaadal myati warfak darajahatu fimahdiina wahlufhu fii akibihilghoib”. (Ya, Allah ampunilah mayit ini dan tinggikanlah derajatnya, dalam golongan orang-orang yang Kau beri petunjuk; berilah ia ganti sesudahnya dengan orang-orang yang tertinggal, serta ampunilah ia dan kita semua wahai Tuhan yang memelihara alam).

Semua itu dikerjakan tidak lama setelah orang itu meninggal, agar mudah diatur, karena mayat belum menjadi kaku. Kemudian jenazah itu dibaringkan dengan arah bujur utara-selatan, kepala di utara, kaki di selatan, lalu diselubungi dengan kain panjang. Mayat itu dibaringkan pada bangku panjang berkaki rendah. Pada keempat kakinya dimasukkan ke dalam kaleng yang sudah diisi air. Dekat dengan tempat pembaringan itu ditaruh penebha, yaitu sapu lidi yang hanya digunakan untuk membersihkan tempat tidur. Maksudnya untuk menolak bala.

Upacara memandikan jenazah
Tempat untuk memandikan mayat berada di luar rumah, di tempat terbuka. Tempat itu dikitari dinding kain setinggi orang berdiri, yang diikatkan pada empat pancang dari bambu, sehingga tempat memandikan itu berupa segi empat panjang. Di tempat itu diletakkan:

a. Batang pisang yang dibelah; sebanyak lima atau tujuh batang, dipakai untuk alas jenazah yang dimandikan, di atas balai-balai.

b. Klemuk, semacam buyung atau kemaron besar; tiga buah, masing-masing diisi air. Klemuk yang pertama hanya diisi air berih untuk membasuh seluruh badan serta mencuci rambut. Klemuk kedua diisi air dengan ramuan bunga atau wangi-wangian. Klemuk ketiga diisi air suci untuk mensucikan jenazah dari hadast kecil maupun besar. Masing-masing klemuk dilengkapi dengan gunung dari tempurung kelapa.

c. Sabun mandi yang harum, daun pacar dan rumput ilalang, atau batang padi.

d. Air landa merang, yaitu bahan keramas yang dibuat dari batang bulir padi yang dibakar, kemudian abunya dimasukkan ke dalam baskom yang berisi air.

Setelah persiapan tersebut selesai, maka jenazah diusung dari tempatnya ke luar oleh sanak keluarganya yang terdekat, untuk dimandikan. Jenazah itu diusung oleh tiga orang, yang akan memandikan semua laki-laki, yang dipimpin oleh majadinya. Ia boleh melakukan pekerjaan tersebut karena dia juga seorang haji yang mengaji dari ilmu agama.

Mengafani Jenazah
Pada ruang tengah rumah, terletak sebuah katel atau keranda yang sudah dibuka bagian atasnya dengan posisi arah utara-selatan. Pada alas katel diletakkan selembar tikar, kemudian di atasnya diletakkan selembar kain kafan yang digunakan sebagai pembungkus. Pada sisi kepala, tubuh dan kaki, ada serpihan kain untuk pengikat. Di atas lembaran itu terdapat kain putih yang akan digunakan sebagai sarung, celana dalam dan baju. Sedang di bagian atas diletakkan kain putih yang sudah dipas kira-kira setapak tangan untuk pengikat kepala.

Upacara Salat Jenazah
Sebagian besar penduduk Desa Lenteng Timur beragama Islam, maka upacara sembahyang jenazah itu selain dilakukan di rumah, yaitu sebelum katel itu ditutup, juga diadakan lagi sembahyang jenazah di masjid desa itu. Upacara sembahyang dipimpin oleh seorang Kyai Ngaji.

Upacara Penglepasan Jenazah
Jenazah yang siap dimakamkan itu dibawa ke halaman rumah melalui pintu depan. Semua pelayat berdiri dengan khidmat. Kemudian diadakan sambutan singkat oleh wakil keluarga almarhum, biasanya diberikan oleh seorang kyai atau guru mengaji. Dalam sambutan singkat itu dikemukakan tentang asal-usul manusia, yaitu dari tanah kembali ke tanah. Dan diuraikan tentang hubungan manusia yang sudah meninggal dengan keluarga yang masih hidup sudah putus.

Upacara Pemberangkatan ke Makam
Setelah upacara penglepasan maka segala sesuatu yang berkaitan dengan upacara pemakaman telah disiapkan:

a. Betonan (Beton)
Istilah dalam masyarakat Desa Lenteng Timur ialah dinding areh. Benda ini dibuat dari batu atau kayu, gunanya untuk menutup jenazah dalam liang lahat sebelum ditutup dengan tanah; berukuran panjang dalam liang lahat sebelum ditutup dengan tanah; berukuran panjang 80 cm, lebar 30 cm, tebal 6 cm.

b. Tanah kepalan
Istilah dalam masyarakat Desa Lenteng Timur ialah belu-belu, terbuat dari tanah yang dikepal-kepal. Tanahnya diambil dari tanahan di kuburan tempat jenazaj akan dimakamkan. Belu-belu ini berjumlah tujuh dan dipergunakan sebagai pengganjal jenazah di dalam liang lahat agar letaknya tidak berubah. Masing-masing belu-belu diletakkan di bawah pelipis kanan, leher, bahu, pinggang, pinggul, lutut dan mata kaki.

c. Sepasang nisan (Maejan)
Benda ini terbuat dari batu atau kayu, gunanya untuk tetenger (tanda) bagi orang yang meninggal. Pada nisan tersebut dituliskan nama orang yang meninggal dan kapan meninggalnya (tanggal, bulan, tahun). Nisan berukuran panjang + 65 cm, lebar + 20 cm dan tebal + 10 cm, ujungnya berbentuk runcing untuk orang laki-laki. Nisan untuk orang perempuan ujungnya rata dengan ukuran panjang + 55 cm, lebar + 20 cm dan tebal + 10 cm.

d. Payung jenazah
Payung jenazah biasanya dibuat dari kertas dan berfungsi untuk memayungi jenazah dalam perjalanan menuju ke kubur. Pada waktu pelayat pulang payung ditinggal di kubur dan diletakkan di atas pusara.

e. Bunga tabur dan minyak wangi
Jenis bunga ialah mawar, melati dan cempaka. Bunga ditaburkan di atas kuburan, begitu pula minyak wangi disiramkan di atas kuburan.

Dengan didahului ucapan selawat “Allohumma soli alla Muhammad” maka iringan jenazah itu mulai meninggalkan halaman rumah. Dengan iringan kalimat “La Illaha Illaloh Muhammadar Rasullullah” iringan itu menuju ke masjid yang terdekat, untuk sekali lagi melakukan upacara sembahyang jenazah.

Setelah slesai menyembahyangkan, para pemikul keranda membawanya ke luar masjid, sementara itu para pelayat sudah siap menyambutnya, memberangkatkan jenazah ke makam.

Upacara Pemakaman
Upacara menanam jenazah berlangsung di kuburan. Keranda diletakkan di samping kanan, atau di barat liang lahat, kain penutup katel dilepaskan lalu dibentangkan di atas lahat, menaungi jenazah dimasukkan ke dalamnya. Kerangka penutup katel juga diangkat dan disingkirkan agak jauh, agar tidak merintangi orang-orang yang bekerja menanam jenazah. Biasanya telah ada orang yang menyimpannya kembali di kompleks makam itu.

Di liang lahat itu penerima jenazah telah siap, terdiri dari tiga orang yang semuanya mempunyai hubungan kerabat dengan almarhum. Setelah jenazah dipindahkan dari katel, maka dengan khidmat mulai diturunkan ke liang lahat dibacakan doa “Bismillahi waalaa millati Rasullulah” (dengan nama Allah, dan semoga tetap tuntunan agama Rasullulah). Setelah jenazah dibaringkan, dua orang naik ke atas dan tinggal seorang di liang lahat.

Ia pertama-tama memperbaiki letak jenazah dengan membaringkan agak miring, dengan pipi kanan menyentuh tanah. Posisi itu adalah posisi yang melambangkan orang sedang sholat menghadap ka’bah atau kiblat. Agar letak tubuh jenazah tidak berubah, maka pada tengkuk jenazah, punggung, pantat, bagian belakang lutut dan tungkai, ditopang dengan belu-belu. Sesudah itu tali pengikat di atas kepala dilepaskan demikian pula yang terdapat di pinggang dan kaki.

Sesudah itu ia menghadap ke kiblat, menyerukan adzan dan dilanjutkan dengan iqomat. Selesai, orang itu naik dari liang lahat, kemudian turun dua orang untuk memasang betonan atau dinding areh. Sesudah pekerjaan penutup liang lahat selesai, dimulailah menimbun liang lahat.

Pada cangkulan pertama dilakukan oleh Kyai dengan doa: “Minha khalaqu nakum” (Engkau semua telah kujadikan dari tanah). Pada cangkulan ke dua, disunatkan membaca doa: “wafiiha nuidukum” (dan kukembalikan engkau semua ke dalam tanah). Pada saat menimbun dengan cangkulan ke tiga dibaca doa: “wa minha nuhrjuukum taratan ukhro” (Engkau semua akan Kami bangkitkan dari tanah sekali lagi).

Setelah itu secara beramai-ramai para pelayat menimbun liang lahat tersebut secara bergantian. Setelah hampir selesai, dipasang maejan atau nisan pada bagian atas dan bagian bawah, diperkirakan letaknya di atas kepala dan kaki. Kemudian menimbun liang lahat dilanjutkan sampai penuh, melebihi permukaan tanah sekitarnya. Di atas pusara itu kemudian dipancangkan payung, rangkaian bunga dan bunga tabur yang disebarkan di atas tanah gundukan antara dua nisan yang sudah terpasang itu.

Membaca Telekan (talkin)
Di sebelah timur makam dibentangkan tikar dan diletakkan anglo/untuk membakar kemenyan. Kemudian seorang kyai duduk di atas tikar tersebut dan sebelum ia menuangkan air talkin dan kendi dari arah kepala ke kaki sambil membaca Tsakolliji, wabaradallhu masjaahu, wajahhalal jannata maswahu”.

Upacara selamatan sesudah pemakaman

Ketika jenazah diberangkatkan ke makam, di rumah telah dipersiapkan selamatan untuk para pelayat sesudah kembali dari kubur. Untuk selamatan ini, masyarakat menyebutnya sebagai “arasol atau rasolam” yang berarti selamatan.

Sumber:
Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1994. Khasanah Budaya Nusantara V. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Makna Huruf Jawa pada Kata “Hurip” dan “Gessang”

Sepanjang sejarah kesusasteraan Jawa, telah dikenal berbagai tulisan asli yang antara lain adala htulisan Jawa yang merupakan unsur penting dari kebudayaan Jawa itu sendiri.

Tersebut suatu legenda yang menceriterakan kisah Pangeran Ajisaka yang rupa-rupanya bermula sebagai sebuah ceritera untuk menerangkan artinya dari kalimat yang muncul dari susunan abjad Jawa yang terdiri dari dua puluh huruf dengan artinya sebagai berikut:

Ha na ca ra ka : ada dua orang utusan
Da ta sa wa la : saling bertengkar
Pa dha ja ya nya : sama-sama kuat
Ma ga ba tha nga : kedua-duanya mati.

Masyarakat umum menganggap bahwa Ajisaka yang menciptakan huruf Jawa. Sementara para ahli menyatakan bahwa tulisan Jawa berasal dari suatu bentuk tulisan Sankerta Dewanagari dari India Selatan.

Dalam perkembangannya orang Jawa sudah banyak menggunakan huruf Latin dari pada huruf Jawa, namun di beberapa tempat masih ditemui tulisan yang menggunakan huruf Jawa. Bahkan oleh beberapa orang dinyatakan bahwa huruf Jawa memiliki falsafah atau makna bagi kehidupan manusia. Sebagai contoh:

Huruf ha diberi makna hidup: na berarti ada. Jadi ha na berarti adanya hidup, ca ra ka diartikan sebagai cipta rasa karsa: caraka berarti juga utusan atau duta.

Dengan demikian makna hana caraka adalah adanya hidup diciptakan oleh Tuhan yang diutus untuk memelihara alam lingkungan dengan berpedoman pada tuntunan-Nya sehingga manusia tidak banyak berbuat salah.

Huruf da berati Dhat: ta berarti tan (tanpa) sa wa la berarti salah. Jadi Da ta sawala berarti petunjuk yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa tidak pernah salah.

Huruf pa dha ja ya nya mengandung makna penggambaran diri manusia yang mana hati nuraninya tergoda oleh nafsu, maka sering timbul pertentangan di dalam dirinya. Oleh karena itu manusia diajarkan untul selalu memohon petunjuk kepada Tuhan Yang Maha Esa agar senantiasa berada dalam kebenaran.

Huruf ma ga ba tha nga; ma dan ga berarti sukama dan angga yang hidup dan berbudaya untuk mewujudkan tindak yang baik. Akhirnya ma, ga akan menjadi ba tha nga, yaitu mati apabila tugas sebagai caraka (utusan) telah selesai atau telah dikehendaki oleh Tuhan kembali (meninggal dunia). Demikian antara lain pengungkapan makna huruf Jawa ha na ca ra ka, da ta sa wa la, pa dha ja ya nya, ma ga ba tha nga.

Dalam kehidupan berbudaya ada beberapa orang yang dalam menghayati makna hidup dan kehidupannya menggunakan huruf Jawa sebagai alat untuk dapat memahami makna hidup tersebut. Seseorang sadar sepenuhnya bahwa di dalam dirinya diberi hidup sehingga dia berusaha memahami apa makna hidup itu. Berikut akan diungkap makna hidup dengan menggunakan uraian dari kata yang berhuruf Jawa.

Penjelasannya sebagai berikut: Yang disebut hidup itu terdiri dari dua jenis, yaitu yang disebut hurip dan gesang. Kata “urip” dalam huruf Jawa terdiri dari ha; berasal dari sebutan ma ha (maha) suku (u) mengandung makna tenaga, ra: berasal dari sebutan ha ra (getaran) wulu (i) mengandung maksud bahwa huruf yang di dulu adalah positif pa: mengandung maksud meliputi apa saja karena berasal dari sebutan apa-apa (apa) pangku (tanda huruf mati) mengandung maksud kebahagiaan hu: berasal dari sebutan satuhu 9suatu sifat nyata) rip: berasal dari sesebutan mirip (serupa). Kata “hurip” sebelum diberikan sandangan akan tertulis ha ra pa yang artinya hadap dan kehendak (nafsu).

Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa yang disebut “hurip” (hidup) adalah Maha Tenaga yang bergetar, yang memiliki kebahagiaan seperti mulia dan kebiasaan yang bermacam-macam serta mempunyai kehendak. Adapun sifat hidup adalah getaran-getaran yang memenuhi dan meliputi alam semesta yang kesemuanya berujud mirip antara yang satu dengan lain. Getaran itu disebut “hara”. Sebutan nama tersebut berasal dari adanya pengetahuan suatu gerak yang sangat cepat dan hanya bisa ditirukan oleh gerakan lidah, sehingga akan keluar bunyi dari mulut: “rrrraaaaa”. Karena hal tersebut bersifat maha, maka sebutan maha dan ra dijadikan satu sebutan “mahara” yang disingkat “hara”. Hara memiliki kebiasaan, maka sebutan “hara” dan “bisa” disatukan menjadi “harabisa”, yang kemudian disingkat “rasa”, karena sebutan “rasa” berasal dari sebutan “hurip”, maka rasa adalah hurip yang memiliki hadap kehendak kebiasaan kebahagiaan yang semuanya bersifat nyata serupa/mirip.

Berikut makna hidup dari apa yang disebut dengan gessang. Kata “gessang” dalam huruf Jawa terdiri dari: ga: berasal dari sebuta ra ga (raga/sifat berwujud) pepet (e) mengandung maksud perasaan/rasa kulit. Sa: berasal dari sebutan ra sa (rasa) pangku (tanda huruf mati): mengandung maksud sanga (sembilan) sa: berasal dari sebutan ra sa (rasa) setcak (tanda bunyi sengau) mengandung maksud sanga (sembilan). Ges: berasal dari sebutan teges (arti). Sang: berasal dari sebutan tumangsang (terkait) kata “gesang” sebelum mendapatkan sandangan tertulis ga sa sa nga, yang berasal dari sebutan gagasa (gagasan(, sanga (sembilan) maksudnya gagasa atau pikir itu terkait oleh sembilan rasa. Dari penjelasan tersebut disimpulkan bahwa yang disebut “gessang” adalah hidup yang memiliki raga, mengandung sembilan rasa positif dan rasa kulit yang mengikat pikir.

Sembilan rasa tersebut:
2 rasa pengelihatan kanan dan kiri
2 rasa pendengaran kanan dan kiri
2 rasa pembauan kanan dan kiri
1 rasa lidah
1 rasa dubur dan 1 rasa kelamin.

Sembilan rasa tersebut masing-masing mengikat gagasan/pikir. Hidup yang berwujud demikian berada di atas permukaan bumi dan harus mempunyai arti atau berguna.

Hidup yang disebut dengan “gessang” ini berasal dari “hurip” yang masing-masing memiliki tenaga hadap dan kehendak. Demikian makna hidup yang dijelaskan melalui kata “hurip” dan “gessang”.

Sebutan “hidup” erat sekali hubungannya dengan sebutan yang Maha Hidup. Untuk memberikan pengertian Yang Maha Hidup, dijelaskan dengan menggunakan kata “halah” dalam huruf Jawa sebagai berikut:
Ha: berasal dari sebutan ma-ha (maha). Suara Ha adalah suara bernafas yang menunukkan hidup. Maka ha mengandung maksud “Yang Maha Hidup”.
Ia: berasal dari sebutan hala (kasar).
Wignyan (huruf mati): mengandung maksud sebagian dari Yang Maha.
Lah: berasal dari sebutan oleh dan polah (memasak dan bergerak).

Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa yang disebut “Halah” (Alah) adalah Yang Maha Hidup, yaitu yang memasak atau mengadakan segala sesuatu mulai dari tidak ada menjadi ada, dari sifat yang terhalus menjadi sifat yang terkasar yang semuanya itu digerakkan atau dihidupi. Adapun dijadikannya sifat-sifat kasar atau berwujud itu hanya sebagian dari sifat ke-MahaanNya.

Demikian makna dari kata berhuruf Jawa “hurip” dan “gessang” yang mengandung arti hidup, yang ternyata di dalamnya terkandung makna yang dalam dan bermanfaat bagi kehidupan manusia.

Dari uraian tersebut dapat diketahui betapa tingginya pengetahuan yang telah dicapai oleh leluhur bangsa kita dengan membuat suatu bahasa dan tulisan yang bermakna luhur. Hal demikian dapat menambah pengetahuan dan khasanah budaya bangsa kita.

Sumber:
Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1995. Aneka Ragam Khasanah Budaya Nusantara VI. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Rupama Cerita Rakyat Makassar

Rupama atau ceritera rakyat Makassar yang berkembang secara lisan di tengah masyarakat pendukungnya telah diabadikan dan disusun menjadi sebuah buku oleh Zainuddin Hakim. Kumpulan ceritera itu hanya merupakan sebagian kecil dari jumlah ceritera yang tersebar secara lisan di Makassar. Dalam kumpulan ini penyusun mengelompokkan ceritera rakyat itu menjadi dua jenis, yakni ceritera kepercayaan dan ceritera binatang. Berikut ini akan dikemukakan judul ceritera tersebut.

Kumpulan ceritera kepercayaan terdiri atas: (1) Ceritera Pung Tedong (Kerbau) Bersama Tiga Orang Putra Raja; (2) Sebab Musabah Ikan Hiu Tidak Dimakan (Dalam Satu Keluarga); (3) I Kukang; (4) Kisah Percintaan; (5) Ceritera Musang Berjanggut; (6) Kisah Orang yang Tujuh Anaknya; (7) Dua Orang Bersahabat; (8) Orang yang Durhaka kepada Orang Tuanya; (9) Kisah Tinuluk; (10) Dua Orang Bersaudara. Kumpulan ceritera bintang terdiri atas: (1) Ceritera Pelanduk dan Buaya; (2) Ceritera Buaya dengan Kerbau; (3) Monyet dengan Kura-kura; (4) Kisah Rusa dengan Kura-Kura; dan (5) Kisah Pelanduk dengan Macan.

Rupama atau ceritera rakyat tersebut berfungsi sebagai hiburan dan sebagai sarana pendidikan bagi anak-anak. Dalam ceritera itu (sebagai ceritera lisan) terlukis curahan perasaan yang disampaikan dengan sangat indah oleh penuturnya kepada pendengar. Selain itu perilaku manusia yang terdapat dalam rupama merupakan cerminan sikap, pandangan hidup dan cita-cita masyarakat pendukungnya. Ceritera rakyat tersebut tidak hanya diungkapkan dalam bentuk sastra lisan, tetapi juga dalam bentuk tulisan yang berwujud naskah. Ceritera yang disajikan dalam bentuk tulisan memiliki nilai dan bobot yang lebih baik daripada yang disajikan dalam bentuk lisan.

Berikut ini akan dikemukakan secara ringkas ceritera Pung Tedong (Kerbau) Bersama Tiga Orang Puteri Raja. Dalam ceritera ini, dikisahkan tiga gadis yang masing-masing adalah anak tiga pangeran yang beristerikan seekor kerbau. Ketiga gadis itu dilahirkan dari seekor kerbau yang telah meminum air seni tiga pangeran yang sedang bermain-main di hutan. Setelah ketiga gadis itu berkeluarga, suatu ketika ibunya datang menjenguknya, tetapi dua anaknya itu sangat sombong, kejam dan tidak mengakui ibunya yang berwujud kerbau. Kedua putrid itu adalah Putri Lila Sari dan Putri Limba Sari. Mereka memukuli kerbau itu dan mengusirnya hingga ibunya sakit hati. Akan tetapi kerbau itu mendapat perlakuan yang baik setelah sampai di rumah anak bungsunya, yang bernama Putri Bida Sari. Putri itu menangis mendengar cerita ibunya tentang kelakukan kakak-kakaknya terhadap ibunya. Selanjutnya ia rawat ibunya dengan kasih sayang, seperti ketika ibunya membesarkannya dahulu. Putri yang baik hati itu akhirnya hidup bahagia setelah ibunya mati. Sebelum mati ibunya berpedan kepada Putri Bida Sari agar tubuhnya dipotong-potong dan dimasukkan ke dalam beberapa guci. Ternyata seluruh tubuh kerbau yang dimasukkan ke dalam guci-guci berubah menjadi emas, intan dan permata. Rumah Putri Bida Sari menjadi terang benderang terkenca cahaya emas tersebut. Ketika mendengar berita itu, kedua kakaknya datang ke rumah Putri Bida Sari dengan maksud ingin meminta seidikit emas milik adiknya itu. Putri Bida Sari mengizinkan mereka mengambil sendiri emas dan permata itu, tetapi mereka tidak dapat mengambil emas itu sedikit pun sehingga mereka kepayahan. Setiap emas dan permata yang mereka ambil menjauh. Melihat kejadian itu Putri Bida Sari menceritakan kepada kedua kakaknya bahwa emas dan permata itu berasal dari tubuh ibunya. Mengetahui hal itu, pulanglah mereka dengan rasa penuh penyesalan akan tabiatnya yang buruk kepada ibu mereka.

Cerita berteme kebijaksanaan terdapat juga pada cerita Kisah orang Tujuh Anaknya. Cerita ini mengisahkan orangtua yang sangat sedih karena ketujuh anaknya yang telah mendapatkan hartanya tidak memperdulikannya lagi. Agar ia diperhatikan lagi oleh ketujuh anaknya, orangtua itu menyusun siasat. Ia bercerita kepada ketujuh anaknya bahwai amasih mempunyai harta yang disimpan di atap rumahnya, yaitu di dalam sebuah periuk kecil. Mendengar kisah ayahnya itu, ketujuh anaknya berdatangan ke rumah ayahnya dan berebut untuk merawat ayahnya dengan sebaik-baiknya. Setelah ayahnya meninggal, ketujuh anak laki-laki itu kecewa karena isi beriuk itu ternyata kotoran ayahnya yang sengaja disimpan untuk membohoni anak-anaknya yang tidak tahu membalas budi. Jika disimak cerita Kisah Orang Tujuh Anaknya merupakan cerita humor yang mengandung unsur pendidikan. Di dalamnya tersirat nasihat bahwa seseorang anak janganlah pamrih jika berbakti kepada orangtuanya.

Dalam cerita yang lain, yakni Kisah Percintaan dikisahkan tentang kekecewaan anak seorang raja yang ditolak pinangannya oleh gadis pujaannya. Sebagai pembalasan anak raja itu mengguna-gunai gadis tersebut hingga sakit ingatan dan akhirnya meninggal dunia, sehingga anak raja itu menyesali perbuatannya. Untunglah Tuhan masih memberi ampun karena ia menyesali perbuatannya dan meminta maaf di makan gadis itu. Dengan kebesaran Tuhan seketika gadis itu hidup kembali. Akhirnya mereka hidup bahagia sebagai suami-istri. Kisah itu menyiratkan bahwa seorang gadis janganlah menolak pinangan pemuda.

Selain cerita di atas, terdapat juga cerita binatang yang mengandung nilai pendidikan bagi anak-anak. Nilai pendidikan yang terkandung di dalamnya antara lain menganjurkan anak-anak harus berhati-hati dalam bertindak, jangan sombong, jangan berdusta, jangan berbohong dan jangan bersifat jahat kepada kawan yang sudah menolong. Untuk lebih jelasnya, berikut ini dipaparkan Kisah Pelanduk dan Macan. Seekor pelanduk ingin menolong seekor kerbau yang ketakutan karena akan dimakan oleh harimau. Melihat itu pelanduk bersuara seperti raksasa pemakan harimau ketika si harimau akan memangsa si kerbau.

“Álangkah baiknya langkahku sekarang. Baru habis macan tua saya makan, sekarang datang macan muda membawa dirinya!”, ujar pelanduk.

Mendengar suara tersebut macam lari tunggang langgan dang menemui nenek Pattironaik. Nenek bersepakat dengan macan untuk bersama-sama melawan pelanduk yang mereka kira raksasa. Nenek Pattironaik berpikir bahwa ia tidak akan bisa melawan raksasa itu sendirian dan saat ini merupakan kesempatan yang baik. Akan tetapi macan mengajukan syarat bahwa ia mau melawan raksasa itu bersama nenek Pattironaik kalau tubuhnya diikan dengan tubuh nenek Pattironaik karena ia takut ditinggal lari oleh si nenek. Setelah tubuh mereka saling terikat, mereka pergi menuju tempat raksasa.

“Melihat persekongkolan Nenek Pattironaik, sejak kemarin saya menunggu, mengapa baru sekarang engkau datang. Nenekmu berhutang tujuh eor macan, mengapa hanya seekor yang kamu bawa?”

mendengar suara itu macan ketakutan dan berpikir bahwa dirinya diajak untuk membayar hutang nenek. Harimau lalu meneyrang Nenek Pattironaik. Karena tubuh nenek Pattironaik terikat menjadi satu dengan harimau, pergumulan di antara mereka sangat sengit dan masing-masing tidak dapat melarikan diri, sehingga keduanya mati.

Melihat kejadian tersebut pelanduk dan kerbau bersenang-senang.

Demikianlah kisah beberapa cerita rakyat dari Makassar yang mengandung unsur didaktis.

Sumber:
Hakim, Zainuddin. 1991. Rupama (Cerita Rakyat Makassar). Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1994. Khasanah Budaya Nusantara V. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Empat Acra Perunggu Awalokiteswara

Awalokiteswara ialah perwujudan boddhisatwa yang dikenal sebagai dewa asih, dewa penjaga dan dewa kasih sayang dalam pantheon Buddha Mahayana. Ia juga dikenal sebagai Padmapani, sebagai putera Amitabha dan dalam alam kosmos ia bertanggung jawab dalam hal penciptaan. Ia dapat diwujudkan dalam satu bentuk kepala hingga sebelas kepala. Ia mempunyai pasangan (sakti) bernama Pandara.

Awalokiteswara mempunyai ciri:
Warna: putih, wahana (kendaraan): singha, mudra (sikap tangan: waradamudra (isyarat mendapat pengharapan), atribut: Aksamala (tambih), kamandalu (kendi), khadga (pedang), pasa (tali), padma dan amitabha bimba (arca Amitabha) pada mahkota di kepalanya.

Di luar wilayah India dan Tibet Awalokiteswara diwujudkan sebagai perempuan, misalnya Cina sebagai dewi Kuan-yin dan di Jepang sebagai dewi Kwannon.

Empat Arca Perunggu Awalokiteswara di Museum Nasional. Di Museum Nasional Jakarta disimpan empat arca Awalokiteswara dari bahan perunggu, berasal dari berbagai daerah dengan wujud dan penampilan berbeda-beda. Deskripsinya:
1. Arca no. 6042
Bahan perunggu, tinggi 16 cm, asal dari Korinci, dekat Palembang (Sumatera Selatan). Tangannya dua, tangan kiri mengangkat bunga seroja, tangan kanan bersikap waramudra (sikap memberi anugerah). Di mahkotanya ada arca Amitabha yang bentuknya berbeda dengan arca-arca di Jawa. Bentuk ini menggambarkan ciri khas arca-arca dari masa Sriwijaya di Sumatera.

2. Acra no. 509
Bahan perunggu berlapis perak, ditemukan di Tekaran dekat Wonogiri (Jawa Tengah) pada 1855. Tinggi 83 cm dan gaya arca mungkin dari Sriwijaya abad ke-8 hingga 9 M. Semua tangannya putus sehingga tak diketahui apa yang dipegang dan sikap mudra-nya. Di lehernya ada kalung dua untai, lengannya juga memakai gelang. Di kedua bahu hingga perut ada kalung ular (upawita), sedangkan di mahkotanya ada arca Amitabha. Dari pinggang ke bawah dikenakan pakaian transparan. Kakinya putus di bawah lutut.

Arca ini termasuk salah satu patung perunggu terbesar di Indonesia dan termasuk sedikit kelompok yang berlapis perak. Gayanya menyerupai arca dari great relic Monasteri di Thailand yang sekarang disimpan di Museum Nasional Bangkok.

3. Arca no. 7515
Bahan perunggu, bertatahkan mas dan perak, tinggi 42 cm dan ditemukan di daerah Sragen (Jawa Tengah). Tangan hanya dua, yang kanan dalam sikap abhaya-mudra (menolak bahaya), yang kiri dalam sikap witarka-mudra (menjelaskan atau mengajar). Bibir bawah serta urna (“mata” ke tiga di antara dua alis) bertatahkan mas, sedangkan mata bertatahkan perak. Di punggungnya ada sandaran berhiaskan lidah api (prabha) yang modelnya berasal dari Nalanda di India Utara. Ia berdiri di atas kuntum bunga badma; Di antara dua kakinya muncul bunga seroja dari dasarnya. Pada mahkotanya ada arca amitabha sedangkan di atas prabha ada chattera (payung).

4. Arca no. 603
Bahan dari perunggu, tinggi 15 cm, asal dari Solo (Jawa Tengah). Tangan delapan dalam sikap lalitasana (santai), kaki kirinya bersila dan kaki kanannya disandarkan pada bunga seroja. Dua dari tangan memegang tasbih dan tali, dua tangan kanan lainnya dalam sikap waramudra (memberi anugerah) dan abhaya mudra (menolak bahaya). Tiga tangan kiri, masing-masing memegang kendi, sekuntum bunga seroja dan trisula (garpu bergigi tiga) satu tangan lainnya patah. Di belakang badannya ada prabha bulat dengan lidah api dan di pucaknya ada kerangka untuk tempat arca kecil.

Awalokiteswara lain
Selain arca Awalokiteswara dari bahan perunggu, banyak pula yang dibuat dari bahan batu. Arca awalokiteswara dari bati antara lain ditemukan di Candi Mendut dan Plaosan Lor. Sikap tangan awalokiteswara dari batu umumnya wara-mudra atau abhaya-mudra.

Salah satu arca Awalokiteswara batu yang terakhir ditemukan ialah arca di halaman belakang rumah penduduk di Jalan Duku, Palembang, pada tahun 1972 ketika tanahnya digali untuk membuat kolem. Tinggi arca sekitar 90 cm, masih utuh dan hingga kini disimpan oleh yang empunya di Palembang.

Arca awalokiteswara sebagai dewa welas-asih, penjaga dan dewa kasih-sayang yang ditemukan di Indonesia mempunyai berbagai gaya pahatan berbeda karena pengaruh kebudayaan dari Thailand dan India. Keanekaragaman ini justeru menjadikan gaya seni arca Indonesia sengat termasyur sehingga empat arca perunggu awalokiteswara tersebut dipamerkan di empat kota besar di Amerika Serikat pada 1971, yaitu di Asia House Gallery (New York), Los Angeles Country Museum of Art (Los Angeles), Nelson Atkins Gallery of Art (Kansas City) dan Center of Asian Art and Culture (San Fransisco) dalam kerja sama dengan The Asia Society Inc yang dibantu oleh PT. Caltex Pacific Indonesia.

Sumber:
Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1996. Aneka Ragam Khasanah Budaya Nusantara VII. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Raja dan Kerajaan di Simalungun

Oleh: Erond Litno Damanik MSi

Pengantar

Secara historis, terdapat tiga fase kerajaan yang pernah berkuasa dan memerintah di Simalungun. Berturut-turut fase itu adalah fase kerajaan yang dua (harajaon na dua) yakni kerajaan Nagur (marga Damanik) dan Batanghio (Marga Saragih). Berikutnya adalah kerajaan berempat (harajaon na opat) yakni Kerajaan Siantar (marga Damanik), Panai (marga Purba Dasuha), Silau (marga Purba Tambak) dan Tanoh Jawa (marga Sinaga). Terakhir adalah fase kerajaan yang tujuh (harajaon na pitu) yakni: kerajaan Siantar (Marga Damanik), Panai (marga Purba Dasuha), Silau (marga Purba Tambak), Tanoh Jawa (marga Sinaga), Raya (marga Saragih Garingging), Purba (marga Purba Pakpak) dan Silimakuta (marga Purba Girsang). Demikian pula halnya dalam mengurai asal muasal masyarakat Simalungun, yang banyak berpijak dan tergantung pada aspek diaspora masyarakat Batak (Toba) sehingga, raja dan kerajaan di Simalungun itu dinyatakan berasal dari Batak (Toba).

Padahal, secara struktur dan organisasi sosial, terdapat perbedaan yang sangat jelas antara kedua suku Batak tersebut, sehingga tidak dengan begitu saja menarik kesimpulan bahwa suku Simalungun merupakan diaspora Batak Toba yang sukses di perantauan sebagaimana yang banyak dilakukan oleh para penulis seperti JV. Vergouwen, Washinton Hutagalung, JR. Hutauruk, Batara Sangti maupun MO. Parlindungan yang kontroversial itu. Yang sangat mengesankan, jika bukan ironis adalah bahwa penulis Simalungun banyak pula yang mengutip pendapat tersebut sebagai sebuah fakta kebenaran tanpa melakukan penggalian lebih lanjut seperti yang dilakukan oleh TBA Purba Tambak dalam bukunya Sejarah Simalungun maupun oleh MD. Purba dalam berbagai bukunya yang diterbitkan untuk kalangan sendiri. Akibatnya, sejarah kebudayaan Simalungun menjadi rapuh dan tidak dapat berdiri sendiri.

Simalungan Dalam Literatur
Dalam masyarakat Simalungun tidak terdapat begitu banyak literatur (pustaha) yang mengisahkan tentang riwayat kerajaan tersebut sehingga mengalami kesulitan dalam rekonstruksinya kemudian. Hanya saja, berdasarkan sejarah lisan yang hidup di tengah-tengah masyarakatnya bahwa setidaknya tiga fase yang disebutkan di atas pernah hidup, berkuasa dan memerintah. Sejarah lisan tersebut, agaknya menjadi pedoman bagi bangsa Eropa seperti Tideman (1922) untuk mengurai Simalungun dalam laporannya sebagai penguasa pada saat itu dan juga bagi penulis Simalungun berikutnya.

Oleh karenanya, masing-masing penulis sejarah di Simalungun membuat rekonstruksi sendiri atas kemauan sendiri dan kepentingan sendiri tanpa terikat waktu, tempat dan ruang. Akibatnya, sejarah tersebut sulit diterima secara umum dan apalagi dipergunakan sebagai rujukan dalam penulisan-penulisan demi kepentingan akademik ilmiah berikutnya.
Jika kemudian terdapat literatur yang mengetengahkan tentang kebudayaan Simalungun, yakni sejarah dan perkembangannya, maka hampir dapat dipastikan bahwa tulisan itu banyak mengadopsi pendapat-pendapat yang banyak ditulis oleh non Simalungun, dan tulisan itu pula banyak bersinggungan dengan pengaruh Agama Kristen yang dilakukan oleh rohaniawan Kristen Simalungun.

Literatur dari masa lampau Simalungun yang masih ada hingga saat ini seperti Pustaha Parpadanan Na Bolak (Hikayat Nagur), Partikkian Bandar Hanopan (Hikayat Silau), Partikian Panai Bolah (hikayat Panai) serta beberapa literatur yang disusun kembali serta ditransliterasi latin oleh JE. Saragih dalam pustaha lak-lak. Menurut Marim Purba, jumlah keseluruhan literatur yang membahas Simalungun, baik dari segi sejarah masa lampau dan masa kini, baik yang ada di luar negeri (Belanda) maupun di Museum Simalungun tak lebih dari 150 judul. Kesulitan lain dari beberapa pustaha tersebut adalah tidak memiliki angka tarikh (tahun) sehingga mengalami kegagalan dalam rekonstruksi kronologis kesejarahannya. Kenyataan ini sangat menyulitkan dalam rekonstruksi sejarah kebudayaan Simalungun berikutnya seperti yang banyak diakui oleh para penulis Simalungun masa kini. Oleh karena itu, diperlukan penggalian mendalam serta penelusuran secara herastik sehingga pelurusan sejarah tersebut dapat dilakukan kembali.

Leluhur Simalungun
Dalam sejarah masyarakat Batak (Toba) seperti yang telah banyak diketahui bahwa masyarakat Batak (Toba) adalah keturunan Siraja Batak yang beranak cucu kemudian menyebar ke berbagai penjuru di Sumatera Utara seperti Mandailing Angkola, Pak-pak Dairi, Karo, Simalungun dan Toba serta Nias. Belakangan, Nias menyatakan bahwa mereka bukan keturunan dari Siraja Batak berdasarkan perbedaan fisik dan budaya lainnya. Dengan begitu, ke lima sub etnik itu adalah merupakan diaspora dari Batak (Toba) yang menyebar ke berbagai wilayah di kawasan itu. Keadaan lain adalah adanya klaim, penarikan garis keturunan (genealogis) berdasarkan marga (clan) yang mengacu pada klan Batak (Toba) dimana semua klan yang ada pada sub etnik Batak tersebut seolah-olah memiliki kemiripan dan kesamaan.

Dalam penguraian sejarah moety masyarakat Batak seperti yang dilakukan oleh BA Simanjuntak dipaparkan bahwa leluhur nusantara (juga Batak) berasal dari dataran tinggi Yunan dekat hulu Sungai Mekong di Cotte dan Napur Hindia Belakang. Kemudian dengan alasan tertentu melakukan migrasi ke berbagai wilayah dan sebagian di antaranya tiba di wilayah nusantara yang menghuni wilayah pantai. Gelombang yang pertama memasuki wilayah nusantara (sebahagian tiba di Sumatera Utara) ini disebut dengan Protomelayu (Melayu dalam). Selanjutnya, dalam rentang waktu tertentu, gelombang migrasi serupa juga terjadi yang disebut dengan Deutromelayu (Melayu luar). Gelombang yang kedua serta memiliki peradaban yang lebih tinggi ini, kemudian mendesak protomelayu ke pedalaman.

Secara signifikan, dapat ditarik korelasi dimana gelombang yang pertama masuk itu pastilah berdiam di Selat Malaka, kemudian mereka terdepak ke daerah pedalaman oleh gelombang migrasi berikutnya hingga ke kawasan Simalungun. Dengan begitu, gelombang yang masuk ke Simalungun pun dapat dinyatakan mengalami dua gelombang, yakni gelombang proto Simalungun dan deutro Simalungun sampai pada akhirnya terbentuk neo Simalungun pasca revolusi berdarah 1946. Dengan begitu, kondisi ini lebih memungkinkan dan hampir mendekati kebenaran sejalan dengan sejarah penyebaran ras-ras umat manusia.

Sejalan dengan itu, sesuai dengan pendapat Uli Kozok (1992) (Profesor Filologi berkebangsaan Belanda) yang mengurangi bahwa di antara bahasa-bahasa Batak, bahasa Simalungun adalah bahasa yang lebih dulu terbentuk, maka asumsi ini menjadi masukan yang sangat berharga untuk merekonstruksi kembali sejarah Simalungun. Bahasa Simalungun lebih dekat dengan Bahasa Mandailing, dan lebih jauh jika dibanding dengan Bahasa Batak Toba, Karo ataupun Pak-pak. Itu berarti bahwa, kemungkinan suku bangsa Simalungun adalah suku yang pertama ada dibanding suku Batak lainnya. Kendati demikian, penggalian serta penelusuran yang lebih mendalam tentang hal ini senantiasa dilakukan sebagai upaya pelurusan sejarah, khususnya pada masyarakat kebudayaan Simalungun.

Monarki Simalungun
Dalam literatur Simalungun (pustaha laklak) seperti Pustaha Parpadanan Na Bolak (pustaka tertua di Simalungun) yang mengisahkan hikayat kerajaan Nagur (kerajaan Tertua di Simalungun dinasti Damanik) dikisahkan bahwa sewaktu raja Nagur yakni Sormaliat ingin memiliki istri sekaligus sebagai puang bolon (permaisuri) dari putri pamannya (marboru tulang) yang ada di Negeri Padang Rapuhan. Untuk rencana ini, raja memerintahkan utusannya berangkat menuju negeri yang dituju untuk memberitahukan rencana tersebut.

Untuk sampai di negeri tujuan, dibutuhkan perjalanan selama tiga (bulan) dengan berjalan kaki. Berarti, dibutuhkan waktu selama enam bulan untuk kembali ke tempat semula yakni di negeri Hararasan (Kerasaan sekarang) tempat Kerajaan Nagur berdiri.

Dengan estimasi dan kalkulasi tertentu, maka kemungkinan negeri yang dituju adalah Mataram Lama (Medang Faihbhumi). Kejadian itu diperkirakan berlangsung sekitar tahun 550 M bersamaan dengan kejayaan kerajaan Mataram Lama pada waktu itu. Hal ini tentu saja sangat beralasan dimana terdapat kesamaan struktur kerajaan yang sama seperti di Jawa. Di Sumatera hal sedemikian tidak diketemukan dan apalagi di Sumatera Utara. Jika seandainya Padang Rapuhan yang dimaksud dalam hikayat itu adalah negeri Padang (Tebing Tinggi), maka perjalanan yang dibutuhkan tentulah tidak selama itu. Lagi pula, kota Tebing Tinggi tersebut yang dibuka oleh keturunan klan Saragih berkisar tahun 1200-an.

Jadi, berdasarkan penuturan yang terdapat pada hikayat Parpadanan na Bolak tersebut dapat diketemukan bahwa asal usul monarhi (kerajaan) di Simalungun tersebut telah bersentuhan dengan kerajaan yang ada di Pulau Jawa pada saat itu. Keadaan ini juga dipertegas dengan berbagai asumsi penulis Eropa, bahwa pengaruh Jawa telah ada dan berkembang di kawasan ini terbukti dengan penamaan salah satu area (Tanah Djawa) di Simalungun. Lagi pula, terdapat berbagai kesamaan dalam hal perangkat kebudayaan seperti pemakaian destar (gotong dan Bulang) dalam khasanah adat. Di samping itu, juga telah bersentuhan dengan pengaruh Sinkretis (Hindu-Jawa) seperti permainan Catur, meluku sawah dan lain-lain. Hal yang paling mengesankan adalah bahwa hewan korban dalam perangkat adat istiadatnya adalah ternak ayam.

Ini berarti bahwa, keadaan dimana kerajaan di Simalungun telah mengambil corak modern seperti layaknya sebuah negara yang memiliki perangkat-perangkat tertentu. Keadaan seperti ini tidak dimiliki suku lain seperti Tapanuli (Utara), Karo, Pak-pak, Mandailing Angkola sungguhpun mereka itu mengenal konsep raja. Dengan demikian, konsep raja dan kerajaan yang telah lama berdiri di Simalungun merupakan peninggalan dalam kebudayaannya sebagai dampak persentuhannya dengan budaya lain (Hindu-Jawa). Kendatipun pada akhirnya, kerajaan itu hancur dan lebur akibat peristiwa berdarah di Sumatera Timur yang lebih dikenal dengan peristiwa revolusi sosial, dimana pada saat itu, golongan bangsawan dikejar dan dibunuh serta pembakaran istana sebagai dampak economic lag yang terjadi antar kelas.

Keadaan seperti ini bukan semata-mata bertujuan untuk memutus mata rantai integritas serta harmoni kesukuan tetapi yang lebih dipentingkan adalah bagaimana sejarah itu dapat ditegakkan. Karena dari sanalah kita dapat mencapai fakta dan kebenaran sejarah sehingga tidak terjadi pengebirian sejarah di kemudian hari.

Erond Litno Damanik MSi
Penulis: Pemerhati Pendidikan dan Pembangunan Sosial Direktur: Center for Cultural Study and Rural Community Development/The Simetri/d

Sumber :
Harian SIB
http://www.silaban.net/
Cara Pasang Tali Layangan agar Manteng di Udara
Topeng Monyet
NUSANTARA COSMIC ECHOES - Pink Floyd Style Progressive Rock

Archive