Kujur brongsong adalah sebutan orang Kubu/Rimbo di pedalaman Jambi bagi sebuah peralatan berburu berupa tombak setinggi ukuran orang dewasa. Kujur brongsong terbuat dari logam (besi) pada bagian matan dan gagangnya dari kayu tepis yang berserat, keras, serta relatif lurus. Tombak ini biasanya digunakan untuk berburu nangku (babi hutan), kera, rusa, napu, dan menjangan atau kijang. Adapun cara menggunakannya adalah dengan memegang bagian tengah, kemudian dilemparkan (dengan satu tangan) ke arah sasaran yang biasanya berkumpul di dekat sumber-sumber air.
Lagu Asyik Buat Ngopi Pinggir Sawah
Showing posts with label Peralatan Berburu. Show all posts
Showing posts with label Peralatan Berburu. Show all posts
Kujur
Kujur adalah sebutan orang Kubu di provinsi Jambi bagi peralatan berburu semacam lembing dengan panjang hampir mencapai 3 meter. Kujur terbuat dari kayu tepis yang dianggap ringan namun keras. Kayu ini relatif sulit didapatkan. Pada salah satu ujung kujur terdapat semacam pisau runcing dengan kedua sisi tajam (bentuknya lebih lebar dan pendek daripada tombak). Kujur diperoleh dengan cara membuat sendiri, kecuali mata pisaunya yang terbuat dari besi.
Lastik
Lastik adalah sebutan orang Melayu di Malaysia bagi sejenis alat untuk berburu burung dan sekaligus juga berfungsi sebagai alat mempertahankan diri. Oleh anak-anak atau kaum remaja, lastik yang dalam Bahasa Indonesia biasa disebut ketapel biasanya digunakan sebagai alat permainan untuk “menembak” burung atau buah-buahan yang ada di atas pohon.
Lastik umumnya dibuat atau diproduksi sendiri karena bahan baku yang digunakan relatif mudah didapat, seperti: ranting pohon berbentuk huruf “Y”, karet yang berasal dari ban dalam sepeda, dan kalep atau kulit binatang yang berfungsi sebagai tempat untuk meletakkan batu peluru. Sedangkan cara membuatnya adalah sebagai berikut: pertama-tama ranting yang berbentuk huruf “Y” dibuang kulitnya lalu dihaluskan. Setelah itu bagian pangkal kayu dibalut dengan potongan karet bekas ban dalam sepeda atau sepeda motor agar tidak licin ketika digunakan. Dan terakhir, karet ban dalam dipotong lagi menjadi dua bagian dengan panjang masing-masing sekitar satu kaki dan lebar setengah inci. Salah satu ujung dari karet-karet tersebut diikatkan pada ujung lastik, sedangkan lainnya diikat pada kalep yang telah dilubangi.
Lastik umumnya dibuat atau diproduksi sendiri karena bahan baku yang digunakan relatif mudah didapat, seperti: ranting pohon berbentuk huruf “Y”, karet yang berasal dari ban dalam sepeda, dan kalep atau kulit binatang yang berfungsi sebagai tempat untuk meletakkan batu peluru. Sedangkan cara membuatnya adalah sebagai berikut: pertama-tama ranting yang berbentuk huruf “Y” dibuang kulitnya lalu dihaluskan. Setelah itu bagian pangkal kayu dibalut dengan potongan karet bekas ban dalam sepeda atau sepeda motor agar tidak licin ketika digunakan. Dan terakhir, karet ban dalam dipotong lagi menjadi dua bagian dengan panjang masing-masing sekitar satu kaki dan lebar setengah inci. Salah satu ujung dari karet-karet tersebut diikatkan pada ujung lastik, sedangkan lainnya diikat pada kalep yang telah dilubangi.
Mata Belantik (Dayak)
Mata belantik adalah sejenis senjata tradisional yang digunakan oleh masyarakat Dayak sebagai perangkap untuk membunuh babi hutan. Mata belantik dibuat dari kayu yang keras dan kuat, berbentuk panjang dan lancip. Tampuknya diukir menyerupai manusia yang sedang berjongkok dengan kedua tangan memegang lutut atau disesuaikan dengan keinginan si pemakai. Mata belantik biasanya dipasang menjelang senja hari sebelum babi hutan kembali ke sarangnya. Lokasi pemasangan mata belantik biasanya diberi tanda arah panah yang ditancapkan di pohon sebagai isyarat kepada penduduk bahwa disitu dipasang belantik.
Sumber:
Umberan, Musni, Dkk. 1994. Sejarah Kebudayaan Kalimantan. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Sumber:
Umberan, Musni, Dkk. 1994. Sejarah Kebudayaan Kalimantan. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Beliukng (Dayak)
Beliukng adalah alat untuk menumbuk atau melubangi tanah. Bentuk beliukng secara keseluruhan hampir menyerupai segitiga. Mata beliukng berbentuk panjang dari besi dengan tempaan kasar. Gagang (paradahnya) berbentuk bulat panjang berkepala bengkok menyerupai pengaitu terbuat dari bahan kayu keras. Mata beliukng diikat kuat dengan lilitan rotan pada kepala gagang beliukng hingga bentuk beliukng menyerupai bentuk segitiga. Beliukng bukan untuk memotong atau menebang kayu. Fungsi lain dari beliukng selain sebagai peralatan kerja, juga digunakan sebagai senjata untuk menahan serangan binatang buas di hutan di samping itu dalam hal lain beliukng juga berfungsi sebagai perlengkapan dalam upacara yangahatn. Dalam hal ini mata beliukng digunakan sebagai alat untuk memanggil jubata dengan cara memukul-mukul atau membunyikannya. Mata beliukng juga dipakai sebagai pertanda bagi orang meninggal dunia dengan cara meletakkannya di dada orang yang telah meninggal.
Sumber:
Umberan, Musni, Dkk. 1994. Sejarah Kebudayaan Kalimantan. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Sumber:
Umberan, Musni, Dkk. 1994. Sejarah Kebudayaan Kalimantan. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Bedel Lantak (Dayak)
Bedel lantak adalah senjata untuk berburu binatang liar di hutan dan pengaman diri dari serangan binatang buas sewaktu bekerja di ladang. Senapan ini bentuk gagangnya besar dan panjang, dibuat dari kayu dan larasnya dari pipa besi. Pelatuknya terbuat dari besi yang dipasang pada sisi gagang, ujung atas dan tengah gagangnya diberi gelang besi sebagai penguat dudukan laras. Pada bagian bawah laras disisipkan besi kawat seukuran panjang laras sebagai pembersih lubang laras dan pemadat mesiu. Peluru senapan berupa potongan-potongan kecil timah hitam dan mesiunya dibuat dari bubuk arang dicampur dengan sendawa.
Sumber:
Umberan, Musni, Dkk. 1994. Sejarah Kebudayaan Kalimantan. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Tangkitn (Dayak)
Tangkitn adalah sejenis parang yang dibuat dari besi. Bagian hulunya melengkung dan pada ujung bertampuk kuningan. Tangkitn yang bentuk hulunya menyerupai salib oleh masyarakat Dayak disebut tangkitn perempuan, sedangkan tangkitn yang tidak terdapat tonjolan polos disebut tangkitn laki-laki. Alas pegangan hulu tangkitn laki-laki biasanya dilapis dengan lilitan kain merah. Sarung tangkitn dibuat dari kayu tipis dan pipih yang dililit dengan gelang rotan dan diperkuat dengan plat kuningan. Kadang-kadang ada tangkitn yang sarungnya diukir dengan motif yang disesuaikan dengan selera pemiliknya. Tangkitn selain dipergunakan sebagai senjata untuk mempertahankan diri juga dipakai oleh penari laki-laki dalam acara tarian adat. Alat ini hanya dapat dijumpai pada masyarakat Dayak di Pontianak, Kalimantan Barat.
Sumber:
Umberan, Musni. Dkk. 1994. Sejarah Kebudayaan Kalimantan. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Racik (Malaysia)
Racik adalah sejenis perangkap yang digunakan untuk menangkap burung. Racik ini dibuat dari beberapa bahan seperti: potongan tembaga berukuran sekitar 3 inci untuk dijadikan sebagai tiang racik; tali tangsi sepanjang 6 inci untuk setiap mata racik; benang nilon halus yang telah dipintal atau dipilin. Benang nilon ini nantinya akan disambung pada ujung tangsi dan disimpai dengan tembaga yang berbentuk seperti angka delapan atau dengan mata kail; dan tali precut yang digunakan untuk menyambung antarmata kail. Tali precut atau tali kajar ini dibuat agar racik tidak tercabut dan dibawa lari oleh burung.
Racik sebagai perangkap burung, dapat dipasang di atas tanah, batang pohon atau pun di ranting pohon. Racik yang bermata 37, 32, 27, dan 24 biasanya dipasang di atas tanah. Racik yang bermata 17 dan 15 biasanya dipasang di batang-batang pohon yang telah lapuk. Sedangkan, racik yang bermata 15 dan 11 biasanya dipasang di ranting-ranting pohon.
Saat menjebak burung menggunakan perangkap racik, perlu pula memakai denak atau burung pemikat. Denak yang digunakan berbeda-beda, bergantung pada tempat di mana racik akan dipasang. Apabila racik dipasang di atas tanah, maka denak yang digunakan adalah burung jantan. Namun, apabila racik dipasang di batang atau ranting pohon, maka denak yang digunakan adalah burung betina. Saat menggunakan perangkap racik ini, setiap matanya harus dipasang sedemikian rupa (saling silang, mengikuti putaran atau secara berjajar), agar digemari oleh burung pemikat. Denak yang berupa burung pemikat ini diletakkan di samping mata racik, namun diusahakan agar jangan sampai denak tersebut terkena racik yang dipasang. Burung-burung yang terpikat oleh denak akan datang pada waktu yang tidak terlalu lama dan terjerat oleh racik.
Setelah digunakan racik akan dicabut dan disimpan kembali. Mencabut racik ini dimulai dari setiap ujung mata racik dengan menggunakan tiga jari. Kemudian tali racik itu digulung satu demi satu hingga mencapai tali kajar. Setelah itu racik dikemas dan dimasukkan dalam gulungan karet. Racik ini apabila dirawat secara baik akan dapat bertahan hingga 20 tahun, namun apabila tidak dirawat, hanya dapat digunakan antara 1 hingga 3 tahun saja.
Sumber: http://malaysiana.pnm.my
Jaring Buru (Jawa Barat)
Selain kujut dan dorlok, ada satu perangkap lagi yang oleh pemburu dan atau peladang disebut sebagai “jaring”. Perangkap ini terbuat dari tambang yang berdiameter sekitar 0,1 sampai dengan 0,2 sentimeter. Tambang tersebut dianyam sedemikian rupa sehingga membentuk bujur sangkar. Setiap jaring sisi-sisinya ada yang sekitar 1 meter, tetapi ada juga yang sekitar 2 meter. Dengan perkataan lain, ada yang luasnya sekitar 1 meter persegi dan ada juga yang sekitar 2 meter persegi. Penggunaannya bergantung banyak atau besar kecilnya binatang yang diburu (bagong). Setiap sudut jaring tambang sengaja tidak dipotong, malahan dibiarkan panjang sesuai dengan kebutuhan. Maksudnya, jika perangkap ini dipakai, maka tambang-tambang tersebut ditalikan ke pohon-pohon terdekat. Dengan demikian, jaring akan mengembang dalam posisi tegak.
Penangkapan dengan jaring mesti dibarengi dengan pencarian, pengejaran, dan pengarahan larinya bagong. Sebab jika tidak, kemungkinan untuk memperoleh bagong sangat kecil (kalau tidak dapat dikatakan sia-sia), karena jaring akan berfungsi jika diterjang oleh bagong secara keras-keras. Dengan terjangan atau tabrakan yang keras, tambang-tambang yang ditalikan pada pepohonan akan putus. Dan, dengan putusnya tambang, maka bagong akan terguling-guling dan sekaligus terjerat oleh jaring. Dengan demikian, bagong akan tertangkap hidup-hidup.
Jaring juga dapat dipasang mendatar (di atas permukaan tanah). Caranya sama seperti pemasangan jiret, yaitu di setiap sudutnya ditalikan pada pohon-pohon yang bisa dilengkungkan, kemudian diberi pemberat dan ditutup dengan denaunan kering. Dengan cara seperti ini, jika ada bagong yang lewat dan menginjaknya, maka pemberat akan bergeser dan tali terangkat bersama bagong di dalamnya. (pepeng)
Penangkapan dengan jaring mesti dibarengi dengan pencarian, pengejaran, dan pengarahan larinya bagong. Sebab jika tidak, kemungkinan untuk memperoleh bagong sangat kecil (kalau tidak dapat dikatakan sia-sia), karena jaring akan berfungsi jika diterjang oleh bagong secara keras-keras. Dengan terjangan atau tabrakan yang keras, tambang-tambang yang ditalikan pada pepohonan akan putus. Dan, dengan putusnya tambang, maka bagong akan terguling-guling dan sekaligus terjerat oleh jaring. Dengan demikian, bagong akan tertangkap hidup-hidup.
Jaring juga dapat dipasang mendatar (di atas permukaan tanah). Caranya sama seperti pemasangan jiret, yaitu di setiap sudutnya ditalikan pada pohon-pohon yang bisa dilengkungkan, kemudian diberi pemberat dan ditutup dengan denaunan kering. Dengan cara seperti ini, jika ada bagong yang lewat dan menginjaknya, maka pemberat akan bergeser dan tali terangkat bersama bagong di dalamnya. (pepeng)
Jiret (Jawa Barat)
Perangkap yang oleh peladang disebut sebagai jiret terbuat dari kawat yang cukup kuat untuk menahan amukan bagong (babi hutan) yang terperangkap. Kawat itu bisa dari sisa-sisa kopling atau rem sepeda motor, atau bisa juga kawat lain yang berdiameter 0,1 sentimeter yang dapat diperoleh dari toko material dengan cara membeli. Agar kawat-kawat itu menjadi sebuah perangkap, maka salah satu ujungnya dibuat sedemikian rupa sehingga persis seperti “tali gantung” yang bisa dikencang-kendorkan.
Jiret di pasang pada sebuah ranting pohon yang elastis (dapat dilengkungkan) yang diperkirakan cukup kuat untuk menahan tubuh seekor bagong. Dalam hal ini salah satu ujungnya ditalikan pada ranting tersebut, sementara ujung lainnya yang berbentuk lingkaran diletakkan di atas permukaan tanah, kemudian diberi pemberat dan ditutup dengan dedaunan kering. Dengan cara seperti itu jika ada bagong yang lewat dan kakinya menginjaknya, maka ia akan terjerat dan terangkat oleh ranting sehingga tubuhnya bergantungan di ranting tersebut. Setelah kujut terpasang biasanya akan ditinggalkan dan diperiksa kembali keesokan harinya untuk mengetahui terjerat atau tidaknya bagong, sebab jika ada yang terjerat dan tidak segera diambil, maka ia akan mati. (pepeng)
Kujut (Jawa Barat)
Perangkap yang terbuat dari kawat yang berdiameter 0,1 sentimeter ini bentuknya menyerupai kurungan ayam. Setiap kujut memerlukan kawat seberat 3 kilogram. Harga setiap kilogramnya Rp2.500,00, dengan demikian, setiap kujut membutuhkan uang sejumlah Rp7.500,00. Kawat tersebut dianyam kemudian dibentuk seperti kurungan ayam yang berdiameter sekitar 1 sampai 1,5 meter. Bagian yang terbuka diberi tambang yang berfungsi sebagai penutup kujut. Perangkap ini diletakkan pada suatu tempat di hutan. Bagian tambang yang berfungsi sebagai penutup itu ditalikan pada pohon yang cukup kuat menahan terjangan bagong. Cara kerjanya ketika bagong masuk ke dalam kujut, tambang akan tertarik sehingga kujut menjadi tertutup. Dengan demikian, bagong tidak lari kemana-mana karena terkurung. Pemasangan perangkap ini menjadi tidak efektif jika tidak diikuti dengan penggiringan. Oleh karena itu, perburuannya dilakukan secara berkelompok. Jadi, mereka beramai-ramai menggiring bagong ke suatu tempat yang telah dipasangi dengan kujut. Jumlah kujut yang dipasang biasanya lebih dari satu buah. Malahan, bisa mencapai 20 sampai 30 buah. Sebab, jika hanya satu atau dua buah, maka kemungkinan untuk memperoleh bagong sangat kecil. Belum lagi, setiap kujut hanya dapat memuat seekor bagong. Oleh karena itu, diperlukan kujut dalam jumlah yang banyak. (gufron)
Dorlok (Jawa Barat)
Dorlok adalah sejenis senjata api yang khusus digunakan untuk berburu, khususnya berburu bagong. Cara menggunakannya adalah dengan mengisi bubuk mesiu melalui ujungnya, kemudian memasukkan potongan-potongan besi tajam yang berukuran kecil. Ketika senjata ini ditembakkan, maka potongan-potongan besi tadi akan berhamburan keluar sehingga dapat mengenai sasaran sebanyak mungkin. Dewasa ini penggunakan dorlok dilarang oleh pemerintah, kecuali ada izin kepolisian setempat. (pepeng)