Showing posts with label Peralatan Kesenian. Show all posts
Showing posts with label Peralatan Kesenian. Show all posts

Bonang

Bonang adalah sebuah instrumen pukul berupa kumpulan 10 buah gong "pecon" terbuat dari perunggu atau kuningan yang disusun dua baris dalam sebuah rak kayu. Dalam sebuah pagelaran alat ini dimainkan paling awal dengan tempo lambat. Adapun cara memainkannya dipukul dengan dua buah pemukul berkepala lembut terbuat dari kayu yang bagian ujungnya dibalut dengan benang wol. Bonang terbuat dari tembaga, kuningan atau perunggu. Bentuk berbilah-bilah antara 6-7 bilah berderet memanjang di atas ruang suara atau resonator yang terbagi dalam dua buah ancak. Permukaan bilah bagian tengahnya berbentuk bulat menonjol yang merupakan tempat jatuhnya pemukul. Panjang bilah berbeda-beda, demikian pula ruang suara yang berbentuk kotak panjang satu ujungnya mengecil dan penempatan bilah-bilah mengikuti ukuran suaranya.

Foto: https://www.silontong.com/2017/08/13/14-alat-musik-tradisional-jawa-tengah-gambar-dan-penjelasannya/bonang-barung-2/

Pudak Bebai

Pudak Bebai adalah satu dari 12 tupping Keratuan Darah Putih di Kabupaten Lampung Selatan. Sebelum menjadi bagian dari kesenian, Pudak Bebai dan sebelas tupping lainnya (yang masih asli) hanya boleh dikenakan oleh keturunan dari duabelas punggawa Keratuan Darah Putih karena dianggap sakral dan mempunyai kekuatan gaib tertentu. Adapun bentuk Pudak Bebai sendiri menyerupai muka seorang perempuan yang bertugas di Tanjung Selaki dan dikenakan oleh Kakhya Bangsa Saka (Desa Ruang Tengah).

Sedangkan ke-sebelas tupping lainnya, adalah: (1) Ikhung Cungak atau berhidung mendongak yang bertugas di Tanjung Tua (Tupai Tanoh) dan dikenakan oleh Kakhya Khadin Patih (Desa Kuripan); (2) Ikhung Tebak atau berhidung melintang yang bertugas di Gunung Rajabasa (Buai Tambal) dan dikenakan oleh Kakhya Jaksa (Desa Kuripan); (3) Luakh Takhing bertugas di Anjak Kekhatuan Mit Matakhani dan dikenakan oleh Kakhya Menanti Khatu (Desa Kuripan); (4) Jangguk Khawing atau berjanggut pankang, bertugas di Seragi sampai Way Sekampung dan dikenakan oleh Kakhya Jaga Pati (Desa Kekiling); (5) banguk Khabit atau bermulut sompel, bertugas di Gunung Cukkih Selat Sunda dan dikenakan oleh Kakhya Yuda Negara (Desa Kekiling); (6) Bekhak Banguk atau bermulut lebar, bertugas di Kekiling Gunung dan dikenakan oleh Kakhya Jaga Pamuk (Desa Ruang Tengah); (7) Mata Sipit, bertugas di Batu Payung dan dikenakan oleh Temunggung Agung Khaja (Desa Ruang Tengah); (8) Banguk Kicut atau bermulut mengot, dipakai oleh Ngabihi Paksi (Desa Ruang Tengah); (9) Mata Kadugok atau mata mengantuk, bertugas di Anjak Kekhautan Tugok Matahani Minjak dan dikenakan oleh Kakhya Sangunda (Desa Tetaan); (10) Matta Kiccong, betugas di Tuku Tiga dan dikenakan oleh Kakhya Kiyai Sebuah (Desa Tetaan); dan Ikhung Pisek atau hidung pesek, bertugas di Sumokh Kucing dan dikenakan oleh Khaja Temunggung (Desa Tetaan).

Berikut adalah rupa tupping Pudak Bebai dalam bentuk tugu atau monumen yang di buat dalam rangka ikut memeriahkan Festival Krakatau 2016. Dalam rangkaian festival tersebut Kabupaten Lampung Selatan mengusung 12 tupping Keratuan Darah Putih pada parade budaya adat.






Pontondate

Pontondate adalah istilah masyarakat Sulawesi Tengah bagi sebuah gelang panjang (dari pergelangan hingga batas siku) terbuat dari emas atau perak sepuhan yang awalnya digunakan sebagai perhiasan kebesaran oleh para perempuan bangsawan yang tinggal di istana ketika sedang menarikan Pajoge Maradika. Namun, dalam perkembangan selanjutnya, pontondate hampir digunakan dalam semua jenis tarian tradisional di daerah Sulawesi Selatan.

Perhiasan ini berukuran antara 15-18 centimeter. Bagian atasnya berbentuk bulat dengan diameter antara 7 hingga 8 centimeter, sementara bagian bawahnya sebagai batas pergelangan berdiameter sekitar 6 centimeter. Adapun cara membuatnya adalah dengan menggunakan cetakan. Panday besi yang membuat pontondate biasanya akan terlebih dahulu memasang semacam kawat di dalam cetakan yang berguna sebagai penahan agar cairan logam yang akan dicetak lebih kuat setelah terbentuk.

Jengglong

Jengglong adalah instrumen musik dari daerah Jawa Barat yang berfungsi sebagai kerangka lagu dan pembuat nada dasar. Cara memainkan alat ini dipukul dengan alat pukul empuk. Jengglong berbentuk bilah-bilah yang berderet di atas ruang suara atau resonator. Bilah-bilah terbagi pada dua buah ancak yang masing-masing berjumlah 3 bilah dan permukaannya berpencong dengan diameter 30-40 cm. Selain berbentuk bilahan, alat ini terkadang berbentuk bulat dan permukaannya berpencong. Seperti halnya bonang dan sarong, jengglong dibuat dari bahan dasar perunggu, kuningan atau besi, sedangkan pemukulnya dari kayu yang berbentuk lurus pada ujungnya dibalut dengan rajutan benang wol.

Terbang

Terbang merupakan waditra (alat musik) yang digunakan dalam kesenian terbang kencer di Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah. Alat musik ini sebenarnya ada di berbagai daerah dengan bentuk, ukuran, dan istilah yang berbeda-beda. Dalam kesenian terbang kencer, terbang yang digunakan disertai dengan kecrek yang terbuat dari besi putih. Bagian atasnya berbentuk lubang bundar dengan garis tengah sekitar 40 centimeter sedangkan bagian bawahnya bergaris tengah sekitar 35 centimeter (semakin menyempit). Bagian lubang atas ditutup dengan kulit kambing menggunakan perekat (lem), kemudian dipaku dengan paku jamur (Paku yang salah satu ujungnya menyerupai bintang).

Badan terbang terbuat dari kayu sawo yang dianggap keras, kuat, tidak mudah retak, serta dapat menimbulkan gaung (efek suara) yang bagus. Pada badan terbang yang semakin ke bawah semakin kecil itu ada tiga lubang berjarak sama berukuran tinggi 1 centimeter dan panjang 11 centimeter dengan posisi mendatar. Di setiap lubang terdapat dua buah logam berbentuk bundar dan pipih menyerupai piringan compact disc (CD) yang terbuat dari nekel (besi putih). Alat ini disebut kecrek atau kencer. Jika terbang ditabuh maka alat ini akan menimbulkan suara gemerincing. Bunyi inilah yang kemudian membuat terbang tersebut disebut sebagai "terbang kencer".

Selain kencer, terbang juga dilengkapi dengan rotan yang melingkar di dalamnya (di bawah kulit terbang) yang disebut sentek. Garis tengahnya kurang lebih sama dengan garis tengah terbang. Alat ini dimasukkan atau diselipkan pada celah antara kulit dan bagian permukaan bawah terbang. Fungsinya untuk mengencangkan kulit terbang, sehingga suaranya sesuai dengan yang diinginkan.

Sebuah terbang kencer beratnya kurang lebih 2 kilogram. Ketika digunakan terbang tersebut diletakkan di atas tangan kiri dengan posisi tangan membentuk sudut 30--40. Jika pementasan dilakukan dalam sebuah ruangan (biasanya ruang tamu), maka posisi duduknya seperti duduknya sinden (bersimpuh). Akan tetapi, jika dalam arak-arakan (dalam lapangan) posisinya berdiri karena harus berjalan menyusuri route yang telah ditetapkan.

Dan, jika terbang tidak digunakan (disimpan), sentek dicopot dan dibiarkan ada dalam terbang. Selanjutnya, agar terbang tidak cepat rusak atau berdebu, maka sebelum disimpan dimasukkan dalam sebuah kantong yang terbuat dari kain belacu (gufron).

Kaveba

Kaveba atau biasa disebut juga tipasa adalah istilah orang Sulawesi Tengah untuk menyebut sebuah benda yang bentuknya menyerupai kipas. Peralatan yang umumnya digunakan untuk menari ini dapat memiliki berbagai macam fungsi, bergantung dari jenis tarian yang dibawakan. Misalnya, pada Tari Pajoge Maradika kaveba digunakan oleh para dayang untuk mengipasi para putera dan puteri yang sedang menari. Pada Tari Kaveba, sesuai dengan namanya, para penarinya mempertunjukkan kebolehan memainkan kaveba. Pada pertunjukan Tari Rego kaveba berfungsi untuk mengipasi penari wanita yang selama menari berada dalam pelukan penari pria. Dan, pada tari sebagai pengiring upacara penyembuhan, kaveba berfungsi sebagai penghalau roh-roh jahat yang menghalangi proses penyembuhan.

Sebagai sebuah benda yang didesain untuk "menangkap" dan menghembuskan angin, kaveba dibuat sedemikian rupa agar ringan ketika digunakan. Adapun bahan pembuatnya terdiri atas kain, manik-manik, rotan dan daun silar atau pelepah sagu. Sedangkan cara membuatnya diawali dengan menghilangkan lidi atau tulang daun silar. Setelah itu daun diiris selebar sekitar 1/2 centimeter dan dijemur hingga kering. Dan, bila telah kering daun dibersihkan lalu dianyam sedemikian rupa membentuk menyerupai kipas dengan rotan sebagai tulangnya. Selanjutnya, anyaman dibungkus dengan kain berwarna kuning serta dihias dengan manik-manik yang bentuknya disesuaikan dengan selera si pembuat.

Tali Tandu

Sesuai dengan namanya tali tandu adalah untaian beberapa utas tali yang dibuat sedemikian rupa hingga menyerupai tandu (tanduk) sapi. Tali ini biasa digunakan oleh para penari di daerah Sulawesi Tengah sebagai hiasan sekaligus simbol keberanian ketika mempertunjukkan tari penyembuhan atau keselamatan. Cara memakainya diletakkan di atas kepala sehingga menyerupai sebuah tanduk. Bahan pembuatnya terdiri atas pelepah pohon enau atau kulit gaba-gaba, kapuk, kain berwarna kuning atau merah, serta manik-manik atau pecahan batu banggai/mitra.

Adapun proses pembuatan sebuah tali tandu diawali dengan memotong pelepah pohon enau atau kulit gaba-gaba menjadi beberapa bagian dengan panjang sekitar 25 centimeter. Kemudian, pelepah dibersihkan dan dipipihkan setebal 1/4 centimeter dengan lebar sekitar 5 centimeter. Bila telah pipih, pelepah enau dibungkus menggunakan kain berwarna kuning atau merah. Selanjutnya, sisa kain pembungkus pelepah digulung sedemikian rupa hingga membentuk serupa tanduk yang di dalamnya diisi dengan kapuk (kapas). Dan, setelah tanduk dipasang pada setiap ujung pelepah enau, proses terakhir adalah memberi hiasan berupa manik-manik atau pecahan batu banggai/batu mitra dengan cara dijahit atau diikat dengan benang jahit tangan agar tidak lepas ketika dibawa menari.

Tavala

Tavala adalah salah satu perlengkapan penari laki-laki di daerah Sulawesi Tengah saat mempertunjukkan Tari Meaju atau tarian lain dalam suatu upacara yang disertai dengan persembahan hewan kurban berupa kambing atau kerbau. Fungsi tavala atau tampi atau yang dalam bahasa Indonesia disebut tombak ini adalah sebagai penambah semangat ketika penari sedang mempertunjukkan tarian pada para pahlawan yang pulang atau akan pergi berperang, pengantin pria yang akan menempuh hidup baru, atau anak laki-laki yang akan dikhitan (nosua).

Sebuah tavala dahulu merupakan perlengkapan tari yang dianggap sakral karena rambut-rambut penghiasnya berasal dari rambut musuh yang diambil pada saat perang atau ritual pengayauan. Namun, seiring dengan perkembangan zaman rambut manusia diganti dengan benang berwarna merah atau hitam atau bahkan bulu binatang. Sedangkan untuk bahan pembuat lainnya masih menggunakan tembaga atau kuningan serta kayu hitam.

Adapun cara membuatnya adalah sebagai berikut. Pertama, memanaskan tembaga atau kuningan hingga membara agar mudah dipukul menggunakan palu khusus untuk membentuk mata tavala. Kedua, apabila mata tavala telah terbentuk proses berikutnya adalah mengampelas mata tavala agar lebih runcing dan tajam di kedua sisinya. Ketiga, membuat tangkai tavala dari kayu hitam berukuran panjang antara 125-150 centimeter dengan garis tengah antara 4-5 centimeter. Pada salah satu pangkal tangkai nantinya akan dimasukkan mata tavala dan dilubangi untuk tempat menanam benang sebagai hiasan.

Lola

Lola adalah perlengkapan penari di daerah Sulawesi Tengah ketika sedang mempertunjukkan tarian dalam suatu upacara tradisional atau acara lain yang berkenaan dengan keramaian. Aksesoris yang dipakai di kedua lengan hampir ke siku ini terbuat dari emas, perak, atau logam lainnya yang lebih murah. Bentuknya bulat dengan diameter antara 15-20 centimeter. Lola dibuat dengan cara dicetak sedemikian rupa hingga membentuk sebuah gelang. Selanjutnya, gelang dilubangi untuk memasukkan empat buah kawat halus sebagai penahannya.

Pangga

Pangga adalah perlengkapan penari laki-laki di daerah Sulawesi Tengah saat mempertunjukkan tarian dalam upacara penyembuhan, seperti Tari Balia Bone, Tari Jinja, atau sejenisnya. Pangga atau disebut juga sebagai sinjulo ini adalah sebagai penanda bahwa yang mengenakannya adalah seorang laki-laki yang sedang mempertunjukkan tarian perempuan (Zohra, dkk: 1988). Laki-laki ini bukanlah seorang banci atau wadam, melainkan laki-laki tulen yang hanya berperan sebagai perempuan pada saat menari. Jadi, ketika sedang tidak menari mereka berperilaku sebagaimana layaknya laki-laki (telukpalu.com).

Pangga atau Sinjulo terbuat dari bahan kulit kayu. Adapun proses pembuatannya diawali dengan mencari pohon yang kulitnya kuat dan lentur. Apabila pohon telah ditemukan, maka diadakan upacara sebelum melakukan penebangan. Tujuannya adalah agar roh penghuni pohon tidak marah karena tempat tinggalnya ditebang atau dirusak. Peralatan dan perlengkapan upacara diantaranya berupa seekor ayam berwarna putih serta nasi ketan berwarna hitam, kuning, dan merah (warisanbudayaindonesia.info).

Selesai upacara barulah bagian pohon yang besar (tidak seluruhnya) ditebang sepanjang sekitar 60 centimeter. Kayu hasil tebangan itu kemudian direndam dalam air sungai atau kolam selama tiga hari tiga malam agar kulitnya mudah dikelupas. Bila kulit telah dikelupas proses selanjutnya adalah memukulinya dengan alat pemukul khusus agar menjadi lebar dan tipis. Kemudian, kulit kayu itu direndam selama tiga hari tiga malam lalu dipukuli lagi dan dijemur agar kering. Setelah kering, kulit kayu dipotong dengan panjang sekitar 150 centimeter dan lebar 50 centimeter lalu dilipat menjadi dua bagian. Pada salah satu sisi diguting membentuk huruf V sebagai tempat untuk memasukkan kepala. Dan, proses terakhir, pangga diberi cat warna merah menggunakan bahan dari buah atau air kayu lambugu. Sebagai catatan, saat ini penggunaan kulit kayu sebagai bahan pembuat pangga sudah jarang dilakukan. Para seniman tari lebih memilih kain yang warnanya disesuaikan dengan kostum yang dipakai. (gufron)

Sumber:
Mahmud, Zohra et.al. 1988/1989. Peralatan Hiburan dan Kesenian Tradisional Daerah Sulawesi Tengah. Palu: Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

"Pangga", diakses dari http://warisanbudayaindonesia.info/view/warisan/2524/Pangga, tanggal 20 September 2014

"Peralatan Tari Tradisional", diakses dari http://telukpalu.com/2008/04/peralatan-tari-tradisional/, tanggal 19 September 2014.

Talimpuso

Talimpuso adalah salah satu perlengkapan penari pria di daerah Sulawesi Tengah yang berbentuk trapesium atau segi empat tidak sama sisi. Talimpuso ini umumnya digunakan ketika membawakan tarian tradisional yang telah dikreasikan, khususnya pada saat upacara penyembuhan, seperti: Tari Tomanuru kreasi baru dan Tari Meaju kreasi baru. Cara memakainya diletakkan di kepala layaknya sebuah topi namun sudutnya berada dekat telinga sehingga harus diikat agar tidak jatuh.

Awalnya talimpuso terbuat dari pelepah enau, kain, batu banggai, tapi perak, dan benang. Namun seiring waktu talimpuso juga dibuat dari kertas karton yang dibungkus dengan kain berwarna dan dihiasi dengan pici-pici (manik-manik) serta pita emas. Adapun proses pembuatannya adalah sebagai berikut. Apabila menggunakan pelepah enau, maka pelepah tersebut dibersihkan dan dipotong dengan ukuran sisi kiri dan kanan 20 centimeter, atas 30 centimeter dan bagian bawah 24 centimeter. Selanjutnya, pelepah dibungkus dengan kain berwarna merah dan bagian sisinya diberi hiasan berupa jahitan kain kuning berbentuk segitiga sejumlah lima lembar dengan ukuran sisi antara 4-5 centimeter. Kemudian, dipasang batu banggai atau batu mitra hingga separuh batas talimpuso. Sementara separuhnya lagi diisi dengan jahitan benang emas berbanjar ke bawah dengan motif bunga. Terakhir, pada bagian atas dipasang tiga buah buluh ayam jatan yang berwarna putih dan tali sepanjang sekitar 50 centimeter di sini kiri dan kanan sebagai ikatan di leher.

Kelentangan

Kebudayaan memiliki tujuh buah unsur yang bersifat universal, yaitu: (1) bahasa; (2) sistem pengetahuan; (3) organisasi sosial; (4) sistem peralatan hidup dan teknologi; (5) sistem mata pencaharian hidup; (6) sistem religi; dan (7) kesenian (Koentjaraningrat 1990:204). Ini artinya, di setiap masyarakat (dari yang masih sederhana hingga modern), selalu menumbuhkembangkan suatu kebudayaan yang mengandung ketujuh unsur tersebut.

Masyarakat Dayak di Pulau Kalimantan, sebagaimana masyarakat lain di seluruh dunia, juga menumbuhkembangkan kebudayaan yang salah satu unsurnya berupa kesenian sebagai luapan ekspresi jiwa akan keindahan dalam bentuk suara, musik, lukisan, drama dan lain sebagainya. Dalam berkesenian tersebut, mereka menciptakan sebuah alat musik yang diberi nama kelentangan (bahasa Dayak Bulungan), kelentang-an (bahasa Dayak Kutai), atau gluning (bahasa Dayak Benuaq dan Tunjung).

Alat musik tradisional ini terbuat dari bilahan kayu belembong atau pelantan yang ditata sedemikian rupa hingga berjajar berdasarkan nada yang dihasilkan di atas sebuah tempat berbentuk perahu atau kotak. Adapun cara membunyikannya adalah dengan dipukul menggunakan sepotong kayu sesuai dengan notasi balok sehingga menimbulkan alunan musik yang indah.

Sejatinya, kelentangan dahulu hanya digunakan sebagai alat untuk mengusir burung di sawah. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, kelentangan beralih fungsi menjadi sebuah alat musik pengiring berbagai macam upacara adat, seperti: menerima tamu, upacara erau, atau mengobati orang sakit. Suara magis yang keluar dari keletangan diyakini dapat menyembuhkan orang yang sedang sakit (Karim dkk, 1993: 53).

Struktur Kelentangan
1. Bilah-bilah kayu
Unsur utama pembentuk bebunyian sebuah kelentangan adalah bilah-bilah kayu belembong atau pelantan. Pemilihan kedua jenis kayu tersebut didasarkan atas ciri-ciri fisiknya, seperti: kuat, ringan, serta urat-uratnya lurus sehingga relatif mudah untuk diraut. Apabila hendak dijadikan sebagai bahan pembentuk bilah kelentangan, terlebih dahulu kayu dijemur sampai kering. Tujuannya, agar ketika telah menjadi bilah-bilah kelentengan dapat menghasilkan bunyi yang enak didengar.

Selanjutnya kayu dibelah menjadi potongan kecil-kecil sejumlah 6-8 buah dengan panjang 20-22 centimeter dan tebal sekitar 2-3 centimeter bergantung pada nada yang dikehendaki pembuat atau pemesannya. Dan, proses terakhir sebelum dipasang pada tatakannya adalah pelubangan kedua ujung bilah menggunakan paku agar ketika dipukul tidak bergeser dari tempatnya.

Penggunaan kayu belempong atau pelantan untuk membuat kelentangan saat ini sudah mulai jarang dilakukan karena kedua jenis kayu itu sulit didapat. Sebagai gantinya, sebagian perajin mulai beralih menggunakan besi maupun kuningan. Jadi, ada kelentengan berbahan kayu dan ada pula yang berbahan besi atau kuningan. Bedanya, kelentangan kayu berbentuk bilah persegi empat, sedangkan kelentangan logam berbentuk bulat seperti bonang dalam gamelan Jawa. Kelentangan berbahan besi atau kuningan ini oleh masyarakat Dayak Tunjung dan Bulungan dinamakan sebagai serunai.

2. Tempat atau tatakan bilah-bilah kayu
Agar tertata rapi sesuai dengan nada yang dihasilkan, bilah-bilah kayu ditempatkan pada sebuah kotak kayu belembong atau pelantan berbentuk perahu yang bagian tengahnya berlubang (diberi ruang). Adapun penyusunannya didasarkan pada tinggi-rendah nada yang dihasilkan. Nada rendah diletakkan pada sisi kiri dan nada tinggi di kanan. Sebagai catatan, ada pula tatakan yang dibuat agak melengkung serta diampelas, diukir, dan diberi cat agar terlihat indah dan bernuansa seni.

3. Alat pemukul
Alat pemukul kelentangan dibuat kayu belembong atau pelantan. Kayu belembong atau pelantan tersebut dibentuk sedemikian rupa hingga ujungnya menjadi bulat dengan panjang sekitar 20 centimeter. Pada bagian ujung yang dibuat bulat itu ada yang dibiarkan bagitu saja dan ada pula yang dibalut lagi dengan karet agar ketika dipukulkan pada bilah kayu dapat menghasilkan suara jernih tanpa ada bunyi kayu beradu.

Nilai Budaya
Pembuatan alat musik kelentangan jika dicermati secara seksama, di dalamnya mengandung nilai-nilai yang pada gilirannya dapat dijadikan sebagai acuan dalam kehidupan sehari-hari bagi masyarakat pendukungnya. Nilai-nilai itu antara lain: keindahan (seni), ketekunan, ketelitian, dan kesabaran. Nilai keindahan tercermin dari bentuk kelentangan yang dibuat sedemikian rupa, sehingga menimbulkan suara yang memancarkan keindahan. Sedangkan, nilai ketekunan, ketelitian, dan kesabaran tercermin dari proses pembuatannya yang memerlukan ketekukan, ketelitian, dan kesabaran. Tanpa nilai-nilai tersebut tidak mungkin akan terwujud sebuah kelentangan yang indah dan sarat makna. (gufron)

Sumber:
- Said Karim, dkk,. 1993. Peralatan Hiburan dan Kesenian Tradisional Daerah Kalimantan Timur. Kalimantan Timur: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Direktorat Jenderal Kebudayaan. Proyek Penelitian, Pengkajian, dan Pembinaan Nilai-nilai Budaya.
- Tim Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah. 1982. NaskahSejarah Seni Budaya Kalimantan Timur. Samarinda: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
- “Remaja 17 Tahun Keliling 6 Negara Mainkan Alat Musik Tradisional”. (http://www.kaltimpost.co.id/berita/detail/12366/remaja-17-tahun-keliling-6-negara-mainkan-alat-musik-tradisional.html. Diakses 2 Mei 2013).

Topeng Lampung

Ada dua jenis topeng Lampung, yaitu tupping dan sekura. Tupping berkembang di daerah Lampung Selatan (Kuripan, Canti, dan Kesugihan). Sedangkan, sekura terdapat di wilayah Lampung Barat (Belalau, Balik Bukit, Batubrak, Sukau, Kenali, dan Liwa). Kedua jenis topeng tersebut sering digunakan dalam memeriahkan acara seperti: pesta adat sekuran (sekuraan), pementasan drama tari tupping, atau pada parade topeng. 

Sekura
Sekura umumnya ditampilkan dalam tarian topeng pada pesta adat sekuran atau sekuraan yang diadakan setiap awal bulan Syawal. Pesta ini merupakan pesta rakyat yang diselenggarakan sebagai ungkapan rasa syukur, sukacita dan perenungan terhadap sikap dan tingkah laku.

Dalam tarian topeng, sekura dibagi menjadi beberapa karakter menurut penokohannya, yaitu: sekura anak, sekura tuha, sekura kesatria, sekura cacat, sakura raksasa, dan sekura binatang. Namun, dari enam jenis penokohan tersebut sekura secara umum dapat dikategorikan menjadi dua jenis. Jenis yang pertama disebut sekura kecah yang artinya sekura bersih. Sekura ini sering disebut juga sekura betik atau sekura helau.

Sesuai dengan namanya, sekura kecah mengenakan kostum yang bersih dan rapi. Sekura kecah khusus diperankan oleh menghanai (laki-laki yang belum beristri). Sekura ini berfungsi sebagai pemeriah dan peramai peserta. Mereka berkeliling pekon (dusun) untuk melihat-lihat dan berjumpa dengan gadis pujaan. Selain itu, sekura ini juga berfungsi sebagai pengawal sanak saudara yang menyaksikan atraksi topeng. Mereka membawa senjata pusaka-kini simbolis saja, sebagai simbol menjaga gadis atau muli bathin (anak pangeran) yang menyaksikan pesta topeng agar terhindar dari sekura kamak yang jahat. Mereka juga menunjukkan kemewahan dan kekayaan materi yang dapat terlihat dari selendang yang dikenakannya. Secara simbolis banyaknya selendang mengartikan sekura itu adalah meghanai yang baik.

Sedangkan, sekura kedua disebut sekura kamak yang artinya sekura kotor atau sekura jahat. Busana yang dikenakan tidak hanya pakaian sehari-hari yang digunakan dalam menggarap kebun, tetapi dapat juga dari segala jenis tumbuhan yang diikatkan di tubuh. Sekura kamak tidak hanya digunakan oleh meghanai, tetapi bisa juga dibawakan oleh pria yang sudah beristri. Mereka berfungsi sebagai penghibur dalam sekuraan. Sekuraan ini berkeliling kampung untuk kemudian singgah ke rumah-rumah penduduk. Masyarakat yang dikunjungi wajib menyediakan makanan dan minuman yang diperuntukkan sekura yang datang ke rumahnya. Dalam pesta sekuraan ini, kadang ditampilkan atraksi pencak silat (silek), nyambai ( menyanyikan bait-bait pantun yang diiringi dengan tetabuhan terbangan (rebana) satu. Pantun ini biasanya ditujukan pada muli (gadis).

Sebagai catatan, konon topeng sekuran dahulu digunakan oleh orang-orang sakti yang mampu meubah wajah dan fisik mereka hingga tak dapat dikenali lagi. Setelah mengenakan topeng mereka kemudian memata-matai atau mendatangi masyarakat untuk hanya sekadar menanyakan kabar atau terkadang juga menyampaikan petuah-petuah agar menempuh jalan yang lurus. Selain itu, mereka juga tidak jarang meringkus para penjahat yang dinilai meresahkan masyarakat.

Tupping
Untuk jenis topeng Lampung yang lainnya, yaitu tupping, biasanya digunakan dalam pertunjukan drama tari tupping yang menggambarkan patriotisme keprajuritan dari pasukan tempur dan pengawal rahasia Radin Inten I (1751-1828), Radin Imba II (1828 -1834) dan Radin Inten II (1834 - 1856) di daerah Kalianda Lampung Selatan. Dilihat dari segi penokohannya topeng dalam Drama Tari Tupping terdiri dari: kesatria, kesatria kasar, kesatria sakti, kesatria putrid, tokoh pelawak, dan tokoh bijak dan sakti. Tari tupping juga dilakukan pada rangkaian pesta perkawinan atau pada acara penyambutan tamu besar. 

Tupping yang ada di daerah Lampung, khususnya di Canti dan Kuripan, jumlahnya hanya 12 buah. Tidak bisa lebih, tidak bisa kurang, dan tidak boleh ditiru. Tupping-tupping ini diyakini memilki kekuatan gaib dan tidak semua orang boleh memakainya. Dan, meskipun sekarang sudah jadi bagian kesenian, berbagai ritual khusus harus dilakukan sebelum mengenakan topeng-topeng ini.

Topeng Kuripan hanya bisa dikenakan oleh keturunan 12 punggawa yang antara lain berada di Desa Tataan, Taman Baru dan Kuripan. Di daerah Canti tupping hanya bisa dikenakan oleh lelaki yang berumur 20 tahun. Kalau ada warga yang ingin memakai, mereka bisa minta izin pada Dalom Marga Ratu. Kelalaian dalam mentaati aturan-aturan ini akan mengakibatkan kejadian yang tidak diinginkan pada yang memakainya. Kedua topeng ini, baik Topeng Kuripan dan Topeng Canti diyakini menyimpan beragam muatan seperti histories, simbol budaya, nilai ritual, dan struktur sosial politik. (ali gufron) 

Foto: http://b3guw4ij3j4m4.blogspot.com/2010/01/pesona-topeng-lampung.html
Sumber: http://www.indonesiamedia.com/2005/11/mid/budaya/topeng%20lampung.htm http://sikamala.wordpress.com/2010/01/24/sekura-dan-tuping/ http://fachruddin54.blogspot.com/

Pende (Sulteng)

Pende atau pending adalah ikat pinggang yang digunakan pada saat seseorang (perempuan) memainkan tarian khas Sulawesi Tengah. Ikat pinggang ini dahulu umumnya dibuat dari bahan emas atau perak dengan cara dicetak. Pada bagian dalam pende dibuat sebuah tempat untuk memasukkan tali pengikat kain yang berwarna kuning dan diberi hiasan. Saat ini, pende yang digunakan untuk menari bukan lagi dibuat dari emas atau perak melainkan ikat pinggang biasa yang diubah sedemikian rupa hingga menyerupai pende asli.

Sumber:
http://www.infokom-sulteng.go.id/rubrikview.php?id=540&ss=f3c85d3d01&u=

Pawala (Sulteng)

Pawala adalah sebuah gelang yang dahulu hanya dipakai oleh puteri raja saat memainkan tari Pajoge Mardika dalam pesta-pesta kerajaan. Peralatan yang umumnya dikenakan pada pergelangan tangan kanan dan kiri ini dibuat dari bahan emas atau perak dengan cara dicetak dalam bentuk sebuah lingkaran dengan dihias 10 hingga 12 buah anak pawala.

Sumber:
http://www.infokom-sulteng.go.id/rubrikview.php?id=540&ss=f3c85d3d01&u=

Geeno (Sulteng)

Geeno adalah sebuah perhiasan berupa kalung panjang yang sering dikenakan oleh penari perempuan saat memainkan tari Pajoge Maradika (tari yang ditarikan oleh puteri raja atau bangsawan) atau tari-tari tradisional khas Sulteng lainnya, kecuali tari kerja.

Cara membuat perhiasan yang terbuat dari emas atau perak ini adalah dengan mencetaknya menjadi rantai dan piringan-piringan berbentuk daun yang bergerigi. Piringan-piringan tersebut dicetak sebanyak sepuluh buah dengan diameter masing-masing sekitar 6 cm. Pada bagian tengah piringan diberi batu permata berwarna putih atau kuning. Piringan-piringan itu selanjutkan dihubungkan dengan rantai yang panjangnya kurang lebih 5 cm dengan posisi piringan yang agak besar berada di bagian bawah sedangkan yang lebih kecil berada di bagian atasnya.

Sumber: http://www.infokom-sulteng.go.id

Dalitaroe (Sulteng)

Dalitaroe adalah perhiasan berupa anting yang biasa dipakai oleh penari perempuan saat memainkan tarian tradisional daerah Sulawesi Tengah. Fungsi alat yang biasanya dipakai bersama perlengkapan lainnya seperti pawala, lola, pontondate, geno, pende ini adalah sebagai lambang kebesaran dan keagungan diri. Dalitaroe terbuat dari bahan logam (emas atau perak) yang dibentuk sedemikian rupa menjadi kepingan-kepingan kecil berbentuk segi empat.

Sedangkan, cara membuatnya mula-mula adalah dengan mencetak dasar dalitaroe. Kemudian membuat kepingan-kepingan kecil berbentuk segi empat sebanyak 30 buah untuk setiap dalitaroe. Kepingan-kepingan segi empat tersebut kemudian dirangkai dengan rantai menjadi lima untai yang nantinya akan digantungkan pada dasar dalitaroe. Selanjutnya, pada bagian tengah dalitaroe dirangkai lagi dengan rantai menuju ke bagian atas yang berbentuk bulat menyerupai bunga yang ditengahnya diletakkan sebuah permata putih atau kuning.

Sumber: http://www.infokom-sulteng.go.id

Gangsa (Bali)

Gangsa adalah nama salah satu instrumen dalam suatu ensembel atau barungan gambelan yang daun bilahannya terbuat dari perunggu. Banyak jenis barungan gambelan Bali yang mempergunakan gangsa, seperti umpamanya semara pagulingan, angklung, gong kebyar, gong gede,, gambang. Ada banyak lagi yang lain jika disebutkan satu persatu.

Daun gangsa dalam tiap-tiap barungan gambelan mempunyai fungsi yang berbeda-beda, ada yang berfungsi sebagai jalinan pukulan, penentu matra-matra lagu dan sebagainya. Misalnya gambelan gambang hanya mempunyai dua tungguh gangsa jongkok, sebagai pemegang melodi, sedangkan gong gede memiliki delapan tungguh gangsa jongkok dan dua belas tungguh gangsa gantung. Jumlah daun gambelan masing-masing tungguh juga berbeda-beda. Misalnya gong gede lima bilah, semara pagulingan tujuh bilah, dan angklung empat bilah. Selain dari itu dalam satu barungan gambelan mungkin jumlah daun gambelan dari masing-masing tungguh berbeda-beda. Misalnya gambelan Selonding terdiri dari sepasang berdaun empat dan sepasang lagi berdaun delapan. Dalam gong kebyar instrumen pangugal, pamade, dan kantilnya berdaun sepuluh, sedangkan jublag dan jegognya berdaun lima bilah.

Ditinjau dari bentuk selawah dan bagaimana daun gambelan diletakkan pada selawah gambelan tersebut, gangsa tu dapat dibedakan atas dua macam, yaitu:

1. Gangsa Jongkok, yaitu gangsa yang ukuran selawahnya rendah dan tanpa resonator, dan dipaku pada dua buah lubang di kedua ujungnya. Ada juga yang memakai resonator, misalnya gangsa jongkok gong gede, yaitu berupa lubang di bawah bilahannya yang langsung dibuat pada selawahnya.
2. Gangsa gantung, yaitu gangsa yang ukuran selanjutnya agak tinggi dan memakai resonator dari bambu setinggi selawah tersebut. Dipasang dengan menggantungkannya pada celah paku yang dipasang setelah diikt atau dihubungkan satu daun dengan daun lainnya memakai benang atau jangat.

Suatu kelainan pada gangsa gantung di daerah Buleleng terlihat pada bentuk instrumen gong kebyarnya, khususnya mengenai pengugal, pemede, dan kantilnya. Yaitu dipaku pada selawahnya seperti meletakkan daun gangsa jongkok pada selawahnya.

Berdasarkan laras dan sistem nadanya ada beberapa macam gangsa, seperti :
1. Yang berlaras pelog :
a. Pelog lima nada atau saih lima, misalnya pada gambelan gong gede, gong kebyar, dan gambelan palegongan.
b. Pelog tujuh nada atau saih pitu, misalnya pada gambelan selonding, gong luang, gambang, dan semara pagulingan.
2. Yang berlaras selendro :
a. Selendro empat nada, misalnya pada gambelan angklung.
b. Selendro tujuh nada, misalnya gambelan angklung Buleleng.

Daun gangsa dibuat dari perunggu yang diproses di bengkel khusus yang disebut perapen. Setelah dilebur lalu dimasukkan ke dalam cetakan atau penyangkaan sesuai dengan ukuran yang dibuat. Kemudian dilaras nada-nadanya sesuai dengan jenis apa yang dibuat. Selawahnya juga dibuat, mengenai ukuran dan bahan yang dipakai sesuai dengan jenis gambelan tersebut. Badan selawah dibuat dari kayu, biasanya kayu nangka atau kayu jati, sedangkan resonatornya dari bambu.. Tali panggulnya dari benang atau jangat, atau cukup di paki jika yang dibuat gangsa jongkok.

Panggul untuk membunyikannya hanya sebuah. Berukuran kecil bila dipergunakan dalam jenis pukulan kekotekan seperti panggul untuk pemade dan kantil. Sebaliknya berukuran besar untuk jenis pukulan nyacah seperti pada gambelan gong gede dan gong luang. Tetapi perkecualian untuk gambelan slonding, ditabuh dengan memakai dua buah panggul masing-masing di tangan kiri dan kanan.

Sumber:
Triguna, Ida Bagus Gde Yudha, dkk,. 1994. Peralatan Hiburan dan Kesenian Tradisional Bali. Denpasar: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Vidu (Sulteng)

Vidu adalah suatu perhiasan yang diikatkan pada kepala seorang penari saat memainkan Tari Pajoge Maradika. Fungsi alat yang menyerupai kepala manusia namun berekor ini adalah sebagai lambang kebesaran, seperti halnya mahkota. Vidu terbuat dari sayapu nuavo (bambu yang berbuluh dan mengkilat), batang rumput alang-alang, manik-manik, caba, dan umbut kayu bakau.

Sedangkan, cara membuatnya mula-mula adalah membentuk sayapu buavo menyerupai kepala manusia. Setelah terbentuk, pada bagian tepinya digantungkan nida atau hiasan yang terbuat dari manik-manik dan caba. Kemudian, pada bagian belakang vidu digantungkan 5 hingga 6 buah jombe yang terbuat dari baco (kayu bakau yang dicat warna biru muda dan kuning) dan pimpi (batang alang-alang yang berukuran ½ cm). Sebagai catatan, saat ini bahan-bahan pembuat vido dapat menggunakan kardus yang mengkilat dan kancing hias berwarna-warni yang lebih menarik dan mudah didapatkan.

Sumber: http://www.infokom-sulteng.go.id

Gerantang (Bali)

Gerantang adalah nama instrumen yang terbuat dari bambu yang secara khas ada dan mendominasi pada barungan gambelan Joged Bungbung. Seperti alat-alat gambelan bambu lainnya, gerantang dibuat dari bambu khusus dan cara pembuatan yang khusus pula. Bambu yang dipakai adalah yang berukuran sedang dan agak tipis, yaitu tiing tamblang. Jenis bambu ini langka, biasanya didapati di daerah Bali Utara dan Buleleng.

Proses pengeringan dan penghalusannya sama seperti proses pembuatan suling dan rindik. Sedangkan cara pembuatannya jelas berbeda. Gerantang adalah termasuk instrumen pukul yang mempergunakan resonator tetapi dibuat dengan cara khusus, yaitu resonator tersebut tidak terpisah dari instrimen pokok gerantang itu sendiri atau dengan kata lain menjadi satu. Alat ini sebagian berupa tabung, yaitu dibagian bawahnya dan sebagian lagi berupa bilahan yang agak melengkung di bagian atasnya.

Sebatang bambu panjang sebagai bahan gerantang itu harus diperhatikan keadaannya yang menentukan seperti bagian pangkal dan ujungnya, ruas-ruasnya dan buku-bukunya. Batangan bambu gerantang sebagai bilahan instrumennya atau “bungbungnya” juga mempunyai bagian pangkal dan ujung yang tidak secara otomatis mengikuti pangkal dan ujung bahan bambu yang panjang. Bila pada ruas-ruas bahan cembungnya ke arah ujung muka bagian ujung itu sekaligus menjadi bagian ujung dari bilahan bungbung dan bagian bawahnya sebagai bukunya. Demikian pula sebaliknya bila bahannya cembung ke bawah maka di bagian itu yang dijadikan bilahan bungbung, sedangkan bagian atas sebagai bukunya.

Panjang bungbung gerantang berkisar antara satu ruas sampai dengan tiga ruas, atau kurang antara 45 cm sampai 95 cm dari nada tertinggi sampai dengan terendah. Alat-alat yang perlu dipersiapkan untuk membuatnya adalah gergaji untuk memotong, parang untuk menebas, dan pengutik untuk menghaluskan.

Berbeda dengan rindik atau bilahan gambelan yang dipakai, maka bilahan bungbung gerantang ini dipasang dengan digantung. Yang dilubangi hanya bilahan bagian ujungnya saja yang cara menggantungnya sama dengan pada rindik gandrung. Sedangkan bagian pangkal atau bungbungnya hanya diikat saja sedemikian rupa dengan tali berupa jalinan yang teratur, kemudian digantung pada selewahnya.

Cara membuat lubang pada bilahannya yaitu dengan memegang pada titik yang berjarak kira-kira seperempat bagian panjang bambu keseluruhan, terhitung dari ujung bilahan. Cara memegangnya dengan mengepit memakai ujung dua jari, biasanya jari manis dan jari ibu. Setelah dipegang, dicoba suaranya. Bila semuanya bagus titik yang dipegang itulah dilubangi. Bila suaranya masih kurang baik maka pegangan bisa dioper ke arah ujung atau pangkal sampai mendapatkan suara yang diinginkan.

Selawah gambelannya dibuat dari kayu berkaki empat seperti kaki meja. Karena bilahannya yan terpasang dari kiri ke kanan makin lama makin pendek sesuai dengan tinggi rendah nadanya, maka baik penampang bawah maupun atas yang kita andaikan ada, yang dibuat oleh kaki-kaki pelawah tersebut berupa trapesium. Jadi badan pelawah itu berupa prismatrapesium terpacung. Biasanya juga pelawah itu di cat, digambari, atau kadang-kadang diukir.

Satu tungguh gambelan dipukul oleh satu orang sambil duduk bersila dengan memakai panggul dua batang. Panjang panggul lebih kurang 40 cm, tangkainya dibuat dari bambu. Sedangkan ujungnya yang akan mengenai bilahan gambelan bentuknya bundar pipih, dibuat dari karet yang agak keras atau kayu yang agak lunak. Yang dari karet biasa untuk memukul “gerantang pangede” atau yang berukuran besar, sedangkan yang bahannya kayu untuk memukul gerantang kantil atau yang berukuran kecil. Dalam memukul gerantang pamade, tangan kiri yang memukul daerah nada yang rendah menghasilkan melodi pokok saja, sedangkan tangan kanan yang memukul daerah nada yang tinggi menghasilkan variasi-variasi pukulan kotekan.

Gerantang tiap-tiap tungguh memiliki sebelas bilah nada, yaitu yang berlaras selendro. Dalam satu set gambelan Joged Bungbung ada delapan tungguh gerantang, yaitu empat tungguh atau dua pasang gerantang pamade dan dua pasang gerantang kantil. Dibuat berpasang-pasangan karena seperti jenis gambelan yang lain, ada yang memakai teknis pukulan “polos” dan yang lain pukulan sangsih.

Di samping berkomposisi dalam satu barungan gambelan, secara tersendiri satu atau dua tungguh gambelan dimiliki oleh perseorangan, dan dibunyikan semata-mata sebagai hiburan waktu senggang. Barungan gambelan lengkap dipergunakan untuk mengiringi tari Joged Bungbung yang berfungsi sebagai hiburan yang berciri khas tari pergaulan.

Sumber:
Triguna, Ida Bagus Gde Yudha, dkk,. 1994. Peralatan Hiburan dan Kesenian Tradisional Bali. Denpasar: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Cara Pasang Tali Layangan agar Manteng di Udara
Topeng Monyet
Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama

Archive