Lagu Asyik Buat Ngopi Pinggir Sawah

Motorola W7 Active Edition

Specifications
Motorola W7 Active Edition
Network
2G
3G
GSM 850 / 900 / 1800 / 1900
UMTS 850 / 1900 / 2100
Size
Dimensions
Weight
Display
99 x 49 x 15 mm
105 gram
TFT, 256K colors
240 x 320 pixels, 2.2 inches
Memory
Phonebook
Call records
Internal
Card slot
500 entries, Photocall
20 dialed, 20 received, 20 missed calls
30 MB
microSD, up to 8GB
Data
GPRS
HSCSD
EDGE
3G
WLAN
Bluetooth
Infrared port
USB
Class 12 (4+1/3+2/2+3/1+4 slots), 32 - 48 kbps

Class 12
384 kbps

v2.0 with A2DP

v2.0 microUSB
Features
OS
CPU
Messaging
Ringtones
Browser
Radio
GPS
Games
Camera
Video
Colors
Java

Qualcomm ESC6240 processor
SMS, EMS, MMS, Email
Vibration; Downloadable polyphonic, MP3 ringtones
WAP 2.0/xHTML
FM radio

Yes, motion-based
2 MP, 1600 x 1200 pixels
QCIF@15fps
Black, licorice and alpine white
MIDP 2.0
- Accelerometer sensor
- Turn-to-mute
- Gesture control
- 3.5mm jack
- Loudspeaker
- MP3/AAC+ player
- Organizer
- Voice memo
- Fitness applications
- Pedometer
- Stopwatch
- MotoID music recognition
- Push-to-Talk
- Predictive text input
- Calendar
- Alarm
Battery

Stand-by
Talk time
Standard battery, Li-Ion 910 mAh
Up to 300 h (2G)/300 h (3G)
Up to 8 h (2G)/3 h 30 min (3G)

Image: http://www.mobile-price.in/2011/07/04/motorola-w7-active-edition-price-india/

Guntang (Bali)

Guntang adalah salah satu dari nama instrumen barungan gambelan untuk mengiringi tari Arja. Meskipun sekarang ada kecenderungan tari Arja itu diiringi dengan barungan gong Kebyar, namun untuk memberikan suasana yang khas pada ketradisionalan tari Arja masih tetap dipergunakan barungan gambelan “Geguntangan”. Diberi nama demikian sebab guntang itu merupakan instrumen pokok yang sangat penting di samping instrumen-instrumen lainnya seperti suling, kendang, klenang dan cengceng.

Di samping itu guntang bila dipukul tidak menyuarakan nada tertentu seperti instrumen-instrumen lainnya, baik termasuk laras pelog maupun selendro. Sebab dalam barungan gamblengan geguntangan melodi dipegang oleh suling, sedangkan guntang sebagai pemegang mat dan penanda akhir suatu bagian lagu. Dilihat dari fungsinya guntang ada dua macam, yaitu: pertama guntang kajar atau pemegang mat, bernada tinggi. Kedua guntang wadon berfungsi sebagai kempur atau penanda akhir suatu bagian lagu, yang bernada lebih rendah dari guntang lanang. Pukulan guntang wadon lebih jarang yaitu empat kali pukulan lanang sama dengan satu kali pukulan wadon.

Meskipun tidak mendukung nada tertentu, getaran suaranya yang empuk dan lembut memberikan suasana yang khas baik kepada barungan geguntangan itu sendiri maupun pementasan tari Arjanya. Terutama pada saat instrumen-instrumen lainnya dihentikan sesaat, dan dalam suasana pementasan sedih atau sentimential, maka suara guntang memberi irama sahdu.

Bahan untuk guntang adalah bambu “petung” yang agak besar, lebih besar dari ukuran terbesar bambu untuk membuat gerantang Joged Bungbung. Guntang Lanang mempunyai ukuran panjang silinder dan garis tengah lingkaran penampangnya masing-masing 40 cm dan 10 cm. Sedangkan guntang wadon masing-masing 60 cm dan 15 cm. berbeda dengan gambelan bambu lainnya guntang dibuat dari seruas bambu dengan kedua penampangnya masih tertutup oleh buku-buku ruas.

Tahap pertama dibersihkan dengan air, digosok dengan sabut kelapa dicampur pasir sampai kulitnya halus. Setelah kering, yang mula-mula dikerjakan adalah bagian yang berfungsi sebagai senar. Biasanya bahan untuk senarnya itu tidak diambil dari bahan lain tetapi dari kulitnya sendiri. Caranya yaitu dengan membuat potongan melintang dengan lebar kira-kira dua cm, kemudian diangkat dengan memberikan ganjalan di bagian ujung kanan dan ujung kiri buku ruas bambu. Memotongnya harus hati-hati jangan sampai terlalu dalam hingga membuat lubang pada bambu. Potongan atau irisan yang lebarnya dua cm itu dihaluskan dan dibuat lurus, hingga apabila sudah selesai lebarnya tinggal satu cm saja. Untuk menjaga supaya irisan tersebut tidak terlepas, maka di kedua ujungnya kiri dan kanan, yang berjarak kira-kira lima cm dari batas ruas buku, diikat atau dijepit dengan benda agak keras kemudian dipaku.

Selanjutnya untuk membuat supaya resonansi udara dalam batangan bambu bisa keluar, pada titik yang berjarak setengah bagian panjang bambu dan tepat di bawah senar dibuat irisan lubang bundar bergaris tengah dua cm. Atau irisan itu bisa pula berbentuk segi empat ataupun segitiga. Setelah lubang itu selesati, tepat diatasnya dibuatkan irisan kayu pipih yang berbentuk segilima atau segienam agak memanjang dan ditempelkan pada senar tersebut yang disebut “palayah”. Gunanya adalah untuk mengatur getaran udara yang keluar dari lubang bambu. Disamping berdasarkan ukuran batangan bambu, tinggi rendah suara guntang ditentukan oleh kencang kendornya senar bambu tersebut. Untuk membuat suara guntang lebih mengalun, maka pada tengah-tengah penampang buku ruas guntang di sebelah kiri ditinjau dari posisi waktu kita membunyikannya, dibuat lubang melingkar dengan garis tengah kurang lebih dua cm. Hembusan udaranya diatur oleh telapak tangan kiri.

Alat pemukul atau “panggulanya” dibuat dari batangan bambu atau kayu bundar sepanjang kira-kira 25 cm dan garis tengah penampangnya satu cm. Pada bagian ujungnya yang akan dipukulkan mengenai senar dibalut dengan kain atau benda lunak lainnya. Pukulan tidak boleh mengenai palayah, atau memukul terlalu keras sehingga palayah bersentuhan dengan batang bambu.

Posisi memukul guntang adalah dengan bersila dan memangkunya. Tangan kanan memegang panggul, sedang telapak tangan kiri menempel pada penampang buku ruas sebelah kiri tepat pada lubang tadi.

Sumber:
Triguna, Ida Bagus Gde Yudha, dkk,. 1994. Peralatan Hiburan dan Kesenian Tradisional Bali. Denpasar: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Sony Ericsson T707

Specifications
General
Network
GSM 850 / 900 / 1800 / 1900
HSDPA 2100
Size
Dimensions
Weight
Display
93 x 50 x 14.1 mm
95 g
TFT, 256k colors
240 x 320 pixels, 2.2 inches
Memory
Phonebook
Call records
Internal
Card slot
1000 contacts, Photo call
30 received, dialed and missed calls
100 MB internal memory
Memory Stick Micro (M2), up to 16GB
Data
GPRS
HSCSD
EDGE
3G
WLAN
Bluetooth
Infrared port
USB
Class 10 (4+1/3+2 slots), 32 - 48 kbps
Yes
Class 10, 236.8 kbps
HSDPA
None
v2.0 with A2DP
None
V2.0 microUSB
Features
OS
CPU
Messaging
Ringtones
Browser
Radio
GPS
Games
Camera
Video
Colors
Java
-
-
SMS (threaded view), MMS, Email, Push Email
Polyphonic, MP3, AAC
WAP 2.0/xHTML, HTML
Stereo FM radio with RDS
None
Yes + downloadable
3.15 MP, 2048x1536 pixels
QVGA@15fps, video light
Mysterious Black, Spring Rose, Lucid Blue, Lime Forest
JavaMIDP2.1
- 3.5 mm headset jack
- MP3/AAC player
- Calendar
- Calculator
- Alarm
Battery

Stand-by
Talk time
Standard battery
Up to 400 h
Up to 4 h

Image:
http://atrikaorvladya.wordpress.com

Motorola E8

Specifications
General
Network
GSM 850 / 900 / 1800 / 1900
Size
Dimensions
Weight
Display
115 x 53 x 10.6 mm
100 g
TFT, 256k colors
320 x 240 pixels, 2.0 inches
Memory
Phonebook
Call records
Internal
Card slot
Yes, Photocall
Call Records 50 dialed,received,missed calls
2 GB internal memory
microSD (TransFlash)
Data
GPRS
HSCSD
EDGE
3G
WLAN
Bluetooth
Infrared port
USB
Class 12 (4+1/3+2/2+3/1+4 slots), 32 - 48 kbps
None
Class 12
None
None
v2.0 with A2DP
None
V2.0 microUSB
Features
OS
CPU
Messaging
Ringtones
Browser
Radio
GPS
Games
Camera
Video
Colors
Java
-
-
SMS, EMS, MMS, Email, Instant Messaging
Polyphonic, MP3, AAC
WAP 2.0/xHTML, HTML
Stereo FM radio
-
Yes
2.0 megapixel camera, 8x digital zoom
-
Black
JavaMIDP2.1
- Touch-sensitive keypad
- Navigation scroll wheel
- 3.5 mm headset jack
- MP3/AAC player
- Calendar
- Calculator
- Alarm
- Built-in handsfree
Battery

Stand-by
Talk time
Standard battery, Li-Ion 970 mAh (BK60)
Up to 300 h
Up to 5 h

Image:
http://www.unwiredview.com

Sekilas Pengenalan Ajaran “Gerak Langkah” serta Peran Serta Paguyuban Sukoreno dalam Membangun Bangsa

Oleh M. Hardjo Soedarjono, S.H., M.Kn

I. Pendahuluan
Untuk membangun bangsa Indonesia sesuai cita-cita perjuangan bangsa Indonesia yakni mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur serta memajukan kesejahteraan umum dilaksanakan melalui pembangunan berbagai aspek. Salah satu aspek yang dipandang mempunyai kontribusi cukup besar dalam membangun bangsa adalah melalui aspek kebudayaan.

Penjelasan Pasal 32 Undang Undang Dasar 1945 dinyatakan bahwa kebudayaan bangsa adalah kebudayaan yang timbul sebagai buah usaha budinya rakyat Indonesia seluruhnya, termasuk kebudayaan lama dan asli yang terdapat sebagai puncak-puncak kebudayaan di daerah-daerah di seluruh Indonesia. Selanjutnya dijelaskan pula bahwa usaha kebudayaan harus menuju kemajuan adab, budaya, dan persatuan, memperkembangkan atau memperkaya kebudayaan bangsa sendiri, serta mempertinggi derajat kemanusiaan bangsa Indonesia.

Dari penjelasan ini maka dapat disimpulkan bahwa aspek pembangunan kebudayaan merupakan salah satu aspek yang cukup strategis bagi pembangunan bangsa Indonesia secara keseluruhan.

Diketahui bahwa budaya atau kebudayaan lahir dan mewujud sebagai hasil dari karya cipta, rasa dan karsanya manusia. Dengan demikian wujud dari kebudayaan meliputi berbagai aspek kehidupan manusia. Dan dengan maksud hanya untuk menyederhanakan pengklasifikasian dari kebudayaan-kebudayaan tersebut, maka kebudayaan dapat diklasifikasikan atau dibedakan antara kebudayaan lahiriyah dan Kebudayaan Batiniyah/Spiritual. Secara gampangnya Kebudayaan Lahiriyah dimaksudkan sebagai kebudayaan yang ada wujud lahiriyahnya sehingga dapat dilihat, diraba maupun didengar, dan pada umumnya bersifat bendawi dan atau ragawi, misalnya bangunan, kesenian (lukisan, tari, musik, dsb), adat istiadat atau tradisi, dll. Sebaliknya Kebudayaan Batiniyah/Spiritual adalah kebudayaan yang tidak ada wujud lahiriyahnya sehingga tidak dapat dilihat, diraba maupun didengar akan tetapi dapat dirasakan. Salah satu dari produk Budaya Spiritual/Batiniyah adalah berupa ajaran-ajaran luhur penghayat terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Di berbagai daerah di Indonesia banyak terdapat paguyuban atau organisasi penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang pada umumnya bervisi melestarikan dan mengembangkan ajaran luhur kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, yang salah satunya adalah Paguyuban Sukoreno. Secara umum masing-masing warganya diharapkan mengetahui dan sadar secara lahir batin akan keberadaannya sebagai makhluk Tuhan (“Kawulaning Pangeran”) yang mengemban dan wajib melaksanakan kewajiban-kewajibannya di dunia dalam hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa. Ajaran budi luhur sebagai ajaran sikap perilakunya manusia dalam hubungannya dengan sesama merupakan salah satu kewajiban yang harus dilaksanakan sebagai bentuk “panembah” kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Dari uraian tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa peran sertanya semua paguyuban penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dalam membangun bangsa Indonesia adalah diujudkan memberi kontribusi bagi pembangunan bangsa Indonesia melalui pelestarian serta pengembangan juga pengamalan Budaya Spiritual ajaran luhur kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa sebagai bagian dari kebudayaan bangsa Indonesia, khususnya untuk membentuk pribadi-pribadi yang berbudi luhur dan memberikan keteladanan bagi sesamanya.

II. Sekilas Ajaran Luhur Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dari Paguyuban Sukoreno
Secara garis besar ajaran luhur terhadap Tuhan Yang Maha Esa dari Paguyuban Sukoreno dapat diketahui dari makna maupun filosofi lambang Paguyuban Sukoreno yang dari ujudnya terdiri dari gambar Gunungan, di dalamnya (atas) terdapat tulisan (dalam huruf Jawa) berbunyi Pakempalan Guyub Rukun Lahir Batin, di tengah-tengahnya ada gambar berujud Keris Berluk Sembilan, gambar Rumah Joglo dengan Pintu Terbuka dan di bawahnya ada tulisan Jawa berbunyi Sukoreno, serta tulisan angka 10-10-1954.

Makna ataupun filosofinya dari gambar-gambar tersebut sejatinya adalah mengandung makna pokok-pokok ajaran luhur kepenghayatan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sbb :

a. Gunungan, adalah merupakan simbol dari “Jagad Gedhe” (alam semesta) maupun simbol dari “Jagad Cilik”. Menurut ajaran kepenghayatan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa (selanjutnya disebut ajaran kepercayaan), bahwa setiap manusia juga mempunyai “Jagad Cilik” yang terdapat pada dalam diri pribadinya atau batin manusia, dimana di dalamnya juga penuh dengan dinamika dan perubahan sebagaimana yang selalu terjadi dalam alam semesta (Jagad Gedhe) ini. Dalam “Jagad Cilik”nya setiap manusia diyakini terdapat “Rasa Sejati” yang merupakan pancaran dari Tuhan Yang Maha Esa, serta beberapa piranti batin berupa “Pikiran”, “Penggalih”, serta “Rasa”. Perubahan “obah mooosiking jagad gedhe” ditentukan oleh kondisi piranti “Pikiran, Penggalih dan Rasa”. Diyakini bahwa “Rasa Sejati” sebagai pancaran dari Tuhan Yang Maha Esa, maka di dalam ajaran diwajibkan kepada setiap manusia untuk selalu mendekat kepada “Rasa Sejati”nya masing-masing yaitu dengan jalan mengkondisikan piranti pikiran, penggalih, dan rasa sesuai kehendak Tuhan Yang Maha Esa, yaitu piranti “Pikiran” agar selalu “Wening” (jernih), artinya pikiran kita masing-masing jangan digunakan untuk memikirkan hal-hal duniawi yang dapat mengakibatkan tidak jernihnya pikiran, misal pikiran bingung, kalut, judheg karena sesuatu hal, dsb. Juga “Penggalih” agar selalu dikondisikan “Padhang” (terang). Kebalikannya terang adalah gelap. Maka jangan menimbulkan hal-hal yang dapat menjadikan gelapnya “Penggalih”, seperti stress, susah, dsb. Sedangkan piranti “Rasa” agar selalu “Resik” (bersih), artinya kita mempunyai “Rasa” jangan sampai digunakan untuk merasakan hal-hal yang dapat mengotori rasa, seperti merasakan berbagai macam persoalan yang menjadikan pikiran bingung, susah, dsb.

Kondisi “Pikiran Wening”, “Penggalih Padhang”, serta “Rasa Resik” sangat ditentukan oleh panca indriya. Ketidakmampuan mengendalikan pancaindriya (mata, telinga, hidung, perasa) akan sangat berakibat pada kemapanan ketiga piranti tersebut, dengan demikian manusia tidak akan bisa mendekat pada “Rasa Sejati” yang diyakini dapat menangkap kehendak dari Tuhan Yang Maha Esa.

Untuk mengendalikan kondisi ketiga piranti di atas agar selalu “Wening Padhang Resik”, diajarkan setiap manusia diwajibkan oleh Tuhan Yang Maha Esa secara lahir batin agar selalu dan dapat melakukan “Lampah Kautamen/Kabecikan” (perilaku budi luhur/keutamaan/kebaikan), “Lampah Kebatosan” (Laku Kebatinan), dan “Lampah Kendel” (Laku Diam). Lampah Kautamen seperti perilaku mementingkan keguyuprukunan antar sesama, kejujuran, kegotongroyongan, penghormatan pada sesama, suka memberi pertolongan yang tanpa pamrih, sopan santun, tidak menyakiti hati pada sesama, berani “ngalah” yang tidak berarti kalah, sikap mengayomi, dsb. Sedangkan “Lampah Kebatosan” pada intinya diartikan sebagai kewajiban setiap manusia untuk selalu “manembah” (menyembah) kepada Tuhan Yang Maha Esa baik secara Panembah Lahir maupun Panembah Batin. Melaksanakan “Lampah Kautamen” dan “Lampah Kebatosan” jika dilakukan dengan niat dalam rangka “manembah” kepada Tuhan Yang Maha Esa adalah merupakan “Panembah Lahir”. Sedangkan “Panembah Batin” dilakukan melalui “pasujudan”, “pamunjukan”, atau “semedi” pada saat-saat tertentu.

b. Tulisan Jawa berbunyi Pakempalan Guyub Rukun Lahir Batin, adalah mengandung ajaran bahwa setiap pribadi diwajibkan untuk dapat mewujudkan “kumpuling” atau “guyubing lahir batin”. Artinya, apabila seseorang dapat mengendalikan ketiga piranti batin dalam kondisi “Pikiran Wening, Penggalih Padhang, serta Rasa Resik” (disebut sebagai “guyubing batin” atau keselarasan batin) maka dapat dipastikan sikap perilaku kesehariannya menunjukkan sifat-sifat yang serba mementingkan keutamaan, kebaikan, keluhuran budi, kewelasasihan, kesabaran, “tepa selira”, “sareh”, “pikoleh”, “ngrumangsani”, dsb. Sikap perilaku demikianlah yang akan membentuk ketenteraman hidup bagi diri pribadi, keluarga, maupun dalam pergaulan hidup di masyarakat (disebut juga “guyubing lahir”). Pelaksanaan dari kesemuanya ini sejatinya merupakan aplikasi dari ajaran “Lampah Kautamen” sekaligus “Lampah Kebatosan”.

c. Tulisan (Jawa) berbunyi Sukoreno, adalah juga mengandung ajaran luhur dimana kata Sukoreno terdiri dari kata “suko”, yang diartikan sebagai “weweh” (memberi), sedangkan “reno” diartikan sebagai “karenan” (kegembiraan, kebahagiaan, atau sejatinya maksud adalah “pepadhang”). Jadi kata “Sukoreno” mengandung ajaran luhur bahwa seseorang sebagai hamba Tuhan diwajibkan agar selalu dapat memberikan “pepadhang” kepada semua makhluk Tuhan Yang Maha Esa, seperti memberi kelegaan rasa, kewelasasihan, keikhlasan, cinta damai, dapat “ngudhari karuwetaning liyan”, menghormati sesamanya tanpa pandang bulu, dsb. Sedangkan tulisan Jawa angka 10-10-1954 hanyalah merupakan peringatan pada tanggal bulan dan tahun saat secara resmi dinyatakan berdirinya Paguyuban Sukoreno oleh para Sesepuh-sesepuh pendahulu beserta para warganya saat itu.

d. Gambar keris, adalah simbol dari ilmu pengetahuan spiritual atau pengertian ajaran luhur spiritual kepenghayatan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Adapun “Keris Berluk Sembilan” memberikan pengertian bahwa setiap pribadi manusia sebagai penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dalam melakukan kewajiban “manembah batin” kepada Tuhan Yang Maha Esa melalui “pasujudan” atau “pamunjukan” atau “samadi” itu ada sembilan tingkatan. Tingkatan ini mengajarkan tentang seberapa jauh kualitas seseorang dalam melakukan “pamunjukan”. Kualitas tertinggi ada pada tataran kesembilan, dimana diajarkan bahwa pada tingkat itu seseorang dapat “manunggal” dengan “Rasa Sejati”nya, yang disebut juga dengan istilah “manunggaling Kawula Gusti”, sehingga pada tataran ini dimungkinkan seseorang tersebut dapat menerima kehendak atau “dhawuh” atau petunjuk langsung dari Tuhan Yang Maha Esa. Akan tetapi menurut para Sesepuh untuk mencapai tingkatan tertinggi ini adalah sangat sangat teramat sulit.

e. Gambar Rumah Joglo, merupakan penggambaran dari tempat bersemayamnya (“palenggahan”) dari “Rasa Sejati” yang ada di dalam setiap pribadi manusia yang diyakini merupakan pancaran dari keberadaan Tuhan Yang Maha Esa. Sedangkan Rumah Joglo dengan pintu terbuka adalah merupakan gambaran yang jika setiap manusia dalam menjalankan “pamunjukan” atau samadi benar-benar dapat sampai ke tingkat kualitas tertinggi yaitu tingkat sembilan, maka ini merupakan kunci pembuka pintu untuk dapat manunggal dengan “Rasa Sejati”nya.

III. Gerak Langkah dan Peran Serta Dalam Membangun Bangsa
Membangun bangsa sebagai bagian dari pembangunan nasional untuk menuju segera terwujudnya masyarakat adil makmur serta sejahtera jelas merupakan tanggung jawab seluruh masyarakat Indonesia tanpa kecuali. Dengan demikian Paguyuban Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa sebagai komponen bangsa sudah sangat semestinya dan bahkan wajib hukumnya untuk ikut berperan serta.

Peran serta yang teraplikasi dalam gerak dan langkah Paguyuban Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang cukup strategis sesuai sifatnya paguyuban penghayat tidak lain adalah ikut membentuk pribadi-pribadi berbudi luhur melalui pelestarian, pengembangan, dan pengamalan ajaran-ajaran luhur kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa sebagai bagian dari budaya nasional. Dengan terbentuknya prbadi-pribadi luhur tersebut maka dengan sendirinya akan memberikan kontribusi cukup berarti bagi terwujudnya kerukunan hidup bermasyarakat yang menjadi salah satu landasan percepatan pembangunan nasional secara keseluruhan.

Demikian sedikit uraian mengenai ajaran kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa sebagai budaya spiritual dari Paguyuban Sukoreno Rahayu, Rahayu, Rahayu.

Sumber:
Makalah disampaikan dalam Dialog Budaya Spiritual DIY di Wisma PU Yogyakarta, 29-30 Juni 2009 yang diselenggarakan oleh Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Yogyakarta.

Archive