Upacara Kesodo di Gunung Bromo

Daerah Tengger merupakan gugusan daerah pegunungan yang menjulang antara 1700-2000 m di atas permukaan laut. Daerah ini merupakan desa-desa di lembah perbukitan yang mengitari Gunung Bromo sebagai pusatnya. Dalam masyarakat Tengger adat merupakan bagian kehidupan yang penting. Adat itu terpelihara dengan baik karena berfungsi sebagai pengatur kehidupan masyarakat dan kepercayaannya. Banyak dongeng di kalangan mereka yang bercerita tentang asal-usul berbagai upacara dan gunung-gunung yang tersebar di sekitar Gunung Bromo. Adat dan religi telah menjadi bagian kehidupan masyarakat Tengger dari masa ke masa.

Roro Anteng dan Joko Seger yang mendambakan keturunan
Salah satu upacara besar masyarakat Tengger yang sangat dikenal oleh masyarakat Indonesia adalah upacara Kesodo yang diadakan setiap tahun pada bulan ke duabelas menurut hitungan pranatamangsa masyarakat Tengger. Menurut legenda, upacara ini bermula dari Roro Anteng dan Joko Seger yang sangat mendambakan anak. Mereka sudah lama berkeluarga, namun belum juga dikaruniai seorang anak pun.

Pada suatu malam ketika Joko Seger sedang asyik bersamadi memohon berkah kepada sang dewata, ia melihat suatu cahaya yang menyala di kejauhan. Joko Seger segera mengajak isterinya mendatangi cahaya tersebut karena mengira tentulah cahaya tersebut berasal dari dewa-dewa yang turun ke bumi. Setelah sampai di tempat cahaya tersebut, ternyata cahaya itu berasal dari cahaya kawah Gunung Bromo. Walaupun agak kecewa karena tidak bertemu dengan dewa-dewa, namun sepasang suami isteri tersebut bersumpah di depan kawah Gunung Beromo bahwa jika kelang sang dewata atau Hong Pukulon mengabulkan permohonan mereka dan mereka dikaruniai anak sebanyak 25 orang dan hidup semua, maka anak yang bungsu akan dikorbankannya ke dalam kawah Gunung Bromo tersebut. Sumpah tersebut mereka maksudkan sebagai ungkapan rasa terima kasih mereka berdua.

Ternyata beberapa bulan kemudian dewata betul-betul mengabulkan permohonan mereka, karena tampak gejala-gejala bahwa Roro Anteng akan segera mempunyai putera. Akhirnya terkabullah permohonan mereka, dikaruniai anak sebanyak 25 orang yang sehat-sehat semua. Anak-anak Joko Seger dan Roro Anteng sudah hampir menjelang dewasa, namun Joko Seger atau Sang Tengger lupa akan janjinya dahulu, yaitu mengorbankan puteranya yang bungsu.

Pada suatu saat bermimpilah tetangga Sang Tengger, jika Sang Tengger tidak segera menepati janjinya, maka seluruh daerah akan terkena mala petaka dan semua keluarga Sang Tengger akan dihabisi. Kemudian tetangga tersebut menceritakan mimpinya kepada Sang Tengger. Sang Tengger dan isterinya sangat terkejut. Mereka ingat akan janji mereka dahulu. Sang Tengger dan isteri sangat bersedih hati, mereka kasihan terhadap nasib anak bungsu mereka. Rupanya anak bungsu mereka yang bernama Kesumo telah mendengar pembicaraan antara tetangga dan ayahnya. Kesumo berpikir, kalau memang demikian janji ayahnya dahulu kepada dewata, maka janji itu harus ditepati. Kesumo rela berkorban demi keselamatan warga sekitar dan keluarganya. Dengan hati yang mantap dikemukakannyalah maksudnya kepada ayah dan ibunya. Hanya untuk itu Kesumo memohon agar ia dikorbankan di kawah Gunung Bromo tepat di tengah malam bulan purnama tanggal 15 bulan purnama sidi. Ia meminta agar seluruh rakyat di daerahnya mengiringkannya ke kawah Bromo untuk menjalankan penguburan sebagaimana yang telah dijanjikan oleh ayahnya.

Itulah salah satu legenda yang menceritakan tentang asal usul terjadinya upacara Kesada di kalangan masyarakat Tengger. Masih terdapat cerita semacam ini yang menceritakan asal usul upacara Kesada, yaitu cerita tentang Kyai Gede Dadap Putih yang mempunyai seorang putri angkat, bernama Putri Tiban. Sewaktu putri tersebut telah berkembang menjadi seorang gadis remaja yang canti, datanglah seorang pria bernama Kyai Bimo meminangnya. Pinangan itu ditolak oleh Putri Tiban. Karena pinangannya ditolak, marahlah Kyai Bimo. Putri Tiban dikutuknya agar tidak akan mendapat jodoh selamanya.

Kutukan tersebut menjadi kenyataan. Sampai lanjut usia Putri Tiban tetap tidak mendapatkan jodoh. Akhirnya atas petunjuk Kyai Dadap Putih yang sakti, Putri Tiban disuruh mersamadi meminta kepada dewata agar dikaruniai anak. Permohonannya pun dikabulan oleh dewata. Putri Tiban dikaruniai 25 anak, tetapi karena beratnya penderitaan untuk menghidupi anak yang banyak itu, Putri Tiban memohon kepada dewata agar terhindari dari kemiskinan yang amat sangat. Sebagai imbalan pengorbanan Putri Tiban menjanjikan salah seorang anaknya untuk dikorbankan ke dalam kawah Gunung Bromo.

Permohonan Putri Tiban rupa-rupanya dikabulkan oleh dewata dan kehidupannya mulai membaik, terhindar dari kemiskinan. Akhirnya dengan perasaan yang berat Putri Tiban mengorbankan salah seorang anaknya dimasukkan ke kawah Gunung Bromo. Selanjutnya masyarakat Tengger dan anak cucu Putri Tiban menganang hari korban tersebut sebagai peringatan dan tanda terima kasihnya kepada dewata. Perkembangan kemudian menunjukkan bahwa korban itu mulai dilengkapi dan diganti dengan mengorbankan sebagian dari hasil bumi dan ternak peliharaan. Korban ini diselenggarakan pada setiap bulan Kesada.

Pada hari Kesada upacara yang paling penting, yaitu upacara korban dan upacara pengujian dan pelantikan kepala adat Dukun. Para dukun muda diuji oleh Kepala Dukun Pusat (Ketua Dukun) yang berkedudukan di Ngadisari. Korban-korban yang dilabuh ke kawah Bromo antara lain adalah ternak seperti ayam dan kambing. Di samping itu ada juga yang melabuh uang dan hasil tanam. Yang paling banyak dilabuhkan adalah bibit kentang karena kentang adalah tanaman yang banyak terdapat di Tengger.

Upacara Kesada dimulai pada pagi hari di Poten Gunung Bromo. Dukun senior yang dibantu oleh dukun-dukun dari seluruh Kabupaten Probolinggo, Lumajang, Malang dan Pasuruan mulai membakar dupa dan menguyubkan akan melaksanakan upacara Kesada. Setelah mengheningkan cipta yang ditujukan kepada Hyang Maha Agung, para arwah serta dewa-dewa, maka barulah semua benda-benda korban dilabuh ke dalam kawah Gunung Bromo.

Selain orang-orang yang datang untuk berkorban ke Gunung Bromo, banyak pula orang yang datang ke sana untuk melakukan marit, yaitu mengumpulkan barang-barang yang dilabuh untuk mereka manfaatkan atau dibawa pulang. Jika setelah barang-barang korban dilabuh, para pemarit berlarian menuruni kawah untuk mengambil barang labuhan. Hal ini memang tidak dilarang oleh ketua adat. Bahkan ada anggapan bahwa bibit kentang yang diambil dari lahuban akan tumbuh lebih subur daripada bibit biasa.

Upacara Kesada dimulai pada saat langit di sebelah timur nampak terang, yaitu sekitar jam 04.30 dinihari dan berakhir besok paginya. Masyarakat yang akan mengikuti upacara sudah berangkat lebih dini, berbondong-bondong menuju Poten tempat dimulainya upacara.

Itulah sekelumit tentang upacara Kesada di Tengger yang masih berlangsung sampai sekarang. Kiranya upacara yang unik tersebut tidak akan pernah dapat diceritakan dengan kata-kata tanpa harus menyaksikannya sendiri ke sana. Masyarakat Tengger adalah masyarakat religius yang selalu memegang teguh adat dan kepercayaan mereka.

Sumber:
Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1991. Aneka Ragam Khasanah Budaya Nusantara II. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Dibaca: