Cara Merawat Laptop

Cara merawat dan memperpanjang umur pemakaian laptop
01. Jauhkan laptop dari medan magnet yang kuat, bahan cair dan sumber panas/dingin atau perubahan suhu yang ekstrim.

02. Hindari sinar matahari langsung dan pastikan laptop selalu diletakkan pada permukaan yang rata.

03. Menurut survei, kerusakan laptop yang paling umum terjadi pada harddisk dan LCD display/layar. Kerusakan harddisk diakibatkan benturan atau terjatuh. Kerusakan LCD biasanya karena terpapar sinar matahari dan tekanan fisik.

04. Rapikanlah kabel-kabel adaptor atau kabel lain yang sedang terhubung dengan laptop, jangan sampai membuat orang lain tersandung.

05. Selain kerusakan harddisk dan LCD, tumpahan cairan adalah penyebab kerusakan laptop yang paling umum, atau pakai selembar film-transparan yang disebut ‘keyboard protector’.

06. Getaran adalah musuh laptop yang lain. Jauhkan laptop dari alat pengeras suara, misalnya loudspeaker, mesin/kendaraan berat, dan sumber getaran lainnya.

07. Hindarkan laptop dari sinar x-ray di airport.

08. Jaga kebersihan laptop, lap dengan kain bersih agar bebas debu.

09. Lindungi modem laptop. Gunakan modem yang mempunyai fitur digital-line guard. Karena fitur ini akan menjaga modem dari kerusakan jika secara tidak sengaja mencolokkan kabel modem ke jack telpon digital PABX atau jalur ISDN. Dan berhati-hatilah ketika akan mencolokkan kabel telepon ke laptop karena kawat logam dalam konektor modem laptop sangat tipis dan mudah bengkok.

10. Dalam iklim Asia, suhu yang lembab bisa jadi masalah besar untuk laptop yang dirancang di Amerika Serikat. Untuk mengurangi kemungkinan masalah, pastikan laptop tersimpan di tempat yang kering dan sejuk. Jika laptop tidak digunakan untuk waktu yang lama, simpanlah laptop dalam wadah yang rapat dan masukkan silica gel . Silica gel ini seperti halnya yang terdapat dalam botol obat, kemasan barang2 elektronik (bungkusan kecil bertuliskan ‘Dessicant Silica Gel’). Atau bisa dibeli di toko bahan kimia. Silica gel ini merupakan bahan kimia yg bersifat Higroskopis (menyerap uap air / kelembaban).

11. Listrik padam dan gangguan tegangan dapat terjadi sewaktu-waktu, di rumah, di kamar hotel atau di kantor. Jika memungkinkan, gunakanlah ’surge-protector’ jika sedang menggunakan AC outlet. Dan jangan lupa membuat back-up data secara rutin.

12. Gunakanlah selalu tas laptop ketika sedang bepergian.

13. Jika ingin membungkus laptop untuk dikirim atau untuk keperluan lain, gunakanlah kotak pelindung yang kuat, dan bungkuslah dengan busa atau spons yang dapat menyerap getaran.

14. Jangan sekali-sekali meletakkan benda berat di atas laptop.

15. Jika laptop bermasalah, jangan mencoba untuk membongkar sendiri. Sebaiknya serahkan ke teknisi atau service-center terdekat. Karena mungkin saja kerusakan malah akan menjadi semakin berat. Khusus untuk laptop yang masih dalam masa garansi - membongkar laptop dapat merusak sticker garansi (warranty seal) yang masih melekat pada laptop.

16. Ketika akan mengangkat laptop yang sedang terbuka, jangan mengangkatnya sambil memegang pada bagian display/layar, angkatlah pada bagian bawah/keyboard.

17. Jangan memasukkan disket pada bagian sudutnya. Memasukkan disket setengah-setengah dapat merusak disk-drive. Begitu juga ketika membuka atau menutup tray drive CD-ROM/DVD-ROM untuk memasukkan atau mengeluarkan disk. Jangan menyentuh lensa pada tray CD-ROM. Peganglah compact-disc pada bagian pinggir, bukan pada permukaan disk.

18. Jangan mencolokkan kabel modem laptop pada PBX (private branch exchange) atau saluran telpon digital. Laptop hanya dapat menggunakan saluran PSTN (public-switched telephone network). Penggunaan saluran telpon selain PSTN dapat merusak modem laptop.

19. Jauhkan laptop dari anak kecil.

20. Rawatlah baterai laptop, jangan sampai bocor karena dapat merusak slot baterai.

Sumber:
http://febri.wordpress.com/

Suku Bangsa Abal (Kalimantan Selatan)

Abad adalah salah setu kelompok orang Dayak yang berdiam di Desa Halong Dalam, Desa Aong, dan Desa Suput. Ketiga desa ini merupakan bagian wilayah administratif Kecamatan Haruai, Kabupaten Tabalong, Propinsi Kalimantan Selatan. Kecamatan Haruai yang luasnya 861,27 km2 pada tahun 1990 berpenduduk 21.948 jiwa, namun tidak tersedia data jumlah orang Dayak Abal di antara jumlah tersebut. Orang Abal ini mempunyai bahasa sendiri yakni bahasa Abal. Antara sesamanya mereka menggunakan bahasa Abal sebagai bahasa ibu, namun dengan orang luar misalnya dengan orang Banjar, atau Dayak Maanyan, Dayak Dusun Deyah yang penduduk asal di kabupaten ini, mereka menggunakan bahasa Banjar sebagai bahasa pengantar. Pengaruh orang Banjar menyebabkan mereka telah lama memeluk agama Islam, dan asimilasi dengan orang Banjar ini terjadi sedemikian rupa sehingga budaya lama mereka sendiri sudah hampir-hampir punah. Seperti penduduka Kabupaten Tabalong umumnya, mereka hidup dari sektor pertanian dan hasil hutan.

Sumber:
Melalatoa, J. 1995. Ensiklopedi Sukubangsa di Indonesia. Jilid A--K. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Sistem Kepercayaan Orang Mentawai

Mayoritas orang Mentawai memeluk agama Katolik dan sebagian beragama Protestan, Islam atau Bahai. Walaupun demikian sebagian besar orang Mentawai tetap memegang teguh religinya yang asli, ialah Arat Bulungan. Arat berarti “adat” dan bulungan berasal dari kata bulu (= daun).

Dalam religinya, bukan hanya manusia yang mempunyai jiwa, tetapi juga hewan, tumbuh-tumbuhan, batu, air terjun sampai pelangi, dan juga kerangka suatu benda. Selain dari jiwa, ada berbagai macam ruh yang menempati seluruh alam semesta, yakni di laut, udara, dan hutan belantara.

Menurut keyakinan orang Mentawai, jiwa manusia atau magere terletak di ubun-ubun kapala. Jiwa itu suka berpetualang di luar jasmani saat orangnya tidur, yang merupakan mimpinya.

Bila jiwa keluar dari tubuh bisa terjadi bahwa jiwa itu bertemu dengan ruh jahat. Akibatnya tubuh akan sakit, dan bila jiwa dalam keadaan itu mencari perlindungan pada ruh nenek-moyang, maka tubuh mungkin akan meninggal. Jiwa tak akan kembali lagi ke tubuh dan menjadi ketsat (ruh).

Tubuh orang yang telah ditinggalkan magere atau jiwanya menjadi ketsat atau ruh, atau dengan lain kata, orang tersebut telah meninggal. Tubuh yang ditinggalkan berwujud daging dan tulang itu dianggap masih ada jiwanya, yang disebut pitok. Pitok inilah yang amat ditakuti oleh manusia, karena substansi itu akan berupaya mencari tubuh manusia lain, agar bisa tetap berada di dunia yang fana ini. Untuk menghindarinya pitok ini diusir dari rumah orang yang meninggal maupun dari uma dengan upacara karena di tempat itu pitok itu juga bisa bersembunyi mencari mangsanya.

Seperti dalam banyak sistem religi di dunia, religi asli orang Mentawai juga mempunyai masa nyepi, atau menghentikan aktivitas hidup untuk sementara, yatu masa lia dan punen yang dianggap suci. Lia adalah menghentikan aktivitas hidup dalam rangka keluarga inti, dan biasanya menyangkut masa-masa yang penting sepanjang hidup, seperti membangun lalep, atau rumah tangga inti, kelahiran, perkawinan, masa ada anggota keluarga sakit, kematian, dan membuat perahu. Punen adalah nyepi dalam rangka masyarakat dewa sebagai keseluruhan dan biasanya menyangkut masa sebelum dan sesudah membangun uma, kecelakaan, saat berjangkitnya wabah penyakit menular, dan pada waktu terjadi kecelakaan atau karena pembunuhan, yang mengakibatkan banyak orang mati.

Apabila anggota suatu keluarga menjalankan lia atau punen, mereka tak boleh bekerja. Bahkan seperti telah tersebut di atas, kalau pada masa lia atau punen terjadi kematian, jenazah tak boleh diurus dulu tetapi dibiarkan saja dan hanya ditutup daun.

Walaupun semua aktivitas berhenti, untuk waktu yang lama kadang-kadang sampai berminggu-minggu, orang diperbolehkan makan dan minum seperti biasa. Karena itu lia dan punen itu tidak merupakan puasa.

Punen yang berlangsung lama adalah punen untuk pengukuhan rimata dan sikere, yaitu pemimpin dan dukun. Upacara yang menyertai punen bisa berlangsung sekitar dua bulan.

Erat kaitannya dengan konsep lia dan punen adalah konsep pantangan atau keikei, yaitu melanggar pantangan, terutama dalam masa-masa yang suci (atau dalam rangka upacara-upacara yang suci) dan pelanggarannya akan dihukum dengan hukuman gaib. Hukuman gaib itu harus dihilangkan dengan denda-adat atau tulon tersebut di atas.

Untuk menempatkan benda-benda baru ke dalam uma, harus diadakan upacara terlebih dahulu, dan benda baru tersebut harus diletakkan di samping benda yang lama. Tujuannya adalah agar supaya bajou dari benda yang lama tidak marah dan agar “mereka” dapat berkenalan. Tanpa upacara akan terjadi sesuatu di dalam uma yang bersangkutan. Begitu juga dengan kedatangan orang dari kelompok kerabat lain ke dalam uma, seperti misalnya dalam perkawinan, disertai upacara yang gunanya untuk menetralisir pengaruh bajou. Bajou dapat membawa penyakit panas dan demam, karena itu benda-benda yang ada di dalam uma harus diperciki air yang bermantera.

Benda-benda Perantara Antara Dunia Gaib dan Nyata
Serupa dengan di semua sistem kepercayaan atau religi lokal di dunia, arat sabulungan orang Mentawai juga mengenal ilmu gaib yang berdasarkan dua keyakinan, ialah (1) keyakinan akan adanya hubungan gaib antara hal-hal yang walaupun berbeda fungsinya, mirip wujud, warna, sebutan atau bunyinya; dan (2) keyakinan akan adanya kekuatan gaib yang sakti tetapi tak berkemauan atau bajou dalam alam sekitar manusia.

Baik segala macam ilmu gaib produktif yang merupakan bagian dari upacara kesuburan tanah misalnya, atau ilmu gaib protektif yang juga sangat penting dalam ilmu obat-obatan dan penyembuhan penyakit secara tradisional, maupun segala macam ilmu gaib destruktif yang antara lain dipergunakan dalam ilmu sihir dan guna-guna, semuanya bisa dikembalikan kepada kedua keyakinan tersebut di atas. Ilmu gaib produktif dan protektif yang biasanya merupakan ilmu gaib putih atau baik, dilakukan oleh sikerei, sedang ilmu gaib destruktif yang biasanya merupakan ilmu gaib hitam atau jahat dilakukan oleh pananae. Seperti juga dalam banyak sistem kepercayaan dan religi lokal di dunia, kekuatan sakti yang tak berkemauan (bajou), dalam sistem kepercayaan orang Mentawai juga dianggap beradal dalam segala hal yang luar biasa dan dalam benda-benda keramat, serta dalam uma (sebagai rumah umum yang keramat). Benda-benda itu, yang seperti telah tersebut di atas adalah amat simagere, batu kerebau buluat, orat simagere, dan tudukut, serta dapat ditambah lagi dengan sejumlah daun-daunan dan akar-akar kering dari tumbuh-tumbuhan berkhasiat yang disebut bakkat katsaila, berfungsi sebagai jimat (tae) penolak bahaya gaib atau sebagai benda untuk mengundang ruh yang baik.

Sumber:
Koentjaraningrat, dkk. 1993. Masyarakat Terasing di Indonesia. Jakarta: Gramedia.

Perahu Pinisi

Asal Usul
Bugis adalah salah satu sukubangsa yang ada di daerah Sulawesi Selatan. Sukubangsa ini sejak dahulu telah memiliki catatan tersendiri dalam sejarah bahari Indonesia. Banyak bukti yang menunjukkan kepiawaian mereka dalam mengarungi lautan. Hal itu disebabkan karena dalam berdagang (memasarkan hasil buminya), mereka tidak hanya mengarungi daerah-daerah di sekitar mereka, tetapi juga daerah lain di Indonesia, bahkan mancanegara. Oleh karena itu, mereka tidak hanya mengarungi perairan wilayah Indonesia, tetapi juga di perairan-perairan negara lain seperti: Malaysia, Philipina, Australia hingga ke Madagaskar (Afrika Selatan). Alat transpotasi yang digunakan adalah berbagai jenis perahu tradisional yang ada di kalangan orang Bugis-Makassar, seperti: pinisi, lambo’ (palari), lambo’ calabai, jarangka’, soppe’, dan pajala. Namun demikan, yang paling populer hingga saat ini adalah pinisi. Kepopuleran inilah yang kemudian membuahkan sebutan “perahu bugis” karena yang menggunakannya kebanyakan orang Bugis atau setidaknya bisa berbahasa Bugis.

Ada beberapa versi mengenai asal usul perahu pinisi. Versi yang pertama mengatakan bahwa perahu pinisi adalah buatan bangsa Prancis dan Jerman. Hal ini diperkuat oleh adanya tulisan dari peneliti asing mengenai seseorang yang berketurunan Prancis-Jerman yang bernama Martin Perrot yang melarikan diri ke Kuala Trengganu. Di sana ia menikahi seorang gadis Melayu. Di sana ia bekerja sebagai tukang kayu. Pada suatu hari, Raja Trengganu, Sultan Baginda Omar, memerintahkan untuk membuat sebuah perahu yang menyerupai perahu dari negeri Barat. Mendapat perintah itu, ia pun membuat perahu layar yang bertiang dua. Dan, itu mirip dengan perahu pinisi yang ada sekarang.

Versi lainnya, khususnya dari daerah Sulawesi Selatan, mengatakan bahwa perahu pinisi sudah ada sekitar abad ke-14 atau 16 Masehi. Orang yang pertama membuatnya adalah putera mahkota kerajaan Luwu yang bernama Sawerigading. Tokoh ini merupakan tokoh legendaris yang ada dalam Lontarak I babad La Galigo. Dalam babad tersebut diceritakan bahwa suatu hari, ketika Sawerigading pulang dari pengembaraannya, ia melihat saudara kembarnya (Watenri Abeng) dan jatuh hati kepadanya. Tentu saja hal ini membuat marah ayahnya (Raja Luwu). Untuk menghibur hati Sawerigading, Watenri Abeng menyuruhnya untuk pergi ke negeri Tiongkok, karena di sana konon ada seorang puteri yang wajahnya mirip dengannya. Puteri Tiongkok tersebut bernama We Cudai. Namun, untuk dapat pergi ke sana diperlukan perahu yang tangguh dan kuat. Sementara, Sawerigading tidak memilikinya. Padahal, untuk membuatnya diperlukan kayu yang berasal dari pohon welengreng atau pohon dewata yang adanya di daerah Mangkutu. Celakanya, pohon tersebut dianggap keramat, sehingga tidak ada orang yang berani menebangnya. Untuk itu, diadakanlah upacara besar-besaran yang bertujuan agar penunggu pohon bersedia pindah ke tempat atau pohon lain. Upacara tersebut dipimpin langsung oleh neneknya yang benama La Toge Langi (Batara Guru). Konon, setelah pohon welengreng tumbang, pembuatan perahu dibantu oleh neneknya dan dilakukan secara magis di dalam perut bumi. Ketika perahu sudah jadi, Sawerigading pun berangkat ke negeri Tiongkok. Ia bersumpah tidak akan kembali ke Luwu.

Singkat ceritera, Sawerigading berhasil mempersunting Puteri We Cundai dan tinggal di negeri Tiongkok. Setelah lama di sana, ia rindu pada tanah kelahirannya. Dan, suatu hari ia berlayar menuju Luwu. Namun, ketika perahu hendak berlabuh di pantai Luwu, tiba-tiba ada gelombang besar yang menghantamnya, sehingga pecah. Kepingan-kepingannya terdampar di beberapa tempat. Sebagian badannya terdampar di pantai Ara, tali temali dan layar perahu terdampar di daerah Tanjung Bira, dan lunas perahu terdampar di daerah Lemo-Lemo. Dan, oleh orang-orang yang tinggal di ketiga daerah tersebut, kepingan-kepingan tadi disusun kembali, sehingga ada kepercayaan bahwa nenek moyang merekalah yang merekonstruksi perahu milik Sawewigading yang kemudian dikenal sebagai pinisi. Demikianlah, sehingga keturunannya mewarisi keahlian-keahlian tertentu dalam pembuatan, bahkan mengemudi pinisi. Dalam konteks ini, orang Ara ahli dalam membuat tubuh dan bentuk perahu; orang Lemo-lemo ahli dalam finishing perahu; dan orang Tanjung Bira ahli mengemudi perahu (nahkoda dan awal perahu). Kekhasan-kekhasan itulah yang kemudian memunculkan ungkapan yang berbunyi:"Panre patangan'na Bira, Paingkolo tu Arayya, Pabingkung tu Lemo Lemoa", artinya "ahli melihat dari Bira, ahli memakai singkolo (alat untuk merapatkan papan) dari Ara, dan ahli menghaluskan dari Tana Lemo". Berdasarkan ungkapan itu, maka banyak orang yang meyakini, khususnya orang Bugis-Makassar, bahwa perahu pinisi yang bagus (sempurna) adalah pinisi yang dibuat oleh orang Ara dan Tana Lemo.

Proses Pembuatan Pinisi
Pembuatan pinisi dilakukan di sebuah galangan kapal sederhana yang disebut sebagai bantilang, dengan teknik ruling1). Orang yang sangat berperan dalam pembuatan pinisi adalah punggawa (kepala tukang atau tukang ahli). Ia dibantu oleh para sawi (tukang-tukang lainnya) dan calon-calon sawi. Selain itu, dibantu juga oleh tenaga-tenaga yang lain, sehingga secara keseluruhan melibatkan puluhan orang. Sebagai suatu proses, tentunya pembuatan pinisi dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan. Berikut ini adalah tahap-tahap yang mesti dilakukan dalam pembuatan sebuah perahu yang oleh orang Bugis disebut pinisi.

Pencarian dan Penebangan Pohon
Pohon yang dicari adalah welengreng atau dewata karena kedua jenis pohon tersebut disamping kuat, juga tahan air. Pencariannya pun tidak dilakukan pada sembarang hari, tetapi pada hari-hari tertentu, yaitu hari kelima dan ketujuh pada bulan dimulainya pembuatan perahu. Ini ada kaitannya dengan kepercayaan bahwa angka 5 (naparilimai dalle’na) oleh orang Tana Beru dianggap sebagai angka yang baik karena mempunyai arti “rezeki sudah di tangan”. Sedangkan, angka 7 (natujuangngi dalle’na) berarti “selalu mendapat rezeki”. Setelah pohon yang memenuhi persyaratan ditemukan, maka penebangan pun dilakukan. Akan tetapi, sebelumnya diadakan semacam upacara persembahan karena jenis pohon itu dipercayai ada “penunggunya”. Dalam upacara ini, yang dijadikan sebagai korban adalah seekor ayam. Tujuannya adalah agar penunggu pohon tersebut tidak marah dan pindah ke tempat lain, sehingga segala sesuatu yang tidak diinginkan tidak terjadi. Dengan perkataan lain, penebangan dapat berjalan lancar dan selamat. Pohon yang telah ditebang itu kemudian dibawa ke bantilang.

Pengeringan dan Pemotongan Kayu
Sebelum pohon (kayu) dipotong-potong sesuai dengan keinginan, ketika peletakan balok lunas, ada semacam ritual. Dalam konteks ini, balok lunas diletakkan di bawah kayu yang akan dijadikan bahan pembuatan pinisi dan salah satu ujungnya diarahkan (dihadapkan) ke Timur Laut. Ujung balok lunas yang mengarah ke Timur Laut ini merupakan simbol laki-laki. Sedangkan, ujung yang satu lagi yang arahnya berlawanan merupakan simbol perempuan. Sebelum dipotong-potong sesuai dengan keinginan, maka bahan (kayu-kayu) tersebut dikeringkan. Kemudian, kayu yang akan dipotong ditandai dengan pahatan disertai pembacaan doa dengan tujuan agar kayu tersebut dapat berfungsi dengan baik ketika telah menjadi perahu.

Satu hal yang perlu diperhatikan dalam pemotongan adalah mata kampak atau gergaji harus tepat pada arah urat kayu. Selain itu, pemotongan harus sampai selesai (tidak boleh berhenti sebelum kayu terpotong). Dengan cara seperti itu kekuatan kayu tetap terjamin. Sebagai catatan, pemotongan kayu dimulai pada bagian ujung-ujungnya. Salah satu potongan ujungnya dibuang ke laut sebagai penolak bala dan sekaligus sebagai simbol peran laki-laki (suami) yang mencari nafkah di laut. Sedangkan, ujung yang satunya disimpan di rumah sebagai simbol peran perempuan (isteri) yang menunggu suami pulang.

Perakitan
Setelah lunas terbentuk dan dihaluskan, maka langkah berikutnya adalah pemasangan papan pengapit lunas (soting). Pemasangan ini disertai dengan suatu upacara yang disebut kalebiseang. Kemudian disusul dengan pemasangan papan yang ukurannya berbeda-beda (dari bawah ke atas). Papan yang kecil ada di bagian bawah, sedang papan yang besar ada di bagian atas. Keseluruhannya berjumlah 126 buah. Sebagai catatan, sebelum pemasangan dilakukan, ada upacara yang disebut anjerreki, yaitu upacara yang bertujuan untuk memperkuat lunas. Setelah papan tersusun, pekerjaan diteruskan dengan pemasangan buritan dan tempat kemudi bagian bawah. Selanjutnya, badan perahu yang telah terbentuk tetapi masih belum sempurna karena masih banyak sela-selanya, khususnya antarpapan yang satu dengan lainnya, maka sela-sela tersebut perlu ditutup dengan majun. Pekerjaan ini, oleh masyarakat setempat disebut sebagai “a’panisi”. Kemudian, agar sambungan antar papan dapat merekat dengan kuat, maka sambungan-sambungan tersebut diberi perekat yang terbuat dari sejenis kulit pohon barruk.

Setelah papan merekat kuat, pekerjaan selanjutnya adalah “allepa” atau mendempul. Bahannya adalah campuran kapur dan minyak kelapa. Campuran tersebut diaduk oleh sedikitnya enam orang selama sekitar 12 jam. Banyaknya dempul yang diperlukan bergantung dari besar-kecilnya perahu yang dibuat. Untuk perahu yang bobotnya mencapai 100 ton, maka dempul yang diperlukan sekitar 20 kilogram. Selanjutnya, badan perahu yang telah dilapisi dengan dempul itu dihaluskan dengan kulit buah pepaya.

Penggunaan bahan-bahan sebagaimana disebut di atas (kulit pohon barruk dan kulit buah pepaya), ada kaitannya dengan mitos penciptaan pinisi yang menggunakan kekuatan magis. Mengacu kepada mitos itu, orang-orang di Tana Beru merasa bahwa komunitas mereka sebagai mikrokosmos, yaitu bagian dari jagad raya (makrokosmos). Hubungan antara kedua kosmos ini diatur oleh tata tertib abadi, sakral, dan telah dilembagakan oleh nenek moyang mereka sebagai adat istiadat. Kedua kosmos ini dijaga harmoninya, sehingga ada kecenderungan mempertahankan yang lama dan menolak atau mencurigai yang baru. Inilah yang kemudian menjadi penyebab mengapa mereka tidak begitu terpengaruh dengan teknologi modern.

Pandangan di atas juga berpengaruh pada aktivitas di galangan perahu (bantilang), yang prosesnya diibaratkan bayi dalam kandungan. Hal ini terlihat, misalnya, dalam upacara pemotongan lunas perahu (anatra kalebeseang). Pemotongan dan penyambungan balok-balok yang melambangkan perkawinan (persetubuhan) antara jantan dan betina sebagai “janin perahu”, kemudian menjadi “bayi perahu”. Selain itu, ada juga upacara pemberian pusat perahu (pamossi) yang melambangkan saat kelahiran (bayi) perahu ke laut lepas, seperti kelahiran manusia ke dunia dari kandungan ibunya. Dalam hal ini punggawa berperan sebagai ibu dan sekaligus sebagai “bidan”.

Sesuai dengan pandangan kosmos mereka, segala sesuatu dilihat dari segi totalitas yang berkaitan secara organik, sehingga pelanggaran terhadap “sebuah pantangan” akan berakibat fatal kepada keseluruhan (bayi) perahu yang akan dilahirkan. Pantangan terberat adalah apabila pihak sombali menyakiti hati punggawa. Kalau hal ini terjadi, perahu yang telah dibuat “tidak mau bergerak” ketika didorong ke laut. Ini disebabkan punggawa (sebagai ibu) tidak rela apabila “bayi” perahunya diserahkan kepada orang yang telah menyakiti hatinya. Oleh sebab itu, sombalu yang arif akan segera menghubungi sang punggawa untuk melakukan “perdamaian”. Apabila perahu diluncurkan secara paksa, perahu tersebut akan cacat sesudah sampai di laut. Jadi, ketangguhan perahu di laut bukan saja karena faktor teknis, tetapi juga karena faktor magis (gaib).

Pemasangan Tiang Layar
Setelah badan dan kerangka perahu selesai, maka pekerjaan selanjutnya adalah memasang tiang dan layar. Perahu pinisi biasanya menggunakan dua layar besar yang disebut sombala. Layar yang satu terpasang di bagian depan. Layar ini berukuran sekitar 200 meter persegi. Sedangkan, layar yang lainnya terletak lebih ke belakang dengan ukuran sekitar 125 meter persegi. Di atas setiap layar besar itu terdapat sebuah layar berbentuk segi tiga yang disebut tanpasere. Selain layar utama, pada bagian haluan dilengkapi tiga layar pembantu yang juga berbentuk segi tiga. Layar ini masing-masing disebut cocoro pantara (di bagian depan), cocoro tangnga (di tengah), dan tarengke (di bekalangnya). Sebagai catatan, pemasangan layar baru dilakukan setelah perahu sudah mengapung di laut.

Peluncuran Pinisi
Sebelum penisi diluncurkan ke laut, ada upacara yang dipimpin oleh punggawa. Jika pinisi yang akan diluncurkan bobotnya kurang dari 100 ton, maka binatang yang dijadikan korban adalah seekor kambing. Akan tetapi, jika bobotnya lebih dari 100 ton, maka yang dijadikan korban adalah seekor sapi. Adapun doa yang diucapkan sebagai berikut: “Bismillahir Rahmanir Rahim Bulu-bulunnako buttaya, patimbonako bosiya, kayunnako mukmamulhakim, laku sareang Nabi Haidir” (Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Penyayang. Kau adalah bulu-bulunya tanah, tumbuh karena hujan, kayu dari kekayuan dari Mukma-nul Hakim saya percaya Nabi Haidir untuk menjagamu).
Setelah upacara selesai, perahu ditarik oleh para sahi dan calon sahi menuju ke laut.

Peluncuran biasanya dilakukan pada saat air laut sedang pasang (tengah hari). Lamanya bisa berhari-hari (biasanya sampai 3 hari). Pemasangan layar dilakukan ketika perahu sudah mengapung di laut. Dan, dengan mengapungnya perahu di laut dan terpasangnya layar, maka punggawa dan para sahinya yang selama sekitar enam bulan membuatnya, berakhir. Sebagai catatan, setiap perahu pinisi mempunyai nama tersendiri, seperti: Pajjala, Banggo, dan Sadek.

Nilai Budaya
Pinisi, sebagai salah satu identitas Orang Bugis, jika dicermati secara saksama, khususnya dalam proses pembuatannya, mengandung nilai-nilai yang dapat dijadikan sebagai acuan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai itu, antara lain: kerjasama, kerja keras, ketelitian, keindahan, dan religius.

Nilai kerjasama tercermin dalam hubungan antara punggawa (kepala tukang atau tukang ahli), para sawi (tukang-tukang lainnya) dan calon-calon sawi serta tenaga-tenaga yang lainnya. Masing-masing mempunyai tugas tersendiri. Tanpa kerjasama yang baik antar mereka, perahu tidak dapat terwujud dengan baik. Bahkan, bukan hal yang mustahil perahu tidak pernah terwujud.

Nilai kerja keras tercermin dalam pencarian dan penebangan kayu welengreng atau dewata yang tidak mudah karena tidak setiap tempat ada. Penebangannya pun juga diperlukan kerja keras karena masih menggunakan peralatan tradisional (bukan gergaji mesin). Nilai ini juga tercermin dalam pemotongannya yang tidak boleh berhenti sebelum selesai (terpotong) dan pemasangan atau perakitannya yang membutuhkan kerja keras. Selain itu, nilai ini juga tercermin dalam pendempulan dan peluncuran karena untuk memindahkan perahu dari galangan bukan merupakan hal yang mudah atau ringan, tetapi diperlukan kerja keras yang membutuhkan waktu beberapa hari (sekitar 3 hari atau lebih).

Nilai ketelitian tercermin dalam pemotongan kayu yang harus tepat (mata kampak atau gergaji harus tepat pada arah urat kayu). Nilai keindahan dari bentuknya yang bentuknya yang sedemikian rupa, sehingga tampak kuat, gagah, dan indah.

Nilai religius tercermin dalam pemotongan pohon yang disertai dengan upacara agar “penunggunya” tidak marah dan pindah ke tempat lain, sehingga segala sesuatu yang tidak diinginkan tidak terjadi. Nilai ini juga tercermin dalam doa ketika perahu akan diluncurkan ke laut (“Bismillahir Rahmanir Rahim Bulu-bulunnako buttaya, patimbonako bosiya, kayunnako mukmamulhakim, laku sareang Nabi Haidir”) (Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Penyayang. Kau adalah bulu-bulunya tanah, tumbuh karena hujan, kayu dari kekayuan dari Mukma-nul Hakim saya percaya Nabi Haidir untuk menjagamu). (gufron)

Foto:

Sumber:
Melalatoa, J. 1995. Ensiklopedi Sukubangsa di Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

www.akurini.blogspot.com

www.buginese.blogspot.com

www.id.shvoong.com

www.liputan6.com

www.sinarharapan.co.id

1) Teknik yang oleh orang Bugis, khususnya warga Tana Beru disebut ruling ini sebenarnya merupakan suatu peraturan mengenai cara membuat perahu yang telah dibukukan dalam buku “Jaya Langkara”. Konon, buku tersebut dipinjam oleh seseorang yang berkebangsaan Belanda dan hingga kini belum dikembalikan. Ruling sebenarnya tidak hanya menjelaskan mengenai cara membuat perahu, tetapi juga pemilihan bahan dan peluncurannya ke laut lepas.

Pepatah Orang Rembong (Flores Barat)

1. Ubi manis bertuan, berpancang sembarang pancang
Dikatakan kepada seorang suami, yang tidak mampu memberikan nafkah batik kepada sang isteri.

2. Bertemanlah sesama hidup, (kalau) mati berkalang tanah.
Mengajak semua orang, supaya hidup lebih banyak berteman dan berdamai terhadap satu sama lain, karena di dalam liang kubur tak ada kedamaian atau persahabatan.

3. Rambut tampak mengkilap, mengkilap (karena) disiram minyam (rambut).
Berdandan berlebihan, supaya menarik perhatian pemuda atau pria.

4. Tabunganmu yang kotor (= mulut), tutupannya (= bibir) tak juga dibuka.
Dikatakan kepada orang yang sama sekali tidak pernah mengeluarkan suara, terlebih ketika welaqng gendang (yang berlangsung) semalam suntuk, dan sebagainya.

5. Sebelum kaki ditarik, lumpur serata pinggang.
(Akibat yang) tidak dapat dielak lagi, karena telah melakukan hal-hal buruk; sudah terlanjur.

6. Lemas karena kehausan, mati karena kelaparan.
Seorang yang ditimpa bencana dan tak dapat berdaya lagi.

7. Air telah memenuhi gembung, kayu telah menumpuki tenda.
Seorang perempuan yang telah mengandung, tanpa suami yang jelas.

8. Api telah berkobar, air telah membanjir.
Sedang dalam keadaan yang sulit terbendung lagi.

9. Pipi mengembung, muka merengut.
Merasa kesal dan kecewa.

10. Air mata belum berhenti, ingus pun belum kering.
Sedang berbelasungkawa atau sedang berduka.

11. Air sedang jernih, jangan menimbanya dengan mengaduk-aduk.
Keadaan sedang damai dan tenteram, jangan sekali-kali membuat resah.

12. Jagung dipotong, ubi dibelah.
Memperoleh rezeki sekecil apa pun, selali dibagi merata.

13. Saudari dan ipar di dalam rantai emas, dan bagai emas terlepas dari pegangan.
Saudarai dan ipar telah terlanjur perkara.

14. Kami berkepala untuk menjunjung, dan berpunggung untuk memikul.
Bersedia memikul dan menanggung beban yang diberi (oleh Anak Rana, hal jujur).

15. Tanah sudah diratakan, jangan dibuat tebing.
Situasi telah damai, jangan menimbulkan keretakan baru.

16. Anak-anak biasa membuat kesalahan, orang tua menjari jalan.
Kalau ada keretakan atau kesalahan yang dilakukan kedua belah pihak, jangan dibiarkan berlarut-larut dan orang tua harus mencari jalan damai.

17. Ditaruh pas di tanah, diletakkan persis di batu.
Tindakan yang mengena pada sasarannya.

18. Terlalu mengharapkan tempuling, padahal tombak tersalah tikam.
Terlalu berharap, tertiarap; akhirnya menemui kekecewaan.

19. Kepala belum terbentuk, ekor tidak tercipta.
Suatu masalah yang tidak berujung pangkal, atau sesuatu yang belum remi.

20. Menimbar air, sendiri yang meminumnya. Mengambil kayu, sendiri pula yang membakarnya hingga habis.
Seorang pria (suami) yang menetap di rumah (isteri), sampai akhir hayatnya.
Anak keturunan menjadi hak pihak Anak Rana.

21. Tidak menyentuh jantung, tidak mengena di hati.
Segala (sesuatu) tindakan atau perbuatan atau pemberian yang belum pantas.

22. Lempar batu, sembunyi tangan.
Seseorang yang bersembunyi di balik kesalahan seseorang.

23. Jangan sekali-kali percaya akan lemparan batu, dan kurasan tanah.
Jangan cepat percaya akan kabar burung sebelum menyelidikinya.

24. Maju kena, mundur kena.
Terpaksa harus menerima kenyataan (sudah tak ada jalan lagi).

25. Si tua yang sedang beraksi, bersolek di ambang pintu kubur.
Dikatakan kepada seseorang yang berusia lanjut, namun masih bertingkah supaya diminati gadis-gadis.

26. Sirih berdaun layu, akarnya perlu disiram.
Seorang wanita kesepian, yang memerlukan belaian seorang pria.

27. Kunjungan sang elang, ayam-ayam pada liar.
Kedatangan pemuda berandal, gadis-gadis pada menjauh.

28. Surat almarhumah, tertinggal setelah ditulis.
Orang mati meninggalkan pesan.

29. Orang yang berhati lembut, dan berperut lebar.
Orang yang sabar dan bijaksana.

30. Orang yang berperut lembut, dan berhati lebar.
Orang yang bijaksana dan sabar.

31. Serani di dahi, Rosario di leher.
Iman seseorang yang tidak didukung oleh kewajiban.

32. Meteran ada pemiliknya, kakus ada tuannya.
Suatu kasus yang diketahui penanggung jawabnya.

33. Seolah-olah ditahan tonggak, bagai ditadah cagak.
Seseorang yang selalu menantang, apa saja yang dilontarkan kepadanya.

34. Sepandai-pandai menyembunyikan tumit, tetapi kelihatan celah-celah jari.
Biar pandai menyembunyikan kesalahan, pasti akan diketahui umum.

35. Pasti sang jantan berada di sana, ketika sang betina akan kembali.
Pasti telah terjadi drama percintaan antara kedua muda mudi itu.

36. Berdiri sama sebaris, tegak sama sejajar.
Secara bersama-sama menghadapi (Wina-wai Rana-laki dsb).

37. Banjir memenuhi kali, ke mana harus lewat.
Menemui jalan buntu.

38. Gadis di sebuah pendopo, tampak bertampang lebar.
Menyindir seorang gadis bermuka lebar yang sedang duduk di sebuah pendopo (supaya diminati para pengunjung suatu keramaian).

39. Ayam di bubung situ, mengamati ayam (betina) di bubung sana.
Menyindir seorang pemuda yang sedang mengamati terus salah seorang gadis (biasanya pada keramaian).

40. Cepat-cepat berlari ke depan, tiba-tiba jatuh bagai dibanting.
Orang yang terlalu terburu-buru hendak mendapatkan sesuatu, akhirnya celaka bagi dirinya sendiri.

41. Walaupun menguntit, kami berpendirian.
Si gadis yang mempunyai pendirian sendiri, walaupun dibuntuti oleh sang pria.

42. Meninggalkan tikar, melepasi bantal.
Meninggalkan isteri atau suami (oleh suatu percekcokan, dsb) tanpa perundingan (dan bila bersatu kembali harus diganjar dengan denda babi atau kuda).

43. Penghubung mulut Anda, penyambung lidah kalian.
Hanya sebagai perantara atau pelaksana di balik si penanggung jawab.

44. Engkau yang menjatuhkannya, engkau pula yang menggulingkannya.
Engkau yang bertanggungjawab penuh atas kematian ini (tentang pembunuhan).

45. Dari sebuah lereng, memperhatikan ke arah dataran.
Seseorang yang sedang mengamati sesuatu dengan leluasa dari tempat stretegis.

46. Kapan janji kita, menanti petik jali.
Sepasang insan yang menjanjikan pernikahan di musim potong jadi.

47. Orang yang melahirkan pada saat bulan gelap.
Dikatakan kepada orang yang bodoh.

48. Orang yang melahirkan di waktu bulan purnama.
Dikatakan kepada orang yang pandai.

49. Elang menyimpan dendam, karena ayam memasuki rumah.
Seorang pemuda yang merasa dendam, karena sang gadis idaman menolak cintanya.

50. Nasi telah membasi, sayur telah membau.
(Anak-wina) telah melanggar janji sehingga pihak Anak-rana dirugikan atas persiapan makanan (Anak-wina didenda setinggi-tingginya seekor kuda).

51. Ada pantas orang itu berkepala dua.
Dikatakan kepada seseorang yang berperilaku seperti orang gila atau sinting.

52. Ke situ hiruk-pikuk, ke sana huru-hara.
Hanya mengakibatkan kericuhan.

53. Supaya kampung halaman menjadi semarak, rawatlah dengan baik.

54. Kepala-kepala bersatu, kaki-kaki berlunjur.
Menggalang persatuan dan kesatuan dalam menghadapi problem apa pun.

55. Tangan tergenggam, mata terkatup.
Dikiaskan kepada orang yang meninggal.

56. Membungkus tebal, menggali dalam.
Ikut melayat dan berbelasungkawa atas kematian seseorang disertai pemberian kain hitam untuk membungkus mayat termasuk penguburan.

57. Bergayalah selama masih hidup, kalau mati pun akan menjadi tanah.
Boleh bersenang-senang selama masih hidup, karena tak akan menikmatinya lagi bila telah mati.

58. Bermulut kepiting, berahang katak.
Orang yang pandai bersilat lidah, atau memutarbalikkan keadaan.

59. Tajak tajam, tanah merah.
Sang pria yang hendak menikahi seorang janda, terdahulu harus menyediakan seekor kuda pelepas janda (sebagai perestu).

60. Sang nenek di dalam kamar, sedang mengap memakan ubi (rebus).
Menyindir seseorang yang egois, misalnya, makan sesuatu dengan sembunyi-sembunyi.

61. Kelenjar (bengkak) memenuhi ketiak, kudis memenuhi paha.
Dikatakan kepada seseorang yang lamban, malas, pengecut, dan lain sebagainya.

62. Terpotong di ujung jari, membengkak di ketiak.
Menjelekkan orang lain, namun menutupi kesalahan sendiri.

63. Orang yang melahirkan kaki ke bawah.
Orang yang melakukan perbuatan janggal atau berlawanan.

64. Pisang peram, tebu tebangan (yang telah menua).
Suatu problem yang sudah saatnya terungkap.

65. Engkau telah bermanis pisang, kau pun telah bermanis madu.
Membujuki seseorang untuk mengikutinya (yang sebenarnya orang itu bukan haknya) sehingga si pembujuk dituding.

66. Menjadi dua, karena engkau – menjadi tiga, engkau penyebabnya.
Anda sebagai biang keladinya atau sebagai penghasut (pemberi jalan berlawanan).

67. Berangan-angan tak terbayang, menggapai-gapai pun tak tersampai (terjangkau).
Menemui jalan buntu, tak tercapai apa yang diinginkan.

68. Tidak mengenal malam, tak (dapat) membedakan siang.
Melaksanakan suatu kegiatan tak henti-henti baik siang maupun malam.

69. Berbicara, harus ada baranya, ada pula nyalanya.
Menanggapi atau menyimpulkan sesuatu perlu kelunakan di samping kekerasan.

70. Berkebun kongsi, berpondok gabung.
Dikatakan kepada seorang isteri yang mempunyai kekasih gelap.

71. Menjadi bapak untuk semalam, dan menjadi ibu untuk sehari.
Menjadi pimpinan marga (dan sebagainya) hanya untuk sementara.

72. Berpondok di pinggir hutan ada tujuannya.
Seseorang yang membuat pondok di pinggir hutan dinilai gampang menyembunyikan kesalahan.

73. Di malam hari tampak tampang berminyak, di siang hari kelihatan jelek.
Dikatakan kepada seorang gadis yang bersolek di waktu malam sehingga kelihatan menarik, ternyata setelah dilihat pada siang hari berwajah jelek. (Sindiran di waktu keramaian yang dilangsungkan malam dan siang).

74. Meminum kencing anak, memakan kotoran isteri.
Dikatakan kepada orang yang pengecut dan tidak menunjukkan kejantanannya.

75. Salah memasang tambak, belut laut pun lolos.
Seorang wanita yang mengharapkan kehadiran seorang laki-laki, namun akhirnya dia dikecewakan. Sudah salah langkah pasti tak akan berhasil.

76. Mulut seumpama bubu, lidah bagaikan pelangi.
Dikatakan kepada orang yang sombong dan besar hati lagi pongah.

77. Engkaulah pangkal pahanya, juga penyakit dan yang ditaburkan.
Engkau pokok pangkalnya, engkau pula penanggung jawabnya.

Sumber:
Tol, Roger. 1997. Adat-Istiadat Orang Rembong di Flores Barat. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Cara Pasang Tali Layangan agar Manteng di Udara
Topeng Monyet
NUSANTARA COSMIC ECHOES - Pink Floyd Style Progressive Rock

Archive