Lagu Asyik Buat Ngopi Pinggir Sawah

Kawasaki Z1000

Technical Specifications
Engine
Engine type
Bore x Stroke
Displacement
Valves
Compression ratio
Max Power
Max Torque
Fuel system
Transmission
Final drive
Clutch
Ignition system
Starting system
Lubrication system
Gear ratios

Liquid-cooled, 4-stroke In-Line 4
77.2 x 50.9 mm
953 cm³
DOHC, 16 valves
11.2:1
92 kW {125 PS} / 10,000 rpm
98.7 N·m {10.1 kgf·m} / 8,200 rpm
Fuel injection: ø36 mm x 4 (Keihin) with oval sub-throttles
6-speed, return
Sealed chain
Wet multi-disc, manual
Digital
Electric starter
Forced lubrication, wet sump
1st 2.571 (36/14)
2nd 1.882 (32/17)
3rd 1.556 (28/18)
4th 1.333 (28/21)
5th 1.200 (24/20)
6th 1.095 (23/21)
Dimensions
Frame type
Overall length
Overall width
Overall height
Wheelbase
Seat height
Ground clearance
Weight
Fuel capacity
Rake
Suspension (front)

Suspension (rear)

Tyre (front)
Tyre (rear)
Brake (front)
Brake (rear)

Tubular backbone, high-tensile steel
2,090 mm
780 mm
1,065 mm
1,445 mm
820 mm
160 mm
228 kg / 232 kg (ABS)
18.5 litres
24.5° / 103 mm
41 mm inverted fork with stepless rebound damping and
spring preload adjustability
Bottom-Link Uni-Trak with gas-charged shock,
stepless rebound damping and spring preload adjustability
120/70ZR17M/C (58W)
190/50ZR17M/C (73W)
Dual semi-floating 300 mm petal discs
Single 250 mm petal disc

Source: http://www.kawasaki.co.uk

Hyosung GT650R EFI

Technical Specifications
Engine
Engine type
Bore x Stroke
Displacement
Valves
Compression ratio
Max Power
Max Torque
Fuel system
Transmission
Final drive
Clutch
Ignition type
Starting system
Air cleaner
Battery

Liquid Cooled, DOHC, 8 valve
-
647cc
-
-
82hp @ 9,000 rpm
-
Electronic Fuel Injection
6-speed
-
-
-
Electric starter
-
YTZ12S
Dimensions
Frame type
Overall length
Overall width
Overall height
Wheelbase
Seat height
Ground clearance
Dry Weight
Fuel capacity
Suspension (front)
Suspension (rear)
Tyre (front)
Tyre (rear)
Brake (front)
Brake (rear)

-
2060 mm
655 mm
1125 mm
1435 mm
780 mm
180 mm
208 kg
17 litres
-
-
120/60-ZR17 55W
169/60-ZR17 69W
Double Disc
Single Disc

Source: http://www.hyosung.co.uk

Hyosung GV125C

Technical Specifications
Engine
Engine type
Bore x Stroke
Displacement
Valves
Compression ratio
Max Power
Max Torque
Fuel system
Transmission
Final drive
Clutch
Ignition type
Starting system
Air cleaner
Battery

Liquid & Oil Cooled, DOHC, 8 valve
-
125cc
-
-
14.2hp @ 10,500 rpm
-
-
5-speed (1 down-4 up)
-
-
-
Electric starter
-
-
Dimensions
Frame type
Overall length
Overall width
Overall height
Wheelbase
Seat height
Ground clearance
Dry Weight
Fuel capacity
Suspension (front)
Suspension (rear)
Tyre (front)
Tyre (rear)
Brake (front)
Brake (rear)

-
2200 mm
800 mm
1070 mm
1490 mm
-
140 mm
157 kg
14 litres
-
-
110/90-16 59P
130/90-15M/C 66P
Disc
Drum

Source: http://www.hyosung.co.uk

Permainan Paka-paka (Maluku)

Paka-paka adalah suatu sebutan bagi orang Jailolo dan Sahu di Propinsi Maluku Utara, Indonesia, untuk permainan melempar gacu ke arah sebuah lubang yang di dalamnya terdapat kenari atau gelici sebagai taruhannya. Pada saat gacu mengenai lubang maka disebut paka karena pemain maupun penonton pada waktu itu akan berteriak paka. Kata paka sebenarnya hanya berhubungan dengan kena atau tidaknya gacu pada taruhan yang ada di dalam lubang. Kata ini mungkin pengaruh dari bahasa Ternate yang mengandung arti “ada dua bagian yang terpisah-pisah, kemudian bagian-bagian itu dapat bertemu”. Bagian yang terpisah adalah gacu dengan kenari atau gelici sebagai taruhannya. Bila keduanya bertemu akan disebut paka. Asal usul permainan ini, baik di kalangan orang Jailolo maupun Sahu sudah tidak dapat diketahui lagi.

Pemain
Permainan paka-paka dapat dimainkan oleh 2--6 orang. Jika yang ingin bermain banyak, maka dapat dibagi dalam dua atau tiga kelompok. Secara umum paka-paka dimainkan oleh kaum lelaki, baik anak-anak maupun dewasa. Kaum perempuan sangat jarang ikut dalam permainan ini.

Tempat dan Peralatan Permainan
Tempat permainan paka-paka dapat dilakukan di mana saja, di halaman rumah, di halaman rumah adat, ataupun di lapangan. Dahulu permainan tan besi hanya dimainkan pada malam hari. Setiap pemain, selain bermain, juga bertugas untuk menjaga lingkungan sekitarnya dari gangguan penjahat yang mungkin akan datang secara tiba-tiba. Namun saat ini, tan besi dapat juga dimainkan pada pagi atau sore hari. Di dalam arena permainan tersebut akan dibuat sebuah lubang yang berdiameter sekitar 5 cm. Kemudian dipasangi sebuah tonggak bambu atau kayu sekitar 17 cm yang nantinya akan ditanam dengan kedalaman 2 cm dan hanya menyisakan 15 cm di atas permukaan tanah. Jarak antara tonggak dan lubang sekitar 10 meter. Sekitar 30 cm (di depan tonggak) akan dibuat garis sebagai batas sah atau tidaknya lemparan pemain. Peralatan dalam permainan paka-paka adalah batu kerikil atau buah gelici yang nantinya akan digunakan sebagai gacu dan buah kenari atau gelici yang nantinya akan dipergunakan sebagai taruhannya.

Aturan dan Proses Permainan
Ada dua tahap dalam permainan paka-paka. Tahap pertama, pemain harus melempar gacunya dari tepi lubang ke arah tombak yang jaraknya sekitar 10 meter. Aturan-aturan yang terdapat dalam tahap pertama ini adalah: (1) bila dalam tahap ini pemain dapat merobohkan tonggak, maka pemain tersebut berhak mendapatkan kenari yang dipertaruhkan dan permainan dimulai kembali seperti semula; (2) apabila pada waktu melempar itu gacunya tidak melewati garis batas di depan tonggak, maka pemain harus kembali melempar; dan (3) bila gacu yang dilempar mengenai gacu lawan, maka lawan tersebut harus kembali melempar. Namun, apabila tidak ada seorang pun pemain yang dapat merobohkan tonggak maka permainan akan berlanjut pada tahap yang kedua. Pada tahap kedua ini, arah lemparan berubah, bukan dari lubang ke tonggak, melainkan dari tonggak ke arah lubang dengan aturan sebagai berikut: (1) bila gacu mengenai kenari atau gelici hingga ada yang keluar dari lubang, maka pemain berhak mengambil semua kenari yang berada di dalam lubang dan permainan diulang seperti semula lagi; (2) bila tidak ada seorang pun pemain yang berhasil mengeluarkan kenari, maka pemain yang jarak gacunya terjauh dari lubang dapat melempar kembali, namun sebelum melempar melangkah terlebih dahulu sebanyak tiga kali; (3) penentuan kalah menang dalam permainan ini adalah bagi siapa yang mendapatkan buah kenari terbanyak akan menjadi pemenangnya. Sementara itu, proses permainannya, setelah membuat lubang dan memasang tonggak adalah menentukan jumlah taruhan untuk satu kali permainan. Setelah taruhan disepakati (berupa kenari, langsat dan lain-lain), barulah kemudian penentuan nomor urut pemain dengan jalan suten atau undi. Selanjutnya permainan akan dimulai dengan urutan seperti aturan-aturan yang telah dijelaskan di atas, dan bagi pemain yang paling banyak memasukkan gacunya, maka ia dinyatakan sebagai pemenang.

Nilai Budaya
Nilai yang terkandung dalam permainan tan besi ini adalah kerja keras dan sportivitas. Nilai kerja keras tercermin dari semangat pemain yang berusaha untuk merobohkan tonggak atau mengenai kenari di dalam lubang agar dapat memenangkan taruhan. Dan, nilai sportivitas tercermin tidak hanya dari sikap para pemain yang tidak berbuat curang saat berlangsungnya permainan, tetapi juga mau menerima kekalahan dengan lapang dada. (pepeng)

Sumber:
Suradi Hp, dkk. 1981. Permainan Rakyat Maluku. Ambon: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Kuda Kepang (Johor, Malaysia)

Salah satu permainan yang sampai saat ini masih digemari oleh masyarakat Johor, Malaysia adalah permainan kuda kepang. Kesenian ini dahulunya dibawa oleh orang Jawa yang hijrah ke tanah Melayu. Pada mulanya kuda kepang hanyalah permainan biasa yang oleh orang Jawa digunakan untuk mengisi waktu luang. Namun, karena banyak mendapat sambutan dari penduduk setempat, permainan ini berkembang pesat hingga saat ini dan telah mempunyai suatu organisasi sendiri yang salah satunya bernama “Persatuan Kuda Kepang Pt. Kemang Muar”.

Pemain
Sebuah pertunjukan kuda kepang memerlukan sekurang-kurangnya 25 orang, yakni: 9 orang penari, 5 orang pemain musik, 15 orang penjaga arena dan 2 orang bertindak sebagai “Bomoh Pemulih”. Namun, dalam sebuah persatuan kuda kepang, biasanya beranggotakan 40 orang dan dipimpin oleh seseorang yang disebut Danyang. Dalam permainan kuda kepang, para pemainnya biasanya menggunakan seragam yang sama.

Tempat dan Peralatan Permainan
Permainan kuda kepang biasanya dilakukan di halaman rumah pada saat diadakannya upacara perkawinan atau acara-acara lain yang melibatkan banyak orang. Peralatan yang digunakan dalam permainan adalah: (1) Pecut yang terbuat dari bambu yang dipintal menjadi satu. Pecut ini berfungsi untuk mengarahkan dan mengawal pemain kuda kepang yang sedang dalam kondisi trance; (2) Kuda-kudaan yang terbuat dari kulit lembu yang dibentuk sedemikian rupa hingga menyerupai kuda dan diberi warna merah, putih atau kelabu; (3) Tali sepanjang 30 meter yang digunakan untuk membuat pagar agar pemain yang sedang trance tidak berkeliaran dan mengganggu penonton.

Sementara alat musik pengiringnya antara lain: (1) Angklung. Angklung adalah alat musik yang terbuat dari bambu dan rotan yang dibuat sedemikian rupa hingga akhirnya dapat mengeluarkan bunyi-bunyian yang indah. Jumlah angklung yang diperlukan biasanya 5 buah dengan berbagai ukuran, dari yang kecil sampai yang besar; (2) Gendang. Gendang terbuat dari kayu leban dan kulit lembu. Sementara tali untuk pengikat kulit pada kayu dibuat dari rotan. Ukuran gendang kurang lebih 3 kaki; dan (3) Gong. Bahan pembuat gong adalah tembaga. Seluruh peralatan tersebut setelah dipakai, mesti disimpan dengan baik agar “rohnya” tidak marah dan dapat terus membantu jika akan digunakan.

Jalannya Permainan
Sebelum permainan berlangsung, biasanya diadakan terlebih dahulu upacara-upacara tertentu yang dipimpin oleh pemimpin kelompok (Tok Bomoh) untuk mengundang roh nenek moyang agar permainan dapat berjalan dengan lancar. Untuk itu, perlu disediakan beberapa butir kemenyan, tempat membakar kemenyan, satu ceret air mentah, nasi campur (nasi yang sudah bercampur lauk ayam dan sayur), dan sejumlah uang.

Jalannya permainan dimulai dengan bunyi-bunyian alat musik angklung, gendang dan gong. Setelah alunan musik terdengar, penari-penari yang dipimpin oleh danyang akan memasuki arena dengan menunggang kuda kepang dan mulai menari menurut rentak dan irama lagu. Tarian yang kerap dimainkan dalam permainan kuda kepang ialah Tari Solo, Tari Selendang, Tari Pucuk Rebung dan Tari Kuda Kepang. Penari-penari tadi akan terus menari hingga mencapai suatu keadaan trance atau tidak sadarkan diri selama 2 jam. Keadaan ini biasa disebut “naik syeh”. Saat berada dalam keadaan trance tersebut, biasanya mereka dapat melakukan gerakan-gerakan yang aneh dan luar biasa seperti bersilat, melompat setinggi 6 kaki dan lain sebagainya.

Semasa penari dalam keadaan demikian, bunyi-bunyian yang mengiringi tarian ini akan bertambah cepat. Konon, jika alunan musik tidak cepat maka penari akan marah dan akan menerkam atau menendang pemain musik. Kelakuan ini tidak ubahnya seperti kuda yang sedang marah. Jika keadaan bertambah liar, Tok Bomoh akan menangkap dan merebahkan penari ke tanah. Tok Bomoh akan memulihkan penari menggunakan jampi-jampi hingga normal kembali seperti biasa.

Nilai Budaya
Nilai budaya yang terkandung dalam kuda kepang adalah kerukunan dan kesakralan. Nilai kerukunan tercermin dari masyarakat Johor yang mau menerima permainan kuda kepang yang berasal dari Jawa dan menjadikannya bagian dari kebudayaan Melayu. Sedangkan nilai kesakralan tercermin dari perawatan peralatan permainan dan upacara sebelum diadakannya permainan. Nilai ini mencerminkan bahwa manusia harus hidup selaras dengan alam semesta, baik itu yang nyata maupun yang gaib. (gufron)

Sumber: http://www.geocities.com

Archive