Pulau Nikoi

Nikoi merupakan satu dari 1.062 buah pulau yang termasuk dalam wilayah Provinsi Kepulauan Riau. Luas keseluruhannya hanya sekitar 15 hektar, terletak di lepas pantai timur Bintan atau sekitar 8 kilometer dari pelabuhan Kawal. Nama Nikoi sendiri diambil dari bahasa Hokkian yang berarti pepaya (paw paw), pohon yang dahulu mendominasi pulau itu (pedomanwisata.com).

Di Kepulauan Riau, Nikoi pernah dikategorikan sebagai pulau kecil yang tidak berpenghuni. Namun walau berukuran kecil, Nikoi memiliki keindahan luar biasa sehingga membuat banyak orang berusaha menguasainya. Pulau asri berpasir putih serta berpantai bersih yang memiliki karang koral warna-warni ini dianggap berpotensi sebagai aset wisata karena terletak hanya sekitar 85 kilometer dari Singapura.

Adapun orang yang berhasil menguasainya adalah pasangan dari Australia bernama Andrew dan Julia Dixon. Mereka menyewa Pulau Nikoi pada tahun 2005 sebagai sarana pariwisata (Malik, 2016). Hasilnya, pada tahun 2007 Nikoi menjelma menjadi sebuah resort bertaraf internasional dengan konsep "Back to Nature" bernama Nikoi Island Resort. Mengutip Conde Nast Traveller, Malau (2016) menyatakan bahwa konsep back to nature diadopsi dalam bentuk konsumsi energi yang sangat irit dan ramah lingkungan. Resort hanya menggunakan genset untuk memenuhi kebutuhan minimum kelistrikan, sehingga tidak memungkinkan ada televisi dan atau penyejuk udara di kamar/cottage. Sebagai solusinya, pihak pengelola memaksimalkan desain bangunan cottage yang ada dalam resort dengan ventilasi alami penggunaan kayu apung sebagai material konstruksi dan beratap ilalang.

Meski berkonsep alami, Nikoi Island Resort memiliki berbagai macam fasilitas yang dikelola secara profesional, di antaranya: 48 buah cottage panggung beratap rumbia, kolam renang dewasa yang dibangun di antara bebatuan granit di sisi utara dan timur pulau, kolam renang bagi anak-anak, dan indoor entertainment berupa lapangan tenis, bar area, serta bioskop mini (Manuel, 2015). Sementara untuk menikmati hidangan khas Melayu kepulauan, pengelola menyediakan dua buah lokasi kuliner. Lokasi pertama diperuntukkan bagi wisatawan yang datang bersama keluarga, sedangkan lokasi lainnya didesain lebih romantis bagi para pasangan yang sedang memadu kasih (Hidayati, 2017).

Pengelolaan secara profesional tersebut membuat Nikoi Island Resort sering mendapatkan penghargaan bergengsi. Malau (2016) mencatat ada sejumlah penghargaan, yaitu: Treehugger - Best Resort Award 2013, Conde Nast - World's Best Private Islan Resorts (2013), Travel+Leisure - Global Vision Award Sustainability (2013), runner-up Wild Asia'a 2009 Responsible Tourism Awards kategori operator akomodasi kecil-menengah, dan terakhir dinobatkan sebagai The Best Private Island 2016 oleh Majalah Conde Nast Traveller. Penghargaan ini diraih setelah mengalahkan sembilan private island lain, yaitu: Amanpula (Filipina), Turtle Island (Fiji), Island Lake Malaren (Swedia), Ariara Island (Filipina), Necker Island (Kepulauan Virgin), Velaa Island (Maladewa), Pulau Utara (Selandia Baru), Ile des Deux Cocos (Mauritius), dan Parrot Cay (Caribia).

Bagaimana? Anda tertarik mengunjungi Pulau Nikoi untuk menikmati pemandangan alam yang luar biasa indah dengan pelayanan resort kelas dunia? Apabila berminat, jauh hari sebelumnya harus melakukan reservasi karena pihak pengelola hanya menyediakan cottage dalam jumlah terbatas. Itu pun dengan harga yang fantastis (bagi turis berkantong cekak). Manuel (2015) mencatat, harga kamar per harinya antara Rp.3,6 juta-Rp.7,9 juta, sementara bila menyewa satu pulau penuh mencapai Rp.151 juta (senin-kamis) dan Rp.189 juta untuk hari sabtu dan minggu.

Jadi, dapat dipastikan bahwa pulau ini hanya bagi kalangan menengah-atas yang ingin menikmati privasi hidup tanpa gangguan orang lain. Alias orang-orang (karena statusnya) ingin berbeda dengan kalangan kebanyakan yang selalu hidup berdesakan dan berhimpitan dalam sempitnya ruang publik. Sebuah kecenderungan pembentukan citra kelas lebih elegan dan mewah yang dimanfaatkan kaum kapitalis mengeruk keuntungan besar ^_^. (ali gufron)

Foto: http://gayahidup.dreamers.id/article/38810/pulau-nikoi-kepulauan-riau-finalis-world-legacy-award-2015-oleh-national-geographic
Sumber:
"Pulau Nikoi: Surga Tropis di Laut Cina Selatan", diakses dari https://www.pedomanwisata.com/wisata-bahari-pantai/pantai-pasir-putih/pulau-nikoi-surga-tropis-di-laut-cina-selatan, tanggal 5 Januari 2018.

Malik, Sayuti. 2016. "Menuju Pulau Nikoi Kabupaten Bindan di Provinsi Kepulauan Riau Indonesia", diakses dari http://halamankepri.blogspot.co.id/2016/10/menuju-pulau-nikoi-kabupaten-bintan-di.html, tanggal 5 Januari 2018.

Malau, Srihandriatmo. 2016. "Kedasyatan Pulau Nikoi di Bintan Hingga Jadi The Best Private Island 2016", diakses dari http://www.tribunnews.com/travel/2016/07/13/kedahsyatan -pulau-nikoi-di-bintan-hingga-jadi-the-best-private-island-2016?page=3, tanggal 6 Januari 2018.

Manuel, Erlinel. 2015. "Pulau Nikoi - Ketika Surga Harus Dibayar Mahal", diakses dari http://www.ceritadimulai.com/2015/03/pulau-nikoi-ketika-surga-harus-dibayar.html, tanggal 6 Januari 2018.

Hidayati, Nurul. 2017. "Lukisan Alam Pulau Nikoi, Pulau dengan Pemandangan yang Menakjubkan dan Menenangkan Hati", diakses dari https://www.tempat.co.id/wisata/Pulau-Nikoi, tanggal 6 Januari 2018.
Dilihat: