Putri Kemarau

(Cerita Rakyat Daerah Sumatera Selatan)

Alkisah, ada sebuah kerajaan di daerah Sumatera Selatan. Awalnya kerajaan ini makmur, tenteram, gemah rihap lohjinawi. Entah kenapa, suatu ketika seluruh wilayahnya dilanda kekeringan berkepanjangan. Sungai, danau, dan mata air secara perlahan menyusut dan mengering. Akibatnya, tanah retak-retak, tetumbuhan dan binatang ternak mati. Rakyat menjadi kelaparan. Banyak diantara mereka meninggal karena kekurangan makan dan atau terserang penyakit akibat sanitasi kurang baik.

Sang Raja yang bertanggung jawab terhadap kesejahteraan rakyat menitah patih kepercayaannya mencari peramal ahli dalam membaca gejala-gejala alam agar keadaan dapat dikembalikan seperti sedia kala. Namun, setelah berkali-kali membawa peramal ke kerajaan, tidak ada seorang pun yang mampu memberi jalan keluar.

Ketika harapan semakin menipis, suatu hari Sang Raja mendapat bisikan gaib yang muncul dalam mimpi. Si pembisik mengatakan bahwa ada seorang peramal sakti mandraguna tinggal di sebuah desa terpencil. Peramal itu bersedia memberikan bantuan asalkan Sang Raja sendiri yang datang meminta.

Tanpa membuang waktu dia memerintahkan para pengawal mengemasi barang-barang sebagai bekal perjalanan menuju desa tempat tinggal Si Peramal. Beberapa minggu kemudian sampailah mereka di desa yang dituju. Oleh karena sangat terpencil dan hanya sedikit orang yang menetap di situ, dengan mudah raja dapat menemukan tempat tinggal Si peramal.

"Wahai Tuan Raja, adapun orang yang dapat menyelesaikan masalah ini adalah putri Tuan sendiri," kata Si Peramal ketika Sang Raja mengutarakan masalahnya.

Mendengar jawaban tersebut Raja sebenarnya agak bingung. Bagaimana mungkin putri semata wayangnya dapat menyelesaikan masalah kerajaan yang dia sendiri tidak mampu mengatasi. Tetapi karena itulah satu-satunya jawaban Si Peramal, Sang Raja segera pulang dan mencoba bertanya pada putrinya yang bernama Jelitani. Dia kebetulan lahir pada musim kemarau sehingga oleh kawan-kawan sepermainan sering disapa Putri Kemarau. Ketika Jelitani lahir sang ibu mengalami pendarahan hebat yang membuat nyawanya tidak dapat diselamatkan.

Sesampai di istana Sang Raja memanggil Jelitani alias Kemarau dan menceritakan pertemuan dengan Si Peramal. Sang Putri yang religius agak terkejut mendengarnya. Dia tidak mungkin menemukan jalan keluar atas kekeringan berkepanjangan yang melanda negerinya. Oleh karena itu, dia menyarankan agar seluruh rakyat berdoa dan meminta pertolongan pada para dewa.

Saran Putri Jelitani tadi bagaikan sebuah pencerahan bagi Sang Raja. Selama ini dia hanya sibuk mencari pertolongan para peramal. Tidak sedikit pun terpikir bahwa masih ada langit di atas langit. Sang Raja kemudian menitah prajurit istana memberitahu rakyat bahwa akan ada doa bersama di lapangan istana pada hari dan waktu yang telah ditentukan.

Setelah doa bersama dilangsungkan, malam harinya Sang Raja dan Jelitani bermimpi didatangi oleh mendiang permaisuri (Sang Ibunda). Dalam mimpi tersebut Permaisuri mengatakan bahwa apabila ingin terbebas dari bencana kekeringan, harus ada seorang gadis yang rela berkorban dengan menceburkan diri ke laut.

Pagi harinya Putri Jelitani langsung mendatangi Sang Raja untuk menceritakan mimpi tadi malam. Sang Raja yang juga mendapat mimpi sama merasa bahwa itu adalah pertanda dari para dewa. Tetapi mana ada orang yang mau berkorban demi keselamatan bersama. Apalagi yang dikehendaki adalah seorang gadis yang belum banyak memiliki pengalaman hidup. Dia kemudian menitah prajurtinya mengumpulkan lagi rakyat di alun-alun kerajaan. Siapa tahu ada di antara mereka ada yang rela mengorbankan diri.

Setelah rakyat berkumpul, Raja menyampaikan "Pesan Dewa" yang diperoleh lewat mimpi. Dan, benar saja, tidak ada seorang pun yang mau berkorban. Para gadis hanya terdiam sambil menundukkan kepala. Ada pula yang bersembunyi di balik lautan manusia karena takut Raja murka dan memerintahkan prajurit menarik paksa salah seorang di antara mereka.

Di tengah keheningan tersebut, tiba-tiba Jelitani bangkit dan berkata sanggup mengorbankan diri. Seluruh rakyat tercengang mendengarnya. Tidak terkecuali Sang Raja yang kaget bukan kepalang karena putri semata wayang rela berkorban demi kepentingan orang banyak. Dia berusaha mencegah, namun tekad Jelitani begitu kuat dan tidak dapat dibendung lagi.

Oleh karena tidak kuasa membendung keinginan Jelitani, Raja pun menyerah. Bersama rakyat dia mengantar Jelitani menuju sebuah tebing di tepi laut. Setelah berpamitan dan meminta maaf atas segela kesalahan pada raja dan segenap rakyat Putri Jelitani terjun dari tebing. Bersamaan dengan tenggelamnya tubuh Jelitani, langit menjadi gelap disertai petir menyambar-nyambar disusul hujan sangat lebat.

Para pengantar mulai berlarian menuju rumah masing-masing dengan perasaan sedih sekaligus gembira. Mereka sedih karena satu-satunya putri kerajaan harus pergi meninggalkan dunia. Namun di lain sisi, kepergian Putri Jelitani memberi jalan keluar bagi masalah kekeringan berkepanjangan yang mengakibatkan banyak memakan korban jiwa.

Sebaliknya, Sang Raja yang baru kehilangan putri semata wayang seolah tidak peduli dengan datangnya hujan yang selama ini ditunggu-tunggu. Dia hanya duduk termenung di singgasana tanpa berbuat apa-apa. Di saat pikirannya melayang entah kemana, tiba-tiba dia mendengar bisikan gaib yang mengharuskan kembali ke lokasi Jelitani menerjunkan diri.

Tanpa dikawal prajurit, Sang Raja berlari menuju tebing tepi laut. Sesampai di sana dia melihat Jelitani tengah berdiri di atas sebuah karang. Berkat keikhlasan mengorbankan diri demi kepentingan orang banyak, Jelitani diselamatkan para dewa sehingga secara ajaib tidak tenggelam dan terluka sedikit pun.

Diceritakan kembali oleh ali gufron
Dilihat: