Motorola VE538

Specifications
Motorola VE538
Network
2G
3G
GSM 900 / 1800 / 1900
UMTS 2100
Size
Dimensions
Weight
Display
107 x 46 x 16 mm, 65 cc
83 gram
TFT, 256K colors
240 x 320 pixels, 2.0 inches
Memory
Phonebook
Call records
Internal
Card slot
500 entries, Photocall
20 dialed, 20 received, 20 missed calls
10 MB
microSD, up to 4 GB
Data
GPRS
HSCSD
EDGE
3G
WLAN
Bluetooth
Infrared port
USB
Class 10 (4+1/3+2 slots), 32 - 48 kbps


384 kbps

v1.2 with A2DP

v2.0
Features
OS
CPU
Messaging
Ringtones
Browser
Radio
GPS
Games
Camera
Video
Colors
Java


SMS, MMS, Email, Push Email
Vibration; Polyphonic(64) ringtones
WAP 2.0/xHTML


Yes
2 MP, 1600x1200 pixels
Yes
Black
MIDP 2.0
- Loudspeaker
- VGA videocall camera
- MP3/AAC+/WMA/WMV player
- Predictive text input
- Organizer
- Calendar
- Alarm
Battery

Stand-by
Talk time
Standard battery, Li-Ion
Up to 310 h
Up to 6 h

Image: http://www.plazahp.com/harga_.php?handphone_id=747

Air Terjun Grojogan Sewu (Karanganyar, Jawa Tengah)

Air Terjun Grojogan Sewu terletak di Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah. Obyek wisata alam ini berada pada ketinggian 1.000 meter di atas permukaan air laut dan mempunyai luas keseluruhan sekitar 20 ha. Nama Grojogan Sewu yang dalam bahasa Indonesianya berarti pancuran seribu bukan berarti air terjun yang jumlahnya seribu buah, melainkan hanya sebuah air terjun setinggi sekitar 80 meter yang pancurannya meluas dan membentuk cabang-cabang air terjun kecil. Namun, cabang-cabang air terjun itu apabila musim kemarau tidak dapat dinikmati karena tidak mengalirkan air.

Untuk dapat memasuki kawasan wisata air terjun Grojogan Sewu pengunjung harus membayar tiket masuk sebesar Rp.6.000,00 per orang. Lokasi penjualan tiket masuknya ada yang terletak di bagian atas air terjun dan ada yang di lereng bagian bawah. Apabila melewati pintu masuk yang berada di bagian atas, untuk menuju ke lokasi air terjun pengunjung harus menuruni anak tangga yang berjumlah ratusan buah. Oleh karena jumlah anak tangga yang harus dilalui cukup banyak, maka pihak penyelenggara menyediakan gazebo di beberapa titik untuk tempat beristirahat.

Sesampai di lokasi, pengunjung dapat menikmati indahnya air terjun, bermain air atau bahkan berenang. Apabila telah puas berada di sekitar air terjun, dapat pula menikmati indahnya panorama hutan wisata yang mengelilingi air terjun. Di hutan wisata ini selain dapat menyaksikan hamparan pepohonan yang menghijau, pengunjung juga dapat menyaksikan kawanan monyet yang hidup bebas di sekitar hutan.

Sebagai catatan, obyek wisata Air Terjun Grojogan Sewu juga menyediakan fasilitas-fasilitas khas tempat wisata, seperti mushola, MCK, kolam renang, shelter, warung makan, kios penjual cinderamata, dan lain sebagainya.

Foto: http://picasaweb.google.com
Sumber:
http://navigasi.net
http://kumpulan.info
http://www.central-java-tourism.com

Triumph Trophy 1200 (2000)

Technical Specifications
Engine
Type
Bore x stroke
Capacity
Max. torque
Max. power
Compression ratio
Ignition
Fuel system
Starter system

Liquid-cooled, inline 4 cylinders, DOHC 4-stroke,
76 mm x 65 mm
1180 cc
108 PS (107 bhp) at 9,000 rpm
104 Nm (77 ft-lb) at 5,000 rpm
10.6:1
Digital - inductive type
36mm flat slide CV carburettors
Electronic starter
Clutch
Gearbox
Final Drive
Wet, multi-plate
6 speed
o-ring Chain
Dimensions
Frame
Suspension (front)
Suspension (rear)
Wheelbase
Rake
Tires (front)
Tires (rear)
Brake (front)
Brake (rear)

Micro alloyed high tensile steel spine
43mm forks with triple rate springs
Monoshock with adjustable preload and rebound damping
1490 mm (58.7 inches)
27° degrees
120/70-zr17
170/60-zr17
Twin 310mm discs, 4 piston calipers
Single 255mm disc, 2 piston caliper
Length
Width
Height
Dry weight
Seat height
Ground Clearance
Fuel Capacity
2152 mm (84.7 in)
790 mm (31.1 in)
1430 mm (56.3 in)
235 kg (518 lb)
790 mm (31.1 in)
-
25 litres (5.76 gallons)

Image: http://www.motorcyclespecs.co.za
Source: http://www.hermys.com

Honda CBR400RR (1999)

Technical Specifications
Engine
Type
Bore x stroke
Capacity
Max. torque
Max. power
Compression ratio
Ignition
Fuel system
Starter system

Liquid-cooled, 16-valves, DOHC, parallel four
55 x 42 mm
399 cc
50 bhp @ 11,500 rpm
24ft-lb @ 9,200 rpm
11.5:1
-
4 x CV carbs
Electric starter
Clutch
Gearbox
Final Drive
-
Constant mesh 6-speed
Chain
Dimensions
Frame
Suspension (front)
Suspension (rear)
Wheelbase
Rake
Tires (front)
Tires (rear)
Brake (front)
Brake (rear)

Twin spar aluminium
Telescopic forks, adjustable preload
Monoshock
1375 mm
-
120/60-r17
140/60-r17
4 piston callipers, twin discs
Single disc - single piston calliper, Ø220 mm
Length
Width
Height
Dry weight
Seat height
Ground Clearance
Fuel Capacity
-
-
-
163 kg
-
-
14.4 litres

Source: http://hondacbr.netfirms.com

Terung Bakar Sambal Kecombrang

Bahan
1 buah terung ungu, belah dua
3 sdm minyak goreng

Bahan sambal
5 buah cabai merah
4 buah cabai rawit
5 buah bawang merah
1 sdt terasi bakar
½ sdt garam
2 buah tomat, potong-potong
3 lembar bunga kecombrang, bakar hingga harum, potong-potong

Cara membuat
Haluskan bahan sambal. Tumis sampai harum.

Bakar terung hingga lembut. Letakkan terung lumuri sambal.

Hidangkan dengan nasi hangat.

Untuk 5 orang

Sumber: Tabloid Nova, No. 1050/XXI 7--13 April 2008.

Honda CBR 250 RR (1999)

Technical Specifications
Engine
Type
Bore x stroke
Capacity
Max. torque
Max. power
Compression ratio
Ignition
Fuel system
Starter system

Liquid-cooled, inline - 4 cylinders, DOHC 4-stroke,
48.5 x 33.8 mm
249 cc
2.4 kg-m @ 11,500 rpm
40PS/14,500 rpm
11.5:1
-
In-line slant x 4
Electric starter
Clutch
Gearbox
Final Drive
-
Constant mesh 6-speed
Chain
Dimensions
Frame
Suspension (front)
Suspension (rear)
Wheelbase
Rake
Tires (front)
Tires (rear)
Brake (front)
Brake (rear)

-
-
-
1345 mm
32.7° degrees
110/70-r17
140/60-r17
Dual disc - dual piston callipers, 275 mm
Single disc - single piston calliper, Ø220 mm
Length
Width
Height
Dry weight
Seat height
Ground Clearance
Fuel Capacity
1975 mm
675 mm
1080 mm
158 kg
735 mm
130 mm
13 litres

Source: http://hondacbr.netfirms.com

Honda CBR 954 RR (2002)

Technical Specifications
Engine
Type
Bore x stroke
Capacity
Max. torque
Max. power
Compression ratio
Ignition
Fuel system
Starter system

Liquid-cooled, inline, 4 cylinders, DOHC 4-stroke,
Ø75.0 mm x 54.0 mm (Ø2.95 inches x 2.13 inches)
954 ccm (58.22 cubic inches)
95.00 Nm (69.85 ft*lbs) at 6500 RPM
-
-
-
-
Electronic starter
Clutch
Gearbox
Final Drive
-
6 speed
Chain
Dimensions
Frame
Suspension (front)
Suspension (rear)
Wheelbase
Rake
Tires (front)
Tires (rear)
Brake (front)
Brake (rear)

-
120 mm (4.72 inches)
135 mm (5.31 inches)
1400 mm (55.12 inches)
32.7° degrees
120/70-zr17
190/50-zr17
Dual disc, Ø330 mm (Ø12.99 inches)
Single disc, Ø220 mm (Ø8.66 inches)
Length
Width
Height
Dry weight
Seat height
Ground Clearance
Fuel Capacity
-
-
-
167.8 kg (370 lb)
815 mm (32.09 inches)
-
21.8 litres (5.76 gallons)

Image: http://www.superstreetbike.com
Source: http://motoprofi.com

Honda CB 250 Nighthawk (2005)

Technical Specifications
Engine
Type
Bore x stroke
Capacity
Max. torque
Max. power
Compression ratio
Ignition
Fuel system
Starter system

Air-cooled, single-cylinder, SOHC 4-stroke,
Ø53.0 mm x 53.0 mm (Ø2.09 inches x 2.09 inches)
234 ccm (14.28 cubic inches)
95.00 Nm (69.85 ft*lbs) at 6500 RPM
-
9.2:1
Electronic
Carburettor, 26 mm cv
Electronic starter
Clutch
Gearbox
Final Drive
-
5 speed
O-ring sealed chain
Dimensions
Frame
Suspension (front)
Suspension (rear)
Wheelbase
Rake
Tires (front)
Tires (rear)
Brake (front)
Brake (rear)

-
140 mm (5.51 inches)
99 mm (3.9 inches)
1430 mm (56.3 inches)
32.7° degrees
90/90-18
120/90-16
Drum
Drum
Length
Width
Height
Dry weight
Seat height
Ground Clearance
Fuel Capacity
-
-
-
130.2 kg (287 lb)
744 mm (29.29 inches)
-
16.27 litres (4.3 gallons)

Image: http://www.ammoman.com
Source: http://motoprofi.com

KTM 450 SMR (2008)

Technical Specifications
Engine
Type
Bore x stroke
Capacity
Max. torque
Max. power
Compression ratio
Ignition
Fuel system
Starter system

Liquid-cooled, single-cylinder, DOHC 4-stroke,
Ø97.0 mm x 60.8 mm (Ø3.82 inches x 2.39 inches)
449 ccm (27.4 cubic inches)
95.00 Nm (69.85 ft*lbs) at 6500 RPM
-
12.5.1
Kokusan digital
Carburettor. Keihin MX FCR 41
Kick starter
Clutch
Gearbox
Final Drive
APTC Antihopping, operated hydraulically
5 speed
Chain
Dimensions
Frame
Suspension (front)
Suspension (rear)
Wheelbase
Rake
Tires (front)
Tires (rear)
Brake (front)
Brake (rear)

Double ground, chrommoly-steel frame, powder-coated
WP USD, 280 mm (11.02 inches)
WP monoshock PDS, 310 mm (12.2 inches)
1475 mm (58.07 inches)
26.5° degrees
125/80-20
170/55-17
Single disc, Ø310 mm (Ø12.2 inches)
Single disc, Ø220 mm (Ø8.66 inches)
Length
Width
Height
Dry weight
Seat height
Ground Clearance
Fuel Capacity
mm
mm
mm
111.5 kg (246 lb)
855 mm (33.66 inches)
300 mm (11.81 inches)
8.20 litres (2.17 gallons)

Image: http://www.totalmotorcycle.com/photos/2008models/2008-KTM-450SMRa.jpg

Penanaman Budi Luhur Melalui Organisasi Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa

Oleh M. Rusli Zein

1. Pengantar
Generasi muda adalah tulang punggung negara yang akan melanjutkan estafet kepemimpinan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), mereka adalah aset bangsa. Di lain pihak, sejumlah indikator memperlihatkan terjadinya penurunan moral dan etika generasi muda kita. Indikator tersebut antara lain maraknya tindakan kekerasan oleh pemuda mahasiswa, dan pelajar seperti perkelahian massal (tawuran) atau tindak kejahatan lainnya. Kenyataan yang ada perkembangan moral dan etika sebagian generasi muda di Indonesia malah semakin memprihatinkan, seperti munculnya fenomena seks bebas, narkoba, miras, pelecehan nilai-nilai suci agama, serta pergeseran nilai-nilai luhur budaya bangsa. Pergeseran nilai luhur budaya bangsa ini tidak hanya terjadi pada satu bidang saja akan tetapi sudah merambah ke berbagai bidang sebagai contoh dapat kita lihat fenomena kekerasan baik yang terjadi di dunia pendidikan, pentas politik, dan kehidupan bermasyarakat di sekitar kita. Kasus penganiayaan yang berujung pada kematian tampaknya merupakan kisah tragis dari efek buruk diagungkannya kekerasan dalam bertindak.

Hal tersebut diatas merupakan efek dimana sebuah ajaran budi luhur yang diajarkan nenek moyang sudah dipandang sebelah mata bahkan dilupakan karena dianggap kolot ataupun tergilas oleh arus modernisasi dan globalisasi. Sejalan dengan semakin tersingkirnya ajaran adiluhung, maka bangsa Indonesia juga mengalami degradasi moral. Bangsa ini sekarang terhimpit secara multi-dimensi oleh kebudayaan asing; Arab, Amerika, Eropa, Jepang, Cina, India, Eropa dst padahal sebenarnya ajaran tersebut merupakan ciri kepribadian bangsa, dalam rangka pembangunan manusia seutuhnya dijaman yang serba modern ini agar manusia/bangsa Indonesia agar tidak kehilangan jatidirinya atau ciri khas kepribadiannya, dan sekiranya ajaran luhur peninggalan nenek moyang kita tersebut perlu dikaji dan diinformasikan kepada pemuda sebagai bahan pilihan pembangunan manusia Indonesia yang berbudi luhur.

Budi luhur di sini dalam arti sikap yang membedakan baik atau buruk segala sesuatu, tata krama, atau aturan-aturan yang melarang atau menganjurkan seseorang dalam menghadapi lingkungan alam dan sosialnya. Sumber dari kaidah-kaidah tersebut didasari oleh keyakinan, gagasan, dan nilai-nilai yang berkembang di dalam masyarakat yang bersangkutan. Kaidah tersebut tampak dalam manifestasi tingkah laku dan perbuatan anggota masyarakat. Demikianlah makna dari budi luhur yang sesungguhnya, dengan demikian dapat menambah jelas pemahaman terhadap budi luhur yang mewarnai kebudayaan Jawa. Hal ini dapat diteruskan kepada generasi muda guna membentuk watak yang berbudi luhur dan bersedia menempa jiwa yang berkepribadian teguh.

Penanaman budi luhur melalui Organisasi Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa erat kaitannya warisan kekayaan rohaniah yang bukan agama yang dalam kenyataannya merupakan bagian dari kebudayaan bangsa yang hidup dan dihayati serta dilaksanakan oleh sebagian rakyat Indonesia sebagai budaya spiritual. Warisan tersebut berupa ajaran kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang beraneka ragam. Apabila ajaran yang beraneka ragam itu kita cermati did alamnya kita antara lain dapat melihat konsepsi tentang Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan, alam, pengalaman, kepercayaan dalam kehidupan sehari-hari dan juga metode pendekatan diri ketada Tuhan. Metode pendekatan diri kepada Tuhan ini sering pula diistilahkan dengan penghayatan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

2. Penanaman Budi
Adapun beberapa usaha pendekatan diri kepada Tuhan YME untuk mencapai keluhuran budi/budi luhur ini diantaranya adalah dengan perilaku ataupun laku, beberapa contoh perilaku/laku ini diantaranya adalah:

- Eling, Percaya, Nituhu (taat perintah) kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sikap dan perilaku menunjukkan kesadaran, keyakinan akan adanya Tuhan Yang Maha Esa. Selanjutnya keyakinan tersebut disertai dengan ketaatan dan patuh dalam melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Sikap dan perilaku ini diwujudkan dengan taat beribadah sesuai dengan keyakinan masing-masing dan perilaku sesuai dengan yang telah diatur dan dilarang oleh kepercayaan masing-masing.

- Pasrah, Sumarah (berserah diri menurut kehendak Tuhan). Sikap dan perilaku yang menunjukkan bahwa Tuhan Yang Maha Esa lah yang berkuasa dan mengatur kehidupan dijagad raya ini. Kesadaran tersebut diikuti sikap berserah diri atau menurut (manut) terhadap kehendak Tuhan yang diwujudkan dengan selalu menerima dengan rasa syukur apa yang telah diberikan Tuhan Yang Maha Esa.

- Ingat kepada leluhur dengan cara melestarikan ajaran-ajarannya. Beberapa ajaran luhur nenek moyang antara lain : laku puasa pada hari-hari tertentu lelaku Puasa merupakan hal yang sangat penting bagi peningkatan spiritual seseorang. Disemua ajaran kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa biasanya disebutkan tentang puasa ini dengan berbagai versi yang berbeda. Menurut sudut pandang spiritual metafisik, puasa mempunyai efek yang sangat baik dan besar terhadap tubuh dan fikiran. Puasa dengan cara supranatural menubah sistem molekul tubuh fisik dan eterik dan menaikkan vibrasi/getarannya sehingga membuat tubuh menjadi lebih sensitif terhadap energi/kekuatan supranatural sekaligus mencoba membangkitkan kemampuan indera keenam seseorang. Meredam hawa nafsu (lauwamah, amarah, supiyah) yang diungkapkan dalam bentuk akronim, yakni apa yang disebut M5 atau malima; madat, madon, maling, main; mabuk-mabukan, main perempuan, mencuri, makan, berjudi. Untuk meredam nafsu malima, manusia melakukan laku tapa. Misalnya; puasa, puasa mutih, tapa kungkum, semadi dll.

1. Puasa, puasa sebagai simbol keprihatinan dengan ciri menikmati yang tidak enak dan tidak menikmati yang enak, gembira dalam keprihatinan. Diharapkan setelah menjalani laku ini, tidak mudah tergoda dengan daya tarik dunia dan terbentuk pandangan spiritual yang transenden. Sehingga juga dapat dikatakan bahwa puasa bertujuan untuk penyucian batin dan mencapai kesempurnaan ruh.

2. Kungkum merupakan tapa yang sangat unik. Banyak para pelaku spiritual merasakan sensasi yang dahsyat dalam melakukan tapa ini. Tata cara tapa Kungkum adalah sebagai berikut: Masuk kedalam air dengan tanpa pakaian selembar-pun dengan posisi bersila (duduk) didalam air dengan kedalaman air setinggi leher. Biasanya dilakukan dipertemuan dua buah sungai. Menghadap melawan arus. Memilih tempat yang baik, arus tidak terlalu deras dan tidak terlalu banyak lumpur didasar sungai. Lingkungan harus sepi, usahakan tidak ada seorang manusiapun disana. Dilaksanakan mulai jam 12 malam (terkadang boleh dari jam 10 keatas) dan dilakukan lebih dari tiga jam (walau ada juga yang memperbolehkan pengikutnya kungkum hanya 15 menit). Tidak boleh tertidur selama Kungkum. Tidak boleh banyak bergerak. Sebelum masuk ke sungai disarankan disarankan untuk melakukan ritual pembersihan dengan mandi terlebih dahulu. Tapa kungkum ini bertujuan untuk menghilangkan kotor yang melekat dibadan, memelihara kesucian badan ini dilakukan untuk mempersiapkan badan agar mampu menjadi satu dengan tekad untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

3. Mutih. Dalam puasa mutih ini seseorang tidak boleh makan apa-apa kecuali hanya nasi putih dan air putih saja. Nasi putihnya pun tidak boleh ditambah apa-apa lagi, seperti gula, garam dan lainnya, jadi betul-betul hanya nasih putih dan air putih saja. Sebelum melakukan puasa mutih ini, biasanya seorang pelaku puasa harus mandi keramas dulu sebelumnya. Apabila seseorang telah terbiasa melakukan puasa mutih, getaran tubuh fisik dan eteriknya akan meningkat sehingga seluruh racun, energi negatif dan makhluk eterik negatif yang ada didalam tubuhnya akan keluar dan tubuhnya akan menjadi bersih. Setelah tubuhnya bersih maka roh-roh suci pun akan datang padanya dan menyatu dengan dirinya membantu kehidupannya dalam segala hal.

4. Semadi. Semadi atau semedi, artinya sarasa = rasa tunggal atau upaya “menidurkan” anggota raga untuk merasakan hidupnya rasa sejati. Beberapa contoh semadi:

a. Semadi Salaku menghadap kiblat, inti dari semadi adalah rasa pasrah terhadap Tuhan Yang Maha Esa, dengan tata cara tidur terlentang menghadap kiblat, mata terpejam, tangan lurus, telapak menempel di paha, kaki lurus, ibu jari kaki kanan menekan dari atas ibu jari kaki kiri. Pengaturan napas dilakukan dengan menarik napas perlahan dan dimasukkan ke perut ditahan sementara waktu, alirkan napas dari perut ke arah dada, leher kepala kembali ke leher dada, dari perut dikeluarkan perlahan sambil menyebut dalam hati kebesaranNya.

b. Semadi Trap Lenggah (semedi dengan duduk) bertujuan untuk mencapai ketenangan akal dan budi. Sikap duduk biasa kepala lurus pandangan ke puncak hidung, telapak tangan menempel pada lutut kaki. Pengaturan napas seperti pada point (a).

c. Semadi trap Sila Tinengku, semadi ini bertujuan untuk meneguhkan keyakinan. Sikap duduk bersila kaki kanan diatas kaki kiri dengan telapak kaki menumpang di paha. Kepala lurus pandangan mata di puncak hidung. Telapak tangan menempel diatas lutut kaki.

d. Semadi Trap Jejering Raga, semadi ini bertujuan untuk membentuk manusia yang utuh. Sikap berdiri terpaku pada bumi telapak kaki rapat. Pandangan lurus mata terarah ke puncak hidung. Tangan menyilang di dada (tangan kanan) digantungkan di pundak kiri, tangan kiri mendatar dengan telapak menempel pada siku tangan kanan.

Dalam pandangan Organisasi Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa, seseorang akan merasa lebih dekat dengan Tuhan jika doanya tidak sekedar diucapkan di mulut saja (NATO: not action talk only), melainkan dengan diwujudkan dalam bentuk laku.

Jangan melupakan “sedulut papat” (kawah, air ketuban, darah dan ari-ari) dengan cara memberi sesaji. Orang Jawa tradisional percaya eksistensi dari sedulur papat (saudara empat) yang selalu menyertai seseorang dimana saja dan kapan saja, selama orang itu hidup didunia. Mereka memang ditugaskan oleh kekuasaan alam untuk selalu setia membantu, mereka tidak punya badan jasmani, tetapi ada baik dan kamu juga harus mempunyai hubungan yang serasi dengan mereka yaitu:

1. Kakang kawah (ketuban), saudara tua kawah, dia keluar dari gua garba ibu sebelum kamu, tempatnya di timur warnanya putih sebagai lambang kemuliaan, kejujuran, kefitrahan manusia.

2. Adi ari-ari, adik ari-ari, dia dikeluarkan dari gua garba ibu sesudah kamu, tempatnya di barat warnanya kuning sebagai lambang karunia, harta benda dan kejayaan manusia.

3. Getih, darah yang keluar dari gua garba ibu sewaktu melahirkan, tempatnya di selatan warnanya merah sebagai lambang semangat manusia juga amarahnya manusia.

4. Puser, pusar yang dipotong sesudah kelahiranmu, tempatnya di utara warnanya hitam sebagai lambang kesabaran, kekuatan, keabadian manusia.

Selain sedulur papat diatas, yang lain adalah lima Pancer, pancer itulah badan jasmani. Merekalah yang disebut sedulur papat lima pancer, mereka ada karena kamu ada. Sementara orang menyebut mereka keblat papat lima tengah, (empat jurusan yang kelima ada ditengah). Banyak orang mengatakan dengan 4 anasir atau empat unsur penyusun tubuh manusia, empat penyusun alam semesta. Manusia adalah lambang dari alam kecil (mikrokosmos) dan alam semesta sebagai lambang alam yang besar (makrokosmos). Adapun dialam semesta ada empat unsur yaitu ; merah sebagai lambang api, kuning sebagai lambang angin, hitam sebagai lambang tanah/bumi dan putih sebagai lambang air. Semua unsur diatas bisa menjadi baik dan bisa buruk tergantung dari perilaku manusia itu sendiri.

- Hormat dan bakti kepada bapak-ibu yang merupakan perantara kita lahir didunia. Adanya ayah dan ibu merupakan ujud nyata utusan Tuhan menurunkan benih manusia sehingga sebagai anak maka mempunyai kewajiban sujud menembah ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa serta menghormati orangtua beserta segenap keluarga sebagai tanda baktinya atas egala jasa dan pengorbanannya (sebagai utusan Tuhan).

- Melestarikan budaya daerah/budaya Jawa yang adiluhung edipeni dengan cara menangkal budaya asing yang dapat merusak budaya Indonesia pada umumnya dan budaya Jawa pada khususnya. Salah satu contoh budaya tradisional : Macapat. Makna tembang macapat sendiri mempunyai alur tingkatan yang mempunyai arti tersendiri diantaranya adalah :

1. Mijil
Mijil artinya lahir. Hasil dari olah jiwa dan raga laki-laki dan perempuan menghasilkan si jabang bayi. Setelah 9 bulan lamanya berada di rahim sang ibu, sudah menjadi kehendak Hyang Widhi si jabang bayi lahir ke bumi. Disambut tangisan membahana waktu pertama merasakan betapa tidak nyamannya berada di alam marcapadha. Sang bayi terlanjur enak hidup di zaman dwaparayuga, namun harus netepi titah Gusti untuk lahir ke bumi. Sang bayi mengenal bahasa universal pertama kali dengan tangisan memilukan hati. Tangisan yang polos, tulus, dan alamiah bagaikan kekuatan getaran mantra tanpa tinulis. Kini orang tua bergembira hati, setelah sembilan bulan lamanya menjaga sikap dan laku prihatin agar sang rena (ibu) dan si ponang (bayi) lahir dengan selamat. Puja puji selalu dipanjat agar mendapat rahmat Tuhan Yang Maha Pemberi Rahmat atas lahirnya si jabang bayi idaman hati.

2. Maskumambang
Setelah lahir si jabang bayi, membuat hati orang tua bahagia tak terperi. Tiap hari suka ngudang melihat tingkah polah sang bayi yang lucu dan menggemaskan. Senyum si jabang bayi membuat riang bergembira yang memandang. Setiap saat sang bapa melantunkan tembang pertanda hati senang dan jiwanya terang. Takjub memandang kehidupan baru yang sangat menantang. Namun selalu waspada jangan sampai si ponang menangis dan demam hingga kejang. Orang tua takut kehilangan si ponang, dijaganya malam dan siang agar jangan sampai meregang. Buah hati bagaikan emas segantang. Menjadi tumpuan dan harapan kedua orang tuanya mengukir masa depan. Kelak jika sudah dewasa jadilah anak berbakti kepada orang tua, nusa dan bangsa.

3. Kinanti
Semula berujud jabang bayi merah merekah, lalu berkembang menjadi anak yang selalu dikanthi-kanthi kinantenan orang tuanya sebagai anugrah dan berkah. Buah hati menjadi tumpuan dan harapan. Agar segala asa dan harapan tercipta, orang tua selalu membimbing dan mendampingi buah hati tercintanya. Buah hati bagainya jembatan, yang dapat menyambung dan mempererat cinta kasih suami isteri. Buah hati menjadi anugerah ilahi yang harus dijaga siang ratri. Dikanthi-kanthi (diarahkan dan dibimbing) agar menjadi manusia sejati. Yang selalu menjaga bumi pertiwi.

4. Sinom
Sinom isih enom. Jabang bayi berkembang menjadi remaja sang pujaan dan dambaan orang tua dan keluarga. Manusia yang masih muda usia. Orang tua menjadi gelisah, siang malam selalu berdoa dan menjaga agar pergaulannya tidak salah arah. Walaupun badan sudah besar namun remaja belajar hidup masih susah. Pengalamannya belum banyak, batinnya belum matang, masih sering salah menentukan arah dan langkah. Maka segala tindak tanduk menjadi pertanyaan sang bapa dan ibu. Dasar manusia masih enom (muda) hidupnya sering salah kaprah.

5. Dhangdanggula
Remaja beranjak menjadi dewasa. Segala lamunan berubah ingin berkelana. Mencoba hal-hal yang belum pernah dirasa. Biarpun dilarang agama, budaya dan orang tua, anak dewasa tetap ingin mencobanya. Angan dan asa gemar melamun dalam keindahan dunia fana. Tak sadar jiwa dan raga menjadi tersiksa. Bagi anak baru dewasa, yang manis adalah gemerlap dunia dan menuruti nafsu angkara, jika perlu malah berani melawan orang tua. Anak baru dewasa, remaja bukan dewasa juga belum, masih sering terperdaya bujukan nafsu angkara dan nikmat dunia. Sering pula ditakut-takuti api neraka, namun tak akan membuat sikapnya menjadi jera. Tak mau mengikuti kareping rahsa, yang ada selalu nguja hawa. Anak dewasa merasa rugi tak mengecap manisnya dunia. Tak peduli orang tua terlunta, yang penting hati senang gembira. Tak sadat tindak tanduknya bikin celaka, bagi dirinya sendiri, orang tua dan keluarga. Cita-citanya setinggi langit, sebentar-sebentar minta duit, tak mau hidup irit. Jika tersinggung langsung sengit. Enggan berusaha yang penting apa-apa harus tersedia. Jiwanya masih muda, mudah sekali tergoda api asmara. Lihat celana saja menjadi bergemuruh rasa di dada. Anak dewasa sering bikin orang tua ngelus dada. Bagaimanapun juga mereka buah dada hati yang dicinta. Itulah sebabnya orang tua tak punya rasa benci kepada pujaan hati. Hati-hati bimbing anak muda yang belum mampu membuka panca indera, salah-salah justru bisa celaka semuanya.

6. Asmaradana
Asmaradana atau asmara dahana yakni api asmara yang membakar jiwa dan raga. Kehidupannya digerakkan oleh motifasi harapan dan asa asmara. Seolah dunia ini miliknya saja. Membayangkan dirinya bagaikan sang pujangga atau pangeran muda. Apa yang dicitakan haruslah terlaksana, tak pandang bulu apa akibatnya. Hidup menjadi terasa semakin hidup lantaran gemas asmara membahana dari dalam dada. Biarlah asmara membakar semangat hidupnya, yang penting jangan sampai terlena. Jika tidak, akan menderita dikejar-kejar tanggungjawab hamil muda. Sebaliknya akan hidup mulai dan tergapai cita-citanya. Maka sudah menjadi tugas orang tua membimbing mengarahkan agar tidak salah memilih idola. Sebab sebentar lagi akan memasuki gerbang kehidupan baru yang mungkin akan banyak mengharu biru. Seyogyanya suka meniru tindak tanduk sang gurulaku, yang sabar membimbing setiap waktu dan tak pernah menggerutu. Jangan suka berpangku namun pandailah memanfaatkan waktu. Agar cita-cita dapat dituju. Asmaradana adalah saat-saat yang menjadi penentu, apakah dirimu akan menjadi orang bermutu, atau polisi akan memburu dirimu. Salah-salah gagal menjadi menantu, malah akan menjadi seteru.

7. Gambuh
Gambuh atau Gampang Nambuh, sikap angkuh serta acuh tak acuh, seolah sudah menjadi orang yang teguh, ampuh dan keluarganya tak akan runtuh. Belum pandai sudah berlagak pintar. Padahal otanya buyar matanya nanar merasa cita-citanya sudah bersinar. Menjadikannya tak pandai melihat mana yang salah dan benar. Di mana-mana ingin diakui bak pejuang, walau hatinya tak lapang. Pahlawan bukanlah orang yang berani mati, sebaliknya berani hidup menjadi manusia sejati. Sulitnya mencari jati diri kemana-mana terus berlari tanpa henti. Memperoleh sedikit sudah dirasakan banyak, membuat sikapnya mentang-mentang bagaikan sang pemenang. Sulit mawas diri, mengukur diri terlalu tinggi. Ilmu yang didapatkannya seolah menjadi senjata ampuh tiada tertandingi lagi. Padahal pemahamannya sebatas kata orang. Alias belum bisa menjalani dan menghayati. Bila merasa ada yang kurang, menjadikannya sakit hati dan rendah diri. Jika tak tahan ia akan berlari menjauh mengasingkan diri. Menjadi pemuda pemudi yang jauh dari anugrah Ilahi. Maka, belajarlah dengan teliti dan hati-hati. Jangan menjadi orang yang mudah gumunan dan kagetan. Bila sudah paham hayatilah dalam setiap perbuatan. Agar ditemukan dirimu yang sejati sebelum raga yang dibangga-banggakan itu menjadi mati.

8. Durma
Munduring tata krama. Dalam cerita wayang purwa dikenal banyak tokoh dari kalangan “hitam” yang jahat. Sebut saja misalnya Dursasana, Durmagati, Duryudana. Dalam terminologi Jawa dikenal berbagai istilah menggunakan suku kata duri dura (nglengkara) yang mewakili makna negatif (awon). Sebut saja misalnya : duraatmoko. Duroko, dursila, dura sengkara, duracara (bicara buruk), durajaya, dursahasya, durmala, durniti, durta, durtama, udur, dst. Tembang Durma, diciptakan untuk mengingatkan sekaligus menggambarkan keadaan manusia yang cenderung berbuat buruk atau jahat. Manusia gemar udur atau cekcok, cari menang dan benernya sendiri, tak mau memahami perasaan orang lain. Sementara manusia cenderung mengikuti hawa nafsu yang dirasakan sendiri (nuruti rahsaning karep). Walaupun merugikan orang lain tidak peduli lagi. Nasehat bapa-ibu sudah tidak digubris dan dihiraukan orang lain tidak peduli lagi. Lupa diri selalu merasa iri hati. Manusia walauun tidak mau disakiti, namun gemar menyakiti hati. Suka berdalih niatnya baik, namun tak peduli caranya yang kurang baik. Begitulah keadaan manusia di planet bumi, suka bertengkar, emosi, tak terkendali, mencelakai, dan menyakiti. Maka hati-hatilah, yang selalu eling dan waspadha.

9. Pangkur
Bila usia telah uzur, datanglah penyesalan. Manusia menoleh kebelakang (mungkur) merenungkan apa yang dilakukan pada masa lalu. Manusia terlambat mengkoreksi diri, kadang kaget atas apa yang pernah ia lakukan, hingga kini yang ada tinggallah menyesali diri. Kenapa dulu tidak begini tidak begitu. Merasa diri menjadi manusia renta yang hina dina sudah tak berguna. Anak cucu kadang menggoda, masih meminta-minta sementara sudah tak punya lagi sesuatu yang berharga. Hidup merana yang dia punya tinggallah penyakit tua. Siang malam selalu berdoa saja, sedangkan raga tak mampu berbuat apa-apa. Hidup enggan mati pun sungkan. Lantas bingung mau berbuat apa. Ke sana-ke mari ingin mengaji, tak tahu jati diri, memalukan seharusnya sudah menjadi guru ngaji. Tabungan menghilang sementara penyakit kian meradang. Lebih banyak waktu untuk telentang di atas ranjang. Jangankan teriak lantang, anunya pun sudah tak bisa tegang, yang ada hanyalah mengerang terasa nyawa hendak melayang. Sanak kadhang enggan datang, karena ingat ulahnya di masa lalu yang gemar mentang-mentang.

10. Megatruh
Megat ruh, artinya putusnya nyawa dari raga. Jika pegat tanpa aruh-aruh. Datanya ajal akan tiba sekonyong-konyong. Tanpa kompromi sehingga manusia banyak yang disesali. Sudah terlambat untuk memperbaiki diri. Terlanjur tak paham jati diri. Selama ini menyembah Tuhan penuh dengan pamrih dalam hati, karena takut neraka dan berharap-harap pahala surga. Kaget setengah mati saat mengerti kehidupan yang sejati. Betapa kebaikan di dunia menjadi penentu yang sangat berarti. Untuk menggapai kemuliaan yang sejati dalam kehidupan yang azali abadi. Duh Gusti, jadi begini, kenapa diri ini sewaktu masih muda hidup di dunia fana, seaktu masih kuat dan bertenaga, namun tidak melakukan kebaikan kepada sesama. Menyesali diri ingat dulu kala telah menjadi durjana. Sembahyangnya rajin namun tak sadar sering mencelakai dan menyakiti hati sesama manusia. Kini telah tiba saatnya menebus segala dosa, sedih sekali ingat tak berbekal pahala. Harapan akan masuk surga, telah sirna tertutup bayangan neraka menganga di depan mata. Di saat ini manusia baru menjadi saksi mati, betapa penyakit hati menjadi penentu dalam meraih kemuliaan hidup yang sejati. Manusia tak sadar diri sering merasa benci, iri hati, dan dengki. Seolah menjadi yang paling benar, apapun tindakannya ia merasa paling pintas, namun sehala keburukannya dianggapnya demi membela diri. Kini dalam kehidupan yang sejati, sungguh baru bisa dimengerti, penyakit hati sangat merugikan diri sendiri.

11. Pocung
Pocung atau pocong adalah orang yang telah mati lalu dibungkus kain kafan. Itulah batas antara kehidupan mercapadha yang panas dan rusak dengan kehidupan yang sejati dan abadi. Bagi orang yang baik kematian justru menyenangkan sebagai kelahirannya kembali, dan merasa kapok hidup di dunia yang penuh derita. Saat nyawa mengerang, rasa bahagia bagai lenyapkan dahaga mereguk embun pagi. Bahagia sekali disambut dan dijemput para leluhurnya sendiri. Berkumpul lagi di alam yang abadi azali. Kehidupan baru setelah raganya mati.

Tak merasa bila diri telah mati. Yang dirasa semua orang kok tak mengenalinya lagi. Rasa sakit hilang badan menjadi ringan. Heran melihat raga sendiri dibungkus dengan kain kafan. Sentuh sana sentuh sini tak ada yang mengerti. Di sana- di sini ketemu orang yang menangisi. Ada apa kok jadi begini, merasa heran kenapa telah lama nyawanya meregang. Dalam dimensi yang tenang, hawanya sejuk tak terbayang. Kemana mau pergi terasa dekat sekali. Tak ada rasa lelah otot menegang. Belum juga sadar bahwa diri telah mati. Hingga beberapa hari barulah sadar…oh jasad ini telah mati. Yang abadi tinggallah roh yang suci.

Sementara yang durjana, meregang nyawa tiada yang peduli. Betapa sulit dan sakit meregang nyawanya sendiri, menjadi sekarat yang tak kunjung mati. Bingung kemana harus pergi, toleh kanan dan kiri semua bikin gelisah hati. Seram mengancam dan mencekam. Rasa sakit kian terasa meradang. Walau mengerang tak satupun yang bisa menolongnya. Siapapun yang hidup di dunia pasti mengalami dosa. Tuhan Maha Tahu dan Bijaksana tak pernah luput menimbang kebaikan dan keburukan walau sejumput. Manusia baru sadar, yang dituduh kafir belum tentu kafir bagi Tuhan, yang dianggap sesat belum tentu sesat menurut Tuhan. Malah-malah yang suka menuduh menjadi tertuduh. Yang suka menyalahkan justru bersalah. Yang suka mencaci dan menghina justru orang yang hina dina. Yang gemar menghakimi orang akan tersiksa. Yang suka mengadili akan diadili. Yang ada tinggallah rintihan lirih tak berarti, “Duh Gusti pripun kok kados niki…! Oleh sebab itu, hidup kudu jeli, nastiti, dan ngati-ati. Bisa jadi yang salah malah pribadi kita sendiri. Lebih baik kita selalu mawas diri, agar kelak jika mati arwahmu tidak nyasar menjadi memedi.

Kebudayaan Jawa dan Nusantara pada saat ini banyak dimanfaatkan oleh bangsa asing. Sebagai bangsa yang bermartabat, kita harus memiliki keteguhan dalam mempertahankan kepemilikan warisan leluhur tersebut. Untuk itu, kiranya diperlukan kepedulian dari warga negara Indonesia untuk melestarikannya karena peninggalan adiluhung bangsa Indonesia yang penuh dengan muatan filosofis ajaran budi luhur.

- Bersedia memberikan bantuan kepada mereka yang membutuhkan tanpa pamrih. Pamrih merupakan ancaman ke dua bagi manusia. Bertindak karena pamrih berarti hanya mengutamakan kepentingan diri pribadi secara egois. Pamrih, mengabaikan kepentingan orang lain dan masyarakat. Secara sosiologis, pamrih itu mengacaukan (chaos) karena tindakannya tidak menghiraukan keselarasan sosial lingkungannya. Pamrih juga akan menghancurkan diri pribadi dari dalam, karena pamrih mengunggulkan secara mutlah keakuannya sendiri (ego). Karena itu, pamrih akan membatasi diri atau mengisolasi diri dari sumber kekuatan batin. Dalam kaca mata Jawa, pamrih yang berasal dari nafsu ragawi akan mengalahkan nafsu sukmani (mutmainah) yang suci. Pamrih mengutamakan kepentingan-kepentingan duniawi, dengan demikian manusia mengikat dirinya sendiri dengan dunia luar sehingga manusia tidak sanggup lagi untuk memusatkan batin dalam dirinya sendiri. Oleh sebab itu pula, pamrih menjadi faktor penghalang bagi seseorang untuk mencapai “kemanunggalan” kawula gusti.
- Menghindari segala macam perbuatan tercela dan perbuatan lain yang melanggar hukum apapun. Tuhan Yang Maha Esa memberikan kebebasan kepada umat-Nya tetapi dalam peribahasa Jawa dikatakan : sapa nggawe nganggo, sopo nandur ngundhuh, sapa nyilih ngulihake (siapa membuat akan memakai, siapa menanam akan memetik, dan siapa meminjam akan mengembalikan). Untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia harus makarti (berkarya), jika perbuatannya baik maka akan dipetik juga kebaikan/kebecikan atau ketenteraman. Tetapi jika perbuatannya jelek maka kegelapan yang akan ditanggung. Konsep ini berlaku pada berbagai bidang hubungan baik hubungan terhadap Tuhan, hubungan sesama manusia (masyarakat), hubungan dengan alam maupun hubungan manusia dengan Negara.

Uraian yang memaparkan nilai-nilai luhur dalam kebudayaan masyarakat Jawa yang diungkapkan diatas dapat membuka wawasan pikir dan hati nurani bangsa bahwa dalam masyarakat kuno asli pribumi telah terdapat seperangkat nilai-nilai moralitas yang dapat diterapkan untuk mengangkat harkat dan martabat hidup manusia.

3. Kesimpulan
Perilaku dari ajaran tersebut diatas mempunyai makna filosofis yang tinggi, yaitu manusia hidup harus berperilaku luhur, berbuat baik terhadap sesama, menjauhi perilaku yang negatif sehingga akan tercapai keselarasan hidup yang sejahtera lahir maupun batin. Serta diharapkan peserta Dialog Budaya ini menjadikan dirinya sebagai pelaku pembangunan dan menjadikan nilai-nilai kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa sebagai pegangan dalam bertingkah laku sehari-hari dalam kehidupan pribadi, keluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara sehingga akan tampil pribadi-pribadi yang berperilaku luhur.

Sumber:
Makalah disampaikan dalam Dialog Budaya Spiritual DIY di Wisma PU. Jl. Laksda Adisucipto No. 165 Yogyakarta, 29-30 Juni 2009 yang diselenggarakan oleh Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Yogyakarta.

HTC Ozone/XV6175

Specifications
General
Model
Network

Form-Factor

HTC Ozone/XV6175
CDMA 800/1900
GSM 850/900/1800/1900
Bar with internal antenna
Size
Dimensions
Weight

4.5" x 2.5" x 0.5"
4.23 oz
Display
Type
Size

262K Color TFT LCD
240 x 320 pixels, 2.4 inches
Memory
Phonebook
Call records
Card slot
Internal

No Hard Limit
-
microSD
23 MB internal memory
Data
GPRS
HSCSD
EDGE
3G
WLAN
Bluetooth
Infrared port
USB

-
-
-
-
-
v2.0
No
Yes
Features
OS
Processor
Messaging
Browser
Games
Colors
Camera

Windows Mobile 6.1 Standard
Qualcomm MSM 7201a @ 528 MHz
SMS, MMS, Email, Push Email
Pocket Internet Explorer
-
-
2 MP with video recorder
- Java MIDP 2.0
- Windows Mobile with 4-way D-pad
- Voice Dialing
- QWERTY keyboatd
- Calendar
- Alarm
- Calculator
Battery
Stand-by
Talk time
Standard Li-Ion battery
324 hours (13.5 days)
290 minutes (4.83 hours)

Image: http://www.pocketpccentral.net/otherviews/htc/htc_ozone/ozone_front_zoom.jpg

Motorola Karma QA1

Specifications
General
Manufacturer
Network

Announced
Form factor

Motorola
GSM 850/900/1800/1900/
W-CDMA 850/1900
-
Bar with internal antenna
Size
Dimensions
Weight

2.52" x 3.46" x 0.7"
4.97 oz
Display
Type
Size

262K Color TFT LCD
320x240 pixels, 3.5 inches
Memory
Phonebook
Call records
Card slot
Internal

No hard limit
-
microSD
100 MB
Data
GPRS
HSCSD
EDGE
3G
WLAN
Bluetooth
Infrared port
USB

Yes
Yes
Yes
Yes
Yes
2.0
No
Yes
Features
OS
Messaging
Browser
Games
Audio
Colors
Camera

-
SMS, EMS, MMS, Email, Push Email
HTML
Yes
MIDI, MP3, AAC, AAC+, eAAC+
-
2 MP with video recorder
- Java ME
- QWERTY keyboard
- Calculator
- Organizer
- Alarm
- Voice memo
Battery
Stand-by
Talk time
Standard Li-Ion battery
347 hours (14.45 days)
312 minutes (5.2 hours)

Image: http://www.siftwire.com
Source: http://www.phonenews.com

Motorola COCKTAIL VE70

Specifications
Motorola COCKTAIL VE70
Network
2G
GSM 850 / 900 / 1800 / 1900
Size
Dimensions
Weight
Display
105 x 51 x 20 mm
123 gram
TFT, 256K colors
240 x 320 pixels, 2.2 inches
Memory
Phonebook
Call records
Internal
Card slot
2000 contacts, Photo call
20 dialed, 20 received, 20 missed calls
36 MB
microSD, up to 4GB
Data
GPRS
HSCSD
EDGE
3G
WLAN
Bluetooth
Infrared port
USB
Class 12 (4+1/3+2/2+3/1+4 slots), 32 - 48 kbps

Class 12
HSDPA, 7.2 Mbps; HSUPA, 3.6 Mbps

v2.1 with A2DP

v2.0 microUSB
Features
OS
CPU
Messaging
Ringtones
Browser
Radio
GPS
Games
Camera
Video
Colors
Java
Linux / Java-based MOTOMAGX

SMS, MMS, Email
Vibration; MP3 ringtones
WAP 2.0/xHTML


Yes
2 MP, 1600x1200 pixels
Yes
Mint, tropical
MIDP 2.0
- Navigation scroll wheel
- Loudspeaker
- MP3/WAV/WMA/AAC+ player
- MP4/WMV/H.263/H.263 player
- Push to Talk
- Organizer
- Predictive text input
- Calendar
- Alarm
Battery

Stand-by
Talk time
Standard battery, Li-Ion 700 mAh (BC50)
Up to 240 h
Up to 4 h 40 min

Image: http://hotcellularphone.com/motorola/motorola-cocktail-ve70-phone-loves/

Upacara Tihi Huau pada Orang Naulu (Maluku)

Pendahuluan
Maluku adalah salah satu provinsi yang terdapat dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Di sana ada sebuah etnik yang bernama Nuaulu. Stratifikasi sosial masyarakatnya pada dasarnya dapat dibedakan menjadi tiga golongan, yakni golongan pemimpin soa (kapitang), tokoh adat dan rakyat biasa. Golongan kapitang terdiri atas orang-orang yang secara genealogis masih keturunan pendiri soa. Golongan tokoh adat terdiri atas orang-orang yang masih keturunan tokoh adat. Sedangkan, golongan rakyat biasa adalah orang-orang yang secara genealogis bukan keturunan pendiri soa dan tokoh adat. Mereka (masyarakat Nuaulu) menumbuh-kembangkan suatu tradisi yang disebut sebagai Tihi Huau. Tradisi ini sangat erat kaitannya dengan kepercayaan yang diyakininya. Menurut mereka, seorang anak, baik laki-laki maupun perempuan, mudah disusupi atau dipengaruhi oleh roh jahat. Untuk itu, perlu diadakan suatu upacara agar anak terhindar dari pengaruh tersebut. Selain itu, yang tidak kalah pentingnya adalah agar sifat-sifat buruk (jahat) orang tuanya tidak menurun kepada anak, sehingga di kemudian hari anak dapat melaksanakan peran-sosialnya dengan baik (mematuhi aturan-aturan, norma-norma dan nilai-nilai yang ada dalam masyarakatnya). Pemutusan pengaruh jahat itu disimbolkan dengan pemotongan rambut karena rambut, menurut kepercayaan mereka, merupakan bagian dari tubuh manusia yang berdaya magis*).

Mengingat bahwa upacara tihi huau ada kaitannya dengan kepercayaan, khususnya kepercayaan kepada makluk halus (roh jahat), maka upacara ini hanya dilakukan pada pagi atau sore hari. Artinya, tidak boleh dilakukan pada saat matahari terbenam (malam hari). Sebab, malam hari adalah saatnya roh-roh jahat bergentayangan. Roh-roh ini dapat menyusup ke anak yang diupacarai, sehingga bisa terjadi sesuatu yang tidak diinginkan (buruk) pada anak yang bersangkutan.

Peralatan
Peralatan yang digunakan dalam upacara ini adalah: (1) bulu sero, yaitu sebuah alat cukur yang terbuat dari belahan bambu; (2) sisir yang terbuat dari sabut kelapa; (3) sebuah tempat duduk (kursi); dan (4) seruas bambu yang pada gilirannya akan dijadikan sebagai tempat penyimpanan rambut yang dipotong. Selain peralatan, ada kelengkapan yang berupa makanan dan minuman, seperti: pisang, air putih dan atau teh dan beberapa jenis makanan yang terbuat dari sagu (tutupola, alu-alu, sagu tumbu, dan papeda).

Jalannya Upacara
Upacara ini diawali dengan pendudukkan anak yang akan dipotong rambutnya pada sebuah kursi yang telah disediakan, diikuti oleh kerabatnya dalam posisi membentuk lingkaran (mengelilinginya). Kemudian, momo kanate (sebutan untuk kepala soa yang bertindak sebagai pemimpin upacara) menghampirinya, membaca doa (dalam hati) dan memotong sebagian rambut anak yang diupacarai dengan alat yang disebut bulu sero. Jadi, bukan alat cukur yang terbuat dari logam, karena menurut kepercayaan masyarakat Nuaulu, alat cukur logam mengandung kekuatan-kekuatan sakti yang dapat membahayakan diri anak (kekuatan sakti yang sifatnya destruktif). Ketika pencukuran berlangsung pihak kerabat tidak hanya diam tetapi juga memanjatkan doa kepada Upu Kuanahatana dan roh nenek moyang agar selamat.

Sebagai catatan, bagian rambut yang dicukur oleh momo kanate disesuaikan dengan status sosial dari keluarga penyelenggara upacara. Apabila yang diupacarakan adalah anak seorang kapitang, maka rambut yang berada di bagian depan kepala tidak boleh dicukur. Apabila anak seorang tokoh adat, maka rambut yang berada pada bagian tengah kepala (bubungan/ubun-ubun) tidak boleh dicukur. Sedangkan apabila anak rakyat biasa, maka rambut pada bagian belakang kepalanya tidak boleh dicukur. Dengan demikian, rambut yang dibiarkan (tidak dicukur) sekaligus merupakan tanda pengenal bagi masyarakat. Dengan melihat letak rambut pada bagian kepala anak tersebut orang dapat mengetahui dari kalangan masyarakat manakah anak itu berasal.

Sebagai catatan pula bahwa kepala soa (momo kanate) yang bertindak sebagai pemimpin upacara adalah yang berasal dari soa yang sama dengan ayah si anak yang diupacarai. Soa adalah suatu kesatuan masyarakat yang berdasarkan genealogis teritorial. Orang Nuaulu yang tinggal di daerah Amahi mempunyai 11 soa yang tergabung dalam 4 negeri (desa). Momo kanate merupakan orang yang dipercaya untuk memimpin dan melaksanakan upacara tihi huau karena merupakan lambang kehormatan dari soa. Dia merupakan tokoh yang dihormati dan disegani serta dianggap memiliki kharisma-kharisma dan mempunyai kekuatan-kekuatan sakti yang dapat mengalahkan pengaruh roh-roh jahat. Pencukuran rambut oleh tokoh ini merupakan suatu perwujudan rasa hormat masyarakat terhadap pemimpin soa-nya. Selain momo kanate, pihak-pihak yang juga terlibat dalam kegiatan upacara ini adalah anggota-anggota kelompok kerabat dari pihak ayah maupun ibu dari anak yang diupacarakan.

Setelah pencukuran pada bagian tertentu (bergantung pada status sosialnya) selesai, maka langkah selanjutnya adalah penyisiran rambut dengan sabut kepala oleh momo kanate. Selanjutnya, kepala dibersihkan dengan air yang telah dimanterai oleh momo kanate. Penyiraman ini sekaligus merupakan simbol bahwa anak telah bebas dari pengaruh pembawaan buruk dari orang tuanya ataupun pengaruh roh jahat.

Rambut dari anak yang telah diupacarakan oleh momo kanate diambil sebagian, kemudian dimasukkan ke dalam ruas bambu yang telah dipersiapkan. Setiap ruas bambu dari setiap individu diberi tanda pengenal khusus untuk mencegah kekeliruan dalam pengambilannya. Ruas bambu itu kemudian ditempatkan di dalam numaonate atau rumah soa sebagai data jiwa. Jadi, bila di dalam sebuah numanoate terdapat 650 ruas bambu, berarti jumlah penduduk negeri (desa) yang bersangkutan adalah 650 jiwa. Agar tidak terjadi kekeliruan dalam jumlah jiwa, maka jika pemiliknya meninggal, ruas bambu yang berisi rambutnya pun ikut dikuburkan.

Acara selanjutnya adalah santap bersama. Untuk itu, tuan rumah (penyelenggara upacara) mempersilahkan semua undangan mencicipi hidangan yang telah disediakan di dalam rumahnya. Santap bersama yang merupakan penutup dari rangkaian upacara ini sekaligus merupakan ungkapan terima kasih kepada Upu Kuanahatana dan roh-roh para leluhur karena upacara berjalan lancar.

Sebagai catatan, hidangan yang disediakan adalah makanan sehari-hari yang biasa disantap oleh seluruh lapisan masyarakat Nuaulu. Dengan demikian, orang dari lapisan atau golongan sosial mana pun dapat melaksanakan upacara ini.

Nilai Budaya
Nilai budaya yang terkandung dalam upacara yang disebut Tihi Huau adalah: kebersamaan, ketelitian, dan keselamatan. Nilai kebersamaan tercermin dari berkumpulnya para anggota kelompok kerabat untuk berdoa bersama demi keselamatan anak yang diupacarai dan sekaligus sebagai sarana untuk mempererat kebersamaan antarkelompok kekerabatan dalam sebuah negeri (desa).

Nilai ketelitian tercermin dari proses upacara itu sendiri. Sebagai suatu proses, upacara memerlukan persiapan, baik sebelum upacara, pada saat prosesi, maupun sesudahnya. Persiapan-persiapan itu, tidak hanya menyangkut peralatan upacara, tetapi juga tempat, waktu, pemimpin, dan peserta. Semuanya itu harus dipersiapkan dengan baik dan seksama, sehingga upacara dapat berjalan dengan lancar. Untuk itu, dibutuhkan ketelitian.

Nilai keselamatan tercermin dari tindakan pemotongan rambut itu sendiri. Upacara tihi huau merupakan suatu tanggapan aktif yang dilakukan oleh suatu kelompok masyarakat untuk menghilangkan sifat-sifat buruk dari orang tua dan gangguan dari roh jahat pada diri seorang anak. Dengan menghilangkan atau memotong sebagian rambut seorang anak yang dilakukan oleh orang yang dianggap sakti (momo kanate), maka anak dianggap telah terlepas dari sifat-sifat buruk dan gangguan roh jahat tersebut. Di samping itu, si anak juga didoakan oleh seluruh anggota kerabatnya yang hadir, agar dirahmati oleh upu kuanahatana dan roh-roh para leluhur. (pepeng)

Sumber:
Suradi Hp, dkk. 1982. Upacara Tradisional Daerah Maluku. Ambon: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
_______________
*) Rambut dapat digunakan oleh orang lain untuk mencelakakan pemiliknya dengan menggunakan ilmu gaib. Dan, ilmu gaib yang memanfaatkan bagian tubuh manusia (rambut) sebagai alat untuk mencelakai pemiliknya disebut sebagai “ilmu gaib kiasan”.

Megelli Naked Streetbike 125cc

Technical Specifications
Engine
Engine type
Displacement
Horse Power
Max torque
Bore x Stroke
Compression ratio
Lubrication System
Carburetion
Transmission
Clutch

SOHC, Single Cylinder Ceramic Coated
124.1 cm³
11 Nm @8,500 rpm
9.0 Nm @7,500 rpm
56.5 x 49.5 mm
10:1
Forced & Wet Sump
Mikuni
5-speed (1-N-2-3-4-5)
Wet Type & Multi Plates
Dimensions
Frame type
Overall Length
Overall Width
Overall Height
Seat Height
Ground Clearance
Wheelbase
Dry Weight
Fuel Capacity
Suspension (front)
Suspension (rear)
Brakes (front)
Brakes (rear)
Tires (front)
Tires (rear)

A12 Multi Twin Spar Trellis Configuration
-
-
-
800mm
-
1349.6mm
110Kg approx
-
Conventional
Fast Ace
Disc
Drum
CST 100/70-17 TL
CST 130/70-17 TL

Source: http://www.megelli.com

Pandangan Masyarakat terhadap Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa

Oleh Drs. Mohammad Damami, M.Ag.

I
Kepercayaan terhadap Tuhan Yang maha Esa (untuk selanjutnya ditulis Kepercayaan TME) nampaknya sudah diterima sebagai sebuah “Budaya Spiritual”. Penerimaan dari aspek antropologi ini barangkali merupakan modal yang baik untuk kepentingan Kemercayaan TME pada masa datang.

Sebagai budaya spiritual, Kepercayaan TME nampaknya juga telah memiliki format sebagai yang cukup dapat dibedakan dengan sosok agama pada umumnya. Di kalangan pengamat luar, dalam arti pengamat di luar penghayat Kepercayaan TME lebih banyak bertumpu pada unsur Etika (budi luhur), sekalipun tarikan ke olah pikir (berpikir secara filsafati) atau Metafisika (sangkan paraning dumadi) dan tarikan ke olah roso (penghayatan secara rohani) atau Mistika (manunggaling kawula-Gusti) juga sangat berpengaruh banyak. Karena itu kalangan penghayat Kepercayaan TME khususnya, masyarakat Jawa pada umumnya, sepertinya memiliki bakat untuk mampu berlama-lama berbincang tentang Etika yang direnung-renungkan antara tarikan Metafisika dan Mistika di atas (karen ngudhar gagasan). Renungan-renungan tersebut lebih menguat lagi setelah teknik penafsirannya yang bersifat personal, penghayatan, simbolik, dan berbagi pengalaman (intersubyektif).

Dari segi legal-konstitusional, Kepercayaan TME telah memiliki nama dan kedudukan yang sah, sekalipun dalam ramah sosiologis dan praktek bernegara di sana-sini masih perlu penataan secara bertahab. Dalam hal ini barangkali banyak juga ditentukan oleh apresiasi, resepsi, fungsionalisasi ajaran, dan kiprah Kepercayaan TME dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam akar rumput (rakyat kebayakan). Karena itu putaran roda kegiatan penghayat, tokoh, wadah sosial, dan organisasi Kepercayaan TME secara terus menerus tentu saja sangat menentukan.

Dalam wacana akademik pernah terlontar bahwa kalau zaman semakin maju dan canggih, maka agama dan budaya spiritual akan tersingkir. Alasannya, zaman yang maju adalah berdasar membesarnya penggunaan nalar (rasio) dan percobaan (eksperimentasi), sedangkan agama dan budaya spiritual lebih berpijak pada penggunaan rasa hati (emosi) dan pengalaman rohani pribadi. Namun kenyataannya, kemajuan dan kecanggihan ilmu dan teknologi yang telah dicapai justru menyebabkan rasa hati manusia menjadi kering, terpinggirkan “kemanusiaannya”, dan tereliminasi (tersingkirkan) sehingga seolah-olah segala kekayaan dan piranti malahan “menguasai” manusia itu sendiri. Dengan adanya kondisi seperti inilah lalu manusia berpaling kembali pada agama dan budaya spiritual yang ternyata mampu menutup kegelisahan rasa hati semacam itu. Tegasnya, sampai kapanpun ternyata hidup manusia tidak dapat sekedar ekstrim membanggakan nalar dan percobaan (eksperimentasi) saja, melainkan perlu diimbangi dengan kepuasan layanan rohani dari agama dan budaya spiritual. Karena itu dalam zaman yang serba berkemajuan ini masih tetap terbuka lebar kesempatan budaya spiritual Kepercayaan TME untuk melayani kebutuhan rohani masyarakat, khususnya di kalangan yang simpati terhadap Kepercayaan TME, bahkan dalam batas-batas tertentu di kalangan masyarakat pada umumnya.

Sementara itu, sekalipun dalam pengalaman hidup ini manusia telah mengenal beberapa macam “norma”, yaitu norma susila, norma sosial, norma hukum, dan norma agama, namun nampaknya “norma agama” tetap merupakan norma yang paling laten mengendap dalam lubuk hati manusia yang paling dalam. Tegasnya, kesadaran yang berpangkal pada homo religious merupakan kesadaran yang paling menguasai dalam hati manusia. Berdasar uraian ini, maka fungsi agama dan budaya spiritual makin menempati momentumnya untuk bekerja.

II
Kalau dilacak dari sudut nilai budaya yang termuat dalam budaya spiritual Kepercayaan TME, menurut Prof. DR. Edi Sedyawati, di dalamnya terdapat 5 (lima) nilai budaya yang kelimanya dapat dilacak dari konsep-konsep Hindu (dan sebagian Budha), yaitu, pertama, hubungan manusia dengan “Tuhan”. Di sini “Tuhan” dimaknai dalam 3 (tiga) tema, yaitu tema konsep “Brahmana”, tema konsep “Nirwana”, dan tema konsep “Iswara” (dan “Bhagawad”). Konsep “Brahmana” memunculkan paham “manunggaling kawula-Gusti” sebagai perwujudan dari kembalinya atman kepada “Brahman” menurut filsafat Vedanta. Konsep “Nirwana” memunculkan paham “Samadhi” yang kemudian dimodifikasi dalam berbagai variasi. Selanjutnya konsep “Isvara” melahirkan paham keberserahdirian, yang hal ini juga dikembalikan di kalangan agama-agama lain, sebab, dalam konsep terakhir ini “Tuhan” dipahami (seolah-olah) sebagai personal. Kedua, hubungan manusia dengan sesama manusia dan sesama makhluk. Nilai yang muncul adalah pengagungan rasa “kasih sayang sesama”. Ajaran ahimsa (dan juga memayu hayuning bangsa) dapat dibaca dari akar ajaran ini. Ketiga, hubungan manusia dengan alam. Nilai yang muncul misalnya kesadaran adanya hubungan antara jagad gedhe (makrokosmos) dan jagad cilik (mikrokosmos, manusia). Keempat, hubungan manusia dengan waktu. Di sini, waktu dimaknai siklus (gerak melingkar) yang dirumuskan dalam ajaran punarbhava (kelahiran kembali) dalam agama Hindu. Adat tradisi selamatan pada hari-hari tertentu karena adanya kematian adalah terpengaruh oleh konsep siklus waktu ini. Yang terakhir, kelima, hubungan manusia dengan kerja. Nilai yang muncul adalah bahwa bekerja adalah “pengabdian kepada “Tuhan”, sekalipun dalam perkembangannya bisa bercampur dengan motif mencari rezeki atau karena didorong oleh status sosial tertentu (Sedyawati, 2009: 1-9)

Selanjutnya, Kepercayaan TME juga menyerap ajaran Islam, atau paling tidak terpengaruh oleh ajaran Islam. Seperti diketahui, sebagian dari Kepercayaan TME ada yang cenderung menguat unsur mistik di dalamnya. Bagi Kepercayaan TME semacam ini tidak jarang muncul beberapa istilah tersebut dapat dilacak referensinya dari istilah yang termuat dalam karya sastra Jawa seperti yang termuat dalam Serat Hidayat Jati. Ada juga yang sekalipun istilah yang diserap tidak nampak asli dari naskah Jawa, namun idea atau konsep yang dimuat adalah tidak jauh berbeda dengan muatan idea atau konsep dari karya sastra Jawa yang telah popular, seperti Serat Centhini, Serat Hidayat Jati, Serat Wedatama, dan sebagainya. Pengaruh semacam ini, menurut sebagian peneliti, disebabkan Kepercayaan TME tidak dapat dilepaskan dari Javanism atau Kejawen yang ajaran Kejawen tersebut termuat dalam sastra Jawa (Imam S, 2005 : ix; Damami, 2009 : 4).

Dari segi sejarah Kepercayaan TME yang dahulu pernah dikenal dengan sebutan “Kebatninan”, pernah “Kebatinan” tersebut didefinisikan sebagai : “Sepi ing pamrih, rame ing gawe, amemayu hayuning bawana” (rumusan dalam Badan Konggres Kebatinan Indonesia I pada tahun 1955). Kemudian definisi tersebut diubah lagi menjadi : “Sumber asas dan sila Ketuhanan Yang Maha Esa, untuk mencapai budi luhur guna kesempurnaan hidup” (rumusan dalam Badan Konggres Kebatinan Indonesia II pada tahun 1956). Definisi kedua ini sudah tidak berubah lagi sampai pada zaman Orde Baru. Tahun 1981 dalam Sarasehan Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang sebutan “kebatinan” telah dibakukan menjadi “Kepercayaan TME”, lalu dirumuskan definisinya : Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah pernyataan dan pelaksanaan hubungan pribadi dengan Tuhan Yang Maha Esa, berdasarkan kenyataan yang diwujudkan dengan perilaku ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa atau peribadatan serta pengalaman budi luhur”. Dengan memperhatikan perkembangan definisi Kepercayaan TME tersebut dapat ditarik beberapa pengertian. Pertama, faktor Tuhan Yang Maha Esa cukup ditonjolkan. Jadi, wajah Kepercayaan TME selaras dengan bunyi teks Pembukaan UUD 1945 yang memuat sila pertama dari Pancasila dan Bab XI Pasal 29 Ayat I. Dengan demikian Kepercayaan TME masih tetap dalam koridor UUD 1945, terutama yang berkisar tentang konsep Ketuhanan Yang Maha Esa”. Introduksi atau pengenalan Kepercayaan TME kepada masyarakat, apalagi kepada masyarakat generasi muda, perlu hal ini menjadi bagian penting. Jika hal ini terjaga dengan baik, minimal akan mengurangi secara tajam kesan yang tidak diinginkan terjadi terhadap institusi budaya spiritual Kepercayaan TME, dan maksimalnya akan berpengaruh pada kelancaran pengenalan Kepercayaan TME kepada masyarakat, khususnya masyarakat generasi muda yang rata-rata memiliki daya kritis ini. Kedua, faktor perilaku ketaatan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Wujudnya berupa peribadatan (sering diberi istilah “panembahan”) menurut cara yang ditentukan oleh setiap wadah sosial dari Kepercayaan TME tersebut. Wujud peribadatan ini merupakan ciri unik masing-masing wadah sosial Kepercayaan TME, namun sekaligus dapat dikatakan sebagai titik lemah dari wadah sosial Kepercayaan TME itu sendiri. Dikatakan merupakan “titik lemah” karena tidak ada keseragaman peribadatan sebagaimana agama-agama besar, sebagaimana agama Islam misalnya. Oleh karena itu cara peribadatannya menjadi sangat beragam, bahkan beraneka warna. Untuk mengintroduksi Kepercayaan TME lewat aspek peribadatan ini menjadi relatif sulit, apalagi kalau cara-cara peribadatannya juga dikesani “rumit” oleh masyarakat. Peribadatan agama besar, seperti dalam Islam misalnya, yang Nampak begitu sederhana dan mudah, namun kenyataannya masih banyak juga yang enggan melaksanakannya. Kecuali kalau tujuan melakukan introduksi peribadatan tersebut untuk sekedar kelompok kecil orang dan untuk wilayah terbatas. Namun pertanyaannya adalah bahwa apakah setiap wadah sosial Kepercayaan TME memang bermaksud demikian? Ketiga, faktor penampilan budi luhur. Seperti telah disinggung dalam permulaan tulisan ini didepan, bahwa unsur Etika (budi luhur) merupakan tumpuan inti dari Kepercayaan TME. Introduksi dari aspek ini barangkali yang paling menguntungkan dan paling strategis. Seluruh agama di dunia juga melakukan hal yang sama. Karena memang di sinilah antara lain daya-sumbang yang paling nyata, baik dari agama maupun budaya spiritual seperti Kepercayaan TME, misalnya. Sebagaimana diketahui, setiap wadah sosial Kepercayaan TME lahir dari masyarakat pendukungnya, yaitu masyarakat setempat (lokal) dan artikulasi ajarannya kebanyakan memakai bahasa setempat (lokal, bahasa ibu). Karena itu mestinya ajaran Etika (budi luhur) yang dirumuskan dan diperkenalkan akan terasa lebih pas dalam penyampaian dan penerimaannya. Dewasa ini sering generasi tua mengeluh sebab pendidikan budi pekerti belum efektif diajarkan. Sejauh pemahaman selama ini, istilah “budi pekerti” itu menyangkut dua wilayah sekaligus, yaitu wilayah konsep etika yang sifatnya normatif, dan wilayah etiket atau tatakrama yang bersifat praktis. Bagian yang menyangkut wilayah konsep etik yang bersifat normatif, maka bagian ini masih dapat disapakan atau dikomunikasikan dengan konsep etik yang lain, termasuk konsep etik dari agama dunia. Bahwa selama konsep etik tersebut berbobot universal, maka konsep tersebut akan mampu bersapaan dengan konsep etik yang lain. Namun, bagian yang menyangkut wilayah etiket atau tatakrama yang bersifat praktis, maka bagian ini belum tentu dapat disapakan dengan etiket atau tatakrama yang berbeda. Etiket atau tatakrama ini sangat mungkin berasal dari “kebiasaan setempat”, karena itu sangat mungkin penerimaannya menjadi sangat terbatas. Sebagai contoh, kalau orang Jawa mempersilahkan orang lain atau tamu untuk duduk dengan cara memakai ibu jari sebagai alat tunjuk, maka etiket atau tatakrama ini belum tentu dapat diterima oleh orang yang bukan berlatarbelakang suku Jawa. Dengan demikian apa yang disebut “budi pekerti”, kalau memang ingin disebarluaskan secara tak terbatas ruang lingkupnya, maka perlu ditapis dahulu bagian-bagian mana (etik atau etiket) yang dapat diangkat secara universal. Sebaliknya, kalau etik atau etiket yang termuat dalam budi pekerti tersebut memang dimaksudkan hanya untuk wilayah terbatas, khususnya oarng-orang Jawa, maka proses penapisan tersebut tidak begitu dituntut.

Kalau direnungkan, sebenarnya istilah “budi pekerti” di atas memiliki keunikan tersebut karena antara wilayah teori (yakni konsep etikanya) sekaligus didampingi unsur praktek (yakni etiket atau tatakramanya), sekalipun tentu saja tidak seluruhnya demikian. Kondisi rangkap seperti terlihat dalam istilah ‘budi pekerti tersebut disebabkan begitu kuatnya pemahaman simbolik dalam pikiran orang Jawa. Bahkan membungkukkan badan di depan orang lain atau tamu yang dihormati merupakan simbol untuk merendahkan diri, misalnya. Jadi pengertian “menghormati” tidak sekedar berhenti pada level ‘pengertian’ melainkan diwujudkan dalam simbol sekarang langsung dan nyata.

III
Ada 2 (dua) istilah yang sering dikaitkan dengan dunia Kepercayaan TME, yaitu engelmu tuwo dan adiluhung. Mereka yang masih menyukai teknik othak-athik gathuk, kata “ngelmu” sering diartikan; angel nanging tinemu (walaupun sukar namun akhirnya ditemukan juga). Ngelmu tuwo lalu dimaknai, pertama, adalah ilmu yang sukar dicapai dan untuk mencapainya diperlukan usaha rohaniah yang sangat keras yang disebut laku. Laku ini bisa bersifat viapurgativa, yaitu lewat membuat penderitaan fisik untuk tujuan melumerkan kerasnya watak buruk (angkara murka), misalnya dengan puasa (cegah makan, cegah bicara, cegah tidur, cegah seksualitas). Bisa juga laku yang bersifat via etika, yaitu tahan menderita karena dihina, dicerca, dimaki-maki, dijatuhkan martabatnya, dan sebagainya. Sebaliknya, dia juga tidak pernah tergoda atau terpengaruh oleh ucapan pujian atau sanjungan orang lain sehingga berubah menjadi sombong, tinggi hati, dan sebagainya. Terakhir, bisa juga laku ini bersifat via illuminative, yaitu melakukan konsentrasi keras secara rohani dalam wujud meditasi sampai mengalami suasana rohani yang berbeda sama sekali dengan pengalaman hidup yang bersifat jasadiah (kebutuhan yang dipenuhi kenikmatan indrawi) ini. Karena adanya laku yang paling tidak berwajah 3 (tiga) ini (purgative, etika, illuminative) sering terkesan apa yang disebut “ngelmu tuwo” adalah tidak sembarang ilmu dan tidak sembarang orang mampu memahami atau mencapainya. Kalau Kepercayaan TME dianggap “ngelmu tuwo” dengan pengertian seperti ini, maka akan sukar diperkenalkan kepada orang lain, apalagi kepada generasi muda. Kedua, “ngelmu tuwo” dimaknai ilmu untuk orang yang sudah tua umurnya, yakni kelompok orang yang relatif sudah mulai berjarak dengan urusan mencari rezeki dalam persaingan hidup sehari-hari yang kadangkala menjurus “kotor”. Karena itu orang muda dianggap “belum waktunya” mempelajarinya. Anggapan seperti ini juga akan menjadi kendala yang tidak sedikit manakala ada usaha untuk memperkenalkan Kepercayaan TME terutama kepada kalangan generasi muda. Dengan pengertian model kedua ini seolah-olah “ngelmu” itu dibelah dua, ada “ngelmu tuwo” ada pula “ngelmu mudho”. Jelas pemilahan seperti ini, kalau sampai terjadi, tidak menguntungkan bagi usaha pengenalan Kepercayaan TME terutama untuk kalangan generasi muda. Ketiga, kadang-kadang “ngelmu tuwo” ini diidentikkan dengan pengertian “ilmu tasawuf”. Kesan orang secara spontan, bahwa apa yang disebut ‘ilmu tasawuf’ itu dipersepsikan ilmu yang dilakukan oleh orang-orang tua yang hidupnya teramat sederhana (pakaiannya lusuh, wajahnya pucat, cara berjalannya pelan dan menunduk, badannya kelihatan lemah dan sebagainya), sehingga dipersepsikan tidak cocok bagi kalangan generasi muda yang rata-rata masih suka makan enak, berjalan gesit dan tegak, badannya sehat segar-bugar, dan sebagainya. Pokoknya, ‘ilmu tasawuf’ ini terkesan ilmu untuk menghindari hingar-bingar duniawi ini ; begitulah kira-kira kesannya. Jika persepsi semacam ini yang berkembang dalam kalangan generasi muda, maka tidak akan mudah Kepercayaan TME diapresiasi atau diterima.

Berdasarkan uraian di atas, maka pemahaman “ngelmu tuwo” yang diletakkan pada Kepercayaan TME perlu dievaluasi ulang dalam arti perlu dibuat pemaknaan baru yang tidak sampai mengganggu kelancaran dalam usaha pengenalan Kepercayaan TME kepada masyarakat, khususnya kalangan generasi muda. Kalau memang Kepercayaan TME menghendaki memiliki akar yang kuat dalam masyarakat, maka faktor generasi muda sebagai generasi penerus mau tidak mau harus memperoleh perhatian khusus.

Istilah kedua adalah “adiluhung”. “Adi” berarti “indah” (bahasa Kawi) dan “luhung” berarti “tinggi” (bahasa Kawi). Jadi, “adiluhung” berarti sesuatu yang dianggap indah nilainya dan tinggi mutunya. Istilah ini sudah sangat populer dalam kalangan orang Jawa. Sayangnya, istilah tersebut tidak pernah jelas apa yang menjadi “ukurannya”. Seting istilah “adiluhung” tersebut diterima begitu saja (taken for granted) tanpa dipahami (karena merasa seolah-olah dimengerti atau sudah dipahami namun sesungguhnya yang bersangkutan tidak paham atau tidak mengerti apa arti yang sesungguh-sungguhnya) secara penuh. Dalam kondisi tidak paham dan tidak mengerti seperti itu anehnya banyak yang menggunakannya untuk melabeli hal-hal yang dikaguminya, termasuk terhadap Kepercayaan TME. Kalau istilah “adiluhung” ini tidak dievaluasi dan dijelaskan secara rinci dan gamblang pengertian atau pemahamannya (misalnya saja diberi indikator-indikator tolak ukurnya), maka Kepercayaan TME yang sering dilabeli “adiluhung” tersebut akan tidak mudah menyentuh dan menarik di kalangan generasi muda, terutama. Bagi yang begitu kagum terhadap Kepercayaan TME akan merasa melambung di bawah sayap pengertian “adiluhung” yang dia pahami, sebaliknya bagi pihak yang belum tertarik, apalagi belum mengenal, terhadap Kepercayaan TME akan semakin menjauhkan diri. Ada yang menduga, bahwa istilah “adiluhung” ini merupakan limbah kekaguman wong cilik kepada apa saja yang bersumber pada keraton. Seperti diketahui, karya sastra yang diciptakan oleh para pujangga yang tidak jarang dikuitp dalam ajaran Kepercayaan TME adalah berasal dari keraton. Sementara itu rakyat kecil kebanyakan buta huruf (huruf Jawa); mereka hanya mampu mendengar lantunan karya sastra yang ditembangkan lewat tembang macapat misalnya. Kekaguman seperti terbawa-bawa ke arah mana-mana, termasuk dalam menilai atau melabeli terhadap Kepercayaan TME. Karena itu sudah masanya untuk mendudukkan istilah “adiluhung” ini dalam kedudukan yang sesungguhnya dan proporsional, terutama kalau terhadap dengan kalangan generasi muda yang rata-rata sudah mulai kritis.

Ada stu hal yang patut dituliskan di sini, bahwa karena bahasa Indonesia sekarang ini sudah begitu popular di seluruh wilayah Nusantara ini, maka kiranya perlu media bahasa Indonesia ini dipakai untuk “mengalihkan” konsep-konsep yang masih terpendam dalam bahasa Jawa untuk dapat diperkenalkan ke seluruh Nusantara agar konsep-konsep yang baik dalam Kepercayaan TME tidak hanya melingkar-lingkar di kalangan orang Jawa saja. Pengalihan itu tentu saja dengan cara penerjemahan atau penulisan dengan memakai bahasa Indonesia. Penerjemahan dengan didampingi teks asli yang berbahasa Jawa, misalnya, barangkali sangat dianjurkan. Disamping itu, pemahaman terhadap kesenangan generasi muda zaman sekarang perlu juga dibaca dan dicermati dengan sebaik-baiknya. Generasi muda sekarang, karena memang sudah zamannya seperti itu, memang tidak dapat disamakan dengan generasi tua dahulu. Kalau ada usaha untuk menyamakan, apalagi sama persis, hal semacam itu bagaikan memutar jarum jam ke belakang. Artinya, usaha semacam itu kurang sewajarnya. Kepungan fasilitas hidup untuk bernikmat-nikmat nampaknya sangat berpengaruh terhadap mental generasi muda sekarang ini. Ini mengandung arti, perlu kiranya dipikirkan bagaimana cara mengubah ajaran Kepercayaan TME menjadi Nampak menarik. Ini menyangkut reevaluasi terhadap isi konsep dan penyajiannya. Isi konsep harus dijenjangkan mulai dari yang paling mudah (sederhana) sampai yang paling sulit (kompleks), termasuk berdasar pertimbangan umur danderajat pengetahuan calon pembacanya atau yang akan mendengarkannya. Isi konsep juga harus dijenjangkan mulai dari kebutuhan “kawula muda” sampai dengan kebutuhan “priyantun sepuh”. Dengan memahami ciri dan karakter orang muda, dan juga karakter lainnya, akan lebih memudahkan pengenalan Kepercayaan TME kepada generasi muda terutama dan masyarakat pada umumnya.

Daftar Bacaan
Biro Bina Sosial Setwilda DIY. 1999. Pemaparan Budaya Spiritual Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Yogyakarta: Biro Bina Sosial Setwilda DIY dan Bidang Jarahnitra Kanwil Depdikbud Propinsi DIY.

Damami, Mohammad. 2002. Makna Agama Dalam masyarakat Jawa. Yogyakarta : LESFI

------------. 2005. “Masa Depan Kepercayaan : Dilestarikan atau Ditinggalkan?”, Makalah Tidak Diterbitkan. Jakarta : Direktorat Kepercayaan Dirjen Nilai Budaya Seni dan Film Depbudpar.

------------. 2006. “Pemanfaatan Ajaran Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa Dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara”, Makalah Tidak Diterbitkan. Jakarta : Direktorat Kepercayaan Dirjen Nilai Budaya Seni dan Film Depbudpar.

------------. 2009. “Nilai-nilai Ajaran Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa”, Makalah tidak Diterbitkan. Jakarta : Direktorat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa Direjen Nilai Budaya Seni dan Film Depbudpar.

Imam S. Suwarno. 2005. Konsep Tuhan, manusia, Mistik Dalam Berbagai Kebatinan Jawa. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.

Mulder, Niels. 2001a. Mistisme Jawa Ideologi di Indonesia. Yogyakarta : LKIS.

-----------. 2001b. Ruang Batin Masyarakat Indonesia. Yogyakarta : LKIS.

Poespaningrat, Pranoedjoe. 2008. Kisah Para Leluhur dan Yang Diluhurkan, Dari Mataram Kuno Sampai Baru. Yogyakarta : PT BP Kedaulatan Rakyat.

Rochanto, Eko (ed.). 1980. Hasil Penelitian Organisasi Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa Daerah Istimewa Yogyakarta. Jakarta : Depdikbud.

Sedyawati, Edi. 2009. Nilai-nilai Ajaran Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Jakarta : Direktorat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa Dirjen Nilai Budaya Seni dan Film Depbudpar.

Soehadha, M. 2008. Orang Jawa Memaknai Agama : Kreasi Kencana.

Zoetmulder, P.J. 1990. Manunggaling Kawula Gusti, Pantheisme dan Monisme dalam Sastra Suluk Jawa, Suatu studi Filsafat. Jakarta : KITLV-LIPI-PT Gramedia.

Sumber:
Makalah disampaikan dalam Dialog Budaya Spiritual DIY di Wisma PU. Jl. Laksda Adisucipto No. 165 Yogyakarta, 29-30 Juni 2009 yang diselenggarakan oleh Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Yogyakarta.

Popular Posts

-