Bubur Ayak (Makanan Tradisional Orang Batin dan Penghulu)

Bubur ayak adalah jenis makanan tambahan sebagai selingan yang sangat disukai oleh masyarakat Batin Merangin. Bubur ayak ini disebut juga dengan bubur sumsum. Dinamakan bubur ayak, karena bahan utamanya adalah tepung beras yang telah diayak (ditapis) menjadi halus yang kemudian diuli seperti cendol. Menurut kebiasaan masyarakat Merangin, bubur ini tidak diberi pewarna begitu juga santannya sehingga tampilan warna bubur ini adalah putih bersih. Adapun alasan tidak perlu diberikan pewarna, adalah karena menurut kognitif orang batin Merangin warna putih adalah gambaran dari kebersihan dan kesucian hati. Bubur ini disantap untuk sarapan atau dapat juga dijadikan pengganti makan siang karena bahan dasarnya yang dapat mengenyangkan. Bubur ini tidak dijadikan makanan sehari-hari, tetapi hanya sekali-kali saja mereka menghidangkannya yaitu pada saat pesta besar, panen raya dan juga pada saat adanya rapat-rapat panitia sesuatu perkumpulan.

Bubur ayak ini disuguhkan pada saat “hari baik” yaitu hari-hari besar agama Islam seperti Maulud Nabi dan Idulfitri. Selain itu, dalam setiap perkumpulan-perkumpulan sosial disuguhkan juga bubur ini. Demikian juga pada saat adanya suatu rapat-rapat di sekitar desa, dan juga pada waktu arisan ibu-ibu sebagai makanan selingan utama disamping kue-kue ringan dan minuman teh atau air putih. Sebagai makanan tambahan, bubur ini tidak dijual di warung-warung atau toko-toko kue. Penduduk yang ingin menyantapnya harus membuat membuat sendiri bubur ini.
Berbicara tentang makanan tradisional pada dasarnya mempunyai kaitan yang erat dengan kondisi lingkungan alam dan mata pencaharian penduduk daerah setempat. Kabupaten Merangin terletak di sebelah barat kota Jambi yang jaraknya bisa dicapai sekitar 6-7 jam perjalanan naik bus atau kendaraan lain sampai di kota Bangko, ibu kota Kabupaten Merangin yang beberapa tahun lalu memisahkan diri dari Kabupaten Sarolangun.

Menurut cerita rakyat daerah Merangin, nenek moyang orang Batin adalah suku bangsa Kerinci yang pindah ke daerah tempat tinggal yang sekarang. Oleh karena itu pada masa lalu, daerah orang Batin ini disebut “Kerinci Rendah” (M. Junus Melalatoa: 1995:136).

Di lain pihak beberapa kalangan menyatakan bahwa daerah ini dulunya merupakan pusat sebuah kerajaan kecil yang berhubungan dengan kerajaan di Tiongkok, dengan pembuktian ditemukannya pecahan-pecahan porselen yang diperkirakan berasal dari zaman kerajaan-kerajaan di Tiongkok. Penemuan sejarah lain adalah batu bergigi panjang yang disebut “Betung Bertakuk” dan “Batu Larung”, yang diperkirakan merupakan sisa-sisa peninggalan agama Hindu.

Sebagaimana orang Kerinci di tempat asal (kaki gunung Kerinci) dipengaruhi oleh budaya Minangkabau, maka orang Batin juga demikian yang nampak kehidupannya. Jadi kebudayaan Batin merupakan perpaduan unsur-unsur kebudayaan Minangkabau dengan Melayu Jambi. Perpaduan tersebut dapat dilihat dalam hal, misalnya bahasa. Bahasa Batin termasuk bagian dari bahasa Melayu Jambi, tetapi banyak dipengaruhi oleh bahasa Minangkabau, misalnya: perubahan bunyi dalam akhir kata: “at” menjadi “ek” (membuat-membuek), as menjadi eh (lepas-lepeh). Namun demikian pada pusat kota kabupaten untuk kecamatan mereka memakai dialek bahasa Melayu seperti di Bangko.

Versi lain, suku bangsa Batin adalah berasal dari Mataram yaitu sebagian dari pasukan-pasukan dari “Ekspedisi Pamalayu” dan pendatang-pendatang dari Jawa yang pada masa setelah ekspedisi Pamalayu dan lahirnya Kerajaan Pagarruyung, pendatang dari Jawa banyak yang datang ke Jambi sampai ke Pagarruyung.

Cara pembuatan bubur ayak adalah tepung beras di uli (tepung diadon dengan air secukupnya). Lalu dibuat menyerupai cendol bulat dimasukkan ke dalam panci, lalu dijerangkan setelah ditaruh sedikit air (panas atau dingin) dan diaduk-aduk sampai merata. Setelah mendidih, ditaruhlah santan yang telah dicampur dengan gula, lalu diaduk hingga merata.

Dengan mengetahui masakan dan cara memasak makanan tersebut, akan semakin menambah khasanah budaya daerah terutama dalam hal masakan tradisional. Hal ini sekaligus untuk dapat membedakannya dengan masakan daerah lain, karena mungkin saja daerah lain pun mempunyai masakan yang namanya sama dan hampir serupa, tetapi bahan dasar yang digunakan, penyajiannya, dan atau cara memasaknya bisa berbeda, sesuai dengan latar dan cita rasa sesuatu masyarakat pendukungnya. Perbedaan dalam bahan, bumbu atau cara memasaknya serta penyajiannya akan menimbulkan cita rasa yang berbeda dan mengingatkan kita kepada siapa dan dari daerah mana yang membuat makanan tersebut.

Bubur ayak ini disuguhkan pada saat “hari baik” yaitu hari-hari besar agama Islam seperti Maulud Nabi dan Idulfitri. Selain itu, upacara atau acara penting seperti pesta-pesta besar, panen raya, dalam setiap perkumpulan-perkumpulan sosial disuguhkan juga bubur ini. Demikian juga pada saat adanya suatu rapat-rapat di sekitar desa, dan juga pada waktu arisan ibu-ibu sebagai makanan selingan utama disamping kue-kue ringan dan minuman teh atau air putih.

Menurut orang Merangin makanan khusus untuk upacara juga diklasifikasi menjasi 2 (dua) bagian, yaitu makanan untuk obyek upacara dan makanan untuk pendukung upacara. Menurut kepercayaan lama orang Merangin makanan untuk obyek upacara itu merupakan sesajen, dan makanan untuk pendukung upacara yang ditujukan kepada para pendukung upacara.

Makanan untuk para pendukung upacara ini masih dapat lagi dibedakan menjadi dua bagian, yaitu: (1) makanan yang utama dan sudah mentradisi setiap melakukan upacara tertentu; (2) adalah makanan tambahan yang apabila tidak lengkap maka setiap pendukung upacara merasa ada suatu kekurangan, tetapi makanan tambahan dibuat atau tidak dibuat pun tidak mempengaruhi jalannya upacara.

Kadang-kadang suatu jenis makanan dalam suatu upacara tertentu hanya merupakan makanan tambahan belaka yang maknanya hanya sebagai pelengkap untuk melengkapi makanan utama. Namun, karena suatu perubahan, bisa saja suatu makanan tertentu dulunya tidak pernah termasuk makanan utama dalam suatu upacara, menjadi makanan utama pada upacara sekarang atau di masa datang, baik karena disengaja ataupun tidak. Inilah salah satu yang menunjukkan kedinamisan suatu kebudayaan.

Cara menghidangkannya, apabila bubur telah masak lalu diangkat dari panci dan disendok ke dalam mangkuk besar. Seluruh keluarga dapat mengkonsumsinya. Bubur ini dapat dihidangkan pada waktu pagi hari sebagai pengganti makan pagi atau sarapan, siang hari, dan sore hari, tergantung saat mana ibu rumah tangga memasak atau menghidangkannya.

Bubur ayak merupakan salah satu jenis makanan yang digunakan dalam upacara keagamaan. Seperti diketahui masyarakat Batin sangat identik dengan Islam karena hampir segala sesuatu, ucapan maupun perbuatan harus berdasarkan syariat ajaran Islam.Hal ini tergambar dari ungkapan, “adat berdasarkan syara, syara berdasarkan Kitabullah” Di daerah Merangin, setiap upacara agama Islam selalu diperingati seperti Maulid Nabi Muhammad Salallahu ‘Alaihis Sallam, Idul Qurban, Idul Fitri, Tahun Baru Islam (tanggal 1 Muharram), Isra Mi’raj, dan lain-lain. Adapun tujuan upacara-upacara tersebut adalah untuk menanamkan ajaran Islam secara lebih mendalam disamping untuk lebih mencintai agama Islam. Makanan ini ditujukan untuk para pendukung upacara setelah selesai suatu acara dilaksanakan. Dalam setiap upacara yang bersifat keagamaan ataupun pesta-pesta adat, masyarakat daerah Merangin selalu mengenakan pakaian Muslim yaitu perempuan memakai baju kurung atau ada pula yang mengenakan kebaya labuh (kebaya panjang) satu stel dengan padanannya kerudung atau jilbab. Laki-laki mengenakan baju kurung yang dinamakan teluk belanga, cekak musang atau baju muslim (koko) dengan padanan celana panjang yang sama warnanya atau baju kurung satu stel serta mengenakan kain sarung atau songket yang dilipat dua hingga separuhnya saja dan dililitkan di pinggang. Cara mengenakannya ada yang di luar baju kurung dan ada pula yang di dalam baju kurung tersebut, sedangkan untuk penutup kepala dipakai kopiah atau songkok.

Kembali ke masalah bubur, umumnya dikenal oleh masyarakat Jambi, khususnya daerah Merangin karena penduduk di daerah setempat masih mempertahankan budaya Islami yang telah diwarisi secara turun-temurun.

Alat yang dipergunakan untuk memasak bubur ayak adalah panci besar untuk merebus. Ayak atau saringan untuk mengayak tepung yang terbuat dari nilon halus. Kukuran kelapo atau parutan kelapa untuk memarut kelapa. Kemudian tapisan kelapo atau alat penyaring santan. Mangkok-mangkok atau piring untuk tempat menghidangkannya, serta sendok untuk menyantapnya.

Dalam kehidupan masyarakat di daerah Merangin, masakan bubur ayak mempunyai fungsi untuk menjalin kehidupan sosial. Dengan kata lain, bahwa bubur ayak mempunyai nilai sosial, karena dalam makan bersama telah memperlihatkan selera yang sama sehingga hal itu dapat mempererat tali persaudaraan.

Selain mengandung nilai sosial, bubur ayak ini juga mengandung nilai budaya, karena makanan tradisional ini menjadi salah satu sarana upacara keagamaan yang telah dilakukan turun-temurun.

Sumber:
Setiati. Dwi, 1999/2000, Tata Saji Hidangan Melayu Pada Peringatan Hari-Hari Besar Islam Di Daerah Merangin, Penelitian, Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Kebudayaan Balai Kajian Sejarah Dan Nilai Tradisional Tanjungpinang.

Koentjaraningrat, 1980, Pengantar Ilmu Antropologi, Cet. II Aksara Baru: Jakarta.

Melalatoa. M. Yunus, 1995, Ensiklopedi Suku Bangsa di Indonesia Jilid A—K, Proyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai-Nilai Budaya (P2NB): Jakarta.

Singarimbun. Masri dan Sofian Efendi, 1984, Metode Penelitian Survey, Yayasan Obor: Jakarta.
Dilihat: