Mencari Kedamaian Melalui Budaya Spiritual

Oleh Wardoyo Sugianto

Pengantar
Tulisan ini hanyalah merupakan catatan-catatan kecil yang berisi uraian-urian singkat tentang beberapa pengertian/definisi yang berkaitan dengan judul tersebut di atas, dan dimaksudkan hanya sebagai pegangan tertulis dalam mendengarkan uraian saya selanjutnya.

Budaya/Kebudayaan
Secara umum dalam arti yang sederhana pengertian kebudayaan menurut Prof Dr Soekmono adalah : segala hasil cipta, rasa dan karsa manusia.

Akan tetapi pengertian ini sangatlah luas cakupannya sehingga cukup memingungkan dan mungkin agak rancu untuk memahaminya.

Secara lebih rinci Soekmono dalam bukunya Sejarah Kebudayaan Indonesia menyebutkan pengertian istilah kebudayaan sbb :

Segala ciptaan manusia, yang sesungguhnya hanyalah hasil usahanya untuk mengubah dan memberi bentuk serta susunan baru kepada pemberian Tuhan sesuai dengan kebutuhan jasmani dan rokhaninya, itulah yang dinamakan kebudayaan. Maka pada hakekatnya kebudayaan itu mempunyai dua segi, bagian yang tak dapat dilepaskan hubungannya satu sama lain yaitu :

1. Segi kebendaan, yang meliputi segala benda buatan manusia sebagai perwujudan dari akalnya. Hasilnya dapat diraba.

2. Segi kerokhanian, yang terdiri atas alam pikiran dan kumpulan perasaan yang tersusun teratur. Keduanya tak dapat diraba, hanya penjelaannya saja yang dapat difahami dari segi keagamaan, kesenian, kemasyarakatan dan sebagainya.

Spiritual
Istilah yang berasal dari bahasa Latin : Spiritus, roh, dan berarti yang serba roh, yang berkaitan dengan masalah kerokhanian.

Animisme
Berasal dari bahasa latin: anima, nyawa, roh. Diartikan sebagai kepercayaan akan adanya roh-roh atau nyawa-nyawa; manusia mempunyai roh yang hidup terus sesudah ia mati (arwah); selain daripada itu seluruh alam pun bernyawa. Pohon, gunung, sungai, laut, bintang-binatang mempunyai nyawa. Animisme ini terkadang sukar dibedakan dengan polytheisme, sedangkan istilah animisme ini sendiri adalah ciptaan E.B. Tylor (1832-1917), ahli ethnology yang sampai sekarang tetap berpengaruh.

Dinamisme
Istilah yang digunakan untuk menamai kepercayaan terhadap kekuatan-kekuatan gaib yang terdapat dalam alam semesta ini.

Ethic
Kata ethic berasal dari bahasa Yunani ethos yang mengandung arti : watak, kesusilaan atau adat. Dalam bahasa Indonesia istilah ini lebih dikenal sebagai etika, yang hampir sama dengan moral dan berarti cara hidup atau adat.

Juga dijelaskan bahwa ethic dimaksudkan pula sebagai kumpulan azas atau nilai yang berkaitan dengan akhlak. Begitu pula ethic dijelaskan sebagai nilai mengenai benar atau salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat. Dalam hal ini, nilai yang dianggap benar oleh suatu golongan/masyarakat yang satu belum tentu dianggap benar oleh golongan/masyarakat yang lain, karena masing-masing mempunyai kriteria tersendiri untuk menentukan nilai-nilai yang dianutnya.

Untuk menentukan segala sesuatu yang baik dan yang buruk, di dalam masyarakat perlu adanya norma yang dijadikan acuan. Norma merupakan aturan, ukuran atau pedoman untuk menentukan mana yang dianggap baik atau buruk, salah atau benar. Ada tiga buah norma yang berlaku dalam masyarakat yaitu : sopan-santun, hukum dan moral.

Norma sopan-santun berkaitan dengan kebiasaan/adat-istiadat dan bisa berubah sesuai dengan kebutuhan/perkembangan jaman.

Norma hukum terdiri dari pidana dan perdata yang masing-masing mempunyai sangsi tersendiri.

Norma moral adalah nilai-nilai yang ada hubungannya dengan moral/kebiasaan, dan yang paling peka hubungannya dengan norma moral biasanya adalah masalah-masalah seksual.

Pengertian lain mengenai ethica adalah : ilmu/filsafat tentang kesusilaan yang menentukan bagaimana patutnya hidup dalam masyarakat, apa yang baik dan apa yang buruk; segala ucapan senantiasa harus berdasarkan hasil-hasil pemeriksaan tentang peri keadaan hidup dalam arti kata seluas-luasnya.

Sering juga dikatakan bahwa ethica adalah sebuah pengetahuan yang mempelajari konsep-konsep nilai dari alam secara sistematik, sepertia apa yang dimaksud dengan : baik, buruk, sukar, salah dan sebagainya, serta penerapannya untuk dipakai dalam prinisp-prinsip umum yang digunakan sehari-hari.

Mawas Diri
Mawas Diri adalah kata-kata bahasa Jawa yang kemudian secara umum dinaturalisasikan ke dalam bahasa Indonesia, yang mempunyai pengertian : meninjau ke dalam pribadi sendiri, ke dalam hati nurani guna mengetahui benar tidaknya serta dapat dipertanggungjawabkan atau tidaknya suatu tindakan yang telah dilakukan seseorang.

Secara teknis psikologis usaha tersebut dapat dinamakan introspeksi, yang pada dasarnya adalah pencarian tanggung jawab ke dalam hati nurani tentang suatu perbuatan.

Namun dalam masyarakat Penghayat Keperayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa mawas diri itu merupakan pemantapan sikap dalam kehidupan sehari-hari, sehingga bersifat mendasar, bukan sekedar insidental saja.

Manfaat dari mawas diri adalah pertama-tama sebagai pengamanan preventif dan selanjutnya untuk mencari jawaban atas persoalan yang dihadapinya, antara lain apakah suatu perbuatan yang akan dilakukannya atau suatu tindakan yang telah diambilnya secara moral dapat dibenarkan dan dipertanggungjawabkan.

Jawaban akan diperoleh dengan jalan menelaah hati nurani yang selalu dekat dengan tuntunan kesucian.

Mawas diri dewasa ini telah demikian kokoh kedudukannya di dalam perbendaharaan kata Indonesia dan sudah demikian meluas pula dalam pemakaiannya di dalam bahasa Indonesia, sehingga hampir-hampir tak terasa lagi istilah yang sebenarnya berintikan penghayatan rohani yang mewarnai sikap masyarakat Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Mawas diri ini dihayati dalam masyarakat Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa sejak jaman dahulu.

Kegiatan mawas diri, mulat sarira atau introspeksi merupakan suatu yang hanya dapat didekati dengan rasajati masing-masing dan bukan semata-mata dengan pikiran logisnya.

Namun dalam pola berpikir secara bermoral di dalam masyarakat kita terdapat juga anjuran penerapan mawas diri ini, karena masyarakat percaya akan arti dan manfaat positif dari kebiasaan untuk mawas diri.

Sangkan Paraning Dumadi
Ciri paling utama Kejawen adalah sifatnya yang religius. Orang Jawa pada umumnya percaya tentang adanya Tuhan. Munculnya pandangan tentang sangkan paraning dumadi tentunya juga dikarenakan sifat budaya Kejawen yang religius tadi. Sangkan paraning dumadi adalah kata-kata bahasa Jawa yang berarti : asal dan tujuan segala sesuatu yang ada di dunia ini. Menurut pandangan Jawa, manusia dan segala yang ada di alam semesta ini berasal dari Tuhan Yang Maha Esa. Oleh karena kita berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan, maka agar kembalinya tidak salah alamat, kita harus berjalan di atas rel yang merupakan jalan yang sudah disediakan Tuhan.

Pandangan bahwa Tuhan merupakan sangkan paraning dumadi tampak dari bunyi salah satu bait tembang Dhandhang Gula seperti di bawah ini :

Saking pundi kawitane nguni
Manungsa kutu walang ataga
Kang gumelar ngalam kiye
Sayekti kabeh iku
Mesthi ana ingkang nganani
Yeku Kang Karya Jagad
Ingkang Maha Agung
Iku kang dadi sangkannya
Iya iku kang dadi paranireki
Sagunging kang dumadya

(Dari mana asal-mulanya dulu
Manusia dan segala makhluk
Segala yang ada di alam ini
Sebenarnyalah semua itu
Pasti ada yang mengadakan
Yaitu Pencipta Alam Semesta
Tuhan Yang Maha Agung
Itulah asal-mula
Dan itulah pula tujuan akhir
Dari semua yang ada)

Kutipan tersebut menunjukkan bahwa manusia dan segala makhluk yang ada di alam semesta ini berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan.

Selanjutnya masih ada satu bait tembang Dhandhang Gula lagi yang dapat lebih memperjelas makna sangkan paraning dumadi ini yaitu :

Kaweuhanan sejatining urip
Manungsa urip ana ing donya
Prasasat mung mampir ngombe
Umpama manuk mabur
Oncat saking kurunganeki
Ngendi pencokan benjang
Ywa kongsi kaliru
Umpama wong lunga sanja
Njan-sinanjan nora wurung
Mesthi mulih
Mulih mula-mulanya

(Ketahuilah perihal hidup sejati
Manusia hidup di dunia
Ibarat hanya singgah untuk minum
Ibarat burung terbang
Lepas tinggalkan kurungan
Di mana nanti hidup
Janganlah keliru
Ibarat orang bertandang
Saling tengok toh akhirnya
Harus pulang
Pulang ke asal-mula)

Dari bait tembang tersebut di atas dapat kita ketahui bahwa hidup ini menurut pandangan Jawa sangat singkat. Ungkapan prasasat mung mampir ngombe (ibarat hanya singgah untuk minum) sangat tepat untuk menggambarkan betapa singkatnya waktu yang harus dijalani manusia dalam hidupnya. Oleh karena hanya sebentar, maka waktu yang tiidak lama tadi harus digunakan dengan sebaik-baiknya agar bila ro kita lepas dari raganya tidak keliru “tempat hinggapnya” kelak. Mengapa demikian karena “tempat hinggap” tadi ditentukan oleh amal dan perbuatan kita selama hidup di dunia. Kalau kita selalu berbuat seperti apa yang dikehendaki Tuhan tentulah kita akan menemukan “tempat hinggap” yang benar, yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Hal ini perlu mendapat perhatian, karena bila hidup ini diibaratkan orang bertandang ke rumah orang lain, suatu saat pasti akan kembali pulang ke asalnya.

Menarik bahwa pengetahuan tentang sangkan paraning dumadi ini menurut Franz Magnis Suseno Sj dapat dijelaskan melalui kisah Dewaruci yang memuat inti kebijaksanaan mistik Jawa, yaitu pengertian bahwa manusia harus sampai pada “sumber air hidupnya” apabila ia mau mencapai kesempurnaan, dan dengan demikian sampai pada realitasnya yang paling mendalam. Sumber air itu tidak ditemukan dalam alam di luar diri manusia, melainkan berada di dalam diri manusia itu sendiri sebagaimana dilambangkan oleh Dewaruci yang berbentuk kecil mirip dengan Bima. Kemiripan Dewaruci dengan Bima menunjukkan bahwa Dewaruci sendiri sebenarnya bukanlah sesuatu yang asing, melainkan batin Bima sendir. Sesudah memasuki batinnya sendiri Bima teringat bahwa pada dasar hakekatnya ia berasal-usul Illahi.

Dalam ingatan itu ia kembali menghayati kesatuan hakikinya dengan asal-usul Illahi itu, kesatuan hamba dengan Tuhan. Melalui kesatuan itu manusia mencapai apa yang oleh orang Jawa disebut kawruh sangkan paraning dumadi yang berarti : pengetahuan tentang asal (sangkan) dan tujuan (paran) segala apa yang diciptakan (dumadi).

Mulat Sarira Hangrasa Wani

Rahayu,
Yogyakarta, 29 Juni 2009
Wardoyo Sugianto

Sumber:
Makalah disampaikan dalam Dialog Budaya Spiritual DIY di Wisma PU Yogyakarta, 29-30 Juni 2009 yang diselenggarakan oleh Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Yogyakarta.
Dilihat: